Thailand Cabut Usulan Gencatan Senjata, Kamboja Kembali Luncurkan Serangan Hingga Ledakan Memekakkan Telinga

Konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja memasuki hari ke-3. Pada 26 Juli pukul 05:10 pagi, pasukan militer Kamboja kembali melancarkan serangan ke Thailand di wilayah Desa Chamrak, Provinsi Trat. Tentara Thailand segera membalas serangan tersebut dengan mengerahkan pasukan pertahanan perbatasan dari Chanthaburi dan Trat. Sebelumnya, kedua negara sempat menyetujui usulan gencatan senjata dari Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, namun kemudian pihak Thailand menarik kembali persetujuannya.

EtIndonesia. Ledakan dan suara tembakan terdengar terus-menerus, beberapa warga belum sempat mengungsi dan menyaksikan kilatan api di perbukitan, disertai suara ledakan yang menggelegar, membuat mereka ketakutan.

Menurut unggahan dari komunitas “Army Military Force – Pasukan Cadangan Angkatan Darat”, konflik terjadi sekitar pukul 05:20 pagi, di sekitar wilayah Desa Chamrak, Trat. Pada 05:30 pagi, suara tembakan mulai terdengar di berbagai daerah sekitar.

Akun resmi Kantor Hubungan Masyarakat Pemerintah Thailand mengimbau masyarakat untuk tidak panik, dan agar mengikuti informasi resmi dari pemerintah serta mematuhi arahan petugas di lapangan.

Seorang biksu Thailand, Phrasakda Suntharo, menuliskan kondisi di lapangan melalui akun Facebook-nya pada 26 Juli dini hari :

“Pukul 05.00 pagi terjadi baku tembak. Beberapa kali terdengar suara ledakan meriam, cahaya terang terlihat meluncur di atas gunung. Kami sedang melarikan diri, tapi para prajurit berlari ke arah kami — mereka benar-benar melindungi rakyat Thailand. Saya benar-benar mengagumi para tentara ini.”

Kemudian dilaporkan bahwa militer Thailand telah mengerahkan drone pengintai sejak pagi hari untuk memantau posisi dan pergerakan musuh. Pemerintah daerah juga telah menginformasikan kepada warga sekitar agar tetap berada di tempat aman dan menjauhi wilayah perbatasan.

Sumber dari angkatan laut Thailand mengungkapkan bahwa Kamboja juga menembaki Angkatan Laut Kerajaan Thailand, memperluas cakupan konflik di wilayah Trat. Thailand lalu meluncurkan operasi militer bernama “Trat Pikhapari 1”. Pasukan perbatasan dari Chanthaburi dan Trat membalas serangan tersebut dan berhasil memukul mundur pasukan Kamboja.

Menurut sumber tersebut, operasi ini merupakan tindakan balasan yang diperlukan untuk mempertahankan kedaulatan. Thailand menyatakan tidak berniat memperbesar konflik, tetapi akan terus memantau situasi, bila ditemukan ancaman terhadap keamanan nasional, akan segera bertindak.

Selain itu, berdasarkan hasil pengintaian militer, diperkirakan Kamboja akan melancarkan serangan lanjutan pada 27 Juli pukul 05.00 pagi. Karena itu, militer memerintahkan evakuasi warga dari tiga distrik ke pusat kota Trat.

Konflik perbatasan yang telah berlangsung lama antara Thailand dan Kamboja memanas menjadi pertempuran besar-besaran pada 24 Juli, dengan kedua pihak menggunakan pesawat tempur, artileri, tank, dan pasukan darat. Situasi ini memaksa Dewan Keamanan PBB mengadakan sidang darurat pada 25 Juli.

Perdana Menteri Kamboja Hun Manet pada 25 Juli menyatakan mendukung proposal gencatan senjata yang diajukan oleh Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.

“Kamboja menyerukan gencatan senjata segera tanpa syarat dan juga menyerukan penyelesaian damai atas konflik ini,” ujar Duta Besar Kamboja untuk PBB, Chhea Keo. 

Namun, Thailand yang awalnya menyatakan mendukung rencana gencatan senjata, kemudian menarik dukungannya. Perdana Menteri sementara Thailand, Phumtham Wechayachai, memperingatkan bahwa jika situasi memburuk, maka konflik ini bisa berkembang menjadi perang.

Menurut laporan AFP, Kementerian Pertahanan Kamboja menyatakan bahwa dalam pertempuran ini 13 orang tewas, termasuk 8 warga sipil dan 5 tentara, serta 71 orang terluka.

Sementara itu, militer Thailand menyebut bahwa pada 25 Juli, 5 tentaranya gugur, sehingga total korban tewas menjadi 20 orang, terdiri dari 14 warga sipil dan 6 personel militer. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Banjir Hebat di Beijing dan Hebei Jelang Pertemuan Beidaihe, Warga Terpaksa Mengungsi ke Atap untuk Minta Pertolongan

EtIndonesia. Menjelang pertemuan rahasia elit Partai Komunis Tiongkok (PKT) di Beidaihe, banjir besar melanda sejumlah provinsi di Tiongkok. Sejak Kamis (24 Juli), beberapa wilayah kota Beijing mulai tergenang banjir, sementara Provinsi Hebei mengalami hujan deras yang sangat ekstrem dan disebut sebagai bencana historis. Di Kota Zhuozhou, jalanan berubah menjadi sungai, banyak kendaraan terendam air, dan warga terpaksa naik ke atap rumah untuk meminta pertolongan.

 “Sudah banjir besar! Ini seperti hukuman langit bagi Hebei. Halaman rumah sudah seperti di tepi laut!” kata seorang warga setempat. 

Pada 24–25 Juli, Kabupaten Yixian di Kota Baoding, Provinsi Hebei, dilanda hujan ekstrem dengan curah hujan mencapai 362,6 mm dalam waktu 24 jam—memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah di wilayah itu. Di Desa Renyizhuang, Kecamatan Tanghu, curah hujan bahkan mencapai 448,7 mm, menyebabkan banjir parah di dalam kota.

Komentar warga:  “Jalan ini sekarang sudah tidak bisa dilewati, dan jalan di sana sudah ambles habis.”

Hari itu, Jembatan Yihezhuang di Yixian juga dihanyutkan oleh arus banjir. Pihak berwenang mengevakuasi 1.697 orang dan mengklaim tidak ada korban jiwa, namun kondisi sebenarnya tidak diketahui secara pasti.

Warga menyebut bahwa pelepasan air dari bendungan di hulu memperparah banjir.

Warga:  “Lihat ini, Sungai Juma meluap! Bendungan di atas sana melepaskan air, lihat arus air ini!”

Beberapa warga membagikan video sambil menangis, memperlihatkan rumah dan jalanan yang sudah tenggelam oleh banjir. Mereka menunggu berjam-jam di tengah hujan deras namun tak kunjung mendapat bantuan.

Warga lainnya berkata:  “Saya sudah menunggu perahu penyelamat sejak tadi di sini.”

“Air sudah sampai ke desa kecil ini, seluruh keluarga kami ada di atap rumah. Lihatlah air ini, tidak bisa keluar, tidak ada jalan keluar!”

Pada hari yang sama, Kota Zhuozhou di Hebei juga mengalami hujan lebat. Sampai pukul 9 pagi, curah hujan rata-rata mencapai 137,2 mm. Status darurat banjir di kota ini dinaikkan dari Level IV menjadi Level III. Daerah seperti Jembatan Huayang, Jembatan Guanyun, ruas Huatian di Jalan Tol Jinggang’ao, dan sekitar Stasiun Kereta Cepat mengalami genangan air paling parah, dan banyak kendaraan terendam.

Keluhan warga lokal:  “Dua tahun terakhir ini, setiap kali hujan pasti banjir. Tahun ini juga sama, Zhuozhou lagi-lagi kebanjiran.”

Sementara itu, Beijing juga meningkatkan status siaga banjir dengan mengeluarkan peringatan hujan lebat level kuning dan mengaktifkan tanggap darurat banjir tingkat tiga.

Pada 25 Juli pagi, warga Beijing membagikan video yang menunjukkan seluruh jalanan tergenang air sejak mereka bangun pagi. Banyak mobil terendam air, orang-orang terpaksa berjalan menerobos air yang di beberapa tempat sudah setinggi pinggang. Sungai Liangshui di Beijing mengalami kenaikan air secara drastis, warga mengingatkan satu sama lain untuk berhati-hati demi keselamatan.

Berdasarkan pengamatan cuaca, dalam tiga hari ke depan, hujan akan terus mengguyur Beijing, dengan intensitas meningkat, khususnya di daerah pegunungan dan wilayah tenggara yang berpotensi tinggi mengalami banjir bandang dan longsor.

Sebelumnya, provinsi lain seperti Guangdong, Shandong, dan Yunnan juga sudah lebih dahulu dilanda banjir besar. Sejumlah bendungan melepaskan air secara bersamaan, menyebabkan sungai meluap dan banjir besar yang berdampak parah di banyak desa dan kota kecil.

