Miliarder Tiongkok Memiliki Seratus Anak, Masih Ada 20 Ibu Pengganti di AS yang Sedang Hamil 

EtIndonesia.com  Xu Bo, seorang miliarder Tiongkok dan ketua Douyu Network, disebut telah memiliki anak secara besar-besaran melalui ibu pengganti, dengan jumlah anak yang dikabarkan telah mencapai lebih dari 100 orang. Media Amerika Serikat mengungkapkan bahwa setidaknya lebih dari 20 ibu pengganti di Amerika Serikat saat ini masih mengandung anak untuknya. Hal ini disebut menunjukkan celah dalam industri ibu pengganti di Amerika Serikat.

Xu Bo, ketua Douyu Network asal Tiongkok, pernah mengunggah foto lebih dari 100 anaknya di internet. Sementara itu, mantan pacarnya yang bersengketa hukum dengannya mengungkapkan bahwa Xu Bo setidaknya telah memiliki 300 anak.

CBS Amerika Serikat baru-baru ini menerbitkan laporan hasil wawancara dengan sejumlah ibu pengganti. Sebuah dokumen yang bocor menunjukkan bahwa ayah yang akan menjadi orang tua dari anak yang dikandung salah seorang ibu pengganti bernama “Judy” (nama samaran) adalah Xu Bo, seorang eksekutif perusahaan gim elektronik asal Tiongkok. Foto Xu Bo yang dimuat dalam laporan tersebut juga sesuai dengan Xu Bo, ketua Douyu Network.

Menurut laporan tersebut, Judy membutuhkan uang untuk membesarkan anaknya sendiri. Ia pertama kali melihat iklan “lowongan” di Instagram yang menyatakan bahwa menjadi ibu pengganti dapat memperoleh bayaran sebesar US$120.000. Judy kemudian menandatangani kontrak dengan sebuah perusahaan bernama “Patriot Conceptions” dan menjadi ibu pengganti bagi Xu Bo.

Judy juga mengungkapkan bahwa setelah kontrak ditandatangani, staf perusahaan memberitahunya bahwa pihak yang menggunakan jasanya adalah seorang ayah tunggal yang ingin memperbesar keluarganya. Ia kemudian bertanya berapa banyak ibu pengganti yang telah disewa oleh pria tersebut. Pihak perusahaan memberitahunya bahwa jumlahnya cukup banyak, sekitar lebih dari 20 orang.

Judy mengatakan bahwa agen ibu pengganti seharusnya sangat transparan, “memberi tahu Anda untuk siapa Anda melahirkan anak dan seperti apa kondisi keluarga anak tersebut.” Namun, dalam kenyataannya, ia setidaknya lima kali meminta untuk bertemu dengan ayah biologis anak tersebut, tetapi semuanya tidak membuahkan hasil.

Menurut laporan tersebut, Xu Bo dan perwakilannya tidak memberikan tanggapan atas berbagai permintaan komentar. Perusahaan Patriot Conceptions juga menolak wawancara.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa sepasang suami istri keturunan Tionghoa di Los Angeles memiliki lebih dari 20 anak melalui ibu pengganti. Salah seorang perempuan menjadi ibu pengganti bagi pasangan tersebut sebanyak dua kali. Namun, baru pada kehamilan kedua ia mengetahui bahwa dirinya hanyalah salah satu dari banyak ibu pengganti yang digunakan oleh pasangan tersebut.

Menurut laporan itu, banyak ibu pengganti sama sekali tidak mengetahui siapa ayah dari anak yang mereka kandung. Ada yang baru pertama kali bertemu dengan pihak yang memesan jasa mereka setelah anak lahir, sementara ada pula yang sama sekali tidak pernah bertemu dengan mereka.

Berdasarkan hukum Amerika Serikat sebelumnya, anak yang lahir di Amerika Serikat secara otomatis memperoleh kewarganegaraan Amerika Serikat. Motif Xu Bo dalam memiliki anak-anak yang lahir di Amerika secara besar-besaran telah memicu berbagai spekulasi. (***)

Aturan Baru PKT Berlaku 15 September, 7 Kelompok Warga Taiwan yang Pergi ke Tiongkok Dikhawatirkan Bisa “Pergi tetapi Tidak Bisa Pulang” 

Seiring mulai diberlakukannya aturan baru Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengenai pengelolaan keluar-masuk wilayah, risiko bagi warga Taiwan yang bepergian ke Tiongkok semakin meningkat. 

Seorang pejabat Taiwan yang memahami situasi hubungan lintas Selat Taiwan memperingatkan bahwa tujuh kelompok warga Taiwan, termasuk politikus, pegawai negeri, dan mantan personel militer, lebih mudah menjadi sasaran khusus dan menghadapi pemeriksaan ketika pergi ke Tiongkok.

EtIndonesia.com Pada 15 September 2026 “Ketentuan Dewan Negara mengenai Pengelolaan Keluar dan Masuk Wilayah” yang diumumkan PKT secara resmi mulai berlaku. Aturan baru tersebut terdiri atas 19 pasal. 

Dengan alasan seperti “menjaga kedaulatan negara, keamanan, dan kepentingan pembangunan”, pihak berwenang memperluas secara signifikan kewenangan untuk membatasi warga meninggalkan negara. Departemen terkait juga diberi wewenang untuk melakukan pengawasan perbatasan secara rahasia serta memeriksa perangkat elektronik dan data digital.

Di antaranya, Pasal 2 aturan baru tersebut menyatakan akan membangun dan menyempurnakan sistem pencegahan risiko keamanan bagi warga Tiongkok yang bepergian ke luar negeri. Jika suatu negara atau wilayah dikategorikan sebagai berisiko tinggi, lembaga pengelolaan imigrasi dapat mengimbau atau mencegah warga untuk pergi ke sana ketika menangani dan menyetujui dokumen perjalanan keluar-masuk, maupun saat melakukan pemeriksaan perbatasan sebelum keberangkatan.

Pasal 3, mengenai “verifikasi dan pemeriksaan data elektronik”, menetapkan bahwa ketika lembaga pengelolaan imigrasi dan otoritas visa memverifikasi identitas orang yang keluar atau masuk wilayah, mereka dapat menanyakan informasi terkait dan meminta orang tersebut menunjukkan dokumen, bahan, serta data elektronik. Hal ini mencakup ponsel, iPad, atau laptop yang dibawa. Pihak berwenang juga berhak meminta perangkat tersebut diserahkan dan dibuka kuncinya di tempat.

Warga Tiongkok yang terlibat dalam keluar-masuk wilayah secara ilegal, memperoleh dokumen secara curang, atau melakukan kegiatan di luar negeri yang dianggap membahayakan keamanan dan kepentingan negara, dapat dilarang meninggalkan Tiongkok selama enam bulan hingga tiga tahun. Bagi mereka yang terkait dengan pengendalian ekspor serta keamanan teknologi, Kementerian Perdagangan dan departemen terkait juga dapat melarang mereka keluar dari negara tersebut. Sementara bagi warga negara asing, pelanggaran serius dapat dikenai larangan masuk ke Tiongkok hingga lima tahun.

Menurut laporan Liberty Times Taiwan pada 14 September, seorang pejabat yang memahami situasi hubungan lintas Selat Taiwan mengatakan bahwa politikus Taiwan, pegawai negeri, mantan personel militer, pejabat kehakiman, guru, tokoh pembentuk opini masyarakat, serta peserta Gerakan “Bluebird” (Qingniao) sangat mudah menjadi sasaran pemeriksaan ketika pergi ke Tiongkok dan harus berhati-hati terhadap risiko terhadap keselamatan pribadi.

Pejabat tersebut memperingatkan bahwa setelah peraturan ini mulai berlaku, pemeriksaan oleh PKT dalam aspek tersebut akan menjadi lebih ketat. Orang yang akan pergi ke Tiongkok harus melakukan penilaian risiko dengan saksama dan tidak boleh menganggap bahwa hal tersebut tidak mungkin terjadi pada diri mereka sendiri. Menurutnya, PKT telah menguasai sebagian data pribadi warga Taiwan dan telah melakukan penetrasi yang sangat dalam terhadap Taiwan. Jika seseorang pernah bekerja di organisasi non pemerintah internasional (NGO) atau organisasi hak asasi manusia, sebaiknya juga tidak pergi ke Tiongkok.

Pejabat tersebut mengkritik PKT karena memperluas konsep keamanan nasional secara berlebihan. Menurutnya, demi mempertahankan kekuasaan pemimpin PKT Xi Jinping dan demi ambisi agar negara tersebut dapat melampaui Amerika Serikat, pengelolaan keamanan kini jauh lebih ketat dibandingkan sebelumnya. Baik frekuensi pemeriksaan maupun jumlah lembaga yang melakukan pemeriksaan lebih banyak daripada masa lalu, sementara pola pikir berbasis keamanan tetap menjadi sarana utama pengendalian.

Pada 14 September, Asosiasi Pertukaran Elit Asia-Pasifik Tiongkok mengadakan seminar bertajuk “Bisa Masuk, Bisa Keluar? Risiko dan Dampak Aturan Baru Keluar-Masuk PKT”. Seminar tersebut dihadiri oleh pejabat dari Dewan Urusan Daratan Taiwan (MAC), Straits Exchange Foundation (SEF), serta para pakar dan akademisi.

Wakil Ketua MAC, Shen Youzhong, memperingatkan bahwa jumlah warga yang pergi ke Tiongkok lalu kehilangan kontak menunjukkan peningkatan yang tidak biasa. Pemerintah Taiwan telah memberikan peringatan khusus kepada lima kelompok, yaitu pekerja di bidang teknologi, pegawai negeri, tokoh agama, eksekutif perusahaan Taiwan, dan orang-orang yang pernah menyampaikan pandangan politik tertentu. Mereka diingatkan untuk melakukan pendaftaran daring sebelum pergi ke Tiongkok agar memiliki tambahan perlindungan keamanan.

Shen Youzhong juga memperingatkan bahwa aturan baru tersebut secara khusus mencakup pengendalian ekspor serta pengelolaan ekspor dan impor teknologi. Oleh karena itu, pengusaha Taiwan di Tiongkok, eksekutif berkewarganegaraan Taiwan, pekerja di bidang teknologi tinggi, bahkan pekerja di sektor energi baru, semuanya dapat menjadi kelompok berisiko tinggi yang rentan terhadap penegakan hukum secara sewenang-wenang oleh PKT.

Menurutnya, seseorang bahkan dapat dicegat tanpa terlebih dahulu dinyatakan bersalah secara substantif, hanya berdasarkan penilaian sepihak bahwa ia “mungkin membahayakan kepentingan negara”. Risiko “bisa masuk, tetapi tidak bisa keluar” dari Tiongkok pun semakin meningkat.

Wakil Ketua MAC, Liang Wenjie, mengatakan bahwa warga Taiwan yang menggunakan Kartu Senegara Taiwan (Taibaozheng), menurut pandangan Beijing, dianggap sebagai bukti bahwa “orang Taiwan adalah orang Tiongkok.” Jika penafsiran tersebut digunakan, maka aturan ini tentu dapat diterapkan untuk membatasi warga Taiwan meninggalkan Tiongkok.

Karena itu, menurutnya, pemerintah Taiwan harus memberikan peringatan mengenai risiko tersebut, sebab warga Taiwan memang berpotensi mengalami pembatasan untuk meninggalkan Tiongkok.

Pada 12 September, MAC Taiwan merilis “Laporan Mingguan Terbaru tentang Situasi Keamanan bagi Warga Taiwan yang Bepergian ke Tiongkok, Hong Kong, dan Makau.” Dalam periode 1 Januari 2024 hingga 11 September 2026, tercatat sebanyak 440 kasus warga Taiwan yang pergi ke Tiongkok lalu kehilangan kontak, ditahan untuk pemeriksaan, atau diduga mengalami pembatasan kebebasan pribadi.

