Wabah Covid-19 Kembali Meningkat, Kesaksian Dokter di Shandong, Tiongkok : Unit Gawat Darurat Penuh Sesak, Bahkan Lantai Tidak Lagi Cukup untuk Pasien

EtIndonesia.com Belakangan ini, kasus penyakit menular kembali meningkat di berbagai wilayah daratan Tiongkok. Banyak daerah melaporkan munculnya kasus demam. Di media sosial, banyak warganet mengatakan bahwa mereka kembali “positif COVID-19”, sementara rumah sakit dipenuhi pasien. Seorang dokter di Provinsi Shandong mengungkapkan bahwa unit gawat darurat (UGD) di rumah sakit telah penuh sesak, tempat tidur habis, bahkan pasien terpaksa berbaring di lantai.

Pada 31 Juli, seorang dokter asal Shandong sekaligus pengguna Weibo dengan nama “Hou Dabao” (猴大寶) menulis: “Unit gawat darurat rumah sakit sudah penuh sesak. Bahkan lantai pun sudah tidak ada tempat untuk berbaring. Pasien COVID-19 atau yang sakit ringan diminta pulang. Pasien pneumonia harus menerima suntikan sambil berdiri atau berjalan. Yang tersisa di UGD semuanya pasien dengan kondisi berat. Tidak ada lagi tempat tidur, benar-benar sudah habis. Mungkin karena cuaca beberapa hari terakhir sangat panas sehingga banyak pasien penyakit berat kambuh. Ada juga banyak kasus infeksi bakteri yang serius. Saya tidak tahu apakah ini karena gelombang COVID-19 kembali meningkat, tetapi kasus yang berat tampaknya tidak semuanya berkaitan dengan COVID-19. Saya juga merasa cuaca memiliki pengaruh tertentu.”

Banyak Warganet Mengaku Demam dan Terinfeksi

Di kolom komentar unggahan tersebut, banyak warganet dari berbagai daerah membagikan pengalaman mereka maupun kondisi orang-orang di sekitar yang mengalami demam. Ada sekolah yang melaporkan banyak siswa sakit, bahkan ada satu keluarga yang seluruh anggotanya terinfeksi.

Seorang warganet dari Shandong mengatakan: “Di kelas banyak yang batuk dan pilek. Mata saya sakit, tenggorokan sakit, hidung juga sakit. Kemarin saya diperiksa dan langsung diminta tinggal untuk mendapatkan suntikan. Suhu tubuh saya 37,2°C.”

Ia juga menambahkan:”Satu keluarga teman saya yang berjumlah empat orang semuanya tertular.”

Sementara itu, seorang dokter mengatakan kepadanya:”Ini adalah virus baru. Saya juga tertular.”

(Tangkapan layar dari internet)

Warganet dari Jiangsu mengatakan:”Belakangan ini banyak yang hasil tesnya menunjukkan dua garis,” merujuk pada hasil tes positif COVID-19.

Seorang warganet dari Henan menulis : “Kemarin pagi saya tiba-tiba demam 38,5°C. Setelah minum obat, sore hari turun menjadi 37,5°C. Tetapi malamnya naik lagi menjadi 39°C. Setelah minum obat lagi, pagi ini demamnya turun. Saya merasa ini COVID-19 karena gejalanya hampir sama seperti saat pertama kali saya terinfeksi.”

Ia juga mengatakan : “Rasanya belakangan ini banyak dokter yang juga ikut tertular.”

(Tangkapan layar dari internet)

Kasus Dilaporkan di Berbagai Daerah

Pencarian dengan kata kunci “demam” di media sosial Tiongkok menunjukkan banyak laporan kasus demam dan hasil tes positif dari berbagai daerah, termasuk Shanghai, Hangzhou, Shanxi, Beijing, dan wilayah lainnya.

Banyak pengguna media sosial yang mengaku terinfeksi menyebut bahwa varian baru terasa cukup berat, dengan gejala yang lebih parah dan membutuhkan waktu lama untuk pulih.

Salah seorang warganet menulis : “Saya terlalu percaya dengan rumor di media sosial yang mengatakan bahwa gelombang COVID-19 di kawasan Delta Sungai Yangtze sudah hampir berakhir. Saya jadi tidak melakukan perlindungan apa pun dan akhirnya tertular. Karena terlambat minum obat pada tahap awal, saya mengalami demam, batuk, sakit tenggorokan, bahkan kehilangan indera perasa.”

Warganet lainnya mengatakan:”Rekan kerja saya pergi berlibur ke Hangzhou minggu lalu. Setelah pulang, dia demam. Sekarang beberapa orang di departemen kami juga mulai mengalami sakit tenggorokan. Benar-benar harus tetap menjaga perlindungan diri.”

(Tangkapan layar dari internet)
(Tangkapan layar dari internet)
(Tangkapan layar dari internet)
(Tangkapan layar dari internet)

Data Resmi

Baru-baru ini, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Tiongkok merilis data pemantauan terbaru yang menunjukkan bahwa pada minggu epidemiologi ke-30 tahun 2026 (20–26 Juli), tingkat positivitas COVID-19 di antara pasien dengan gejala mirip influenza yang datang ke rumah sakit sentinel di seluruh Tiongkok telah mencapai 20,3%. Artinya, sekitar satu dari setiap lima pasien dengan gejala mirip influenza yang diperiksa dinyatakan positif COVID-19.

Laporan disusun oleh Li Li / Editor: Li Qian

Tingkat Positif COVID-19 di Tiongkok Meningkat Dua Kali Lipat, Dikhawatirkan Memasuki Tingkat Penularan Tinggi

Wabah COVID-19 di Tiongkok kembali menjadi perhatian. Belakangan ini, tingkat positif hasil tes COVID-19 di daratan Tiongkok terus menunjukkan tren peningkatan dan saat ini masih berada pada tingkat penularan sedang. Sejumlah pakar menyatakan bahwa situasi kali ini berpotensi lebih serius dan dapat berkembang menjadi tingkat penularan tinggi.

EtIndonesia.com  Pada 30 Juli, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Tiongkok merilis laporan pemantauan nasional penyakit infeksi saluran pernapasan akut untuk minggu epidemiologi ke-30 tahun 2026.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa selama 20–26 Juli, tingkat positif tes COVID-19 terus meningkat dan untuk pertama kalinya melampaui 20%, naik 4 poin persentase dibandingkan minggu sebelumnya. Secara keseluruhan, situasi dinilai masih berada pada tingkat penularan sedang, namun tingkat positif di provinsi-provinsi selatan jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah utara.

Varian yang paling banyak beredar masih merupakan NB.1.8.1.

COVID-19 Menjadi Penyebab Utama pada Pasien Bergejala Mirip Influenza

Data menunjukkan bahwa pada pasien rawat jalan dan UGD dengan gejala mirip influenza, dua penyebab infeksi yang paling banyak ditemukan adalah:

  • COVID-19: 20,3%
  • Virus influenza: 14,5%

Sementara pada pasien rawat inap dengan infeksi saluran pernapasan akut berat, tiga penyebab utama adalah:

  • COVID-19: 9,5%
  • Virus influenza: 6,4%
  • Human metapneumovirus (HMPV): 4,3%

Berdasarkan kelompok usia, COVID-19 merupakan penyebab infeksi terbanyak pada:

  • Anak usia 0–4 tahun
  • Kelompok usia 15–59 tahun
  • Lansia 60 tahun ke atas

Sedangkan pada kelompok usia 5–14 tahun, virus influenza masih menjadi penyebab utama kasus mirip influenza.

Tingkat Positif Hampir Dua Kali Lipat dalam Tiga Minggu

Data resmi menunjukkan bahwa hanya dalam waktu tiga minggu, tingkat positif COVID-19 pada pasien rawat jalan dan UGD meningkat dari 9,6% menjadi 20,3%, atau hampir dua kali lipat dibandingkan minggu epidemiologi ke-27.

Namun demikian, artikel ini juga menyebutkan bahwa karena pemerintah Tiongkok selama ini sering dituduh tidak mengungkapkan kondisi wabah secara terbuka, keakuratan data resmi tersebut dipertanyakan oleh sebagian pihak.

Pakar: Agustus Berpotensi Mempercepat Penyebaran

Menurut laporan Farmer’s Daily (《農民日報》) di Tiongkok, para pakar memperkirakan bahwa perkembangan wabah kali ini dapat menjadi lebih serius.

Mereka menilai bahwa setelah tingkat positif melampaui 20%, sangat mungkin situasi berkembang menjadi tingkat penularan tinggi.

