Wanita “Pendukung Garis Keras” Partai Komunis Tiongkok : Anaknya Dipukuli Guru, Gagal Mencari Keadilan dan Dikabarkan Ditangkap Aparat

EtIndonesia. Di tengah semakin ketatnya kontrol sosial oleh pemerintahan partai komunis Tiongkok (PKT), terus bermunculan kasus di mana para “pendukung garis keras” (disebut “little pink”) justru mengalami dampak dari sistem tersebut. Seorang ibu di Jinan, Shandong, yang mengadukan kasus anaknya dipukuli oleh guru, dilaporkan akunnya diblokir dan beredar kabar bahwa ia telah ditahan.

Pada  April, sejumlah warganet di Shandong menemukan bahwa akun Douyin bernama “Seorang Ibu yang Memperjuangkan Hak” sudah tidak dapat ditemukan, sehingga mereka menanyakan keberadaannya. Warganet lokal yang mengaku mengetahui situasi tersebut membocorkan bahwa pemilik akun telah ditangkap. Isu ini dengan cepat memicu perbincangan luas, dan banyak orang mulai memperhatikan nasibnya.

Menurut unggahan seorang netizen lokal. (Tangkapan layar)

Menurut informasi yang beredar, ibu tersebut telah ditahan selama empat bulan dan kini secara resmi telah didakwa. Putusan pengadilan disebut-sebut akan dijatuhkan sekitar libur Hari Buruh (1 Mei). Tuduhan yang dikenakan termasuk “mencari-cari masalah” dan “melanggar hak reputasi orang lain”.

Ada juga kabar lain yang menyebutkan bahwa ibu tersebut telah bunuh diri, namun kebenaran informasi ini belum dapat dipastikan.

Berdasarkan video yang sebelumnya diunggah oleh ibu tersebut, anaknya bersekolah di sebuah sekolah menengah di Jinan. Pada September tahun lalu, anaknya dipaksa oleh seorang guru bermarga Tian untuk berulang kali mengambil papan seperti anjing, dan juga ditampar secara brutal. Setelah kejadian itu, guru tersebut hanya mendapat sanksi ringan berupa peringatan dan pemindahan tugas.

Karena tidak mendapat saluran pengaduan yang efektif, ibu tersebut terus berusaha memperjuangkan keadilan melalui media sosial.

Warganet juga menemukan bahwa pada saat parade militer PKT pada September tahun lalu, ibu tersebut pernah mengunggah video dengan penuh emosi memuji kekuatan negara.

Sebagian warganet kemudian menyindir: “Sekarang dia mungkin sudah merasakan apa arti sebenarnya dari ‘negara yang kuat’.” Ada juga yang berkomentar: “Dulu berpikir ‘negara kuat, tidak ada yang berani menindas kita’, tapi kenyataannya ‘negara kuat, saat kita ditindas, tidak ada yang berani ikut campur’.”

Namun, ada pula yang menilai bahwa mengungkit kembali pernyataan pro-pemerintah ibu tersebut mungkin merupakan upaya untuk merusak reputasinya dan mengalihkan perhatian dari kasus yang sedang diperjuangkannya.

Sebagian warganet lainnya menyebut bahwa kejadian seperti ini sudah menjadi hal yang biasa di Tiongkok, dan banyak masyarakat baru menyadari kenyataan setelah mengalami sendiri dampaknya.

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Menelusuri Jejak Biksu Xuanzang Melintasi Lanskap Suci Dunia Buddhis yang Telah Hilang

Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya) Salah satu catatan perjalanan paling penting dan paling rinci mengenai Jalur Sutra kuno berasal dari perjalanan biksu Tiongkok Xuanzang (玄奘), yang...

Menurunkan Berat Badan dan Mengubah Penampilan adalah Dua Proyek yang Berbeda

 Chen Jing - Visiontimes.com Kebanyakan orang hanya menjalankan proyek yang pertama. Itulah sebabnya angka di timbangan turun, tetapi bayangan di cermin tampak tidak banyak berubah. Anda...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine