18 Bank Investasi Bersatu! IPO SpaceX Kelebihan Permintaan Hingga US$ 250 Miliar

EtIndonesia.com  Baru-baru ini, kabar paling panas di pasar modal adalah rencana penawaran umum perdana saham (IPO) SpaceX yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat (12 Juni). Saat ini respons pasar sangat antusias. Pada Rabu (10 Juni), beredar informasi bahwa permintaan investor telah melampaui US$250 miliar, jauh di atas target penggalangan dana sebelumnya sebesar US$75 miliar. Antusiasme yang luar biasa ini berpotensi menjadikannya IPO terbesar dalam sejarah. Nilai perusahaan SpaceX kini juga telah terdongkrak hingga US$1,8 triliun. IPO ini ditangani bersama oleh 18 bank investasi Wall Street, sementara harga final saham baru akan ditetapkan pada malam berikutnya.

IPO ini diperkirakan akan menjadi pencatatan saham terbesar dalam sejarah dunia.

SpaceX berencana menawarkan sekitar 555,6 juta saham dengan harga US$135 per saham, dengan target penggalangan dana sebesar US$75 miliar, yang akan melampaui rekor yang sebelumnya dipegang oleh Saudi Aramco pada tahun 2019.

Valuasi SpaceX saat ini diperkirakan telah mencapai US$1,8 triliun.

Penawaran saham ini ditangani oleh 18 lembaga penjamin emisi, termasuk Goldman Sachs, Morgan Stanley, Bank of America, Citigroup, dan JPMorgan Chase. Harga final diperkirakan baru akan ditetapkan pada Kamis (11 Juni), meskipun permintaan akhir dan hasil alokasi saham masih dapat berubah.

Perbedaan terbesar IPO SpaceX kali ini dibandingkan IPO besar sebelumnya adalah permintaan dari Elon Musk agar 30% saham dapat dibeli oleh investor ritel (investor individu). Pada IPO umumnya, seluruh saham biasanya dialokasikan kepada institusi besar, bank investasi, dan distributor Wall Street. Kebijakan ini memicu gelombang besar minat pembelian dari investor individu.

Menurut sumber yang mengetahui situasi tersebut, SpaceX telah menarik minat investasi lebih dari US$250 miliar, jauh melampaui target penggalangan dana sebesar US$75 miliar, yang diperkirakan dapat mendorong valuasi perusahaan semakin tinggi.

Sumber tersebut juga menyebutkan bahwa tingkat kelebihan permintaan (oversubscription) saat ini telah mencapai 3,5 hingga 4 kali jumlah saham yang ditawarkan, menunjukkan kuatnya permintaan pasar.

Selain itu, pasar keuangan belakangan mengalami gejolak. Indeks Nasdaq Composite dan harga Bitcoin sama-sama mengalami penurunan. Sejumlah analis menilai kondisi ini mungkin berkaitan dengan upaya investor mengumpulkan dana untuk berpartisipasi dalam IPO tersebut.

SpaceX menegaskan bahwa bisnis peluncuran roketnya telah mendominasi sebagian besar layanan transportasi antariksa global selama tiga tahun terakhir. Perusahaan juga optimistis terhadap prospek jaringan satelit internet Starlink serta perkembangan komputasi kecerdasan buatan (AI) berbasis ruang angkasa di masa depan.

Perusahaan memperkirakan bahwa pasar komputasi AI berbasis ruang angkasa dapat mencapai US$23 triliun, dan berencana menyewakan kapasitas komputasi yang berlebih kepada perusahaan lain.

SpaceX juga menyatakan ambisi untuk membangun pusat data AI dan infrastruktur komputasi di luar angkasa, sehingga dapat melampaui keterbatasan energi dan daya komputasi yang ada di Bumi.

Seiring terus menurunnya biaya peluncuran ke luar angkasa, teknologi ini diharapkan dapat membantu hampir 3 miliar orang yang belum memiliki akses internet untuk terhubung ke jaringan global.

Laporan jurnalis Zheng Shengxun dari New Tang Dynasty Television, Amerika Serikat.

Direktur Pusat Kajian Kebebasan Beragama di Think Tank Hudson Institute : Trump Harus Mengecam Secara Terbuka Penindasan Transnasional PKT terhadap Shen Yun

EtIndonesia.com  Tahun ini, tur pertunjukan global Shen Yun Performing Arts berulang kali menghadapi ancaman, termasuk ancaman bom palsu dan intimidasi yang diduga terkait dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT). Direktur Pusat Kebebasan Beragama dari lembaga pemikir terkemuka di Washington menyatakan bahwa Presiden Amerika Serikat seharusnya turun tangan secara langsung untuk mengecam dan menghentikan tindakan penindasan transnasional PKT terhadap Shen Yun dan praktisi Falun Gong, serta menjatuhkan sanksi kepada PKT.

Menurut laporan penelitian yang dirilis oleh Falun Dafa Information Center pada 7 Mei, selama empat bulan pertama tahun ini, sebuah akun email Google yang berpihak kepada Beijing melancarkan kampanye ancaman terhadap Falun Gong dan Shen Yun. Setidaknya 28 email bernada ancaman dikirim ke enam negara dengan tujuan menghambat atau membatalkan tur pertunjukan Shen Yun.

Para penari Shen Yun menampilkan tarian klasik Tiongkok di atas panggung. Courtesy of Shen Yun Performing Arts

Mengenai tindakan penindasan lintas negara tersebut, Hudson Institute melalui Direktur Pusat Kebebasan Beragamanya, Nina Shea, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa tindakan tersebut merupakan upaya untuk “menindas hak konstitusional praktisi Falun Gong atas kebebasan beragama dan kebebasan berbicara, sehingga seharusnya dapat dihukum berdasarkan hukum federal maupun hukum negara bagian.”

“Presiden Amerika Serikat seharusnya secara pribadi tampil dan mengecam tindakan penindasan transnasional semacam ini yang dilakukan (PKT) di wilayah Amerika Serikat terhadap kelompok keagamaan ini (Shen Yun dan Falun Gong),” ujarnya. 

Para penari Shen Yun tampil di atas panggung dalam sebuah pertunjukan. Courtesy of Shen Yun

Pada saat yang sama, Senator Negara Bagian Nebraska, Eliot Bostar, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa pemerintah Amerika Serikat perlu mengambil langkah-langkah serius, termasuk tindakan legislasi, serta menyelidiki secara menyeluruh ancaman yang ditujukan terhadap Shen Yun.

“PKT tampaknya menganggap bahwa menyerang warga Amerika dapat diterima. Bahkan jika orang-orang tersebut berasal dari Tiongkok, selama mereka sekarang berada di Amerika Serikat, tindakan semacam itu sama sekali tidak dapat diterima,” katanya.

“Berdasarkan undang-undang mengenai penindasan transnasional yang telah kami sahkan, apabila seseorang bertindak atas nama Republik Rakyat Tiongkok atau PKT untuk mengancam atau melecehkan para pemain Shen Yun dan berusaha menghentikan pertunjukan mereka, maka tindakan itu dapat dikategorikan sebagai tindak pidana. Karena itu, saya berpendapat bahwa kasus-kasus semacam ini harus diselidiki dan pelakunya dihukum seberat mungkin sesuai hukum,” lanjutnya.

Senator negara bagian Nebraska, Eliot Bostar, memberikan kesaksian dalam sidang Komisi Kongres-Eksekutif tentang Tiongkok mengenai penindasan lintas batas dan pengaruh buruk Partai Komunis Tiongkok di Amerika Serikat, di Washington pada 4 Juni 2026. Li Chen/The Epoch Times

Shen Yun didirikan pada tahun 2006 oleh para seniman Tiongkok terkemuka dengan misi menghidupkan kembali budaya tradisional Tiongkok yang telah dirusak dan dilemahkan di bawah pemerintahan komunis. Para seniman dalam kelompok ini adalah praktisi Falun Dafa, yang juga dikenal sebagai Falun Gong, sebuah latihan spiritual dan meditasi yang berlandaskan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar.

Para praktisi Falun Dafa telah mengalami penganiayaan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) sejak tahun 1999, ketika rezim tersebut menganggap popularitas latihan itu sebagai ancaman terhadap kekuasaannya.

Dari Maret 2024 hingga April 2026, tercatat sebanyak 279 kasus yang berkaitan dengan dugaan penindasan transnasional terhadap Falun Gong dan Shen Yun.

Baru-baru ini, stasiun televisi NTD berbahasa Inggris merilis film dokumenter berjudul UNBROKEN: The Untold Story of Shen Yun yang mengisahkan keberanian luar biasa para anggota Shen Yun dalam menghadapi apa yang disebut sebagai kampanye penindasan lintas negara yang dilakukan oleh rezim PKT dengan mengerahkan sumber daya manusia, material, dan finansial dalam skala besar. Dokumenter tersebut telah menarik perhatian luas.

Laporan oleh jurnalis Guo Yuexi dari NTD Television, Amerika Serikat.

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik.

Oleh Fjolla Arifi

Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca. Hari demi hari berlalu, lalu berminggu-minggu. Bagi Justine Ramos, itu bukan sekadar patah hati. Itu adalah rasa sakit yang spesifik dan membingungkan ketika hubungan dengan seorang sahabat tiba-tiba berhenti begitu saja, tanpa penjelasan dan tanpa penutupan.

“Itu adalah salah satu hal paling membingungkan dan menyakitkan yang pernah saya alami,” kata Ramos kepada The Epoch Times.

 “Saya terus berpikir pasti saya telah melakukan sesuatu yang salah. Saya mengulang setiap percakapan di kepala saya, mencoba mencari tahu kapan semuanya mulai berubah. Dampaknya jauh lebih besar daripada yang dibayangkan karena Anda bukan hanya berduka atas orang tersebut, tetapi juga atas versi hubungan yang selama ini Anda kira ada.”

Apa yang dialami Ramos memiliki sebuah nama, dan kini semakin banyak penelitian yang mendukungnya.

Ghosting, istilah lain untuk pengucilan atau mengakhiri hubungan dengan cara tiba-tiba menghilang tanpa kabar, telah menjadi ciri khas kehidupan sosial modern. Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam hubungan romantis, tetapi juga dalam persahabatan bahkan hubungan keluarga. Di dunia yang selalu terhubung, menghilang sering kali terasa lebih mudah daripada menghadapi percakapan yang tidak nyaman.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa keheningan itu mungkin memiliki konsekuensi yang tidak kecil.

Apa yang Ditunjukkan oleh Penelitian

Sebuah studi tahun 2025 yang diterbitkan dalam Computers in Human Behavior membandingkan tiga situasi: dighosting, ditolak secara langsung, atau mengalami interaksi yang berjalan normal.

Peserta berusia 18 hingga 35 tahun mengobrol dengan seseorang yang terlibat dalam penelitian selama 15 menit setiap hari selama enam hari mengenai berbagai topik, termasuk olahraga, acara televisi, rencana masa depan, kehidupan romantis, musik, dan perjalanan.

Para peserta kemudian diminta mengisi survei harian singkat mengenai perasaan mereka. Pada hari keempat, interaksi tersebut tiba-tiba dihentikan tanpa penjelasan (ghosting), diakhiri dengan penolakan yang jelas, atau tetap berlanjut seperti biasa.

Baik ghosting maupun penolakan langsung memicu emosi negatif seperti kebingungan, perasaan dikucilkan, dan harga diri yang terancam. Namun, orang yang ditolak secara langsung cenderung pulih lebih cepat.

Ketika seseorang ditolak secara langsung, meskipun menyakitkan, otak mampu memproses pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang telah selesai karena ada penyebab yang jelas, kata Scott Wetzler, profesor di Departemen Psikiatri dan Ilmu Perilaku di Albert Einstein College of Medicine, kepada The Epoch Times. Otak dapat memprosesnya, menyimpannya sebagai pengalaman yang selesai, lalu mulai melangkah maju.

Sebaliknya, ghosting mengganggu proses tersebut. Alih-alih memberikan akhir yang jelas, ghosting membuat otak terus mencarinya.

“Ketika seseorang dighosting, ia berada dalam kondisi penuh ketidakpastian, sedangkan penolakan yang jelas lebih bersifat pasti,” katanya. 

