Tentara Pakistan Membunuh 30 Militan yang Mencoba Menyeberang dari Afghanistan
EtIndonesia. Tentara Pakistan mengatakan pada hari Jumat (4/7) bahwa mereka telah membunuh 30 militan yang mencoba menyeberangi perbatasan dari Afghanistan selama tiga hari terakhir, setelah 16 tentara Pakistan tewas dalam serangan bunuh diri di wilayah perbatasan yang sama minggu lalu.
Militan tersebut adalah anggota Taliban Pakistan atau kelompok afiliasinya, kata militer dalam sebuah pernyataan, menuduh musuh bebuyutan India mendukung mereka.
“Pasukan keamanan menunjukkan profesionalisme, kewaspadaan, kesiapan yang luar biasa, dan mencegah potensi bencana,” katanya.
“Sejumlah besar senjata, amunisi, dan bahan peledak juga ditemukan,” tambah pernyataan itu.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif memuji pasukan keamanan karena “menggagalkan upaya penyusupan”.
Pembunuhan itu terjadi di distrik perbatasan Waziristan Utara, tempat 16 tentara Pakistan tewas minggu lalu dalam serangan bunuh diri yang diklaim oleh faksi Taliban Pakistan.
Pernyataan perdana menteri Pakistan itu juga menuduh India mengobarkan militansi di Pakistan. Islamabad juga secara rutin menyalahkan tetangga baratnya, Afghanistan, karena membiarkan kelompok militan beroperasi di wilayahnya.
Rusia menjadi negara pertama yang mengakui pemerintahan Taliban Afghanistan
Sementara itu, Rusia menjadi negara pertama yang mengakui Taliban sebagai pemerintahan yang sah di Afghanistan.
Rusia telah menerima surat kepercayaan duta besar baru Afghanistan sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk membangun hubungan persahabatan dengan otoritas Taliban di negara itu, yang merebut kekuasaan saat pasukan Amerika Serikat menarik diri dari negara itu empat tahun lalu.
“Kami percaya bahwa tindakan pengakuan resmi terhadap pemerintah Emirat Islam Afghanistan akan memberikan dorongan bagi pengembangan kerja sama bilateral yang produktif antara negara kita di berbagai bidang,” kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis (3/7). (yn)
Induk Beruang Membawa Dua Anaknya Berenang Menyeberangi Waduk, Saksi Mata : Menakjubkan
EtIndonesia. Seorang pria di Amerika Serikat menyaksikan momen mengharukan saat seekor induk beruang membawa dua anaknya menyeberangi sebuah waduk dengan berenang di negara bagian Massachusetts. Ia menganggap pemandangan ini sungguh menakjubkan.
Pria tersebut bernama Izzy Drost. Dalam unggahan di Facebook baru-baru ini, ia menceritakan bahwa ia dan temannya pergi memancing di Waduk Quabbin (Quabbin Reservoir) yang terletak di New Salem, ketika tiba-tiba mereka melihat beruang-beruang itu muncul di permukaan air.
Drost menulis, “Teman saya mengajak saya memancing ke Waduk Quabbin. Tiba-tiba kami melihat seekor induk beruang membawa dua anak beruang kecil berenang melintasi permukaan air menuju sebuah pulau kecil. Itu benar-benar pemandangan yang membuat takjub.”
Ia juga membagikan beberapa klip video pendek yang ia rekam. Video tersebut mungkin merupakan rekaman satwa liar terbaik yang pernah ia ambil.
Menurut laporan WBZ-TV pada 30 Juni, para ahli menyatakan bahwa beruang hitam mampu berenang di air tawar sejauh setidaknya 2,4 kilometer. Departemen Perikanan dan Satwa Liar Massachusetts menyarankan masyarakat untuk menjaga jarak aman saat mengamati beruang.
Para ahli juga memberikan saran penting jika bertemu beruang dalam jarak dekat:
- Tetap tenang.
- Jangan berlari atau memanjat pohon.
- Mundur perlahan.
- Pastikan beruang memiliki jalur aman untuk pergi.
