Suhu Permukaan Tanah di Xinjiang Mencapai 87°C, Seorang Konten Kreator Memasak Tanpa Api : “Saya Hampir Matang”

Baru-baru ini, seorang kreator konten asal Tiongkok pergi ke kawasan wisata Gunung Api (Huoyan Shan) di Turpan, Xinjiang, untuk melakukan tantangan memasak tanpa api. Dengan suhu permukaan tanah yang mencapai 87°C, ia berhasil mematangkan telur, udang, dan salmon hanya menggunakan panas dari lingkungan sekitar. Ia bahkan bercanda, “Saya sendiri hampir matang.”

EtIndonesia.com Akun media sosial Tiongkok “Lüe Kaopu Lüshe” (旅社 yang berarti “Penginapan yang Lumayan Andal”) mengunggah video tersebut pada 20 Juli. Dalam video dijelaskan bahwa pada 4–5 Juli, kreator bersama rekannya melakukan perjalanan dari Chengdu, Provinsi Sichuan, menuju kawasan wisata Gunung Api di Turpan untuk membuktikan secara langsung suhu ekstrem di sana.

“Semua orang bilang Turpan adalah tempat terpanas di Tiongkok. Awal Juli bahkan ada berita bahwa suhu permukaan tanah di sini telah menembus 80°C. Saya benar-benar penasaran seberapa ekstrem panasnya,” ujarnya. 

Karena itu, ia memutuskan untuk merasakan langsung panas Gunung Api dengan mencoba memasak tanpa api. Ia membawa beberapa bahan makanan seperti telur, udang segar, dan salmon.

Berhasil Memasak Hanya dengan Panas Matahari

Di kawasan wisata Gunung Api memang tersedia area khusus untuk pengalaman memanggang makanan menggunakan pasir panas.

Dengan alat pengukur yang dibawanya sendiri, ia mencatat bahwa suhu permukaan tanah di area memanggang mencapai 87°C.

Dalam video tersebut ia mengatakan bahwa alat elektroniknya bahkan sempat berhenti berfungsi karena suhu yang terlalu tinggi.

Setelah menunggu hampir satu jam, ia membuka wadah berisi makanan untuk melihat hasilnya.

Ia berkata sambil bercanda: “Saya tidak tahu apakah makanannya matang atau tidak, tapi saya sendiri sudah hampir matang. Sekarang saatnya kita buka.”

Hasilnya, telur yang masih bercangkang ternyata telah matang sempurna. Udang dan salmon juga sudah matang. Setelah ditaburi bumbu, semuanya bisa langsung disantap.

Ia mengatakan: “Setidaknya ini membuktikan satu hal: di sini saya benar-benar bisa menikmati hidangan panggang tanpa menggunakan api.”

Menarik Perhatian Warganet

Video tentang memanggang tanpa api di Gunung Api tersebut menarik perhatian banyak warganet.

Pada 23 Juli, kreator itu mengatakan kepada media Cover News: “Bisa memasak tanpa sedikit pun menggunakan api, hanya mengandalkan panas alam, benar-benar pengalaman yang luar biasa.”

Ia juga menjelaskan bahwa sensasi panas kering di Turpan sangat berbeda.

Menurutnya, ketika berada di bawah sinar matahari langsung, gelombang panas terasa seolah-olah akan membakar kulit. Namun, begitu masuk ke tempat yang teduh, suhu yang dirasakan langsung turun sehingga tubuh terasa jauh lebih nyaman.

Meski demikian, ia mengingatkan para wisatawan yang berkunjung ke Gunung Api agar tidak berada terlalu lama di bawah terik matahari, serta mempersiapkan perlindungan diri secara lengkap untuk mencegah heatstroke (serangan panas).

Telur Panggang Pasir Menjadi Daya Tarik Wisata

Selain pengalaman memanggang tanpa api, kawasan wisata Gunung Api juga menawarkan makanan khas berupa telur panggang pasir.

Seorang wisatawan yang mengunggah video mengatakan bahwa awalnya ia mengira telur-telur yang ditata di atas gundukan pasir hanyalah pajangan.

Namun ternyata telur tersebut benar-benar dipanggang menggunakan panas pasir, dan menurutnya rasanya cukup lezat.

Laporan disusun oleh Luo Tingting / Editor: Wen Hui

Kebakaran Hutan di Spanyol Tak Terkendali, 10.000 Orang Dievakuasi Hingga Status Darurat Nasional Diberlakukan

EtIndonesia.com Sejumlah kebakaran hutan di Spanyol terus meluas di luar kendali. Untuk mempercepat pengerahan sumber daya dalam memadamkan api, pada Kamis malam (23 Juli), pemerintah secara resmi menetapkan status darurat nasional di Wilayah Madrid dan Provinsi Ávila, yang berbatasan dengan ibu kota Madrid.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyatakan bahwa sekurang-kurangnya 10.000 orang di wilayah metropolitan Madrid telah dievakuasi. Penanganan krisis selanjutnya akan dikoordinasikan oleh Unit Darurat Militer Spanyol (UME).

Pada 23 Juli pagi, pemerintah juga mengeluarkan perintah evakuasi kepada sekitar 3.500 penduduk Desa Aldea de Fresno, yang berjarak sekitar 60 kilometer dari Madrid.

Menurut laporan AFP, kebakaran yang terjadi di Provinsi Ávila pada 23 Juli masih belum berhasil dikendalikan.

Media Spanyol melaporkan bahwa penduduk di beberapa kota, termasuk Burgohondo, El Tiemblo, dan Navaluenga, diperintahkan untuk tetap berada di dalam rumah demi keselamatan.

Kebakaran terbesar saat ini berada di Provinsi Guadalajara, sekitar 100 kilometer dari Madrid. Sejak 16 Juli, api telah membakar sekitar 32.000 hektare kawasan hutan.

Berdasarkan data dari European Forest Fire Information System (EFFIS), sepanjang tahun 2026 hampir 125.000 hektare hutan di Spanyol telah terbakar. Sebagai perbandingan, sepanjang tahun 2025 luas hutan yang terbakar mencapai sekitar 393.000 hektare.

Menurut data dari tim penyelamat darurat, kebakaran hutan kali ini telah menyebabkan sedikitnya 11 orang meninggal dunia, sementara 19 hingga 23 orang masih dinyatakan hilang.

Sumber : NTDTV.com

Percaya Saran Medis ChatGPT Hampir Merengut Nyawanya, Seorang Pria Florida Gugat OpenAI

EtIndonesia.com Kecerdasan buatan (AI) kembali menjadi sorotan dalam dunia medis. Seorang pria di negara bagian Florida, Amerika Serikat, mengaku hampir kehilangan nyawanya setelah mempercayai diagnosis dan saran medis yang diberikan oleh ChatGPT. Karena pengobatannya tertunda, ia akhirnya mengalami emboli paru (pulmonary embolism) yang hampir berakibat fatal. Pria tersebut kemudian menggugat OpenAI beserta CEO-nya, Sam Altman, ke pengadilan.

Para ahli mengingatkan bahwa AI hanya dapat digunakan sebagai referensi informasi, bukan sebagai pengganti diagnosis maupun penilaian tenaga medis profesional. Jika mengalami masalah kesehatan, masyarakat dianjurkan segera mencari pertolongan medis.

Menurut laporan tersebut, pria bernama Scott Winters mengajukan gugatan ke Pengadilan Tinggi San Francisco terhadap OpenAI dan CEO perusahaan, Sam Altman.

Dalam dokumen gugatan disebutkan bahwa Winters pernah menggunakan chatbot ChatGPT untuk menanyakan gejala seperti pusing dan tekanan darah yang tidak stabil. Menurut gugatan, ChatGPT memberikan tanggapan yang meremehkan tingkat keparahan kondisinya dan menyarankan agar ia beristirahat serta memantau kondisinya terlebih dahulu.

Beberapa minggu kemudian, Winters mengalami emboli paru masif yang disebabkan oleh pembekuan darah dan sempat berada dalam kondisi yang mengancam jiwa.

Ia menuduh bahwa saran yang diberikan ChatGPT membuatnya menunda mencari pertolongan medis.

Winters juga menyatakan bahwa ChatGPT mengetahui dirinya adalah seorang pendeta, sehingga dalam jawabannya AI menyertakan unsur-unsur bernuansa agama yang membuatnya semakin percaya pada saran tersebut.

Bukan Kasus Pertama

Laporan tersebut menyebutkan bahwa ini bukan pertama kalinya AI memicu kontroversi.

Pada Mei lalu, sepasang suami istri di Texas juga menggugat OpenAI. Mereka menuduh ChatGPT memberikan saran berbahaya terkait penggunaan obat kepada putra mereka yang berusia 19 tahun, yang kemudian meninggal dunia akibat overdosis obat.

Selain itu, sebelumnya juga pernah terjadi berbagai kasus lain yang melibatkan AI, seperti:

  • AI menghasilkan contoh kasus hukum yang ternyata fiktif.
  • AI memberikan informasi yang keliru atau tidak akurat.

Tanggapan OpenAI

OpenAI menyatakan bahwa ChatGPT hanyalah alat bantu untuk menyusun dan menyajikan informasi, serta tidak dimaksudkan untuk menggantikan penilaian profesional.

Para ahli juga mengingatkan bahwa meskipun AI sangat membantu dan praktis, jawabannya tidak selalu benar. Terutama dalam persoalan yang menyangkut kesehatan, keselamatan, atau keputusan penting lainnya, pengguna tidak boleh sepenuhnya bergantung pada AI dan tetap harus meminta nasihat dari tenaga profesional.

Laporan oleh Li Wei, NTD Television

Trump : Semua Kerugian Akibat Serangan Iran Akan Dibayar oleh Iran Sendiri, Termasuk yang Disebabkan Oleh Serangan Houthi

EtIndonesia.com Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 23 Juli mengeluarkan pernyataan mengenai Iran melalui platform Truth Social. Ia menyatakan bahwa setiap kerugian yang dialami kapal, kargo, atau barang terkait lainnya akan dibayar menggunakan dana milik Iran yang saat ini berada di bawah kepemilikan dan kendali Amerika Serikat.

Pada pukul 18.00 waktu Pantai Timur AS tanggal 23 Juli, Trump menulis di Truth Social: “Sampai ada pemberitahuan lebih lanjut, dengan ini saya menyatakan bahwa mulai saat ini, setiap dan seluruh kerugian yang dialami kapal, muatan, atau barang terkait lainnya akan dibayar dari dana Iran yang dimiliki dan dikendalikan oleh Amerika Serikat.”

Ia menambahkan bahwa langkah tersebut merupakan tindakan yang adil.

Trump menulis: “Kerugian tersebut mungkin bernilai sangat besar, tetapi ini adalah cara yang adil dan masuk akal.”

Houthi Juga Akan Dianggap Tanggung Jawab Iran

Sebelumnya, Trump juga menegaskan bahwa tindakan yang dilakukan kelompok Houthi akan dianggap sebagai tanggung jawab Iran.

Ia mengatakan bahwa sekitar setahun lalu, Amerika Serikat telah melancarkan serangan besar sebagai balasan terhadap Houthi. Sejak saat itu, menurut Trump, Houthi “berperilaku cukup baik”, terutama selama konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Namun, Trump menyatakan bahwa kini Houthi kembali melakukan provokasi.

Menurutnya, “tadi malam mereka menembaki dua kapal Arab Saudi.”

Dalam unggahan lain di Truth Social, Trump menulis: “Harap diingat, jika mereka kembali melakukan tindakan semacam ini, Amerika Serikat akan meminta pertanggungjawaban Iran, karena Houthi adalah proksi Iran. Iran maupun Houthi sendiri akan menghadapi sanksi militer yang sangat keras.”

Trump juga mengatakan: “Saya sangat kecewa terhadap Houthi, karena sampai sekarang tindakan mereka sebelumnya sangat profesional dan bijaksana.”

Serangan Udara AS Terhadap Iran Berlanjut

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih terus berlangsung.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan melalui platform X putaran terbaru serangan udara terhadap Iran, disertai rekaman video operasi tersebut.

Menurut pengumuman itu, pada 23 Juli pukul 21.00 waktu Pantai Timur AS, militer Amerika telah menyelesaikan malam ke-13 berturut-turut operasi serangan udara terhadap Iran.

Militer AS juga menyatakan bahwa meskipun Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) baru-baru ini melancarkan sejumlah serangan, jalur pelayaran internasional tersebut tetap terbuka dan dapat dilalui.

Laporan diterjemahkan oleh Jin Hong / Editor: Li Quan

Langka! Fenomena Fatamorgana Muncul di Langit Shaanxi, Tiongkok 

EtIndonesia.com Baru-baru ini, fenomena fatamorgana (mirage) yang langka muncul di langit Kota Binzhou, Xianyang, Provinsi Shaanxi, dan menjadi perbincangan hangat.

Menurut laporan media Shaanxi TV News, pada 22 Juli sore, sebuah fenomena fatamorgana yang menakjubkan terlihat di langit Binzhou.

Rekaman video menunjukkan bahwa di atas deretan gedung-gedung, tampak beberapa lapisan gedung tinggi yang seolah-olah melayang di udara. Pemandangan tersebut menampilkan ilusi visual yang memadukan unsur nyata dan semu.

Video terkait memicu banyak komentar dari warganet:

  • “Saya juga melihatnya saat itu.”
  • “Katanya fenomena ini hanya berlangsung sesaat, jadi tidak banyak orang yang berhasil merekamnya.”
  • “Ini benar-benar direkam oleh warga setempat pada sore kemarin (22 Juli).”
  • “Kemarin di arah Maquan, Xianyang, juga terlihat fenomena serupa.”
  • “Shaanxi tidak punya laut, tetapi justru muncul fatamorgana.”
  • “Sungguh spektakuler.”

Sebagian orang bahkan memberikan penafsiran lain:

  • “Ada pertanda aneh di langit!”
  • “Mana ada fatamorgana? Itu hanyalah ruang dan waktu lain.”
  • “Dunia paralel dari dimensi lain muncul bersamaan.”
  • “Dunia dari dimensi lain sedang melintas di sini.”
  • “Sebuah dunia dan lingkungan baru akan segera muncul.”

Fenomena Serupa di Berbagai Wilayah Tiongkok

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak warga di berbagai daerah di Tiongkok daratan yang mengabadikan fenomena fatamorgana, sehingga menarik perhatian publik.

Hebei (2026)

Pada 28 Maret 2026, di Pantai Emas Aranya, Qinhuangdao, Provinsi Hebei, muncul fenomena fatamorgana berbentuk pita memanjang yang langka dan berlangsung setidaknya selama satu jam.

Video menunjukkan bahwa bayangan tersebut membentang secara horizontal di atas cakrawala laut dengan tepi yang sangat rapi, seolah dipotong dengan pisau. Banyak saksi menggambarkannya seperti “kereta balok yang melayang di udara.”

Liaoning (2025)

Pada 10 Juni 2025, warga Kota Shenyang, Provinsi Liaoning, merekam fenomena fatamorgana di langit setelah hujan reda.

Guangdong (2025)

Pada 2 Maret 2025, warga Kota Shantou, Provinsi Guangdong, mengunggah sejumlah video yang menunjukkan fenomena fatamorgana yang jarang terjadi.

Dalam video tersebut tampak deretan bangunan muncul di atas permukaan laut yang berkabut. Detail bangunan terlihat cukup jelas di tengah kabut dan awan.

Qingdao (2024)

Pada 28 April 2024, garis pantai Qingdao menampilkan pemandangan fatamorgana yang luar biasa indah. Keindahannya digambarkan sebagai: “Gunung dan awan berkabut berpadu, bagaikan negeri para dewa dalam lukisan.”

Laoshan, Qingdao (2023)

Pada 2 Mei 2023, seorang wisatawan yang sedang memotret pacarnya di kawasan wisata Laoshan secara tidak sengaja merekam fenomena fatamorgana.

Di antara lautan awan tampak deretan gedung tinggi yang diselimuti cahaya keemasan dan dikelilingi kabut, menciptakan pemandangan yang sangat spektakuler.

Bengbu, Anhui (2023)

Pada 4 Mei 2023, sekitar pukul 09.30 pagi, seorang wanita bermarga Zhang di Bengbu, Anhui, juga secara tidak sengaja merekam fenomena fatamorgana dari rumahnya.

