Dubes AS untuk Tiongkok Tegaskan Amerika Tak Akan Menyerah pada Beijing Tentang Kebijakan Taiwan

Rezim Tiongkok secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk merebut Taiwan dengan kekuatan militer bila dianggap perlu.

EtIndonesia. Duta Besar Amerika Serikat untuk Tiongkok, David Perdue, menegaskan kembali bahwa kebijakan Washington terhadap Taiwan tidak berubah, menyusul laporan yang menyebutkan bahwa pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping telah mendesak Presiden AS Donald Trump agar menolak kemerdekaan Taiwan.

“Kami sudah menyampaikan dengan sangat jelas bahwa kami tidak akan mengubah kebijakan ‘Satu Tiongkok’,” ujar Perdue dalam wawancaranya di program Squawk Box CNBC pada 1 Oktober. 

“Kami akan tetap berpegang pada Undang-Undang Hubungan Taiwan (Taiwan Relations Act), tiga komunike bersama, dan enam jaminan yang ditetapkan di era Presiden Ronald Reagan. Kebijakan ini sudah berjalan baik selama ini. Kami tidak menginginkan paksaan—kami ingin semua diselesaikan secara damai.”

Kebijakan “Satu Tiongkok” berarti Amerika Serikat mengakui Partai Komunis Tiongkok sebagai pemerintah resmi Tiongkok, menggantikan pengakuannya pada tahun 1979 terhadap Republik Tiongkok (Taiwan) yang telah mundur ke pulau tersebut sejak 1949. Namun, PKT menggunakan istilah yang sama untuk menegaskan klaim bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayahnya—pandangan yang selama ini ditekan agar diadopsi oleh negara-negara lain.

Sementara itu, pendekatan Washington terhadap Taiwan dikenal sebagai “strategic ambiguity” atau ambiguitas strategis—yakni tidak secara resmi mengakui kedaulatan Tiongkok atas Taiwan, namun juga tidak memutuskan hubungan dengan pulau yang memiliki pemerintahan demokratis tersebut.

Menurut laporan The Wall Street Journal pada 27 September, Beijing baru-baru ini meminta Washington untuk mengubah retorikanya soal Taiwan, dengan menegaskan bahwa AS seharusnya “menentang kemerdekaan Taiwan.” Namun, Departemen Luar Negeri AS menegaskan kebijakan Amerika tidak berubah, pernyataan yang kemudian ditegaskan kembali oleh Perdue beberapa hari kemudian.

Xi Jinping diketahui berulang kali menyatakan tekadnya untuk merebut Taiwan, bahkan dengan kekuatan militer jika perlu, dan telah memerintahkan militer Tiongkok agar siap melakukannya sebelum tahun 2027.

Isu Taiwan ini disebut-sebut akan dibahas dalam pembicaraan dagang tingkat tinggi antara AS dan Tiongkok yang akan datang. Trump telah mengonfirmasi bahwa dirinya akan bertemu Xi Jinping dalam pertemuan APEC mendatang, setelah sebelumnya melakukan panggilan telepon panjang yang menghasilkan kesepakatan penjualan TikTok ke Amerika Serikat.

Dalam unggahan di media sosial pada 1 Oktober, Trump mengatakan akan menekan Tiongkok terkait penurunan pembelian kedelai dari AS selama pertemuan APEC.

Tiongkok merupakan pembeli terbesar kedelai Amerika, sementara para petani AS melaporkan hasil panen terbesar tahun ini. Namun di tengah perang dagang, Beijing belum membeli satu pun kedelai dari AS, melainkan beralih membeli dalam jumlah besar dari Brasil dan Argentina.

Langkah serupa pernah diambil Tiongkok pada tahun 2018, ketika menghentikan pembelian kedelai dari AS. Meskipun pembelian sempat dilanjutkan, jumlahnya tak pernah kembali ke tingkat sebelumnya karena Beijing berupaya mendiversifikasi sumber pasokan.

Pada Agustus lalu, perwakilan Tiongkok sempat bertemu dengan pelaku industri kedelai AS, namun alih-alih berjanji untuk membeli, mereka justru mendesak agar petani melobi pemerintah AS untuk mengakhiri perang dagang.

Selama pemerintahan Trump pertama, Gedung Putih memberikan subsidi kepada petani kedelai untuk menutupi kerugian akibat perang dagang dengan Tiongkok. Trump mengisyaratkan akan kembali melakukan hal serupa menggunakan pendapatan rekor dari tarif impor yang diterapkan AS. Menteri Perdagangan AS Scott Bessent mengatakan kebijakan itu kemungkinan akan diumumkan pada 7 Oktober.

Perdue menilai Trump telah berhasil besar dalam menghadapi Tiongkok, mencontohkan kesepakatan TikTok dan kemajuan dalam negosiasi dengan Boeing.

“Trump adalah satu-satunya presiden yang saya lihat mampu ‘memukul di wajah’ lawannya, namun tetap bisa berbalik dan merangkul untuk memulai negosiasi,” ujarnya.

Terkait keluhan Beijing terhadap kebijakan AS, Perdue menegaskan, “Saya selalu mengatakan kepada mereka, ini kesalahan kalian sendiri.”

“Mereka telah mendorong Amerika terlalu jauh. Rakyat Amerika tidak suka melihat industrinya dikuras habis, atau jaringan listrik dan pelabuhan mereka diintervensi oleh Tiongkok,” katanya.

Perdue juga menyebutkan bahwa komunikasi antara Washington dan Beijing kini meningkat, dengan pertemuan sejumlah pejabat kabinet AS dan kunjungan delegasi DPR AS ke Tiongkok baru-baru ini.

“Jika Tiongkok benar-benar ingin menjadi mitra dalam membentuk masa depan tatanan dunia, kami berharap mereka bisa bertindak lebih bertanggung jawab,” ujar Perdue.

Perayaan Melanda Israel dan Gaza Setelah Tahap Pertama Rencana Perdamaian Trump Disepakati

Oleh Evgenia Filimianova

Perayaan pecah di Israel dan Jalur Gaza setelah tercapainya kesepakatan tahap pertama dari rencana perdamaian Presiden Amerika Serikat Donald Trump antara Israel dan kelompok Hamas.

Dalam perundingan tidak langsung yang digelar di Mesir, kedua pihak pada 8 Oktober mencapai kesepakatan berdasarkan rencana perdamaian 20 poin Trump. Tahap pertama mencakup pembebasan seluruh sandera Israel yang tersisa dalam beberapa hari ke depan dengan imbalan pembebasan ratusan tahanan Palestina.

Gencatan senjata diperkirakan akan diberlakukan setelah Israel secara resmi meratifikasi kesepakatan tersebut pada 9 Oktober.

Kabar mengenai tercapainya kesepakatan ini disambut suka cita di kedua wilayah. Di Gaza, warga tumpah ke jalan-jalan Khan Yunis sambil bernyanyi, menari, dan bertepuk tangan. Sementara itu di Israel, keluarga para sandera menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Trump atas perannya dalam memediasi kesepakatan tersebut.

Pada 8 Oktober malam, sejumlah keluarga sandera melakukan panggilan telepon bersama Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick dan Presiden Trump.

Dalam video yang dibagikan Forum Keluarga Sandera dan Orang Hilang melalui platform X, seorang anggota keluarga terdengar mengatakan:

“Sejak Anda menjadi presiden—bahkan sebelum itu—kami percaya Anda akan menuntaskan misi ini sampai semua 48 sandera pulang. Terima kasih banyak. Diberkatilah para pembawa damai.”

Orang-orang merayakan setelah pengumuman kesepakatan gencatan senjata Gaza, di Lapangan Sandera (Hostage Square), Tel Aviv, pada 9 Oktober 2025. (Foto: Maya Levin/AFP via Getty Images)

Lutnick juga menyampaikan apresiasinya kepada Trump, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, utusan khusus Steve Witkoff, dan Jared Kushner—menantu Trump sekaligus mantan utusan Timur Tengah—atas upaya mereka dalam mencapai kesepakatan tersebut.

Rebecca Bohbot, istri dari sandera Elkana Bohbot, menulis pesan di X: “Saya kehabisan kata-kata—hanya air mata kebahagiaan. Hati saya dipenuhi rasa syukur karena mereka akan segera pulang. Terima kasih telah mewujudkannya. Saya berdoa agar semua sandera, termasuk Elkana, kembali dengan selamat. Kami mencintaimu, Presiden Trump.”

Ribuan orang juga berkumpul di Hostages Square, Tel Aviv, pada 9 Oktober untuk merayakan kesepakatan damai. Di Yerusalem, warga menyampaikan rasa terima kasih mereka kepada para pemimpin Israel dan AS.

“Senang sekali mendengar para sandera akan pulang. Terima kasih, Trump. Terima kasih, Netanyahu,” ujar seorang warga kepada Reuters.

Beberapa peserta bahkan menyerukan agar Trump dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang sebelumnya mengajukan nama Trump pada Juli lalu, mengatakan pada 9 Oktober bahwa mantan presiden AS itu memang pantas menerima penghargaan tersebut — sehari menjelang pengumuman resmi pemenang Nobel Perdamaian 2025.

Forum Keluarga Sandera dan Orang Hilang, yang mewakili sebagian besar keluarga sandera Israel, mengundang publik untuk ikut bersolidaritas dengan menulis, “Perjuangan ini belum berakhir sampai semua orang kembali pulang.”

