Kim Jong-un Kaget! Ribuan Pasukan Korut Jadi Korban di Ukraina”

EtIndonesia. Perang Rusia–Ukraina yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun kembali menunjukkan eskalasi tajam. Harapan perdamaian sempat muncul kala Presiden Rusia, Vladimir Putin, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, dan Donald Trump bertatap muka. Namun, secercah cahaya itu seolah padam seketika. Api konflik justru semakin membesar, menelan dimensi politik, diplomatik, dan militer yang lebih luas.

Zelenskyy Gunakan Hari Bendera untuk Bangkitkan Semangat Nasional

Tanggal 23 Agustus 2025 bertepatan dengan Hari Bendera Nasional. Presiden Volodymyr Zelenskyy hadir dalam upacara di Museum Sejarah Perang Dunia II di Kyiv. Dalam pidatonya, dia menegaskan bendera Ukraina kini menjadi simbol cinta tanah air yang harus dipertahankan dengan segala pengorbanan.

Zelenskyy menolak menyerahkan “sejengkal pun tanah” kepada Rusia. Dia menuduh Putin sama sekali tidak berniat mencari perdamaian. Lebih jauh, dia menyerukan tekanan internasional diperbesar terhadap Kremlin.

Sejak 2022, Ukraina lebih banyak berada dalam posisi defensif karena larangan AS dan NATO untuk menggunakan senjata Barat menyerang wilayah Rusia. Namun, situasi berubah pada 2023 ketika Ukraina melancarkan serangan balasan ke wilayah Kursk. Meski hasilnya terbatas, operasi itu menunjukkan Ukraina mampu menyerang balik. Kini, strategi ofensif semakin nyata: Ukraina merebut enam titik penting di Sumi dan Pokrovsk, dan Zelenskyy menegaskan serangan balasan akan terus berlanjut.

Taktik Rusia: Ancaman Nuklir dan Campur Tangan Beijing

Di pihak Rusia, Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov terus menunda dialog damai dengan alasan Ukraina tidak mau berkompromi. Sementara itu, Beijing kembali membuat kontroversi dengan menawarkan “pasukan perdamaian” ke Ukraina, meski ditolak keras oleh Kyiv. Sindiran publik menyebutnya sebagai “pasukan musang”.

Putin sendiri melanjutkan taktik lama: mengancam dengan senjata nuklir. Pada 22 Agustus 2025, dia meninjau Pusat Nuklir di Sarov, lalu sehari kemudian mengunjungi kapal selam nuklir di Arktik. Narasi ini dimaksudkan sebagai perang psikologis. Namun, kritik dalam negeri bermunculan. Tokoh nasionalis Rusia, Chomushkin, menyebut klaim Putin bahwa “Ukraina akan segera runtuh” sudah tiga tahun tidak terbukti, sementara kini lebih dari 55 negara Barat aktif mendukung Kyiv.

Strategi Baru Ukraina: Hantam Energi Rusia

Karena sulit menembus pertahanan darat, Ukraina kini fokus menyerang infrastruktur energi Rusia. Target serangan dilakukan berulang kali agar kilang minyak benar-benar lumpuh. Salah satu contoh nyata adalah Kilang Ryazan—penyumbang 5% kapasitas minyak Rusia—yang kini hanya beroperasi setengah akibat serangan bertubi-tubi.

Kondisi makin parah karena Rusia kesulitan mengganti peralatan impor Barat yang terkena sanksi. Produk Tiongkok yang menjadi alternatif dinilai tidak memadai, memicu krisis bahan bakar dengan antrean panjang di SPBU.

Di sisi lain, Ukraina mengembangkan drone jarak jauh (1.000–1.500 km) dan rudal jelajah “Flamingo” dengan jangkauan 3.000 km—melampaui Taurus Jerman (500 km) maupun Tomahawk AS (2.500 km). Flamingo mampu membawa hulu ledak 1 ton, dua kali lipat dari Tomahawk. Zelensky bahkan menyebut produksi massal dimulai Oktober, dengan kapasitas 7 unit per hari. Jika Ukraina benar-benar memiliki 1.000 rudal ini, Moskow terancam lumpuh total.

Dominasi Udara Mulai Bergeser

Bantuan NATO dan sistem pertahanan Patriot AS perlahan mengubah keseimbangan udara. Jet tempur MiG-29 Ukraina baru-baru ini menghancurkan markas komando Rusia menggunakan bom J-DAM.

Drone juga berperan penting. Pada 21 Agustus 2025, Angkatan Laut Ukraina menyerang basis drone Rusia di Krimea. Meski Kremlin menyebutnya sekadar “latihan militer Armada Laut Hitam”, video ledakan besar yang beredar justru membantah klaim tersebut.

Keterlibatan Korea Utara: Fakta yang Sulit Ditutupi

Isu keterlibatan Korea Utara akhirnya terkuak. Media pemerintah Korut sendiri menayangkan video pasukan mereka bertempur di Kursk bersama Rusia. Untuk pertama kalinya, Kim Jong-un mengakui 101 tentaranya gugur.

Data intelijen Korea Selatan menyebut sekitar 30.000 tentara Korut sudah dikerahkan, dengan korban lebih dari 600 tewas, 4.100 terluka, dan ratusan ditawan. Pengakuan ini dipaksa muncul karena jumlah korban terlalu besar untuk ditutup-tutupi.

Bahkan, tawanan perang Korut mengungkap perintah brutal: jika tertangkap, mereka harus bunuh diri dengan granat. Untuk menutupi fakta pahit, rezim Kim kembali menggunakan propaganda era perang Korea dengan mengangkat prajurit gugur sebagai “pahlawan bangsa”.

Penutup

Konflik Rusia–Ukraina kini semakin kompleks: dari diplomasi buntu, ancaman nuklir, hingga keterlibatan pasukan asing. Dengan Ukraina yang semakin ofensif, Rusia yang bermain dengan kartu nuklir, dan Korea Utara yang masuk gelanggang, perang ini jelas belum menuju titik akhir. Pertanyaannya: apakah dunia sedang menyaksikan babak baru dari perang modern terbesar abad ini?

Mengapa Orang Baik Bisa Melakukan Hal Buruk? (Bagian II)

EtIndonesia. Dalam bagian pertama kita sudah melihat bahwa:

·        Pada dasarnya manusia memiliki hati yang lurus dan cenderung baik.

·        Kita adalah makhluk sosial yang terbentuk melalui “penjinakan diri” (self-domestication).

·        Dalam kelompok, manusia lebih suka bekerja sama daripada saling menjatuhkan.

Namun pertanyaannya: jika kita memang sebaik itu, kenapa masih ada kekejaman, genosida, atau kejahatan yang mengerikan?

Bagaimana mungkin manusia yang penuh empati, bahkan bisa merasa malu dan bersalah, pada saat lain justru tega melakukan kebiadaban?

Mengapa Orang Baik Bisa Jadi Jahat?

Salah satu jawabannya ada pada konsep “mismatch” (ketidakcocokan) dalam evolusi. Artinya, otak dan tubuh kita masih membawa pola pikir kuno yang tidak sesuai dengan dunia modern.