Jumlah tersebut meningkat 9 orang dibandingkan statistik minggu sebelumnya. Dalam laporan minggu sebelumnya, yang mencatat data hingga 4 September, jumlahnya adalah 431 orang. (***)

Influenza A Merebak Hebat! Baru Beberapa Hari Masuk Sekolah, Sejumlah Kelas di Shanghai Harus Belajar dari Rumah

EtIndonesia.com  Baru seminggu sejak sekolah-sekolah di daratan Tiongkok kembali dibuka, tetapi Flu A H3N2 sudah merebak dengan cepat. Di sejumlah sekolah dasar, sekolah menengah, dan taman kanak-kanak di Shanghai, terjadi wabah Flu A secara berkelompok. Di beberapa kelas, sekitar setengah siswa tidak masuk sekolah karena sakit. Sejumlah kelas juga diberitahukan untuk menjalani isolasi di rumah sesuai ketentuan. Seorang warganet berkomentar, “Apakah kita kembali ke era belajar daring?”

Menurut laporan Qianjiang Evening News, tak lama setelah tahun ajaran baru dimulai, sejumlah kelas di Shanghai diberitahukan untuk menjalani isolasi di rumah. Salah seorang orang tua di Shanghai mengunggah pertanyaan di media sosial:

“Sebenarnya bagaimana kondisi Flu A di Shanghai? Pagi-pagi sekali saya diberi tahu bahwa seluruh kelas harus menjalani isolasi. Sore harinya saya mengetahui bahwa setengah dari anak-anak tidak masuk sekolah karena sakit.”

Baru satu minggu sejak sekolah dimulai, sejumlah kelas di Shanghai dan daerah lainnya harus menjalani isolasi di rumah akibat wabah Flu A. (Tangkapan layar dari internet)
Flu A merebak dengan cepat di Shanghai hanya satu minggu setelah sekolah dimulai. (Tangkapan layar dari internet)

Media melaporkan bahwa setelah sekolah kembali dibuka pada September, sejumlah sekolah dasar, sekolah menengah, dan taman kanak-kanak di Distrik Baoshan, Huangpu, serta beberapa wilayah lain di Shanghai secara berturut-turut mengalami wabah penyakit secara berkelompok. Kasus terutama didominasi Flu A H3N2, disertai Flu B galur Victoria. Anak-anak taman kanak-kanak dan siswa kelas rendah sekolah dasar merupakan kelompok yang paling rentan tertular.

Jumlah pasien flu yang berobat ke Rumah Sakit Anak Shanghai meningkat secara signifikan. Di antara pasien anak yang dirawat inap, kasus influenza mencapai sekitar sepertiga dari kapasitas tempat tidur rumah sakit.

Situasi serupa tidak hanya terjadi di Shanghai. Hangzhou, Provinsi Zhejiang, juga mengalami kondisi yang sama.

Putri Li, seorang warga Hangzhou, sedang duduk di kelas tiga sekolah dasar. Baru satu minggu setelah masuk sekolah, Li menerima pesan singkat dari pihak sekolah yang memberitahukan bahwa jumlah siswa yang sakit dan tidak masuk sekolah telah mencapai proporsi yang ditetapkan. 

Berdasarkan persyaratan dari departemen pengendalian penyakit, seluruh siswa di kelas tersebut dihentikan sementara kegiatan belajarnya. Penangguhan berlangsung dari 11 hingga 14 September, dan siswa dijadwalkan kembali ke sekolah pada 15 September.

Li mengatakan bahwa kelas putrinya terdiri dari lebih dari 40 siswa. Sebanyak 10 anak sudah tidak masuk sekolah karena demam, dan sekitar setengah dari mereka telah dikonfirmasi menderita influenza.

Dalam beberapa waktu terakhir, jumlah pasien anak yang datang ke klinik penyakit infeksi maupun yang dirawat inap di Rumah Sakit Anak Hangzhou juga meningkat secara signifikan. (***)

Beredar Kabar Ren Zhengfei dan Seluruh Keluarganya Hilang Kontak, Banyak Polisi Bersenjata Muncul di Markas Huawei 

Belakangan ini, beredar di internet sebuah tangkapan layar yang diduga berasal dari komunikasi internal Huawei, yang menunjukkan bahwa pihak Huawei selama dua hari berturut-turut tidak dapat menghubungi Ren Zhengfei. Meng Wanzhou dan sejumlah anggota keluarga lainnya juga tiba-tiba kehilangan kontak. Hal ini memicu spekulasi bahwa seluruh keluarga Ren Zhengfei telah melarikan diri. 

Selain itu, sebuah video memperlihatkan sejumlah besar polisi bersenjata muncul di luar gedung kantor pusat Huawei. Namun, hingga kini, informasi tersebut belum mendapat konfirmasi resmi. Apakah Ren Zhengfei benar-benar telah melarikan diri masih perlu diverifikasi lebih lanjut.

EtIndonesia.com Belakangan ini, sebuah tangkapan layar yang diduga berasal dari perangkat lunak komunikasi internal Huawei beredar di platform X. Tangkapan layar tersebut mengklaim bahwa Liang Hua, Ketua Huawei, telah kehilangan kontak dengan Ren Zhengfei selama dua hari berturut-turut. Wakil Ketua Huawei Meng Wanzhou, istri Ren Zhengfei Su Wei, putri bungsunya Yao Anna, serta sejumlah anggota keluarga lainnya juga disebut tiba-tiba tidak dapat dihubungi.

tangkapan layar yang diduga berasal dari perangkat lunak komunikasi internal Huawei

Tangkapan layar tersebut juga menyebutkan bahwa pada dini hari 11 September, sebuah kendaraan yang biasa digunakan untuk mengantar-jemput anggota keluarga keluar dari kediaman Ren Zhengfei menuju kawasan Luzui di Semenanjung Dapeng, Shenzhen, dan setelah itu kendaraan tersebut tidak diketahui lagi keberadaannya.

Ditambah dengan beredarnya sejumlah video yang menunjukkan banyak polisi bersenjata muncul di sekitar markas besar Huawei, muncul spekulasi bahwa keluarga Ren Zhengfei mungkin telah meninggalkan Tiongkok melalui jalur laut.

Namun, selain tangkapan layar dan video terkait, hingga kini tidak terdapat bukti yang lebih dapat diandalkan untuk membuktikan bahwa Ren Zhengfei benar-benar telah melarikan diri. Sejumlah warganet juga menunjukkan bahwa rekaman yang disebut sebagai “pengerahan polisi bersenjata” mungkin merupakan video lama.

Ada pula warganet yang menilai bahwa mengingat posisi khusus Ren Zhengfei dan Huawei, kemungkinan seluruh anggota keluarga mereka meninggalkan Tiongkok tanpa adanya informasi resmi dari pemerintah maupun perusahaan dinilai tidak terlalu besar.

Warganet lainnya menganalisis bahwa hubungan Huawei dengan pemerintah PKT sangat erat. Jika Ren Zhengfei benar-benar melarikan diri, hal tersebut akan menjadi pukulan terhadap Xi Jinping sebagai pemimpin PKT.

Ada pula yang berpendapat bahwa Huawei pada dasarnya telah mengalami keruntuhan dan kini terutama bertahan berkat subsidi pemerintah. Karena itu, jika keluarga Ren Zhengfei benar-benar melarikan diri, hal tersebut dianggap bukan sesuatu yang mengejutkan.

Laporan gabungan wartawan NTDTV Liu Jiajia.

Penyerangan Acak di Kawasan Universitas Guangzhou, Tiongkok,  Pelaku Disebut Sengaja Menikam Mata Korban; Diduga Dilakukan Berkelompok 

Terjadi penyerangan acak terhadap warga di sekitar kawasan Universitas Guangzhou. Pelaku disebut secara khusus menyerang mata para pejalan kaki. Sejumlah korban mengalami luka di wajah hingga berlumuran darah, dengan suasana di lokasi yang sangat mengerikan. Kepolisian Partai Komunis Tiongkok (PKT) menyatakan telah menangkap satu orang, tetapi beredar informasi bahwa aksi tersebut dilakukan oleh sekelompok orang. Kondisi sebenarnya masih belum jelas.

EtIndonesia.com  Pada 14 September, sejumlah besar video dan foto beredar di internet yang menunjukkan terjadinya penyerangan acak menggunakan senjata tajam di pusat perbelanjaan GOGO Xintiandi, yang terletak di Kota Xinzao, Distrik Panyu, kawasan Universitas Guangzhou. 

Seorang pria yang membawa senjata tajam disebut menyerang wajah para pejalan kaki secara acak. Sebagian besar korban adalah perempuan, dan banyak di antaranya mengalami luka pada bagian mata. Sejumlah korban mengalami luka hingga wajah mereka berlumuran darah, dalam kondisi yang sangat mengerikan.

Bahkan, seorang perempuan lanjut usia terlihat duduk di tanah sambil menjerit kesakitan, dengan sebilah pisau masih tertancap di bagian matanya dan pakaian yang dipenuhi darah.

Sejumlah orang terluka di lokasi kejadian. (Foto dari internet)

Dalam sebuah video, terlihat seorang pria berjalan di sebuah lorong. Tiba-tiba, ia mengayunkan pisau dan menyerang wajah seorang perempuan yang berjalan dari arah berlawanan. Saat melakukan serangan, pisau tersebut terjatuh ke tanah. Pelaku tidak mengambilnya kembali dan langsung melarikan diri.

Foto salah satu tersangka yang beredar di internet. (Foto dari internet)

Sejumlah warga setempat mengungkapkan informasi bahwa pelaku pria menyerang pejalan kaki secara acak menggunakan pisau. Seorang saksi mata mengatakan, “Dia sengaja menusuk ke arah mata orang.”

Informasi dari warga setempat. (Tangkapan layar dari internet)
Informasi yang beredar di internet. (Tangkapan layar dari internet)

Sebuah unggahan di internet menyebutkan bahwa setelah melukai sejumlah orang, tersangka melarikan diri ke kantin kawasan barat Universitas Teknologi Guangdong dan kemudian ditangkap oleh pasukan khusus kepolisian.

Informasi lain yang beredar menyebutkan bahwa salah seorang pelaku masuk ke kantin nomor 3 Universitas Teknologi Guangdong, memesan semangkuk nasi, lalu ditangkap polisi ketika sedang makan. Pelaku lainnya disebut melarikan diri ke asrama gedung nomor 10 Universitas Kedokteran Guangzhou.

Kepolisian Panyu mengeluarkan pernyataan bahwa sekitar pukul 17.20 pada 14 September, mereka menerima laporan mengenai seorang pria yang membawa pisau dan melukai orang di depan sebuah restoran hotpot di Jalan Xiaoguwei, Distrik Panyu. Polisi telah menangkap seorang tersangka, Li (pria, 35 tahun). Menurut kepolisian, para korban “tidak mengalami kondisi yang mengancam jiwa setelah mendapatkan perawatan.”

Namun, warga setempat mengungkapkan bahwa kejadian tersebut diduga merupakan aksi yang dilakukan secara berkelompok. Ada informasi yang menyebut “tiga mahasiswa menikam orang”, ada pula yang mengatakan “empat orang sudah ditangkap”, sementara informasi lainnya menyebut “tujuh orang terlibat.” Kondisi sebenarnya masih belum diketahui.

Sejumlah video memperlihatkan pasukan khusus kepolisian menyerbu sebuah kantin untuk menangkap seseorang.

Seorang mahasiswa yang berada di lokasi mengatakan kepada wartawan The Epoch Times bahwa ia melihat sendiri pelaku menyerang orang di berbagai tempat.

