Anggota Kongres AS Desak Departemen Luar Negeri AS Beri Hadiah untuk Memburu Kejahatan Pengambilan Organ Paksa oleh PKT

Pada 7 Agustus 2025, sejumlah anggota senior Kongres Amerika Serikat mengirim surat bersama kepada Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio. Mereka mendesak Departemen Luar Negeri AS  memanfaatkan mekanisme yang ada seperti “Program Hadiah untuk Keadilan” guna memburu dan memberantas praktik Pengambilan organ paksa serta perdagangan organ yang dipimpin oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT).

EtIndonesia. Surat bersama anggota kongres AS yang dipimpin oleh Ketua Komisi Eksekutif Kongres mengenai Tiongkok (CECC)  Kongres AS, Chris Smith resmi ditandatangani. Penandatangan lainnya termasuk Ketua Komite Khusus DPR AS untuk Partai Komunis Tiongkok, John Moolenaar  dan anggota DPR Neal Dunn yang memiliki latar belakang medis.

Smith menyatakan bahwa sistem perdagangan organ PKT telah ada selama bertahun-tahun, dengan korban termasuk warga Uyghur, praktisi Falun Gong, dan tahanan hati nurani lainnya, namun belum mendapat sanksi. 

Menurut Smith, Departemen Luar Negeri AS memiliki dana dan otoritas hukum untuk menawarkan hadiah besar demi memperoleh informasi intelijen. 

“Sudah saatnya menggunakan alat-alat ini untuk menghancurkan industri kejam bernilai miliaran dolar ini, demi menegakkan keadilan bagi para korban,” ujarnya.

Para anggota Kongres mengutip penelitian tahun 2022 dari American Journal of Transplantation yang mengungkap bahwa dokter di Tiongkok melakukan pengambilan organ dari tahanan tanpa dinyatakan mati otak, melanggar prinsip internasional tentang “donor yang meninggal”. 

Mereka menegaskan bahwa terdapat banyak bukti PKT secara langsung terlibat dalam pencabutan organ paksa, menargetkan etnis minoritas seperti Uyghur dan Kazakh, yang sudah memenuhi unsur kejahatan terhadap kemanusiaan.

Smith, yang telah lama menyoroti isu HAM di Tiongkok dan memimpin lebih dari 100 sidang dengar pendapat di Kongres, pada Mei lalu mengajukan Rancangan Undang-Undang untuk Menghentikan Pencabutan Organ Paksa (H.R.1503) yang disahkan DPR AS dengan suara telak 406 banding 1. 

RUU tersebut memberi wewenang kepada presiden untuk menjatuhkan sanksi terhadap individu atau organisasi yang terlibat, termasuk pembekuan aset, larangan visa, dan pembatasan ekspor, serta mewajibkan Departemen Luar Negeri menyampaikan laporan tahunan tentang situasi perdagangan organ oleh PKT dan secara global.

Saat ini, RUU tersebut telah diajukan ke Senat dan diperkirakan akan dibahas pada September mendatang. Smith menekankan bahwa sambil menunggu proses legislasi, Departemen Luar Negeri harus segera menggunakan sumber daya yang ada untuk menghentikan bencana kemanusiaan ini.

Senat juga menaruh perhatian pada isu ini. Marco Rubio bersama Senator Jeff Merkley pernah mengajukan Undang-Undang Akuntabilitas dan Sanksi Genosida Uyghur (UGASA) yang mendukung pemberian sanksi terhadap pelanggar HAM oleh PKT. 

Rubio dalam kesaksiannya di Senat juga menyatakan keprihatinannya terhadap pencabutan organ paksa oleh PKT dan mendukung pembentukan undang-undang terkait. Senator Tom Cotton dan Kirsten Gillibrand pun menyerukan peningkatan kerja sama intelijen dan aksi diplomatik untuk menggalang kekuatan internasional menghentikan kejahatan tersebut.

Komunitas internasional telah lama menyuarakan keprihatinan. Pada 2020, Pengadilan Rakyat Independen untuk Tiongkok yang berbasis di London menyimpulkan bahwa PKT telah lama dan secara sistematis mencabut organ dari praktisi Falun Gong, Uyghur, dan tahanan hati nurani lainnya, yang merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. Bahkan, tidak ada bukti bahwa praktik ini telah berhenti.

Pada Juni 2021, pelapor khusus PBB juga menyatakan adanya bukti kredibel bahwa sebagian kelompok etnis minoritas dan tahanan hati nurani di Tiongkok mungkin menjadi korban pencabutan organ ilegal. Lembaga seperti Human Rights Watch, Amnesty International, dan World Organization to Investigate the Persecution of Falun Gong terus merilis laporan penyelidikan untuk mengungkap kebenaran.

Surat bersama itu menyerukan pembentukan mekanisme penegakan hukum dan hukuman yang ketat untuk menjaga standar etika donor organ global dan mencegah siapa pun mengambil keuntungan dari kelompok yang tidak dapat memberikan persetujuan sukarela. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Pameran “2025 Taiwan Higher Education Fair Indonesia” Dihadiri dengan Partisipasi Institusi yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya

EtIndonesia. 2025 Taiwan Higher Education Fair Indonesia (THEFI), yang diselenggarakan oleh Ikatan Citra Alumni Taiwan Se-Indonesia dan Komite Penerimaan Mahasiswa Tionghoa Luar Negeri, dengan dukungan dari Kementerian Pendidikan Taiwan dan Kantor Perwakilan Taiwan, Taipei Economic and Trade Office (TETO) Indonesia, mengadakan pembukaan pertamanya di ibukota Jakarta.  Acara Ini digelar di Pullman Central park, Jakarta Barat, Sabtu, 9 Agustus 2025.

Pameran pendidikan ini bertujuan untuk meningkatkan antusiasme mahasiswa Indonesia dalam melanjutkan pendidikan tinggi di Taiwan, serta memperkuat kolaborasi akademik antara Taiwan dan Indonesia. Pameran ini diperkirakan menyambut lebih dari 10,000 peserta, termasuk mahasiswa, orang tua, dan pendidik dari Indonesia.

Wakil Kepala Taipei Economic and Trade Office (TETO) di Indonesia, Trust Lin, memberikan kata sambutan saat menghadiri pembukaan Pameran Pendidikan Tinggi Taiwan 2025 di Jakarta, Sabtu (9/8/2025) – Dok TETO Indonesia

Pameran berlangsung dari  9-17 Agustus 2025 di 5 kota Indonesia yakni  Jakarta, Bandung, Makassar, Surabaya, dan Medan. Sebanyak 66 universitas ternama dari Taiwan akan berpartisipasi tahun ini, mencatatkan jumlah institusi terbanyak dari sebelumnya.

Pada upacara pembukaan, Wakil Kantor Perwakilan Taiwan TETO, Trust Lin, menegaskan komitmen kuat Taiwan dalam mempererat kemitraan pendidikan dengan Indonesia. Ia menyoroti sistem pendidikan tinggi Taiwan yang unggul, beragamnya program berbahasa Inggris, serta biaya kuliah yang relatif terjangkau.

Selain itu, Trus Lin menatakan industri semikonduktor Taiwan yang terdepan secara global menawarkan peluang tak tertandingi bagi mahasiswa internasional untuk mengikuti program teknologi mutakhir. Ia mengundang para mahasiswa Indonesia untuk menempuh pendidikan di Taiwan, dan berkontribusi pada kemajuan hubungan bilateral di masa depan.

embukaan acara “Pameran Pendidikan Tinggi Taiwan 2025” , ditandai dengan pelaksanaan prosesi pemotongan pita di Jakarta (Dok TETO Indonesia)

Menurut Peringkat Universitas Dunia QS 2026, 3 universitas Taiwan termasuk dalam 200 besar dunia, menunjukkan kualitas luar biasa dan daya saing internasional pendidikan tinggi Taiwan. 

Pameran ini bertujuan untuk menarik lebih banyak mahasiswa berbakat dari Indonesia untuk mengejar studi di institusi akademik Taiwan.

Pameran Pendidikan Tinggi Taiwan 2025” berhasil menarik partisipasi banyak guru, siswa, serta orang tua dari Indonesia (TETO Indonesia)

Sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, Indonesia merupakan sumber mahasiswa internasional terbesar kedua bagi Taiwan, dengan hampir 17,000 mahasiswa yang saat ini terdaftar sebagai pelajar di Taiwan. 

Foto bersama pada pembukaan perdana Pameran Pendidikan Tinggi Taiwan 2025 di Jakarta (TETO Indonesia)

Melalui pameran pendidikan ini, penyelenggara berharap dapat memperdalam pemahaman mahasiswa Indonesia mengenai pendidikan tinggi Taiwan, mendorong pengembangan bakat, dan pertukaran akademik.

Setelah acara di Jakarta, pameran ini akan dilanjutkan ke empat kota lainnya, meningkatkan visibilitas dan dampak pendidikan tinggi Taiwan di Indonesia. (***)

Trump Dipuji Sebagai ‘Pembawa Perdamaian’ Karena Armenia dan Azerbaijan Sepakat untuk Menghentikan Pertempuran ‘Selamanya’

EtIndonesia. Armenia dan Azerbaijan telah berjanji untuk mengakhiri permusuhan selama puluhan tahun, diumumkan oleh Presiden AS, Donald Trump pada hari Jumat (8/8) di Gedung Putih.

Diapit oleh Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan dan Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev, Trump, yang menjadi pusat perhatian sebagai mediator, menyatakan perjanjian tersebut sebagai komitmen untuk “menghentikan semua pertempuran selamanya, membuka perdagangan, perjalanan, dan hubungan diplomatik, serta menghormati kedaulatan dan integritas teritorial masing-masing”. Namun, kekuatan hukum pasti dari kesepakatan tersebut masih belum pasti.