Selain itu,  Agustus merupakan masa dengan mobilitas masyarakat yang sangat tinggi karena:

  • Libur sekolah,
  • Musim cuti tahunan pekerja,
  • Banyak keluarga melakukan perjalanan wisata.

Kondisi tersebut diperkirakan dapat mempercepat penyebaran virus.

Dokter Melaporkan Lonjakan Kasus

Pada 1 Agustus, akun “Medsci (梅斯醫學)” di platform NetEase mengutip pernyataan seorang dokter di Provinsi Liaoning yang mengatakan bahwa sejak 22 Juli, rumah sakitnya mengalami lonjakan kasus COVID-19 maupun influenza A dan B, sehingga penggunaan obat antivirus meningkat tajam.

Pada 31 Juli, seorang dokter dari Provinsi Hunan mengatakan: “COVID-19 kembali menyebar. Semua orang perlu meningkatkan perlindungan diri. Bagi pasien muda sebenarnya tidak perlu diberikan obat antivirus khusus. Persediaan obat di apotek memang sudah habis sehingga tidak bisa diresepkan. Yang bisa dilakukan adalah lebih banyak beristirahat dan kembali kontrol bila diperlukan.”

Sementara itu, dokter pengobatan tradisional Tiongkok Luo Yi juga menulis di Weibo bahwa: “COVID-19 kembali datang.”

Warganet Mengaku Gejalanya Lebih Berat

Banyak pengguna internet di Tiongkok membagikan pengalaman mereka terinfeksi COVID-19.

Beberapa komentar di antaranya:

  • “Virus ini sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang.”
  • “Saya positif COVID-19 sudah dua minggu dan masih belum benar-benar pulih.”
  • “Saya mulai demam pada 17 Juli, sampai hari ini (1 Agustus) tenggorokan saya masih sakit.”
  • “Lusa lalu saya positif, kemarin istri saya juga positif. Gejalanya persis seperti COVID-19 dulu.”

Ada juga yang mengatakan:

  • “Saya sudah positif. Rasanya jauh lebih parah daripada beberapa kali sebelumnya. Selama tiga hari suhu tubuh saya sekitar 38°C dan tenggorokan bengkak parah, bahkan lebih sakit dibanding saat terkena influenza A.”
  • “Lebih berat daripada pertama kali terkena COVID-19. Saya tidak bisa makan, batuk terus, dan berat badan turun sekitar 3,5 kilogram.”

Pengguna lain menulis:

  • “Bagian antara hidung dan langit-langit mulut terasa kering dan sakit. Pelipis serta mata juga terasa sakit.”
  • “Saya mencoba bertahan beberapa hari, tetapi akhirnya serangan asma kambuh hingga harus dirawat di rumah sakit.”
  • “Baru saja kembali ke Tiongkok langsung tertular. Menggigil, seluruh badan pegal, dan tidak bertenaga.”

Ada juga komentar yang mempertanyakan efektivitas vaksin, seperti:

  • “Sebenarnya vaksin itu ada gunanya untuk apa?”
  • “Hampir semua orang sudah divaksin. Tahukah Anda vaksin apa itu? Bahkan ada yang mengatakan vaksin tersebut lebih berbahaya daripada COVID-19.”

Sumber : NTDTV.com

Konflik Iran Memanas, Dugaan Ancaman terhadap Keluarga Trump, AS dan Israel Disebut Bersiap Melakukan Operasi Militer

EtIndonesia.com Pekan ini, situasi konflik Iran kembali mengalami perkembangan baru dan keadaan di Timur Tengah berubah dengan cepat.

Pada Kamis (30 Juli), Iran mengklaim telah menembak jatuh tiga pesawat tempur siluman F-35 milik Amerika Serikat. Namun, pemerintah AS segera membantah klaim itu.

Menurut laporan, pekan sebelumnya Amerika Serikat memilih menghentikan operasi militer setelah Iran beberapa kali menyampaikan keinginan untuk berdamai. Namun, Iran kemudian kembali melakukan aksi militer serta diduga melibatkan kelompok-kelompok sekutunya di kawasan, yang disebut memicu kemarahan Arab Saudi.

Laporan itu juga menyebut Arab Saudi memperkuat kerja sama dengan Amerika Serikat dan mengumumkan pembentukan aliansi maritim yang terdiri dari 14 negara.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pekan ini mengunjungi Amerika Serikat dan disebut kemungkinan membawa informasi intelijen terbaru.

Ini mempertanyakan apakah Iran yang sebelumnya berada dalam posisi lemah kini mampu kembali melakukan serangan karena mendapat dukungan dari Partai Komunis Tiongkok (PKT), meskipun mengakui tidak ada bukti yang jelas mengenai hal tersebut.

Trump Menanggapi Laporan Dugaan Pasokan Senjata dari Tiongkok

Seorang wartawan bertanya kepada Presiden AS Donald Trump: “Pemimpin PKT sebelumnya telah meyakinkan Anda bahwa Tiongkok tidak akan memberikan ataupun menjual senjata kepada Iran. Namun laporan terbaru menyebut Iran bersiap menerima sekitar 400 peluncur roket buatan Tiongkok yang dikirim melalui Pakistan.”

Trump menjawab: “Kalau itu benar, tentu sangat mengejutkan. Memang saya pernah mendengar hal-hal seperti itu, tetapi tetap saja mengejutkan. Sebelumnya dia dengan tegas meyakinkan saya bahwa mereka tidak akan ikut campur, dan dia tahu saya akan sangat kecewa jika itu terjadi.”

Menurut laporan Reuters pada 28 Juli, Iran diperkirakan akan menerima sekitar 300 hingga 400 peluncur rudal pertahanan udara portabel buatan Tiongkok, termasuk sistem QW-12 dan FN-16, dalam beberapa minggu ke depan.

Laporan itu juga menyebut Iran berharap memperoleh rudal jelajah antikapal maupun komponen sipil-militer dari Tiongkok melalui jalur darat.

Namun demikian, artikel ini sendiri mengakui bahwa belum terdapat bukti yang jelas bahwa PKT benar-benar memberikan bantuan militer kepada Iran.

Ketegangan Kembali Meningkat

Setelah mengalami pemboman selama 13 hari, Iran sebelumnya beberapa kali meminta penghentian perang.

Presiden Trump kemudian disebut memerintahkan penghentian operasi militer pada 24 Juli untuk membuka peluang perundingan.

Namun menurut laporan tersebut, pada 28 Juli Iran melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS di Yordania.

Trump dikutip mengatakan: “Saat itu ada lima roket dengan kecepatan sekitar 8.500 mil per jam. Kelima roket itu berhasil dicegat. Namun mereka tetap meluncurkannya. Sekarang giliran kami. Kita akan melihat apakah masih bisa mencapai suatu kesepakatan, tetapi kami akan memberikan balasan yang sangat keras.”

Iran kemudian beberapa kali menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Selain itu, media pemerintah Iran Tasnim News Agency disebut menayangkan sebuah video yang menurut laporan tersebut berisi ajakan kepada kelompok garis keras untuk membunuh Ibu Negara Amerika Serikat Melania Trump dan putra Trump, Barron Trump.

Laporan itu juga menyatakan bahwa Amerika Serikat kemudian membalas dengan puluhan serangan udara yang menargetkan posisi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Kelompok Houthi dan Milisi Irak

Kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, kembali menyerang kapal tanker minyak Arab Saudi serta mengancam akan memblokade Selat Bab el-Mandeb.

Pemerintah Yaman disebut telah menyatakan kesiapan menghadapi kemungkinan eskalasi lebih lanjut.

Selain itu, laporan tersebut menyatakan bahwa milisi Irak yang didukung Iran menyerang pangkalan militer AS dan fasilitas energi Arab Saudi lebih dari 30 kali dalam tiga hari.

Sebagai respons, pada 28 Juli pasukan Arab Saudi dikatakan melakukan operasi balasan bersama militer Amerika Serikat.

Aliansi Maritim 14 Negara

Pada 30 Juli, Arab Saudi mengumumkan pembentukan aliansi keamanan maritim beranggotakan 14 negara.

Menurut pernyataan bersama yang dikutip artikel tersebut, aliansi ini bertujuan menjaga keamanan:

  • Selat Bab el-Mandeb,
  • Laut Merah,
  • Teluk Aden,

agar jalur perdagangan internasional dan distribusi energi tetap berjalan lancar.

Negara-negara yang disebut ikut berpartisipasi antara lain:

  • Bahrain,
  • Kuwait,
  • Qatar,
  • Mesir,
  • Turkiye,
  • dan beberapa negara lainnya.

