Kesabaran adalah Kartu Terakhir

EtIndonesia. Kalau kamu pernah membaca novel silat, pasti sering menemukan pola cerita seperti ini: sang tokoh utama setelah mulai terkenal, suatu hari bertemu lawan yang jauh lebih kuat. Dia pun kalah telak, hampir kehilangan nyawa, lalu terjatuh ke jurang atau diselamatkan oleh seorang pendekar tua. Setelah itu, dia berlatih keras, menguasai ilmu luar biasa, dan akhirnya kembali untuk menantang musuh lamanya.

Dari kisah itu, kita bisa belajar bahwa saat berhadapan dengan lawan yang jauh lebih kuat, pilihan satu-satunya agar tetap hidup adalah bersabar. Bersabar untuk menunggu waktu yang tepat, bersabar untuk menemukan guru yang benar, bersabar untuk mengumpulkan kekuatan. Tanpa kesabaran, seseorang tidak akan bisa bertahan, apalagi bangkit.

Kisah “Tiga Putaran Mengelilingi Rumah”

Ada seorang pria yang dikenal sangat rajin bekerja. Namun, dia memiliki satu kebiasaan unik: setiap kali marah atau berselisih dengan orang lain, dia langsung pulang dan berlari mengelilingi rumahnya tiga kali, lalu duduk di luar rumah sambil mengatur napas.

Lama kelamaan, rumahnya semakin besar, tanahnya semakin luas. Tapi kebiasaannya tetap sama—setiap kali marah, dia akan berlari mengelilingi rumahnya tiga kali.

Orang-orang penasaran dengan kebiasaan ini, tetapi dia tidak pernah mau menjelaskannya. 

Hingga suatu hari, setelah dia berkeluarga, anaknya bertanya: “Ayah, kenapa setiap kali marah ayah selalu lari mengelilingi rumah tiga kali?”

Barulah dia mengungkapkan rahasia bertahun-tahun yang dia simpan: “Dulu, setiap kali aku bertengkar, aku memilih berlari mengelilingi rumah. Sambil berlari aku berpikir: rumahku kecil sekali, mana ada waktu dan tenaga untuk menghabiskannya dalam pertengkaran. Aku harus menahan diri, bekerja lebih keras, mengumpulkan kekuatan, agar suatu hari bisa benar-benar bangkit.”

Saat Belum Mampu, Belajarlah Bersabar

Ketika kekuatan kita belum mencukupi, kita harus belajar bersabar. Proses itu memang pahit, penuh penantian, bahkan terasa menyesakkan. Tapi hidup tidak selalu sesuai harapan.

Justru karena itu, kesabaran adalah kartu terakhir—yang membuat kita tetap tenang, tidak gegabah, dan mampu menunggu saat yang tepat. Pada waktunya, buah kesabaran itulah yang akan kita petik. (jhn/yn)

Kecerdasan Sejati Tahu Kapan Harus Merendah

EtIndonesia. Dalam kehidupan yang keras ini, kebanyakan orang cenderung rakus, ingin menguasai semua keuntungan tanpa tersisa. Sekilas tampak cerdik, padahal sebenarnya itu bentuk kebodohan.

1. Mampu Memberi Ruang dan Berbagi Keuntungan

Orang yang hanya ingin menikmati seluruh hasil kemenangan sendirian, pada akhirnya justru menuai kerugian, bahkan bisa berujung pada kehancuran nama dan reputasi.

Seperti yang pernah diingatkan oleh biksu Zen dari Dinasti Song, Fa Yan, dalam “Empat Larangan”:

“Kekuatan tidak boleh dipakai habis-habisan, jika dipaksakan bencana akan datang.
Keberuntungan tidak boleh dinikmati sepenuhnya, jika dilahap sendiri hubungan akan terputus.
Kata-kata tidak boleh diucapkan sampai tuntas, jika kelewatan orang akan menjauh.
Aturan tidak boleh ditegakkan kaku tanpa keluwesan, jika terlalu keras orang akan sulit hidup.”

Intinya, segala sesuatu tidak boleh berlebihan. Dalam bisnis misalnya, jika semua keuntungan disedot untuk diri sendiri tanpa memberi ruang pada orang lain, maka orang-orang akan belajar dari pengalaman itu dan tidak akan mau bekerja sama lagi.

Sebaliknya, mereka yang tahu berbagi sebagian keuntungan, justru lebih cerdas dalam jangka panjang. Orang akan merasa dihargai, sehingga dukungan dan kepercayaan pun lebih mudah diraih.

2. Mampu Merendah dan Menunjukkan Kelemahan

Dalam hidup, orang yang terlalu keras dan terlalu kaku justru sering kali mudah “patah”. Sementara itu, mereka yang tahu kapan harus mengalah dan bersikap lembut, justru bisa bertahan lebih lama.

Contohnya, spesies kepiting biru di tepi pantai. Ada dua jenis: yang agresif dan selalu siap bertarung, serta yang cenderung pasif, memilih berpura-pura mati dengan telentang ketika diserang.

Hasilnya? Kepiting agresif kini semakin jarang, hampir punah. Sedangkan kepiting yang tahu “berpura-pura lemah” justru menyebar luas di seluruh dunia. Mengapa? Karena yang agresif saling bunuh, lalu mudah dimangsa musuh. Sedangkan yang “tahu kapan menghindar” justru lebih terlindungi, sehingga berkembang biak dengan pesat.

Hikmahnya jelas: orang yang hanya tahu maju terus tanpa tahu kapan harus menahan diri, akhirnya akan tersungkur. Sedangkan mereka yang bisa merendah dan tahu kapan mesti mundur selangkah, justru mampu bertahan dan melangkah lebih jauh.

3. Tidak Larut dalam Pesimisme

Victor Hugo pernah berkata: “Ketika nasib memberimu lemon yang asam, ubahlah menjadi jus yang manis.”

Kutipan ini menegaskan pentingnya menjaga sikap mental. Orang dengan mental buruk akan mengubah hal baik menjadi buruk, sementara orang dengan mental sehat justru mampu melihat sisi positif dari kesulitan.

Peribahasa “kerang sakit melahirkan mutiara” juga punya makna sama. Kerang yang terluka oleh butiran pasir, justru menghasilkan lapisan berharga yang berubah menjadi mutiara. Begitu pula manusia: penderitaan bisa melahirkan kekuatan dan pencapaian baru—asal kita mampu melihatnya dengan sikap optimis.

Kisah Abraham Lincoln adalah bukti nyata.

·        Usia 21: gagal berbisnis.

·        Usia 22: kalah dalam pemilihan legislatif negara bagian.

·        Usia 24: kembali gagal berbisnis.

·        Usia 26: tunangannya meninggal.

·        Usia 27: sempat depresi berat.

·        Usia 34: kalah dalam pemilihan kongres.

·        Usia 36: kalah lagi dalam pemilihan kongres.

·        Usia 45: kalah dalam pemilihan senat.

·        Usia 47: gagal sebagai calon wakil presiden.

·        Usia 49: kembali kalah dalam pemilihan senat.

·        Usia 52: akhirnya terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat ke-16.

Lincoln membuktikan bahwa bukan orang paling pintar atau paling kuat yang berhasil, melainkan mereka yang tidak menyerah, tetap optimis, dan tahu kapan harus menahan diri.

Inti Pesan

Kecerdasan sejati tidak selalu ditunjukkan dengan tampil paling kuat atau paling cerdik di depan orang lain.

·        Tahu kapan berbagi membuat kita disukai banyak orang.

·        Tahu kapan merendah membuat kita bertahan.

·        Tahu menjaga optimisme membuat kita terus melangkah.