Berbicara dari alun-alun tersebut, Rotem Cooper, putra dari Amiram Cooper—yang diculik dari kibbutz Nir Oz pada 7 Oktober 2023 dan kemudian tewas dalam tahanan—mengatakan kepada Jewish Chronicle: “Kami seperti prajurit yang baru melewati pertempuran. Belum ada rasa lega. Rasa lega baru datang ketika kami melihat para sandera kembali hidup-hidup.”

Sebuah survei terbaru dari Viterbi Family Center for Public Opinion and Policy Research di Israel Democracy Institute menunjukkan 66 persen warga Israel berpendapat sudah saatnya perang di Gaza diakhiri. Angka ini naik 13 poin persentase dibanding periode yang sama tahun lalu.

Alasan utama yang dikemukakan responden adalah kekhawatiran terhadap keselamatan para sandera, disebutkan oleh 50,5 persen responden Yahudi dan 34,5 persen responden Arab. Survei ini melibatkan 800 responden berbahasa Ibrani dan 200 berbahasa Arab, mewakili populasi Israel berusia di atas 18 tahun.


Reaksi Dunia

Perayaan di Israel dan Gaza juga disertai ucapan selamat dari berbagai pemimpin dunia kepada Trump atas keberhasilannya memimpin upaya perdamaian ini.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres pada 9 Oktober memuji upaya diplomatik Amerika Serikat, Qatar, Mesir, dan Turki yang berhasil memediasi apa yang ia sebut sebagai “terobosan yang sangat dibutuhkan.”

“Bagi warga Israel dan Palestina, kesepakatan ini membawa secercah harapan—dan cahaya itu harus menjadi fajar perdamaian, awal dari akhir perang yang menghancurkan ini,” katanya.

Para pemimpin di Eropa dan Timur Tengah juga menyambut baik kesepakatan tersebut dan menyerukan agar segera diimplementasikan.

Kantor Perdana Menteri Israel mengumumkan bahwa Kabinet Keamanan Israel akan bersidang pada pukul 17.00 waktu setempat, disusul rapat pemerintah pada pukul 18.00.

Perang di Gaza telah berlangsung sejak 7 Oktober 2023, ketika kelompok bersenjata yang dipimpin Hamas menyerang Israel dan menewaskan sekitar 1.200 orang, sebagian besar warga sipil, serta menyandera lebih dari 250 orang. Hingga kini, diperkirakan sekitar 20 sandera masih hidup dalam tahanan. (asr)

Ratu Kegelapan: Nyakim Gatwech, Sang Dewi Melanin dari Afrika

EtIndonesia. Dia adalah seorang wanita yang lebih hitam dari malam. Ketika malam tiba, tubuhnya seolah menyatu dengan kegelapan — tak terlihat, namun memancarkan kekuatan yang tak bisa disembunyikan.

Namanya Nyakim Gatwech, berasal dari Sudan Selatan, dan kini dikenal dunia sebagai salah satu model kulit hitam paling berpengaruh di era modern.

Dari Pengungsi hingga Panggung Dunia

Karena perang saudara yang berkepanjangan di Sudan Selatan, Nyakim sebenarnya lahir di Ethiopia.

Dia dan keluarganya sempat hidup berpindah-pindah hingga akhirnya, pada usia 14 tahun, mereka menetap di Amerika Serikat. Namun, di hatinya, Dia tetap bangga menyebut dirinya orang Sudan Selatan sejati.

Menariknya, Nyakim bukan pertama kali dikenal karena karier modeling-nya — melainkan karena kecantikannya yang luar biasa, kepercayaan diri yang menular, dan senyumnya yang menaklukkan hati.

Kulit Hitam yang Menakjubkan

Kulitnya seperti satin hitam — halus, pekat, dan memantulkan cahaya dengan cara yang unik. Banyak orang terpesona oleh keindahan warna kulitnya, tetapi tak sedikit pula yang memandangnya dengan diskriminasi.

Namun, Nyakim tidak pernah gentar. Suatu hari, seorang sopir pernah bertanya kepadanya dengan nada menggoda : “Kalau aku beri kamu 10.000 dolar, apakah kamu mau memutihkan kulitmu?”

Nyakim hanya tersenyum dan menjawab tegas: “Mengapa aku harus memutihkan anugerah keindahan yang telah Tuhan berikan kepadaku?”

Jawaban itu membuat dunia menatapnya — dan sejak saat itu, ia dijuluki “Dewi Melanin” (Melanin Goddess).

Menginspirasi Dunia Lewat Media Sosial

Kini, akun Instagram-nya diikuti lebih dari ratusan ribu penggemar, dan setiap kali dia mengunggah foto, ribuan orang menekan tanda suka, terpukau oleh pesonanya yang alami.

Namun yang membuatnya istimewa bukan hanya keindahannya, melainkan pesan yang dia sampaikan lewat kata-kata dan kehadirannya:

“Cokelatku itu elegan. Aku mewakili bangsa para pejuang.”

“Hitam itu berani, hitam itu indah, hitam itu emas… Jangan biarkan standar Amerika melukai jiwamu yang Afrika.”

“Cintai kulitmu, apa pun warnanya, apa pun bayangannya!”

“Mari kita tunjukkan pada dunia bahwa kita bukan hanya berkulit hitam, tapi juga cerdas, kuat, dan memesona.”

“Kulitku menyerap cahaya matahari, rambutku menentang gravitasi. Jangan bilang aku tidak punya sihir!”

Sihir yang Nyata: Dari Warna Kulit ke Gerakan Global

Ya, Nyakim memang memiliki “sihir” — bukan dalam arti mistis, tetapi sihir yang lahir dari keberanian dan penerimaan diri yang utuh.

Dia menaklukkan dunia maya dan dunia nyata, menjadi ikon mode, aktivis keberagaman, dan simbol kebanggaan bagi masyarakat kulit hitam di seluruh dunia.

Dalam industri mode yang dulu kaku dengan standar kecantikan barat, Nyakim tampil menembus batas — menjadi bukti bahwa keindahan tak punya warna yang pasti.

Sosok Penuh Cahaya dalam Gelap

Lahir pada 27 Januari 1993, Nyakim adalah sosok muda yang telah menyalakan inspirasi bagi jutaan orang.

Banyak wanita, tanpa memandang warna kulit, mengaku kagum dan terpesona olehnya — bukan hanya karena kecantikannya, tetapi karena kekuatan dan keanggunan yang dia bawa.

Kalimatnya yang paling berkesan pernah dia ucapkan adalah: “Kamu lebih dari sekadar indah. Cintaku padamu tanpa syarat — karena kamu adalah diriku.”

Pelajaran dari Sang Ratu Kegelapan

Keberanian, penerimaan diri, rasa percaya diri yang tinggi, serta kebanggaan terhadap akar dan bangsanya — itulah kekuatan utama Nyakim Gatwech.

Dengan itu semua, dia berhasil mematahkan batas antara hitam dan putih, menembus tembok diskriminasi di Amerika, dan mendefinisikan ulang arti kecantikan.

Kini, “Ratu Kegelapan” bukan sekadar simbol warna kulit, melainkan lambang cahaya yang lahir dari keberanian untuk menjadi diri sendiri. (jhn/yn)

Akhirnya Terjadi! Israel dan Hamas Teken Gencatan Senjata, Trump Siap Umumkan Akhir Perang

EtIndonesia. Dunia Menyambut Babak Baru Perdamaian di Timur Tengah Israel dan Hamas akhirnya mencapai kesepakatan bersejarah setelah melalui negosiasi panjang dan kompleks. Kedua pihak menandatangani perjanjian damai berdasarkan “Rencana Perdamaian 20 Poin” rancangan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Kesepakatan ini mencakup gencatan senjata penuh, pertukaran tawanan, serta tahap awal rekonstruksi Gaza yang hancur akibat perang dua tahun terakhir.

Isi dan Tahapan Kesepakatan

Donald Trump dalam konferensi pers pada 9 Oktober 2025 mengumumkan bahwa seluruh sandera — baik yang masih hidup maupun jasad korban tewas — akan dibebaskan antara 13 hingga 14 Oktober 2025. Setelah itu, akan dimulai tahap kedua berupa pelucutan senjata Hamas.

Pada fase pertama, Israel akan menarik sebagian pasukannya dari Gaza, sementara Hamas akan membebaskan 20 sandera hidup sebagai imbalan atas pembebasan 250 tahanan Palestina dengan hukuman seumur hidup dan 1.700 tahanan sementara.

Namun, laporan CNN menyebutkan bahwa implementasi kesepakatan ini menghadapi tantangan serius. Beberapa sandera disebut berada di bawah kendali kelompok militan lain, dan Hamas tidak mengetahui lokasi semua korban tewas. Trump mengakui adanya kendala tersebut, tetapi menegaskan akan menyelesaikan masalah teknis ini dalam tahap kedua, termasuk pembubaran sayap militer Hamas serta penarikan pasukan Israel yang lebih luas.

Pejabat senior Hamas, Osama Hamdan, mengatakan bahwa rincian teknis akhir akan disepakati pada Sabtu, 11 Oktober, dan dieksekusi mulai Senin, 13 Oktober 2025. Pada hari itu pula, Trump dijadwalkan mengumumkan secara resmi berakhirnya perang Hamas–Israel.