Konflik Berpuluh-puluh Tahun Berakhir?

Jabat tangan antara Pashinyan dan Aliyev menandai terobosan simbolis setelah bertahun-tahun konflik yang sengit. Kedua negara, yang keduanya merupakan bekas republik Soviet, telah berperang dua kali memperebutkan wilayah Nagorno-Karabakh, yang direbut kembali sepenuhnya oleh Azerbaijan dalam serangan militer tahun 2023 yang mengusir lebih dari 100.000 etnis Armenia dari rumah mereka.

Aliyev memuji “tanda tangan bersejarah” antara dua “negara yang berperang selama lebih dari tiga dekade” dan mengatakan dia akan bergabung dengan Pashinyan dalam menominasikan Trump untuk Hadiah Nobel Perdamaian.

“Siapa, kalau bukan Presiden Trump, yang pantas menerima Hadiah Nobel Perdamaian?” tanyanya.

Pashinyan menggemakan pujian tersebut, menyebut presiden AS sebagai “pembawa perdamaian” yang perannya krusial dalam mencapai “terobosan”. Dia mengatakan bahwa “perjanjian damai ini akan membuka jalan untuk mengakhiri konflik puluhan tahun antara negara kita dan membuka era baru.”

Perjanjian Armenia-Azerbaijan: detail dan manfaat bagi AS

Tidak jelas seberapa mengikat perjanjian antara kedua musuh bebuyutan ini. Sebagian dari perjanjian tersebut melibatkan pembuatan rute transit melalui Armenia yang menghubungkan Azerbaijan dengan eksklavenya di Nakhchivan — sebuah tuntutan lama dari Baku.

Amerika Serikat akan memiliki hak pembangunan untuk koridor tersebut, yang disebut “Rute Trump untuk Perdamaian dan Kemakmuran Internasional” (TRIPP).

Ketika ditanya tentang keuntungan Armenia, seorang pejabat Gedung Putih menggambarkan AS sebagai “mitra komersial strategis yang sangat besar,” dan menyatakan bahwa perjanjian tersebut merupakan pukulan bagi para pesaingnya, Beijing, Moskow, dan Teheran.

“Yang kalah di sini adalah Tiongkok, Rusia, dan Iran,” katanya.

Nagorno-Karabakh diakui secara internasional sebagai bagian dari Azerbaijan, tetapi telah dikuasai oleh pasukan yang didukung Armenia selama hampir 30 tahun setelah runtuhnya Soviet. Turki, sekutu utama Azerbaijan, menyambut baik perkembangan ini, menyebutnya sebagai langkah penting menuju “terciptanya perdamaian abadi” di Kaukasus.

Kesepakatan ini dicapai setelah negosiasi selama berbulan-bulan. Meskipun kedua belah pihak mencapai kesepakatan mengenai rancangan teks pada bulan Maret, perundingan terhenti ketika Azerbaijan menuntut Armenia untuk mengamandemen konstitusinya guna mencabut klaim atas Karabakh. Pashinyan mengatakan referendum konstitusi akan diadakan pada tahun 2027, sebuah langkah yang tetap sensitif secara politis.(yn)

Jerman Hentikan Ekspor Senjata ke Israel Terkait Rencana Pendudukan Kota Gaza

EtIndonesia. Jerman akan menghentikan ekspor peralatan militer ke Israel, yang dapat digunakan di Jalur Gaza, ujar Kanselir Friedrich Merz pada hari Jumat, menanggapi rencana Israel untuk menguasai Kota Gaza.

Keputusan ini menandai perubahan besar bagi Pemerintah Jerman, yang selama ini merupakan salah satu sekutu internasional Israel yang paling setia.

Merz mengatakan “semakin sulit untuk memahami” bagaimana rencana militer Israel akan membantu mencapai tujuan sah untuk melucuti senjata Hamas dan membebaskan para sandera.

“Dalam situasi ini, Pemerintah Jerman tidak akan mengizinkan ekspor peralatan militer apa pun yang dapat digunakan di Jalur Gaza hingga pemberitahuan lebih lanjut,” ujarnya dalam sebuah pernyataan.

Merz mengatakan bahwa “dengan serangan yang direncanakan ini, Pemerintah Israel memikul tanggung jawab yang lebih besar” untuk menyediakan bantuan bagi warga sipil Gaza, dan menegaskan kembali seruannya untuk akses komprehensif bagi “organisasi PBB dan lembaga non-pemerintah lainnya”.

Kekhawatiran internasional semakin meningkat atas penderitaan warga Palestina di Gaza, di mana sebuah penilaian yang didukung PBB telah memperingatkan bahwa kelaparan sedang terjadi.

Merz juga mengatakan bahwa “Pemerintah Jerman mendesak Pemerintah Israel untuk tidak mengambil langkah lebih lanjut menuju pencaplokan Tepi Barat”.(yn)

Menguras Otak Setiap Hari? Perbanyak Konsumsi Makanan yang Menjaga Kesehatan Otak dan Cegah Demensia!

EtIndonesia. Otak adalah salah satu organ paling vital dalam tubuh manusia. Dia bukan hanya pusat dari semua fungsi tubuh, tetapi juga tempat berpikir, mengatur perilaku, menyimpan memori, dan mengekspresikan emosi.

Karena perannya yang krusial, menjaga kesehatan otak menjadi hal yang sangat penting—terutama di zaman sekarang, ketika kita menggunakan otak secara intens setiap hari.

Salah satu cara efektif untuk merawat dan memperkuat otak adalah dengan memperhatikan pola makan.

Berikut ini adalah daftar makanan yang terbukti bermanfaat untuk otak, yang bisa kamu jadikan bagian dari menu harian.

1. Ikan Laut Dalam: Kaya Omega-3 untuk Daya Ingat Tajam

Jika bicara soal makanan untuk otak, ikan laut dalam adalah jawara utama. Ikan seperti salmon, sarden, dan makarel kaya akan asam lemak Omega-3, terutama EPA dan DHA, yang sangat penting untuk fungsi otak.

Manfaat:

·        Meningkatkan memori dan kemampuan belajar,

·        Mengurangi peradangan di otak,

·        Menurunkan risiko penurunan kognitif dan Alzheimer.

2. Sayuran Berwarna Gelap: Antioksidan Tinggi, Otak Terlindungi

Sayuran seperti bayam, kale, dan brokoli kaya akan vitamin C, vitamin E, dan beta-karoten. Antioksidan ini membantu melindungi sel-sel otak dari kerusakan oksidatif yang memicu penuaan dini otak.

Tambahan bonus: Serat dalam sayur juga membantu menjaga sirkulasi darah ke otak tetap lancar.

3. Kacang dan Biji-bijian: Bantu Fungsi Kognitif dan Daya Ingat

Kacang kenari, almond, dan mete mengandung vitamin E, vitamin B kompleks, dan mineral penting.

Khususnya:

·        Kenari mengandung asam lemak tak jenuh ganda dan polifenol yang bisa menurunkan peradangan di otak,

·        Menjaga sinyal komunikasi antar-neuron tetap aktif dan optimal.

Studi juga menunjukkan bahwa konsumsi rutin kacang-kacangan berkaitan dengan penurunan risiko demensia di usia tua.

4. Kacang-kacangan dan Polong-polongan: Stabilkan Energi Otak

Kacang merah, kacang hitam, kacang hijau, hingga tahu dan tempe adalah sumber protein nabati, serat, dan vitamin.

Manfaat:

·        Membantu produksi neurotransmitter (zat kimia yang membawa sinyal antar sel otak),

·        Menstabilkan kadar gula darah agar otak mendapat energi secara bertahap dan konsisten.

5. Buah Beri: Antioksidan Super untuk Otak Muda

Blueberry, strawberry, raspberry—semuanya mengandung flavonoid dan antioksidan kuat.

Efek positif:

·        Mencegah kerusakan sel otak akibat stres oksidatif,

·        Melindungi memori jangka pendek,

·        Memperlambat penurunan fungsi kognitif.

Waspadai: Makanan yang Bisa Merusak Otak!

Tidak hanya soal apa yang harus dikonsumsi, tapi juga penting untuk menghindari makanan yang berpotensi merusak otak, seperti:

·        Makanan olahan dan instan berlebihan
→ Bisa memicu peradangan kronis di otak.

·        Makanan tinggi garam
→ Mengganggu aliran darah ke otak dan meningkatkan risiko stroke kecil.

·        Minyak yang dipakai berulang kali (minyak goreng bekas)
→ Mengandung radikal bebas yang merusak sel-sel otak secara perlahan.

Kesimpulan: Rawat Otak Lewat Isi Piringmu

Menjaga otak agar tetap tajam dan sehat tidak hanya tentang belajar atau melatih memori, tapi juga tentang apa yang kamu makan setiap hari.

Konsumsi rutin makanan seperti ikan laut, sayur berwarna gelap, kacang-kacangan, dan buah beri dapat membantu:

·        Memperkuat memori,

·        Menjaga kesehatan saraf,

·        Menurunkan risiko demensia dan Alzheimer.

Dan jangan lupa, jaga pola makan tetap seimbang, batasi makanan berbahaya, serta kombinasikan dengan gaya hidup sehat seperti tidur cukup, olahraga, dan menjaga kesehatan mental.(jhn/yn)

Philipina : 3 Kapal Tiongkok Terlihat di Dekat Pulau-pulau Kecil di Dekat Taiwan

EtIndonesia. Tiga kapal penjaga pantai Tiongkok sedang dipantau di perairan lepas pulau-pulau terpencil di Philipina utara dekat Taiwan, kata pejabat maritim di Manila pada hari Jumat (8/8).

Kapal-kapal tersebut pertama kali terlihat pada hari Kamis, sehari setelah sebuah video YouTube muncul di mana Presiden Philipina, Ferdinand Marcos mengatakan bahwa Manila tidak mungkin bisa menghindari konflik jika Tiongkok menginvasi Taiwan.