- Jika diserang, lawan balik.
Selain itu, pada tahun 2017, seorang pria lainnya juga berhasil merekam adegan serupa di negara bagian Alaska: seekor induk beruang membawa dua anaknya berenang di danau.
Menurut laporan majalah National Geographic, pria bernama David Roseman ini bekerja paruh waktu di Taman Negara Bagian Wood-Tikchik di barat daya Alaska. Ia menyaksikan dengan jelas seekor induk beruang mengayuh kuat dengan kaki belakangnya sambil membawa dua anak beruang kecil yang baru berusia beberapa bulan berenang ke tepi danau.
Ia mengatakan saat itu ia sedang mengemudikan perahu kecil untuk mengantarkan bahan bakar ke sebuah pondok ketika melihat beruang di kejauhan sedang berenang. Ia berada sekitar 27 meter dari beruang tersebut.
Roseman menyebutkan bahwa ia telah bekerja di taman itu selama 21 tahun, namun belum pernah melihat pemandangan seekor induk beruang menggendong anaknya menyeberangi danau.
Ia menambahkan bahwa induk beruang itu berenang dari sebuah pulau kecil di Danau Aleknagik menuju tepi daratan, dengan jarak kurang dari 366 meter dari seberang. (asr)
Aksi Gila di Moskow! Para Jenderal Putin Berguguran Dipenggal, Perang Diam-diam Makin Panas!
EtIndonesia. Dalam 12 jam terakhir, rangkaian kabar mengejutkan datang bertubi-tubi dari medan perang Rusia-Ukraina, menandai eskalasi baru yang mengejutkan banyak pihak. Ukraina, yang selama ini dikenal sebagai pihak yang lebih banyak bertahan, kini justru mengadopsi strategi serangan ofensif ala Israel. Hasilnya, sejumlah jenderal dan perwira tinggi Rusia tewas dalam waktu berdekatan, hingga menimbulkan keguncangan besar di tubuh militer dan intelijen Kremlin.
Ledakan di Jantung Moskow, Operasi Rahasia Ukraina “Tiger’s Den Extraction 2.0”
Pada Selasa, 2 Juli 2025, pusat kota Moskow dikejutkan ledakan besar yang disusul kobaran api melahap sedikitnya dua mobil. Insiden tersebut, menurut sejumlah media Rusia, merupakan operasi intelijen Ukraina bertajuk “Tiger’s Den Extraction 2.0”. Operasi ini menargetkan dan berhasil menewaskan Mayor Jenderal Alexey Komkov, Kepala Direktorat Kelima Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB). Direktorat Kelima dikenal sebagai otak kontra-intelijen Rusia yang membidik wilayah negara-negara eks Uni Soviet (CIS).
Lebih dari sekadar kehilangan pejabat senior, insiden ini menjadi bukti nyata bahwa operasi Ukraina kini telah menembus jantung pertahanan Moskow. Banyak pengamat militer menilai, fase “operasi militer khusus” Rusia yang semula menyasar Kiev, kini berbalik arah, dan Moskow menjadi titik terpanas dalam perang bayangan yang kian nyata.
Strategi “Pemenggalan” Gaya Israel: Komandan Armada Laut Hitam dan Jenderal Rusia Tewas
Dalam sepekan terakhir, pola serangan Ukraina sangat mencolok. Dengan memanfaatkan intelijen presisi dan sistem senjata mutakhir seperti HIMARS buatan Amerika Serikat, Ukraina melancarkan serangkaian serangan yang secara khusus menargetkan para perwira tinggi dan fasilitas vital Rusia.
Pada hari yang sama dengan insiden Moskow, pasukan Ukraina menyerang pangkalan Armada Laut Hitam Rusia di Krimea. Laksamana Muda Akhmetov, sang komandan, tewas akibat hantaman roket HIMARS. Pangkalan yang menjadi markas rahasia itu luluh lantak, kobaran api menyelimuti kawasan, dan hampir tidak ada korban yang selamat.