Seorang warga Distrik Laiwu, Shandong, bermarga Qi berkata:  “Hujannya sangat deras disertai petir. Tiga bendungan di hulu melepaskan air. Tahun ini airnya luar biasa besar. Sepanjang tepi sungai belum pernah terlihat air sebesar ini. Banjir sudah sampai ke jalan, dan jalanan ditutup. Rumah-rumah sudah kemasukan air dan penuh lumpur.”

Warga yang terdampak menyampaikan bahwa setelah air surut, pemandangan di lingkungan mereka porak-poranda dan sangat memilukan.

Seorang pedagang di Kabupaten Weixin, Provinsi Yunnan, bermarga Li berkata:  “Hujan lebat, pelepasan air bendungan, banjir bandang, tanah longsor… semuanya membuat kacau balau. Semua tempat dipenuhi lumpur. Ini bencana kedua. Yang pertama baru saja kami bersihkan selama dua tiga hari, sekarang semuanya kembali rusak seperti semula. Benar-benar sia-sia, kerugiannya tak terbayangkan.”

Seorang warga desa, Nyonya Wang, dari Weixin juga berkata:  “Sekarang tidak ada tim penyelamat sama sekali. Dulu di sini ada lubang pembuangan air besar, tapi sepertinya sudah tersumbat. Air tidak bisa keluar. Ini kombinasi antara bencana alam dan kelalaian manusia.”

Pertemuan tahunan rahasia PKT, yang dikenal sebagai Pertemuan Beidaihe, biasanya diadakan pada awal Agustus. Namun hingga kini, meski banjir sudah meluas dan menyebabkan kerusakan parah, tidak ada satu pun pejabat tinggi PKT dari Zhongnanhai yang terlihat turun ke lokasi bencana. Hal ini memicu kemarahan dan kecaman dari publik. (Hui/asr)

Laporan oleh Tang Rui dan Xiong Bin untuk NTD 

Gejolak Politik di Zhongnanhai: Analis Sebut “Skenario Runtuhnya Rezim Komunis Tiongkok dalam Semalam” Sudah Disiapkan

Sejak tahun lalu, situasi politik di dalam Partai Komunis Tiongkok (PKT) menunjukkan berbagai kejanggalan, dengan banyak pejabat tinggi partai dan pemerintah yang terlibat masalah. Meskipun tampak ada stabilitas kekuasaan di permukaan, kenyataannya arus bawah sangat bergejolak. Kini, wacana dan skenario mengenai “Tiongkok tanpa Partai Komunis” telah menjadi bahan diskusi terbuka. Berbagai pihak sudah bersiap menyambut kemungkinan tersebut.

EtIndonesia. Selama 13 tahun kepemimpinan Xi Jinping, ekonomi Tiongkok terus menurun, dan konflik internal di kalangan elite partai semakin sengit. 

Sejak Kongres Nasional ke-20 PKT, banyak pejabat tinggi dari kalangan partai, pemerintah, dan militer yang dilengserkan. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah pemecatan Miao Hua, jenderal berpangkat tinggi dan loyalis Xi di Komisi Militer Pusat. Sementara itu, wakil ketua komisi tersebut, He Weidong, telah menghilang selama lebih dari empat bulan.

Menurut tradisi PKT, akhir Juli hingga awal Agustus adalah masa pertemuan rahasia di Beidaihe, tempat para tetua partai kerap mencampuri urusan elite. Tahun ini, sejak awal Juli, keamanan dari Beijing hingga Beidaihe diperketat secara signifikan: polisi berpakaian sipil berpatroli, pos pemeriksaan ditambah, dan stasiun serta kereta api menjalani pemeriksaan berlapis.

Kejanggalan dalam situasi politik ini juga menarik perhatian internasional. Beberapa negara mulai mempertimbangkan bagaimana dunia harus merespons jika Tiongkok tak lagi dikuasai oleh Partai Komunis.

Media luar negeri Renminbao melaporkan pada 25 Juli bahwa pertemuan Beidaihe tahun ini kembali menjadi jendela penting untuk mengamati dinamika kekuasaan di Zhongnanhai (pusat pemerintahan PKT). Meskipun belum pasti apakah akan ada perubahan dramatis, konsep dan skenario “Tiongkok pasca-Komunis” sudah secara nyata berada di meja pembahasan.

Wu Guoguang, peneliti senior di Pusat Studi Ekonomi dan Kelembagaan Tiongkok di Universitas Stanford, secara konsisten menyerukan perlunya beralih menuju masa depan tanpa Partai Komunis. Dalam wawancara eksklusif dengan Journal of Chinese Democracy edisi kuartal ketiga 2025, ia membahas topik ini secara mendalam.

Wu menyatakan bahwa dari perspektif sejarah umat manusia, sistem komunisme secara global telah runtuh selama lebih dari 30 tahun. Banyak bukti sejarah telah menunjukkan kelemahan, kejahatan, dan bencana yang ditimbulkan oleh sistem ini serta ketidakmampuannya untuk bertahan.

Menurut Wu, setelah lebih dari satu dekade pemerintahan Xi, di mana sisi baik dan buruk dari sistem ini sudah sangat terlihat, masa depan yang penuh harapan untuk Tiongkok hanya mungkin tercapai bila negara ini meninggalkan sistem Partai Komunis dan memasuki era pasca-Komunis.

“Tiongkok pasca-Komunis berarti membangun sistem di mana kekuasaan dibatasi dan hak-hak dijamin. Dengan itu, ekonomi bisa terus berkembang, hasil pembangunan bisa dirasakan oleh semua rakyat, dan tatanan sosial bisa stabil jangka panjang — tanpa ketakutan bahwa pemimpin atau kebijakan baru akan tiba-tiba mengubah segalanya,” tegasnya. 

Sementara itu, pada 16 Juli, lembaga think tank Hudson Institute di Washington DC merilis laporan bertajuk “Tiongkok Pasca-Komunis: Persiapan untuk Era Setelah PKT”, ditulis oleh direktur pusat tersebut, Yu Maochun. Laporan tersebut menegaskan bahwa runtuhnya PKT bukanlah soal “apakah akan terjadi”, tetapi “kapan akan terjadi”. Yang paling mengkhawatirkan, menurut laporan itu, adalah bahwa keruntuhannya bisa terjadi secara mendadak, dalam satu malam.

Laporan itu menyebut bahwa meski PKT pernah selamat dari krisis sebelumnya, kemungkinan keruntuhan mendadak bukan mustahil. Maka itu, dunia harus bersiap. Untuk menjaga stabilitas Tiongkok pasca-Komunis, kerja sama internasional sangat penting. Amerika Serikat, sebagai pemimpin global, harus memastikan stabilitas Tiongkok dan mendorong transisi damai menuju demokrasi.

Renminbao menyatakan bahwa laporan Hudson secara gamblang menunjukkan bahwa: skenario lengkap AS menghadapi keruntuhan PKT sudah disiapkan. Bahkan, setiap departemen telah menjalankan simulasi atau latihan. “Skenario Tiongkok” milik AS sudah berada di meja, dengan persiapan sangat matang. Mereka tidak hanya menunggu PKT runtuh, tapi juga siap bertindak segera begitu momen tiba, untuk mencegah Tiongkok kembali ke dalam kediktatoran.

Wang Youqun, mantan pejabat di Komisi Disiplin Pusat PKT, dalam tulisannya di Epoch Times mengatakan bahwa laporan think tank AS ini memberikan peta jalan kebijakan bagi pemerintah AS dalam menghadapi perubahan besar di Tiongkok. Sejak Xi berkuasa, banyak keputusan besar dalam dan luar negeri diambil dengan keliru dan terus-menerus memburuk. Menurut Wang, keruntuhan PKT dalam semalam bukan sekadar kemungkinan, melainkan hal yang sangat mungkin terjadi.

Pengamat politik Jiutianjian dalam artikelnya  25 Juli di Epoch Times mengatakan bahwa saat ini Tiongkok menghadapi kombinasi fatal:

  • Tiga pilar utama ekonomi telah lumpuh,
  • Rasa frustrasi rakyat mendidih akibat sulitnya bertahan hidup,
  • Ketakutan akan keruntuhan menyebar di kalangan elite,
  • Ditambah bencana alam, gelombang panas ekstrem, penurunan populasi drastis, wabah yang sulit dikendalikan…

Semua faktor ini meledak secara bersamaan di negeri yang dipimpin sistem otoriter ini.

“Tahun 2025 ini, dunia yang mencintai damai, kebebasan, peradaban, dan keadilan, sedang menanti dalam diam runtuhnya Partai Komunis Tiongkok yang telah membawa kehancuran selama seabad. Layaknya Uni Soviet yang runtuh dalam semalam 35 tahun lalu — rakyat Tiongkok yang sudah tidak sanggup lagi hidup dalam penderitaan, berharap itu bisa terjadi bahkan sebelum hari esok tiba,” Jiutianjian menyimpulkan. (Hui/asr)

Tang Zheng – NTDTV.com

Industri Kuliner Tiongkok Dilanda Masa Sulit : Pemilik Restoran Mengeluh, Omzet Harian Turun 90%

Industri kuliner di Tiongkok tengah mengalami masa sulit. Dari hotel bintang lima hingga warung makan biasa, semua berupaya menyelamatkan bisnis mereka dengan berbagai cara. Semakin banyak restoran mulai meninggalkan ruang VIP yang sebelumnya menjadi sumber utama keuntungan. Sejumlah pemilik restoran mengeluh bahwa, sejak diberlakukannya larangan konsumsi alkohol, omzet harian dari ruangan VIP anjlok hingga 90%.