“Karena orang cenderung membiarkan harapan memengaruhi penilaian mereka, pihak yang dighosting mungkin terus bermimpi bahwa suatu saat orang yang menghilang itu akan muncul kembali atau akhirnya menunjukkan minat. Mereka mungkin mempertahankan harapan yang tidak realistis.”

Ketidakpastian itu memicu perenungan yang berulang-ulang. Wetzler menggambarkan ghosting sebagai bentuk perilaku pasif-agresif yang sengaja menahan satu hal yang paling dibutuhkan seseorang setelah hubungan retak: sebuah jawaban.

“Ketika Anda dighosting, Anda mungkin terus bertanya kepada diri sendiri, ‘Mengapa ini terjadi?’, ‘Mengapa dia tidak mau berbicara dengan saya?’, atau ‘Apa kesalahan saya?’—dan hal itu memperpanjang penderitaan,” kata Mark Leary, Profesor Emeritus Psikologi dan Neurosains Garonzik di Duke University, kepada The Epoch Times.

Seiring waktu, pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab itu dapat berubah dari rasa ingin tahu menjadi keraguan terhadap diri sendiri.

“Ghosting menyampaikan pesan bahwa orang yang ditolak tidak cukup penting atau tidak cukup dihargai untuk menerima penjelasan atau diperlakukan dengan sopan,” katanya.

Sebuah studi tahun 2024 menambahkan temuan lain. Meskipun pelaku ghosting dan korban ghosting menggunakan tingkat bahasa positif dan negatif yang hampir sama saat menggambarkan pengalaman mereka, emosi di balik kata-kata tersebut berbeda secara signifikan.

Pelaku ghosting sering mengungkapkan campuran rasa bersalah dan lega, yang menunjukkan adanya konflik batin antara keinginan menghindari ketidaknyamanan dan kesadaran akan dampak tindakan mereka. Sebaliknya, korban ghosting lebih sering menggambarkan emosi yang lebih sederhana dan jelas: kesedihan dan rasa terluka.

Eileen Kennedy-Moore, seorang psikolog klinis, melihat pola yang sama dalam praktiknya.

“Kita mengulang kembali peristiwa dan percakapan, mencari petunjuk,” katanya kepada The Epoch Times. “Ketidakpastian itu menyakitkan, sehingga kita sangat ingin bertanya, menjelaskan, atau membuktikan sesuatu.”

Hal ini dapat muncul dalam bentuk membaca ulang pesan lama, meragukan detail-detail kecil, atau menafsirkan keheningan sebagai sesuatu yang memiliki makna tersembunyi.

Mengapa Rasanya Begitu Menyakitkan

Sebagian dari alasan mengapa perasaan tersebut begitu intens mungkin terletak pada cara otak memproses penolakan.

Penelitian menunjukkan bahwa penolakan sosial mengaktifkan beberapa jalur saraf yang sama dengan yang terlibat dalam rasa sakit fisik. Dengan kata lain, pengalaman tersebut tidak hanya terasa menyakitkan secara emosional, tetapi juga mengaktifkan sistem alarm otak sehingga terasa sangat nyata dan sulit diabaikan.

Hubungan romantis sangat berkaitan dengan zat kimia otak seperti dopamin, yang menimbulkan perasaan senang dan penghargaan, serta oksitosin, yang membantu seseorang merasa terikat dan dekat dengan orang lain. Ketika sebuah hubungan tiba-tiba berakhir tanpa penjelasan, sistem tersebut menjadi terganggu.

Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa cinta dan kecanduan melibatkan sistem otak yang saling tumpang tindih, terutama bagian yang bertanggung jawab atas penghargaan (reward). Hal ini membantu menjelaskan mengapa kehilangan seseorang dapat terasa begitu menyakitkan.

Bagaimana Teknologi Membuat Ghosting Semakin Menyakitkan

Diperkirakan 20 hingga 40 persen populasi umum pernah mengalami ghosting, baik sebagai korban, pelaku, maupun keduanya. Meningkatnya akses terhadap teknologi juga kemungkinan berperan dalam fenomena ini.

Media sosial dan aplikasi pesan membuat seseorang dapat memutus komunikasi secara instan, sering kali tanpa akuntabilitas sosial yang biasanya hadir dalam interaksi tatap muka. Ketika percakapan terjadi di balik layar, orang mungkin merasa tidak berkewajiban memberikan penjelasan atau penutupan, dan menghindari ketidaknyamanan menjadi semudah tidak membalas pesan.

“Di media sosial, kita bisa menerima umpan balik negatif dan penolakan dari ribuan orang. Otak kita tidak dirancang untuk menangani begitu banyak umpan balik negatif,” kata Leary.

Di masa lalu, hanya lingkaran kecil seperti keluarga dan teman dekat yang membentuk cara kita memandang diri sendiri. Namun kini media sosial telah memperluas lingkaran itu secara drastis. Akibatnya, kita sering merasa terluka oleh orang asing yang tidak akan pernah kita temui dan yang sebenarnya memiliki dampak sangat kecil terhadap kehidupan kita, kata Leary.

Media sosial juga mengaburkan batas antara penolakan pribadi dan penolakan publik. Ketika interaksi atau putus hubungan terjadi secara daring, sering kali tersisa jejak yang terlihat—foto, komentar, atau perubahan status hubungan—yang dapat memperparah pengalaman dighosting.

Bagaimana Melangkah Maju

Para ahli sepakat bahwa penutupan (closure) mungkin tidak akan pernah datang, dan terus mencarinya kemungkinan besar hanya akan memperpanjang rasa sakit.

Bagi Ramos, setelah pikirannya berulang kali mengisi kekosongan dengan mengulang setiap pesan dan mencari alasan yang tidak pernah ditemukan, ia sampai pada sebuah kesadaran yang sulit.

“Seiring waktu, saya sampai pada titik di mana saya menerima bahwa penutupan tidak selalu datang dari orang lain. Kadang-kadang Anda harus menciptakannya sendiri, meskipun semuanya terasa belum selesai.”

Meskipun tidak memperoleh penutupan, Ramos memilih menerima situasi tersebut karena menyadari bahwa hal itu tidak berkaitan dengan dirinya.

“Itu membuat saya lebih mudah menerima keadaan dan melanjutkan hidup, karena saya tahu hal tersebut bukan sesuatu yang saya butuhkan dalam hidup saya,” katanya.

Pengalamannya menyoroti apa yang sering hilang dalam ghosting: kejelasan.

Bagi orang yang ingin mengakhiri hubungan, komunikasi yang jelas dan penuh hormat jauh lebih penting daripada menghindari ketidaknyamanan sesaat. Daripada menghilang atau memberikan sinyal yang membingungkan, memberikan penjelasan singkat dan jujur dapat membantu menjaga martabat orang lain serta mengurangi kebingungan yang tidak perlu.

Leary menyarankan untuk melihat pengalaman tersebut dari sudut pandang berbeda: penolakan, baik secara langsung maupun tidak langsung, umumnya lebih mencerminkan kecocokan dan kesesuaian sosial daripada nilai pribadi seseorang.

“Kuncinya adalah menyampaikan bahwa meskipun Anda menolak seseorang, itu tidak berarti Anda membenci, tidak menyukai, atau sama sekali tidak menghargainya,” kata Leary—nasihat yang ditujukan baik bagi pelaku ghosting maupun korbannya.

Bagi Kennedy-Moore, perubahan yang bermanfaat adalah mengalihkan perhatian dari orang yang menghilang kepada orang-orang yang tetap hadir.

“Orang yang tepat akan antusias untuk bersama Anda,” katanya. “Mereka akan menghargai Anda. Seseorang yang bahkan tidak mau membalas pesan tidak memenuhi kriteria itu. Jangan puas hanya dengan remah-remah perhatian. Penting juga untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang yang benar-benar mencintai dan menghargai Anda.”


Fjolla Arifi adalah jurnalis yang berbasis di New York dan meliput isu kesehatan mental, budaya, dan masalah sosial. Ia pernah menulis sebagai life fellow untuk HuffPost dan health fellow untuk BuzzFeed News. Karyanya juga telah dimuat di National Geographic, GoodRx, NOCD, dan PopSugar. Arifi memiliki minat besar dalam menerjemahkan topik-topik medis yang kompleks menjadi informasi yang jelas dan bermanfaat bagi pembaca.

Lansia di Tiongkok Membuang Air Minum Kemasan yang Disediakan Secara Gratis Demi Menjual Botol Kosong, Memicu Kecaman 

EtIndonesia.com Selama berlangsungnya ujian masuk perguruan tinggi nasional Tiongkok (Gaokao), cuaca panas melanda berbagai daerah. Banyak relawan menyediakan air minum kemasan gratis bagi para peserta ujian dan orang tua mereka. Namun, beberapa lansia dilaporkan mengambil banyak botol air, lalu membuang seluruh isinya demi menjual botol kosongnya. Perilaku tersebut diketahui oleh relawan dan memicu kemarahan serta kecaman publik.

Menurut video yang beredar, pada 9 Juni di Kota Zhumadian, Provinsi Henan, para relawan menyediakan beberapa dus air minum kemasan secara gratis di luar lokasi ujian Gaokao untuk peserta dan keluarga mereka.

Seorang perempuan lanjut usia berusia sekitar 60 tahun terlihat mengendarai becak roda tiga dan mengambil banyak botol air. Setelah itu, ia pergi ke sudut yang sepi dan membuang seluruh isi botol, hanya menyisakan botol kosong yang dapat dijual kembali.

Perempuan tersebut bolak-balik mengambil air berkali-kali. Karena frekuensinya terlalu sering, para relawan akhirnya menyadari apa yang terjadi.

Salah seorang relawan yang merekam kejadian itu berkata dengan kesal: “Kamu membuang semua airnya. Hari ini saya akan unggah ke internet agar semua orang melihat apa yang kamu lakukan.”

Ketika aksinya ketahuan, lansia tersebut dikabarkan marah dan berusaha menepis telepon genggam orang yang merekam video.

Relawan itu kembali berkata: “Air yang kamu ambil, yang seharusnya diminum, semuanya kamu buang. Hari ini saya akan membuat seluruh warga Xiping tahu tentang perbuatanmu.”

Lansia tersebut kemudian berusaha membela diri dengan mengatakan bahwa air itu digunakan untuk mencuci muka. Ia menuangkan sedikit air ke tangannya lalu mengusapkannya ke wajah.

Peristiwa tersebut memicu perdebatan hangat di media sosial. Banyak pengguna internet mengecam tindakan tersebut.

Beberapa komentar warganet antara lain:

“Ini benar-benar kejadian yang jarang ditemui di dunia.”

“Bukan orang tua yang berubah menjadi buruk, melainkan orang buruk yang menjadi tua.”

“Membuang air hanya untuk menjual botolnya jelas merupakan tindakan yang memalukan.”

Ada juga komentar yang menyoroti sulitnya melakukan kegiatan amal:

“Di Tiongkok, melakukan kebaikan sering kali tidak mudah. Jika menyumbang ke organisasi amal, orang khawatir uangnya tidak sampai kepada yang membutuhkan. Jika menyediakan minuman gratis, ada saja yang merusaknya. Bahkan acara mencicipi makanan gratis di supermarket pun bisa berakhir kacau karena orang berebut.”

Selain itu, video lain menunjukkan kejadian pada 8 Juni di Provinsi Anhui. Di luar salah satu lokasi ujian Gaokao, relawan membagikan air minum gratis, tetapi terjadi aksi berebut. Bahkan ada yang membawa pergi satu dus penuh air kemasan.

Dalam video tersebut, seorang relawan terdengar berteriak:

“Jangan berebut, semua akan kebagian. Ini untuk diminum, tidak boleh dibawa pergi semuanya.”

Terlihat seorang perempuan lansia menyeret satu paket besar air minum kemasan, sementara orang-orang lain mengerumuni lokasi dan ikut berebut, menciptakan suasana yang dinilai memalukan.

Sebagian warganet mengaitkan fenomena tersebut dengan masalah sosial yang lebih luas. Salah satu komentar menyebut :

“Tanpa sistem sosial yang baik, hasilnya akan seperti ini. Ketika masyarakat hidup dalam tekanan dan kesulitan ekonomi, banyak orang berusaha mencari keuntungan sekecil apa pun untuk diri mereka sendiri. Siklus seperti ini pada akhirnya dapat menyebabkan kemerosotan moral dalam masyarakat. Tanpa lingkungan sosial yang sehat, masyarakat juga sulit mencapai kesejahteraan.”