Tiongkok menganggap Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri sebagai bagian dari wilayahnya dan telah mengancam akan merebutnya dengan paksa.

Ketiga kapal Tiongkok tersebut terlihat di dekat Provinsi Batanes, gugusan pulau terpencil yang jarang penduduknya di utara pulau terbesar Philipina, Luzon.

Sebuah pesawat dikerahkan pada hari Jumat untuk memantau “pergerakan tidak teratur” dari tiga kapal Tiongkok di dekat Kepulauan Batanes, kata Penjaga Pantai Philipina dalam sebuah pernyataan.

Kapal Penjaga Pantai Tiongkok 4304 terletak sekitar 140 kilometer di sebelah barat kota Sabtang, tetapi cuaca buruk menghalangi pihak berwenang untuk mendekati lokasi dua kapal lainnya, katanya.

Marcos mengatakan dalam sebuah wawancara dengan kantor berita India Firstpost bahwa, jika terjadi konfrontasi antara Tiongkok dan Amerika Serikat terkait Taiwan, “Philipina tidak mungkin bisa menghindarinya hanya karena lokasi geografis fisik kami.”

“Jika terjadi perang habis-habisan, maka kami akan terseret ke dalamnya,” ujarnya dalam wawancara yang diunggah di YouTube pada hari Rabu.

Dia juga mengatakan banyak warga Philipina yang tinggal di Taiwan perlu diselamatkan dan dipulangkan.

Tiongkok telah mengajukan protes kepada Philipina atas pernyataan Marcos.

“Kami mendesak Philipina untuk sungguh-sungguh mematuhi prinsip satu Tiongkok… dan menahan diri untuk tidak bermain api dalam isu-isu yang menyangkut kepentingan inti Tiongkok,” kata seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri pada hari Jumat.(yn)

Analisis: Dari Aborsi Paksa hingga Membiayai Persalinan, Partai Komunis Tiongkok Menuai Konsekuensinya

EtIndonesia. Ketika Zane Li berusia sembilan tahun, ibunya melahirkan seorang adik perempuan. Kehadiran sang adik membuat keluarga kecil mereka di sebuah kota di timur Tiongkok terjerat hutang berat.

Di bawah kebijakan satu anak PKT (Partai Komunis Tiongkok) pada saat itu, orang tua Li dikenakan denda 100.000 yuan (sekitar 225 juta rupiah) karena memiliki anak kedua—hampir tiga kali lipat pendapatan tahunan mereka dari berjualan ikan di pasar.

“Kami nyaris tidak bisa bertahan hidup,” kenang Li kepada CNN. Saat itu, ia masih duduk di kelas tiga SD dan terpaksa cepat dewasa, mengambil sebagian besar pekerjaan rumah, dan membantu ibunya di kios saat liburan sekolah.

Kini, di usia 25 tahun, Li mengatakan ia tidak berencana memiliki anak—pandangan yang semakin umum di generasinya, dan membuat pemerintah PKT menghadapi krisis demografi.

Selama puluhan tahun, pejabat PKT memaksa pasangan untuk memiliki anak lebih sedikit melalui denda besar, aborsi paksa, dan sterilisasi. Kini, mereka justru membujuk generasi Li untuk memiliki lebih banyak anak.

Kebijakan satu anak berakhir sebelum 2016, tetapi populasi Tiongkok telah menurun selama tiga tahun berturut-turut. 

Pada 2024, jumlah kelahiran hanya 9,5 juta, setengah dari puncaknya pada 2017 (17,9 juta). Pada tahun yang sama, kematian mencapai 10,9 juta jiwa.

Generasi Muda Tanggapi Dingin Bantuan Tunai

Minggu lalu, pemerintah PKT mengumumkan langkah terbaru untuk mendorong angka kelahiran: orang tua dengan anak di bawah tiga tahun akan mendapat subsidi tahunan 3.600 yuan (sekitar 8,1 juta rupiah), berlaku surut sejak 1 Januari 2019.

Namun bagi banyak anak muda seperti Li, jumlah itu sangat kecil.

“Biaya membesarkan anak itu besar sekali, 3.600 yuan per tahun hanya setetes air di lautan,” kata Li. Ia kini menempuh studi S2 di bidang pelayanan kesehatan di Beijing dengan bantuan pinjaman pendidikan.

Liu Wen (28), analis pasar di Hangzhou, mengatakan kepada Barron’s, “Biaya membesarkan anak di sini bukan hanya popok dan susu formula, tapi juga sekolah, perumahan, dan karier kami sendiri. Subsidi itu tidak menyelesaikan masalah.”

Menurut penelitian terbaru dari lembaga think tank Yuwa Population Research di Beijing, membesarkan anak hingga usia 18 tahun di Tiongkok rata-rata menghabiskan 538.000 yuan (sekitar Rp 1,224 miliar)—lebih dari enam kali lipat PDB per kapita, menjadikannya salah satu biaya pengasuhan tertinggi di dunia.

Di Shanghai, biayanya bisa menembus 1 juta yuan (Rp 2,27 miliar); Beijing berada di urutan kedua dengan 936.000 yuan (Rp2,12 miliar). 

“Punya anak hanya akan membawa lebih banyak kesulitan. Saya bukan kapitalis, dan anak saya mungkin juga tidak akan hidup lebih baik,” kata Li. Ia khawatir dengan prospek kerja dan mempertimbangkan studi doktoral.

Masa Depan Orang Tua Terlihat Suram – PKT Menuai Akibat

Menghadapi menyusutnya tenaga kerja dan populasi yang menua cepat, Tiongkok pada 2016 menghapus kebijakan satu anak, mengizinkan dua anak per keluarga, dan pada 2021 memperbolehkan tiga anak. Meski angka kelahiran sempat naik sedikit tahun lalu, populasi tetap turun tiga tahun berturut-turut. Para pakar memperingatkan penurunan itu mungkin lebih besar dari data resmi.

Kini, pemerintah PKT meluncurkan program subsidi nasional dengan anggaran 90 miliar yuan tahun ini.

Namun, dengan ekonomi yang melambat dan pengangguran muda yang tinggi, banyak orang pesimis soal masa depan menjadi orang tua.

“Ini bukan lagi sekadar proyek percontohan lokal. Ini menunjukkan pemerintah menganggap krisis kelahiran sebagai masalah mendesak dan nasional,” kata Emma Zang, pakar demografi dari Universitas Yale, kepada CNN.

Program baru ini juga memberi subsidi untuk anak di bawah tiga tahun yang lahir sebelum 2025. Tapi Zang menilai kebijakan ini tidak akan banyak mempengaruhi angka kelahiran. Ia menambahkan, di Jepang dan Korea Selatan, kebijakan serupa juga gagal menaikkan angka kelahiran secara signifikan.

Bagi anak muda di kota besar yang menghadapi harga rumah tinggi, jam kerja panjang, dan pasar kerja yang tidak stabil, subsidi tunai tidak bisa mengatasi kecemasan mendalam mereka.

“Saya masih berjuang melunasi pinjaman kuliah dan menabung untuk DP rumah,” kata Zhang Rui (32), insinyur perangkat lunak di Shanghai, kepada Barron’s. “Sekarang bukan waktunya memikirkan anak.”

“Ini bukan hanya masalah biaya. Banyak anak muda khawatir tentang masa depan—keamanan kerja, orang tua yang menua, tekanan sosial—jadi bantuan tunai tidak bisa mengurangi tekanan psikologis ini,” ujar Zang.

Bagi investor, dampaknya jauh melampaui perubahan struktur populasi. Penurunan angka kelahiran yang terus-menerus dapat membebani pertumbuhan ekonomi jangka panjang, permintaan konsumsi, dan pasokan tenaga kerja, sekaligus mengubah wajah sektor pendidikan, perumahan, kesehatan, dan asuransi. (Hui/asr)

Sumber : Epochtimes.com

Manusia Sebaiknya Berbuat Baik atau Jahat? Inilah Jawaban Sejati dari Sebuah Kisah Zaman Kuno


EtIndonesia. “Jangan meremehkan kebaikan kecil, dan jangan menyepelekan kejahatan kecil.”

Kalimat sederhana ini mengandung kebijaksanaan mendalam. Ia mengingatkan kita yang hidup di tengah hiruk-pikuk dunia: Kebaikan sekecil apa pun tetaplah kebaikan, dan kejahatan sekecil apa pun tetaplah kejahatan.

Hari ini, mari kita bahas sebuah kisah klasik dari zaman Tiongkok kuno: “Pei Du Mengembalikan Ikat Pinggang”, untuk memahami bagaimana satu perbuatan baik mampu mengubah nasib seseorang.

Kebaikan dan Kejahatan Tak Pernah Netral

Sebagian orang mungkin menganggap kebaikan kecil tak berdampak besar. Bahkan ada yang mengejek sikap orang-orang zaman dulu yang begitu hati-hati dan penuh pertimbangan moral.

Namun sejatinya, berbuat baik akan menambah “kebajikan”, dan berbuat jahat akan menciptakan “karma buruk”.

 Keduanya adalah bentuk “zat energi” yang mengikuti seseorang ke mana pun ia pergi—meski tak kasat mata.

Sama seperti:

·        Kita tak bisa melihat oksigen, gelombang suara, atau medan magnet, tapi kita tahu mereka nyata dan bekerja dalam kehidupan kita.

·        Begitu pula kebajikan (德) dan karma (业)—tak terlihat oleh mata telanjang, tapi mereka hidup bersama kita, dan berdampak langsung terhadap nasib.

Lalu, Apakah Manusia Harus Berbuat Baik atau Jahat?

Kisah nyata dari seorang tokoh besar Dinasti Tang, bernama Pei Du , bisa memberikan jawabannya.