Video yang diunggahnya menunjukkan sebuah gedung tinggi muncul di antara awan dekat cakrawala, seolah melayang di udara dan tampak samar-samar.

Apa Itu Fatamorgana?

Fatamorgana, yang dalam bahasa Tionghoa juga disebut haishi, shenlou, atau shenjing, telah banyak dicatat dalam literatur kuno Tiongkok.

Catatan kuno menyebut bahwa fatamorgana tidak hanya menampilkan gambar statis, tetapi kadang-kadang juga menampilkan sosok manusia yang bergerak, bahkan konon dapat “memantulkan” suara.

Dalam karya terkenal Dinasti Song Utara, Mengxi Bitan (Catatan Kolam Impian) yang ditulis oleh Shen Kuo, terdapat deskripsi berikut mengenai fenomena tersebut:

“Di laut Dengzhou sering muncul awan yang menyerupai istana, menara, kota, manusia, kereta dan kuda; semuanya tampak sangat jelas.”

Catatan tersebut bahkan menyebut bahwa masyarakat saat itu mengaku dapat mendengar suara manusia maupun hewan dari fenomena “kota di langit” tersebut.

Penjelasan Ilmiah dan Pandangan Lain

Menurut penjelasan ilmiah modern, fatamorgana adalah fenomena optik alami yang terjadi akibat pembiasan cahaya ketika terdapat perbedaan suhu pada lapisan udara.

Namun, artikel ini menyebut bahwa sebagian orang masih meragukan penjelasan tersebut, karena dalam banyak kasus lokasi asli yang diduga menjadi sumber bayangan tidak pernah berhasil ditemukan.

Karena itu, ada pula yang berpendapat bahwa fatamorgana mungkin merupakan gambaran dari ruang atau dimensi lain yang secara kebetulan terpantul ke dunia manusia, sehingga tidak ditemukan objek nyata yang sesuai.

Laporan oleh Li Enzhen / Editor: Li Quan

Mengaku Orang Dalam, Ungkap Simulasi Jebolnya Bendungan Tiga Ngarai dan Kondisi Mengerikan Tumpukan Jenazah di Guangxi, Tiongkok

Jebolnya Bendungan Liulan di Kota Hengzhou, Guangxi, dilaporkan menyebabkan korban jiwa yang sangat besar. Seorang warganet yang mengaku sebagai orang dalam China Three Gorges Corporation (CTG) mengungkap bahwa terdapat banyak jenazah mengapung di air dan juga membagikan sejumlah gambar simulasi jebolnya Bendungan Tiga Ngarai. Hingga saat ini, keaslian identitas maupun isi klaim tersebut belum dapat diverifikasi.

EtIndonesia.com Pada 21 Juli, sekitar dua minggu setelah Bendungan Liulan jebol, Komisi Pusat Inspeksi Disiplin Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengumumkan bahwa Wu Qiren, General Manager cabang Guangxi dari China Three Gorges Corporation, sedang diselidiki. Wu yang berusia 54 tahun telah lama bekerja dalam sistem Three Gorges Group. Bahkan pada 10 Juli, ia masih menghadiri kegiatan inspeksi proyek di Beihai, Guangxi.

Setelah pengumuman tersebut, seorang warganet yang mengaku sebagai orang dalam Three Gorges Group menghubungi akun anti-PKT di platform X, “Luo Xiang – Pomu Tuiqiang”, dan mengklaim bahwa Wu Qiren ditangkap karena “terlalu banyak membocorkan informasi” mengenai kondisi bencana di Guangxi.

Orang tersebut mengaku beberapa kali mendengar Wu Qiren menceritakan situasi di daerah bencana, termasuk kisah seorang ibu di Hengzhou yang mengikat dirinya bersama tiga anaknya menggunakan tali agar tidak terpisah, namun akhirnya semuanya tenggelam.

Ia juga mengklaim bahwa di sebuah tikungan tempat arus banjir berbalik, ratusan jenazah mengapung memenuhi permukaan air. Karena petugas tidak mampu mengevakuasinya secara manual, mereka menggunakan alat berat untuk mengangkat jenazah. Setelah itu ditemukan bahwa masih banyak jenazah lain berada di bawah permukaan air.

Orang tersebut juga mengatakan bahwa kondisi Bendungan Tiga Ngarai saat ini sangat mengkhawatirkan. Menurutnya, apabila bendungan tersebut jebol, bencana yang terjadi akan jauh lebih besar.

“Instansi terkait sejak lama telah melakukan analisis mengenai kemungkinan runtuhnya Bendungan Tiga Ngarai. Ada dokumen ratusan halaman yang mencakup simulasi dalam 72 jam, satu minggu, tiga bulan hingga enam bulan setelah bendungan jebol. Datanya sangat rinci. Sebagai orang dalam, saya sempat memotret sebagian dokumen tersebut agar lebih banyak masyarakat mengetahui kenyataannya,” katanya. 

Dalam unggahan tersebut juga terdapat sebuah video yang memperlihatkan tumpukan dokumen setebal ratusan halaman di atas meja. Halaman paling atas bertuliskan:

  • Simulasi Skenario Jebolnya Bendungan Tiga Ngarai
  • Peta Wilayah yang Terendam Satu Minggu Setelah Bendungan Jebol
  • Simulasi Kecepatan Arus Banjir Setelah Satu Minggu
  • Peta Sebaran Kepadatan Penduduk yang Terdampak Setelah Satu Minggu
  • Peta Gangguan Transportasi Setelah Satu Minggu

Peta-peta tersebut menunjukkan bahwa apabila Bendungan Tiga Ngarai jebol, dalam waktu satu minggu wilayah terdampak akan membentang dari hulu Bendungan Tiga Ngarai hingga ke muara Sungai Yangtze di Shanghai. Di dalamnya juga tercantum keterangan seperti:

  • Luas daerah aliran sungai sekitar 1 juta kilometer persegi.
  • Total penduduk yang terdampak sekitar 132 juta jiwa.

Sebelumnya, ada pula seorang warganet lain yang mengaku sebagai pegawai Bendungan Tiga Ngarai. Ia mengklaim bahwa terdapat banyak titik rembesan air di bagian dasar bendungan dan mengatakan bahwa “jebolnya Bendungan Tiga Ngarai hanya tinggal menunggu waktu.” Menurutnya, apabila hal itu terjadi, jumlah korban jiwa akan meningkat secara eksponensial dan ratusan juta orang akan terdampak.

Hingga saat ini belum ada cara untuk memverifikasi identitas para pembocor informasi tersebut maupun kebenaran isi klaim mereka.

Sejak proyek Bendungan Tiga Ngarai pertama kali direncanakan, sejumlah pakar hidrologi Tiongkok, termasuk Wang Weiluo, telah menyatakan penolakan keras. Mereka menilai proyek tersebut membawa risiko keselamatan yang besar serta dapat menimbulkan bencana ekologis.

Dua akademisi ternama Tiongkok, Qian Weichang dan Huang Wanli, pernah memperingatkan bahwa apabila Bendungan Tiga Ngarai jebol, 39,3 miliar meter kubik air waduk akan melanda dataran tengah dan hilir Sungai Yangtze dalam waktu singkat. Enam provinsi dan kota di wilayah hilir akan berubah menjadi “lautan air”, sementara ratusan juta penduduk akan menghadapi bencana besar.

Sebagai perbandingan kapasitas waduk:

  • Bendungan Tiga Ngarai: kapasitas total 39,3 miliar meter kubik.
  • Bendungan Banqiao (Henan) yang jebol pada 8 Agustus 1975: kapasitas total 675 juta meter kubik.
  • Bendungan Liulan yang jebol tahun ini: kapasitas total sekitar 93,19 juta meter kubik.

Mengenai jumlah korban tewas akibat jebolnya Bendungan Banqiao, terdapat beberapa versi data. Statistik resmi PKT pernah menyebut 85.600 korban jiwa (data pada bulan kejadian), sementara revisi tahun 1992 menyebut lebih dari 26.000 korban jiwa. Adapun perkiraan tidak resmi menyebut angka 220.000, 230.000, hingga 240.000 korban jiwa.

Sumber: NTDTV.com

27 Tahun Perlawanan Damai Terhadap Penganiayaan, Ribuan Pengikut Falun Gong Gelar Malam Renungan Lilin di Washington DC

Oleh Zhang Yi, Washington DC, Epochtimes.com

EtIndonesia.com  Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial, Washington DC. Dengan lilin di tangan dan duduk bersila dalam keheningan, mereka mengenang para praktisi Falun Gong yang tewas akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir, sekaligus menyerukan agar penganiayaan terhadap Falun Gong segera dihentikan.

Di lapangan antara Lincoln Memorial dan Reflection Pool, lebih dari 5.000 lilin disusun membentuk empat aksara Tionghoa “Falun Dafa” yang bersinar terang di tengah malam. Cahaya lilin berpadu dengan siluet Monumen Washington di National Mall, menciptakan pemandangan yang khidmat dan mengharukan.

Suasana acara yang sakral menarik perhatian banyak wisatawan. Tak sedikit yang berhenti untuk mengambil foto maupun mendengarkan penjelasan para praktisi mengenai fakta-fakta di balik penganiayaan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial di ibu kota Washington DC untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir. Dalam kesempatan itu, mereka juga menyerukan agar PKT segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong. (Dai Bing/The Epoch Times)
Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial di ibu kota Washington DC untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir. Dalam kesempatan itu, mereka juga menyerukan agar PKT segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong. (Dai Bing/The Epoch Times)
Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial di ibu kota Washington DC untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir. Dalam kesempatan itu, mereka juga menyerukan agar PKT segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong. (Dai Bing/The Epoch Times)
Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial di ibu kota Washington DC untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir. Dalam kesempatan itu, mereka juga menyerukan agar PKT segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong. (Dai Bing/The Epoch Times)
Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial di ibu kota Washington DC untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir. Dalam kesempatan itu, mereka juga menyerukan agar PKT segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong. (Dai Bing/The Epoch Times)
Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial di ibu kota Washington DC untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir. Dalam kesempatan itu, mereka juga menyerukan agar PKT segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong. (Dai Bing/The Epoch Times)
Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial di ibu kota Washington DC untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir. Dalam kesempatan itu, mereka juga menyerukan agar PKT segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong. (Dai Bing/The Epoch Times)
Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial di ibu kota Washington DC untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir. Dalam kesempatan itu, mereka juga menyerukan agar PKT segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong. (Dai Bing/The Epoch Times)
Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial di ibu kota Washington DC untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir. Dalam kesempatan itu, mereka juga menyerukan agar PKT segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong. (Dai Bing/The Epoch Times)
Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial di ibu kota Washington DC untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir. Dalam kesempatan itu, mereka juga menyerukan agar PKT segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong. (Dai Bing/The Epoch Times)
Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial di ibu kota Washington DC untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir. Dalam kesempatan itu, mereka juga menyerukan agar PKT segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong. (Dai Bing/The Epoch Times)
Pada malam 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong dari wilayah timur Amerika Serikat berkumpul di depan Lincoln Memorial di ibu kota Washington DC untuk mengenang para praktisi Falun Gong yang meninggal dunia akibat penganiayaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama 27 tahun terakhir. Dalam kesempatan itu, mereka juga menyerukan agar PKT segera menghentikan penganiayaan terhadap Falun Gong. (Dai Bing/The Epoch Times)

Banyak Praktisi di Kampung Halaman Tewas Akibat Penganiayaan

Salah satu peserta renungan lilin, Luo Sujuan dan suaminya Liu Dexi, berasal dari Kota Taizhou, Provinsi Zhejiang. Sebelum penganiayaan dimulai, pasangan itu merupakan pengusaha kulit yang sukses.

Selama penganiayaan berlangsung, Luo Sujuan dua kali ditahan dan dipaksa hidup berpindah-pindah untuk menghindari penangkapan. Sementara Liu Dexi dua kali dijatuhi hukuman kerja paksa dan kemudian dipenjara selama sepuluh tahun. Putri mereka tumbuh dalam bayang-bayang ketakutan.

Pada 23 Juli 2026, menjelang dimulainya malam renungan lilin, praktisi Falun Gong di Washington DC, Luo Sujuan dan suaminya, Liu Dexi, berfoto di depan Lincoln Memorial. (Zhang Yi/The Epoch Times)

Luo Sujuan juga merupakan salah satu dari lima perwakilan praktisi Falun Gong di Washington yang diterima Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Perburuhan, Riley Barnes, pada 13 Juli 2026.

Kepada Epoch Times, Luo mengatakan bahwa melalui penerjemah ia menceritakan langsung kepada Barnes tentang penyiksaan brutal yang dialami dirinya dan keluarganya.

Pada 1 Maret 2004, polisi setempat mendobrak rumah mereka dan menangkap Liu Dexi secara paksa. Untuk menghindari penangkapan, Luo Sujuan nekat melompat dari lantai tiga hingga mengalami patah tulang leher, panggul yang hancur, serta paru-paru yang robek. Ia mengatakan kesehatannya kemudian pulih dengan cepat setelah kembali berlatih Falun Gong.

Falun Gong merupakan metode kultivasi tradisional yang berlandaskan prinsip Sejati, Baik, dan Sabar, disertai lima perangkat latihan yang dikenal luas memiliki manfaat bagi kesehatan.

Selama ditahan di Pusat Penahanan Distrik Jiaojiang, Liu Dexi dibelenggu selama sebulan dan ditempatkan dalam sel isolasi.

“Saya digantung dengan borgol di kedua tangan hingga tubuh melayang di udara. Rasa sakitnya membuat saya pingsan. Sampai sekarang bekas luka akibat borgol masih terlihat di tangan saya,” katanya.

Menurut Liu Dexi, banyak praktisi Falun Gong di kampung halamannya, Taizhou, meninggal akibat penganiayaan, di antaranya Yan Suyun, Shao Jingmei, dan Hong Misu.

Berdasarkan data tidak lengkap dari Minghui.org, sejak 20 Juli 1999 sedikitnya 5.359 praktisi Falun Gong telah dipastikan meninggal akibat penganiayaan. Karena ketatnya penyensoran informasi oleh PKT, angka tersebut diyakini hanya sebagian kecil dari jumlah korban yang sebenarnya.

“Selama 27 tahun, praktisi Falun Gong menempuh jalan panjang melawan penganiayaan secara damai. Kami berharap semakin banyak orang mengetahui bahwa Falun Dafa adalah baik dan bersama-sama menghentikan penganiayaan ini,” ujar Liu.

Dipenjara Delapan Tahun karena Menyebarkan Informasi

Pada 23 Juli 2026, menjelang dimulainya malam renungan lilin, praktisi Falun Gong asal New York, Chen Jin, berfoto di depan Lincoln Memorial. (Zhang Yi/The Epoch Times)

Praktisi Falun Gong Chen Jin, yang kini tinggal di New York, mulai berlatih Falun Gong pada 1998 ketika masih bekerja di Komite Partai Kota Fuzhou sebagai petugas penerima tamu dan delegasi asing.

Ia mengaku sebelum berlatih Falun Gong kondisi kesehatannya sangat buruk.

“Dulu rambut saya hampir habis rontok. Setelah berlatih selama satu bulan, rambut saya tumbuh kembali. Tubuh terasa sangat ringan seolah ada yang mendorong ketika berjalan. Mengangkat tabung gas sampai lantai tujuh pun terasa mudah,” katanya.

Pada Juli 1999, pemimpin PKT saat itu, Jiang Zemin, memerintahkan dimulainya kampanye pemberantasan Falun Gong. Menurut berbagai sumber, keputusan tersebut dipicu oleh pesatnya perkembangan Falun Gong, yang jumlah praktisinya diperkirakan telah melampaui jumlah anggota PKT, serta karena prinsip Sejati, Baik, dan Sabar dianggap bertentangan dengan ideologi komunis.

Malam 19 Juli hingga dini hari 20 Juli 1999, para koordinator sukarelawan tempat latihan Falun Gong di seluruh Tiongkok ditangkap secara serentak. Bersamaan dengan itu, media propaganda PKT melancarkan kampanye fitnah besar-besaran terhadap Falun Gong.

