Anak Laki-laki Dimasukkan ke Bagasi Mobil oleh Ayah Kandung dan Dibawa Menempuh Ribuan Kilometer — Sang Ibu Hancur Hatinya

Baru-baru ini, kasus penyiksaan terhadap seorang anak laki-laki berusia 9 tahun di Guangdong, Tiongkok, oleh ayah kandungnya menarik perhatian publik. Menurut pengakuan sang anak, ia pernah dimasukkan ke dalam bagasi mobil oleh ayahnya dan dibawa menempuh perjalanan ribuan kilometer. Sang ibu sangat terpukul setelah mengetahui hal ini

EtIndonesia. Seorang ibu pada 14 Juli,  mengunggah video melalui akun media sosialnya “木木在順德” (Mu Mu di Shunde), menyatakan bahwa ia telah lama bercerai dengan ayah dari anaknya, dan sang anak mengalami kekerasan dari ayah kandung serta ibu tirinya. 

Saat ikut bepergian bersama keluarganya, anak itu seharusnya duduk di kursi belakang, namun malah dimasukkan ke dalam bagasi mobil oleh sang ayah, bersama dengan sebuah kereta dorong bayi.

Saat itu, di dalam mobil terdapat tujuh orang: ayah si anak, ibu tiri, kakek, nenek, anak ibu tiri, serta seorang bayi.

Sang ibu menjelaskan bahwa di tengah cuaca panas ekstrem Juli dan Agustus, anaknya harus berada di dalam bagasi mobil selama beberapa jam.

Dalam video, si anak mendemonstrasikan bagaimana ia berbaring di dalam bagasi mobil saat itu — tampak ia meringkuk dengan posisi miring di dalam ruang sempit tersebut.

Sang ibu, yang menyaksikan hal ini, sangat sedih dan bertanya, “Dia (ayahmu) memang menyuruhmu duduk di situ? Katakan pada Mama, siapa yang menyuruhmu duduk seperti itu?”

Anak itu menjawab, “Ayah. Dia menyuruhku merangkak masuk ke sana.” Setelah ia berbaring, sang ayah kemudian memasukkan kereta bayi ke dalam bagasi juga.

Ibunya melanjutkan bertanya, “(Ayahmu) memang menyuruhmu berbaring seperti itu? Hari itu kamu memang begitu? Bukan duduk?”

Anak itu berkata, “Aku bisa duduk, tapi hanya dengan susah payah.”

Mendengar pengakuan anaknya, sang ibu tampak sangat sedih dan marah, hingga suaranya bergetar.

Pada 15 Juli, dalam sebuah video, sang ibu menahan amarahnya sambil berkata, “Soal bagasi mobil itu, sebelumnya aku salah. Bukan hanya dari Foshan, Guangdong ke Guilin, Guangxi sejauh 500 kilometer, tapi itu pulang-pergi — total 1.000 kilometer. Dia membiarkan anakku yang baru 9 tahun berbaring di bagasi, menempuh perjalanan sejauh 1.000 kilometer di jalan tol. Baru saja anakku mengkonfirmasi hal ini denganku.”

Menurut penuturan sang ibu, kejadian anak berbaring di bagasi ini terjadi pada liburan musim panas tahun 2023. Pada November 2024, ia berhasil mendapatkan hak asuh anaknya. Namun, selama proses peralihan hak asuh, sang anak masih mengalami kekerasan verbal dan tekanan mental dari ayah dan ibu tirinya.

Ia juga mengungkapkan bahwa setelah hak asuh anak berubah, ayah anak tersebut menolak menyerahkan dokumen dan berkas penting anak, menyebabkan anaknya putus sekolah selama beberapa bulan. Ketika ia mencoba meminta dokumen tersebut, ia justru dipukul dan dihina oleh mantan suaminya, yang kemudian malah menggugat dirinya karena dianggap mencemarkan nama baik dan menuntut ganti rugi sebesar 300 ribu yuan (sekitar Rp 660 juta).

Dalam sebuah video yang dipublikasikan tahun 2024, sang ibu mengatakan bahwa akhirnya ia berhasil mendapatkan dokumen anaknya, dan anaknya sangat ingin segera meninggalkan rumah ayahnya.  “Dia bilang, ‘Mama, aku tidak perlu datang lagi ke tempat ini.’”

Sang ibu pun menenangkan, “Nak, kamu tidak perlu lagi hidup dalam ketakutan. Sekarang kamu mulai menjalani hidup bebasmu yang sesungguhnya.”

Dalam sebuah unggahan, sang ibu menulis, “Seorang ayah kandung bisa memperlakukan anaknya sendiri seperti ini, sungguh sangat jarang terjadi. Untungnya, tampaknya kepribadian anakku masih ceria. Semoga ke depan ia bisa melupakan mereka.”

Kasus anak laki-laki berusia 9 tahun yang berbaring di bagasi mobil ini menjadi trending dan memicu perhatian luas. Seorang netizen berkomentar sedih: “Anak sebaik itu, bagaimana bisa ayah kandungnya tega menyakitinya?”

Ada juga yang memberikan dukungan bagi sang ibu:  “Kamu ibu yang hebat. Ibu yang kuat. Semangat terus!”

Laporan gabungan oleh wartawan Luo Tingting /Wen Hui – NTD

Hujan Deras Lumpuhkan Kereta Bawah Tanah New York, Dua Tewas di New Jersey – Status Darurat Ditetapkan

EtIndonesia. Hujan deras mengguyur Kota New York  pada 14 Juli malam.  Hujan tersebut dengan curah hujan mencapai 2,64 inci (sekitar 6,7 cm) hanya dalam sejam — mencatatkan rekor kedua tertinggi dalam sejarah kota tersebut. 

Hujan deras ini menyebabkan banjir di banyak stasiun dan lorong kereta bawah tanah. Untungnya, air dengan cepat surut dan saat ini layanan kereta telah kembali normal.

Dalam rekaman kejadian terlihat air banjir mengalir deras dari lorong stasiun, pintu masuk, saluran air, hingga celah-celah struktur, seperti air mancur. Air bahkan menggenangi peron dan masuk ke dalam gerbong kereta. Beberapa jalur utama di kawasan pusat Manhattan sempat dihentikan operasinya.

