Menikmati Kuliner Jepang di Ebisu Japanese Restaurant Mercure dengan “All You Can Eat Japanese Grill & BBQ”
Surabaya- Mulai bulan Juli ini, Mercure Surabaya Grand Mirama secara resmi membuka program makan malam spesial bertema Jepang yang bisa dinikmati setiap hari Jumat mulai pukul 18.00 hingga 20.00 WIB. Dengan hanya IDR 168.000 nett per orang, para tamu dapat menikmati berbagai pilihan daging, sayuran segar, dan aneka saus khas Jepang dalam konsep grill & barbeque sepuasnya.
Terletak di lantai dasar hotel, Ebisu Japanese Restaurant menyuguhkan suasana otentik Jepang modern dengan nuansa hangat yang cocok dinikmati bersama keluarga, kolega, maupun pasangan. Sajian grill dipersiapkan langsung di meja tamu, menciptakan sensasi makan malam yang interaktif dan menyenangkan.
“Program All You Can Eat Japanese Grill & BBQ ini menjadi bagian dari upaya kami untuk terus menghadirkan pengalaman bersantap yang unik dan berkelas, namun tetap terjangkau,” ujar Sugito Adhi, Cluster General Manager Grand Mercure Malang Mirama & Mercure Surabaya Grand Mirama. “Kami percaya, kuliner tidak hanya soal rasa, tapi juga soal momen dan kebersamaan – dan inilah yang ingin kami hadirkan setiap Jumat malam.”
Tamu juga berkesempatan mendapatkan potongan harga hingga 10% melalui program loyalitas ALL – Accor Live Limitless dan Accor Plus, yang semakin menambah nilai dari pengalaman kuliner ini.
Promo ini tersedia setiap hari Jumat dan berlaku untuk semua tamu hotel maupun pengunjung umum dengan reservasi sebelumnya.
Mengisi Waktu Jumat Sore dengan Kongkow Cantik di “Pasar Malam Darmo” Mercure
Surabaya – Menjelang akhir pekan, suasana hangat dan aroma jajanan nusantara mulai terasa di area Canopy Lobby Mercure Surabaya Grand Mirama. Melalui gelaran Aneka Kuliner: Pasar Malam Darmo, hotel bintang empat ini menghadirkan pengalaman kuliner yang sederhana namun penuh makna—terinspirasi dari semangat kebersamaan khas angkringan Jawa.
Digelar setiap Jumat, pukul 17.00 – 21.00 WIB, program ini mengusung konsep street food night market yang autentik. Para tamu dan masyarakat umum diajak menjelajahi beragam kuliner khas seperti Sate Klopo & Nasi Kucing, Soto Mirama, Bakso, Tahu Campur, Nasi Goreng, Mie Ayam, Es Campur, Angsle, Croffle, hingga Kopi Racik—semuanya disajikan langsung dari gerobak tradisional yang memikat.
Dengan harga mulai dari IDR 20.000, pengunjung tidak hanya dimanjakan oleh cita rasa, tetapi juga suasana yang membangkitkan nostalgia dan mempererat kebersamaan.
Sugito Adhi, Cluster General Manager Mercure Surabaya Grand Mirama dan Grand Mercure Malang Mirama, menyampaikan bahwa Pasar Malam Darmo merupakan wujud nyata komitmen hotel dalam menghadirkan ruang hidup yang dekat dengan masyarakat kota.
“Kami ingin menciptakan suasana yang membumi dan mengundang semua kalangan untuk bersantai, bercengkrama, dan menikmati kekayaan kuliner lokal dalam suasana yang santai dan penuh keakraban,” ujarnya.
Dengan pencahayaan temaram, rindangnya pepohonan, serta deretan gerobak yang berjajar rapi, area Canopy Lobby disulap menjadi ruang temu yang nyaman bagi keluarga, teman, dan komunitas untuk merayakan malam akhir pekan dengan senyum dan cerita.
“Pasar Malam Darmo bukan sekadar tempat makan, melainkan ruang hangat yang menghidupkan kembali semangat ngumpul bareng ala Surabaya,” tambah Sugito Adhi.
Sebagai bentuk apresiasi bagi para tamu, setiap tamu yang melakukan direct booking room atau melalui hotline (+62 31 562 3000) di setiap hari Jum’at dengan ketentuan tertentu, dapat menikmati sajian makanan dan minuman secara gratis di area Pasar Malam Darmo, menjadikan pengalaman kuliner Anda semakin hemat dan menyenangkan.
