Misteri Kematian Lebih dari 5 Miliar Bintang Laut Akhirnya Terungkap 

EtIndonesia  — Para ilmuwan mengatakan mereka akhirnya berhasil memecahkan misteri yang menyebabkan kematian lebih dari 5 miliar bintang laut di sepanjang pantai Pasifik Amerika Utara dalam sebuah wabah yang berlangsung selama satu dekade.

Bintang laut—yang juga dikenal sebagai starfish—biasanya memiliki lima lengan, namun beberapa spesies memiliki hingga 24 lengan. Warna mereka beragam, mulai dari oranye polos hingga corak oranye, ungu, cokelat, dan hijau.

Sejak tahun 2013, sebuah penyakit misterius yang disebut penyakit wasting pada bintang laut memicu kematian massal dari Meksiko hingga Alaska. Wabah ini menghancurkan lebih dari 20 spesies dan masih berlangsung hingga kini. Spesies yang paling terdampak adalah bintang laut matahari (sunflower sea star), yang kehilangan sekitar 90 persen populasinya dalam lima tahun pertama wabah.

“Ini benar-benar mengerikan,” kata Alyssa Gehman, ahli ekologi penyakit laut di Hakai Institute di British Columbia, Kanada, yang membantu mengidentifikasi penyebabnya.

Bintang laut yang sehat memiliki “lengan-lengan montok yang mencuat lurus keluar,” katanya. Tetapi penyakit wasting menyebabkan mereka mengembangkan luka, dan bahkan lengan-lengannya benar-benar lepas.

Apa penyebabnya? 

Bakteri, yang juga menginfeksi kerang-kerangan, menurut sebuah studi yang dipublikasikan Senin (5/8/2025)  di jurnal Nature Ecology and Evolution.

Temuan ini “memecahkan pertanyaan lama tentang penyakit laut yang sangat serius,” kata Rebecca Vega Thurber, ahli mikrobiologi laut dari University of California, Santa Barbara, yang tidak terlibat dalam studi tersebut.

Butuh waktu lebih dari satu dekade bagi para peneliti untuk mengidentifikasi penyebab penyakit ini, dengan banyak petunjuk palsu serta lika-liku yang rumit sepanjang perjalanan.

Penelitian awal mengindikasikan bahwa penyebabnya mungkin adalah virus, namun ternyata densovirus yang awalnya difokuskan para ilmuwan sebenarnya merupakan penghuni normal dalam tubuh bintang laut yang sehat dan tidak berkaitan dengan penyakit, kata Melanie Prentice dari Hakai Institute, salah satu penulis studi baru ini.

Upaya lain gagal mengungkap penyebab sebenarnya karena para peneliti hanya meneliti sampel jaringan dari bintang laut yang sudah mati, yang mana tidak lagi mengandung cairan tubuh yang mengelilingi organ-organ mereka.

Namun studi terbaru ini menyertakan analisis mendalam terhadap cairan tersebut, yang disebut cairan koelomik (coelomic fluid), di mana ditemukan bakteri Vibrio pectenicida.

“Sangat sulit melacak sumber penyakit lingkungan, apalagi yang terjadi di bawah air,” kata Blake Ushijima, ahli mikrobiologi dari University of North Carolina, Wilmington, yang juga tidak terlibat dalam penelitian. Ia menyebut kerja detektif tim ini sebagai “sangat cerdas dan signifikan.”

Kini setelah para ilmuwan mengetahui penyebabnya, mereka memiliki peluang lebih besar untuk mengambil tindakan demi membantu bintang laut.

Prentice mengatakan bahwa ilmuwan kini bisa menguji bintang laut yang tersisa untuk mengetahui mana yang masih sehat—dan mempertimbangkan apakah perlu direlokasi atau dibudidayakan dalam penangkaran untuk kemudian dilepas kembali ke wilayah yang telah kehilangan hampir semua populasi bintang laut mataharinya.

Ilmuwan juga bisa menguji apakah beberapa populasi memiliki kekebalan alami, dan apakah pengobatan seperti probiotik bisa membantu meningkatkan sistem kekebalan terhadap penyakit ini.

Upaya pemulihan ini penting bukan hanya untuk bintang laut, tapi juga bagi seluruh ekosistem Pasifik, karena bintang laut yang sehat membantu mengontrol populasi landak laut, kata para peneliti.

Bintang laut matahari “terlihat tidak berbahaya saat dilihat, tetapi mereka memakan hampir semua makhluk yang hidup di dasar laut,” kata Gehman. “Mereka pemakan rakus.”

Dengan jumlah bintang laut yang jauh berkurang, populasi landak laut—yang biasanya menjadi mangsa mereka—meledak. Bahkan, dalam waktu satu dekade memakan sekitar 95 persen hutan rumput laut (kelp) di California Utara. Hutan kelp ini menyediakan makanan dan habitat bagi berbagai hewan laut seperti ikan, berang-berang laut, dan anjing laut.

Para peneliti berharap bahwa temuan baru ini akan memungkinkan mereka untuk memulihkan populasi bintang laut. Selain itu, menumbuhkan kembali hutan kelp yang oleh Thurber disebut sebagai “hutan hujan laut.”

Ditulis oleh Christina LarsonSumber : The Associated Press

Klaim Sebuah Laporan : Mahasiswa Tiongkok di Inggris Dipaksa Memata-matai Teman-tamannya

EtIndonesia. Sebuah laporan lembaga pemikir Inggris menuduh bahwa mahasiswa Tiongkok di Inggris ditekan untuk memata-matai teman sebayanya guna menekan diskusi topik sensitif.

Sebuah laporan baru dari lembaga pemikir UK-China Transparency (UKCT) telah menimbulkan kekhawatiran bahwa mahasiswa Tiongkok yang terdaftar di universitas-universitas di Inggris didesak untuk memantau dan melaporkan teman sebaya mereka. Dugaan pengawasan tersebut dikatakan sebagai bagian dari upaya untuk membungkam percakapan seputar topik sensitif bagi Pemerintah Tiongkok.

Laporan tersebut, yang didasarkan pada survei terhadap akademisi yang mengkhususkan diri dalam studi Tiongkok, juga mengklaim bahwa pejabat Tiongkok telah memperingatkan dosen universitas untuk tidak membahas mata kuliah kontroversial di kelas mereka.

Pengungkapan ini muncul hanya beberapa hari setelah undang-undang baru berlaku di Inggris, yang bertujuan untuk memperkuat kebebasan akademik dan kebebasan berbicara di seluruh institusi pendidikan tinggi.

Laporan tersebut menyatakan: “Sistem studi Tiongkok kami rentan terhadap pengaruh, campur tangan, dan pelecehan Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang meluas. Aktivitas-aktivitas ini menjadi sumber distorsi di lapangan, badan pakar, dan output mereka. Hal ini kemungkinan besar berdampak negatif terhadap pengetahuan yang diberikan kepada pemerintah, media, lembaga think tank, bisnis, dll., meskipun kami belum menyelidikinya secara mendalam.”

Laporan tersebut lebih lanjut mencatat bahwa ikatan finansial antara institusi di Inggris dan entitas Tiongkok mungkin menjadi faktor penyebabnya: “Beberapa manifestasi dari masalah ini tampaknya disebabkan atau diperburuk oleh ketergantungan finansial pada Tiongkok. Dalam hal ini, isu-isu dalam studi Tiongkok merupakan sub-krisis dari krisis keuangan yang lebih luas di sektor pendidikan tinggi.”

Kedutaan Besar Tiongkok di London menolak klaim laporan tersebut, menyebutnya “tidak berdasar dan absurd,” dan menyatakan bahwa Tiongkok menghormati kebebasan berbicara di Inggris dan secara global.

Rilis laporan ini menyusul implementasi undang-undang baru Inggris yang bertujuan untuk memperkuat kebebasan akademik dan kebebasan berbicara dalam pendidikan tinggi.