Trump Menuju Timur Tengah: Misi Perdamaian Dunia

Donald Trump dijadwalkan berangkat ke Timur Tengah akhir pekan ini, dengan Mesir sebagai tujuan pertama. Di Kairo, dia akan menghadiri penandatanganan resmi kesepakatan perdamaian bersama para mediator dari Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat. Setelah itu, Trump berencana berkunjung ke Gaza dan Israel, bahkan kemungkinan berpidato di parlemen Israel untuk menandai dimulainya era baru diplomasi di kawasan tersebut.

Dalam rencana rekonstruksi Gaza, Trump menegaskan bahwa pendanaan tidak akan menggunakan uang pajak rakyat Amerika, melainkan akan ditanggung oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Program ini mencakup pembangunan infrastruktur, sistem energi, rumah sakit, dan sekolah dengan konsep “kemakmuran regional berbasis kolaborasi ekonomi.”

Reaksi Dunia Internasional

Kesepakatan ini disambut antusias oleh berbagai pemimpin dunia:

  • Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, berterima kasih kepada Trump, Mesir, dan Qatar atas keberhasilan mediasi.
  • Presiden Mesir, Abdel Fattah el-Sisi menyebut perjanjian ini sebagai “momen bersejarah bagi kemanusiaan.”
  • Yordania dan Suriah mendukung penuh langkah ini, sambil menyerukan bantuan kemanusiaan segera untuk Gaza.
  • Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) berharap kesepakatan ini menjadi langkah awal menuju solusi dua negara dan penarikan total pasukan Israel.
  • Presiden Lebanon memuji perjanjian ini sebagai “langkah pertama menuju gencatan senjata permanen.”
  • Dari Eropa, Emmanuel Macron (Prancis), Keir Starmer (Inggris), dan Friedrich Merz (Jerman) menyampaikan dukungan penuh terhadap langkah damai ini.

Dari benua Amerika, Presiden Argentina, Javier Milei bahkan secara terbuka menominasikan Donald Trump untuk Hadiah Nobel Perdamaian, didukung oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Sementara dari Asia Timur, Presiden Taiwan, Lai Ching-te menulis dalam unggahannya bahwa : “Taiwan berharap perdamaian sejati dapat menyebar dan bertahan di seluruh dunia.”

Makna Global dan Dampak Politik

Kesepakatan ini bukan hanya berpotensi mengakhiri konflik Gaza, tetapi juga membuka babak baru tatanan politik Timur Tengah. Melalui pendekatan ekonomi dan diplomasi multilateral, Trump berupaya mengubah paradigma dari “perang ideologi” menjadi “kolaborasi pembangunan.”

Jika implementasi kesepakatan ini berjalan sesuai rencana, maka 14 Oktober 2025 bisa menjadi hari bersejarah bagi dunia, di mana perang dua tahun di Gaza resmi berakhir, membuka harapan baru bagi jutaan warga sipil yang terdampak konflik.

Kesimpulan:

 Perjanjian damai Israel–Hamas tanggal 9 Oktober 2025 menandai titik balik sejarah di Timur Tengah. Di tengah segala kerumitan politik dan trauma kemanusiaan, dunia kini menatap dengan harapan — bahwa perdamaian bukan lagi sekadar mimpi, tetapi kenyataan yang mulai terwujud.

Berbeda dengan Timur Tengah, Moskow Klaim Dorongan untuk Perdamaian Telah Hilang — Perang Rusia-Ukraina Dikhawatirkan Akan Meningkat

EtIndonesia. Berbeda dengan situasi Timur Tengah yang tampak menuju perdamaian, ketegangan antara Rusia dan Ukraina justru menunjukkan arah sebaliknya. Pada Rabu (8/10/2025), Moskow menyatakan bahwa dorongan untuk mencapai kesepakatan damai dengan Ukraina telah hampir sepenuhnya hilang, serta memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat mengirimkan rudal Tomahawk ke Ukraina, Rusia akan menembak jatuh rudal tersebut dan melakukan tindakan balasan.

Sementara itu, Uni Eropa sedang mempercepat rencana untuk menghentikan ketergantungan pada energi Rusia, yang diperkirakan akan sepenuhnya berlaku pada 2026.

Dengan meningkatnya ketegangan di medan perang, banyak pihak khawatir bahwa Eropa kini menghadapi krisis keamanan paling serius sejak berakhirnya Perang Dingin.

Moskow: “Motivasi perdamaian telah habis” — konflik berpotensi memburuk

Seorang pejabat tinggi Rusia menyatakan bahwa motivasi untuk mencapai perdamaian dengan Ukraina kini telah sirna. Pernyataan ini merupakan yang pertama sejak pertemuan puncak antara Vladimir Putin dan Donald Trump di Alaska pada Agustus lalu.

Pada hari yang sama, Duma Negara Rusia (parlemen Rusia) juga menyetujui usulan untuk menarik diri dari perjanjian bersejarah dengan AS mengenai pengelolaan plutonium tingkat senjata. Perjanjian itu sebelumnya mewajibkan kedua negara untuk memusnahkan masing-masing 34 ton plutonium militer, jumlah yang cukup untuk membuat 17.000 hulu ledak nuklir.

Selain itu, beberapa anggota parlemen senior Rusia memperingatkan bahwa jika AS benar-benar memberikan rudal jelajah Tomahawk kepada Ukraina, Moskow tidak hanya akan menembak jatuh rudal tersebut, tetapi juga akan membom lokasi peluncurannya dan melancarkan tindakan balasan terhadap Washington.

Para pengamat menilai, tanda-tanda ini menunjukkan bahwa perang Rusia-Ukraina berpotensi meningkat secara signifikan, sehingga prospek perdamaian tampak semakin suram. Namun, ada juga analisis yang menyebutkan bahwa Moskow mungkin hanya menggertak, mengingat Trump sebelumnya pernah menyebut Rusia sebagai “macan kertas.”

Putin Pamer Kemenangan Militer di Hari Ulang Tahunnya

Pada 7 Oktober, bertepatan dengan hari ulang tahunnya, Presiden Vladimir Putin bertemu dengan para petinggi militer Rusia dan menyombongkan keberhasilan pasukannya, dengan mengklaim bahwa pada tahun 2025 Rusia telah menguasai hampir 5.000 km² wilayah Ukraina.

Putin mengatakan:  “Saat ini, Angkatan Bersenjata Rusia sepenuhnya memegang inisiatif strategis di medan perang.”

Kementerian Pertahanan Rusia juga melaporkan bahwa pasukan mereka merebut dua desa baru di garis depan Ukraina, dan kini sedang bergerak menuju dua kota penting di wilayah Donetsk — Siversk dan Kostyantynivka.

Ukraina Bertahan Sambil Menyerang Infrastruktur Energi Rusia

Di tengah serangan Rusia, pasukan Ukraina bertahan dengan gigih di garis depan, sambil melancarkan serangan drone terhadap infrastruktur energi Rusia untuk mengurangi pendapatan Moskow dalam membiayai perang.

Selama dua bulan terakhir, Ukraina telah melancarkan lebih dari 30 serangan. Menurut analis dari Kelompok Riset Energi Kpler, serangan-serangan itu “cukup efektif,” dengan hasil bahwa produksi kilang minyak Rusia turun sekitar 10%. Karena kekurangan sumber daya, Moskow baru-baru ini membatasi ekspor produk minyaknya.

Uni Eropa Selangkah Lebih Dekat Menghentikan Energi Rusia

Sementara itu, Uni Eropa mencapai kemajuan penting dalam rencana menghapus ketergantungan energi Rusia. Pada Rabu, hampir semua negara anggota menyetujui rancangan kebijakan tersebut, yang dijadwalkan akan disahkan pada 20 Oktober.

Jika disetujui oleh Parlemen Eropa, maka mulai 1 Januari 2026, Eropa akan secara bertahap menghentikan impor gas dan minyak Rusia. Kontrak jangka pendek akan dihentikan pada Juni 2025, sementara kontrak jangka panjang akan selambat-lambatnya berakhir pada Januari 2028. Langkah ini menjadi bagian dari tekanan ekonomi Eropa terhadap Rusia.

Eropa siaga menghadapi potensi meluasnya perang

Dengan meningkatnya ketegangan di Ukraina, negara-negara Eropa Timur juga bersiap menghadapi kemungkinan perang meluas. Lituania, yang berbatasan dengan Belarus, baru-baru ini mengadakan latihan evakuasi di ibu kota Vilnius.

Selain itu, Polandia dan negara-negara Baltik tengah menyusun rencana darurat untuk menghadapi skenario terburuk — jika perang merembet ke wilayah mereka, bagaimana cara melakukan tindakan pertahanan dan evakuasi yang efektif. (Hui/asr)

oleh Yi Jing, wartawan NTD Television.

Rusia Guncang! 417 Tentara Menyerah Sekaligus, Ukraina Kuasai Perbatasan dan Bakar Truk-truk Bahan Bakar

EtIndonesia. Perang Rusia–Ukraina memasuki fase baru yang mengguncang Kremlin. Pasukan Ukraina mencatat serangkaian kemenangan taktis dan strategis besar dalam sepekan terakhir, menandai kemunduran paling signifikan bagi militer Rusia sepanjang tahun 2025.

Penyerahan Total Pasukan Rusia di Front Timur

Pada 6 Oktober 2025, Batalion ke-3 dari Brigade Bermotor ke-127 Rusia di bawah komando Mayor Sukhovi secara resmi menyerah tanpa syarat kepada Brigade Serbu Udara ke-79 Ukraina. Sebanyak 417 tentara Rusia meletakkan senjata dan menyerahkan diri.