Artikel juga menyebut Pelabuhan Damietta di Mesir untuk pertama kalinya menjadi sasaran serangan drone Iran, serta menyatakan bahwa Uni Eropa kemungkinan akan bergabung dengan aliansi tersebut.

Hamas dan Gaza

Menurut laporan tersebut, rencana gencatan senjata yang sebelumnya diajukan Trump terdiri atas 20 poin, termasuk:

  • Hamas menyerahkan seluruh persenjataannya;
  • menghancurkan jaringan terowongan bawah tanah;
  • penarikan pasukan Israel dari Gaza;
  • pembentukan pemerintahan baru;
  • penempatan pasukan keamanan internasional;
  • pelaksanaan rekonstruksi pascaperang.

Pada 31 Juli, seorang pejabat Hamas mengatakan organisasinya telah menyetujui rencana perlucutan senjata tersebut.

Tekanan terhadap Iran

Menurut laporan media asing yang dikutip artikel ini, Amerika Serikat dan Israel juga sedang membahas kombinasi langkah militer dan nonmiliter untuk meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Iran.

Salah satu langkah yang disebutkan adalah membujuk negara-negara tetangga Iran agar menutup seluruh perbatasan dengan negara tersebut.

Dugaan Operasi terhadap Uranium Iran

Cadangan uranium yang telah diperkaya Iran sedang dipersiapkan untuk direbut.

Media independen The High Side disebut melaporkan bahwa operasi tersebut kemungkinan melibatkan pasukan elite Amerika Serikat, termasuk:

  • SEAL Team Six (Skuadron Silver), dan
  • Batalion Ranger ke-2.

Namun, informasi tersebut belum dikonfirmasi secara resmi.

Dugaan Rencana Operasi Militer Baru

Setelah serangan terhadap pangkalan militer AS, Trump mengatakan Amerika Serikat akan memberikan balasan keras terhadap Iran.

Laporan tersebut mengutip The Wall Street Journal yang menyebut kemungkinan adanya operasi militer berskala besar selama 10 hingga 14 hari, yang menurut laporan itu dapat dimulai pada akhir pekan ini.

Laporan disusun oleh Lin Chao dan Liu Jie, NTD News Weekly.

Gempa Berkekuatan 7,1 Magnitudo di Kumamoto, Jepang, Menghancurkan Rumah-rumah; Korban Terpaksa Tinggal di Dalam Mobil

EtIndonesia.com Gempa bumi berkekuatan 7,1 magnitudo yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang, telah menewaskan 36 orang hingga 1 Agustus. Lebih dari 9.200 orang masih mengungsi di tempat-tempat penampungan.

Selain kerusakan rumah, warga juga menghadapi pemadaman air dan listrik. Banyak korban yang kehilangan tempat tinggal terpaksa bermalam di dalam mobil. Mereka juga harus bersiap menghadapi gelombang panas dengan suhu yang diperkirakan mendekati 40°C dalam beberapa hari mendatang.

Rumah Hancur, Satu Keluarga Terpaksa Tinggal di Mobil

Salah seorang korban, Haruto Kubo, yang tinggal di Kota Hikawa, mengatakan bahwa rumah keluarganya runtuh seluruhnya akibat gempa. Kini ia bersama istri dan anaknya hanya bisa tinggal sementara di dalam mobil.

Haruto Kubo, korban gempa Kumamoto: “Saya tidak tahu kapan rumah kami bisa dibangun kembali. Ada ratusan rumah yang roboh. Saya rasa setidaknya diperlukan satu atau dua tahun untuk memperbaikinya. Saya sangat ingin mandi, berbaring di atas tatami, dan tidur di kamar yang ber-AC.”

Suhu Diperkirakan Mencapai 40°C

Menurut Badan Meteorologi Jepang (JMA), suhu tertinggi di Prefektur Kumamoto pada 3 Agustus diperkirakan mencapai 40°C, tingkat yang dapat membahayakan jiwa.

Saat ini sekitar 72.000 rumah tangga masih mengalami gangguan pasokan air bersih, sehingga kehidupan para pengungsi menjadi semakin sulit.

Yuka Shimada, korban gempa Kumamoto: “Anak-anak merasa sangat tidak nyaman. Saya dan suami masih bisa bertahan, tetapi cuacanya sangat panas. Tidak bisa keramas membuat kami merasa kotor, dan karena tidak bisa mandi, kami juga sulit tidur. Keadaan ini benar-benar menyulitkan.”

Tempat Penampungan Ramah Hewan Peliharaan

Karena cuaca yang sangat panas dan sebagian besar tempat pengungsian tidak mengizinkan hewan peliharaan, sebuah rumah sakit hewan di Kumamoto membangun tempat penampungan sementara yang memungkinkan pemilik dan hewan peliharaan mereka tinggal bersama.

Tomoko Takaoka, korban gempa Kumamoto: “Saya tidak memiliki listrik maupun air bersih. Saya juga khawatir anjing saya akan mengalami serangan panas. Saya ingin sebisa mungkin tetap bersama mereka.”

Direktur rumah sakit hewan tersebut, Ryunosuke Tokuda, mengatakan: “Masalahnya adalah banyak pemilik hewan tidak ingin meninggalkan rumah mereka karena tidak ingin berpisah dengan hewan peliharaannya. Mereka ingin tetap bersama. Karena itu, keberadaan tempat pengungsian yang mengizinkan hewan peliharaan sangat penting.”

Pemerintah Terus Memberikan Bantuan

Pemerintah Prefektur Kumamoto saat ini terus berupaya menjamin pasokan air minum bagi para korban serta meningkatkan langkah-langkah pencegahan dampak panas di tempat-tempat pengungsian.

Berbagai upaya yang dilakukan antara lain memasang pendingin udara portabel dan menyediakan fasilitas penyejuk tambahan untuk membantu para pengungsi menghadapi cuaca panas ekstrem yang diperkirakan masih akan berlanjut.

Laporan disusun oleh Hu Zonghan dan Tang Jie’an, NTD Asia Pasifik.

Gelombang Migran Memasuki Spanyol, Warga Berdemo di Depan Kedutaan Besar Maroko di Madrid

EtIndonesia.com  Media New Tang Dynasty melaporkan bahwa sekitar 60.000 migran baru-baru ini memasuki Ceuta, wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara. Pada 31 Juli malam, ratusan demonstran anti-imigrasi berkumpul di depan Kedutaan Besar Maroko di Madrid untuk mengecam apa yang mereka sebut sebagai “invasi” migran.

Menurut laporan AFP, aparat kepolisian dikerahkan dalam jumlah besar di sekitar Kedutaan Besar Maroko di Madrid. Helikopter dan drone juga digunakan untuk memperketat pengawasan keamanan.

Seorang wartawan AFP melaporkan bahwa para demonstran meneriakkan slogan-slogan seperti: “Spanyol adalah negara Kristen, bukan Muslim” dan “Persatuan Bangsa.”

Banyak peserta aksi mengenakan pakaian serba hitam.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez juga menjadi sasaran kritik para demonstran. Mereka menuduhnya telah “menjual Spanyol kepada umat Muslim” dan menyalahkannya atas apa yang mereka sebut sebagai “krisis yang tidak terkendali.”

Dibandingkan dengan banyak negara Eropa lainnya, pemerintahan Partai Buruh Sosialis Spanyol (PSOE) yang dipimpin Sánchez memang menerapkan kebijakan yang relatif lebih terbuka terhadap imigrasi.

Pihak berwenang di Ceuta menyatakan bahwa sekitar 60.000 migran telah memasuki wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir.

Namun, Menteri Luar Negeri Spanyol José Manuel Albares menulis di platform media sosial X bahwa:”Hampir semua orang yang memasuki Ceuta telah kembali ke Maroko.”

Ia juga menuduh pihak-pihak yang mengkritik pemerintah telah “menyesatkan opini publik.”

Albares menegaskan bahwa setiap orang yang hendak bepergian dari Ceuta atau wilayah kantong Spanyol lainnya, Melilla, menuju daratan utama Spanyol wajib menjalani pemeriksaan identitas oleh kepolisian.

Ia menambahkan : “Integritas kawasan Schengen akan tetap dijaga sepenuhnya.”

Masuknya gelombang migran ke Ceuta juga mendorong Italia untuk sementara waktu memperketat pengawasan di perbatasannya dengan Spanyol.

Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani pada 31 Juli sebelumnya mengumumkan bahwa Italia untuk sementara menghentikan penerapan kebebasan lalu lintas berdasarkan Perjanjian Schengen dengan Spanyol. Menurutnya, langkah tersebut merupakan : “Keputusan yang diperlukan untuk melindungi keamanan warga negara kami dan menjaga perbatasan Eropa.”