Berdasarkan undang-undang ini, universitas kini diwajibkan untuk secara aktif melindungi kebebasan akademik, terutama dalam konteks kolaborasi internasional.

Institusi yang gagal mematuhinya dapat menghadapi denda jutaan poundsterling. Waktu penerbitan laporan ini telah meningkatkan kekhawatiran tentang pengaruh asing terhadap lingkungan akademik dan perlindungan dialog terbuka di universitas-universitas di Inggris. (yn)

Matsuura Yataro: Hidup Tak Butuh Filsafat Besar, Cukup Kebijaksanaan Kecil yang Membumi

 Matsuura Yataro adalah seorang pemikir unik dan penerbit ternama dari Jepang. Dia mendirikan toko buku antik “Cow Books” dan pernah menjabat sebagai pemimpin redaksi majalah hidup klasik Jepang, Kurashi no Techo. Dia dijuluki sebagai “Pria Jepang yang Paling Mengerti Cara Menjalani Hidup.” Dalam karya terkenalnya, dia merangkum 100 prinsip dasar hidup yang baik—dan berikut ini adalah 24 di antaranya:

1. Bertanggung jawablah atas segalanya. Menyalahkan orang lain tak akan menyelesaikan apa pun.

Segala hal, baik atau buruk, selalu bermula dari diri kita sendiri. Jangan salahkan orang lain, keadaan, atau masyarakat. Ambil alih, hadapi sendiri, dan jalani dengan kesadaran penuh bahwa hidup ini adalah tanggung jawab kita sepenuhnya.

2. Hiduplah dengan sederhana. Cukup lakukan hal yang memang perlu dilakukan.

Pilih sedikit hal yang benar-benar penting, dan lakukan dengan sepenuh hati. Jangan serakah ingin semuanya. Fokus dan konsistensi lebih berharga daripada menyebar energi ke mana-mana.

3. Jangan berdusta tentang masa lalu.

Kita tahu berbohong itu salah, tapi sering kali kita tergoda untuk “menghaluskan” masa lalu demi membenarkan masa kini. Berbohong tentang masa lalu adalah pengkhianatan terhadap diri sendiri yang paling dalam.

4. Selalu pikirkan orang setelah kita.

Saat ke toilet, pikirkan pengguna berikutnya. Saat membuang sampah, pikirkan petugas yang akan mengangkut dan mengelolanya. Saat bekerja, pikirkan editor, pencetak, penjual, dan pembaca. Empati kecil menciptakan peradaban besar.

5. Investasilah pada pengalaman pribadi. Jangan belajar dengan cara “miskin”.

Gunakan uang untuk memperkaya hidup dan belajar. Belajar tidak selalu harus hemat. Jika ingin belajar cepat dan efektif, jangan ragu untuk membayar mahal.

6. Janji kecil justru harus paling dijaga.

Ucapan seperti “nanti kita makan bareng ya” atau “aku pinjamkan bukunya besok” harus dipenuhi. Ketika kita menepati hal-hal kecil, itulah bentuk penghormatan sejati terhadap orang lain.

7. Kesendirian adalah kondisi dasar manusia.

Kita tak bisa menghindarinya, jadi lebih baik menerimanya. Ketika kita sadar bahwa kesepian adalah bukti bahwa kita hidup, maka kita telah menjadi dewasa.

8. Segala sesuatu harus bisa diperbaiki.

Jika rusak, jangan langsung buang. Cobalah untuk memperbaiki. Entah itu barang atau hubungan antarmanusia, memperbaiki lebih bernilai daripada mengganti.

9. Daripada membaca 100 buku, baca satu buku bagus 100 kali.

Buku yang benar-benar bagus selalu memberi pelajaran baru setiap kali dibaca ulang. Demikian pula hubungan: lebih dalam mengenal satu orang lebih berarti daripada sekadar mengenal seratus orang.

10. Asah keahlian yang kamu miliki. Terus tantang dirimu.

Temukan apa yang kamu kuasai, lalu latih dan kembangkan hingga menjadi keahlian pribadi yang membedakanmu dari yang lain.

11. Jangan nilai barang dari harga.

Harga bukan tolok ukur mutlak kualitas. Mengatakan sesuatu “terlalu mahal” atau “terlalu murah” tanpa memahami nilainya adalah bentuk penghinaan terhadap karya dan proses.

12. Beli bunga seminggu sekali.

Tidak wajib, tapi menyenangkan. Merasakan musim melalui bunga adalah bagian dari menghargai kehidupan sehari-hari.

13. Kalau benar-benar ingin tahu sesuatu, bayar untuk itu.

Ingin tahu bagaimana rasanya memakai tas seharga satu juta yen? Cobalah beli. Pengalaman pribadi jauh lebih bernilai daripada sekadar bertanya pada orang lain.

14. Hindari kata “mutlak” atau “umum”.

Kata-kata ini sering menyesatkan. Tidak ada yang benar-benar mutlak atau berlaku bagi semua orang. Latihlah diri untuk menerima bahwa orang lain mungkin lebih benar dari kita.

15. Jangan ucapkan “tidak punya uang” atau “tidak punya waktu”.

Kalimat ini bukan solusi. Waktu dan uang yang terbatas adalah bagian dari hidup. Tanggung jawab kita adalah mengelolanya, bukan mengeluhkannya.

16. Saat bingung memilih, pilih jalan yang lebih sulit.

Karena di jalan yang lebih berat, kita belajar lebih banyak. Tantangan membawa pertumbuhan, sementara kenyamanan justru membuat kita mandek.

17. Punya mimpi dan tujuan pribadi.

Banyak orang tak bisa menjawab ketika ditanya: “Apa impianmu?” Jangan jadi salah satu dari mereka. Miliki tujuan, sekecil apa pun itu.

18. Latih kepekaan terhadap sekitar. Jangan apatis.

Peka terhadap detail sekecil apa pun—payung yang jatuh, wajah lelah rekan kerja, suasana ruang. Kepekaan itu menghasilkan kualitas kerja dan hubungan yang lebih baik.

19. Jangan buru-buru melihat hasil.

Semua butuh proses. Seperti masakan, yang terburu-buru akan kehilangan rasa. Sabar adalah bagian dari kesuksesan.

20. Tantang diri setiap hari dan evaluasi hasilnya.

Sebelum bekerja, tentukan satu tantangan. Setelah selesai, tinjau hasilnya. Ini melatih konsistensi dan pertumbuhan diri.

21. Jaga keseimbangan akal, emosi, dan kemauan.

Keseimbangan ini penting agar kita tak terjebak dalam rutinitas atau kebosanan. Bahkan dalam pekerjaan yang sama, selalu cari cara untuk berkembang.

22. Selalu jaga keseimbangan hidup.

Jika kemarin makan berlebihan, hari ini makan ringan. Jika terlalu banyak bersosialisasi, sediakan waktu menyendiri. Hidup yang seimbang adalah kunci keberlanjutan.

23. Jangan lupa menyampaikan perasaan.

Saat menerima sesuatu dari orang lain, jangan hanya bilang “terima kasih.” Sampaikan kesanmu, betapa kamu menghargainya. Itu akan membuat orang lain merasa dilihat dan dihargai.

24. Yang menjadikan kita manusia adalah kehidupan, bukan pekerjaan.

Jangan jadi orang yang hanya hidup untuk bekerja. Nikmati hidup, bahkan jika kamu sedang tidak bekerja. Hidup adalah panggung yang membuat kerja menjadi bernyawa.

Artikel ini diambil dari prinsip hidup Matsuura Yataro dalam bukunya One Hundred Principles.(jhn/yn)

7 Gunung Berapi di Kamchatka Meletus Setelah Gempa Magnitudo 8,8 di Rusia

 Gempa minggu lalu termasuk salah satu yang terkuat yang pernah tercatat.

