Daftar Negara dengan Penambahan Jutawan Terbanyak di Dunia Dirilis, Taiwan Catat Kenaikan yang Mengejutkan

EtIndonesia.com Statistik terbaru menunjukkan bahwa pada tahun 2025 terdapat hampir 1 juta jutawan baru (memiliki kekayaan bersih lebih dari 1 juta dolar AS) di seluruh dunia. Amerika Serikat menempati peringkat pertama dengan penambahan lebih dari 440.000 jutawan baru, atau hampir setengah dari total global. Inggris dan Prancis masing-masing berada di posisi kedua dan ketiga. Sementara itu, Taiwan menempati peringkat ke-13 dunia, menunjukkan pertumbuhan kekayaan yang kuat.

Menurut laporan Visual Capitalist, statistik tersebut menghitung jumlah individu dengan kekayaan bersih lebih dari 1 juta dolar AS yang baru muncul selama periode 2024–2025.

Amerika Serikat memimpin dengan penambahan 441.078 jutawan baru, jauh mengungguli negara lain dan menyumbang hampir separuh dari seluruh jutawan baru di dunia.

Negara-negara Eropa Mendominasi Peringkat

Eropa menunjukkan kinerja yang sangat baik dalam daftar tersebut. Selain:

  • Inggris (peringkat ke-2),
  • Prancis (peringkat ke-3),
  • Spanyol (peringkat ke-4),

negara-negara seperti:

  • Italia (peringkat ke-7),
  • Jerman (peringkat ke-9),
  • Irlandia,
  • Swiss,
  • Polandia,
  • Yunani,
  • Hungaria,
  • Latvia, dan
  • Lituania, juga berhasil masuk dalam 31 besar dunia.

Kondisi di Asia

Di kawasan Asia:

  • Jepang dan India masing-masing mencatat penambahan lebih dari 31.000 jutawan baru, menempati peringkat ke-5 dan ke-6.
  • Korea Selatan berada di peringkat ke-11.
  • Tiongkok di peringkat ke-12.
  • Taiwan berada di peringkat ke-13 dengan sekitar 9.864 jutawan baru, meskipun jumlah penduduknya relatif lebih sedikit.
  • Singapura berada di peringkat ke-22.
  • Hong Kong berada di peringkat ke-27.

Sepuluh Negara dengan Penambahan Jutawan Terbanyak

  1. Amerika Serikat – sekitar 441.000 orang
  2. Inggris – sekitar 43.000 orang
  3. Prancis – sekitar 34.000 orang
  4. Spanyol – sekitar 32.000 orang
  5. Jepang – sekitar 31.000 orang
  6. India – sekitar 31.000 orang
  7. Italia – sekitar 28.000 orang
  8. Australia – sekitar 25.000 orang
  9. Jerman – sekitar 24.000 orang
  10. Rusia – sekitar 21.000 orang

Faktor Pendorong Pertumbuhan Kekayaan

Laporan tersebut menyebutkan bahwa jumlah jutawan baru di Amerika Serikat jauh melampaui negara lain, bahkan lebih dari 10 kali lipat dibandingkan Inggris yang berada di posisi kedua.

Keunggulan tersebut didorong oleh beberapa faktor, antara lain:

  • kinerja pasar saham yang kuat,
  • tingginya partisipasi rumah tangga dalam investasi, dan
  • pertumbuhan ekonomi yang tetap stabil, sehingga nilai aset rumah tangga terus meningkat.

Laporan itu juga mencatat bahwa pada tahun 2025, hampir satu dari setiap dua jutawan baru di dunia berasal dari Amerika Serikat.

Sementara itu, pertumbuhan kekayaan di Asia menunjukkan dua pola yang berbeda:

  • India terus melahirkan kelompok orang kaya baru berkat pertumbuhan ekonomi yang pesat.
  • Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Hong Kong, sebagai pasar yang lebih matang, memperoleh manfaat dari kuatnya aset rumah tangga dan kenaikan pasar keuangan, sehingga jumlah jutawan baru terus bertambah.

Sumber : NTDTV.com

Penindasan PKT Melampaui Batas Negara, Praktisi Falun Gong Terus Melakukan Perlawanan Damai Selama 27 Tahun

EtIndonesia.com Penindasan yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok (PKT) terhadap praktisi Falun Gong telah meluas dari Tiongkok ke berbagai negara. Tindakan represi lintas negara terus meningkat. 

Bertepatan dengan peringatan 27 tahun perlawanan damai terhadap penganiayaan, berbagai tokoh di Kanada menyerukan agar masyarakat internasional memperhatikan dugaan penindasan PKT di luar negeri serta bersama-sama menentang tindakan tersebut demi melindungi kebebasan, hak asasi manusia, dan supremasi hukum.

Mantan anggota Parlemen Kanada Wladyslaw Lizon mengatakan: “Di Tiongkok, penganiayaan PKT terhadap Falun Gong masih terus berlangsung hingga hari ini, dan penindasan tersebut kini telah meluas ke luar negeri dalam berbagai bentuk.”

Para peserta kegiatan menyatakan bahwa tindakan represi lintas negara terhadap Falun Gong terus meningkat.

Pada 18 Juli 2026, lebih dari seribu praktisi dan pendukung Falun Gong mengadakan pawai besar-besaran di pusat kota Toronto, menyerukan kepada komunitas internasional untuk memperhatikan penganiayaan Falun Gong selama 27 tahun yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok. Para pejalan kaki berhenti untuk menyaksikan. (Evan/The Epoch Times)

Mereka mencontohkan Shen Yun Performing Arts, kelompok seni yang menampilkan budaya tradisional Tiongkok, yang dalam beberapa tahun terakhir juga disebut menjadi sasaran berbagai bentuk intimidasi, termasuk surat ancaman dan ancaman bom palsu.

Praktisi Falun Gong dari Toronto, Emily Liu, mengatakan: “PKT mendirikan kantor polisi rahasia di Kanada, memantau dan mengganggu praktisi Falun Dafa di luar negeri, serta mengganggu pertunjukan Shen Yun melalui surat ancaman dan ancaman bom.”

Praktisi Falun Gong dari Ottawa, Pam McLennan, mengatakan: “Shen Yun penting karena menceritakan tentang Tiongkok sebelum komunisme. Itulah salah satu hal yang paling ditentang PKT. Mereka tidak ingin orang mengetahui bahwa dunia dapat tetap ada tanpa komunisme, bahkan menjadi tempat yang lebih baik.”

Praktisi Falun Gong dari Ottawa, Wang Yang, menambahkan: “Ancaman bom palsu terhadap Shen Yun adalah tindakan yang hanya dilakukan oleh pihak yang jahat. Hal itu justru membuat masyarakat dunia semakin melihat wajah asli kejahatan PKT.”

Menurut para peserta, sasaran represi lintas negara PKT juga mencakup warga Hong Kong, etnis Uyghur, warga Tibet, para pembangkang politik, media, dan kalangan akademisi.

Dean Baxendale, Kepala Eksekutif China Democracy Foundation, mengatakan: “Demi menekan kebebasan beragama, hak-hak individu, dan kebebasan berbicara, PKT hampir tidak memiliki batas. Di mana pun berada, PKT akan menyusup ke berbagai kelompok untuk memperluas pengaruhnya di dunia.”

Sheng Xue, Wakil Ketua Global Federasi Demokrasi Tiongkok, mengatakan: “PKT telah melakukan infiltrasi dan kooptasi secara mendalam di seluruh dunia. Dengan memanfaatkan sumber daya, dana, dan kepentingannya, mereka memengaruhi banyak media, terutama media berbahasa Mandarin.”

Para peserta menyerukan agar negara-negara demokrasi bekerja sama menghentikan tindakan represi lintas negara yang dilakukan PKT serta menjaga kebebasan, hak asasi manusia, dan supremasi hukum.

Mantan anggota parlemen Provinsi Ontario, Jack MacLaren, mengatakan: “Kami dengan teguh mendukung para praktisi Falun Gong. Pemerintah kami harus berani mengatakan ‘tidak’ kepada Partai Komunis Tiongkok.”

Ketua Komite Partai Demokrasi Tiongkok di Kanada, Yu Houqiang, mengatakan: “Setiap orang Tiongkok harus berani berdiri demi kebebasan kita dan demi generasi berikutnya.”

Laporan oleh tim koresponden New Tang Dynasty Television di Kanada.

Hujan Lebat di Chili Tewaskan 13 Orang, Hancurkan 2.800 Rumah, Lebih dari 60.000 Warga Terisolasi

EtIndonesia.com Badai yang jarang terjadi melanda wilayah selatan Chili pada 15 Juli. Hingga 21 Juli, bencana tersebut telah menyebabkan sedikitnya 13 orang meninggal dunia, menghancurkan sekitar 2.800 rumah, dan membuat lebih dari 60.000 orang terisolasi akibat jalan-jalan yang rusak diterjang banjir dan longsor. Pemerintah telah menetapkan wilayah terdampak dalam status keadaan darurat sejak 20 Juli.

Menurut laporan Agence France-Presse (AFP), badai ini menerjang wilayah Coquimbo dan Atacama, yang biasanya dikenal sebagai daerah beriklim kering.

Kepala Layanan Nasional Penanggulangan Bencana Chili (Senapred), Alicia Cebrián, mengatakan kepada wartawan: “Hingga saat ini, tercatat 13 orang meninggal dunia dan 7 orang masih dinyatakan hilang.”

Pemerintah Chili menyatakan bahwa hujan deras telah menghancurkan sekitar 2.800 rumah. Selain itu, meluapnya sungai menyebabkan banyak jalan tertutup air dan lumpur, sehingga sejumlah kota dan permukiman terputus dari dunia luar.

Menteri Dalam Negeri Chili, Claudio Alvarado, mengatakan bahwa curah hujan diperkirakan akan mulai berkurang. Namun, ia mengingatkan bahwa risiko bencana masih tetap tinggi karena permukaan air di sungai dan kawasan lembah masih berada pada tingkat yang berbahaya.

Sumber : NTDTV.com

Iran Mengklaim Menghalangi Tiga Kapal Tanker Melintasi Selat Hormuz, Satu Di Antaranya Meledak dan Terbakar

EtIndonesia.com  Dalam beberapa hari terakhir, kelompok Houthi di Yaman mengancam akan memblokade jalur pelayaran Arab Saudi dan mengaku telah menyerang dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi. Pada Kamis (23 Juli), Arab Saudi mengonfirmasi bahwa salah satu kapal tanker tersebut memang diserang di Laut Merah.

Pada saat yang sama, Iran mengklaim telah menghentikan tiga kapal tanker yang berusaha melintasi Selat Hormuz, dan menyatakan bahwa salah satu kapal tersebut meledak serta terbakar.

Sebelumnya, kelompok pemberontak Houthi mengaku telah menyerang dua kapal tanker Arab Saudi, yaitu Encelia dan Layla, di Laut Merah.

Kantor Berita Saudi (Saudi Press Agency/SPA) kemudian mengutip seorang pejabat pemerintah yang mengkonfirmasi bahwa kapal tanker Encelia, yang dioperasikan oleh sebuah perusahaan Arab Saudi, diserang saat berlayar di Laut Merah. Namun, pernyataan tersebut tidak menyebutkan kondisi kapal tanker Layla.

Menurut pejabat tersebut, bagian haluan kapal Encelia terbakar, tetapi seluruh awak kapal berhasil selamat tanpa mengalami cedera.

Sementara itu, menurut laporan Agence France-Presse (AFP), Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan pada hari ini bahwa mereka telah menghentikan tiga kapal tanker yang mencoba melintasi Selat Hormuz.

Dalam pernyataan yang dikutip media pemerintah Iran, IRGC mengklaim bahwa ketiga kapal tanker tersebut berusaha melewati jalur pelayaran di bagian selatan Selat Hormuz yang dipenuhi ranjau laut. Salah satu kapal dilaporkan meledak dan terbakar, sedangkan dua kapal lainnya segera berbalik arah. Pernyataan itu tidak menjelaskan kapan insiden tersebut terjadi.

Belakangan ini, kelompok Houthi yang didukung Iran mengancam akan memberlakukan blokade terhadap jalur pelayaran Arab Saudi, sehingga semakin meningkatkan ketegangan di kawasan Laut Merah.

Selain itu, Houthi juga mengumumkan blokade terhadap Selat Bab el-Mandeb, sebuah jalur pelayaran strategis yang merupakan salah satu rute perdagangan global terpenting. Langkah tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu arus perdagangan internasional.

Sumber : NTDTV.com

Tidak Terduga! Layar Ponsel Seorang Pria Tiba-Tiba Menyala Tengah Malam, Uang Sekitar Rp 159,27 Juta Lebih Raib dalam Sekejap

EtIndonesia.com Berbagai modus penipuan digital di Tiongkok semakin sulit diantisipasi. Seorang pria bermarga Huang di Provinsi Hubei mengalami kejadian mengejutkan ketika layar ponselnya tiba-tiba menyala sendiri pada tengah malam. Istrinya yang terbangun kemudian mendapati hampir 60.000 yuan (sekitar Rp 159,27) sedang ditransfer secara ilegal dari rekening mereka melalui kendali jarak jauh.

Menurut laporan media Tiongkok Dahe Daily, beberapa waktu lalu Huang mengunduh sebuah aplikasi pembersih (cleaner) setelah ponsel lamanya mulai berjalan lambat. Aplikasi tersebut diunduh melalui iklan pop-up di browser.

Saat menginstalnya, Huang mengaku terbiasa menekan tombol “Izinkan” tanpa membaca dengan saksama, sehingga tanpa sadar memberikan izin Layanan Aksesibilitas (Accessibility Service) kepada aplikasi tersebut.

“Aplikasi itu memang berhasil membersihkan file sampah, jadi saya tidak terlalu memikirkannya,” ujar Huang.