Inilah tanda orang yang benar-benar cerdas: tidak keras kepala, tidak serakah, dan tidak larut dalam pesimisme. (jhn/yn)

Java Coffee & Flavours Fest 2025: Kopi, Cokelat, dan Rempah Jawa Timur Menuju Panggung Dunia

Surabaya – Kota Surabaya kembali menjadi pusat perhatian dunia kopi dan komoditas Nusantara melalui gelaran Java Coffee & Flavours Festival (JCFF) 2025. Acara yang berlangsung di kawasan Kota Tua Surabaya ini resmi dibuka dengan penuh semarak, menghadirkan perpaduan budaya, ekonomi, dan inovasi dari hulu ke hilir industri kopi, cokelat, serta rempah-rempah.

Festival tahun ini semakin istimewa karena dikemas dalam nuansa heritage, dengan menampilkan museum mini perjalanan rempah dan kopi Jawa Timur sejak abad ke-16. Tidak hanya menyuguhkan sejarah, JCFF 2025 juga menegaskan peran Jawa Timur sebagai “Gerbang Baru Nusantara” dalam perdagangan komoditas unggulan.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan, potensi kopi dan rempah dari Jawa Timur sangat besar. Data mencatat, 48 persen produksi kopi Pulau Jawa berasal dari Jawa Timur, dan hingga 86 persen ekspor kopi Jawa keluar melalui pelabuhan di provinsi ini. “Jawa Timur bukan hanya kaya sejarah, tetapi juga menjadi simpul penting perdagangan dan industri kreatif berbasis kopi, cokelat, dan rempah,” ujar Khofifah.

Ia menambahkan, anak muda menjadi kunci dalam menjaga warisan itu. “Generasi sekarang senang dengan sesuatu yang heritage. Kota Tua Surabaya bisa menjadi magnet wisata, sekaligus pintu bagi dunia untuk mengenal kopi dan rempah Nusantara,” katanya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Ibrahim, menekankan pentingnya hilirisasi. “Jangan hanya ekspor biji mentah, kita dorong pengolahan menjadi produk turunan bernilai tambah. Inovasi, rasa, dan kreativitas adalah kunci agar produk lokal bisa bersaing di pasar global,” ungkapnya.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, dalam sambutannya menekankan bahwa permintaan pasar internasional terus tumbuh pesat. “Kopi Indonesia kualitasnya tidak diragukan, tapi tantangannya adalah kuantitas. Banyak buyer luar negeri ingin membeli dalam jumlah besar, namun sering kali kita hanya bisa memenuhi sebagian kecil. Ini yang harus kita benahi bersama,” jelas Destry.

Ia juga menyinggung peluang besar dari komoditas kakao. “Sekarang bukan hanya kopi yang naik daun. Permintaan cokelat luar biasa tinggi, dari Eropa hingga Amerika. Kalau kita bisa mengelola dengan baik, cokelat Indonesia bisa jadi primadona dunia, seperti halnya kopi,” tegasnya.

Acara pembukaan turut diwarnai seremoni unik berupa “perostingan kopi” simbolis bersama sejumlah pejabat penting, termasuk anggota Komisi XI DPR RI Charles Meiansyah. Hadirin juga disuguhi ragam kopi khas Nusantara, mulai dari Kopi Wonosalam, Kopi Wanoja, hingga Kopi Bon Tugu, yang masing-masing menghadirkan karakter rasa berbeda.

Tidak hanya soal kopi dan rempah, JCFF 2025 juga menampilkan potensi industri kreatif melalui fashion show UMKM binaan Bank Indonesia. Koleksi desainer muda seperti Ura by Aura Avilia sukses mencuri perhatian dengan memadukan kain khas Nusantara dan desain modern yang kini merambah pasar internasional.

Bank Indonesia mencatat, nilai transaksi perdagangan dan pembiayaan dalam rangkaian festival ini mencapai Rp100 miliar, melonjak tajam dari Rp38 miliar pada tahun sebelumnya. Angka ini disebut sebagai bukti semakin kuatnya daya saing komoditas lokal di pasar domestik maupun global.

Dengan mengusung tema “Grow Future Through Local Flavour”, JCFF 2025 bukan sekadar pesta rakyat, melainkan juga ruang kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, petani, hingga generasi muda untuk mengangkat komoditas unggulan Jawa Timur menuju panggung dunia.

“Semangat Surabaya yang pantang menyerah harus kita bawa dalam mengembangkan kopi, cokelat, dan rempah Nusantara. Dari Jawa Timur, kita tunjukkan bahwa produk lokal bisa menjadi ikon global,” tutup Destry.

Pelabuhan, Bandara, hingga Nuklir Rusia Diserang: Apakah Ini Titik Balik Perang?

EtIndonesia. – Perang Rusia–Ukraina kini telah berlangsung selama 1.278 hari, memasuki tahun keempat sejak invasi penuh dimulai pada Februari 2022. Meski berbagai upaya internasional—termasuk mediasi langsung Presiden Amerika Serikat Donald Trump—telah dilakukan, jalan menuju gencatan senjata maupun perjanjian damai masih jauh dari kata pasti.

Ultimatum Trump: Dua Minggu untuk Rusia

Pada 22 Agustus, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Moskow. Ia memberi waktu dua minggu kepada Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menunjukkan kemajuan nyata dalam pembicaraan damai dengan Ukraina. Jika tidak, Washington akan segera menjatuhkan sanksi ekonomi baru yang lebih berat.

“Sekitar dua minggu lagi kita akan tahu apakah gencatan senjata mungkin terwujud. Jika tidak, saya tidak akan ragu mengambil langkah besar,” tegas Trump dari Oval Office, sambil menyatakan dirinya “sangat tidak puas” dengan situasi saat ini.

Trump sebelumnya bertemu Putin di Alaska pada 15 Agustus, namun gagal mempertemukan Putin dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Menurut Trump, permusuhan antara kedua negara sudah “terlalu dalam.”

Presiden Finlandia Alexander Stubb bahkan mengungkapkan bahwa kesabaran Trump “hampir habis.” Uni Eropa pun dilaporkan mulai menyiapkan skenario sanksi tambahan, mengantisipasi jika Rusia tetap menolak duduk bersama Zelensky.

Serangan Balik Ukraina di Donetsk

Sementara diplomasi jalan di tempat, di medan perang Ukraina terus menunjukkan agresivitas. Dalam lima hari terakhir, pasukan Kyiv berhasil merebut kembali tiga wilayah penting yang sebelumnya dikuasai Rusia, termasuk pemukiman strategis Zeleni Hai di barat Donetsk.

Bendera biru-kuning Ukraina kembali berkibar pada 22 Agustus, setelah pasukan marinir berhasil menyingkirkan sisa perlawanan Rusia. Keberhasilan ini memperkuat posisi Ukraina di sekitar Tolstoye dan memperluas jangkauan hingga ke Red Army Village serta Dobropillia. Intelijen Barat memperkirakan unit Rusia di sektor Donetsk berisiko terkepung total.

Di udara, jet tempur MiG-29 Ukraina menggunakan bom pintar GBU-62 buatan AS untuk menghantam titik konsentrasi pasukan Rusia. Gudang amunisi dan pusat komando unit drone elit Rubicon di Donetsk juga dilaporkan hancur akibat serangan rudal Ukraina.

Serangan Ukraina ke Krimea dan Wilayah Rusia

Pada 21 Agustus, Ukraina melancarkan serangan besar ke pangkalan udara Khersones di Sevastopol, Krimea, menghancurkan lima drone Rusia (tiga Mohajer-6 dan dua Forpost) serta memicu kebakaran besar.

Selain itu, Ukraina menargetkan jalur logistik vital Rusia. Kereta pengangkut bahan bakar di stasiun Tank-1 berhasil dihancurkan, memutus suplai di jalur selatan. Di wilayah Rusia sendiri, serangan drone Ukraina menimbulkan ledakan di stasiun kereta Petrovval, Volgograd, menambah daftar panjang infrastruktur Rusia yang lumpuh.