Laporan disusun oleh Luo Tingting / Li Quan

Iran Menyerang 18 Pangkalan Militer, Kuwait dan Bahrain Masuk Status Siaga Tinggi

EtIndonesia.com Setelah Iran melancarkan serangan di kawasan Timur Tengah, Kuwait pada Kamis (11 Juni) mengumumkan bahwa mulai pukul 04.50 dini hari, wilayah udaranya akan ditutup sementara dan sejumlah penerbangan akan dialihkan ke bandara lain. Sebelumnya, militer Kuwait telah mencegat sasaran udara yang disebut sebagai “objek musuh”.

Menurut laporan AFP, Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil Kuwait menyatakan: “Langkah ini diambil sebagai respons terhadap serangan Iran terhadap Negara Kuwait dan potensi risiko yang ditimbulkannya bagi penerbangan sipil di kawasan.”

Pernyataan tersebut menambahkan: “Setelah situasi berakhir dan faktor-faktor bahaya telah dihilangkan, wilayah udara akan dibuka kembali setelah dilakukan evaluasi oleh pihak terkait, dan lalu lintas udara akan kembali normal.”

Sebelumnya pada Kamis (11 Juni), militer Kuwait menyatakan bahwa sistem pertahanan udaranya sedang mencegat sasaran udara “musuh” sesuai prosedur operasi yang telah disetujui.

Militer menyebut tindakan pertahanan tersebut merupakan respons terhadap target-target tersebut sebagai bagian dari langkah pengamanan yang sedang berlangsung, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Selain itu, Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengumumkan pengaktifan sirene peringatan dan mengimbau warga negara maupun penduduk untuk tetap tenang serta segera menuju lokasi perlindungan terdekat.

Perkembangan ini terjadi beberapa jam setelah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan serangan terhadap Ali Al-Salem Air Base, Ahmad Al-Jaber Air Base, dan Sheikh Isa Air Base, yang disebut sebagai bagian dari 18 sasaran militer utama Amerika Serikat.

Pernyataan militer Iran juga mengumumkan serangan terhadap sistem rudal Patriot Missile System, fasilitas komunikasi di Bahrain, serta armada United States Fifth Fleet.

Sementara itu, United States Central Command (CENTCOM) pada 11 Juni menyatakan bahwa atas instruksi Presiden Donald Trump, pasukan di bawah komandonya telah melaksanakan serangan tambahan yang disebut sebagai tindakan pertahanan diri terhadap sejumlah target di Iran pada 10 Juni.

CENTCOM menyatakan bahwa sasaran serangan tersebut meliputi kemampuan pengawasan militer Iran, sistem komunikasi, dan fasilitas pertahanan udara. Pasukan Korps Marinir, Angkatan Udara, dan Angkatan Laut Amerika Serikat menggunakan amunisi berpemandu presisi untuk menyerang target-target Iran yang dianggap mengancam pasukan AS dan kapal-kapal dagang internasional yang berlayar di perairan kawasan tersebut.

Menurut CENTCOM, serangan itu merupakan respons terhadap tindakan agresi Iran yang disebut tidak beralasan dan terus berlanjut. Mereka menegaskan bahwa pasukan AS akan tetap dalam kondisi siaga, mempertahankan kemampuan tempur penuh, dan siap bertindak kapan saja.

Pada saat yang sama, CENTCOM membantah klaim Iran bahwa Strait of Hormuz telah ditutup.

Mereka menyatakan: “Kapal-kapal komersial masih terus keluar masuk Selat Hormuz malam ini.”

Sumber : NTDTV.com

Dua Sekuritas Resmi Jadi Liquidity Provider Saham, Transaksi Meroket Hingga 119%!

Jakarta, 8 Juni 2026 – Bursa Efek Indonesia (BEI) terus menggenjot likuiditas dan kualitas perdagangan saham melalui program Liquidity Provider (LP) Saham. Langkah strategis ini mulai menunjukkan hasil positif setelah dua anggota bursa, yakni PT Phintraco Sekuritas dan PT Mandiri Sekuritas, resmi menjalankan kuotasi LP Saham.

Pejabat Sementara (Pjs.) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengungkapkan bahwa penambahan partisipasi anggota bursa ini menandakan meningkatnya minat pelaku industri terhadap program LP Saham.

“Hal ini menjadi komitmen bersama dalam mendukung peningkatan kualitas dan likuiditas perdagangan di Bursa,” ujar Jeffrey dalam keterangan tertulisnya, Senin (8/6).

Phintraco Sekuritas Pionir, Mandiri Sekuritas Menyusul

PT Phintraco Sekuritas telah memulai kuotasi LP Saham sejak 20 April 2026, disusul PT Mandiri Sekuritas pada 4 Mei 2026. Ke depan, BEI berharap semakin banyak anggota bursa yang bergabung seiring meningkatnya pemahaman terhadap skema LP Saham.

Dalam kuotasi perdananya, Phintraco Sekuritas melayani lima saham, yaitu:

  • PT Gudang Garam Tbk (GGRM)
  • PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM)
  • PT Trans Power Marine Tbk (TPMA)
  • PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU)
  • PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS)

Hasilnya: Volume Transaksi Melonjak 25%–119%

BEI mencatat peningkatan signifikan pada rata-rata harian nilai transaksi saham-saham tersebut. Dalam periode satu minggu sebelum dan sesudah implementasi LP, kenaikan berkisar antara 25,98% hingga 119,44% .

“Hasil ini menunjukkan potensi LP Saham dalam meningkatkan aktivitas perdagangan dan likuiditas di pasar,” tambah Jeffrey.

Dengan likuiditas yang lebih baik, efisiensi perdagangan meningkat, dan kualitas pasar terus berkembang, BEI optimistis pasar modal Indonesia akan semakin menarik bagi investor.

Komitmen Phintraco: Siapkan Infrastruktur dan Manajemen Risiko

Direktur Utama Phintraco Sekuritas, Ferawati, menegaskan bahwa partisipasi perusahaannya merupakan bagian dari komitmen mengambil peran strategis dalam pendalaman pasar modal.

Ia mengungkapkan bahwa Phintraco telah mempersiapkan infrastruktur sistem, dealing team, serta framework manajemen risiko yang kuat.

“Aktivitas LP Saham tidak hanya berfokus pada penyediaan kuotasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun pasar yang lebih likuid, efisien, dan kredibel,” ujarnya.

Ferawati juga mengakui tantangan utama adalah menjaga konsistensi kuotasi di tengah volatilitas pasar. Namun, dengan disiplin trading, dukungan teknologi, dan pengelolaan risiko, prospek LP Saham di Indonesia dinilai cukup baik.

Kolaborasi Kunci Keberhasilan

Keberhasilan program LP Saham menurut Ferawati membutuhkan kolaborasi erat antara Bursa, anggota bursa, emiten, asosiasi, dan investor.

“Kami melihat efektivitas LP Saham membutuhkan kolaborasi yang kuat, khususnya dalam membangun pemahaman yang lebih komprehensif mengenai fungsi strategis LP Saham,” pungkasnya.

Dengan inisiatif ini, BEI optimistis ekosistem investasi yang berkelanjutan di Indonesia akan semakin kokoh.

Viral di Medsos Tiongkok Tentang Plastik Bekas Daur Ulang Digunakan untuk Memproduksi Sikat Gigi dan Dijual di Pasaran

EtIndonesia.com  Sejumlah produsen di Tiongkok dilaporkan menggunakan bahan limbah, seperti sisa potongan sandal, plastik bekas daur ulang yang berpotensi mengandung zat beracun, dan berbagai jenis sampah plastik lainnya untuk memproduksi sikat gigi yang kemudian dijual di pasaran. Isu ini menjadi perbincangan hangat di media sosial Tiongkok pada 8 Juni.

Para ahli memperingatkan bahwa plastik daur ulang memiliki komposisi yang kompleks. Dalam proses peleburan dan pengolahan pada suhu tinggi, dapat terbentuk zat beracun baru yang berpotensi mengancam kesehatan manusia jika digunakan dalam jangka panjang.

Limbah Plastik Diolah Menjadi Bahan Sikat Gigi

Menurut laporan media daratan Tiongkok, sebagian perusahaan berupaya menekan biaya produksi dengan menggunakan berbagai jenis plastik bekas, antara lain:

  • Drum bahan kimia bekas
  • Panel bekas peralatan elektronik rumah tangga
  • Penutup kipas angin bekas
  • Sepatu roda bekas yang sudah rusak
  • Berbagai limbah plastik lainnya

Material tersebut dihancurkan menjadi butiran plastik, kemudian dijual ke pabrik pengolahan plastik. Sebagian dari bahan tersebut disebut digunakan secara khusus untuk memproduksi sikat gigi.

Daur Ulang plastik (Tangkapan layar)

Pengusaha: Kenaikan Biaya Mendorong Praktik Ini

Seorang pengusaha di bidang budaya dari Tiongkok bermarga Fu mengatakan kepada NTD bahwa setelah pecahnya konflik di Timur Tengah, biaya bahan baku produk plastik meningkat. Menurutnya, sebagian pelaku usaha mencoba menekan biaya dengan menggunakan plastik bekas untuk memproduksi sikat gigi sekali pakai.

Ia mengatakan:”Produk sekali pakai untuk hotel biasanya dibeli secara massal melalui pengadaan terpusat. Sebagian pemasok berpikir bahwa karena barang itu hanya digunakan sekali, konsumen tidak akan terlalu memperhatikan bagaimana produk tersebut dibuat.”

Menurut Fu, motif utamanya adalah mengurangi biaya dan meningkatkan keuntungan.

Daur Ulang plastik (Tangkapan layar)

Perbandingan dengan Pengawasan di Negara Barat

Fu berpendapat bahwa negara-negara Barat memiliki sistem pengawasan yang lebih ketat sehingga kasus serupa jarang terjadi.

“Di luar negeri, persyaratan hukum dan pengawasan terhadap produk, terutama yang berkaitan dengan kebersihan dan kualitas, sangat ketat. Untuk produk yang masuk ke mulut atau digunakan langsung pada tubuh, asal-usul bahan bakunya harus jelas dan aman. Pengawasannya sangat rinci,” katanya. 

Menurutnya, masalah produk palsu dan berkualitas rendah di Tiongkok telah berlangsung selama bertahun-tahun, dan kasus yang terungkap ke publik hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan masalah.

Daur Ulang plastik (Tangkapan layar)

Kritik terhadap Kualitas Produk

Fu juga menyinggung sejumlah kontroversi lain yang pernah muncul terkait kualitas produk dan layanan kesehatan di Tiongkok.

Ia menyebut adanya laporan dari seorang dokter di Shanghai yang mengkritik sistem pengadaan obat dan peralatan medis, termasuk dugaan penurunan kualitas obat bius, obat anti inflamasi, serta peralatan bedah.

Warga : Praktik Semacam Ini Merugikan Kesehatan

Seorang warga bermarga Wu mengatakan bahwa limbah kimia yang tidak diolah dengan benar lalu langsung dihancurkan dan digunakan untuk membuat sikat gigi tentu berpotensi berdampak buruk bagi kesehatan.

“Jika sesuatu bisa menghasilkan uang dan tidak ada yang mengawasi, sebagian orang akan tergoda untuk memalsukan atau mengurangi kualitas produk. Praktik semacam ini cukup umum terjadi dalam berbagai sektor ekonomi di Tiongkok,” ujarnya. 

Ia menambahkan bahwa motivasi keuntungan sering kali menjadi faktor utama di balik berbagai tindakan itu.

Laporan oleh Zhang Zhongyuan, Li Shanshan, dan Peng Xinyu, NTD Television.

Trump Ungkap Operasi Rahasia di Selat Hormuz : AS Diam-Diam Mengirim Minyak Melewati Iran

EtIndonesia.com  Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis 11 Juni mengungkap informasi yang menurutnya belum pernah dipublikasikan sebelumnya.

Dalam keterangannya kepada wartawan di Gedung Putih, Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat baru-baru ini berhasil mengawal 22 kapal tanker minyak melewati Selat Hormuz tanpa diketahui oleh Iran, sehingga jutaan barel minyak dapat dikirim keluar dari kawasan tersebut.

Trump menjelaskan bahwa operasi tersebut dilakukan pada malam hari dan kapal-kapal sengaja berlayar tanpa menyalakan lampu untuk menghindari pengawasan Iran.