Para pejabat memperingatkan bahwa untuk menyesuaikan infrastruktur tua Kota New York dengan perubahan iklim yang cepat, akan dibutuhkan waktu 30 tahun dan dana sebesar 30 miliar dolar AS. Kota New York telah mengaktifkan langkah-langkah darurat.

Sementara itu, di Negara Bagian New Jersey, dua orang dilaporkan tewas setelah kendaraan mereka tersapu banjir. Ini merupakan insiden paling fatal akibat hujan badai kali ini. Gubernur New Jersey, Phil Murphy, secara resmi menyatakan status darurat bencana. (Hui/asr)

Laporan dari NTD Asia Pasifik

Malam Mencekam di Damaskus: Markas Militer Suriah Dibombardir Israel, Ada Apa?

EtIndonesia. Ibu kota Suriah, Damaskus, kembali menjadi pusat perhatian dunia setelah militer Israel secara tiba-tiba melancarkan serangan udara presisi ke sejumlah titik vital pada Selasa (15/7)  dini hari waktu setempat. Target utama serangan ini mencakup markas besar Kementerian Pertahanan Suriah, kantor Staf Militer, serta kawasan strategis di sekitar istana kepresidenan. Akibat serangan tersebut, setidaknya lima prajurit Suriah tewas, sementara lebih dari 30 orang lainnya mengalami luka-luka, termasuk di antaranya warga sipil.

Motif Balasan dan Solidaritas untuk Druze

Pemerintah Israel, melalui Menteri Pertahanan, Israel Katz, menegaskan bahwa operasi militer tersebut merupakan respons langsung atas aksi militer Suriah di wilayah Suwayda—daerah yang dikenal sebagai pusat komunitas minoritas Druze di Suriah. Katz menyoroti bahwa Israel tidak akan tinggal diam menyaksikan penindasan terhadap kelompok Druze yang selama ini menjadi sasaran represi Pemerintah Suriah.

“Serangan ini adalah pesan tegas dan tekanan nyata bagi rezim Suriah. Kami tidak akan membiarkan penindasan terhadap warga Druze berlanjut,” ujar Katz dalam pernyataan resmi.

Respons Global dan Ketegangan Diplomatik

Serangan udara Israel ini sontak mengundang reaksi keras dari berbagai pihak. Seorang pejabat senior Kementerian Pertahanan Israel mengungkapkan kepada media internasional Axios bahwa Amerika Serikat telah meminta Israel untuk menghentikan serangan di Damaskus dan memberi ruang diplomasi guna meredakan eskalasi.

Di sisi lain, Pemerintah Suriah segera mengajukan protes resmi ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menuduh Israel telah melanggar kedaulatan negaranya. Namun, di tengah ketegangan, sejumlah sumber keamanan Israel meyakini bahwa konflik tidak akan berlangsung lama. 

“Kami memperkirakan Presiden Suriah akan segera mengumumkan gencatan senjata dan menarik pasukannya dari Suwayda,” ujar salah satu pejabat keamanan Israel.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat menyampaikan bahwa telah tercapai kesepakatan langkah-langkah konkret untuk menghentikan kekerasan dan membuka jalan dialog antara Pemerintah Suriah dan komunitas Druze.

Druze: Minoritas Terjepit dalam Konflik

Druze merupakan kelompok minoritas yang tersebar di Suriah, Israel, dan Lebanon. Dalam sejarahnya, mereka selalu berusaha menghindari keterlibatan langsung dalam konflik bersenjata, khususnya perang saudara Suriah. Namun kenyataannya, pemerintah militer Suriah justru sering memaksa pemuda Druze untuk bergabung dalam dinas militer, bahkan tak segan melakukan penangkapan, operasi militer, hingga serangan menggunakan tank dan senjata berat ke desa-desa Druze.

Beberapa waktu terakhir, aparat keamanan Suriah dilaporkan semakin gencar melakukan penggeledahan dan intimidasi terhadap rumah ibadah serta sekolah di komunitas Druze. Tindakan represif ini memicu gelombang perlawanan, aksi unjuk rasa, dan bentrokan hebat, yang telah menewaskan sekitar 240 orang—mayoritas merupakan warga sipil.

Dimensi Lintas Batas dan Imbauan Pemerintah Israel

Situasi menjadi semakin kompleks setelah beredar laporan bahwa sejumlah pemuda Druze asal Israel berupaya menyeberang ke Suriah demi membantu sanak keluarga mereka yang terjebak konflik. Merespons hal itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu secara terbuka meminta seluruh warga Israel, khususnya keturunan Druze, agar tidak menyeberangi perbatasan. Dia menegaskan bahwa tindakan tersebut sangat berbahaya, berisiko menyebabkan kematian, penculikan, atau bahkan mengganggu operasi militer Israel di kawasan tersebut.

“Keselamatan kalian lebih utama. Serahkan proses penyelamatan dan bantuan kemanusiaan kepada militer. Kami mohon semua kembali ke rumah masing-masing,” tegas Netanyahu dalam konferensi pers.

Tekanan Internasional dan Kepentingan Geopolitik

Komunitas internasional kini semakin gencar mendesak semua pihak untuk menahan diri, memprioritaskan keselamatan warga sipil, serta mencegah meluasnya konflik di kawasan. Menteri Luar Negeri Israel juga telah berkomunikasi dengan Uni Eropa, menegaskan bahwa penindasan terhadap minoritas di Suriah tidak bisa ditoleransi dan dapat merusak stabilitas kawasan, sekaligus bertentangan dengan nilai dan kepentingan Eropa.

“Stabilitas Suriah adalah kunci perdamaian regional. Ketidakadilan terhadap kelompok minoritas harus segera dihentikan,” ujar pejabat Kemenlu Israel dalam pertemuan diplomatik dengan utusan Uni Eropa.


Situasi di Damaskus dan wilayah Druze masih terus berkembang. Dunia menanti langkah nyata dari seluruh pihak untuk menghentikan pertumpahan darah dan membawa perdamaian bagi rakyat Suriah.

Jumlah Penduduk Tiongkok Anjlok, 26 Ribu Taman Kanak-Kanak Diperkirakan Akan Ditutup Tahun Ini

Dikarenakan jumlah kelahiran di Tiongkok merosot tajam, gelombang penutupan taman kanak-kanak pun melanda seluruh negeri. Media daratan Tiongkok melaporkan bahwa diperkirakan sekitar 26.000 taman kanak-kanak akan ditutup lagi tahun ini.