EtIndonesia. Laporan dari Red Food Network (红餐网) menyebutkan ruang VIP yang dahulu sangat menguntungkan kini justru menjadi beban bagi para pemilik restoran. Semakin banyak restoran yang memilih untuk menyingkirkan ruang VIP mereka.

Di sebuah restoran di Shandong yang memiliki 10 ruang VIP, hanya dua atau tiga meja yang terisi setiap harinya. Sebuah restoran waralaba di Hefei yang memiliki lebih dari 40 ruang VIP rata-rata hanya menerima belasan tamu per hari. Bahkan ada restoran dengan 7 ruang VIP yang hampir selalu kosong, dengan tingkat reservasi di bawah 20%.

Ada pula restoran yang mengalami penurunan omzet harian hingga 90%. Salah satu pemilik berkata dengan nada putus asa, “Kalau terus seperti ini dua bulan lagi, kami akan mempertimbangkan untuk tutup.”

Selama ini, konsep “meja biasa untuk menarik keramaian, ruang VIP untuk keuntungan” merupakan aturan tak tertulis dalam dunia bisnis kuliner di Tiongkok. Konsumsi di ruang VIP, yang umumnya digunakan untuk jamuan bisnis, dulunya menjadi sumber keuntungan utama bagi restoran kelas menengah ke atas.

Namun dalam dua bulan terakhir, bisnis ruang VIP di banyak restoran merosot tajam. Semakin banyak restoran mulai berpikir untuk menghapus ruang VIP sepenuhnya.

Zhang Jun (nama samaran), pemilik sebuah restoran khas Anhui (Hui cuisine) di Hefei, menghabiskan 2 juta yuan untuk membuka restoran dengan 7 ruang VIP. Sejak Mei lalu, omzet restoran anjlok dari 7.000–10.000 yuan per hari (Rp 16 juta- Rp 23 juta) menjadi hanya 800–2.000 yuan ( Rp 1.8 juta- Rp 4,5 juta).  Penurunan ini mencapai 90%.

Pemilik restoran lainnya, Li Mao (nama samaran), dua tahun lalu membuka restoran Sichuan bergaya privat di Chengdu yang hanya menyediakan ruang VIP. Dalam sebulan terakhir, jumlah tamu menurun drastis dan pendapatan turun sekitar 20% dibandingkan tahun sebelumnya.

Li Mao menyebut bahwa di daerahnya, restoran yang mengandalkan ruang VIP mengalami penurunan omzet lebih dari 30%.

Wang Ning (nama samaran), yang mengelola restoran Chaozhou di Foshan, mengatakan bahwa banyak restoran yang mengandalkan jamuan bisnis dan ruang VIP kini kesulitan mempertahankan bisnis, dengan omzet turun 20–30%, bahkan ada yang turun hingga setengahnya.

“Tanda paling nyata adalah pesta kelulusan dan jamuan untuk guru menurun drastis. Biasanya  Juni dan Juli adalah musim ramai untuk acara-acara seperti itu, tapi tahun ini hampir tidak terdengar,” ujar Wang Ning.

Seorang resepsionis hotel besar di Shaanxi, yang memakai nama samaran Xiao Yi, mengatakan bahwa biasanya sebelum dan sesudah ujian masuk universitas (gaokao), ia bisa menerima banyak pesanan untuk pesta kelulusan dan jamuan guru. Namun tahun ini, hampir tidak ada pesanan sama sekali.

“Ruang VIP juga sangat sepi. Dulu malam hari hampir selalu penuh. Sekarang, kalau sedang ramai pun, siang hari hanya ada satu atau dua meja. Kalau sedang sepi, tidak ada satu pun. Malam hari juga sama,” kata Xiao Yi.

Untuk menyiasati penurunan bisnis yang drastis ini, banyak restoran mulai melakukan pemotongan gaji dan PHK.

Xiao Yi mengungkapkan bahwa juru masak yang bertugas di bagian ruang VIP di hotel tempatnya bekerja kini berada dalam kondisi “setengah cuti, setengah kerja”, bahkan beberapa dari mereka mengundurkan diri untuk mencari pekerjaan lain.

“Ambil contoh saya sendiri, gaji saya pada  Juni turun hampir setengah. Untuk jangka pendek masih bisa bertahan, tapi tidak ada yang tahu kapan bisa kembali normal,” ujarnya dengan nada kecewa.

Xu Zhi (nama samaran), yang menjalankan restoran Kanton di Zhejiang, baru-baru ini mem-PHK tiga pelayan dan dua juru masak.

Zhang Jun juga memecat tiga dari enam staf dapur, dan memberhentikan 30% staf di bagian depan. Sisanya mengalami pemotongan gaji sebesar 20%.

Zhang Jun berkata, “Kalau pendapatan harian kami masih di kisaran seribu dua ribu yuan, paling lama dua bulan lagi kami akan pertimbangkan untuk tutup.”

Zhang Jun juga mengungkapkan bahwa sebuah restoran privat dekat tempat usahanya sudah tutup sejak akhir Mei.

Terkait penyebab merosotnya bisnis ruang VIP, banyak pelaku industri kuliner menduga hal ini erat kaitannya dengan “larangan konsumsi alkohol” yang baru-baru ini diberlakukan. Larangan ini dianggap sebagai pukulan telak bagi restoran kelas atas yang mengandalkan jamuan resmi dan ruang VIP.

Seorang manajer restoran seafood Kanton di Distrik Nanshan, Shenzhen, mengatakan, “Dalam dua minggu pertama setelah ‘larangan konsumsi alkohol’ diberlakukan, jumlah pemesanan ruang VIP langsung anjlok 80%.”

Baru-baru ini, restoran besar dan hotel bintang lima di wilayah seperti Anhui, Shaanxi, Jiangsu, Zhejiang, Sichuan, dan Henan yang biasanya mengandalkan ruang VIP, mulai turun ke jalan dan bergabung dalam “pasar kaki lima”.

Banyak pelaku industri mengakui bahwa berjualan di kaki lima dianggap sebagai “penurunan derajat”, bahkan kadang mereka merugi, namun tetap dilakukan demi menjaga keberadaan di benak pelanggan.

“Tujuan kami buka lapak bukan untuk mengejar sedikit arus kas, tapi agar pelanggan masih ingat kami,” kata seorang manajer hotel di Hefei kepada Red Food Network. “Begitu kami tutup total, pegawai bubar, tim hancur, maka restoran itu benar-benar ‘mati’.” (Hui/asr)

Laporan oleh Luo Tingting / Wen Hui – NTD

5 Titik “Panas” di Rumah Tempat Jamur Mudah Tumbuh tapi Sering Diabaikan

EtIndonesia. Jamur merupakan salah satu ancaman tersembunyi di dalam rumah. Banyak orang mengira jamur hanya tumbuh di ruang bawah tanah yang lembab atau di kamar mandi, namun kenyataannya, jamur juga bisa berkembang di area lain dalam rumah.

Majalah Better Homes and Gardens mengungkapkan bahwa jamur dapat tumbuh di mana saja yang lembab dan kurang sirkulasi udara—bahkan di bawah keset atau pada mainan mandi anak-anak. 

Demi menjaga kesehatan di rumah, jangan abaikan tempat-tempat berikut ini:

1. Di Bawah Keset

Ketika cuaca lembab atau keset sering diinjak dengan kaki basah, kelembaban dapat terperangkap di bawah keset, menciptakan lingkungan ideal bagi jamur dan bakteri.

Solusi: Cuci dan angkat keset secara rutin agar bagian bawahnya tetap kering.

2. Di Dalam Lemari Arsip

Jika kelembaban dalam rumah tinggi, penting untuk memperhatikan penyimpanan dokumen penting. Kertas adalah media ideal bagi jamur, terutama jika disimpan dalam lemari arsip yang jarang dibuka atau dipindahkan.

Sekali jamur tumbuh pada kertas, sulit atau bahkan mustahil untuk membersihkannya. Maka dari itu, pencegahan adalah kunci. Hindari menyimpan kertas di tempat lembab seperti kotak kardus, loteng, atau ruang bawah tanah. Menggunakan alat pengering udara (dehumidifier) di musim panas juga bisa membantu mencegah pertumbuhan jamur.

3. Tanaman Hias di Dalam Rumah

Tanaman pot di dalam rumah juga bisa memicu pertumbuhan jamur jika terlalu sering disiram. Tanah yang terlalu lembab dan sirkulasi udara yang buruk menciptakan kondisi ideal bagi spora jamur.

Solusi: Saat menyiram tanaman, perhatikan jumlah air dan pastikan pot serta tanah tidak terus-menerus basah.

4. Di Dalam Tempat Sikat Gigi

Tidak ada yang ingin bulu sikat giginya menyentuh sesuatu yang kotor. Tapi air yang menetes dari sikat gigi bisa membuat bagian dalam tempat sikat jadi lembab dan menjadi sarang jamur.