Namun, tanpa disadarinya, tindakan itu justru membuka “pintu belakang” bagi pelaku penipuan.

Ketika Huang dan istrinya sedang tertidur, pelaku diduga menggunakan malware (trojan) yang telah ditanamkan di ponsel untuk mengendalikan perangkat dari jarak jauh. Mereka melakukan beberapa transaksi transfer dana di latar belakang tanpa memerlukan kata sandi maupun kode verifikasi, dan tanpa memunculkan notifikasi apa pun di layar.

Beruntung, istri Huang terbangun pada tengah malam karena melihat layar ponsel suaminya menyala sendiri. Setelah memeriksa, ia mendapati hampir 60.000 yuan telah dicuri. Pasangan itu segera melaporkan kejadian tersebut kepada polisi, dan untungnya seluruh kerugian berhasil dipulihkan.

Warganet: “Menakutkan!”

Kasus ini memicu kekhawatiran luas di media sosial.

Beberapa komentar warganet antara lain:

  • “Mengerikan.”
  • “Seram sekali, semuanya harus waspada.”
  • “Untung uang di ponsel saya tidak banyak, kalau tidak pasti berkeringat dingin.”

Seorang warganet juga menceritakan pengalaman serupa yang dialami rekan kerjanya:

“Baru saja membaca berita ini, langsung merinding. Kemarin rekan kerja saya juga mengeluh bahwa ponsel suaminya sedang diisi daya di atas meja dengan layar tetap menyala. Saat ia mengambilnya untuk melihat jam, aplikasi pembayaran ternyata sedang terbuka dengan saldo sekitar 60.000 yuan. Detik berikutnya muncul notifikasi bahwa transfer berhasil. Mereka langsung panik dan baru sadar ponsel itu telah dikendalikan dari jarak jauh. Tidak ada kode verifikasi yang diminta, uang langsung ditransfer.”

Ia menambahkan: “Yang paling parah, layar ponselnya memang terus menyala dan tidak terkunci. Kemungkinan sebelumnya pernah mengklik tautan phishing. Sekarang modus penipu benar-benar sulit dicegah. Bahkan ponsel yang menyala saja bisa dimanfaatkan. Sebaiknya atur waktu penguncian layar menjadi sesingkat mungkin, matikan pembayaran tanpa kata sandi (password-free payment), jangan menganggap langkah-langkah ini merepotkan. Uang 60.000 yuan itu dikumpulkan dengan susah payah.”

Warganet Pertanyakan Keamanan Bank

Sebagian warganet juga mempertanyakan sistem keamanan perbankan.

Ada yang berkomentar: “Mengambil uang tunai 60.000 yuan dari bank saja sangat sulit, tetapi bagi penipu justru begitu mudah mentransfernya.”

Yang lain menulis:

“Masalahnya ada pada bank. Saat menarik uang secara normal prosedurnya rumit, tetapi pencurian dana bisa terjadi dengan begitu mudah? Sayangnya, bank terlalu kuat sehingga masyarakat biasa sulit meminta pertanggungjawaban.”

Ada pula yang meminta informasi lebih rinci mengenai kasus tersebut:

“Bisakah berita ini menjelaskan lebih detail? Misalnya, ponselnya merek apa? Menggunakan kartu bank dari bank mana? Mengapa dana dalam jumlah besar bisa ditransfer dengan mudah? Saya sendiri pernah mencoba mentransfer 50.000 yuan sekaligus dan gagal pada hari itu juga. Untuk menaikkan batas transfer saja harus melalui panggilan telepon bahkan verifikasi identitas. Apakah ada celah yang bisa dimanfaatkan? Apakah aplikasi bajakan dapat melewati pembatasan tersebut?”

Saran untuk Mencegah Penipuan

Banyak warganet mengingatkan agar masyarakat berhati-hati saat mengunduh aplikasi.

Beberapa saran yang diberikan antara lain:

  • Unduh aplikasi hanya melalui toko aplikasi resmi.
  • Jangan memasang aplikasi dari iklan pop-up browser atau tautan yang tidak dikenal.
  • Hindari memberikan izin berisiko tinggi seperti Layanan Aksesibilitas (Accessibility Service), berbagi layar (screen sharing), atau fitur bantuan (assistive functions) jika tidak benar-benar diperlukan.
  • Periksa secara berkala daftar aplikasi yang terpasang di ponsel, dan segera hapus aplikasi yang tidak dikenal atau mencurigakan.

Sumber : NTDTV.com

Deplu AS Berjanji Melindungi Praktisi Falun Gong, Anggota Kongres dari Dua Partai Berupaya Menghentikan Represi Lintas Negara oleh PKT

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada Selasa (21 Juli) menyatakan kepada The Epoch Times bahwa Amerika Serikat berkomitmen untuk memerangi tindakan represi lintas negara yang dilakukan rezim Partai Komunis Tiongkok (PKT) di wilayah Amerika Serikat, serta melindungi kelompok-kelompok rentan, termasuk para praktisi Falun Gong. Anggota Kongres dari Partai Republik maupun Partai Demokrat juga mengecam dugaan pengambilan organ secara paksa yang dilakukan PKT.

EtIndonesia.com  Partai Komunis Tiongkok (PKT)  telah menganiaya Falun Gong secara keras selama 27 tahun. Dalam pernyataan yang dikirimkan kepada The Epoch Times pada 21 Juli, Departemen Luar Negeri AS menyatakan : “Kami berkomitmen untuk mempertahankan kedaulatan negara, menjaga keamanan masyarakat, dan melindungi individu dari campur tangan berlebihan oleh pemerintah atau rezim asing yang berupaya membungkam, mengintimidasi, melecehkan, menyakiti, atau memaksa individu di wilayah kami.”

Pernyataan tersebut juga menyebutkan bahwa: “Karena alasan politik, PKT telah melancarkan kampanye yang bertujuan memberantas praktik spiritual ini, dengan menargetkan para praktisi Falun Gong beserta keluarga mereka, baik di Tiongkok maupun di seluruh dunia.”

Departemen Luar Negeri AS menambahkan:”Tindakan represif PKT telah jauh melampaui batas wilayah Tiongkok. Pejabat Tiongkok (PKT) atau agen-agennya terus mengancam, melecehkan, dan mengintimidasi orang-orang yang mengkritik PKT di luar negeri, termasuk di Amerika Serikat.”

Falun Dafa atau Falun Gong adalah sebuah disiplin spiritual tradisional yang mencakup latihan meditasi dan ajaran moral yang berlandaskan pada prinsip Sejati, Baik, dan Sabar (Truthfulness, Compassion, Forbearance).

Pada Juli 1999, Partai Komunis Tiongkok (PKT) melancarkan kampanye penganiayaan secara nasional yang menargetkan praktisi Falun Gong.

Sejak saat itu, jutaan praktisi dilaporkan telah ditahan di penjara, kamp kerja paksa, dan berbagai fasilitas penahanan lainnya. Ratusan ribu orang dilaporkan mengalami penyiksaan, sementara ribuan lainnya telah terdokumentasi meninggal dunia, berdasarkan statistik yang dihimpun oleh Falun Dafa Information Center.

Praktisi Falun Gong berbaris dalam sebuah parade yang menyerukan diakhirinya 27 tahun penganiayaan yang terus berlangsung terhadap latihan spiritual tersebut oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT), di Kota New York, pada 19 Juli 2026. (Larry Dye/The Epoch Times)

Senator AS dari Partai Republik Rick Scott mengatakan: “Partai Komunis Tiongkok adalah ancaman langsung terhadap cara hidup Amerika dan juga musuh bagi rakyatnya sendiri. Saat kita memperingati 27 tahun aksi damai Falun Gong, kita kembali diingatkan akan kebrutalan PKT, penggunaan pekerja anak, pengambilan organ secara paksa, serta pelanggaran hak asasi manusia yang terus berlangsung.”

Sejumlah anggota Kongres AS mengecam penganiayaan PKT terhadap Falun Gong. Mereka juga menyoroti upaya represi lintas negara yang dilakukan PKT melalui jalur diplomatik, hukum, dan berbagai bentuk campur tangan untuk menghambat pertunjukan Shen Yun Performing Arts di Amerika Serikat.

Anggota DPR AS dari Partai Republik Young Kim mengatakan: “Kontrol PKT tidak berhenti di dalam perbatasan Republik Rakyat Tiongkok. Bahkan di Amerika Serikat, Beijing berusaha membungkam Shen Yun dan menargetkan praktisi Falun Gong yang tidak bersalah melalui pelecehan dan intimidasi.”

Pada Mei 2025, DPR AS meloloskan Falun Gong Protection Act, sebuah rancangan undang-undang yang didorong oleh anggota Kongres dari kedua partai. Senator Partai Republik Ted Cruz menyatakan akan terus mendorong agar RUU tersebut disahkan menjadi undang-undang.

“Rancangan undang-undang saya baru saja disetujui dengan suara bulat oleh Komite Hubungan Luar Negeri Senat. Saya akan terus memperjuangkannya hingga disahkan menjadi undang-undang dan ditandatangani oleh Presiden, karena kita harus menggunakan seluruh pengaruh dan kekuatan Amerika Serikat untuk menghentikan penganiayaan yang mengerikan dan pelanggaran hak asasi manusia yang memalukan ini,” katanya. 

Praktisi Falun Gong mengikuti aksi renungan dengan menyalakan lilin di Kota New York untuk memperingati 27 tahun penganiayaan terhadap Falun Gong oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT), pada 20 Juli 2026. (Larry Dye/The Epoch Times)

Komisi Eksekutif Kongres Amerika Serikat untuk Urusan Tiongkok (CECC) juga menerbitkan pernyataan yang mengungkap berbagai dugaan pelanggaran PKT, mulai dari penyiksaan, pengambilan organ secara paksa, hingga represi lintas negara. CECC menyatakan bahwa masih terlalu banyak praktisi Falun Gong yang dipenjara, dan bahwa kebebasan serta keadilan bagi mereka harus menjadi prioritas Amerika Serikat dan semua negara yang menjunjung tinggi kebebasan.

Senator Partai Republik Todd Young mengatakan: “Saya percaya negara kita memiliki tanggung jawab moral untuk memperjuangkan hak asasi manusia, baik di dalam maupun di luar negeri. Hal ini mencakup menghadapi pelanggaran yang dilakukan PKT, mencegah terjadinya penganiayaan di masa depan, dan bekerja sama dengan para sekutu untuk memajukan kebebasan dan keadilan di seluruh dunia.”

Selain itu, sembilan anggota Kongres dari kedua partai juga mengeluarkan pernyataan yang menyatakan dukungan kepada Falun Gong, yaitu Chris Smith, French Hill, Sam Graves, Joe Wilson, Jack Bergman, Gus Bilirakis, Tom Tiffany, Emanuel Cleaver, dan Ryan Mackenzie. Mereka menyerukan agar Amerika Serikat menuntut PKT membebaskan seluruh praktisi Falun Gong yang ditahan secara tidak sah, serta menjatuhkan sanksi kepada para pejabat PKT yang terlibat dalam penganiayaan tersebut.

Laporan gabungan Hu Zonghan dan Qiu Chunrong, New Tang Dynasty Asia-Pacific Television

Tiongkok dan Rusia Diam-Diam Bantu Iran! Menteri Perang AS Pete Hegseth Ungkap Informasi Mengejutkan dalam Sidang Dengar Pendapat Pentagon

EtIndonesia.com Menteri Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth, pada Selasa (21/7/2026) menyatakan dalam sidang dengar pendapat di Senat bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan Rusia, dalam tingkat yang berbeda, telah memberikan dukungan kepada Iran selama perang antara Amerika Serikat dan Iran. Sidang tersebut terutama membahas permintaan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menyetujui tambahan anggaran perang.

Di sisi lain, Menteri Pertanian AS Brooke Rollins juga mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa perusahaan daging babi terbesar di Amerika Serikat ternyata dikendalikan oleh sebuah perusahaan asal Tiongkok.

“Saya berharap sebagian orang di ruangan ini benar-benar menyadari betapa besarnya arti sejarah dari tindakan yang sedang dilakukan Presiden Trump saat ini! Apakah kalian ingin kaum  radikal memiliki senjata nuklir dan mengancam seluruh dunia?” katanya. 

Hegseth menjelaskan bahwa Amerika Serikat memiliki berbagai cara untuk menghalangi musuh, namun rincian mengenai skala dan cakupan operasi tersebut merupakan informasi rahasia sehingga tidak dapat dipublikasikan.

Ia menambahkan : “Kami telah memindahkan hampir 500 juta barel minyak tepat di bawah pengawasan Iran, lalu menyimpannya di fasilitas bawah tanah.”

“Kami menjalankan operasi secara rahasia karena bertindak tanpa banyak publikasi jauh lebih efektif daripada mengumumkannya secara terbuka. Faktanya, kami telah mengendalikan situasi selama cukup lama.”

Dalam sidang tersebut, Hegseth menyatakan bahwa PKT dan Rusia sama-sama memberikan bantuan kepada Iran dengan berbagai cara selama konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Sebelumnya, sejumlah media mengutip informasi intelijen Amerika Serikat yang menyebutkan bahwa PKT sedang bersiap mengirim sistem pertahanan udara baru kepada Iran. Sementara itu, laporan intelijen lain menyebutkan bahwa Rusia pernah memberikan informasi mengenai lokasi dan pergerakan pasukan, kapal perang, serta pesawat militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah kepada Iran.

Ketua Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, Jenderal Dan Caine, yang juga hadir dalam sidang tersebut, mengatakan bahwa Amerika Serikat saat ini menghadapi berbagai ancaman secara bersamaan di Timur Tengah, Eropa, dan kawasan Pasifik, mulai dari ancaman senjata nuklir, kekuatan militer konvensional hingga terorisme.