EtIndonesia. Laporan majalah Caijing menyebutkan para ahli memperkirakan bahwa tahun ini mungkin akan ada sekitar 26.000 taman kanak-kanak yang tutup. Bahkan, dalam beberapa tahun ke depan, rata-rata akan ada sekitar 15.000 taman kanak-kanak yang ditutup setiap tahunnya.

Cendekiawan perantauan di Australia, Li Yuanhua, mengatakan, “Penurunan besar-besaran jumlah taman kanak-kanak selama bertahun-tahun ini disebabkan oleh anjloknya tingkat kelahiran di Tiongkok secara drastis, yang mengakibatkan pertumbuhan penduduk negatif, dan akhirnya taman kanak-kanak pun tidak memiliki murid lagi.”

Sejak tahun 2022, Tiongkok mulai mengalami pertumbuhan penduduk negatif, yaitu tingkat kelahiran lebih rendah daripada tingkat kematian.

“Saat ini kapasitas sistem pendidikan masih berdasarkan pada tingkat kelahiran dan jumlah penduduk pada masa lalu. Sekarang, karena tingkat kelahiran tiba-tiba turun, seluruh fasilitas pendidikan yang ada menjadi sulit dipertahankan, dan ini akan memunculkan masalah yang cukup besar. Penutupan taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga perguruan tinggi bahkan dampaknya setelah lulus, semuanya akan menimbulkan reaksi berantai di masyarakat,” jelas Li Yuanhua. 

Pada 18 Juni, sebuah media daratan menerbitkan artikel berjudul “Setiap Jam Dua Taman Kanak-Kanak Menghilang di Tiongkok”, menyebutkan bahwa “gelombang penutupan taman kanak-kanak” sedang melanda seluruh negeri. Dari tahun 2020 hingga 2024, jumlah anak di taman kanak-kanak menurun lebih dari 12,34 juta.

Menurut data dari Kementerian Pendidikan Tiongkok, tahun lalu jumlah taman kanak-kanak berkurang sebanyak 21.100.

“Fenomena ini pada dasarnya disebabkan oleh keruntuhan menyeluruh masyarakat. Saat ini para pemuda tidak ingin punya anak, bahkan enggan menikah. Banyak mahasiswa dan bahkan lulusan pascasarjana yang bekerja sebagai pengantar makanan. Jadi, secara alami mereka tidak ingin memiliki anak. Maka, jumlah anak di taman kanak-kanak semakin sedikit,” kata aktivis gerakan demokrasi Tiongkok, Jiang Fuzhen. (Hui/asr)

Laporan oleh reporter Li Yun dan Qiu Yue dari NTDTV.

Cuaca Ekstrem Melanda  Amerika, Asia, dan Eropa – Dunia Terjebak dalam “Air dan Api”

Dari banjir besar bersejarah di Texas, AS; hujan deras dan banjir di New York dan New Jersey; banjir dahsyat di wilayah selatan Tiongkok; hingga gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa dan Pantai Timur AS – musim panas tahun ini, banyak wilayah di Amerika, Asia, dan Eropa dilanda cuaca ekstrem. Dunia kini tengah terjerumus dalam situasi “air yang dalam dan api yang membara”

EtIndonesia. Awal bulan ini, Texas, Amerika Serikat, dilanda banjir besar bersejarah yang hingga saat ini telah menyebabkan sedikitnya 132 orang tewas dan sekitar 100 orang hilang. Pada  Minggu (13 Juli), hujan deras kembali melanda Texas. Di daerah Adamsville dan  San Saba, Sungai Lampasas meluap hingga sekitar 4,2 meter hanya dalam dua jam. Otoritas setempat langsung mengeluarkan status “Darurat Banjir Besar” dan peringatan merah, serta memperingatkan potensi “konsekuensi bencana”.

Pada Senin  (14 Juli) malam, hujan deras mengguyur wilayah timur laut Amerika Serikat, menyebabkan banjir bandang di banyak tempat di New York dan New Jersey. Di sistem kereta bawah tanah New York, air deras menyembur deras dari saluran pembuangan ke permukaan tanah, menciptakan pemandangan mengejutkan. Di New Jersey, sebuah mobil tersapu banjir dan dua orang di dalamnya tewas.

Meski hujan reda pada Selasa pagi (15 Juli) dan sebagian besar peringatan banjir dicabut, banyak jalan dan ruas kota masih terendam dan ditutup. Operasi kereta bawah tanah  kembali normal, namun gangguan pada transportasi umum masih mungkin terjadi.

Sementara itu, Topan ke-4 tahun ini, “Danas”, menyapu beberapa provinsi di Tiongkok pada awal Juli, membawa angin kencang dan hujan lebat, serta memicu longsor dan banjir di berbagai tempat. Kota Xiamen juga dilanda angin kencang tingkat 11 dan hujan es – untuk pertama kalinya dalam catatan sejarah stasiun meteorologi Xiamen mengalami cuaca hujan es.

Di satu sisi, banyak daerah terendam banjir, sementara di sisi lain dilanda gelombang panas. Sejak awal Juli, suhu di banyak wilayah Tiongkok melebihi 40°C, dan di beberapa tempat seperti Shandong dan Henan, suhu permukaan tanah melebihi 60°C. Diperkirakan suhu tinggi di wilayah barat laut, utara Tiongkok, dan lembah Sungai Kuning (Huang-Huai) akan terus meningkat. Daerah selatan pun dilanda panas dan kelembaban tinggi, seperti “duduk di dalam sauna”.

Eropa juga tidak luput dari hantaman gelombang panas. Dari 23 Juni hingga 2 Juli, diperkirakan sekitar 2.300 orang tewas akibat suhu ekstrem di 12 kota besar, termasuk Barcelona, Madrid, London, dan Milan. Pantai Timur Amerika Serikat juga mengalami gelombang panas ekstrem akibat fenomena “kubah panas” bulan lalu, menyebabkan kota-kota seperti New York memasuki keadaan darurat.

Pada  Minggu lalu, terjadi kebakaran di sebuah rumah penampungan lansia berpenghasilan rendah di Fall River, Massachusetts, menyebabkan 9 orang tewas dan sedikitnya 30 orang terluka.