Punya Banyak Uang Belum Tentu Bahagia! Pria 68 Tahun Menemukan Kembali Kualitas Hidup dengan Bekerja Paruh Waktu di Supermarket 

EtIndonesia.com  Media New Tang Dynasty melaporkan bahwa ketika merencanakan masa pensiun, kebanyakan orang biasanya hanya memikirkan satu hal: “Apakah uang saya akan cukup?” Namun, memiliki uang saja bukanlah satu-satunya jaminan untuk menikmati masa pensiun yang bahagia. 

Seorang pria berusia 68 tahun di Jepang yang hidup berkecukupan justru menemukan kualitas hidup yang lebih baik setelah bekerja paruh waktu di sebuah supermarket.

Pria itu menggunakan nama samaran Nomura, sebelum pensiun bekerja sebagai teknisi di sebuah perusahaan manufaktur besar. Selama kariernya ia terus mendapatkan promosi jabatan.

Setelah pensiun, ia dan istrinya menerima dana pensiun sekitar 380.000 yen per bulan (sekitar US$2.400), sementara pengeluaran hidup mereka hanya sekitar 300.000 yen per bulan. Selain itu, ia juga memiliki aset keuangan sekitar 60 juta yen (sekitar US$380.000), dan rumahnya sudah lunas sehingga tidak lagi memiliki cicilan. Secara ekonomi, kehidupan pensiunnya sangat nyaman.

Pada awal masa pensiun, Nomura merasa sangat bahagia. “Akhirnya saya bebas.”

Ia bisa bangun kapan saja, berjalan-jalan, menonton televisi, dan menikmati segelas minuman di malam hari. Hidup terasa santai dan menyenangkan.

Namun, perasaan itu tidak berlangsung lama.

Sekitar enam bulan kemudian, setiap harinya mulai terasa membosankan. Ia semakin jarang keluar rumah, aktivitas fisiknya berkurang, berat badannya bertambah, bahkan sering tidak ingat hari apa saat itu.

Ia sering bertanya kepada dirinya sendiri, “Apa yang sebenarnya saya lakukan hari ini?”

Terlalu lama berada di rumah juga mulai mempengaruhi hubungannya dengan sang istri.

Sebelumnya, istrinya menikmati mengurus pekerjaan rumah dan bertemu teman-temannya sesuai dengan ritmenya sendiri. 

Kini, karena suaminya selalu berada di rumah setiap hari, ia merasa tidak terbiasa dengan perubahan itu. 

Selain merasa tidak nyaman di rumah, Nomura juga merasakan kesepian karena merasa terputus dari kehidupan sosial.

Ia mengeluh,”Ini sama sekali bukan kehidupan pensiun ideal yang saya bayangkan.”

Suatu hari ia bertemu kembali dengan seorang mantan rekan kerja. Rekannya itu ternyata kembali bekerja di sebuah perusahaan kecil setelah pensiun dengan jadwal empat hari kerja setiap minggu.

Melihat mantan rekannya tampak jauh lebih bersemangat dibandingkan saat masih bekerja dulu, Nomura pun terdorong untuk mencari pekerjaan. Akhirnya ia bekerja paruh waktu di sebuah supermarket bahan bangunan.

Sejak mulai bekerja, ia kembali bangun pagi tepat waktu, mempersiapkan diri, lalu berangkat kerja.

Meski berbincang dengan rekan kerja dan berjalan ke sana kemari membuatnya sedikit lelah, setiap malam ia bisa tidur nyenyak. Tanpa disadari, berat badannya pun kembali normal.

Ia secara sukarela memilih bertugas di bagian perlengkapan DIY (Do It Yourself).

Di sana, ia sering membantu pelanggan yang bertanya mengenai alat-alat dan suku cadang.

Setiap kali pelanggan mengucapkan terima kasih, ia merasakan kepuasan tersendiri. “Ternyata saya masih bisa membantu orang lain.”

Uang yang diperolehnya dari pekerjaan paruh waktu digunakan untuk bepergian bersama istrinya, membeli hadiah bagi cucu-cucunya, dan karena uang itu merupakan hasil jerih payahnya sendiri sebagai “uang saku”, ia dapat membelanjakannya dengan senang hati tanpa merasa bersalah.

Para ahli menjelaskan bahwa banyak orang memilih tetap bekerja setelah pensiun bukan karena terpaksa secara ekonomi, melainkan karena mereka merasa bekerja itu menyenangkan atau ingin terus membantu orang lain.

Selain itu, tetap bekerja juga membantu seseorang tetap aktif secara fisik, terus berinteraksi dengan orang lain, dan memberikan manfaat bagi kesehatan jasmani maupun mental.

Sumber : NTDTV.com

Berita Mengejutkan dari Gunung Wutai, Shanxi, Tiongkok : Beberapa Wisatawan Tersambar Petir 

Media New Tang Dynasty melaporkan bahwa beberapa hari lalu terjadi insiden di kawasan wisata Gunung Wutai, Shanxi, di mana sejumlah wisatawan dilaporkan tumbang setelah tersambar petir.

EtIndonesia.com  Pada 31 Juli, beredar informasi di internet yang menyebutkan bahwa beberapa pendaki yang sedang berjalan kaki di kawasan wisata Gunung Wutai tersambar petir. Bahkan disebutkan bahwa “orang yang lebih tua mengalami henti jantung.”

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan beberapa orang tergeletak di tanah tanpa bergerak. Dalam video tersebut terdengar seseorang berkata: “Petir! Petir! Berkali-kali menyambar, beberapa orang terkena.”

Menanggapi hal itu, pejabat setempat di Kota Xinzhou mengatakan kepada media daratan Tiongkok bahwa tiga pendaki yang melintas di lokasi kejadian terjatuh karena terkejut setelah petir menyambar pohon di dekat mereka. 

Setelah diperiksa, ketiganya dinyatakan tidak dalam kondisi yang mengancam jiwa. Dua orang dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan, sedangkan satu orang memilih pulang sendiri.

Pada 31 Juli sore, staf Komite Pengelola Kawasan Wisata Gunung Wutai mengatakan bahwa insiden tersebut masih dalam penyelidikan. Saat para korban dibawa ke rumah sakit, tanda-tanda vital mereka stabil dan tidak ditemukan luka luar yang jelas. Jumlah pasti korban masih belum diketahui, dan pihak berwenang akan mengeluarkan laporan resmi setelah penyelidikan selesai.

Pada 31 Juli pukul 13.00, Pusat Layanan Wisata Gunung Wutai mengeluarkan pengumuman bahwa mulai 31 Juli hingga 7 Agustus akan terjadi hujan lebat di seluruh kawasan. Oleh karena itu, aktivitas pendakian menuju puncak-puncak Gunung Wutai untuk sementara dilarang.

Menanggapi kabar bahwa seluruh gunung ditutup, petugas menjelaskan bahwa hanya area puncak yang ditutup, sedangkan kawasan wisata Gunung Wutai secara umum tetap dibuka untuk pengunjung.

Seorang warganet yang mengaku mengalami kejadian tersebut mengatakan kepada China News Weekly bahwa ia bersama beberapa temannya datang dari luar daerah untuk mendaki. Saat hujan semakin deras dan mereka sedang mempertimbangkan apakah akan melanjutkan pendakian, tiba-tiba mereka bersama beberapa pendaki lain tersambar petir hingga terjatuh.

“Rasanya seperti terkena kilatan granat kejut. Pandangan tiba-tiba putih, lalu saya langsung jatuh.”

Ia mengatakan bahwa dirinya tetap sadar setelah kejadian. Awalnya ia mengira tidak mengalami apa-apa dan bahkan masih ingin melanjutkan pendakian. Namun setelah berdiri, seluruh tubuhnya terasa kesemutan.

“Mungkin tongkat pendakian saya menghantarkan listrik.”

Seorang warga desa bernama Chen yang ikut dalam proses penyelamatan mengatakan bahwa sekitar pukul 11.00 siang ia sedang berjualan di kaki Gunung Wutai bagian selatan ketika beberapa pendaki berlari turun meminta pertolongan sambil mengatakan ada beberapa orang tersambar petir.

Setelah naik ke lokasi kejadian, ia menemukan tiga orang terbaring di tanah. Mereka masih bisa bergerak dan tetap sadar, tetapi tampak sangat ketakutan dengan wajah pucat.

“Seluruh tubuh terasa tidak nyaman, bahkan sulit berbicara dengan jelas,” kata mereka. 

Chen juga melihat ada pohon poplar di dekat para korban. Ia menduga mereka sedang berteduh atau beristirahat di bawah pohon ketika petir menyambar pohon tersebut sehingga arus listrik mengalir ke tubuh mereka.