 The Associated Press

Tujuh gunung berapi, termasuk Klyuchevskoi—yang tertinggi di Eurasia—serta Krasheninnikov, Avachinsky, dan lainnya, mulai aktif kembali di wilayah Kamchatka, Rusia, setelah gempa dahsyat pekan lalu.

Para ilmuwan dari Institut Vulkanologi dan Seismologi Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia di wilayah Timur Jauh menyebut fenomena ini sebagai “parade letusan gunung berapi”, dan menyatakan bahwa ini adalah kejadian pertama dalam 300 tahun terakhir.

Gunung-gunung berapi tersebut menunjukkan peningkatan aktivitas tak lama setelah gempa bermagnitudo 8,8 pada 30 Juli, yang merupakan gempa terkuat di wilayah tersebut sejak tahun 1952.

Gempa minggu lalu itu tercatat sebagai salah satu yang terkuat sepanjang sejarah.

Dilaporkan The Associated Press, Selasa (5/8/2025),  Gunung berapi Klyuchevskoi memuntahkan kolom abu setinggi hingga sekitar 9 kilometer pada  Selasa malam, menurut cabang Kamchatka dari Survei Geofisika Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia.

Sementara itu, letusan terbaru gunung berapi Krasheninnikov dimulai pada Sabtu lalu. Ini merupakan letusan pertama dalam hampir 600 tahun.

Rusia Kena Batunya! Uang Tak Laku, Properti Dirampas, Sekutu Lama Berkhianat

EtIndonesia. Tekanan terhadap Rusia di panggung internasional terus meningkat, terutama di sektor keuangan. Isolasi finansial yang dialami Negeri Beruang Merah kini semakin nyata setelah rentetan sanksi dan pembatasan diberlakukan, baik dari negara-negara Barat maupun kawasan Timur Tengah—wilayah yang selama ini dikenal bersahabat dengan Moskow.

Bank-bank UEA Tutup Pintu untuk Perusahaan Rusia

Berdasarkan laporan eksklusif dari Bloomberg serta konfirmasi intelijen Ukraina, tren terbaru datang dari Uni Emirat Arab (UEA), yang mulai melakukan pemblokiran terang-terangan terhadap perusahaan Rusia. Selama Juli 2025 saja, lebih dari 30% perusahaan asal Rusia di UEA dilaporkan menghadapi pembatasan hingga pemutusan layanan perbankan. Sejumlah bank besar di Dubai dan Abu Dhabi secara tegas menolak membuka rekening baru maupun memfasilitasi proyek investasi yang melibatkan Rusia.

Langkah ini menandai perubahan drastis dalam kebijakan finansial kawasan. Jika sebelumnya UEA dipandang sebagai ‘pelarian’ bagi dana Rusia yang menghindari sanksi Barat, kini sentimen anti-Rusia justru semakin menguat. Padahal, sejak 2023, kebijakan bank di Timur Tengah baru sebatas pengetatan prosedur dan monitoring dana asal Rusia. Namun, tahun ini situasinya berubah total menjadi blokade terbuka.

Dampak Perubahan Diplomasi Timur Tengah

Fenomena ini menegaskan perubahan pola diplomasi Timur Tengah. Reputasi Rusia sebagai ‘mitra strategis’ di kawasan mulai meredup, menyusul pergeseran kepercayaan serupa di Asia Tengah dan Eropa Timur. Penyebab utamanya tak lain adalah invasi ke Ukraina dan sikap Rusia yang dianggap mengancam stabilitas global, sehingga menimbulkan efek domino di sektor keuangan, perdagangan, hingga kerja sama teknologi.

Prancis Jadi Negara Barat Pertama yang Sita Properti Negara Rusia

Tekanan dari Barat juga semakin intensif. Prancis mencatat sejarah sebagai negara pertama yang secara resmi menyita properti milik negara Rusia senilai 87 juta euro. Penyitaan ini merupakan pelaksanaan putusan pengadilan atas gugatan Ukraina yang menuntut kompensasi ekonomi akibat aneksasi Krimea pada 2014. Gugatan hukum tersebut sudah berjalan sejak 2015, dan pada 2024, Paris mengesahkan sita paksa aset tersebut, yang kemudian dialihkan sebagai dana kompensasi untuk Ukraina.

Preseden hukum dari Prancis ini mendorong Ukraina untuk mengajukan tuntutan serupa di Amerika Serikat, Finlandia, Ceko, dan sejumlah negara Eropa lainnya. Target utamanya adalah menyita dan mencairkan aset-aset Rusia guna membiayai rekonstruksi dan bantuan militer Ukraina.

Dana Rusia Digunakan untuk Membeli Senjata bagi Ukraina

Langkah-langkah negara Barat dalam membekukan aset Rusia tidak berhenti pada penyitaan saja. Sejak tahun lalu, sebagian besar aset Rusia yang dibekukan mulai dialihkan menjadi dana nyata. Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli senjata, drone, amunisi, bahkan sistem pertahanan udara canggih bagi Ukraina. Artinya, uang milik Rusia secara ironis kini dipakai untuk memperkuat pihak yang mereka lawan di medan perang.

Strategi ini bukan sekadar simbolis. Dia menjadi pesan tegas bagi dunia internasional bahwa setiap agresi militer dapat berbalik menjadi bumerang finansial dan diplomatik. Negara yang menyerang bukan hanya kehilangan kepercayaan, tetapi juga harus rela aset dan kekayaan negaranya dimanfaatkan pihak lawan.

Ukraina Memenangkan Pertempuran di Jalur Diplomasi dan Hukum

Perkembangan terbaru ini menandai babak baru dalam perang yang sudah berlangsung lebih dari dua tahun. Ukraina, yang awalnya bertahan di medan tempur, kini berhasil membalik keadaan dengan menyerang Rusia dari sisi hukum, diplomasi, dan opini publik internasional. Upaya tersebut perlahan namun pasti membuat jaringan keuangan global Rusia mulai runtuh, dengan dukungan solid dari sekutu Barat dan kini bahkan Timur Tengah.

Semua indikator menunjukkan bahwa isolasi Rusia kian mendalam. Jika tren ini berlanjut, Moskow tidak hanya akan menghadapi kekalahan militer, tetapi juga kehancuran sistem keuangan dan kepercayaan internasional. Dunia kini menyaksikan bagaimana agresi militer bisa berujung pada isolasi total di panggung global—sebuah harga yang sangat mahal untuk sebuah invasi.

Manusia Tidak Akan Sakit Tanpa Sebab — Waspadalah!

EtIndonesia. “Berhentilah terlalu banyak berpikir, maka kebahagiaan akan datang. Dengan kata lain, bahagia adalah ketika kita tidak terlalu banyak berpikir.”

Tabib besar dari Dinasti Yuan, Luo Tianyi, pernah berkata: “Ketika hati kacau, berbagai penyakitpun muncul. Ketika hati tenang, selaksa penyakit menghilang.”

Di dunia ini, tidak ada penyakit yang datang begitu saja, dan tak ada ujian hidup yang benar-benar tanpa sebab. Sering kali, penyakit bukan bersumber dari tubuh, melainkan dari hati yang terlalu sibuk dan pikiran yang terlalu kacau.

Orang yang sering gelisah, cemas, bicara tanpa pikir, atau bertindak tanpa kendali—sesungguhnya sedang menguras keberuntungannya sendiri, dan secara perlahan merusak tubuh serta jiwanya.

Bila kita bisa mengurangi beban pikiran, menjaga perkataan dan perbuatan, serta menjauh dari drama dan urusan orang lain, maka hidup pun akan terasa lebih ringan dan terang.

Buang Kekhawatiran Berlebih, Hidup Akan Lebih Terang

Pepatah kuno berkata: “Kekhawatiran itu tak berakar—jika tak kita pungut, maka tak akan membebani. Kebingungan itu tak bersumber—jika tak kita cari, maka hati akan tenang.”

Jika pikiran kita tumbuh liar seperti sulur, ia akan membelit dan menyiksa diri sendiri. Tersiksa oleh hal-hal kecil, terganggu oleh gosip, satu pikiran berputar-putar dan menggerogoti ketenangan hati.

