Pengusaha Muda Indonesia Jadi Motor Optimisme Usaha Kecil di 2026

Optimisme menyelimuti dunia usaha kecil Indonesia menjelang tahun 2026. Berdasarkan Survei Usaha Kecil Asia-Pasifik ke-17 yang dirilis oleh CPA Australia, sebanyak 86 persen pelaku usaha kecil di Indonesia menargetkan pertumbuhan bisnis pada tahun tersebut. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak 2019, sekaligus mencerminkan kepercayaan diri yang semakin kuat di tengah dinamika ekonomi global.

Di balik optimisme tersebut, muncul satu kekuatan utama yang tidak bisa diabaikan: pengusaha muda Indonesia. Generasi ini bukan hanya mendominasi jumlah pelaku usaha kecil, tetapi juga menjadi motor penggerak transformasi bisnis melalui adopsi teknologi dan pendekatan inovatif.

Dominasi Pengusaha Muda dalam Ekosistem Usaha Kecil

Data survei menunjukkan bahwa 57 persen pelaku usaha kecil di Indonesia berusia di bawah 40 tahun—proporsi tertinggi dibandingkan negara lain di kawasan Asia-Pasifik. Fakta ini menegaskan bahwa wajah dunia usaha Indonesia kini semakin muda, dinamis, dan adaptif.

Karakter pengusaha muda yang berani mengambil risiko, terbuka terhadap perubahan, serta cepat mengadopsi teknologi menjadi keunggulan tersendiri. Mereka tidak hanya menjalankan bisnis secara konvensional, tetapi juga mengintegrasikan strategi digital untuk memperluas pasar dan meningkatkan efisiensi.

Dalam konteks ini, pengusaha muda tidak sekadar pelaku ekonomi, tetapi juga agen perubahan yang mendorong modernisasi sektor usaha kecil.

Teknologi Jadi Kunci Pertumbuhan

Salah satu faktor utama yang mendorong optimisme adalah keberhasilan investasi teknologi. Sebanyak 72 persen usaha kecil di Indonesia melaporkan bahwa penggunaan teknologi berdampak langsung pada peningkatan profitabilitas—jauh di atas rata-rata kawasan Asia-Pasifik yang hanya mencapai 56 persen.

Pengusaha muda memainkan peran besar dalam tren ini. Mereka aktif memanfaatkan berbagai platform digital seperti pembayaran elektronik dan marketplace. Layanan seperti GoPay, OVO, dan ShopeePay menjadi bagian penting dalam operasional bisnis sehari-hari.

Namun, investasi teknologi yang dilakukan masih cenderung berfokus pada aspek yang langsung berhubungan dengan pelanggan, seperti sistem pembayaran dan aplikasi penjualan. Padahal, teknologi yang lebih strategis seperti kecerdasan buatan (AI), layanan cloud, dan sistem manajemen pelanggan (CRM) dinilai memiliki potensi lebih besar untuk meningkatkan produktivitas jangka panjang.

Tantangan Digital: Ancaman Siber Meningkat

Di balik pesatnya digitalisasi, muncul risiko baru yang tidak kalah serius, yaitu keamanan siber. Survei mencatat bahwa 49 persen usaha kecil di Indonesia mengalami kerugian akibat serangan siber sepanjang 2025, baik dalam bentuk finansial maupun waktu operasional.

Ironisnya, hanya 45 persen pelaku usaha yang secara rutin melakukan evaluasi terhadap sistem keamanan mereka. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara adopsi teknologi dan kesiapan dalam melindungi bisnis dari ancaman digital.

Bagi pengusaha muda, tantangan ini menjadi ujian penting. Kemampuan untuk tidak hanya mengadopsi teknologi, tetapi juga mengelola risikonya, akan menjadi faktor penentu keberlanjutan bisnis di masa depan.

Penyerapan Tenaga Kerja dan Kebutuhan Modal

Pertumbuhan usaha kecil juga tercermin dari meningkatnya kebutuhan tenaga kerja. Sebanyak 40 persen usaha kecil menambah jumlah karyawan pada 2025, dan angka ini diproyeksikan meningkat menjadi 52 persen pada 2026.

Pengusaha muda berperan besar dalam menciptakan lapangan kerja baru, terutama di sektor-sektor berbasis digital dan kreatif. Mereka cenderung membangun tim yang fleksibel dan adaptif, sejalan dengan model bisnis yang terus berkembang.

Namun, ekspansi bisnis ini juga membutuhkan dukungan pembiayaan. Sebanyak 78 persen usaha kecil mengandalkan sumber pendanaan eksternal sepanjang 2025. Akses terhadap modal menjadi salah satu faktor krusial yang menentukan kemampuan usaha untuk tumbuh dan bersaing.

Inovasi Masih Menjadi Pekerjaan Rumah

Meskipun optimisme tinggi, tingkat inovasi di kalangan usaha kecil justru menunjukkan tren penurunan. Hanya 28 persen pelaku usaha yang berencana meluncurkan produk atau layanan baru pada 2026, turun dari 37 persen pada tahun sebelumnya.

Kenaikan biaya operasional dan ketidakpastian ekonomi global menjadi faktor utama yang membuat pelaku usaha lebih berhati-hati. Namun, di sinilah peran pengusaha muda kembali menjadi penting.

Dengan pola pikir yang lebih terbuka dan eksperimental, generasi muda memiliki potensi untuk mendorong inovasi yang lebih berani. Mereka cenderung melihat tantangan sebagai peluang, terutama dalam menciptakan solusi baru yang relevan dengan kebutuhan pasar.

Masa Depan Usaha Kecil di Tangan Generasi Muda

Optimisme 86 persen usaha kecil Indonesia bukanlah angka yang muncul tanpa dasar. Kinerja positif sepanjang 2025, dukungan teknologi, serta meningkatnya kepercayaan terhadap ekonomi nasional menjadi fondasi yang kuat.

Namun, faktor pembeda utama terletak pada keberadaan pengusaha muda. Mereka membawa energi baru dalam dunia usaha—menggabungkan kreativitas, teknologi, dan keberanian mengambil risiko.

Ke depan, keberhasilan usaha kecil Indonesia akan sangat bergantung pada kemampuan generasi muda ini untuk:

  • Mengoptimalkan teknologi secara strategis
  • Mengelola risiko digital dengan lebih baik
  • Terus berinovasi meski dalam kondisi tidak pasti
  • Memanfaatkan peluang pasar yang semakin terbuka

Jika potensi ini dapat dimaksimalkan, maka bukan tidak mungkin usaha kecil Indonesia akan menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik.

Pengusaha muda Indonesia kini berada di garis depan transformasi ekonomi nasional. Dengan dominasi jumlah, kemampuan adaptasi teknologi, dan ambisi yang besar, mereka menjadi motor utama di balik optimisme usaha kecil menuju 2026. Tantangan tetap ada—mulai dari ancaman siber hingga tekanan biaya—namun peluang yang terbuka jauh lebih besar. Dengan strategi yang tepat dan dukungan ekosistem yang kuat, generasi muda Indonesia memiliki semua yang dibutuhkan untuk membawa usaha kecil naik ke level berikutnya.

Percakapan Sensitif: Cara Membahas Topik Peka dengan Anggun dan Penuh Itikad Baik

Lima tips dari instruktur etiket Bethany Friske agar tetap bersikap santun dalam situasi apa pun

Annie Holmquist

Seorang teman penulis baru-baru ini menyebut seseorang yang ia kagumi, dengan mencatat bahwa cara bicaranya yang tenang dan tidak suka berdebat kemungkinan menjadi alasan mengapa orang-orang dari berbagai spektrum ideologi menganggapnya sebagai teman. 

Dikenal karena perilaku yang anggun seperti itu seharusnya menjadi tujuan hidup kita semua—namun mencapainya lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Instruktur etiket Bethany Friske menawarkan lima tips berikut untuk membantu kita menavigasi percakapan yang kasar dan perdebatan dengan tetap santun.

Menang dengan Menghindari

Jangan berdebat “dalam situasi dengan orang lain yang terpaksa berada di sana,” seperti di resepsi pernikahan, kata Friske. 

“Itu adalah situasi yang tidak tepat karena mengubah seluruh dinamika di meja.” 