“Semuanya ditusuk ke arah mata. Ada tujuh orang yang ditusuk. Ini murni aksi balas dendam terhadap masyarakat. Korbannya laki-laki dan perempuan. Tidak peduli berapa banyak orang yang ada, dia menyerang secara acak,” katanya.

Ia mengatakan bahwa pelaku melarikan diri dengan cepat dan kemungkinan memiliki rekan. Pelaku kemudian baru berhasil ditangkap.

“Saat itu saya hanya melihat satu orang. Setelah menyerang orang, dia lari ke kantin kampus di sebelah saya untuk makan. Benar-benar menakutkan.”

Seorang warga yang sedang melintas di Distrik Haizhu mengatakan kepada The Epoch Times:

“Sepertinya di dekat Gerbang Nomor 2 Universitas Teknologi Guangdong. Katanya ada empat pelaku, tetapi saya tidak melihat mereka. Sepertinya pasukan khusus datang menggunakan sepeda motor. Saya hanya melihat sekitar satu menit lalu langsung pergi. Saya juga takut mati. Mereka membawa pisau dan menikam orang, sementara pelakunya berada di dalam. Saya berada di luar dengan sepeda listrik. Apakah keempat orang itu sedang menjalankan suatu misi? Mereka khusus menikam mata.”

Sejumlah warganet menyebut kejadian tersebut sebagai “serangan teror.” Banyak orang mengecam tindakan tersebut dengan mengatakan bahwa “hutang harus dibayar oleh pihak yang berhutang”, dan apapun motif pelaku, mereka tidak seharusnya menyerang perempuan yang tidak bersalah.

Lokasi kejadian, GOGO Xintiandi, merupakan kawasan komersial utama di pusat kawasan Universitas Guangzhou. Di sekitarnya terdapat lebih dari belasan perguruan tinggi dan tempat tersebut biasa menjadi lokasi mahasiswa untuk makan dan bersantai. 

Saat kejadian berlangsung, bertepatan dengan jam makan setelah perkuliahan pada sore hari, sehingga kawasan tersebut sedang dipadati orang.

Laporan gabungan reporter Chen Zhenjin / Lin Qing – NTDTV.com

Seorang Pengusaha Liaoning Menempuh Jalur Pelarian ke Jerman: Datang ke Dunia Bebas untuk Menggulingkan PKT 

EtIndonesia.com Pada 12 September, Shen Qijia, seorang pengusaha Tiongkok yang memperjuangkan hak-hak masyarakat, berhasil keluar dari Tiongkok melalui jalur pelarian dan tiba di Jerman. Semboyannya adalah, “Dalam menjalani kehidupan, harus rendah hati; dalam menentang komunisme, harus berani tampil lantang,” dan ia menegaskan bahwa inilah sikap yang seharusnya dimiliki setiap orang Tiongkok di zaman sekarang.

Shen Qijia, pengusaha Tiongkok yang memperjuangkan hak-hak masyarakat:
“Baiklah, saudara-saudara, saya ingin memberi kabar bahwa saya sudah tiba dengan selamat di Jerman. Jangan khawatir. Pelarian kali ini berhasil!”

Setelah menempuh perjalanan ekstrim selama lebih dari 30 jam, Shen Qijia akhirnya tiba di Jerman pada 12 September. Kepada The Epoch Times, ia mengatakan bahwa tujuan perjalanannya adalah mengajukan suaka politik di Jerman.

Shen Qijia: “Saya sedang mendaki gunung dan menyeberangi sungai.”

Pada 26 Agustus, Shen Qijia berangkat dari Tiongkok. Ketika mencapai perbatasan Eropa, setiap langkah yang ditempuhnya penuh bahaya. Bagian yang paling mendebarkan terjadi ketika ia melintasi pegunungan di Kroasia. Kemiringan medan hampir mencapai 90 derajat, sementara di sekelilingnya terdapat tebing curam. Sedikit saja salah langkah, ia bisa terjatuh ke jurang.

Shen Qijia: “Rezim tirani jahat Partai Komunis Tiongkok (PKT) sudah tidak mungkin kembali kepada sifat manusiawi. Mereka tidak mungkin memberikan lingkungan politik yang baik bagi rakyat Tiongkok.”

Pengusaha asal Liaoning berusia 64 tahun ini mengatakan bahwa dirinya mempertaruhkan nyawa untuk pergi ke luar negeri bukan hanya demi kebebasan, tetapi juga demi menggulingkan PKT. Ia mengatakan bahwa kejahatan yang dilakukan PKT terlalu banyak untuk dihitung, termasuk pembantaian Tiananmen pada 4 Juni, penganiayaan terhadap praktisi Falun Gong, serta penindasan terhadap Gerakan Buku Putih.

Shen Qijia sebelumnya mendirikan sebuah perusahaan di Shenzhen. Pada tahun 2000, pihak berwenang menahannya dan menyita hartanya atas tuduhan seperti “pelaporan modal secara palsu.” Selama 26 tahun ia mengajukan petisi kepada pemerintah untuk mencari keadilan, tetapi persoalannya yang melibatkan hampir 3 juta yuan hingga kini belum terselesaikan.

Pada Juli tahun ini, Shen Qijia secara terbuka menyatakan melalui The Epoch Times bahwa dirinya keluar dari organisasi-organisasi PKT.

Pada malam ketika Shen Qijia tiba di Jerman, banyak netizen menyampaikan ucapan selamat. Sun Yuanping, seorang pembangkang PKT yang baru melarikan diri ke Australia bulan lalu, menulis: “Selamat kepada Lao Shen yang berhasil ‘kabur dari penjara’ hingga sampai ke Jerman.”

Laporan gabungan wartawan NTDTV An Qi dan Liu Fang.

Ribuan Warga di Zhenxiong, Yunnan, Tiongkok Berhari-hari Menolak Kremasi Paksa yang Diterapkan Pemerintah 

Peristiwa kremasi paksa jenazah oleh pemerintah kembali terjadi di Kabupaten Zhenxiong, Kota Zhaotong, Provinsi Yunnan, Tiongkok. Hal ini memicu aksi protes warga. Seorang remaja berusia 16 tahun hendak dimakamkan, tetapi pemerintah setempat berusaha merebut jenazahnya dan memaksanya untuk dikremasi. 

Tindakan itu memicu kemarahan publik. Ribuan warga dari desa-desa dan kecamatan di sekitar lokasi secara sukarela datang untuk mendukung keluarga almarhum. Pada 12 September, ribuan orang bersama-sama mengantarkan peti jenazah ke gunung untuk dimakamkan.

EtIndonesia.com  Seorang remaja berusia 16 tahun, He Guoqiang, yang menderita leukemia dan mendapat perhatian luas di media sosial, meninggal dunia pada 6 September. Ia semula dijadwalkan dimakamkan pada 12 September. Namun, sehari sebelumnya, warga desa dan kecamatan di sekitar lokasi mengetahui bahwa pemerintah setempat akan mengerahkan sekitar 200 orang untuk merebut jenazah dan membawanya untuk dikremasi. Warga pun berdatangan untuk menolak tindakan tersebut. 

Pada 12 September, ribuan orang mengawal peti jenazah menuju lokasi pemakaman. Karena jumlah warga yang memberikan dukungan sangat besar, pihak berwenang tidak berani bertindak gegabah.

Seorang warga setempat bermarga Wang yang datang memberikan dukungan mengatakan bahwa sejak 1 September, pemerintah setempat telah menetapkan 14 kecamatan sebagai “wilayah kremasi”. 

Menurutnya, He Guoqiang dijadikan sasaran pertama sebagai upaya “membunuh ayam untuk menakut-nakuti monyet”, atau memberikan contoh agar warga lain takut menolak.

Saat ini, warga secara sukarela berjaga di makam, baik siang maupun malam. Pada malam hari, Wang membawa tenda untuk berjaga karena pemerintah setempat sewaktu-waktu dapat mengirim orang untuk menggali makam tersebut.

Wang, warga Kabupaten Zhenxiong, Zhaotong, Yunnan: “Pihak atas ingin membawanya untuk dikremasi. Malam itu ada sekitar 4.000–5.000 orang. Kami semua sangat kompak dan berjaga di sana. Xiao Qiang adalah yang pertama pada bulan September. Di tempat kami, jenazah sudah dimakamkan ke tanah, tetapi kemudian digali lagi untuk dikremasi. Saya benar-benar merasa itu sangat kejam.”

Warga yang memberikan dukungan mengungkapkan bahwa pemerintah setempat menggunakan cara-cara yang mereka sebut sebagai “perampasan jenazah” dan “menggali jenazah secara diam-diam” untuk memaksakan kremasi. 

Bahkan, ada jenazah yang sudah dimakamkan selama satu hingga dua bulan tetapi kemudian digali kembali untuk dikremasi. Hal ini memicu kemarahan kuat di kalangan warga. Namun, pihak berwenang berusaha memblokir informasi mengenai kejadian tersebut. Sejumlah influencer dan streamer yang datang ke lokasi untuk melakukan siaran langsung kemudian diblokir, sementara sinyal komunikasi juga diduga terganggu.


“Banyak orang menjaga Xiao Qiang. Setidaknya ada beberapa ribu orang. Desa ini sendiri tidak memiliki banyak kerabatnya. Mereka datang dari berbagai kecamatan dan merupakan warga dari daerah yang sama. Orang-orang ini bahkan tidak saling mengenal, tetapi semuanya datang secara sukarela. Di dalam maupun di luar lokasi, orang berdesak-desakan sampai penuh. Banyak video yang tidak bisa dipublikasikan,” kata Li, warga Kabupaten Zhenxiong, Zhaotong, Yunnan. 

Warga yang memberikan dukungan mengatakan bahwa pemakaman dengan cara dikuburkan merupakan tradisi setempat, sedangkan kremasi paksa dilakukan pemerintah untuk mengeruk uang dari masyarakat. 

He Guoqiang telah menjalani pengobatan selama dua tahun, menghabiskan seluruh tabungan keluarganya dan bahkan berhutang ratusan ribu yuan kepada kerabat serta teman. Karena itu, keluarganya sama sekali tidak mampu menanggung biaya kremasi.

“Setelah dibawa untuk dibakar, mereka masih harus membeli lahan pemakaman. Mobil pengangkut juga harus diberi uang tip. Satu mobil 120 yuan, kalau ada 10 mobil berarti 1.200 yuan,” kata Wang. 

“Selain itu, mereka juga harus membeli bunga putih. Bagi masyarakat pedesaan, mencari uang itu tidak mudah. Mereka menyediakan seluruh paket layanan untuk Anda, dan berapa pun yang mereka minta, Anda harus membayarnya. Tidak ada seorang pun yang sanggup menanggung semuanya,” Jelasnya. 

Kabupaten Zhenxiong, Kota Zhaotong, Yunnan, membagi seluruh wilayahnya menjadi wilayah kremasi dan wilayah reformasi pemakaman tradisional. 

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah setempat telah memaksakan kremasi di sejumlah kecamatan. Cara-cara yang oleh warga dianggap sebagai tindakan keras dan sewenang-wenang tersebut telah memicu penolakan. Di Zhongtun dan Linkou, antara lain, juga pernah terjadi aksi protes massal warga.

Laporan wartawan NTDTV Xiong Bin dan Bai Ni.

Iran Siaga Besar! 1.000 Batalyon Baru Dibentuk, Garda Revolusi Mulai Kekurangan Personel?

EtIndonesia.com  Situasi keamanan di Iran dilaporkan semakin tegang. Di tengah meningkatnya tekanan terhadap aparat keamanan dan kelompok-kelompok yang memiliki hubungan dengan pemerintah, Teheran disebut mulai mengambil langkah baru dengan memperluas mobilisasi masyarakat sipil untuk mendukung struktur pertahanan dalam negeri.