Brigade 127 ini awalnya dibentuk pada tahun 2023 dari sisa-sisa milisi Luhansk, kemudian diintegrasikan ke dalam Korps ke-2 Distrik Militer Selatan Rusia. Namun, akibat tekanan berkelanjutan, moral dan efektivitas tempur mereka terus menurun. Penyerahan massal ini menjadi simbol keruntuhan sistem komando Rusia di garis depan, sekaligus memberi Ukraina keunggulan psikologis besar.

Serangan Balasan di Dnipropetrovsk

Di arah Dnipropetrovsk, pasukan Ukraina melancarkan operasi gabungan yang berhasil merebut kembali wilayah seluas 12 km², menewaskan sekitar 50 tentara Rusia, serta menawan 8 orang lainnya. Desa strategis seperti Desa Sichneve kini kembali di bawah kendali Ukraina.

Kombinasi serangan darat, drone kamikaze, dan artileri berpemandu presisi membuat pertahanan Rusia porak poranda. Di Donetsk, Brigade Mekanis ke-93 Ukraina mempublikasikan rekaman pertempuran yang memperlihatkan keberhasilan mereka menahan serangan Rusia di Synkoste dan Yankinivka.

Unit elit seperti Brigade ke-93, Brigade ke-156, Batalyon Azov, Unit Operasi Khusus Omega, serta Resimen 109, Lasalle, dan Phoenix, ikut berperan dalam menahan dan menghancurkan formasi Rusia di berbagai sektor.

Pertempuran di Berbagai Arah

  • Zaporozhye: Brigade ke-27 Ukraina menghancurkan sistem pelontar api berat TOS-1A Rusia, melemahkan daya gempur musuh.
  • Kupiansk: Unit Operasi Khusus ke-8 menggunakan drone pengintai untuk mendeteksi posisi Rusia sebelum artileri presisi menghantam titik konsentrasi mereka.
  • Serebryansky Forest: Pasukan Ukraina memancing musuh ke dalam perangkap palsu sebelum melancarkan penyergapan mematikan.

Rusia mencoba membalas dengan menyerang di Belgorod dan Kursk, namun gagal menembus pertahanan Ukraina. Sebaliknya, Ukraina justru melancarkan serangan lintas batas untuk mengganggu logistik lawan.

Operasi Khusus di Kursk dan Belgorod

Menurut laporan Noel Report (7 Oktober 2025), pasukan elit Kaladrius Ukraina melakukan operasi khusus di wilayah Kursk, menghancurkan kawat berduri dan pos penjagaan perbatasan Rusia. Tank dan kendaraan lapis baja Ukraina berhasil menembus garis perbatasan, langkah yang bertujuan membentuk zona penyangga pertahanan bagi pasukan Ukraina di timur.

Wilayah Kursk dan Belgorod kini menjadi fokus perhatian dunia. Ukraina pernah menguasai lebih dari 1.000 km² di wilayah tersebut pada 2024, namun sempat mundur ketika AS menghentikan dukungan intelijen satelitnya. Kini, ofensif baru Ukraina dipandang sebagai ujian besar bagi pertahanan Rusia di dalam negeri.

Operasi Spesial: Empat Truk Tangki Meledak dalam 3 Menit

Sebuah operasi rahasia di hutan Zhenyelin, Luhansk, menggambarkan tingkat profesionalisme pasukan khusus Ukraina. Enam anggota pasukan elit bersembunyi selama empat jam di lereng hutan dengan kemiringan 15°, menunggu konvoi bahan bakar Rusia lewat.
Begitu truk pertama melintas, bahan peledak plastik diledakkan, menutup jalur konvoi. Drone segera menjatuhkan bom pembakar ke truk kedua, menimbulkan ledakan setinggi 30 meter.

Dalam tiga menit, empat truk tangki terbakar habis — setiap truk mampu menyuplai bahan bakar untuk satu batalion selama 24 jam. Akibatnya, operasi ofensif Rusia di arah Kharkiv dibatalkan, rantai logistik macet hingga 12 km menuju Jembatan Krimea, dan pasokan bahan bakar harus dialihkan menggunakan kapal pendarat.

 Strategi Baru Ukraina: Perang Logistik dan Energi

Menurut analisis The Atlantic Monthly (7 Oktober 2025), Ukraina kini mempraktikkan strategi baru berbasis konsumsi energi dan logistik, memadukan drone, artileri, dan taktik gerak cepat. Rusia masih unggul dalam jumlah pasukan, namun Ukraina telah menguasai simpul logistik utama dan kota-kota strategis.

Dalam sembilan bulan terakhir, Kyiv berhasil mengubah pola perang menjadi perang daya tahan energi, yang memperlemah kemampuan Rusia mempertahankan pertempuran panjang.

Pada 7 Oktober, Ukraina juga memamerkan senjata baru:

  • Drone laut bersenjata rudal R-73
  • Rudal jelajah Neptunus dengan jangkauan 1.000 km
  • Rudal Firebird dan Palianytsia, kini aktif digunakan di medan tempur

Kemampuan ini membuat Ukraina bisa menyerang target jauh di dalam wilayah Rusia dengan presisi tinggi.

 Dukungan Barat Mengalir Deras

Presiden Volodymyr Zelenskyy dan Ketua Parlemen Eropa Roberta Metsola pada 7 Oktober 2025 mengumumkan paket bantuan baru senilai 1 miliar dolar dari AS dan NATO, termasuk sistem Patriot dan HIMARS tambahan.

Selain itu, Inggris, Australia, dan Jepang juga menambah sanksi terhadap Rusia dan mengucurkan bantuan tambahan senilai 1 miliar dolar.

Presiden Donald Trump, menyetujui mekanisme baru agar bantuan militer Ukraina dikirim melalui “daftar kebutuhan prioritas NATO”, mempercepat pengiriman tanpa membebani anggaran AS.  Total bantuan militer ke Ukraina sepanjang Oktober 2025 diperkirakan mencapai 3,6 miliar dolar.

Rusia Terpuruk: Krisis Energi dan Tekanan Diplomatik

Serangan drone Ukraina terhadap kilang, depot minyak, dan jaringan pipa Rusia membuat 40–45% kapasitas kilang nasional lumpuh. Rusia kini mengalami krisis bahan bakar dalam negeri dan terpaksa menjual minyak mentah dengan diskon besar.

Pelabuhan utama seperti Primorsk, Ust-Luga, dan Novorossiysk beroperasi di ambang batas, sementara Kroasia menghentikan pasokan minyak ke kilang Serbia milik Rusia (NIS), mempersempit jalur ekspor Moskow ke Eropa Tenggara.

 Pertempuran Drone dan Eskalasi Baru

Pada 8 Oktober 2025, Rusia meluncurkan 183 drone ke Ukraina, sementara Ukraina membalas dengan 300 drone yang menyerang Moskow, Bryansk, Kursk, dan Krimea.
Beberapa drone dilaporkan menghantam pabrik militer Uralvagonzavod di Yekaterinburg dan fasilitas nuklir Novovoronezh, memicu ledakan besar.

Meskipun tidak ada kebocoran radiasi, insiden ini menegaskan bahwa Ukraina kini mampu menyerang jauh ke jantung industri Rusia.

Kesimpulan

Serangkaian keberhasilan Ukraina — mulai dari penyerahan massal pasukan Rusia, penghancuran rantai logistik musuh, hingga tekanan ekonomi besar terhadap Moskow — menandai pergeseran besar dalam keseimbangan perang. Namun, dengan meningkatnya penggunaan rudal jarak jauh dan drone serang lintas batas, risiko eskalasi global semakin tinggi.

Musim dingin 2025 diperkirakan akan menjadi fase penentu dalam perang Rusia–Ukraina — apakah menjadi awal kemenangan Ukraina, atau titik balik baru yang mengguncang seluruh tatanan geopolitik dunia.

Menemukan Jalan Keluar dari Hidup

EtIndonesia. Toby dan Mark adalah dua sahabat karib. Suatu hari, mereka pergi bertualang ke pegunungan, namun tanpa disangka mereka tersesat. Dalam perjalanan mencari jalan pulang, Mark terjatuh dan kakinya terluka parah. Meski demikian, mereka tetap harus segera menemukan jalan menuruni gunung sebelum malam tiba.

Keesokan paginya, luka Mark mulai meradang dan membengkak.

Dengan wajah putus asa, dia berkata: “Kamu lanjutkan saja sendiri, aku tidak bisa berjalan lagi… bahkan 50 langkah pun tidak.”

Toby menatapnya dan bertanya pelan:  “Kalau begitu, apakah kamu masih bisa berjalan 49 langkah?”

Mark terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.

“Kalau bisa 49 langkah, ayo kita berangkat,” kata Toby sambil tersenyum.

Dan begitu mereka melangkah — 49 langkah demi 49 langkah —  

Mark menahan sakit, berhenti untuk beristirahat, lalu melanjutkan kembali.

Langkah-langkah Kecil yang Menyelamatkan Hidup

Keesokan harinya, luka Mark makin parah.

Dengan napas tersengal dia berkata : “Sekarang aku bahkan tidak sanggup berjalan 20 langkah.”

Namun Toby tetap tenang dan bertanya lagi: “Apakah kamu masih bisa berjalan 19 langkah?”

Mark tertawa getir, lalu menjawab : “Mungkin bisa.”

Mereka pun kembali berjalan, sedikit demi sedikit, langkah demi langkah.