Korban lain adalah Mayor Jenderal Mikhail Gudkov —Wakil Panglima Angkatan Laut Rusia—beserta wakilnya Kolonel Nariman Shikhaliyev. Gudkov, yang sempat dinobatkan sebagai “Pahlawan Federasi Rusia” karena kiprahnya di medan tempur, juga pernah diperintahkan melakukan eksekusi tawanan perang Ukraina, sehingga oleh Kiev, ia dinyatakan sebagai penjahat perang kelas berat.
Dalam waktu singkat, Ukraina juga menggempur pangkalan militer Rusia di Kursk. Dengan satu serangan HIMARS, sekitar 10–20 perwira tinggi Rusia dikabarkan tewas. Skala dan presisi serangan inilah yang membuat banyak analis membandingkan strategi Ukraina dengan pola operasi militer Israel.
Struktur Pangkat Rusia dan Kematian Perwira Tiongkok
Muncul pertanyaan di kalangan publik: mengapa Komandan Armada Laut Hitam berpangkat letnan jenderal, namun Wakil Panglima Angkatan Laut hanya mayor jenderal? Dalam sistem militer Rusia, hal ini wajar. Posisi Wakil Panglima biasanya diisi lebih dari satu perwira, dengan pangkat berbeda—tergantung senioritas dan pengalaman. Sedangkan komandan armada besar seperti Armada Laut Hitam, minimal setara letnan jenderal.
Terungkap pula, dalam salah satu serangan, seorang perwira tinggi militer Tiongkok yang diam-diam bertugas di medan Rusia-Ukraina ikut tewas. Menurut Kepala Direktorat Intelijen Ukraina, Kyrylo Budanov, operasi semacam ini dirancang khusus untuk menghancurkan inti militer dan jaringan intelijen Rusia secara sistematis.
Sasaran Berikutnya: Gudang Amunisi, Logistik, dan Serangan ke Sasaran Sipil
Tak hanya perwira tinggi, sasaran serangan Ukraina kini meluas ke gudang amunisi, fasilitas minyak, dan pusat logistik Rusia. Gudang amunisi Rusia di Khartsyzk hancur lebur, ledakannya menerangi langit malam, dan membuat pasokan logistik Rusia di garis depan putus total. Serangan berikutnya menghantam pusat amunisi lain dengan daya ledak yang oleh saksi diibaratkan seperti “bom nuklir mini”.
Pada 2 Juli 2025, serangan drone bunuh diri Ukraina mencapai kantor pemerintah di Izhevsk, Rusia. Puluhan pegawai pemerintah dilaporkan terluka. Drone ini diyakini memiliki jangkauan lebih dari 1.500 kilometer dan dibekali sistem navigasi AI mutakhir, sehingga mampu menghindari sistem pertahanan udara tercanggih Rusia seperti S-400 maupun S-500.
Operasi Pemburuan “Pengkhianat Ukraina” dan Infiltrasi Mata-mata FSB
Sumber internal Rusia menyebut, Ukraina kini juga memburu para kolaborator di wilayah Ukraina Timur yang diduduki Rusia. Mantan wali kota Lugansk yang ditunjuk Moskow, misalnya, tewas akibat bom di jalan raya, jasadnya tergeletak dan fotonya tersebar luas sebagai pesan intimidasi keras.
Di sisi lain, Ukraina juga membasmi “musuh dalam selimut” di tubuh militernya sendiri. Seorang mayor Angkatan Udara Ukraina, yang ternyata agen FSB Rusia, baru-baru ini ditangkap setelah ketahuan membocorkan koordinat bandara dan logistik Ukraina. Ia kini menghadapi hukuman penjara seumur hidup.
Keterlibatan Korea Utara dan Tiongkok: Aliansi Baru Kremlin
Dalam wawancara 1 Juli 2025, Kepala Intelijen Ukraina, Budanov membeberkan kerja sama militer Rusia-Korea Utara. Pyongyang kini mengoperasikan sistem pertahanan udara Pantsir-S1 buatan Rusia, lengkap dengan pelatihan dari militer Rusia. Sebagai balasan, Korea Utara disebut siap mengirim tambahan 30.000 tentara ke Ukraina, bahkan telah ada modifikasi pesawat angkut Rusia untuk mobilisasi massal tentara Korea Utara, ditargetkan tiba pada Agustus.
