Fenomena Tak Biasa! Ribuan Kepiting Naik ke Jalanan di Tianjin, Tiongkok, Warga Berbondong-bondong “Berburu Kepiting” di Malam Hari

Baru-baru ini, fenomena tidak biasa muncul di sekitar Taman Lahan Basah Qilihai, Tianjin. Ribuan kepiting merayap naik ke jalan raya pada malam hari, menarik banyak warga dari desa-desa sekitar untuk keluar berburu kepiting. Ada yang mengaku bisa mendapatkan hingga 10 jin (sekitar 5 kg) hanya dalam semalam.

Etindonesia. Sejumlah video yang beredar di internet menunjukkan pemandangan keramaian orang-orang mencari kepiting di malam hari. Sinar lampu senter berkelap-kelip di antara rerumputan bak jaring bintang yang bergerak. Ada warga yang dengan bangga memamerkan ember penuh hasil tangkapan, sementara di jalan aspal terlihat banyak bangkai kepiting yang terlindas kendaraan.

Pada 25 September 2025 malam sekitar pukul 20.00, seorang warganet yang menempuh perjalanan sejauh 30 km ke Qilihai Avenue dan jalan-jalan kecil di sekitarnya, menyaksikan banyak orang berjalan dengan senter di tangan untuk mencari kepiting di jalan maupun semak. Ada yang berhasil mengumpulkan hingga 10 jin, namun kebanyakan hanya mendapatkan beberapa ekor. Jalan raya pun penuh dengan kepiting yang mati terlindas mobil.

Warga berpengalaman membagikan trik: “Di pinggir jalan dekat peternakan, atau di semak-semak dan cekungan berumput, biasanya kepiting lebih banyak.”

Menurut para ahli ekologi, fenomena kepiting yang bergerak massal ke jalan pada malam hari kemungkinan besar berkaitan dengan eutrofikasi (kaya nutrien) pada air lahan basah. Laporan kualitas air Qilihai tahun 2022 menunjukkan bahwa kadar nitrogen total melebihi ambang batas 1,8 kali lipat, yang berhubungan langsung dengan limbah dari 38 peternakan di sekitarnya.

Namun, pihak peternakan menyangkal bahwa kepiting tersebut berasal dari kolam mereka. Mereka menyebut kemungkinan kepiting itu berasal dari lahan basah Qilihai sendiri, yang memang menjadi habitat bagi kepiting liar maupun budidaya.

Seorang peternak menjelaskan bahwa kepiting Qilihai adalah merek terkenal, dan setiap tahun pada musim ini memang ada kepiting yang bermigrasi dari lahan basah untuk mencari tempat berhibernasi. Menurutnya, ini adalah fenomena normal.

Tetapi, terdapat tiga hal yang menimbulkan keraguan:

  1. Kawanan kepiting lebih banyak terkonsentrasi di sekitar peternakan, bukan di inti kawasan lahan basah alami.
  2. Dalam satu hari, jumlah kepiting yang dihitung mencapai lebih dari 23 ribu jin (sekitar 11,5 ton), jauh melampaui kapasitas ekologi.
  3. Petugas kebersihan melaporkan bahwa setiap dini hari mereka bisa menyapu “setengah tong kaki kepiting” yang tersisa.

Seorang peternak bernama Zhang mengungkapkan kepada media independen bahwa biasanya pada periode ini kepiting sudah bermigrasi ke laut dalam. Namun tahun ini justru terlihat “seperti kehilangan arah,” bergerombol naik ke daratan.

Beberapa analisis menilai bahwa jika kepiting budidaya naik ke daratan secara massal, kemungkinan besar ada masalah pada kualitas air, atau kepiting tersebut sedang sakit. Penyebab lain bisa termasuk sisa obat, lemahnya daya tahan tubuh, stres lingkungan, suhu dasar air terlalu tinggi, masalah pupuk air, atau pemberian pakan yang tidak mencukupi.

Fenomena ini juga disebut mirip dengan tanda-tanda yang terjadi di Danau Biwa, Jepang, sebelum krisis alga biru pada 2009. Saat itu, tiga tahun setelah kepiting bermigrasi secara abnormal ke daratan, danau tersebut mengalami bencana ekologi besar.

Saat ini, sebagian wilayah Qilihai juga sudah mencapai batas peringatan kepadatan alga, dan budidaya kepiting dengan kepadatan tinggi—lebih dari 2.000 ekor per mu (sekitar 667 m²)—semakin memperburuk kondisi, melampaui kemampuan alami lahan basah untuk menyaring air. (***)

Sumber : NTDTV.com

Banjir Bandang Hualien, Taiwan, Seorang Ibu Melepaskan Genggaman Tangan Anak agar Bisa Selamat

EtIndonesia. Pada 26 September 2025, jebolnya bendungan alami (danau bendungan) Sungai Matai’an di Hualien memicu bencana besar. Desa Fo Zu Jie di Kecamatan Guangfu menjadi daerah terdampak paling parah, dengan lumpur dan air terus menerjang. Tim penyelamat mengatakan, derasnya arus air bercampur lumpur membuat operasi sangat sulit, beberapa kali terpaksa mundur karena kenaikan air. Bahkan alat berat pun ikut terjebak lumpur.

Seorang warga yang kehilangan keluarganya dengan suara terisak menceritakan, saat banjir bandang datang, ia berteriak kepada ibunya agar menggenggam tangannya. Namun, sang ibu justru melepaskan genggamannya agar ia bisa menyelamatkan diri.  Si anak berkata sambil menangis: “Mama tidak ingin aku ikut tenggelam bersamanya.” Sayangnya, ibunya meninggal dunia, begitu pula kakaknya yang tinggal di dekat rumah.

Hasil pemeriksaan forensik menunjukkan, jenazah korban dipenuhi lumpur dari kepala hingga kaki, bagian mulut dan hidung juga penuh lumpur, menandakan para lansia tewas akibat tersedak lumpur dan tenggelam.

Menurut laporan Pusat Penanggulangan Bencana Pusat, hingga 27 September pagi pukul 09.00, jebolnya danau bendungan Matai’an telah menyebabkan 15 orang meninggal dunia, 7 orang hilang, dan 78 orang luka-luka. Jumlah korban hilang dikoreksi dari 8 menjadi 7 setelah ditemukan satu jenazah baru di Fo Zu Jie.

Air bah yang datang pada 23 September menghancurkan jembatan Sungai Matai’an, merendam tanggul, dan meluap ke desa-desa Kecamatan Guangfu. Ketinggian air bahkan mencapai setara satu lantai rumah, mobil terendam dan banyak yang hanyut.

Pemerintah maupun masyarakat segera bergerak memberikan bantuan. Pada 27 September, sebuah posko relawan resmi dibuka di Stasiun Guangfu Taiwan Railways, untuk mengatur penyaluran tenaga sukarela. Petugas juga dikerahkan ke jalur darat dan kereta untuk membantu relawan yang menuju lokasi bencana.

Sejak 26 September, ratusan relawan berbondong-bondong datang ke Stasiun Hualien dan Stasiun Ji’an, membawa sekop, ember, dan peralatan pembersih, bersiap naik kereta menuju Guangfu. Karena tiket kereta cepat (Tze-Chiang) habis, Taiwan Railways akhirnya membuka tiket berdiri demi memberi kesempatan lebih banyak relawan berangkat.

Banyak relawan mengatakan mereka mengetahui kebutuhan tenaga dari unggahan media sosial, lalu berinisiatif datang tanpa tujuan tertentu—siap membantu di mana pun dibutuhkan. Ada juga warga yang tak kebagian tiket kereta, memilih memutar lewat jalan raya hingga 2 jam perjalanan untuk mencapai lokasi.