Ia mengatakan sebenarnya sudah lama ingin mengungkapkan operasi tersebut, tetapi memilih merahasiakannya agar tidak mengganggu jalannya misi.

Trump menyatakan:”Setiap malam kami mengirim minyak, dan jutaan barel telah berhasil dikirim keluar. Sekarang saya bisa membicarakannya karena mereka sudah mengetahuinya.”

Peran Penting Selat Hormuz

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur transportasi energi paling penting di dunia. Sejak meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, muncul kekhawatiran bahwa Iran dapat menutup selat tersebut, yang berpotensi menyebabkan lonjakan tajam harga minyak global.

Trump berpendapat bahwa keberhasilan kapal-kapal tanker tersebut mengangkut minyak keluar dari kawasan itulah yang membantu menjaga harga minyak dunia tetap terkendali.

Menurutnya, jika minyak tersebut tidak berhasil keluar, harga minyak bisa melonjak hingga US$250 per barel. Namun saat ini harga minyak masih berada di kisaran US$85–90 per barel.

Dampak terhadap Inflasi AS

Meski demikian, tekanan kenaikan harga energi tetap berdampak pada perekonomian Amerika Serikat.

Data yang dirilis oleh United States Bureau of Labor Statistics pada 10 Juni menunjukkan bahwa Indeks Harga Konsumen (CPI) bulan Mei naik 0,5% setelah disesuaikan secara musiman, sementara tingkat inflasi tahunan mencapai 4,2%.

Walaupun angka tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar, itu merupakan tingkat inflasi tertinggi sejak April 2023.

Di sisi lain, terdapat kabar yang relatif positif. Jika komponen makanan dan energi yang paling bergejolak dikeluarkan dari perhitungan, tingkat inflasi inti (core inflation) tercatat sebesar 2,9% per tahun, lebih rendah dibandingkan inflasi keseluruhan.

Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan inflasi belakangan ini terutama dipengaruhi oleh naiknya harga energi.

Pasar Menunggu Keputusan The Fed

Fokus pasar berikutnya adalah sikap Federal Reserve (The Fed).

Saat ini, mayoritas pelaku pasar memperkirakan bahwa The Fed kemungkinan besar tidak akan mengubah suku bunga pada pertemuan Juni.

Namun, berdasarkan perdagangan kontrak berjangka, para trader memperkirakan bank sentral AS berpotensi menaikkan suku bunga pada Desember mendatang.

Sumber : NTDTV.com

Trump Menuduh Iran Menunda Negosiasi, Mungkin Akan Mengerahkan Pasukan untuk Menghancurkan Pembangkit Listrik dan Jembatan

EtIndonesia.com Situasi di Timur Tengah kembali memanas. Laporan terbaru menyebut kelompok peretas Iran “Hanzala” mengancam bahwa rudal Iran telah siap diluncurkan dan meminta personel Marinir AS “berpamitan dengan keluarga mereka”. Ancaman ini dipandang sebagai respons terhadap peringatan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan Amerika Serikat dapat kembali membombardir Iran.

Setelah militer AS sebelumnya melakukan serangan besar terhadap sejumlah target di Iran, Islamic Revolutionary Guard Corps mengklaim telah menyerang pangkalan-pangkalan AS di beberapa negara. 

Pada hari yang sama, Trump secara terbuka menuduh Iran terus menunda proses negosiasi dan mengatakan ia akan memerintahkan gelombang serangan baru. Ia juga mengungkap rincian operasi penyelamatan helikopter Apache dan menyebut keselamatan dua pilot sebagai “sebuah keajaiban”.

Secara terpisah, Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi baru terhadap sembilan individu dan entitas yang disebut mewakili Garda Revolusi Iran serta mendukung pengadaan senjata bagi Kementerian Pertahanan dan logistik militer Iran.

Serangan dan Klaim Balasan

Menurut laporan tersebut, sebagai balasan atas penembakan jatuh sebuah helikopter Apache, militer AS menyerang sekitar 20 target di Iran, termasuk sistem pertahanan udara, stasiun kendali darat, dan radar pengawasan di sekitar Selat Hormuz.

Setelah itu, Garda Revolusi Iran mengklaim melancarkan serangan drone terhadap pangkalan AS di Timur Tengah, termasuk armada United States Fifth Fleet di Bahrain dan Ali Al-Salem Air Base di Kuwait. Mereka juga mengklaim menembakkan rudal ke Muwaffaq Salti Air Base di Yordania, yang menurut laporan menampung jet tempur F-35 dan pesawat militer lainnya.

Namun, hingga kini baik Yordania maupun Amerika Serikat belum mengkonfirmasi serangan tersebut. Jika benar, itu akan menjadi serangan pertama Iran terhadap Yordania sejak gencatan senjata pada April.

Pernyataan Trump

“Kami akan menyerang mereka (Iran), dan serangannya akan sangat keras.”

Trump kembali mengecam serangan terhadap helikopter Apache dan menegaskan bahwa militer AS akan kembali menghantam Iran.

Rincian insiden Apache

Trump mengatakan kepada Fox News bahwa sebuah drone Iran menabrak bagian tengah helikopter, tepat di antara dua pilot. Drone tersebut menyebabkan kebakaran tetapi tidak meledak. Karena helikopter terbang rendah, para pilot berhasil melakukan pendaratan darurat di laut dalam hitungan detik dan selamat.

Trump menyebut keselamatan mereka sebagai “keajaiban”, karena jika muatan tersebut meledak, para pilot kemungkinan besar tidak akan selamat.

Ancaman Serangan terhadap Infrastruktur Iran

Trump mengatakan bahwa karena Iran terus menunda negosiasi, Amerika Serikat mungkin akan mempertimbangkan serangan baru terhadap pembangkit listrik dan jembatan di Iran.

“Saya telah bernegosiasi dengan Iran selama berbulan-bulan. Mereka seharusnya menandatangani perjanjian itu. Itu perjanjian yang baik dan melarang Iran memiliki senjata nuklir. Tetapi mereka terus menunda-nunda. Saya tidak tahu apa yang mereka lakukan, lalu mereka menyerang helikopter kami yang sangat mahal.”

“Kita lihat saja nanti. Kemarin kami menghantam mereka dengan keras, dan hari ini kami akan menghantam mereka lagi.”

Netanyahu Serukan Pesan kepada Rakyat Lebanon

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu merilis video yang ditujukan kepada warga Lebanon.

“Perang ini bukan melawan rakyat Lebanon. Musuh kami adalah Hizbullah, yang telah menyandera negara kalian, mengikuti perintah Iran, dan menggunakan wilayah kalian untuk melancarkan serangan teror terhadap Israel.”

“Untuk mencapai tujuan mereka, mereka tidak segan mengorbankan sebanyak mungkin nyawa warga Lebanon.”

Militer Israel menyatakan telah menewaskan sejumlah anggota Hizbullah di Lebanon selatan dan menghancurkan enam lokasi yang disebut sebagai pusat aktivitas militan, termasuk lokasi peluncuran drone peledak.

“Sejauh ini kami telah melenyapkan hampir 10.000 teroris Hizbullah. Kami secara sistematis membersihkan wilayah Lebanon selatan dari para militan ini. Di mana pun mereka berada, pada akhirnya kami akan menemukan mereka.”

Laporan: Wang Ziyi, NTD Television.

Serangkaian Ledakan Besar Terjadi di Guilin, Guangxi, Tiongkok, Seluruh Jalan Meledak Hingga Sama Tragisnya Seperti di Medan Perang

EtIndonesia.com Pada 11 Juni 2026 dini hari, terjadi insiden ledakan di Kabupaten Xing’an, Kota Guilin, Provinsi Guangxi, Tiongkok. 7 orang dilaporkan tewas dan puluhan orang terluka. Menurut sejumlah warga yang mengetahui kejadian tersebut, terdapat dua titik ledakan, dan jendela-jendela di beberapa ruas jalan di sekitar lokasi hancur akibat gelombang kejut. Beberapa kawasan juga mengalami pemadaman listrik. Hingga kini, pihak berwenang belum mengungkap penyebab ledakan.

Menurut laporan, sekitar pukul 01.40 dini hari, ledakan terjadi di Jalan Lingxiang, Kota Xing’an, Kabupaten Xing’an. Video yang diunggah warga menunjukkan bahwa ledakan tersebut sangat kuat. Pintu dan jendela bangunan di beberapa jalan sekitar rusak parah, plafon bangunan runtuh, kendaraan terbakar, dan lokasi kejadian dipenuhi puing-puing.

Menurut laporan media daratan Tiongkok, seorang warga mengatakan bahwa sekitar pukul 01.30 dini hari terdengar suara ledakan pertama di sekitar Jalan Lingxiang. Beberapa menit kemudian terdengar ledakan kedua yang lebih besar. Kedua titik ledakan disebut berjarak cukup jauh satu sama lain, dengan selang waktu sekitar dua menit.

“Setelah ledakan pertama, saya naik ke atap untuk merekam video. Tidak lama kemudian terjadi ledakan kedua yang lebih dahsyat. Semua jendela di beberapa jalan sekitar hancur. Sebagian pintu juga terlepas. Beberapa ruas jalan mengalami pemadaman listrik dan kerugiannya sangat besar. Jalanan penuh dengan pecahan kaca,” ujar warga itu. 

Sebuah ledakan terjadi di Kabupaten Xing’an, Kota Guilin, Provinsi Guangxi pada dini hari tanggal 11 Juni 2026, mengakibatkan setidaknya 7 orang tewas dan lebih dari 30 orang terluka. (Foto disediakan oleh warganet)

Warga lain mengungkapkan: “Terdengar dentuman keras, lalu seluruh kaca pintu dan jendela pecah. Saya mendengar ada orang yang terluka akibat ledakan. Saat ini warga dipindahkan ke hotel dan tidak diizinkan tinggal di rumah karena dianggap tidak aman.”

Seorang pemilik toko di sekitar lokasi mengatakan bahwa keluarganya dan para tetangga terbangun karena suara ledakan. Hingga pagi hari, area sekitar lokasi masih tampak porak-poranda.

“Sepanjang jalan, semua kaca pecah,” katanya.

Seorang perekam video di lokasi berkata: “Ini pertama kalinya dalam hidup saya mengalami hal seperti ini. Awalnya saya kira hanya rumah saya yang rusak, ternyata kaca di sepanjang jalan ikut pecah.”

Warga lain mengatakan: “Bukan hanya satu rumah, tetapi satu jalan penuh yang berisi rumah-rumah penduduk.”

Ada pula warga yang berkata: “Lokasinya tepat di dekat rumah saya. Saat itu saya belum tidur. Satu suara ledakan membuat saya sangat terkejut.”

Sementara seorang warga lainnya mengaku: “Sepupu saya meninggal ketika sedang tidur di rumah.”

Warga Berjarak 4–5 Kilometer Juga Terbangun

Kekuatan ledakan disebut sangat besar hingga membangunkan warga yang tinggal sejauh 4–5 kilometer dari lokasi.

Seorang penduduk yang tinggal di sekitar daerah tersebut mengatakan bahwa sekitar pukul 01.40 dini hari, saat hendak tidur, ia mendengar suara benturan keras dari kaca rumahnya. Padahal rumahnya berjarak sekitar 4–5 kilometer dari Jalan Lingxiang. Dalam grup perumahan tempat ia tinggal, beberapa penghuni juga mengaku terbangun karena suara ledakan yang sangat keras.

Rumah Sakit Menangani Puluhan Korban

Menurut laporan media Tiongkok, staf rumah sakit Kabupaten Xing’an menyatakan telah menerima lebih dari 30 korban luka, termasuk 8 orang dengan kondisi serius.

Di antara para korban terdapat seorang anak berusia lebih dari dua tahun. Salah satu korban mengalami pendarahan otak dan sempat tidak sadarkan diri saat dibawa ke rumah sakit, namun kini telah sadar kembali.

Seorang tenaga medis di unit gawat darurat mengatakan bahwa beberapa korban mengalami luka pada tungkai bawah dan telah menjalani pembersihan luka. Korban lainnya mengalami patah tulang, pendarahan otak, serta cedera jaringan lunak di berbagai bagian tubuh. Seorang anak juga dilaporkan mengalami luka bakar.