Contoh sederhana adalah obesitas. Zaman purba, jika kita menemukan makanan berkalori tinggi, masuk akal untuk segera makan banyak karena tidak tahu kapan bisa makan lagi. Tapi di era sekarang, makanan melimpah, hasilnya justru tubuh jadi sakit karena pola pikir lama tidak cocok dengan kondisi baru.

Mungkin sejarah kelam umat manusia juga sama: kekejaman, perang, pembantaian — semua bisa jadi hasil dari “otak purba” yang salah tempat.

Buku Humankind memberi tiga penjelasan utama mengapa orang baik bisa berbuat jahat:

1. Kepatuhan pada otoritas.

2. Empati yang keliru arah.

3. Korupsi kekuasaan.

1. Eksperimen Milgram: Ketaatan yang Mematikan

Psikolog Stanley Milgram pernah menguji mengapa orang biasa bisa ikut dalam genosida.

Dalam eksperimen, peserta berperan sebagai “guru” yang harus memberi sengatan listrik kepada “murid” setiap kali salah menjawab. Tegangan meningkat dari 15 volt hingga 450 volt.

Hasilnya mengejutkan:

·        65% peserta menekan tombol hingga level tertinggi.

·        100% mencapai setidaknya 300 volt.

Mereka sering gelisah, ingin berhenti, tapi akhirnya tetap menuruti instruksi.

Namun ada detail penting yang jarang diungkap: semakin otoriter instruktur, justru semakin banyak peserta yang menolak. Alasan sebenarnya banyak orang bertahan bukan semata karena “taat membabi buta”, tapi karena mereka ingin membantu sains, ingin berbuat baik.

Seorang ayah bahkan berkata dia terus bertahan karena berharap penelitian ini kelak bisa menolong anaknya yang sakit. Ironisnya, niat baik inilah yang justru menjerumuskan mereka. Jalan menuju neraka sering kali memang diaspal dengan niat baik.

2. Empati yang Salah Arah: Membela “Orang Kita”

Mengapa tentara Nazi berperang habis-habisan? Banyak yang mengira karena ideologi atau indoktrinasi. Tapi wawancara pasca perang menunjukkan alasan utamanya sederhana: “demi kawan seperjuangan.”

Mereka tidak ingin mengecewakan rekan satu regu. Dengan kata lain, empati mereka kuat — tapi terbatas hanya untuk kelompok sendiri.

Penelitian di Yale juga menunjukkan bayi berusia 6 bulan sudah bisa membedakan baik-buruk, dan cenderung memilih yang baik. Namun ada sisi gelapnya: bayi lebih suka boneka yang memiliki “selera sama” dengan dirinya (misalnya sama-sama suka biskuit). Bahkan kalau boneka itu jahat sekalipun, selama satu selera, bayi tetap menyukainya.

Artinya, sejak dini manusia sudah punya kecenderungan “pro in-group” (membela kelompok sendiri) dan anti pihak luar.  

Inilah asal usul pepatah kuno: “Bukan dari kelompokku, pasti berbeda hati.”

3. Kekuasaan: Dari Pahlawan Jadi Tirani

Niccolò Machiavelli berpendapat: untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan, pemimpin harus rela meninggalkan moral, bahkan bertindak tanpa rasa malu.

Kenyataannya, sejarah menunjukkan:

·        Pemimpin di masa purba dipilih karena adil, murah hati, dan berani.

·        Tapi begitu kekuasaan terkonsentrasi, semua orang akhirnya bisa terjerumus dalam korupsi.

Ada pepatah: “Pahlawan yang membunuh naga, pada akhirnya akan menjadi naga.”

Kekuasaan membuat orang kehilangan rasa malu, menjadi tak tahu batas. Bahkan orang yang dulunya baik bisa berubah wajah.

Sifat “anak anjing” dalam diri manusia adalah bisa merasa malu, bahkan wajah kita bisa memerah. Tapi pemimpin yang mabuk kekuasaan lambat laun kehilangan rasa malu itu.

Maka dalam dunia politik, sering kali yang bertahan di puncak bukanlah yang paling baik, melainkan yang paling tidak tahu malu.

Jadi, Apakah Manusia Baik atau Jahat?

Kesimpulan Bregman: tidak ada orang yang benar-benar merasa dirinya jahat. Setiap orang selalu punya alasan — entah demi ilmu, demi keluarga, demi bangsa, atau demi kelompoknya.

Kita menjadi “manusia baik” terutama untuk orang-orang yang kita anggap sebagai bagian dari diri kita.  Tapi untuk “orang luar”, hukum yang berlaku sering kali berubah menjadi “hutan gelap” (dark forest rule).

Dengan kata lain:

·        Kepada kelompok sendiri, kita adalah Planet A.

·        Kepada orang luar, kita bisa berubah menjadi Planet B.

Pelajaran dari Buku Humankind

Buku ini mengingatkan: dunia tidak seburuk yang kita kira. Tapi kebaikan manusia sangat bergantung pada lingkaran kepercayaan yang kita bangun.

Jika kita terlalu sibuk mengonsumsi berita negatif, kita akan merasa hidup di Planet B dan terjebak mentalitas korban.

Sebaliknya, melatih rasa syukur dan melihat kesamaan dengan orang lain bisa memperluas lingkaran “kelompok kita.”

Mungkin itulah alasan mengapa menulis jurnal syukur disarankan oleh banyak psikolog:

·        Bersyukur atas bantuan orang lain.

·        Bersyukur atas apa yang kita miliki.

Dengan begitu, kita menyadari: aku dan kamu tidak berbeda. Kita semua sebenarnya “satu tim.” Kita semua hidup di Planet A. (jhn/yn)

Kondisi Shanghai Mengejutkan: Kota Jadi “Kosong”, Kawasan Dalam Lingkar Kota Tanpa Penduduk 

Baru-baru ini, seorang blogger merekam kondisi terkini Shanghai dan terkejut menemukan gejala “pengosongan kota”. Di kawasan pusat kota, tepatnya lingkar dalam (Inner Ring) di sekitar Beiwaitan, jalan-jalan terlihat sepi, hampir semua toko tutup dan nyaris tidak ada orang.

EtIndonesia. Pada 23 Agustus, seorang vloger Shanghai dengan akun “Zai Xia Dao Ge” mengunggah video yang menunjukkan suasana Beiwaitan, Distrik Hongkou, pada Senin pukul 18.00. Ia kaget melihat bahwa di jantung kota Shanghai, kawasan lingkar dalam benar-benar sudah tidak ada orang.

Beiwaitan, dengan luas sekitar 4 km², merupakan salah satu bagian penting dari “Segitiga Emas” Shanghai. Kawasan ini dulunya ramai dengan aktivitas warga, namun kini menjadi lengang karena banyak penduduk sudah dipindahkan akibat proyek pembongkaran.

 “Aneh sekali, cuma ada beberapa orang di pusat yoga dan fitness, selebihnya semua tutup. Renovasinya begitu mewah, tapi di basement lantai B1 mall sebesar ini hanya ada kurir makanan,” Ia menunjuk sebuah kawasan komersial di Jalan Changyang, Beiwaitan. 