Di lapangan, organisasi masyarakat, politisi lokal, hingga tim penyelamat dari berbagai kota ikut turun. Misalnya, Asosiasi Perempuan Baru Zhuoxi membantu di posko pengungsian, menyediakan pengaturan lalu lintas, distribusi logistik, dukungan medis, hingga pelayanan sosial. Beberapa anggota legislatif dan kepala daerah juga mengirimkan bantuan alat berat, logistik, serta tenaga medis.

Hingga 26 September, kondisi bendungan alami masih tidak stabil. Tinggi bendungan yang tersisa 86 meter sudah tergerus 114 meter ke dalam. Volume air berkurang menjadi 7,7% dari semula, namun erosi masih berlanjut dan curah hujan tetap menambah air. Karena itu status siaga merah tetap diberlakukan.

Pusat Penanggulangan Bencana Pusat mengumumkan, operasi tanggap darurat tetap pada level 1, dengan fokus khusus pada Sungai Matai’an.

Selain korban jiwa dan kerusakan rumah, sekolah-sekolah juga terdampak parah. SMP Guangfu misalnya, terendam lumpur lebih dari 50 cm di lantai dasar, termasuk lapangan sepak bola, lapangan bisbol, kantor administrasi, ruang kelas, hingga dapur sekolah.

Pemerintah daerah lain juga ikut menyalurkan bantuan. Pemerintah Kota New Taipei meluncurkan program bantuan pulang kampung dan rekonstruksi rumah bagi warga asli Guangfu, dengan subsidi hingga NT$10.000 per rumah tangga. Pemerintah Kabupaten Hsinchu juga menyiapkan bantuan serupa bagi warga terdampak.

Bencana ini menggugah solidaritas nasional. Ribuan relawan, petugas pemadam kebakaran, dan organisasi sipil telah bergabung membantu membersihkan lumpur, menyelamatkan korban, dan mendistribusikan obat-obatan (bahkan menggunakan drone untuk pertama kalinya dalam pengiriman obat di daerah bencana).

Sumber : NTDTV.com

Gempa Guncang Tiongkok, Terjadi Guncangan Hebat Hingga Rumah-Rumah Runtuh 

EtIndonesia. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,6  mengguncang Kabupaten Longxi, Kota Dingxi, Provinsi Gansu, Tiongkok  pada Sabtu (27/9/2025) pukul 05.49.  Sejumlah rumah dilaporkan runtuh, beberapa orang terluka, dan banyak warga terbangun dari tidurnya akibat guncangan keras. Getaran juga dirasakan jelas di Lanzhou, Tianshui, dan Xi’an.

Menurut pengukuran resmi Pusat Jaringan Gempa Bumi Tiongkok, gempa terjadi di Lintang Utara 34,91 derajat dan Bujur Timur 104,58 derajat, dengan kedalaman 10 km. Dalam rentang waktu pukul 05.49 hingga 06.28, wilayah Dingxi kembali diguncang gempa-gempa susulan dengan magnitudo 2,8; 4,5; dan 4,3.

Daerah sekitar episentrum mencakup Desa Rongfeng, Longhuishan, Wangjiapo, Chenjiamen, Huakelin, Xianjiamen, dan desa lainnya di Kecamatan Wenfeng. Episentrum berjarak sekitar 12 km dari Kabupaten Zhang, 12 km dari Longxi, dan 145 km dari Kota Lanzhou.

Guncangan terasa kuat di Longxi, Zhangxian, Weiyuan, Lintao, Tianshui, hingga Lanzhou. Wilayah di provinsi sekitar seperti Shaanxi, Ningxia, Qinghai, dan Shanxi juga melaporkan getaran.

Rekaman video warga menunjukkan rumah berguncang keras lebih dari 20 detik, lampu gantung bergoyang hebat, tanah dan batu berjatuhan, tembok roboh, hingga hewan peliharaan panik berusaha kabur. Banyak warga yang ketakutan segera berlari keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

Di Desa Hualin, Kecamatan Wenfeng, tembok rumah tanah banyak yang runtuh, atap genteng rumah kayu-bata juga berjatuhan.

Seorang warga bermarga Dong yang tinggal di lantai 21 mengatakan, ia terbangun oleh guncangan kuat yang terasa seperti tempat tidurnya diguncang keras. Karena tinggal di lantai tinggi, ia tidak sempat turun saat gempa utama, tetapi segera berlari turun ke luar saat gempa susulan terjadi.

Seorang warga Lanzhou menceritakan, keluarganya yang tinggal di Desa Mianliutan (wilayah episentrum) melaporkan banyak rumah tanah runtuh, tembok retak, dan gempa susulan masih sering terasa. Sebagian besar penduduk mengungsi ke tempat terbuka.

Warga lain dari Longxi mengatakan, “Air di akuarium bergoyang hebat, gantungan baju ikut bergoyang. Saya langsung membangunkan keluarga dan turun ke luar, semua tetangga juga berlari ke lapangan.”

Komentar warganet:

  • “Rumah saya hanya 200 km dari pusat gempa, guncangannya sangat kuat, sampai bayi saya terbangun. Rasanya panik sekali.”
  • “Melihat CCTV, durasi guncangan terlalu lama.”
  • “Di lantai 15, jarak 30 km dari pusat gempa, saya terbangun oleh guncangan hebat.”
  • “Di Zhangxian, lantai 7 terasa seperti gedung ikut bergoyang. Sangat menakutkan.”
  • “Di Lanzhou, getarannya kuat sekali, membuat saya langsung terbangun.”

Ada juga warga Xi’an yang awalnya hanya mendengar suara aneh seperti “tikus menggerogoti,” lalu melihat kursi goyang bergerak sendiri. Baru kemudian ia sadar bahwa itu gempa.

Menurut laporan resmi media Tiongkok, hingga saat ini 7 orang terluka, 8 rumah ambruk, dan lebih dari 110 rumah rusak. Jalur kereta cepat Xulan, jalur kereta Lanyu, dan Longhai sempat menghentikan 3 kereta, sementara kereta cepat Xulan diberlakukan pembatasan kecepatan 40–60 km/jam.

Namun, mengingat pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) sering menutupi data sebenarnya, kondisi lapangan bisa jadi jauh lebih serius.

Sumber : NTDTV.com

Siswa SMA di Tiongkok  Menikam Teman Sekelasnya  Lalu Memilih Mengakhiri Hidupnya

Baru-baru ini, insiden seorang siswa menikam  teman sekelasnya  dengan menggunakan pisau lalu  ia memilih mengakhiri hidupnya dari gedung  di sebuah sekolah menengah di Kota Dongxing, Guangxi. Insiden ini memicu perhatian publik.

EtIndonesia. Menurut kabar yang beredar di internet daratan Tiongkok, pada 11 September seorang siswa kelas 1 SMA di Dongxing Middle School meninggal dunia, sementara seorang siswa lainnya mengalami luka akibat sabetan pisau.

Pada 25 September, seorang staf dari Dinas Pendidikan Kota Dongxing mengatakan kepada Red Star News bahwa memang benar pada 11 September ada seorang siswa yang meninggal dunia dan seorang siswa lainnya terluka. Dinas Pendidikan dan kepolisian sudah turun tangan menangani kasus ini. Terkait dugaan perundungan di sekolah, polisi menyatakan masih dalam penyelidikan.

Pada 26 September, pemerintah Kota Dongxing mengeluarkan laporan resmi bahwa pada 11 September pukul 20:36, seorang siswa bermarga Xu (許某某) melukai teman sekelasnya, Chen, dengan pisau, kemudian melarikan diri dari lokasi dan melompat dari gedung. Setelah mendapat pertolongan darurat, Xu dinyatakan meninggal dunia. Saat ini Chen masih dirawat di rumah sakit.

Pada pukul 15:00 hari yang sama, Xu merasa bahwa Chen, Wang, dan Liao mengejek dirinya lewat obrolan di jam istirahat. Ia lalu mengejar mereka dengan sapu, namun dihentikan wali kelas yang kemudian menegur kedua pihak. Saat jam belajar malam, Xu kembali berselisih dengan Chen dan dua temannya. Xu lalu mengeluarkan pisau yang diselundupkan dalam tas sekolah, menebas Chen, lalu berlari dari ruang kelas lantai 1 menuju lantai 4 dan melompat dari balkon koridor. Hasil forensik menyimpulkan Xu meninggal akibat jatuh dari ketinggian dan menyingkirkan dugaan pembunuhan.