Pasien yang mengalami luka berat direncanakan akan dirujuk ke rumah sakit di Guilin untuk perawatan lebih lanjut.

Penyebab Ledakan Masih Misterius

Menurut pernyataan resmi pemerintah Tiongkok, ledakan yang terjadi pada pukul 01.40 dini hari tersebut telah menyebabkan 7 orang tewas dan 17 orang terluka.

Pihak berwenang menyatakan bahwa penyelidikan awal telah mengesampingkan kemungkinan ledakan disebabkan oleh pipa gas atau faktor serupa, namun penyebab sebenarnya masih dalam penyelidikan.

Artikel tersebut juga mencatat bahwa sebagian warganet mempertanyakan penyebab ledakan karena kerusakan yang ditimbulkan sangat besar.

Beberapa komentar yang beredar di media sosial antara lain:

“Jika bukan ledakan gas, lalu ledakan apa yang bisa menghasilkan daya rusak sebesar itu?”

“Kalau ledakan gas sudah dikesampingkan, apakah ini berarti ada bahan peledak lain yang terlibat?”

“Saya kira sedang terjadi perang. Kerusakannya mirip medan perang.”

“Dampaknya hampir seperti gempa bumi, benar-benar menakutkan.”

“Pernyataan bahwa penyebabnya bukan pipa gas sangat penting. Jika bukan kecelakaan biasa, kemungkinan ada unsur pidana yang perlu diselidiki.”

Laporan kompilasi oleh Tang Zixuan / Li Quan – NTDTV.com

Iran Tutup Selat Hormuz! Trump Ultimatum Teheran, Israel Ikut Gempur, Perang Besar Dimulai?

EtIndonesia.com  Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah Iran mengumumkan status siaga penuh dan mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan militer Amerika Serikat yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Situasi tersebut memicu kekhawatiran internasional karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.

Di saat yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengirimkan pesan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, ia menyatakan operasi militer Amerika hanya merupakan respons terbatas terhadap insiden helikopter Apache yang jatuh sebelumnya. Namun di sisi lain, Trump juga memperingatkan bahwa pemboman terhadap Iran dapat kembali dilanjutkan apabila Teheran menolak menandatangani kesepakatan yang diinginkan Washington.

Sementara itu, Israel dilaporkan ikut terlibat dalam operasi militer berskala besar terhadap Iran, menambah kompleksitas konflik yang telah mengguncang kawasan selama beberapa pekan terakhir.

Iran Umumkan Status Siaga Penuh

Menyusul serangkaian serangan yang diklaim menghantam berbagai target militer Iran, pemerintah Teheran bersama Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan status kesiagaan penuh di seluruh negeri pada 10 Juni 2026.

Dalam pernyataan resmi yang disampaikan kepada media domestik, militer Iran menegaskan bahwa seluruh cabang angkatan bersenjata telah diperintahkan untuk meningkatkan kesiapan tempur dan mempertahankan kedaulatan negara dengan seluruh kemampuan yang tersedia.

Sejumlah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan aktivitas pesawat tempur Iran yang melakukan patroli intensif di atas langit ibu kota Teheran.

Selain itu, beberapa laporan juga menyebut kemunculan pesawat tempur F-14 Tomcat milik Angkatan Udara Iran di wilayah Isfahan. Kemunculan pesawat legendaris buatan Amerika Serikat yang telah lama menjadi bagian armada Iran tersebut dianggap tidak biasa dan dipandang sebagai sinyal bahwa Teheran tengah meningkatkan kesiagaan militernya.

Ancaman Penutupan Selat Hormuz

Langkah paling dramatis dari Iran adalah pengumuman mengenai penutupan Selat Hormuz.

Pemerintah Iran menyatakan bahwa jalur pelayaran tersebut dapat ditutup sebagai bentuk respons terhadap serangan Amerika Serikat. Teheran bahkan memperingatkan bahwa kapal-kapal yang berusaha melintas berisiko menjadi sasaran militer.

Korps Garda Revolusi Iran mengklaim bahwa dua kapal yang mencoba melewati kawasan tersebut telah ditenggelamkan. Selain itu, IRGC juga mengaku telah meluncurkan rudal anti-kapal yang menimbulkan kerusakan terhadap kapal perang Amerika Serikat.

Namun hingga saat ini, berbagai klaim tersebut masih menjadi perdebatan dan belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen oleh pihak ketiga.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan Samudra Hindia. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati kawasan sempit tersebut setiap harinya. Karena itu, setiap ancaman terhadap jalur pelayaran ini langsung memengaruhi pasar energi global.

Iran Luncurkan Rudal ke Pangkalan Amerika

Di tengah meningkatnya ketegangan, Iran juga disebut mulai melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Beberapa laporan menyebut rudal balistik Iran ditembakkan ke sejumlah pangkalan militer Amerika di wilayah Teluk. Selain itu, serangan juga dikabarkan mengarah ke Pangkalan Udara Erbil di Irak utara yang selama ini menjadi salah satu lokasi strategis operasi militer Amerika Serikat di kawasan.

Belum ada laporan resmi yang dapat mengonfirmasi secara rinci tingkat kerusakan maupun jumlah korban akibat serangan tersebut.

Analis: Penutupan Selat Hormuz Bisa Jadi Perang Psikologis

Meski ancaman Iran terdengar serius, sejumlah analis keamanan internasional menilai pengumuman penutupan Selat Hormuz kemungkinan besar merupakan bagian dari strategi tekanan psikologis.

Menurut para pengamat militer, kemampuan Iran untuk benar-benar menutup jalur pelayaran internasional tersebut sangat bergantung pada kondisi operasional di lapangan.

Dalam dua pekan terakhir, berbagai fasilitas radar pesisir dan sistem pengawasan Iran dilaporkan menjadi sasaran serangan Amerika Serikat. Akibatnya, kemampuan Teheran untuk mengawasi lalu lintas maritim dan mengoordinasikan operasi blokade disebut mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Karena itu, meskipun Iran masih memiliki rudal anti-kapal, kapal cepat, drone, serta ranjau laut, efektivitas upaya penutupan Selat Hormuz dinilai tidak sekuat beberapa tahun lalu.

Trump: Operasi Militer Hanya Respons atas Insiden Apache

Di tengah situasi yang memanas, Presiden Donald Trump berusaha memberikan sinyal bahwa operasi militer Amerika belum tentu berkembang menjadi perang besar.

Menurut laporan The Wall Street Journal, Trump menyampaikan pesan melalui Qatar bahwa serangan yang dilakukan Amerika Serikat hanya merupakan respons atas insiden jatuhnya helikopter Apache milik militer AS di dekat Selat Hormuz pada 8 Juni 2026.

Pesan tersebut menegaskan bahwa Washington tidak sedang membuka konflik berskala luas dengan Iran.

Namun pernyataan Trump berikutnya menunjukkan sikap yang lebih keras.

Menurut laporan Fox News, Trump mengungkapkan bahwa Iran telah menghubunginya pada malam Rabu, 10 Juni 2026, untuk meminta penghentian pemboman.

Trump menyatakan bahwa operasi militer kemungkinan segera berakhir, tetapi ia juga memberikan ultimatum yang sangat jelas kepada Teheran.

“Jika Iran tidak menandatangani kesepakatan, maka saya akan melanjutkan pemboman besok malam.”

Pernyataan tersebut segera memicu spekulasi bahwa Washington tengah menerapkan strategi “tekanan maksimum” dengan menggabungkan kekuatan militer dan diplomasi sekaligus.

Israel Ikut Melancarkan Serangan Drone Besar-Besaran

Pada saat yang sama, Israel dilaporkan ikut bergabung dalam operasi militer terhadap Iran.

Sejumlah laporan menyebut pasukan Israel melaksanakan serangan drone dan serangan udara terkoordinasi terhadap berbagai target strategis di Iran.

Menurut sumber-sumber tersebut, tingkat kerusakan yang ditimbulkan cukup besar sehingga membuat aparat keamanan Iran kesulitan merespons secara cepat.

Beberapa laporan bahkan menyebut formasi jet tempur Israel melintasi wilayah udara Suriah sebelum menuju Iran.

Serangan udara kemudian berlangsung hampir bersamaan dengan operasi yang dijalankan Amerika Serikat.

Di saat yang sama, sejumlah pesawat tanker Amerika dilaporkan lepas landas dari wilayah Israel untuk mendukung operasi udara jarak jauh. Sementara itu, armada pesawat tanker dan jet tempur Uni Emirat Arab disebut berada dalam kondisi siaga tinggi.

Perubahan Strategi Trump terhadap Iran

Menurut berbagai laporan dari Washington, keputusan Trump untuk meningkatkan tekanan militer terhadap Iran lahir setelah serangkaian evaluasi keamanan nasional dalam beberapa hari terakhir.

Sehari sebelumnya, militer Amerika dilaporkan telah menyerang sekitar 20 target militer Iran.

Trump disebut menerima berbagai masukan dari Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine mengenai perkembangan situasi di lapangan.

Setelah mempertimbangkan berbagai opsi, Trump diyakini memutuskan untuk mengubah pendekatan pemerintahannya.

Jika sebelumnya Washington lebih mengandalkan jalur negosiasi, kini strategi yang diterapkan disebut mengombinasikan diplomasi dengan tekanan militer langsung.

Tujuannya adalah meningkatkan peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran sekaligus memperkuat posisi tawar Amerika Serikat dalam setiap perundingan.

Dewan Keamanan PBB Bahas Sanksi Iran

Perkembangan penting lainnya terjadi di tingkat internasional.

Pada dini hari 10 Juni 2026, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menggelar sidang terbuka untuk membahas isu Iran.

Menurut laporan yang beredar, sidang tersebut meninjau rancangan yang diajukan oleh Rusia dan Tiongkok terkait perpanjangan sejumlah pengecualian sanksi terhadap Iran.

Namun upaya kedua negara tersebut dilaporkan tidak berhasil mengubah arah pembahasan.

Dewan Keamanan disebut akhirnya mendukung kelanjutan mekanisme sanksi yang berlaku terhadap Iran.

Keputusan tersebut dinilai sebagai kemunduran diplomatik bagi Teheran sekaligus menimbulkan kekecewaan di Beijing dan Moskow yang selama ini menjadi dua mitra internasional utama Iran.

Timur Tengah Kembali di Ambang Eskalasi

Perkembangan pada 8–10 Juni 2026 menunjukkan bahwa ketegangan antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel kembali memasuki fase yang sangat berbahaya.

Ancaman penutupan Selat Hormuz, serangan rudal terhadap pangkalan Amerika, operasi udara gabungan AS-Israel, serta ultimatum terbuka dari Presiden Trump memperlihatkan bahwa situasi masih sangat rapuh.

Meskipun berbagai jalur diplomasi masih berlangsung di belakang layar, setiap insiden baru berpotensi memicu eskalasi yang jauh lebih besar dan berdampak langsung terhadap stabilitas Timur Tengah serta pasar energi global.  (***)

Trump Bongkar Operasi Rahasia di Selat Hormuz, Ratusan Target Iran Langsung Digempur!

EtIndonesia.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu, 10 Juni 2026, menyampaikan pernyataan keras dari Ruang Oval Gedung Putih. Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa militer AS telah melancarkan serangan besar terhadap Iran sehari sebelumnya dan siap melanjutkan operasi militer dengan intensitas yang lebih tinggi apabila Teheran tetap menunda penyelesaian perundingan yang sedang berlangsung.

Pernyataan tersebut muncul di tengah situasi yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah, khususnya setelah serangkaian insiden yang terjadi di sekitar Selat Hormuz dan meningkatnya aktivitas militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Trump Klaim Amerika Jalankan Operasi Rahasia di Selat Hormuz

Dalam kesempatan yang sama, Trump juga mengungkap apa yang ia sebut sebagai operasi rahasia militer Amerika Serikat yang selama ini tidak pernah dipublikasikan.

Menurut Trump, beberapa malam sebelumnya pasukan Amerika berhasil menyita puluhan kapal yang diduga beroperasi secara sembunyi-sembunyi di wilayah perairan sekitar Iran. Kapal-kapal tersebut disebut berlayar tanpa menyalakan lampu navigasi maupun sistem radar.

Trump mengklaim bahwa sebanyak 22 kapal berhasil diamankan dan muatan minyak yang dibawa kemudian dialihkan oleh pihak Amerika Serikat.