Akhirnya, kita sulit tidur, sulit makan, mudah marah. Lambat laun, tubuh pun menjadi wadah dari emosi yang tak tersalurkan, dan penyakit pun mulai bermunculan.

Kecemasan berlebih hanyalah bentuk penghancuran diri yang lambat.

Pada masa pemerintahan Kaisar Xuan dari Han, pejabat Xiahou Sheng dijatuhi hukuman mati karena menentang sang Kaisar. Temannya, Huang Ba, menolak ikut menandatangani surat hukuman dan ikut dipenjara.  Alih-alih panik, Huang Ba malah memanfaatkan waktu di penjara untuk belajar kitab Shangshu bersama Xiahou.

Ketika ditanya:  “Untuk apa belajar kalau hidup kita sebentar lagi berakhir?”
 

Huang Ba menjawab :“Kata Konfusius, ‘Jika pagi ini aku tahu kebenaran, maka sore hari aku rela mati.’”

Perkataan itu menyentuh hati Xiahou Sheng. Tiga tahun di penjara pun mereka jalani sambil berdiskusi mendalam soal ilmu dan kehidupan. Setelah dibebaskan, Xiahou menjadi guru kaisar dan hidup sehat hingga usia 90 tahun.

Seperti kata penulis Feng Tang: “Ketika aku berhenti terlalu banyak berpikir, aku merasa bahagia. Jadi, bahagia adalah ketika kita tidak terlalu banyak berpikir.”

Hati manusia seperti sumur—semakin digali, semakin dalam. Semakin dipikirkan, semakin menyakitkan. Semakin kita mempermasalahkan segala hal, semakin besar pengurasan energi mental. Orang yang benar-benar beruntung bukan yang hidup tanpa masalah, melainkan yang bisa menolak kekhawatiran masuk ke dalam hatinya.

Ketika pikiran dilepaskan, hidup akan menjadi lebih ringan. Di paruh kedua hidup ini, belajar menyelamatkan diri, melepaskan beban, berhenti overthinking, dan menenangkan hati—itulah jalan menuju hidup yang sehat, tenang, dan cerah.

Jaga Perkataan dan Tindakan, Hidup Jadi Lebih Tenang

Orang bijak berkata: “Manusia yang terlalu senggang akan melahirkan pikiran yang tak perlu, hati yang terlalu santai akan menarik masalah yang tak diundang.”

Banyak penyakit bukan datang dari dalam diri, melainkan dari terlalu ikut campur urusan orang lain. Hidup ini tidak pernah memberi hadiah bagi mereka yang terlalu banyak bicara dan terlalu ikut campur.

Ketika kita ikut mengatur hidup orang lain, memasuki ruang yang bukan milik kita, akhirnya kita sendiri yang akan rugi—entah kehilangan relasi, atau malah jatuh sakit karena tekanan batin.

Kisah berikut bisa menjadi cermin:Pejabat Dinasti Song, Fan Zhongyan dan Zhang Yuan, adalah sahabat lama. Zhang Yuan telah 18 tahun bekerja di ibu kota namun tak kunjung mendapat rumah dinas. Ketika Fan Zhongyan diangkat menjadi perdana menteri, ia ingin membalas jasa sahabatnya.Saat pemerintah membangun rumah baru untuk pejabat, Fan diam-diam memilih rumah terbaik dan mengaturnya untuk diberikan kepada Zhang Yuan.

Namun saat melihat rumah itu, Zhang justru mengeluh. Ia merasa rumah itu bising karena dekat jalan, terlalu terang karena dekat pos jaga, dan terlalu dingin karena jendela belakang besar. Niat baik Fan malah berujung kesalahpahaman dan sakit hati.

Hidup ini memang seperti itu—semua ada sebab akibatnya.  Ketika kamu mengatur jalan hidup orang lain, kamu juga harus siap menanggung segala akibatnya.

Seperti kata sastrawan Yang Jiang: “Jika kebaikan tidak dihargai, maka biarkan dia bertumbuh duri.”

Tak semua orang layak menerima niat baik kita. Maka dari itu, berbuat baiklah pada orang yang juga berhati baik. Jangan mudah mencampuri, jangan terlalu banyak menilai, jangan terlalu ikut campur. Orang yang tahu menjaga batas—itulah yang akan mendapatkan ketenangan dan keberuntungan sejati.

Saring Ucapan Orang Lain, Raih Kebebasan Hidup

Kata “Jiang Lang sudah habis” (bakatnya sudah kering) dulu adalah kata paling menyakitkan bagi penulis Nanpai Sanshu. 

 Dulu, saat mendengar orang berkata begitu, ia akan langsung membalas dengan wajah marah: “Kamu sendiri yang Jiang Lang!”

Namun kini, di usia 40-an, ia hanya tersenyum dan menjawab: “Saya memang nggak terlalu berbakat kok.”

Perjalanan dari amarah menuju penerimaan itu memakan waktu hampir sepuluh tahun.

Tahun 2013, dia sempat didiagnosis depresi dan berhenti menulis. Komentar pedas di media sosial membuatnya makin terpukul. Dia mencoba berbagai cara: ganti komputer, ganti software, bahkan ganti font—tetap saja tak bisa menulis.

Akhirnya, ia sadar: satu-satunya jalan keluar adalah menyelamatkan diri. Dia menutup semua komentar, berhenti peduli pada apa kata orang, dan hanya fokus menulis cerita yang ia sukai.

Sejak saat itu, ia kembali menemukan kebebasannya dalam menulis. Bukunya jadi lebih jujur, hidupnya pun jadi lebih jernih.

Dalam Zeng Guang Xian Wen tertulis: “Siapa yang tidak dibicarakan di belakang? Siapa pula yang tak membicarakan orang di depan?”

Tak ada seorang pun yang bisa hidup tanpa dijadikan bahan omongan. Namun, jika kita terlalu memikirkan ucapan orang, kita hanya akan semakin sakit hati dan menghancurkan diri sendiri.

Penulis Zhou Guoping pernah berkata: “Dipahami orang lain itu adalah keberuntungan, tapi tak dipahami bukanlah kemalangan.”

Kebanyakan komentar jahat tidak pantas kita simpan. Orang yang cerdas tahu cara membiarkan kata-kata negatif lewat begitu saja, seperti suara angin—tidak dipedulikan. Kita hidup dalam dunia kita sendiri, bukan dalam omongan mereka.

Seseorang yang tak mudah terpengaruh oleh suara sumbang, yang terus melangkah dan menempa diri dalam diam—itulah yang akhirnya menjadi kuat dan tak tergoyahkan.

Penutup: Jagalah Hatimu, Maka Hidupmu Akan Terlindungi

Li Shutong pernah berkata: “Penyakit berat biasanya muncul karena terlalu banyak melakukan hal-hal yang melukai diri sendiri.”

Sering kali, penyakit tak berakar dari tubuh, tapi dari hati yang tak terjaga, sifat yang menyimpang, dan pikiran yang tak tenang.

·        Terlalu banyak pikiran → menutup jalan masuknya keberuntungan

·        Tak bisa jaga lisan dan tangan → kehilangan peluang hidup

·        Terlalu memikirkan omongan orang → kehilangan jati diri

Maka, jagalah hatimu, karena di situlah nasibmu bergantung.

Mulai hari ini, kurangi kekhawatiran, perbanyak ketenangan.Jangan dengarkan ucapan tak berguna, jangan pikirkan hal remeh. Jangan membuat masalah dari yang tak ada. Jangan ucapkan yang tak bermanfaat.

Bila hatimu damai, tubuhmu pun akan tenang. Dan hidupmu akan menjadi terang.(jhn/yn)

Banjir di Shenzhen, Tiongkok : Banyak Toko dan Pabrik Terendam Banjir 

Pada 5 Agustus 2025 dini hari, Shenzhen mengeluarkan peringatan merah hujan deras pertama sejak tahun 2018. Video yang beredar di internet menunjukkan bahwa wilayah perkotaan Shenzhen berubah menjadi lautan air. Banyak toko dan pabrik terendam, dengan kerugian yang sangat besar.