Jika orang lain bersikeras bersikap menjengkelkan, carilah cara untuk mengganti topik atau menemukan hal-hal positif yang bisa disepakati bersama. 

“Satu-satunya cara untuk memenangkan perdebatan adalah dengan menghindarinya,” katanya, mengutip Dale Carnegie.

Gunakan Pertanyaan

Mengajukan pertanyaan tidak hanya membantu meredakan emosi yang memanas, tetapi juga bisa mengalihkan perhatian dari komentar yang tidak sopan. 

“Balaslah dengan pertanyaan sebelum menjawab,” kata Friske, seraya menambahkan bahwa meminta penjelasan lebih lanjut sering kali membantu meluruskan kesalahpahaman yang tanpa sengaja dapat menyinggung perasaan. 

Mengembalikan pertanyaan “dengan cara yang humoris, sehingga menunjukkan bahwa pertanyaan itu terlalu pribadi,” juga bisa menjadi cara untuk mengalihkan dan meredam kata-kata yang menyinggung.

Ambil Tanggung Jawab pada Diri Sendiri

Kita bisa menyampaikan pendapat, mengungkapkan keyakinan, atau menambahkan informasi baru dalam percakapan, tetapi lawan bicara akan lebih mungkin mendengarkan jika kita menyampaikannya dengan sikap rendah hati. 

Friske menyarankan untuk mengawali pernyataan dengan, “Saya bisa saja salah….” Cara ini membuat orang lain merasa lebih nyaman—bahkan jika kita sebenarnya tidak salah—sehingga mereka lebih terbuka untuk menerima dan mempertimbangkan pandangan kita.

Ungkapkan Rasa Terima Kasih

Ketika Anda menyadari bahwa Anda dan lawan bicara harus sepakat untuk tidak sepakat, Friske menyarankan untuk mengungkapkan rasa terima kasih agar percakapan berakhir dengan nada positif. 

Kalimat seperti “Anda telah memberikan banyak informasi yang bagus,” atau “Saya belum pernah melihatnya dari sudut pandang itu sebelumnya, terima kasih telah menyampaikannya,” serta “Anda benar-benar memberi saya sesuatu untuk dipikirkan” dapat menjadi cara yang efektif untuk meredakan suasana.

Menjadi Penengah

Jika Anda menjadi tuan rumah suatu acara dan melihat perdebatan memanas, apakah boleh ikut campur? “Sebagai tuan rumah, Anda tentu bisa turun tangan,” kata Friske. 

“Itu 100 persen dapat diterima dan sopan.” Ia menyarankan untuk memberikan pengalihan atau mengubah topik pembicaraan, mengarahkan percakapan menjauh dari topik sensitif yang memicu emosi. Para tamu juga bisa melakukan hal yang sama, meskipun Friske menyarankan untuk membaca situasi dengan cermat sebelum terlibat.

Artikel ini pertama kali diterbitkan di majalah American Essence.

Iran Mengusulkan Gencatan Senjata 2 Bulan dengan Amerika Serikat

Pejabat Iran mengatakan bahwa masalah antara Teheran dan Washington harus diselesaikan dalam waktu 30 hari, menurut media pemerintah.

Jack Phillips – The Epoch Times

EtIndonesia. Pejabat Iran pada Minggu (3/5/2026) mengirim pesan kepada Amerika Serikat melalui Pakistan untuk gencatan senjata selama dua bulan di tengah negosiasi guna mengakhiri perang, menurut media pemerintah.

Para pejabat Iran menekankan bahwa persoalan antara Teheran dan Washington harus diselesaikan dalam waktu 30 hari, menurut kantor berita semi-resmi Tasnim, dengan fokus pada perpanjangan gencatan senjata.

Hal ini merupakan bagian dari proposal 14 poin yang mencakup pelepasan aset Iran yang dibekukan, penghapusan sanksi, pencabutan blokade laut, penarikan pasukan AS dari sekitar Iran, serta “mekanisme baru untuk Selat Hormuz,” kata Tasnim. Media tersebut tidak merinci aturan seperti apa yang diinginkan Iran untuk selat tersebut, meskipun pemimpin rezim Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei pekan lalu menyatakan bahwa “aturan baru” akan diberlakukan oleh rezim terhadap jalur perairan tersebut.

Kemudian pada hari Minggu, media pemerintah Iran melaporkan bahwa pemerintahan Trump telah menyampaikan tanggapannya kepada rezim Iran dan bahwa Teheran sedang mengevaluasinya.

“Pada tahap ini, kami tidak memiliki negosiasi nuklir,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, kepada media pemerintah.

Pejabat AS mengatakan bahwa Iran tidak boleh mengendalikan atau mengenakan biaya pada kapal yang melintasi selat tersebut, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia dan biasanya mengangkut 20 persen minyak dunia. Sejak perang dimulai, Iran telah menyerang atau mengancam kapal di selat tersebut dan di wilayah lain, sehingga secara efektif menghentikan lalu lintas komersial di jalur itu dan mendorong harga minyak dan gas naik signifikan.

Presiden Donald Trump pada awal April mengatakan bahwa Iran melakukan “pekerjaan yang buruk” dalam mengelola selat tersebut dan menegaskan bahwa negara itu tidak boleh mengenakan biaya.

Pada akhir pekan lalu, Departemen Keuangan AS mengatakan akan menjatuhkan sanksi dan hukuman terhadap kapal yang membayar Iran dalam bentuk apa pun untuk melintasi selat tersebut. Ini termasuk pembayaran kepada lembaga seperti Bulan Sabit Merah, menurut pemberitahuan tersebut.

Namun, laporan media pemerintah tidak menyebutkan program nuklir Iran dan uranium yang diperkaya, yang selama ini menjadi isu utama dalam ketegangan dengan Amerika Serikat. Trump kerap mengatakan bahwa Teheran tidak boleh memperoleh senjata nuklir dan mengindikasikan bahwa serangan militer AS dan Israel dimulai pada akhir Februari untuk mencegah hal itu.

Sementara itu, blokade laut AS sejak 13 April telah mengurangi pendapatan minyak Teheran yang dibutuhkan untuk menopang ekonominya yang sedang melemah. Komando Pusat AS pada hari Sabtu mengatakan bahwa 48 kapal komersial telah diminta untuk berbalik arah.

“Kami memperkirakan mereka hanya memperoleh kurang dari 1,3 juta dolar AS dari biaya tersebut, yang sangat kecil dibandingkan pendapatan minyak harian mereka sebelumnya,” kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent kepada Fox News pada hari Minggu. Ia menambahkan bahwa penyimpanan minyak Iran cepat penuh dan “mereka akan harus mulai menutup sumur, yang kami perkirakan bisa terjadi dalam minggu depan.”

Pada hari Minggu, sebuah kapal kargo di dekat Selat Hormuz dilaporkan diserang oleh beberapa kapal kecil, menurut pusat United Kingdom Maritime Trade Operations milik militer Inggris dalam sebuah pemberitahuan.

Semua awak kapal yang tidak disebutkan identitasnya tersebut dilaporkan selamat setelah serangan di lepas pantai Sirik, Iran, di sebelah timur selat, menurut pemantau tersebut. Tidak ada pernyataan langsung dari Iran mengenai apakah negara itu bertanggung jawab.

Kapal patroli Iran, yang sebagian hanya ditenagai oleh dua mesin tempel, berukuran kecil, lincah, dan sulit dideteksi, dan telah menyerang beberapa kapal. Bulan lalu, Trump memerintahkan militer AS untuk “menembak dan menghancurkan” kapal-kapal kecil tersebut di selat, bersama dengan kapal Iran mana pun yang diduga menanam ranjau.

The Associated Press turut berkontribusi dalam laporan ini.

Jack Phillips adalah seorang reporter berita terkini yang meliput berbagai topik, termasuk politik, Amerika Serikat, dan berita kesehatan. Seorang ayah dari dua anak, Jack dibesarkan di Central Valley, California. Ikuti dia di X: https://twitter.com/jackphillips5

Trump: AS Akan Membantu “Membebaskan” Kapal-kapal di Selat Hormuz Mulai Senin

Trump mengungkap rencana untuk “membebaskan” kapal-kapal di jalur perairan penting tersebut dalam sebuah unggahan di Truth Social pada 3 Mei.

oleh Jacki Thrapp & Aldgra Fredly

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 3 Mei mengatakan bahwa Militer Amerika Serikat akan “membantu membebaskan” kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz mulai Senin pagi.