Laporan resmi juga menyebutkan tidak ditemukan bukti bahwa Xu pernah mengalami perundungan oleh siswa lain selama bersekolah.

Setelah kejadian, seorang yang diduga keluarga Xu menulis di internet:  “Saya Liu Xifeng, ibu dari Xu Yuming, siswa kelas 1-21 Dongxing Middle School. Pada 11 September malam, anak saya meninggal di sekolah dengan cara yang tidak jelas. Saya berharap semua kerabat dan teman mau membantu menyebarkan di Douyin, trending, dan Weibo untuk menuntut keadilan bagi anak saya. Terima kasih semuanya.”

Menurut kabar yang beredar, siswa tersebut sudah lama mengalami perundungan di sekolah. Setelah insiden terjadi, pihak sekolah langsung menutup akses, polisi masuk ke sekolah memeriksa ponsel siswa, dan kemudian sekolah menambah hampir 20 kamera pengawas serta fasilitas pemeriksaan keamanan di gerbang. Semua barang seperti ponsel dan kamera diperiksa dengan ketat.

Kasus ini memicu komentar publik:  “Apakah boleh membawa pisau ke sekolah? Menyeramkan…”

 “Pengumuman ini seakan menyatakan sekolah tidak salah, guru tidak salah, teman sekelas tidak salah, semuanya salah anak itu sendiri…”

 “Semoga dilakukan penyelidikan mendalam, bukan hanya menonton rekaman CCTV lalu buru-buru menutup kasus.”

“Katanya hanya berkelahi? Kalau begitu kenapa dia selalu membawa pisau? Untuk melindungi diri dari siapa? Kenapa melawan tiga orang sekaligus? Kenapa setelah melukai orang lalu bunuh diri? Apakah dia benar-benar mengalami perundungan lama oleh tiga orang itu sehingga membawa pisau? Setelah melukai orang takut dibalas lalu ketakutan melompat? Banyak pertanyaan yang belum terjawab.”

“Jika sudah ada perselisihan, dan posisinya tiga lawan satu, guru juga sudah tahu serta menegur, kenapa tidak ditindaklanjuti lebih serius? Ini bukan sekadar kelalaian kecil.”
“Sekolah dan wali kelas harus bertanggung jawab.”

 “Sekarang ini sungguh sulit, kasus perundungan sekolah sering sekali terjadi. Kesehatan mental dan fisik anak-anak sekarang benar-benar sangat penting.”

Sumber : NTDTV.com

Kram Otot: 2 Cara Sederhana untuk Mengatasinya dan Teh Herbal yang Mungkin Membantu

Menurut pengobatan tradisional Tiongkok, kram otot adalah tanda dari berkurangnya energi vital, cairan tubuh, dan darah secara keseluruhan

Naiwen Hu

Kram otot yang menyakitkan bisa membangunkan Anda di tengah malam dan berlangsung hingga beberapa menit. Kram lebih sering terjadi di musim panas ketika cuaca panas dapat menyebabkan dehidrasi.

Dalam pengobatan modern, hilangnya elektrolit dianggap sebagai penyebab utama. Namun, pengobatan tradisional Tiongkok (PTT) menawarkan sudut pandang yang lebih dalam—melihat kram sebagai tanda terkurasnya energi, cairan, dan nutrisi. Dengan menggabungkan hidrasi, akupresur tertentu, serta ramuan herbal, Anda bisa pulih lebih cepat dan bahkan terbebas dari kram otot.

Memahami Kram Otot

Keringat berlebihan menyebabkan hilangnya air dan elektrolit seperti natrium, kalium, dan magnesium—mineral penting untuk penghantaran sinyal saraf dan kontraksi otot. Ketika keseimbangannya terganggu, regulasi kalsium di dalam sel otot ikut terganggu, memicu kontraksi tak terkendali—dikenal sebagai kram atau “charley horse.”

PTT  menambahkan perspektif lain—menganggap kram otot sebagai tanda berkurangnya energi vital, cairan tubuh, dan darah.

  • Energi vital (qi): Menggerakkan seluruh proses fisiologis, termasuk distribusi cairan. Ketika energi vital melemah akibat panas dan kelelahan, sirkulasi cairan terganggu dan otot tidak ternutrisi—sehingga lebih rentan kram.
  • Cairan tubuh: Cairan yang melembapkan jaringan. Berkeringat berlebihan menguras cairan ini, membuat otot dan tendon mengering, kaku, lalu kram.
  • Jantung dan darah: Jantung memompa darah untuk memberi nutrisi pada otot. Kitab medis klasik TCM “The Yellow Emperor’s Inner Canon” menyebutkan, “Keringat adalah cairan dari jantung.” Keringat berlebihan juga menguras darah bersama cairan tubuh, melemahkan kemampuan jantung menutrisi otot dan membuatnya lebih rentan kejang.

Baik pengobatan modern maupun PTT sepakat bahwa panas musim panas menguras tubuh. Pengobatan modern berfokus memulihkan elektrolit, sementara PTT mengembalikan keseimbangan dengan menambah energi vital, cairan, dan nutrisi. Keduanya bersama-sama memberi strategi lengkap untuk menjaga otot tetap lentur dan kuat.

2 Titik Akupresur untuk Meredakan Kram Otot

Memijat titik-titik akupresur tertentu dapat menyeimbangkan energi dan aliran darah, sehingga kram cepat mereda.

  1. Titik Aurikula Paratiroid
  • Lokasi: Pada antitragus telinga—tulang rawan kecil di seberang liang telinga.
  • PTT: Stimulasi titik ini mendukung keseimbangan kalsium tubuh dengan memengaruhi kelenjar paratiroid yang mengatur metabolisme kalsium.
  • Cara: Pijat lembut atau tekan-tahan 1–2 menit pada tiap telinga ketika kram muncul.
  1. Baihui DU 20 (Seratus Pertemuan)
  • Lokasi: Di puncak kepala, tepat di atas ujung kedua telinga, sekitar satu lebar ibu jari ke arah belakang.
  • PTT : Baihui dianggap sebagai titik pertemuan utama jalur energi tubuh. Sering digunakan untuk menenangkan sistem saraf, menyeimbangkan sirkulasi, dan meredakan ketegangan atau kejang mendadak.
  • Cara: Pijat lembut atau hangatkan dengan pengering rambut suhu rendah, atau gunakan kompres hangat untuk meredakan kram.

3 Teh Herbal untuk Kram Otot

Selain itu, penting juga mengatasi keringat berlebihan.

Dalam PTT, ada dua jenis keringat utama: keringat spontan (siang hari tanpa aktivitas fisik) dan keringat malam (saat tidur, lebih sering dialami lansia atau anak-anak).

1. Teh Jade Windscreen Powder – untuk Keringat Spontan

  • Fungsi: Resep PTT Yu Ping Feng San ini memperkuat energi pelindung tubuh. Membantu pori-pori tetap teratur sehingga mencegah keringat berlebihan. Penelitian juga menemukan ramuan ini dapat meningkatkan imun tubuh.
  • Cocok untuk: Anak-anak dan orang dewasa dengan keringat siang hari yang berlebihan.
  • Bahan:
    • 11 gram akar saposhnikovia (fangfeng)
    • 11 gram akar astragalus (huangqi)
    • 11 gram rimpang atractylodes (baizhu)
  • Cara membuat: Cuci bersih, rebus dengan 3–4 cangkir air hingga mendidih, kecilkan api, didihkan perlahan 20–30 menit. Minum hangat atau suhu ruang (jangan tambahkan es).
  • Catatan: Hindari saat sedang flu atau radang seperti sakit tenggorokan. Penderita hipertensi harus konsultasi ke dokter.