Ketika Harapan Tampak Hilang

Pada hari ketiga, Mark benar-benar kehabisan tenaga.

Dia menangis sambil berkata : “Aku tidak bisa lagi, Toby… bahkan satu langkah pun tidak.”

Namun Toby memegang bahunya dan berkata dengan lembut: “Kalau begitu, apakah kamu masih bisa berjalan setengah langkah?”

Mark menatap sahabatnya, lalu tersenyum di tengah air mata.

“Baiklah, setengah langkah pun tidak apa-apa.”

Maka mereka terus melangkah — setengah langkah demi setengah langkah.  Menjelang senja, dari kejauhan tampak asap dapur mengepul di antara pepohonan.  Mereka akhirnya menemukan perkampungan penduduk dan berhasil diselamatkan.

Pelajaran dari Setengah Langkah

Bertahun-tahun kemudian, setiap kali mengingat peristiwa itu, Mark selalu berkata: “Aku berterima kasih pada Toby. Dialah yang mengajarkan padaku untuk tidak pernah menyerah. Bahkan ketika kamu merasa tidak sanggup melangkah satu langkah pun, setengah langkah masih bisa membawa kita menuju jalan keluar kehidupan.”

Renungan

Dalam hidup, kita semua pasti pernah terjebak dalam kesulitan, keputusasaan, dan jalan buntu. Kadang-kadang, harapan terasa begitu jauh — seolah tak mungkin dicapai.  Namun, selama kita masih mampu melangkah sedikit saja,  bahkan setengah langkah, maka harapan belum mati.

Kegagalan sejati bukan terjadi ketika kita jatuh,  melainkan ketika kita memutuskan untuk berhenti berusaha.

Selama hati kita masih menyimpan keyakinan, selama kita mau terus mencoba, setiap kegagalan hanyalah rintangan sementara, bukan akhir segalanya.

Pesan Akhir

Jangan pernah menyerah. Karena bahkan langkah terkecil — setengah langkah pun — bisa menjadi awal dari perjalanan menuju kebebasan dan keberhasilan. (jhn/yn)

Pemilik Jutaan Mobil Energi Baru di Tiongkok Bingung Akibat Kendaraan Terbengkalai karena Masalah Jaringan dan Kekurangan Suku Cadang

Dalam beberapa tahun terakhir, pasar mobil energi baru (New Energy) di Tiongkok mengalami persaingan yang sangat ketat. Banyak perusahaan otomotif energi baru (EV) gulung tikar akibat persaingan tersebut. Akibatnya, mobil-mobil yang sudah dijual dari merek-merek yang bangkrut kini menghadapi berbagai masalah — sistem jaringan mobil terputus, pembaruan perangkat lunak berhenti, kekurangan suku cadang, dan kesulitan memperpanjang asuransi — membuat para pemilik mobil “gagal proyek” menjadi  frustasi.

EtIndonesia. Belakangan ini, di berbagai platform media sosial Tiongkok, banyak pemilik mobil energi baru mengeluhkan kondisi mereka. Setelah produsen mobil yang mereka beli bangkrut, layanan purna jual merek tersebut berhenti satu per satu, menyebabkan berbagai kesulitan dan kerepotan. Keluhan mereka pun menarik perhatian media.

Menurut laporan China Automobile News pada 8 Oktober, dalam sepuluh tahun terakhir sudah ada ratusan perusahaan mobil energi baru yang bangkrut, melibatkan jutaan pemilik mobil. “Mobil-mobil pintar yang dulu begitu diharapkan kini berubah menjadi mobil ‘gagal proyek’ tanpa garansi dan sulit diperbaiki,” tulis laporan itu.

Salah satu contoh besar adalah kebangkrutan Nezha Auto, yang sebelumnya merupakan juara penjualan mobil listrik baru. Hampir 500.000 pemilik mobil Nezha kini terdampak berat. 

Baru-baru ini, para pemilik menerima pesan massal dari perusahaan induk Nezha, Hozon Auto, yang memberi tahu bahwa karena Lenovo menolak menjalankan perjanjian layanan jaringan mobil, maka layanan data mobil mereka akan dihentikan. Para pemilik diminta membeli kuota data sendiri melalui akun resmi WeChat milik Lenovo.

Seorang pemilik mobil di Beijing, bernama Tuan Guo, mengatakan kepada media bahwa ia dulu membeli mobil WM Motor karena tertarik dengan promosi pembukaan dealer baru. Awalnya ia merasa mendapatkan “mobil unggulan tersembunyi”, tetapi sejak 2022 layanan purna jual mulai runtuh. Paket garansi tambahan yang ia beli seharga lebih dari 5.000 yuan (Rp11,25 juta) untuk 8 tahun/200.000 km menjadi tidak berlaku, dan ketika mobilnya rusak, bengkel mengatakan suku cadangnya “tidak tersedia, tunggu pemberitahuan”. Penantian tersebut kini sudah lebih dari setengah tahun tanpa hasil.

Guo menambahkan, melihat gelombang kebangkrutan di industri mobil listrik saat ini, ia sudah mengambil pelajaran: “Kalau nanti ganti mobil, saya tidak akan berani beli merek kecil lagi.”

Di Shandong, seorang pengusaha bernama Han Rongkai memiliki beberapa mobil energi baru, termasuk merek HiPhi dan Jiyue — keduanya kini bangkrut. Ia mengatakan bahwa sebelumnya produsen akan datang setiap kuartal untuk perawatan rutin, tetapi sekarang ia harus ke pusat layanan di Jinan sendiri. Beberapa voucher servis yang ia beli pun ada yang tidak lagi diakui, dan ia harus mengadu melalui telepon agar diterima.

Begitu sebuah perusahaan otomotif bangkrut, nilai produk mereka anjlok drastis. Baik mobil baru maupun bekas, harganya jatuh bebas.

Seorang pemilik di Jinan, Tuan Li, mengatakan pada 4 Oktober kepada media lokal Haibao News bahwa ia membeli mobil Jiyue tahun lalu dengan harga sekitar 200.000 yuan (Rp450 juta). Tidak lama setelah itu, perusahaan menghadapi kesulitan finansial dan harga mobilnya jatuh. Di pasar mobil bekas, mobilnya kini hanya dihargai maksimal 100.000 yuan — dan itu pun sulit laku.

Seorang pedagang mobil bekas di Jinan, Tuan Ma, mengungkapkan bahwa satu unit Nezha V Long Range di tokonya yang harga aslinya lebih dari 80.000 yuan (Rp 180 juta), kini hanya bisa dijual sekitar 30.000 yuan (Rp 67,5 juta). Di Chengdu, seorang staf perusahaan otomotif mengatakan kepada media bahwa mereka kini menjual mobil Jiyue baru hampir dengan harga setengahnya. Misalnya, model Jiyue 01 Long Range yang semula berharga 249.900 yuan kini dijual murah seharga 149.800 yuan.

Beberapa pemilik mobil bahkan menghadapi risiko yang lebih serius — layanan pembaruan perangkat lunak mobil bisa dihentikan kapan saja. 

Seorang pemilik bernama Sun Kai, yang memiliki mobil merek Nezha dan Jiyue, berkata: “Sekarang saya bahkan tidak berani ganti ponsel, takut aplikasi untuk mengendalikan mobil saya dihapus dan tidak bisa diunduh lagi. Soal pembaruan sistem, saya sudah tidak berharap lagi.”

Banyak pemilik juga mengeluhkan kesulitan memperpanjang asuransi. Seorang pemilik mobil Nezha bernama Nyonya Yu mengatakan bahwa perusahaan asuransi secara halus menolak memperpanjang polisnya. Setelah ditolak oleh beberapa perusahaan besar, ia akhirnya berhasil memperpanjang asuransi di perusahaan kecil yang kurang dikenal, tetapi nilai pertanggungannya anjlok drastis — dari 100.000 yuan tahun lalu menjadi hanya sekitar 40.000 yuan tahun ini.

Menanggapi jutaan pemilik mobil energi baru yang kini tidak punya tempat untuk menuntut garansi, pakar layanan purna jual mobil energi baru, Wang Ligang, mengatakan bahwa meskipun kebangkrutan perusahaan adalah bagian dari dinamika pasar, konsumen tidak seharusnya menanggung biayanya.

 “Layanan purna jual adalah faktor kunci bagi kelangsungan merek dan industri otomotif. Jika kepercayaan publik terus terkikis tanpa batas, yang dirugikan bukan hanya satu merek, tetapi seluruh industri mobil energi baru,” katanya. 

Laporan oleh Li Ming / Editor: Zheng Yu – NTDTV.com

(Video) Badai Salju di Qinghai Menyebabkan Ratusan Orang Terjebak, Seorang Wisatawan Taiwan Tewas 

EtIndonesia. Pada 5 Oktober 2025, cuaca ekstrem melanda wilayah Qinghai dan Tibet di Tiongkok. Setelah insiden ribuan orang terjebak di Gunung Everest, kini jalur pendakian di Qinghai juga mengalami musibah serupa: sebanyak 251 pendaki dilaporkan terjebak, dan seorang pendaki asal Taiwan meninggal dunia.

Ratusan Pendaki Terjebak di Gunung Qilian

Pada 5 Oktober, di area Lenglongling, Pegunungan Qilian, yang membentang di perbatasan provinsi Qinghai dan Gansu, ratusan pendaki terjebak akibat badai salju.