Trump juga mengatakan bahwa negara-negara dari seluruh dunia telah meminta Amerika Serikat untuk membantu memindahkan kapal-kapal yang terdampar.

“Mereka hanyalah pihak netral dan orang-orang yang tidak bersalah!” tulis Trump di Truth Social. 

“Demi kebaikan Iran, Timur Tengah, dan Amerika Serikat, kami telah memberi tahu negara-negara ini bahwa kami akan memandu kapal-kapal mereka keluar dengan aman dari jalur perairan terbatas ini, sehingga mereka dapat melanjutkan kegiatan mereka dengan bebas dan lancar.”

Trump pada hari Minggu mengatakan bahwa kapal-kapal yang akan dibantu oleh Amerika Serikat “tidak terlibat sama sekali” dalam konflik di Timur Tengah dan menyebut operasi tersebut sebagai “tindakan kemanusiaan.”

“Saya telah memberi tahu perwakilan saya untuk menyampaikan kepada mereka bahwa kami akan berupaya semaksimal mungkin untuk membawa kapal dan awaknya keluar dengan aman dari Selat tersebut,” tambah Trump.

“Dalam semua kasus, mereka mengatakan tidak akan kembali sampai wilayah tersebut menjadi aman untuk navigasi, dan segala hal lainnya.”

Trump tidak mengungkapkan apakah Angkatan Laut AS akan terlibat.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengatakan pada 4 Mei bahwa pasukannya akan mulai membantu kapal-kapal dagang yang “ingin melintasi” Selat Hormuz secara bebas sebagai bagian dari misi yang dikenal sebagai “Project Freedom.”

Komando tersebut mengatakan bahwa 15.000 personel militer AS, kapal perusak berpeluru kendali, platform tak berawak multi-domain, serta lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut akan ikut serta dalam misi tersebut.

“Dukungan kami untuk misi defensif ini sangat penting bagi keamanan regional dan ekonomi global, sambil kami juga mempertahankan blokade laut,” kata komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, dalam sebuah pernyataan.

Pengumuman ini disampaikan beberapa jam setelah United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan bahwa sebuah kapal kargo curah diserang oleh beberapa kapal kecil saat menuju Selat Hormuz dekat Iran pada hari Minggu.

Semua awak kapal dilaporkan selamat setelah serangan tersebut, dan tidak ada laporan kerusakan lingkungan atau pencemaran.

Lalu lintas melalui Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak dan gas global, telah terganggu oleh Iran sebagai respons terhadap serangan terhadap kepemimpinan, militer, dan fasilitas nuklirnya oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari. Iran membalas dengan serangan drone dan rudal terhadap aset militer Israel dan AS di negara-negara Teluk serta menanam ranjau laut di selat tersebut.

Amerika Serikat juga telah memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran, yang mulai berlaku bulan lalu. Komando tersebut mengatakan bahwa pasukan AS tidak akan mengganggu kebebasan navigasi bagi kapal-kapal yang melintas di jalur tersebut, selama kapal-kapal tersebut tidak mengunjungi pelabuhan Iran.

Tom Gantert turut berkontribusi dalam laporan ini

Sumber : Theepochtimes.com 

Jacki Thrapp adalah seorang jurnalis peraih penghargaan Emmy® yang berbasis di Nashville. Ia sebelumnya bekerja di The New York Post, Fox News Channel, dan telah menulis serangkaian musikal Off-Broadway di New York City. Hubungi dia di [email protected]

Aldgra Fredly adalah seorang penulis lepas yang meliput berita Amerika Serikat dan kawasan Asia Pasifik untuk The Epoch Times.

Membom Iran atau Mengakhiri dengan Negosiasi? Gedung Putih Menghadapi Pilihan yang Sulit

Pada Jumat (1 Mei), batas waktu 60 hari perang AS–Iran telah berakhir. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa permusuhan antara kedua pihak telah berakhir karena gencatan senjata, sehingga tidak perlu mengajukan perpanjangan kepada Kongres. Mengenai proposal terbaru dari Teheran, Trump mengatakan bahwa kepemimpinan Iran kacau dan usulan tersebut “tidak tulus”. 

Sementara itu, intelijen menunjukkan Iran sedang menggali kembali amunisi yang terkubur di bawah tanah dan diam-diam memulihkan kemampuan tempurnya. Pada saat yang sama, Trump menyebut Gedung Putih sedang menghadapi pilihan sulit antara menghancurkan Iran atau menyelesaikan konflik melalui negosiasi.

EtIndonesia. Berdasarkan War Powers Resolution yang disahkan AS pada tahun 1973, presiden hanya dapat melakukan operasi militer selama 60 hari tanpa persetujuan Kongres. Setelah itu, presiden harus mengakhiri perang atau meminta perpanjangan kepada Kongres. Tanggal 1 Mei menjadi batas akhir periode 60 hari tersebut.

Namun, seorang pejabat senior pemerintah menyatakan bahwa sejak AS dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata pada April, tidak ada lagi bentrokan langsung, sehingga permusuhan dianggap telah berakhir. Oleh karena itu, batas waktu 60 hari tersebut tidak lagi memiliki makna substansial.

Presiden Trump mengatakan:  “Kami selalu berhubungan dengan Kongres, tetapi sebelumnya tidak ada yang pernah meminta (mekanisme ini), juga tidak pernah digunakan. Mengapa kami harus menjadi pengecualian?”

Pada hari Jumat, AS menerima proposal negosiasi terbaru dari Teheran. Namun Trump menyatakan dirinya tidak puas dengan proposal tersebut.

 “Kami baru saja berdialog dengan Iran. Kita lihat saja nanti, tetapi saya harus mengatakan bahwa saya tidak puas. Kepemimpinan mereka sangat terpecah, banyak perbedaan pendapat. Mereka kembali dengan dua versi yang berbeda, sangat kacau. Mereka harus mengajukan proposal yang layak. Saat ini saya tidak puas dengan syarat yang mereka ajukan,” kata Trump. 

Sehari sebelumnya, saat menjawab pertanyaan wartawan, Trump kembali menegaskan garis merah AS dalam negosiasi, yaitu Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

Trump (30 April 2026):  “Kita tidak boleh membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Ekonomi mereka sedang runtuh. Blokade sangat kuat—dampaknya luar biasa. Mereka tidak bisa mendapatkan pendapatan dari minyak. Saya berharap masalah (nuklir) ini bisa segera diselesaikan.”

Menurut laporan NBC, selama masa gencatan senjata, Iran mempercepat penggalian kembali rudal dan amunisi yang terkubur akibat serangan udara. Seorang pejabat AS memperingatkan bahwa Teheran sedang memulihkan kemampuan serangannya.

Pejabat militer Israel juga memperingatkan bahwa jika uranium yang diperkaya Iran tidak dipindahkan, maka hasil perang sebelumnya bisa sia-sia. Ia juga menyebut bahwa Hizbullah telah belajar menggunakan drone untuk menyerang pasukan Israel, dan gencatan senjata membuat militer Israel sulit menanggapi ancaman ini.

Menurut media Israel, setelah menerima rencana operasi terbaru dari Komando Pusat AS, Presiden Trump bisa sewaktu-waktu memerintahkan dimulainya kembali perang. Saat ini, Israel berada dalam kondisi siaga tinggi.

 “Apakah kita akan langsung menghancurkan mereka (Iran) sepenuhnya, atau mencoba mencapai kesepakatan? Kita punya banyak pilihan. Dari sudut pandang kemanusiaan, saya cenderung tidak (membombardir),” kata Trump. 

Reporter NTD Television, Yi Jing, melaporkan.

Diduga Drone Bunuh Diri Iran Menyerang Pangkalan Militer AS di Kuwait

EtIndonesia. Menurut sebuah video yang beredar sore ini, diduga drone Iran telah menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait. Namun, belum dapat dipastikan apakah serangan tersebut benar terjadi pada 1 Mei.

Selain itu, CNN melaporkan bahwa pejabat intelijen Amerika Serikat menyatakan, jenis serangan ini menunjukkan bahwa Teheran sedang mencoba memanfaatkan drone berbiaya rendah untuk menyerang sistem pertahanan udara militer AS.