“Saya bertanya apa yang terjadi, tetapi mereka sendiri tidak bisa menjelaskannya. Hanya satu orang yang mengatakan rasanya seperti bermimpi, lalu ketika sadar seluruh tubuhnya sudah basah kuyup.”

Seorang pengguna internet lainnya menulis bahwa pada 31 Juli terjadi hujan badai disertai petir hebat di Puncak Utara Gunung Wutai.

“Petir menyambar terus-menerus. Air banjir mengalir deras melewati kaki kami. Jangankan menangis, berhenti berjalan pun kami tidak berani karena takut mengalami hipotermia. Belasan kilometer perjalanan turun gunung terasa seperti mimpi buruk. Selain kelelahan fisik, tekanan mental juga sangat berat. Tidak ada pos perbekalan di tengah jalan, makanan yang dibawa sudah habis, hujan deras membuat energi terkuras habis.”

Sejumlah video juga menunjukkan bahwa meskipun hujan deras dan petir melanda kawasan tersebut, masih banyak orang yang tetap mendaki gunung. Bahkan di beberapa jalur terjadi tanah longsor dan aliran lumpur.

Berbagai komentar dari warganet Tiongkok antara lain:

  • “Ada orang yang tersambar petir.”
  • “Salah satu korban sampai kejang-kejang.”
  • “Benar, kejadiannya di Puncak Selatan. Saat saya menuju Puncak Utara terdengar satu sambaran petir yang sangat keras.”
  • “Kilatan petir itu menyambar tepat di depan kami, kami langsung memutuskan turun gunung.”
  • “Membayangkannya saja sudah membuat merinding.”
  • “Gunung Wutai dilanda hujan lebat, hujan es, petir dahsyat, dan tanah longsor.”
  • “Hujan di Gunung Wutai bisa membuat orang merasa ketakutan hanya dalam waktu tiga menit.”

Ada  yang mengingatkan : “Musim semi jangan masuk gua, musim panas jangan masuk lembah, musim gugur jangan mendekati tebing, musim dingin jangan mendaki puncak. Semuanya sangat berbahaya.”

“Saat cuaca disertai petir, sebaiknya jangan pergi ke pegunungan. Kita harus menghormati kekuatan alam.”

“Sejujurnya, dalam cuaca seperti ini sebaiknya jangan memaksakan diri. Kalau sampai terjadi sesuatu, penyesalan tidak akan ada gunanya. Hormatilah alam.”

Warganet lainnya menambahkan : “Ini benar-benar mempertaruhkan nyawa. Kalau banjir bandang lebih besar sedikit saja, semuanya bisa hanyut. Tidak memahami bahaya alam hanya akan berujung tragedi. Kali ini mungkin selamat, tetapi apakah lain kali masih bisa lolos?”

“Ini bukan lagi mendaki gunung, melainkan mempertaruhkan nyawa. Kita harus belajar menghormati alam.”

Disusun oleh reporter Li Enzhen. Editor penanggung jawab: Xia He

3 Jenazah Ditemukan Dalam Longsoran Salju di Broad Peak, Pakistan

EtIndonesia.com Longsoran salju terjadi di Broad Peak di Pakistan pada 30 Juli, menyebabkan setidaknya 10 orang hilang. Tiga jenazah telah ditemukan sejauh ini, dan upaya pencarian dan penyelamatan berlanjut pada 31 Juli.

Longsoran salju terjadi sekitar tengah hari pada 30 Juli saat tim pendaki gunung sedang mendaki Broad Peak, puncak tertinggi ke-12 di dunia dengan ketinggian 8.051 meter. Menurut data lokasi terakhir yang diketahui, anggota tim yang hilang diyakini berada di ketinggian sekitar 6.600 meter ketika longsor terjadi, “dan kemudian jatuh ke bawah.”

Sajid Hussain, wakil direktur Departemen Pariwisata Gilgit-Baltistan, menyatakan bahwa lokasi terpencil dan medan yang berbahaya di area pencarian meningkatkan kesulitan operasi penyelamatan.

Operasi pencarian dan penyelamatan dihentikan pada 31 Juli malam karena cuaca buruk.

Reuters melaporkan bahwa pemerintah daerah Gilgit-Baltistan menyatakan bahwa rekaman drone menunjukkan apa yang tampak seperti beberapa mayat di area pencarian.

Para pejabat menyatakan bahwa tiga korban yang ditemukan sejauh ini adalah Sarah Mallory, seorang warga Amerika; Nadhira Ahmed Abdullah Al Harthy, seorang warga Oman; dan Pur Bahadur Gurung, seorang warga Nepal.

Kementerian Luar Negeri Nepal menyatakan bahwa enam dari sepuluh pendaki yang hilang adalah warga Nepal, termasuk Purga, pendaki gunung terkenal Nepal yang memegang rekor pendakian tercepat ke-14 puncak dunia di atas 8.000 meter; menurut klub tersebut, pendaki yang hilang lainnya berasal dari Pakistan, Oman, Amerika Serikat, dan Tiongkok.

Dari 14 puncak dunia di atas 8.000 meter, delapan berada di Nepal, lima di Pakistan, dan satu di Tibet. 

Para ahli pendakian gunung mengatakan bahwa hanya sekitar 30 pendaki gunung yang berhasil menaklukkan ke-14 puncak tersebut hingga saat ini, dan Gunung Broad secara luas diakui sebagai salah satu puncak paling menantang di Pakistan. (***)

Ceuta, Spanyol Kewalahan Setelah Hampir 60.000 Imigran Ilegal Menyeberang dari Maroko dalam Sehari

EtIndonesia.com  Ceuta kewalahan dalam semalam setelah wilayah enklaf Spanyol di Afrika Utara itu menghadapi gelombang baru hampir 60.000 penyeberangan imigran ilegal dari Maroko hanya dalam sehari, kata Presiden Ceuta pada Jumat.

Jumlah para imigran melonjak tajam dibandingkan angka 49.000 kedatangan melalui jalur laut dan darat yang sebelumnya dilaporkan otoritas Spanyol hingga Jumat 31 Juli pagi.

Setidaknya 41 imigran tewas saat berusaha mencapai wilayah Spanyol di Ceuta, meningkat dari 19 korban jiwa yang dilaporkan sebelumnya pada Jumat.

“Situasi yang sedang dialami Ceuta benar-benar tidak dapat dipertahankan lagi,” kata Presiden Ceuta, Juan Jesús Vivas, kepada wartawan.

Rachid Sbihi, yang memimpin asosiasi pekerja lokal yang mewakili anggota Guardia Civil, menyebut situasi tersebut sebagai “krisis kemanusiaan yang serius.”

“Orang-orang masih terus masuk. Personel tambahan yang datang hanya dapat membantu para korban luka dan menangani upaya kemanusiaan lainnya,” katanya. “Situasinya kacau.”

Para imigran asal Maroko berjalan di sepanjang Avenida Martínez Catena di Ceuta menuju kawasan perbatasan pada 31 Juli 2026 pukul 21.34 waktu setempat. Etienne Fauchaire/The Epoch Times.

Pada Kamis, Spanyol mengerahkan satuan militer ke wilayah enklafnya di Afrika Utara, Ceuta, untuk memperkuat keamanan setelah ribuan imigran ilegal, yang mana sebagian besar merupakan pria muda, menerobos perbatasan dengan Maroko.

Ceuta merupakan kota otonom Spanyol yang terletak di Afrika Utara. Bersama Melilla, wilayah tersebut menjadi satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa dengan Afrika dan kerap menghadapi gelombang imigran ilegal yang berupaya memasuki Eropa.

Para imigran asal Maroko berenang melintasi perbatasan laut menuju Ceuta di dekat Avenida Martínez Catena pada 31 Juli 2026 pukul 20.42 waktu setempat. Etienne Fauchaire/The Epoch Times.

Menurut data terbaru Institut Statistik Nasional Spanyol, Ceuta hanya memiliki sekitar 83.000 penduduk.

Menteri Kebijakan Teritorial Spanyol, Ángel Víctor Torres, mengatakan pada Jumat bahwa salah satu faktor yang diduga memicu lonjakan tersebut adalah putusan Mahkamah Agung Spanyol pada 29 Juni yang menyatakan bahwa para migran yang dicegat di laut saat berusaha mencapai Ceuta atau Melilla tidak dapat langsung dipulangkan melalui prosedur khusus tanpa proses hukum.

Torres mengatakan kepada sebuah stasiun radio lokal bahwa pemerintah Spanyol telah merespons lonjakan tersebut dengan cepat dan pada akhirnya akan memulangkan para imigran itu.