Saat ia berjalan ke plaza bawah mall, tak terlihat satu pun pengunjung, hanya ada beberapa kurir yang beristirahat. “Restoran-restoran di sini bahkan tidak menyalakan lampu,” katanya.

Vloger itu menggambarkan pemandangan sekitar:  “Seluruh kawasan ini benar-benar sepi. Entah ini bangunan baru atau karena terlalu banyak pembangunan sehingga pasokan berlebihan tanpa orang yang menempati. Padahal ini bukan di pinggir kota, tapi di lingkar dalam, benar-benar jantung kota Shanghai, Beiwaitan.”

Dalam video tampak sejumlah vila komersial kosong. Ia mengatakan, “Sepertinya kawasan lingkar dalam akan menjadi kosong, hanya orang kaya atau perusahaan besar yang mampu memiliki tempat di sini.”

Ia juga menunjukkan bahwa area di sekitar Jalan Baoding, Jalan Changyang, dan Taman Heshan sudah ditetapkan sebagai zona pembongkaran. Rumah-rumah lama sudah lama terbengkalai, penduduknya semua dipindahkan.

“Sekarang di sini benar-benar tidak ada orang. Jalanan hanya dilewati kendaraan, kurir, atau orang yang sekadar melintas. Padahal hanya 100 meter dari sini sudah super ramai, tapi ke arah sini seperti menyeberang ke dunia lain—ini benar-benar pengosongan kota,” ujarnya.

Video itu memicu diskusi hangat di internet. Seorang netizen Shanghai menulis:  “Penduduk kota semakin sedikit, dalam sepuluh tahun populasi bisa berkurang setengahnya.”

Netizen lain berkata: “Sangat menakutkan, kalau kawasan Beiwaitan saja sudah jadi begini.”

Sejak meletusnya pandemi COVID-19 pada akhir 2019, ekonomi Shanghai terus merosot. Banyak penduduk migran meninggalkan kota, jalan-jalan yang dulu ramai, pusat bisnis, dan kawasan perbelanjaan kini tampak lesu.

Awal Juli lalu, seorang vloger juga merekam kondisi Jalan Pejalan Kaki di Kota Chuansha, Shanghai. Jalan yang dulu dipenuhi orang kini sepi hingga banyak toko tutup.

Seorang petugas kebersihan yang bekerja di sana bertutur:  “Dulu ramai sekali, bisnis berkembang pesat. Tapi setelah pandemi, ditambah situasi internasional yang buruk dan hubungan Tiongkok–AS memburuk, ekonomi ikut terdampak. Sekarang jalanan makin sepi, toko-toko tutup, semua dipengaruhi kondisi ekonomi secara keseluruhan.”

NTDTV.com

Lembaga AS Peringatkan Lebih Banyak Penarikan Kembali Produk Udang Beku Karena Terkontaminasi Radioaktif

Produk dijual dengan merek Sand Bar, Arctic Shores, Best Yet, Great American, dan First Street, menurut pemberitahuan penarikan.

EtIndonesia. Sebuah perusahaan makanan menyatakan menarik kembali udang beku di sejumlah negara bagian Amerika Serikat karena kemungkinan mengandung zat radioaktif, menurut pengumuman yang dirilis Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) pada Kamis (21/8/2025), setelah sebelumnya lembaga itu mengeluarkan peringatan terkait udang beku.

Southwind Foods, perusahaan yang berbasis di Carson, California, mengatakan secara sukarela menarik kembali “sejumlah terbatas” udang bekunya di Alabama, Arizona, California, Massachusetts, Minnesota, Pennsylvania, Utah, Virginia, dan negara bagian Washington, menurut pemberitahuan tersebut.

Udang tersebut didistribusikan antara 17 Juli hingga 8 Agustus ke pengecer, distributor, dan grosir. Produk dijual dengan merek Sand Bar, Arctic Shores, Best Yet, Great American, dan First Street, kata FDA. Perusahaan menyatakan tidak ada laporan penyakit maupun dampak kesehatan yang terkait dengan produk yang ditarik tersebut.

FDA juga mengeluarkan peringatan terpisah terkait penarikan udang Southwind Foods karena adanya Cesium-137 (Cs-137), sebuah isotop radioaktif buatan manusia. Udang itu diproses oleh perusahaan asal Indonesia, PT. Bahari Makmur Sejati, yang beroperasi dengan nama dagang BMS Foods.

Awal pekan ini, FDA merilis peringatan mengenai produk udang beku Great Value milik Walmart yang dijual di sejumlah negara bagian, karena diduga terkontaminasi isotop radioaktif. Udang tersebut juga diproses oleh perusahaan Indonesia yang sama.

Walmart kemudian melakukan penarikan produk udang beku Great Value, kata juru bicara perusahaan itu kepada media pekan ini. The Epoch Times telah menghubungi Walmart untuk dimintai komentar, namun tidak mendapat jawaban.

“Saat ini, tidak ada produk yang terbukti positif mengandung atau terindikasi Cesium-137 … yang masuk ke perdagangan di Amerika Serikat,” kata FDA pada Kamis, seraya menambahkan pihaknya bekerja sama dengan pengecer dan distributor yang menerima produk dari PT. Bahari Makmur Sejati.

FDA menyatakan pihaknya menemukan “produk dari PT. Bahari Makmur Sejati melanggar Undang-Undang Pangan, Obat, dan Kosmetik Federal karena tampaknya diproses, dikemas, atau disimpan dalam kondisi tidak higienis sehingga dapat terkontaminasi Cs-137 dan berpotensi membahayakan keselamatan.”

Sementara itu, FDA telah memasukkan PT. Bahari Makmur Sejati ke dalam daftar peringatan impor atas “kontaminasi kimia, guna mencegah produk dari perusahaan ini masuk ke Amerika Serikat” hingga masalah tersebut diselesaikan.

Cs-137 adalah produk sampingan dari reaksi nuklir, termasuk bom nuklir, uji coba, operasi reaktor, dan kecelakaan. Zat ini tersebar luas di seluruh dunia, dalam jumlah kecil bisa ditemukan di lingkungan, termasuk tanah, makanan, dan udara, menurut pejabat terkait.

“Jika Anda baru saja membeli salah satu lot udang beku mentah atau matang yang terdampak, buang segera. Jangan makan atau menyajikan produk ini,” tegas FDA, seraya menambahkan pengecer dan distributor juga harus membuang produk tersebut serta tidak menjual atau menyajikannya.

Orang yang merasa dirinya terpapar kontaminasi radiasi akibat tingginya kadar cesium dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga medis, tambah lembaga itu.

Gejala sakit akibat radiasi dapat mencakup mual, muntah, diare, demam, kelelahan, tekanan darah rendah, infeksi, kerontokan rambut, kelemahan fisik, dan perubahan mental, menurut Mayo Clinic di situs resminya.

Misi Damai atau Spionase? Tiongkok Ingin Masuk Ukraina, Rusia Balik Rampas Aset

EtIndonesia. Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Partai Komunis Tiongkok (PKT) bersikeras ingin mengirimkan pasukan penjaga perdamaian ke Ukraina, meski Presiden Volodymyr Zelenskyy secara tegas menolak gagasan tersebut. Situasi semakin kompleks ketika Rusia tiba-tiba menyita 26 pesawat milik perusahaan Tiongkok, menambah kerumitan hubungan trilateral antara Beijing, Moskow, dan Kyiv.