Sementara itu, menurut laporan media Iran “Hormoz News”, kota Qom terlihat dipenuhi asap hitam tebal pada Jumat (1 Mei), setelah sebelumnya terjadi aktivitas pertahanan udara.

Di Erbil juga dilaporkan terjadi ledakan.

Selain itu, Kementerian Pertahanan Israel mengkonfirmasi bahwa wilayah utara Israel, Kiryat Shmona, mengalami pemboman. Pasukan pertahanan udara sedang mencegat rudal yang diyakini berasal dari kelompok Hezbollah. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Iran Berencana Menggunakan “Lumba-lumba Ranjau” untuk Menyerang Pasukan AS

Sejak militer Amerika Serikat memperketat blokade terhadap pelabuhan Iran, perekonomian Iran mengalami dampak serius. Sejumlah kelompok garis keras di Iran mulai menganggap blokade tersebut sebagai bentuk perang, dan para pengambil keputusan di Iran menilai bahwa biaya untuk kembali berperang mungkin lebih rendah dibandingkan terus menanggung dampak blokade jangka panjang.

EtIndonesia. Menurut laporan The Wall Street Journal yang dikutip pada (2/5/2026) Iran sedang mempertimbangkan penggunaan taktik yang sangat kontroversial, yaitu menggunakan lumba-lumba yang dipasangi ranjau laut untuk menyerang kapal perang AS.

Belakangan ini, semakin banyak kelompok garis keras di Iran yang menilai bahwa langkah Amerika Serikat memutus ekspor minyak Iran telah menyebabkan kesulitan ekonomi yang setara dengan tindakan perang, sehingga mereka mulai menyerukan dimulainya kembali aksi militer.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa pihak garis keras mengusulkan penggunaan senjata yang belum pernah digunakan sebelumnya dalam operasi militer—yakni mengikat ranjau laut pada lumba-lumba untuk menyerang kapal perang AS yang ditempatkan di Selat Hormuz.

Selain itu, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) juga mengancam akan memutus kabel komunikasi bawah laut di wilayah Selat Hormuz, yang berpotensi mengganggu komunikasi internet global dan semakin meningkatkan ketegangan.

“Di Teheran, blokade semakin dipandang sebagai bentuk perang. Karena itu, para pengambil keputusan di Iran mungkin menilai bahwa biaya untuk kembali berperang lebih rendah dibandingkan terus menanggung dampak blokade,” ujar peneliti tamu yang fokus pada isu Timur Tengah di lembaga pemikir Berlin Stiftung Wissenschaft und Politik, Hamidreza Azizi, kepada The Wall Street Journal. 

Dilaporkan oleh NTDTV.

Muncul Benda Terbang yang Tak Dikenal Muncul di Langit Xi’an, Tiongkok, Tampak Seperti “Naga Terbang di Langit”

Baru-baru ini, sebuah benda terbang tak dikenal berwarna hitam muncul di langit Xi’an, Tiongkok.  Benda tersebut bergerak berkelok-kelok dan terus berubah bentuk, tampak seperti “naga yang terbang di langit”. Perekam video mengatakan fenomena ini berlangsung sekitar satu jam sebelum akhirnya menghilang. Kejadian ini memicu perbincangan luas di kalangan warganet.

EtIndonesia. Pada 2 Mei 2026 pagi, topik “benda terbang tak dikenal di Xi’an” menjadi trending di berbagai platform di Tiongkok.

Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 20.00 pada 1 Mei. Warga di pusat kota Xi’an dan daerah sekitarnya melihat objek misterius muncul di langit.

Menurut sejumlah saksi yang mengunggah video, objek tersebut berada di ketinggian sekitar ratusan meter, berbentuk bayangan hitam, diselimuti cahaya putih samar, bergerak berkelok dan terus berubah bentuk. Di bagian tepinya tampak kilauan cahaya lembut, sehingga terlihat seperti “naga yang terbang di langit”.

Seorang saksi bermarga Zhao mengatakan: “Saat tertiup angin, benda itu bergoyang perlahan, semakin dilihat semakin mirip tubuh naga yang sedang berenang di udara.”

Video menunjukkan benda tersebut melayang di udara, lalu seiring langit menjadi gelap, perlahan memudar dan akhirnya menghilang. Seluruh fenomena berlangsung sekitar satu jam.

Kejadian ini memicu banyak diskusi di berbagai platform media sosial di Tiongkok.

Sebagian orang berseru, “Naga terbang di langit!” Ada yang berpendapat “Itu UFO!”, sementara yang lain menduga itu adalah “sisa roket” atau “pertunjukan cahaya drone”. Ada juga warganet yang berkomentar bahwa Xi’an adalah tempat yang “penuh keajaiban” karena sering muncul fenomena serupa.

Faktanya, fenomena benda terbang tak dikenal telah beberapa kali muncul di langit Xi’an.

Pada 1 Maret tahun lalu, objek serupa terlihat di langit Xi’an selama sekitar satu jam. Saksi menyebut bentuknya tidak beraturan, melayang tanpa suara, dan tanpa jejak cahaya yang jelas.

Pada 2 Mei tahun lalu, kejadian serupa kembali terjadi. Saat malam badai petir, beberapa orang merekam bayangan hitam yang melintas cepat di langit, dengan bentuk yang digambarkan seperti naga yang berputar.

Pada dini hari 6 Juni tahun yang sama, warganet kembali merekam objek tak dikenal yang naik miring dari cakrawala dengan ekor panjang, lalu menghilang setelah sekitar satu menit.

Menanggapi hal ini, Biro Meteorologi Xi’an menyatakan bahwa tidak ada data cuaca abnormal yang terdeteksi, dan radar juga tidak menunjukkan fenomena konvektif yang jelas, sehingga penyebab kejadian tersebut belum dapat dipastikan. 

Sumber : NTDTV.com

Laporan Ungkap Realitas Hubungan Beijing–Teheran : Aliansi Berbasis Kepentingan Demi Menahan AS

EtIndonesia. Sebuah lembaga pemikir di Washington, Foundation for Defense of Democracies, dalam analisis terbarunya menyebutkan bahwa di tengah situasi konflik Iran saat ini, Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah menjadi salah satu mitra dagang terpenting bagi Iran, serta memberikan dukungan di berbagai bidang seperti energi, keuangan, dan teknologi.

Laporan tersebut mengungkap bahwa PKT mendukung Iran melalui lima cara utama, termasuk pembelian besar-besaran minyak Iran, penyediaan bahan baku amunisi, memberikan perlindungan finansial untuk membantu aliran dana ilegal kembali, bahkan menyediakan dukungan satelit dalam konflik saat ini guna membantu Iran memperoleh intelijen penting di medan perang. Selain itu, PKT juga memberikan perlindungan diplomatik di forum internasional.

Laporan tersebut menilai bahwa strategi PKT terhadap Iran bersifat “oportunistik”, dengan tujuan memanfaatkan Iran untuk menahan Amerika Serikat sekaligus mewujudkan ambisi geopolitiknya, sambil tetap memastikan kepentingannya sendiri tidak dirugikan.

Ketua Partai Sosial Demokrat Tiongkok  sekaligus mantan profesor sejarah, Liu Yinquan, mengatakan: “PKT membutuhkan minyak Iran, dan Iran membutuhkan teknologi serta perlengkapan militer dari PKT—mereka saling memanfaatkan.”

Selama 20 tahun terakhir, ketika Amerika Serikat menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Iran, PKT memberikan dukungan yang hampir menyeluruh, sehingga kini terbentuk hubungan yang saling terkait secara kompleks dalam berbagai kepentingan.

Namun, para pengamat menilai bahwa hubungan antara PKT dan Iran bukanlah aliansi dalam arti tradisional, melainkan hubungan berbasis kepentingan semata.

Profesor dari University of North Carolina Kenan-Flagler Business School, Xie Tian, menyatakan bahwa di bawah sanksi ketat, PKT berperan sebagai saluran bagi Iran untuk memperoleh dana dan “mempertahankan kelangsungan hidupnya”. Di saat yang sama, PKT juga mendukung Iran sebagai mitra untuk mengalihkan perhatian dan sumber daya Amerika Serikat di Timur Tengah.

Kolumnis The Epoch Times, Wang He, menambahkan bahwa hal ini memberi PKT keuntungan strategis, termasuk dalam isu kawasan seperti Selat Taiwan.

