“Saya benar-benar mengatakan kepada FBI di lima negara bagian hari ini bahwa saya bersedia secara pengorbanan membunuh POTUS ini,” tulis Nathalie Jones di Facebook.
EtIndonesia. Seorang wanita yang mengancam akan membunuh Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah ditangkap dan didakwa, demikian diumumkan oleh jaksa federal pada 18 Agustus.
Nathalie Rose Jones, 50 tahun, mengancam Trump dalam unggahan di media sosial.
“Saya benar-benar mengatakan kepada FBI di lima negara bagian hari ini bahwa saya bersedia secara pengorbanan membunuh POTUS ini,” tulis Jones di Facebook pada 6 Agustus, menurut sebuah unggahan yang ditinjau oleh The Epoch Times.
Jones, yang menulis di Facebook bahwa ia baru saja pindah ke New York, didakwa melanggar undang-undang yang melarang ancaman terhadap presiden serta mengeluarkan permintaan tebusan.
Sebuah affidavit (pernyataan tertulis sumpah) yang mendukung dakwaan, diperoleh oleh The Epoch Times, menyebutkan unggahan lain dari Jones di Facebook, termasuk unggahan pada 14 Agustus di mana ia mendesak Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk “mengatur penangkapan dan upacara pemecatan POTUS Trump sebagai seorang teroris.”
Menurut berkas pengadilan, Jones mengatakan kepada agen Secret Service dalam sebuah wawancara pada 15 Agustus bahwa ia akan membunuh Trump jika diberi kesempatan.
Ia juga menyatakan ingin “membalas dendam” atas semua nyawa yang hilang selama pandemi COVID-19, yang ia salahkan pada Trump dan pemerintahannya, demikian isi affidavit.
Pandemi dimulai pada 2020. Trump menjabat hingga awal 2021, kemudian kembali untuk masa jabatan kedua pada Januari tahun ini, setelah pandemi berakhir.
“Gedung Putih berterima kasih kepada pria dan wanita pemberani kita di jajaran militer dan aparat yang setiap hari mempertaruhkan nyawa mereka untuk melindungi kehidupan Presiden Trump,” kata juru bicara Gedung Putih, Davis Ingle, melalui email kepada The Epoch Times.
Jones diwawancarai pada 16 Agustus saat melakukan protes terhadap pemerintahan Trump di depan Gedung Putih. Ia mengatakan kepada NewsNation bahwa ia menentang pengerahan personel Garda Nasional oleh Trump untuk menekan kejahatan di ibu kota negara, serta menyebut bahwa “rezim ini harus pergi, seluruh pemerintahannya.”
Menurut dokumen pengadilan, setelah itu personel Secret Service mendekati Jones. Ia mengakui telah mengancam Trump dan mengakui sebagai pengguna akun yang mengeluarkan ancaman tersebut. Pejabat mengatakan, mereka kemudian menangkapnya.
Jones tidak tercatat memiliki pengacara dalam dokumen pengadilan.
“Mengancam nyawa Presiden adalah salah satu kejahatan paling serius dan akan ditindak dengan cepat serta tanpa kompromi. Jangan salah—keadilan akan ditegakkan,” kata Jaksa Amerika Serikat untuk Distrik Columbia, Jeanine Pirro, dalam sebuah pernyataan.
“Kami menyampaikan rasa terima kasih terdalam kepada mitra penegak hukum kami yang berdedikasi, khususnya agen khusus Secret Service dari New York dan Washington, D.C., atas komitmen tanpa lelah mereka dalam melindungi para pemimpin kita dan bangsa kita.”
Pejabat FBI, Matt McCool, menambahkan bahwa “melindungi Presiden Amerika Serikat adalah prioritas tertinggi kami, dan setiap potensi ancaman akan ditangani dengan keseriusan penuh.” Ia mengatakan bahwa para agen “bertindak cepat dan tegas untuk menetralisir ancaman yang diduga ini sebelum bisa meningkat.” (asr)
Malaysia kembali diguncang insiden gangguan oleh kekuatan asing terkait Partai Komunis Tiongkok (PKT). Pada 15 Agustus 2025 pagi, titik informasi Falun Gong di landmark terkenal Kuala Lumpur, Tugu Negara, didatangi sekelompok pria dan wanita etnis Tionghoa yang merampas papan pameran. Lebih mengejutkan, kelompok ini mengaku berasal dari “kantor polisi Tiongkok”. Tindakan penindasan lintas negara ini menimbulkan kekhawatiran publik tentang pelanggaran terhadap kedaulatan nasional.
EtIndonesia. Sekelompok wanita dan pria Tionghoa yang mengaku sebagai polisi secara paksa mengambil papan-papan informasi tentang kebenaran Falun Gong di sebuah lokasi wisata utama di Malaysia. Hal demikian berdasarkan rekaman video dan kesaksian saksi mata.
Insiden itu terjadi pada Jumat (15/8/2025) di Tugu Negara, sebuah monumen terkenal di ibu kota Kuala Lumpur, tempat para praktisi Falun Gong setempat memiliki stan untuk menyuarakan kesadaran tentang pelanggaran hak asasi manusia di Tiongkok.
Seorang praktisi Falun Gong, yang hanya menyebut nama keluarganya Yong karena alasan keamanan, mengatakan sekelompok pria dan wanita Tiongkok tiba dengan sebuah bus pariwisata sekitar pukul 09.45 pagi waktu setempat, ketika ia sendirian menjaga stan tersebut. Mereka secara paksa merampas enam papan pameran tanpa menunjukkan bukti identitas atau kewenangan resmi, lalu pergi dengan bus tersebut. Yong mengatakan dirinya tidak mampu menghentikan mereka.
Rekaman video menunjukkan kelompok ini terdiri dari 7 pria dan 2 wanita. Saat ini, Ny. Yong sudah melapor ke kepolisian setempat dan kasusnya sedang dalam penyelidikan.
“Hal seperti ini seharusnya tidak terjadi di Malaysia,” katanya.
“Malaysia adalah negara hukum, saya benar-benar tidak mengerti bagaimana orang-orang ini bisa bertindak begitu sewenang-wenang, melakukan perbuatan melanggar hukum di siang bolong,” katanya.
“Saya berharap polisi segera bertindak, menyeret pelaku ke ranah hukum, dan mengembalikan keadilan serta rasa aman bagi masyarakat,” tambahnya.
Pada pagi hari 15 Agustus 2025, di Tugu Negara Kuala Lumpur, Malaysia, papan pameran informasi Falun Gong dirampas oleh sekelompok orang (sekitar sepuluh orang) yang diduga atas perintah Partai Komunis Tiongkok (PKT), lalu dimasukkan ke dalam mobil dan dibawa pergi. (Cuplikan video)Pada pagi hari 15 Agustus 2025, di Tugu Negara Kuala Lumpur, Malaysia, papan pameran informasi Falun Gong dirampas oleh sekelompok orang (sekitar sepuluh orang) yang diduga atas perintah Partai Komunis Tiongkok (PKT), lalu dimasukkan ke dalam mobil dan dibawa pergi. (Cuplikan video)
Kronologi Gangguan dari Individu yang Mengaku Polisi Tiongkok
Video memperlihatkan sebagian besar pria dan wanita itu mengenakan atasan putih dan celana hitam yang serupa. Video itu juga menampilkan plat nomor bus pariwisata tersebut, NDX 8862. Setelah ditelusuri, kendaraan tersebut terdaftar atas nama perusahaan pariwisata Acacia Leisure Sdn Bhd, yang merupakan anggota dari Malaysia-China Cultural Tourism Promotion Association (MICA).