Menurut laporan yang beredar pada pertengahan September 2026, pemerintah Iran mulai mengirimkan pesan singkat kepada sebagian masyarakat yang berisi ajakan untuk mengikuti pelatihan tempur. Langkah tersebut dikaitkan dengan kebutuhan pemerintah untuk memperkuat jumlah personel yang dapat dikerahkan apabila situasi keamanan di dalam negeri semakin memburuk.

Mobilisasi ini menjadi perhatian karena selama ini pemerintah Iran memiliki dua kekuatan utama yang memainkan peran penting dalam menjaga keamanan dan mempertahankan sistem pemerintahan, yakni Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC serta organisasi paramiliter Basij.

Basij sendiri merupakan jaringan paramiliter yang berada di bawah struktur Garda Revolusi dan memiliki anggota serta pendukung yang tersebar di berbagai wilayah Iran. Organisasi tersebut selama bertahun-tahun tidak hanya digunakan dalam kegiatan pertahanan, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga keamanan domestik dan menghadapi kerusuhan maupun demonstrasi antipemerintah.

Namun, perkembangan terbaru mengindikasikan bahwa pemerintah Iran ingin memperluas kapasitas mobilisasi tersebut.

Teheran dilaporkan mengumumkan rencana pembentukan sekitar 1.000 unit baru yang disebut “Batalion Perlawanan Nasional”. Unit-unit ini diperkirakan akan menjadi bagian dari sistem pertahanan berbasis masyarakat yang dapat digunakan untuk memperkuat aparat keamanan ketika menghadapi ancaman di berbagai daerah.

Jika benar-benar direalisasikan dalam skala besar, pembentukan 1.000 batalion tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Iran sedang mempersiapkan struktur keamanan yang jauh lebih luas daripada sekadar mengandalkan pasukan reguler.

Langkah tersebut juga menarik perhatian karena sebelumnya pejabat Iran pernah menyampaikan klaim bahwa puluhan juta warga negara siap mempertahankan negaranya.

Dalam sejumlah pernyataan sebelumnya, pihak berwenang bahkan mengklaim sekitar 30 juta warga Iran bersedia mengorbankan diri untuk mempertahankan negara apabila Iran menghadapi ancaman besar.

Namun, kondisi keamanan yang berkembang pada September 2026 memperlihatkan persoalan yang lebih kompleks.

Di satu sisi, pemerintah berusaha menunjukkan bahwa dukungan masyarakat terhadap pertahanan nasional tetap besar. Di sisi lain, berbagai laporan menunjukkan meningkatnya serangan terhadap personel keamanan, kelompok bersenjata pro-pemerintah, serta tokoh agama yang dianggap mempunyai hubungan dekat dengan pemerintahan.

Salah satu insiden paling serius dilaporkan terjadi pada akhir pekan 12–13 September 2026.

Pasukan keamanan Iran disebut terlibat dalam baku tembak sengit dengan sekelompok pria bersenjata yang identitas dan afiliasinya belum diketahui secara pasti.

Pertempuran tersebut dilaporkan berlangsung hampir tujuh jam, menunjukkan bahwa aparat keamanan tidak sedang menghadapi insiden bersenjata kecil atau serangan singkat.

Sedikitnya tiga kendaraan yang digunakan pasukan keamanan Iran dilaporkan menjadi sasaran selama bentrokan berlangsung.

Sejumlah ledakan juga terdengar di sekitar lokasi pertempuran. Aparat kemudian menutup jalan-jalan di sekitar sebuah masjid setempat untuk membatasi pergerakan dan mengamankan kawasan.

Laporan mengenai jumlah korban berbeda-beda dan belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen. Sejumlah sumber menyebut puluhan anggota pasukan keamanan Iran tewas atau terluka dalam pertempuran tersebut.

Apabila angka tersebut terbukti akurat, insiden ini akan menjadi salah satu bentrokan domestik serius yang dihadapi aparat Iran dalam periode meningkatnya ketegangan pada September 2026.

Tidak hanya aparat keamanan yang menjadi sasaran.

Seorang ulama Sunni pro-pemerintah bernama Gerji juga dilaporkan tewas. Kematian seorang tokoh agama yang dianggap dekat dengan pemerintah memperlihatkan bahwa ancaman tidak lagi terbatas pada instalasi militer ataupun personel bersenjata.

Tokoh-tokoh sipil dan keagamaan yang diasosiasikan dengan pemerintah juga berpotensi menjadi sasaran.

Perkembangan tersebut memberikan tantangan besar bagi pemerintah Iran.

Dalam kondisi keamanan yang stabil, Garda Revolusi dan Basij memiliki jaringan yang sangat luas sehingga pemerintah dapat mengerahkan personel ke berbagai wilayah dengan relatif cepat. Namun ketika serangan terjadi secara tersebar dan targetnya meliputi aparat keamanan hingga figur lokal pro-pemerintah, kebutuhan personel menjadi jauh lebih besar.

Di sinilah rencana pembentukan 1.000 Batalion Perlawanan Nasional menjadi penting.

Unit-unit tersebut berpotensi digunakan untuk menjaga fasilitas strategis, mendukung keamanan lingkungan, mengawasi daerah yang dianggap rawan, serta memperkuat pasukan keamanan ketika terjadi serangan bersenjata.

Namun, mobilisasi masyarakat sipil ke dalam struktur semimiliter juga membawa risiko tersendiri.

Semakin banyak kelompok bersenjata yang beroperasi di tengah masyarakat, semakin tinggi pula risiko terjadinya bentrokan lokal, salah identifikasi, tindakan balasan, maupun meningkatnya kekerasan antara kelompok yang mendukung dan menentang pemerintah.

Situasi ini menjadi semakin sensitif karena Iran pada September 2026 juga sedang menghadapi tekanan keamanan dan militer yang lebih luas.

Ketegangan eksternal telah memaksa Teheran mengalokasikan sumber daya besar untuk mempertahankan fasilitas militer, infrastruktur energi, jalur transportasi strategis dan berbagai instalasi penting lainnya.

Pada saat yang sama, pemerintah harus mempertahankan kemampuan untuk menjaga stabilitas domestik.

Dengan demikian, persoalan yang dihadapi Teheran bukan hanya berapa banyak tentara atau anggota Garda Revolusi yang tersedia, tetapi bagaimana membagi kekuatan tersebut untuk menghadapi ancaman dari berbagai arah secara bersamaan.

Apabila aparat dalam jumlah besar ditempatkan untuk menghadapi ancaman eksternal, keamanan di wilayah domestik berpotensi menjadi lebih rentan. Sebaliknya, jika terlalu banyak personel dialihkan untuk menjaga kota-kota dan fasilitas dalam negeri, kapasitas pertahanan di wilayah strategis lainnya dapat berkurang.

Karena itulah, pembentukan batalion berbasis masyarakat dapat dipandang sebagai upaya pemerintah menciptakan lapisan pertahanan tambahan.

Meski demikian, masih banyak pertanyaan mengenai bagaimana 1.000 Batalion Perlawanan Nasional tersebut akan dibentuk.

Belum jelas berapa jumlah anggota setiap batalion, jenis persenjataan yang akan diberikan, berapa lama pelatihan berlangsung, dan apakah seluruh anggotanya akan ditempatkan langsung di bawah komando Garda Revolusi atau Basij.

Yang terlihat jelas adalah meningkatnya kebutuhan pemerintah Iran untuk memperkuat sistem keamanan domestiknya.

Baku tembak selama hampir tujuh jam pada akhir pekan 12–13 September, serangan terhadap kendaraan aparat, laporan korban di kalangan personel keamanan, serta terbunuhnya seorang ulama yang dianggap dekat dengan pemerintah menunjukkan bahwa ancaman terhadap struktur keamanan Iran semakin serius.

Jika pola serangan tersebut berlanjut, pemerintah Iran kemungkinan harus mengerahkan sumber daya yang semakin besar untuk melindungi personel, tokoh agama, fasilitas pemerintah dan berbagai lokasi strategis.

Dengan kata lain, rencana pembentukan 1.000 Batalion Perlawanan Nasional bukan sekadar penambahan jumlah personel.

Langkah tersebut dapat menjadi indikasi bahwa pemerintah Iran sedang mempersiapkan diri menghadapi periode ketidakstabilan yang lebih panjang.

Kini perhatian tertuju pada apakah mobilisasi besar-besaran itu mampu memperkuat keamanan domestik, atau justru menjadi pertanda bahwa tekanan terhadap struktur keamanan Iran telah mencapai tingkat yang membuat Garda Revolusi dan Basij tidak lagi dianggap cukup untuk menangani seluruh ancaman yang muncul secara bersamaan. (***)

Selat Hormuz Meledak! AS dan Iran Saling Tuduh, Trump Tiba-Tiba Ungkap Teheran Ingin Damai

EtIndonesia.com  Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase yang sangat sensitif. Pada 14 September 2026, perkembangan terjadi hampir bersamaan di tiga jalur berbeda: keamanan pelayaran di Selat Hormuz, tekanan ekonomi terhadap jaringan keuangan Iran, serta munculnya kembali sinyal diplomasi dari Washington dan Teheran.

Situasi ini memperlihatkan sebuah kontradiksi besar. Di satu sisi, konfrontasi militer dan ekonomi semakin keras. Namun di sisi lain, kedua negara mulai memberikan sinyal bahwa jalan menuju meja perundingan belum sepenuhnya tertutup.

Salah satu perkembangan paling serius terjadi di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Pada Senin, 14 September 2026, Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menyampaikan versinya mengenai insiden yang melibatkan sebuah kapal tanker berbendera Panama bernama El Gaia, yang dalam sejumlah laporan juga ditulis sebagai Al-Ghaya atau Algaya.

Menurut IRGC, kapal tersebut memasuki atau berusaha menggunakan jalur yang dianggap berada dalam zona terlarang di sekitar Selat Hormuz. Iran mengklaim kapal itu kemudian menghantam ranjau laut sehingga mengalami ledakan dan kebakaran.

Teheran menyatakan pihaknya sebelumnya telah memperingatkan kapal-kapal komersial mengenai bahaya memasuki jalur pelayaran yang dianggap tidak sah atau tidak diizinkan tersebut.

Namun, Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM langsung membantah keras versi Iran.

Menurut CENTCOM, klaim bahwa El Gaia menghantam ranjau tidak benar. Militer Amerika Serikat justru menuduh pasukan Iran bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal tersebut. CENTCOM menyatakan kapal itu sebelumnya telah menjadi sasaran rudal Iran dan kemudian kembali diserang ketika berada di perairan sekitar Oman. Dengan demikian, Washington menilai pernyataan mengenai ranjau merupakan bagian dari perang informasi mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Selat Hormuz.

Laporan mengenai kondisi awak kapal semakin memperlihatkan seriusnya insiden tersebut. Kementerian Luar Negeri India dilaporkan menyatakan bahwa kapal membawa 14 awak berkewarganegaraan India. Sebanyak 13 orang berhasil diselamatkan, sementara satu orang dilaporkan belum ditemukan.

Perbedaan versi antara Iran dan Amerika Serikat ini sangat penting. Sebab, jika benar ranjau laut digunakan secara aktif di jalur pelayaran tersebut, ancamannya tidak hanya menyangkut Iran dan Amerika, tetapi juga kapal-kapal komersial internasional yang melewati kawasan itu.

Sebaliknya, jika tuduhan Washington benar bahwa kapal tersebut sengaja diserang oleh pasukan Iran, insiden itu dapat semakin memperkuat alasan Amerika Serikat untuk meningkatkan operasi militernya demi mengamankan pelayaran.