Rencana Tiongkok Ikut Campur di Ukraina

Menurut laporan Welt am Sonntag (23 Agustus), sumber diplomatik Uni Eropa menyebut bahwa Beijing telah menyampaikan rencana mengirim pasukan perdamaian ke Ukraina bila tercapai gencatan senjata. Namun, ada syarat penting: misi tersebut harus mendapat mandat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Langkah ini langsung menuai perdebatan di kalangan Barat. Seorang pejabat senior Uni Eropa memperingatkan, niat Tiongkok berpotensi menjadi kedok operasi intelijen, mengingat Beijing kerap berpihak pada Moskow dalam konflik global.

Reaksi Keras Ukraina dan Barat

Presiden Zelenskyy pada 21 Agustus 2025 menolak tegas keterlibatan Beijing. Dia menegaskan Ukraina tidak menginginkan Tiongkok dalam mekanisme keamanan pascaperang.
Sementara itu, Presiden Rusia, Vladimir Putin menambahkan syarat baru: pasukan penjaga perdamaian dari negara Barat dilarang ditempatkan di Ukraina.

Pakar geopolitik Universitas Tamkang, Cheng Chin-Mo, menilai jika Tiongkok terlibat, Rusia akan memperoleh keuntungan besar. Sebab, baik Moskow maupun Beijing memiliki ambisi serupa: mengubah tatanan internasional demi kepentingan mereka.

Motif Politik dan Ekonomi Beijing

Banyak analis melihat tawaran Beijing lebih bernuansa diplomasi citra. Tiongkok ingin menampilkan diri sebagai “negara besar yang bertanggung jawab,” sekaligus menjaga keseimbangan hubungan dengan Rusia dan memperkuat posisi tawar terhadap Uni Eropa.

Selain itu, misi perdamaian juga bisa menjadi pintu masuk bagi Beijing dalam proyek rekonstruksi Ukraina, membuka jalan bagi perluasan pengaruh ekonomi Tiongkok di kawasan tersebut.

Rusia Menyita 26 Pesawat Milik Tiongkok

Dalam waktu hampir bersamaan, Moskow menyita 26 pesawat milik perusahaan Tiongkok yang terdaftar melalui anak usaha di Kanada dan Irlandia. Langkah ini terjadi di tengah krisis aviasi Rusia akibat sanksi Barat.

Data terbaru menunjukkan, lebih dari 600 pesawat impor di Rusia kekurangan suku cadang, dan sekitar 100 unit terpaksa berhenti beroperasi. 

Kebijakan penyitaan ini dipandang sebagai respons terhadap pembekuan aset Rusia di luar negeri. Namun, justru memicu kerugian besar bagi perusahaan Tiongkok, mulai dari biaya hukum yang melonjak hingga terganggunya operasional internasional.

Ukraina Gencar Melawan di Medan Tempur

Di medan perang, Ukraina melaporkan sejumlah kemenangan taktis. Pasukan Kyiv berhasil merebut kembali beberapa titik penting di Donetsk, termasuk Desa Zelea dan Tolstoy-Yam, lalu mengibarkan bendera nasional.

Di Krimea, Angkatan Laut Ukraina melancarkan serangan presisi ke bandara militer di Kepulauan Kherson. Serangan itu menghancurkan tiga drone Mohajer-6 buatan Iran dan dua drone Forpost milik Rusia.

Moskow sempat menutupi kabar tersebut dengan dalih “latihan militer,” namun bukti visual yang beredar di media sosial segera membongkar fakta sebenarnya.

Politik Global: Trump, Kanada, dan Eropa

Di sisi lain, dinamika global ikut memberi tekanan baru. Pada 22 Agustus 2025, Presiden AS, Donald Trump mengumumkan pembukaan Piala Dunia 2026 akan digelar pada 19 Juli tahun depan. Dia bahkan mengundang Putin dan memamerkan foto kenangan mereka di Alaska. Namun, Trump menegaskan kehadiran Putin masih bergantung pada perkembangan situasi dalam dua pekan mendatang.

Presiden Finlandia, Alexander Stubb menyatakan frustrasi setelah berbicara dengan Trump. Dia menilai, kecil kemungkinan Putin bersedia bertemu Zelenskyy dalam 10 hari ke depan. Uni Eropa pun bersiap menghadapi skenario terburuk berupa sanksi atau tarif baru dari AS terhadap Rusia.

Sementara itu, Kanada justru harus menghadapi kenyataan pahit. Meski telah menggelontorkan 19,7 miliar dolar Kanada untuk membantu Ukraina, Ottawa tetap tersisih dari negosiasi penting di Gedung Putih. Lebih buruk lagi, Trump memberlakukan tarif 25% terhadap produk Kanada, merugikan ekonomi hingga 78 miliar dolar Kanada. Akhirnya, pada 22 Agustus, Perdana Menteri Kanada, Mark Carney mengumumkan bahwa mulai 1 September, Kanada akan mengikuti jejak AS dengan mencabut bea masuk atas produk Amerika dalam kerangka USMCA.

Kesimpulan

Situasi Ukraina kini bukan hanya soal perang militer, tetapi juga ajang tarik-menarik geopolitik antara Tiongkok, Rusia, Barat, dan sekutu-sekutunya. Dari perebutan pengaruh politik, penyitaan aset strategis, hingga negosiasi ekonomi lintas benua, setiap langkah menambah kompleksitas konflik yang sudah berjalan lebih dari tiga tahun.

Bagi Ukraina, medan tempur tetap menjadi prioritas. Namun, jelas bahwa pertarungan sesungguhnya kini juga berlangsung di panggung diplomasi dan ekonomi global.

Serangan Balasan Drone Ukraina: Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Rusia Rusak, Wilayah Udara Moskow Ditutup

Pada Minggu (24 Agustus), drone Ukraina menyerang fasilitas energi penting Rusia, menyebabkan kapasitas operasional Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Kursk berkurang setengah, serta memicu kebakaran besar di pusat ekspor dan pengolahan bahan bakar di dekat Laut Baltik.

EtIndonesia. Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan, pada Minggu mereka berhasil mencegat sedikitnya 95 drone Ukraina di lebih dari sepuluh wilayah Rusia. Sebuah drone meledak di dekat PLTN Kursk, sekitar 60 kilometer dari perbatasan Ukraina, merusak sebuah transformator pendukung dan mengakibatkan kapasitas reaktor nomor 3 berkurang setengah. Pihak Rusia menyebutkan bahwa tingkat radiasi tetap normal dan tidak ada korban jiwa akibat kebakaran tersebut.

Sementara itu, drone Ukraina berhasil menembus hingga sekitar 1.000 kilometer ke dalam wilayah Rusia, menuju Teluk Finlandia di ujung timur Laut Baltik. Di atas pelabuhan Ust-Luga di wilayah Leningrad, setidaknya 10 drone Ukraina ditembak jatuh. Namun, puing-puingnya memicu kebakaran besar di pusat ekspor dan pengolahan bahan bakar milik perusahaan Novatek, produsen gas alam independen terbesar Rusia.