Meski tahun lalu pasukan Korea Utara mengalami korban jiwa hingga 40%, Kim Jong Un terus mengirimkan tentaranya demi bayaran per kepala, transfer teknologi, dan pengalaman tempur. Kini, justru jumlahnya makin bertambah.
Budanov juga mengungkap adanya tentara Tiongkok—bukan hanya warga sipil—yang dikirim untuk belajar perang di garis depan, bahkan Rusia dikabarkan sedang melatih ratusan tentara Tiongkok di pangkalan militer mereka.
Amerika Serikat Bantah Hentikan Bantuan Militer
Di tengah eskalasi, rumor soal Amerika Serikat menghentikan bantuan senjata ke Ukraina merebak dan sempat memicu kegelisahan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Tammy Bruce, segera membantah: “Amerika tidak pernah menghentikan pengiriman senjata ke Ukraina.” Ia menegaskan, audit yang dilakukan hanyalah prosedur standar untuk memastikan stok persenjataan AS tetap aman.
Presiden Zelenskyy juga menekankan bahwa komunikasi dengan AS tetap intensif. Bantuan berikutnya, termasuk jet tempur F-16 dan rudal AIM-120 generasi terbaru, sedang dipersiapkan dengan nilai mencapai 300–500 juta dolar AS.
Sistem HIMARS, yang terbukti efektif, tetap jadi andalan. Di sisi lain, Donald Trump dikabarkan belum menyerah dalam upaya mencari terobosan perdamaian. Pada hari ini, Trump mengumumkan melalui media sosial bahwa ia akan segera mengadakan pembicaraan telepon dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Menariknya, pagi tadi beredar video yang memperlihatkan Putin menghadiri sebuah forum, namun ia tiba-tiba berpamitan dan berkata kepada peserta, “Saya harus pergi, supaya Trump tidak menunggu terlalu lama di telepon.” (***)
Rusia Luncurkan 550 Pesawat Nirawak, 11 Rudal ke Kyiv dalam Serangan Terbesar Sejak Dimulainya Perang
EtIndonesia. Rusia menyerang Kyiv dengan pesawat nirawak dalam serangan sepanjang malam, melukai sedikitnya 23 orang, merusak infrastruktur kereta api, dan membakar gedung-gedung serta mobil-mobil di seluruh kota, kata pihak berwenang di ibu kota Ukraina pada Jumat pagi (4 Juli).
Peringatan serangan udara berlangsung lebih dari delapan jam saat Rusia meluncurkan total 539 pesawat nirawak dan 11 rudal yang menargetkan wilayah Ukraina, kata Angkatan Udara Ukraina.
Serangan itu adalah yang terbaru dalam serangkaian serangan udara Rusia di Kyiv yang telah meningkat dalam beberapa minggu terakhir dan termasuk beberapa serangan paling mematikan dalam perang di kota berpenduduk tiga juta orang itu.
Perusahaan kereta api milik negara Ukraina, Ukrzaliznytsia, operator kereta api terbesar di negara itu, mengatakan di Telegram bahwa serangan terhadap Kyiv merusak infrastruktur kereta api di kota itu, mengalihkan sejumlah kereta penumpang, dan menyebabkan penundaan.
“Target utama serangan itu adalah ibu kota Ukraina, kota Kyiv!” kata Angkatan Udara dalam sebuah postingan di aplikasi pesan Telegram.
Empat belas korban luka dirawat di rumah sakit, kata Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko di Telegram. Kerusakan tercatat di enam dari 10 distrik Kyiv di kedua sisi Sungai Dnipro yang membelah kota itu dan puing-puing pesawat nirawak yang jatuh membakar fasilitas medis di distrik Holosiivskyi yang rindang, kata Klitschko.
Tymur Tkachenko, kepala Administrasi Militer Kota Kyiv, memperingatkan warga untuk menutup jendela mereka karena kadar “produk pembakaran” yang berbahaya di udara.