Perang Kamboja-Thailand Memanas, 11 Orang Tewas
Kamboja adalah salah satu sekutu terdekat Tiongkok di kawasan, dan pada April, rezim Tiongkok meresmikan peningkatan fasilitas pangkalan angkatan lautnya di Ream.
EtIndonesia. Sebanyak 11 orang tewas pada Kamis (24/7/2025) ketika angkatan bersenjata Thailand dan Kamboja saling melepaskan tembakan dalam bentrokan di sepanjang perbatasan bersama mereka.
Pemerintah kedua negara saling tuding siapa memulai bentrokan militer tersebut, dan keduanya menurunkan tingkat hubungan diplomatik pada 23 Juli, setelah beberapa tentara Thailand terluka akibat ranjau darat. Thailand kemudian menutup seluruh perbatasannya dengan Kamboja sepanjang 800 kilometer serta menutup semua jalur penyeberangan.
Perdana Menteri Sementara Thailand, Phumtham Wechayachai, mengatakan bahwa 10 warga sipil Thailand dan seorang prajurit tewas.
Enam dari korban tewas berada di sebuah SPBU di Provinsi Si Sa Ket, Thailand, menurut militer Thailand, yang juga mencatat bahwa sedikitnya 14 orang terluka di tiga provinsi perbatasan.
Belum jelas di mana korban tewas lainnya ditemukan.
Bentrokan pada 24 Juli tampaknya meletus setelah lima tentara Thailand terluka akibat ranjau darat pada 23 Juli. Kejadian ini mendorong Thailand menarik duta besarnya dari Kamboja dan mengusir perwakilan Kamboja dari ibu kota Thailand, Bangkok.
Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Thailand menyatakan, “Pemerintah Kerajaan Thailand mengecam sekeras-kerasnya pelanggaran terhadap kedaulatan Thailand dan hukum internasional, menyusul pemasangan ranjau darat antipersonel di wilayah Thailand yang menyebabkan luka-luka pada personel militer Thailand saat mereka berpatroli pada 16 dan 23 Juli 2025.”
Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja menyatakan bahwa jet-jet Angkatan Udara Thailand menjatuhkan bom di jalan dekat kuil kuno Preah Vihear, sementara pihak Thailand menyatakan bahwa mereka melancarkan serangan udara terhadap sasaran militer.
Pada 24 Juli pagi, bentrokan terjadi di dekat kuil Hindu kuno Ta Muen Thom, yang terletak di perbatasan antara Provinsi Surin, Thailand, dan Provinsi Oddar Meanchey, Kamboja.
“Pemerintah Kerajaan Thailand mendesak Kamboja untuk menghentikan tindakan berulang ini yang merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional. Tindakan semacam itu bertentangan secara fundamental dengan prinsip hubungan bertetangga yang baik dan itikad baik, serta akan semakin merusak reputasi dan kredibilitas Kamboja di mata dunia,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Thailand.
“Pemerintah Kerajaan Thailand siap memperkuat langkah-langkah pertahanan diri kami jika Kamboja terus melakukan serangan bersenjata dan pelanggaran terhadap kedaulatan Thailand sesuai dengan hukum dan prinsip internasional.”
Kementerian Pertahanan Kamboja menyatakan bahwa Thailand menggunakan drone sebelum melepaskan tembakan dan pasukannya “bertindak sepenuhnya dalam batas pembelaan diri, sebagai respons terhadap pelanggaran mendadak oleh pasukan Thailand yang melanggar integritas wilayah kami.”
Kedutaan Besar Thailand di ibu kota Kamboja, Phnom Penh, memposting di Facebook bahwa warga negara Thailand di Kamboja disarankan untuk meninggalkan negara tersebut.
Bentrokan terbaru ini merupakan konfrontasi bersenjata kedua antara kedua negara tahun ini. Pada Mei, seorang tentara Kamboja tewas tertembak dalam baku tembak di sebuah wilayah kecil yang diklaim oleh kedua negara.
Skandal Panggilan Telepon Bocor
Tak lama setelah insiden tersebut, Perdana Menteri Thailand saat itu, Paetongtarn Shinawatra, berbicara dengan mantan pemimpin Kamboja Hun Sen pada Juni, dan rekaman percakapan itu bocor.
Mahkamah Konstitusi Thailand menangguhkan jabatan Shinawatra pada 1 Juli, setelah 36 senator mengajukan petisi untuk memberhentikannya, menuduhnya tidak jujur dan melanggar etika berdasarkan konstitusi.