Pei Du dikenal sebagai perdana menteri hebat dan cendekiawan terkemuka, yang membantu empat kaisar berbeda dalam masa pemerintahannya. Namun tak banyak yang tahu, di masa mudanya ia hidup dalam kemiskinan dan kesialan.

Ramalan Buruk, dan Titik Balik Nasib

Suatu hari, ketika masih miskin, Pei Du bertemu dengan seorang pertapa bijak.

Sang pertapa memperhatikan wajah Pei Du dan berkata: “Kamu punya garis mulut yang memanjang hingga ke dalam. Ini pertanda buruk—kamu berpotensi mengalami nasib tragis, bahkan mati kelaparan. Kalau kamu ingin mengubah takdir, kamu harus mulai dari dalam. Berbuat baiklah, hormati langit dan bumi, dan lakukan kebaikan sekecil apa pun.”

Satu Perbuatan Besar: Mengembalikan Ikat Pinggang Mewah

Beberapa tahun kemudian, Pei Du mencoba peruntungan di jalur akademik, namun terus mengalami kegagalan. Dia pun frustasi dan pergi ke Kuil Xiangshan untuk menenangkan diri.

Di sana, dia menemukan sebuah bungkusan di tanah, berisi dua ikat pinggang giok yang sangat mahal. Dia yakin benda itu sangat penting bagi pemiliknya, dan memilih menunggu seharian penuh di lokasi itu, berharap pemiliknya datang kembali.

Keesokan harinya, saat kuil belum buka, Pei Du sudah berdiri di depan pintu. Lalu datanglah seorang wanita muda yang panik. 

Setelah berbicara, diketahui bahwa:

·        Ayah wanita itu dituduh secara tidak adil dan dipenjara.

·        Dua ikat pinggang itu akan digunakan sebagai hadiah untuk menyuap pejabat demi membebaskan ayahnya.

Pei Du sadar: jika barang itu tidak kembali ke tangan wanita itu, nasib sang ayah akan tamat. Maka tanpa ragu, Pei Du mengembalikan bungkusan tersebut, tanpa meminta imbalan. Meski sang wanita memohon agar dia mengambil salah satu ikat pinggang sebagai balasan, Pei Du menolak dengan senyum tulus.

Wajah Berubah, Nasib Berubah

Beberapa waktu kemudian, Pei Du kembali bertemu pertapa yang dulu meramal wajahnya.

Begitu melihatnya, sang pertapa terkejut dan berkata: “Kamu pasti telah melakukan suatu kebaikan besar! Sekarang wajahmu sudah berubah menjadi wajah penuh keberuntungan! Masa depanmu luar biasa cerah!”

Sejak itu, nasib Pei Du benar-benar berubah.

Dia:

·        Dikenal sebagai pemimpin hebat dan tokoh teladan,

·        Menjabat selama dua dekade dalam posisi tertinggi di pemerintahan,

·        Dan membantu menstabilkan kerajaan selama empat dinasti kaisar.

Dia pernah menulis tentang dirinya: “Tubuhku biasa saja, wajahku tak menonjol. Tapi aku tetap bisa jadi jenderal, jadi perdana menteri. Semua itu karena satu hal: hatiku selalu tertuju pada kebenaran.”

Kebaikan untuk Orang Lain, Kebaikan untuk Diri Sendiri

Kisah Pei Du menunjukkan:

Dengan satu perbuatan tulus, dia menyelamatkan orang lain, sekaligus menyelamatkan nasibnya sendiri.

Bencana yang seharusnya menimpa dirinya, tergantikan oleh keberuntungan besar. Mengapa? Karena dia telah mengumpulkan kebajikan sejati.

Semakin banyak kebajikan yang kita kumpulkan, semakin besar pula keberkahan hidup yang akan kita terima.

Sebaliknya, semakin banyak kejahatan yang dilakukan, maka bencana akan mengikuti—karena penderitaan berasal dari akumulasi karma buruk.

Penutup: Pilih Jalan yang Benar – Dari Hal yang Kecil

Semua orang menginginkan kehidupan yang damai, sehat, dan bahagia. Tapi banyak yang mengabaikan kekuatan kebaikan kecil.

Jika kamu ingin mengubah nasibmu, maka mulailah dari dalam dirimu sendiri.

·        Hormati langit dan bumi,

·        Jalani hidup dengan niat baik,

·        Dan jangan meremehkan kebaikan sekecil apa pun.

Ingatlah petuah kuno:

“Rumah yang penuh kebaikan akan menuai keberkahan berlimpah. Rumah yang dipenuhi keburukan akan menerima musibah yang tak terhindarkan.” (jhn/yn)

Gedung Runtuh di Bangkok, Thailand Tuntut 23 Orang dan Badan Usaha Termasuk BUMN Tiongkok

Pada Kamis (7/8/2025), jaksa Thailand menuntut 23 individu dan entitas, termasuk seorang taipan konstruksi Thailand dan sebuah perusahaan milik negara PKT. Mereka dituduh melakukan pelanggaran dalam proses pembangunan yang menyebabkan runtuhnya Gedung Kantor Audit Nasional di Bangkok saat terdampak gempa kuat dari Myanmar, menewaskan sedikitnya 89 orang (kebanyakan pekerja konstruksi).

EtIndonesia. Pada 28 Maret, gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Myanmar dan terasa hingga Thailand. Gedung Kantor Audit Nasional setinggi 30 lantai di Bangkok kemudian runtuh. Ini adalah satu-satunya bangunan di Thailand yang ambruk akibat gempa tersebut, memicu pertanyaan tentang kualitas konstruksi di negara itu.

Kantor Jaksa Agung Thailand pada Kamis menyatakan, kasus ini telah diajukan ke pengadilan pidana dan diperkirakan akan diputuskan dalam beberapa bulan ke depan.

“Penyidik sepakat untuk menuntut 23 individu dan badan hukum atas tuduhan pelanggaran profesional dan pemalsuan dokumen,” ujar pernyataan Kantor Jaksa Agung.

Gedung tersebut dibangun bersama oleh salah satu perusahaan konstruksi terbesar Thailand, Italian-Thai Development dan anak perusahaan China Railway No.10 Engineering Group (China Railway 10th Bureau) di Thailand, yang merupakan BUMN Tiongkok.

Dakwaan melibatkan 16 individu dan 7 perusahaan, termasuk nama-nama perwakilan perusahaan yang menjadi terdakwa. Mereka dituduh melanggar peraturan bangunan dan menyebabkan kematian karena kelalaian.

Juru bicara Kantor Jaksa Agung, Sakkasem Nisaiyok, menyebut bahwa terdakwa termasuk Presiden Italian-Thai Development, Premchai Karnasuta, serta seorang eksekutif China Railway No.10 Engineering Group (Thailand).

Karnasuta dan 14 orang lainnya, saat ditangkap polisi pada Mei lalu terkait runtuhnya gedung tersebut, membantah semua tuduhan.

Kepala Kepolisian Metropolitan Bangkok (MPB), Siam Boonsom, sebelumnya mengatakan bahwa hasil penyelidikan awal dan keterangan saksi menunjukkan desain bangunan yang runtuh tidak memenuhi peraturan atau standar industri.

Penyidik menemukan posisi dinding poros lift tidak berada di tengah bangunan, melainkan di bagian belakang. Ketidaksesuaian ini menyebabkan pusat puntir struktur bergeser dari pusat geometrisnya. Saat gempa mengguncang, dinding poros lift dan pilar pondasi runtuh hampir bersamaan, membuat bangunan jatuh vertikal dengan cepat.

Selain itu, sampel semen dari reruntuhan tidak memenuhi standar, dan pemeriksaan baja tulangan menunjukkan penyimpangan dari rencana konstruksi yang telah disetujui. Kantor Forensik Kepolisian juga mengkonfirmasi tanda tangan seorang insinyur profesional di dokumen resmi adalah palsu dan tidak sesuai dengan sampel tulisan tangan yang terverifikasi. (Hui/asr)

Artikel ini mengacu pada laporan Reuters dan AFP

Kabinet Israel Setujui Rencana Menguasai Penuh Kota Gaza

Pada Jumat  (8 Agustus 2025) dini hari, kabinet keamanan Israel menyetujui sebuah rencana untuk melancarkan operasi militer baru guna menguasai penuh Kota Gaza. Perang di Gaza telah berlangsung hampir dua tahun dan komunitas internasional khawatir langkah ini dapat memperburuk krisis kemanusiaan.

Etindonesia. Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa militer Israel “bersiap menguasai Kota Gaza, sambil menyediakan bantuan kemanusiaan bagi warga sipil di luar zona pertempuran.”

Dalam wawancara dengan Fox News pada Kamis, ketika ditanya apakah Israel akan menguasai seluruh Jalur Gaza, Netanyahu menjawab tegas: “Kami berniat melakukannya, demi menjamin keamanan kami, dan membersihkan Gaza dari Hamas.”

“Kami tidak berniat mendudukinya secara permanen. Kami akan menetapkan perbatasan keamanan,” ujarnya, “lalu menyerahkan pemerintahan kepada pihak Arab yang tidak mengancam kami dan dapat memberi kehidupan yang lebih baik bagi warga Gaza.”

Saat ini Israel telah menguasai sekitar tiga perempat wilayah Gaza.

Keputusan kabinet ini, meski tidak sepenuhnya mengambil alih seperti yang sempat disebutkan sebelumnya, tetap ditujukan untuk memberi tekanan pada Hamas agar menerima syarat gencatan senjata Israel.

Rencana tersebut masih harus dibahas oleh seluruh kabinet, dan dua sumber pemerintah mengatakan pertemuan kabinet paling cepat akan digelar pada Minggu.