Sehari sebelumnya, pada Sabtu (23 Agustus), Wali Kota Moskow mengkonfirmasi bahwa sebuah drone yang menuju ibu kota berhasil ditembak jatuh. 

Demi alasan keamanan udara, beberapa bandara di timur dan tenggara Moskow ditutup sementara. Di bandara Kota St. Petersburg, kota terbesar kedua Rusia, puluhan penerbangan mengalami penundaan. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Eksekutif Wanita Perusahaan Tiongkok Selundupkan Prekursor Fentanil, Dijatuhi Hukuman 15 Tahun Penjara di AS

Seorang bos perusahaan di Hubei, Tiongkok, bersama seorang eksekutif wanitanya dituntut oleh Amerika Serikat karena menyelundupkan dalam jumlah besar bahan prekursor fentanil ke AS. Baru-baru ini, eksekutif wanita tersebut dijatuhi hukuman berat 15 tahun penjara.

EtIndonesia. Chen Yiyi, manajer penjualan perusahaan Amarvel Biotech (精奧生物科技) di Hubei, didakwa terlibat dalam pengiriman ilegal berskala besar bahan kimia prekursor fentanil ke Amerika Serikat, serta beberapa kali memberikan kesaksian palsu selama proses persidangan.

Pada 22 Agustus, Pengadilan Federal Distrik Selatan New York menjatuhkan vonis 15 tahun penjara terhadapnya.

Pada tahun 2023, bos Amarvel Biotech, Wang Qingzhou, bersama Chen Yiyi, dituntut dan diekstradisi ke AS karena memperdagangkan prekursor fentanil. Kasus ini menjadi awal dari upaya Amerika Serikat menindak rantai pasokan fentanil, yang langsung menyasar ke sumber utamanya—produsen bahan kimia di Tiongkok.

Dokumen pengadilan menunjukkan bahwa sejak 2022, Chen Yiyi dan Wang Qingzhou membangun situs web serta jaringan logistik lintas negara untuk menjual dalam jumlah besar bahan kimia prekursor fentanil kepada distributor di AS dan Meksiko. Chen bertanggung jawab atas pendaftaran situs, promosi, penerjemahan, serta komunikasi dengan pelanggan, bahkan beberapa kali menjanjikan kepada agen penyamaran bahwa produk akan dikirim dengan “kemasan 100% rahasia.”

Jaksa penuntut menyatakan bahwa dalam pernyataan saat sidang vonis, baik Wang maupun Chen tidak menunjukkan pengakuan atas beratnya kejahatan mereka maupun penyesalan sedikit pun.

Sumber : NTDTV.com

Militer Rusia Kuasai 2 Desa Lagi, Drone Ukraina Serang Rusia Tengah, Sejumlah Bandara Hentikan Operasi

EtIndonesia. Perang Rusia-Ukraina yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun, sementara Presiden AS Donald Trump bersama sejumlah pemimpin dunia terus berupaya mendorong penghentian perang, militer Rusia pada 23 Agustus mengklaim telah merebut kembali dua desa di Ukraina timur. Selain itu, pasukan pertahanan udara Rusia di wilayah tengah berhasil mencegat dan menghancurkan 32 drone, sehingga sejumlah bandara terpaksa menghentikan operasi.

Menurut laporan AFP, pasukan Rusia terus menekan garis pertahanan utama Ukraina di wilayah timur melalui pertempuran sengit, dan berhasil merebut desa Sredneye dan Kleban-Byk di wilayah Donetsk.

Penguasaan desa Kleban-Byk berarti pasukan Rusia semakin mendekati kota Kostiantynivka, sebuah benteng pertahanan penting yang berada di jalur menuju Kramatorsk. Kota Kramatorsk sendiri merupakan basis logistik utama Ukraina.

Pada 22 Agustus, Rusia juga mengklaim telah merebut tiga desa lain di wilayah Donetsk.

Menurut Reuters, pada 23 Agustus, Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin menyampaikan melalui Telegram bahwa pasukan pertahanan udara Rusia menembak jatuh sebuah drone yang menuju Moskow. Para ahli saat ini sedang memeriksa puing-puing di lokasi.

Badan Transportasi Udara Federal Rusia (Rosaviatsia) menyatakan bahwa karena alasan keamanan ruang udara, sejumlah bandara di Rusia tengah menghentikan operasi, termasuk bandara di Izhevsk, Nizhniy Novgorod, dan Samara yang berada di timur dan tenggara Moskow.

Sementara itu, bandara di St. Petersburg, kota terbesar kedua Rusia, mengalami puluhan penerbangan tertunda akibat serangan drone tersebut.

Sumber : NTDTV.com

UNESA Raih Penghargaan dari Pasar Modal Indonesia sebagai Kampus Penggerak Literasi dan Inklusi Pasar Modal

Surabaya, 25 Agustus 2025 – Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menerima penghargaan sebagai Kampus Penggerak Literasi dan Inklusi Pasar Modal dari Self-Regulatory Organization (SRO) yang terdiri atas PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Penghargaan ini diberikan sebagai apresiasi atas kontribusi nyata UNESA dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran investasi di lingkungan kampus.

Acara penyerahan penghargaan berlangsung di Graha UNESA, Surabaya, dan diserahkan langsung oleh Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Timur, Yunita Linda Sari, didampingi oleh Kepala Wilayah Kantor Perwakilan BEI Jawa Timur, Cita Mellisa, kepada Rektor UNESA, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes.

“Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada UNESA dan seluruh civitas akademika yang telah berpartisipasi aktif dalam memperluas inklusi pasar modal di kalangan mahasiswa,” ujar Yunita dalam sambutannya. Ia juga menekankan pentingnya edukasi ini sebagai sumber informasi yang akurat sekaligus benteng terhadap penipuan investasi.

Kolaborasi SRO dengan UNESA telah diwujudkan melalui serangkaian kegiatan edukasi, termasuk sesi Sekolah Pasar Modal untuk Negeri yang diintegrasikan dalam program Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB). Sebanyak 21.020 mahasiswa mengikuti kegiatan secara hybrid, menunjukkan tingginya antusiasme generasi muda terhadap literasi keuangan.

Selain itu, sosialisasi pasar modal juga telah dilaksanakan di 13 fakultas di lingkungan UNESA pada 19–21 Agustus 2025, bersamaan dengan rangkaian PKKMB.

Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan HUT ke-48 Pasar Modal Indonesia. Ke depan, SRO akan terus menggelar berbagai program edukasi seperti Public Expose Live, Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu (SEPMT), Capital Market Summit & Expo, Virtual Trading Competition, serta kompetisi media sosial.

Dengan penghargaan ini, UNESA semakin mengukuhkan perannya sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya mencetak tenaga profesional, tetapi juga investor yang cerdas dan sadar risiko.

Menhan Israel Beri Batas Waktu: “Sandera Dibebaskan atau Gaza Hancur Total”

EtIndonesia. Timur Tengah kembali memanas. Pada 22 Agustus 2025, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengeluarkan peringatan keras: Kota Gaza bisa dihancurkan total apabila kelompok Hamas tidak segera membebaskan seluruh sandera yang mereka tahan dan meletakkan senjata.