Seorang petugas polisi di Kabupaten Menyuan, Qinghai, pada 8 Oktober mengkonfirmasi kepada media Red Star News bahwa hingga 7 Oktober siang, semua 251 orang yang terjebak telah berhasil dievakuasi dengan selamat, namun satu pendaki asal Taiwan meninggal dunia akibat hipotermia dan reaksi dataran tinggi.

Kesaksian Pendaki Lain: “Kami Sudah Merasa Tidak Beres”

Seorang pegiat outdoor bernama “Xiao Xiao”, yang juga mendaki di Lenglongling pada waktu yang sama, mengunggah video pada 5 Oktober sore. Ia berkata,

“Pada 4 Oktober saya merasa situasi tidak beres, jadi kami memutuskan untuk turun darurat. Pagi tanggal 5, kami sudah keluar dari pegunungan.”

Ia menegaskan bahwa kelompoknya tidak termasuk dalam tim yang terjebak. “Kami tidak melintasi jalur Yakou menuju Laohugou,” katanya.

Menurut Xiao Xiao, timnya terdiri dari tujuh orang yang berangkat pada 2 Oktober dari Baihuazhang, Kabupaten Su, Zhangye, Gansu, dengan rencana melintasi Laohugou menuju Menyuan, Qinghai. Semua anggota tim memiliki pengalaman mendaki.

Dua Jalur Berbahaya dan Cuaca yang Tak Terduga

Ia menjelaskan, jalur pendakian Lenglongling memiliki dua rute: satu sekitar 50 km, dan satu lagi melalui Laohugou sepanjang lebih dari 70 km. Kedua jalur ini melewati area berbatu (Luanshiwo) dan berakhir di Kabupaten Menyuan, Qinghai.  Ketinggian rata-rata di Laohugou lebih dari 4.000 meter.

“Kalau cuacanya cerah, rute ini bisa dilalui. Tapi bahayanya adalah cuaca bisa berubah ekstrim kapan saja. Wilayah ini belum dikembangkan, sepi, dan banyak binatang liar. Hampir di seluruh jalur tidak ada sinyal,” ujar Xiao Xiao.

Pada 3 Oktober malam, timnya tiba di Luanshiwo dan mendirikan tenda. Ia melihat ada sekitar 20–30 tenda lain, kebanyakan dari kelompok mahasiswa.

“Melihat perlengkapan mereka, banyak yang masih amatir. Ada perempuan yang tas make-up-nya lebih berat dari sleeping bag; ada yang bahkan tidak tahu apa itu crampon; dan ada yang mendaki tanpa sarung tangan,” katanya.

Badai Salju dan Keputusan untuk Mundur

Tim Xiao Xiao berencana melintasi Laohugou pada 4 Oktober dini hari. Namun pukul 4.30 pagi, ia bangun dan mendapati salju deras turun, menutupi semua tenda.

“Saya langsung membangunkan anggota tim dan memutuskan untuk turun. Kami juga memperingatkan pendaki lain untuk ikut mundur,” katanya.

Ketika siang tiba, salju berhenti dan matahari muncul, memberi kesan cuaca membaik. Banyak pendaki tertipu oleh kondisi itu dan tetap melanjutkan perjalanan meski diperingatkan.

Untuk bisa sampai ke Menyuan, pendaki harus menyeberangi celah gunung Laohuzui di ketinggian 4.300 meter. Setelah melewati titik ini, tidak ada jalan untuk kembali, sehingga mereka hanya bisa terus maju ke depan di tengah cuaca ekstrem.

Suhu Ekstrem dan Korban Jiwa

Menurut Xiao Xiao, pada 4 Oktober suhu di gunung berkisar –5°C hingga –10°C pada siang hari, dan turun hingga –15°C atau lebih rendah di malam hari. Di puncak Laohuzui, suhu bisa mencapai –20°C.

Ketika timnya turun ke ketinggian 3.300 meter pada 5 Oktober, badai salju kembali melanda.

“Saya sampai merasa wajah saya kaku karena dingin,” kenangnya.

Di perjalanan turun, mereka juga sempat membujuk dua pendaki lain untuk kembali.

Pada 5 Oktober sore, beberapa pendaki mulai mengirim pesan permintaan tolong. Menurut laporan resmi, hingga 7 Oktober siang, 251 pendaki berhasil diselamatkan, namun satu orang meninggal dunia.

Salah satu pendaki yang selamat mengatakan: “Salju mulai turun sejak 5 Oktober dini hari dan tidak berhenti sampai kami keluar dari pegunungan. Sangat dingin — saya sudah pakai dua jaket bulu angsa, jaket gunung, dan sweater wol, tapi tetap menggigil.”

Empat Orang Masih Belum Ditemukan

Seorang warganet yang mengaku sebagai saksi mata menulis: “Pada 4 Oktober malam, kami makan bersama penduduk lokal di gubuk penggembala. Malam itu kami dengar kabar ada yang hilang. Telepon pemilik gubuk terus berdering sepanjang malam. Pada 5 Oktober pagi pukul 04.00, dia sudah berangkat naik motor untuk mencari orang. Sampai hari ini masih ada 4 orang yang belum ditemukan.”

Seorang blogger juga membagikan peta 3D rute Lenglongling, menandai bahwa angka 251 orang berasal dari data di pintu keluar — kemungkinan jumlah sebenarnya yang terjebak lebih banyak.

Cuaca Ekstrem di Tibet dan Xinjiang

Pada saat yang sama, 4 Oktober, daerah Dingri di barat daya Daerah Otonomi Tibet juga dilanda badai salju besar, menyebabkan hampir 1.000 orang terjebak.

Pada 5 Oktober, banyak pendaki mengunggah video yang memperlihatkan wisatawan mengevakuasi diri dari kamp di sisi timur Gunung Everest di tengah badai salju.

Menurut laporan resmi, hingga siang 6 Oktober, 350 pendaki telah berhasil dievakuasi dengan selamat.

Seorang sumber mengatakan pada 7 Oktober bahwa evakuasi para pendaki yang tertahan di area Gunung Everest sisi timur telah dimulai sejak 6 Oktober dan diperkirakan selesai pada 7 Oktober.

Di Xinjiang, Taman Nasional Kanas juga dilanda badai salju pada 5 Oktober. Jalanan tertutup salju dan es, menyebabkan ribuan wisatawan dan kendaraan terjebak, harus bertahan semalaman di tengah badai. (Hui/asr)

Konvoi Anti-Komunis Berakhir Setelah Lintasi 20 Negara Bagian di AS— Pegiat HAM Chen Weiming: Perjuangan Hak Asasi Manusia Masih Harus Diteruskan

EtIndonesia. Pada Selasa (7 Oktober), konvoi “Aksi Keliling Anti-Komunis Amerika Timur” yang berlangsung selama sebulan penuh resmi berakhir di Konsulat Partai Komunis Tiongkok (PKT) di Los Angeles, tempat diadakannya upacara penutupan dan pertemuan umum.

Penggagas kegiatan ini sekaligus pendiri Taman Patung Kebebasan (Liberty Sculpture Park) di California, Chen Weiming, menyatakan bahwa perjuangan demi kebebasan dan hak asasi manusia masih panjang dan memerlukan ketekunan bersama.

Puncak Akhir Perjalanan di Konsulat PKT

Konvoi “Anti-Komunis Amerika Timur” mengakhiri perjalanannya dengan sukses, tiba di Los Angeles sebagai pemberhentian terakhir, di mana mereka mengadakan upacara perayaan dan seruan bersama.

“Ketika orang-orang mendengar tentang perjalanan kami demi hak asasi manusia ini, dan bagaimana kami memperingatkan dunia tentang bahaya yang ditimbulkan oleh Partai Komunis Tiongkok, mereka mendoakan kami dan mengacungkan jempol.
Setiap hari ratusan orang memberikan semangat — mereka berkata ‘luar biasa!’, ‘hebat!’, dan ‘mengagumkan!’ — pemandangan yang sungguh menyentuh hati,” kata Chen Weiming, pendiri Taman Patung Kebebasan. 

pendiri Taman Patung Kebebasan (Liberty Sculpture Park) di California, Chen Weiming (NTD)

Dukungan dari Warga dan Pejabat AS

Peserta konvoi Chen Yong mengatakan: “Setelah mereka (warga AS) mengetahui tujuan kegiatan ini, banyak yang ingin berfoto bersama kami, bahkan meminta tanda tangan.”

Selama berada di Washington D.C., konvoi ini juga mendapat dukungan dari sejumlah anggota Kongres AS.

Jin Xiuhong, Ketua Aliansi Demokrasi dan Hak Asasi Manusia Tiongkok, mengungkapkan: “Saat kami bertemu dengan Anggota Kongres Chris Smith di Washington D.C., beliau kembali menegaskan pesan penting: bahwa kami harus menuntut pertanggungjawaban dan ganti rugi dari Partai Komunis Tiongkok atas kejahatan dan kerusakan yang mereka timbulkan.”

Sementara itu, Guo Bin, penerjemah dalam tim konvoi, menambahkan: “Kami juga mendapat tanggapan besar dari kalangan politik Amerika. Mereka kini lebih memahami bagaimana Partai Komunis Tiongkok melakukan infiltrasi dan merusak masyarakat AS. Mereka sangat marah dan sangat mendukung perjuangan kami.”

Melintasi 20 Negara Bagian di Amerika Serikat

Konvoi ini berangkat dari California Selatan pada 6 September, menempuh perjalanan selama sebulan penuh, melintasi lebih dari 20 negara bagian di sepanjang pantai timur dan barat Amerika Serikat.