Dukungan terselubung PKT terhadap Iran pada dasarnya bertujuan untuk menghadapi Amerika Serikat, yakni dengan memanfaatkan Iran untuk mengalihkan fokus strategis AS di tingkat global. Namun, kerja sama ini sengaja dijaga dalam “zona abu-abu” dan tidak terbuka, untuk menghindari risiko langsung dalam bidang keamanan dan militer.

Selain itu, kesenjangan kekuatan antara PKT dan Amerika Serikat juga menjadi alasan mengapa PKT memilih bersikap di balik layar.

Wang He menyatakan: “Perbedaan kekuatan antara PKT dan AS masih besar. Target jangka panjang PKT adalah pada tahun 2049 bisa menyaingi AS. Untuk saat ini, hubungan dengan AS masih dijaga agar tidak benar-benar putus, sehingga dukungan terhadap Iran tetap dilakukan secara tidak langsung dan tidak melampaui batas yang ditetapkan AS.”

Namun demikian, para analis menilai bahwa kerja sama oportunistik seperti ini pada dasarnya tidak berkelanjutan. Jika tekanan sanksi internasional meningkat atau konflik regional memburuk, PKT tidak akan bersedia menanggung risiko bagi Iran. Ketika kepentingannya sendiri terancam, PKT kemungkinan akan segera menarik diri. (Hui)

Reporter NTD Television Chen Yue dan Chang Chun melaporkan.

Trump: Iran Terpecah Belah dan Kesepakatan Mungkin Tidak Akan Pernah Tercapai

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 1 Mei menyatakan secara terbuka bahwa ia tidak puas dengan proposal negosiasi terbaru dari Iran. Ia juga mengatakan bahwa Iran saat ini sudah terpecah secara internal, dengan berbagai faksi saling bersaing, sehingga kemungkinan besar tidak akan pernah bisa mengakhiri perang melalui perundingan.

“Iran ingin mencapai kesepakatan, tetapi saya tidak puas,” katanya. 

Ia mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan dialog dengan Iran, namun tidak puas dengan proposal yang diajukan saat ini.

Trump: “Mereka harus mengajukan kesepakatan yang layak. Saat ini saya tidak puas dengan syarat yang mereka ajukan. Dalam negosiasi melalui telepon memang ada kemajuan, tetapi saya tidak yakin mereka akan mencapai tujuan akhirnya.”

Ia juga menambahkan bahwa kepemimpinan Iran telah terpecah menjadi beberapa faksi yang saling bertikai.

Trump: “Kepemimpinan Iran sangat terpecah—sekitar dua hingga tiga faksi, bahkan mungkin empat. Karena perpecahan ini, meskipun semua pihak ingin mencapai kesepakatan, situasinya tetap kacau.”

Menurut laporan Iran International, sejumlah pejabat tinggi Iran sedang berupaya mencopot Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Mereka menilai bahwa Araghchi tidak bertindak sebagai perwakilan pemerintah, melainkan lebih seperti membantu Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).

Mantan komandan Angkatan Laut AS, Kirk Lippold, mengatakan: “IRGC telah mengambil alih pemerintah, militer, dan ekonomi—mereka mengendalikan semuanya. Ini bukan lagi negara teokrasi, melainkan rezim militer karena semua urusan kini dikendalikan oleh militer.”

Terkait proposal terbaru Iran, Trump tidak merinci bagian mana yang tidak dapat ia terima.

Menurut berbagai laporan, pada Kamis malam (30 April), Iran telah menyerahkan proposal negosiasi terbaru kepada Pakistan untuk diteruskan kepada pejabat AS, dengan harapan dapat memfasilitasi putaran kedua perundingan damai langsung antara AS dan Iran.

Berdasarkan pernyataan Trump sebelumnya, ia telah menerima laporan terbaru dari militer. Sejumlah sumber menyebutkan bahwa AS mungkin akan melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan darat untuk merebut uranium yang telah diperkaya, atau menguasai wilayah sekitar Selat Hormuz.

Reuters melaporkan bahwa AS berharap serangan baru dapat memaksa Iran kembali ke meja perundingan untuk mengakhiri perang.

Trump mengatakan: “Pilihan yang ada adalah menghancurkan mereka sepenuhnya sekaligus, atau mencapai kesepakatan. Dari sudut pandang kemanusiaan, saya tidak cenderung memilih pengeboman.”

Situs berita Axios melaporkan bahwa AS mungkin mempertimbangkan penggunaan pasukan darat untuk mengambil alih sebagian wilayah Selat Hormuz guna membuka jalur pelayaran komersial. Namun, ada pejabat yang menyebutkan bahwa Trump masih mempertimbangkan untuk memperpanjang blokade atau bahkan secara sepihak menyatakan kemenangan.

Sementara itu, Reuters mengungkapkan bahwa menurut dua sumber anonim dari Iran, negara tersebut telah mengaktifkan sistem pertahanan udara dan bersiap melakukan serangan balasan besar jika diserang. Iran juga memperkirakan bahwa AS mungkin akan melancarkan serangan singkat namun intens, dan Israel kemungkinan akan ikut melakukan serangan setelahnya.

Menurut informasi terbaru dari United States Central Command (CENTCOM), dalam blokade laut yang sedang berlangsung terhadap Iran, sejauh ini sudah ada 45 kapal dagang yang diperintahkan untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan Iran.

Dilaporkan oleh NTDTV, Amerika Serikat.

Wanita “Pendukung Garis Keras” Partai Komunis Tiongkok : Anaknya Dipukuli Guru, Gagal Mencari Keadilan dan Dikabarkan Ditangkap Aparat

EtIndonesia. Di tengah semakin ketatnya kontrol sosial oleh pemerintahan partai komunis Tiongkok (PKT), terus bermunculan kasus di mana para “pendukung garis keras” (disebut “little pink”) justru mengalami dampak dari sistem tersebut. Seorang ibu di Jinan, Shandong, yang mengadukan kasus anaknya dipukuli oleh guru, dilaporkan akunnya diblokir dan beredar kabar bahwa ia telah ditahan.

Pada  April, sejumlah warganet di Shandong menemukan bahwa akun Douyin bernama “Seorang Ibu yang Memperjuangkan Hak” sudah tidak dapat ditemukan, sehingga mereka menanyakan keberadaannya. Warganet lokal yang mengaku mengetahui situasi tersebut membocorkan bahwa pemilik akun telah ditangkap. Isu ini dengan cepat memicu perbincangan luas, dan banyak orang mulai memperhatikan nasibnya.

Menurut unggahan seorang netizen lokal. (Tangkapan layar)

Menurut informasi yang beredar, ibu tersebut telah ditahan selama empat bulan dan kini secara resmi telah didakwa. Putusan pengadilan disebut-sebut akan dijatuhkan sekitar libur Hari Buruh (1 Mei). Tuduhan yang dikenakan termasuk “mencari-cari masalah” dan “melanggar hak reputasi orang lain”.

Ada juga kabar lain yang menyebutkan bahwa ibu tersebut telah bunuh diri, namun kebenaran informasi ini belum dapat dipastikan.

Berdasarkan video yang sebelumnya diunggah oleh ibu tersebut, anaknya bersekolah di sebuah sekolah menengah di Jinan. Pada September tahun lalu, anaknya dipaksa oleh seorang guru bermarga Tian untuk berulang kali mengambil papan seperti anjing, dan juga ditampar secara brutal. Setelah kejadian itu, guru tersebut hanya mendapat sanksi ringan berupa peringatan dan pemindahan tugas.

Karena tidak mendapat saluran pengaduan yang efektif, ibu tersebut terus berusaha memperjuangkan keadilan melalui media sosial.

Warganet juga menemukan bahwa pada saat parade militer PKT pada September tahun lalu, ibu tersebut pernah mengunggah video dengan penuh emosi memuji kekuatan negara.

Sebagian warganet kemudian menyindir: “Sekarang dia mungkin sudah merasakan apa arti sebenarnya dari ‘negara yang kuat’.” Ada juga yang berkomentar: “Dulu berpikir ‘negara kuat, tidak ada yang berani menindas kita’, tapi kenyataannya ‘negara kuat, saat kita ditindas, tidak ada yang berani ikut campur’.”