Dalam percakapan telepon tersebut, Paetongtarn—yang merupakan putri mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra—mengkritik seorang komandan militer Thailand dan menyebut Hun Sen sebagai “paman.” Putra Hun Sen, Hun Manet, saat ini menjabat sebagai perdana menteri Kamboja.
Kamboja adalah salah satu sekutu terdekat Beijing di kawasan. Pada April, Partai Komunis Tiongkok (PKT) meresmikan peningkatan fasilitas pangkalan angkatan lautnya di Ream, Kamboja, yang cukup besar untuk menampung kapal induk.
Thailand dan Kamboja telah lama berseteru soal batas wilayah mereka, dengan sebagian besar ketegangan berasal dari peta yang digambar pada tahun 1907, ketika Kamboja berada di bawah pemerintahan kolonial Prancis.
Kamboja menggunakan peta tersebut sebagai dasar klaim wilayah, sementara Thailand berargumen bahwa peta itu tidak akurat.
Konflik utama antara Thailand dan Kamboja berkisar pada wilayah di sekitar kuil kuno Preah Vihear yang berusia 1.000 tahun.
Pada tahun 1962, Mahkamah Internasional (ICJ) di Den Haag, Belanda, mengakui kedaulatan Kamboja atas kuil tersebut, dan pada tahun 2013, pengadilan kembali menegaskan putusan tersebut.
Kamboja telah meminta ICJ untuk menyelesaikan sengketa perbatasan tersebut, tetapi Thailand menolak yurisdiksi pengadilan. (asr)
Laporan ini turut disumbangkan oleh Associated Press
Menguak Dunia Gelap Pasukan Bayaran di Ukraina: Siapa Raja Medan Perang dan Berapa Gaji Mereka?”
EtIndonesia. Perang Rusia-Ukraina kini telah berubah menjadi arena pertarungan global, bukan hanya antara dua negara, melainkan juga melibatkan ribuan pasukan bayaran dan relawan dari seluruh penjuru dunia. Berdasarkan data terbaru, sebanyak 104 negara telah mengirimkan warganya sebagai relawan resmi militer Ukraina. Angka ini menjadi bukti betapa Ukraina kini menjadi “laboratorium tempur” dunia, tempat para prajurit mengasah kemampuan, strategi, dan mental bertarung.
Pasukan Turan: Kekuatan Muslim Internasional di Garis Depan
Dari sekian banyak kekuatan, Pasukan Turan asal Azerbaijan menjadi salah satu yang paling menonjol. Dengan julukan “Relawan Muslim Internasional,” unit ini kini beranggotakan sekitar 1.500 personel. Mereka berasal dari eks pasukan khusus Azerbaijan, Turki, Suriah, dan Iran—semuanya punya pengalaman bertempur, terutama di Perang Nagorno-Karabakh. Yang membuat mereka berbahaya adalah keahlian luar biasa dalam penggunaan drone tempur dan peperangan elektronik, serta reputasi tembak-menembak yang ganas di garis depan.
International Legion: Tempat Berkumpulnya Para Elit Dunia
Unit relawan terbesar dalam militer Ukraina adalah International Legion, yang menghimpun lima perusahaan mercenary terbesar dunia.
- Swedish Arctic Lake Mercenary Company (Swedia) menurunkan 34 personel khusus,
- Blackwater Academy (Amerika Serikat) menurunkan sekitar 80 ahli infiltrasi dan anti-teror, sebagian besar bertindak sebagai instruktur pasukan khusus berbagai negara.
Menariknya, dua perusahaan top ini biasanya tidak terlibat langsung di garis serang utama, melainkan lebih banyak memberi dukungan teknis dan pelatihan.
Pasukan elit lainnya, Cossack Squad, justru memiliki afiliasi dengan Kremlin. Sementara MPBAR yang didirikan oleh mantan jenderal AS, Vernon Lewis, dikenal sebagai perusahaan mercenary paling serius dalam melatih tentara, termasuk militer Amerika Serikat sendiri. Meski hanya beranggotakan 2.000 orang, mereka sangat disegani karena pengalamannya yang luas.
Batalion Asing Lainnya: Dari Prancis hingga Chechnya
Selain kelompok-kelompok di atas, ada pula Foreign Legion dari Jerman dan Prancis, terkenal sangat ganas di medan tempur. Namun, jumlah mereka di Ukraina sebenarnya tak sebesar yang dibayangkan. Yang paling banyak justru berasal dari Georgia, Polandia, Kolombia, Azerbaijan, Rumania, Chechnya (Dudaev Battalion), serta dua kelompok Rusia anti-Putin: Russian Freedom Legion dan Russian Liberation Army.