Rusia Tertekan: Pelabuhan, Bandara, dan Energi Jadi Sasaran

Dalam sepekan terakhir, serangan Ukraina menghantam jantung infrastruktur Rusia:

  • Pelabuhan Ust-Luga, Laut Baltik – puluhan drone menghantam fasilitas energi; gudang gas dan tangki penyimpanan terbakar hebat (23 Agustus).
  • Bandara Pulkovo, St. Petersburg – ditutup total; lebih dari 100 penerbangan dibatalkan atau dialihkan, bahkan sistem internet kota sempat terganggu.
  • Kursk Nuclear Power Plant – trafo listrik terbakar akibat puing drone, kapasitas reaktor turun 50%.
  • Rostov Oil Refinery – terbakar tiga hari berturut-turut; produksi minyak Rusia anjlok 10–15%, harga bensin domestik melonjak (AI-92 naik 1,3%, AI-95 naik 2,2%).

Korea Utara Resmi Ikut Perang

Kejutan besar datang dari Pyongyang. Pada 22 Agustus, televisi nasional Korea Utara menayangkan video Kim Jong-un menyambut jenazah tentara Korut yang tewas di Ukraina.

Rekaman lain menunjukkan pasukan Korut bertempur di wilayah Kursk, Rusia. Sebagian besar berusia sangat muda, 18–22 tahun. Para analis menilai ini sebagai bukti bahwa hubungan Moskow–Pyongyang telah naik ke level “aliansi darah.”

Teknologi Baru Ukraina di Medan Tempur

Ukraina kini juga menunjukkan keunggulan dalam inovasi persenjataan:

  • Drone FP-1 – produksi massal 3.000 unit/bulan, murah (USD 55.000) namun mampu membawa 120 kg hulu ledak sejauh 1.600 km.
  • Su-27 Ukraina – dilengkapi rudal decoy AS ADM-160B MALD untuk mengecoh radar Rusia.
  • Rudal FP-5 “Firebird” – buatan dalam negeri, mulai diuji di medan tempur.
  • JDAM-ER 1.000 pon – bom pintar presisi tinggi dijatuhkan di Donetsk.

Ancaman Nuklir Korea Utara

Laporan terbaru CSIS menyebutkan adanya pangkalan rudal rahasia Korut di Sinpo-dong, hanya 27 km dari perbatasan Tiongkok. Diperkirakan terdapat hingga 9 ICBM dan fasilitas penyimpanan hulu ledak nuklir.

Kekhawatiran muncul bahwa kerja sama Rusia–Korut akan mempercepat modernisasi nuklir Pyongyang. Kim Jong-un bahkan kembali mengancam akan menggunakan nuklir jika Korea Selatan atau AS “berani memprovokasi.”

Krisis Ekonomi Rusia: Defisit Terdalam dalam Sejarah

Selain tekanan militer, ekonomi Rusia kini berada di ambang krisis:

  • Defisit anggaran 2025 diperkirakan 4,9 triliun rubel – tertinggi sepanjang sejarah.
  • 40% APBN habis untuk biaya perang.
  • Antrian panjang di SPBU; beberapa daerah mulai menerapkan sistem kupon bensin.
  • Rubel melemah tajam, rakyat menarik tabungan besar-besaran pada Juli (setara 16 triliun rubel).

Kesimpulan

  • Militer: Ukraina semakin agresif, menyerang hingga jantung energi dan logistik Rusia.
  • Politik: Trump memberi ultimatum dua minggu, Rusia terancam sanksi tambahan.
  • Internasional: Korea Utara kini secara terbuka terlibat perang, eskalasi global kian nyata.
  • Ekonomi: Rusia menghadapi defisit bersejarah dan krisis energi domestik.

Perang yang semula diprediksi singkat kini berubah menjadi konflik global berkepanjangan dengan konsekuensi militer, politik, ekonomi, dan nuklir yang semakin berbahaya. (***)

Bertahan pada Prinsip atau Terjebak dalam Prasangka?

EtIndonesia. Dalam hidup, kita sering mendengar orang berkata: “Aku hanya berpegang pada prinsip.”  

Tapi pertanyaannya: yang kamu pegang itu benar-benar prinsip, atau cuma prasangka pribadi?

·        Jika kamu bersikeras bahwa hanya pendapatmu yang benar, menolak nasihat, tidak mau berubah demi orang lain, dan hanya memikirkan diri sendiri—itu bukan prinsip. Itu hanyalah bentuk ego dan keakuan.

Apa itu prinsip sejati?

Prinsip adalah sesuatu yang bisa diterima orang banyak—bukan hanya sekarang, tapi juga di masa lalu dan masa depan.

·        Prinsip dalam hidup: melindungi diri, tapi tanpa menyakiti orang lain. Menghormati orang lain sambil tetap menjaga kepentingan diri sendiri. Prinsip semacam ini saling menguntungkan.

·        Prinsip dalam bekerja: harus mempertimbangkan kepentingan mayoritas. Jika yang dipegang hanya menguntungkan segelintir orang, atau demi kenyamanan sesaat, maka itu bukan prinsip, melainkan prasangka.

Bagaimana membedakan prinsip dan prasangka?

Cukup lihat bagaimana orang lain merasakan sikapmu.

·        Jika semua orang merasa sikapmu menyakitkan, mengganggu, atau salah, kemungkinan besar itu hanya prasangka pribadimu.

·        Tapi kalau sikapmu bisa diterima oleh banyak orang, bahkan bermanfaat bagi mereka, itulah prinsip.

“Dalam Hati Tegas, di Luar Lembut”

Prinsip sejati tidak kaku. Dia bisa berubah sesuai waktu dan keadaan, tapi satu hal yang tidak berubah: harus selalu berpihak pada kepentingan banyak orang.

Orang yang terjebak pada prasangka biasanya penuh dengan “duri” seperti landak. Ego yang terlalu kuat membuat mereka sulit berbaur, mudah melukai, dan sulit diajak bekerja sama.

Karena itu ada pepatah: “Dalam hati tegak lurus, di luar lembut dan bulat.”

·        Dalam hati tegak lurus berarti berpegang pada prinsip.

·        Di luar lembut dan bulat berarti tahu cara bersikap luwes, tidak melukai orang lain.

Kadang kita perlu sedikit berbelok, berganti sudut pandang, atau menggunakan empati agar tetap mudah diterima.

Dengan terus mengingat prinsip “dalam hati tegak lurus, di luar lembut dan bulat”, kita bisa meluruhkan ego. Bahkan lebih jauh lagi, bila kita bisa menanggalkan keakuan, tidak selalu berpusat pada diri sendiri, maka kita bisa lebih mudah melepaskan beban, lebih bisa menerima orang lain, dan terbebas dari prasangka serta penderitaan.(jhn/yn)

Istana Presiden hingga Pembangkit Listrik: Israel Guncang Ibu Kota Yaman yang Dikuasai Houthi

EtIndonesia — Situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke ibu kota Yaman, Sana’a. Serangan yang berlangsung pada Sabtu malam itu menyasar sejumlah titik strategis, termasuk Istana Presiden, sebuah pembangkit listrik utama, beberapa fasilitas militer, serta sebuah perusahaan minyak yang berperan penting bagi suplai energi domestik.

Korban Jiwa dan Kerusakan Infrastruktur

Menurut laporan awal dari otoritas kesehatan Yaman, sedikitnya dua orang tewas dan 35 lainnya mengalami luka-luka, sebagian besar akibat reruntuhan bangunan serta ledakan hebat yang mengguncang kawasan permukiman. Beberapa saksi mata mengatakan guncangan bom terasa hingga radius 10 kilometer dari pusat kota, memicu kepanikan warga yang berusaha melarikan diri ke daerah pinggiran.