2. Teh Pulse Generator – untuk Keringat Malam

  • Fungsi: Sheng Mai Yin mengisi kembali cairan tubuh untuk menghentikan keringat malam, sekaligus meningkatkan energi yang.
  • Cocok untuk: Orang yang terbangun basah kuyup karena keringat, lelah, atau berdebar saat cuaca panas.
  • Bahan:
    • 7–11 gram ginseng (renshen)
    • 20–30 buah beri schisandra (wuweizi)
    • 37 gram akar ophiopogon (maidong)
  • Cara membuat: Cuci bahan, rebus dengan 3–4 cangkir air hingga mendidih, kecilkan api, didihkan perlahan 20–30 menit. Minum seperti teh.
  • Catatan: Hindari saat infeksi akut atau gangguan pencernaan. Konsultasikan dosis ke praktisi PTT

3. Cinnamon Twig and Kudzu Root Doctrine – untuk Kram Berkepanjangan

  • Fungsi: Guizhi-Gegen Tang sering digunakan di klinik PTT (dengan bimbingan praktisi PTT). Membantu melancarkan sirkulasi, meredakan ketegangan otot, dan mengatur pertahanan tubuh.
  • Bahan:
    • Batang kayu manis (guizhi)—menghangatkan dan melancarkan jalur energi
    • Akar kudzu (gegen)—merilekskan otot, terutama punggung atas
  • Cara membuat: Cuci bersih, rebus dengan 4–5 cangkir air hingga mendidih, kecilkan api, didihkan perlahan 20–30 menit. Minum hangat.
  • Catatan: Ibu hamil harus konsultasi dengan praktisi profesional sebelum mengonsumsi.

Ramuan herbal Tiongkok di atas bisa didapat di toko bahan kesehatan atau toko Asia. Selalu konsultasikan dengan praktisi PTT untuk memastikan keamanan dan efektivitas sesuai kondisi tubuh Anda.

Dr.Oz Menjelaskan Kapan Ibu Hamil Boleh Mengonsumsi Tylenol Saat Diterbitkannya Peringatan Risiko Autisme

Kepala Centers for Medicare and Medicaid Services Amerika Serikat mengatakan seorang dokter dapat menganjurkan ibu hamil untuk mengonsumsi acetaminophen.

EtIndonesia. Kepala Centers for Medicare and Medicaid Services (CMS) Amerika Serikat, Dr. Mehmet Oz, memberikan klarifikasi terkait pedoman federal mengenai kapan aman bagi ibu hamil untuk mengonsumsi acetaminophen, setelah pemerintahan Trump mengumumkan awal pekan ini bahwa obat pereda nyeri tersebut bisa terkait dengan autisme.

CMS artinya Pusat Layanan Medicare dan Medicaid — yaitu badan federal Amerika Serikat yang mengelola program asuransi kesehatan publik seperti Medicare, Medicaid, dan CHIP.

Ketika ditanya oleh CBS News pada 25 September apakah pedoman federal terbaru menyebutkan bahwa ibu hamil “tidak boleh sama sekali mengonsumsi Tylenol dalam kondisi apa pun,” Oz menjawab, “Secara tegas, tidak.”

Mantan ahli bedah sekaligus tokoh televisi ternama yang dikenal sebagai Dr. Oz itu mengatakan bahwa jika seorang ibu hamil mengalami demam, dokter mungkin akan menganjurkan penggunaan acetaminophen, zat aktif dalam Tylenol.

“Masalahnya, saya percaya kebanyakan perempuan mengalami demam ringan, keseleo, nyeri kecil, lalu menganggap aman mengonsumsi beberapa butir parasetamol atau acetaminophen atau Tylenol saat hamil. Saya rasa itu tidak sepenuhnya benar,” kata Oz.

Ia menambahkan, rekomendasi mengenai Tylenol lebih “berkaitan dengan masalah yang jawabannya mungkin belum sepenuhnya kita ketahui,” sambil menekankan, “Menurut saya, jawaban yang paling bijak adalah tentu saja meminumnya jika dokter mengatakan Anda membutuhkannya. Tetapi jangan mengonsumsi sendiri tanpa pertimbangan matang.”

Awal pekan ini, Komisioner Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA), Marty Makary, mengeluarkan surat terbuka kepada para dokter dan penyedia layanan kesehatan lainnya, yang menyebutkan bahwa penggunaan acetaminophen selama kehamilan mungkin dikaitkan dengan peningkatan risiko autisme dan gangguan neurologis lainnya.

“Meski hubungan antara acetaminophen dan autisme telah dilaporkan dalam banyak penelitian, hubungan sebab-akibat belum terbukti,” tulis surat tersebut. Makary juga menyatakan, “Acetaminophen adalah pilihan obat bebas yang paling aman untuk kehamilan di antara semua analgesik dan antipiretik.”

Dalam konferensi pers terkait pengumuman itu, Presiden Donald Trump menyerukan agar ibu hamil tidak mengonsumsi obat pereda nyeri tersebut, bahkan sempat menegaskan, “Jangan minum Tylenol.” Ia didampingi pejabat kesehatan tinggi seperti Oz dan Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr.

“Mereka sangat menganjurkan agar perempuan membatasi penggunaan Tylenol selama kehamilan kecuali benar-benar diperlukan secara medis,” kata Trump. “Misalnya, dalam kasus demam sangat tinggi.”

Dalam pernyataan menanggapi pengumuman itu, produsen Tylenol, Kenvue, mengatakan penelitian menunjukkan bahwa penggunaan acetaminophen tidak menyebabkan autisme.

“Penelitian independen yang valid jelas menunjukkan bahwa penggunaan acetaminophen tidak menyebabkan autisme,” kata perusahaan itu, menyebut Tylenol sebagai “obat pereda nyeri paling aman bagi ibu hamil sesuai kebutuhan sepanjang masa kehamilan.”

Perusahaan itu juga memberikan tanggapan kepada The Epoch Times mengenai unggahan lama di media sosial mereka yang disorot sejumlah influencer, dengan menyebut unggahan tersebut diambil di luar konteks.

Salah satu unggahan tahun 2017 dari akun resmi Tylenol X menyatakan, “Kami sebenarnya tidak merekomendasikan penggunaan produk kami selama kehamilan.” Unggahan lain di platform yang saat itu bernama Twitter menyebutkan, “Kami belum menguji Tylenol untuk digunakan selama kehamilan.”

Seorang juru bicara mengatakan, “Hal ini diambil di luar konteks—kami tidak membuat rekomendasi penggunaan obat apa pun saat kehamilan karena itu adalah tugas penyedia layanan kesehatan.”

Untuk diketahui, Tylenol adalah merek obat pereda nyeri dan penurun demam yang mengandung parasetamol (dikenal juga sebagai acetaminophen). Biasanya digunakan untuk sakit kepala, nyeri otot, nyeri akibat pilek atau flu, sakit gigi dan demam. (asr)

Forum Keamanan Tiongkok: Retorika Perdamaian yang Menutupi Tatanan Dunia yang Dipimpin PKT

oleh Antonio Graceffo

Forum Xiangshan Tiongkok menampilkan retorika perdamaian Beijing, namun pada saat yang sama menjadi wadah untuk memperluas pengaruh Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), merangkul negara-negara Global South, serta mendorong tujuan rezim menggantikan tatanan internasional yang dipimpin AS dengan alternatif yang dipimpin Beijing.

Forum Xiangshan Beijing ke-12 digelar pada 17–19 September di Beijing International Convention Center dengan tema “Menegakkan Tatanan Internasional dan Mempromosikan Pembangunan Damai Bersama.” Acara ini mencakup sesi pleno, diskusi panel, dialog tingkat tinggi, pertukaran antara pakar Tiongkok dan asing, serta seminar bagi perwira muda militer dan akademisi. Acara khusus menekankan peran Tiongkok dalam operasi penjaga perdamaian PBB serta misi kemanusiaan medis Angkatan Laut PLA.