Wilayah lain di dunia juga diselimuti gelombang panas. Kanada, Australia, Tokyo, Korea Selatan, dan Taiwan mencatat suhu ekstrem dan memecahkan berbagai rekor panas. (Hui/asr)

Laporan dari Liu Jiajia, reporter NTDTV di Amerika Serikat.

Latihan Militer Berturut-turut di Indo-Pasifik untuk Menangkal PKT, Presiden Taiwan Lai Ching-te Dikabarkan Akan Transit di AS

Latihan militer gabungan “Exercise Talisman Sabre 2025” yang dipimpin oleh Australia dan Amerika Serikat secara resmi dimulai pada Senin (14 Juli). Secara bersamaan, latihan militer besar “Resolute Force Pacific” yang dipimpin oleh Angkatan Udara AS, serta latihan tahunan Taiwan “Han Kuang ke-41” juga sedang berlangsung. Banyak pihak menilai, rangkaian latihan militer di kawasan Indo-Pasifik ini merupakan bentuk pencegahan dan peringatan keras terhadap Partai Komunis Tiongkok (PKT) agar tidak bertindak gegabah.

EtIndonesia. Tahun ini, latihan perang gabungan  “Talisman Sabre” untuk pertama kalinya diadakan di luar wilayah Australia, dengan cakupan geografis yang diperluas hingga ke Papua Nugini.

Latihan ini mencakup kesiapan tempur, pendaratan amfibi, pertempuran darat-laut-udara, latihan pertahanan siber, dan operasi luar angkasa, dengan tujuan memperkuat upaya penangkalan terhadap ekspansi militer PKT di kawasan Indo-Pasifik.

 “Partisipasi negara-negara bukan hanya demi meningkatkan kemampuan tempur masing-masing, seperti Australia, tapi mereka juga menyadari bahwa — kita akan menjadi lebih kuat jika bertempur bersama para mitra,” kata wakil Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Australia, Laksamana Madya David Johnston. 

Secara bersamaan, latihan militer “Resolute Force Pacific” yang dipimpin oleh Angkatan Udara AS juga tengah berlangsung. Latihan ini mensimulasikan skenario perang dengan PKT. Di Taiwan, latihan tahunan “Han Kuang” juga dilakukan untuk mensimulasikan skenario pertahanan dari invasi asing.

Selama berlangsungnya berbagai latihan militer besar di kawasan Pasifik, kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN-72), yang baru kembali ke pelabuhan asalnya di California tujuh bulan lalu, kembali menerima perintah keberangkatan darurat dari Komando Penerbangan Angkatan Laut Pasifik (COMNAVAIRPAC) bulan lalu. Baru-baru ini, kapal induk tersebut mengisi ulang bahan bakar jet jenis JP-5 sebanyak 1,7 juta galon sebagai persiapan keberangkatan mendesak.

Menurut laporan, pada Senin (14/7/2025), Presiden Paraguay, Santiago Peña, yang merupakan sekutu diplomatik Taiwan di Amerika Selatan, mengumumkan bahwa Presiden Republik Tiongkok (Taiwan) Lai Ching-te akan melakukan kunjungan ke Paraguay pada bulan Agustus. Diberitakan juga bahwa Lai Ching-te kemungkinan akan transit di New York dan Dallas, Texas.

Jika perjalanan ke luar negeri tersebut benar-benar terlaksana, maka ini akan menjadi pertama kalinya Lai Ching-te transit di wilayah utama Amerika Serikat sejak dilantik sebagai presiden. (Hui/asr)

Laporan dari reporter NTDTV Wang Ziyi dan Liu Jiajia, langsung dari Amerika Serikat.

Klub Sepak Bola Didenda karena Memasang Jimat di Ruang Ganti Lawan

EtIndonesia. Sebuah klub sepak bola di Tiongkok didenda 30.000 yuan (sekitar Rp 68 juta) karena mencoba menyalurkan roh jahat dengan menempatkan jimat kertas di ruang ganti tim lawan.

Changchun Xidu FC, yang bermain di Liga Dua Tiongkok, dinyatakan bersalah karena menempatkan “sejumlah benda takhayul feodal di ruang ganti tim tamu” sebelum pertandingan mereka pada 28 Juni, dalam upaya untuk meningkatkan peluang mereka menang.

Foto-foto yang tersebar luas di media sosial Tiongkok menunjukkan jimat kertas kuning bertuliskan pesan-pesan seperti: “Dengan dekrit, Shanxi Chongde Ronghai harus dikalahkan.”

Dikenal sebagai ‘fu’, penggunaan jimat kertas adalah praktik Tao yang diyakini menggunakan energi roh untuk membawa keberuntungan, tetapi juga dapat disalahgunakan untuk menyebabkan kerugian dan kemalangan bagi orang lain.

Setelah menganalisis bukti, Liga Sepak Bola Profesional Tiongkok (CFL) memutuskan bahwa Changchun Xidu FC menggunakan “benda takhayul feodal” untuk meningkatkan peluang menang dan mendenda klub sebesar 30.000 yuan, serta berjanji untuk “menangani segala bentuk pelanggaran peraturan dan disiplin secara tegas dan serius sesuai dengan ketentuan Kode Etik dan Disiplin.”

Changchun Xidu FC kemudian memenangkan pertandingan melawan Shanxi Chongde Ronghai dengan skor 2-0, mengukuhkan posisi kedua mereka di liga. Namun, kesuksesan tim tersebut dibayangi oleh kontroversi seputar jimat kertas dan terungkapnya fakta bahwa ini bukan pertama kalinya tim tandang menemukan jimat semacam itu di ruang ganti mereka saat melawan Changchun Xidu FC.(yn)

Sumber: odditycentral

Kaffeost, Kopi Unik Rasa Keju dari Swedia

EtIndonesia. Menambahkan sedikit susu atau krim ke dalam secangkir kopi memang bukan hal yang aneh, tetapi di Swedia utara, mereka lebih menyukai jenis susu yang berbeda untuk kopi mereka – keju.

Kaffeost adalah kombinasi kopi panas dan jenis keju tertentu yang disebut leipäjuusto, yang secara harfiah berarti “keju roti”. Namun, tidak ada roti yang digunakan dalam kombinasi unik ini, hanya keju dan kopi.
Namanya kemungkinan besar berasal dari daya serap keju, yang memungkinkannya menyerap rasa kopi secara mengejutkan setelah direndam hanya beberapa menit. Teksturnya yang kenyal mungkin tidak cocok untuk semua orang, tetapi rasanya konon sepadan.