Chen mengatakan bahwa sejak 2.000 ia membuat materi informasi untuk menjelaskan fakta mengenai Falun Gong kepada masyarakat. Akibatnya, ia ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara selama delapan tahun.

Ia ditahan di Pusat Penahanan Pertama Fuzhou dan kemudian dipenjara di Penjara Minxi, Provinsi Fujian, di mana ia mengalami berbagai bentuk penyiksaan.

“Salah satunya adalah penyiksaan gantung. Kedua tangan diborgol ke jendela hingga kaki menggantung di udara. Seluruh berat badan bertumpu pada kedua tangan sampai berdarah. Saya tidak bisa tidur lebih dari seminggu. Tubuh terasa sangat tersiksa. Bahkan para narapidana lain tidak tega melihatnya dan meminta agar saya diturunkan karena tubuh saya sudah berubah bentuk,” katanya.

Pada 23 Juli 2026, menjelang dimulainya malam renungan lilin, praktisi muda Falun Gong di Washington DC, Bai Shuyuan, berfoto di depan Lincoln Memorial. (Zhang Yi/The Epoch Times)

Praktisi Muda Kenang Ayahnya yang Disiksa

Praktisi muda Falun Gong di Washington, Bai Shuyuan, juga mengenang penganiayaan yang dialami keluarganya.

Ia masih mengingat jelas dini hari 17 Agustus 2002 di Tianjin ketika suara sirene polisi dan ketukan keras di pintu membangunkannya.

Tiga polisi masuk ke rumah mereka dan mengumumkan bahwa ayahnya, Bai Shuangcheng, ditangkap karena memiliki dan membagikan materi mengenai Falun Gong. Polisi kemudian menggeledah rumah dengan membuka lemari dan laci satu per satu.

Ayahnya dijatuhi hukuman penjara tiga tahun dan ditahan di Penjara Pertama Tianjin (Penjara Liyuantou). Di sana ia mengalami penyiksaan berat hingga berkali-kali pingsan.

Setelah dibebaskan, Bai Shuangcheng secara bertahap menceritakan kepada keluarganya tentang penyiksaan yang dialaminya dan para praktisi lain selama berada di penjara.

“Pada banyak malam setelah ayah dibebaskan, ketika orang tua saya mengira saya sudah tidur, ayah diam-diam menceritakan pengalaman penyiksaannya kepada ibu,” ujar Bai.

Ilustrasi metode penyiksaan menggunakan borgol yang dialami praktisi Falun Gong. (Minghui.org)

Ia menjelaskan salah satu alat penyiksaan yang disebut “pengzi”, yaitu alat berbahan baja yang mengunci kedua pergelangan tangan rapat tanpa memberi ruang sedikit pun untuk bergerak.

Bentuk penyiksaan lain yang umum digunakan adalah memaksa praktisi duduk di bangku kecil berukuran sekitar 5 centimeter tinggi dan lebar, serta 10 centimeter panjang selama seharian penuh. Akibatnya, otot bokong robek. Luka yang baru mulai mengering pada malam hari dipaksa kembali bergesekan keesokan harinya hingga berdarah.

“Dalam keheningan malam, ketika saya baru berusia 11 tahun, saya bersembunyi di balik selimut sambil diam-diam mendengar ayah menceritakan pengalaman penyiksaan di penjara. Air mata mengalir tanpa suara hingga membasahi bantal saya,” kenangnya.

Kini tinggal di luar negeri, Bai mengatakan perasaannya tetap berat saat mengikuti malam renungan lilin tersebut.

“Walaupun saya dan keluarga sudah berada di luar negeri, rekan-rekan praktisi di Tiongkok masih setiap saat menghadapi ancaman penganiayaan. Saya berharap penganiayaan ini segera berakhir.”

Menyerukan Diakhirinya Tirani PKT! Pawai Besar di Washington DC Memperingati 27 Tahun Perlawanan Damai Pengikut Falun Gong terhadap Penganiayaan

Pada Kamis 23 Juli 2026, hampir 2.000 praktisi Falun Gong berkumpul di Washington DC, ibu kota Amerika Serikat, untuk menggelar “Pawai Memperingati 27 Tahun Perlawanan terhadap Penganiayaan.” Melalui barisan pawai yang damai dan khidmat, mereka menyampaikan nilai-nilai “Sejati, Baik, Sabar” (Zhen-Shan-Ren) kepada dunia serta menyerukan masyarakat internasional agar bersama-sama menghentikan penindasan brutal yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT)

EtIndonesia.com Diiringi alunan musik yang megah, Marching Band Tian Guo memimpin barisan pertama bertema “Falun Dafa Baik.” Marching band yang didirikan pada tahun 2005 ini merupakan kelompok musik tiup Tionghoa terbesar di luar negeri. Kehadirannya di kawasan pusat ibu kota AS menjadi pemandangan yang sangat mengesankan.

Pada 20 Juli 1999,  pemimpin PKT Jiang Zemin saat itu memerintahkan dimulainya penganiayaan terhadap Falun Gong. Saat itu, lebih dari 100 juta orang di Tiongkok berlatih Falun Gong. Mereka kemudian menghadapi tekanan dan penganiayaan berat, baik secara fisik maupun mental. Banyak di antaranya terpaksa meninggalkan tanah air dan pergi ke luar negeri untuk mengungkap kepada dunia kenyataan mengenai penganiayaan yang dilakukan PKT.

Seorang praktisi Falun Gong di Washington DC sekaligus akuntan pajak, Zhou Gui, mengatakan: “Pada 15 April, sebanyak 17 praktisi Falun Gong ditangkap di Wuhan. Di antara mereka adalah ibu saya dan dua praktisi lainnya yang dipindahkan ke pusat penahanan kriminal. Sejak 1 Mei, keluarga kami tidak lagi dapat menemui ibu saya. Pengacara juga tidak diizinkan memeriksa berkas perkara, sehingga kami sama sekali tidak mengetahui kabarnya. Kami sangat mengkhawatirkan keselamatannya.”

Spanduk-spanduk bertuliskan “Akhiri PKT, Akhiri Penganiayaan” dan “Tujuan Akhir Komunisme adalah Menghancurkan Umat Manusia” mengiringi barisan kedua yang bertema “Hentikan Penganiayaan terhadap Falun Gong.”

“Saya berdoa bagi negara Anda. Saya berharap suatu hari nanti rakyat di sana juga dapat menikmati kebebasan beragama. Kebebasan beragama sangat penting bagi kami,” ujar seorang penonton pawai sekaligus mantan dosen universitas, Elaine. 

Reporter NTD melaporkan: “Sebelum pawai dimulai, Komisi Eksekutif Kongres Amerika Serikat untuk Urusan Tiongkok (CECC) mengeluarkan pernyataan yang mengecam penganiayaan PKT terhadap Falun Gong yang telah berlangsung selama 27 tahun. Mereka juga menyerukan agar Amerika Serikat dan negara-negara bebas lainnya menjadikan penuntutan terhadap para pelaku penganiayaan sebagai prioritas.”

Hasil penyelidikan terbaru menunjukkan bahwa jumlah kasus praktisi Falun Gong di Amerika Serikat yang menjadi sasaran represi lintas negara oleh PKT meningkat sepuluh kali lipat dalam lima tahun terakhir. 

Pada 21 Juli, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat juga secara resmi menyatakan akan menindak tindakan represi lintas negara yang dilakukan PKT di wilayah Amerika Serikat dan melindungi keselamatan praktisi Falun Gong serta kelompok lainnya.

Zhou Gui menambahkan: “Kami telah melaporkan perkembangan terbaru kepada Departemen Luar Negeri AS. Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS telah meloloskan RUU S.4009 ‘Falun Gong and Organ Harvesting Victims Protection Act’, yang menyerukan penghentian penganiayaan dan penghentian pengambilan organ secara paksa. Setiap akhir pekan kami juga mengumpulkan tanda tangan dukungan. Di Maryland, ribuan warga telah berdiri bersama kami dan menyerukan agar para anggota parlemen mendukung RUU tersebut.”

Juru bicara Pusat Informasi Falun Dafa, Zhang Erping, mengatakan: “Tindakan teror lintas negara yang dilakukan PKT di luar negeri bukan hanya ditujukan kepada kelompok Falun Gong, tetapi juga kepada anggota Kongres Amerika Serikat, pemerintah negara-negara Barat, serta tokoh-tokoh yang mendukung Falun Gong. Apa yang dilakukan PKT di luar negeri pada hakikatnya merupakan bentuk terorisme lintas negara, bukan sekadar persoalan penindasan biasa.”

Sementara itu, Ketua Pusat Layanan Pengunduran Diri dari PKT Global, Wang Zhiyuan, mengatakan: “Misalnya dalam penganiayaan lintas negara, PKT menggunakan hukum dan opini publik Amerika Serikat untuk menindas sebuah kelompok keagamaan yang terdaftar secara sah di Amerika. Pada dasarnya, tindakan itu sedang merusak fondasi berdirinya Amerika Serikat.”

Seorang relawan Pusat Layanan Pengunduran Diri dari PKT Global, Mrs Dong, mengatakan: “Menurut saya, ini bukan hanya penganiayaan terhadap kelompok Falun Gong. Ini juga merupakan penganiayaan terhadap masyarakat luas, karena PKT memutus kesempatan orang-orang untuk mengetahui kebenaran dan mengenal hal-hal yang baik.”

Barisan terakhir mengusung tema “Akhiri PKT.” Selain menyatakan dukungan kepada lebih dari 460 juta warga Tiongkok yang telah menyatakan keluar dari organisasi PKT, Liga Pemuda Komunis, dan Pionir Muda, para praktisi Falun Gong juga mendukung petisi internasional “End CCP” (Akhiri PKT) yang telah memperoleh lebih dari 5,3 juta tanda tangan.

Seorang dokter asal India yang menyaksikan pawai, Pranav, mengatakan: “Pemerintah seharusnya dipilih oleh rakyat, seperti di Amerika Serikat dan banyak negara lainnya. Di sini Anda bebas mewawancarai saya, dan mereka juga bebas mengadakan pawai di ibu kota Amerika. Hal seperti itu tidak mungkin terjadi di Tiongkok.”

Seorang wisatawan asal Belanda, Richard, mengatakan: “Dunia sedang berubah, dan Tiongkok juga perlu berubah.”

Laporan oleh Ke Tingting, Meng Yu, dan Shang Jing, NTD Television, dari Washington DC.

Trump Hampir Ambil Keputusan Terbesar! AS Kerahkan Pembom B-1 Lancer, Iran Digempur Gelombang Serangan Baru

EtIndonesia.com  23 Juli 2026 menjadi salah satu hari dengan eskalasi militer paling signifikan dalam konflik yang terus memanas antara Amerika Serikat dan Iran. Militer Amerika Serikat kembali melancarkan gelombang serangan udara besar-besaran terhadap sejumlah sasaran militer Iran, bersamaan dengan meningkatnya pengerahan kekuatan tempur dan logistik ke kawasan Timur Tengah.

Menurut pernyataan resmi Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), operasi terbaru dimulai pada 23 Juli 2026 pukul 18.45 waktu Pantai Timur Amerika Serikat (EDT). Serangan tersebut menargetkan berbagai fasilitas militer Iran yang dinilai memiliki kaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC).

CENTCOM menyatakan bahwa operasi tersebut bertujuan untuk meminta pertanggungjawaban Iran atas berbagai tindakan yang dianggap mengancam stabilitas kawasan, sekaligus mengurangi kemampuan IRGC dalam mengganggu keamanan jalur pelayaran internasional, khususnya kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.

Di saat yang sama, berbagai rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan aktivitas militer Amerika Serikat dalam skala besar. Video-video tersebut menampilkan puluhan helikopter militer yang dilaporkan bergerak menuju kawasan operasi di sekitar Iran. Sejumlah laporan bahkan menyebut jumlah helikopter yang dikerahkan mencapai lebih dari 80 unit, meskipun angka tersebut belum mendapat konfirmasi resmi dari pihak militer Amerika Serikat.

Melihat besarnya mobilisasi tersebut, sejumlah analis militer menilai bahwa Washington tampaknya sedang memasuki fase operasi yang jauh lebih agresif dibandingkan gelombang-gelombang serangan sebelumnya. Menurut mereka, intensitas pengerahan pasukan dalam waktu singkat dapat menjadi indikasi bahwa konflik telah memasuki tahap yang sangat menentukan.

Sementara itu, warga di wilayah Ahvaz, Iran, melaporkan terjadinya rentetan ledakan sepanjang malam. Berdasarkan perhitungan sejumlah warga setempat, kota tersebut mengalami lebih dari 30 kali serangan udara dalam satu rangkaian operasi. Hingga kini belum terdapat data resmi mengenai jumlah korban maupun tingkat kerusakan yang ditimbulkan akibat serangan tersebut.

Beberapa jam sebelum operasi militer dimulai, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pernyataan yang menarik perhatian dunia internasional. Dalam wawancara dengan Channel 12 pada 23 Juli 2026, Trump mengungkapkan bahwa pemerintahannya tengah mempertimbangkan langkah militer yang jauh lebih besar.

Dalam wawancara tersebut, Trump mengatakan: “Saya sedang mempertimbangkan untuk melancarkan serangan berskala besar, bahkan lebih besar daripada operasi-operasi yang pernah kami lakukan sebelumnya. Saya sudah sangat dekat untuk mengambil keputusan.”

Pernyataan tersebut kemudian dipandang banyak pengamat sebagai sinyal bahwa Washington memang sedang mempersiapkan peningkatan tekanan militer terhadap Iran. Tidak lama setelah pernyataan itu disampaikan, serangan udara baru kembali dilancarkan.

Di sisi lain, aktivitas logistik militer Amerika Serikat menuju Timur Tengah juga dilaporkan meningkat secara signifikan. Jalur udara logistik yang menghubungkan berbagai pangkalan militer Amerika di Eropa dengan kawasan Timur Tengah disebut telah kembali beroperasi secara penuh.

Puluhan pesawat angkut militer Angkatan Udara Amerika Serikat dilaporkan terus melakukan penerbangan dari berbagai pangkalan utama di Eropa menuju kawasan operasi dengan frekuensi yang sangat tinggi. Mobilisasi tersebut dinilai sebagai bagian dari upaya memperkuat pasokan personel, amunisi, perlengkapan tempur, dan dukungan logistik apabila konflik terus berkembang.

Selain meningkatkan tekanan militer, pemerintahan Presiden Donald Trump juga mengumumkan langkah ekonomi yang belum pernah diterapkan sebelumnya selama konflik berlangsung.

Trump menyatakan bahwa aset-aset Iran yang selama ini dibekukan oleh pemerintah Amerika Serikat akan dialihkan untuk memberikan kompensasi kepada para pihak yang mengalami kerugian akibat terganggunya pelayaran di Selat Hormuz. Kompensasi tersebut disebut mencakup kerusakan kapal, kehilangan muatan, serta berbagai aset lain yang terdampak oleh konflik di jalur pelayaran internasional tersebut.

Kebijakan tersebut dinilai sebagai langkah baru yang memperluas tekanan Washington terhadap Teheran, tidak hanya melalui operasi militer tetapi juga melalui instrumen ekonomi.

Dalam operasi udara terbaru itu, Amerika Serikat juga dilaporkan mengerahkan pembom strategis B-1 Lancer, salah satu pesawat pengebom jarak jauh andalan Angkatan Udara Amerika Serikat yang mampu membawa muatan bom dalam jumlah besar serta melakukan serangan presisi terhadap sasaran strategis.

Menurut laporan yang beredar, pesawat B-1 Lancer digunakan untuk menyerang sebuah fasilitas rudal taktis sekaligus pusat logistik milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang berada di Provinsi Hormozgan, Iran selatan.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa sasaran berhasil dihancurkan sepenuhnya. Namun hingga kini belum ada konfirmasi independen yang dapat memverifikasi tingkat kerusakan maupun dampak operasional terhadap kemampuan militer Iran.

Meningkatnya intensitas operasi militer Amerika Serikat memicu beragam tanggapan dari kalangan pengamat pertahanan internasional. Sebagian analis menilai bahwa pengerahan pembom strategis secara langsung menunjukkan perubahan signifikan dalam pola operasi Washington.