Forum tersebut menarik sekitar 1.800 delegasi dari lebih 100 negara dan organisasi, termasuk menteri, panglima militer, serta pejabat senior dari PBB, ASEAN, dan Komite Palang Merah Internasional. Peserta lain berasal dari negara-negara berkembang, dengan Global South untuk pertama kalinya secara resmi masuk dalam agenda pleno.

Pimpinan pertahanan dari Vietnam, Singapura, Rusia, Prancis, Nigeria, dan Brasil turut hadir, dengan Menteri Pertahanan Singapura Chan Chun Sing memberikan pidato. Sebaliknya, Amerika Serikat hanya mengirim atase pertahanannya, sementara sebagian besar negara Barat diwakili pejabat tingkat rendah, mencerminkan keterlibatan minimal dari Barat.

Forum Xiangshan memiliki sejumlah tujuan strategis bagi PKT. Acara ini menampilkan PLA sebagai kekuatan yang membentuk masa depan keamanan internasional, sekaligus memberi Tiongkok wadah tandingan bagi Dialog Shangri-La di Singapura untuk menyebarkan narasi keamanannya sendiri. Dengan menekankan partisipasi negara berkembang, Beijing menempatkan dirinya sebagai pemimpin Global South, memperbesar suara yang kerap terpinggirkan dalam forum yang dipimpin Barat. Secara lebih luas, acara ini mencerminkan upaya PKT memperluas pengaruhnya dari ranah ekonomi ke ranah keamanan, menegaskan persaingan yang semakin ketat dalam dominasi wacana global.

Menurut media pemerintah Tiongkok, forum ini dipromosikan sebagai platform untuk mendorong perdamaian global, kerja sama, dan apa yang disebut sebagai keamanan bersama. Pejabat senior Tiongkok menggunakan forum ini untuk berargumen bahwa kekuatan PLA yang terus meningkat merepresentasikan stabilitas, bukan ancaman. Namun, forum ini digelar hanya beberapa minggu setelah Beijing mengadakan parade militer besar-besaran. 

Dalam pidato pembukaannya, Menteri Pertahanan Tiongkok Dong Jun menegaskan kontradiksi tersebut, dengan menegaskan kembali niat PKT untuk merebut Taiwan dan menyatakan bahwa “pemulihannya” ke Tiongkok adalah “bagian integral dari tatanan internasional pascaperang.”

Jenderal Zhang Youxia, wakil ketua Komisi Militer Pusat, mendesak para peserta untuk memperkuat dialog, membela kepentingan bersama, dan mendukung visi Tiongkok tentang tata kelola global. Dalam jamuan makan malam penyambutan, ia mengatakan bahwa Global Governance Initiative (GGI) “menunjukkan arah ke depan dan memberikan panduan strategis untuk mereformasi dan memperbaiki sistem tata kelola global.”

GGI adalah kerangka besar keempat yang diajukan pemimpin Tiongkok Xi Jinping, melengkapi inisiatif lainnya tentang pembangunan global, keamanan global, dan peradaban global. Diumumkan pada 1 September di pertemuan Shanghai Cooperation Organization Plus di Tianjin, GGI dipromosikan dengan retorika khas PKT mengenai tatanan internasional yang lebih adil, “komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia,” serta penguatan kepentingan negara-negara berkembang. Namun, kenyataannya inisiatif-inisiatif ini adalah batu loncatan menuju tatanan dunia yang dipimpin PKT, dengan menyingkirkan Amerika Serikat.

Beijing mendorong agenda ini melalui konferensi internasional, menempatkan Forum Xiangshan sebagai alternatif bagi Dialog Shangri-La. Berbeda dengan forum keamanan independen seperti Munich atau Shangri-La, Forum Xiangshan dikendalikan ketat oleh PKT dan berfungsi sebagai alat kebijakan luar negeri: menonjolkan soft power PKT, mempromosikan inisiatif globalnya, serta memberi panggung bagi negara-negara yang skeptis terhadap dominasi AS, sehingga melindungi Beijing dari kritik yang biasanya muncul dalam forum yang dipimpin Barat.

Forum Xiangshan memungkinkan Tiongkok memproyeksikan kepemimpinan, menantang struktur keamanan yang didukung AS di kawasan Asia-Pasifik, dan memperluas pengaruhnya di Global South. Dengan menampilkan diri sebagai juara negara-negara berkembang, Beijing mengklaim tengah membangun “komunitas dengan nasib bersama,” sembari perlahan mengikis pengaruh AS dalam tatanan berbasis aturan.

Inisiatif Keamanan Global (GSI) PKT adalah contoh nyata dari pendekatan ini. GSI mempromosikan multilateralisme dan kerja sama melalui PBB, ASEAN, BRICS, serta forum-forum yang dipimpin Tiongkok seperti China–Africa Peace and Security Forum dan Lancang–Mekong Cooperation.

Alih-alih hanya mengandalkan proyeksi kekuatan militer, GSI juga merambah ke isu kontraterorisme, keamanan siber, biosekuriti, teknologi baru, hingga kepolisian internasional. Tiongkok mengekspor teknologi pengawasan, melatih aparat asing, bahkan melakukan patroli gabungan di luar negeri—langkah-langkah yang melindungi kepentingan luar negerinya sekaligus menyebarkan norma keamanan PKT. Upaya ini juga memberi Beijing pengaruh politik, akses intelijen, serta peluang pengawasan.

Negara-negara mitra, khususnya di Global South, tertarik pada teknologi Tiongkok karena harganya terjangkau, dianggap efektif, dan sering disertai pinjaman. Sementara pemerintah Barat memperingatkan risiko, beberapa negara menggunakan sistem ini untuk menekan oposisi, memperkuat narasi Beijing tentang Barat yang sedang melemah, sekaligus menampilkan Tiongkok sebagai penyedia keamanan yang netral dan konstruktif.

Melalui Forum Xiangshan dan inisiatif terkait, Beijing membangun wadah baru yang menyaingi lembaga yang sudah ada, dengan membingkainya sebagai lebih inklusif dan adil. Pada praktiknya, forum-forum itu digunakan untuk membentuk agenda sesuai kepentingan PKT, memperluas pengaruh global Tiongkok, dan melemahkan kepemimpinan Barat—semua dikemas dengan slogan kerja sama dan “era baru” tata kelola global.

Barat, khususnya Amerika Serikat, harus bertindak tegas untuk memperlambat pengaruh dan ambisi ekspansionis rezim Tiongkok sebelum tatanan alternatif ala PKT menjadi kenyataan global yang baru.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini sepenuhnya merupakan opini penulis dan tidak mencerminkan pandangan The Epoch Times.

Antonio Graceffo, Ph.D., adalah analis ekonomi Tiongkok yang telah menghabiskan lebih dari 20 tahun di Asia. Graceffo lulusan Shanghai University of Sport, meraih MBA dari Shanghai Jiaotong University, dan mempelajari keamanan nasional di American Military University.

Dalam Sepekan Ini, Gunung Merapi Muntahkah 88 Kali Guguran Lava Hingga Sejauh Dua Kilometer

EtIndonesia.  Gunung Merapi telah memuntahkan guguran lava sebanyak 88 kali dengan jarak luncuran hingga mencapai 2.000 meter dalam kurun waktu 19-25 September 2025, sebagaimana hasil pengamatan oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) yang bermarkas di Yogyakarta.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, merilis bahwa, dari hasil rangkuman data instrumen, jumlah guguran lava meliputi sebanyak 5 kali ke arah hulu Kali Bebeng sejauh maksimum 2.000 m, 37 kali ke arah hulu Kali Krasak sejauh maksimum 2.000 m dan 46 kali ke arah hulu Kali Sat/Putih sejauh maksimum 2.000 m.