Leipäjuusto terasa lebih manis daripada keju cheddar biasa, jadi menambahkan beberapa potong ke dalam secangkir kopi Anda secara mengejutkan mirip dengan menambahkan krim, atau susu dan gula.

Mengonsumsi kaffeost memiliki akar budaya yang dalam di kalangan penggembala rusa kutub di Swedia utara dan Finlandia.

Konon, masyarakat Sami semi-nomaden menemukan kombinasi lezat kopi dan keju selama perjalanan mereka. Mereka menyadari bahwa kaffeost membantu mengatasi masalah kekurangan natrium mereka, sementara kopi panas menghangatkan mereka dan memberi mereka energi yang dibutuhkan untuk melewati dinginnya cuaca.

Kopi dan keju mungkin terdengar seperti perpaduan yang tak ada bandingannya bagi kebanyakan orang, tetapi di Skandinavia, popularitas kaffeost sedang meningkat.

Kedai kopi spesial semakin banyak menawarkan kaffeost, bersama dengan variasi yang menggunakan susu sapi atau keju susu kambing, di samping leipäjuusto susu rusa kutub tradisional.

Bulan lalu, Uni Eropa memberikan status “penunjukan asal yang dilindungi” kepada kaffeost atas inisiatif para pembuat keju lokal yang ingin melestarikan warisan kuliner mereka dan diharapkan dapat menarik minat para pencinta kopi yang penasaran untuk datang ke wilayah mereka.(yn)

Sumber: odditycentral

Selalu Hanya Peduli pada Diri Sendiri! Pelaku Emosional Sering Kali Tak Punya Rasa Empati

EtIndonesia. Beberapa pelaku pemerasan emosional (emotional blackmailer) memiliki tingkat empati yang sangat rendah. Mereka lebih mementingkan kebutuhan diri sendiri ketimbang memahami atau memperhatikan perasaan dan kebutuhan orang lain.

Bagi mereka, yang penting adalah apa yang mereka inginkan. Mereka sangat jarang menyadari bahwa orang lain juga punya kebutuhan dan batas. Dalam benak mereka, semua harus berpusat pada dirinya.

Mengapa ada orang yang bisa menjadi pelaku pemerasan emosional? Mereka mungkin adalah anggota keluarga, pasangan, sahabat, atau bahkan atasan dan rekan kerja kita.

Apa sebenarnya yang terjadi dalam pikiran mereka, sehingga terus menuntut kita secara emosional dan membuat kita merasa bersalah terus-menerus?

Mari kita lihat ciri-ciri khas dari pelaku pemerasan emosional berikut ini.

Hanya Memikirkan Diri Sendiri: Sebuah Kisah Nyata

“Saya sudah menjalin hubungan dengan tunangan saya selama 8 bulan. Awalnya dia bekerja di luar negeri, jadi kami jarang bertemu. Rencananya, setelah dia kembali ke Taiwan tahun ini, kami akan menikah.

Tapi sejak dia kembali dan kami jadi lebih sering bersama, saya mulai merasa ada yang tidak beres. Dia sering pergi makan, meeting, atau perjalanan dinas dengan wanita lain—entah itu rekan kerja, klien penting, atau ‘teman baik’-nya.

Suatu kali, dia bilang akan makan malam dengan ‘teman baik’-nya, tapi sampai tengah malam belum pulang. Saya akhirnya tidak tahan dan berkata bahwa saya merasa tidak nyaman dengan semua pertemuan pribadi dengan wanita lain itu. Saya minta agar setelah menikah nanti, dia bisa lebih menjaga batasan.

Namun yang terjadi malah sebaliknya—dia meledak secara emosional!”

“Dia bilang, ‘Awalnya kupikir kamu wanita yang cerdas, dewasa, dan mandiri, bukan tipe cemburuan kekanak-kanakan seperti ini. Ternyata kamu sama saja dengan wanita-wanita lain—selalu curiga! Ini bikin aku sakit hati!’

Dia bahkan menuduh saya tidak mencintainya, karena tidak mempercayainya, dan hanya ingin mengontrol hidupnya.

Dia berkata: ‘Kalau kamu seperti ini, sebaiknya pernikahan kita ditunda saja. Aku nggak sanggup hidup dalam pernikahan yang istri tiap hari nyuruh laporan posisi terus.’”

Mendengar ucapannya, saya sangat sedih. Padahal saya bukan tidak percaya, hanya merasa khawatir dan tidak nyaman karena dia terlalu sering bersama wanita lain dalam konteks pribadi.

Tapi setelah mendengarnya bicara seperti itu, saya mulai merasa bersalah. Mungkin saya memang terlalu posesif dan egois, tidak cukup memahami perasaannya…?”

Kurangnya Empati: Hanya Aku yang Penting

Banyak pelaku pemerasan emosional seperti pria dalam cerita tadi memiliki empati yang sangat rendah.

Yang mereka perhatikan hanyalah perasaan dan kepentingan mereka sendiri. Mereka sulit menyadari bahwa orang lain juga memiliki perasaan, kebutuhan, dan batasan yang valid.

Bahkan saat diberi tahu atau diingatkan oleh orang lain, mereka merasionalisasi pengabaian mereka, dan tetap merasa bahwa apa yang mereka inginkan lebih benar dan lebih penting daripada apa pun yang dirasakan orang lain.

Ketika Rasa Bersalah Dihadapi dengan Menyalahkan

Saat seseorang mengingatkan mereka: “Kamu cuma peduli pada dirimu sendiri dan mengorbankan perasaanku demi keinginanmu.”

Alih-alih merefleksi dan bertanya: “Apakah aku sudah menyakiti orang lain?”

Mereka justru langsung menyerang balik. Dengan menyalahkan orang lain, mereka bisa mengurangi rasa bersalahnya sendiri.

Mereka menggunakan strategi “balik menyerang”, agar bisa meyakinkan dirinya bahwa:

“Akulah yang disakiti.”

 “Akulah korbannya.”

 “Kamu yang tidak memahami aku.”

Seperti pria dalam kisah tadi—bukannya mencoba memahami mengapa pasangannya merasa tidak nyaman, dia malah menuduh balik, menyebut sang tunangan tidak dewasa, tidak pengertian, dan penuh kecurigaan.