Caine menegaskan bahwa para lawan Amerika kini semakin memperkuat kerja sama berdasarkan kepentingan masing-masing, saling berbagi intelijen dan teknologi, serta memberikan tekanan kepada Amerika Serikat di berbagai bidang secara bersamaan.

Ia juga menekankan bahwa bentuk peperangan berkembang sangat cepat. Medan perang saat ini telah meluas dari bawah laut hingga ke luar angkasa dan dunia siber. Karena itu, militer AS harus siap bertempur di seluruh domain tersebut.

Sementara itu, Hegseth mengatakan bahwa meskipun Iran masih memiliki kemampuan militer tertentu, setelah serangan Amerika Serikat, kekuatan militer Iran telah turun ke tingkat terendah setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir, bahkan mungkin sejak 47 tahun terakhir.

Menurutnya, keberhasilan serangan militer Amerika terhadap Iran juga menunjukkan pentingnya Kongres segera menyetujui tambahan anggaran pertahanan guna mendukung operasi militer selanjutnya.

Mengenai biaya perang, Hegseth menyebut konflik Amerika Serikat-Iran sejauh ini telah menghabiskan sekitar 37,5 miliar dolar AS, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

Namun, ia menegaskan bahwa permintaan pemerintahan Trump untuk tambahan anggaran hampir 80 miliar dolar AS merupakan kebutuhan yang mendesak dan sangat penting. Tanpa dana tersebut, militer AS berisiko mengalami kekurangan persenjataan, amunisi, serta dukungan logistik.

“Saya duduk di hadapan komite ini. Kalian ingin membahas bagaimana memenangkan perang yang sudah berlangsung selama empat tahun, tetapi justru menyebut konflik yang hanya berlangsung empat bulan—yang bertujuan mencegah Iran memperoleh senjata nuklir—sebagai ‘kegagalan strategis’,” ujarnya. 

Saat ini, anggota Partai Republik mengajukan rancangan anggaran baru senilai sekitar 95 miliar dolar AS, yang mencakup:

  • 60 miliar dolar AS untuk biaya perang,
  • 12 miliar dolar AS untuk pengeluaran keamanan nasional lainnya,
  • 10 miliar dolar AS untuk bantuan sektor pertanian,
  • 10 miliar dolar AS untuk pelaksanaan undang-undang terkait pemilu.

Dalam sidang yang sama, Menteri Pertanian AS Brooke Rollins juga memperingatkan bahwa perusahaan daging babi terbesar di Amerika Serikat dimiliki oleh perusahaan asal Tiongkok. Selain itu, industri pengolahan daging, pupuk, dan benih semakin dikuasai oleh segelintir perusahaan besar, yang menurutnya menimbulkan risiko serius terhadap keamanan nasional.

“Saat ini, hampir 85% kapasitas pengolahan daging di Amerika Serikat hanya dikuasai oleh empat perusahaan, termasuk dua perusahaan asing. Selain itu, perusahaan daging babi terbesar di Amerika dimiliki oleh perusahaan asal Tiongkok,” ujarnya. 

“Empat perusahaan pupuk kini menguasai 78% produksi nasional, padahal beberapa dekade lalu masih ada puluhan perusahaan yang berproduksi,” katanya. 

“Sementara itu, dua perusahaan benih memproduksi lebih dari 50% benih yang digunakan di seluruh Amerika Serikat,” jelasnya. 

“Semua kondisi ini berkaitan langsung dengan isu keamanan nasional,” pungkasnya. 

Dilaporkan oleh Liu Jiajia, New Tang Dynasty Television, Amerika Serikat.

Menurunkan Berat Badan dan Mengubah Penampilan adalah Dua Proyek yang Berbeda

 Chen Jing – Visiontimes.com

Kebanyakan orang hanya menjalankan proyek yang pertama. Itulah sebabnya angka di timbangan turun, tetapi bayangan di cermin tampak tidak banyak berubah.

Anda bisa kehilangan berat badan hingga sekitar tujuh kilogram, tetapi justru terlihat lebih buruk. Hal itu sering terjadi karena istilah “menjadi kurus” sebenarnya mencakup tiga proyek yang sama sekali berbeda. Jika memilih pendekatan yang keliru, Anda bisa menghabiskan enam bulan untuk mencapai hasil yang sebenarnya tidak pernah Anda inginkan.

Prinsip dasarnya sederhana. Jika Anda mengonsumsi kalori lebih sedikit daripada yang dibakar tubuh, angka di timbangan akan turun. Di sinilah kebanyakan orang berhenti. Jika Anda tetap berlatih secara rutin dan mengonsumsi protein yang cukup, berat yang hilang akan lebih banyak berasal dari lemak daripada otot. Jika kemudian Anda menambahkan latihan beban, latihan kardio secara teratur, dan berhenti menganggap roti sebagai musuh utama, Anda akan mulai mengurangi lemak yang benar-benar penting, termasuk lemak yang menyelimuti organ-organ dalam tubuh, sementara otot di bawahnya mulai terlihat. Defisit kalori yang dijalankan mungkin sama, tetapi hasil akhir pada tubuh bisa sangat berbeda.

Orang yang benar-benar memahami kebugaran tidak menimbang berat badan dua kali sehari. Mereka memperhatikan perbandingan antara massa otot dan lemak, kondisi lemak di sekitar organ tubuh, serta kemampuan tubuh bergerak dengan baik. Timbangan hanya menunjukkan satu angka dan tidak mampu membedakan apakah berat itu berasal dari otot, air, atau bahkan makan malam semalam.

Diet Kelaparan Mengikis Otot, Padahal Otot Menjaga Metabolisme Tetap Tinggi

Pendekatan klasik adalah makan lebih sedikit, bergerak lebih banyak, lalu melihat angka di timbangan turun. Secara logika memang benar. Jika tubuh terus-menerus berada dalam defisit kalori, ia akan mengambil energi dari cadangan yang tersimpan.

Namun, yang sering dilakukan orang jauh lebih ekstrem. Mereka memangkas makanan secara drastis tetapi hampir tidak bergerak. Ada pula yang melakukan kardio habis-habisan sambil nyaris tidak makan makanan bergizi. Sebagian lagi menghilangkan karbohidrat dan lemak sepenuhnya, lalu bertahan sekuat tenaga.

Tubuh membaca semua itu sebagai kondisi kekurangan. Akibatnya, air tubuh berkurang, cadangan glikogen menyusut, sebagian lemak hilang, tetapi massa otot juga ikut terkikis.

Padahal, otot adalah hal yang paling tidak boleh hilang. Otot merupakan “mesin” yang terus bekerja di belakang layar dan menentukan berapa banyak kalori yang dibakar tubuh bahkan saat Anda tidak melakukan apa pun. Ketika massa otot berkurang, metabolisme dasar ikut melambat sehingga tubuh lebih mudah menyimpan kelebihan kalori sebagai lemak.

Inilah penjelasan di balik keluhan, “Saya cuma melihat makanan saja sudah naik berat badan.” Banyak orang menurunkan berat badan dengan cara menyiksa diri, tubuh mereka menjadi lemas dan kehilangan bentuk. Ketika kembali makan secara normal, berat badan pun naik lagi dengan cepat. Timbangan memang mengikuti aturan, tetapi bentuk tubuh tidak.

Protein Saja Tidak Cukup untuk Membentuk Tubuh Ideal

Begitu orang menyadari pentingnya menjaga massa otot, solusi yang biasanya dipilih adalah menjalani defisit kalori moderat sambil memperbanyak konsumsi protein. Ini memang jauh lebih baik, dan protein layak mendapat perhatian karena dua alasan utama.

Pertama, tubuh membutuhkan energi lebih besar untuk mencerna protein. Proses mencerna makanan juga membakar kalori, yang dikenal sebagai thermic effect of food. Di antara semua zat gizi, protein membutuhkan energi paling besar untuk diproses. Sekitar 20–30 persen kalori dari protein habis hanya untuk proses pencernaannya. Sebagai perbandingan, karbohidrat hanya membutuhkan sekitar 5–10 persen, sedangkan lemak hampir tidak membutuhkan energi tambahan, hanya sekitar 0–3 persen.

Artinya, jika Anda mengonsumsi 100 kalori dari lemak, hampir semuanya tersimpan sebagai energi. Sebaliknya, jika Anda mengonsumsi 100 kalori dari protein, sekitar 20–30 kalori langsung digunakan tubuh untuk memprosesnya.

Kedua, protein membantu mempertahankan massa otot ketika asupan kalori dibatasi.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition melibatkan 40 pria muda dengan berat badan berlebih. Mereka menjalani pengurangan kalori sebesar 40 persen, sambil melakukan latihan beban dan sprint enam hari setiap minggu selama satu bulan—sebuah program yang sangat berat.

Kelompok yang mengonsumsi 2,4 gram protein per kilogram berat badan justru memperoleh tambahan sekitar 1,2 kilogram massa otot tanpa lemak, sekaligus kehilangan sekitar 4,8 kilogram lemak. Sementara kelompok yang hanya mengonsumsi setengah jumlah protein tersebut mampu mempertahankan massa ototnya dan kehilangan sekitar 3,5 kilogram lemak. Tidak ada peserta yang kehilangan massa otot, tetapi kelompok dengan asupan protein tinggi memperoleh hasil yang lebih baik dalam hampir semua aspek.

Berdasarkan meta-analisis terhadap 49 penelitian yang diterbitkan dalam British Journal of Sports Medicine, kebutuhan protein optimal berkisar antara 1,6 hingga 2,2 gram per kilogram berat badan per hari. Setelah melewati sekitar 1,6 gram per kilogram, tambahan protein tidak lagi memberikan peningkatan massa otot yang berarti.

Bagi seseorang dengan berat badan 60 kilogram, jumlah tersebut setara dengan sekitar 100–130 gram protein per hari. Angka ini lebih banyak daripada yang dibayangkan kebanyakan orang, sehingga sebaiknya dibagi ke dalam beberapa kali makan. Biasakan pula mengisi piring dengan protein dan sayuran terlebih dahulu sebelum menambahkan karbohidrat.

Pendekatan ini memang menurunkan persentase lemak tubuh sekaligus menjaga bentuk tubuh jauh lebih baik dibandingkan diet kelaparan. Namun, banyak orang berhenti sampai di sini. Jika Anda hanya mengejar penurunan lemak tanpa latihan beban, tubuh memang menjadi lebih kecil, tetapi tetap tidak memiliki definisi otot, sementara peningkatan metabolisme juga sangat terbatas.

Lemak Visceral Lebih Efektif Dikurangi dengan Kardio

Tubuh yang sering ditampilkan di media sosial dan aplikasi kebugaran memiliki ciri khas: garis otot terlihat jelas, perut six-pack, bokong kencang, dan lengan yang padat. Keinginan memiliki bentuk tubuh seperti itu tentu wajar. Namun, jika hanya mengejarnya dengan latihan untuk membentuk bagian tubuh tertentu, Anda bisa mengabaikan masalah yang jauh lebih penting, yakni lemak yang tidak terlihat.

Latihan beban merupakan bagian yang sering diremehkan. Latihan ini menciptakan kerusakan mikro pada serat otot yang kemudian diperbaiki tubuh menjadi jaringan otot yang lebih kuat dan padat. Proses inilah yang membentuk tubuh lebih kencang sekaligus membantu mempertahankan metabolisme saat istirahat. Diet maupun lari saja tidak mampu memberikan manfaat tersebut.

Latihan beban juga membantu menjaga massa otot selama defisit kalori. Bahkan bagi pemula atau mereka yang baru kembali berolahraga setelah lama berhenti, latihan beban masih dapat menambah massa otot meski sedang menjalani defisit kalori. Di dunia kebugaran, fenomena ini dikenal sebagai newbie gains, dan memang nyata, meski tidak berlangsung selamanya.

Di sisi lain, ada jenis lemak yang tidak tampak dari luar, yaitu lemak visceral. Lemak ini berada jauh di dalam rongga perut dan menyelimuti organ-organ seperti hati, pankreas, serta usus. Seseorang dapat memiliki lemak visceral dalam jumlah besar tanpa terlihat gemuk, dan justru itulah yang membuatnya berbahaya.

Lemak visceral memiliki hubungan yang sangat erat dengan resistensi insulin, diabetes tipe 2, penyakit jantung, serta penyakit hati berlemak.

Meta-analisis yang diterbitkan dalam Obesity Reviews menggabungkan 35 uji klinis acak terhadap orang dewasa dengan kelebihan berat badan dan obesitas. Semua penelitian tersebut mengukur lemak visceral secara langsung menggunakan CT scan atau MRI.

Hasilnya menunjukkan bahwa latihan aerobik atau kardio secara signifikan mampu mengurangi lemak visceral. Sebaliknya, latihan beban saja tidak memberikan hasil yang sama. Program yang mengombinasikan keduanya juga belum menunjukkan bukti yang cukup kuat karena hanya sedikit penelitian yang mengujinya.

Kesimpulan para peneliti cukup tegas: jika target utamanya adalah mengurangi lemak visceral, maka latihan kardio merupakan komponen yang paling penting, bahkan mungkin tidak perlu dilakukan sebanyak yang direkomendasikan dalam pedoman umum.

Analisis lain yang dipublikasikan dalam Frontiers in Physiology memang menemukan bahwa kombinasi latihan beban dan kardio memberikan hasil terbaik. Namun, penelitian tersebut dilakukan pada peserta berusia 6 hingga 24 tahun sehingga hasilnya belum tentu dapat langsung diterapkan pada orang dewasa.

Dengan kata lain, latihan beban dan kardio memiliki fungsi yang berbeda. Latihan beban bertujuan membangun otot, meningkatkan kekuatan, dan menjaga metabolisme. Sementara latihan kardio berfungsi mengurangi lemak yang mengelilingi organ-organ tubuh.