“ Kalian tidak punya kewenangan untuk mengambil barang-barang saya. Kalian sedang melakukan tindak kriminal, tahu tidak?” terdengar Yong dalam bahasa Mandarin menegur kelompok itu di video.
Seorang pria Tionghoa, yang mencoba menutupi kamera, menjawab dalam bahasa Mandarin: “Kami tidak melanggar hukum.”
“Siapa yang mengutus kalian? Apakah Partai Komunis Tiongkok yang mengutus kalian?” tanya Yong dalam video.
Seorang pria Tionghoa lainnya akhirnya menjawab dengan mengatakan “pai chu suo” dalam bahasa Mandarin, yang berarti “kantor polisi.”
Menanggapi hal itu, Yong membantah klaim pria tersebut dengan mengatakan, “Kami punya hak asasi manusia [di Malaysia].”
Praktisi Falun Gong setempat mencatat bahwa penggunaan istilah “pai chu suo” itu tidak lazim, karena masyarakat Tionghoa di Malaysia biasanya menyebut kantor polisi dengan istilah Mandarin “jing cha ju” atau istilah Melayu “balai polis.”
The Epoch Times tidak dapat menghubungi kantor polisi setempat di Malaysia untuk memberikan komentar.
Penindasan Lintas Negara PKT Merambah Malaysia – Sulit Dipahami
Praktisi Falun Gong menegaskan bahwa ini bukan insiden pertama. Sebelumnya, kasus penangkapan ilegal “413” terhadap praktisi juga menimbulkan keprihatinan. Mereka merasa heran, mengapa penindasan yang sebelumnya hanya terjadi di Tiongkok kini merambah hingga Malaysia. Tindakan semacam ini, yang disebut sebagai penindasan lintas negara, dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan Malaysia.
Berbanding terbalik dengan gangguan yang dialami di Malaysia, Falun Gong justru banyak mendapatkan pengakuan di dunia internasional. Baru-baru ini, praktisi Falun Gong dari Malaysia dan beberapa negara lain diundang untuk mengikuti pawai budaya di Kota Batam, Kepulauan Riau dan menerima piagam penghargaan dari pemerintah setempat. Kegiatan tersebut dalam rangkat pawai HUT ke-80 Kemerdekaan RI.
Bahkan, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Batam, Kepulauan Riau, Zulkarnain, menyerahkan surat penghargaan kepada komunitas Falun Dafa.
“Di luar negeri kami diakui dan disambut baik, tapi mengapa di negara sendiri justru terjadi hal semacam ini?” ungkap seorang praktisi Falun Gong dengan penuh kebingungan. Mereka berharap masyarakat Malaysia dapat memahami bahwa gangguan seperti ini tidak semestinya terjadi, serta menyerukan agar masyarakat luas turut mencari tahu fakta sebenarnya.
Pada 10 Agustus 2025, praktisi Falun Gong dari Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Taiwan berpartisipasi dalam parade HUT ke-80 Kemerdekaan RI. (Minghui.org)Pada 10 Agustus 2025, Zulkarnain, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Pemerintah Kota Batam, menyampaikan surat penghargaan kepada Perkumpulan Falun Dafa. (Minghui.org)
Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah disiplin spiritual yang berlandaskan pada prinsip-prinsip Sejati, Baik, dan Sabar. Latihan ini sangat populer di Tiongkok pada tahun 1990-an, dengan sedikitnya 70 juta orang berlatih menurut perkiraan resmi. Namun pada 1999, Partai Komunis Tiongkok (PKT) menganggap latihan ini sebagai ancaman terhadap kekuasaannya dan melancarkan kampanye penganiayaan nasional.
Sejak saat itu, jutaan praktisi Falun Gong ditahan, ratusan ribu disiksa dalam penahanan, dan jumlah yang tidak terhitung dibunuh, menurut Pusat Informasi Falun Dafa.
Pada April lalu, pemimpin PKT Xi Jinping melakukan kunjungan kenegaraan ke Malaysia. Dua hari sebelum kedatangannya, sekitar dua lusin polisi menahan hampir 80 praktisi Falun Gong. Di antara yang ditangkap termasuk seorang anak berusia 10 tahun dan seorang wanita berusia lebih dari 80 tahun.
Di antara kelompok itu terdapat 29 orang asal Tiongkok yang sedang mencari perlindungan dari penganiayaan terhadap keyakinan mereka di negara asal. Beberapa di antaranya adalah pengungsi yang terdaftar di PBB. Sebanyak 47 warga negara Malaysia dibebaskan beberapa jam setelah Xi pergi, sementara warga Tiongkok dibebaskan dalam dua minggu berikutnya.
Departemen Luar Negeri AS menyatakan keprihatinannya atas penangkapan massal tersebut, yang merupakan kejadian pertama kalinya di Malaysia.
Seruan kepada Pemerintah: Tegakkan Kedaulatan, Lindungi Hak Asasi Manusia
Menyikapi insiden ini, praktisi Falun Gong di Malaysia menyerukan kepada pemerintah agar tidak terkecoh oleh propaganda fitnah dari Partai Komunis Tiongkok (PKT). Mereka menegaskan bahwa PKT tidak mewakili seluruh rakyat Tiongkok.
Selain itu, pemerintah diminta untuk menegakkan prinsip kedaulatan dan hak asasi manusia, tidak mengorbankan kebebasan dasar demi kepentingan ekonomi, serta sungguh-sungguh melindungi kebebasan berkeyakinan warga negaranya.
EtIndonesia. Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 4,9 mengguncang wilayah Jakarta dan sekitarnya, Rabu (20/8) pukul 19.54 WIB. Hasil analisis data seismik sementara, pusat gempa bumi tersebut berada di darat pada titik koordinat 6.48 LS dan 107.24 BT atau 14 kilometer sebelah tenggara Kabupaten Bekasi dengan kedalaman 10 kilometer.
Hampir sebagian besar masyarakat Jakarta merasakan guncangan selama 1-4 detik. Merasakan guncangan tersebut, banyak warga berhamburan keluar rumah maupun gedung-gedung pencakar langit.
Sementara itu, guncangan gempa bumi juga dirasakan dengan intensitas sedang hingga kuat oleh masyarakat di sejumlah wilayah seperti Kota Depok, Kota dan Kabupaten Bekasi, Kota dan Kabupaten Bogor, Kabupaten Karawang hingga Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
Merespon hal tersebut, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto segera memerintahkan jajaran untuk melakukan koordinasi awal untuk monitoring lapangan dan kaji cepat dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) baik di Provinsi Jakarta, Kota/Kabupaten Bekasi, Tangerang dan sekitarnya.
“Segera cek dan laporkan,” pinta Kepala BNPB dalam siaran pers Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.
Sampai siaran pers ini diturunkan, belum ada laporan mengenai dampak kerusakan infrastruktur maupun korban jiwa. Perkembangan situasi dan kondisi di lapangan akan disampaikan dalam beberapa waktu ke depan secara berkala.