Serangan juga menyebabkan padamnya listrik di sebagian besar wilayah barat Sana’a. Pembangkit listrik yang hancur diperkirakan membutuhkan waktu lama untuk kembali beroperasi, memperparah krisis energi yang sudah melanda negara itu sejak konflik berkepanjangan antara koalisi Arab, Israel, dan kelompok Houthi.

Alasan Israel Melancarkan Serangan

Militer Israel dalam pernyataan resminya menyebutkan bahwa operasi ini merupakan respons langsung terhadap serangan rudal balistik terbaru yang ditembakkan kelompok Houthi ke wilayah Israel. 

Rudal-rudal tersebut berhasil dicegat sistem pertahanan udara Iron Dome, tetapi Israel menuding serangan itu memanfaatkan teknologi canggih yang diduga dipasok oleh Iran.

“Israel tidak akan tinggal diam terhadap ancaman lintas batas yang berupaya merusak stabilitas kawasan. Semua target serangan malam ini dipilih dengan hati-hati untuk melemahkan kemampuan militer Houthi,” demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Israel.

Serangan Kedua dalam Sepekan

Ini merupakan serangan kedua Israel terhadap infrastruktur energi di Yaman dalam sepekan terakhir. Sebelumnya, pada 19 Agustus 2025, jet-jet tempur Israel juga menggempur depot bahan bakar dan fasilitas penyimpanan minyak di pelabuhan Hodeidah, yang dianggap sebagai jalur logistik penting bagi pasokan senjata ke kelompok Houthi.

Pengamat menilai intensitas serangan ini menunjukkan bahwa Israel kini semakin aktif memperluas operasi militernya hingga ke Yaman, dengan tujuan menekan aliansi Houthi–Iran sekaligus memberi sinyal tegas kepada Teheran.

Reaksi Internasional

Serangan terbaru ini menuai kecaman dari berbagai pihak. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) memperingatkan bahwa serangan ke fasilitas energi dan infrastruktur vital bisa memperparah krisis kemanusiaan di Yaman, negara yang kini sudah berada di ambang kelaparan dengan jutaan penduduk bergantung pada bantuan pangan internasional.

Sementara itu, pemerintah Iran langsung mengecam tindakan Israel dan menyebutnya sebagai “agresi terang-terangan yang melanggar hukum internasional.” Teheran menegaskan bahwa dukungan mereka terhadap Yaman hanya bersifat politik dan kemanusiaan, bukan dalam bentuk teknologi rudal.

Amerika Serikat, sekutu utama Israel, mengambil posisi berhati-hati. Gedung Putih menyatakan dukungan terhadap hak Israel membela diri, tetapi pada saat yang sama menyerukan agar eskalasi tidak semakin meluas ke kawasan Laut Merah yang merupakan jalur vital perdagangan global. (***)

Ukraina Mengamuk! Donbas Direbut, Krimea Diguncang Ledakan Dahsyat

EtIndonesia. Donbas kembali menjadi pusat pertempuran sengit. Pasukan Ukraina melancarkan operasi besar-besaran pada 20–22 Agustus 2025, berhasil merebut sejumlah kota, menghancurkan infrastruktur militer Rusia, hingga memukul mundur pasukan lawan di berbagai wilayah.

Serangan Balik di Donbas

Militer Ukraina melaporkan keberhasilan merebut enam titik pemukiman di Pokrovsk, Donetsk. Rekaman video pasukan khusus Omega memperlihatkan jalur sepanjang 435 meter yang dijuluki “karpet merah Pokrovsk”—tempat artileri dan drone Ukraina menghantam habis-habisan pasukan bermotor Rusia.

Panglima Tertinggi Ukraina, Oleksandr Syrskyi, turun langsung ke garis depan pada 21 Agustus 2025. Ia memuji keberanian pasukannya sekaligus menegaskan bahwa Ukraina bersiap memperluas serangan ke arah selatan dan tenggara Pokrovsk.

Serangan Taktis Ukraina

  • 21 Agustus 2025: Brigade Mekanis Berat ke-5 merebut kembali Tolstoy, Donetsk, yang telah dikuasai Rusia sejak Juli.
  • Garda Nasional Ukraina, termasuk Korps Azov, menghancurkan sistem peluncur roket BM-21 Grad milik Rusia.
  • Resimen Drone 412 “Nemesis” menonaktifkan lebih dari 300 ranjau anti-tank, membuka jalur bagi pasukan darat.
  • 22 Agustus 2025: Pasukan Ukraina mengibarkan bendera di Tolstoy dan merebut kembali Andriivka, Klyevsov, serta Zelenyi Hai di perbatasan Donetsk–Luhansk.

Pertempuran di Hutan Serebryansky

Pada 21 Agustus 2025 Di sektor Lyman, Brigade ke-63 Ukraina menggagalkan penyusupan pasukan Rusia. Didukung tank dan artileri, mereka menghancurkan kendaraan lapis baja lawan dan menawan tujuh tentara Rusia.

Serangan Besar ke Krimea

  • 21 Agustus 2025: Pasukan khusus Ukraina meledakkan kereta bahan bakar Rusia di dekat Stasiun Dzhankoi, menghancurkan 20 gerbong tangki minyak.
  • 22 Agustus 2025: Ukraina meluncurkan rudal HIMARS ke Krimea, menewaskan empat komandan Rusia dan melukai 11 lainnya.
  • Sehari sebelumnya, Ukraina juga menyerang Sevastopol, markas Armada Laut Hitam Rusia, semakin memperburuk krisis logistik Moskow.

Rusia Mundur di Sumy

Pasukan Rusia panik mundur dari Sumy, meninggalkan artileri 2S19 dan kendaraan tempur BMP. Syrskyi mengonfirmasi pada 21 Agustus 2025 bahwa wilayah Sumy sepenuhnya telah kembali dikuasai Ukraina.

Pertempuran di Selatan: Zaporizhzhia & Kherson

  • Zaporizhzhia (21 Agustus 2025): Ukraina menghancurkan sistem pertahanan udara S-300V senilai 40 juta dolar.
  • Kherson (22 Agustus 2025): Pasukan Rusia dari Resimen ke-24 dilaporkan membakar peralatan mereka sendiri akibat moral yang runtuh. Serangan udara Rusia selama sepekan ke jembatan strategis Kherson gagal menghancurkan sasaran.

Perang Drone dan Laut

Pada 22 Agustus 2025 Lebih dari 100 drone diluncurkan kedua pihak. Ukraina menembak jatuh 46 dari 55 drone Rusia, sementara drone Ukraina menyerang delapan wilayah Rusia—termasuk Moskow, Volgograd, Rostov, dan kilang minyak di Saratov.

Serangan juga mencapai Novorossiysk, menghantam pangkalan angkatan laut Rusia dan menewaskan lima komandan elit.

Dukungan NATO Semakin Kuat

Sekjen NATO Mark Rutte bertemu Presiden Volodymyr Zelensky di Kyiv pada 22 Agustus 2025. NATO mengumumkan bantuan senilai 1,5 miliar dolar untuk pembelian senjata dari AS, termasuk sistem pertahanan udara.

Belanda juga akan mengirim dua sistem Patriot ke Polandia dengan 300 tentara guna mengamankan jalur logistik ke Ukraina.

Rudal Jarak Jauh Ukraina

Dalam pidatonya pada 20 Agustus 2025, Zelensky mengumumkan keberhasilan uji coba rudal buatan dalam negeri dengan jangkauan 3.000 km. Produksi massal direncanakan akhir 2025 atau awal 2026.