Namun, ada pula yang menilai bahwa mengungkit kembali pernyataan pro-pemerintah ibu tersebut mungkin merupakan upaya untuk merusak reputasinya dan mengalihkan perhatian dari kasus yang sedang diperjuangkannya.

Sebagian warganet lainnya menyebut bahwa kejadian seperti ini sudah menjadi hal yang biasa di Tiongkok, dan banyak masyarakat baru menyadari kenyataan setelah mengalami sendiri dampaknya.

Sumber : NTDTV.com

Trump Selamat dari Beberapa Upaya Pembunuhan, Alasan Ia Tidak Mengenakan Rompi Anti Peluru : Dia Terlihat Gemuk

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengalami percobaan pembunuhan saat menghadiri acara tahunan White House Correspondents’ Dinner pada 25 April. Pihak berwenang kini mempertimbangkan agar presiden mengenakan rompi antipeluru, namun Trump tampaknya tidak tertarik. Pada 1 Mei, ia mengatakan bahwa alasannya adalah karena khawatir rompi tersebut akan membuatnya terlihat lebih gemuk.

Trump yang kini berusia 79 tahun dilaporkan telah mengalami tiga kali dugaan percobaan pembunuhan dalam dua tahun terakhir. Insiden paling serius terjadi pada tahun 2024 di Butler saat kampanye pemilu, di mana telinganya terkena serpihan peluru, dan seorang penonton tewas.

Menurut laporan media, insiden terbaru terjadi saat Trump menghadiri jamuan makan malam di Washington. Setelah kejadian tersebut, pihak berwenang mulai mempertimbangkan penggunaan rompi antipeluru untuk presiden.

Dalam acara tersebut, ribuan tokoh politik dan bisnis menghadiri jamuan bersama presiden. Tiba-tiba, seorang tersangka membawa senapan panjang dan menerobos menuju aula, lalu melepaskan tembakan, termasuk ke arah seorang agen Dinas Rahasia AS.

Trump mengatakan pada malam kejadian bahwa rompi antipeluru memang menyelamatkan nyawa agen tersebut.

Namun, ketika ditanya apakah ia akan mempertimbangkan untuk memakainya, Trump tampak enggan. Ia mengatakan kepada wartawan: “Saya tidak tahu apakah saya bisa menerima terlihat seperti bertambah 20 pon.”

Ia juga bercanda: “Saya tidak tahu apakah saya bisa menerima terlihat 20 pon lebih berat. Ini memang sesuatu yang dipikirkan. Di satu sisi, Anda tidak suka melakukannya karena seolah-olah Anda menyerah pada ancaman. Jadi, saya tidak tahu, tapi memang ada yang menanyakan hal ini kepada saya.”

Sumber : NTDTV.com

Beijing Bedah Rahasia Kekuatan Senjata AS, Sisa Perang Iran Jadi Laboratorium Utama

EtIndonesia. Pada 28 April, sejumlah sumber dari dalam sistem pemerintahan Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengatakan kepada The Epoch Times bahwa saat ini pihak PKT sedang meneliti performa senjata Amerika Serikat, khususnya dengan menganalisis rudal dan sisa amunisi yang tertinggal di medan perang Iran, termasuk yang tidak meledak.

Menurut sumber tersebut, para analis militer PKT berfokus pada data penerbangan rudal, tingkat akurasi serangan, serta struktur internal amunisi yang gagal meledak. Tujuannya adalah untuk memahami cara kerja sistem pemandu (guidance system) serta alasan mengapa amunisi tersebut tidak meledak.

Seorang sumber yang dekat dengan militer menyebutkan bahwa data langsung seperti ini hampir tidak mungkin diperoleh dalam kondisi normal, sehingga sisa-sisa di medan perang menjadi objek penelitian yang sangat berharga dan mendapat perhatian khusus.

Namun, sumber terkait juga menambahkan bahwa pihak Iran kemungkinan tidak akan sepenuhnya membuka informasi teknologi inti. Oleh karena itu, meskipun ada kontak antara kedua pihak, ruang kerja sama tetap terbatas.

Seorang analis teknologi militer yang berbasis di Tiongkok berpendapat bahwa saat ini Amerika Serikat masih unggul dalam teknologi pemandu rudal dan serangan presisi. Selama ini, Beijing terus mencari cara untuk memperkecil kesenjangan tersebut.

Analis tersebut mengatakan:  “Teknologi militer canggih PKT mungkin tertinggal 10 hingga 20 tahun dari Amerika Serikat. Jika kesenjangan kurang dari 10 tahun, maka peniruan dapat membantu memperkecil jarak seiring waktu. Namun jika lebih dari 10 tahun, bahkan mendekati 20 tahun, maka meskipun memiliki akses ke banyak sistem, akan sulit untuk benar-benar memahaminya.”

Ia juga menambahkan bahwa kerja sama antara PKT dengan mitra seperti Rusia diliputi rasa saling curiga dan berbagai pembatasan, karena Iran dan Rusia kecil kemungkinan akan membagikan teknologi militer inti. Pada akhirnya, mereka tetap merupakan pesaing.

Sumber lain mengungkapkan bahwa pada tahap awal konflik AS–Iran, militer PKT sempat melakukan kontak dengan Iran dan menyatakan kesediaan memberikan dukungan teknis. Iran menunjukkan minat terhadap peralatan seperti ranjau laut pintar, drone, dan sistem radar, namun pihak Beijing tidak memberikan tanggapan langsung.

Israel Menambah 6.000 Ton Peralatan Militer, Bersiap untuk Putaran Serangan Baru terhadap Iran

Di bawah blokade berkelanjutan oleh militer AS, lebih dari 40 kapal dagang telah dicegat dan tidak dapat keluar masuk pelabuhan Iran. Akibatnya, rezim Teheran diperkirakan kehilangan setidaknya 6 miliar dolar AS. Sementara itu, Israel terus menambah ribuan ton persenjataan, dan pihak militer menyatakan bahwa gelombang serangan baru terhadap Iran akan segera dimulai.

EtIndonesia. Blokade pelabuhan Iran oleh militer AS telah berlangsung lebih dari dua minggu, menghantam keras ekspor minyak mentah Iran. Presiden AS Donald Trump sebelumnya kembali mengatakan kepada media Axios bahwa blokade lebih efektif dibandingkan pemboman, karena dapat “mencekik” Iran.

Ia menyebut kekuatan blokade militer AS sebagai “senjata nuklir ekonomi”, dan mengatakan kondisi Iran akan semakin memburuk.

Selama masa gencatan senjata penuh antara AS dan Iran, militer AS mencegat kapal dagang yang bertransaksi dengan Iran, untuk menghentikan pengiriman minyak atau barang yang menguntungkan Iran.

Menurut Komando Pusat AS, sejauh ini sudah ada 44 kapal dagang yang diperintahkan berbalik arah atau kembali ke pelabuhan Iran. Nilai transaksi produk petrokimia yang dicegat mencapai setidaknya sekitar 6 miliar dolar AS, sehingga memutus sumber pendanaan rezim Teheran.

Dalam operasi tersebut, tiga kapal induk AS yang dikerahkan di perairan Timur Tengah terus melakukan pemantauan dan pencegahan terhadap Iran secara real-time. Salah satunya, kapal induk USS Gerald R. Ford, akan segera mengakhiri penugasan sekitar 10 bulan dan diperkirakan kembali ke pangkalan pada pertengahan Mei untuk menjalani perbaikan dan pemeliharaan besar.

Menanggapi seruan Presiden Trump, sekutu AS yaitu Lithuania juga mengumumkan akan bergabung dalam operasi blokade selat. Presiden Lithuania Gitanas Nausėda menyatakan akan segera mengadakan rapat Dewan Pertahanan Nasional dan mengajukan proposal terkait untuk mendapatkan persetujuan parlemen.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan:  “Israel telah siap untuk memulai kembali perang melawan Iran.”

Ia sebelumnya menyatakan bahwa Israel sedang menunggu “lampu hijau” dari Amerika Serikat untuk memulai putaran serangan berikutnya terhadap Iran. Ia juga mengatakan bahwa meskipun Israel mendukung upaya diplomatik AS terhadap Iran, namun Israel mungkin “segera perlu bertindak kembali” untuk menghilangkan ancaman dari rezim Iran.