Kenapa Mereka Begitu Defensif?

Pelaku pemerasan emosional sangat sulit menerima gagasan bahwa dirinya mungkin melakukan kesalahan.

Perasaan bahwa “aku bisa salah” membuat mereka sangat tidak nyaman.

Alih-alih menghadapi perasaan itu dengan kedewasaan, mereka memilih untuk:

·        Membesar-besarkan perasaan mereka sendiri.

·        Memutarbalikkan logika.

·        Membuat orang lain merasa bersalah.

Mereka menggunakan tekanan emosional seperti:

“Semua ini salahmu!”

“Kamu yang tidak peka!”

“Kalau saja kamu tidak seperti ini, aku tidak akan begini!”

Mereka Tak Pernah Belajar bahwa Hubungan Butuh Komunikasi

Inilah titik buta terbesar para pelaku pemerasan emosional:  Mereka tidak pernah belajar bahwa dalam hubungan, setiap masalah bisa dan perlu dibicarakan.

Mereka tidak tahu bahwa:

·        Memperhatikan kebutuhan orang lain bukan berarti mengalah total.

·        Mengubah sedikit sikap demi kenyamanan pasangan bukan berarti dirinya salah atau buruk.

Mungkin, sejak kecil mereka hidup dalam lingkungan yang meyakinkan mereka bahwa:

“Kesalahan = kegagalan = dirimu tidak berharga.”

Jadi, saat ada orang yang memberi masukan, mereka langsung panik dan merasa terancam.

Sebagai bentuk pertahanan diri, mereka memilih menyalahkan orang lain, agar tetap merasa nyaman dan merasa “benar”.

Penutup: Jangan Terjebak Rasa Bersalah yang Tidak Perlu

Jika Anda sedang berhadapan dengan orang yang kerap memeras Anda secara emosional, ingatlah: Memiliki perasaan tidak nyaman, ingin batasan yang sehat, atau meminta pengertian bukanlah kesalahan.

Jangan biarkan rasa bersalah palsu membuat Anda kehilangan suara dan martabat Anda dalam sebuah hubungan.

Empati, komunikasi, dan saling menghormati adalah pondasi hubungan yang sehat. Jika hanya satu pihak yang selalu merasa bersalah dan mengalah,  itu bukan cinta — itu adalah manipulasi. (jhn/yn)

Penelitian Terobosan: Manusia Mungkin Mengalami Dimensi Realitas Baru Saat Menjelang Ajal

EtIndonesia. Para ilmuwan dari Pusat Kesehatan NYU Langone di New York mencatat aktivitas gelombang otak pasien yang mengalami henti jantung untuk memahami apa yang terjadi pada kesadaran manusia setelah kematian. Temuan ini menjadi terobosan besar dalam studi pengalaman menjelang kematian (Near-Death Experience/NDE).

Para ilmuwan berhasil menyaksikan pola aktivitas otak seseorang menjelang kematian yang diyakini berkaitan dengan pengalaman umum NDE, seperti penglihatan mental yang sangat jelas, sensasi “keluar dari tubuh”, kilas balik kehidupan, dan kontak dengan dimensi realitas lain. Penelitian ini menjadi bukti komprehensif pertama yang menunjukkan bahwa ingatan dan aktivitas gelombang otak seseorang yang sedang sekarat sesuai dengan elemen-elemen umum dari pengalaman menjelang kematian.

Studi Global Berskala Besar

Penelitian ini dipimpin oleh dr. Sam Parnia, seorang dokter spesialis perawatan intensif dari NYU Langone Health, dan dilakukan selama beberapa tahun di 25 rumah sakit di seluruh dunia, melibatkan 567 pasien yang mengalami henti jantung.

Beberapa pasien berhasil diselamatkan melalui tindakan CPR, namun sebagian besar tidak dapat bertahan hidup. Dari puluhan pasien yang tercatat gelombang otaknya (EEG), para peneliti menemukan bahwa dalam satu jam setelah henti jantung, muncul peningkatan kesadaran otak.

Meskipun sebagian besar pasien meninggal, 53 orang berhasil diselamatkan, dan 11 di antaranya menyatakan memiliki kesadaran selama proses resusitasi, sementara 6 orang melaporkan mengalami pengalaman mendekati kematian.

Apa yang Terjadi di Otak Saat Mendekati Kematian?

Dr. Parnia dan timnya percaya bahwa peralihan antara hidup dan mati dapat memicu keadaan khusus di otak, yaitu terbukanya hambatan kesadaran (disinhibisi). Ini memungkinkan manusia untuk mengakses dimensi kesadaran yang lebih dalam, termasuk ingatan, pemikiran, niat, dan refleksi moral atas perilaku terhadap orang lain.

Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Resuscitation edisi Oktober, dan diakui memiliki dampak besar terhadap ilmu resusitasi, perawatan akhir hayat, dan studi tentang kesadaran.

Kesadaran Tak Hilang, Bahkan Semakin Tajam

Dalam wawancara telepon dengan Motherboard, dr. Parnia menyatakan:

“Pasien yang berhasil selamat dari henti jantung sering mengatakan bahwa mereka sepenuhnya sadar selama kejadian itu. Padahal dari sudut pandang medis, mereka seharusnya dalam kondisi koma, tidak bereaksi, dan berada di ambang kematian.”

“Namun secara batin, mereka mengalami kesadaran yang tidak hanya tetap ada, tetapi juga meningkat ke tingkat yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Pikiran mereka menjadi sangat tajam dan jernih.”

Kilas Balik Kehidupan yang Penuh Makna

Dr. Parnia menambahkan:n “Yang lebih mengejutkan, pengalaman ini sering melibatkan peninjauan kembali atas seluruh kehidupan mereka secara menyeluruh, bukan sekadar kilasan acak. Ini bukan peristiwa langka—berbagai studi menunjukkan bahwa sekitar 10% orang dewasa di dunia pernah mengalami hal ini.”

Jika diproyeksikan secara global, mungkin ada 400 hingga 500 juta orang yang pernah mengalami pengalaman mendekati kematian.

Mencari Jejak Kesadaran dalam Gelombang Otak

Karena pengalaman mendekati kematian memiliki pola dan tema yang konsisten lintas budaya, tim peneliti mulai mencari gelombang otak spesifik yang mungkin berkaitan dengan pengalaman ini.