Chen Weiming menegaskan: “Saya percaya, meskipun perjalanan hak asasi manusia ini telah berakhir, perjuangan kita demi kebebasan dan hak asasi manusia bagi rakyat Tiongkok belum boleh berhenti.  Jalan kita masih panjang, dan kita harus terus melangkah ke depan.”

Sumber : NTDTV.com

Melihat Badai dari Sudut yang Berbeda, Dunia Tetaplah Indah

EtIndonesia. Topan Krathon datang membawa kekuatan yang menakutkan. Kerusakan yang ditinggalkannya membuat orang tak berani menatap ke bawah — karena di bawah, semuanya berantakan. Tapi jika menatap ke atas, justru terlihat sesuatu yang berbeda.

Tiba-tiba langit tampak lebih terang. Tanpa naungan pepohonan yang roboh, cakrawala menjadi lapang, dan langit biru tampak luas tanpa batas.

Kadang, jika kita mau mengubah sudut pandang, bahkan badai pun bisa tampak indah. Dengan hati yang penuh syukur dan kegembiraan, kita bisa merapikan kekacauan tanpa merasa terbebani.

Kekuatan Alam dan Keteguhan Hidup

Memang, banyak pohon besar tumbang — pohon juniper dan cemara Jepang roboh,  jacaranda tercabut sampai ke akar, dan banyak pot tanaman bergeser dari tempatnya, akar-akarnya longgar dan mungkin terluka.

Tapi aku merasa, dalam badai yang sedahsyat itu, tanaman-tanaman itu sudah sangat luar biasa. Mereka tetap berdiri sejauh yang mampu, menahan terpaan angin dan hujan — itulah bentuk keberanian yang paling sederhana, namun paling tulus.

Kali ini, kerusakan paling parah menimpa pohon-pohon besar, sementara bunga dan tanaman kecil justru tidak banyak terpengaruh — hanya terguling, tidak hancur.

Belajar dari Alam yang Roboh

Karena sibuk membersihkan area taman, aku tidak bisa terus memotret keadaan sekitar. Hanya sempat mengambil beberapa foto sekadar dokumentasi simbolis, lalu kembali bekerja — sambil membersihkan, sambil menemukan kerusakan baru.

Malamnya, aku pulang dalam keadaan kelelahan. Begitu menyentuh bantal pukul delapan malam, aku langsung tertidur. Baru terbangun pukul tiga dini hari, dan di saat itulah, aku memutuskan untuk menulis dan berbagi perasaan ini.

Dari Petuah Guru, Menemukan Ketenangan

Aku teringat kata-kata Guru Hsing Yun : “Dari badai dan hujanlah lahir keyakinan.”

Mengingat itu, aku tersenyum dan mulai bekerja dengan hati yang ringan. Sambil membersihkan, aku berbicara pada tanaman-tanamanku, seolah mereka bisa mendengar — mengucapkan terima kasih karena sudah berjuang bersama badai semalam.

Syukurlah, ada lebih dari sepuluh relawan yang datang membantu. Dengan gotong royong, seluruh area berhasil dibersihkan.

Bagian taman yang menjadi tanggung jawabku memang tak banyak dibantu orang lain — yang lain sibuk dengan rumah mereka sendiri. Tapi aku tidak merasa keberatan.

Setiap hari, aku melakukan sedikit demi sedikit, memperbaiki posisi pot, menegakkan batang yang miring, sampai tanaman itu kembali seperti semula.

Aku hanya ingin satu hal sederhana: agar para pengunjung nanti bisa melihat lagi taman yang indah seperti dulu.

Pelajaran dari Topan

Setelah melewati topan terkuat yang pernah kulihat, aku belajar sesuatu yang mendalam:

Dalam menghadapi kekuatan besar dan keras, kelembutan justru lebih mampu bertahan.

Ranting yang lentur bisa menunduk tanpa patah, sementara batang yang kaku justru mudah roboh.

Begitu juga manusia — di hadapan kesulitan hidup, bukan kekuatan yang membuat kita bertahan, melainkan kemampuan untuk melentur, menerima, dan bangkit kembali.

Penutup: Keindahan Setelah Badai

Badai memang membawa kerusakan, tetapi juga membersihkan debu lama dan membuka pandangan baru.

Langit menjadi lebih luas, udara menjadi segar, dan di balik reruntuhan, kehidupan mulai tumbuh kembali.

Mungkin itulah makna sesungguhnya dari hidup: belajar melihat keindahan, bahkan di tengah kehancuran. Sebab, selama hati kita masih bisa bersyukur dan tersenyum, maka tak ada badai yang benar-benar bisa menghancurkan keindahan dunia ini.(jhn/yn)

Kebakaran Dahsyat di Kawasan Elit Los Angeles — Pelaku Ternyata Sopir Uber

EtIndonesia. Pihak berwenang Amerika Serikat pada Rabu (8/10/2025) mengumumkan penangkapan seorang tersangka pelaku pembakaran yang diduga memicu kebakaran besar mematikan di awal tahun ini, yang dikenal sebagai “Kebakaran Palisades.” 

“Di belakang saya inilah komunitas yang dilalap Kebakaran Palisades pada  Januari tahun ini. Lebih dari 6.800 rumah dan bangunan komersial hancur total, dan 12 orang tewas dalam kobaran api. Kini, pelaku pembakaran yang menjadi dalang di balik tragedi ini akhirnya berhasil ditangkap,” demikian laporan reporter NTD Li Jiayin. 

Sementara itu, Jaksa Penuntut Sementara AS, Bill Essayli berkata : Hari ini, kami mengumumkan penangkapan Jonathan Lindknecht, 29 tahun. Ia dituduh melakukan pembakaran pada awal tahun ini, yang akhirnya menyebabkan kebakaran besar di Palisades.”

Menurut dakwaan, tersangka saat itu bekerja sebagai sopir Uber. Pada 1 Januari dini hari, setelah menurunkan penumpang, ia dengan sengaja menyalakan api di kawasan Pacific Palisades.

Meski petugas pemadam sempat memadamkan api, bara api masih menyala di akar tanaman yang lebat, tidak terlihat dari permukaan.

Bill Essayli menjelaskan: “Api itu terus membara di bawah tanah selama sekitar satu minggu, hingga pada 7 Januari, angin kencang meniupkan api ke permukaan dan memicu kebakaran besar — yang kini dikenal sebagai Kebakaran Palisades.”

Jaksa juga mengungkapkan bahwa sebelum melakukan pembakaran, tersangka menggunakan ChatGPT untuk membuat gambar simulasi kebakaran besar yang melanda komunitas dan warga yang panik berlarian.

Berbagai bukti menunjukkan bahwa tindakannya direncanakan dengan sengaja.

“(Sebelum membakar) ia turun dari mobil, berjalan di jalur setapak di dekat lokasi, memotret video dari puncak bukit, dan mendengarkan lagu rap — dalam video lagu itu juga terdapat adegan benda dibakar. Dalam beberapa hari sebelum pembakaran, ia berulang kali menonton video tersebut dan mendengarkan lagu itu,” ujar Essayli.

Pada Selasa (7 Oktober), aparat penegak hukum menangkap tersangka di negara bagian Florida. Ia didakwa dengan kejahatan berat pembakaran properti, yang diancam dengan hukuman minimal 5 tahun penjara wajib dan maksimal 20 tahun.

Reporter Li Jiayin menutup laporannya: “Kini, api memang telah padam, tetapi dampaknya akan terus terasa selama bertahun-tahun. Semoga keberhasilan pengungkapan kasus ini dapat memberikan sedikit penghiburan bagi mereka yang kehilangan rumah dan orang-orang tercinta.”

Laporan oleh wartawan NTD Li Jiayin dan Zhao Ziting dari Palisades, California.

Gempa Berkekuatan Magnitudo 7,6 Guncang Philipina, Pihak Berwenang Peringatkan Tsunami

EtIndonesia. Gempa bumi besar berkekuatan Magnitudo 7,6 SR melanda lepas pantai Mindanao di Philipina selatan, mendorong pihak berwenang untuk mengeluarkan peringatan tsunami dan memperingatkan warga tentang potensi gempa susulan.

Pusat gempa terletak sekitar 62 kilometer tenggara Kota Manay di Provinsi Davao Oriental, terjadi pada kedalaman dangkal 10 kilometer, menurut Institut Vulkanologi dan Seismologi Philipina (PHIVOLCS).

Menanggapi peringatan gempa bumi dan tsunami tersebut, Presiden Philipina Ferdinand Marcos Jr. mengatakan bahwa pemerintah bekerja sepanjang waktu untuk memastikan bantuan menjangkau semua orang yang terdampak gempa bumi baru-baru ini. Dia menyatakan telah menginstruksikan instansi terkait dan militer untuk melakukan evakuasi di wilayah pesisir sebagai tindakan pencegahan terhadap potensi ancaman tsunami.

Marcos menambahkan bahwa pihak berwenang saat ini sedang menilai situasi di lapangan dan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan penduduk.

Menurut Reuters, Pusat Peringatan Tsunami Pasifik menyatakan bahwa gelombang tsunami berbahaya berpotensi menghantam garis pantai dalam radius 300 kilometer dari episentrum gempa bumi setelah gempa kuat di Philipina.