Kekhawatiran Militer dan Isu Sandera

Menurut Reuters, Kepala Staf Umum Militer Israel, Eyal Zamir, dalam sebuah rapat tegang dengan petinggi militer, mengemukakan keberatan atas perluasan operasi di Gaza.

Zamir memperingatkan bahwa operasi ini bisa membahayakan para sandera yang masih hidup, sekaligus menguras kekuatan militer Israel, terutama setelah hampir dua tahun bertempur.

Pejabat Israel memperkirakan Hamas masih menahan sekitar 50 sandera, dengan sekitar 20 di antaranya kemungkinan masih hidup.

Mayoritas sandera yang dibebaskan sejauh ini dilepaskan saat gencatan senjata atau melalui perundingan. Pada Kamis, sekitar 20 keluarga sandera berlayar dari Israel selatan menuju perbatasan laut dekat Gaza, menyerukan pembebasan kerabat mereka melalui pengeras suara dan mendesak segera diakhirinya perang.

Pejabat Hamas, Osama Hamdan, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa setiap kekuatan eksternal yang memasuki Gaza untuk mengelola wilayah itu akan dianggap sebagai “kekuatan pendudukan” yang terkait dengan Israel.

Miroslav Jenca, Asisten Sekretaris Jenderal PBB, memperingatkan bahwa jika Israel memperluas operasi militernya, hal itu “dapat membawa konsekuensi bencana bagi jutaan warga Palestina, dan semakin membahayakan nyawa para sandera yang masih ditahan.”

Awal pekan ini, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa keputusan untuk mengendalikan secara militer Jalur Gaza sepenuhnya merupakan urusan pemerintah Israel.

Krisis Kemanusiaan di Gaza

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikuasai Hamas, operasi militer Israel telah menewaskan lebih dari 61.000 warga Palestina. Meski kementerian tersebut berada di bawah kendali Hamas, tenaga medisnya adalah profesional, dan PBB serta pakar independen menilai data tersebut mendekati kenyataan. Israel membantah angka itu, namun tidak memberikan data versinya sendiri.

Israel telah berulang kali membombardir Kota Gaza dan melakukan serangan kilat, namun para militan selalu mampu membentuk kembali kekuatan mereka, memaksa militer Israel untuk kembali menyerang. Serangan darat baru kemungkinan akan membuat puluhan ribu orang mengungsi dan semakin menghambat masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah yang sudah dilanda kelaparan ini.

Belum jelas berapa jumlah penduduk yang tersisa di Kota Gaza. Pada awal perang, ratusan ribu orang mengungsi karena perintah evakuasi, namun banyak yang kembali pada awal tahun ini saat gencatan senjata. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Poin Penting Sidang Pleno Keempat Komite Sentral PKT ke-19, Beidaihe dalam Periode Sensitif Hingga Seorang Pria Yunnan Memanjat Menara

EtIndonesia.  Topik utama hari ini:

  • Trump perintahkan sensus baru, kecualikan imigran ilegal
  • Pria di Kunming memanjat menara dan mengangkat papan “Xi Jinping mundur”
  • Menjelang pertemuan dengan Trump, Putin ungkap lokasi pertemuan dan syarat bertemu Zelensky
  • CEO Intel diduga terlalu dekat dengan Partai Komunis Tiongkok, Trump minta mundur
  • Kabar menyebut parade militer Beijing September hanya pertunjukan, dan sidang Paripurna Keempat tidak menutup kemungkinan menyingkirkan Xi

Trump Perintahkan Sensus Baru, Kecualikan Imigran Ilegal

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (7 Agustus) mengumumkan bahwa ia telah memerintahkan Departemen Perdagangan AS untuk segera memulai persiapan sensus penduduk baru.

Dalam posting di platform Truth Social, Trump menyebut sensus ini akan “baru dan sangat akurat” dengan “menggunakan data modern dan angka-angka yang, pentingnya, berdasarkan hasil dan informasi dari pemilu presiden 2024.”

Ia menegaskan: “Mereka yang berada di negara kita secara ilegal tidak akan dihitung dalam sensus.”

Pengumuman ini datang saat Gedung Putih mendorong negara-negara bagian yang dikuasai Partai Republik untuk menggambar ulang peta daerah pemilihan Kongres. Konstitusi AS Pasal I Bagian 2 mengatur bahwa pemerintah federal harus mengadakan sensus setiap sepuluh tahun sekali untuk menetapkan pembagian kursi Kongres dan alokasi sumber daya federal.

Sensus terakhir dilakukan pada 2020, sementara yang berikutnya dijadwalkan 2030. Karena sensus nasional sangat kompleks, biasanya memerlukan perencanaan dan persiapan selama beberapa tahun. Saat ini, Departemen Perdagangan AS mengawasi Biro Sensus yang dipimpin oleh Howard Lutnick.

Menurut situs resmi Biro Sensus, tujuan sensus adalah “menghitung setiap penduduk” tanpa memandang status hukum. Namun kali ini, Trump secara tegas menetapkan akan mengecualikan imigran ilegal, yang berarti perubahan kebijakan besar.

Pusat Penelitian Pew pernah menganalisis bahwa jika imigran ilegal dikeluarkan dari basis perhitungan sensus 2020, tiga negara bagian kemungkinan akan kehilangan masing-masing satu kursi Kongres, memengaruhi perwakilan politik dan alokasi dana.

Trump sebelumnya pada masa jabatan pertamanya berupaya menambahkan pertanyaan tentang status kewarganegaraan dalam sensus, tetapi dibatalkan oleh Mahkamah Agung. 

Pada 2020, ia juga menandatangani memo presiden untuk mengecualikan imigran ilegal dari perhitungan alokasi kursi DPR. Meski pengadilan rendah memutuskan kebijakan itu ilegal, Mahkamah Agung menolak gugatan dengan alasan “terlalu dini,” sehingga rencana itu akhirnya gagal dilaksanakan.

Pria di Kunming Memanjat Menara, Mengangkat Papan “Xi Jinping Mundur”

Pada 7 Agustus, video seorang pria Yunnan mengangkat papan menuntut Xi Jinping mundur beredar luas di platform media sosial X. Kejadian ini menarik perhatian karena berlangsung saat pertemuan tahunan elit Partai Komunis Tiongkok di Beidaihe.

Video memperlihatkan seorang pria muda berbaju kaos putih, celana pendek abu-abu, dan berkacamata, berdiri di depan Gerbang Museum Peringatan Kemenangan Perang Anti-Jepang di Kunming, memegang spanduk putih bertuliskan “Xi Jinping mundur.” 

Banyak turis di lokasi yang berhenti dan merekam. Seorang petugas keamanan berseragam dengan pita merah di lengannya terlihat berhenti dengan sepeda listrik di depan pria itu, namun tidak langsung menghentikannya dan tampak sedang melapor melalui ponsel.

Karena sensor ketat pemerintah, waktu dan identitas pelaku belum dapat dipastikan.

Video ini menuai banyak pujian dari netzien: “Bangsa ini tidak pernah kekurangan orang pemberani, bangsa ini punya keberanian untuk menghadapi kejahatan. Salut untuk pemuda pemberani ini.”

Aktivis demokrasi Zhou Fengsuo juga berkata: “Xi Jinping mundur! Hormat untuk pejuang Kunming.”

Namun, ada pula yang khawatir akan keselamatannya, dan sebagian netizen menambahkan bahwa bukan hanya Xi yang harus mundur, tapi juga Partai Komunis: “Harusnya PKT yang mundur.”

Beberapa aksi serupa pernah terjadi:

  • Januari 2022, seorang pria di Luohu, Shenzhen, memegang spanduk “Gulingkan Xi Jinping! Tolak amandemen konstitusi,” dijuluki “Pahlawan Luohu.”
  • Oktober 2022, Peng Lifa (nama daring Peng Zaizhou) membentangkan spanduk di Jembatan Sitong, Beijing, menuntut “hapus lockdown, minta kebebasan” dan “gulingkan diktator Xi Jinping,” yang memicu Gerakan Kertas Putih.
  • April 2025, Mei Shilin (27) di Chengdu menggantung spanduk di jembatan penyeberangan bertuliskan “Rakyat tidak membutuhkan partai yang kekuasaannya tidak terbatas” dan kemudian ditahan.
  • Juli 2025, Zhang Qiyuan dari Hebei dipanggil polisi setelah mengkritik Xi di siaran langsung, lalu hilang setelah membuat pernyataan menolak kompromi

Putin Siap Bertemu Trump, Gedung Putih Tekan Rusia untuk Dorong Perundingan Damai

Presiden Rusia Vladimir Putin berharap dapat bertemu Presiden AS Donald Trump pekan depan, kemungkinan di Uni Emirat Arab. Waktu ini sensitif karena Gedung Putih tengah menekan Moskow agar mendorong diakhirinya perang Rusia–Ukraina, jika tidak AS akan menjatuhkan sanksi tambahan.

Seorang pejabat Gedung Putih menyebut lokasi belum pasti, namun AS masih berencana mengumumkan sanksi baru terhadap Rusia. Gedung Putih juga memberi syarat: jika Putin tidak bersedia bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, maka Trump tidak akan mengadakan pembicaraan dengannya.

Putin mengatakan ia “tidak menolak” pertemuan langsung dengan Zelenskyy, tetapi dengan “kondisi tertentu.” Kremlin sebelumnya menyatakan bahwa pertemuan antar pemimpin hanya pantas dilakukan jika negosiasi sudah mendekati kesepakatan.

Penasihat kebijakan luar negeri Putin, Yuri Ushakov, menyebut prioritas utama Rusia adalah memastikan pertemuan bilateral Putin–Trump “berhasil dan menghasilkan sesuatu.” Ia menambahkan AS sempat mengusulkan Zelensky ikut serta, tetapi belum ada pembahasan konkret.