Rusia Terpuruk Ekonomi dan Energi (Juli–Agustus 2025)

  • Juli 2025: Warga Rusia menarik 16 triliun rubel dari bank hanya dalam sebulan.
  • Agustus 2025: 10–15% kapasitas minyak Rusia lumpuh akibat serangan Ukraina. Harga bensin naik 55% sejak awal tahun.
  • Proyeksi defisit fiskal 2025 mencapai 4,9 triliun rubel, terbesar sepanjang sejarah Rusia.

Diplomasi Buntu: Trump Mundur

Setelah KTT Alaska, Presiden AS Donald Trump secara mengejutkan mundur dari rencana pertemuan tiga pihak (AS–Rusia–Ukraina).

Menurut The Guardian (21 Agustus 2025), Trump menegaskan Zelensky dan Putin harus lebih dulu menggelar perundingan bilateral. Namun, syarat Rusia dianggap mustahil: Ukraina tidak boleh bergabung NATO, pasukan Barat dilarang masuk, dan seluruh Donbas harus diserahkan. Zelensky menolak tegas.

Kesimpulan

Eskalasi perang pada 20–22 Agustus 2025 memperlihatkan dominasi Ukraina di medan tempur dan kelemahan Rusia, baik militer maupun ekonomi. Namun, jalan diplomasi tetap menemui kebuntuan.

Zelensky menutup pidatonya dengan pernyataan tegas: “Putin hanya mengerti bahasa kekuatan. Ukraina tidak akan menyerahkan tanah demi perdamaian semu.”  (***)

Trump Berulang Kali Memuji Kim Jong Un Saat Bertemu Presiden Korea Selatan

EtIndonesia. Dalam pertemuan pertamanya dengan Presiden Korea Selatan yang baru, Lee Jae Myung, di Ruang Oval, Donald Trump menyinggung seseorang yang dia klaim dia kenal “lebih baik daripada siapa pun,” sebelum menambahkan “hampir, selain saudara perempuannya.” Presiden AS tersebut berbicara tentang pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, pria yang Trump temui tiga kali selama masa jabatan pertamanya di Gedung Putih, lapor The Guardian.

Myung awalnya memperhatikan, tersenyum, lalu melanjutkan dengan sabar mendengarkan Trump, yang berkata: “Saya ingin bertemu. Saya berharap dapat bertemu dengan Kim Jong Un di waktu yang tepat.”

Pria berusia 79 tahun itu menambahkan bahwa suatu hari nanti dia akan bertemu dengannya, seraya menambahkan: “Beliau sangat baik kepada saya.”

Trump mengatakan kepada para wartawan, berharap perundingan akan berlangsung tahun ini. Trump mengatakan dia memiliki hubungan yang “sangat baik” dengan pemimpin Korea Utara dan berharap hubungan itu “tetap seperti itu”.

Ketika ditanya apakah dia akan kembali ke DMZ – zona demiliterisasi antara Korea Utara dan Selatan – Trump kembali menyela: “Saya ingin sekali … Saya menghabiskan banyak waktu dengannya, membicarakan hal-hal yang mungkin tidak seharusnya kita bicarakan.”

“Saya sangat akrab dengannya; dia memiliki negara yang sangat potensial, potensi yang luar biasa,” katanya, berharap dapat bertemu dengannya tahun ini.

Pujian Trump untuk Kim datang meskipun pemimpin Korea Utara itu menolak untuk terlibat dalam perundingan apa pun mengenai program nuklir negaranya. Bahkan, dia telah berjanji untuk mempercepat pengembangan persenjataan nuklir sambil mengecam latihan militer gabungan AS-Korea Selatan baru-baru ini.

Presiden Korea Selatan mengatakan bahwa mitranya dari AS adalah “satu-satunya orang” yang dapat mengakhiri kebuntuan yang telah berlangsung hampir tujuh dekade antara Korea Selatan dan Korea Utara.

“Saya menantikan pertemuan Anda dengan Ketua Kim Jong Un dan pembangunan Trump Tower di Korea Utara serta bermain golf,” kata Myung.

Pernyataan harapannya muncul meskipun Trump sejauh ini gagal mengamankan dan memulihkan perdamaian di Ukraina dan Gaza.

Pertemuan Trump dengan Lee terjadi setelah kritik keras Presiden AS terhadap kepemimpinan baru Korea Selatan atas cara pemerintah menangani investigasi terhadap mantan presiden negara itu, Yoon Suk Yeol, yang dimakzulkan dan dicopot dari jabatannya.

“Apa yang terjadi di Korea Selatan? Sepertinya pembersihan atau revolusi. Kita tidak bisa membiarkan hal itu terjadi dan berbisnis di sana,” tulis presiden AS di platform Truth Social miliknya.

Namun setelah sekitar setengah jam pertemuan dengan Lee, Trump tampak melunak dan berkata: “Saya yakin ini salah paham” karena “ada rumor yang beredar.” (yn)

Bagaimana Cara Bergaul dengan Orang yang Tidak Kita Sukai?

EtIndonesia. Ketika kita dipertemukan dengan orang yang “sejalan” dengan kita, suasana pergaulan terasa hangat dan menyenangkan. Namun, ketika berhadapan dengan orang yang tidak cocok, bahkan sekadar melihat wajahnya saja bisa membuat hati terasa jengkel. Setiap gerak-geriknya terasa mengganggu—bahkan gaya rambut atau cara berperilakunya pun bisa jadi bahan untuk kita tidak menyukainya.

Sumber Rasa Suka dan Tidak Suka

Sebenarnya, persoalannya tidak selalu ada pada orang lain. Suka atau tidak suka pada dasarnya adalah perasaan subjektif. Ada yang terbentuk dari pola pikir sejak kecil, ada juga yang lahir dari pengalaman buruk di masa lalu.

Contoh:

·        Melihat wajah berbentuk segitiga bisa langsung teringat pada kepala ular berbisa, lalu merasa takut.

·        Wajah panjang dikaitkan dengan wajah kuda yang dianggap jelek.

·        Wajah bulat dianggap seperti “roti gosong” sehingga tampak tidak menarik.

Bahkan, pernah suatu ketika seseorang dengan tipe tertentu membuat kita merasa tidak nyaman, lalu terbawa sampai seterusnya: setiap kali bertemu orang dengan tipe serupa, rasa antipati pun muncul lagi.

Dari sini terlihat jelas, bahwa rasa suka maupun tidak suka bisa lahir dari ingatan yang menempel di hati, atau bahkan keyakinan yang terbawa dari kehidupan lampau. Itulah mengapa, ketika melihat orang tertentu, mencium aroma tertentu, atau mendengar suara tertentu, kita bisa secara alami merasa senang atau sebal tanpa alasan yang jelas.

Mengubah Sudut Pandang terhadap Orang yang Tidak Kita Sukai

Jika ada seseorang yang membuat kita sangat tidak suka, bisa jadi penyebabnya adalah karena kita pernah tidak membangun hubungan baik dengannya di kehidupan lalu, atau memang membentuk ikatan buruk (musuh, dendam, atau konflik).

Namun, tidak suka bukan berarti orang itu pasti membawa dampak buruk bagi kita. Sering kali itu hanyalah hasil dari pikiran subjektif kita sendiri yang menolak, sehingga hubungan terasa tegang. Jika kebetulan orang itu juga merespons dengan sikap yang sama, jadilah hubungan yang saling bermusuhan. Ujung-ujungnya, kita sendiri yang kehilangan simpati orang lain.

Sebaliknya, kita bisa mengubah cara berpikir:

“Orang yang aku tidak suka mungkin sebenarnya adalah ujian untukku. Dia datang untuk menempaku, memberi kesempatan bagiku belajar sabar dan bertumbuh.”