Ketegangan di kawasan Teluk juga tetap tinggi setelah serangkaian serangan Amerika terhadap aset maritim Iran dalam beberapa pekan terakhir. Pada 8 September 2026, misalnya, militer AS mengumumkan penghancuran lima tanker Iran sebagai balasan atas serangan rudal terhadap kapal perang Amerika. Salah satu kapal yang menjadi sasaran berada di dekat Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran yang sangat strategis.

Di tengah situasi militer yang semakin berbahaya tersebut, Washington pada 14 September 2026 membuka front tekanan lain, kali ini melalui sistem keuangan internasional.

Departemen Keuangan Amerika Serikat melalui Office of Foreign Assets Control atau OFAC menjatuhkan sanksi baru terkait Iran terhadap VTB Bank, salah satu lembaga keuangan terbesar Rusia.

Washington menuduh VTB terlibat membantu Iran menghindari sanksi, termasuk dengan membangun hubungan koresponden dengan lembaga keuangan Iran yang telah terkena pembatasan Amerika.

Menurut Departemen Keuangan AS, VTB juga mengambil langkah untuk membantu pemindahan miliaran dolar aset Iran yang dibekukan serta mengembangkan mekanisme penyelesaian transaksi menggunakan rekening dalam mata uang rubel Rusia dan rial Iran. Tujuannya disebut untuk memperbesar perdagangan dan hubungan ekonomi antara Moskow dan Teheran.

VTB sebenarnya bukan pemain baru dalam daftar sanksi Washington. Bank tersebut sebelumnya telah menjadi sasaran berbagai pembatasan Amerika berkaitan dengan Rusia, terutama setelah invasi besar-besaran Rusia terhadap Ukraina pada 2022.

Namun, keputusan 14 September 2026 memiliki arti berbeda karena VTB kini juga dikenai sanksi berdasarkan kewenangan yang berkaitan dengan sektor keuangan Iran.

Konsekuensinya dapat menjadi jauh lebih luas.

Lembaga keuangan asing yang melakukan transaksi tertentu dengan VTB kini menghadapi risiko tambahan terkait sanksi sekunder Amerika Serikat. Washington bahkan mendorong institusi keuangan yang masih berhubungan dengan bank Rusia tersebut untuk mempertimbangkan penghentian hubungan mereka.

Langkah tersebut menjadi bagian dari kampanye yang disebut Operation Economic Outcast, strategi Departemen Keuangan AS untuk semakin mengisolasi jaringan keuangan Iran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan bahwa Washington akan terus memburu pihak-pihak yang memberikan dukungan material, teknologi ataupun keuangan yang memungkinkan pemerintah Iran mempertahankan aktivitasnya.

Dengan strategi ini, tekanan Amerika tidak lagi hanya diarahkan kepada perusahaan atau bank Iran. Washington berusaha meningkatkan risiko bagi lembaga keuangan di negara ketiga yang membantu Teheran mempertahankan akses terhadap perdagangan internasional.

Menariknya, di tengah meningkatnya tekanan ekonomi dan ketegangan militer tersebut, muncul sinyal diplomasi yang cukup mengejutkan.

Pada 14 September 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington terbuka terhadap kemungkinan mencapai kesepakatan dengan Iran.

Dalam pernyataannya melalui Truth Social, Trump mengatakan bahwa Iran ingin mencapai kesepakatan dengan cepat. Ia kemudian menyatakan akan menentukan apakah Amerika Serikat akan kembali terlibat dalam proses tersebut, sambil menegaskan bahwa Washington pada prinsipnya terbuka terhadap kemungkinan perundingan.

Pernyataan Trump menjadi penting karena hubungan Washington dan Teheran selama lebih dari enam bulan terakhir telah didominasi konflik, sanksi, serangan militer dan perebutan kendali keamanan di kawasan Teluk.

Tidak lama berselang, dari pihak Iran juga muncul pernyataan yang menunjukkan bahwa pintu diplomasi belum tertutup.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan Teheran masih siap melakukan dialog dengan Amerika Serikat, termasuk mengenai program nuklir Iran. Namun, ia menetapkan sejumlah persyaratan penting.

Pezeshkian menegaskan bahwa pembicaraan mengenai program nuklir harus berlangsung dalam kerangka Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir atau NPT serta hukum internasional. Ia juga meminta Amerika Serikat mencabut sanksi, meninggalkan pendekatan unilateral, dan berhenti menggunakan kekuatan militer sebagai alat untuk menekan Iran dalam proses perundingan.

Dengan demikian, perkembangan 14 September 2026 menunjukkan dua wajah hubungan Amerika Serikat dan Iran yang berjalan secara bersamaan.

Di Selat Hormuz, kedua pihak masih saling menuduh dan aktivitas militer terus menciptakan risiko bagi pelayaran internasional. Di sektor ekonomi, Washington semakin memperketat tekanan dengan membidik bukan hanya institusi Iran, tetapi juga bank asing yang membantu Teheran mempertahankan jaringan keuangannya.

Namun di jalur diplomasi, baik Trump maupun Pezeshkian mulai memberikan sinyal bahwa perundingan masih mungkin dilakukan.

Pertanyaan terbesarnya sekarang adalah apakah tekanan ekonomi dan militer tersebut benar-benar akan mendorong lahirnya sebuah kesepakatan baru, atau justru membuat kedua negara semakin sulit membangun kepercayaan.

Sebab selama operasi militer terus berlangsung, sanksi semakin diperluas, dan kapal-kapal komersial masih menghadapi ancaman di sekitar Selat Hormuz, satu kesalahan perhitungan saja dapat kembali menutup pintu diplomasi yang baru mulai terbuka.

Karena itu, beberapa hari ke depan akan menjadi periode yang sangat menentukan. Jika Washington dan Teheran mampu mengubah sinyal politik menjadi pembicaraan nyata, peluang menuju deeskalasi dapat kembali muncul. Tetapi jika konfrontasi di Selat Hormuz kembali menelan korban atau berkembang menjadi serangan yang lebih besar, kawasan Teluk dapat memasuki babak eskalasi baru yang dampaknya tidak hanya dirasakan Iran dan Amerika Serikat, tetapi juga pasar energi serta perekonomian dunia. (***)

Arab Saudi Mengamuk! Houthi Dihujani Bom, Pangkalan King Khalid Dibalas dengan Puluhan Rudal!

EtIndonesia.com  Ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman memasuki fase yang semakin berbahaya. Dalam beberapa hari terakhir, kedua pihak saling melancarkan serangan dalam skala besar, mulai dari penggunaan rudal balistik dan drone hingga operasi udara yang menyasar berbagai wilayah di Yaman.

Eskalasi terbaru terjadi pada 14 September 2026, ketika kelompok Houthi mengumumkan telah melancarkan serangan besar terhadap Pangkalan Udara King Khalid di Khamis Mushait, Arab Saudi bagian selatan. Pangkalan tersebut merupakan salah satu fasilitas militer penting yang digunakan untuk mendukung operasi udara Saudi.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan operasi tersebut melibatkan puluhan rudal balistik dan pesawat nirawak atau drone. Menurut klaim Houthi, sasaran serangan mencakup hanggar pesawat tempur, fasilitas radar, landasan pacu, gudang amunisi, serta infrastruktur militer lainnya.

Houthi mengklaim serangannya mengenai sasaran secara langsung dan menimbulkan kerugian besar. Namun, hingga laporan mengenai serangan tersebut muncul pada 14 September, belum ada konfirmasi independen mengenai skala kerusakan di Pangkalan King Khalid. Otoritas Saudi juga belum memberikan konfirmasi terperinci mengenai klaim kerusakan yang disampaikan Houthi.

Houthi mengatakan serangan itu merupakan balasan terhadap peningkatan operasi udara Arab Saudi di Yaman. Kelompok tersebut mengeklaim pesawat tempur F-15 dan Eurofighter Typhoon Saudi telah melakukan lebih dari 300 serangan udara dalam lima hari sebelumnya di berbagai wilayah Yaman.

Pernyataan itu sekaligus menunjukkan betapa cepatnya konflik meningkat. Pada 8 September 2026, misalnya, otoritas Saudi menyatakan sedikitnya 73 warga sipil terluka akibat serangkaian serangan Houthi yang mengenai lokasi sipil dan fasilitas ekonomi di Abha, Khamis Mushait, Jizan, dan Najran.

Saudi kemudian meningkatkan operasi militernya di Yaman. Serangan udara dilaporkan berlangsung di sejumlah provinsi, termasuk Taiz, Hodeidah, Marib, Al-Jawf dan wilayah lain yang menjadi medan pertempuran antara Houthi dengan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Riyadh.

Pada 14 September 2026, laporan dari Yaman menyebut serangan udara telah menyasar posisi Houthi di sedikitnya enam provinsi. Pada saat bersamaan, pasukan pemerintah Yaman mengatakan mereka berhasil merebut kembali sejumlah posisi di bagian barat Provinsi Taiz dan melanjutkan pergerakan menuju wilayah baru.

Pertempuran ini semakin penting karena tidak lagi semata-mata menyangkut perebutan wilayah di dalam Yaman. Salah satu pusat konflik sekarang berada di sekitar Selat Bab al-Mandeb, jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu koridor pelayaran strategis dunia.

Pada 10 September 2026, Houthi merebut kota pelabuhan Mocha di pesisir Laut Merah. Sehari kemudian, pada 11 September, kelompok tersebut memperluas kendalinya menuju Dhubab dan Pulau Perim atau Mayun yang berada tepat di kawasan Bab al-Mandeb. Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran internasional.

Dalam perkembangan lain, muncul laporan mengenai keberadaan Abdolreza Shahlai, tokoh senior Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC, di balik operasi Houthi.

Sejumlah sumber pemerintah Yaman menyebut Shahlai sebagai salah satu tokoh yang mengarahkan operasi Houthi di sepanjang pesisir Laut Merah. Laporan mengenai keberadaannya menjadi perhatian karena ia selama bertahun-tahun dikaitkan dengan dukungan militer dan keuangan Iran kepada Houthi. Namun, laporan mengenai foto terbaru Shahlai yang beredar serta dugaan bahwa identitas atau keberadaannya sengaja dibocorkan oleh pihak tertentu di dalam Iran belum dapat dipastikan secara independen.

Hubungan Iran dengan Houthi sendiri bukanlah sesuatu yang baru. Iran selama bertahun-tahun dikenal sebagai pendukung utama kelompok tersebut. Akan tetapi, Houthi juga memiliki kepentingan dan struktur pengambilan keputusan sendiri sehingga tidak setiap tindakan kelompok itu dapat secara otomatis dianggap sebagai perintah langsung dari Teheran.

Di tengah pertempuran tersebut, tekanan terhadap Arab Saudi semakin berat setelah infrastruktur energinya ikut menjadi sasaran.

Serangan drone yang dikaitkan dengan kelompok bersenjata yang beroperasi dari Irak menyebabkan kerusakan serius pada jaringan pipa minyak East-West Arab Saudi, jalur strategis yang memungkinkan minyak dari kawasan timur kerajaan dialirkan menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah tanpa harus melewati Selat Hormuz.

Pada 15 September 2026, laporan terbaru menyebut perbaikan jaringan tersebut diperkirakan membutuhkan sekitar tiga hingga lima minggu. Gangguan itu menjadi sangat sensitif karena pipa East-West dapat mengangkut jutaan barel minyak per hari dan memiliki arti strategis ketika jalur ekspor melalui Selat Hormuz berada di bawah tekanan.

Situasi ini membuat konflik Yaman memiliki konsekuensi yang jauh lebih luas. Jika jalur Hormuz terganggu sementara keamanan Bab al-Mandeb dan jaringan pipa menuju Laut Merah juga terancam, maka kemampuan negara-negara Teluk untuk mengalihkan ekspor energi menghadapi tekanan dari beberapa arah sekaligus.