Bahkan, sejumlah pengamat menggambarkan perkembangan tersebut dengan ungkapan bahwa sejak pembom strategis Amerika mulai diterjunkan secara langsung, “gerbang neraka bagi Republik Islam Iran telah resmi dibuka.” Pernyataan tersebut merupakan opini para analis dan mencerminkan pandangan mereka mengenai meningkatnya skala konflik, bukan pernyataan resmi pemerintah Amerika Serikat.

Hingga 23 Juli 2026, situasi di kawasan Timur Tengah masih terus berkembang. Dengan meningkatnya intensitas serangan udara, pengerahan pasukan, serta aktivitas logistik militer Amerika Serikat, dunia internasional kini terus memantau apakah eskalasi ini akan berkembang menjadi operasi militer yang lebih luas atau masih dapat dikendalikan melalui jalur diplomasi. (***)

BREAKING! Trump Siap Hantam Iran Lebih Dahsyat, Israel Buka Semua Bunker! Perang Besar Dimulai?

EtIndonesia.com Pada 23 Juli 2026 menjadi salah satu hari yang paling menentukan dalam eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Setelah militer Amerika Serikat kembali melancarkan gelombang serangan udara ke-12 terhadap sejumlah target strategis di wilayah Iran pada 22 Juli 2026, berbagai indikator menunjukkan bahwa konfrontasi kedua negara kini memasuki fase yang berpotensi menentukan arah perang selanjutnya.

Di tengah meningkatnya operasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah, Israel meningkatkan status kewaspadaan nasional ke tingkat tertinggi, sementara Inggris dan sejumlah negara Eropa mulai mempersiapkan berbagai langkah antisipasi apabila konflik berkembang menjadi perang berskala lebih luas.

Amerika Serikat Gempur Dua Sasaran Militer Strategis Iran

Dalam operasi udara yang berlangsung pada 22 Juli 2026, pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat dilaporkan menyerang Pangkalan Brigade Angkatan Laut Iran di Konarak, Provinsi Sistan dan Baluchestan, yang berada di kawasan tenggara Iran.

Sedikitnya tiga ledakan besar dilaporkan mengguncang kompleks pangkalan tersebut.

Selain pangkalan angkatan laut, serangan juga diarahkan ke gudang persenjataan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di wilayah Gharb, Iran bagian barat.

Menurut berbagai laporan, gudang tersebut menyimpan beragam perlengkapan militer, antara lain:

  • mortir;
  • amunisi artileri;
  • roket;
  • serta berbagai jenis amunisi tempur lainnya.

Serangan tersebut dinilai sebagai bagian dari upaya Amerika Serikat untuk terus mengurangi kemampuan logistik dan operasional militer Iran.

Iran Ancam Serang Pangkalan Amerika dan Infrastruktur Energi Kawasan Teluk

Tidak lama setelah serangan terjadi, pemerintah Iran langsung mengeluarkan pernyataan keras.

Berdasarkan laporan Fars News Agency, IRGC menyatakan telah memetakan berbagai sasaran strategis Amerika Serikat beserta fasilitas pendukungnya di kawasan Teluk Persia.

Menurut pernyataan tersebut, sasaran yang telah masuk dalam daftar target Iran meliputi:

  • seluruh pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk;
  • pusat-pusat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI);
  • pembangkit listrik yang memasok energi bagi pusat data dan layanan komputasi awan.

IRGC memperingatkan bahwa apabila Amerika Serikat terus meningkatkan serangan terhadap Iran, fasilitas-fasilitas tersebut dapat menjadi sasaran balasan.

Iran juga secara khusus menyebut sejumlah lokasi strategis yang dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi, antara lain:

  • kawasan Jebel Ali di Dubai;
  • jaringan kelistrikan Abu Dhabi;
  • kawasan industri energi Ras Laffan di Qatar;
  • jaringan listrik nasional Arab Saudi.

Menurut Iran, jaringan-jaringan tersebut turut menopang operasional berbagai perusahaan teknologi global seperti Microsoft, Oracle, Google, serta Pangkalan Udara Pangeran Sultan yang digunakan militer Amerika Serikat.

Jalur Diplomasi Kembali Mengalami Kebuntuan

Di tengah meningkatnya eskalasi militer, peluang penyelesaian melalui jalur diplomatik kembali mengalami kemunduran.

Menurut laporan Axios, Iran telah menolak proposal terbaru Amerika Serikat yang bertujuan mengakhiri konflik.

Seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan bahwa pemerintah Iran tidak menunjukkan sikap kooperatif dalam proses pembahasan tersebut.

Perkembangan ini dinilai sebagai indikasi bahwa peluang dimulainya kembali perundingan damai kini semakin kecil.

Iran Isyaratkan Kemungkinan Operasi Darat

Pada 23 Juli 2026, juru bicara militer Iran, Akraminia, kembali mengeluarkan peringatan baru.

Ia menyatakan bahwa apabila Amerika Serikat terus menyerang kawasan selatan dan wilayah pesisir Iran, pemerintah Iran akan mempertimbangkan penerapan strategi militer baru.

Menurutnya, militer Iran telah menyiapkan berbagai skenario operasi yang akan diumumkan pada waktu yang dianggap tepat.

Yang paling menarik perhatian adalah pernyataannya bahwa operasi darat termasuk salah satu opsi yang telah dipersiapkan apabila eskalasi terus meningkat.

Klaim Iran Siapkan Lebih dari 100 Rudal Balistik

Iran juga kembali meningkatkan tekanan psikologis terhadap Amerika Serikat.

Dalam pernyataan resminya, Teheran mengklaim telah menyiapkan lebih dari 100 rudal balistik yang diarahkan ke berbagai sasaran di wilayah Amerika Serikat.

Iran menyatakan bahwa apabila Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei memberikan perintah, rudal-rudal tersebut akan segera diluncurkan.

Pemerintah Iran bahkan mengklaim sebagian besar wilayah Amerika Serikat dapat mengalami kerusakan besar akibat serangan tersebut.

Meski demikian, pengamat mengingatkan bahwa ancaman serupa telah beberapa kali disampaikan Iran dalam beberapa tahun terakhir.

Trump Sebut Operasi Berikutnya Akan Lebih Besar

Di pihak Amerika Serikat, Presiden Donald Trump mengungkapkan bahwa pemerintahannya sedang mempertimbangkan pelaksanaan operasi militer yang jauh lebih besar terhadap Iran.

Dalam wawancaranya dengan Axios, Trump mengatakan bahwa operasi berikutnya diperkirakan memiliki skala lebih besar dibandingkan Operation Epic Rage.

Ia menegaskan bahwa seluruh persiapan militer telah selesai dan keputusan akhir akan segera diambil.

Trump juga menyatakan bahwa operasi tersebut tidak memerlukan keterlibatan Israel.

Namun, ia menambahkan bahwa apabila Israel diminta ikut bergabung, negara tersebut dapat langsung berpartisipasi hanya dalam waktu beberapa menit.

Meski demikian, Trump mengakui bahwa keterlibatan Israel hampir pasti akan memicu serangan balasan Iran terhadap negara tersebut.

Koordinasi Amerika Serikat dan Israel Semakin Intensif

Berbagai laporan juga menyebutkan bahwa Kepala Mossad yang baru dilaporkan melakukan kunjungan ke Washington D.C. untuk bertemu dengan sejumlah pejabat tinggi Pemerintahan Trump.

Dalam pertemuan tersebut, ia disebut menyerahkan berbagai informasi intelijen mengenai:

  • fasilitas bawah tanah Iran;
  • perkembangan program pengayaan uranium;
  • kondisi ekonomi Iran.

Pada saat yang sama, sejumlah komandan senior Angkatan Udara Israel dan Direktorat Operasi Pasukan Pertahanan Israel (IDF) juga melakukan koordinasi intensif dengan militer Amerika Serikat guna menyamakan rencana operasi apabila eskalasi terus meningkat.

Pemerintah Israel bahkan menyatakan bahwa kedua negara kini tengah melaksanakan operasi bersama terhadap rezim Iran sekaligus jaringan kelompok proksi yang didukung Teheran, termasuk Hezbollah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan kelompok-kelompok bersenjata lainnya.

Israel Tingkatkan Status Siaga Nasional

Setelah menerima informasi bahwa Amerika Serikat akan meningkatkan intensitas operasi militernya terhadap Iran, pemerintah Israel segera menaikkan tingkat kewaspadaan nasional.

Menurut laporan Channel 14 Israel, berbagai bunker dan tempat perlindungan bawah tanah mulai dibuka untuk masyarakat di sejumlah wilayah, termasuk kawasan sekitar Tel Aviv.

Wali Kota Ramat Gan juga mengumumkan bahwa seluruh tempat perlindungan umum telah resmi dibuka.

Langkah tersebut diambil setelah hasil evaluasi keamanan menunjukkan meningkatnya risiko serangan rudal Iran menjelang akhir pekan.

Amerika Serikat Terus Menambah Kekuatan Tempur

Di lapangan, Washington terus mengirimkan tambahan kekuatan militer ke Timur Tengah.

Berbagai laporan menyebutkan pengerahan meliputi:

  • pasukan operasi khusus;
  • skuadron pesawat tempur;
  • pesawat pengebom strategis B-1 Lancer;
  • pesawat peperangan elektronik;
  • berbagai unsur pendukung operasi udara lainnya.

Sejumlah pesawat pengebom strategis yang berpangkalan di Amerika Serikat maupun Inggris juga dilaporkan telah berada dalam status siaga tinggi.

Para analis menilai bahwa 24 hingga 48 jam berikutnya berpotensi menjadi periode paling menentukan dalam perkembangan konflik saat ini.

Dukungan Medis Militer Mulai Dipersiapkan

Sebagai bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan meningkatnya korban perang, Amerika Serikat juga memperkuat kemampuan medis militernya.

Lebih dari 150 tenaga medis militer Amerika Serikat telah tiba di Landstuhl Regional Medical Center di Jerman.

Rumah sakit militer tersebut dipersiapkan sebagai pusat penanganan korban apabila konflik berkembang menjadi perang berskala besar.

Selain itu, aktivitas penerbangan logistik militer Amerika menuju berbagai pangkalan di Inggris dan negara-negara Eropa juga meningkat secara signifikan.

Marco Rubio: Kesempatan Damai Semakin Menipis

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menilai bahwa pemerintah Iran kini tidak lagi menunjukkan keinginan untuk mencapai penyelesaian melalui jalur diplomatik.

Menurut Rubio, setiap malam yang berlalu tanpa adanya kesepakatan hanya akan memperbesar konsekuensi yang harus dihadapi Iran di kemudian hari.

Iran Dinilai Masih Memiliki Kapabilitas Militer Signifikan

Meski terus mendapat tekanan udara dari Amerika Serikat, berbagai analisis menunjukkan bahwa Iran masih memiliki sejumlah kemampuan militer yang patut diperhitungkan.

Di antaranya meliputi:

  1. Persediaan pesawat nirawak (drone) dalam jumlah besar.
  2. Rudal anti-kapal yang masih mampu mengancam pelayaran di Teluk Persia.
  3. Armada kapal cepat yang dapat mengganggu operasi kapal perang maupun kapal dagang.
  4. Sekitar 190.000 personel militer yang siap dikerahkan apabila konflik berkembang menjadi perang terbuka.

Beberapa analis bahkan memperkirakan bahwa dalam skenario paling ekstrem, Amerika Serikat dapat mempertimbangkan operasi darat untuk menguasai pulau-pulau strategis di sekitar Selat Hormuz demi mengamankan jalur pelayaran internasional.

Iran Juga Mengancam Inggris

Pada 23 Juli 2026, Iran memperluas ancamannya kepada negara-negara Barat.

Teheran memperingatkan bahwa apabila wilayah Inggris atau pangkalan militer Inggris digunakan untuk mendukung operasi udara Amerika Serikat, fasilitas-fasilitas tersebut juga akan menjadi sasaran serangan.

Iran secara khusus menyebut RAF Fairford, pangkalan udara Inggris yang selama ini kerap digunakan pesawat pengebom strategis Amerika Serikat.

Menanggapi ancaman tersebut, Kementerian Pertahanan Inggris menegaskan bahwa Angkatan Bersenjata Inggris siap mempertahankan keamanan nasional dan akan menggunakan hak membela diri apabila menghadapi ancaman.

Ketegangan dengan Prancis Ikut Meningkat

Di tengah situasi tersebut, hubungan Iran dengan Prancis juga mengalami ketegangan baru.

Beberapa waktu sebelumnya, Iran dilaporkan sempat menahan dua diplomat Prancis selama hampir empat jam, bahkan salah seorang di antaranya diduga mengalami tindakan kekerasan fisik.

Insiden itu mendorong Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran.

Pemerintah Prancis menyatakan sedang mengevaluasi seluruh opsi respons yang dapat diambil apabila situasi terus memburuk.

Sejumlah pengamat menilai bahwa Inggris dan Prancis berpotensi meningkatkan keterlibatan mereka apabila konflik berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.

Negara-Negara Teluk Mulai Sulit Bersikap Netral

Negara-negara Teluk yang selama beberapa hari terakhir ikut terdampak berbagai serangan kini dinilai semakin sulit mempertahankan posisi netral.

Banyak analis memperkirakan bahwa negara-negara tersebut akan meningkatkan koordinasi keamanan dengan Amerika Serikat beserta negara-negara sekutunya apabila konflik terus meluas.

Di sisi lain, Iran diyakini tengah mempersiapkan diri menghadapi fase paling menentukan dalam konfrontasi saat ini.

Sejumlah analis juga berpendapat bahwa kemampuan Iran untuk tetap bertahan hingga kini tidak terlepas dari dukungan yang diperolehnya dari Tiongkok dan Rusia.  (***)

BREAKING! Trump Isyaratkan Serangan “Belum Pernah Terjadi”, Iran Terancam Digempur Habis-Habisan

EtIndonesia.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat ke level yang lebih berbahaya. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa pemerintahannya tengah mempertimbangkan pelaksanaan operasi militer berskala sangat besar terhadap Iran. Di saat yang sama, Washington terus memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah dengan mengerahkan pesawat pengebom strategis, pasukan operasi khusus, hingga tenaga medis militer sebagai bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan konflik yang lebih luas.

Perkembangan terbaru ini muncul setelah berbagai upaya diplomatik dilaporkan mengalami jalan buntu. Sementara itu, situasi keamanan di Laut Merah juga kembali memburuk akibat meningkatnya aktivitas kelompok Houthi yang didukung Iran, sehingga semakin memperbesar risiko meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Trump Isyaratkan Operasi Militer Berskala Belum Pernah Terjadi

Dalam wawancara yang dikutip media Axios pada Rabu, 22 Juli 2026, Presiden Donald Trump menyampaikan bahwa dirinya sedang mempertimbangkan pelaksanaan sebuah operasi militer dengan skala yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Trump menyatakan bahwa seluruh persiapan operasi telah dilakukan dan keputusan akhir akan segera diambil.

Ia mengatakan bahwa apabila Amerika Serikat memutuskan untuk menyerang Iran, Israel dapat bergabung dalam operasi tersebut hanya dalam hitungan dua menit. Namun demikian, Trump menegaskan bahwa Washington pada dasarnya tidak membutuhkan bantuan negara mana pun untuk melaksanakan operasi militer terhadap Iran.

Dalam kesempatan yang sama, Trump kembali mengungkapkan bahwa pemerintah Iran sebenarnya telah menunjukkan keinginan untuk melakukan perundingan. Namun menurutnya, hingga saat ini Teheran masih belum benar-benar siap mencapai sebuah kesepakatan.

Trump bahkan menyatakan bahwa tekanan yang sedang dialami Iran saat ini dinilainya masih belum cukup besar untuk memaksa negara tersebut mengubah sikapnya.


Upaya Diplomatik Masih Buntu

Di tengah meningkatnya ancaman operasi militer, sejumlah sumber regional yang terlibat dalam proses mediasi mengungkapkan bahwa pemerintah Iran hingga kini belum menerima proposal terbaru yang diajukan melalui jalur diplomatik.

Salah satu sumber yang mengetahui proses tersebut mengatakan bahwa berbagai upaya negosiasi masih terus dilakukan, namun menurutnya pemerintah Iran belum menunjukkan sikap kooperatif untuk melanjutkan pembicaraan secara serius.

Kondisi tersebut semakin memperkecil peluang tercapainya penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dalam waktu dekat.