Masyarakat diharapkan tidak panik namun tetap meningkatkan kewaspadaan untuk potensi gempa bumi susulan. Hingga pukul 20.35 WIB terjadi satu kali gempa susulan dengan magnitudo (M) 2.1.
Demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, masyarakat diharap menjauhi bangunan yang retak maupun yang berpotensi roboh. Jauhi kaca dan segala jenis benda yang dapat melukai jika terjatuh akibat guncangan gempa bumi. Bagi masyarakat yang sedang berada atau tinggal di gedung yang tinggi, hindari penggunaan lift untuk sementara. Gunakan akses keluar melalui tangga dan pintu darurat.
Sebagai upaya peningkatan sistem peringatan dini, masyarakat dapat membuat alarm sederhana dari barang perkakas rumah tangga seperti kaleng bekas atau panci yang disusun ke atas. Jika terjadi gempa, barang-barang tersebut akan terjatuh dan menimbulkan bunyi-bunyian, sehingga masyarakat dapat segera menyelamatkan diri keluar bangunan atau gedung.
Beredar Video Dengan Narasi yang Tidak Benar
Dalam momentum yang hampir bersamaan, atau sesaat setelah terjadi gempa bumi, beredar potongan video yang menunjukkan kerusakan bangunan Puskesmas Purwasari Karawang, Jawa Barat, dengan narasi bahwa hal itu terjadi akibat gempa. Namun faktanya, kerusakan bagian depan gedung dan teras puskesmas tersebut disebabkan oleh hujan disertai angin kencang yang terjadi pada Rabu (20/8) sore menjelang petang.
Masyarakat diharapkan tidak terpengaruh oleh berita atau kabar yang belum dapat dipastikan kebenarannya terkait gempa bumi yang baru saja terjadi. Perbarui dan cek perkembangan informasi dari sejumlah instansi terkait seperti BNPB, BMKG, BPBD, TNI, Polri serta pihak berwenang lainnya. (asr)
EtIndonesia. Seorang wanita Tiongkok bernama Chen Hong, yang dihukum karena penipuan di Provinsi Shanxi, memanfaatkan celah hukum untuk menghindari hukuman penjara lima tahun. Menurut hukum Tiongkok, wanita hamil atau menyusui dapat menjalani hukuman mereka di luar penjara di bawah pengawasan otoritas setempat. Chen Hong memanfaatkan ketentuan ini dan melahirkan tiga anak dengan pria yang sama selama empat tahun, yang secara efektif menunda hukuman penjaranya, South China Morning Post melaporkan.
Selama inspeksi pada bulan Mei, pihak berwenang menemukan bahwa dia telah melahirkan anak ketiga, tetapi pendaftaran rumah tangga bayi tersebut menggunakan nama saudara iparnya, yang secara efektif menjadikan anak tersebut sebagai anak saudara iparnya.
Hong mengaku telah bercerai, dan dua anak pertamanya tinggal bersama mantan suaminya, sementara dia menyerahkan anak ketiganya kepada saudara perempuan mantan suaminya. Kejaksaan setempat menduga Chen memanfaatkan kehamilan untuk menghindari hukuman penjara dan menyarankan agar dia dipenjara.
Dengan sisa hukuman kurang dari satu tahun, Chen Hong dikirim ke pusat penahanan untuk menjalani masa hukumannya, alih-alih dipenjara. Pihak berwenang mengambil langkah-langkah untuk memastikan dia memahami hukum dan bersedia mematuhinya, dengan kejaksaan dan pengadilan setempat mengirimkan staf untuk menjelaskan kewajibannya dan memfasilitasi transisi yang lancar menuju masa hukumannya.
Para pengguna media sosial di Tiongkok terkejut dan geram dengan kasus Chen Hong, banyak yang mempertanyakan celah hukum Tiongkok.
Seorang pengguna menulis: “Saya kasihan pada ketiga anak yang lahir hanya karena ibu mereka ingin melarikan diri dari penjara.”
Yang lain berkomentar: “Saya lebih terkejut lagi karena dia bisa hamil kapan pun dia mau.”
Bukan Kasus Pertama
Taktik ini bukan hanya dilakukan Chen Hong. Seorang perempuan lain, Zeng, yang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena korupsi pada tahun 2005, mengaku telah hamil 14 kali dalam 10 tahun, 13 di antaranya benar, untuk menghindari penjara. Dia akhirnya mulai menjalani hukumannya setelah satu dekade.
Di Tiongkok, narapidana tertentu dapat menjalani hukumannya di luar penjara dalam kondisi tertentu. Kondisi ini meliputi:
-Penyakit Berat: Narapidana yang menderita penyakit parah dapat diizinkan menjalani hukumannya di luar penjara. -Kehamilan dan Menyusui: Ibu hamil dan ibu menyusui bayi baru lahir juga dapat menjalani hukumannya di luar penjara, biasanya di rumah atau di rumah sakit. -Ketidakmampuan Hidup Mandiri: Narapidana yang tidak mampu mengurus diri sendiri karena kondisi fisik atau mental juga dapat memenuhi syarat.
Mereka yang menjalani hukumannya di luar penjara biasanya ditempatkan di bawah pengawasan masyarakat, diawasi oleh lembaga pemasyarakatan masyarakat setempat. Pengawasan tersebut meliputi pelaporan rutin, inspeksi, dan pelayanan masyarakat. Narapidana diwajibkan untuk menyerahkan laporan pemeriksaan penyakit atau kehamilan setiap tiga bulan. (yn)
EtIndonesia. The Eye of Jinxi, rumah paku paling terkenal di Provinsi Jianxi, Tiongkok, baru-baru ini ditinggalkan pemiliknya karena tidak tahan dengan kebisingan mobil yang lalu lalang di depan rumahnya.
The Eye of Jinxi menjadi berita utama di Tiongkok pada bulan April, ketika jalan raya yang dibangun di sekitarnya diresmikan. Seperti pemilik rumah paku lainnya di seluruh negeri Asia, Huang Ping (nama samaran) menolak tawaran pemerintah daerah untuk membeli propertinya dan memutuskan untuk tetap teguh pada pendiriannya meskipun semua orang di daerah itu telah pindah.
Pada suatu saat, Huang mendapatkan paket kompensasi yang cukup besar, sekitar 1,6 juta yuan (sekitar Rp 3,6 miliar), tetapi tidak menyetujui syarat pembayaran dalam dua kali cicilan.
Dia akan menyesali keputusannya, karena pemerintah memutuskan untuk membangun jalan di sekitar propertinya, mengubahnya menjadi rumah paku yang terisolasi.
Tanpa peredam suara sama sekali, rumah paku tersebut, yang tampak seperti mata di tengah jalan raya baru jika dilihat dari atas, menjadi hampir tidak layak huni ketika lalu lintas mulai lancar pada bulan April. Huang dan keluarganya bertahan selama mungkin, tetapi kebisingan dan ketakutan yang terus-menerus dari truk-truk besar yang lewat akhirnya memaksa mereka keluar.
Tidak jelas kapan keluarga tersebut pindah, tetapi orang-orang mulai memperhatikan jendela-jendela rumah yang pecah dan rumput liar yang tumbuh di sekitarnya bulan lalu.