Berikutnya hasil analisis morfologi dari stasiun kamera Ngepos dan Babadan2, teramati adanya sedikit perubahan morfologi pada Kubah Barat Daya akibat perubahan volume kubah dan aktivitas guguran lava. Sedangkan untuk Kubah Tengah, tidak teramati adanya perubahan morfologi. Berdasarkan analisis foto udara tanggal 25 Agustus 2025, volume Kubah Barat Daya dan Kubah Tengah berturut-turut adalah sebesar 4.179.900 m3 dan 2.368.800 m3.

Kegempaan dan Deformasi Gunung Merapi Meningkat Dibanding Minggu Lalu

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan aktivitas kegempaan Gunung Merapi pada periode pengamatan terbaru menunjukkan peningkatan dibandingkan minggu sebelumnya.

Tercatat 81 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 644 gempa Fase Banyak (MP), 520 gempa Guguran (RF), dan 9 gempa Tektonik (TT) dari jaringan seismik di sekitar Merapi. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode pemantauan sebelumnya, menandakan adanya dinamika di dalam tubuh gunung yang perlu diwaspadai.

Sementara itu, pemantauan deformasi atau perubahan bentuk tubuh gunung yang dilakukan melalui pengukuran EDM dan GPS menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Jarak pengukuran dari titik tetap ke reflektor di beberapa sektor hanya mengalami perubahan sangat kecil yang dianggap tidak signifikan.

Hasil Kesimpulan

Hasil pengamatan visual dan instrumental menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih tergolong tinggi. Saat ini, Merapi masih mengalami erupsi efusif, yaitu keluarnya magma secara perlahan dalam bentuk lava dan material guguran. 

Berdasarkan kondisi tersebut, status aktivitas Merapi tetap berada pada tingkat Siaga (Level III). Data pemantauan juga mengindikasikan bahwa suplai magma ke dalam tubuh gunung masih terus berlangsung, sehingga dapat memicu terjadinya awan panas guguran, terutama di area yang sudah dipetakan sebagai zona potensi bahaya.

Potensi bahaya saat ini meliputi guguran lava dan awan panas di sektor selatan–barat daya, yang mencakup alur Sungai Boyong dengan jarak maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer.

Kemudian di sektor tenggara, potensi bahaya mencakup alur Sungai Woro hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Apabila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat mencapai radius hingga 3 kilometer dari puncak.

Rekomendasi dan Upaya Mitigasi

Kepada seluruh pemangku kepentingan penanggulangan bencana Gunung Merapi, direkomendasikan agar Pemerintah Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten terus melakukan berbagai langkah mitigasi menghadapi ancaman erupsi yang masih berlangsung. Upaya tersebut mencakup peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan kesiapsiagaan, serta penyiapan sarana dan prasarana evakuasi agar proses penyelamatan dapat berjalan cepat dan aman bila situasi darurat terjadi.

Masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam wilayah potensi bahaya, tetap waspada terhadap ancaman awan panas guguran (APG) dan lahar, terutama ketika hujan turun di sekitar puncak Merapi, serta mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik yang dapat memengaruhi kesehatan dan aktivitas sehari-hari. Apabila terjadi perubahan signifikan dalam aktivitas gunung, pihak berwenang akan segera meninjau kembali tingkat status Merapi dan menyampaikan pembaruan informasi resmi.

Dalam upaya mitigasi dan antisipasi, BNPB, BPPTKG bersama BPBD di daerah terdampak terus memperkuat koordinasi dan pemantauan, menyiapkan jalur evakuasi, menambah fasilitas pendukung seperti tempat pengungsian, logistik, dan masker, serta memastikan sistem peringatan dini berjalan dengan baik. Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti informasi terkini dari Pos Pengamatan Gunung Merapi terdekat atau kanal resmi BNPB, BPPTKG dan BPBD agar mendapatkan arahan yang tepat dan terpercaya. (***)

Orang-orang di Tiongkok Menjual Potongan Kuku Mereka Secara Daring

EtIndonesia. Jika Anda menyimpan potongan kuku dan membutuhkan uang cepat, Anda bisa mempertimbangkan untuk menjualnya sebagai bahan obat tradisional di Tiongkok.

Potongan kuku biasanya dibuang sebagai sampah yang menjijikkan, tetapi menurut pengobatan tradisional Tiongkok, potongan kuku merupakan bahan berharga dalam ramuan yang digunakan untuk mengobati kondisi seperti perut kembung pada anak-anak dan radang amandel.

Perusahaan yang memproduksi obat tradisional Tiongkok dilaporkan membeli potongan kuku dari sekolah dan desa, yang kemudian mereka cuci bersih sebelum dikeringkan dan digiling menjadi bubuk halus yang kemudian dicampur ke dalam berbagai produk obat.

Karena rata-rata orang dewasa hanya tumbuh sekitar 100 gram kuku per tahun, mengumpulkan cukup banyak untuk memenuhi permintaan merupakan tugas yang sulit dan harga potongan kuku relatif tinggi.

Media Tiongkok, Kankan News, baru-baru ini melaporkan bahwa seorang wanita Hebei menjual potongan kukunya secara daring, seharga 150 yuan (sekitar Rp 350 ribu) per kilogram. Dia telah mengumpulkan potongan kuku sejak kecil dan memutuskan untuk menghasilkan uang darinya.

Penggunaan kuku manusia dalam pengobatan tradisional Tiongkok telah melambat sejak tahun 1960-an, ketika popularitas cat kuku yang semakin meningkat mulai mencemari “barang dagangannya”. Seiring waktu, bahan-bahan lain yang memberikan efek serupa ditemukan, tetapi kuku jari tangan tidak pernah benar-benar hilang. Rupanya, kuku jari tangan kembali populer!

Dan tanpa berpikir panjang, Anda tidak bisa menjual kuku kaki. Pihak pengolah kuku jari tangan dengan tegas menyatakan bahwa mereka memeriksa stok mereka dengan sangat cermat dan kuku kaki tidak diterima.(yn)

Pendeta Picu Kontroversi dengan Meminta Jemaat untuk Menyerahkan Tanahnya karena Perintah Tuhan

EtIndonesia. Seorang pendeta Evangelis di Honduras memicu perdebatan sengit di dunia maya setelah meminta seorang jemaat untuk menyerahkan tanahnya kepada Gereja atas perintah Tuhan.

Dalam sebuah video viral yang telah beredar di media sosial Latin selama berminggu-minggu, Jorge Pompa, seorang pendeta evangelis dari Tegucigalpa, Honduras, terlihat menekan seorang jemaat setempat untuk menyerahkan tanahnya kepada Gereja, sebagai ujian iman sejati yang pada akhirnya akan memberinya pahala yang besar.

Berbicara di hadapan jemaatnya, Pompa memberi tahu pria yang kebingungan itu bahwa Tuhan telah berbicara kepadanya malam itu, memerintahkannya untuk memberi tahu jemaat itu bahwa Dia ingin dia menyerahkan tanahnya.

Meskipun pria itu tampak ragu untuk menjawab permintaan tersebut, pendeta itu terus menekannya, mengklaim bahwa dia hanya akan memberikan kepada Tuhan apa yang sudah menjadi milik-Nya.

“Tuhan berbicara kepada saya tadi malam dan berkata, ‘Katakan padanya bahwa Aku memberinya kehidupan, Aku memberinya anak-anaknya, dan Aku bisa memberinya lebih dari yang dimilikinya sekarang jika dia memberi-Ku tanah itu.’ Jika dia memberi-Ku tanah itu, dia hanya akan menyimpan 130.000 dolar, tetapi jika dia memberikannya kepada-Ku, Aku akan memberinya 500.000 dolar. Hanya jika dia memiliki iman untuk percaya,'” kata Jorge Pompa kepada jemaat itu.