Amerika Serikat Bersiap Memperluas Serangan

Menurut sumber dari pihak Israel, pemerintah Amerika Serikat telah memberi tahu Tel Aviv mengenai rencana memperluas operasi militernya terhadap Iran.

Bila rencana tersebut benar-benar dijalankan, Amerika Serikat untuk pertama kalinya sejak operasi gabungan AS–Israel dimulai tahun ini akan mengerahkan pesawat pengebom berat untuk menghantam sasaran-sasaran strategis di wilayah Iran.

Kalangan militer Israel menilai bahwa operasi tersebut berpotensi menjadi salah satu eskalasi terbesar dalam konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak ketegangan kembali meningkat beberapa bulan terakhir.

Analisis intelijen Israel memperkirakan bahwa sasaran utama serangan kemungkinan berada di kawasan pegunungan Iran yang selama ini diyakini menjadi lokasi berbagai fasilitas strategis, termasuk instalasi militer dan fasilitas bawah tanah yang memiliki perlindungan sangat kuat.

Setelah menerima pemberitahuan dari Washington, pemerintah Israel pada malam 22 Juli 2026 langsung meningkatkan status kesiagaan militer nasional ke tingkat tertinggi sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan pecahnya perang dalam skala lebih luas.


Bomber Strategis B-1B Mulai Digunakan

Perkembangan lain yang turut menjadi perhatian adalah laporan mengenai penggunaan pesawat pengebom strategis B-1B Lancer oleh militer Amerika Serikat.

Menurut laporan Axios, yang kemudian dikonfirmasi Fox News, pada Selasa, 22 Juli 2026, Angkatan Udara Amerika Serikat telah menggunakan pesawat B-1B untuk menyerang sasaran milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Langkah tersebut menjadi penggunaan perdana pesawat B-1B dalam operasi tempur sejak konflik terbaru kembali memanas.

Berdasarkan data Angkatan Udara Amerika Serikat, B-1B Lancer merupakan salah satu pesawat pengebom strategis paling kuat yang dimiliki Washington.

Pesawat ini mampu membawa hingga:

  • 24 bom berbobot 2.000 pon;
  • atau puluhan rudal jelajah dalam satu misi.

Kemampuan membawa muatan senjata dalam jumlah besar membuat B-1B dinilai sangat efektif untuk menyerang berbagai target strategis yang memiliki perlindungan kuat.

Para analis militer menilai pengerahan pesawat tersebut merupakan sinyal jelas bahwa Amerika Serikat sedang meningkatkan tekanan militer terhadap Iran secara signifikan.


Washington Perkuat Kekuatan Tempur di Timur Tengah

Selain meningkatkan intensitas operasi udara, Amerika Serikat juga terus memperbesar kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah.

Pada Kamis, 23 Juli 2026, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa sejak blokade maritim terhadap Iran kembali diberlakukan, selama sembilan hari terakhir mereka telah:

  • mengalihkan jalur pelayaran 12 kapal dagang;
  • serta membuat satu kapal kehilangan kemampuan beroperasi.

Sementara itu, laporan The Wall Street Journal menyebutkan bahwa Washington kini terus mengirim tambahan:

  • pasukan operasi khusus;
  • tenaga medis militer;
  • perlengkapan tempur;
  • serta memperkuat berbagai pangkalan militer di kawasan Timur Tengah.

Data pelacakan penerbangan juga menunjukkan bahwa selama sepekan terakhir berbagai unit operasi khusus telah diterbangkan dari pangkalan-pangkalan militer di Amerika Serikat menuju kawasan Timur Tengah.

Beberapa skuadron tempur juga dilaporkan telah selesai ditempatkan di sejumlah pangkalan utama.

Selain itu, pesawat-pesawat pengebom yang berada di pangkalan Amerika Serikat maupun Inggris kini telah berada dalam status siaga tinggi dan siap diterbangkan kapan saja apabila Presiden Trump mengeluarkan perintah operasi.

Sebagai bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan meningkatnya korban perang, lebih dari 150 tenaga medis militer juga telah tiba di Landstuhl Regional Medical Center, Jerman.

Rumah sakit tersebut merupakan pusat utama penanganan prajurit Amerika Serikat yang terluka dalam operasi militer di kawasan Timur Tengah.


Laut Merah Kembali Memanas

Di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, situasi keamanan di Laut Merah juga kembali memburuk.

Berbagai laporan menyebutkan bahwa kelompok Houthi mulai melancarkan serangan terhadap dua kapal milik Arab Saudi yang sedang berlayar di Laut Merah.

Menanggapi perkembangan tersebut, Presiden Donald Trump pada Kamis pagi, 23 Juli 2026, mengunggah pernyataan melalui media sosialnya.

Trump menyatakan dirinya sangat kecewa atas tindakan Houthi dan memperingatkan bahwa apabila kelompok tersebut kembali melakukan serangan serupa, maka Amerika Serikat akan meminta Iran bertanggung jawab penuh.

Washington tetap memandang Houthi sebagai kelompok proksi yang mendapat dukungan langsung dari Teheran.

Trump juga menegaskan bahwa apabila eskalasi terus meningkat, Amerika Serikat akan menjatuhkan tindakan militer yang jauh lebih keras, baik terhadap Iran maupun terhadap kelompok Houthi.


Marco Rubio: Iran Berada di Balik Blokade Laut Merah

Dalam pertemuan ASEAN, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio turut menyampaikan peringatan keras kepada kelompok Houthi.

Menurut Rubio, blokade laut yang dilakukan Houthi terhadap kapal-kapal Arab Saudi merupakan bagian dari strategi yang didorong oleh Iran.

Ia menilai kelompok tersebut seharusnya tidak membiarkan diri dimanfaatkan oleh Teheran dan mendesak agar seluruh aksi militer segera dihentikan.

Rubio juga mengungkapkan bahwa Iran sebelumnya memiliki rencana untuk melipatgandakan persediaan rudalnya.

Meski demikian, menurutnya pemerintah Iran hampir setiap hari tetap berupaya membuka jalur perundingan dengan Amerika Serikat.

Namun, karena belum menunjukkan kesiapan mencapai kesepakatan, Rubio menilai Iran akan terus menghadapi konsekuensi yang semakin berat.

“Setiap malam, harga yang harus dibayar Iran terus meningkat,” ujarnya.


Iran Diduga Kirim Personel Garda Revolusi ke Yaman

Empat sumber yang mengetahui persoalan tersebut, termasuk dua narasumber dari Iran, Menteri Informasi Yaman, dan seorang analis keamanan kawasan, mengungkapkan bahwa pada 13 Juli 2026 Iran diduga mengirim personel Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), penasihat militer, serta perlengkapan sistem rudal kepada kelompok Houthi di Yaman.

Pengiriman tersebut disebut menggunakan pesawat milik Mahan Air yang membawa sekitar 10 hingga 21 personel IRGC, termasuk beberapa komandan senior.

Pesawat awalnya dijadwalkan mendarat di Sanaa, namun karena bandara tersebut diserang pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi, penerbangan akhirnya dialihkan menuju Pelabuhan Hodeidah di pesisir Laut Merah.

Menurut sumber tersebut, para personel IRGC dikirim untuk:

  • membantu operasi militer Houthi;
  • memberikan pelatihan penggunaan sistem rudal generasi baru;
  • meningkatkan kemampuan tempur kelompok tersebut.

Sumber yang sama juga menduga pesawat tersebut turut membawa emas sebagai sumber pendanaan aktivitas Houthi.


Kapal Tanker Tiongkok Tetap Melintasi Laut Merah

Di tengah meningkatnya ancaman keamanan, Reuters melaporkan bahwa dua kapal tanker minyak mentah berkapasitas sangat besar milik Tiongkokk tetap melanjutkan pelayaran menuju Selat Bab el-Mandeb.

Kedua kapal tersebut membawa sekitar 4 juta barel minyak mentah Arab Saudi.

Salah satu kapal berbendera Singapura, Xin Long Yang, sempat berbalik arah dan berhenti sementara di tengah Laut Merah pada Selasa sebelum kembali melanjutkan pelayaran pada Rabu malam menuju Pelabuhan Qinzhou, Provinsi Guangxi.

Kapal tanker kedua, Yuan Xin Hu, juga mengikuti jalur yang sama dan dijadwalkan membongkar muatan di Pelabuhan Huizhou, Provinsi Guangdong.


Dugaan Bantuan Teknologi Militer Tiongkok kepada Iran

Di tengah meningkatnya konflik, perhatian internasional juga tertuju pada dugaan bantuan teknologi militer dari Tiongkok kepada Iran.

Beberapa laporan menyebutkan bahwa Beijing diduga telah memasok radar YLC-8B buatan China Electronics Technology Group Corporation (CETC) kepada Iran.

Radar tersebut diklaim memiliki kemampuan mendeteksi sasaran udara jarak jauh, termasuk pesawat tempur siluman seperti F-35 Lightning II dan F-22 Raptor milik Amerika Serikat.

Selain itu, data penerbangan menunjukkan bahwa sebuah pesawat kargo Iran dengan nomor penerbangan W576 baru-baru ini menyelesaikan proses pemuatan barang di Tiongkok sebelum kembali menuju Iran.

Pergerakan tersebut memicu spekulasi mengenai kemungkinan adanya pengiriman perlengkapan militer atau teknologi strategis dari Tiongkok kepada Teheran. Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi yang memverifikasi isi muatan pesawat tersebut. (***)

Israel Bocorkan Rencana AS! Pengebom Strategis Siap Luluhlantakkan Benteng Rahasia Iran

EtIndonesia.com — Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat dilaporkan tengah mempersiapkan eskalasi militer terbesar sejak konflik terbaru dengan Iran pecah. Berbagai laporan menyebut Washington tidak lagi hanya mengandalkan serangan udara konvensional, tetapi juga bersiap mengerahkan pesawat pengebom strategis berat untuk menghancurkan fasilitas-fasilitas bawah tanah Iran yang selama ini sulit dijangkau.

Di saat yang sama, Amerika Serikat terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan, sementara Israel meningkatkan status kesiagaan nasional. Di sisi lain, para analis menilai Iran kini hanya memiliki sedikit pilihan untuk membalas tekanan militer yang terus meningkat.

Amerika Dikabarkan Akan Meningkatkan Intensitas Serangan

Berdasarkan laporan Israel Public Broadcasting Corporation (IPBC) yang dipublikasikan pada 24 Juli 2026, pemerintah Amerika Serikat telah memberi tahu Israel bahwa dalam beberapa hari mendatang Washington akan meningkatkan intensitas operasi militernya terhadap Iran secara signifikan.

Menurut laporan tersebut, untuk pertama kalinya dalam konflik kali ini, Amerika Serikat disebut akan mengerahkan pesawat pengebom strategis berat untuk menyerang sasaran-sasaran yang berada di kawasan pegunungan serta berbagai fasilitas bawah tanah Iran.

Target utama operasi diperkirakan meliputi:

  • bunker komando militer;
  • kompleks penyimpanan rudal;
  • fasilitas bawah tanah yang dibangun di pegunungan;
  • pusat logistik militer;
  • serta infrastruktur strategis yang selama ini dianggap memiliki perlindungan sangat kuat terhadap serangan udara.

Penggunaan pesawat pengebom strategis dinilai menunjukkan perubahan penting dalam pola operasi Amerika Serikat. Bila sebelumnya Washington lebih banyak menggunakan jet tempur, rudal jelajah, dan pesawat nirawak (drone), maka kini sasaran yang dibidik merupakan fasilitas dengan tingkat perlindungan jauh lebih tinggi.

Sumber-sumber keamanan yang dikutip media Israel menyebutkan bahwa seluruh persiapan pendukung operasi tersebut kini hampir selesai, sehingga serangan dengan skala yang lebih besar diperkirakan dapat dimulai dalam waktu dekat apabila pemerintah Amerika memberikan persetujuan akhir.


Amerika Terus Memperkuat Kekuatan Militernya di Timur Tengah

Seiring meningkatnya ketegangan, Amerika Serikat terus mengirim tambahan kekuatan militer ke kawasan Timur Tengah.

Langkah-langkah yang telah dilakukan antara lain meliputi:

  • penambahan personel tempur;
  • pengerahan pesawat tempur tambahan;
  • pengiriman puluhan pesawat tanker pengisian bahan bakar di udara;
  • peningkatan kesiapan berbagai skuadron tempur;
  • serta penempatan armada laut dalam jumlah besar.

Keberadaan pesawat tanker dinilai sangat penting karena memungkinkan pesawat-pesawat tempur Amerika melakukan misi jarak jauh dengan durasi operasi yang jauh lebih lama tanpa harus kembali ke pangkalan.

Di laut, kekuatan Amerika juga terus bertambah.

Saat ini Angkatan Laut Amerika Serikat dilaporkan telah mengerahkan sekitar:

  • 17 kapal perang;
  • 2 Carrier Strike Group (kelompok tempur kapal induk);
  • serta 11 kapal perusak (destroyer)

yang beroperasi di berbagai titik strategis di kawasan Timur Tengah.

Konsentrasi kekuatan laut sebesar ini memberikan kemampuan bagi Washington untuk melaksanakan operasi udara, pertahanan rudal, hingga serangan presisi terhadap berbagai sasaran di wilayah Iran.


Anggaran Militer Amerika Kembali Bertambah

Di tengah meningkatnya operasi militer tersebut, Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat juga baru saja meloloskan rancangan kerangka anggaran senilai sekitar 95 miliar dolar AS.

Dari jumlah tersebut, sekitar 73 miliar dolar AS dialokasikan secara khusus untuk kebutuhan:

  • militer;
  • intelijen;
  • pengembangan kemampuan pertahanan;
  • logistik operasi;
  • serta berbagai kebutuhan keamanan nasional lainnya.

Besarnya alokasi dana tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa Washington tengah mempersiapkan operasi jangka panjang apabila konflik dengan Iran terus berlanjut.


Israel Masuk Status Siaga Penuh

Sementara itu, Israel juga meningkatkan kesiagaan militernya.

Di Tel Aviv, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir dilaporkan menggelar rapat darurat bersama seluruh pimpinan militer.

Dalam pertemuan tersebut, berbagai kemungkinan perkembangan situasi keamanan dibahas secara intensif, termasuk skenario apabila Iran meningkatkan serangan balasan terhadap Israel maupun kepentingan Amerika Serikat di kawasan.

Laporan menyebut sistem pertahanan nasional Israel kini telah berada dalam status siaga penuh, mencakup kesiapan:

  • sistem pertahanan udara;
  • satuan intelijen;
  • pasukan darat;
  • angkatan udara;
  • hingga angkatan laut.

Langkah ini menunjukkan bahwa Tel Aviv memperkirakan eskalasi konflik masih berpotensi meningkat dalam waktu dekat.


Iran Dinilai Hanya Memiliki Satu Kartu Strategis yang Tersisa

Di tengah tekanan militer yang semakin besar, sejumlah analis menilai ruang gerak Iran kini semakin sempit.

Salah satu opsi yang dinilai masih dimiliki Teheran adalah memblokade Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara Teluk menuju pasar internasional.

Gangguan terhadap jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga energi global sekaligus mengganggu stabilitas ekonomi dunia.

Namun langkah tersebut dinilai memiliki risiko yang sangat besar.


Trump Kembali Mengeluarkan Ancaman Terhadap Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya telah menyampaikan peringatan keras kepada Iran.

Trump menegaskan bahwa apabila Iran kembali menyerang kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz, maka Amerika Serikat akan membalas dengan menghancurkan satu jembatan atau satu pembangkit listrik di wilayah Iran.

Pernyataan tersebut menunjukkan pendekatan baru Washington dalam memberikan efek jera.

Alih-alih membalas serangan dengan sasaran yang setara, Amerika Serikat mengancam akan menyerang infrastruktur strategis yang memiliki nilai ekonomi jauh lebih besar.

Menurut para analis, pendekatan ini merupakan bentuk perang asimetris, yaitu strategi yang bertujuan membuat biaya yang harus ditanggung lawan jauh lebih besar dibandingkan kerugian yang berhasil ditimbulkan terhadap pihak Amerika.

Dengan demikian, setiap tindakan Iran diperkirakan akan dibalas dengan konsekuensi yang jauh lebih berat.