Solusi: Bersihkan dan keringkan tempat sikat gigi secara rutin.

5. Di Dalam atau pada Mainan Anak-anak

Anak-anak sering memasukkan hampir semua benda ke dalam mulut—termasuk mainan. Hal ini menyebabkan bakteri dan kelembaban mudah terkumpul, menciptakan lingkungan ideal bagi jamur. Mainan mandi sangat rentan jika tidak dibersihkan dengan baik.

Solusi: Bersihkan mainan anak secara berkala. Beberapa mainan bisa dicuci dalam mesin pencuci piring. Simpan mainan di tempat yang berventilasi baik untuk mencegah jamur. (Hui/asr)

Laporan diterjemahkan oleh Jurnalis Jin Jing / Lin Qing

Orang Tiongkok Beramai-Ramai Menangkap Kepompong Jangkrik Hingga ke Luar Negeri, Jepang Terpaksa Pasang Peringatan dalam Bahasa Mandarin

Baru-baru ini, tagar “Sebuah desa di Shandong menghasilkan 4,3 juta yuan dari menjual jangkrik” menjadi trending di media sosial. Jangkrik yang dimaksud juga dikenal sebagai “zhiliao hou” atau kepompong jangkrik (nimfa jangkrik).

Setiap musim panas, orang Tiongkok berbondong-bondong menangkap kepompong ini untuk dikonsumsi. Namun, budaya kuliner ini menyebar hingga ke Jepang dan menimbulkan ketidaknyamanan warga setempat, sehingga pemerintah setempat terpaksa memasang pengumuman yang melarang penangkapan jangkrik.

EtIndonesia. Laporan ABEMA TIMES menyebutkan sejumlah taman di Tokyo baru-baru ini memasang pengumuman dalam bahasa Mandarin yang berbunyi, “Dilarang menangkap kepompong jangkrik”. Selain itu, patroli juga diperketat di taman-taman tersebut karena banyak warga Tiongkok yang mengumpulkan kepompong pada malam hari, menimbulkan keluhan serius dari warga lokal.

Seorang staf dari salah satu taman mengungkapkan bahwa mereka menerima banyak laporan dari masyarakat yang mengatakan ada orang mencurigakan berkeliaran di taman pada malam hari untuk mengumpulkan kepompong. 

Dalam salah satu patroli, petugas bahkan memergoki seseorang yang jongkok di bawah pohon dengan kantong berisi puluhan kepompong jangkrik.

Banyak taman di Tokyo, Jepang, baru-baru ini memasang pengumuman larangan penangkapan larva jangkrik dengan bahasa Mandarin . (Tangkapan layar dari internet)

Sebenarnya, sejak beberapa tahun lalu warga Jepang sudah merasa tidak nyaman dengan kebiasaan warga Tiongkok yang menangkap kepompong untuk dimakan. Pengelola taman di Tokyo telah berkali-kali menerima keluhan warga yang menyatakan bahwa ada orang-orang yang menangkap jangkrik dalam jumlah besar untuk dimakan. 

Banyak taman di Tokyo, Jepang, baru-baru ini memasang pengumuman larangan penangkapan larva jangkrik dengan bahasa Mandarin . (Tangkapan layar dari internet)

Sebagai respons, pihak taman pun memasang poster peringatan—bahkan beberapa di antaranya ditulis khusus dalam bahasa Mandarin:  “Perhatian: Dilarang menangkap kepompong jangkrik atau makhluk hidup lainnya di taman untuk dikonsumsi.”

Namun perlu dicatat, peringatan tersebut tampaknya tidak begitu efektif. Dalam dua tahun terakhir, setiap musim panas, aksi penangkapan kepompong jangkrik oleh warga Tiongkok di Jepang semakin marak. Akibatnya, taman-taman terpaksa meningkatkan patroli dan memasang lebih banyak papan peringatan.

Meskipun warga Tiongkok sangat gemar dengan masakan berbahan kepompong jangkrik ini, pihak pengelola taman di Jepang menegaskan bahwa kuliner kepompong jangkrik bukan bagian dari budaya Jepang. 

Di Jepang, jangkrik dianggap sebagai simbol suara alami musim panas. Masyarakat diimbau untuk membiarkan anak-anak menyaksikan proses kepompong menetas dan terbang ke pohon, bukan malah mengakhiri hidup mereka sebelum waktunya. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Air Ledeng di Shandong, Tiongkok Berubah Menjadi Hitam, Pejabat Mengklaim Kekeringan adalah Penyebabnya

Warga di Kabupaten Wulian, Rizhao, Provinsi Shandong, Tiongkok melaporkan bahwa air ledeng di rumah mereka berubah menjadi keruh dan bahkan hitam. Pejabat setempat mengklaim hal ini disebabkan oleh kekeringan baru-baru ini, namun penjelasan ini menuai banyak keraguan. Di saat yang sama, sejumlah wilayah lain di Tiongkok juga mengalami masalah kualitas air serupa.

EtIndonesia. Pada 23 Juli, beberapa warga di Kabupaten Wulian, Rizhao, menyatakan bahwa air ledeng di rumah mereka sangat keruh. 

Seorang warga di Komplek Furong membagikan video yang menunjukkan bahwa meskipun ia sudah menggunakan air di luar jam sibuk (pukul 04.00 pagi), air yang keluar dari keran tetap berwarna kuning. Dalam video terlihat, meskipun kran dilapisi kain kasa sebagai penyaring, air yang keluar tetap sangat keruh.

Warga lainnya membagikan video bahwa air ledeng di rumahnya bercampur lumpur. Video menunjukkan air berwarna coklat tua mengalir dari keran, sangat kotor dan jelas tidak layak konsumsi.

Menurut laporan media Tiongkok, seorang staf dari Perusahaan Grup Air Kabupaten Wulian membenarkan bahwa mereka telah menerima banyak laporan dari warga Komplek Furong mengenai masalah kualitas air. Ia mengatakan, “Sekarang banyak komplek perumahan yang mengalami hal serupa. Air ledeng disalurkan langsung dari pabrik pengolahan air.”

Staf tersebut menjelaskan bahwa Waduk Shimuzih, yang menyuplai air minum untuk wilayah kota kabupaten, hampir kering. 

“Saat ini cuaca panas dan kekeringan sangat parah. Penurunan permukaan air terjadi sangat cepat, tekanan air rendah, sehingga menyebabkan fluktuasi dalam pipa dan menghasilkan air keruh,” katanya. Ia juga menyebutkan bahwa kekeruhan berasal dari endapan dasar waduk dan karat dalam pipa.

Ia menyarankan warga agar membeli air galon untuk diminum. “Air ledeng bisa ditampung lalu diendapkan dulu untuk dipakai. Kalau tetap tidak layak, jangan diminum. Gunakan saja untuk menyiram toilet, beli air galon untuk kebutuhan minum,” ujarnya.

Namun pernyataan ini menuai kritik warganet. Mereka mempertanyakan, “Bagaimana air yang tidak layak bisa masuk ke jaringan pipa distribusi? Bukankah seharusnya disaring dulu?” Warga lain berkata, “Seharusnya ada peringatan dini. Waduk tidak mungkin mendadak mengering begitu saja. Harusnya diberi tahu lebih awal agar warga bisa menyimpan air untuk kebutuhan rumah tangga.” Ada pula yang menyindir, “Cuaca sekarang jadi kambing hitam utama.”

Belakangan ini, banyak wilayah di Tiongkok mengalami masalah serupa terkait kualitas air. Di Distrik Yuhang, Hangzhou, air ledeng dilaporkan bau, berwarna kuning, dan mengandung benda asing, sehingga menjadi sorotan besar di internet. 

Meski pejabat setempat mengklaim bahwa setelah penggantian sumber air pada 23 Juli kualitas air sudah normal, warga masih melaporkan air berwarna kekuningan dan tetap tidak berani meminumnya.

Selain itu, warga dari Chongqing, Hubei, Jiangxi, Anhui, Guizhou, Guangxi, dan Guangdong juga ramai-ramai mengunggah di media sosial bahwa air ledeng di daerah mereka berubah warna, mulai dari seperti tinta hitam, kuning, hingga cokelat. Bahkan, ada yang berbau minyak serta mengandung benda asing. (Hui/asr)

Laporan oleh Li Li/Wen Hui

Bola Petir Diduga Terekam di Mongolia Dalam, Menggelinding di Halaman dengan Suara Gemuruh 

Pada 23 Juli 2025, kamera pengawas di rumah seorang warga di Kota Chifeng, Mongolia Dalam, merekam sebuah bola api besar yang diduga sebagai bola petir (ball lightning). Bola tersebut turun dari langit, menggelinding tak terkendali di halaman rumah, sambil mengeluarkan suara gemuruh yang keras.

ETIndonesia.  Dalam video pengawasan yang beredar di internet, terlihat sebuah bola cahaya putih jatuh dari udara ke tanah dan terus menggelinding di halaman dalam suasana malam hari.