Kalau bisa punya pandangan seperti ini, bahkan orang yang paling tidak kita sukai pun bisa dianggap sebagai “guru kehidupan” atau bahkan “Bodhisattva” yang hadir untuk menguji dan menempa kita.

Terus Menanam Benih Kebaikan

Maka, jika ada orang yang memperlakukanmu dengan buruk—tetaplah perlakukan dia dengan baik.
– Kalau ada yang menyakitimu—tetaplah peduli padanya.
– Kalau ada yang menindasmu—belajarlah untuk memaafkan.

Inilah yang disebut “menjalin banyak ikatan baik”. Jika terus dilakukan dengan konsisten, pada akhirnya sikap baik kita akan melunakkan hati mereka.

Mungkin dalam kehidupan ini, kita sudah banyak berbuat baik, tapi tidak kunjung mendapat balasan yang positif. Jangan putus asa. Karena setiap kebaikan yang kita tanam tetap menjadi benih—bisa jadi tidak berbuah di kehidupan sekarang, melainkan di kehidupan mendatang.

Menanam “Ikatan untuk Kehidupan Mendatang”

Bahkan tumbuhan dan hewan pun bisa merasakan kasih sayang, apalagi manusia. Selama kita menyimpan niat baik dan terus menebar kebaikan, suatu saat hati orang itu pasti akan berubah.

Mungkin bukan sekarang, mungkin baru di kehidupan berikutnya. Tapi dengan keyakinan bahwa kita sedang menanam “ikatan untuk kehidupan mendatang”, maka bergaul dengan orang yang tidak kita sukai tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan bagian dari perjalanan jiwa yang bernilai. (jhn/yn)

Trump Mengungkapkan Bahwa Dia Baru Saja Berbicara dengan Putin, Mengatakan Presiden Rusia Itu Didak Ingin Bertemu Zelenskyy Karena…

EtIndonesia. Presiden AS, Donald Trump pada hari Senin (25/8) mengatakan bahwa dia kembali berbicara dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, beberapa hari setelah pertemuannya di Washington dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy dan beberapa pemimpin Eropa.
Trump terakhir kali diketahui menelepon Putin pada 18 Agustus, saat dia berbincang di Gedung Putih dengan Zelenskyy dan rekan-rekannya dari Eropa.

Ketika ditanya oleh wartawan apakah ada kontak lebih lanjut, Trump mengonfirmasi: “Ya, sudah.”
Setelah panggilan teleponnya pada 18 Agustus, Trump mengumumkan bahwa Putin telah menyetujui pertemuan langsung dengan Zelenskyy, tetapi Moskow sejak itu membantah rencana tersebut.

Ketika ditanya mengapa Putin enggan bertemu dengan Zelenskyy , Trump menjawab dengan blak-blakan: “Karena dia tidak menyukainya.”

Percakapan yang Baik dengan Putin

Ketika ditanya tentang bagaimana komunikasi terakhirnya dengan Putin berjalan, Trump mengatakan kepada wartawan: “Setiap percakapan yang saya lakukan dengannya adalah percakapan yang baik,” tetapi mengatakan bahwa dia “sangat marah” karena setelah percakapan yang baik, “sebuah bom dimuat di Kyiv atau tempat lain”.

Meskipun demikian, Trump bersikeras bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang masih dalam jangkauan.

“Saya pikir kita akan menyelesaikan perang,” ujarnya.

AS dan sekutu Eropa sepakat untuk mengupayakan penyelesaian yang “berkelanjutan”

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Marco Rubio pada hari Senin berbicara dengan menteri luar negeri Ukraina dan rekan-rekan dari Inggris, Prancis, Finlandia, Jerman, Italia, Polandia, dan Uni Eropa. Menurut Departemen Luar Negeri, kelompok tersebut sepakat untuk terus berupaya “melanjutkan kerja sama dalam upaya diplomatik untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina melalui penyelesaian negosiasi yang berkelanjutan.”

Bagaimana dengan jaminan keamanan Ukraina?

Setelah pertemuannya dengan Zelenskyy dan para pemimpin Uni Eropa, Trump telah memberi tahu Presiden Ukraina bahwa Washington akan mendukung keamanan Ukraina dalam kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Rusia.

Kini, menteri luar negeri Italia, Antonio Tajani, sekali lagi mendesak jaminan keamanan konkret untuk Kyiv, yang dimodelkan berdasarkan prinsip pertahanan kolektif NATO. Dia juga mengatakan Italia siap bergabung dalam upaya penjinakan ranjau di darat dan laut.

Tajani “menyoroti pentingnya jaminan keamanan yang konkret dan kredibel bagi Ukraina, terutama dalam memperkuat angkatan bersenjata Ukraina dan industri pertahanannya,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri. (yn)

Presiden Prabowo Sambangi Kediaman  Wapres ke-13 Ma’ruf Amin, Teguhkan Semangat Persatuan Bangsa

ETIndonesia — Presiden Prabowo Subianto menyambangi kediaman Wapres ke 13, K.H. Ma’ruf Amin pada Minggu, 24 Agustus 2025 di Depok, Jawa Barat. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka silaturahmi sekaligus mempererat tali persaudaraan antar pemimpin bangsa.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden dan Wakil Presiden berdiskusi serta bertukar pikiran mengenai arah pembangunan bangsa ke depan. Kehangatan pertemuan ini mencerminkan kedekatan dan sinergi yang terjalin, sekaligus menegaskan semangat persatuan yang menjadi landasan kokoh perjalanan Indonesia.

“Pertemuan tersebut merupakan silaturahmi antar pimpinan bangsa, untuk membangun bangsa ini seluruh kekuatan komponen bangsa bersatu mencapai kesejahteraan, baik itu sektor ekonomi, pendidikan, dan sosial keagamaan,” ujar  Dr. Siti Ma’rifah, putri tertua Maruf Amin dalam keterangan tertulis. 

Langkah Presiden Prabowo yang datang bersilaturahmi kepada para tokoh bangsa seperti Prof. K.H. Ma’ruf Amin, Wakil Presiden RI ke-13 sekaligus Bapak Ekonomi Syariah, untuk mendapatkan masukan, saran, juga dukungan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab Presiden sebagai Kepala Negara dan juga Kepala Pemerintahan, merupakan hal penting.”

Lebih lanjut, Dr. Siti Ma’rifah menegaskan bahwa kepemimpinan Presiden Prabowo yang mengajak seluruh komponen anak bangsa untuk ikut membangun negeri melalui partisipasi aktif sesuai keahliannya, dapat menjadi contoh bagi seluruh pemimpin bangsa. 

“Agar tercipta suasana pemerintahan yang aman ,kondusif dan  berkelanjutan untuk seluruh Anak Bangsa Tanpa terkecuali termasuk bagi Mereka penyandang Disabilitas,sehingga program dan cita-cita pembangunan bangsa yang sejahtera dapat diwujudkan,” tambahnya.

Ia juga menyoroti peran penting Prof. K.H. Ma’ruf Amin yang selain pernah menjabat Wakil Presiden RI ke-13, juga selaku Dewan Pertimbangan MUI, dikenal sebagai sosok ulama teduh dan moderat. Kehadiran beliau dinilai memberikan nilai tersendiri dalam mendukung Presiden Prabowo untuk mewujudkan kerukunan antarumat beragama di Indonesia.

Dr. Siti Ma’rifah, M.M., M.H., merupakan putri tertua Wakil Presiden RI ke-13 K.H. Ma’ruf Amin. Ia juga dikenal di kancah internasional sebagai ikon wanita dalam program 100 Celebrities Talk for Para Athletes  (100 CTFP) Indonesia. (***)

Anak “Nakal” Berasal dari Kebiasaan yang Dibiarkan – Masih Beranikah Orangtua Menutup Mata?