EtIndonesia. Menurut informasi dari otoritas cuaca Shenzhen, antara pukul 20.00 pada 4 Agustus hingga pukul 05.00 pada 5 Agustus, curah hujan rata-rata di seluruh kota mencapai 84,0 mm, dengan curah hujan tertinggi tercatat sebesar 208,3 mm di Pos Pengamatan Gangtou, Distrik Longgang. Sedangkan curah hujan per jam tertinggi 99,0 mm di Stasiun Shanxia, Distrik Longgang.

Pada 5 Agustus dini hari, Shenzhen mengeluarkan peringatan merah hujan deras untuk seluruh kota dan memasuki status siaga darurat hujan deras. Ini adalah peringatan merah pertama yang dikeluarkan secara menyeluruh oleh Shenzhen sejak topan “Mangkhut” pada tahun 2018.

Diperkirakan hujan deras akan terus berlanjut  sepanjang 5 Agustus, dengan sebagian besar wilayah kota mencatat curah hujan kumulatif yang mencapai kategori hujan sangat deras (di atas 100 mm). Beberapa daerah bahkan mengalami hujan luar biasa deras (lebih dari 250 mm). Banjir ini telah menyebabkan genangan parah di dalam kota dan berpotensi memicu banjir bandang, tanah longsor, aliran lumpur, dan amblesan tanah.

Banyak netizen Shenzhen membagikan video yang menunjukkan bahwa berbagai daerah di kota tersebut tergenang air. Di beberapa lokasi, ketinggian air mencapai dada orang dewasa. Banyak kendaraan hanyut terbawa arus, toko-toko kebanjiran, dan para pemilik usaha mengalami kerugian besar.

Seorang netizen yang merekam video mengatakan bahwa sekitar pukul 4:30 pagi, banjir tiba-tiba meluap dan merendam banyak toko. Air di trotoar sudah mencapai lutut, dan kerugian sangat besar bagi para pemilik toko.

Video lainnya menunjukkan sebuah pabrik di Shenzhen terendam banjir, di mana seluruh peralatan mesin terendam air.

oleh Luo Tingting |Zhu Xinrui

Sumber : NTDTV.com

Alarm Merah di Barak Rusia: Kasus HIV di Militer Rusia Naik 2000%, Siapa yang Bertanggung Jawab?

EtIndonesia. Krisis baru sedang mengancam stabilitas internal militer Rusia. Laporan terbaru dari Carnegie Political Research Institute mengungkapkan lonjakan drastis kasus infeksi HIV di kalangan tentara Rusia sejak dimulainya invasi ke Ukraina pada 2022. Data yang dihimpun dari berbagai sumber independen, termasuk Kyiv Independent, menunjukkan bahwa pada akhir 2022 saja, jumlah kasus HIV di tubuh militer Rusia sudah meningkat 13 kali lipat dibandingkan periode sebelum perang, dan melonjak menjadi lebih dari 20 kali lipat pada akhir 2024.

Faktor Penyebab: Dari Medan Perang hingga Kebijakan Negara

Kenaikan tajam ini bukan tanpa sebab. Sejumlah faktor medis dan sosial turut berperan mempercepat penyebaran virus HIV di lingkungan militer. Di tengah kondisi perang yang brutal, transfusi darah yang tidak melewati prosedur standar dan penggunaan alat medis bekas pakai menjadi praktik yang sulit dihindari. Selain itu, perilaku pribadi prajurit di zona konflik juga menambah kompleksitas persoalan ini. Kebijakan Pemerintah Rusia yang cenderung konservatif—mengekang edukasi tentang HIV/AIDS, membatasi hak komunitas LGBTQ, dan bahkan membubarkan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang penanggulangan HIV—memperparah situasi.

Pada April lalu, Jaksa Agung Rusia resmi menetapkan yayasan amal Elton John AIDS Foundation sebagai “organisasi asing yang tidak diinginkan”. Keputusan ini diambil lantaran lembaga tersebut dianggap mempromosikan nilai-nilai yang disebut “tidak tradisional” oleh otoritas Rusia. Padahal, lembaga tersebut selama bertahun-tahun aktif mengedukasi dan menyediakan layanan kesehatan bagi kelompok rentan, termasuk di lingkungan militer.

Rusia Masuk Lima Besar Dunia dalam Pertumbuhan Kasus HIV

Berdasarkan data epidemiologi internasional, Rusia kini tercatat sebagai salah satu dari lima negara dengan peningkatan kasus HIV tercepat di dunia, bersama Afrika Selatan, Mozambik, Nigeria, dan India. Lonjakan kasus ini menciptakan tantangan besar tidak hanya bagi sistem kesehatan nasional, tetapi juga menimbulkan risiko jangka panjang terhadap demografi dan keamanan nasional Rusia.

Carnegie Political Research Institute memperingatkan, bila krisis ini tidak segera ditangani secara sistemik dan menyeluruh, dampaknya akan sangat luas. Bukan hanya struktur militer yang terancam lumpuh akibat tingginya angka prajurit yang terinfeksi, tetapi juga kekuatan demografi Rusia yang sejak lama mengalami tren penurunan populasi usia produktif. Dalam jangka panjang, epidemi HIV yang tidak terkendali dapat melemahkan daya tempur militer, mengganggu regenerasi pasukan, serta menurunkan moral prajurit di garis depan.

Konsekuensi Sistemik: Dari Barak ke Politik Negara

Tidak berlebihan jika sejumlah pakar menyebut fenomena ini sebagai “bom waktu” baru di tubuh militer Rusia. Selain faktor kesehatan, dampak sosial dan politiknya pun dinilai sangat serius. Dengan minimnya edukasi publik dan semakin banyaknya LSM yang dibubarkan, penanganan kasus HIV menjadi jauh lebih sulit dan berpotensi memperparah stigma terhadap korban.

“Ini adalah krisis kesehatan dan keamanan nasional yang harus segera dijawab dengan kebijakan terbuka, edukasi masif, dan kolaborasi internasional,” tegas laporan Carnegie. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin, epidemi HIV di tubuh militer akan menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat keretakan internal Rusia di masa depan.

Laporan Terbaru Situs Weiquan: 90% dari Mereka yang Dihukum adalah Praktisi Falun Gong

EtIndonesia. Baru-baru ini, laporan bulanan “Tahanan Politik dan Tahanan Hati Nurani di daratan Tiongkok” dari situs Weiquan dirilis. Laporan tersebut menunjukkan bahwa dari jumlah orang yang baru dijatuhi hukuman, 90% di antaranya adalah praktisi Falun Gong. Ketua Partai Demokrat Sosial Tiongkok, Liu Yinquan, menyerukan agar Partai Komunis Tiongkok (PKT) menghentikan penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong dan para aktivis hak asasi manusia.

Laporan bulanan dari situs Weiquan mengungkapkan bahwa dari 30 orang yang baru dijatuhi hukuman dalam periode kali ini, 27 di antaranya adalah praktisi Falun Gong.

 “Kita melihat bahwa kelompok kekuasaan PKT terus melakukan tindakan yang sewenang-wenang dan melawan arus zaman, hal ini memperlihatkan sifat jahat dari PKT. Kita harus terus mengungkap kejahatan PKT dan menggulingkannya. Jika PKT tidak lengser, penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong tidak akan pernah berhenti,” ujar Ketua Partai Demokrat Sosial Tiongkok, Liu Yinquan.

Falun Gong, yang juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah sebuah latihan meditasi spiritual yang didasarkan pada prinsip Sejati, Baik, dan Sabar. Partai Komunis Tiongkok (PKT) merasa terancam oleh popularitas Falun Gong yang dianggap dapat mengganggu kekuasaan rezim, memulai kampanye brutal untuk memberantas latihan ini pada 20 Juli 1999 hingga sekarang. 