Presiden AS tersebut bahkan menyatakan bahwa operasi itu berlangsung tanpa diketahui oleh Iran pada saat kejadian berlangsung.

Menurut Trump, selama beberapa waktu terakhir Amerika Serikat telah menjalankan berbagai operasi maritim untuk menjamin keamanan pelayaran internasional di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia.

Ia mengklaim bahwa operasi tersebut telah membantu mengalirkan lebih dari 100 juta barel minyak ke pasar internasional serta menjamin keamanan lebih dari 200 kapal dagang yang melintas di kawasan tersebut.

Trump: Iran Terlalu Lama Menunda Kesepakatan

Selain membahas operasi militer, Trump kembali menyoroti proses negosiasi yang masih berlangsung antara Washington dan Teheran.

Melalui pernyataannya di Gedung Putih maupun unggahan di media sosial, Trump menuduh Iran sengaja memperlambat penyelesaian perundingan yang menurutnya sebenarnya sudah hampir mencapai titik akhir.

Menurut Trump, Iran pada prinsipnya telah menyetujui sejumlah poin penting, termasuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Namun, ia menilai Teheran terus menunda proses finalisasi kesepakatan.

“Kami sudah sangat dekat dengan sebuah perjanjian. Mereka mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi mereka terus menunda,” kata Trump.

Presiden AS itu juga mengaitkan sikap keras pemerintahannya dengan insiden jatuhnya helikopter serang Apache Amerika Serikat yang terjadi di kawasan Selat Hormuz beberapa hari sebelumnya.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan respons militer lanjutan, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat siap kembali melakukan serangan terhadap target-target Iran apabila diperlukan.

Peringatan Keras kepada Teheran

Pada pagi hari 10 Juni 2026, Trump kembali mengeluarkan peringatan terbuka kepada pemerintah Iran.

Ia menyatakan bahwa apabila Teheran tidak segera menyelesaikan perundingan dan tetap menolak tuntutan yang diajukan Washington, maka Amerika Serikat akan memperluas cakupan serangan.

Menurut sejumlah laporan, target yang disebut-sebut masuk dalam daftar potensial operasi berikutnya mencakup infrastruktur strategis seperti pembangkit listrik, jaringan energi, fasilitas komunikasi, hingga sejumlah jembatan penting yang memiliki nilai strategis bagi aktivitas logistik Iran.

Pernyataan tersebut semakin memperkuat spekulasi bahwa Washington tengah meningkatkan tekanan militer sebagai bagian dari strategi diplomasi paksa terhadap Teheran.

Gedung Putih Gelar Rapat Situasi Perang

Pada sore hari waktu Pantai Timur Amerika Serikat, Presiden Trump menggelar rapat keamanan tingkat tinggi di Gedung Putih untuk mengevaluasi situasi terbaru dan membahas berbagai opsi militer terhadap Iran.

Menurut laporan yang beredar, rapat tersebut dihadiri sejumlah pejabat senior pemerintahan Amerika Serikat, antara lain:

  • Wakil Presiden JD Vance
  • Menteri Luar Negeri Marco Rubio
  • Utusan Khusus Steve Witkoff
  • Direktur CIA John Ratcliffe
  • Jenderal Dan Caine
  • Pejabat tinggi keamanan nasional lainnya

Sementara itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth dilaporkan mengikuti rapat melalui sambungan komunikasi dari Markas Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM).

Menurut sumber yang dikutip sejumlah media, salah satu opsi yang dibahas adalah operasi militer berskala besar namun berlangsung dalam waktu relatif singkat dengan tujuan meningkatkan tekanan terhadap Iran agar kembali ke meja perundingan.

Pentagon Beri Sinyal Operasi Militer Baru

Tak lama setelah rapat berlangsung, Menteri Pertahanan Pete Hegseth disebut memberikan pernyataan yang mengindikasikan kesiapan militer Amerika Serikat untuk melaksanakan operasi lanjutan.

Menurut laporan tersebut, Pentagon telah menyiapkan berbagai opsi serangan terhadap sejumlah target strategis Iran.

Pernyataan itu semakin memperkuat kesan bahwa Washington tengah meningkatkan tekanan maksimal terhadap Teheran melalui kombinasi diplomasi dan kekuatan militer.

Aktivitas Militer Amerika Meningkat di Timur Tengah

Sejak pagi hari 10 Juni, berbagai indikator kesiapan tempur Amerika Serikat di Timur Tengah mulai terlihat.

Menurut sejumlah laporan militer:

  • Pasukan lintas udara Angkatan Darat AS melaksanakan latihan tembak langsung.
  • Sejumlah unsur tempur laut dan udara meningkatkan status kesiagaan.
  • Pesawat pembom strategis B-52 yang lepas landas dari wilayah Mediterania dilaporkan bergerak menuju kawasan Timur Tengah.
  • Armada laut Amerika Serikat meningkatkan patroli di sekitar jalur pelayaran strategis.

Banyak analis menilai langkah tersebut merupakan bagian dari strategi tekanan terakhir Washington terhadap Iran.

Pesan yang ingin disampaikan dinilai cukup jelas: seluruh perangkat militer telah disiapkan, sementara keputusan akhir berada pada hasil negosiasi yang sedang berlangsung.

Laporan: Gelombang Serangan Baru Dimulai

Menjelang malam hari, sejumlah laporan menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan Israel mulai melancarkan gelombang serangan udara baru terhadap berbagai target di Iran.

Menurut laporan tersebut, sasaran utama mencakup sejumlah fasilitas yang dikaitkan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di wilayah:

  • Asalouyeh
  • Bandar Abbas
  • Kangan
  • Sirik
  • Pulau Qeshm
  • Pulau Hengam
  • Kawasan pesisir Selat Hormuz

Ledakan dilaporkan terdengar di sejumlah wilayah pesisir selatan Iran serta beberapa lokasi strategis lainnya.

Laporan juga menyebutkan bahwa kapal perang Amerika Serikat, pesawat tempur, dan helikopter serang ikut mendukung operasi tersebut.

Sejumlah fasilitas pelabuhan, sistem radar, instalasi pertahanan udara, pangkalan angkatan laut, hingga pusat komando militer disebut menjadi target utama operasi.

Fasilitas Energi Iran Dikabarkan Ikut Menjadi Sasaran

Beberapa laporan yang belum dapat diverifikasi secara independen juga menyebut bahwa kompleks gas alam South Pars turut terdampak dalam operasi tersebut.

South Pars merupakan salah satu ladang gas alam terbesar di dunia dan menjadi tulang punggung industri energi Iran.

Jika laporan tersebut terbukti benar, maka dampaknya berpotensi memengaruhi sektor energi Iran secara signifikan serta menimbulkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global.

Timur Tengah Kembali di Ambang Eskalasi

Perkembangan pada 10 Juni 2026 menunjukkan bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase yang sangat sensitif. Di satu sisi, Washington masih menyatakan bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup dan kesepakatan masih mungkin tercapai. Namun di sisi lain, peningkatan aktivitas militer, peringatan keras dari Gedung Putih, serta laporan mengenai serangan baru menunjukkan bahwa risiko eskalasi konflik tetap sangat tinggi.

Dengan armada militer yang telah bersiaga dan negosiasi yang belum menghasilkan kesepakatan final, kawasan Timur Tengah kini kembali menghadapi kemungkinan terjadinya konfrontasi yang lebih luas dalam waktu dekat. Jika upaya diplomatik gagal, situasi dapat berkembang menjadi salah satu krisis keamanan terbesar di kawasan tersebut sepanjang tahun 2026.  (***)

Iran Terus Ubah Tuntutan, AS Kehilangan Kesabaran? Operasi Militer Besar Kembali Dimulai

EtIndonesia.com  Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memasuki fase yang semakin berbahaya setelah Amerika Serikat dan Iran terlibat dalam serangkaian aksi saling balas pada malam 9 Juni 2026. Dalam waktu kurang dari 24 jam, kedua negara dilaporkan melakukan sedikitnya tiga putaran serangan dan respons militer yang memperlihatkan meningkatnya ketegangan di kawasan strategis Selat Hormuz.

Meski eskalasi terus meningkat, pola tindakan Iran menunjukkan bahwa Teheran masih berupaya menjaga konflik agar tidak berkembang menjadi perang terbuka berskala besar dengan Amerika Serikat maupun Israel.


Amerika Serikat Serang Puluhan Target Strategis Iran

Menurut berbagai laporan yang beredar pada 9 Juni 2026 malam, militer Amerika Serikat melancarkan operasi militer terhadap sekitar 20 target yang berada di wilayah Iran bagian selatan.

Target yang diserang meliputi beberapa lokasi strategis di:

  • Pulau Qeshm
  • Pulau Sirik
  • Bandar Abbas

Wilayah-wilayah tersebut memiliki arti penting bagi pertahanan Iran karena selama bertahun-tahun digunakan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai pusat pengawasan dan pengendalian aktivitas pelayaran di sekitar Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling vital di dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati perairan sempit tersebut setiap hari. Karena itu, setiap gangguan terhadap jalur pelayaran di kawasan ini berpotensi memicu gejolak ekonomi internasional dan lonjakan harga energi.

Sumber-sumber yang memantau perkembangan konflik menyebutkan bahwa serangan Amerika menargetkan fasilitas radar, pusat komando, gudang logistik, serta infrastruktur pendukung operasi maritim Iran.

Akibat serangan tersebut, sejumlah fasilitas strategis dilaporkan mengalami kerusakan signifikan. Para pengamat menilai operasi tersebut bertujuan mengurangi kemampuan Iran untuk mengawasi, mengganggu, atau bahkan memblokade lalu lintas kapal internasional yang melintasi Selat Hormuz.


Iran Membalas dengan Menyerang Pangkalan Amerika

Tak lama setelah operasi militer Amerika berlangsung, Iran melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah fasilitas dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Namun yang menarik perhatian para analis adalah pilihan target yang digunakan Teheran.

Alih-alih menyerang Israel secara langsung, Iran hanya memfokuskan responsnya kepada kepentingan militer Amerika Serikat di kawasan.

Keputusan tersebut dianggap bukan kebetulan.

Sejumlah analis intelijen sumber terbuka menilai bahwa para pemimpin Iran memahami risiko besar apabila mereka kembali melancarkan serangan langsung terhadap Israel. Serangan semacam itu berpotensi memicu operasi balasan yang jauh lebih besar dari Israel dan mungkin menyeret Amerika Serikat ke dalam keterlibatan militer yang lebih luas.

Karena itu, Iran tampaknya memilih jalur yang dianggap lebih aman secara strategis: menunjukkan kemampuan membalas tanpa melewati batas yang dapat memicu perang regional.


ISW: Iran Sedang Menggunakan Strategi “Kekuatan yang Terkalibrasi”

Lembaga kajian keamanan Amerika Serikat, Institute for the Study of War (ISW), menilai pola tindakan Iran saat ini mencerminkan strategi yang disebut sebagai “calibrated use of force” atau penggunaan kekuatan yang terkalibrasi.

Dalam konsep tersebut, sebuah negara berusaha membalas serangan lawan secara terukur untuk mempertahankan kredibilitas militernya, namun tetap menghindari tindakan yang dapat memicu perang besar.

Bagi pemerintah Iran, situasi saat ini merupakan tantangan yang kompleks.

Di satu sisi, Teheran harus menunjukkan kepada masyarakat dalam negeri bahwa mereka mampu merespons setiap serangan yang dilakukan Amerika Serikat maupun Israel.

Namun di sisi lain, para pemimpin Iran juga berusaha menghindari langkah yang dapat memberi alasan kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk melancarkan operasi militer yang jauh lebih luas terhadap Iran.

Dengan kata lain, Iran sedang berusaha menjaga keseimbangan antara kebutuhan politik domestik dan risiko strategis internasional.


Faktor Politik Menjadi Pertimbangan Penting

Selain faktor militer, sejumlah perkembangan politik juga diyakini memengaruhi sikap Teheran.

Para pengamat menyoroti bahwa Amerika Serikat sedang bergerak menuju periode politik yang semakin sensitif menjelang pemilu paruh waktu. Sementara itu, Israel juga menghadapi dinamika politik internal yang dapat memengaruhi keputusan-keputusan keamanan nasional.

Dalam kondisi seperti ini, sebagian analis berpendapat bahwa Iran tidak benar-benar fokus untuk mencapai kesepakatan akhir dalam waktu dekat.