Pemilik rumah mengatakan kepada media daratan Tiongkok bahwa malam itu, keluarganya mendengar suara-suara aneh di halaman. Saat mereka keluar untuk melihat, tidak menemukan apa pun. Setelah memeriksa rekaman kamera, mereka melihat bola api besar itu berguling-guling sambil mengeluarkan suara gemuruh yang keras.

Beberapa warganet mengatakan bahwa fenomena itu adalah bola petir seperti yang sering diceritakan dalam legenda — suatu fenomena yang sangat misterius dan hingga kini belum bisa dijelaskan secara tuntas oleh para ilmuwan.

Sebelumnya, berbagai laporan dan video mengenai bola petir juga pernah muncul dari berbagai penjuru dunia. 

Bola petir diketahui memiliki efek elektromagnetik yang kuat. Kadang dapat dengan mudah menembus benda padat, membakar benda menjadi abu, atau bahkan meledak dengan hebat. 

Fenomena ini terjadi secara acak dan sangat sulit ditangkap atau diprediksi. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

Ledakan Gudang Senjata di Suriah: Sedikitnya 12 Tewas, Lebih dari 100 Luka-luka

EtIndonesia. Serangkaian ledakan menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai lebih dari 100 orang di sebuah gudang senjata di Suriah barat laut pada hari Kamis (24/7), kata sebuah lembaga pemantau.

“Beberapa ledakan di gudang senjata dan amunisi milik Partai Islam Turkistan (TIP) menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai lebih dari 100 orang di Maaret Misrin, di provinsi Idlib utara,” kata Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia.

Mereka yang tewas termasuk seorang perempuan dan seorang anak, kata lembaga pemantau yang berbasis di Inggris tersebut, yang mengandalkan jaringan sumber di lapangan.

TIP adalah kelompok jihadis yang aktif di wilayah Idlib yang terdiri dari para pejuang Uighur yang bergabung dalam perang saudara Suriah untuk melawan mantan presiden Bashar al-Assad.

Kementerian Kesehatan Suriah melaporkan tujuh orang tewas dan 157 orang luka-luka dalam ledakan tersebut, dalam jumlah korban yang dipublikasikan oleh kantor berita resmi SANA.

Pihak berwenang belum segera menjelaskan kemungkinan penyebab ledakan tersebut.

Gambar AFP menunjukkan kepulan asap putih yang membumbung tinggi di atas kota, dengan beberapa anak terlihat di antara korban luka.

Kementerian Dalam Negeri mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka telah membuka “penyelidikan yang mendesak dan mendalam untuk menentukan keadaan dan penyebab ledakan serta meminta pertanggungjawaban mereka yang bertanggung jawab”.

Kementerian menambahkan bahwa mereka “mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mencegah insiden serupa terulang di masa mendatang”. (yn)

Latihan Kecerdasan Emosional: 10 Hal yang Harus Dikubur Rapat-rapat dan Tak Boleh Disebarkan

EtIndonesia. Mengapa ada orang yang selalu mulus dalam pergaulan, sementara yang lain selalu berbenturan dengan situasi? Jawabannya sering kali tersembunyi dalam apa yang tidak mereka katakan. Di dunia orang dewasa, kemampuan menahan diri untuk tidak bicara justru lebih penting daripada kemampuan berkata-kata. Orang yang benar-benar cerdas sangat paham akan kebijaksanaan menjaga mulut—dan tahu bahwa ada hal-hal yang sebaiknya dibawa sampai ke liang lahat.

1. Masalah Rumah Tangga Jangan Disebarkan

“Rumah tangga retak tak perlu diumbar”—itu adalah kebenaran klasik yang berlaku sepanjang zaman. Mengeluh soal masalah keluarga kepada orang luar tidak akan menyelesaikan masalah, malah bisa membuatnya makin rumit. Orang lain tidak benar-benar peduli atau memahami kondisimu—bagi mereka itu cuma bahan gosip saat ngopi. Rumah adalah tempat menanam kasih, bukan ajang adu logika. Maka, selesaikanlah masalah di balik pintu tertutup.

2. Jangan Ceritakan Sumber Penghasilanmu

“Nampakkan diri miskin walau kaya raya.” Pepatah lama ini mengajarkan agar kita menyimpan rapat-rapat rahasia keberhasilan. Ketika menemukan celah bisnis yang bagus, lebih baik bekerja diam-diam dan nikmati hasilnya tanpa banyak bicara. Menceritakannya bisa mengundang pesaing, iri hati, bahkan bencana yang tak perlu. Sumber rezeki terbaik sering tersembunyi dalam tindakan diam penuh konsistensi.

3. Jangan Bahas Kekurangan Fisik Sendiri

Menerima ketidaksempurnaan diri memang bijak, tapi tidak perlu menjadikannya bahan obrolan. Terlalu sering membicarakan kekurangan fisik bisa memperkuat sugesti negatif terhadap diri sendiri. Simpati sejati pun jarang muncul dari curhat semacam ini. Fokuslah pada kelebihanmu—karena setiap orang punya cahaya uniknya sendiri.

4. Rencana yang Belum Terwujud, Simpan Dulu

“Pekerjaan berhasil karena disimpan rapat; gagal karena diumbar mulut.” Itu hukum abadi. Terlalu cepat bicara soal rencana yang belum terwujud bisa mengganggu fokus, mengundang campur tangan, bahkan sabotase. Orang yang sukses tahu cara menabung energi dalam keheningan, dan membiarkan hasil kerja yang berbicara.

5. Jangan Menyebar Rahasia Orang Lain

Menghormati privasi orang lain adalah etika paling dasar. Menyebarkan rahasia hanya akan menyakiti mereka dan merusak kredibilitasmu sendiri. Di era digital yang dipenuhi informasi, orang yang bisa menyimpan rahasia justru menjadi pribadi yang langka—dan sangat dihargai.

6. Jangan Pamer Jaringan Keluarga

Relasi dan koneksi keluarga bukan untuk disombongkan. Terlalu sering menyebut-nyebut nama besar keluarga hanya menunjukkan kedangkalan diri, dan bisa membawa masalah bagi mereka. Tetaplah rendah hati—biarkan tindakanmu yang bersinar, bukan latar belakangmu.

7. Keuntungan dari Klien? Simpan Sendiri

Etika profesional adalah fondasi reputasi. Jika klien memberimu keuntungan lebih atau perlakuan khusus, jadikan itu rahasia profesional. Mengumbar cerita seperti ini hanya akan merusak kepercayaan dan menunjukkan sikap tidak profesional. Sekali kehilangan reputasi, sulit untuk mendapatkannya kembali.

8. Jumlah Tabungan, Tidak Perlu Disebar

Kondisi keuangan pribadi adalah informasi yang sangat pribadi. Terlalu sedikit, bisa dipandang rendah; terlalu banyak, bisa memicu iri atau permintaan pinjaman. Rasa aman sejati bukan berasal dari angka di rekening, tapi dari ketenangan batin dan kemampuan mengelola hidup.

9. Rahasia yang Diminta untuk Dijaga

Menepati janji adalah prinsip hidup. Jika seseorang memercayakan rahasianya padamu, maka jagalah seperti menyimpan emas. Mengkhianati kepercayaan itu sama saja dengan merusak karakter diri—dan luka semacam ini tak bisa diukur dengan uang.

10. Rencana Pembagian Warisan

Urusan warisan paling mudah memicu konflik dalam keluarga. Terlalu dini membicarakan pembagian bisa menyulut pertengkaran yang tak perlu. Langkah bijak adalah merencanakannya dengan diam-diam, laksanakan saat waktunya tiba, tanpa perlu membuat kehebohan.

Diam bukan tanda kelemahan, tapi lambang kebijaksanaan. Menjaga rahasia bukan kelicikan, melainkan sebuah keanggunan pribadi.

Di era yang kebanjiran informasi, kemampuan membedakan mana yang perlu diucapkan dan mana yang sebaiknya dikubur rapat adalah keterampilan hidup yang harus dimiliki siapa pun yang ingin hidup damai. Menjaga 10 rahasia ini akan membuat hidupmu jauh dari masalah, lebih tenang, dan lebih berkelas.(jhn/yn)

Pasukan AS Menghabisi Pemimpin ISIS dan Kedua Putranya dalam Serangan Darat Langka di Suriah

EtIndonesia. Militer Amerika Serikat, dalam operasi darat berisiko tinggi di Suriah pada hari Jumat (25/7), menghabisi seorang pemimpin senior Negara Islam (ISIS) dan dua putranya, menurut pernyataan dari Komando Pusat AS (CENTCOM).

Serangan ini menandai penyimpangan langka dari ketergantungan militer AS pada serangan udara di wilayah tersebut. Pemimpin senior ISIS tersebut telah diidentifikasi sebagai Dhiya’ Zawba Muslih al-Hardani, sementara kedua putranya yang sudah dewasa, yang juga tewas dalam serangan tersebut, adalah Abdallah Dhiya al-Hardani dan Abd al-Rahman Dhiya Zawba al-Hardani. CENTCOM mengatakan ketiganya “merupakan ancaman bagi pasukan AS dan koalisi, serta Pemerintah Suriah yang baru.”