Sejak saat itu, jumlah praktisi yang tak terhitung telah menjadi korban penahanan sewenang-wenang, kerja paksa, penyiksaan, bahkan kematian akibat pengambilan organ secara paksa.

Laporan tersebut juga mencatat bahwa jumlah total tahanan politik dan tahanan hati nurani di Tiongkok Daratan mencapai 1.683 orang, dengan masa hukuman bervariasi dari 25 tahun hingga di bawah 2 tahun. 

Sementara itu, jumlah orang yang dibebaskan adalah 44 orang. Menurut laporan, salah satu pembela HAM yang dibebaskan, Xu Qin, langsung dibawa ke rumah sakit setelah keluar dari penjara. Bahkan, petugas pengawas juga ikut masuk dan tinggal di kamar rumah sakit tersebut.

Liu Yinquan kembali menyerukan:  “Saya juga menyerukan kepada semua negara pencinta damai di seluruh dunia, kepada semua orang yang menjunjung tinggi keyakinan, serta semua organisasi dan kelompok, agar memprotes tindakan brutal PKT ini. Karena penindasan terhadap praktisi Falun Gong adalah pelecehan terhadap peradaban manusia, dan merupakan penyangkalan terhadap kemajuan spiritual umat manusia.”

Situs Weiquan adalah jaringan sukarelawan perlindungan hak sipil non-politik, yang bertujuan mendukung kekuatan perlindungan hak masyarakat sipil di Tiongkok daratan, serta membantu korban mendapatkan keadilan hukum dan bantuan sosial. (Hui/asr)

oleh Yang Yang, NTDTV di Los Angeles

Para Warga yang Mengajukan Pengaduan di Beijing Ditangkap di Jalanan, Lalu Dipukuli dengan Kasar

Di Kota Beijing, para petugas penyekat (dari pemerintah daerah) yang datang dari berbagai tempat dengan terang-terangan menculik para warga yang mengajukan pengaduan (dikenal sebagai “pengadu” atau “pengunjuk rasa sipil”), sudah menjadi pemandangan umum di daratan Tiongkok. Namun, kini beberapa warga yang marah mulai melawan secara berkelompok.

EtIndonesia. Baru-baru ini, sebuah video beredar di internet yang menunjukkan dua pria muda berbaju putih menangkap seorang perempuan lansia berambut putih dan berusaha memaksanya masuk ke dalam sebuah mobil van yang terparkir di pinggir jalan. Di dalam mobil tersebut sudah ada polisi berseragam yang siap menyambut. Sang perempuan lansia berteriak minta tolong sekuat tenaga.

Beberapa warga yang mendengar teriakan tersebut datang mencoba menghadang mobil van, tetapi gagal karena van itu segera melaju. Namun, beberapa pria pengadu berhasil menahan salah satu petugas penyekat, menjatuhkannya ke tanah dan menahannya sambil bersiap untuk memanggil polisi. Sayangnya, rekan petugas penyekat tersebut berhasil datang dan menyelamatkannya.

Sebelumnya, sering beredar video yang memperlihatkan petugas penyekat dari luar daerah secara terang-terangan menangkap orang di jalanan Beijing. Petugas ini bisa berasal dari kepolisian daerah atau orang-orang suruhan yang disewa oleh pejabat daerah.

Setiap tahun, pemerintah daerah di bawah Partai Komunis Tiongkok (PKT) menghabiskan banyak sumber daya untuk menghadang warga yang ingin menyampaikan pengaduan ke pemerintah pusat. 

Otoritas Beijing kadang-kadang akan menghukum segelintir petugas penyekat level bawah untuk mempertahankan kesan bahwa sistem pengaduan mereka masih “legal.”

Beberapa hari lalu, juga beredar video di internet yang menunjukkan warga pengadu di Beijing mengepung petugas penyekat. 

Dalam video itu, beberapa petugas mencoba menculik seorang pengadu, yang akhirnya nekat melompat ke sungai sebagai bentuk perlawanan. 

Para warga lain yang menyaksikan kejadian itu menjatuhkan salah satu petugas penyekat, membuka paksa bajunya, mencekik lehernya, dan memaksanya turun ke sungai untuk menyelamatkan korban. 

Menurut sumber yang membagikan video tersebut, korban yang melompat ke sungai akhirnya berhasil diselamatkan. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Kisah Inspiratif Dale Carnegie: Dari Anak Desa Pemalu Menjadi Guru Kehidupan Dunia

EtIndonesia. Hanya dengan semangat menyala dan cahaya terang dalam hati, barulah kita bisa menemukan kebahagiaan sejati dalam hidup.

Dale Carnegie lahir pada 24 November 1888 dan wafat pada 1 November 1955 di usia 67 tahun. Dia menikah dua kali. Istri pertamanya adalah seorang bangsawan Prancis yang dia nikahi pada tahun 1921, namun mereka bercerai sepuluh tahun kemudian. Istri keduanya, Dorothy Carnegie, adalah murid sekaligus penerus perjuangannya. Mereka menikah pada tahun 1944 dan dikaruniai seorang putri bernama Donna Dale Carnegie.

Masa Kecil yang Sulit dan Rasa Tak Percaya Diri

Carnegie lahir di sebuah kota kecil dekat Maryville, Missouri. Ayahnya adalah petani miskin. Hidup mereka sangat susah—sering kekurangan makanan dan pakaian. Karena kekurangan gizi, tubuh kecil Carnegie sangat kurus dan lemah, sementara sepasang telinganya yang besar menjadi bahan olokan teman-teman sekolah.

Dia bersekolah di sebuah bangunan sederhana bernama “Rose Garden School”, meski namanya romantis, kenyataannya sekolah itu hanya memiliki satu ruang kelas. Carnegie kecil dikenal sebagai anak yang suka usil dan sering membuat keributan, sampai-sampai beberapa kali hampir dikeluarkan dari sekolah.

Suatu hari, dia bertengkar dengan seorang anak bernama Sam White. Karena tersinggung oleh ucapan Carnegie, Sam mengancam: “Suatu hari, aku akan memotong telingamu yang jelek itu!”

Ancaman itu membuat Carnegie takut luar biasa—bermalam-malam dia tak bisa tidur, takut telinganya benar-benar akan dipotong saat dia tertidur.

Pengalaman ini membekas hingga dewasa. Saat sudah menjadi tokoh terkenal, Carnegie pernah menyimpulkan: “Jika kamu ingin orang memperlakukanmu dengan baik—rekan kerja, atasan, siapa pun—jangan pernah menyentuh luka batin mereka.”

Sejak kecil, Carnegie juga menyadari dirinya memiliki karakter yang cenderung murung dan pesimis. 

Dia pernah berkata pada temannya, “Kecemasan selalu mengikuti hidupku. Saat masih kecil, aku menangis hanya karena khawatir aku akan dikubur hidup-hidup seperti biji bunga yang kutanam bersama Ibu. Aku takut disambar petir saat badai, takut tidak punya makanan saat musim panen gagal, takut masuk neraka setelah mati, takut ditertawakan oleh perempuan karena bajuku jelek… Tapi kemudian aku sadar: 99% dari semua yang aku takuti itu tidak pernah benar-benar terjadi.”

Miskin, Terhina, dan Bertekad Bangkit

Saat berusia 16 tahun, Carnegie harus membantu pekerjaan di ladang keluarganya. Dia setiap hari menunggang kuda ke sekolah, dan sepulangnya langsung bekerja: memerah susu, memangkas pohon, hingga memberi makan babi. Dia selalu mengenakan jaket usang dan kekecilan, tubuhnya kurus dan wajahnya pucat. 