“Apa yang kamu inginkan? Uang atau berkat Tuhan? (…) Aku ingin surat-suratmu dan aku ingin tanah itu, sekarang. Apakah kamu siap? Sekarang katakan padanya bahwa aku telah meminta tanah itu kepadanya. Bagaimana mungkin kamu ingin menjual sesuatu kepada Tuhan, jika Dia memberimu segalanya?” tambah pendeta itu.

Video tersebut memicu kontroversi di media sosial, dengan sebagian besar orang menuduh pendeta Evangelis itu memanfaatkan jemaatnya, dan beberapa bahkan mengatakan bahwa dia harus menghadapi konsekuensi hukum karena menyerang pria malang itu.

“Ini harus dilihat oleh pihak berwenang yang berwenang; ini adalah serangan dalam arti sebenarnya,” komentar seseorang.

“Dia memanfaatkan umat beriman,” saran yang lain.

Ada beberapa orang yang berpihak pada Pompa, mengklaim bahwa dia hanya melakukan kehendak Tuhan. Namun, hal itu akan cukup sulit dibuktikan di pengadilan, itulah sebabnya sebagian besar pakar agama sepakat bahwa orang beriman tidak boleh terlibat dalam hal semacam ini.

“Sangat penting bagi para pemimpin spiritual untuk menjaga integritas dan kerendahan hati saat membimbing umatnya, dan tidak menggunakan nama Tuhan untuk keuntungan materi,” kata teolog Juan Carlos Soto.(yn)

Tahun Itu Aku Belajar Apa Arti Cinta

EtIndonesia. Kaum pria sering kali lebih suka pada wanita yang tampak memesona dan menggoda. Mereka merasa bahwa memiliki wanita semacam itu di sisi mereka adalah sebuah kebanggaan. Bagi sebagian pria, istri tidaklah sepenting selingkuhan. Selingkuhan dianggap selalu baru dan segar, sementara istri dianggap sesuatu yang lama, usang, dan “habis masa pakainya.”

Dulu, di internet pernah populer sebuah sindiran:

 “Wanita cantik tidak pandai masuk dapur. Yang pandai memasak tidak lembut. Yang lembut tidak punya pendirian. Yang berpendirian tidak feminin. Yang feminin suka boros. Yang hemat tidak modis. Yang modis tidak bisa dipercaya. Yang bisa dipercaya, wajahnya sulit dilihat.”

“Istri itu ibarat televisi, selingkuhan itu ibarat ponsel. Kalau bangkrut, televisi bisa dijual. Kalau kaya, bisa ganti ponsel baru. Televisi hanya ditonton sekali-sekali, ponsel dipakai setiap hari. Televisi gratis seumur hidup, ponsel kalau tak bayar pulsa akan mati.”

Dulu, aku sering dengan bangga menceritakan bahwa aku memiliki seorang suami yang hebat, penuh tanggung jawab, dan mencintai keluarga. Tapi akhirnya aku sadar—bukan karena dia hebat, melainkan karena aku terlalu percaya padanya. Aku menutup mata terhadap segala kebohongannya. Sepuluh tahun pernikahan ternyata tidak sebanding dengan satu malam nafsu yang ia cari di luar.

Sejak itu, aku tak lagi percaya pada cinta yang abadi. Kata-kata indah seperti “sehidup semati” atau “cinta sampai ajal menjemput” bagiku hanyalah dongeng. Kami pun berakhir menjadi dua orang asing.

Ketika masih muda dan naif, aku mengira cinta itu seperti dalam novel Qiong Yao: berani mencinta, berani membenci, setia sampai mati. Aku percaya bahwa saat tangan sudah saling tergenggam, maka apapun rintangannya, tidak akan dilepas. 

Bahkan godaan harta tidak akan mampu membuat seseorang berkata: “Aku tak mencintaimu lagi.” 

Aku pikir cinta itu suci dan agung. Aku percaya, jika hanya tersisa semangkuk mi, dia pasti akan memberikannya padaku sepenuhnya, dan dengan itu dia merasa kenyang hanya dengan melihatku makan. Itulah cinta, pikirku waktu itu.

Saat baru masuk dunia kerja, aku tetap yakin cinta sejati itu ada. Dan seolah doa terkabul, aku bertemu dengannya—pria tampan, cerah seperti tokoh utama drama Korea. Teman-teman iri padaku. 

Ada yang menyindir: “pria tampan itu semacam kutukan. Wanita yang memilih pria tampan, berarti harus siap menanggung akibatnya.” 

Aku menepis semua itu, menganggap mereka hanya iri. Kami tampak bahagia, saling menjaga, dan aku yakin kami akan berjalan bersama sampai tua, hingga menjelajah dunia di usia senja.

Namun waktu berjalan. Pria di usia 30–40 tahun berada di puncak karier, penuh kharisma. Aku percaya padanya, tidak pernah membatasi langkahnya. Aku pikir dia akan membalas kepercayaanku. Tapi balasan yang kuterima adalah perselingkuhan: satu malam singkat dengan wanita lain, tas mewah yang dibelikannya untuk mereka, canda mesra di pantai.

Di matanya, aku bukan lagi seorang istri. Dibanding pakaian indah yang membalut tubuh para wanita itu, aku hanyalah kain lusuh tak berharga. Dia meninggalkan istri setia demi kesenangan sesaat, merasa lebih baik hidup dalam dosa tapi tetap bisa merasakan manisnya buah terlarang.

Aku akhirnya sadar, cinta yang kuanggap kokoh ternyata begitu rapuh di hadapan realitas. Hatiku hancur. Namun setelah semua itu, aku masih percaya bahwa cinta sejati ada di dunia ini—hanya saja, aku tidak beruntung merasakannya.

Beberapa pria mungkin layak menjadi tempat seorang wanita menitipkan seluruh hidupnya. Tapi seorang wanita juga harus belajar bertahan sampai akhir. Jika mampu bertahan, hingga saat sang pria lelah mengejar kesenangan semu, pada akhirnya kitalah pelabuhan terhangat baginya. Namun jika tidak kuat melangkah sejauh itu, maka segalanya bisa hilang begitu saja.

Cinta, kadang bukan soal keindahan. Kadang dia adalah ujian panjang tentang kesabaran, ketabahan, dan kemampuan untuk bertahan.(jhn/yn)

Satu Kalimat, Jatuh Cinta Seumur Hidup

EtIndonesia. Dalam suasana yang penuh ketegangan, seorang pria dengan identitas istimewa bertindak begitu alami, penuh spontanitas. Gerak-geriknya menunjukkan seolah apa yang dilakukannya hanyalah hal kecil, sesuatu yang baginya lumrah dilakukan. Setelah itu, dia kembali larut dalam lamunannya, seakan semua yang terjadi di hadapannya sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Manajer yang memimpin pertemuan itu rupanya cukup dekat dengannya, sehingga dengan lapang dada dia membiarkan tindakan spontan pria itu. 

Dia pun mengalihkan topik: “Baiklah, mari kita masuk ke urusan bisnis.”

Bagaimana jalannya negosiasi dan apa hasil akhirnya, wanita itu sudah tak lagi ingat. Yang dia tahu hanyalah satu hal: sejak saat itu, sosok pria itu membekas dalam hatinya.

Bertahun-tahun berjuang di dunia bisnis, dia sudah menghadapi berbagai macam pria—ada yang cerdas, ada yang licik, ada yang kasar, ada pula yang elegan. Namun hampir semuanya punya kesamaan: mereka senang memaksa wanita minum alkohol. Melihat wanita mabuk, jatuh bangun, wajah memerah, tertawa dan bernyanyi—itu memberi mereka kepuasan yang aneh.

Dalam lingkungan seperti itu, dia sudah lama menganggap dirinya “seperti pria”. Dia tak pernah mau kalah dalam permainan gelas demi gelas minuman. Dengan tubuhnya yang rapuh, dia menahan hantaman demi hantaman, demi mempertahankan harga diri. Dalam pertempuran di meja minum itu, kelembutannya yang dulu bagai air telah lama membeku menjadi es.