Jangan Menghapus Karbohidrat Sepenuhnya

Begitu mendengar istilah “membakar lemak”, banyak orang langsung menghilangkan karbohidrat dari menu makan mereka. Cara ini memang dapat menurunkan berat badan dengan cepat pada awalnya.

Namun, dampak negatifnya tidak sedikit. Performa latihan menurun, energi terkuras, suasana hati memburuk, dan dalam jangka panjang keseimbangan hormon pada sebagian orang dapat terganggu.

Karbohidrat merupakan bahan bakar utama untuk latihan beban maupun aktivitas fisik berintensitas sedang hingga tinggi. Energi tersebut disimpan dalam bentuk glikogen di otot dan hati.

Jika berlatih tanpa cadangan karbohidrat yang cukup, tubuh seperti kendaraan yang kehabisan bensin. Kemampuan mengangkat beban melemah, total volume latihan menurun, dan otot yang ingin Anda bentuk justru tidak pernah berkembang.

Stres Kronis Dapat Menggagalkan Semua Usaha

Ada satu faktor yang sering luput dari perhatian, yaitu stres berkepanjangan.

Stres kronis membuat kadar hormon kortisol tetap tinggi. Lemak di area perut sangat peka terhadap kortisol karena jaringan lemak di bagian tersebut memiliki kepadatan reseptor glukokortikoid yang jauh lebih tinggi dibandingkan bagian tubuh lainnya. Selain itu, aliran darahnya juga lebih besar dan jumlah sel lemaknya lebih banyak. Dengan kata lain, kortisol memiliki lebih banyak “tempat menempel” di area perut.

Itulah sebabnya kenaikan berat badan akibat stres biasanya pertama kali terlihat pada lingkar pinggang.

Jika Anda kurang tidur selama berbulan-bulan dan terus berada di bawah tekanan pekerjaan, bahkan program latihan terbaik sekalipun tidak akan memberikan hasil optimal. Justru satu jam latihan di pusat kebugaran adalah bagian yang paling mudah.

Timbangan Bukan Penentu Keberhasilan

Jika semua dilakukan dengan benar, hasil akhirnya bukan sekadar angka yang lebih kecil di timbangan. Anda akan memiliki tubuh yang tetap proporsional, lingkar pinggang yang lebih ramping, organ-organ yang tidak lagi dipenuhi lemak berbahaya, serta kemampuan fisik yang lebih baik untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Pada tahap itu, berapa angka yang ditunjukkan timbangan sebenarnya sudah tidak lagi menjadi hal yang paling penting.

Trump Mengamuk ! Infrastruktur Iran Resmi Jadi Target, Teheran Ancam Lumpuhkan Minyak Dunia

EtIndonesia.com– Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki babak yang lebih serius. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan paling keras sejak konflik terbaru pecah dengan menegaskan bahwa setiap serangan Iran di Selat Hormuz akan dibalas secara langsung dengan penghancuran infrastruktur strategis di wilayah Iran.

Di saat yang sama, Amerika Serikat juga mengumumkan langkah strategis lain yang dinilai akan mengubah keseimbangan geopolitik Timur Tengah, yakni persetujuan kerja sama energi nuklir sipil dengan Arab Saudi selama 30 tahun.

Perkembangan tersebut terjadi ketika militer Amerika Serikat terus melanjutkan operasi udara terhadap berbagai sasaran militer Iran, sementara Teheran merespons dengan ancaman balasan yang menyasar infrastruktur energi dan jalur ekspor minyak di kawasan Teluk.

Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Iran

Pada Selasa, 22 Juli 2026, Presiden Donald Trump melalui akun media sosial Truth Social menyampaikan peringatan keras kepada pemerintah Iran.

Dalam unggahannya, Trump menegaskan bahwa setiap kali Iran kembali melakukan serangan terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, Amerika Serikat akan membalas dengan menghancurkan satu jembatan atau satu pembangkit listrik di wilayah Iran.

Pernyataan tersebut dipandang sebagai perubahan besar dalam strategi Washington. Jika sebelumnya sasaran utama operasi militer Amerika lebih banyak difokuskan pada instalasi militer Iran, kali ini Trump secara terbuka menyebut kemungkinan menyerang infrastruktur sipil strategis yang menopang aktivitas ekonomi dan transportasi negara tersebut.

Banyak pengamat menilai pernyataan itu merupakan sinyal bahwa Gedung Putih tidak lagi hanya berupaya melemahkan kemampuan tempur Iran, tetapi juga meningkatkan tekanan terhadap kemampuan negara tersebut mempertahankan stabilitas nasional.

Trump Hadiri Upacara Penghormatan Prajurit AS yang Gugur

Tidak lama setelah mengeluarkan pernyataan tersebut, Trump bertolak menuju Pangkalan Angkatan Udara Dover, Delaware, untuk menghadiri upacara pemulangan jenazah prajurit Amerika Serikat yang gugur akibat serangan di Yordania.

Upacara tersebut merupakan prosesi militer resmi untuk menghormati personel Angkatan Bersenjata Amerika yang tewas dalam menjalankan tugas.

Usai menghadiri acara tersebut, Trump kembali mengunggah ulang sebuah artikel yang sebelumnya diterbitkan tiga hari lebih awal melalui Truth Social.

Artikel tersebut memuat kalimat yang berbunyi:

“Trump memerintahkan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) untuk membuka gerbang neraka dan melancarkan serangan terhadap Iran.”

Unggahan ulang itu semakin mempertegas bahwa pemerintahan Trump tidak menunjukkan tanda-tanda akan melonggarkan tekanan terhadap Teheran.

Iran Disebut Akan Membayar Harga Sangat Mahal

Sebelum berangkat menuju Dover, Trump sempat berbicara kepada wartawan di bandara.

Ia menyatakan bahwa penyelidikan terhadap serangan yang menewaskan sejumlah prajurit Amerika di Yordania masih terus berlangsung.

Meski demikian, Trump menegaskan bahwa Iran akan menerima konsekuensi yang sangat berat apabila terbukti bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Washington masih membuka kemungkinan tindakan militer lanjutan sebagai bagian dari respons terhadap serangan yang menewaskan personel militernya.

Analis: Strategi AS Berubah, Kini Menyasar Stabilitas Nasional Iran

Sejumlah analis keamanan internasional menilai pernyataan terbaru Trump telah mengubah karakter konflik yang selama ini berkembang di kawasan Teluk Persia.

Apabila sebelumnya konfrontasi lebih banyak terjadi dalam bentuk bentrokan laut, serangan terhadap kapal, maupun operasi militer terbatas, kini Amerika Serikat mulai memberikan ancaman langsung terhadap infrastruktur nasional Iran.

Target yang disebut Trump, seperti jaringan pembangkit listrik dan simpul transportasi strategis, dinilai berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi maupun kehidupan masyarakat apabila benar-benar menjadi sasaran serangan.

Dengan demikian, konflik tidak lagi sekadar berkisar pada perebutan kendali jalur pelayaran di Selat Hormuz, tetapi mulai menyentuh aspek yang dapat memengaruhi keberlangsungan sistem ekonomi nasional Iran.

Para pengamat juga menilai “garis merah” baru yang ditetapkan Trump mengirimkan pesan bahwa strategi perang asimetris berskala terbatas yang selama ini digunakan Iran kini berpotensi memicu serangan langsung terhadap infrastruktur vital negara tersebut.


Iran Balas dengan Ancaman Menutup Jalur Energi Dunia

Di tengah meningkatnya tekanan dari Washington, Iran kembali mengeluarkan pernyataan balasan yang tidak kalah keras.

Markas Komando Pusat Khatam al-Anbiya, salah satu struktur komando utama militer Iran, menyatakan bahwa Selat Hormuz tetap berada dalam status penutupan.

Komando tersebut juga memperingatkan bahwa apabila Amerika Serikat benar-benar menjalankan ancaman terhadap infrastruktur Iran, Teheran akan memberikan respons melalui berbagai langkah strategis.

Iran mengancam akan:

  • menghentikan seluruh arus ekspor minyak dari kawasan Teluk;
  • menyerang fasilitas produksi minyak;
  • menyerang instalasi gas alam;
  • menyerang pembangkit listrik;
  • menghancurkan berbagai infrastruktur ekonomi strategis di kawasan.

Ancaman tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran pasar energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia.

Ketua Parlemen Iran: Jika Iran Tidak Aman, Tak Ada Infrastruktur yang Aman

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, turut menyampaikan peringatan keras.

Menurutnya, “Apabila keamanan Iran tidak dapat dijamin, maka tidak akan ada satu pun infrastruktur yang benar-benar aman.”

Ia juga menambahkan bahwa apabila Iran tidak diperbolehkan mengekspor minyak ke pasar internasional, maka negara-negara lain juga tidak seharusnya dapat menikmati kebebasan mengekspor minyak mereka.

Pernyataan tersebut dipandang sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas pasar energi internasional apabila konflik terus meningkat.


AS Resmikan Kerja Sama Nuklir Sipil dengan Arab Saudi

Di tengah meningkatnya konflik dengan Iran, media-media Amerika Serikat pada Selasa, 22 Juli 2026, melaporkan bahwa Presiden Donald Trump telah menyetujui perjanjian kerja sama energi nuklir sipil dengan Arab Saudi.

Perjanjian tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada Rabu, 23 Juli 2026 (waktu Pantai Timur Amerika Serikat/EDT).

Kesepakatan tersebut memiliki masa berlaku selama 30 tahun dan menjadi salah satu kerja sama energi paling strategis antara kedua negara dalam beberapa dekade terakhir.

Arab Saudi Diizinkan Mengembangkan Pengayaan Uranium Sipil

Salah satu poin terpenting dalam perjanjian tersebut adalah pemberian izin kepada Arab Saudi untuk mengembangkan kemampuan pengayaan bahan bakar nuklir yang akan digunakan bagi reaktor nuklir sipil.

Dalam pelaksanaannya:

  • perusahaan-perusahaan Amerika Serikat akan menyediakan teknologi inti;
  • tenaga ahli Amerika akan mendukung pembangunan fasilitas;
  • kedua negara akan melakukan studi bersama selama dua tahun mengenai manfaat strategis dan ekonomi pengayaan uranium.

Apabila hasil studi menyimpulkan bahwa pengayaan uranium memang diperlukan, maka Amerika Serikat akan membangun fasilitas pengayaan dengan sistem “black box”, yakni teknologi yang dirancang agar tidak dapat dipindahkan, dibongkar, ataupun disalin oleh pihak Arab Saudi.

Sebaliknya, apabila Washington tidak memberikan persetujuan akhir terhadap pengayaan uranium, maka selama 10 tahun Arab Saudi tidak diperbolehkan menjalankan kegiatan tersebut, baik secara mandiri maupun bekerja sama dengan negara lain.

Pemerintahan Trump menilai mekanisme itu memungkinkan Amerika Serikat tetap mengendalikan perkembangan program nuklir Arab Saudi sekaligus meminimalkan risiko penyalahgunaan teknologi untuk kepentingan militer.

Dinilai Perkuat Posisi Strategis Amerika

Mantan penasihat urusan nonproliferasi nuklir Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Alan Eyre, menilai perjanjian tersebut memberikan sejumlah keuntungan strategis bagi Washington.

Menurutnya, kerja sama tersebut akan:

  • membantu menghidupkan kembali industri energi nuklir Amerika Serikat;
  • memperkuat hubungan strategis Washington–Riyadh;
  • mengurangi peluang Rusia maupun Tiongkok memperoleh pengaruh dalam program nuklir Arab Saudi.

Sejumlah analis juga berpendapat bahwa keputusan Washington memberikan ruang bagi Arab Saudi mengembangkan program nuklir sipil merupakan bagian dari strategi menciptakan keseimbangan kekuatan (balance of power) di Timur Tengah, terutama di tengah terus berkembangnya kemampuan nuklir Iran.


Militer AS Menyelesaikan Gelombang Serangan Udara ke-11

Sementara itu, pada Senin malam, 21 Juli 2026 (waktu Pantai Timur Amerika Serikat/EDT), militer Amerika Serikat menyelesaikan gelombang serangan udara malam ke-11 secara berturut-turut terhadap berbagai sasaran militer Iran.

Dalam operasi tersebut, pesawat-pesawat tempur Amerika dilaporkan menyerang sejumlah target strategis, antara lain:

  • pusat operasi militer;
  • fasilitas Angkatan Laut Iran;
  • hanggar pesawat;
  • gudang penyimpanan pesawat nirawak (drone);
  • berbagai fasilitas logistik militer.

Washington menyatakan bahwa operasi tersebut bertujuan terus melemahkan kemampuan militer Iran untuk mengancam jalur pelayaran internasional di kawasan Teluk.


CENTCOM Amankan Jalur Pelayaran di Teluk

Pada Rabu, 22 Juli 2026, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan perkembangan terbaru mengenai operasi pengamanan di kawasan Teluk.

Dalam pernyataannya, CENTCOM menyebutkan bahwa hingga 22 Juli pihaknya telah:

  • mengalihkan rute sembilan kapal dagang demi alasan keamanan;
  • melumpuhkan kemampuan berlayar satu kapal yang dinilai berkaitan dengan ancaman terhadap pelayaran internasional.

Bersamaan dengan pengumuman tersebut, CENTCOM juga merilis foto sebuah kapal perusak berpeluru kendali Angkatan Laut Amerika Serikat yang sedang melakukan patroli di Laut Arab untuk memantau aktivitas militer di kawasan.


Ledakan Besar Guncang Pulau Larak

Di tengah rangkaian perkembangan tersebut, laporan dari kawasan Teluk menyebutkan bahwa sekitar pukul 14.00 waktu setempat pada 22 Juli 2026, Pulau Larak, yang terletak di selatan Iran, diguncang ledakan besar.

Menurut berbagai sumber yang beredar, ledakan tersebut diduga berasal dari serangan rudal Amerika Serikat yang menghantam pulau strategis tersebut.