Saat ditanya siapa yang memprakarsai pertemuan, Putin menjawab bahwa itu tidak penting: “Kedua pihak menunjukkan minat.”

Kepala Dana Kekayaan Negara Rusia, Kirill Dmitriev, setelah bertemu utusan khusus AS Steve Witkoff, mengatakan bahwa pertemuan Putin–Trump akan membantu Rusia memperjelas sikapnya, dan berharap pembahasan bisa mencakup kerja sama investasi, termasuk sektor logam tanah jarang.

Jika terlaksana, ini akan menjadi pertemuan tatap muka pertama antara pemimpin AS dan Rusia sejak Biden dan Putin bertemu di Jenewa pada 2021. Walau belum pasti bisa menghasilkan gencatan senjata, pertemuan ini dapat menjadi langkah penting bagi Trump untuk mendorong perdamaian.

Namun Ukraina khawatir akan terpinggirkan dalam perundingan AS–Rusia. Zelenskyy hari ini berbicara dengan beberapa pemimpin Eropa, menegaskan bahwa Eropa harus ikut menyusun rencana perdamaian. Ia mengatakan: “Ukraina tidak takut bernegosiasi, dan berharap pihak Rusia juga punya keberanian. Sudah saatnya mengakhiri perang.”

Di media sosial, Zelenskyy menekankan bahwa fokus Ukraina adalah gencatan senjata dan jaminan keamanan jangka panjang. Ia ingin AS dan Eropa bersama-sama memastikan Ukraina tidak akan diserang lagi di masa depan.

Menurut data PBB, perang ini telah menewaskan puluhan ribu tentara, serta lebih dari 12.000 warga sipil Ukraina.

[CEO Intel Diduga Terlalu Dekat dengan Tiongkok, Trump Minta Mundur]

 Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 7 Agustus melalui platform media sosialnya “Truth Social” menyerukan agar CEO Intel, Patrick Gelsinger, segera mengundurkan diri, menyebut hal itu sebagai “satu-satunya solusi yang dapat diterima”. Pernyataan tersebut langsung membuat harga saham Intel anjlok lebih dari 4% pada perdagangan pra-pasar.

Alasan permintaan pengunduran diri Gelsinger diduga terkait dengan investasi pada perusahaan-perusahaan yang memiliki latar belakang Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Menurut laporan Reuters pada 6 Agustus, Senator Republik Tom Cotton mengirim surat kepada dewan direksi Intel, mempertanyakan hubungan Gelsinger dengan perusahaan-perusahaan Tiongkok, serta kasus pidana yang melibatkan perusahaannya terdahulu—Cadence Design Systems, perusahaan teknologi desain otomatisasi elektronik (EDA) multinasional yang berbasis di California.

Cadence telah mengaku bersalah dan membayar lebih dari 140 juta dolar AS dalam penyelesaian kasus pelanggaran kontrol ekspor AS karena menjual teknologi sensitif ke Universitas Pertahanan Nasional Tiongkok (NUDT).

Cotton menyatakan kekhawatirannya apakah latar belakang Gelsinger dapat menimbulkan risiko bagi keamanan nasional AS. Ia meminta dewan direksi Intel menjelaskan apakah mereka mengetahui adanya hubungan modal atau bisnis Gelsinger dengan perusahaan-perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan PKT maupun militer Tiongkok.

Selain itu, menurut laporan Reuters pada April, Gelsinger pada periode Maret 2012 hingga Desember 2024 telah berinvestasi setidaknya 200 juta dolar AS di ratusan perusahaan Tiongkok, termasuk perusahaan teknologi dan bahkan kontraktor serta pemasok militer PKT. Gelsinger menjabat CEO Intel sejak Maret tahun ini.

Menanggapi tudingan tersebut, Intel menyatakan bahwa perusahaan dan Gelsinger “berkomitmen teguh untuk menjaga peran integritas dalam keamanan nasional dan industri pertahanan AS”, namun tidak secara langsung menjawab tuduhan spesifik yang diajukan Cotton.

Intel adalah pilar utama upaya AS dalam membangun kapasitas manufaktur chip di dalam negeri, tetapi dalam beberapa tahun terakhir kehilangan keunggulan produksi. Tahun lalu, perusahaan ini menerima hampir 20 miliar dolar AS dalam bentuk subsidi dan pinjaman dari pemerintah AS untuk produksi semikonduktor mutakhir.

[Kabar: Parade Militer Beijing September Hanya Pertunjukan, Pleno Keempat Akan Ada Kejutan]

Sidang pleno keempat Komite Sentral PKT ke-20 telah dijadwalkan pada Oktober mendatang. Kabar menyebut pertemuan ini sangat penting dan mungkin akan ada “perubahan personel” yang mengejutkan, bahkan tidak menutup kemungkinan Presiden Xi Jinping akan lengser.

Awalnya, pleno ini seharusnya digelar pada musim gugur 2024, namun baru pada 30 Juli Politbiro mengumumkan jadwal Oktober. Beberapa hari kemudian, media pemerintah Tiongkok melaporkan bahwa Cai Qi “atas mandat Xi Jinping” muncul di Beidaihe untuk menjenguk para ahli, menandakan pertemuan rahasia tahunan para elit kemungkinan telah dimulai.

Pengamat menduga, pertemuan Beidaihe telah menetapkan arah, sementara pleno keempat hanya formalitas. Analis independen Du Zheng menulis di media Taiwan Up Media bahwa pleno kali ini mungkin mirip pleno keempat tahun 1985, di mana secara resmi membahas rencana lima tahun, tetapi di balik layar merencanakan pergantian pemimpin.

Isu yang paling hangat adalah apakah Xi Jinping akan mundur, siapa penggantinya dan dalam bentuk apa pengunduran itu terjadi. Seorang sumber dekat lingkaran elit Beijing mengatakan bahwa meskipun Xi tidak mundur, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Zhang Youxia yang berusia 75 tahun mungkin akan pensiun sukarela sebagai bagian dari “kesepakatan” untuk mundur bersama.

Sumber tersebut juga mengatakan bahwa Xi tidak memiliki basis kuat di militer, para loyalisnya sudah terpencar. Bahkan, pejabat baru yang naik mungkin tetap orang dekat Zhang. Konfigurasi ini tidak akan memengaruhi tujuan “menjaga partai” karena PKT pada dasarnya adalah kelompok kepentingan yang saling memanfaatkan.

Sumber itu menegaskan bahwa parade militer besar di Beijing pada September hanya pertunjukan untuk dunia luar, bukan tanda Xi sedang menunjukkan kekuatan militer. Yang krusial adalah pleno Oktober—apakah benar akan terjadi “pergantian generasi” atau “yang lama turun, yang baru naik”. Hasilnya juga akan memengaruhi kelancaran pergantian kepemimpinan pada 2027.

Ia menambahkan, jika Xi tiba-tiba mundur secara tak terduga, hal itu bisa berarti “revolusi internal” telah diam-diam dimulai. Namun, ia memperingatkan bahwa pengganti Xi bisa saja “lebih kejam”, dengan tujuan memicu perlawanan yang lebih luas.

Du Zheng menyatakan, banyak orang mungkin tidak percaya bahwa PKT, meski penuh krisis namun memiliki sistem pengendalian yang kuat, akan tiba-tiba runtuh. Tetapi ia mengingatkan bahwa Uni Soviet juga runtuh ketika mayoritas orang tidak mempercayainya. Ia menyarankan agar dunia bersikap terbuka dan “menunggu perkembangan”.

Wall Street Journal pada 30 Juli melaporkan bahwa para sesepuh PKT mungkin sedang menantang Xi. Meski belum ada bukti kuat, rumor ini mencerminkan ketertutupan sistem di bawah kepemimpinan Xi Jinping dan kerinduan rakyat akan perubahan. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Trump Mediasi Damai, Putin Kirim Peringatan, Dunia Bersiap Hadapi Babak Baru Perang Ukraina

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengumumkan rencana pertemuan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, sekaligus memaparkan syarat gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina. Pada hari yang sama, Armenia dan Azerbaijan secara resmi menandatangani perjanjian damai yang dimediasi langsung oleh Trump, mengakhiri konflik berdarah yang telah berlangsung selama 35 tahun.

Koridor Strategis Bernama “Trump” di Kawasan Bekas Uni Soviet

Kesepakatan damai ini mencakup penyelesaian sengketa wilayah yang selama puluhan tahun menjadi sumber perang. Sebagai bagian dari perjanjian, akan dibangun koridor sepanjang 43 kilometer melintasi Armenia, yang diberi nama “Jalan Internasional Perdamaian dan Kemakmuran Trump”.

Hak pengelolaan koridor tersebut diberikan kepada perusahaan Amerika Serikat untuk jangka waktu 99 tahun. Media menyebutnya “Koridor Trump”, yang dinilai memiliki nilai strategis tinggi karena berada di kawasan bekas Uni Soviet dan menjadi salah satu batas selatan penting bagi Rusia.

Trump menegaskan bahwa Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan dan Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev akan diundang ke Gedung Putih untuk menandatangani perjanjian damai secara resmi.

“Pemerintahan saya sudah lama berkomunikasi dengan kedua pihak. Keinginan terbesar saya adalah membawa perdamaian dan stabilitas bagi dunia,” ujar Trump.

Nominasi Hadiah Nobel Perdamaian

Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev bahkan menyatakan akan mengusulkan Trump sebagai kandidat Hadiah Nobel Perdamaian, menjadikannya negara keempat yang mengajukan nominasi tersebut setelah Israel, Kamboja, dan Pakistan.

Juru Bicara Gedung Putih, Levitt, menyebut Trump memang pantas mendapatkan Nobel Perdamaian.

“Sejak kembali menjabat pada 20 Januari, beliau berhasil mencapai setidaknya satu kesepakatan damai atau gencatan senjata setiap bulan,” ungkap Levitt.