Saat pelajaran matematika, dia dipanggil maju ke depan kelas, dan tiba-tiba seluruh kelas tertawa. Ternyata, seseorang telah menyelipkan bunga mawar di robekan jaketnya dan menempelkan secarik kertas bertuliskan: “Aku cinta kamu, Tuan Red Jacket” (plesetan dari ‘jubah sobek’ dalam bahasa Inggris).

Pulang sekolah, Carnegie menangis di hadapan ibunya: “Ibu, mereka terus menertawakanku karena pakaianku. Aku tak bisa fokus belajar.” 

Tapi sang ibu, sosok yang tangguh dan penuh semangat, menjawab: “Kenapa tidak kamu buat mereka hormat padamu karena kagum, bukan karena pakaiannya? Jangan sedih. Musim gugur nanti, Ibu akan belikan kamu pakaian baru.”

Sikap ibunya inilah yang kelak sangat mempengaruhi Carnegie. Dia menyaksikan bagaimana sang ibu tetap bernyanyi dan membereskan rumah meski ladang mereka habis tersapu banjir, saat sang ayah hanya bisa meratap pada Tuhan. Ibunya selalu berharap Carnegie menjadi guru atau pengkhotbah kelak.

Pecundang di Awal, Juara di Akhir

Tahun 1904, Carnegie lulus SMA dan melanjutkan ke Missouri State Teachers College di Warrensburg. Karena tidak mampu tinggal di kota, dia setiap hari menunggang kuda dari rumah ke kampus. Dia adalah satu dari hanya lima mahasiswa yang tinggal di luar kota, dan meski mendapat beasiswa penuh, dia tetap harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Di kampus, dia tertarik pada kompetisi debat dan pidato. Dia tahu bahwa para pemenang akan dihormati sebagai tokoh kampus. Tapi Carnegie awalnya sama sekali tidak berbakat dalam berbicara. Dia ikut 12 lomba pidato—dan kalah 12 kali. 

Bertahun-tahun kemudian dia masih bisa mengenang rasa sakit itu dengan nada setengah bercanda: “Memang aku tak sempat mengambil senapan tua untuk bunuh diri, tapi saat itu aku merasa benar-benar ingin menghilang dari dunia. Aku menyadari bahwa aku sangat payah.”

Namun Carnegie bangkit. Dia tidak menyerah.

Akhirnya, pada tahun 1906, dia memenangkan Lomba Pembicara Muda Leberty dengan pidato berjudul “Kenangan Masa Kecil.” Ini adalah tonggak pertama kesuksesannya. Naskah pidatonya hingga kini masih tersimpan di arsip kampus Warrensburg.

“Aku kalah 12 kali, tapi menang di percobaan ke-13. Yang lebih membanggakan, murid-murid laki-lakiku kemudian juga menang lomba pidato umum, dan murid perempuanku menang lomba membaca puisi. Saat itulah aku tahu: inilah jalan hidupku.”

Menemukan Jalan Hidup dan Mendirikan Karya Abadi

Pada 1908, meski hidupnya masih sulit, Carnegie sudah menjadi figur populer di kampus. Dia tampil di banyak ajang pidato dan mulai dikenal. Awalnya dia ingin jadi guru, tapi kemudian melihat bahwa seorang temannya bisa mendapat penghasilan empat kali lipat dari ayahnya hanya dengan menjual kursus korespondensi saat liburan musim panas. Maka, usai lulus, dia pergi ke Denver dan menjadi salesman. Dia menjual ham, sabun, dan lemak babi di Omaha. Dia sukses, tapi belum puas.

Pada 1911, dia pindah ke New York untuk belajar akting di American Academy of Dramatic Arts. Tapi dia segera menyadari bahwa dia tak cocok jadi aktor, dan kembali ke dunia penjualan.

Namun, hati kecilnya tetap resah. Dia ingin hidup yang bermakna, bukan hanya uang. Dia mulai mengajar kelas malam sambil menulis buku. Dia yakin keterampilan berbicara yang telah menyelamatkannya dari rasa minder bisa diajarkan ke orang lain. Dia kemudian meyakinkan YMCA (Asosiasi Pemuda Kristen) di New York untuk membuka kelas malam tentang public speaking untuk kalangan profesional.

Dari sinilah lahir karier Dale Carnegie sebagai pelatih komunikasi dan pengembangan diri yang legendaris.

Warisan Tak Tergantikan

Semua pengalaman hidupnya, baik kegagalan maupun keberhasilan, dia tuangkan dalam buku fenomenal How to Win Friends and Influence People (“Bagaimana Memenangkan Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain”). Buku ini menjadi salah satu buku pengembangan diri paling berpengaruh sepanjang sejarah. Buku ini mengajarkan kita untuk percaya diri, menghadapi ketakutan, membangun hubungan dengan orang lain, dan hidup lebih bermakna.

Namun jalan hidup Carnegie tidak selalu mulus. Setelah pulang dari dinas militer selama 19 bulan, dia kembali ke AS dan mendapati masyarakat dilanda krisis pengangguran. Banyak pemuda kehilangan harapan. Tapi Carnegie tak menyerah. Dia bangkit kembali, membangun dunia pendidikan orang dewasa, dan menjadi pionir dalam psikologi praktis dan pelatihan kepemimpinan.

Istrinya, Dorothy Carnegie, selalu mendukung penuh perjuangannya. Pada usia 63 tahun, dia dikaruniai seorang putri bernama Donna Dale Carnegie, yang kini meneruskan warisan sang ayah sebagai Direktur Dale Carnegie Training.(jhn/yn)

Kondisi Tragis Sandera Mengejutkan Dunia, Media Israel: Israel Putuskan Kuasai Gaza Secara Penuh

EtIndonesia. The Jerusalem Post pada  Senin (4 Agustus) mengutip sumber dari Kantor Perdana Menteri Israel, melaporkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah memutuskan untuk sepenuhnya menguasai Jalur Gaza, termasuk melancarkan operasi militer di wilayah tempat para sandera Israel ditahan. Sebuah video yang baru-baru ini beredar memperlihatkan kondisi tragis para sandera Israel di Gaza, yang mengejutkan dunia internasional.

Menurut laporan The Jerusalem Post, Kantor Perdana Menteri telah menyampaikan pesan kepada Kepala Staf Umum Angkatan Pertahanan Israel (IDF), Letnan Jenderal Eyal Zamir, dengan tegas:

“Jika kamu tidak setuju dengan keputusan ini, maka kamu sebaiknya mengundurkan diri.”

Keputusan ini diambil setelah berbulan-bulan negosiasi antara kelompok bersenjata Palestina Hamas, Israel, dan mediator internasional di Doha, Qatar, untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan sandera.

Potongan gambar dari video yang dirilis oleh sayap bersenjata kelompok militan Palestina Hamas pada 1 Agustus 2025, menunjukkan sandera Israel, Evyatar David, tampak lemah dan kekurangan gizi. (AFP via Getty Images)

Pada Senin (4 Agustus), Hamas menyatakan bahwa jika Israel menyetujui sejumlah syarat, mereka bersedia bekerja sama dengan Komite Palang Merah Internasional untuk memberikan bantuan kepada para sandera Israel yang ditahan di Gaza.

Hamas menuntut bahwa ratusan truk bantuan kemanusiaan harus diizinkan masuk ke Gaza terlebih dahulu, barulah mereka akan kembali ke meja perundingan. Mereka juga menyatakan kesediaannya bekerja sama dengan Palang Merah Internasional untuk memberikan bantuan kepada para sandera.

Baru-baru ini, beredar sebuah video yang memperlihatkan kondisi mengenaskan para sandera Israel yang ditahan di Gaza. Dalam video tersebut, para sandera yang kurus kering tampak sedang menggali kuburannya sendiri. Adegan memilukan ini mengejutkan dunia internasional.

Menurut pejabat Israel, saat ini masih terdapat 50 orang sandera yang ditahan di Gaza, dan diperkirakan hanya sekitar 20 orang yang masih hidup. 