Para imigran asal Maroko beristirahat di trotoar di sepanjang tembok setelah tiba dari Maroko di Ceuta, Spanyol, pada 31 Juli 2026. Etienne Fauchaire/The Epoch Times.

Dalam unggahan di platform X pada 30 Juli, asosiasi kepolisian nasional Spanyol JUPOL menyatakan bahwa jumlah personel polisi yang ditempatkan di lapangan terlalu sedikit untuk mengendalikan lonjakan tersebut.

“Selama berhari-hari kami telah memperingatkan secara terbuka bahwa situasi di kota otonom itu sudah tidak dapat dipertahankan lagi serta mengecam sama sekali tidak adanya langkah-langkah dari pemerintah. Hari ini, semua peringatan itu terbukti benar,” tulis JUPOL.

Asosiasi Guardia Civil Spanyol dalam serangkaian unggahan di X pada 31 Juli mengatakan bahwa kota itu kini berada di “ambang kehancuran.”

“Petugas Guardia Civil tidak mampu berbuat apa-apa,” tulis asosiasi itu.

“Mereka sekarang masuk secara massal…. Jumlah petugas Guardia Civil tidak cukup untuk menghentikan gelombang manusia itu.”

Semalam, di gerbang menuju Ceuta, otoritas Maroko mengerahkan truk meriam air untuk membubarkan kerumunan dan mendorong mereka kembali.

Di sekitar lokasi juga tampak bangkai hangus sebuah bus dan tujuh mobil akibat bentrokan dengan massa.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez tiba di Ceuta pada Jumat, menurut salah satu kantor berita Spanyol.

“Sánchez tiba di helipad Ceuta di tengah caci maki serta bentrokan antara para pengunjuk rasa dan polisi,” tulis Europa Press dalam unggahannya di X pada 31 Juli.

Pemerintahan Sosialis Spanyol di bawah Sánchez dikenal memiliki kebijakan yang mendukung imigran. Pada 14 April, pemerintah mengeluarkan dekret kerajaan yang memberikan status hukum kepada orang-orang yang tinggal secara ilegal di Spanyol.

Usulan tersebut pertama kali diajukan pada 27 Januari, yang memungkinkan sekitar 500.000 imigran ilegal yang telah tinggal dan bekerja di Spanyol memperoleh status hukum melalui proses yang dipercepat.

Hingga batas waktu pendaftaran pada 30 Juni, hampir 1,2 juta orang mengajukan permohonan, lebih dari dua kali lipat perkiraan awal pemerintah yang hanya sekitar 500.000 orang.

Sekretaris Jenderal partai konservatif Vox sekaligus anggota parlemen wilayah Catalonia, Ignacio Garriga, menyalahkan Sánchez secara langsung atas lonjakan tersebut.

“Ini adalah sebuah invasi dan Sánchez bertanggung jawab langsung atas hal ini,” tulisnya di X pada 31 Juli.

“Mari kita membangun tembok dan menyediakan sarana yang diperlukan agar Ceuta dan Melilla benar-benar menjadi perbatasan yang aman. Ini adalah kewajiban moral dan tanggung jawab institusional kepada rakyat Spanyol yang kini hidup dalam ketakutan, melihat usaha mereka tutup, dan khawatir akan keselamatan mereka.”

Reuters dan The Associated Press turut berkontribusi dalam penyusunan laporan ini.

Sumber : Theepochtimes.com

Feri Mutiara Sentosa 2  Surabaya-Makassar Terbakar di Laut Jawa, Penumpang Dievakuasi di Tengah Kepulan Asap 

EtIndonesia.com — Sebuah kapal feri dilalap api di perairan utara Kabupaten Sumenep, lepas Pulau Jawa, pada Minggu (2/8/2026), memicu kepanikan di tengah pelayaran menuju Makassar.

Laporan menyebutkan Feri Mutiara Sentosa 2 sedang berlayar dari Surabaya menuju Makassar, Sulawesi Selatan, dengan mengangkut 232 penumpang dan 39 awak kapal saat kebakaran terjadi.

Menurut Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) , kobaran api muncul antara pukul 06.00 hingga 07.00 WIB. Sekitar satu jam kemudian, operator kapal PT Atosim Lampung Pelayaran melaporkan insiden tersebut kepada Kantor Pencarian dan Pertolongan Surabaya.

Feri Mutiara Sentosa 2 sedang berlayar dari Surabaya menuju Makassar, Sulawesi Selatan, dengan mengangkut 232 penumpang dan 39 awak kapal (dok Basarnas)

Pada pukul 09.45 WIB, pihak berwenang memastikan posisi feri berada sekitar 19 mil laut di utara Pulau Buruan Sapudi setelah berkomunikasi dengan kapal kargo Meratus Project 3 yang berada di sekitar lokasi. Namun, kapal kargo itu tidak dapat merapat karena sedang mengangkut muatan yang mudah terbakar.

Rekaman yang dirilis Basarnas memperlihatkan asap hitam pekat membubung dari salah satu sisi kapal dan dengan cepat menyelimuti sebagian besar badan feri.

Sementara itu, video yang beredar di media sosial memperlihatkan suasana mencekam di atas kapal. Para penumpang, yang sebagian besar mengenakan jaket pelampung, tampak berkumpul di dek dan bagian atas kapal sambil menunggu evakuasi. 

Feri Mutiara Sentosa 2 sedang berlayar dari Surabaya menuju Makassar, Sulawesi Selatan, dengan mengangkut 232 penumpang dan 39 awak kapal (dok Basarnas)

Beberapa di antaranya bahkan nekat melompat ke laut ketika kobaran api berwarna oranye terus membesar disertai kepulan asap hitam yang semakin tebal.

Hingga kini, penyebab kebakaran masih belum diketahui dan masih dalam penyelidikan pihak berwenang. Tim SAR masih terus melakukan operasi pencarian dan penyelamatan. 

Puluhan Ribu Imigran Ilegal Menerobos Perbatasan, Spanyol Dilanda Krisis Migran Terbesar dalam Sejarahnya

New Tang Dynasty TV melaporkan bahwa pada  Kamis 30 Agustus 2026, wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, mengalami gelombang masuk imigran ilegal terbesar dalam sejarahnya. Dalam waktu hanya 24 jam, sekitar 60.000 imigran ilegal memasuki wilayah tersebut, mengguncang Eropa. Banyak pihak mempertanyakan apakah kebijakan imigrasi Spanyol yang dinilai terlalu longgar dalam beberapa tahun terakhir telah mendorong meningkatnya arus penyelundupan manusia. Presiden Donald Trump juga memperingatkan bahwa jika pengendalian perbatasan gagal, Amerika Serikat dapat mengalami krisis serupa.

EtIndonesia.com  Pada  Kamis 30 Agustus 2026, puluhan ribu imigran ilegal memasuki Ceuta, wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, hanya dalam semalam. Kota kecil yang berbatasan langsung dengan Maroko itu seketika menjadi pusat krisis migrasi di Eropa.

Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, mengatakan: “Menyebut peristiwa kemarin sebagai sebuah ‘serangan’ berarti mengakui bahwa integritas wilayah Spanyol telah dilanggar.”

Kota Ceuta hanya memiliki sekitar 83.000 penduduk. Karena letaknya yang berbatasan langsung dengan Maroko, wilayah ini telah lama menjadi salah satu pintu masuk utama bagi para migran ilegal dari Afrika menuju Eropa.

Wali Kota Ceuta menyatakan bahwa sekitar 60.000 orang melintasi perbatasan dalam waktu 24 jam. Ini merupakan gelombang masuk migran terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah kota Ceuta. 

Selain jumlahnya yang sangat besar, lebih dari 10.000 orang juga dilaporkan mempertaruhkan nyawa dengan berenang atau menggunakan perahu untuk mencapai Ceuta melalui jalur laut.

Perwakilan pemerintah Spanyol di Ceuta mengatakan bahwa 57 jenazah telah ditemukan di sisi perbatasan wilayah Spanyol. Jumlah korban tewas dan luka diperkirakan bisa lebih tinggi.

Sejumlah pengamat menilai bahwa gelombang besar imigran ilegal yang muncul secara tiba-tiba ini berkaitan dengan kebijakan imigrasi Spanyol yang selama ini dianggap terlalu longgar.

Berbeda dengan banyak negara Eropa yang memperketat aturan imigrasi, pemerintah Spanyol pada awal tahun ini memberikan amnesti kepada ratusan ribu imigran ilegal dengan memberikan status izin tinggal yang sah.