Sejumlah keberhasilan yang disebutkan termasuk mediasi antara India–Pakistan, Kamboja–Mesir, Ethiopia–Rwanda–Kongo, serta Serbia–Kosovo.

Butir Kesepakatan AS–Armenia dan AS–Azerbaijan

Dalam perjanjian bilateral yang terpisah, AS–Armenia dan AS–Azerbaijan menyepakati poin-poin berikut:

  • Menghentikan seluruh tindakan permusuhan.
  • Membuka jalur perdagangan dan transportasi.
  • Menghormati integritas wilayah masing-masing negara.
  • Memperkuat kerja sama di bidang energi, perdagangan, serta teknologi termasuk kecerdasan buatan (AI).

Namun, mantan pejabat Ukraina, Hrytsenko, menilai kesepakatan ini merupakan bagian dari strategi AS untuk memperluas pengaruh di Asia Tengah, Kaukasus Selatan, dan Turki.

 Di tengah proses negosiasi, Rusia melancarkan serangan terhadap stasiun kompresor gas alam di Orlivka, Ukraina — jalur pasokan gas dari Azerbaijan — yang dinilai sebagai sinyal peringatan dari Putin kepada Baku.

Di sisi lain, Azerbaijan mengumumkan pembukaan lini produksi peluru artileri baru bekerja sama dengan Turki dan Bulgaria, untuk memproduksi peluru kaliber 122 mm dan 152 mm yang sebagian akan dikirim ke Ukraina.

Putin–Xi Jinping Bahas Ukraina dan Aliansi Strategis Rusia–Tiongkok

Media Tiongkok melaporkan bahwa Presiden Putin telah memberi informasi kepada Presiden Xi Jinping terkait perkembangan perang Ukraina dan kontak terbarunya dengan AS. Putin menegaskan bahwa kemitraan strategis komprehensif Rusia–Tiongkok “tidak akan berubah dalam kondisi apa pun”.

Xi Jinping menyatakan bahwa Tiongkok mendukung dialog damai dan menyambut baik adanya komunikasi antara AS dan Rusia.

Namun, laporan Pusat Reformasi Pertahanan Ukraina menuding Tiongkok memainkan peran penting dalam mendukung industri drone Rusia.

 Temuan tersebut mengungkap:

  • Rantai pasokan mencakup sejumlah negara Eropa serta pabrik baterai litium di Tainan.
  • Lebih dari 40 komponen drone Rusia berasal dari Tiongkok.
  • Kapasitas produksi mencapai 30.000 unit per tahun.
  • Serangan drone Rusia meningkat drastis dari 40 unit per bulan pada 2022 menjadi lebih dari 5.400 unit pada Juni 2025.

Trump–Putin Siapkan Pertemuan, Bahas Potensi Tukar Wilayah Rusia–Ukraina

Kremlin mengonfirmasi bahwa KTT Trump–Putin kemungkinan digelar pekan depan. Trump mengatakan lokasi pertemuan “akan sangat disukai” tetapi belum mengumumkan secara resmi. Media AS melaporkan bahwa salah satu skenario yang dibahas adalah pertukaran wilayah antara Rusia dan Ukraina.

Menurut The Wall Street Journal, Putin bersedia melakukan gencatan senjata jika Ukraina dan NATO menarik pasukan dari wilayah timur Ukraina. Sementara Fox News menyebut pertemuan dijadwalkan pada Jumat depan di Alaska.

Ketegangan dengan India

Reuters melaporkan bahwa India membatalkan rencana pembelian senjata dari AS sekaligus membatalkan kunjungan Menteri Pertahanan Rajnath Singh ke Washington.

Penasihat ekonomi Gedung Putih, Navarro, menuding India dan Tiongkok “memainkan peran ganda” dengan terus membeli minyak Rusia, yang keuntungannya digunakan untuk membiayai perang di Ukraina.

Trump menegaskan praktik tersebut harus dihentikan.

“Kebijakan perdagangan saya bertujuan menciptakan perdagangan yang adil dan investasi yang saling menguntungkan,” tegasnya.

Pengemudi di Zhengzhou, Tiongkok  Selamat dari Terowongan: Dalam 10 Menit Air Sudah Mencapai Jendela Mobil 

Pada 7 Agustus 2025 pagi, Kota Zhengzhou di Provinsi Henan dilanda hujan lebat. Seluruh area perkotaan tergenang bak lautan, banyak mobil terjebak di dalam terowongan. Seorang pengemudi yang berhasil menyelamatkan diri mengatakan, hanya dalam 10 menit air sudah naik hingga mencapai jendela mobil, mobilnya mulai mengapung, dan situasinya sangat menakutkan.

EtIndonesia. Video yang beredar di internet menunjukkan hujan deras di Zhengzhou membuat kawasan perkotaan berubah menjadi sungai deras. Banyak mobil mogok terendam air, dan ada pejalan kaki yang terseret arus banjir.

Beberapa terowongan lalu lintas di Zhengzhou tergenang, dan Terowongan Jingguang Road — yang pernah terendam banjir sebelumnya — kembali mengalami situasi bencana.

Seorang pengemudi yang lolos menceritakan kepada “Haibao News”:  “Saat itu saya terjebak di dalam Terowongan Jingguang Road, hanya dalam waktu 10 menit air hampir sampai ke jendela mobil. Semua mobil terjebak, mobil saya bahkan mulai mengapung. Saat itu saya benar-benar takut.”

Dalam video terlihat kondisi gelap di dalam terowongan, air sudah mencapai bagian bodi mobil, banyak kendaraan terendam dan berusaha berbalik untuk keluar dari terowongan.

Pengemudi tersebut menambahkan:  “Sekitar pukul 1.30 siang saya masuk ke terowongan, lalu air mulai perlahan naik. Terowongan di depan sudah terendam, semua mobil di belakang mencoba berbalik. Banyak mobil berbahan bakar bensin langsung mogok, semua kendaraan terjebak. Saat itu tidak ada yang memikirkan aturan lalu lintas lagi, banyak mobil langsung putar balik.”

Dia juga melihat banyak orang meninggalkan mobilnya, memanjat menggunakan tangga untuk keluar dari terowongan.

Badan Meteorologi Zhengzhou pada 7 Agustus mengeluarkan peringatan merah hujan lebat. Pihak berwenang setempat mengumumkan penghentian segera kegiatan produksi, usaha, sekolah, transportasi, dan aktivitas luar ruangan berkelompok. Warga diminta untuk tidak keluar rumah kecuali sangat diperlukan.

Seorang warga yang merekam video di luar terowongan mengatakan, Terowongan Jingguang Road mengalami kemacetan, banyak kendaraan keluar mundur dari dalam terowongan, bahkan ada yang berputar arah di tempat. “Sepertinya terowongan bawah tanah ini kembali tergenang, semua mobil mundur keluar.”

Menurut laporan CCTV milik pemerintah Partai Komunis Tiongkok, dari pukul 8.00 hingga 14.10 pada 7 Agustus, Zhengzhou mengalami hujan lebat dengan curah hujan rata-rata kota mencapai 17,3 mm. Curah hujan tertinggi tercatat di Distrik Zhongyuan, di area kantor pemerintah kota, sebesar 187,0 mm.

Akibat hujan tersebut, layanan jalur metro Zhengzhou dihentikan di beberapa titik: Jalur 4 pada Stasiun Zhangjiacun, dan Jalur 7 di segmen antara Stasiun Dongzhao hingga Stasiun Baimiao. Hingga kini, pihak berwenang Zhengzhou belum melaporkan korban jiwa akibat banjir ini.

Seorang warga yang merekam video mengatakan, jalan raya sudah seperti sungai, mobil berjalan seperti perahu, bus umum berhenti beroperasi karena arus air terlalu deras dan besar. Situasinya sangat mirip dengan banjir besar Zhengzhou pada 20 Juli 2021.

Terowongan Jingguang Road memiliki panjang 4,3 km. Saat banjir tahun 2021, diperkirakan setidaknya ada lebih dari 1.200 mobil yang dikeluarkan dari terowongan ini, namun jumlah korban jiwa yang sebenarnya ditutupi oleh pemerintah PKT. (Hui/asr)

oleh Luo Tingting / Wen Hui – NTDTV.com

Bersaing dengan Trump? Angkatan Laut PKT dan Rusia Menggelar Latihan Menghancurkan Kapal Selam Musuh

Angkatan Laut Rusia dan Tiongkok baru-baru ini mengadakan latihan gabungan di Laut Jepang, berlatih mencari dan menghancurkan “kapal selam musuh”. Para ahli menilai, langkah ini jelas ditujukan sebagai respons terhadap penempatan militer terbaru Presiden AS Donald Trump.

EtIndonesia. Kantor berita Reuters pada 6 Agustus mengutip laporan media Rusia Interfax bahwa setelah latihan gabungan di Laut Jepang, kapal perang kedua negara akan melanjutkan patroli bersama di kawasan Asia-Pasifik.

Latihan gabungan Angkatan Laut Tiongkok dan Rusia berlangsung pada 1–5 Agustus di Laut Jepang. Pada tahap akhir latihan, Rusia mengerahkan kapal anti-kapal selam besar Admiral Tributs dan fregat Gromky, sementara Tiongkok mengirim kapal perusak Shaoxing dan Urumqi. Mereka melakukan latihan tembak langsung, termasuk simulasi pencarian dan penghancuran kapal selam musuh.

“Latihan seri Joint Sea antara PKT dan Rusia sudah menjadi agenda rutin sejak 2012. Namun, berbeda dari sebelumnya, kali ini untuk pertama kalinya kapal selam PKT ikut ambil bagian dan berlabuh di Pangkalan Armada Pasifik Rusia di Vladivostok,” ujar Hong Tzu-chieh, Kepala Institut Politik-Militer dan Konsep Operasi PLA di Institut Pertahanan Nasional Taiwan. 