Pasukan Bayaran Rusia: Dari Wagner ke “Tsar’s Wolves”
Nama Wagner begitu terkenal dan ditakuti. Pada masa jayanya, Wagner memiliki sekitar 60.000 anggota, gabungan eks pasukan khusus Rusia dan narapidana. Namun, sejak pembubarannya, tongkat estafet diambil oleh kelompok baru: “Tsar’s Wolves”. Pasukan ini langsung dipimpin oleh eks Wakil PM Rusia, Dmitry Rogozin, dengan loyalitas mutlak ke Kremlin. Mereka bahkan dilengkapi perlengkapan canggih seperti tank T-90M, roket, drone serang, hingga sistem peperangan elektronik modern—melebihi militer reguler Rusia sendiri. Meski begitu, hasil tempur mereka masih belum signifikan, menunjukkan betapa ketatnya pertahanan Ukraina.
Rusia juga masih mengoperasikan lebih dari 30 kelompok bayaran lain, seperti Cossack Squad, Ghost Brigade, dan Cheknit Legion. Sementara tentara bayaran asal Asia-Afrika (Sri Lanka, Nepal, Kongo, Kamerun, dan lainnya) biasanya ditempatkan di unit-unit “pasukan tumbal” seperti Storm Z dan Storm V, dengan tugas ekstrem berisiko tinggi—mulai dari menyerang garis depan, menjinakkan ranjau, hingga menjadi umpan musuh.
Gaji dan Realita Pahit Para Mercenary
Mitos tentang gaji tinggi pasukan bayaran di Ukraina ternyata tidak sepenuhnya benar. Gaji rata-rata mercenary di garis depan Ukraina berkisar 3.000 euro per bulan, sedangkan sukarelawan logistik hanya 500 euro. Santunan bagi yang gugur atau cacat pun mengikuti standar tentara Ukraina, dengan bonus khusus untuk misi-misi berbahaya. Di negara maju seperti Inggris atau Prancis, nominal ini setara gaji pekerja restoran atau kurir. Artinya, banyak mercenary dari Eropa Barat didorong idealisme dan sikap politik, bukan sekadar uang.
Sebaliknya, untuk tentara bayaran dari negara-negara ekonomi lemah seperti Georgia atau Armenia, 3.000 euro adalah nilai yang sangat tinggi. Banyak pula yang terjun ke medan tempur demi membalaskan dendam sejarah atau luka lama negaranya.
Di pihak Ukraina, jumlah mercenary asal Georgia bahkan mencapai 10.000 orang, terkenal dengan daya tempur luar biasa. Sementara di pihak Rusia, tentara bayaran asal Asia-Afrika di atas kertas dijanjikan 2.000–4.000 dolar AS per bulan, tetapi dalam praktiknya, banyak yang tidak menerima bayaran sama sekali. Bahkan ada tentara Rusia yang harus membeli perlengkapan tempur dari uang pribadi.
Kehidupan mercenary sangat keras. Banyak yang tertipu, harus membeli sendiri rompi antipeluru, hanya dapat pelatihan seadanya, lalu langsung diterjunkan ke medan perang. Ingin mundur? Kontrak mereka seringkali bersifat “hidup-mati”—tak bisa keluar walau masa kontrak sudah habis. Tidak sedikit yang akhirnya terjebak dan menjadi korban sia-sia karena kurangnya idealisme dan kekompakan.
Kesimpulan: Siapa yang Menang, Siapa yang Kalah, Tak Ada yang Benar-benar Pulang
Perang Ukraina kini bukan sekadar ajang adu kekuatan Rusia vs Ukraina, melainkan telah menjadi pertarungan global yang mempertaruhkan idealisme, ekonomi, bahkan harga diri bangsa. Para pasukan bayaran datang dengan beragam motivasi—dari uang, dendam sejarah, hingga sekadar mencari “petualangan”. Namun di atas semua itu, nyawa tetaplah taruhan terbesar.
Tidak ada yang tahu siapa yang akan benar-benar pulang sebagai pemenang. Satu hal yang pasti, medan perang Ukraina telah melahirkan generasi baru para tentara bayaran, dengan kisah dan luka yang akan terus dikenang dunia.
Dua Senjata Rahasia Amerika: Dana Wall Street Diblokir, B-21 Raider Bersiap Hancurkan Markas PKT!