Pada Juli tahun ini, Mahkamah Agung Spanyol juga memutuskan bahwa setiap imigran ilegal yang memasuki Spanyol melalui jalur laut tidak boleh langsung dideportasi. Mereka harus terlebih dahulu menjalani proses verifikasi identitas dan pemeriksaan permohonan suaka sebelum keputusan akhir diambil.

Putusan tersebut dinilai dapat meningkatkan keinginan para penyelundup dan migran untuk memilih jalur laut menuju Spanyol.

Gelombang migrasi yang terjadi secara mendadak ini juga memicu kekhawatiran banyak negara Eropa mengenai keamanan perbatasan.

Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, mengatakan: “Jelas ini pertama-tama merupakan urusan pemerintah Spanyol, tetapi masuknya migran ke Ceuta memang sangat mengkhawatirkan.”

Pemerintah Prancis mengumumkan akan memperketat pengawasan di perbatasannya dengan Spanyol. Sementara itu, sejumlah politisi di Italia menyerukan agar status Spanyol dalam Kawasan Schengen dievaluasi kembali.

Peristiwa ini juga mendapat perhatian Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ia memperingatkan bahwa gelombang besar imigran ilegal seperti yang terjadi di Spanyol juga dapat terjadi di Amerika Serikat.

“Kemarin saya melihat apa yang terjadi di Spanyol. Itu benar-benar sebuah bencana. Rasanya seperti sebuah negara dibanjiri oleh ratusan ribu orang. Jika Partai Republik tidak memenangkan pemilu, hal yang sama juga akan terjadi di Amerika Serikat—bahkan dalam skala yang lebih besar, lebih parah, dan lebih mudah terjadi,” katanya. 

Saat ini, menurut sejumlah laporan media, sebagian besar imigran ilegal yang melintasi perbatasan tersebut telah mulai kembali ke Maroko.

Laporan disusun oleh Meng Yu, New Tang Dynasty Television.

Gempa Mengguncang Napoli, Italia dengan Kedalaman Hanya Sekitar 3 KM, 21 Orang Terluka

EtIndonesia.com  Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,7 mengguncang wilayah vulkanik dekat Napoli, Italia selatan, pada 31 Juli, dengan kedalaman fokus hanya sekitar 3 kilometer. Ini adalah gempa bumi terkuat yang melanda daerah tersebut dalam 40 tahun terakhir. Menurut dinas pemadam kebakaran, laporan tentang orang-orang yang terjebak di lift dan jatuhnya mortir kecil telah diterima, dan 21 orang diketahui terluka.

Menurut AFP, Pusat Geofisika dan Vulkanologi Nasional Italia (INGV) melaporkan bahwa gempa bumi terjadi pada pukul 19.46 waktu setempat (01.46 waktu Beijing pada  1 Agustus), dengan episentrum terletak di wilayah Campi Flegrei dekat Napoli.

Gempa bumi kedua, dengan kekuatan 3,8, terjadi pada pukul 22.00.

Dinas pemadam kebakaran melaporkan adanya orang-orang yang terjebak di lift dan kerusakan ringan pada bangunan.

Gempa bumi ini, dengan kedalaman 3 kilometer, dirasakan hingga ke pulau Ischia dan Procida. Setelah gempa, warga mengungsi ke jalanan untuk menyelamatkan diri. Di Pozzuoli, dekat episentrum, sebuah bangunan kosong sebagian runtuh, dan puing-puing berserakan di jalanan. Pemadaman listrik terjadi di beberapa bagian Napoli.

Media lokal melaporkan bahwa 21 orang terluka, dua di antaranya luka serius dan dibawa ke rumah sakit untuk perawatan tingkat merah; sisanya mengalami luka ringan tetapi dibawa ke ruang gawat darurat untuk perawatan tingkat kuning.

Ini adalah gempa bumi terkuat yang melanda daerah tersebut dalam 40 tahun terakhir. Wilayah ini memiliki kawah gunung berapi terbesar di Eropa dan merupakan daerah yang aktif secara seismik. (***)

FBI Menggerebek Media Berbahasa Mandarin di California Selatan, Menyelidiki Jaringan Pengaruh Partai Komunis Tiongkok

FBI baru-baru ini meluncurkan operasi pencarian skala besar di California Selatan, dengan sebuah perusahaan media berbahasa Mandarin menjadi fokus penyelidikan. FBI menggeledah kantor-kantor pejabat terpilih setempat, perusahaan media milik Tiongkok, dan beberapa tempat tinggal serta kantor. Laporan tersebut menunjukkan bahwa meskipun kasus ini secara lahiriah melibatkan penyelidikan korupsi publik, kasus ini lebih berkaitan dengan apakah seseorang menggunakan politik lokal dan cara lain untuk membangun pengaruh bagi PKT di Amerika Serikat.

EtIndonesia.com FBI baru-baru ini mengeluarkan surat perintah penggeledahan dan secara bersamaan melakukan penggeledahan di beberapa lokasi di California Selatan.

Lokasi yang digeledah termasuk kantor Supervisor Wilayah San Bernardino, Hagman, di Distrik 5, kediaman Anggota Dewan Kota Ontario, Wapuna, dan kantor perusahaan media milik Tiongkok, Eagle Dragon Media, di West Covina, serta kediaman pendirinya, Su Yantao.

Selain itu, sebuah rumah mewah di Beverly Hills milik sebuah keluarga Tiongkok dan beberapa catatan di Bandara Internasional Ontario juga termasuk dalam penyelidikan.

“Dari perspektif hukum, FBI jelas membutuhkan surat perintah penggeledahan untuk melakukan penggeledahan. Mereka percaya mungkin ada bukti pelanggaran hukum dalam penggeledahan tersebut, jadi hakim federal mengeluarkan surat perintah, dan mereka pergi untuk mencari barang tersebut. Ini baru langkah pertama; langkah kedua adalah mencegah penghancuran bukti dan menghindari pemberitahuan kepada pihak-pihak terkait,” kata pengacara California Selatan, Liu Longzhu. 

Media berbahasa Mandarin, Eagle Dragon Media, yang terlibat dalam penggeledahan ini, juga menarik perhatian. Didirikan pada tahun 1990 oleh Su Yantao, Eagle Dragon Media mengklaim sebagai perusahaan multimedia Tionghoa-Amerika terbesar di Amerika Serikat. 

Perusahaan ini sebelumnya telah menerbitkan surat kabar yang diyakini terkait dengan sistem propaganda luar negeri Partai Komunis Tiongkok dan terdaftar sebagai agen asing pada tahun 2022.

Catatan menunjukkan bahwa pada tahun 2022, Eagle Dragon Media menyumbang untuk kampanye Wang Ailin. Operasi FBI ini diluncurkan setelah Wang Ailin mengaku bersalah.

“Selama satu atau dua dekade terakhir, Su Yantao telah bolak-balik antara Tiongkok dan AS, menerima uang dari PKT untuk bekerja bagi PKT di AS, tetapi mengoperasikan media fiktif dengan sedikit pengunjung dan pendengar. Terus terang, dia hanya menipu uang dari PKT, dan tindakannya merugikan AS,” kata komentator politik Fang Wei. 

“Meskipun demikian, dia tetaplah agen PKT dan pasti sedang diawasi oleh FBI. Mengingat iklim kewaspadaan AS saat ini terhadap PKT, bahkan seseorang yang pro-PKT pun dapat menjadi tersangka dan diselidiki. Oleh karena itu, warga Amerika keturunan Tiongkok harus menjaga jarak dari PKT, menghindari kedekatan dengan mereka, dan menghindari masalah bagi diri mereka sendiri,” ujarnya. 

Amerika Serikat terus memperluas penyelidikannya terhadap aktivitas pengaruh PKT di AS dalam beberapa tahun terakhir. Pada Mei tahun ini, mantan walikota Arcadia, California, mengakui menerima instruksi dari PKT untuk membantu mengoperasikan platform propaganda di AS dan melaksanakan tugas-tugas propaganda untuk Beijing.

Lebih lanjut, *Los Angeles Times*, mengutip sumber yang telah melihat surat perintah penggeledahan, menunjukkan bahwa penyelidik federal sedang meninjau catatan komunikasi antara pejabat lokal dan produsen kendaraan listrik Tiongkok, BYD.

Karena BYD memiliki pabrik bus listrik di Ontario, apakah ada pertukaran keuntungan antara kedua pihak, atau apakah mereka dipengaruhi oleh kekuatan asing, telah menjadi fokus utama penyelidikan.

“Ada kemungkinan bahwa tindakan FBI tidak hanya berfokus pada satu area, tetapi lebih pada penyelidikan federal yang multi-aspek, pengumpulan bukti, dan penindakan. Ini menunjukkan bahwa cakupan penindakan (terhadap PKT) sedang meluas,” ujar Liu Longzhu.  