Dihubungi oleh media berita lokal, pemilik Mata Jinxi mengonfirmasi bahwa dia dan keluarganya telah meninggalkan properti tersebut karena kebisingan dan ketakutan lalu lintas yang tak henti-hentinya.
Mereka lebih suka menyewa rumah di kota terdekat, dan tidak tahu apa yang akan terjadi pada properti lama mereka. Bahkan jika rumah paku tersebut dihancurkan, Huang hanya akan menerima sebagian kecil dari kompensasi yang awalnya ditawarkan kepadanya.
“Kamu harus punya hati yang kuat untuk menghadapi ejekan penduduk desa,” ejek seseorang di Weibo.
“Sejujurnya, di daerah pegunungan terpencil ini, jika negara tidak membangun jalan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, berapa harga jual rumahmu? Apakah ada yang mau membelinya?” tulis orang lain.(yn)
EtIndonesia. Dalam perjalanan hidup manusia, selalu ada beberapa hal atau beberapa orang yang terus berputar di dalam hati, sulit untuk dilepaskan. Bisa jadi itu adalah keinginan yang belum tercapai, penyesalan yang terpendam, atau perasaan yang tak mampu dilupakan. Kita menyebutnya “obsesi”. Dia seperti angin—kadang lembut, kadang kencang, bahkan bisa mengguncang hati hingga menimbulkan gelombang besar yang membuat kita resah dan sulit tidur.
Namun, jika dipikir lebih dalam, obsesi bukanlah sesuatu yang lahir begitu saja. Dia biasanya muncul dari keterikatan kita pada hasil, kerinduan pada masa lalu, atau kekhawatiran akan masa depan. Terkadang dia adalah kelanjutan dari cinta, terkadang akumulasi luka, dan kadang hanya tarik-menarik antara diri sendiri dengan realitas. Sama seperti angin—dia tak memiliki wujud, tapi mampu membuat dedaunan berguguran atau gelombang laut bergelora. Hati kita, ibarat daun dan permukaan laut itu.
Melepaskan obsesi bukan berarti menyerah, melainkan memilih untuk berdamai dengan diri sendiri. Saat kita menggenggam erat pasir di tangan, semakin kuat kita menekannya, semakin cepat pula pasir itu mengalir pergi. Sebaliknya, jika kita merelakan, mungkin angin akan membawa pasir itu pergi, tapi tangan kita pun menjadi ringan dan bebas.
Aku pernah mendengar seorang bijak berkata: “Hidup ini seperti perjalanan. Ada orang yang akan menemanimu sangat lama, ada juga yang hanya muncul sebentar di satu pemberhentian. Tugasmu bukanlah menahan mereka agar tetap tinggal, melainkan berterima kasih atas kebersamaan yang pernah ada.”
Kata-kata itu membuatku sadar, obsesi hanyalah alasan kita untuk menolak menerima perubahan. Kita takut kehilangan, padahal hidup memang tak lepas dari rangkaian pertemuan dan perpisahan, dari memiliki dan melepas.
Ketika kita mau membiarkan obsesi itu tersebar bagaikan angin, hati akan perlahan menjadi jernih. Kejernihan ini bukan berarti kosong dari pikiran, melainkan mengerti apa yang pantas disimpan dan apa yang sebaiknya dibiarkan pergi. Hati yang jernih tak lagi terikat pada masa lalu, tak lagi cemas pada masa depan, melainkan fokus pada setiap tarikan napas dan rasa syukur di saat ini.
Kalau obsesi itu bagaikan angin, maka belajar melepaskannya adalah seperti membuka jendela. Angin dari luar memang bisa membuat kertas berantakan, tapi juga bisa membawa udara segar. Demikian pula obsesi—dia bisa merusak ketenangan, tapi setelah dilepaskan justru menghadirkan kebebasan. Pilihan itu selalu ada di tangan kita sendiri.
Jadi, saat merasa hati terlalu berat oleh sesuatu, cobalah bertanya: Apakah obsesi ini benar-benar layak menguras begitu banyak tenaga dan pikiran? Apakah ia memberiku kekuatan, atau justru membuatku terbelenggu? Jika jawabannya yang kedua, maka biarkan saja ia pergi bersama angin.
Karena hanya ketika angin itu reda, kita bisa mendengar suara hati yang paling jujur—suara yang penuh ketenangan, kebebasan, dan tanda dimulainya langkah baru.
Obsesi bagaikan angin, saat tersebar hati menjadi jernih. Ini bukan sekadar filsafat kosong, melainkan pengingat paling lembut dalam hidup: kita selalu bisa memilih untuk berjalan lebih ringan, menghemat waktu dan tenaga, dan memberikannya hanya untuk orang serta hal yang benar-benar layak. Dengan begitu, hidup kita akan lebih tenteram dan damai. (jhn/yn)
EtIndonesia. Pemerintahan Kota New York City, Amerika Serikat mengonfirmasi kasus wabah penyakit Legionnaires. Departemen Kesehatan setempat pada 13 Agustus melaporkan, sebuah klaster komunitas penyakit Legionnaires telah teridentifikasi di lingkungan Harlem, New York City, dengan 92 kasus infeksi yang terkonfirmasi.
“Jika Anda tinggal atau bekerja di daerah tersebut dan mengalami gejala mirip flu, segera temui penyedia layanan kesehatan. Gejala termasuk batuk, demam, menggigil, nyeri otot, dan sesak napas,” demikian isi pernyataan otoritas kesehatan setempat.
Saat ini, 15 orang masih dirawat di rumah sakit, dan tiga orang telah meninggal dunia dalam wabah ini, tambah pernyataan itu.
Penyakit Legionnaires adalah jenis pneumonia yang disebabkan oleh bakteri Legionella pneumophila, yang berkembang biak di air hangat, demikian Departemen Kesehatan NYC dalam pembaruan sebelumnya. Orang terinfeksi ketika mereka menghirup uap air yang mengandung bakteri tersebut.
Penyakit ini bisa ditimbulkan oleh sistem perpipaan dengan kondisi yang mendukung pertumbuhan bakteri, seperti kondensor evaporatif pada sistem pendingin udara berkapasitas besar, pelembap udara, bak mandi air panas (hot tub), dan menara pendingin (cooling tower).
Untuk diketahui, menara pendingin di New York dan kota-kota besar lainnya berfungsi membuang panas dari sistem pendingin (AC sentral, sistem industri, atau pembangkit listrik) dengan cara menguapkan sebagian air. Air panas dari sistem dialirkan ke menara, disemprotkan, lalu sebagian menguap sambil menyerap panas—sehingga sisa air yang lebih dingin dikembalikan lagi ke sistem pendingin.
Departemen Kesehatan setempat menemukan 11 menara pendingin di Central Harlem yang menunjukkan adanya bakteri Legionella.
Dalam pernyataan terbarunya, Departemen Kesehatan New York mengatakan bahwa “setiap menara pendingin yang hasil awalnya positif terhadap bakteri Legionella telah menjalani perawatan sesuai ketentuan Departemen Kesehatan.”
“Kami terus memantau dan memberi tahu gedung-gedung jika diperlukan perawatan tambahan,” tambahnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa sistem perpipaan sebuah gedung terpisah dari sistem menara pendinginnya.