EtIndonesia. Tekanan Amerika Serikat terhadap Partai Komunis Tiongkok (PKT) kini semakin terbuka dan menyeluruh, tidak hanya di ranah militer tetapi juga sektor keuangan global. Pada 23 Juli 2025, Komite Khusus DPR AS untuk Urusan PKT secara resmi memanggil CEO dua bank raksasa Amerika, JP Morgan dan Bank of America. Dalam sidang tersebut, Kongres meminta seluruh dokumen terkait proses penawaran umum perdana (IPO) perusahaan baterai raksasa asal Tiongkok, Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL).
CATL kini menjadi sorotan tajam lantaran Pentagon mengkategorikan perusahaan ini sebagai entitas berafiliasi militer PKT. Dugaan kuat mengarah pada peran CATL yang memasok baterai canggih untuk kapal selam dan sistem persenjataan militer Tiongkok. Selain itu, perusahaan ini juga diduga terlibat dalam rantai kerja paksa di wilayah Xinjiang—isu yang selama ini menjadi perhatian dunia internasional.
IPO CATL yang digelar di Bursa Hong Kong berhasil meraup dana segar sebesar 5,2 miliar dolar AS. Namun, proses listing tersebut berlangsung secara diam-diam, tanpa sorotan publik internasional. JP Morgan dan Bank of America bertindak sebagai penjamin emisi utama, yang membuat kedua bank asal AS ini diduga secara tidak langsung telah menopang kekuatan militer PKT serta mendukung pelanggaran hak asasi manusia di Tiongkok. Kecurigaan DPR AS pun menguat—bahwa raksasa-raksasa Wall Street secara perlahan telah berfungsi sebagai “ATM” global bagi PKT.
“Selama ini, tekanan ke Tiongkok lebih banyak dilakukan lewat jalur militer atau diplomasi, tapi kini Kongres tampaknya sangat serius memutus aliran dana yang bisa memperkuat rezim PKT,” demikian disampaikan salah satu anggota komite dalam sidang tersebut. Langkah terbaru ini menunjukkan AS berupaya menghentikan segala bentuk bantuan finansial yang berpotensi menguntungkan mesin militer Tiongkok.
AS Percepat Produksi Massal B-21 Raider, Tiongkok Mulai Waspada
Di bidang militer, Amerika Serikat juga mengambil langkah strategis yang tidak kalah agresif. Media Amerika pada 22 Juli mengungkap rencana Pentagon untuk mempercepat produksi massal pembom siluman generasi terbaru, B-21 Raider. Targetnya, Angkatan Udara AS dapat mengoperasikan hingga 100 unit B-21 pada dekade 2030-an, yang secara signifikan akan memperkuat kemampuan serangan udara strategis Negeri Paman Sam.
Pengamat pertahanan Tiongkok dan kolomnis Tencent, lewat artikel di rubrik “Planet Research Office”, menilai keberhasilan produksi massal B-21 Raider akan membawa ancaman baru bagi fasilitas strategis Tiongkok, terutama di wilayah pesisir timur dan tengah. Meski Tiongkok telah mengembangkan sistem pertahanan udara berlapis—termasuk jaringan anti-rudal dan teknologi anti-stealth—B-21 Raider tetap menawarkan keunggulan teknologi siluman. Pesawat ini dirancang untuk mampu menembus pertahanan lawan dan melaksanakan misi pengeboman ke target bawah tanah, termasuk bunker-bunker rahasia di Beijing, dengan bom penghancur bunker tipe GBU-57.
Ahli militer Chen Zhou juga menegaskan bahwa produksi B-21 Raider memang disesuaikan secara khusus untuk menghadapi ancaman dari PKT. Menurutnya, jika AS mendeteksi tanda-tanda PKT akan melancarkan serangan besar, tidak menutup kemungkinan B-21 akan dikerahkan terlebih dahulu untuk melumpuhkan markas roket dan basis-basis strategis milik PKT, sehingga bisa menggagalkan rencana serangan Tiongkok sebelum sempat dimulai.
Kesimpulan: Sanksi Keuangan dan Kesiapan Militer Jadi Strategi Ganda AS Lawan PKT
Rentetan aksi terbaru ini menunjukkan perubahan strategi Amerika Serikat dalam menghadapi Tiongkok—dari sekadar ancaman militer menjadi serangan terintegrasi yang juga mencakup aspek finansial global. Kongres dan Pentagon kini tampak sepakat: menekan PKT bukan hanya soal kekuatan senjata, tetapi juga dengan menutup keran dana yang menghidupi mesin kekuasaan dan militer mereka. Situasi ini menandai babak baru dalam persaingan dua kekuatan dunia, di mana setiap langkah kedua pihak akan diawasi ketat oleh masyarakat internasional.