“Rusia, negara teroris, telah mendatangkan malapetaka,” tulis Tkachenko di Telegram. “Rusia tidak membawa apa pun kecuali teror dan pembunuhan. Itu fakta.”
Absolutely horrible and sleepless night in Kyiv. One of the worst so far.
— Andrii Sybiha 🇺🇦 (@andrii_sybiha) July 4, 2025
Hundreds of Russian drones and ballistic missiles rained down on the Ukrainian capital.
Right after Putin spoke with President Trump. And he does it on purpose.
Enough of waiting! Putin clearly shows… pic.twitter.com/R0mlfUgJRx
Video media sosial menunjukkan orang-orang berlarian mencari tempat berlindung, petugas pemadam kebakaran memadamkan api dalam kegelapan dan bangunan-bangunan yang hancur dengan jendela dan fasad hancur.
Morning in Kyiv. No sleep. Air quality is extremely bad. City is covered in thick smoke.
— Maria Avdeeva (@maria_avdv) July 4, 2025
This is Russian terror, aimed at people who chose to stay, resist and fight. pic.twitter.com/a1pCBzHUOt
Angkatan Udara Ukraina mengatakan telah menghancurkan 478 senjata udara yang diluncurkan Rusia semalam. Serangan udara musuh tercatat di delapan lokasi di seluruh negeri dengan sembilan rudal dan 63 pesawat nirawak, tambahnya.
Kamis malam, penembakan Rusia menewaskan lima orang di dan dekat Kota Pokrovsk di Ukraina timur, target utama serangan Rusia selama berbulan-bulan, kata Ukraina.
Kedua belah pihak membantah menargetkan warga sipil dalam perang yang dilancarkan Rusia dengan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022. Namun, ribuan warga sipil tewas dalam konflik tersebut, sebagian besar dari mereka adalah warga Ukraina.(yn)
‘Trump Bisa Tersinggung’: Putin Bergegas Keluar dari Acara untuk Melakukan Panggilan Telepon dengan Trump
EtIndonesia. Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Presiden AS, Donald Trump telah dijadwalkan untuk berbicara pada hari Kamis (3/7). Pembicaraan antara kedua pemimpin tersebut akan menjadi percakapan keenam yang diketahui publik setelah Trump kembali menjabat. Pembicaraan tersebut juga terjadi di tengah upaya AS yang gagal untuk menengahi gencatan senjata di Ukraina.
Putin, pada hari Kamis, bergegas meninggalkan sesi pleno forum ‘Strong Ideas for a New Time forum held by the Agency for Strategic Initiatives’ untuk mempromosikan proyek-proyek baru, dengan tergesa-gesa.
Dia meminta maaf kepada tuan rumah dan hadirin serta mengumumkan bahwa dia akan melakukan panggilan telepon dengan Trump dan meminta hadirin: “Tolong, jangan marah. Saya mengerti bahwa kita bisa berbicara lebih banyak, tetapi sangat canggung untuk membuat [Trump] menunggu, dia bisa tersinggung.”
Komentarnya muncul setelah AS menghentikan semua pengiriman senjata dan bantuan militer ke Ukraina. Jeda tersebut terjadi karena Rusia telah meningkatkan serangannya di seluruh Ukraina. Menteri Luar Negeri Kyiv, Andrii Sybiha, mengatakan Rusia meluncurkan lebih dari 5.000 pesawat tempur nirawak dan ratusan rudal, termasuk hampir 80 rudal balistik, pada bulan Juni saja.
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga dijadwalkan menelepon Trump.
Presiden AS telah mengumumkan panggilan tersebut dalam sebuah unggahan Truth Social.
Namun, perlu dicatat bahwa Putin dikenal membuat para pemimpin dunia menunggu. Pada bulan Maret, sebuah panggilan telepon dijadwalkan dengan mitranya dari AS.