Sebaliknya, Teheran dinilai sedang menjalankan strategi untuk memperpanjang proses negosiasi dan memperoleh waktu sebanyak mungkin sambil menunggu perkembangan situasi politik di Washington maupun Tel Aviv.


Kronologi Tuntutan Iran Sejak Gencatan Senjata April 2026

Sejumlah akun intelijen sumber terbuka di platform X merangkum perubahan posisi dan tuntutan Iran sejak tercapainya gencatan senjata pada April 2026.

Menurut mereka, pola yang terlihat menunjukkan bahwa fokus perundingan terus bergeser dari waktu ke waktu.

Akhir April 2026

Iran mengusulkan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari pembahasan pascagencatan senjata.

Awal Mei 2026

Teheran mengajukan proposal perdamaian yang terdiri dari 14 poin.

Pertengahan Mei 2026

Proposal tersebut kemudian disederhanakan menjadi memorandum satu halaman.

3 Juni 2026

Iran menuntut agar isu Lebanon dimasukkan ke dalam pembahasan kesepakatan gencatan senjata.

5 Juni 2026

Teheran meminta pencairan dana senilai 24 miliar dolar AS yang berkaitan dengan berbagai isu ekonomi dan sanksi.

7 Juni 2026

Iran kembali melancarkan serangan terhadap Israel, menandai meningkatnya ketegangan setelah periode relatif tenang.

9 Juni 2026

Sebuah helikopter serang Apache milik Amerika Serikat dilaporkan jatuh atau ditembak jatuh di dekat Selat Hormuz, memicu eskalasi baru yang kemudian diikuti operasi militer besar Amerika terhadap Iran.

Tuntutan Terbaru

Iran kembali memperluas ruang lingkup pembahasan dengan meminta agar persoalan Gaza juga dimasukkan ke dalam kesepakatan gencatan senjata yang sedang dinegosiasikan.


Pengamat: Teheran Berupaya Memperlambat Negosiasi

Bagi sebagian analis keamanan internasional, perubahan tuntutan yang terus terjadi tersebut menunjukkan pola yang konsisten.

Alih-alih bergerak menuju penyelesaian akhir, Iran dinilai terus memperluas agenda pembahasan sehingga fokus negosiasi bergeser dari satu isu ke isu lainnya.

Strategi semacam ini dianggap dapat memperlambat proses diplomatik, memperpanjang waktu negosiasi, serta memberikan ruang bagi Teheran untuk menunggu perubahan kondisi politik maupun militer yang mungkin lebih menguntungkan di masa mendatang.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada indikasi bahwa salah satu pihak siap meninggalkan jalur diplomasi sepenuhnya. Namun dengan meningkatnya frekuensi serangan dan balasan militer dalam beberapa hari terakhir, kawasan Timur Tengah tetap berada dalam kondisi yang sangat rentan terhadap kesalahan perhitungan yang dapat memicu konflik yang lebih luas.

Perkembangan dalam beberapa hari ke depan diperkirakan akan menjadi penentu apakah ketegangan ini masih dapat dikendalikan melalui diplomasi, atau justru berkembang menjadi konfrontasi yang lebih besar antara Amerika Serikat dan Iran. (***)

Iran Dihujani Bom Empat Jam Tanpa Henti, Trump Kirim Pesan Mencekam: Balasan Kami Tak Akan Seimbang!

EtIndonesia.com — Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memasuki fase yang sangat berbahaya setelah Amerika Serikat dan Iran terlibat dalam aksi saling serang yang berpotensi memicu eskalasi konflik lebih luas. Ketegangan terbaru pecah setelah insiden jatuhnya helikopter serang Apache milik militer Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz pada 8 Juni 2026, yang menurut sejumlah laporan diklaim ditembak jatuh oleh Iran.

Sebagai respons, Washington melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap berbagai fasilitas militer Iran pada malam 9 Juni 2026, yang disebut sebagai operasi militer terbesar Amerika terhadap Iran sejak kedua pihak menyepakati penghentian sementara permusuhan beberapa waktu lalu.

Serangan tersebut tidak hanya menghantam instalasi militer, tetapi juga dilaporkan berdampak pada sejumlah infrastruktur sipil penting, termasuk jaringan air bersih dan komunikasi di wilayah pesisir selatan Iran.


Amerika Serikat Luncurkan Operasi Militer Besar ke Iran

Pada malam 9 Juni 2026, gelombang pesawat tempur Amerika Serikat dilaporkan lepas landas dari kapal induk dan pangkalan militer yang beroperasi di kawasan Laut Arab.

Dalam operasi tersebut, Amerika mengerahkan kombinasi pesawat tempur siluman F-35 Lightning II dan F/A-18 Super Hornet yang bergerak menuju sejumlah target strategis di wilayah selatan Iran.

Beberapa lokasi yang menjadi sasaran utama serangan meliputi:

  • Bandar Abbas
  • Pulau Qeshm
  • Sirik
  • Jask

Menurut berbagai laporan yang beredar, sekitar 20 target militer milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menjadi sasaran serangan presisi Amerika.

Target-target tersebut mencakup:

  • 4 sistem pertahanan udara
  • 2 stasiun radar
  • 3 lokasi peluncuran rudal
  • 6 peluncur drone
  • 4 fasilitas pendukung rudal
  • 1 pusat komando militer utama

Ledakan besar dilaporkan terjadi di sepanjang pesisir selatan Iran. Kepulan asap tebal terlihat membumbung tinggi ke udara, sementara suara dentuman terdengar di sejumlah wilayah pantai yang menghadap Selat Hormuz dan Teluk Oman.

Sumber-sumber keamanan menyebutkan bahwa dalam waktu kurang dari empat jam, sebagian besar fasilitas komando dan pertahanan yang menjadi target mengalami kerusakan berat.


CENTCOM: Serangan Menggunakan Senjata Presisi

Pihak militer Amerika melalui United States Central Command menegaskan bahwa operasi dilakukan menggunakan amunisi berpemandu presisi dengan tujuan membatasi dampak terhadap warga sipil.

Namun, kondisi geografis sejumlah fasilitas militer Iran yang berada dekat kawasan permukiman membuat efek serangan tidak sepenuhnya dapat diisolasi dari infrastruktur sipil di sekitarnya.

Akibatnya, sejumlah fasilitas publik dilaporkan ikut mengalami gangguan operasional setelah serangan berlangsung.


Infrastruktur Air dan Komunikasi Iran Terdampak

Salah satu wilayah yang paling terdampak dilaporkan berada di kawasan Bamani, Kabupaten Sirik.

Menurut laporan setempat, dua waduk utama yang selama ini menjadi sumber pasokan air bagi sejumlah desa mengalami kerusakan akibat gelombang serangan.

Dampak yang dilaporkan antara lain:

  • Pasokan air bersih terhenti di beberapa desa.
  • Menara telekomunikasi mengalami kerusakan.
  • Jaringan telepon seluler terganggu.
  • Akses internet di sejumlah wilayah lumpuh sementara.

Gangguan tersebut menimbulkan kekhawatiran baru karena wilayah pesisir selatan Iran merupakan salah satu kawasan penting bagi aktivitas pelayaran internasional dan logistik energi dunia.


Trump Kirim Pesan Keras Setelah Serangan

Beberapa jam setelah operasi militer berlangsung, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membuat langkah yang menarik perhatian publik internasional.

Pada dini hari 10 Juni 2026, Trump membagikan cuplikan dari serial televisi politik terkenal The West Wing melalui akun media sosialnya.

Dalam adegan yang dibagikan tersebut, Presiden Bartlet menyampaikan pernyataan:

“Jika Anda menyakiti satu orang Amerika, siapa pun orang Amerika itu, kami akan membalas dengan cara yang tidak seimbang.”

Unggahan tersebut segera ditafsirkan banyak pengamat sebagai pesan politik yang ditujukan langsung kepada Iran.

Pesan itu dianggap mencerminkan sikap Washington bahwa setiap serangan terhadap personel atau aset militer Amerika akan dibalas dengan kekuatan yang jauh lebih besar.


Iran Langsung Melakukan Serangan Balasan

Tidak lama setelah serangan udara Amerika berakhir, Iran mengumumkan dimulainya operasi balasan terhadap kepentingan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Melalui pernyataan resmi, Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan telah meluncurkan rudal jarak jauh dan drone ke tiga lokasi yang terkait dengan militer Amerika, yaitu:

  • Yordania
  • Kuwait
  • Bahrain

Iran mengklaim beberapa target penting berhasil diserang, termasuk:

  • Hanggar pesawat tempur F-35
  • Pusat komando militer Amerika
  • Fasilitas pendukung operasi udara

Namun klaim tersebut tidak mendapatkan konfirmasi independen.


Yordania Klaim Lima Rudal Iran Berhasil Dicegat

Pada 10 Juni 2026, Angkatan Bersenjata Yordania mengeluarkan pernyataan resmi mengenai serangan tersebut.

Menurut militer Yordania, sistem pertahanan udara negara itu berhasil mencegat dan menghancurkan lima rudal Iran sebelum mencapai sasaran.

Pihak berwenang menyatakan bahwa puing-puing rudal jatuh di beberapa lokasi di wilayah Yordania, tetapi tidak menyebabkan korban jiwa maupun kerusakan properti yang signifikan.

Pernyataan tersebut secara efektif membantah klaim Iran mengenai keberhasilan serangan terhadap sasaran di negara tersebut.


Bahrain Siaga Penuh Setelah Klaim Serangan Armada Kelima AS

Iran juga mengumumkan bahwa mereka telah mengirimkan sejumlah drone ke markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat yang bermarkas di Bahrain.

Sebagai langkah antisipasi, Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengeluarkan peringatan keamanan kepada masyarakat dan meminta warga tetap waspada serta mencari perlindungan apabila diperlukan.

Namun beberapa jam kemudian, penasihat media pemerintah Bahrain menyatakan bahwa seluruh drone yang memasuki wilayah udara negara tersebut berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara sebelum mencapai target.


Serangan ke Kuwait Diklaim Digagalkan

Selain Bahrain dan Yordania, Iran juga mengklaim telah menyerang Pangkalan Udara Ali Al Salem menggunakan drone.

Meski demikian, sumber-sumber keamanan kawasan menyatakan bahwa upaya serangan tersebut berhasil digagalkan dan tidak menimbulkan kerusakan berarti pada fasilitas militer Amerika maupun Kuwait.

Setelah serangkaian serangan tersebut, Iran menyatakan bahwa fase pertama operasi balasannya telah selesai dilaksanakan.


Misteri Senjata Iran yang Diduga Menjatuhkan Aset Udara Amerika

Di tengah meningkatnya konflik, perhatian para analis militer tertuju pada satu pertanyaan penting.

Bagaimana Iran masih mampu mengancam aset udara Amerika setelah berbagai sistem pertahanan udaranya diklaim mengalami kerusakan akibat serangan Amerika dan Israel?

Mantan perwira intelijen Angkatan Laut Amerika Serikat, Rice, menilai bahwa Iran kemungkinan memanfaatkan amunisi berkeliaran atau loitering munition tipe 358.


Loitering Munition 358: Ancaman Murah untuk Target Bernilai Tinggi

Menurut analisis tersebut, sistem senjata ini memiliki karakteristik yang cukup unik.

Biaya produksinya diperkirakan hanya sekitar:

  • US$20.000 hingga US$90.000 per unit

Namun sistem tersebut disebut mampu menghancurkan target yang nilainya jauh lebih mahal, termasuk:

  • Drone pengintai dan serang MQ-9 Reaper senilai sekitar US$30 juta
  • Helikopter tempur
  • Pesawat tanpa awak berkecepatan rendah

Cara kerjanya meliputi:

  1. Diluncurkan menggunakan roket pendorong.
  2. Roket dilepaskan setelah mencapai ketinggian tertentu.
  3. Mesin jet mini aktif dan menjaga penerbangan.
  4. Senjata berpatroli di udara selama berjam-jam.
  5. Menggunakan sensor inframerah pasif dan pencari sinyal radio.
  6. Tidak memancarkan radar aktif sehingga sulit dideteksi.

Ketika menemukan sasaran, sistem tersebut akan melakukan serangan langsung dengan menabrakkan diri ke target.