Hingga berita ini disusun, belum terdapat konfirmasi resmi dari pemerintah Iran maupun militer Amerika Serikat mengenai penyebab pasti ledakan maupun tingkat kerusakan yang ditimbulkan.

Situasi Masih Sangat Dinamis

Rangkaian perkembangan pada 21–23 Juli 2026 menunjukkan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah memasuki fase yang semakin kompleks. Selain operasi militer yang terus berlangsung, kedua negara kini saling mengeluarkan ancaman terhadap infrastruktur strategis masing-masing, sementara langkah diplomatik dan kebijakan energi juga menjadi bagian dari persaingan geopolitik yang lebih luas.

Para pengamat menilai bahwa setiap keputusan yang diambil Washington maupun Teheran dalam beberapa hari ke depan berpotensi menentukan arah stabilitas kawasan Timur Tengah, khususnya terkait keamanan Selat Hormuz, pasar energi global, serta keseimbangan kekuatan regional. (***)

AS Gempur 17 Target Iran ! Teheran Ancam Bangun Bom Nuklir, Trump Siapkan Serangan yang Lebih Besar?

EtIndonesia.com – Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase yang semakin berbahaya. 

Pada larut malam Senin, 21 Juli 2026 waktu Pantai Timur Amerika Serikat (EDT), militer AS melancarkan gelombang serangan udara berskala besar terhadap sedikitnya 17 sasaran strategis di berbagai wilayah Iran. Operasi tersebut dinilai oleh sejumlah analis sebagai salah satu serangan terbesar sejak pecahnya babak terbaru konflik kedua negara.

Serangan itu tidak hanya menyasar berbagai instalasi militer, tetapi juga mengenai Kilang Petrokimia Peter Boland, yang disebut-sebut sebagai salah satu pusat distribusi gas alam terbesar di Iran. Serangan terhadap fasilitas energi tersebut dipandang sebagai upaya untuk memperlemah kemampuan logistik dan industri strategis Teheran di tengah perang yang terus meningkat.

Di tengah tekanan militer yang semakin besar, pemerintah Iran kemudian mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan. Teheran menyatakan siap meninggalkan kebijakan yang selama puluhan tahun membatasi pengembangan senjata nuklir dan membuka kemungkinan untuk mempercepat pengembangan kemampuan nuklir militernya.

Pernyataan tersebut segera memicu kekhawatiran internasional karena dinilai dapat mengubah keseimbangan keamanan di kawasan Timur Tengah secara drastis.

Iran Disebut Tinggal Selangkah Menuju Kapabilitas Senjata Nuklir

Menurut berbagai laporan yang beredar, Iran saat ini diperkirakan memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang telah diperkaya hingga tingkat kemurnian 60 persen.

Dalam dunia teknologi nuklir, tingkat pengayaan tersebut masih berada di bawah standar yang umumnya dikaitkan dengan senjata nuklir, yakni sekitar 90 persen. Namun, para pakar menilai bahwa dari sisi teknis, pengayaan dari 60 persen menuju tingkat yang lebih tinggi dapat dilakukan jauh lebih cepat dibandingkan proses dari uranium alam menuju 60 persen.

Situasi inilah yang memunculkan kekhawatiran baru di Washington maupun negara-negara Barat.

Pada hari yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa pemerintahannya tengah menyiapkan langkah terhadap fasilitas nuklir Iran yang berada di kawasan pegunungan, yang selama ini diyakini menjadi lokasi penyimpanan dan pengembangan berbagai instalasi strategis.

Namun, rencana tersebut memunculkan pertanyaan besar di kalangan analis pertahanan.

Berbagai kajian militer menyebutkan bahwa bahkan bom penghancur bunker (bunker buster) paling canggih yang dimiliki Amerika Serikat sekalipun diperkirakan akan menghadapi kesulitan besar untuk menghancurkan fasilitas nuklir Iran yang dibangun jauh di bawah lapisan batuan pegunungan yang sangat tebal.

Mantan Jenderal AS Usulkan Strategi yang Lebih Efektif

Di tengah perdebatan mengenai efektivitas serangan langsung terhadap fasilitas bawah tanah Iran, mantan Mayor Jenderal Angkatan Darat Amerika Serikat, Randy Manner, menawarkan pendekatan yang berbeda.

Dalam wawancaranya di program yang dipandu Mario Nawfal, Manner menilai Amerika Serikat tidak perlu menghabiskan sumber daya untuk menghancurkan keseluruhan kompleks bawah tanah.

Menurutnya, strategi yang jauh lebih efisien adalah menghancurkan seluruh akses masuk menuju fasilitas tersebut menggunakan rudal jarak jauh berpresisi tinggi.

Apabila seluruh pintu masuk berhasil dilumpuhkan, maka pasokan logistik ke dalam fasilitas akan terputus. Selain itu, jaringan listrik, suplai air, ventilasi, serta sistem pendukung kehidupan di dalam kompleks juga dapat dihentikan.

Ia menjelaskan bahwa operasi semacam itu cukup dilakukan secara berkala, misalnya setiap beberapa bulan, untuk memastikan seluruh akses yang berhasil diperbaiki kembali dihancurkan.

Dengan pendekatan tersebut, fasilitas bawah tanah Iran diperkirakan akan kehilangan kemampuan operasionalnya secara bertahap tanpa harus menghancurkan struktur pegunungan yang secara teknis sangat sulit ditembus.

Randy Manner juga memperkirakan bahwa dalam beberapa hari mendatang, militer Amerika Serikat kemungkinan akan meningkatkan intensitas serangan terhadap berbagai sasaran strategis yang berada jauh di wilayah pedalaman Iran.

Analis Sebut Washington Mungkin Menyiapkan Operasi yang Lebih Besar

Di sisi lain, analis politik Timur Tengah Amjad Taha memiliki pandangan yang berbeda mengenai arah strategi Washington.

Menurutnya, Amerika Serikat kemungkinan tidak sedang mempersiapkan invasi darat secara konvensional, melainkan sebuah operasi internasional yang jauh lebih kompleks.

Ia memperkirakan Washington dapat memanfaatkan berbagai kelompok lokal, termasuk kelompok-kelompok Kurdi maupun kekuatan milisi lain yang memiliki kepentingan berbeda dengan pemerintah Iran.

Kelompok-kelompok tersebut diperkirakan akan digunakan untuk mencari titik-titik lemah dari dalam wilayah Iran, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Teheran tanpa harus mengerahkan pasukan darat Amerika dalam jumlah besar.

Apabila skenario tersebut benar-benar dijalankan, tujuan akhirnya bukan hanya memenangkan pertempuran militer, tetapi juga membentuk zona penyangga keamanan (buffer zone) di wilayah tertentu di dalam Iran.

Zona tersebut diharapkan mampu mengurangi pengaruh pemerintah pusat, membuka ruang bagi kelompok-kelompok lokal, sekaligus berpotensi memicu perubahan konfigurasi politik di dalam negeri Iran.

Meski demikian, hingga kini belum terdapat konfirmasi resmi dari pemerintah Amerika Serikat mengenai adanya rencana operasi seperti yang diperkirakan sejumlah analis tersebut.

Amerika Dinilai Masih Unggul, Tetapi Perang Diperkirakan Akan Berlangsung Lama

Dari sisi kemampuan militer, sebagian besar pengamat masih menilai bahwa Amerika Serikat memiliki keunggulan yang signifikan dibandingkan Iran, baik dari segi teknologi, kekuatan udara, kemampuan intelijen, maupun sistem persenjataan presisi.

Namun demikian, berbagai analisis juga mengingatkan bahwa kemenangan dalam perang modern tidak selalu ditentukan oleh superioritas teknologi semata.

Semakin panjang konflik berlangsung, semakin besar pula tekanan terhadap logistik, anggaran pertahanan, kesiapan industri militer, serta kemampuan mempertahankan operasi dalam jangka panjang.

Karena itu, sejumlah pakar menilai bahwa tantangan terbesar Amerika Serikat bukan lagi bagaimana memenangkan pertempuran udara, melainkan bagaimana mempertahankan daya tahan militernya apabila konflik berubah menjadi perang berkepanjangan.

Persediaan Rudal Pencegat AS Mulai Menjadi Perhatian

Pakar geopolitik Shanaka Perera mengingatkan bahwa salah satu persoalan yang mulai muncul bagi Amerika Serikat bukanlah kekurangan bom atau pesawat tempur.

Yang justru mulai menjadi perhatian adalah persediaan rudal pencegat balistik yang digunakan dalam sistem pertahanan udara THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) dan Patriot.

Menurut analisisnya, pada tahap awal konflik, Amerika Serikat telah mengerahkan sejumlah besar rudal THAAD untuk membantu melindungi Israel dari rentetan serangan rudal balistik Iran.

Bahkan, disebutkan bahwa sekitar setengah dari persediaan rudal THAAD yang dimiliki Amerika Serikat telah digunakan selama operasi pertahanan tersebut.

Sementara itu, proses produksi rudal pengganti tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat.

Berdasarkan berbagai laporan industri pertahanan, produksi rudal generasi berikutnya diperkirakan baru akan meningkat mulai tahun 2027, dengan kapasitas produksi yang disebut hanya sekitar 96 rudal per tahun.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa apabila konflik berlangsung dalam waktu lama, Amerika Serikat dapat menghadapi tantangan dalam menjaga ketersediaan stok rudal pencegatnya.

Iran Dinilai Berupaya Menguras Persediaan Pertahanan Amerika

Menurut Shanaka Perera, strategi Iran saat ini kemungkinan bukan hanya menyerang sasaran militer secara langsung.

Teheran juga dinilai berupaya memaksa Amerika Serikat dan sekutunya untuk terus menghabiskan rudal-rudal pencegat yang bernilai sangat mahal melalui serangan rudal dan drone yang dilakukan secara berulang.

Pendekatan semacam ini dikenal sebagai strategi pengurasan (war of attrition), yaitu upaya melemahkan kemampuan lawan secara bertahap melalui tekanan logistik dan ekonomi, bukan semata-mata melalui kemenangan di medan tempur.

Apabila strategi tersebut terus berlanjut, maka selain menghadapi tekanan militer, Washington juga harus mempertimbangkan kemampuan industri pertahanannya dalam memenuhi kebutuhan persenjataan untuk konflik jangka panjang.

Dengan demikian, banyak analis menilai bahwa fase berikutnya dari konflik Amerika Serikat–Iran tidak hanya akan ditentukan oleh intensitas serangan udara, tetapi juga oleh kemampuan masing-masing pihak mempertahankan sumber daya militer, logistik, dan industri pertahanan mereka dalam menghadapi perang yang berpotensi berlangsung jauh lebih lama. (***)

Misteri Aset Khamenei Terbongkar di Tengah Hujan Rudal! AS Tekan Iran dari Dua Arah Sekaligus

EtIndonesia.com – Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kembali mengalami eskalasi setelah Iran diduga melancarkan serangkaian serangan yang menjangkau sejumlah negara Teluk. Insiden tersebut memicu meningkatnya kewaspadaan regional, mendorong negara-negara terdampak memperketat sistem pertahanan udara, sementara Amerika Serikat mulai meningkatkan operasi militernya di kawasan.

Serangan yang terjadi pada malam hari itu tidak hanya berdampak terhadap Bahrain, tetapi juga dilaporkan memengaruhi Kuwait, Qatar, hingga wilayah Irak utara. Bersamaan dengan itu, aktivitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah meningkat secara signifikan, menandakan potensi babak baru dalam konflik yang terus berkembang.


Kedutaan Besar Israel di Bahrain Dilaporkan Menjadi Sasaran Rudal

Menurut laporan Channel 14 Israel, pada Selasa malam, 21 Juli 2026, Kedutaan Besar Israel di Manama, ibu kota Bahrain, dilaporkan menjadi sasaran serangan rudal yang diduga diluncurkan oleh Iran.

Hingga berita ini disusun, pihak berwenang masih melakukan penyelidikan mengenai tingkat kerusakan maupun kemungkinan adanya korban jiwa. Belum ada laporan resmi yang mengonfirmasi jumlah korban maupun dampak material akibat serangan tersebut.

Sebagai respons atas ancaman tersebut, Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengeluarkan pemberitahuan resmi kepada masyarakat. Sirene peringatan dibunyikan di berbagai wilayah negara itu sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan serangan lanjutan.

Aktivasi sistem peringatan nasional tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Bahrain memandang situasi keamanan saat itu berada pada tingkat ancaman yang serius.


Sejumlah Negara Teluk Ikut Terdampak Serangan

Beberapa jam sebelum insiden di Bahrain, sejumlah negara di kawasan Teluk telah lebih dahulu melaporkan adanya serangan yang dikaitkan dengan Iran.

Negara-negara yang disebut terdampak antara lain:

  • Bahrain;
  • Kuwait;
  • Qatar;
  • serta Vietnam, yang dalam sejumlah laporan disebut mengalami dampak terhadap kepentingan maritimnya.

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan terhadap beberapa instalasi militer yang berkaitan dengan Amerika Serikat.

Dalam pernyataannya, IRGC menyebut sasaran mereka meliputi:

  • sebuah stasiun radar tempur di dekat Pangkalan Udara Ali Al Salem milik Amerika Serikat di Kuwait; serta
  • sistem radar lain yang berada di Pulau Bubiyan, wilayah strategis yang terletak di bagian utara Teluk Persia.

Apabila klaim tersebut benar, maka serangan ini menandai perluasan sasaran Iran terhadap infrastruktur militer yang berafiliasi dengan Amerika Serikat di kawasan Teluk.


Qatar Mengecam Keras Serangan Iran

Menyusul meningkatnya eskalasi tersebut, Kementerian Luar Negeri Qatar segera mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam tindakan Iran.

Dalam pernyataannya, Doha menilai rangkaian serangan tersebut merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negara-negara Teluk serta berpotensi memperburuk stabilitas kawasan.