Ancaman Langsung dari Israel

Dalam pernyataannya, Katz menegaskan bahwa Pemerintah Israel tidak lagi memiliki kesabaran menghadapi kebuntuan krisis sandera. Israel menuntut Hamas mengambil langkah konkret dengan menyerahkan semua tawanan dan menghentikan perlawanan bersenjata. Jika tidak, dia memperingatkan, militer Israel siap melancarkan operasi darat besar-besaran.

Pernyataan ini mencerminkan sikap Israel yang semakin tegas sejak konflik di Gaza kembali meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Israel menegaskan bahwa pembebasan sandera adalah syarat mutlak untuk membuka jalan gencatan senjata.

Mobilisasi Militer Skala Besar

Sebagai bentuk kesiapan menghadapi kemungkinan perang besar, Israel telah memanggil 60.000 pasukan cadangan. Jumlah ini menambah kekuatan militer aktif yang sudah ditempatkan di sekitar perbatasan Gaza.

Mobilisasi besar ini tidak hanya untuk menunjukkan kekuatan, tetapi juga sebagai sinyal peringatan kepada Hamas maupun pihak-pihak lain yang terlibat. Para analis menilai langkah ini menandakan Israel berpotensi memasuki fase baru konflik, dengan kemungkinan serangan langsung ke jantung Gaza.

Situasi Regional Kian Rapuh

Ketegangan di Timur Tengah sendiri terus meningkat sejak perang terakhir antara Israel dan Hamas pecah. Pertempuran yang berlangsung berulang kali sejak 2023 telah menimbulkan ribuan korban jiwa dan menghancurkan sebagian besar infrastruktur Gaza.

Dengan adanya ancaman terbaru ini, situasi semakin mengarah pada eskalasi militer terbuka. Jika Israel benar-benar mengerahkan kekuatan penuh, bukan hanya Gaza yang terdampak, tetapi juga stabilitas kawasan Timur Tengah secara keseluruhan bisa terguncang.

Reaksi Dunia Internasional

Pernyataan Israel Katz langsung memicu kekhawatiran dunia internasional. Beberapa negara sahabat Israel mendukung langkah tegas terhadap Hamas, sementara pihak lain memperingatkan bahwa serangan total ke Gaza dapat memicu krisis kemanusiaan yang lebih parah.

PBB dan lembaga kemanusiaan internasional sebelumnya sudah berulang kali mengingatkan bahwa blokade dan serangan berkelanjutan di Gaza menyebabkan krisis pangan, obat-obatan, dan air bersih yang semakin memburuk. Ancaman baru Israel dikhawatirkan akan memperburuk kondisi warga sipil yang sudah terjebak dalam penderitaan.

Dengan situasi yang semakin genting, pertanyaan besar kini muncul: apakah Hamas akan tunduk pada ultimatum Israel, atau justru memilih perlawanan yang bisa menyeret kawasan ke dalam konflik besar-besaran?

Serangan Udara Israel Hantam Basis Houthi Yaman, Tank Dikerahkan ke Arah Kota Gaza

Pada 24 Agustus, Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap basis milisi Houthi di Yaman, sebagai balasan atas serangan rudal yang baru-baru ini dilancarkan kelompok tersebut. Pada saat yang sama, tank-tank Israel dikerahkan di perbatasan Gaza sebagai persiapan untuk mengambil alih Kota Gaza.

EtIndonesia. Angkatan Udara Israel pada 24 Agustus menyerang basis pemberontak Houthi di ibu kota Yaman, Sana’a. Sebuah pembangkit listrik terkena serangan dan menimbulkan asap tebal membubung, sementara sebuah SPBU terbakar hebat.

Video yang dirilis Angkatan Udara Israel menunjukkan bahwa pada 24 Agustus, beberapa jet tempur dikerahkan untuk menyerang Yaman.

Militer Israel menyatakan bahwa pemberontak Houthi yang didukung Iran baru-baru ini menembakkan bom curah (cluster bomb) pertama mereka ke arah Israel.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bersumpah bahwa rezim teroris Houthi di Yaman akan membayar mahal atas tindakan agresifnya.

 “Angkatan udara hari ini kembali menyerang target strategis di Yaman: kantor presiden di pusat Kota Sana’a, pembangkit listrik, dan tangki bahan bakar yang memasok pembangkit listrik tersebut,” katanya. 

Kelompok Houthi pada  24 Agustus menyatakan bahwa serangan Israel menghantam beberapa wilayah di Sana’a, mengakibatkan 2 orang tewas dan 35 orang luka-luka.

Pada saat yang sama, Israel terus meningkatkan tekanan militer dan menuntut Hamas untuk membebaskan semua sandera. Pada hari itu, , tank-tank Israel dikerahkan ke perbatasan Gaza.

Video yang dirilis militer Israel hari itu menunjukkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, pasukan darat Israel kembali memasuki wilayah Jabaliya di Gaza Utara, untuk mencegah teroris Hamas kembali beroperasi di daerah tersebut.

Sehari sebelumnya, Netanyahu menyatakan bahwa ia akan menyetujui rencana militer untuk mengambil alih Gaza dan mengalahkan Hamas.

Sumber : NTDTV.com

Mengapa Perang Rusia–Ukraina Tak Pernah Usai? Jawabannya Ada di Tiongkok dan Putin

EtIndonesia. Pertanyaan besar kembali mengemuka: mengapa perang Rusia–Ukraina begitu sulit dihentikan? Sejumlah analis menilai jawabannya terletak pada kombinasi faktor geopolitik, ekonomi, hingga campur tangan negara besar seperti Tiongkok dan Amerika Serikat.

Lavrov: Pertemuan Putin–Zelenskyy Belum Akan Terjadi

Pada 22 Agustus 2025, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov menegaskan dalam wawancara dengan NBC bahwa hingga kini tidak ada rencana pertemuan antara Presiden Vladimir Putin dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy. Menurutnya, pertemuan hanya mungkin digelar apabila seluruh isu siap dibicarakan. Faktanya, hingga kini belum ada agenda konkret yang matang untuk dibawa ke meja perundingan.

Laporan Reuters mengungkapkan bahwa Putin justru mengajukan syarat berat. Rusia menuntut penguasaan penuh atas wilayah Donbas, sementara di dua provinsi lain hanya ditawarkan pembekuan garis depan tanpa pengembalian teritorial. Dalam tawaran tersebut, Rusia bersedia “menukar” 440 km² wilayah dengan syarat Ukraina menyerahkan 6.600 km²—sebuah kesepakatan yang hampir mustahil diterima Kyiv.

Zelenskyy, NATO, dan Persoalan Kedaulatan

Profesor Ming Juzheng dari Universitas Nasional Taiwan menilai Zelenskyy tidak mungkin menyetujui syarat tersebut. Pasalnya, Ukraina telah mencantumkan target keanggotaan NATO dalam konstitusi negara. Menyerahkan wilayah berarti mengorbankan kedaulatan, yang akan memicu gelombang besar penolakan politik domestik maupun internasional.