Hingga kini, Hamas melarang organisasi kemanusiaan manapun untuk menjangkau para sandera. Keluarga para sandera nyaris tidak mengetahui kondisi mereka—bahkan hampir tidak tahu apa pun.

Kantor Netanyahu sebelumnya menyampaikan bahwa Perdana Menteri telah berbicara dengan Julien Lerisson, koordinator regional Palang Merah Internasional, dan meminta agar makanan dan bantuan medis segera dikirimkan kepada para sandera Israel.

Netanyahu juga menyatakan bahwa ia akan menggelar rapat Dewan Keamanan Kabinet pekan ini, untuk membahas operasi militer IDF di Gaza guna mencapai seluruh tujuan perang.

“Kita harus tetap bersatu dan terus berjuang bersama untuk mencapai semua tujuan perang kita: mengalahkan musuh, membebaskan para sandera, dan memastikan bahwa Gaza tidak lagi menjadi ancaman bagi Israel,” katanya. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Perang Rusia-Ukraina Memanas: Gudang Minyak Rusia Diserang, Api Membumbung Tinggi

Akhir pekan lalu, drone Ukraina melakukan serangan mendadak pada malam hari ke gudang minyak di Sochi, kawasan wisata Laut Hitam Rusia. Dua tangki minyak meledak dan terbakar, seluruh penerbangan di bandara Sochi dihentikan. Militer Ukraina juga menyerang wilayah Crimea. Serangan ini berhasil menghantam 5 jet tempur Rusia. Pertempuran antara Rusia dan Ukraina semakin sengit, dan Rusia tampaknya sama sekali tidak peduli dengan tenggat waktu gencatan senjata yang ditetapkan oleh Presiden Trump.

EtIndonesia.  Api membumbung tinggi ke langit, asap tebal menyelimuti. Pada  Minggu (3 Agustus) dini hari, drone Ukraina melancarkan serangan malam ke sebuah gudang minyak di dekat Sochi, kawasan wisata Laut Hitam Rusia. Dua tangki minyak terbakar. Saat ini, semua penerbangan di Bandara Sochi telah dihentikan total.

Gubernur Wilayah Krasnodar, Veniamin Kondratyev, menyatakan bahwa puing-puing drone menghantam tangki minyak, menyebabkan kebakaran besar. Sebanyak 127 petugas pemadam kebakaran dan 35 unit mobil pemadam dikerahkan. Api telah berhasil dikendalikan.

Ukraina mengkonfirmasi serangan ke Sochi, dan juga menyatakan bahwa mereka telah melancarkan serangan drone ke wilayah Crimea yang diduduki Rusia, menghantam 5 pesawat tempur milik Rusia, dengan satu di antaranya dihancurkan total.

Menurut laporan Associated Press (AP), Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa hingga Minggu malam, sistem pertahanan udara Rusia telah menjatuhkan 93 drone Ukraina di wilayah Rusia dan di atas Laut Hitam. Namun, jumlah total drone yang dikerahkan Ukraina belum diketahui.

Angkatan Udara Ukraina mengkonfirmasi bahwa Rusia meluncurkan total 76 drone dan 7 rudal, dari jumlah tersebut 60 drone dan 1 rudal berhasil ditembak jatuh. Namun, 8 lokasi di Ukraina tetap terkena serangan.

Saat ini, batas waktu yang ditetapkan oleh Presiden Trump kepada Putin untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata semakin dekat. Ditambah lagi dengan komentar kasar dari mantan Presiden Rusia pekan lalu, Trump kemudian memerintahkan dua kapal selam nuklir AS menuju perairan terkait, membuat hubungan AS–Rusia makin tegang.

“Jika batas waktunya telah tiba dan kedua belah pihak belum juga menghentikan perang, dan Rusia tetap tidak mau menghentikan konflik yang menewaskan ribuan tentara setiap hari, maka Presiden Trump akan menjatuhkan sanksi sekunder terhadap negara-negara yang membeli minyak dari Rusia. Ini termasuk Tiongkok (PKT), India, dan Brasil, yang jelas-jelas sedang mendanai perang ini,” kata Matthew Whitaker, Duta Besar AS untuk NATO. 

Pada  Minggu, Trump menyatakan bahwa Utusan Khusus Timur Tengah, Steve Witkoff, akan berkunjung ke Rusia minggu ini untuk membantu menengahi perjanjian gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina. (Hui/asr)

oleh: Li Jiayin | NTD

Kondisi Tragis Sandera di Gaza Terungkap, PM Israel Bersumpah Hancurkan Hamas

Etindonesia. Baru-baru ini, sebuah video yang memperlihatkan kondisi tragis sandera Israel yang ditahan di terowongan Gaza beredar luas. Dalam video tersebut, para sandera tampak kurus kering dan mengalami penderitaan luar biasa, mengguncang masyarakat internasional. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersumpah akan mencapai semua tujuan perang di Gaza, termasuk menghancurkan Hamas dan membebaskan semua sandera.

“Saya sedang menggali kuburan saya sendiri, saya bisa berbaring di dalamnya. Sungguh, setiap hari yang berlalu membuat hidup saya semakin singkat. Waktu saya tidak banyak lagi,” kata Eviyatar David, sandera Israel. 

“Ini, ini adalah makanan untuk dua hari. Satu kaleng penuh ini untuk dua hari agar saya tidak mati kelaparan.”

Sebuah video yang dirilis kelompok Hamas pada  Sabtu lalu menunjukkan Eviyatar David, sandera Israel yang ditahan di dalam terowongan Gaza, tampak tulang-belulang dan sedang menggali kuburannya sendiri.

Sehari sebelumnya, kelompok Jihad Islam juga merilis video yang menunjukkan seorang sandera Israel telah ditahan di Gaza selama dua tahun, dan menderita akibat kelaparan dan penyakit.

Rom Braslavsky, sandera Israel lainnya, mengatakan: “Kaki saya sangat sakit, saya tidak bisa berdiri, bahkan tidak bisa ke kamar mandi. Makanan dan air saya sudah habis. Dulu mereka masih memberi sedikit, tapi hari ini tidak ada apa-apa.”

Video kondisi sandera tersebut mengguncang masyarakat Israel. Kekejaman Hamas juga memicu kemarahan dunia internasional.

Pada Senin, Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, mengumumkan bahwa ia akan berangkat ke New York untuk menghadiri rapat khusus Dewan Keamanan PBB mengenai isu sandera, yang ia inisiasi sendiri.

Menlu Israel, Israel Katz menyatakan: “Hamas dan Jihad Islam menggunakan kelaparan dan penyiksaan terhadap sandera sebagai bagian dari kampanye propaganda sadis yang disengaja dan terencana. Mereka juga ikut menyebarkan narasi palsu tentang ‘kelaparan di Gaza’.”

“Masyarakat internasional harus membuat para teroris membayar harga. Dunia harus menghentikan penculikan warga sipil.”

Pada hari yang sama, Perdana Menteri Israel Netanyahu menyatakan akan mengadakan rapat kabinet keamanan minggu ini, untuk membahas operasi militer di Gaza dalam rangka mencapai seluruh tujuan perang.

Netanyahu menegaskan: “Kita harus tetap bersatu dan terus berjuang bersama untuk mencapai seluruh tujuan perang kita: mengalahkan musuh, membebaskan para sandera, dan memastikan Gaza tidak lagi menjadi ancaman bagi Israel.”

Sementara itu, juru bicara internasional militer Israel, Nadav Shoshani, menyatakan bahwa militer Israel berkomitmen untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza, dan bersumpah akan menghancurkan Hamas serta menyelamatkan para sandera.

Nadav Shoshani mengatakan: “Saya percaya Hamas sangat terdorong oleh perhatian dunia terhadap klaim mereka bahwa Israel membuat Gaza kelaparan — ini adalah narasi yang salah. Kami tetap berpegang pada tujuan perang kami: menghancurkan Hamas dan membebaskan sandera.” (Hui/asr)

oleh: Zhao Fenghua | NTD