Antara tahun 2017 hingga 2020, mereka mengamati ratusan pasien yang menerima CPR di rumah sakit Inggris dan Amerika Serikat.

Merekam EEG dalam situasi darurat seperti itu sangat menantang, karena hanya bisa dilakukan dalam jeda singkat saat kompresi dada dihentikan. Namun, tim berhasil menangkap biomarker kesadaran pada beberapa pasien, bahkan dalam periode yang cukup lama setelah jantung berhenti berdetak.

Kesadaran Tidak Hilang Dalam Hitungan Menit

“Yang unik dari studi ini adalah kami berhasil menciptakan metode ilmiah untuk menggunakan EEG dan monitor oksigen otak guna mengamati tanda-tanda kesadaran selama CPR,” jelas dr. Parnia.

“Kebanyakan dokter diajarkan bahwa otak akan mati setelah 5–10 menit kekurangan oksigen. Tapi hasil riset ini menunjukkan itu tidak benar. Gelombang otak memang datar beberapa detik setelah jantung berhenti, tapi bukan berarti otak rusak secara permanen—otak hanya seperti sedang ‘hibernasi’.”

“Kami menemukan bahwa bahkan hingga satu jam setelah henti jantung, otak masih bisa bereaksi dan memulihkan fungsinya—ini menciptakan jendela kesempatan baru bagi upaya penyelamatan pasien.”

Bukti Neurologis: Kesadaran Muncul Kembali

Penelitian ini menemukan bahwa: “Dalam waktu 35–60 menit setelah CPR, beberapa pasien menunjukkan aktivitas EEG yang hampir normal dan sesuai dengan kondisi sadar, bahkan mengindikasikan pemulihan fungsi kognitif dan jaringan saraf.”

Ini adalah laporan pertama yang menunjukkan biomarker kesadaran selama henti jantung dan proses resusitasi.

Kisah Nyata dan Simpulan Global

Penelitian ini sejalan dengan berbagai studi lain yang juga melaporkan:

·        Lonjakan aktivitas otak sesaat sebelum kematian,

·        Pola peralihan bertahap menuju kematian (bukan kematian mendadak),

·        Kesamaan narasi dalam pengalaman mendekati kematian di seluruh dunia.

Tim juga mewawancarai 28 pasien yang selamat dari henti jantung untuk mengetahui lebih dalam apa yang mereka alami. Peneliti menyimpulkan bahwa pengalaman itu sangat berbeda dari mimpi atau halusinasi yang muncul beberapa minggu setelahnya.

Tema Universal dalam Pengalaman Menjelang Kematian

Orang dari berbagai latar belakang budaya melaporkan pengalaman yang serupa:

·        Keluar dari tubuh (out-of-body experience),

·        Perjalanan ke tempat yang nyaman dan penuh kenangan,

·        Melihat seluruh perjalanan hidup secara moral dan emosional,

·        Merasa kembali ke jati diri dengan kedamaian.

Para peneliti percaya bahwa pengalaman ini mungkin dipicu oleh penurunan hambatan otak yang biasanya menahan kesadaran tingkat tinggi—membuka pintu ke dimensi realitas baru yang tak bisa diakses saat kita masih hidup sepenuhnya.

 “Ini Terjadi Secara Global dan Bersifat Nyata”

“Ketika kita mempelajari kisah orang-orang tentang pengalaman menjelang kematian, kita mendapati fenomena ini terjadi di seluruh dunia dan dengan pola yang serupa,” kata dr. Parnia.

“Kami menyimpulkan bahwa ini adalah pengalaman nyata yang hanya bisa terjadi saat seseorang sedang sekarat. Saat kita transisi dari hidup ke mati, entah bagaimana, kesadaran memasuki kondisi itu.”

Apa yang Terjadi pada Kesadaran Saat Kematian Datang?

“Apa yang kami temukan pada dasarnya berlaku bagi kita semua,” simpul dr. Parnia. “Saat kematian datang, ada sesuatu yang terjadi pada kesadaran kita. Kami berencana menggunakan pendekatan yang lebih menyeluruh untuk memetakan aktivitas otak secara detik demi detik selama proses menjelang kematian—membuat semacam peta neurologis kematian.”

Catatan Akhir:

Penelitian ini membuka pintu baru dalam ilmu kedokteran, kesadaran, dan bahkan spiritualitas. Ia menantang asumsi lama bahwa kematian adalah akhir dari segalanya. Mungkin, kematian justru adalah gerbang menuju dimensi baru dari eksistensi kita yang lebih dalam.(jhn/yn)

Wanita Thailand yang Diduga Merayu dan Memeras Biksu Buddha, Ditangkap

EtIndonesia. Polisi di Thailand menangkap seorang wanita pada hari Selasa (15/7) yang diduga merayu sejumlah biksu Buddha untuk melakukan hubungan seksual dan kemudian memeras mereka untuk membayar dalam jumlah besar guna menutupi keintiman mereka.

Kemungkinan pelanggaran aturan selibat bagi para biksu telah mengguncang lembaga-lembaga Buddha dan menarik perhatian publik di Thailand dalam beberapa pekan terakhir. Setidaknya sembilan kepala biara dan biksu senior yang terlibat dalam skandal tersebut telah dilucuti jubahnya dan dikeluarkan dari status kebiksuannya, kata Biro Investigasi Pusat Kepolisian Kerajaan Thailand.

Wilawan Emsawat, berusia pertengahan 30-an, ditangkap di rumahnya di Provinsi Nonthaburi, di utara ibu kota Bangkok, atas tuduhan pemerasan, pencucian uang, dan menerima barang curian. Polisi mengatakan mereka melacak uang yang ditransfer kepadanya oleh seorang biksu senior dari rekening bank milik kuilnya di Thailand utara.

Wilawan belum memberikan pernyataan sejak penangkapannya dan belum jelas apakah dia memiliki perwakilan hukum. Berbicara kepada media lokal sebelum penangkapannya, dia mengakui satu hubungan dan mengatakan dia telah memberikan uang kepada biksu tersebut.

Kasus ini juga menyoroti sejumlah besar uang yang disumbangkan ke kuil-kuil yang dikendalikan oleh para kepala biara, yang sangat kontras dengan kehidupan pantang yang seharusnya mereka jalani sesuai ajaran agama mereka.