EtIndonesia. Nilai dan prinsip hidup tidak datang tiba-tiba saat dewasa, melainkan dibentuk sejak kecil.  Kalau terlambat diajarkan, orangtua hanya akan menuai penyesalan di kemudian hari.

Kasus kekerasan di sekolah yang kerap terjadi bukanlah karena anak-anak itu sejak lahir sudah jahat. Kita tahu pepatah “manusia pada dasarnya baik”. Tidak ada anak yang benar-benar terlahir sebagai “anak nakal”. Yang ada adalah pola asuh salah kaprah yang melahirkan perilaku buruk.

Ketika seorang anak menunjukkan perilaku yang tidak benar, namun orangtua menoleransinya dengan alasan “masih kecil, belum mengerti”, bahkan menertawakan ulahnya, di situlah masalah bermula. Jika dibiarkan, anak akan menganggap perilakunya benar, dan kelak bisa tumbuh menjadi pribadi yang kasar, bahkan pelaku perundungan.

Pendidikan Moral Harus Dimulai Sejak Dini

Kebiasaan buruk yang terbentuk sejak kecil sangat sulit dihilangkan ketika dewasa, bahkan bisa memengaruhi seluruh aspek kehidupan anak di masa depan.

Lalu, kebiasaan buruk apa saja yang tidak boleh ditoleransi?

1. Suka Mengambil Barang yang Bukan Miliknya

Bayangkan suatu hari kamu melihat anakmu membawa mainan yang belum pernah kamu belikan. Saat ditanya, dia menjawab: “Aku menemukannya di rumah teman.”

Inilah kebiasaan “mengambil barang seenaknya” yang harus segera dihentikan. Orangtua wajib mengajarkan anak untuk jujur, berani mengakui kesalahan, dan segera mengembalikan barang tersebut. Anak perlu tahu bahwa mengambil milik orang lain adalah perilaku salah.

2. Tidak Mendapatkan Sesuatu → Langsung Bertindak Agresif

Jika anakmu berkelahi hanya karena ingin memainkan mainan temannya, maka orangtua harus menegur dengan tegas. Anak harus paham bahwa berkelahi tidak menyelesaikan masalah, justru melukai diri sendiri dan orang lain.

Ajarkan bahwa rasa ingin memiliki bukan alasan untuk menyakiti.

3. Tidak Mau Tidur Sesuai Waktu

Misalnya kamu menetapkan jam tidur maksimal pukul 10 malam, tapi anak tetap bermain di tempat tidur dengan mainannya.

Orangtua perlu konsisten menegakkan aturan. Jika melanggar, harus ada konsekuensi—misalnya mainan favorit disimpan, atau makanan kesukaan tidak diberikan esok hari. Anak harus belajar bahwa setiap aturan ada alasan dan konsekuensinya.

4. Barang-Barang Berserakan

Saat pulang ke rumah, mainan berserakan di mana-mana. Apakah orangtua harus memungutinya sendiri, atau marah-marah? Tidak keduanya.

Cara terbaik: minta anak membereskan sendiri. Tegaskan bahwa merapikan mainan adalah tanggung jawabnya, dan berikan apresiasi setelah ia melakukannya. Dengan begitu, anak belajar disiplin sekaligus merasa dihargai.

5. Suka Berbohong

Anak berbohong bukan hal asing. Biasanya, alasannya adalah ingin melindungi diri dari hukuman.

Di sinilah peran orangtua penting: ajarkan bahwa mengakui kesalahan akan mendapat pengampunan, tapi berbohong akan membawa konsekuensi. Anak harus belajar bahwa kejujuran lebih mulia, dan hanya orang yang berani mengakui kesalahanlah yang bisa tumbuh menjadi pribadi bertanggung jawab.

Jangan Biarkan Kebiasaan Buruk Menghancurkan Masa Depan

Kebiasaan buruk yang dibiarkan sejak kecil akan membentuk karakter buruk hingga dewasa. Anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang suka menyalahkan, tidak bertanggung jawab, bahkan menyakiti orang lain.

Karena itu, orangtua harus tegas sejak awal. Mendidik bukan berarti mengekang, tapi mengarahkan anak agar tidak salah langkah.

Ingatlah: membiarkan kesalahan kecil bisa berujung pada penyesalan besar di masa depan.(jhn/yn)

Pemandangan Damai di Times Square New York, Wisatawan Mancanegara Antusias Mengenal Falun Gong

EtIndonesia. Times Square New York, yang dijuluki sebagai “persimpangan dunia”, pada Sabtu sore (23/8/2025) menampilkan sebuah pemandangan damai dan tenang. Sejumlah praktisi Falun Gong dari New York dan New Jersey mengadakan latihan bersama, memperlihatkan keindahan prinsip “Sejati, Baik, Sabar” kepada publik.

Dengan iringan musik meditasi yang lembut, ratusan praktisi Falun Gong mengenakan kaos kuning, berbaris rapi di alun-alun Seventh Avenue untuk memperagakan lima perangkat latihan.

 “Ini adalah hari yang indah di New York. Di pusat kota komersial ini, kami memperlihatkan Falun Dafa, dengan prinsip Sejati, Baik, Sabar yang sudah lama dihargai di berbagai belahan dunia sepanjang sejarah,” ujar seorang praktisi Falun Gong dari New York City.

Meskipun cuaca terik dan matahari menyengat, para praktisi tetap melakukan latihan dengan hening dan damai, menciptakan kontras yang kuat dengan hiruk-pikuk sekitarnya.

23 Agustus 2025 di Times Square New York, praktisi Falun Gong memperagakan perangkat latihan kelima — meditasi. (NTDTV)
Pada Sabtu, 23 Agustus, beberapa praktisi Falun Gong dari New York dan New Jersey berkumpul di Times Square untuk sesi latihan bersama. Li Chenyang, seorang praktisi Falun Gong dan perwakilan dari panitia penyelenggara, diwawancarai oleh New Tang Dynasty Television. (New Tang Dynasty Television)

Seorang praktisi Falun Gong asal Tiongkok, Wang Hao, berkata:  “Saya telah banyak merasakan manfaat dari latihan ini, jadi saya berharap lebih banyak orang dapat mengetahui keindahan Falun Dafa. Banyak orang yang melihat pemandangan ini merasa sangat terkesan, mereka berkata ini indah sekali, lalu penasaran ingin tahu apa ini.”

Seorang turis asal Inggris mengatakan:  “Bersikap baik kepada orang lain, itu sungguh indah. Apa yang mereka lakukan ini luar biasa. Saya menerima selebaran, saya akan membacanya dengan serius dan juga memastikan anak saya membacanya.”

Shi Ning, seorang praktisi Falun Gong dari New Jersey, dianiaya oleh Partai Komunis Tiongkok karena terus mempraktikkan Falun Gong di Tiongkok. Ia berbagi bahwa setelah mempraktikkan Falun Gong, tidak hanya kesehatan fisik dan mentalnya membaik, tetapi ia juga menemukan tujuan hidupnya. (Wang Lifei/The Epoch Times)

Banyak wisatawan dari berbagai negara berhenti untuk menyaksikan, mengambil foto dan video, membaca brosur, bahkan ada yang langsung ikut belajar latihan di tempat.

Seorang wisatawan dari Texas yang ikut berlatih di lokasi berkata:  “Luar biasa sekali, semua orang berkumpul bersama. (Mencoba perangkat latihan pertama) rasanya sangat baik, membuat rileks.”

Seorang wisatawan asal Italia menambahkan:  “Di zaman sekarang ini, kita sangat membutuhkan lebih banyak kebaikan. Apa yang kalian lakukan ini menarik sekali, menyampaikan pesan yang meningkatkan jiwa.”