Mengapa Amerika Tidak Langsung Merebut Pulau-Pulau Strategis Iran?

Di tengah meningkatnya operasi militer, muncul pertanyaan dari sejumlah pengamat mengenai alasan Amerika Serikat tidak langsung merebut pulau-pulau strategis Iran di Teluk Persia.

Sekilas, langkah tersebut tampak lebih sederhana dibandingkan melakukan operasi udara berkepanjangan.

Namun para pakar militer menilai kenyataannya jauh lebih rumit.

Mereka menjelaskan bahwa merebut sebuah pulau relatif lebih mudah dibandingkan mempertahankannya.

Salah satu contoh yang sering disebut adalah Pulau Khark, sebuah pulau strategis Iran yang hanya berjarak sekitar 25 kilometer dari daratan utama.

Jarak yang sangat dekat membuat setiap pasukan Amerika yang ditempatkan di pulau tersebut akan terus berada dalam jangkauan:

  • artileri Iran;
  • rudal jarak pendek;
  • drone tempur;
  • maupun serangan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Dengan kondisi demikian, Amerika Serikat harus terlebih dahulu menguasai sebagian wilayah pesisir Iran agar dapat menghilangkan ancaman terhadap pulau yang berhasil direbut.


Operasi Darat Dinilai Akan Sangat Mahal

Masalah utama lainnya adalah panjang garis pantai Iran yang mencapai sekitar 1.700 kilometer.

Untuk mengamankan satu kawasan penting seperti Pelabuhan Bandar Abbas saja, sejumlah analis memperkirakan Amerika Serikat memerlukan sekitar 17.000 personel Marinir.

Jumlah tersebut belum termasuk kebutuhan logistik, kendaraan tempur, perlindungan udara, hingga sistem pertahanan rudal.

Karena itu, banyak pengamat militer menilai operasi pendaratan besar-besaran ke wilayah Iran bukanlah pilihan yang mudah maupun murah.

Inilah sebabnya mengapa Washington hingga kini lebih memilih mengandalkan serangan udara dan serangan presisi daripada melakukan invasi darat secara langsung.


David Icke: Dunia Sudah Memasuki Perang Dunia Ketiga

Di tengah memanasnya konflik, penulis asal Inggris David Icke kembali menyampaikan pandangan yang menuai kontroversi.

Menurutnya, negara-negara Barat pada dasarnya tengah berperang melawan Rusia dan Tiongkok.

Namun, medan tempur utama persaingan tersebut bukan berada di wilayah kedua negara itu, melainkan berlangsung melalui konflik di:

  • Iran;
  • Ukraina;
  • serta berbagai kawasan strategis lainnya.

Icke berpendapat bahwa dunia sebenarnya telah memasuki fase Perang Dunia Ketiga, meskipun belum pernah ada deklarasi resmi mengenai perang tersebut.

Pandangan tersebut memicu perdebatan luas di kalangan pengamat hubungan internasional. Banyak analis tidak sependapat dengan kesimpulan tersebut, tetapi mengakui bahwa konflik di berbagai kawasan saat ini memang semakin memperlihatkan keterlibatan kekuatan-kekuatan besar dunia dalam persaingan geopolitik yang lebih luas.


Di Tengah Krisis Timur Tengah, Diplomasi Amerika Justru Menguat di ASEAN

Sementara Amerika Serikat meningkatkan kesiapan militernya di Timur Tengah, perkembangan menarik juga terjadi di kawasan Asia Tenggara.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menghadiri Pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN yang berlangsung di Manila, Filipina, pada 24 Juli 2026.

Pertemuan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan di Laut Cina Selatan, terutama terkait sengketa wilayah antara Tiongkok dan Filipina.

Dalam forum tersebut, Rubio disebut berhasil menjadi salah satu tokoh yang paling banyak mendapat perhatian dari para peserta.

Sebaliknya, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi dilaporkan tidak menghadiri jamuan makan malam pada 21 Juli 2026, yang oleh sebagian pengamat ditafsirkan sebagai bentuk sinyal diplomatik atau protes terhadap dinamika yang berkembang dalam forum tersebut.

Meski demikian, situasi justru berkembang di luar perkiraan.

Forum ASEAN yang selama bertahun-tahun dipandang sebagai salah satu arena utama pengaruh diplomatik Beijing disebut memperlihatkan ruang gerak yang lebih besar bagi diplomasi Amerika Serikat.

Perkembangan ini dinilai menjadi indikasi bahwa persaingan geopolitik antara Washington dan Beijing kini tidak hanya berlangsung di bidang ekonomi dan militer, tetapi juga semakin intens dalam ranah diplomasi kawasan Asia-Pasifik.  (***)

Polisi California Mengungkap Dugaan Jaringan Penanaman Ganja Ilegal yang Disebut Terkait Kejahatan Terorganisir Tiongkok

EtIndonesia.com Di Siskiyou County, California, Amerika Serikat, sekelompok petugas kepolisian melakukan penyelidikan terhadap jaringan besar penanaman ganja ilegal di kaki Gunung Shasta (Mount Shasta). Menurut laporan ini, hasil penyelidikan menunjukkan bahwa industri ganja ilegal di California diduga memiliki kaitan dengan kelompok kejahatan terorganisir asal Tiongkok serta praktik eksploitasi tenaga kerja dalam perdagangan narkoba.

Petugas memasuki sebuah kamp yang dipenuhi debu. Di lokasi tersebut terdapat tumpukan sampah dan banyak wadah plastik bekas pupuk yang berserakan, merusak pemandangan alam yang sebelumnya indah.

Bagi Sheriff Jeremiah LaRue dari Siskiyou County, penggerebekan seperti ini bukanlah hal baru.

Dalam wawancara dengan The Epoch Times, LaRue mengatakan bahwa di wilayah Siskiyou County terdapat ribuan rumah kaca sementara berbentuk lengkung (hoop houses) yang digunakan untuk menanam ganja secara ilegal. Setiap rumah kaca berisi ratusan tanaman ganja.

Saat LaRue memberikan keterangan tersebut, para deputinya sedang menggeledah kawasan permukiman Mount Shasta Vista, sekitar 20 menit berkendara di timur laut Kota Weed, California.

Melalui citra satelit dan foto udara, kantor sheriff mengidentifikasi 2.732 rumah kaca hanya di kawasan Mount Shasta Vista.

Pada tanggal 4 Juni 2026, di Siskiyou County, California, seorang pejabat memperoleh bukti penggunaan pestisida di lokasi penanaman ganja ilegal di luar Montague. Sekitar 80% dari lokasi penanaman di wilayah tersebut menggunakan pestisida yang sangat beracun dan dilarang untuk menanam ganja pasar gelap; pestisida ini dikemas dengan label dalam bahasa asing. (John Fredricks/The Epoch Times)

Kamp Sudah Ditinggalkan Sebelum Polisi Tiba

Ketika petugas tiba di lokasi pada 4 Juni, seluruh orang yang berada di lokasi penanaman sudah melarikan diri.

Menurut warga sekitar, para penjaga yang mengawasi lokasi—yang disebut kadang membawa senapan AK-47 dan senapan laras panjang lainnya—akan segera memperingatkan para pekerja apabila melihat polisi mendekat.

Di lokasi hanya tersisa beberapa ayam jantan, seekor anjing German Shepherd tua, dan beberapa anak anjing.

Tim penyelidik yang datang lebih dahulu juga mendapati bahwa seluruh penghuni kamp telah pergi.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa para pelaku tampaknya sudah sangat terbiasa menghindari operasi penegakan hukum.

Ribuan Tanaman dan Ratusan Kilogram Ganja Dimusnahkan

Di dua rumah kaca berukuran sekitar 30 × 100 kaki, polisi menemukan masing-masing sekitar 430 tanaman ganja yang sedang berbunga.

Di rumah kaca lain yang lebih besar, tim North State Marijuana Investigation Team menimbang hasil panen ganja yang sedang dikeringkan dengan berat sekitar 900 pon (sekitar 408 kilogram).

Seluruh tanaman ganja tersebut kemudian dimusnahkan.

Menurut kantor sheriff, tidak ada tersangka yang ditangkap dalam operasi kali ini.

Namun, pada Agustus tahun lalu, tim yang sama pernah menggerebek properti tersebut dan menangkap pemiliknya, Haizhou Wang (Wang Haizhou), yang saat itu berusia 56 tahun.

Pada 7 Mei 2024, seorang petugas Kantor Sheriff Kabupaten Siskiyou menghentikan sebuah kendaraan di luar Montague, California. Meskipun pengiriman ganja dalam jumlah besar dapat diangkut dengan truk semi-trailer, pengiriman dalam jumlah kecil biasanya diangkut dengan kendaraan pribadi untuk meminimalkan risiko kehilangan. (John Fredricks/The Epoch Times)

Nilai Pasar Miliaran Dolar

Para ahli industri memperkirakan bahwa produksi ganja ilegal di Amerika Serikat mencapai lebih dari 30 juta pon (sekitar 13,6 juta kilogram) setiap tahun.

Menurut kantor sheriff, hanya Siskiyou County saja diperkirakan menghasilkan sekitar 17,8 juta pon ganja ilegal per tahun.

Dengan harga sekitar US$200 per pon, nilai pasar jalanannya diperkirakan mencapai sedikitnya US$3,6 miliar.

Menurut California Department of Cannabis Control, harga satu pon ganja di pasar gelap California hanya beberapa ratus dolar AS. Namun di wilayah Midwest dan Pantai Timur Amerika Serikat, harganya bisa mencapai sekitar US$1.500 per pon, bahkan lebih tinggi lagi di negara lain.

Dugaan Keterkaitan dengan Kejahatan Terorganisir Tiongkok

Menurut Drug Enforcement Administration (DEA), meskipun kandungan zat aktif ganja terus meningkat selama beberapa tahun terakhir, harga ganja di pasar gelap relatif tetap stabil.

DEA menyatakan bahwa selama dua dekade terakhir, kelompok kejahatan terorganisir asal Tiongkok bersama kelompok kriminal Asia lainnya semakin menguasai perdagangan ganja ilegal.

Dalam Laporan Penilaian Ancaman Narkoba Nasional 2025 (National Drug Threat Assessment 2025), DEA menyatakan: “Kelompok kejahatan terorganisir ini, bersama kartel narkoba Meksiko, memperoleh keuntungan baik dari penanaman dan penjualan ganja ilegal maupun dari penyalahgunaan pasar ganja yang legal.”

Walaupun sejumlah negara bagian telah melegalkan atau mendekriminalisasi ganja, menurut laporan tersebut, kejahatan terorganisir justru tidak berkurang, bahkan semakin berkembang.

Dugaan Penggunaan Pestisida Terlarang

Pada 4 Juni 2026, seorang petugas menemukan bukti penggunaan pestisida di sebuah ladang ganja ilegal di luar Montague, Siskiyou County.

Menurut kantor sheriff, sekitar 80% lokasi penanaman ganja ilegal di wilayah tersebut menggunakan pestisida yang sangat beracun dan telah dilarang. Kemasan pestisida tersebut dilaporkan memiliki label berbahasa asing.

Pendanaan dan Dugaan Eksploitasi Pekerja

DEA menyatakan bahwa jaringan kejahatan lintas negara asal Tiongkok kini diduga mengendalikan penanaman dan distribusi ganja di berbagai negara bagian, mulai dari California hingga Maine.

Laporan tersebut menyebut bahwa pembelian lahan untuk penanaman ganja didanai melalui jaringan keluarga dan komunitas di Tiongkok maupun Amerika Serikat.

DEA juga menyatakan bahwa banyak migran ilegal asal Tiongkok, sebagian diantaranya pernah tinggal bertahun-tahun di Meksiko, direkrut dengan janji pekerjaan yang sah. Setelah tiba di Amerika Serikat, mereka disebut bekerja di lokasi penanaman ganja bersama migran ilegal asal Meksiko dan berada di bawah pengawasan ketat anggota kelompok kejahatan yang mengelola lokasi tersebut.

Menurut laporan itu:”Sebagian besar lokasi penanaman berada di negara bagian yang telah melegalkan industri ganja. Namun banyak di antaranya tidak mengikuti prosedur perizinan yang berlaku atau memperoleh izin melalui cara-cara yang diduga curang. Ketika lokasi tersebut ditemukan aparat, para pelaku biasanya berpindah ke lokasi lain di negara bagian yang sama atau ke negara bagian lain yang juga melegalkan ganja.”

Dugaan Pencucian Uang

DEA juga menyebut adanya dugaan jaringan pencucian uang berskala besar yang melibatkan:

  • penggunaan nama orang lain (nominee) untuk mendaftarkan lahan ganja,
  • kasino,
  • penipuan kredit perumahan (mortgage fraud), serta memanfaatkan sistem perbankan bawah tanah Tiongkok yang berpusat di New York untuk mengirimkan hasil penjualan ganja ilegal ke Tiongkok.

Negara Bagian dengan Penyitaan Ganja Terbanyak

Menurut laporan DEA, pada 2024:

  • Oklahoma menyumbang 66% dari seluruh ganja ilegal yang disita di Amerika Serikat.
  • California menyumbang 15%.
  • Maine, Missouri, dan Indiana masing-masing menyumbang sekitar 3%.

Metode Pengiriman “Shotgun”

Laporan DEA menjelaskan bahwa ganja dalam jumlah besar biasanya diangkut menggunakan truk semi-trailer.

Sementara itu, untuk mengurangi risiko kerugian apabila tertangkap, jaringan tersebut menggunakan metode yang disebut “shotgun transportation”, yaitu mengirim banyak mobil pribadi secara bersamaan, dengan masing-masing kendaraan hanya membawa beberapa ratus pon ganja menuju tujuan yang sama.

Menurut DEA, strategi ini bertujuan untuk mengurangi kerugian apabila salah satu kendaraan berhasil dihentikan oleh aparat penegak hukum.

Label Berbahasa Mandarin pada Pestisida Ilegal

Sheriff Jeremiah LaRue memeriksa sekantong insektisida yang berlabel bahasa Mandarin. Di dalamnya terdapat tiga bungkus kecil insektisida yang ditemukan di salah satu rumah kaca.

“Ini adalah jenis kemasan baru yang belum pernah saya lihat sebelumnya,” katanya.

Kepada The Epoch Times, LaRue mengatakan bahwa sekitar 80% lokasi penanaman ganja ilegal menggunakan pestisida terlarang yang sangat beracun dengan label berbahasa asing, yang menurutnya sebagian besar diselundupkan dari Tiongkok ke Amerika Serikat.

Ia menjelaskan bahwa pestisida tersebut sangat berbahaya, bukan hanya bagi orang yang menggunakannya, tetapi juga bagi para pekerja di lokasi penanaman serta petugas penegak hukum yang harus menanganinya.

“Kami memusnahkannya langsung di lokasi,” katanya. “Kami menghancurkannya di tempat karena tingkat racunnya terlalu tinggi. Kami tidak ingin mengambil risiko dengan memindahkannya.”

Di kamp penanaman tersebut, petugas juga menemukan banyak kaleng bir dan minuman ringan yang bagian atasnya dipotong. Kaleng-kaleng itu digunakan sebagai wadah serbuk beracun yang kemudian dibakar di dalam rumah kaca.

LaRue menjelaskan:”Mereka membakarnya menggunakan api. Kadang mereka menggunakan sumbu kecil seperti sekering untuk menyalakannya sehingga asapnya memenuhi rumah kaca. Tujuannya adalah membunuh semua hama pada tanaman.”

Menurutnya, setelah panen selesai, residu racun masih tetap menempel pada tanaman. Ganja yang telah terkontaminasi kemudian masuk ke pasar legal maupun pasar gelap dan akhirnya dikonsumsi oleh para pengguna.

Ia mengatakan bahwa hasil pelacakan menunjukkan ganja ilegal dari Siskiyou County yang mengandung pestisida sangat beracun telah masuk ke sejumlah gerai ganja berizin di California dan Oregon.

Meskipun ganja yang ditanam secara legal dinyatakan aman, LaRue mengatakan bahwa California tidak menguji semua jenis pestisida.

Ia memperingatkan bahwa menghirup beberapa pestisida yang dilarang dapat berakibat fatal, menyebabkan iritasi kulit yang parah dan gangguan pernapasan. Jika tertelan, zat tersebut dapat menyebabkan gangguan pada sistem saraf.