Qatar juga secara khusus menyoroti insiden yang menimpa kapal Kaifan, sebuah kapal yang sedang melintasi Selat Hormuz dan dilaporkan menjadi sasaran serangan selama meningkatnya ketegangan di kawasan.

Pemerintah Qatar mendesak Iran agar:

  • segera menghentikan seluruh operasi militernya;
  • menghindari tindakan yang dapat memperluas konflik;
  • serta menghormati kedaulatan negara-negara tetangga.

Selain itu, Doha menyatakan dukungan penuh terhadap langkah-langkah yang diambil Bahrain, Kuwait, dan Yordania dalam menjaga keamanan wilayah masing-masing.


Irak Ikut Mengalami Eskalasi Keamanan

Ketegangan juga meluas ke Irak bagian utara.

Mengutip sumber dari aparat keamanan Irak, Reuters melaporkan bahwa pada malam 21 Juli 2026, sedikitnya tiga pesawat nirawak (drone) bermuatan bahan peledak berhasil ditembak jatuh di sekitar Konsulat Amerika Serikat di Erbil.

Hingga kini belum diketahui secara pasti siapa pihak yang meluncurkan drone-drone tersebut.

Namun, hampir bersamaan dengan insiden itu, media sosial dipenuhi berbagai rekaman video yang memperlihatkan sejumlah titik kebakaran di berbagai lokasi di Kota Erbil.

Laporan awal menyebutkan bahwa kebakaran tersebut kemungkinan dipicu oleh kombinasi serangan rudal dan drone yang diduga berasal dari Iran.

Sejumlah analis memperkirakan sasaran utama serangan adalah markas serta fasilitas milik kelompok-kelompok oposisi Kurdi yang selama ini menentang pemerintah Iran.


Sistem Pertahanan Udara Erbil Diaktifkan

Setelah serangkaian ledakan terjadi, otoritas keamanan Irak segera meningkatkan status kewaspadaan.

Sistem pertahanan udara di Erbil langsung diaktifkan untuk mengantisipasi kemungkinan serangan berikutnya.

Sementara itu, Bandara Internasional Erbil mengumumkan penghentian sementara seluruh penerbangan demi menjaga keselamatan penumpang dan awak pesawat hingga kondisi keamanan dinyatakan stabil.

Penutupan bandara tersebut menjadi indikasi bahwa ancaman terhadap wilayah udara Irak utara dinilai cukup serius.


Amerika Serikat Mulai Meningkatkan Operasi Militer

Seiring meningkatnya ketegangan regional, Amerika Serikat juga mulai memperluas aktivitas militernya di Timur Tengah.

Menurut sejumlah laporan, pemerintah Inggris di bawah Perdana Menteri Dan Burnham dikabarkan telah memberikan izin kepada militer Amerika Serikat untuk menggunakan pangkalan militer Inggris sebagai titik operasi dalam melaksanakan serangan terhadap sasaran tertentu di Iran.

Pada saat yang hampir bersamaan, pesawat pengebom strategis B-1B Lancer milik Angkatan Udara Amerika Serikat dilaporkan lepas landas dari RAF Fairford, Inggris.

Pesawat-pesawat tersebut disebut menjalankan misi menuju sejumlah sasaran strategis di Iran, termasuk kompleks industri rudal di kawasan Khojir, sebelah timur Teheran, yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat produksi persenjataan penting Iran.


Analis: Pertahanan Udara Iran Mengalami Kelemahan Serius

Analis pertahanan Iran, Babak Taghvaei, mengunggah rekaman video yang memperlihatkan aktivitas pertahanan udara Iran ketika pesawat pengebom B-1B Amerika beroperasi di atas wilayah sekitar Teheran.

Menurut analisisnya, pasukan pertahanan udara Iran saat ini mengalami kekurangan rudal permukaan-ke-udara yang mampu menghadapi pesawat pengebom strategis yang beroperasi pada ketinggian tinggi.

Akibat keterbatasan tersebut, satuan pertahanan udara Iran disebut hanya mengandalkan tembakan meriam antipesawat yang diarahkan ke langit.

Taghvaei menilai penggunaan meriam antipesawat lebih bersifat simbolis untuk menunjukkan bahwa pertahanan udara masih aktif, daripada benar-benar efektif dalam menghadapi pesawat seperti B-1B Lancer.

Menurutnya, kemampuan meriam antipesawat hampir tidak mungkin menjangkau sasaran yang terbang pada ketinggian operasional pesawat pengebom strategis Amerika.


Pangkalan Militer Iran Mulai Dipulihkan

Di sisi lain, sejumlah analis militer mengungkapkan bahwa beberapa pangkalan Iran yang sebelumnya mengalami kerusakan akibat serangan Amerika ternyata berhasil dipulihkan dalam waktu relatif singkat.

Berdasarkan citra satelit terbaru, para insinyur militer Iran dilaporkan telah berhasil:

  • memperbaiki akses jalan menuju pangkalan;
  • membersihkan puing-puing akibat serangan;
  • memperbaiki infrastruktur pendukung;
  • serta membuka kembali pintu masuk menuju jaringan terowongan bawah tanah.

Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa sebagian fasilitas strategis Iran telah kembali beroperasi meskipun sebelumnya mengalami kerusakan akibat serangan udara.


Aktivitas Udara Militer Amerika Semakin Intensif

Peningkatan operasi Amerika juga terlihat dari aktivitas pesawat pengisian bahan bakar di udara.

Berdasarkan data pelacakan penerbangan FlightRadar24, sedikitnya enam pesawat tanker KC-135 Stratotanker milik Angkatan Udara Amerika Serikat terpantau beroperasi secara bersamaan di atas wilayah udara Israel dan Yordania.

Dalam operasi udara modern, keberadaan enam pesawat tanker sekaligus biasanya mengindikasikan adanya pengerahan sejumlah besar pesawat tempur atau pesawat pengebom yang memerlukan dukungan pengisian bahan bakar selama menjalankan misi.

Para pengamat memperkirakan aktivitas tersebut berkaitan dengan:

  • pengerahan kekuatan udara Amerika;
  • perpindahan armada tempur;
  • dukungan bagi operasi pengeboman;
  • hingga persiapan untuk operasi lanjutan apabila konflik terus meningkat.

Peningkatan intensitas penerbangan militer tersebut dinilai menjadi salah satu indikator bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah masih berpotensi berlanjut.


Menteri Keuangan Amerika Ungkap Dugaan Aset Keluarga Ayatollah Khamenei

Di tengah meningkatnya tekanan militer terhadap Iran, muncul pula perkembangan di bidang ekonomi dan politik.

Pada 21 Juli 2026, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengumumkan bahwa pemerintah Amerika mengklaim telah berhasil melacak sejumlah aset luar negeri yang diduga terkait dengan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta putranya, Mojtaba Khamenei.

Menurut Bessent, nilai total aset yang berhasil diidentifikasi diperkirakan melebihi 100 juta dolar Amerika Serikat.

Aset-aset tersebut disebut mencakup berbagai bentuk kepemilikan, mulai dari properti hingga investasi yang berada di sejumlah negara di kawasan Eropa dan Timur Tengah.

Bessent juga menyatakan bahwa pemerintah Amerika berencana mengungkap secara terbuka rincian lokasi dan informasi mengenai aset-aset tersebut.

Ia menambahkan bahwa apabila aset tersebut nantinya berhasil dibekukan, pemerintah Amerika Serikat mengklaim tidak akan mengalihkannya menjadi milik negara Amerika, melainkan mempertahankannya sebagai aset yang suatu saat dapat dimanfaatkan bagi kepentingan rakyat Iran.

Pernyataan tersebut dipandang banyak pengamat sebagai langkah yang memiliki dimensi politik sekaligus ekonomi, karena berpotensi meningkatkan tekanan terhadap elite pemerintahan Iran di tengah konflik yang terus berlangsung.

Sejumlah analis juga menilai bahwa kemampuan Amerika Serikat melacak aset para pejabat tinggi Iran dapat menjadi preseden bagi upaya penelusuran aset luar negeri milik elite negara lain di masa mendatang, meskipun hingga kini belum ada kebijakan resmi yang mengarah pada langkah tersebut. (***)

BREAKING! Iran Digempur Besar-Besaran, Pentagon Tuding Rusia & PKT Terlibat di Balik Konflik

EtIndonesia.com — Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki babak yang semakin intens. Pada Senin malam, 21 Juli 2026 waktu Pantai Timur Amerika Serikat (Eastern Daylight Time/EDT), militer Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan udara ke-11 terhadap berbagai sasaran militer di Iran.

Serangan yang berlangsung hingga dini hari waktu Iran tersebut kembali mengguncang ibu kota Teheran melalui beberapa gelombang pemboman. Hingga laporan terakhir, sedikitnya 10 hingga 12 lokasi strategis di berbagai wilayah Iran dilaporkan menjadi sasaran serangan atau mengalami ledakan, termasuk sejumlah pangkalan militer, pusat logistik, serta fasilitas pertahanan yang dinilai memiliki nilai strategis tinggi.

Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa operasi tersebut secara khusus difokuskan pada target-target militer. Washington menyatakan tujuan utamanya adalah terus mengikis kemampuan Iran dalam mengancam jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak dan energi terpenting di dunia.

Di tengah meningkatnya operasi militer tersebut, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth juga mengungkapkan bahwa menurut penilaian Washington, Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan Rusia telah memberikan berbagai bentuk dukungan kepada Iran selama konflik berlangsung.


Teheran Diguncang Serangan Beruntun Sejak Dini Hari

Serangan udara kembali menghantam Iran pada Rabu dini hari, 22 Juli 2026, sekitar pukul 03.30 waktu setempat.

Menurut laporan Televisi Nasional Iran, sistem pertahanan udara di berbagai wilayah Teheran langsung diaktifkan secara intensif menyusul rentetan ledakan yang terdengar hampir tanpa henti.

Aktivitas pertahanan udara dilaporkan berlangsung di sejumlah kawasan ibu kota, meliputi:

  • Teheran bagian barat;
  • Teheran bagian timur;
  • serta Teheran bagian timur laut.

Selain Teheran, sejumlah wilayah lain di Iran juga dilaporkan menjadi sasaran serangan maupun mengalami ledakan. Di antaranya:

  • Tabriz;
  • Kompleks Militer Parchin;
  • Mahshahr;
  • Bandar Abbas;
  • Pardis;
  • Chabahar;
  • Behbahan;
  • Kabupaten Kangavar;
  • Provinsi Bushehr;
  • serta beberapa lokasi strategis lainnya.

Secara keseluruhan, sedikitnya 12 kawasan dilaporkan mengalami serangan udara atau ledakan dalam rentang waktu yang hampir bersamaan.

Skala operasi tersebut menunjukkan bahwa Amerika Serikat masih mempertahankan tekanan militer tinggi terhadap infrastruktur pertahanan Iran setelah lebih dari sepuluh gelombang serangan dilancarkan dalam beberapa pekan terakhir.


Kebakaran Besar Terjadi Setelah Pangkalan Militer Diserang

Salah satu dampak paling signifikan dari serangan terbaru terjadi di kota Behbahan, ketika sebuah pangkalan militer dilaporkan terkena serangan dan memicu kebakaran besar yang membakar sebagian fasilitas di kawasan tersebut.

Sementara itu, sejumlah kota strategis lain juga melaporkan adanya ledakan pada malam sebelumnya, antara lain:

  • Bandar Abbas;
  • Chabahar;
  • Tabriz;
  • Kangavar.

Namun demikian, hingga kini penyebab pasti seluruh ledakan tersebut masih belum dapat dipastikan.

Sejumlah analis keamanan menilai sebagian ledakan kemungkinan merupakan dampak langsung dari serangan udara Amerika Serikat. Namun tidak tertutup kemungkinan bahwa beberapa di antaranya terjadi akibat aktivitas peluncuran rudal atau ledakan internal yang berkaitan dengan operasi militer Iran sendiri.

Oleh karena itu, penyebab pasti setiap insiden masih menunggu verifikasi lebih lanjut dari berbagai sumber independen.


CENTCOM: Infrastruktur Militer Iran Menjadi Sasaran Utama

Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menjelaskan bahwa operasi terbaru tetap difokuskan pada penghancuran berbagai fasilitas yang dinilai berperan penting dalam mendukung kemampuan tempur Iran.

Target operasi meliputi:

  • pusat operasi dan komando militer;
  • fasilitas maritim;
  • hanggar pesawat militer;
  • gudang penyimpanan pesawat nirawak (drone);
  • pusat logistik militer;
  • serta berbagai infrastruktur pendukung operasi militer lainnya.

Menurut CENTCOM, penghancuran fasilitas-fasilitas tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang Amerika Serikat untuk terus menurunkan kemampuan Iran dalam menjalankan operasi militer maupun mengganggu jalur pelayaran internasional di kawasan Teluk Persia.

Washington menilai bahwa semakin besar kerusakan terhadap infrastruktur militer Iran, semakin terbatas pula kemampuan Teheran dalam melancarkan serangan lanjutan terhadap kepentingan Amerika Serikat maupun negara-negara sekutunya.


Pete Hegseth: Rusia dan Tiongkok Membantu Iran

Pada Senin, 21 Juli 2026 (EDT), Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth memberikan kesaksian dalam sidang Komite Alokasi Anggaran Senat Amerika Serikat.

Dalam keterangannya, Hegseth menyatakan bahwa menurut penilaian pemerintah Amerika Serikat, Rusia dan Partai Komunis Tiongkok (PKT) telah memberikan berbagai bentuk bantuan kepada Iran selama konflik berlangsung.

Ia mengatakan bahwa kedua negara tersebut:

“Dengan cara masing-masing dan pada tingkat yang berbeda-beda, telah memungkinkan Iran untuk menjalankan sejumlah aktivitas militernya.”