“Wabah komunitas ini tidak terkait dengan pasokan air panas atau dingin di sebuah gedung,” katanya. “Warga di kode pos ini tetap dapat minum air, mandi, berendam, memasak, dan menggunakan pendingin ruangan.”
Wali Kota New York Eric Adams mengumumkan pada 14 Agustus bahwa sebuah menara ke-12 telah diidentifikasi dan akan menjalani remediasi pada akhir pekan itu.
Hanya orang yang menghirup uap air terkontaminasi yang berisiko tertular penyakit ini dan tidak menular dari orang ke orang.
Orang yang berisiko lebih tinggi terkena penyakit Legionnaires termasuk mereka yang merokok, memiliki penyakit paru kronis, berusia 50 tahun atau lebih, mengonsumsi obat yang melemahkan sistem kekebalan, atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Komplikasi akibat penyakit ini bisa berakibat fatal, menurut pernyataan tersebut.
Menurut unggahan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada September 2022, bakteri Legionella pneumophila pertama kali diidentifikasi pada 1977, setelah dilacak ke sebuah wabah penyakit di pusat konvensi di Amerika Serikat pada 1976.
Diperkirakan bakteri ini menginfeksi sekitar 10 hingga 15 orang per juta penduduk setiap tahun di Amerika Serikat, Australia, dan Eropa.
Dari kasus yang dilaporkan, pria menyumbang mayoritas yaitu 60 hingga 70 persen, sementara individu berusia di atas 50 tahun mencapai 75 hingga 80 persen dari total infeksi.
Penanggulangan Infeksi
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, gejala penyakit Legionnaires biasanya berkembang dua hingga 14 hari setelah terpapar bakteri. Dalam beberapa kasus, gejala mungkin muncul lebih lama.
Selain demam, sakit kepala, dan nyeri otot, penderita infeksi juga bisa mengalami kebingungan, mual, dan diare.
CDC merekomendasikan kunci pencegahan infeksi adalah dengan mengendalikan pertumbuhan dan penyebaran bakteri.
“Bangunan dan perangkat yang berisiko tinggi terhadap pertumbuhan dan penyebaran Legionella harus memiliki program pengelolaan air berdasarkan standar industri,” kata lembaga tersebut.
Pemilik menara pendingin, bak mandi air panas, air mancur dekoratif, serta atomizer, mister, pelembap, dan pembersih udara yang dipasang secara terpusat “harus mengikuti petunjuk pabrikan terkait pembersihan, desinfeksi, dan perawatan,” tambahnya.
Negara lainnya di Luar Amerika Serikat juga mengalami kasus penyakit Legionnaires dalam beberapa bulan terakhir.
Pada 8 Juli, Unit Kesehatan Middlesex-London mengumumkan wabah infeksi di London, Kanada. Saat itu, pihaknya menyarankan pengelola properti dan pemilik bisnis untuk “memastikan semua peralatan pendingin dirawat dan disanitasi secara teratur sesuai petunjuk pabrikan.”
Pada 5 Agustus, unit kesehatan tersebut mengumumkan berakhirnya wabah, dengan total 70 kasus Legionella, di mana 64 orang dirawat di rumah sakit dan tiga orang meninggal.
Pada Juni lalu, Dinas Kesehatan New South Wales di Australia mengeluarkan peringatan darurat Legionella bagi warga Sydney setelah tiga orang didiagnosis terinfeksi di kawasan Potts Point. Hingga 11 Agustus, tujuh kasus telah teridentifikasi di Potts Point, dengan rentang usia penderita antara 45 hingga 95 tahun.
EtIndonesia. Hidup ini seperti pasang surut ombak, dunia bagaikan awan yang terus berubah. Dalam perjalanan kita di tengah hiruk-pikuk dunia, selalu ada hal-hal yang sulit ditebak. Tawa yang hadir kemarin bisa saja berubah menjadi air mata hari ini; apa yang kita miliki saat ini mungkin esok akan lenyap begitu saja.
Seperti pepatah kuno berkata: “Hidup manusia ibarat kuda putih melintas celah kecil, begitu cepat dan singkat.”
Ketidakpastian adalah ritme alami kehidupan, bagian tak terpisahkan dari eksistensi kita. Namun, menghadapi ketidakpastian sering membuat kita cemas, takut, bahkan putus asa.
Kehilangan orang tercinta, perpisahan, sakit yang tiba-tiba, kegagalan dalam pekerjaan—semua datang bak badai mendadak yang membuat kita terhuyung tanpa persiapan. Tetapi jika kita mampu menjaga beningnya hati di tengah guncangan, maka meski badai datang, tetap ada cahaya kecil yang bersinar dalam diri. “Hati tenang membawa kedamaian”—itulah sikap terbaik dalam menghadapi perubahan hidup.
Ketenangan Hati: Bukan Menghindar, Tapi Mengerti
Hati yang tenang bukan berarti kosong tanpa pikiran, melainkan meski dunia riuh, batin tetap tak terguncang. Dia bukan lari dari kenyataan, melainkan kesadaran bahwa segalanya akan berlalu, baik derita maupun bahagia hanyalah awan yang lewat. Saat kita bersedia melepaskan keterikatan, tidak lagi menggenggam terlalu erat, hati perlahan menjadi damai. Dari situlah lahir keteguhan—sebuah kekuatan untuk berdiri kokoh meski diterpa badai.
Aku pernah membaca sebuah kalimat: “Penderitaan terbesar manusia berasal dari keinginan mengendalikan hal-hal yang tak bisa dikendalikan.”
Benar adanya—kita tak dapat menghentikan waktu, tak bisa memaksakan pilihan orang lain, dan tak mampu menentukan takdir. Namun, kita selalu bisa memilih bagaimana merespons. Kita bisa memilih untuk tidak mengeluh, tidak marah, tidak takut, hanya diam meresapi setiap tarikan napas, menerima momen kini. Hati pun menjadi jernih bagaikan danau, di mana kesedihan tenggelam ke dasar, sementara rembulan memantul dengan tenang di permukaan.
Belajar Menerima, Belajar Melepaskan
Sering kali, kedamaian sejati bukanlah berasal dari kenyamanan hidup di luar, melainkan dari penerimaan dan rekonsiliasi di dalam diri. Ketika kita berhenti bertanya “Kenapa harus aku?”, ketika kita tak lagi menyimpan dendam pada nasib, kita justru akan menyadari—setiap perubahan adalah pengingat: untuk menghargai saat ini, melihat keteguhan diri, dan belajar melepaskan.
Ada yang berkata, hal paling adil di dunia ini adalah “ketidakpastian”. Dia tak membeda-bedakan kaya atau miskin, mulia atau hina—semua orang harus menghadapinya. Justru karena itu, ketenangan hati menjadi begitu berharga. Orang yang mampu menjaga ketenangan, ibarat gunung yang tak terguncang badai; ibarat pelita yang tetap menyala di tengah kegelapan. Dimanapun ia berada, apapun yang ia alami, ia tetap bisa hidup dengan mantap dan tenteram.
Menemukan Kedamaian di Tengah Badai
Kita memang tak bisa memilih naskah kehidupan, tapi kita bisa memilih bagaimana memerankannya. Setiap badai adalah latihan, setiap masa sulit adalah tempaan. Selama hati tak kacau, dunia yang luas ini tetap punya tempat untuk kita. Selama hati tak gentar, sehebat apapun kekacauan dunia, kita tetap bisa berdiri teguh.
Maka, saat hidup terasa berat, saat lelah dan bingung melanda, duduklah sejenak dan bertanya pada diri sendiri: Apakah aku masih bernapas? Apakah aku masih bisa merasakan hangat matahari dan lembutnya angin? Jika ya, maka masih ada harapan, masih ada kesempatan untuk memilih ketenangan dan kelembutan hati.
Letakkan hati pada momen kini. Perhatikan bunga yang mekar, dengarkan suara angin, melangkahlah di jalan kecil. Meski dunia tak pasti, momen sederhana namun nyata itu akan mengingatkan kita pada esensi hidup, membuat hati bergetar dengan kelembutan.
Perjalanan hidup tak bisa diprediksi, hati tenang membawa kedamaian. Bukan hanya sebuah filosofi, tapi teman perjalanan terbaik di sepanjang hidup. Semoga kita semua mampu menemukan sepetak tanah suci di dalam hati, agar tak gentar menghadapi badai esok, dan tetap jernih di detik ini. (jhn/yn)
EtIndonesia. Kilang-kilang Tiongkok telah membeli 15 kargo minyak Rusia untuk pengiriman Oktober dan November karena permintaan India untuk ekspor Moskow menurun, ungkap dua analis dan satu pedagang pada hari Selasa (19/8).
India muncul sebagai pembeli utama minyak Rusia yang diangkut melalui laut, yang telah dijual dengan harga diskon sejak beberapa negara Barat menghindari pembelian dan memberlakukan pembatasan ekspor Rusia terkait invasi Moskow ke Ukraina pada tahun 2022.
Namun, kilang-kilang negara bagian India menghentikan pembelian minyak Rusia bulan lalu karena diskon tersebut menyempit. Presiden AS, Donald Trump juga mengancam akan menghukum negara-negara yang membeli minyak mentah Rusia.
Tiongkok telah mengamankan 15 kargo Ural Rusia untuk pengiriman Oktober-November hingga akhir pekan lalu, kata Richard Jones, analis minyak mentah di Energy Aspects yang berbasis di Singapura.
Setiap kargo Ural berukuran antara 700.000 hingga 1 juta barel.
Analis senior Kpler, Xu Muyu, menulis dalam laporan tertanggal 14 Agustus bahwa Tiongkok kemungkinan telah membeli sekitar 13 kargo minyak mentah Ural dan Varandey untuk pengiriman Oktober, bersama dengan setidaknya dua kargo Ural untuk November.
Tambahan pasokan Ural Rusia dapat mengekang minat kilang Tiongkok terhadap minyak mentah Timur Tengah, yang harganya 2 dolar hingga 3 dolar per barel lebih mahal, kata Xu.
Hal ini, pada gilirannya, dapat menambah tekanan lebih lanjut pada pasar Dubai yang sudah kehilangan momentum karena permintaan musiman memudar sementara persaingan dari pasokan arbitrase semakin intensif, tambahnya.
Sebuah sumber perdagangan setuju dengan perkiraan Kpler, menambahkan bahwa sebagian besar kargo dipesan pada awal bulan ini oleh kilang-kilang milik negara dan independen Tiongkok.
Tiongkok, importir minyak terbesar dunia dan pembeli minyak terbesar Rusia, terutama membeli minyak mentah ESPO yang diekspor dari pelabuhan Kozmino di Timur Jauh Rusia karena lokasinya yang dekat. Impor minyak mentah Ural tahun ini mencapai 50.000 barel per hari, menurut data Kpler.
Minyak mentah Ural dan Varandey biasanya dikirim ke India, menurut data Kpler.
Perusahaan penyulingan minyak negara India telah mengurangi impor minyak mentah Rusia sekitar 600.000 hingga 700.000 barel per hari, menurut Jones dari Energy Aspects.
“Kami tidak memperkirakan Tiongkok akan menyerap semua volume tambahan Rusia, karena Ural bukanlah grade beban dasar bagi perusahaan-perusahaan besar Tiongkok,” ujarnya, merujuk pada kilang-kilang negara Tiongkok yang tidak dirancang untuk memproses grade Rusia secara eksklusif.
Perusahaan penyulingan minyak Tiongkok juga akan waspada terhadap kemungkinan sanksi sekunder AS jika dorongan Trump untuk kesepakatan damai Ukraina gagal, tambahnya.
Trump mengatakan pada hari Jumat bahwa dia tidak perlu segera mempertimbangkan tarif pembalasan terhadap negara-negara seperti Tiongkok karena membeli minyak Rusia, tetapi mungkin harus melakukannya “dalam dua atau tiga minggu”.(yn)
EtIndonesia. Setiap orang dalam hidup pasti akan menghadapi berbagai persoalan—tantangan, ujian, terobosan, dan penemuan baru. Ada banyak hal yang pantas kita jelajahi lebih dalam.
Aku pun tak terkecuali. Setiap manusia pasti mengalami masa-masa surut, masa jatuh. Ketika itu datang, yang bisa kita lakukan hanyalah menerimanya dengan lapang dada. Mungkin kita pernah bertanya-tanya tentang masa lalu atau kehidupan sebelumnya, tapi sejatinya yang paling penting adalah bagaimana kita menjalani hidup kali ini. Jangan abaikan perasaan diri sendiri, karena hidup yang sekarang adalah yang paling utama. Hidup berarti berani menghadapi apa pun yang datang, menerima apa yang sudah digariskan, dan jika ada sesuatu yang sungguh kita inginkan, maka kita harus berani mengejarnya. Usaha pasti membawa hasil. Sekalipun hasilnya tak sesuai harapan, setidaknya kita telah berjuang sepenuh hati, sehingga tak ada penyesalan.
Perjalanan itu sendiri adalah hadiah. Seperti sebuah perjalanan panjang, usaha yang kita lakukan akan meninggalkan kenangan indah yang tak bisa dibeli dengan uang. Setiap perjalanan punya makna, dan hanya kita sendiri yang bisa memahami arti terdalamnya. Orang-orang yang kita temui di sepanjang jalan adalah bagian dari takdir. Ada yang sekadar singgah sebagai teman seperjalanan, ada yang menjadi guru, bahkan ada yang menjadi pasangan hidup.
Menghargai Setiap Pertemuan
Entah itu pertemuan baik atau sulit, setiap perjumpaan harus dihargai. Dunia ini begitu luas, bisa bertemu saja sudah merupakan sebuah keajaiban. Karena itu, berikan kelembutan dan kasih sayang kepada orang-orang yang benar-benar berharga. Tak ada seorang pun yang terlahir sudah bisa segalanya; hidup adalah proses belajar, dan pengalaman adalah guru terbaik.
Hubungan juga tak hanya soal pasangan. Dia mencakup keluarga, sahabat, rekan kerja, atasan, bahkan teman sekolah. Setiap hubungan membawa tantangan yang harus kita hadapi, bukan dihindari. Lari dari masalah takkan menyelesaikan apa pun. Menunggu sering membuat cemas, tapi di sisi lain, proses menunggu juga bisa menjadi ruang untuk bertumbuh. Waktu berjalan cepat—jangan biarkan penyesalan tertinggal.