Sistem Peringatan Tsunami AS juga mengindikasikan adanya ancaman tsunami. Kedua lembaga tersebut memperingatkan bahwa wilayah pesisir di dekat episentrum harus tetap waspada terhadap kemungkinan perubahan permukaan laut dan aktivitas gelombang yang berbahaya.

Sehari sebelum gempa Mindanao, gempa bumi terpisah berkekuatan 4,4 tercatat pada pukul 10.30 waktu setempat pada 9 Oktober 2025. Episentrumnya terletak tiga kilometer di utara-timur laut Pugo di Provinsi La Union pada kedalaman 23 kilometer. Gempa tersebut menyebabkan guncangan hebat di Kota Baguio, yang mendorong evakuasi di sekolah-sekolah dan universitas. Wali Kota Benjamin Magalong memerintahkan penangguhan kegiatan belajar mengajar untuk hari itu. Getaran yang lebih lemah juga terasa di beberapa wilayah Benguet, Provinsi Mountain, dan Pangasinan.

Ancaman tsunami bagi wilayah pesisir di sekitarnya

Pusat Peringatan Tsunami Pasifik yang berbasis di Honolulu mengumumkan bahwa gelombang berbahaya dapat terbentuk dalam radius 300 kilometer dari episentrum. Wilayah pesisir di Philipina yang paling dekat dengan gempa bumi dapat mengalami gelombang hingga 3 meter di atas permukaan laut normal. Gelombang yang lebih kecil juga dapat mencapai negara-negara terdekat seperti Indonesia dan Palau.

Meskipun intensitas gempanya tinggi, tidak ada korban jiwa atau kerusakan properti yang signifikan yang dilaporkan dari kedua gempa bumi tersebut. Namun, PHIVOLCS terus memantau situasi dengan saksama dan telah memperingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, mengingat lokasi negara tersebut di sepanjang Cincin Api Pasifik—zona seismik yang sangat aktif yang bertanggung jawab atas sekitar 90 persen gempa bumi di dunia.(yn)

Profesor University of Manitoba, Kanada : Perang Media Lintas Negara Partai Komunis Tiongkok Menjadi Luka Kedua Bagi Praktisi Falun Gong

EtIndonesia. Profesor emeritus Fakultas Pekerjaan Sosial Universitas Manitoba, Kanada, Maria Cheung, mengungkapkan bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) memanfaatkan media arus utama Amerika Serikat, seperti The New York Times, untuk menyerang Falun Gong dan kelompok seni Shen Yun. Ia menyatakan bahwa penelitian terhadap tujuh media besar di Amerika Utara menemukan tren yang mencolok yakni seiring meningkatnya jumlah praktisi Falun Gong yang meninggal dunia akibat penganiayaan, pemberitaan internasional tentang penyiksaan terhadap mereka justru menurun.”

Dalam wawancara dengan Epoch Times pada 30 September di Washington DC, Cheung menilai tindakan tersebut merupakan bentuk penindasan lintas negara dan menjadi “luka kedua” bagi para praktisi Falun Gong.

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah disiplin spiritual yang berlandaskan pada prinsip Sejati, Baik, dan Sabar . Latihan ini pertama kali diperkenalkan kepada publik pada tahun 1992 dan dengan cepat berkembang pesat, dengan sedikitnya 70 juta orang yang mempraktikkannya pada akhir dekade tersebut, menurut perkiraan resmi saat itu.

Karena takut akan popularitas Falun Gong, Partai Komunis Tiongkok (PKT) pada Juli 1999 melancarkan kampanye penindasan brutal untuk memberantas praktik ini. Sejak saat itu, jutaan orang telah menjadi korban penangkapan sewenang-wenang, penyiksaan, kerja paksa, bahkan pengambilan organ secara paksa.

Penganiayaan dan Penindasan Lintas Negara telah Berlangsung Selama 26 Tahun

Menurut Dr. Cheung, penindasan lintas negara PKT benar-benar nyata.

 “Bahkan sebelum istilah itu dikenal, sejak hari pertama Falun Gong dianiaya pada tahun 1999, PKT sudah melakukan penindasan lintas negara terhadap para praktisi Falun Gong di luar negeri,” ujarnya.

Sejak penganiayaan dimulai, kediaman juru bicara Falun Gong di AS, Gail Rachlin, telah disusupi agen PKT sedikitnya lima kali.

Pada 7 September 2001, lima praktisi Falun Gong diserang di luar Konsulat PKT di Chicago.

Tahun 2004, Dewan Perwakilan Rakyat AS mengesahkan Resolusi 304, salah satu undang-undang pertama yang menyinggung penindasan lintas negara. Resolusi itu menyoroti serangan terhadap praktisi Falun Gong di AS serta intimidasi terhadap pejabat lokal yang mendukung kebebasan berkeyakinan mereka, dan menyerukan agar pemerintah AS memberikan perlindungan bagi para praktisi.

Penindasan Lintas Negara Semakin Meningkat – Melukai Falun Gong untuk Kedua Kalinya

Dr. Cheung menyebutkan bahwa PKT kini meningkatkan kampanye global melawan Falun Gong.  “Penindasan itu meningkat setelah dokumen bocor menunjukkan bahwa Xi Jinping memerintahkan peningkatan serangan terhadap Shen Yun dan Falun Gong,” ujarnya.

Sebelumnya, pakar hukum terkenal Yuan Hongbing, mantan profesor hukum di Universitas Peking, mengungkapkan bahwa pada tahun 2022, Xi Jinping telah memerintahkan eskalasi penganiayaan transnasional, terutama lewat “perang opini publik” dan “perang hukum.”

Dr. Cheung menjelaskan: “Mereka (PKT) menggunakan perang opini dan hukum untuk memfitnah, memutarbalikkan fakta, dan mengikis kepercayaan publik terhadap Shen Yun dan Falun Gong. Taktik ini sangat berbahaya dan rumit karena dijalankan lewat media yang telah lama dipercaya masyarakat — misalnya The New York Times.”

Ia menambahkan bahwa banyak orang mempercayai berita dari media tersebut, sehingga “luka terhadap para korban menjadi berlipat ganda.”

Kampanye media yang diarahkan oleh PKT

Sejak Maret 2024, The New York Times menerbitkan 12 artikel yang menyerang Falun Gong dan Shen Yun, salah satunya menyelewengkan fakta tentang praktik pengambilan organ tubuh secara hidup-hidup oleh PKT. Artikel-artikel itu kemudian disebarluaskan secara masif oleh akun-akun pro-PKT di media sosial X.

Terkait hal ini, Dr. Katrina Lantos Swett, Ketua Lantos Foundation for Human Rights dan mantan Ketua USCIRF, menyatakan bahwa lembaganya telah mengajukan protes resmi ke The New York Times:

“Media itu telah digunakan oleh PKT sebagai alat propaganda untuk menyerang kelompok spiritual yang damai dan tak bersalah. Mereka tidak boleh membiarkan diri mereka menjadi senjata propaganda PKT.”

Dr. Cheung menegaskan, “Falun Gong adalah korban pelanggaran hak asasi manusia dan genosida oleh PKT. Kini, lewat manipulasi media, mereka kembali digambarkan sebagai pelaku — ini menjadikan korban semakin terpinggirkan dan kembali tersakiti.”

Bukti dan respons internasional

Brigadir Jenderal Robert Spalding pada 2024 pernah menyampaikan di Kongres AS bahwa: “PKT menggunakan media kita sendiri untuk melawan kita. Contohnya, dengan membuat media dan universitas kita percaya bahwa Falun Gong adalah kelompok aneh — inilah bentuk kendali PKT terhadap media Amerika.”

Sebanyak 1.500 seniman, aktor, dan anggota keluarga Shen Yun telah menandatangani petisi yang mendesak Departemen Kehakiman AS menyelidiki aktivitas jahat pemerintah asing di balik serangan tersebut. Petisi itu diluncurkan pada Desember 2024, sebagai tanggapan atas meningkatnya ujaran kebencian terhadap Shen Yun di AS.

Dalam petisi disebutkan bahwa “narasi yang salah dan menyesatkan” kini menggema di media arus utama dan sebagian didukung oleh “perang hukum dan tuntutan investigasi palsu terhadap pemerintah.”

Ancaman Kekerasan Meningkat

Dr. Cheung juga mengungkapkan bahwa dalam peningkatan penindasan transnasional itu, PKT bahkan melancarkan “ancaman bom palsu.”

Menurut Pusat Informasi Falun Dafa, hingga 25 September 2025, telah terjadi setidaknya 184 ancaman pembunuhan terhadap praktisi Falun Gong dan pendukung mereka — termasuk 7 kasus hanya dalam bulan September.

Dr. Cheung mengatakan, “Meski kemudian terbukti ancaman itu palsu, pesan tersebut sangat bernada kekerasan — dikirim ke teater tempat Shen Yun tampil atau ke pusat informasi Falun Dafa. Itu adalah bentuk kekerasan yang semakin parah.”

Seruan kepada pemerintah AS

Dr. Cheung menyerukan agar Kongres AS mengadakan lebih banyak sidang dengar pendapat mengenai penindasan lintas negara dan ancaman bom palsu.  Ia juga mendesak agar Senat AS segera mengesahkan “Undang-Undang Perlindungan Falun Gong” yang sebelumnya telah lolos di DPR.

“Pemerintah AS harus serius memperhatikan isu ini — mendukung para korban, membantu mereka bersuara, dan bersama-sama melawan penganiayaan agama yang sedang berlangsung,” tegasnya. (Hui/asr)

Sumber : Epochtimes.com