AS akan terus memburu teroris ISIS tanpa henti

Dalam sebuah pernyataan, Jenderal Michael Erik Kurilla, Komandan Komando Pusat AS, mengatakan bahwa mereka “akan terus memburu teroris ISIS tanpa henti di mana pun mereka beroperasi. Teroris ISIS tidak aman di tempat mereka tidur, tempat mereka beroperasi, dan tempat mereka bersembunyi. Bersama mitra dan sekutu kami, Komando Pusat AS berkomitmen untuk mengalahkan teroris ISIS yang mengancam kawasan, sekutu kami, dan tanah air kami.”

Menariknya, tiga anak dan tiga perempuan yang berada di lokasi tersebut tidak terluka, menurut CENTCOM. Namun, organisasi tersebut tidak membagikan detail operasional lebih lanjut — termasuk lokasi pasti penyerbuan.

Mengapa operasi ini jarang terjadi?

Militer AS dalam beberapa bulan terakhir terutama melakukan operasi anti-ISIS dengan menggunakan kekuatan udara atau dengan dukungan dari pasukan mitra di darat. Serangan darat langsung AS, alih-alih serangan udara, jauh lebih jarang terjadi.

Operasi ini terjadi setelah selama beberapa bulan dan tahun terakhir AS telah melaksanakan dan mendukung misi anti-ISIS dengan tempo yang stabil di Suriah dan Irak. Pada bulan Mei, CENTCOM melaporkan enam operasi semacam itu — lima di Irak dan satu di Suriah — yang mengakibatkan tewasnya dua anggota ISIS dan penangkapan dua orang lainnya, termasuk seorang pemimpin senior.(yn)

Hukum Tak Terucap dalam Interaksi Sosial: 5 Aturan Diam-diam yang Harus Kamu Pahami

EtIndonesia. Dalam setiap hubungan, baik dengan keluarga, sahabat, rekan kerja, maupun pasangan—ada hukum tak tertulis yang diam-diam mengendalikan arah komunikasi dan emosi kita. Bila kamu merasa sering dirugikan atau sulit menjaga keseimbangan dalam hubungan, mungkin karena kamu belum memahami aturan main tersembunyi berikut ini.

  1.  Saat Belum Mendapatkan vs Setelah Memiliki: Perbedaan Sikap Itu Nyata

Saat seseorang belum mendapatkan sesuatu—entah itu barang, orang, atau hubungan—maka hal tersebut menjadi target perjuangan, sesuatu yang terlihat sempurna.

Ada semangat tinggi, ada dorongan dari dalam, dan semuanya terasa “berharga”. Dalam fase ini, orang cenderung memandang segalanya dengan “filter keindahan”.  Kekurangan pun terlihat sebagai keunikan.

Namun, begitu sudah didapat, “filter keindahan” itu hilang. Hal yang dulu terasa spesial berubah menjadi biasa. Bahkan membosankan.

Khususnya dalam cinta, ini sangat terasa: Saat belum memiliki, kamu adalah “segalanya”; Setelah jadi miliknya, kamu bisa dianggap tak lebih dari noda di meja makan.

Inilah manusia. Yang paling diinginkan, biasanya adalah yang belum dimiliki. Yang sudah digenggam, perlahan diabaikan, dilupakan, dan tidak lagi dihargai.

Apa yang mengatur ini semua? Dopamin, hormon, dan rasa penasaran. 

Keindahan muncul karena jarak. Begitu jarak itu hilang, keindahan pun ikut lenyap.

Ini berlaku bukan hanya dalam cinta, tapi juga dalam hubungan keluarga, pertemanan, dan pergaulan sosial.

“Terlalu jauh terasa hambar, terlalu dekat bisa menyakitkan.” Intinya? Jaga jarak dan batas. Jangan biarkan semua keindahan larut karena kehilangan ruang.

  1. Dalam Relasi Apa pun, Apa yang Jadi Daya Tarikmu?

Ketika seseorang menyukaimu tapi belum bisa mendapatkanmu—itulah titik di mana daya tarikmu paling kuat.

Kamu dan dia mungkin berada dalam hubungan ambigu:

Bisa ngobrol, bisa bercanda, bisa jalan bareng—tapi tidak melewati batas. Ada rasa penasaran, ada ketertarikan, tapi tetap dengan kendali.  Kamu memberinya celah untuk mendekat, tapi tak sepenuhnya membuka pintu.

Menjaga misteri adalah senjata rahasia dalam menjaga ketertarikan.

Kamu dan dia sama-sama tahu—suatu saat akan ada keterhubungan lebih dalam. Tapi belum sekarang.

Dalam permainan tarik-ulur ini, siapa yang bisa menahan diri, menjaga emosi tetap stabil, dan tetap tenang—dialah yang akan menjadi pemenang.

Ini bukan soal menang-kalah. Tapi bukankah mereka yang masuk ke hubungan ambigu, diam-diam ingin menang juga?

03. Rasa Suka dan Bosan Bisa Terjadi Seketika

Perpindahan dari rasa suka ke rasa jenuh sering kali terjadi dalam sekejap—dan sepenuhnya dipengaruhi oleh perubahan di dalam hati.

Saat kamu menyukai seseorang, kekurangannya tampak menggemaskan. Setiap momen bersamanya terasa seperti hadiah dari semesta. Namun begitu rasa itu memudar, bahkan kelebihannya pun bisa terasa menyebalkan.

Ketika mencintai seseorang—suara kentutnya pun bisa membuatmu tersenyum. Tapi saat benci, mendengar suaranya saja bisa bikin emosi naik.

Lucunya, orang yang kamu lihat itu tidak berubah.

Dia tetap dia. Kamu pun tetap kamu. Yang berubah hanyalah rasa di dalam hatimu.

Itulah realitas manusia.  Yang dikendalikan bukan semata fakta, tapi persepsi yang dibentuk oleh emosi.

04. Baik dan Jahat Itu Soal Kepentingan

Apa yang kamu anggap buruk, bisa jadi hanya karena itu bertentangan dengan kepentinganmu. Apa yang kamu anggap baik, bisa jadi karena sejalan dengan keinginanmu.

Sifat dasar dari “baik dan jahat” adalah soal distribusi keuntungan.

Contohnya:  Seorang anak nakal memecahkan jendela rumahmu. 

Orang-orang hanya berkata : “Sudahlah, namanya juga anak-anak, jangan terlalu dipikirkan.”

Kenapa mereka berkata begitu?  Karena yang rusak bukan jendela mereka.

Coba kalau jendela rumah mereka yang hancur, bisa-bisa mereka marah lebih keras darimu.

Ini pelajaran penting:

Tidak semua orang bisa benar-benar merasakan apa yang kamu alami.

Dalam bahasa bijak: “Hanya yang merasakannya yang tahu panas atau dinginnya air.”

Secara logis:

·        Mereka yang dirugikan, cenderung menjadi “jahat” (defensif, marah, agresif).

·        Mereka yang diuntungkan, cenderung menjadi “baik” (pengertian, toleran).

05. Jangan Berharap Semua Orang Bisa Memahamimu

Mereka yang lemah berharap dimengerti. Mereka yang kuat… terbiasa berjalan sendirian.

Ada satu kalimat bijak: “Rencana yang diumbar, hampir pasti gagal.”

Saat kamu belum mencapai sesuatu—entah itu mau beli rumah, pindah kerja, mulai usaha, atau target pribadi lainnya—jangan buru-buru cerita ke siapa pun.

Informasi pribadi yang seharusnya dirahasiakan, cukup kamu dan (jika perlu) pasanganmu saja yang tahu.

Jangan berharap orang lain bisa benar-benar memahami tujuanmu. Bahkan, berbagi berlebihan bisa memicu kebencian tersembunyi orang lain.

Apa yang bisa muncul dari mulut yang terlalu terbuka?

·        Rasa iri.

·        Hasutan.

·        Fitnah.

·        Bahkan rencana dan idemu bisa dicuri.

Kamu boleh optimis terhadap kehidupan, tapi jangan terlalu naif terhadap sisi gelap manusia.

Dalam hubungan apa pun, belajarlah diam, belajarlah menyimpan. Karena jika kamu terlalu banyak bicara tapi tak ada hasil, yang hilang adalah kepercayaan orang terhadapmu. Dan kalau kamu terlalu sering gagal dalam pembuktian, yang rusak adalah inti dari dirimu sendiri.

Penutup:

Dunia sosial diatur bukan hanya oleh aturan tertulis, tapi juga oleh hukum-hukum diam yang hanya dipahami oleh mereka yang peka.

Jadi, kalau kamu ingin dihormati dan tidak terus-menerus dirugikan, pelajari lima prinsip ini baik-baik. 

Bicaralah secukupnya, bertindaklah dengan bijak, jaga jarak dengan penuh elegansi. Itulah cara paling halus untuk melindungi diri—tanpa harus berkata: “Aku sedang melindungi diri.” (jhn/yn)

Bocoran Telepon, Ledakan Ranjau, dan Duel Jet Tempur: Inilah Krisis Paling Panas di Perbatasan Thailand-Kamboja!