Laporan dari reporter NTD Television Yi Xin dan Qiu Yue.

Pertama Kalinya dalam Sejarah! Trump Membuka Camp David untuk Media, Rapat Kabinet Diekspos

Pada Jumat (31 Juli), untuk pertama kalinya dalam sejarah, Presiden AS Donald Trump membuka tempat liburan presiden yang misterius, Camp David, kepada media dan mengizinkan media untuk merekam pertemuan kabinet. 

Dalam pertemuan itu, Presiden Trump menekankan bahwa kemampuan militer Iran hampir habis, dan secara terbuka mengakui bahwa ia kehilangan kepercayaan pada perundingan nuklir, dan mengkritik Teheran karena kebohongannya. Namun, ia juga mengatakan bahwa Amerika Serikat mendorong Hamas untuk melucuti senjata, dan pada saat yang sama menegaskan kembali bahwa ia tidak akan membiarkan Ukraina memproduksi rudal Patriot sendiri.

EtIndonesia.com  Camp David telah lama dianggap sebagai salah satu fasilitas presiden paling misterius di Amerika Serikat, dan hampir tidak pernah dibuka untuk media di masa lalu. Ini juga pertama kalinya dalam sejarah kamera diizinkan memasuki Camp David untuk merekam pertemuan kabinet.

Presiden AS Trump: “Ini adalah yang pertama kalinya dalam sejarah. Ini benar-benar pertama kalinya. Sampai jumpa sebentar lagi.”

Pada awal pertemuan, Presiden Trump berfokus pada Iran, menekankan bahwa Iran saat ini dalam situasi sulit dan kemampuan militernya telah sangat melemah.

“Jika Anda melihat beberapa berita palsu, saya akan memberitahu Anda bahwa situasi di Iran sangat, sangat buruk. Mereka berada dalam situasi yang sangat sulit sekarang. Sebagian besar rudal mereka telah dihancurkan, tetapi masih ada beberapa yang tersisa. Mereka masih memiliki beberapa rudal, tetapi jauh lebih sedikit daripada empat atau lima bulan yang lalu, dan kemampuan produksi mereka hampir hilang,” katanya.

Trump mengatakan Amerika Serikat masih berkomunikasi dengan Iran, dan mereka yang terlibat dalam negosiasi termasuk utusan khusus Steve Whitkov, menantunya Jared Kushner, Wakil Presiden JD Vance, dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

Namun, ia juga mengkritik Iran karena sering berulang dan melanggar janjinya.

Trump: “Kemudian mereka keluar dan berkata, ‘Kami tidak pernah membahas masalah nuklir. “Saya akan bertanya, ‘Mengapa mereka mengatakan itu? “Semua yang mereka lakukan hanya membuat saya marah.”

Ketika ditanya apakah Amerika Serikat masih dapat mencapai kesepakatan dengan Iran, Trump mengakui bahwa dia secara bertahap kehilangan kepercayaan.

Trump: “Saya kehilangan kepercayaan pada mereka karena mereka memang berbohong dan memutarbalikkan fakta.”

Trump juga membahas situasi di Gaza. Dia mengatakan bahwa Amerika Serikat telah mencapai kesepakatan dengan Israel untuk mendorong Hamas dan kelompok militan Palestina lainnya untuk sepenuhnya melucuti senjata.

Trump: “Ini juga menunjukkan seberapa besar keberhasilan yang telah kita capai dalam masalah Iran. Karena jika kembali ke empat atau lima bulan yang lalu, kesepakatan seperti itu tidak mungkin tercapai. Jadi, ini adalah langkah besar ke depan bagi Timur Tengah. Orang-orang sangat terkesan dan terkejut.”

Mengenai perang Rusia-Ukraina, Trump mengatakan Amerika Serikat belum setuju untuk membiarkan Ukraina memproduksi rudal Patriot sendiri. Dia menekankan bahwa teknologi militer canggih semacam ini tidak dapat dengan mudah diserahkan kepada negara lain.

Trump juga mendesak Rusia dan Ukraina untuk membuat kompromi agar perang yang telah berlangsung selama bertahun-tahun ini dapat berakhir.

Wartawan New Tang Dynasty Television, Liu Jiajia, melaporkan dari Amerika Serikat

Senator AS Mengecam Pemimpin Partai  Xi Jinping : Pengambilan Organ Hidup-hidup dan Penganiayaan Kejam Terhadap Pengikut Falun Gong

EtIndonesia.com  Pada Kamis (30 Juli), Senator Federal Amerika Serikat Rick Scott, dalam sebuah diskusi di lembaga think tank Washington, “Hudson Institute”, dengan tegas mengutuk Partai Komunis Tiongkok dan pemimpin Partai Xi karena melanggar hak asasi manusia, mengancam kebebasan, dengan kejam menganiaya praktisi Falun Gong, dan juga melakukan kejahatan mengerikan seperti mengambil organ warga negara Tiongkok secara hidup-hidup!”

“Lihatlah PKT, Xi Jinping adalah orang yang kejam. Dia membunuh warga Tiongkok, mengambil organ dari warga Tiongkok, dengan kejam menganiaya orang-orang Uighur dan praktisi Falun Gong, dan melakukan semua kejahatan ini. Dan, dia ingin menguasai dunia,” katanya. 

“Pemerintah Partai Komunis Tiongkok sangat kejam. Mereka akan terus memberikan perintah (kepada orang-orang Tionghoa di luar negeri). Jika Anda adalah warga negara Tiongkok, Anda harus mematuhi Partai Komunis Tiongkok, menyerang praktisi Falun Gong di Amerika Serikat, dan menyerang siapa pun yang menentang Partai Komunis. Sistem Partai Komunis Tiongkok dibangun untuk menghancurkan dunia bebas,” jelasnya. 

Mantan Gubernur Negara Bagian Florida itu juga menunjukkan bahwa PKT sedang mengerahkan seluruh upayanya untuk memperluas kekuatan militernya, dengan tujuan mengalahkan Amerika Serikat.

 “Lihat apa yang sedang dibangun PKT. Partai Komunis jelas sedang membangun pasukan untuk mengalahkan Amerika Serikat. Jadi, ini adalah masa yang sulit. Semua orang Amerika dihadapkan pada pilihan: Apakah ini penting bagi kita?” ujarnya. 

Menghadapi ancaman PKT,  Scott menyerukan kepada semua lapisan masyarakat untuk menghadapi PKT dengan sadar dan memutuskan semua hubungan ekonomi dengan PKT.

“Kita harus mulai berjuang lebih keras. Orang Amerika harus berusaha lebih keras untuk melawan PKT.”“Kita harus menghentikan semua transaksi dengan perusahaan Partai Komunis Tiongkok. Anda tahu, kita seharusnya tidak membiarkan saham Tiongkok terdaftar di Bursa Efek Amerika Serikat, dan kita seharusnya tidak membeli produk buatan Tiongkok. Kita tidak boleh berinvestasi di Tiongkok,” ujarnya. 

“Kita harus memahami bahwa Partai Komunis Tiongkok akan menggunakan setiap kelemahan Amerika Serikat untuk melawan kita. Kita seharusnya tidak mengizinkan mahasiswa Tiongkok datang ke Amerika Serikat. Kita harus menghentikan semua ini,” tambahnya. 

Falun Gong, yang juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah latihan spiritual yang berlandaskan pada prinsip Sejati, Baik, dan Sabar. Diperkenalkan oleh Li Hongzhi pada tahun 1992, latihan ini berkembang pesat karena dilaporkan memberikan manfaat bagi kesehatan, dan pada akhir 1990-an telah menarik sedikitnya 70 juta praktisi.

Karena khawatir terhadap popularitas Falun Gong, Partai Komunis Tiongkok (PKT) melancarkan kampanye penganiayaan besar-besaran secara nasional pada Juli 1999 dengan tujuan “membasmi” latihan tersebut. Sejak saat itu, banyak praktisi mengalami penahanan sewenang-wenang, kerja paksa, penyiksaan, bahkan meninggal dunia akibat praktik pengambilan organ secara paksa.

Pada tahun 2020, Tribunal Tiongkok, sebuah tribunal rakyat independen yang berbasis di London, menyimpulkan bahwa rezim Tiongkok selama bertahun-tahun telah melakukan pengambilan organ secara paksa dari para tahanan hati nurani, dengan mengidentifikasi para praktisi Falun Gong sebagai korban utama.

Laporan komprehensif oleh Zhang Qin, reporter New Tang Dynasty Television