Arab Saudi karena itu mulai mengandalkan kekuatan udaranya secara lebih intensif. Riyadh memiliki armada pesawat tempur modern, terutama F-15 dan Eurofighter Typhoon, ditambah persenjataan berpemandu presisi dalam jumlah besar.

Pada saat bersamaan, kerajaan tersebut juga sedang memperkuat kemampuan pesawat nirawak. Salah satu program yang menjadi perhatian adalah pengadaan drone tempur berat Bayraktar AKINCI buatan Turki. Laporan pada 14 September menyebut sekitar 60 unit dikaitkan dengan tahap awal pengadaan Saudi dan pengiriman dilaporkan telah dimulai. AKINCI mampu membawa muatan hingga sekitar 1.500 kilogram dan dapat menjalankan misi pengintaian maupun serangan jarak jauh.

Ada pula perkembangan yang cukup menarik mengenai persenjataan rudal Arab Saudi.

Foto puing rudal yang beredar dari Yaman pada September 2026 disebut memiliki kemiripan dengan DF-15A buatan Tiongkok. Apabila identifikasi tersebut benar, peristiwa ini berpotensi menjadi salah satu indikasi pertama penggunaan rudal balistik jenis itu oleh Arab Saudi dalam pertempuran.

Namun, identifikasi tersebut masih berdasarkan analisis sumber terbuka. Kepemilikan dan penggunaan DF-15A oleh Arab Saudi dalam serangan tersebut belum dikonfirmasi secara resmi oleh Riyadh maupun Beijing. Karena itu, informasi ini harus diperlakukan sebagai temuan awal, bukan fakta yang sudah dipastikan.

Di tingkat diplomatik, Riyadh juga berusaha memperkuat dukungan dari mitra internasional. Pada 14 September 2026, Putra Mahkota Mohammed bin Salman bertemu dengan Komandan Komando Pusat Amerika Serikat, Laksamana Brad Cooper, di Jeddah untuk membahas perkembangan keamanan regional.

Washington dilaporkan belum bersedia melakukan serangan langsung terhadap Houthi, tetapi Amerika Serikat memberikan dukungan berupa pertukaran intelijen dan bantuan penentuan sasaran kepada Arab Saudi.

Hubungan pertahanan Riyadh dengan Inggris juga semakin diperkuat. Pemerintahan Perdana Menteri Inggris Andy Burnham sebelumnya telah menyatakan niat meningkatkan kerja sama pertahanan dengan Arab Saudi dan menunjuk Air Chief Marshal Sir Harv Smyth sebagai utusan pertahanan Inggris untuk kerajaan tersebut.

Dengan demikian, pertempuran yang berlangsung pada pertengahan September 2026 bukan lagi sekadar babak baru dalam perang saudara Yaman.

Konflik tersebut kini bersinggungan langsung dengan persaingan Iran-Arab Saudi, keamanan infrastruktur minyak, keselamatan pelayaran di Laut Merah, serta stabilitas dua jalur energi terpenting dunia: Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb.

Serangan Houthi terhadap Pangkalan King Khalid pada 14 September memperlihatkan bahwa kelompok itu masih memiliki kemampuan menyerang jauh ke wilayah Arab Saudi. Sebaliknya, meningkatnya operasi udara Riyadh menunjukkan bahwa Arab Saudi juga mulai meninggalkan sikap relatif menahan diri yang dijalankannya setelah meredanya perang besar Yaman sejak gencatan senjata 2022.

Kini pertanyaan terbesarnya adalah apakah serangan-serangan tersebut akan memaksa kedua pihak kembali ke meja perundingan, atau justru membuka fase perang baru yang lebih luas.

Sebab, apabila pertempuran terus meningkat dan serangan terhadap fasilitas energi serta jalur pelayaran semakin sering terjadi, dampaknya tidak akan berhenti di Yaman dan Arab Saudi. Efeknya berpotensi menjalar ke harga minyak, perdagangan internasional, dan keamanan seluruh kawasan Timur Tengah.

Drama di Perbatasan NATO! Kereta Tokoh Barat Lewat, Tak Lama Kemudian Drone Rusia Menyerang

EtIndonesia.com  Ketegangan antara Rusia dan negara-negara NATO kembali meningkat setelah sebuah serangan drone Rusia menghantam jalur kereta api Ukraina hanya sekitar dua kilometer dari perbatasan Polandia. Insiden yang terjadi pada Minggu, 13 September 2026, itu menjadi perhatian besar karena berlangsung tidak lama setelah sebuah kereta yang membawa sejumlah tokoh senior Barat melintasi kawasan yang sama.

Serangan tersebut terjadi di sekitar Yahodyn, wilayah Volyn, Ukraina barat, dekat pos perbatasan Yahodyn-Dorohusk yang menghubungkan Ukraina dengan Polandia. Sebuah drone Rusia menghantam lokomotif kereta penumpang yang berada di kawasan tersebut. Beruntung, para penumpang telah dievakuasi sehingga tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dari kereta yang terkena serangan.

Namun, yang membuat insiden ini jauh lebih sensitif adalah waktunya.

Tidak lama sebelum serangan terjadi, sebuah kereta diplomatik yang membawa mantan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, mantan Perdana Menteri Swedia Carl Bildt, serta sejumlah penasihat keamanan Eropa telah melintasi Yahodyn dalam perjalanan menuju Polandia. Kereta tersebut dilaporkan berangkat lebih awal dari jadwal karena pertimbangan keamanan.

Bahkan, mantan Direktur CIA sekaligus mantan komandan pasukan Amerika Serikat di Irak dan Afghanistan, David Petraeus, dilaporkan masih berada di kawasan stasiun Yahodyn dengan kereta lain ketika serangan berlangsung.

Operator kereta api Ukraina, Ukrzaliznytsia, kemudian menyatakan ada kemungkinan drone Rusia sebenarnya membidik kereta diplomatik tersebut. Namun, sejauh ini belum terdapat bukti independen yang memastikan bahwa Moskow secara sengaja berusaha menyerang atau membunuh para pejabat Barat itu.

Carl Bildt sendiri mengatakan bahwa kereta yang terkena serangan bukanlah kereta yang ditumpanginya. Rombongannya telah melewati kawasan tersebut beberapa menit sebelumnya.

Peristiwa ini langsung memicu kekhawatiran serius di Polandia.

Pada 13 September 2026, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk menggelar pertemuan darurat bersama pejabat keamanan, pertahanan, dan intelijen negaranya. Tusk memperingatkan bahwa peningkatan serangan Rusia di wilayah barat Ukraina kini semakin mendekati wilayah Polandia.

Menurut Tusk, beberapa pekan dan bulan mendatang berpotensi menjadi periode aktivitas Rusia yang sangat intensif. Warsawa karena itu tidak dapat sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan bahwa eskalasi perang pada akhirnya juga akan berdampak terhadap wilayah Polandia.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan.

Yahodyn berada sangat dekat dengan wilayah Polandia, yang merupakan anggota NATO. Artinya, setiap kesalahan navigasi, kegagalan sistem, atau perluasan serangan beberapa kilometer saja berpotensi menciptakan insiden langsung antara Rusia dan negara anggota aliansi militer tersebut.

Kementerian Pertahanan Rusia sendiri mengakui bahwa pasukannya melakukan serangan terhadap infrastruktur kereta api di Ukraina barat pada 13 September. Moskow mengklaim jaringan tersebut digunakan untuk mengangkut bantuan dan perlengkapan militer dari negara-negara Eropa menuju Ukraina.

Namun serangan terhadap sebuah kereta penumpang, ditambah keberadaan sejumlah tokoh Barat di jalur yang sama, memunculkan pertanyaan lebih besar: apakah Rusia sedang meningkatkan tekanan terhadap NATO?

Belum ada bukti bahwa Presiden Vladimir Putin berniat membuka perang langsung dengan NATO. Langkah seperti itu akan membawa risiko luar biasa besar bagi Rusia maupun Eropa.

Namun terdapat kekhawatiran bahwa Moskow sedang berusaha menguji seberapa jauh NATO bersedia mentoleransi operasi Rusia yang semakin mendekati perbatasannya.

Serangan 13 September menjadi semakin menarik karena Boris Johnson, Carl Bildt, dan sejumlah pejabat serta pakar keamanan Barat baru saja menghadiri pertemuan tahunan Yalta European Strategy atau YES di Kyiv.

Dalam forum tersebut, salah satu isu yang dibahas adalah kondisi internal Rusia.

Wakil Kepala Direktorat Intelijen Utama Kementerian Pertahanan Ukraina, Vadym Skibitsky, mengatakan bahwa intelijen Ukraina mengidentifikasi sedikitnya dua kelompok di lingkungan elite Rusia yang memiliki pandangan berbeda mengenai kelanjutan perang.

Menurut Skibitsky, terdapat kelompok yang mendukung kelanjutan perang, sementara kelompok lainnya memiliki kepentingan berbeda mengenai bagaimana konflik harus diakhiri. Intelijen Ukraina juga memantau penurunan dukungan terhadap partai-partai yang berafiliasi dengan pemerintah Rusia.

Skibitsky bahkan menilai Putin memperhatikan dengan serius ancaman yang mungkin muncul dari dalam negeri, termasuk pengaruh kelompok oligarki dan risiko ketidakstabilan internal.

Namun informasi tersebut berasal dari intelijen Ukraina dan harus dipahami dalam konteks perang informasi yang berlangsung bersamaan dengan konflik militer. Belum tersedia bukti independen yang menunjukkan bahwa pemerintahan Putin saat ini benar-benar berada di ambang keruntuhan.

Di tengah situasi tersebut, kemungkinan pembicaraan mengenai penghentian serangan terhadap infrastruktur penting juga mulai mendapat perhatian.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan Ukraina siap menghentikan serangan terhadap wilayah Rusia apabila Moskow juga menghentikan serangan terhadap infrastruktur kritis Ukraina. Dengan demikian, serangan terhadap jaringan kereta api dan fasilitas penting menjelang pembicaraan lebih lanjut dapat memiliki konsekuensi politik sekaligus militer.

Sementara itu, Polandia menunjukkan bahwa Warsawa tidak ingin terlihat gentar.

Pada 13 September 2026, Menteri Luar Negeri Polandia Radosław Sikorski menyampaikan salah satu peringatan paling keras kepada Rusia. Sikorski mengatakan bahwa apabila Rusia menyerang Polandia dan NATO benar-benar melepaskan seluruh kemampuan militernya, Rusia akan menghadapi kekuatan yang jauh berbeda dibandingkan dengan Ukraina.

Menurut Sikorski, NATO memiliki keunggulan besar dalam kekuatan udara.

Ia kemudian menggunakan kampanye Ukraina terhadap industri minyak Rusia sebagai gambaran mengenai potensi kemampuan negara-negara NATO. Sikorski mengatakan bahwa jika Ukraina mampu melumpuhkan sebagian besar kapasitas penyulingan minyak Rusia dalam waktu berbulan-bulan, negara-negara NATO secara teoritis dapat memberikan kerusakan yang jauh lebih besar dalam waktu lebih singkat.

Pernyataan tersebut bukan pengumuman rencana serangan Polandia terhadap Rusia, melainkan peringatan mengenai konsekuensi yang akan dihadapi Moskow apabila benar-benar menyerang wilayah NATO.

Polandia sendiri telah meningkatkan anggaran pertahanannya secara besar-besaran dalam beberapa tahun terakhir dan menjadi salah satu negara Eropa yang paling agresif memperkuat kekuatan militernya sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.

Karena itu, serangan di Yahodyn pada 13 September 2026 memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar rusaknya sebuah lokomotif.