27 Jenis Pestisida Ditemukan

Tim penyidik menemukan 27 jenis pestisida di lokasi penanaman ganja ilegal.

Menurut kantor sheriff:

  • 17 jenis tidak termasuk dalam daftar pestisida yang diwajibkan untuk diuji oleh California Department of Cannabis Control.
  • 12 jenis merupakan penghambat enzim asetilkolinesterase (acetylcholinesterase inhibitors) yang dapat mengganggu sistem saraf.

Menurut National Institutes of Health (NIH), paparan zat tersebut dapat menyebabkan:

  • kejang,
  • koma,
  • gagal pernapasan.

Berdasarkan Safe Drinking Water and Toxic Enforcement Act 1986 (Proposition 65), kantor sheriff menyatakan bahwa dari pestisida yang ditemukan:

  • 8 jenis diklasifikasikan sebagai zat penyebab kanker,
  • 7 jenis telah dilarang penggunaannya di Amerika Serikat,
  • 6 jenis dikategorikan sebagai pencemar air tanah,
  • beberapa pestisida fumigan diklasifikasikan sebagai bahan yang menghasilkan uap beracun.

Kantor sheriff mengatakan bahwa pestisida yang ditemukan dalam operasi penggerebekan pada 4 Juni kemudian diidentifikasi sebagai fumigan berbahan dasar isoprocarb, yaitu senyawa penghambat asetilkolinesterase yang belum pernah disetujui untuk digunakan di Amerika Serikat.

Latar Belakang Jaringan Penanaman

Di beberapa rumah kaca, polisi menemukan tanaman ganja yang diikat menggunakan tali plastik sangat tipis menyerupai senar pancing agar tumbuh sesuai arah tertentu.

Menurut LaRue, teknik tersebut telah lama digunakan oleh sebagian petani Hmong (Miao) dalam budidaya ganja di California, Oregon, dan Washington.

Catatan: Suku Hmong merupakan kelompok etnis yang tersebar di Laos, Vietnam, Thailand, dan wilayah selatan Tiongkok seperti Guizhou dan Yunnan.

LaRue mengatakan bahwa antara 2016 hingga 2019, setelah California melonggarkan aturan mengenai ganja, sekitar 2.000 orang, sebagian besar berasal dari komunitas Hmong, pindah ke Siskiyou County untuk menanam dan menjual ganja di pasar gelap.

Mereka membeli tanah yang relatif murah karena tanah vulkanik di daerah tersebut kurang cocok untuk pertanian lain, meskipun secara tata ruang diperuntukkan bagi kawasan permukiman.

Ukuran lahan berkisar antara 1 hingga 100 acre.

Bahkan lahan terkecil sekalipun umumnya memiliki:

  • sedikitnya dua rumah kaca,
  • area penanaman terbuka.

Menurut kantor sheriff, rata-rata setiap lahan dapat menanam sekitar 2.017 tanaman ganja, dengan panen 3–4 kali setiap tahun.

Setiap tanaman menghasilkan sekitar 1–5 pon bunga ganja dalam satu siklus panen.

Kantor sheriff juga menyebut bahwa para pemimpin komunitas yang mewakili para penanam memperkirakan saat ini terdapat sekitar 5.000–8.000 pekerja yang bekerja di lokasi penanaman ilegal di Siskiyou County.

Latar Belakang Komunitas Hmong

Suku Hmong memiliki hubungan sejarah yang panjang dengan Tiongkok. Nenek moyang mereka berasal dari wilayah Tiongkok dan kemudian bermigrasi ke Laos, Vietnam, Thailand, serta akhirnya ke Amerika Serikat.

Pada masa Perang Saudara Laos, yang dikenal sebagai “Secret War”, CIA merekrut ribuan pria Hmong untuk membantu melawan pasukan komunis.

Setelah pemerintahan komunis mengambil alih Laos dan jatuhnya Saigon pada tahun 1975, banyak warga Hmong mengalami penganiayaan. Mereka melarikan diri ke kamp-kamp pengungsi di Thailand sebelum kemudian bermukim di Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Kanada, dan Australia.

Dugaan Perbudakan dalam Industri Narkoba

Menurut LaRue, berkembangnya lokasi penanaman ganja ilegal juga memunculkan dugaan praktik perbudakan tenaga kerja dalam perdagangan narkoba, yang sulit diawasi maupun dibuktikan secara hukum.

Ia menduga sebagian pekerja, termasuk yang diduga merupakan imigran tanpa dokumen, bekerja untuk mengirim uang ke keluarga di Tiongkok atau melunasi utang kepada kartel narkoba Meksiko yang membantu mereka masuk ke Amerika Serikat.

LaRue mengatakan bahwa undang-undang California, termasuk Senate Bill 54, membatasi aparat kepolisian dalam menanyakan status imigrasi seseorang. Hal tersebut menyulitkan penyelidikan mengenai apakah pekerja di lokasi penanaman merupakan imigran ilegal.

Kondisi Hidup Para Pekerja

Menurut LaRue, kondisi kehidupan para pekerja sangat memprihatinkan.

Mereka mengalami:

  • kekurangan makanan,
  • penghasilan yang sangat rendah,
  • tidak memiliki kendaraan,
  • sering dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Ia mengatakan bahwa dalam banyak kasus mereka sekaligus merupakan pelaku dan korban.

“Mereka ditipu. Upah yang akhirnya mereka terima jauh lebih kecil daripada yang dijanjikan. Tetapi sebagian besar dari mereka takut berbicara kepada polisi karena khawatir akan mendapat pembalasan.”

LaRue mengingat sebuah surat yang diterimanya dari seorang pekerja yang berhasil melarikan diri.

“Mereka melarikan diri pada tengah malam. Mereka diancam akan dibunuh apabila mencoba pergi.”

Menurutnya, petugas akan memeriksa tempat tinggal para pekerja untuk mencari bukti apakah mereka dipaksa bekerja.

Apabila ditemukan korban kerja paksa, pihak kepolisian akan:

  • mengeluarkan mereka dari lingkungan tersebut,
  • memberikan perlindungan,
  • membantu kebutuhan mereka.

LaRue mengatakan:”Tidak semua orang berada di lokasi penanaman itu atas kemauan sendiri. Tugas kami sebagai penyidik adalah memastikan mereka bukan korban perdagangan manusia yang dipaksa bekerja untuk membayar utang. Sebagian besar dari mereka tidak mau menceritakan alasan sebenarnya mengapa mereka berada di sana. Mereka sangat ketakutan.”

Ia menambahkan bahwa barang-barang pribadi yang ditemukan di gubuk-gubuk kayu lapis sangat sedikit—hanya beberapa potong pakaian dan perlengkapan sederhana—yang menurutnya menunjukkan bahwa para pekerja kemungkinan dibawa ke lokasi tersebut dan tidak memiliki tempat lain untuk pergi.

Di dalam sebuah trailer, petugas menemukan tabung gas propana luar ruangan yang digunakan sebagai alat pemanas, yang dinilai berisiko menyebabkan kebakaran maupun keracunan karbon monoksida.

Petugas juga menemukan kartu nama perusahaan pengangkut air.

Di sebuah gubuk bersama, terdapat banyak air minum dalam kemasan. Menurut sheriff, hal itu menunjukkan bahwa para pekerja tidak menggunakan air yang diangkut dengan truk untuk memasak atau minum karena diduga air tersebut telah tercemar.

Gugatan Berakhir dengan Kesepakatan Damai

American Civil Liberties Union (ACLU) yang berkantor pusat di New York mengajukan gugatan class action terhadap Siskiyou County dan Sheriff Jeremiah LaRue. Gugatan tersebut menuduh pemerintah daerah memberlakukan kebijakan yang membatasi pasokan air ke lokasi-lokasi penanaman ganja ilegal di kawasan Mount Shasta Vista, serta menuduh sheriff melakukan diskriminasi rasial dengan menargetkan komunitas Asia, terutama komunitas Hmong.

Pada Agustus 2022, ACLU Foundation of Northern California, Asian Americans Advancing Justice (AAAJ) – Asian Law Caucus, bersama firma hukum Covington & Burling LLP, mewakili empat warga keturunan Asia-Amerika mengajukan gugatan. Mereka menuduh pejabat daerah melakukan:

  • kampanye sistematis yang bernuansa diskriminasi rasial,
  • pembatasan akses air bagi warga Asia-Amerika,
  • penghentian kendaraan, penggeledahan, dan penyitaan yang dianggap melanggar hukum.

Pada 30 Juni, Dewan Pengawas Siskiyou County menyetujui pembayaran US$650.000 sebagai penyelesaian atas sisa tuntutan dalam perkara Mathis dkk. vs. County of Siskiyou dkk. Sebelumnya, pada Desember tahun lalu telah dicapai penyelesaian sebagian sebesar US$350.000.

Siapa Pelaku Penanaman Ganja Ilegal?

Berdasarkan berbagai kesaksian di Kongres AS, sebagian besar lokasi penanaman ganja ilegal berskala besar di ruang terbuka disebut memiliki kaitan dengan kartel narkoba Meksiko dan kelompok kejahatan Asia, terutama yang berasal dari Tiongkok.

Sheriff LaRue mengatakan bahwa di kawasan Mount Shasta Vista:

  • sekitar 60% pelaku merupakan warga keturunan Tiongkok,
  • sekitar 40% berasal dari komunitas Hmong.

Ia menambahkan:”Sebagian besar perkebunan berskala besar, sekitar 80 hingga 100 acre, dioperasikan oleh pengelola asal Tiongkok yang memproduksi ganja ilegal dalam skala industri.”

Menurut LaRue, jaringan di balik penanaman ilegal merupakan:”Jaringan yang sangat tertutup dan terdiri dari banyak individu.”

Ia mengatakan bahwa jaringan tersebut kemungkinan memiliki hubungan dengan Tiongkok daratan, meskipun hubungan tersebut sulit dibuktikan secara langsung.

“Yang dapat kami pastikan adalah uang dari daerah kami mengalir ke Tiongkok.”

Kepemilikan Tanah Sulit Dilacak

Menurut LaRue, sebagian besar sertifikat kepemilikan tanah mencantumkan beberapa nama sekaligus.

Ia menjelaskan:”Mereka memasukkan banyak nama pada dokumen kepemilikan. Nama-nama itu bisa asli maupun palsu, dengan alamat yang tersebar di berbagai negara bagian, sehingga sangat sulit ditelusuri.”

Akibatnya, ketika polisi melakukan penggeledahan, orang-orang yang berada di lokasi hampir tidak pernah merupakan pemilik resmi yang tercantum dalam dokumen.

Menurutnya:”Ada jarak yang sengaja diciptakan antara pemilik sebenarnya dan orang yang berada di lapangan.”

Para pekerja yang ditemui polisi biasanya mengaku hanya bekerja untuk orang lain atau mengaku menempati lahan tersebut secara ilegal.

Pada awalnya, sebagian mengaku sebagai kerabat pemilik tanah. Namun ketika polisi menghubungi pemilik yang tercatat dalam dokumen, mereka sering mengatakan tidak mengetahui siapa yang menanam ganja di lahannya.

LaRue mengatakan:”Informasi dalam dokumen kepemilikan sering kali tidak mencerminkan kenyataan.”

“Ini adalah permainan penyamaran identitas dalam skala besar yang dilakukan secara sengaja.”

Dugaan Kerja Sama antara Komunitas Hmong dan Kelompok Asal Tiongkok

LaRue mengatakan bahwa komunitas Hmong tampaknya mulai bekerja sama dengan para penanam asal Tiongkok dan kini juga menggunakan pestisida yang sama, yaitu pestisida yang telah dilarang.

Ia menjelaskan:”Ketika pestisida buatan Tiongkok pertama kali muncul di Siskiyou County, kami menemukannya di lokasi penanaman milik orang Tiongkok. Belakangan kami juga menemukannya di lokasi milik komunitas Hmong. Dari penyelidikan kami diketahui bahwa sebagian petani Hmong membeli pestisida berlabel bahasa Mandarin tersebut dari para penanam asal Tiongkok.”

Menurutnya, kedua kelompok tersebut kemungkinan bekerja sama atau setidaknya saling mentoleransi model bisnis masing-masing.

“Saat ini kami tidak melihat banyak perebutan wilayah.”

Kritik terhadap Penegakan Aturan Lingkungan

LaRue mengatakan bahwa California dikenal memiliki peraturan lingkungan yang sangat ketat.

Perusahaan diwajibkan memberikan peringatan mengenai bahan kimia yang berpotensi menyebabkan kanker atau gangguan kesehatan.

Namun menurutnya, penegakan aturan tersebut tidak berlaku sama terhadap lokasi penanaman ganja ilegal.

Ia mengatakan pemerintah negara bagian mengklaim ingin melindungi lingkungan, tetapi gagal mengambil tindakan terhadap penanaman ganja ilegal yang menurutnya:

  • merusak lingkungan,
  • mengancam kesehatan masyarakat.

Ia mengatakan:”Masalah ini sengaja ditutup-tutupi. Menurut saya ini sangat munafik.”

“Bahkan ketika masyarakat mempertanyakannya, pemerintah tetap tidak memberikan tanggapan yang memadai dan menolak menghadapi persoalan ini.”

Menurut LaRue, penanaman ganja ilegal di daerahnya berlangsung secara terang-terangan, tetapi para pemimpin negara bagian enggan mengakui besarnya masalah maupun mengakui bahwa kebijakan mereka telah berkontribusi terhadap kondisi tersebut.

“Karena ini merupakan pemberitaan yang buruk.”

Tuduhan Standar Ganda

LaRue berpendapat bahwa apabila praktik serupa terjadi pada komoditas pertanian lain, maka pemerintah akan menganggapnya sebagai:

  • ancaman kesehatan masyarakat,
  • bencana lingkungan,

serta menjatuhkan denda besar dan tuntutan pidana kepada pelakunya.

Namun menurutnya:”Hampir semua lembaga pemerintah negara bagian sangat berhati-hati untuk menghindari persoalan penanaman ganja ilegal.”

Ia menambahkan:”Yang paling tidak masuk akal adalah mereka menindak siapa saja untuk pelanggaran lain, tetapi ketika menyangkut ganja, mereka justru menutup mata. Ini adalah standar ganda.”

Persoalan Penggunaan Air

Di daerah aliran Sungai Shasta dan Sungai Scott, para peternak dan petani yang memiliki izin resmi dikenai pembatasan penggunaan air yang ketat.

Namun LaRue menuduh pemerintah California tidak mengambil tindakan terhadap penggunaan air secara ilegal untuk penanaman ganja, termasuk:

  • mengambil air langsung dari sungai tanpa izin,
  • mengeksploitasi air tanah secara ilegal.

Ia mengatakan:”Jika air itu digunakan untuk menanam ganja ilegal, mereka tidak didenda dan tidak menerima surat penghentian penggunaan air. Sementara lahan pertanian yang sah justru dipaksa menghentikan kegiatannya.”

Menurutnya:”Ketika orang-orang yang ingin bekerja secara jujur dilarang menggunakan air di daerah mereka sendiri, sementara jaringan kriminal pasar gelap tetap bebas beroperasi, itu adalah sesuatu yang munafik dan sangat membuat frustasi.”

Keterbatasan Aparat dan Meningkatnya Kejahatan

LaRue mengatakan bahwa kantor sheriff kekurangan personel untuk mengawasi wilayah seluas lebih dari 6.300 mil persegi, terutama karena banyaknya lokasi penanaman ganja ilegal yang tersebar di berbagai bagian Siskiyou County.

Ia juga menyatakan bahwa kejahatan dengan kekerasan yang berkaitan dengan penanaman ganja ilegal meningkat secara signifikan.

Menurutnya, dalam lima tahun terakhir telah terjadi berbagai kasus yang berkaitan dengan aktivitas tersebut, termasuk:

  • 5 kasus pembunuhan,
  • penganiayaan,
  • kekerasan seksual,
  • penculikan,
  • kekerasan dalam rumah tangga.

Pemerintah Negara Bagian Membantah Pernyataan Sheriff

Meskipun lembaga-lembaga pemerintah negara bagian California menyatakan telah melakukan segala upaya untuk memberantas pasar gelap ganja, Sheriff Jeremiah LaRue mengatakan kenyataannya tidak demikian. Menurutnya, jumlah ganja ilegal yang berhasil disita hanyalah sebagian sangat kecil dibandingkan dengan jumlah ganja yang diproduksi dan diperdagangkan di pasar gelap.