Dengan kata lain, senjata ini berfungsi sebagai “pemburu otomatis” yang mampu mencari, mengunci, dan menghancurkan sasaran secara mandiri.


Situasi Masih Sangat Dinamis

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase yang sangat berisiko setelah beberapa minggu sebelumnya muncul harapan akan tercapainya stabilitas pasca-gencatan senjata.

Serangan besar Amerika terhadap fasilitas militer Iran, diikuti serangan balasan Teheran terhadap sejumlah lokasi yang terkait dengan militer AS di Timur Tengah, menandakan bahwa situasi masih jauh dari kata aman.

Para pengamat keamanan internasional memperingatkan bahwa setiap insiden baru, terutama yang menimbulkan korban jiwa di salah satu pihak, berpotensi memicu eskalasi lebih luas yang dapat berdampak langsung terhadap keamanan kawasan Teluk, jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, serta stabilitas pasar energi global.  (***)

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata

Arsh Sarao

Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak Anda menghasilkan pola saraf yang sangat khas.

Kebencian meningkatkan aktivitas di wilayah otak yang terlibat dalam agresi dan penilaian strategis, sekaligus menekan empati. Seolah-olah otak mulai bersiap untuk “menghadapi” orang itu. Semakin besar kebencian Anda terhadap seseorang, semakin kuat pula sinyal-sinyal itu.

Meskipun hampir semua orang pernah merasakan kebencian, jati diri terdalam manusia sebenarnya tidak selaras dengan perasaan itu, kata Steven Stosny, terapis dan pendiri Compassion Power, kepada The Epoch Times.

“Jika kebencian menjadi kronis, kita kehilangan kemanusiaan kita,” katanya.

Ilmu Saraf di Balik Kebencian

“Sakelar” kebencian di otak memprioritaskan perilaku agresif dan penilaian negatif.

Kebencian secara selektif menonaktifkan girus frontal superior kanan, area otak yang berperan dalam mengendalikan respons impulsif dan memahami perasaan orang lain.

Penonaktifan yang sangat spesifik ini memutus “rem” saraf yang biasanya menjaga impuls agresif tetap terkendali, sehingga orang yang membenci menjadi tidak rasional dan terobsesi pada target kebenciannya.

Mitchell Landers, peneliti pascadoktoral di Departemen Psikologi University of California, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa cinta dan kebencian sama-sama melibatkan penilaian intens terhadap orang lain, tetapi dengan arah yang berlawanan.

Baik orang yang sedang jatuh cinta maupun yang membenci dapat mengalami penurunan kemampuan menilai secara objektif ketika emosi mereka sangat kuat. Inilah yang menjelaskan perilaku seperti “orang yang jatuh cinta mengabaikan kekurangan, sementara orang yang membenci menciptakan kekurangan yang sebenarnya tidak ada,” kata Landers.

Kebencian mengaktifkan beberapa wilayah pada lapisan luar dan dalam otak, terutama putamen dan insula.

Putamen mempersiapkan seseorang untuk bertindak, sedangkan insula berfungsi sebagai sensor. Ketika dikuasai kebencian, kedua wilayah ini dapat mendorong seseorang untuk melakukan tindakan balas dendam, seperti menghadapi atau bahkan menyakiti target kebenciannya.

Kebencian juga memperkuat dirinya sendiri. Semakin Anda membenci, semakin otak Anda terprogram untuk membenci. Kebencian ibarat racun dosis rendah yang perlahan mengikis empati.

Bagaimana Kebencian Meracuni Orang yang Membencinya

Kebencian dapat mematikan sirkuit empati di otak.

Sebuah penelitian menemukan bahwa peserta yang terpapar ujaran kebencian terhadap kelompok minoritas menjadi kurang berempati terhadap penderitaan bukan hanya kelompok minoritas tersebut, tetapi juga terhadap orang lain secara umum. Temuan ini menunjukkan bahwa kebencian dapat menyebar.

Seiring waktu, berkurangnya empati menyebabkan runtuhnya belas kasih.

Menurut Landers, bagi orang yang membenci, keberadaan orang yang dibencinya itu sendiri dianggap sebagai masalah utama.

“Ketika Anda menilai seseorang memiliki nilai asosiasi negatif—bahwa kesejahteraannya bertentangan dengan kesejahteraan Anda—maka wajar jika kepedulian terhadap penderitaannya berkurang,” katanya.

Akibatnya, seseorang tidak hanya kehilangan kemampuan untuk berempati terhadap rasa sakit orang lain, tetapi juga bisa menjadi kebal terhadap penderitaan tersebut atau bahkan merasa senang melihatnya.

Hubungan erat antara kebencian, agresi, dan permusuhan membuat orang yang membenci berisiko mengalami masalah kesehatan mental maupun fisik. Orang yang penuh permusuhan cenderung mengalami keretakan hubungan sosial, lebih mudah stres, dan lebih rentan terhadap depresi.

Secara fisik, perilaku yang didorong oleh kebencian seperti kemarahan dan agresi memicu pelepasan hormon stres yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan peradangan.

Hormon stres menekan aktivitas sel pembunuh alami (natural killer cells), sehingga kemampuan tubuh melawan infeksi, termasuk kanker, menjadi berkurang.

Respons stres yang terkait dengan kemarahan dan agresi juga mengganggu kemampuan pembuluh darah untuk berelaksasi dengan baik, padahal hal tersebut sangat penting bagi sirkulasi darah yang sehat. Gangguan ini merupakan salah satu pemicu utama stroke dan penyakit kardiovaskular.

Sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam Journal of the American College of Cardiology menemukan bahwa kemarahan dan permusuhan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner sebesar 19 persen pada orang sehat, serta meningkatkan kemungkinan prognosis buruk sebesar 24 persen pada pasien yang sudah memiliki penyakit jantung.

Lalu, mengapa emosi yang meracuni ini begitu sulit dilepaskan?

Dari Mana Kebencian Berasal?

Kebencian sering berakar pada kemarahan yang tidak terselesaikan.

Penelitian Landers pada tahun 2025 memberikan gambaran tentang bagaimana kemarahan berubah menjadi kebencian.

“Kemarahan adalah mekanisme tawar-menawar,” kata Landers.

Anda merasa marah ketika masih menganggap hubungan tersebut layak dipertahankan. Ketika seseorang tampaknya tidak peduli sebagaimana yang menurut Anda seharusnya, kemarahan berfungsi sebagai upaya untuk mendorong orang itu mengubah cara memperlakukan dan menghargai Anda.

“Itulah sebabnya orang yang marah ingin berbicara, ingin penjelasan, dan ingin permintaan maaf,” katanya.

Namun, ketika kemarahan berulang kali gagal memperbaiki hubungan, kemarahan mulai berubah menjadi kebencian.

Kebencian berasumsi bahwa hubungan tersebut tidak lagi layak dipertahankan, sehingga berupaya “menetralkan” orang yang dianggap sebagai sumber masalah.

Dari sudut pandang orang yang membenci, keberadaan orang yang dibencinya membuat hidupnya menjadi lebih buruk.

“Tidak ada jumlah percakapan yang dapat mengubah fakta bahwa pesaing romantis itu ada, atau bahwa seorang kompetitor mendapatkan promosi yang Anda inginkan, atau bahwa kehadiran seseorang dalam komunitas Anda dianggap mengancam kepentingan Anda,” kata Landers.

Menurutnya, kebencian baru mereda ketika target kebencian dianggap cukup jauh atau tidak lagi memiliki kekuatan. Masalahnya, mencapai kondisi tersebut sering kali melibatkan penggunaan kekuatan atau agresi.

Tindakan agresif dan permusuhan yang didorong oleh kebencian pada akhirnya justru memperkuat rasa benci itu sendiri.

Sifat yang saling memperkuat ini menciptakan sebuah jebakan kebencian.

Kebencian Berasal dari Rasa Tidak Berdaya

Jessica Russo, psikolog klinis berlisensi, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa kebencian sering muncul dari rasa tidak berdaya.

Ketika seseorang dipandang sebagai ancaman, muncul perasaan bawah sadar berupa kelemahan dan ketidakberdayaan. Untuk melawan ancaman tersebut, orang sering menggunakan “perisai kebencian” sebagai bentuk perlindungan diri.

“Kebencian adalah perisai yang sangat kuat,” kata Russo.

Namun ironisnya, dengan menggunakan kebencian untuk melindungi diri, seseorang justru membuat dirinya semakin rentan.

“Kita perlu mencari akar masalahnya, yaitu apa sebenarnya yang sedang mereka coba lindungi dari diri mereka sendiri,” katanya.

Russo percaya bahwa belas kasih dapat menghancurkan perisai kebencian dengan memulihkan harapan dan mengusir kegelapan. Penawarnya adalah membangun kembali hal-hal yang dihancurkan oleh kebencian.

Obat untuk Kebencian

Menurut Stosny, manusia memiliki nilai dasar berupa rasa harga diri yang berakar pada keyakinan bahwa setiap orang adalah “anak Tuhan”.

Bertindak berdasarkan keyakinan tersebut memanusiakan diri sendiri dan orang lain, sedangkan kebencian justru menghilangkan sisi kemanusiaan keduanya.

Karena itu, untuk menghilangkan kebencian, seseorang harus menumbuhkan lawannya: belas kasih.

“Belas kasih dan kebencian tidak dapat hidup berdampingan; semakin sering kita melakukan yang satu, semakin sulit bagi kita untuk melakukan yang lain,” kata Stosny.

Belas kasih adalah konsep yang luas, dan setiap orang memiliki pemahaman yang berbeda tentangnya. Namun secara umum, belas kasih berarti menyadari bahwa manusia memiliki kelemahan dan penderitaan—baik diri sendiri maupun orang lain—sehingga kita mampu memahami dan menunjukkan simpati kepada semua orang.

Banyak orang keliru menganggap belas kasih berarti membenarkan perilaku buruk, kata Stosny.

Padahal, belas kasih bukanlah memaafkan perilaku yang salah, melainkan memahami kesulitan yang mendorong seseorang bertindak buruk.

“Belas kasih mengurangi perilaku buruk, tetapi tidak pernah menoleransi atau membenarkannya—karena perilaku yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan pada akhirnya bersifat merusak diri sendiri,” katanya.

Belas kasih dimulai dari diri sendiri, dan belas kasih terhadap diri sendiri berjalan seiring dengan belas kasih terhadap orang lain.

Ketika seseorang gagal berbelas kasih kepada dirinya sendiri—tidak memahami dan menyembuhkan luka emosionalnya sendiri—ketidaknyamanan itu berubah menjadi kemarahan dan kebencian tersembunyi. Akibatnya, ia mulai menyalahkan orang lain atas rasa sakit yang dialaminya.

Untuk mencegah kemarahan atau kebencian yang belum terselesaikan mengeras menjadi kebencian yang mendalam, Stosny menyarankan agar memperhatikan tanda-tanda peringatan dini berikut:

  • Tidak mampu menoleransi rasa sakit atau ketidaknyamanan emosional.
  • Mengatasi ketidaknyamanan batin dengan menyalahkan orang lain.
  • Tidak mampu melihat sudut pandang yang berbeda.

Russo menekankan pentingnya memutus lingkaran kebencian—menarik otak keluar dari keadaan merasa terancam atau tidak berdaya.

Ia menyarankan untuk memulai dengan membayangkan rasa belas kasih terhadap sesuatu yang mengancam atau membuat Anda tidak nyaman. Kemudian cobalah membongkar cara pandang yang tidak sehat yang memicu kebencian.

Tanyakan pada diri sendiri:

“Baiklah, jika saya merasa benci, berarti saya merasa terancam. Sebenarnya apa yang begitu saya takutkan?”

Pada dasarnya, kebencian berasal dari pola pikir “saya adalah korban”, kata Yashpal Jogdand, seorang psikolog sosial, kepada The Epoch Times.

Mereka yang menganggap dirinya sebagai satu-satunya korban cenderung mengekspresikan kebencian yang lebih kuat.

Karena itu, penting untuk menyadari bahwa “kedua belah pihak sama-sama pernah menderita.” Kesadaran ini dapat memutus siklus saling menyalahkan dan mengarahkan orang menuju empati.

Ketika kita menerima orang lain sebagai bagian dari diri kita, kata Jogdand, kita mulai melihat “kemanusiaan yang sama” dalam setiap orang di sekitar kita.

Sumber : Theepochtimes.com