Hidup sebagai Petualangan
Hidup ini seperti serangkaian perjalanan. Ada orang yang hanya lewat sebagai penumpang, ada pula yang datang untuk menuntun kita keluar dari kesulitan. Tetapi pada akhirnya, hidup adalah petualangan. Manusia memang seharusnya berani menjelajah, menemukan hal-hal baru, dan tumbuh melalui segala ujian. Bahkan ketika harus berjalan sendirian, justru itulah saat kita tumbuh paling cepat. Tiap pertumbuhan membawa rasa sakit, tapi justru dari sanalah kekuatan dan kebijaksanaan lahir.
Menghadapi tekanan memang berat, tapi ketika kita berani menghadapinya, beban itu terasa lebih ringan. Seperti pepatah: “Mengalami satu peristiwa, bertambah satu kebijaksanaan.”
Menemukan Warna Kehidupan
Kadang kita perlu berhenti sejenak, merenung, dan menata kembali langkah. Saat itulah kita bisa menemukan jawaban yang berbeda. Hidup adalah perjalanan berwarna-warni. Nasihat orang lain memang bisa jadi pertimbangan, tapi kita tetap harus punya pendirian sendiri, lalu mencari keseimbangan di antara keduanya.
Peganglah momen yang ada sekarang. Biarkan kelembutan mengisi sisa perjalanan hidupmu. Dengan begitu, kita akan mampu menjalani kehidupan yang penuh warna, damai, dan berarti.(jhn/yn)
EtIndonesia. Baru-baru ini, seekor kucing berusia 3 tahun yang dijuluki “kucing pelunasan utang” tiba-tiba populer di Tiongkok. Kucing ini disita karena pemiliknya berhutang, dan sudah “dipenjara” di sebuah toko hewan peliharaan selama dua tahun.
Menurut informasi di platform lelang aset Alibaba, kucing jenis lihua (tabby) jantan ini disita oleh Pengadilan Distrik Pengembangan Ekonomi dan Teknologi Yangzhou. Kucing tersebut belum disteril, sudah mendapat dua vaksin, dan dalam kondisi sehat. Barang sitaan ini tercatat dalam putusan eksekusi nomor (2025) Su1091ZhiHui79.
Pengumuman lelang menyebutkan, kucing ini akan dilelang dua kali. Jika berhasil terjual pada lelang pertama, lelang berikutnya otomatis dibatalkan. Jika gagal terjual, akan dilanjutkan ke lelang berikutnya. Lelang pertama dijadwalkan 3 September pukul 10.00 hingga 4 September pukul 10.00, dan lelang kedua 15 September pukul 10.00 hingga 16 September pukul 10.00.
Harga awal kucing ini ditetapkan 500 yuan, dimulai pada 3 September. Hingga 19 Agustus pukul 11:43, tercatat 3.858 orang mendaftar ikut lelang, 24.119 orang menyalakan pengingat, dan 344.006 kali ditonton.
Menurut laporan Jiupai News, pada 16 Agustus, staf perusahaan manajemen aset pemilik kucing itu mengatakan, sang pemilik berhutang sehingga asetnya dieksekusi oleh pengadilan, termasuk kucing ini. Kucing lahir pada 2022, dan ketika masih berusia beberapa bulan, seluruh harta pemiliknya sudah disita, sehingga ia dititipkan di toko hewan sejak itu.
Staf tersebut menambahkan, secara pasar, kucing lihua sebenarnya tidak bernilai tinggi, tetapi harga dasar lelang tetap 500 yuan. Biaya penitipan di toko hewan sangat mahal, bisa mencapai belasan ribu yuan per tahun, namun kucing ini dirawat dengan baik. Pemenang lelang tidak perlu menanggung biaya penitipan itu.
Menurut laporan Da Wan News pada 18 Agustus siang, staf toko hewan tempat kucing itu dititipkan mengatakan, dua hari terakhir banyak orang menelepon untuk menanyakan kondisi kucing tersebut.
Terkait perhatian besar publik, staf itu mengatakan mereka bisa memahami. Walaupun harga pasar kucing ini tidak mahal, “tetapi ia adalah makhluk hidup, tidak bisa semata-mata dinilai dengan uang.” Ia juga mengaku toko sedikit terganggu, bahkan ada aktivis perlindungan hewan ekstrem yang menelpon dan memarahi karena kucing dilelang layaknya barang.
Sore 18 Agustus, staf perusahaan aset terkait menyebutkan, calon peserta lelang bisa melihat langsung kucing itu. Namun, karena terlalu banyak yang ingin datang, mereka masih harus mengkonfirmasi dengan pengadilan apakah bisa datang langsung atau perlu diatur secara kolektif.
Netizen Tiongkok ramai berkomentar: “Pet shop merawatnya dengan baik, sampai gemuk sekali.” “Dirawat gemuk dan imut, jelas tidak disiksa.” “Benar-benar kucing dalam penjara!” “Kucing ini tidak berdaya sama sekali.”
“Kasihan sekali kucing ini.” “Semoga ia bisa diadopsi keluarga kaya dan penuh kasih.” “Hidupnya di awal seperti di penjara, terlalu menyedihkan.” “Semoga benar-benar bisa menemukan rumah baru yang hangat.” “Harus selektif dan ketat dalam memverifikasi calon pembeli kucing.”
EtIndonesia. Jumlah korban tewas di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa (KP), Pakistan yang dilanda banjir telah melonjak menjadi 365, seiring hujan deras dan banjir bandang yang terus melanda wilayah tersebut, dengan korban jiwa dan kerusakan baru dilaporkan di beberapa distrik, Dawn melaporkan.
Menurut Dawn, mengutip Badan Penanggulangan Bencana Provinsi (PDMA) KP, setidaknya 225 kematian terjadi di distrik Buner saja, sementara lebih dari 180 lainnya luka-luka sejak Jumat.
Upaya penyelamatan dan bantuan masih berlangsung di wilayah-wilayah yang paling parah terkena dampak, termasuk Swabi, Waziristan Selatan, Tank, Abbottabad, dan Mansehra, di mana tanah longsor dan jembatan yang runtuh telah memutus akses ke banyak desa terpencil.
Pada hari Selasa (19/8), banjir bandang parah di Kecamatan Servekai, Waziristan Selatan Hulu, menghanyutkan jembatan dan jalan utama, membuat banyak wilayah terisolasi sepenuhnya, sebagaimana dilaporkan oleh Dawn.
Di Tank, hujan deras menyebabkan aliran air dari perbukitan meluap, menggenangi kota dan memaksa penutupan jalan raya Tank-Waziristan.
Di Swabi, jumlah korban tewas meningkat menjadi 24 orang, dengan tujuh jenazah lagi ditemukan dari wilayah Gadoon Amazai, Dawn melaporkan.
Pejabat setempat mengonfirmasi bahwa beberapa warga masih hilang tertimpa reruntuhan bangunan, karena 12 rumah hancur di Desa Dalori saja.
Sementara itu, di Abbottabad, runtuhnya Jembatan Lora Nagri telah mengganggu konektivitas antara Tehsil Lora dan kota-kota besar seperti Rawalpindi. Ratusan desa tidak dapat diakses.
Distrik Mansehra juga melaporkan korban jiwa, dengan ditemukannya 18 dari 20 orang yang tersapu banjir sebelumnya di Haleem Bandi Neelband, lapor Dawn, mengutip pejabat kotamadya tehsil Baffa-Pakhal, Mazhar Muzafar Awan.