Di sisi lain, Donald Trump yang kini berperan sebagai mediator terlihat berusaha merangkul Putin. Strategi ini dinilai untuk memberi ruang lebih leluasa bagi Amerika Serikat dalam menghadapi Tiongkok. Namun, kenyataan politik menunjukkan bahwa Rusia sangat bergantung pada dukungan Beijing. Tanpa Tiongkok, Rusia diyakini sudah lama runtuh baik dari sisi militer maupun ekonomi. Karena itu, sulit membayangkan Putin rela melepaskan hubungan erat dengan Beijing.

Sejumlah pengamat bahkan memperingatkan bahwa ambisi Trump untuk segera menghentikan perang bisa berujung pada “efek Munich 1938”—kompromi yang justru membuka pintu bagi agresi baru.

Bayangan Ancaman Baru dari Moskow dan Beijing

Isu sensitif muncul: jika Rusia semakin terpojok, mungkinkah Tiongkok benar-benar mencampuri politik internal Moskow? Spekulasi beredar bahwa Beijing bisa mendorong kebangkitan kembali Partai Komunis Rusia, atau bahkan menempatkan pasukan di Siberia—wilayah kaya sumber daya namun minim penduduk.

Lebih jauh lagi, sejumlah media Rusia sempat melontarkan wacana menyerang Jepang dengan 200–250 rudal jelajah. Padahal, di medan perang Ukraina, pasukan Rusia masih menghadapi kesulitan besar. Menurut para analis, retorika itu lebih sebagai ancaman strategis untuk mencegah Jepang atau sekutu Barat lainnya memanfaatkan kondisi jika Moskow kalah.

Gejolak Ekonomi Rusia

Konflik berkepanjangan ini juga meluluhlantakkan perekonomian Rusia. Pada Juli 2025, masyarakat Rusia menarik uang tunai hingga 16 triliun rubel (sekitar Rp 6.000 triliun) dari bank—angka tertinggi sepanjang sejarah. Fenomena ini mencerminkan ketakutan publik terhadap potensi krisis sistem keuangan.

Defisit anggaran Rusia tahun 2025 diperkirakan mencapai 4,9 triliun rubel. Situasi makin sulit akibat harga bahan bakar yang meroket. SPBU di berbagai kota dilaporkan mengalami antrean panjang akibat penurunan produksi minyak.

Strategi Amerika Serikat: Mengamankan Mineral Langka

Di sisi lain, Amerika Serikat melalui Departemen Pertahanan melakukan langkah antisipatif dengan membeli mineral langka dalam jumlah besar. Fokus utama adalah logam barium dengan nilai cadangan strategis mencapai 5 miliar dolar AS.

Logam ini berperan vital dalam berbagai sektor, mulai dari produksi baterai, mesin jet, amunisi, hingga sistem pertahanan. Pembelian masif ini tidak hanya ditujukan untuk kebutuhan militer, tetapi juga untuk mengurangi ketergantungan pada Tiongkok. Sebagai catatan, sejak Juni lalu Beijing memperketat ekspor logam tanah jarang, sehingga Washington bergerak cepat mengamankan pasokan alternatif.

Bagaimana Logam Beracun dalam Makanan Sehari-hari Dapat Merusak Jantung Anda

Bahkan seiring waktu paparan kecil yang rutin dapat menumpuk dalam tubuh 

Ellen Wan

Mereka tertata rapi di rak dapur kita—roti, nasi, makanan laut, bahkan bubuk protein—makanan yang kita percaya untuk memberi gizi. Namun, tersembunyi dalam bahan pokok ini ada ancaman sunyi: logam berat beracun. 

Semakin banyak penelitian yang mengaitkan kontaminan tak kasat mata ini dengan penyakit jantung, menunjukkan bagaimana bahkan paparan kecil setiap hari dapat menumpuk seiring waktu, diam-diam menggerogoti kesehatan kardiovaskular.

Logam Berat dalam Makanan

Tzung-Hai Yen, direktur Clinical Poison Center di Chang Gung Memorial Hospital di Taiwan sekaligus pakar toksikologi dan nefrologi, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa logam berat seperti timbal, kadmium, dan merkuri banyak terdapat di lingkungan. Kadmium, khususnya, lebih mudah diserap oleh tanaman, sayuran, dan padi dibanding logam berat lain, sehingga menjadikan makanan sebagai sumber paparan utama.


Makanan Laut

“Makanan laut adalah salah satu sumber paparan logam berat yang paling umum,” kata Chung-Yin Lin, peneliti asosiasi di Institute for Radiological Research, Chang Gung University di Taiwan.

Logam berat masuk ke rantai makanan laut melalui bioakumulasi—sebuah proses di mana polutan seperti merkuri atau kadmium menumpuk dalam organisme hidup seiring waktu. Dimulai ketika plankton kecil menyerap kontaminan dari air. Ikan kecil memakan plankton, kemudian ikan besar memakan ikan kecil, dan seterusnya. Pada setiap langkah, konsentrasi logam berat meningkat.

“Ikan predator besar—seperti tuna, ikan todak, dan tenggiri raja—sering memiliki kadar tertinggi. Kerang-kerangan seperti udang dan kepiting juga dapat menumpuk arsenik anorganik beracun,” kata Lin.


Roti

Kontaminasi logam berat dalam roti bisa terjadi di berbagai tahap. Menurut Lin, gandum dapat menyerap logam seperti timbal atau kadmium dari tanah, pupuk, atau air irigasi yang terkontaminasi bahkan sebelum dipanen. Kontaminasi tambahan bisa masuk saat pemrosesan—bahan seperti garam, ragi, dan soda kue dapat membawa jejak logam dari proses produksinya sendiri, pengemasan, atau peralatan penyimpanan. Misalnya, garam dari daerah tertentu bisa mengandung logam berat alami, sementara soda kue dapat menyerap kontaminan selama pembuatan.

Meskipun jumlah kecil ini tampak sepele, paparan jangka panjang melalui makanan pokok sehari-hari seperti roti dapat berdampak nyata bagi kesehatan. Pemahaman akan risiko ini mendorong peneliti menyelidiki apakah konsumsi roti—terutama yang terkontaminasi logam berat—dapat berkontribusi pada masalah kesehatan kronis seperti penyakit kardiovaskular.

Sebuah studi Januari yang diterbitkan di Scientific Reports menyelidiki hubungan antara konsumsi roti dan kesehatan kardiovaskular. Peneliti menganalisis pola makan dan data kesehatan dari 180 orang dewasa—90 didiagnosis dengan penyakit kardiovaskular dan 90 tanpa kondisi tersebut. Mereka mengukur kadar logam berat pada sampel roti yang dikonsumsi peserta lalu membandingkannya dengan tingkat penyakit.

Hasilnya mengejutkan: setiap tambahan satu porsi harian roti yang terkontaminasi logam berat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular sebesar 12 persen, bahkan setelah disesuaikan dengan faktor lain seperti usia, jenis kelamin, status merokok, dan pola makan keseluruhan. Temuan ini menunjukkan bahwa roti—sering dianggap sebagai makanan pokok sehat—dapat diam-diam menjadi kontributor risiko penyakit jantung bila dibuat dari bahan yang terkontaminasi.