Serangan itu terjadi hanya sekitar dua kilometer dari wilayah NATO, mengenai salah satu jalur utama yang menghubungkan Ukraina dengan Eropa, dan berlangsung tidak lama setelah sejumlah tokoh penting Barat melewati lokasi yang sama.

Apakah kereta yang membawa Boris Johnson dan rombongan benar-benar menjadi sasaran Rusia masih belum dapat dipastikan.

Tetapi satu hal semakin jelas: ruang geografis yang memisahkan perang Rusia-Ukraina dari wilayah NATO semakin sempit.

Moskow tampaknya ingin menunjukkan bahwa jalur logistik di Ukraina barat tidak kebal terhadap serangan, bahkan ketika berada sangat dekat dengan perbatasan NATO. Sebaliknya, Polandia berusaha mengirim pesan bahwa setiap serangan yang benar-benar melewati batas wilayahnya akan menghadapi respons yang sama sekali berbeda.

Kini pertanyaan terbesarnya bukan hanya apakah Rusia akan terus meningkatkan tekanan terhadap Ukraina.

Pertanyaannya adalah: seberapa jauh Moskow berani mendekati garis merah NATO sebelum sebuah kesalahan perhitungan mengubah perang Ukraina menjadi krisis keamanan yang jauh lebih besar di Eropa?

Serangan Yahodyn mungkin belum melewati garis tersebut.

Namun pada 13 September 2026, Rusia kembali menunjukkan betapa dekatnya perang itu dengan perbatasan NATO—hanya sekitar dua kilometer. (***)

Krisis Iran Makin Dalam: Warga Berutang untuk Membeli Roti, Blogger 33 Tahun Dijatuhi Hukuman Mati

EtIndonesia.com — Tekanan ekonomi yang semakin berat dan meningkatnya tindakan represif terhadap suara kritis kembali menempatkan Iran dalam sorotan. Di satu sisi, masyarakat berpenghasilan rendah menghadapi kenaikan harga yang membuat kebutuhan paling mendasar, termasuk roti, semakin sulit dijangkau. Di sisi lain, kasus seorang blogger perempuan berusia 33 tahun yang dijatuhi hukuman mati memunculkan kembali pertanyaan mengenai ruang kebebasan berekspresi di negara tersebut.

Laporan yang diterbitkan Iran International pada 13 dan 14 September 2026, dengan mengutip laporan media buruh Iran ILNA serta kesaksian warga, menggambarkan memburuknya kondisi kehidupan di sejumlah kawasan Teheran. Warga disebut semakin sering meminta izin kepada pemilik toko untuk membeli bahan makanan secara kredit. Bukan barang mewah yang mereka beli dengan berutang, melainkan kebutuhan sehari-hari seperti bahan pangan, daging, dan bahkan roti.

Situasi ini memperlihatkan bagaimana inflasi dan melemahnya daya beli telah menjalar hingga ke kebutuhan paling dasar masyarakat.

Seorang pemilik supermarket menggambarkan dilema yang kini dihadapi para pedagang. Banyak pelanggan datang meminta agar pembayaran ditunda karena mereka tidak mempunyai cukup uang. Namun pemilik toko juga tidak mampu terus memberikan kredit.

Masalahnya sederhana tetapi serius: barang yang dijual hari ini bisa memiliki harga grosir lebih tinggi keesokan harinya. Jika terlalu banyak barang diberikan secara kredit dan pembayaran pelanggan terlambat, pedagang kehilangan modal untuk membeli stok pengganti.

Akibatnya, pemandangan yang semakin sering terlihat adalah orang-orang masuk ke toko, bertanya mengenai harga sebuah barang, lalu pergi tanpa membawa apa pun.

Di sejumlah tempat bahkan mulai muncul pengumuman yang meminta pelanggan tidak lagi mengajukan pembelian secara utang. Kondisi serupa dilaporkan terjadi di toko daging hingga toko roti. Seorang tukang roti mengaku masih memberikan roti secara kredit kepada sebagian pelanggan karena memahami keadaan ekonomi mereka, meskipun sejumlah utang sebelumnya belum mampu dilunasi.

Harga Melonjak, Pendapatan Tertinggal

Tekanan tersebut semakin terasa karena pendapatan masyarakat tidak meningkat secepat harga kebutuhan hidup.

Menurut laporan 14 September 2026, upah minimum dasar bulanan Iran berada di kisaran 166,3 juta rial, atau sekitar 72 dolar AS berdasarkan nilai tukar pasar terbuka pada saat laporan diterbitkan. Pada saat bersamaan, kenaikan harga pangan terus menggerus kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Salah satu kesaksian warga memberikan gambaran yang sangat jelas.

Harga satu merek tuna kalengan disebut meningkat dari 1,7 juta rial menjadi 2,5 juta rial hanya dalam waktu sekitar satu bulan. Beberapa minggu kemudian, harganya kembali naik menjadi sekitar 2,9 juta rial.

Biaya pendidikan anak pun semakin memberatkan keluarga. Sebuah tas sekolah dilaporkan berharga sekitar 20 juta rial, setara dengan kira-kira 12 persen dari upah minimum dasar bulanan. Belum termasuk makanan sekolah, transportasi, perlengkapan belajar, serta biaya pendidikan lainnya.

Tekanan serupa dialami para pemilik usaha kecil.

Seorang pemilik toko produk susu mengatakan harga barang telah meningkat setidaknya dua kali lipat dalam setahun, sementara volume penjualannya turun menjadi sekitar seperempat dibandingkan sebelumnya. Tagihan listrik tokonya juga melonjak dari sekitar 4 juta rial menjadi 18 juta rial.

Persoalannya menjadi seperti lingkaran yang sulit diputus.

Harga barang naik sehingga konsumen mengurangi pembelian. Penjualan menurun sehingga pedagang kehilangan pemasukan. Pada saat bersamaan, biaya listrik, pengadaan barang, dan operasional terus meningkat.

Barang baru datang ketika stok lama bahkan belum habis terjual.

Antre Membeli Sisa Potongan Ayam

Salah satu gambaran paling memprihatinkan datang dari kawasan selatan Teheran.

Menurut laporan ILNA yang dikutip Iran International, keberadaan warga yang mencari sisa makanan di tempat sampah di luar toko disebut semakin terlihat. Di sebuah toko, warga dilaporkan mengantre untuk membeli karkas dan sisa potongan ayam, yang tentunya lebih murah dibandingkan membeli daging ayam dalam kondisi normal.

Roti, yang selama ini menjadi salah satu makanan paling mendasar bagi masyarakat Iran, juga semakin mahal. Pada 14 September, seorang pejabat organisasi buruh mengatakan bahwa pada masa sebelumnya seorang pekerja setidaknya masih dapat mengandalkan roti dan keju sebagai makanan murah. Kini, menurutnya, bahkan kombinasi sederhana tersebut semakin sulit dijangkau sebagian pekerja.

Tekanan tidak berasal dari satu faktor saja. Iran selama bertahun-tahun menghadapi inflasi tinggi dan depresiasi mata uang, sementara perekonomiannya juga dibebani sanksi internasional, pembatasan perdagangan dan keuangan, dampak konflik, berkurangnya investasi, serta persoalan pengelolaan ekonomi domestik.

Analis politik-ekonomi Mohsen Modir-Shanechi mengatakan tekanan finansial berkepanjangan dapat secara bertahap melemahkan suatu negara sampai institusi ekonomi dan politik mulai mengalami keretakan dari dalam. Ia membandingkan tekanan semacam itu dengan pengalaman sejumlah negara pada masa lalu, termasuk Uni Soviet. Namun, perbandingan tersebut merupakan analisis, bukan bukti bahwa pemerintahan Iran pasti akan runtuh dalam waktu dekat.

Di tengah kondisi ekonomi inilah muncul persoalan lain yang tak kalah serius: meningkatnya tekanan terhadap mereka yang mengkritik pemerintah.

Blogger Perempuan 33 Tahun Dijatuhi Hukuman Mati

Pada 12 September 2026, Iran International melaporkan bahwa Marziyeh “Sevda” Ebrahimi Shamsabadi, seorang blogger berusia 33 tahun yang tinggal di Bandar Abbas, telah dijatuhi hukuman mati oleh Cabang 3 Pengadilan Revolusi Bandar Abbas. Ia telah ditahan sejak Maret 2026.

Nama perempuan dalam laporan awal yang beredar terkadang ditulis secara berbeda. Berdasarkan laporan terbaru Iran International, identitas yang digunakan adalah Marziyeh “Sevda” Ebrahimi Shamsabadi.

Menurut informasi yang diperoleh Iran International, dakwaan terhadap Shamsabadi mencakup penghinaan terhadap pemimpin tertinggi Iran, aktivitas media dan propaganda yang dianggap mengancam keamanan nasional, kegiatan intelijen atau keamanan untuk pemerintah yang dianggap bermusuhan, serta mengambil dan mengirimkan foto kepada media berbahasa Persia di luar Iran.

Selain hukuman mati, pengadilan dilaporkan menjatuhkan hukuman penjara tambahan antara dua hingga lima tahun, pembatasan terhadap sejumlah layanan pemerintah, serta penyitaan aset.

Pengacaranya disebut menerima pemberitahuan mengenai vonis mati tersebut pada 23 Agustus 2026.

Shamsabadi juga dilaporkan menjalani 20 hari di sel isolasi dan menghadapi tekanan berat selama pemeriksaan. Selama periode tersebut, keluarganya disebut tidak mendapatkan informasi mengenai lokasi penahanan maupun kondisinya.

Kasusnya kemudian menjadi perhatian lebih luas karena aktivitas media sosial yang ia lakukan sebelum ditangkap.

Dalam berbagai unggahannya, Shamsabadi secara terbuka menyinggung kekerasan dan korban yang menurutnya terjadi dalam gelombang pergolakan di Iran. Salah satu tuduhan terhadapnya juga berkaitan dengan pengambilan foto sebuah lokasi yang terkena serangan rudal dan pengiriman gambar tersebut kepada media Persia di luar negeri.

Pesan Terakhir Sebelum Penangkapan

Bagian paling emosional dari kisah ini muncul dari unggahan Instagram terakhir Shamsabadi sebelum penahanannya.

Pada 23 Februari 2026, beberapa hari sebelum periode penahanannya dimulai, ia mengunggah sebuah gambar berlatar hitam yang menampilkan seekor merpati dan mawar merah.

Kepada sekitar 10.000 pengikutnya, ia meninggalkan pesan yang menunjukkan bahwa dirinya telah menyadari risiko dari jalan yang dipilihnya.

Ia menulis bahwa apabila suatu hari dirinya meninggalkan dunia ini, orang-orang harus mengetahui satu hal: ia telah memilih jalan yang diyakininya.

Beberapa minggu kemudian, ia berada dalam tahanan.

Berbulan-bulan setelah itu, keluarganya dan publik menerima kabar bahwa perempuan berusia 33 tahun tersebut menghadapi hukuman mati.

Kasus Shamsabadi dengan demikian menjadi bagian dari gambaran yang jauh lebih luas mengenai Iran pada 2026: tekanan ekonomi di jalanan berjalan beriringan dengan meningkatnya kekhawatiran mengenai represi politik.

Di pasar, masyarakat menghitung kembali uang mereka sebelum membeli telur, susu, daging, atau roti. Sebagian terpaksa meminta utang. Sebagian lainnya pulang dengan tangan kosong. Di ruang digital, mereka yang menyuarakan kritik menghadapi risiko hukum yang sangat berat.

Belum dapat dipastikan apakah tekanan ekonomi dan sosial tersebut akan benar-benar membawa Iran menuju perubahan politik besar atau bahkan keruntuhan pemerintahan. Pernyataan seperti itu tetap merupakan prediksi dan harus diperlakukan dengan hati-hati.