Kantor Gubernur California Gavin Newsom dalam siaran pers pada 8 Juli menyatakan bahwa sejak dibentuknya Satuan Tugas Penegakan Hukum Ganja Terpadu pada tahun 2022, tim tersebut telah:

  • menyita dan memusnahkan lebih dari 841.000 pon ganja ilegal;
  • mencabut lebih dari 89.000 tanaman ganja;
  • membongkar jaringan kejahatan terorganisir di 10 county.

Dalam siaran pers bulan April, kantor gubernur juga menyebutkan bahwa sejak California melegalkan ganja melalui Proposition 64 pada tahun 2016, negara bagian telah:

  • memusnahkan lebih dari 1 juta tanaman ganja ilegal;
  • menghapus lebih dari 215.000 catatan hukuman terkait ganja;
  • menindak aktivitas ganja ilegal senilai sekitar US$1,2 miliar.

Pada Juli 2023, satuan tugas tersebut melaksanakan 24 surat perintah penggeledahan di Siskiyou County dan menyita ganja ilegal senilai US$68,5 juta, belasan senjata api, serta pestisida ilegal. Setelah operasi itu, juga dijatuhkan denda sekitar US$30.000.

LaRue mengatakan ia menghargai upaya satuan tugas tersebut tiga tahun lalu, tetapi setelah operasi itu mereka tidak pernah lagi kembali ke Siskiyou County untuk membantu pemberantasan ganja ilegal maupun melakukan operasi besar lainnya.

Menurutnya, apabila satuan tugas kembali melakukan operasi pada waktu itu, kantor sheriff bersama Departemen Pengendalian Ganja sebenarnya dapat secara signifikan mengurangi produksi dan keuntungan pasar gelap pada musim panas tersebut.

LaRue juga menyatakan bahwa ia telah berulang kali meminta gubernur dan lembaga negara bagian untuk melakukan lebih banyak operasi yang dipimpin pemerintah negara bagian, termasuk penggerebekan dan penangkapan, bukan sekadar memusnahkan tanaman ganja ilegal.

Tanggapan Pemerintah California

Kantor Gubernur tidak memberikan tanggapan langsung atas pertanyaan media, melainkan meneruskannya kepada California Department of Cannabis Control (DCC) dan California Department of Fish and Wildlife (CDFW).

Wakil Direktur Urusan Publik CDFW, Alicia de la Garza, dalam email kepada The Epoch Times mengatakan bahwa sejak satuan tugas dibentuk pada tahun 2022:

  • lebih dari 700 surat perintah penggeledahan telah dilaksanakan di 36 county;
  • 76 orang telah ditangkap.

Ia juga menjelaskan bahwa pada tahun 2025, petugas CDFW:

  • memimpin 4 operasi penggeledahan;
  • membantu operasi gabungan di Siskiyou County dengan lebih dari 100 surat perintah penggeledahan.

Dalam operasi tersebut disita sekitar:

  • 842 tanaman ganja ilegal;
  • 7,5 pon ganja olahan.

Selama tahun 2025, CDFW juga:

  • melaksanakan 12 surat perintah penggeledahan di Siskiyou County;
  • menyita 8.750 tanaman ganja ilegal;
  • menyita sekitar 1.368 pon ganja olahan;
  • menyita 1 senjata api;
  • menangkap 2 orang.

Selain itu, CDFW mendukung operasi lembaga lain di Siskiyou County yang mencakup:

  • 97 surat perintah penggeledahan;
  • penyitaan 125.180 tanaman ganja ilegal;
  • penyitaan 13.944 pon ganja olahan;
  • penyitaan 16 senjata api;
  • 35 orang ditangkap.

Namun, kantor sheriff membantah klaim tersebut dan menuduh pemerintah negara bagian memanipulasi data serta mengambil kredit atas sebagian besar pekerjaan yang sebenarnya dilakukan oleh aparat Siskiyou County.

Departemen Pengendalian Ganja: Masalah Ini Memang Serius

Wakil Direktur Urusan Publik DCC, Jordan Traverso, mengakui bahwa penanaman ganja ilegal di Siskiyou County merupakan:”Masalah serius yang berdampak pada keselamatan publik, lingkungan, dan masyarakat.”

Ia menegaskan bahwa masalah tersebut tetap menjadi salah satu prioritas penegakan hukum.

Traverso membantah tuduhan bahwa California membiarkan petani ganja ilegal menggunakan air secara bebas sementara membatasi jatah air bagi petani dan peternak yang sah.

Ia menulis:”Apabila kegiatan penanaman ganja ilegal melibatkan pencurian air, pengalihan aliran air tanpa izin, perusakan saluran air, atau pelanggaran pembatasan penggunaan air, maka tindakan tersebut adalah ilegal. Menanam ganja bukanlah alasan untuk membenarkan pelanggaran penggunaan air.”

Ia menambahkan:”Petani ganja ilegal tidak diberi izin mengambil air. Mereka melanggar hukum.”

Traverso juga menolak tuduhan bahwa pemerintah California menutup mata terhadap penggunaan pestisida terlarang, fumigan ilegal, pencurian air, pencemaran lingkungan, maupun berbagai pelanggaran lain di lokasi penanaman ganja ilegal.

Ia mengatakan:”Penanam ganja ilegal tidak mendapat perlakuan istimewa, dan Departemen Pengendalian Ganja menolak anggapan bahwa pemerintah negara bagian mengabaikan pelanggaran lingkungan yang berkaitan dengan penanaman ganja ilegal.”

Saat ini terdapat sekitar 150 petugas penegak hukum di seluruh California yang menangani penegakan hukum terkait ganja, sekitar 75 orang di antaranya berasal dari Departemen Pengendalian Ganja dan Departemen Perikanan dan Satwa Liar.

Fokus pada Kejahatan Terorganisir

Traverso mengatakan prioritas utama DCC adalah menyelidiki jaringan kejahatan terorganisir di balik pasar gelap, termasuk:

  • siapa yang mengendalikan lahan,
  • siapa yang membiayai operasi tersebut,
  • ke mana ganja dan uang hasil penjualannya mengalir.

Mengenai dugaan perdagangan manusia, Traverso mengatakan hal tersebut merupakan tindak pidana serius yang harus diselidiki oleh aparat penegak hukum setempat dan diproses apabila terdapat bukti yang cukup.

Ia menulis:”Para pekerja yang dieksploitasi di kamp-kamp tersebut dapat berstatus sebagai korban, saksi, tersangka, atau kombinasi dari semuanya. Jika seseorang dipaksa, diancam, dibatasi kebebasannya, dipaksa bekerja, atau harus bekerja untuk melunasi utang di lokasi penanaman ganja ilegal, mereka tidak boleh dianggap sekadar korban sampingan atau hanya dipandang sebagai persoalan status imigrasi.”

Traverso menegaskan bahwa aparat penegak hukum daerah memiliki kewenangan untuk menyelidiki:

  • pencucian uang,
  • kejahatan terorganisir,
  • perdagangan manusia,
  • penyekapan,
  • kejahatan keuangan,

serta mengumpulkan bukti, melakukan penangkapan, dan mengajukan tuntutan pidana.

Ia mengatakan:”Mereka adalah lembaga utama penegak hukum di wilayahnya dan merupakan mitra penting dalam setiap respons yang lebih luas dari pemerintah negara bagian maupun federal.”

Menurut Traverso, kelompok pelaku ilegal terus beradaptasi dengan cara berpindah lokasi, membangun kembali fasilitas, menggunakan perantara, serta mendistribusikan produk melalui berbagai jalur. Oleh karena itu, menindak satu lokasi saja tidak cukup untuk membongkar seluruh jaringan kriminal.

Dugaan Keterlibatan Jaringan Kejahatan Tiongkok

Traverso mengatakan bahwa Departemen Pengendalian Ganja juga menyelidiki aktivitas kejahatan lintas negara dan membantah anggapan bahwa California tidak menganggap penanaman ganja ilegal sebagai bagian dari kejahatan terorganisir.

Ia mengonfirmasi bahwa dalam banyak kasus, pihaknya menemukan keterlibatan jaringan kejahatan terorganisir dari Tiongkok dan negara-negara Asia lainnya dalam penanaman ganja ilegal serta pencucian uang di California.

Namun ia menegaskan bahwa kepemilikan suatu lahan saja belum cukup untuk membuktikan kesalahan seseorang di pengadilan.

Menurutnya:”Kemarahan masyarakat tidak dapat menggantikan standar pembuktian yang diperlukan dalam perkara pidana.”

Pendekatan Pemerintah Tidak Hanya Penegakan Hukum

Traverso mengatakan tugas DCC tidak hanya melakukan penegakan hukum, tetapi juga:

  • memperkuat pasar ganja yang legal;
  • mengurangi keuntungan pasar gelap;
  • mengurangi akses terhadap pasar ilegal;
  • menurunkan toleransi masyarakat terhadap perdagangan ganja ilegal.

Ia mengatakan:”Tujuan kami bukan hanya menghukum pelaku setelah pelanggaran terjadi, tetapi juga membangun pasar legal yang lebih stabil, lebih kompetitif, dan lebih dapat dipercaya, sekaligus mengurangi keuntungan dan kemudahan akses ke pasar ilegal.”

Siskiyou County Tidak Memenuhi Syarat Mendapat Dana Hibah

Pada 25 Juni, Gubernur Gavin Newsom mengumumkan alokasi dana sebesar US$227 juta untuk:”memberantas aktivitas ganja ilegal dan melindungi masyarakat California.”

Newsom mengatakan:”Para pemilih telah menciptakan pasar ganja yang legal dan diatur. Tanggung jawab kita adalah memastikan sistem tersebut berjalan sebagaimana mestinya. Itu berarti kita harus terus menindak keras operasi ganja ilegal yang mengancam keselamatan publik, mengeksploitasi pekerja, merusak lingkungan, dan merugikan pelaku usaha yang mematuhi hukum.”

Ia menambahkan bahwa dana tersebut akan membantu masyarakat memperkuat penegakan hukum, mencegah penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja, meningkatkan kesehatan masyarakat, dan membuat komunitas menjadi lebih aman.

Namun, Direktur Komunikasi Board of State and Community Corrections, Jana Sanford-Miller, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa Siskiyou County tidak akan menerima dana tersebut.

Menurutnya:”Siskiyou County tidak memenuhi syarat menerima hibah Proposition 64 karena county tersebut tidak mengizinkan penjualan ganja melalui toko ritel.”

Ia juga menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana digunakan untuk program pendidikan mengenai ganja dan penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja, dari total US$227 juta tersebut, sekitar US$135 juta secara khusus dialokasikan untuk keamanan publik dan penegakan hukum.

Sumber: Artikel asli Inside California’s Battle With the Marijuana Black Market yang diterbitkan oleh edisi bahasa Inggris The Epoch Times. (Dialihbahasakan dari Epoch Times).

Hujan Lebat Kembali Melanda Shanghai, Awan Hitam Menutupi Langit Bak Lautan yang Terbalik

Shanghai terus diguyur hujan lebat selama beberapa hari terakhir. Pada 22 Juli, banyak warganet membagikan foto-foto awan badai yang langka di Shanghai. Langit dipenuhi awan hitam pekat yang menyelimuti kota, menciptakan suasana yang sangat mencekam. Sejumlah warganet berkomentar, “Rasanya seperti langit akan runtuh!” dan “Apakah Shanghai sedang mengalami ujian dari langit?”

EtIndonesia.com Sejak pertengahan Juli 2026, Shanghai telah mengalami beberapa gelombang cuaca konvektif yang kuat.

Pada 19 Juli, Distrik Yangpu mencatat curah hujan hampir 200 milimeter dalam waktu empat jam, mendekati rekor tertinggi dalam sejarah, sehingga menyebabkan banjir di banyak lokasi.

Hingga 22 Juli, hujan badai disertai petir masih terus berlangsung, bahkan di beberapa wilayah juga turun hujan es.

Pada pukul 18.22 waktu Beijing, 22 Juli, Biro Meteorologi Shanghai mengeluarkan:

  • Peringatan Kuning untuk Petir di wilayah pusat kota.
  • Peringatan Biru untuk Angin Kencang di wilayah pusat kota.

Pihak meteorologi memperkirakan bahwa dalam enam jam berikutnya, sebagian besar wilayah pusat kota akan mengalami aktivitas petir serta angin kencang dengan kecepatan tingkat 7 hingga 9 (menurut skala Beaufort).

Saat jam pulang kerja sore itu, langit Shanghai dipenuhi awan hitam pekat dengan suasana seolah badai besar akan segera datang.

Banyak warganet mengunggah foto awan badai tersebut dan menuliskan komentar seperti:

  • “Apakah Shanghai sedang menghadapi bencana? Pemandangannya terlalu berlebihan.”
  • “Benar-benar seperti sedang melewati ujian dari langit.”
  • “Dari jalan layang terlihat awan hitam menutupi seluruh langit dengan lapisan yang sangat tebal.”
  • “Awan hitam itu benar-benar memberikan tekanan. Rasanya seperti langit akan runtuh.”

Mengenai hujan deras yang terus melanda Shanghai, warganet juga berkomentar:

  • “Gelombang hujan deras di Shanghai sekarang seperti bergiliran. Akhir pekan lalu Yangpu kebanjiran, Senin kemarin Pudong terendam. Hari ini entah distrik mana lagi yang akan terkena.”
  • “Beberapa hari ini hujan deras turun setiap hari, seolah-olah langit berlubang.”
  • “Shanghai sekarang berubah menjadi ‘Laut Shanghai’.”

Sumber : NTDTV.com

Awan gelap menyelimuti Shanghai. (Gambar dari internet)
Awan gelap menyelimuti Shanghai. (Gambar dari internet)
Awan gelap menyelimuti Shanghai. (Gambar dari internet)
Awan gelap menyelimuti Shanghai. (Gambar dari internet)
Awan gelap menyelimuti Shanghai. (Gambar dari internet)
Awan gelap menyelimuti Shanghai. (Gambar dari internet)
Awan gelap menyelimuti Shanghai. (Gambar dari internet)
Awan gelap menyelimuti Shanghai. (Gambar dari internet)
Awan gelap menyelimuti Shanghai. (Gambar dari internet)

AS dan Arab Saudi Akan Menandatangani Perjanjian Nuklir 30 Tahun untuk Mengembangkan Energi Nuklir Sipil

EtIndonesia.com Pemerintahan Presiden Donald Trump telah menyetujui sebuah Perjanjian Nuklir 123 (123 Nuclear Agreement) dengan Arab Saudi yang akan berlaku selama 30 tahun. Melalui perjanjian tersebut, perusahaan-perusahaan Amerika Serikat akan membantu Arab Saudi mengembangkan program energi nuklir untuk tujuan sipil.

Menurut laporan The Wall Street Journal, pemerintahan Trump telah menyetujui penandatanganan Perjanjian 123 dengan Arab Saudi yang berlaku selama tiga dekade.

Perjanjian tersebut menetapkan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika akan membantu Arab Saudi mengembangkan sektor energi nuklir sipil, termasuk :

  • membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN),
  • menyediakan teknologi nuklir,
  • serta, dalam kondisi tertentu, membangun fasilitas pengayaan uranium.

Nilai pasar kerja sama tersebut diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar AS.

Arab Saudi telah lama berupaya membangun industri energi nuklir sipil domestik guna memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat. Selain itu, pengembangan energi nuklir diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik berbahan bakar minyak, sehingga lebih banyak minyak mentah dapat dialokasikan untuk ekspor.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa pemerintahan Trump memiliki tiga pertimbangan utama dalam menyetujui kerja sama ini:

  1. Memperluas ekspor industri nuklir Amerika Serikat serta menciptakan lapangan kerja di dalam negeri.
  2. Mencegah Arab Saudi beralih bekerja sama dengan Tiongkok atau Rusia dalam pengembangan teknologi nuklir.
  3. Menjadikan Amerika Serikat sebagai mitra utama, sehingga pengembangan teknologi nuklir Arab Saudi dapat diawasi dengan lebih mudah.

Dilaporkan oleh Zheng Shengxun, New Tang Dynasty Television.