Sebuah keluarga dari Ferguson, Amerika Serikat, memuji acara tersebut sebagai “luar biasa” dan mengatakan bahwa keberanian orang-orang dalam mempertahankan keyakinan mereka patut diacungi jempol. (Wang Lifei/The Epoch Times)
Keluarga Gandhi mengatakan bahwa Falun Gong menyampaikan kerendahan hati dan kasih sayang kepada umat manusia kepada dunia. (Wang Lifei/The Epoch Times)
Joel, seorang pemuda dari Inggris, menyatakan bahwa prinsip-prinsip “Sejati-Baik-Sabar” sangat penting. (Wang Lifei/The Epoch Times)

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, diperkenalkan oleh Mr. Li Hongzhi pada tahun 1992. Latihan ini berlandaskan pada prinsip “Sejati, Baik, Sabar”, meningkatkan moralitas serta memiliki manfaat kesehatan dan penyembuhan penyakit.

Seorang praktisi asal Tiongkok, Shi Ning, berbagi pengalaman:  “Saya dulu menderita kelelahan mata yang parah. Sebagai insinyur komputer, saya bahkan tidak bisa menonton TV. Setelah mencoba latihan Falun Gong selama sebulan, penyakit saya sembuh total. Sayangnya, di Tiongkok latihan ini ditindas oleh Partai Komunis, sehingga kebenaran ditutup-tutupi dan menghalangi orang untuk mengejar peningkatan moralitas.”

Mark, seorang turis dari Puerto Rico, berbagi kesan-kesannya tentang Falun Gong. Ia mengatakan bahwa kesan umumnya sangat positif. Praktik ini dapat meningkatkan kondisi mental dan kesehatan fisik seseorang. (Wang Lifei/The Epoch Times)

Koordinator kegiatan, Li Chenyang, mengatakan:  “Kami berharap melalui demonstrasi damai ini, masyarakat bisa melihat keindahan latihan ini di tengah kesibukan kota. Kami juga ingin mengungkapkan fakta tentang penganiayaan yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok terhadap Falun Gong, termasuk penindasan lintas negara dalam beberapa tahun terakhir.”

Seorang turis asal Inggris berkomentar:  “Banyak penelitian ilmiah menunjukkan bahwa meditasi baik untuk manusia. Ini memberikan kekuatan, ketenangan, dan kebahagiaan. Saya baru saja mendengar bahwa pemerintah (PKT) berusaha menghentikan orang untuk berlatih, dan itu sangat buruk. Di sini orang bebas berkeyakinan, bukan dikontrol oleh kekuasaan.”

Praktisi Falun Dafa berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari anak-anak di bawah sepuluh tahun hingga orang lanjut usia berumur 70–80 tahun, menunjukkan bagaimana Falun Dafa diterima luas oleh berbagai etnis dan usia.

Seorang reporter menjelaskan:  “Falun Gong memiliki lima perangkat latihan. Saat ini mereka sedang memperagakan perangkat kelima. Di seluruh wilayah New York Raya terdapat 31 titik latihan, semuanya mengajarkan secara gratis dan sukarela.”

Sumber : NTDTV.com

Anak Memasuki Fase Suka Berbohong, Apa yang Harus Dilakukan Orangtua?

EtIndonesia. Sebagian besar anak usia 3–5 tahun masih berada dalam tarik-menarik antara kenyataan dan imajinasi. Terkadang, mereka menggunakan “kebohongan kecil” untuk menguji batas-batas itu. Bahkan, ada kalanya mereka menyusun kebohongan menjadi cerita fantasi.

Contoh: seorang anak berkata: “Aku melihat raksasa menulis di langit dengan awan.”

Untuk kebohongan semacam ini yang sifatnya tidak berbahaya, sikap terbaik orangtua adalah ikut bermain peran. Mengapa? Karena hal itu tidak hanya melindungi daya imajinasi anak, tetapi juga menumbuhkan kreativitasnya. Di balik itu, secara perlahan kita juga bisa menanamkan nilai pentingnya kejujuran.

Mengapa Anak Berbohong?

Selain karena imajinasi, ada beberapa alasan lain anak memilih berbohong:

1. Harapan sepihak.
“Andai saja aku tidak menjatuhkan vas bunga.” Pikiran seperti ini bisa berubah menjadi kalimat: “Bukan aku yang melakukannya.”

2. Kurang paham.
Saat tidak mengerti sesuatu, anak lebih memilih menjawab dengan “asal tebak” atau bahkan berbohong, ketimbang mengakui bahwa dia tidak paham.

3. Mencari perhatian.
Jika anak sadar kebohongan bisa membuat orangtua lebih memperhatikannya, dia mungkin akan mengulanginya lagi untuk menarik perhatian.

4. Ingin merasa penting.
Ada kalanya anak berbohong demi menjaga harga diri, agar terlihat lebih dewasa atau lebih pintar.

5. Lupa.
Kadang mereka benar-benar tidak ingat. Misalnya, mereka mengira sudah menghabiskan makanan, padahal baru makan beberapa suap.

6. Menghindari hukuman.
Alasan klasik. Anak sering berpikir berbohong lebih aman daripada menghadapi kemarahan atau kekecewaan orangtua.

Bagaimana Orangtua Menyikapinya?

1. Jangan terus-menerus mengejar pengakuan.
Misalnya, ketika sudah jelas anak yang melakukannya, hindari terus menekan dengan pertanyaan: “Kamu yang lakukan, kan?”

      Lebih baik tunjukkan cara memperbaiki kesalahan. Contoh: “Yuk, kita ambil lap untuk mengeringkan lantai kamar mandi.”

2. Tunjukkan empati, bukan kritik.
Saat anak mencoba menyalahkan orang lain (bahkan boneka atau mainannya), pahami bahwa dia hanya ingin lepas dari rasa bersalah. Alih-alih menghakimi, cobalah berkata:

“Mungkin kamu takut Ibu marah. Tapi Ibu lebih suka kalau kamu bisa jujur cerita apa yang terjadi.”

3. Gunakan bahasa positif.
Bedakan antara “Anak yang suka bohong itu nakal” dengan “Jujur itu penting.”
Bahasa positif mengajarkan nilai tanpa membuat anak merasa dilabeli buruk.

4. Bangun komunikasi terbuka.
Pastikan anak merasa aman bercerita, bahkan saat ia melakukan kesalahan. Hubungan yang dilandasi kepercayaan akan membuat anak lebih berani terbuka.

5. Puji kejujuran.
Jika anak mengakui kesalahan, misalnya merusak barang, hargai kejujurannya:

“Kamu memang salah menyentuh DVD itu, tapi Ibu senang sekali kamu berani berkata jujur.”

Penting juga menjelaskan bahwa jujur bukan berarti kesalahan diabaikan, melainkan tetap ada konsekuensi.

6. Ajak memperbaiki kesalahan.
Jika memungkinkan, libatkan anak dalam memperbaiki masalah. Contoh: ketika menumpahkan air, ajak ia membersihkan. Anak akan belajar bahwa kesalahan bisa diperbaiki tanpa perlu berbohong.

7. Kontrol emosi, jangan cepat marah.
Sulit memang, tapi penting. Ingat, salah satu alasan anak berbohong adalah karena takut melihat orangtua marah. Jika anak tahu kejujuran tidak selalu dibalas dengan kemarahan, ia akan lebih berani berkata jujur di kemudian hari.

Kesimpulan

Berbohong pada anak kecil tidak selalu berarti keburukan. Kadang itu bagian dari proses belajar, imajinasi, atau upaya mencari perhatian.

Tugas orangtua bukan hanya menegur, tetapi menciptakan ruang aman bagi anak untuk berani jujur, sekaligus mengajarkan bahwa setiap kesalahan bisa diperbaiki dengan tanggung jawab—bukan dengan kebohongan. (jhn/yn)