Sebelumnya, Trump menyatakan telah memerintahkan dua kapal selam nuklir AS ditempatkan “lebih dekat ke Rusia” sebagai tanggapan atas pernyataan provokatif mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengenai risiko perang nuklir antar kekuatan.

Meski pihak Rusia mengklaim latihan ini bersifat defensif dan tidak menargetkan negara tertentu, Su Tzu-yun, Direktur Institut Strategi dan Sumber Daya di Institut Penelitian Keamanan Nasional Taiwan, menilai jelas bahwa latihan ini diarahkan pada AS.

Su Tzu-yun berkata: “Awalnya ini adalah latihan rutin untuk menunjukkan kemitraan strategis PKT-Rusia. Misalnya, tahun lalu mereka melakukan patroli bersama mengelilingi Jepang, menuju tenggara Taiwan, lalu berpisah—kapal Rusia melalui Selat Miyako di utara Taiwan, kapal PKT melalui Selat Bashi, kemudian bertemu di Shanghai.” 

“Namun tahun ini sifatnya lebih spesifik, karena mereka memperluas latihan anti-kapal selam dan bahkan menyatakan berhasil menenggelamkan kapal selam musuh. Ini jelas ditujukan untuk menanggapi pengumuman Trump bahwa dua kapal selam strategis AS berada di dekat perairan Rusia,” lanjutnya. 

Selain itu, menurut The Australian Times pada 4 Agustus, sebagai bagian dari latihan Talisman Sabre 2025, Angkatan Darat AS untuk pertama kalinya mengerahkan rudal hipersonik Dark Eagle ke Australia.

Pakar rudal Li Wensheng mengatakan kepada media Tiongkok The Paper bahwa Beijing perlu mewaspadai kemungkinan AS akan memanfaatkan latihan gabungan untuk kembali menempatkan rudal Dark Eagle di Filipina atau Okinawa.

Dengan kata lain, ke depannya AS mungkin akan menempatkan Dark Eagle di sekitar wilayah Tiongkok.

“Ini adalah kelanjutan dari kebijakan Trump 1.0. Saat itu Trump keluar dari Perjanjian INF untuk mengembangkan rudal jarak menengah sebagai tandingan Dongfeng-21 dan Dongfeng-26. Trump menilai perjanjian itu tidak adil karena AS dan Rusia tidak mengembangkan rudal jarak menengah, sementara PKT mengembangkannya,” ujar Su Tzu-yun menambahkan. 

“Setelah keluar dari INF, AS mengembangkan dua sistem: Typhon dan Dark Eagle. Typhon kini ditempatkan di Filipina, dan kedepannya Dark Eagle mungkin ditempatkan di Australia sebagai peringatan. Jika PKT terus memperluas persenjataan, Dark Eagle bisa didorong ke depan sehingga rantai pulau pertama akan berubah menjadi rantai rudal untuk menekan PKT,” lanjutnya. 

Gerakan militer terbaru AS, PKT, dan Rusia memicu spekulasi tentang bagaimana hubungan ketiganya akan berkembang ke depan.

Su Tzu-yun berkata: “Prinsip panduan utama AS adalah memperbaiki hubungan dengan Rusia. Jika perang Rusia–Ukraina bisa dihentikan, AS bersedia mencabut sanksi dan membantu pemulihan ekonomi Rusia.”

“Dalam kondisi itu, konfrontasi militer AS–PKT  tetap tak terhindarkan, meski perang dagang mungkin mereda. Namun, hubungan AS–Rusia bisa berubah signifikan. Putin kini masih ragu, apakah akan tetap bersama PKT atau beralih ke AS dan Barat. Jika perang Rusia–Ukraina bisa diselesaikan secara damai, Tiongkok  bisa benar-benar terisolasi,” lanjutnya. 

Meski begitu, Hong Tzu-chieh menilai terlalu dini untuk mengatakan bahwa AS, PKT, dan Rusia telah memasuki level konfrontasi militer yang lebih tinggi.

Hong Tzu-chieh berkata: “Dilihat dari situasi saat ini, meski kedua pihak menyesuaikan strategi militer masing-masing, eskalasi konfrontasi militer secara keseluruhan belum terlihat jelas.”

Dalam latihan kali ini, selain penempatan perdana rudal Dark Eagle, sistem rudal Typhon juga untuk pertama kalinya melakukan uji tembak di wilayah Samudra Pasifik Barat. (Hui/asr)

Wang Ziq/Luo Ya/Shaoyang – NTDTV.com

9 Tipe Ibu yang Mampu Membesarkan Anak Hebat, Apakah Kamu Termasuk Salah Satunya?


EtIndonesia. Penelitian menunjukkan bahwa sifat dan karakter seorang ibu akan tercermin pada anaknya hingga 70%.  Saat anak berbuat salah, apakah kamu tipe ibu yang langsung marah-marah? Atau justru ibu yang tenang dan mau menganalisis masalah? Ketika anak tumbuh besar, apakah kamu masih menjadi sosok ibu yang dia kagumi sejak kecil?

Jika suatu hari anak tiba-tiba bersikap dingin padamu, apakah kamu langsung introspeksi? Dan saat anak jadi sangat lengket padamu, bisakah kamu menyadari ada perubahan dalam dirimu yang membuatnya begitu?

Nah, inilah 9 tipe ibu yang disukai anak-anak, dan dipercaya mampu membesarkan anak-anak luar biasa.

1. Ibu yang Menyenangkan dan Penuh Keceriaan

Meski sudah menjadi orang dewasa, bahkan berumah tangga, seorang ibu tetap bisa hidup dengan semangat “kekanak-kanakan” yang positif.  

Kamu tidak harus kaku dan tegas sepanjang waktu. Jadilah teman bermain bagi anakmu—menyanyi, menari, menggambar, membuat kerajinan tangan.

Kamu bisa menemukan keajaiban dari hal-hal kecil, dan menyulap momen sederhana menjadi petualangan seru bersama anak.

2. Ibu yang Jarang Mengatakan “Tidak”

Kamu tidak memaksa anak untuk jadi sosok sempurna yang bisa segalanya. Kamu paham bahwa setiap anak punya kelebihan dan kekurangan. Alih-alih menuntut, kamu memilih untuk menumbuhkan semangat dan rasa percaya dirinya.

Buatmu, kesalahan bukan aib, tapi sarana belajar. Kamu membiarkan anak mencoba, gagal, lalu bangkit lagi—dan itulah pelajaran hidup terbaik.

3. Ibu yang Tidak Suka Membandingkan

Kamu tidak pernah membandingkan anakmu dengan “anak tetangga”.

Kamu tahu bahwa setiap anak unik dan tidak bisa diukur dengan standar orang lain.

 Kamu mendampingi anakmu untuk tumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri, bukan menjadi bayangan dari siapa pun.

 Kamu bersedia tumbuh bersama mereka—dengan cinta, bukan tekanan.

4. Ibu yang Menepati Janji

Kamu tidak sembarangan berjanji. Dan jika sudah berjanji, kamu pasti menepatinya. Jika kamu bilang akan menemani anak bermain, kamu akan merapikan jadwal lebih dulu agar tidak mengecewakannya. Kamu tahu bahwa kepercayaan adalah pelajaran penting yang harus diajarkan sejak dini.

5. Ibu yang Suka Tersenyum

Kamu adalah ibu yang ceria dan optimis. Meski hidup penuh tekanan, kamu tetap berusaha tersenyum. Kamu tidak meledak-ledak saat emosi datang.

Bahkan saat sedang sedih atau kesal, kamu tak segan berbagi cerita dengan anak, membangun kedekatan layaknya sahabat sejati.

6. Ibu yang Lapang Dada dan Tidak Gampang Emosi

Ketika anak bertengkar dengan temannya, kamu tidak langsung menghakimi. Kamu bukan tipe yang gampang tersulut emosi. Sebaliknya, kamu mengajarkan anak cara menyelesaikan konflik dengan kepala dingin, memaafkan, dan menyelesaikan masalah tanpa dendam. Kamu percaya bahwa kebesaran hati adalah warisan terbaik bagi anak.

7. Ibu yang Menghargai Privasi Anak

Kamu punya kehidupan sendiri, dan kamu tidak menjadikan anak sebagai pusat segalanya. Kamu menghormati ruang pribadi anak, dan tidak sembarangan membuka rahasianya kepada orang lain. Kamu tahu, bahkan anak kecil pun butuh dihargai martabat dan kepercayaannya.

8. Ibu yang Pandai Mendengarkan dan Komunikatif

Saat ada masalah, kamu tidak main perintah atau marah. Kamu membuka ruang dialog, mendengarkan keluh kesah anak tanpa menghakimi.  Kamu tidak hanya berbicara—kamu juga mendengarkan, dan dari sanalah anak merasa didukung, bukan dikendalikan.

9. Ibu yang Penuh Cinta dan Kasih Sayang

Kamu memiliki hati yang baik, penuh cinta pada orang lain, dan tidak suka membicarakan orang dengan nada buruk. Kamu tegas membedakan mana yang baik dan buruk, tapi tidak menyakiti dengan kata-kata.

Kamu tahu kapan harus mengalah, dan kapan harus mengajarkan nilai kehidupan dengan penuh kelembutan.

Penutup: Jadilah Ibu yang Membawa Energi Positif

Setiap ibu dulunya adalah perempuan yang mencintai keindahan, tapi setelah jadi ibu, mungkin tuntutan hidup membuatmu lupa mencintai dirimu sendiri.

 Tapi ingat, menjadi ibu yang penuh semangat dan positif bukan hanya hadiah untuk dirimu sendiri—itu adalah warisan terbaik untuk anakmu.(jhn/yn)