Panggilan telepon yang dijadwalkan antara dia dan Trump akan dimulai antara pukul 4 sore dan 6 sore waktu Rusia . Putin menghadiri sebuah konferensi dengan para pemimpin bisnis Rusia di Moskow pada saat itu dan dilaporkan tidak menunjukkan urgensi untuk meninggalkan acara tersebut, membuat Trump menunggu selama lebih dari satu jam.
Selama acara tersebut, Alexander Shokhin, kepala Persatuan Industrialis dan Pengusaha Rusia, mengemukakan bahwa juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengumumkan bahwa sudah lewat pukul 4 sore waktu Moskow – slot yang ditentukan untuk panggilan telepon Putin dengan Trump.
Dalam rekaman video dari acara tersebut, Shokhin terlihat bertanya kepada Putin apakah dia akan terlambat, merujuk pada pernyataan Peskov tentang panggilan telepon yang dijadwalkan.
Alih-alih bergegas ke Kremlin, Putin dengan santai menepis kekhawatiran itu dengan sebuah lelucon, menurut laporan tersebut.
Dia berkata: “Jangan dengarkan dia! Itu tugasnya,” sambil mengangkat bahu, yang mengundang tawa dari hadirin.
Shokhin, mantan wakil perdana menteri di bawah Putin, menanggapi: “Sekarang, kita perlu melihat apa yang dikatakan Trump tentang ini.”
Putin, yang masih tersenyum, menjawab: “Saya tidak menyebut Trump. Saya berbicara tentang Peskov.”
Meskipun panggilan telepon itu merupakan pertukaran diplomatik yang sangat dinanti-nantikan, Putin tidak segera meninggalkan Moscow International Music Hall. Sebaliknya, dia melanjutkan agendanya, dan akhirnya meninggalkan tempat tersebut sekitar pukul 5 sore waktu Rusia, satu jam penuh setelah jadwal dimulainya percakapan teleponnya dengan Trump.(yn)
KMP Tunu Pratama Jaya Tenggelam di Selat Bali Setelah Sekitar Setengah Jam Meninggalkan Pelabuhan Ketapang
Kapal penyeberangan yang membawa 65 orang tenggelam di Selat Bali, pada 2 Juli malam, menyebabkan sedikitnya 4 orang tewas dan 38 orang hilang, sementara 23 lainnya berhasil diselamatkan. Polres Banyuwangi menyampaikan kabar tersebut pada Kamis (3 Juli). Operasi pencarian dan penyelamatan masih terus berlangsung.
EtIndonesia. Badan Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menyatakan dalam pernyataannya Kamis (3 Juli), bahwa feri KMP Tunu Pratama Jaya awalnya dijadwalkan berlayar dari Pelabuhan Ketapang di Jawa Timur menuju Pelabuhan Gilimanuk di Bali — menempuh jarak sekitar 50 kilometer.
Saat kejadian, feri tersebut mengangkut 53 penumpang, 12 awak kapal, dan 22 kendaraan, termasuk 14 truk.
Pernyataan tersebut menyebutkan bahwa feri tenggelam sekitar 30 menit setelah meninggalkan Pelabuhan Ketapang. Namun, penyebab kecelakaan belum dijelaskan.

Hingga pukul 07:50 pagi waktu setempat, sebanyak 23 orang berhasil diselamatkan dan 4 orang dilaporkan meninggal dunia.
Kapolres Banyuwangi, Kombes Rama Samtama Putra, menyampaikan bahwa banyak korban selamat terombang-ambing di laut yang bergelombang tinggi selama beberapa jam, dan sebagian dari mereka ditemukan dalam keadaan tidak sadar.

Setelah kejadian, total 9 kapal dikerahkan sepanjang malam untuk mencari korban di tengah ombak setinggi 2 meter, termasuk 2 kapal tugboat dan 2 perahu karet.
Menurut AFP, sejauh ini belum diketahui apakah terdapat warga negara asing di antara penumpang. Di Indonesia, jumlah penumpang di atas kapal seringkali tidak sesuai dengan manifes resmi, dan petugas SAR mengatakan mereka masih memverifikasi kemungkinan adanya penumpang yang tidak tercatat. (Hui/asr)