Di sisi lain, Israel terus menambah persenjataan. Kementerian Pertahanan Israel mengumumkan bahwa sekitar 6.500 ton perlengkapan militer dari AS telah tiba di Israel, termasuk ribuan amunisi udara, amunisi darat, truk militer, kendaraan taktis ringan, dan berbagai perlengkapan lainnya.

Persenjataan seberat 6.500 ton tersebut sedang didistribusikan ke berbagai pangkalan militer di seluruh negeri. Pejabat pertahanan menyatakan bahwa pengadaan senjata akan terus berlanjut dalam beberapa minggu ke depan.

Sejak pecahnya perang pada 28 Februari, lebih dari 115.000 ton perlengkapan militer telah dikirim ke Israel melalui 403 penerbangan dan 10 kapal.

Laporan Reuters menyebutkan bahwa kondisi ekonomi Teheran sangat parah. Pejabat Iran khawatir bahwa memburuknya situasi ekonomi dapat memicu gelombang protes baru, yang berpotensi membawa dampak bencana.

Menghadapi tekanan ekonomi tersebut, struktur kekuasaan di Teheran juga mulai melemah.

Analisis Reuters menunjukkan bahwa Iran kekurangan sistem komando yang terpadu. Meskipun pemimpin baru Mojtaba secara nominal berada di puncak kekuasaan, tekanan besar di masa perang telah membuat kekuasaan semakin terkonsentrasi pada Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, kantor Pemimpin Tertinggi, dan Garda Revolusi Islam. Di antaranya, Garda Revolusi memegang peran dominan dalam strategi militer dan keputusan politik penting.

Dalam negosiasi dengan Amerika Serikat, perwakilan Iran mencakup Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Namun, pihak yang menjadi aktor utama dalam dialog adalah komandan Garda Revolusi, Ahmad Vahidi. Mojtaba lebih berperan menyetujui keputusan yang telah disepakati dalam sistem, bukan mengeluarkan perintah berdasarkan kehendak pribadi.

Sementara itu, rezim Iran juga dituduh terus melakukan penindasan terhadap rakyatnya. Laporan menyebutkan bahwa seorang atlet karate berusia 21 tahun sekaligus juara tingkat provinsi, Sasan Azadvar, dieksekusi pada Kamis (30 April) karena ikut serta dalam aksi protes nasional.

Sebuah video yang beredar di internet menunjukkan bahwa Ketua Mahkamah Agung Iran secara terbuka mengancam akan melakukan pembantaian besar-besaran dalam siaran televisi langsung, dan berjanji akan melaksanakan gelombang eksekusi baru dengan cepat dan tanpa belas kasihan.

Menurut laporan Pusat Hak Asasi Manusia Iran, dalam enam minggu terakhir, setidaknya 22 tahanan politik telah dieksekusi melalui penyiksaan dan pengakuan paksa, dengan rata-rata satu orang dieksekusi setiap dua hari.

Reporter NTD Television, Wang Ziyi, melaporkan dari Amerika Serikat.

Militer AS Menghabiskan Rp 433,7 Triliun dalam Dua Bulan: Harga Sebenarnya dari Perang Modern

EtIndonesia. Menghabiskan 25 miliar dolar AS, militer Amerika menyerang 7.000 target di Iran dengan hampir nol korban jiwa. Bagaimana secara rinci bagaimana AS menghabiskan uangnya. Dalam hal “membakar uang”, siapa yang lebih mampu bertahan, Amerika Serikat atau Iran?

Pada 29 April, dalam sidang dengar pendapat di Kongres AS, pejabat keuangan sementara Departemen Pertahanan AS, Jules Hurst, mengungkapkan bahwa operasi terhadap Iran yang disebut “Epic Rage” sejak akhir Februari hingga sekarang telah menghabiskan 25 miliar dolar AS, terutama untuk biaya persenjataan dan amunisi.

Sebagai gambaran, menurut data World Bank, jumlah 25 miliar dolar AS ini sudah melebihi PDB tahunan setidaknya 50 negara di dunia, bahkan setara dengan 1,5 kali PDB tahunan Islandia. Artinya, biaya operasi militer AS selama dua bulan setara dengan pendapatan negara Islandia selama satu setengah tahun.

Banyak orang mungkin bertanya: mengapa dalam waktu dua bulan AS bisa menghabiskan uang sebanyak itu? Digunakan untuk apa saja? Apakah angka 25 miliar ini dilebih-lebihkan atau justru konservatif?

Lebih penting lagi, mengapa AS bersedia menanggung biaya ekonomi yang sangat tinggi untuk menukar dengan korban jiwa yang sangat rendah? Logika militer dan prioritas nilai seperti apa yang ada di balik strategi ini?

Pertama, perlu dipahami bahwa operasi ini bukan serangan udara sekali saja, melainkan rangkaian operasi militer berkelanjutan lintas wilayah dan multi-platform. AS melakukan serangan, pencegatan, pertahanan, dan patroli di Suriah, Irak, Laut Merah, dan Teluk Persia. Ciri utamanya: cakupan luas, tempo cepat, presisi tinggi, banyak platform, dan biaya sangat mahal.

Bagian biaya terbesar adalah amunisi. AS tidak menggunakan bom biasa, melainkan senjata berpemandu presisi berteknologi tinggi. Misalnya, rudal jelajah Tomahawk berharga sekitar 2 hingga 3,5 juta dolar per unit; rudal pencegat Standard-6 sekitar 5 juta dolar; bom berpemandu presisi berkisar 30.000 hingga 50.000 dolar, bahkan lebih mahal untuk tipe canggih.

Mengapa begitu mahal? Karena rudal modern bukan sekadar logam dan bahan peledak, melainkan produk teknologi tinggi yang dilengkapi GPS, sistem navigasi inersia, pemandu terminal, sistem anti-jamming, sensor, chip, material siluman, paduan suhu tinggi, dan bahan bakar padat. Selain itu, produksi rudal tidak massal seperti ponsel—jumlahnya terbatas, sehingga harga per unit menjadi tinggi.

Lalu berapa banyak rudal mahal yang digunakan?

Departemen Pertahanan tidak mengungkap angka pasti, tetapi menurut analisis media seperti The Wall Street Journal dan lembaga think tank Center for Strategic and International Studies, AS telah menggunakan lebih dari 1.000 rudal Tomahawk, lebih dari 1.000 rudal Patriot-3, sekitar 190 hingga 290 rudal THAAD, serta 130 hingga 250 rudal Standard-3.

Estimasi ini didasarkan pada jumlah target serangan. Menurut data Gedung Putih, AS telah menyerang sekitar 7.000 target, termasuk lebih dari 2.000 pusat komando, 1.500 sistem pertahanan udara, 1.450 fasilitas industri pertahanan, 800 lokasi peluncuran drone dan rudal, 600 target maritim, serta lebih dari 450 fasilitas terkait rudal balistik.

Setiap jenis rudal memiliki fungsi berbeda. Tomahawk digunakan untuk target jarak jauh dan berbenteng. Patriot-3 dan THAAD digunakan untuk mencegat rudal balistik Iran. Standard-3 melindungi kelompok kapal induk, sementara Standard-6 bersifat multifungsi.

Karena Iran melakukan serangan balasan rudal balistik secara intensif di awal konflik, konsumsi rudal pertahanan bahkan lebih cepat daripada rudal serangan.

Media memperkirakan konsumsi amunisi AS dalam dua bulan hampir setara dengan satu tahun perang di Ukraina.

Sebagai contoh, dalam serangan terhadap target di pegunungan atau bawah tanah, AS menggunakan taktik serangan berlapis. Gelombang pertama menggunakan umpan untuk membebani radar musuh. Gelombang kedua menghancurkan sistem pertahanan udara. Gelombang ketiga menggunakan pesawat pembom seperti B-52 Stratofortress untuk serangan mendalam.

Untuk bunker bawah tanah, rudal digunakan secara beruntun menembus titik yang sama dengan presisi tinggi—taktik yang juga digambarkan dalam film Top Gun: Maverick.

Diperkirakan sebelum konflik, stok Tomahawk AS sekitar 3.000–4.000 unit, dan hampir 27% telah digunakan. Rudal Patriot-3 terpakai sekitar dua pertiga stok, sementara THAAD sekitar 80%.