Nasi

Pada Mei lalu, Healthy Babies Bright Futures merilis laporan yang menganalisis 145 sampel nasi dari berbagai merek—baik lokal maupun impor—yang dibeli di seluruh Amerika Serikat. Studi tersebut mendeteksi beberapa logam berat, termasuk arsenik anorganik, kadmium, timbal, dan merkuri, dengan arsenik anorganik ditemukan pada konsentrasi tertinggi.

Laporan itu meneliti 10 jenis biji-bijian dan 105 merek beras di 20 kota besar AS. Temuan kuncinya:

  • Arsenik anorganik terdeteksi di setiap sampel beras yang diuji.
  • Lebih dari seperempat sampel melebihi batas FDA untuk arsenik anorganik dalam sereal beras bayi.
  • Kadmium ditemukan pada hampir semua sampel.
  • Beras cokelat yang ditanam di wilayah Tenggara AS—atau diberi label “Grown in the USA”—memiliki kadar rata-rata logam berat tertinggi.

Karena nasi merupakan makanan pokok, bahkan jumlah kecil logam berat dapat menumpuk seiring waktu.

Sebuah studi tahun 2024 menunjukkan bahwa konsumsi nasi yang terkontaminasi logam berat dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular sebesar 18 persen. Arsenik, khususnya, terkait dengan peningkatan risiko 49 persen.


Cabai

Sebuah studi yang menganalisis 21 unsur esensial dan beracun pada cabai segar, kering, dan olahan menemukan bahwa semua sampel mengandung unsur beracun seperti timbal, kadmium, dan arsenik. Merkuri juga terdeteksi pada sejumlah kecil sampel.


Bubuk Protein

Bubuk protein adalah salah satu suplemen makanan paling banyak digunakan di Amerika Serikat, dengan pendapatan melebihi 9,6 miliar dolar AS pada 2023. Namun, studi terbaru melaporkan bahwa banyak bubuk protein komersial mengandung logam berat seperti timbal dan kadmium.

Studi ini menguji 160 bubuk protein dari 70 merek ternama dan menemukan kadar timbal tinggi pada sebagian besar produk. Menariknya, 77 persen bubuk protein nabati, 79 persen bubuk protein organik, dan 65 persen bubuk protein rasa cokelat melebihi ambang batas keamanan yang ditetapkan oleh California Proposition 65.

Hasil studi juga mengungkapkan bahwa bubuk protein organik memiliki tingkat kontaminasi lebih tinggi dibanding nonorganik, dengan rata-rata konsentrasi timbal tiga kali lipat lebih tinggi dan kadmium dua kali lebih tinggi.

Selain itu, bubuk protein nabati menunjukkan kontaminasi paling parah—kadar kadmium lima kali lebih tinggi dan timbal tiga kali lebih tinggi dibanding alternatif berbasis whey.

Di antara semua rasa, bubuk protein rasa cokelat mengandung konsentrasi logam berat tertinggi, jauh melebihi yang ditemukan pada rasa vanila dan varian lainnya.


Mengapa Logam Berat Merusak Jantung

Logam berat bisa masuk ke makanan kita sehari-hari melalui berbagai sumber. Lalu, bagaimana tepatnya mereka merusak jantung dan pembuluh darah?

Menurut sebuah artikel ulasan yang diterbitkan pada 2024, begitu berada di dalam tubuh, logam berat dapat memicu serangkaian efek berbahaya:

  • Menghasilkan stres oksidatif: Logam berat menghasilkan molekul oksigen reaktif yang merusak pertahanan alami tubuh.
  • Memicu peradangan: Logam berat mengiritasi lapisan pembuluh darah, membuatnya kurang elastis.
  • Mengganggu keseimbangan nutrisi: Logam berat mengacaukan mineral penting seperti kalsium dan seng.
  • Mengubah regulasi gen: Logam berat mempengaruhi bagaimana gen tertentu diaktifkan atau dimatikan tanpa mengubah DNA itu sendiri, yang berpotensi memengaruhi fungsi sel.

Seiring waktu, proses ini meningkatkan risiko masalah kardiovaskular, termasuk aterosklerosis, tekanan darah tinggi, serangan jantung, dan stroke.


Cara Mengurangi Paparan Logam Berat

Logam berat sulit dihilangkan begitu masuk ke dalam tubuh. Beberapa memiliki paruh biologis 10 hingga 30 tahun, dan sistem detoksifikasi alami tubuh mungkin tidak cukup untuk menangani paparan jangka panjang meskipun pada tingkat rendah, kata Yen. Karena itu, penting untuk menghindari makanan dengan kadar logam berat tinggi.

Para ahli merekomendasikan beberapa langkah praktis untuk mengurangi asupan logam berat melalui makanan:

  • Pilih ikan kecil: Konsumsilah ikan segar dengan panjang 10–30 cm, karena ikan predator besar cenderung mengandung lebih banyak merkuri dan logam lain.
  • Batasi porsi ikan laut dalam dan ikan mentah: Jangan lebih dari 80 gram per minggu—sekitar setengah telapak tangan atau 3–4 potong sashimi—bagi orang dengan berat badan sekitar 50 kg. Ibu hamil dan anak di bawah 6 tahun sebaiknya menghindari ikan laut dalam sama sekali.
  • Cuci beras dengan baik: Bilas beras setidaknya tiga kali sebelum dimasak untuk mengurangi kadar arsenik. “Arsenik larut dalam air, jadi langkah sederhana ini bisa secara signifikan menurunkan kadarnya pada beras dan hasil pertanian lain,” kata Yen.
  • Hindari jeroan: Batasi atau hindari makanan seperti hati babi, hati ayam, dan ampela ayam yang sering menumpuk logam berat, kata Ming-Wei Chao, seorang toksikolog bersertifikat dari American Society of Toxicology.

Mendukung Detoksifikasi dengan Diet dan Herbal

Beberapa herbal dapat membantu melindungi tubuh dari toksisitas logam berat. Misalnya, jintan hitam (Nigella sativa) terbukti memiliki efek protektif terhadap keracunan logam berat.

Jingduan Yang, CEO Northern Medical Center di New York, membagikan resep tradisional yang diyakini dapat mendukung proses detoksifikasi alami tubuh.

Sup Kacang Hijau dan Artemisia

Sup ringan ini mengombinasikan herbal dan kacang yang bersifat detoksifikasi, telah lama dihargai dalam tradisi Timur.

Bahan:

  • 12 gram jamur kuping hitam
  • 20 gram kacang hijau (mung beans)
  • 6 gram artemisia
  • 3 gram kulit jeruk kering
  • 4 cangkir air

Cara membuat:

  1. Cuci bersih jamur kuping hitam dan kacang hijau, lalu rendam masing-masing selama 2 jam.
  2. Cuci bersih artemisia dan kulit jeruk.
  3. Masukkan semua bahan ke dalam panci.
  4. Rebus hingga mendidih, lalu kecilkan api dan masak hingga semua bahan menjadi empuk.

Jamur kuping hitam mengandung senyawa nabati seperti gelatin yang dapat membantu mengikat logam berat dan memfasilitasi pengeluarannya dari tubuh. Artemisia, herbal dari keluarga aster, dikenal memiliki sifat diuretik dan merangsang keringat. Kacang hijau juga secara tradisional dihargai karena efek detoksifikasinya, jelas Yang.