EtIndonesia. Perang tidak selalu dimulai secara tiba-tiba. Banyak konflik besar sejatinya merupakan rangkaian ketegangan yang sudah lama terpendam, terselip dalam sejarah, dan sewaktu-waktu dapat menyala kembali. Itulah yang kini terjadi di perbatasan Thailand dan Kamboja. Di balik hutan lebat, reruntuhan kuno, hingga sekadar sapaan telepon, benih-benih konflik ini telah tumbuh dalam diam sebelum akhirnya meledak hebat.

Kronologi Eskalasi: Dari Skandal Telepon ke Ledakan Perang

Pada 24 Juli 2025 pagi, suasana di perbatasan Thailand-Kamboja mendadak berubah mencekam. Pesawat tempur F-16 milik Angkatan Udara Thailand melintas cepat memasuki wilayah udara Kamboja dan menghantam dua pangkalan militer di garis batas dengan serangan presisi. Hampir bersamaan, suara ledakan ranjau mengguncang perbatasan. Tank-tank mulai bergerak, warga sipil terluka dan ribuan orang panik melarikan diri di tengah malam. Ketegangan semakin meruncing ketika kedua negara saling mengusir duta besar, memutus hubungan diplomatik, mematikan jaringan internet, dan menghentikan layanan pos.

Namun, peristiwa ini bukanlah letupan sesaat. Rangkaian reaksi berantai sudah mulai menghangat beberapa minggu sebelumnya, tepatnya sejak skandal bocornya percakapan telepon antara Perdana Menteri Thailand, Paetongtarn Shinawatra, dengan Ketua Senat Kamboja, Hun Sen. Dalam percakapan tersebut, Paetongtarn terdengar sangat ramah—bahkan menyapa Hun Sen sebagai “paman”—namun juga mengkritik militer dan pemerintahannya sendiri, seolah membela posisi Kamboja.

Rekaman telepon yang bocor ke publik itu sontak memicu kemarahan nasional di Thailand. Muncul desakan untuk memecat Perdana Menteri dengan tuduhan telah merendahkan martabat negara. Mahkamah Konstitusi bertindak cepat dengan menonaktifkan Paetongtarn. Ketidakstabilan politik ini lalu berubah menjadi perang terbuka, dipicu ledakan ranjau di perbatasan yang membuat tentara Thailand terluka.

Tiga Benang Merah Konflik: Peta, Candi, dan Luka Sejarah

Konflik Thailand-Kamboja sejatinya sudah berlangsung lebih dari satu abad, berakar dari tumpang tindih klaim wilayah sejak era kolonial Prancis dan kerajaan Siam (kini Thailand). Di jantung sengketa berdiri Candi Preah Vihear, situs sakral yang letaknya persis di garis perbatasan.

Pada 1962, Mahkamah Internasional memutuskan Candi Preah Vihear milik Kamboja, namun lahan di sekitarnya tidak dijelaskan secara gamblang. Akibatnya, candi memang menjadi hak Kamboja, tetapi status wilayah sekitarnya terus diperdebatkan. Tahun 2008, Kamboja mendaftarkan Candi Preah Vihear ke UNESCO, menimbulkan amarah di Thailand yang menganggap langkah tersebut sebagai klaim sepihak atas wilayah.

Ketegangan meningkat tajam pada 2011, berujung pada bentrokan bersenjata yang menewaskan puluhan orang dan memaksa ribuan warga mengungsi. Sejak saat itu, setiap gesekan politik, konflik perbatasan kerap meletup kembali.

Peran Skandal Politik dan Kebocoran Data Militer

Setelah peristiwa ledakan ranjau, Thailand menuduh Kamboja memasang ranjau baru, sementara Kamboja membantah dan mengklaim itu adalah sisa-sisa perang lama. Situasi semakin memanas ketika Thailand menutup perbatasan, mengusir diplomat Kamboja, dan menghentikan kerja sama lintas batas.

Serangan udara pada 24 Juli 2025 yang dilakukan Thailand hanya berlangsung 15 menit, menargetkan markas infanteri ke-8 dan ke-9 Kamboja. Pihak Kamboja membantah bahwa markas mereka dihancurkan, dan menyebut serangan tersebut pelanggaran berat terhadap kedaulatan negara.

Yang tak kalah menggemparkan, pada hari yang sama, kantor Hun Sen secara tak sengaja mempublikasikan foto rapat militer yang memperlihatkan peta posisi pasukan dan jalur logistik Kamboja. Meski foto-foto itu segera dihapus, mereka sudah terlanjur menyebar dan dianalisis oleh militer Thailand, mempermalukan komando Kamboja di mata publik.

Dampak Humaniter: Korban Jiwa dan Gelombang Pengungsi

Hingga malam 24 Juli 2025, pihak Thailand melaporkan sedikitnya 14 korban jiwa, sementara Kamboja mengakui 24 kematian, termasuk warga sipil. Lebih dari 138.000 orang mengungsi meninggalkan zona konflik. Penerbangan di wilayah perbatasan juga ditutup total oleh otoritas penerbangan sipil.

Meski otoritas Thailand menyatakan yakin konflik tidak akan melebar menjadi perang total, fakta di lapangan justru menunjukkan operasi militer telah direncanakan matang, terlihat dari kecepatan dan skala serangan.

Dinamika Politik: Dominasi Militer, Legitimasinya Pemerintah

Menariknya, konflik kali ini tidak didorong pemerintah sipil, melainkan militer Thailand yang mengambil alih kendali penuh setelah skandal telepon. Semua keputusan strategis seperti serangan udara, penutupan perbatasan, penghentian ekspor energi dan pangan, hingga pengusiran diplomat diambil oleh militer. Pemerintah sipil hanya sekadar memberikan pernyataan netral dan reaktif.

Di pihak Kamboja, Hun Manet—putra Hun Sen yang baru menjabat Perdana Menteri—memanfaatkan konflik ini untuk memperkuat posisinya. Isu perbatasan memberinya peluang untuk tampil tegas dan memperkuat legitimasi politik, di tengah anggapan dirinya hanyalah “pewaris tahta” tanpa pengalaman.

Kekuatan Militer: Ketimpangan Nyata, Perlawanan Simbolik

Dari sisi kekuatan militer, Thailand jelas jauh di atas angin. Negeri Gajah Putih memiliki hampir 500 pesawat tempur modern, sistem persenjataan canggih, dan rantai komando yang terintegrasi standar NATO. Sementara Kamboja hanya mengandalkan tank dan artileri tua, kebanyakan sisa bantuan Tiongkok dan bekas Uni Soviet. Bahkan, sistem radar dan komunikasi Kamboja pun masih sangat tergantung pada perangkat dan pelatihan dari Tiongkok.

Namun, minimnya kekuatan tak membuat Kamboja mundur. Perlawanan tetap dilakukan sebagai wujud mempertahankan kedaulatan, menjaga stabilitas politik, sekaligus untuk kebutuhan propaganda nasionalisme.

Tarik Ulur Geopolitik: Bayang-bayang AS dan Tiongkok

Konflik perbatasan ini jelas tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kekuatan besar dunia. Thailand adalah sekutu utama non-NATO Amerika Serikat di Asia Tenggara, mendapat dukungan dan latihan militer rutin dari Barat. Sementara itu, Kamboja sangat bergantung pada Tiongkok—baik dalam modernisasi militer, ekonomi, hingga infrastruktur strategis. Pengaruh Beijing bahkan tampak nyata lewat penggunaan bahasa Tiongkok pada perangkat radar Kamboja dan keberadaan pangkalan laut Tiongkok di Sihanoukville.

Situasi ini menjadikan konflik Thailand-Kamboja bukan sekadar persoalan dua negara, melainkan juga pertarungan pengaruh Amerika-Tiongkok di kawasan.

Prospek dan Refleksi: Ujian Besar Perdamaian Asia Tenggara

Ke depan, kedua negara diperkirakan akan mempertahankan tekanan militer sambil membuka ruang negosiasi politik, guna menjaga harga diri nasional sekaligus menghindari intervensi kekuatan asing secara langsung. Seruan PBB dan ASEAN untuk menahan diri dan mencari solusi damai terus digaungkan, namun tekanan domestik dan geopolitik tetap tinggi.

Catatan penting, jika pola konflik terbatas seperti ini menjadi preseden di Asia Tenggara, dikhawatirkan akan memicu “normalisasi” konflik perbatasan di wilayah lain. Perbatasan Asia penuh dengan sengketa lama, dan campur tangan eksternal bisa memperpanjang instabilitas.

Pada akhirnya, solusi nyata bukan pada siapa yang paling kuat di medan perang, tapi pada kebesaran hati untuk menahan diri, mencari kompromi, dan berani melangkah mundur demi masa depan kawasan. Konflik Thailand-Kamboja 2025 menjadi peringatan keras: Perdamaian tidak dibangun dengan kemenangan sesaat, tetapi dengan visi jangka panjang dan kecerdasan dalam membaca setiap persimpangan sejarah.

Hidup Ini Singkat, Maka Jalani Saja Secara Alami

EtIndonesia. Hidup ini sebenarnya sangat singkat, jadi biarkan semuanya mengalir apa adanya.

Coba deh lihat, waktu berlalu begitu cepat—seperti bintang jatuh yang melesat di langit, sret!… tahu-tahu sudah hilang. Dalam hidup yang singkat ini, kita seringkali terlalu sibuk, kejar ini, buru itu, sampai-sampai lupa berhenti sejenak untuk bertanya pada diri sendiri:  “Apa benar semuanya harus diperjuangkan mati-matian?”