Meski demikian, Hegseth menegaskan bahwa pemerintah Amerika Serikat telah menyiapkan berbagai langkah untuk menghambat maupun memutus jalur bantuan tersebut.

Namun, ia menolak menjelaskan secara rinci metode yang digunakan Washington.

Menurut Hegseth, “Kedalaman maupun cakupan tindakan tersebut harus tetap dirahasiakan.”

Ia beralasan bahwa keterbukaan mengenai strategi tersebut justru berpotensi mengurangi efektivitas operasi Amerika Serikat di lapangan.


Pernyataan Pentagon Sejalan dengan Laporan Intelijen Sebelumnya

Pernyataan Pete Hegseth dinilai sejalan dengan sejumlah laporan intelijen Amerika Serikat yang telah muncul beberapa bulan sebelumnya.

Pada April 2026, CNN, mengutip sejumlah sumber yang mengetahui isi laporan intelijen Amerika Serikat, melaporkan bahwa Tiongkok disebut tengah mempersiapkan pengiriman sistem pertahanan udara baru kepada Iran.

Sementara itu, pada Maret 2026, berbagai media internasional juga mengutip informasi intelijen yang menyebut bahwa Rusia diduga memberikan bantuan intelijen kepada Iran.

Informasi yang disebut diberikan tersebut antara lain mencakup:

  • lokasi penempatan pasukan Amerika Serikat di Timur Tengah;
  • posisi kapal perang Amerika Serikat;
  • pergerakan pesawat militer Amerika Serikat;
  • serta berbagai data operasional lainnya yang dinilai bernilai strategis.

Apabila informasi tersebut benar, bantuan tersebut dinilai berpotensi meningkatkan kemampuan Iran dalam memantau aktivitas militer Amerika Serikat di kawasan.


Pentagon: Lawan Amerika Melakukan Hal yang Tidak Seharusnya Dilakukan

Dalam konferensi pers yang digelar di Pentagon pada akhir Maret 2026, Hegseth juga pernah menuduh sejumlah pihak yang menjadi lawan strategis Amerika Serikat telah melakukan tindakan yang menurutnya tidak semestinya.

Ia menyatakan bahwa terdapat pihak-pihak yang memberikan informasi intelijen sensitif kepada Iran mengenai:

  • lokasi aset militer Amerika Serikat di Timur Tengah;
  • posisi pangkalan militer;
  • penempatan kekuatan tempur;
  • hingga berbagai informasi strategis mengenai operasi militer Amerika Serikat di kawasan.

Meski tidak secara rinci menyebut mekanisme maupun sumber informasi tersebut, Hegseth menegaskan bahwa pemerintah Amerika Serikat terus memantau perkembangan aktivitas tersebut melalui berbagai jalur intelijen.


Pentagon Klaim Kekuatan Militer Iran Melemah Drastis

Dalam sidang dengar pendapat yang berlangsung pada Selasa, 21 Juli 2026, Hegseth juga menyampaikan penilaian terbaru mengenai kondisi militer Iran setelah berulang kali menjadi sasaran operasi udara Amerika Serikat.

Menurutnya, meskipun Iran masih memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan, efektivitas kekuatan militernya telah mengalami penurunan yang sangat signifikan.

Hegseth menyatakan bahwa kemampuan tempur Iran kini berada pada titik terendah dalam:

  • 10 tahun terakhir, bahkan kemungkinan merupakan kondisi terlemah dalam 47 tahun terakhir, sejak berdirinya Republik Islam Iran pada 1979.

Ia menilai keberhasilan operasi militer Amerika Serikat dalam menghancurkan berbagai fasilitas strategis Iran menjadi bukti bahwa strategi tekanan militer yang dijalankan Washington telah memberikan dampak yang sangat besar terhadap kemampuan operasional Teheran.

Atas dasar itu, Hegseth juga mendorong Kongres Amerika Serikat untuk menyetujui tambahan anggaran pertahanan agar militer Amerika memiliki sumber daya yang memadai apabila operasi lanjutan kembali diperlukan dalam menghadapi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. (***)

11 Tahun “Penindakan 709” – Para Pengacara HAM Tiongkok Dikriminalisasi oleh PKT

 oleh Qing Feng

Pada 13 April 2026, Yu Wensheng kembali ke Beijing.

Semestinya ini hanya sebuah berita biasa tentang seseorang bernama Yu Wensheng yang dibebaskan dari penjara dan kembali ke rumahnya. Tetapi dia bukanlah tahanan biasa. Dia adalah pengacara hak asasi manusia terkenal di Tiongkok, yang mewakili praktisi Falun Gong dan membela rekan-rekannya yang ditangkap dalam insiden penangkapan massal terhadap pengacara hak-hak sipil Tiongkok pada 9 Juli 2015 (insiden penindakan 709).

Dalam bahasa resmi, tuduhannya adalah “melakukan penghasutan untuk menggulingkan kekuasaan pemerintah.” Tetapi melihat rekam jejak publiknya, apa yang benar-benar tidak dapat ditoleransi oleh pihak berwenang adalah serangkaian fakta lain: ia mewakili praktisi Falun Gong, mewakili pengacara yang ditangkap dalam insiden penindakan 709, secara terbuka menyerukan reformasi konstitusional, dan mencoba bertemu dengan diplomat Eropa. 

Dalam masyarakat normal yang diatur oleh hukum, semua ini dianggap sebagai praktik hukum, penyampaian pendapat, dan interaksi sosial yang biasa. Tetapi jika hal itu dilakukan di Tiongkok, keadaan jadi berbeda, seorang pengacara pun dipenjara sampai 2 kali: Pertama ditangkap pada tahun 2018 dan dijatuhi hukuman 4 tahun penjara. Kedua kalinya ditangkap pada tahun 2023, ketika bersama istri Xu Yan dalam perjalanan menuju tempat pertemuan dengan delegasi Uni Eropa untuk Tiongkok, dan dijatuhi hukuman penjara selama 3 tahun.

Setelah dibebaskan, kepada media ia mengatakan: “Kontras di Tiongkok terlalu besar. Ada suasana ‘pembunuhan’ terhadap pengacara hak asasi manusia. Rasanya komunitas pengacara hak asasi manusia telah terpecah belah, dan banyak pengacara sekarang takut untuk berbicara. Banyak pengacara hak asasi manusia yang sangat cakap pada dasarnya telah dicabut atau dibatalkan lisensinya.”

Yu Wensheng bukanlah kasus terisolasi. Ia hanyalah salah satu dari ratusan orang yang terjebak dalam penindakan besar-besaran terhadap pengacara HAM pada 11 tahun yang lalu.

Mengapa Orang Awam Wajib Peduli terhadap Hal Ini?

Mungkin ada pembaca yang berpikir: Apa hubungannya bisnis pengacara dengan saya? Saya tidak berlitigasi.

Mari kita pikirkan dari sudut pandang yang lain.

Jika Anda sudah membayar sebuah bangunan untuk rumah tinggal yang sedang dalam konstruksi pengembang, tiba-tiba terbengkalai karena pengembangnya melarikan diri, dan Anda ingin menuntut untuk mendapatkan kembali uang hasil jerih payah, maka Anda membutuhkan pengacara. Jika anak Anda diintimidasi di sekolah dan sekolah menolak bertanggung jawab, dan Anda ingin menempuh jalur hukum, Anda membutuhkan pengacara. 

Jika sebuah pabrik di dekat rumah Anda membuang limbah beracun, membuat keluarga Anda sakit, dan Anda menginginkan kompensasi dari pabrik tersebut, Anda membutuhkan pengacara. Jika orang yang Anda cintai dipenjara dan disiksa karena membela keyakinannya, dan Anda ingin seseorang membela mereka, Anda membutuhkan pengacara.

Tetapi pengacara yang membela Anda ditangkap. Pengacara yang membela mereka juga ditangkap. Dan pengacara yang membela “pengacara yang membela mereka” juga ikut ditangkap.

Inilah Tiongkok daratan di bawah pimpinan Partai Komunis Tiongkok (PKT) setelah 9 Juli 2015.

Ketika pengacara yang berani membela orang lain disingkirkan, orang biasa bukan lagi penonton, tetapi menjadi korban berikutnya tanpa siapa pun yang membela mereka.

Apa yang Terjadi pada 9 Juli 2015?

Mulai 9 Juli 2015, otoritas PKT melancarkan operasi gabungan di 23 provinsi, kota, dan daerah otonom di seluruh negeri, menangkap, memanggil, menahan secara kriminal, menghilangkan secara paksa, atau menginterogasi lebih dari 300 orang pengacara, pekerja hukum, aktivis hak asasi manusia, dan kerabat mereka. Operasi ini dikenal sebagai “Penindakan 709.” Pihak berwenang membuat tuduhan palsu dan menjatuhkan hukuman penjara kepada beberapa pengacara dan aktivis hak asasi manusia dengan masa hukuman antara 3 hingga 8 tahun.

Firma Hukum “Fengrui” di Beijing adalah yang terkena dampak paling parah. Kepala firma tersebut, Zhou Shifeng, dijatuhi hukuman 7 tahun, dan pengacara Wang Yu, Wang Quanzhang, dan Li Heping dan lainnya semuanya ditangkap dan dipenjara.

Mereka yang ditangkap bukanlah revolusioner radikal. Sekitar tahun 2003, banyak pengacara Tiongkok, memanfaatkan pemerintah yang sedang menekankan “supremasi hukum,” mulai memperjuangkan hak-hak konstitusional dan sipil atas nama rakyat, bekerja sama untuk meminta pertanggungjawaban pejabat lokal atas pelanggaran hak asasi manusia seperti perampasan tanah, penggusuran paksa dan pelanggaran hukum lainnya. Singkatnya, yang mereka lakukan adalah mewakili warga sipil di pengadilan dalam kerangka hukum Tiongkok sendiri.

Siapa Sebenarnya yang Mereka Bantu?

Banyak pengacara dan aktivis hak asasi manusia yang ditindas dalam “penindakan 709” mewakili praktisi Falun Gong atau membela mereka yang terlibat dalam kasus-kasus sensitif yang berkaitan dengan keyakinan agama, hak-hak sipil, dan kebebasan berbicara.

Yu Wensheng, pengacara telah lama mewakili praktisi Falun Gong dan kasus-kasus hak asasi manusia. Pengacara Wang Yu juga telah secara terbuka mendukung upaya praktisi Falun Gong untuk melindungi hak-hak mereka sesuai hukum. Dari penangkapannya pada tahun 2015 hingga pembebasannya pada tahun 2020, hampir lima tahun, Li Wenzu, istri Wang Quanzhang tidak diizinkan membesuk atau berkomunikasi dengannya selama waktu itu, sehingga tidak tahu bagaimana nasib suaminya. Anak-anak mereka, yang tumbuh dari balita hingga siswa sekolah dasar, tidak pernah melihat ayah mereka.

Para pengacara itu membantu keluarga yang kehilangan rumah akibat penggusuran paksa untuk mendapatkan kompensasi. Mereka membela warga negara yang dianiaya karena keyakinan. Mereka membantu penduduk desa yang menderita polusi untuk mencari kompensasi dari perusahaan. Mereka bertindak berdasarkan konstitusi dan hukum Tiongkok sendiri yang berlaku.

Namun, mereka ditangkap.

Sebuah sumber yang terinformasi dari Kelompok Pengacara Hak Asasi Manusia Tiongkok mengatakan kepada media: “Pemicu penangkapan pengacara Yu Wensheng oleh otoritas PKT memang adalah rencana pertemuannya dengan delegasi Uni Eropa untuk Tiongkok, tetapi alasan sebenarnya di baliknya adalah pemerintah PKT mencegahnya mengkritik kegelapan politik pemerintah, ketidakadilan peradilan, dan memburuknya situasi hak asasi manusia di sebuah konferensi internasional.”

11 Tahun Kemudian, Penindasan Belum Berhenti

9 Juli 2026 menandai peringatan ke-11 tahun “penindasan 709”. Human Rights Watch menunjukkan bahwa pemerintah PKT terus menganiaya dan membungkam pengacara setelah “penindasan 709,” dan telah memperluas kontrol ideologisnya terhadap profesi hukum di Tiongkok daratan.

Meskipun sebagian besar pengacara yang ditangkap pada tahun 2015 telah menjalani hukuman mereka, mereka masih belum dapat melanjutkan kehidupan dan pekerjaan normal, dan beberapa orang pengacara masih menghadapi “hukuman ganda.” Yu Wensheng adalah contoh tipikal: awalnya dijatuhi hukuman penjara 4 tahun, ia ditangkap lagi kurang dari setahun setelah dibebaskan dan dijatuhi hukuman penjara lagi selama 3 tahun.

Seorang anggota keluarga pengacara “709” menggambarkan kehidupan sehari-hari yang dialami: “Sudah 9 tahun, pengawasan terhadap mereka (para pengacara) tidak berkurang sedikit pun. Kemudian, datang petugas keamanan negara ke rumah mengancam saya, mengungkapkan kehidupan saya dengan detail yang sangat jelas. Meskipun saya tidak berada di penjara kecil, tetapi saya hidup di penjara besar.”

Pada awal Juli tahun ini, 31 organisasi hak asasi manusia internasional mengeluarkan pernyataan bersama yang menuduh otoritas PKT telah melanggar hak-hak pengacara dan pembela hak asasi manusia secara serius, dan bahwa sampai saat ini otoritas PKT belum dimintai pertanggungjawaban. Di Berlin, warga asal Tiongkok juga etnis Uighur berunjuk rasa di depan kedutaan besar PKT. Seorang peserta mengatakan: “Pengacara hanya menjalankan tugas mereka, namun mereka dipenjara. Warga negara berbicara jujur, namun mereka kehilangan kebebasan. Banyak keluarga dibuat hancur.”