Semboyannya sederhana: lebih baik mati mabuk di medan perjamuan, daripada dipandang rendah.

Namun justru pada saat itulah, dia bertemu dengan seorang pria asing, yang dengan mudah memecahkan pola permainan itu—begitu sederhana, ringan, bahkan terkesan sambil lalu. Dalam sekejap, es yang membekukan hatinya perlahan meleleh.

Belakangan, dia mendengar kabar pria itu melakukan perjalanan kaki menuju Tibet. Dia seorang fotografer, ingin memotret keindahan yang mampu menyentuh hati manusia.

Tanpa pikir panjang, suatu hari dia mendatangi manajernya untuk mengundurkan diri. Di tengah tatapan kaget manajernya yang mata membelalak seperti lampu, dia berkata tegas, kata demi kata: “Aku akan pergi ke Tibet, mencari seseorang.”

Manajernya mengira dia sudah gila. Rekan-rekannya juga terheran-heran. Tapi sore itu juga, dia sudah naik pesawat menuju Lhasa.

Ketika tubuhnya terbaring di tanah Tibet, menatap langit biru dan awan-awan berwarna yang indah, dia merasakan kembali degup hidup di dalam dirinya. Hatinyanya yang membeku kembali mencair, seperti es yang meleleh jadi air.

Pria itu pada akhirnya tak pernah berhasil dia temukan.

Bertahun-tahun kemudian, dia menikah dengan pria lain. Alasannya sederhana—karena pria itu, tanpa dia duga, mengucapkan kalimat yang sama, kalimat yang dulu membuatnya jatuh cinta seumur hidup: “Maaf, aku tidak suka wanita minum alkohol.” (jhn/yn)

Persahabatan yang Terkubur Masa

EtIndonesia. Musim dingin 1945, di jalanan Kota Bonn, Jerman. Dua bulan sebelumnya, kota ini masih dipenuhi bendera Nazi. Setiap orang yang berpapasan terbiasa mengangkat tangan kanan sambil menyebut nama sang Führer. Namun kini, dentuman senjata kian dekat, dan seluruh kota diliputi rasa takut yang mencekam.

Quino, seorang sersan muda, sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam perang. Dia merasa tidak puas ketika unitnya ditugaskan menyerbu Bonn. Lebih buruk lagi, komandan operasi itu adalah Hilton, seorang perwira Prancis yang dipindahkan dari Paris—terkenal karena kebenciannya pada orang Amerika dan kebengisannya pada bawahannya.

Selama dua minggu latihan sebelum penyerangan, Quino merasa itu adalah mimpi buruk. Satu-satunya hal yang sedikit menghiburnya adalah pertemuannya dengan Tony, seorang prajurit kulit hitam yang tegap. Karena saling memahami nasib masing-masing, mereka pun cepat menjadi sahabat dekat.

Hitler telah menerapkan kebijakan bumi hangus, menjadikan Bonn seperti kota kosong yang tak mungkin dipertahankan. Pasukan sekutu pun lebih mudah masuk. Namun, tugas pasukan penyerbu tidak hanya merebut Bonn, tapi juga menghancurkan Akademi Militer Jerman di pinggiran kota. Hilton bahkan menambahkan aturan kejam: setiap prajurit harus membawa pulang satu salib besi dari dada seorang perwira Jerman. Jika tidak, mereka akan dihukum cambuk.

Serangan pun dimulai. Meski senapan mesin Jerman masih berderu, pasukan Nazi hanya sekadar bertahan hidup. Pasukan sekutu berhasil menembus Bonn dan menyerbu akademi militer. Pertempuran berlanjut menjadi perang jalanan sengit selama dua jam. Akhirnya, para perwira Jerman menyerah dengan mengibarkan bendera putih. Prajurit sekutu lalu menggeledah mereka dan merebut salib besi dari dada masing-masing.

Quino, setelah berhasil mendapatkan satu, pergi ke taman akademi. Dia menimbun sedikit tanah ke dalam sebuah kotak besi kecil—kebiasaannya sejak lama, mengoleksi tanah dari berbagai tempat: Norwegia, Ceko, Paris, bahkan pasir berdarah dari Normandia. 

Saat dia larut dalam kenangan, Tony datang dengan senyum penuh rahasia: “Kawan, aku menemukan tempat bagus.”

Mereka masuk ke sebuah kantor di lantai dua, jelas milik seorang perwira berpangkat mayor. Quino terkejut menemukan fasilitas mandi di dalamnya. Sambil bercanda, dia menaruh senjata dan tasnya—yang berisi salib besi—lalu masuk ke kamar mandi untuk mandi. Setelah keluar, Tony memberitahunya bahwa Hilton akan segera datang memeriksa jumlah korban dan memastikan semua prajurit membawa salib besi. Quino segera bersiap dan ikut turun bersamanya.

Di aula, semua prajurit menunjukkan salib besi mereka. Quino merogoh tasnya—namun alangkah terkejutnya, yang ada hanyalah kotak tanah. Salib besi itu hilang. Panik, dia langsung curiga kepada Tony. Dia menuduh Tony di depan semua prajurit. Dengan cepat, mereka semua sepakat bahwa pencurinya adalah Tony.

Tatapan teman-teman mereka berubah. Tony kini dipandang bukan lagi sahabat, melainkan pencuri hina. Mereka berteriak, mendorong, dan menghujatnya. 

Tony, dengan wajah penuh ketakutan, berlinang air mata, berjalan ke arah Quino dan berkata: “Kawan, apakah kamu juga percaya bahwa akulah yang mencurinya?”

Dalam kebingungan dan rasa curiga, Quino mengangguk. Tony pun mengeluarkan salib besi itu dari sakunya dan menyerahkannya pada Quino. Saat tangan hitam itu menyentuh tangan putih, air mata Tony pecah.

 Dia menengadah dan berteriak:  “Tuhan, mengapa kasih-Mu tak pernah sampai padaku?”

Seketika terdengar suara kasar: “Karena kamu hanyalah seorang negro!”

Itu jelas suara Hilton, dengan perut buncit dan bau alkohol menyengat. Dia menampar Tony keras-keras. Setelah memeriksa salib besi, ternyata hanya Tony yang tidak memilikinya. Akibatnya, di lapangan kamp sekutu, Tony dihukum 30 cambukan.

Dua minggu berlalu. Luka cambuk di tubuh Tony mulai sembuh, tapi selama itu tak seorang pun peduli padanya—bahkan Quino pun tidak.

Suatu senja, Quino yang sedang bertugas di gudang senjata hampir tertidur. Tiba-tiba terdengar ledakan keras, dan dia pingsan. Saat terbangun, dia sudah di rumah sakit. 

Rekannya bercerita: Hari itu Tony bertugas patroli. Sisa pasukan Nazi berusaha meledakkan gudang senjata. Tony tahu Quino ada di dalam. Dia memeluk bom dengan tubuhnya, menahan daya ledak agar gudang tetap selamat. Quino selamat, tapi Tony hancur berkeping-keping. Padahal, dia sebenarnya bisa saja menyelamatkan diri.

Lima puluh tahun kemudian, Quino hidup tenang di masa tuanya. Namun rasa bersalah atas kematian Tony tetap menghantuinya—dia menganggap pengorbanan Tony sebagai penebusan bagi kesalahannya.

Hingga suatu hari, cicitnya menemukan sebuah kotak besi bertuliskan “Bonn”. Di dalamnya, selain tanah, terdapat satu salib besi berukir kata “Nazi.”

Quino yang sudah hampir berusia 90 tahun menangis seperti anak kecil. Air matanya bukan hanya karena kesedihan, tapi juga penyesalan—bukan sekadar untuk kebodohannya di masa muda, melainkan untuk sahabatnya Tony yang mengorbankan hidupnya.

Dia menangis bukan untuk sepotong salib besi berkarat, melainkan untuk persahabatan yang telah terkubur selama setengah abad.(yn)