Masalah lain adalah distribusi stok yang tersebar di seluruh dunia—di pangkalan, kapal selam, hingga gudang. Ketika stok di Timur Tengah menipis, AS harus memindahkan dari kawasan Indo-Pasifik. Karena itu, Departemen Pertahanan dilaporkan sedang mempertimbangkan peningkatan produksi bersama Raytheon.

Selain rudal, biaya besar lainnya adalah operasi angkatan udara. Biaya per jam terbang pesawat tempur AS termasuk yang tertinggi di dunia. Menurut Government Accountability Office dan Congressional Budget Office:

  • F-35: sekitar 34.000–42.000 dolar per jam
  • F-15E: sekitar 33.000–42.000 dolar per jam
  • F-22: hingga 68.000–85.000 dolar per jam

Setiap satu jam terbang F-35 membutuhkan sekitar 13 jam perawatan di darat.

Dalam satu misi, puluhan pesawat terlibat—termasuk pesawat tanker, pengintai, dan perang elektronik—yang membuat biaya tiap operasi bisa mencapai jutaan dolar.

Selain itu, komponen dan perawatan juga sangat mahal. Satu bagian mesin atau radar bisa bernilai ratusan ribu dolar. Mesin F-35 bahkan bisa memerlukan biaya perawatan jutaan dolar.

Sistem perangkat lunak F-35 juga dikelola oleh Lockheed Martin, sehingga setiap jam operasi memerlukan biaya lisensi dan dukungan teknis, yang bisa mencapai lebih dari 15% dari total biaya.

Dari sisi bahan bakar, F-35 mengonsumsi sekitar 1.350 galon (sekitar 5.000 liter) bahan bakar per jam—setara dengan konsumsi mobil biasa untuk mengelilingi bumi dua kali.

Karena itu, sejak 28 Februari hingga awal April sebelum gencatan senjata, operasi udara dilakukan secara intensif setiap hari, dengan biaya harian yang bisa mencapai ratusan juta dolar—belum termasuk biaya rudal yang digunakan.

Komponen biaya besar ketiga adalah biaya penempatan angkatan laut.

Amerika Serikat menempatkan kelompok tempur kapal induk di Timur Tengah. Kapal induk kelas Ford terbaru memiliki biaya pembangunan sekitar 13 miliar dolar AS, dan biaya pemeliharaannya sangat tinggi.

Dalam kondisi normal, untuk menjaga operasi dasar kapal induk saja membutuhkan sekitar 6,5 juta hingga 8 juta dolar per hari. Total awak kapal melebihi 5.000 orang. Biaya bahan bakar, pemeliharaan, logistik, dan pelatihan semuanya sangat mahal.

Dalam masa perang atau penugasan intensif, biaya harian kapal induk USS Ford dapat mencapai 15 juta hingga 25 juta dolar.

Namun, ini hanya biaya untuk satu kapal induk. Dalam operasi terhadap Iran, kapal ini tidak beroperasi sendiri, melainkan sebagai bagian dari kelompok tempur kapal induk. Kapal pengawalnya mencakup dua kapal penjelajah, dua hingga tiga kapal perusak kelas Burke, serta satu kapal selam nuklir serang.

Biaya kapal-kapal ini, ditambah biaya ribuan personel di dalamnya serta biaya mencegat drone dan rudal Iran, membuat total pengeluaran satu kelompok tempur kapal induk mencapai sekitar 25 juta hingga 40 juta dolar per hari.

Biaya penempatan angkatan laut bersifat berkelanjutan—selama armada berada di laut, biaya terus berjalan.

Komponen biaya besar keempat adalah biaya personel.

Gaji prajurit Amerika Serikat memang relatif tinggi. Seorang prajurit baru bisa memperoleh gaji pokok sekitar 29.000 dolar per tahun, dan dengan berbagai tunjangan bisa mencapai 45.000 hingga 55.000 dolar. Seorang bintara berpengalaman dengan masa dinas 10 tahun memiliki gaji pokok sekitar 57.000 dolar, dan dengan tunjangan totalnya bisa mencapai 85.000 hingga 100.000 dolar per tahun. Gaji perwira tentu lebih tinggi.

Prajurit AS yang ditempatkan di zona perang secara otomatis menerima berbagai tunjangan, seperti tunjangan bahaya, tunjangan zona tempur, pembebasan pajak, tunjangan perpisahan keluarga, kompensasi perpanjangan penugasan, serta tunjangan khusus lainnya.

Militer AS memiliki siklus penugasan yang jelas, misalnya Angkatan Darat biasanya 9 bulan. Jika penugasan diperpanjang karena perang, prajurit akan menerima kompensasi tambahan.

Pilot, pasukan khusus, dan personel intelijen yang menjalankan misi berisiko tinggi juga mendapatkan tunjangan ekstra.

Banyak tunjangan di zona perang juga bebas pajak.

Semakin intens perang, semakin tinggi pendapatan prajurit. Selama perang di Irak dan Afghanistan, pendapatan aktual banyak prajurit meningkat 20% hingga 40%. Ini juga menjadi salah satu penyebab meningkatnya biaya perang Amerika secara cepat.

Pertanyaan terakhir: apakah angka 25 miliar dolar itu dilebih-lebihkan atau justru konservatif?

Hampir semua media berpendapat bahwa 25 miliar dolar hanyalah “biaya langsung minimum operasi militer”. Angka ini belum mencakup pengisian ulang amunisi, perbaikan pangkalan, penempatan jangka panjang, dukungan kepada sekutu, ekspansi industri pertahanan, serta tambahan anggaran di masa depan.

Semua perang Amerika—di Irak, Afghanistan, dan Suriah—memiliki pola yang sama: mengeluarkan dana awal, lalu diikuti tambahan anggaran. Operasi terhadap Iran kemungkinan juga akan demikian.

Jadi, 25 miliar dolar bukanlah total biaya akhir, melainkan hanya “tagihan pertama”. Biaya sebenarnya, tekanan, dan dampak lanjutan akan terus muncul dalam beberapa bulan bahkan beberapa tahun ke depan.

Meskipun 25 miliar dolar adalah angka yang sangat besar, di balik angka tersebut terlihat bahwa militer AS memilih menukar biaya ekonomi yang sangat tinggi dengan jumlah korban jiwa yang sangat rendah.

Dalam program sebelumnya disebutkan bahwa untuk menyelamatkan seorang pilot F-15E yang ditembak jatuh, AS kehilangan beberapa pesawat tempur, helikopter, dan drone. Media memperkirakan biaya operasi penyelamatan tersebut mencapai hingga 400 juta dolar.

Menghabiskan 400 juta dolar demi menyelamatkan satu nyawa mendapat banyak pujian di dalam negeri AS, karena dalam budaya militer Amerika, “nyawa manusia tidak ternilai” bukan sekadar slogan, melainkan prinsip yang benar-benar diterapkan. Kemungkinan besar, biaya ini juga termasuk dalam total 25 miliar dolar yang diumumkan.

Di balik pendekatan ini terdapat logika penting: militer AS bersedia mengeluarkan sumber daya besar untuk menyelamatkan satu prajurit karena salah satu nilai inti mereka adalah janji bahwa negara tidak akan pernah meninggalkan tentaranya.

Janji ini bukan sekadar tulisan di dinding, melainkan tercermin dalam anggaran, dalam operasi, dan dalam setiap misi penyelamatan.

Bagi para prajurit, budaya ini menciptakan rasa kepercayaan yang kuat. Mereka tahu bahwa jika menghadapi bahaya di medan perang, negara akan mengerahkan segala sumber daya untuk menyelamatkan mereka.

Kepercayaan ini menjadi fondasi sistem tentara sukarela AS, yang membuat orang bersedia bergabung dan menjalankan misi berisiko tinggi.

Selain itu, strategi “serangan presisi” yang digunakan AS kali ini tidak hanya melindungi nyawa prajuritnya, tetapi juga mengurangi korban sipil melalui tingkat akurasi yang sangat tinggi dibandingkan pemboman besar-besaran tradisional.

Intinya, pendekatan ini adalah menukar biaya ekonomi yang sangat tinggi dengan korban jiwa yang sangat rendah.

Di baliknya terdapat prioritas nilai yang jelas: uang bisa dicari kembali, tetapi nyawa tidak bisa diulang.

Sampai di sini pembahasan hari ini. Apa pendapat Anda tentang pengeluaran 25 miliar dolar oleh militer AS? 

Sumber : NTDTV.com