Saya jadi teringat cerita seorang teman.

Demi bisa naik jabatan, dia kerja lembur hampir tiap malam. Badan capek luar biasa, mental pun tegang terus. Sampai suatu hari dia pingsan di kantor karena kelelahan.

Setelah sadar, dia bilang ke saya: “Saat itu aku mendadak mikir, aku segininya buat apa sih? Kalau sampai tubuh ini rusak, jabatan pun jadi nggak ada artinya.”

Sejak saat itu dia sadar—beberapa hal, cukup diusahakan saja. Jangan terlalu memaksakan hasil.

Kalau dapat? Syukur. Kalau nggak dapat? Ya sudah, mungkin belum jodoh.  Yang penting kita sudah berusaha, selebihnya… biarkan semesta yang bekerja.

Dalam Hidup, Banyak Hal Tak Bisa Dipaksakan

Bayangkan kita menanam bunga di pot. Kita siram setiap hari, beri pupuk, kasih sinar matahari—semua dilakukan dengan penuh harapan agar bunga itu tumbuh subur dan indah.  Tapi kenyataannya, kadang bunga itu tetap layu, bahkan mati. Kita marah, kecewa, tapi… bisa apa? Maka dari itu, lebih baik sejak awal tanamkan sikap: “Aku akan merawat sepenuh hati, tapi hasilnya aku serahkan pada alam.”

Begitu juga dalam cinta.

Pernah nggak sih, kamu menyukai seseorang begitu dalam?

Sampai rela berbuat apa saja, hanya demi bisa bersamanya?

Teman saya pernah mengalami. Dia mengejar seorang cowok begitu lama, ngasih perhatian, ngasih segalanya. Tapi si cowok tetap cuek.

Akhirnya, teman saya menyerah dan melepaskan. Tak disangka—setelah itu dia bertemu dengan orang yang benar-benar mencintainya. Sekarang mereka bahagia luar biasa.

Jadi, pelajaran pentingnya: Cinta tidak bisa dipaksakan. Yang memang milikmu, akan datang pada waktunya. Yang bukan milikmu, sekuat apa pun kamu genggam, pasti akan lepas.

 Biarkan segalanya berjalan alami, maka semesta akan mempertemukanmu dengan orang yang tepat, di waktu yang tepat.

Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Kita sering terjebak dalam kebiasaan membandingkan:  “Lihat tuh, dia udah punya rumah gede, mobil bagus, karier cemerlang…”

 Lalu kita mulai gelisah: “Kenapa aku masih di sini-sini aja, ya?”

Padahal hidup bukan perlombaan siapa paling cepat. Setiap orang punya jalur dan waktu tempuhnya masing-masing.  Ada yang start-nya cepat, tapi lelah di tengah jalan. Ada pula yang mulai lambat, tapi akhirnya sampai jauh lebih jauh.

Kalau kamu terus menerus menoleh ke kiri dan kanan, kamu bakal kehilangan fokus dan kacau sendiri.

 Yang perlu kamu lakukan adalah:

Fokus ke dirimu sendiri. Jalan pelan pun tak apa, asalkan konsisten.  Cukup bandingkan dirimu hari ini dengan dirimu kemarin—apakah ada sedikit kemajuan? Itu saja sudah cukup.

Hidup Ini Terlalu Singkat untuk Terlalu Banyak Beban

Waktu berjalan tanpa bisa dihentikan. Kita sering belum sempat menikmati satu momen, tahu-tahu momen itu sudah lewat.

Jadi, kenapa masih menyiksa diri dengan stres yang tak perlu? Kenapa memaksakan semua harus sesuai rencana?

Beberapa hal kalau sudah bikin pusing, ya udah, relakan. Beberapa hal kalau nggak bisa diubah, ya terima.

Hadapi hidup ini dengan hati yang tenang. Bahagia jangan terlalu euforia, sedih jangan terlalu larut. Jangan iri, jangan pamer, jangan banyak mengeluh.

Hidup ini ibarat perjalanan panjang.

Yang paling penting bukan destinasi, tapi pemandangan sepanjang jalan—dan hati yang menikmati pemandangan itu.

Penutup: Jalani Hidupmu dengan Lebih Ikhlas

Mari kita belajar menjalani hidup secara alami, tanpa terlalu memaksakan apa-apa.  Belajarlah untuk lebih ikhlas, lebih tenang, lebih mensyukuri setiap momen yang kita punya. Karena bisa jadi, ketika kamu mulai melepaskan hal-hal yang selama ini kamu genggam erat, kamu justru akan menemukan… bahwa kebahagiaan sudah ada di dekatmu sejak lama.

Semoga kamu bisa hidup dengan ringan dan bahagia. Kalau kamu suka tulisan ini, jangan lupa kasih like dan follow ya!  Semoga hidupmu selalu disinari mentari hangat, dan setiap harimu penuh senyum serta ketenangan. (jhn/yn)

Dunia Tercengang: Prancis Akui Palestina, Trump ke Israel—“Selesaikan Sekarang Juga!”

EtIndonesia. Donald Trump, kembali melontarkan pernyataan keras terkait kebuntuan negosiasi damai antara Hamas dan Israel. Dalam komentarnya di halaman Gedung Putih, Trump menyatakan bahwa Hamas sama sekali tidak berniat untuk berdamai. Bahkan, dia menyindir bahwa sikap Hamas tersebut seolah-olah “ingin bunuh diri saja”.

“Israel harus menuntaskan urusan ini. Anggota Hamas tetap menjadi buruan. Tidak ada kompromi untuk pihak yang hanya ingin menghancurkan,” tegas Trump.

Lebih lanjut, Trump juga menyinggung upaya Amerika Serikat dalam membebaskan para sandera yang sebelumnya ditahan oleh Hamas. Menurutnya, sebagian besar sandera telah berhasil dibebaskan berkat negosiasi yang alot, namun saat ini hanya tersisa kelompok terakhir. Dia memperingatkan, setelah sandera terakhir dibebaskan, langkah berikutnya adalah aksi balas dendam.

Prancis Dianggap Tidak Penting

Dalam kesempatan yang sama, Trump memberikan respons tajam terkait keputusan Prancis yang berencana mengakui negara Palestina pada Sidang Umum PBB bulan September mendatang.

 “Prancis tidak penting,” ujarnya singkat, menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap dinamika Timur Tengah.

Sehari sebelumnya, Presiden Prancis, Emmanuel Macron secara tiba-tiba mengumumkan rencana pengakuan resmi negara Palestina. Langkah ini langsung menuai reaksi keras dari Israel. 

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut kebijakan Prancis tersebut sebagai “hadiah bagi ekstremisme” dan memperingatkan potensi lahirnya negara-negara proxy seperti Iran, yang justru dapat mengancam keberadaan Israel.

Di sisi lain, Pemerintah Jerman melalui pernyataan resmi pada 25 Juli 2025 menegaskan bahwa mereka tidak akan mengakui Palestina dalam waktu dekat. Jerman menegaskan, keamanan Israel tetap menjadi prioritas utama mereka di kawasan Timur Tengah.

Kekhawatiran Kolaborasi Tiongkok-Iran

Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat,Yechiel Leiter, dalam wawancaranya bersama VOA, mengungkapkan kekhawatiran yang sangat besar atas dugaan bantuan Tiongkok kepada Iran untuk membangun kembali kemampuan rudal balistiknya. Pemerintah Israel secara tegas menolak segala bentuk dukungan atau bantuan ke Iran yang dapat mengancam eksistensi Israel. Leiter juga menyerukan agar pemerintah Beijing tidak turut membantu Teheran mengembangkan teknologi rudal yang berpotensi membahayakan keamanan regional.

Negosiasi dengan Hamas Buntu, Bantuan Udara Mulai Dikirim

Sementara itu, terkait perundingan dengan Hamas yang kembali menemui jalan buntu, Perdana Menteri Netanyahu menyampaikan bahwa Pemerintah Israel sedang mengkaji sejumlah opsi baru. Dia menegaskan bahwa penarikan tim negosiator Israel dari perundingan bukan berarti proses diplomasi telah gagal total.

Utusan khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff, menegaskan posisi Pemerintah AS bahwa kebuntuan dalam perundingan disebabkan oleh sikap Hamas, yang dinilai tidak menunjukkan itikad baik untuk mencapai kesepakatan damai.

Adapun dalam proposal gencatan senjata yang tengah dibahas, kedua pihak sebenarnya telah sepakat untuk menghentikan pertempuran selama 60 hari. Namun, realisasi kesepakatan tersebut kembali terhambat oleh perselisihan teknis dan politis.

Meski demikian, Israel mulai melonggarkan kebijakan dan mengizinkan sejumlah negara lain untuk mengirimkan bantuan udara ke Gaza sejak 25 Juli. Lembaga kemanusiaan World Central Kitchen pun telah kembali beroperasi di wilayah tersebut, mendistribusikan bantuan pangan dan logistik bagi warga sipil yang terdampak konflik berkepanjangan.