Namun satu hal terlihat jelas dari laporan yang muncul pada 13–14 September 2026: tekanan terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat Iran telah mencapai tingkat yang semakin sulit diabaikan.

Ketika roti mulai dibeli dengan utang, warga mengantre untuk memperoleh sisa potongan ayam, pedagang tidak mampu mengganti stok, dan seorang perempuan muda menghadapi hukuman mati setelah menyampaikan pandangannya kepada publik, krisis Iran tidak lagi hanya dapat dibaca melalui angka inflasi atau nilai tukar.

Krisis itu kini terlihat langsung dalam kehidupan manusia.

Dan mungkin, pertanyaan terbesar bukan sekadar seberapa lama perekonomian Iran mampu bertahan, melainkan seberapa lama masyarakatnya sanggup menanggung tekanan ekonomi dan politik yang datang secara bersamaan. (***)

Penelitian Menunjukkan Minuman Terlalu Panas Meningkatkan Risiko Kanker Kerongkongan, Seberapa Panas yang Terlalu Panas? 

EtIndonesia.com  Sebuah penelitian di Inggris yang melibatkan hampir satu juta orang menemukan bahwa mereka yang sering minum teh atau kopi yang terlalu panas memiliki risiko terkena kanker kerongkongan sekitar tiga kali lebih tinggi dibandingkan orang lain. Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Cancer ini menarik perhatian karena jumlah peserta yang sangat besar.

Para peneliti dari Oxford University Population Health menganalisis data 977.282 orang dewasa, termasuk kebiasaan mereka mengkonsumsi minuman panas—apakah mereka menyukai minuman hangat, panas, atau sangat panas—serta jumlah cangkir teh dan kopi yang mereka minum setiap hari. Para peneliti juga menganalisis data kesehatan peserta selama lebih dari satu dekade berdasarkan catatan National Health Service (NHS) Inggris.

Selama periode penelitian, sebanyak 2.348 peserta didiagnosis menderita kanker kerongkongan. Dibandingkan dengan mereka yang minum minuman “hangat”, orang yang minum minuman “sangat panas” memiliki risiko kanker kerongkongan tiga kali lebih tinggi. 

Orang yang menyukai minuman “panas” juga memiliki risiko lebih tinggi, tetapi peningkatannya jauh lebih rendah dibandingkan mereka yang menyukai minuman “sangat panas”. Selain itu, orang yang minum enam cangkir atau lebih teh atau kopi panas setiap hari memiliki peningkatan risiko kanker yang signifikan.

Kanker kerongkongan memiliki dua jenis utama, yaitu karsinoma sel skuamosa dan adenokarsinoma. Penelitian baru ini hanya menemukan hubungan antara karsinoma sel skuamosa dan konsumsi minuman yang sangat panas, sedangkan adenokarsinoma tampaknya tidak terpengaruh.

Penelitian ini tidak mengukur secara langsung suhu minuman yang diminum para peserta. Lalu, seberapa panas yang disebut “sangat panas”?

Para peneliti mendefinisikan minuman dengan suhu 149°F atau 65°C ke atas sebagai “sangat panas”. Batas ini juga merupakan standar yang secara umum diakui dalam penelitian medis. Pada tahun 2016, Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) mengklasifikasikan konsumsi minuman dengan suhu di atas 65°C sebagai sesuatu yang “mungkin bersifat karsinogenik bagi manusia”.

Namun, orang yang menyukai minuman panas tidak perlu panik. Pertama, faktor risiko yang jauh lebih besar terhadap kanker kerongkongan adalah merokok dan konsumsi alkohol, yang merupakan dua faktor risiko utama.

Pesan utama dari penelitian baru ini adalah: perlambat sebentar sebelum meminum sesuatu yang masih sangat panas dan biarkan minuman sedikit mendingin. Seperti yang disarankan oleh Cancer Research UK, yang mendanai penelitian ini, “tunggu hingga minuman mencapai suhu yang nyaman untuk diminum” sebelum menikmatinya secara perlahan.

Kebiasaan kecil ini dapat membantu menjaga kesehatan Anda.

Xu Rui/NTDTV.com

Piramida Menyimpan Kode Matematika? Penelitian : Kode Arsitektur Sistem Kosmik 

EtIndonesia. com  Piramida Mesir merupakan salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia. Misteri yang menyelimutinya selama ini terus membingungkan para arkeolog dan ilmuwan. Pada akhir Agustus tahun ini, sebuah makalah penelitian menunjukkan bahwa beberapa ukuran tertentu pada piramida ternyata mengarah pada suatu sistem angka yang selaras dengan kalender serta periode pergerakan Bulan dan planet.

Platform pracetak penelitian ilmu sosial terkemuka dunia yang dapat diakses secara terbuka, Social Science Research Network (SSRN), pada 26 Agustus mempublikasikan sebuah makalah yang ditulis oleh peneliti independen Sefy Levy. 

Dalam makalah tersebut, ia menyatakan bahwa ukuran-ukuran tertentu pada bagian luar Piramida Agung, seperti tinggi, panjang dasar, sisi miring, dan bentuknya, berkaitan dengan kalender dan astronomi, yang disebutnya sebagai kode arsitektur sistem kosmik.

Menurutnya, semua itu dibuat untuk melestarikan pemahaman bangsa Mesir mengenai matematika dan waktu. Dalam makalah penelitiannya yang diterbitkan pada Agustus berjudul The Pyramid as Memory Hypothesis (Hipotesis Piramida sebagai Memori), ia menulis, “Piramida tidak bertahan selamanya karena menyimpan harta karun, melainkan karena piramida itu sendiri sangat berharga.”

Ia menyebut piramida sebagai pengetahuan yang dicetak dalam batu. Ia menulis, “Pengetahuan yang dirasakan oleh generasi demi generasi pengunjung di ruang-ruang piramida yang kosong sebenarnya tidak tersembunyi di dalamnya, melainkan berada pada bentuk yang mereka tempati itu sendiri. Piramida bukanlah wadah pengetahuan; piramida itu sendiri adalah pengetahuan, pengetahuan yang ditulis dalam batu.”

Daily Mail melaporkan bahwa Levy meneliti ukuran-ukuran utama Piramida Agung dan menggunakan pecahan yang digunakan oleh bangsa Mesir kuno dalam perhitungannya, lalu menemukan apa yang disebutnya sebagai “kode”.

Ia mengatakan bahwa hasil perhitungan menghasilkan sejumlah angka yang sangat penting. Misalnya, salah satu perhitungan menghasilkan angka 27,5, yang sangat dekat dengan periode 27,55 hari, yaitu waktu yang dibutuhkan Bulan ketika berada di titik terdekat dengan Bumi (perigee). 

Perhitungan lainnya menghasilkan 364,840 hari, yang selisihnya dengan satu tahun yang terdiri dari 365 hari hanya sekitar 0,044%. Levy memperkirakan bahwa angka 70 lainnya mungkin merujuk pada periode ketika Sirius tidak terlihat.

Ia juga mengatakan bahwa hasil perhitungan lainnya sangat sesuai dengan perubahan periodik planet-planet lain, seperti Venus dan Jupiter. Selain itu, perbandingan proporsi piramida itu sendiri juga disebut memiliki kemiripan dengan angka-angka seperti π (pi) dan rasio emas (golden ratio).

Levy menyatakan bahwa menurutnya piramida mungkin berkaitan dengan suatu teori penciptaan. Ia juga mengemukakan bahwa piramida mungkin dibangun dengan meniru tempat tinggal para leluhur bangsa Mesir kuno.

Situs Zhengjian pernah menerbitkan pada 2013 sebuah serial artikel panjang berjudul “Perjalanan Takdir Suci: Kerajaan Langit dan Piramida” (一路聖緣:摩天國與金字塔). Artikel tersebut secara rinci menceritakan sebuah kisah mengenai pembangunan piramida pada zaman kuno, sekaligus menawarkan sudut pandang penelitian lain yang berbeda bagi para ilmuwan.

Reporter Kim Hong, diterjemahkan dan dilaporkan / Editor Li Quan

Ada Masalah dengan Xi di KTT BRICS? Modi Dua Kali Bertanya kepada Xi: “Apakah Baik-Baik Saja?”

Pada 12 September, KTT BRICS di India dibuka. Saat Perdana Menteri India Narendra Modi memberikan pidato, ia tiba-tiba menyadari bahwa pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping tampaknya mengalami suatu kondisi. Modi menghentikan pidatonya dan dua kali bertanya kepadanya, “Apakah Baik-baik saja?” Adegan tersebut kemudian viral di internet dan menarik perhatian publik.

EtIndonesia.com  Menurut laporan media India, pada 12 September sore, ketika Modi menyampaikan pidato dalam upacara pembukaan KTT BRICS, ia tampaknya memperhatikan bahwa Xi Jinping, yang duduk di sebelah kirinya, mengalami sesuatu yang tidak terduga. Modi tiba-tiba berhenti dan bertanya, “Apakah Baik-baik saja (is it ok)?” Beberapa saat kemudian, ia kembali menanyakan hal yang sama.

Adegan tersebut tertangkap kamera televisi nasional India, Doordarshan. Ketika kamera mengambil gambar dari jarak yang lebih jauh, tidak terlihat jelas apa yang sebenarnya terjadi pada Xi Jinping. Namun, terlihat seorang petugas datang menghampirinya dan memberikan sesuatu kepadanya. Setelah itu, konferensi kembali dilanjutkan.

Video kejadian tersebut kemudian beredar luas di platform X dan memicu berbagai spekulasi. Ada yang menduga bahwa Xi Jinping mungkin mengalami ketidaknyamanan atau gangguan kesehatan, sementara yang lain menduga bahwa mungkin terjadi masalah pada earphone penerjemah yang digunakannya.

Pada malam harinya, Xi Jinping tidak menghadiri jamuan makan malam yang diselenggarakan Modi untuk para kepala negara dan pemerintahan yang menghadiri KTT tersebut. 

Tidak diketahui apakah ketidakhadirannya disebabkan oleh alasan kesehatan, atau karena kendala bahasa sehingga ia merasa kurang cocok menghadiri acara makan malam yang suasananya lebih informal dan berpotensi membuatnya tampak kurang menyatu dengan peserta lain sehingga suasananya menjadi canggung.

Ini merupakan pertama kalinya dalam tujuh tahun Xi Jinping bertemu dengan Modi di India. Kunjungan terakhir Xi ke India berlangsung pada 2019.

Dalam KTT BRICS di New Delhi kali ini, mobil dinas Hongqi milik Xi Jinping telah dikirim terlebih dahulu ke New Delhi. 

Saat itu, bagian luar kendaraan tersebut ditutupi kain hitam sehingga tampak seperti mobil jenazah. Sejumlah komentator bahkan berseloroh bahwa mobil dinas Xi Jinping “mengenakan kain kafan”, yang dianggap agak membawa pertanda buruk. Mereka juga mengatakan bahwa pemandangan seperti ini hampir tidak mungkin terjadi ketika kepala negara lain melakukan kunjungan luar negeri.

Pada malam 12 September, ketika Xi Jinping menaiki mobil dinas dan melintas di jalan-jalan New Delhi, sejumlah besar warga Tibet yang membawa bendera bergambar singa mengejar iring-iringan kendaraan Xi Jinping. 

Mereka meneriakkan slogan-slogan seperti “Xi Jinping turun!” sebagai bentuk protes keras. Video tersebut juga beredar luas di media sosial, sehingga menambah bayang-bayang kontroversi atas kunjungan Xi Jinping ke India kali ini.

Reporter Luo Tingting, laporan gabungan / Editor Wen Hui – NTDTV.com