Laporan Amnesty International juga menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada pejabat PKT yang dimintai pertanggungjawaban atas pelanggaran hak asasi manusia berat terhadap pengacara dan pembela hak asasi manusia selama “penindakan 709”.

Apa Sebenarnya yang Dihancurkan oleh “Penindakan 709”?

Setelah dibebaskan, Zhou Shifeng mengatakan bahwa “penindakan 709” adalah bencana dalam sejarah peradaban manusia. Penindakan itu tidak hanya bertujuan untuk menghancurkan pengacara dan aktivis hak asasi manusia, tetapi juga untuk menghilangkan rasa keadilan, kebaikan, dan keberanian yang ada dalam hati masyarakat.

Tidak salah! “penindakan 709” selain bertujuan untuk menghancurkan karier beberapa ratus orang pengacara di Tiongkok. Penindakan itu juga menghancurkan sisa-sisa terakhir kepercayaan suatu negara terhadap hukumnya sendiri.

“Penindakan 709” oleh pemerintah PKT memang berhasil menurunkan secara signifikan jumlah pengacara yang bersedia menantang pelanggaran hak asasi manusia oleh negara. Penindakan Xi Jinping setelah berkuasa digambarkan sebagai “mode pembersihan”: hampir setiap pengacara hak asasi manusia di Tiongkok daratan yang aktif telah terpengaruh.

Dalam masyarakat yang berfungsi dengan baik, ketika seorang warga negara dirugikan, ada pengacara yang membela mereka, pengadilan independen untuk mengadili kasus, liputan media yang bebas, dan pertanggungjawaban bagi mereka yang bertanggung jawab. Setiap mata rantai dalam rangkaian ini telah secara sistematis dilemahkan atau diputus oleh otoritas PKT saat ini.

Ketika semua jalan menuju pertanggungjawaban diblokir, bukan pengacara yang menderita, tetapi setiap warga sipil di Tiongkok. Karena ketika seorang warga menghadapi ketidakadilan, ia akan menemukan bahwa para pengacara yang seharusnya membelanya telah dilenyapkan 11 tahun yang lalu.

Kendati pengacara Yu Wensheng telah kembali ke Beijing, tetapi tangan kanannya masih tidak dapat menulis dengan baik. Pengacara Wang Quanzhang dibebaskan dari penjara, tetapi tetap berada di bawah pengawasan ketat. Ada pengacara-pengacara lain yang namanya bahkan tidak kita ketahui, karena informasi mereka telah sepenuhnya dihapus dari internet Tiongkok.

Semua orang sama di hadapan hukum, kebebasan berkeyakinan tidak dapat diganggu gugat, dan setiap orang berhak atas pembelaan. Ini bukan pendapat pribadi pengacara mana pun, prinsip-prinsip ini telah diabadikan dalam konstitusi Tiongkok sendiri.

Jika hukum suatu negara tidak melindungi warga negara yang taat hukum, jika membela seseorang sesuai hukum yang berlaku malahan dikriminalisasi, dapatkah sistem ini masih disebut “supremasi hukum”?

Kisah di Balik Uji Coba Rudal PKT yang Diungkapkan Sumber Internal

oleh Wu Ting

Partai Komunis Tiongkok (PKT) baru-baru ini melakukan uji coba peluncuran rudal balistik dari laut oleh kapal selam, dan menggelar latihan militer “Joint Sea-2026” bersama Rusia yang diresmikan di Kota Qingdao, Shandong. 

Sumber yang dekat dengan militer PKT mengungkapkan kepada wartawan bahwa rudal yang diluncurkan adalah rudal versi yang disempurnakan dari rudal balistik antar-benua kapal selam generasi kedua, Julang-2 (JL-2), bukan JL-3 seperti yang dispekulasikan oleh pihak luar, dan peluncuran tersebut dimaksudkan untuk berlatih penyerangan yang menembus rantai pulau kedua dan melepaskan ancaman militer ke wilayah Pasifik Barat.

Sumber Internal Mengungkapkan JL-2 Versi yang Ditingkatkan

Sumber internal Huang Anyang (nama samaran) mengungkapkan kepada wartawan bahwa rudal yang diluncurkan kapal selam dari laut baru-baru ini adalah versi yang ditingkatkan dari JL-2, bukan versi JL-3 standar seperti yang dispekulasikan oleh pihak luar. 

Ia mengatakan: “Mereka ingin AS percaya bahwa Angkatan Laut PKT sekarang sudah mampu melancarkan serangan jarak jauh yang jaraknya melampaui rantai pulau kedua. Meskipun pada kenyataannya, mereka belum dapat mencapai level itu. Versi JL-2 yang ditingkatkan baru selesai dan dikerahkan ke angkatan laut sekitar 10 tahun yang lalu. Sekarang, ketika semua pihak sedang berpesimis terhadap Angkatan Laut PKT, Xi Jinping ingin membuktikan bahwa kekuatan nuklir yang diluncurkan dari kapal selam mereka dapat menembus rantai pulau kedua, memberi tahu negara-negara tetangga dan memberi isyarat kepada AS bahwa kemampuan serangan jarak jauh Angkatan Laut PKT sudah dapat mencapai rantai pulau kedua, bahkan lebih.” 

Informasi publik belum mengkonfirmasi model rudal yang diuji oleh Angkatan Laut PKT. Laporan media asing menunjukkan bahwa rudal itu kemungkinan JL-3 atau JL-2. Reuters melaporkan pada 8 Juli bahwa seorang pejabat Kementerian Luar Negeri AS mengatakan, peluncuran uji coba tersebut kemungkinan adalah JL-3. Analisis Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) menunjukkan bahwa jika itu adalah JL-2, peluncuran uji coba akan mendekati jangkauan maksimum rudal. Tetapi jika itu adalah JL-3, jangkauannya bisa melebihi 10.000 kilometer.

Huang Anyang mengatakan bahwa PKT tidak akan mengungkapkan model rudal spesifik tersebut secara publik. Dari informasi yang telah ia terima, ia mengetahui bahwa rudal yang diuji adalah versi yang disempurnakan dari JL-2, bukan JL-3. Ia percaya bahwa PKT belum siap untuk secara publik menguji peluncuran rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam JL-3, karena pihak berwenang khawatir bahwa terlalu dini memamerkan generasi baru rudal yang diluncurkan dari kapal selam akan memprovokasi reaksi yang lebih kuat dari Amerika Serikat dan sekutunya.

JL-2 adalah rudal balistik generasi kedua yang diluncurkan dari kapal selam milik PKT, yang biasanya digunakan dengan kapal selam nuklir strategis Tipe 094. Rudal JL-2 versi dasar memiliki jangkauan lebih dari 7.000 kilometer. Jika diluncurkan dari perairan pesisir Tiongkok, efek pencegahannya terhadap daratan AS terbatas, dan kapal selam nuklir strategis mudah dicegat oleh sistem perang anti-kapal selam yang ditempatkan di rantai pulau pertama.

Penggemar militer Zhao Yi mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa rudal JL-2 versi dasar memiliki jangkauan terbatas. Jika kapal selam nuklir Tipe 094 tetap berada di perairan pesisir Tiongkok atau Laut Tiongkok Selatan, akan sulit untuk menjangkau kedalaman daratan AS, kecuali mengancam Guam, sebagian Hawaii, dan sebagian wilayah Alaska.

“Jika ingin menyerang Pantai Timur AS, atau bahkan jauh ke daratan AS, kapal selam Tipe 094 tidak bisa hanya berada di perairan pesisir Tiongkok. Kapal selam itu harus menembus rantai pulau pertama dan kedua, terus bergerak menuju Pasifik tengah. Jika rudal JL-2 yang ditingkatkan memiliki jangkauan 8.000 hingga 9.000 kilometer, rudal itu dapat menimbulkan ancaman bagi Pantai Barat AS dari luar rantai pulau kedua. Jika penembakan ingin mencakup Pantai Timur AS dari perairan yang relatif lebih jauh ke belakang, Angkatan Laut PKT perlu mengandalkan JL-3 yang memiliki jangkauan setidaknya 10.000 kilometer,” kata Zhao Yi. 

Ia juga mengatakan: “Rudal yang diluncurkan dari kapal selam bertenaga nuklir kali ini seharusnya JL-2 yang ditingkatkan, karena versi dasarnya telah beberapa kali berhasil diluncurkan antara tahun 2005 dan 2012, dan sudah digunakan oleh kapal selam nuklir pada tahun 2015. Yang saya dengar, versi yang disempurnakan setidaknya telah mengalami dua kali kegagalan peluncuran.”

Komentator militer Zhu Jiayao (nama samaran) mengatakan kepada wartawan: “Saat ini, ada perbedaan pendapat mengenai apakah kapal selam nuklir Tipe 094 memiliki kemampuan untuk meluncurkan rudal JL-3 secara andal. Jika Tipe 094A menyelesaikan peningkatan yang relevan, secara teknis dimungkinkan untuk meluncurkan JL-3 yang jangkauannya lebih jauh, tetapi informasi yang tersedia untuk umum belum mengkonfirmasi bahwa uji peluncuran ini adalah JL-3.”

Analisis: Kolaborasi Sino-Rusia Menciptakan Risiko Perang di Pasifik Barat, Sayangnya PKT Salah Target

Dalam beberapa tahun terakhir, kapal perang Rusia telah berulang kali muncul di perairan sekitar Jepang dan timur Taiwan, sementara pesawat militer, kapal perang, dan kapal penjaga pantai PKT juga sering aktif di Selat Taiwan, Laut Tiongkok Timur, Laut Tiongkok Selatan, dan perairan Pasifik Barat. Pejabat Taiwan baru-baru ini menyatakan bahwa pesawat militer, penjaga pantai, dan operasi zona abu-abu PKT telah mengubah status quo di Selat Taiwan, dan tindakan ini juga mengancam keamanan Jepang dan Filipina.

Zhu Jiayao menyebutkan bahwa serangkaian aksi militer PKT di laut baru-baru ini bertujuan untuk menunjukkan kemampuan operasional jarak jauhnya kepada Amerika Serikat dan Barat, serta untuk menciptakan situasi di mana PKT bersama Rusia yang menghadapi Barat, dengan menggunakan militer Rusia sebagai dalih. 

Namun, Zhu Jiayao mengatakan: “PKT benar-benar salah pilih Rusia sebagai teman kolaborasi dalam latihan militer, karena ia sudah kewalahan dalam perang Ukraina. Rusia yang sudah semakin bermasalah secara internal, semakin besar keinginannya untuk membuktikan kepada dunia luar bahwa ia masih memiliki kemampuan untuk melancarkan perang regional. Rusia ingin memberi tahu Amerika Serikat, Jepang, dan Filipina bahwa meskipun menghadapi masalah ekonomi, ia masih dapat menciptakan risiko perang di Pasifik Barat.”

Prabowo Terima Kunjungan Direktur FBI Kash Patel, Apa yang Dibahas? 

EtIndonesia.com Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan kehormatan Direktur Federal Bureau of Investigation (FBI) Amerika Serikat, Kash Patel, di Kertanegara, Jakarta, pada Rabu, 22 Juli 2026. 

Pertemuan tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat kerja sama Indonesia dan Amerika Serikat, khususnya dalam upaya pengembalian artefak budaya Indonesia yang diselundupkan secara ilegal ke luar negeri.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang memberikan keterangan pers didampingi Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa selain melakukan pembahasan secara resmi, Direktur FBI juga secara langsung menyerahkan artefak budaya Indonesia kepada Presiden Prabowo sebagai bagian dari kerja sama repatriasi antara Pemerintah Indonesia dan FBI.

“Di samping tentu saja ada pembicaraan sebagai teman, dan juga secara ofisial beliau juga membawakan artefak budaya yang merupakan kerja sama dari pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan dengan FBI, yaitu pengembalian benda-benda budaya, artefak budaya, yang diselundupkan ke Amerika Serikat secara ilegal dan setelah dilakukan satu provenance research atau asal-usul, maka benda-benda itu kemudian dikembalikan dan dibawa langsung oleh Bapak Kash Patel kepada Pak Presiden Prabowo Subianto,” ujar Fadli Zon dalam keterangannya usai pertemuan dikutip dari BPMI Setpres. 

Fadli Zon menjelaskan bahwa artefak yang dikembalikan tersebut berasal dari Papua, tepatnya merupakan warisan budaya masyarakat suku Dani, suku Asmat, dan suku Danau di kawasan Danau Sentani. Menurutnya, benda-benda tersebut memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat tinggi bagi Indonesia.

“Saya kira ini merupakan benda-benda yang sangat berharga karena proses repatriasi ini merupakan upaya kita untuk memulihkan kedaulatan budaya kita,” lanjutnya.

Fadli Zon juga mengungkapkan bahwa kerja sama antara Indonesia dan FBI dalam pengembalian benda budaya telah berlangsung sebelumnya. FBI tercatat telah beberapa kali membantu mengembalikan berbagai artefak penting Indonesia yang dicuri, termasuk arca-arca perunggu serta artefak dari sejumlah situs budaya.

“Kita harapkan kerja sama dengan FBI terutama terkait dengan repatriasi, restitusi benda-benda budaya ini ke depannya akan semakin kuat, didukung juga oleh Sekneg dan juga Kementerian Luar Negeri,” tutur Fadli.

Lebih lanjut, Fadli menegaskan bahwa pengembalian artefak budaya tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk memulihkan kedaulatan budaya nasional sekaligus memperkaya pengetahuan masyarakat terhadap warisan sejarah bangsa. Artefak-artefak tersebut nantinya akan dipamerkan di Museum Nasional agar dapat dinikmati sekaligus dipelajari oleh masyarakat luas.

“Saya kira ini adalah bagian dari upaya untuk mengembalikan kedaulatan budaya kita untuk menyempurnakan pengetahuan budaya, dan kita tentu akan ekshibit ini, akan mempamerkan ini di Museum Nasional,” ujar Fadli.