“Sebanyak 20 pria, wanita, dan anak-anak tersapu banjir awal pekan ini, dan kini 18 jenazah telah ditemukan. Pencarian dua jenazah lainnya masih berlangsung,” ujarnya, seperti dikutip Dawn.
Menanggapi apa yang telah dinyatakan sebagai darurat nasional, Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, mengatakan bahwa lebih dari 25.000 orang telah diselamatkan sejak 17 Agustus dan menekankan bahwa angkatan bersenjata, departemen sipil, dan otoritas penanggulangan bencana sedang mengoordinasikan upaya untuk mengatasi krisis ini, lapor Dawn.
Sayap media dan hubungan masyarakat Angkatan Darat Pakistan, Hubungan Masyarakat Antar-Layanan (ISPR), mengonfirmasi bahwa sembilan unit militer dan paramiliter telah dikerahkan di seluruh wilayah KP dan Gilgit Baltistan (PoGB) yang diduduki Pakistan. Ini termasuk brigade zeni, tim SAR, dan unit medis.
Lebih dari 6.900 orang telah diselamatkan, lebih dari 6.300 orang dirawat di kamp medis, dan bantuan pangan senilai total 585 ton juga telah didistribusikan, lapor Dawn, mengutip Dirjen ISPR.
Menurut Dirjen ISPR, penerbangan militer juga membantu evakuasi dan mengirimkan pasokan penting, dengan 90 jalan rusak di KP sedang diperbaiki, dengan sembilan jalan telah dibuka kembali sepenuhnya dan 86 jalan berfungsi sebagian, lapor Dawn.
Otoritas Manajemen Bencana Nasional Pakistan (NDMA) melaporkan upaya berkelanjutan untuk memberikan bantuan darurat ke distrik-distrik seperti Swabi, Malakand, Buner, dan Shangla.
Sementara itu, Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) telah mulai memasok bantuan darurat, termasuk tenda, kantong tidur, lampu sorot, tandu, dan kotak P3K ke daerah-daerah yang paling parah terkena dampak, lapor Dawn.(yn)
EtIndonesia. Kapan terakhir kali hidupmu mengalami “gempa besar”? Pernahkah kamu diterpa “tsunami kehidupan”? Atau merasakan badai yang mengguncang segalanya?
Guncangan Hidup yang Tak Terduga
Kita sering berharap hidup ini selalu stabil, tenang, tanpa perubahan mendadak. Namun kenyataannya, hidup penuh dengan peristiwa yang tak terduga—kejadian yang datang tiba-tiba, membuat kita tak siap, bahkan tak mampu melawan. Perubahan dan ketidakpastian adalah bagian tetap dari kehidupan manusia, dan sering muncul di sekitar kita.
Ketika musibah atau cobaan datang mendadak, kita sering bertanya: “Kenapa ini terjadi padaku? Mengapa harus aku yang mengalaminya?”
Meskipun kita sudah bekerja keras, berusaha menjalani hidup sebaik mungkin, tetap saja ada saat-saat ketika “naskah hidup” terasa kacau. Bagaimana kita harus menghadapinya? Bagaimana caranya bertahan?
Kisah Bruce Feiler: Hidup Berubah dalam Sekejap
Bruce Feiler, seorang penulis ternama, kreator, dan pencerita ulung, dikenal lewat karya-karyanya dalam bentuk buku, artikel, hingga acara televisi. Dia sudah menulis kisah-kisah dari enam benua, 75 negara, sambil membesarkan keluarga kecilnya dengan sepasang putri kembar.
Namun di puncak kariernya, sebuah pukulan besar datang: dia didiagnosis menderita kanker tulang ganas yang sangat langka di kaki kirinya—penyakit yang disebut sebagai “kanker anak-anak versi dewasa”.
Dia harus menjalani lebih dari 16 kali kemoterapi, operasi selama 17 jam untuk mengangkat tulang paha, menggantinya dengan batang titanium, bahkan memindahkan tulang betis ke pahanya. Selama dua tahun dia hanya bisa berjalan dengan kruk, lalu setahun dengan tongkat. Setiap langkah, setiap makanan, setiap pelukan, terasa diselimuti rasa takut dan rapuh. Bahkan kemudian dia sempat hampir bangkrut.
Menemukan Pola di Balik Perubahan
Saat merasa hidupnya “keluar jalur”, Feiler mulai bertanya: Mengapa manusia begitu sulit menghadapi ketidakpastian? Mengapa transisi hidup membuat kita cemas, depresi, dan takut?”
Dia menemukan bahwa setiap orang membawa “naskah tersembunyi” tentang hidup. Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup seharusnya berjalan mulus, selalu naik ke atas. Namun kenyataannya, hidup penuh naik turun, penuh kesalahan, penuh kehilangan. Kesenjangan antara harapan dan kenyataan inilah yang sering melahirkan kegelisahan.
Apakah benar kita sedang menulis kisah hidup kita sendiri, ataukah kita hanya sedang menjalani kisah yang sudah “diskenariokan” oleh harapan masyarakat?
Proyek “Life Story”
Untuk menjawabnya, Feiler menghabiskan tiga tahun berkeliling Amerika, mewawancarai ratusan orang yang mengalami perubahan besar dalam hidup mereka. Dari kehilangan pekerjaan, kematian orang tercinta, pindah karier, perubahan hubungan, berhenti dari kecanduan, hingga sekadar mencari awal baru.
Dia kemudian menganalisis kisah-kisah itu selama setahun penuh, dan menemukan pola serta pelajaran berharga tentang bagaimana manusia bisa bertahan, melewati masa transisi, bahkan tumbuh lebih kuat karenanya.
Dia menyebut peristiwa-peristiwa itu sebagai “gempa kehidupan”—tanda bahwa kita sedang berada di masa transisi. Setiap transisi adalah akhir dari satu bab kehidupan, dan awal dari bab yang baru.
Strategi untuk Melewati Transisi
Buku Life Is in the Transitions menawarkan panduan praktis bagaimana menghadapi masa perubahan yang penuh ketidakpastian. Feiler mengembangkan model “navigasi cerita” untuk membantu kita melihat transisi bukan sebagai akhir, melainkan sebagai kesempatan untuk tumbuh, memperbarui diri, dan menemukan makna baru.
Transisi memang menyakitkan, menekan, dan melelahkan. Namun pada saat yang sama, dia membawa peluang baru—kesempatan untuk membangun kembali hidup dengan cara yang lebih utuh dan lebih autentik.
Mengubah Krisis Menjadi Kebanggaan
Buku ini menjadi penting bagi siapa saja yang sedang merasa bingung dengan jalan hidupnya, yang merasa “keluar jalur,” atau yang malu karena hidupnya tak sesuai ekspektasi. Melalui kisah-kisah nyata dan strategi praktis, Feiler menunjukkan bahwa kita bisa mengubah kegagalan, kehilangan, dan transisi besar menjadi bagian berharga dari cerita hidup kita.
Pada akhirnya, pesan utamanya jelas: hidup bukanlah garis lurus, melainkan serangkaian transisi. Dan jika kita mampu menerimanya, setiap transisi justru bisa menjadi kebanggaan, bukan beban.(jhn/yn)