Wilawan sengaja menargetkan biksu senior untuk keuntungan finansial, kata polisi, mencatat bahwa mereka menemukan beberapa biksu telah mentransfer sejumlah besar uang setelah Wilawan memulai hubungan romantis dengan mereka.

Rekening bank Wilawan menerima sekitar 385 juta baht (sekitar Rp 193 miliar) dalam tiga tahun terakhir, tetapi sebagian besar dana tersebut dihabiskan untuk situs web judi online, kata polisi.

Jaroonkiat Pankaew, wakil komisaris Biro Investigasi Pusat, mengatakan penyelidikan dimulai bulan lalu setelah seorang kepala biara dari sebuah kuil terkenal di Bangkok tiba-tiba meninggalkan kebhikkhuannya.

Penyelidik menemukan bahwa kepala biara tersebut diduga telah diperas oleh Wilawan atas hubungan romantis mereka. Dia memberi tahu biksu tersebut bahwa dia hamil dan memintanya untuk membayar bantuan keuangan sebesar 7,2 juta baht (sekitar Rp 3,6 miliar), ujar Jaroonkiat dalam konferensi pers di Bangkok, Selasa.

Polisi yakin “wanita ini berbahaya dan kami perlu menangkapnya sesegera mungkin,” kata Jaroonkiat.

Media Thailand melaporkan penggeledahan di ponselnya mengungkapkan puluhan ribu foto dan video, serta sejumlah catatan obrolan yang menunjukkan keintiman dengan beberapa biksu, banyak di antaranya dapat digunakan untuk pemerasan.

Para biksu Thailand sebagian besar adalah anggota sekte Theravada, yang mengharuskan mereka untuk hidup selibat dan bahkan tidak boleh menyentuh perempuan.

Pejabat Perdana Menteri Phumtham Wechayachai memerintahkan pihak berwenang untuk meninjau dan mempertimbangkan pengetatan undang-undang yang ada terkait biksu dan wihara, terutama transparansi keuangan wihara, untuk memulihkan kepercayaan pada agama Buddha, ujar juru bicara pemerintah Jirayu Houngsub, Selasa.

Biro Investigasi Pusat telah membuat halaman Facebook bagi masyarakat untuk melapor, kata Jaroonkiat.

“Kami akan menyelidiki para biksu di seluruh negeri,” ujarnya. “Saya yakin dampak dari penyelidikan ini akan membawa banyak perubahan.”(yn)

“Bisakah Anda Menyerang Moskow?” Trump Meminta Zelenskyy Membuat Putin “Merasakan Penderitaan”

EtIndonesia. Presiden AS, Donald Trump mengatakan dia “kecewa tetapi belum selesai” dengan mitranya dari Rusia, Vladimir Putin, yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengakhiri perang di Ukraina. Trump memberi batas waktu 50 hari kepada Moskow untuk mengakhiri konfliknya dengan Ukraina atau menghadapi sanksi 100 persen. Namun secara pribadi, dia dilaporkan juga mendorong Ukraina untuk meningkatkan serangan jauh ke wilayah Rusia — hingga Moskow atau St. Petersburg.

Menyuarakan rasa frustrasinya yang baru terhadap Moskow, Trump juga menetapkan kesepakatan dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk memasok Kyiv dengan bantuan militer baru yang disponsori oleh anggota aliansi tersebut.

Namun, perubahan sikap Trump sebelumnya untuk mengakhiri keterlibatan AS dalam konflik Rusia dilaporkan tidak tiba-tiba. Menurut laporan Financial Express, rasa frustrasi pemimpin AS terhadap Putin telah memuncak sejak lama.

Dalam panggilan telepon pada 4 Juli dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, dia mengusulkan penyediaan senjata jarak jauh ke Kyiv untuk menyerang target-target di Rusia.

“Volodymyr, bisakah Anda menyerang Moskow?… Bisakah Anda menyerang St. Petersburg juga?” Trump dilaporkan bertanya kepada Zelenskyy dalam panggilan tersebut.

Zelenskyy menjawab: “Tentu saja. Kami bisa jika Anda memberi kami senjata.”

Meskipun masih belum jelas apakah Washington akan mengirimkan senjata tersebut, Trump pada hari Minggu (13/7) mengatakan AS akan mengirim rudal pertahanan udara Patriot ke Ukraina. Dia mengatakan rudal tersebut diperlukan untuk mempertahankan negara karena Presiden Rusia, Vladimir Putin “berbicara manis tetapi kemudian dia mengebom semua orang di malam hari.”

Panggilan telepon Trump kepada Zelenskyy dilaporkan terjadi setelah dia berbicara dengan Putin dan merasa yakin bahwa Moskow tidak berencana untuk menghentikan mesin perangnya.

Langkah Presiden Amerika tersebut menggarisbawahi rasa frustrasinya yang semakin mendalam atas penolakan Putin untuk terlibat dalam perundingan gencatan senjata yang diusulkannya untuk mengakhiri perang yang pernah dia janjikan akan berakhir dalam sehari.

Trump telah mengisyaratkan bahwa perubahan sikapnya terhadap Rusia dimaksudkan untuk “membuat mereka [Rusia] merasakan penderitaan” dan memaksa Kremlin ke meja perundingan, menurut laporan Financial Times.

Trump juga memaksa Moskow dan Kyiv untuk membuka perundingan damai guna mengakhiri konflik yang kini telah memasuki tahun keempat. Namun, Rusia telah menolak seruan gencatan senjata dan meluncurkan sejumlah rekor drone dan rudal ke Ukraina dalam beberapa bulan terakhir.

Kremlin memperingatkan pada hari Selasa (15/7) bahwa janji Trump untuk menambah senjata bagi Kyiv dan ancaman sanksi yang menargetkan mitra dagang Rusia dapat membuat Ukraina semakin berani dan menunda upaya perdamaian yang telah terhenti.

“Tampaknya keputusan yang dibuat di Washington, negara-negara NATO, dan langsung di Brussel akan dianggap oleh Kyiv bukan sebagai sinyal perdamaian, melainkan sebagai sinyal kelanjutan perang,” ujar juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada para wartawan.

“Pernyataan Presiden Trump sangat serius. Kami tentu butuh waktu untuk menganalisis apa yang dikatakan di Washington,” ujarnya kepada wartawan, reaksi pertama Moskow terhadap komentar tersebut.(yn)