Bintang Liverpool, Diogo Jota, Meninggal Dunia dalam Kecelakaan Mobil di Spanyol
Federasi Sepak Bola Portugal mengonfirmasi kabar duka ini pada Kamis pagi.
EtIndonesia. Bintang sepak bola Liverpool dan tim nasional Portugal, Diogo Jota, 28 tahun, meninggal dunia dalam kecelakaan mobil di dekat Zamora, wilayah barat laut Spanyol, demikian disampaikan Federasi Sepak Bola Portugal (FPF) pada Kamis (03/07/2025).
Saudaranya, Andre Silva, 26 tahun, yang juga pemain sepak bola profesional untuk klub Portugal Penafiel, turut meninggal dalam kecelakaan tersebut.
Dinas pemadam kebakaran wilayah Castile dan Leon melaporkan bahwa sebuah mobil mengalami kecelakaan tak lama lewat tengah malam pada hari Kamis, dengan dua pria berusia 28 dan 26 tahun ditemukan telah meninggal di lokasi kejadian.
Tragedi ini terjadi hanya dua minggu setelah Jota menikahi kekasihnya, Rute Cardoso.
Polisi Spanyol menyatakan bahwa mereka belum dapat secara resmi mengonfirmasi identitas korban yang meninggal dunia.
“Federasi Sepak Bola Portugal dan seluruh dunia sepak bola Portugal benar-benar hancur atas kematian Diogo Jota dan André Silva, pada dini hari tadi di Spanyol,” kata Presiden FPF Pedro Proenca dalam sebuah pernyataan.
Proenca menggambarkan Jota sebagai “lebih dari sekadar pemain yang luar biasa”, dan menyebut penyerang Liverpool itu sebagai “seseorang yang luar biasa, dihormati oleh rekan dan lawan, pribadi yang penuh kegembiraan dan menjadi panutan di komunitasnya.”
“Atas nama pribadi dan atas nama Federasi Sepak Bola Portugal, saya menyampaikan belasungkawa terdalam kami kepada keluarga dan teman-teman Diogo Jota dan André Silva, serta kepada Liverpool FC dan FC Penafiel, klub tempat mereka bermain saat ini,” lanjutnya.
UEFA menyatakan bahwa akan dilakukan hening cipta satu menit sebelum semua pertandingan Kamis dan Jumat di ajang UEFA Women’s Euro di Swiss sebagai bentuk penghormatan.
Liverpool FC, yang baru saja menjadi juara Liga Premier untuk kedua kalinya dalam sejarah klub dengan kontribusi besar dari Jota musim ini, menyampaikan kesedihannya melalui unggahan di media sosial.
Dalam pernyataan di situs resmi Liverpool FC, klub menyatakan tidak akan memberikan komentar lebih lanjut, dan meminta privasi untuk teman-teman serta keluarga kedua bersaudara, juga bagi rekan satu tim dan staf klub.
Karangan bunga dan kaus bertuliskan nama Jota telah diletakkan oleh para penggemar Liverpool di luar stadion klub, Anfield, sebagai bentuk penghormatan.
Kapten tim nasional Portugal, Cristiano Ronaldo, memberikan penghormatan kepada Jota dan saudaranya melalui unggahan di Instagram.
“Ini tidak masuk akal. Kita baru saja bersama di tim nasional, dan kamu baru saja menikah,” tulis Ronaldo.
“Untuk keluargamu, istrimu, dan anak-anakmu, aku menyampaikan belasungkawa dan berharap mereka diberi kekuatan sebesar mungkin. Aku tahu kamu akan selalu bersama mereka.
Beristirahatlah dalam damai, Diogo dan André. Kami semua akan merindukan kalian.”
Perdana Menteri Portugal dan Perdana Menteri Inggris juga menyampaikan rasa duka mereka.
“Berita kematian Diogo Jota, seorang atlet yang sangat mengharumkan nama Portugal, dan saudaranya, sungguh mengejutkan dan tragis,” tulis Perdana Menteri Portugal, Luis Montenegro, di platform X (dahulu Twitter).
“Saya menyampaikan belasungkawa terdalam kepada keluarga mereka. Ini adalah hari yang menyedihkan bagi sepak bola dan dunia olahraga, baik nasional maupun internasional.”
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menyebut berita ini sebagai sesuatu yang menghancurkan hati, dan mengatakan dalam konferensi pers di London:
“Saya yakin saya berbicara mewakili semua orang ketika saya mengatakan bahwa pikiran pertama kita semua tertuju kepada keluarga dan teman-temannya.”
Jota, yang menikahi kekasih lamanya Rute Cardoso pada 22 Juni, meninggalkan tiga orang anak.
Ia bergabung dengan Liverpool dari klub Wolverhampton Wanderers pada tahun 2020 dan mencetak 65 gol dalam 182 pertandingan untuk Liverpool di semua kompetisi.
Sebagai penyerang, ia juga tampil dalam 49 pertandingan untuk tim nasional Portugal dan dua kali menjuarai UEFA Nations League. (asr)
Menguak Strategi Partai Komunis Tiongkok dalam Konflik Israel–Iran
Antonio Graceffo
Konflik selama 12 hari antara Iran dan Israel baru-baru ini, kemudian disusul oleh serangan Amerika Serikat terhadap situs nuklir Iran, menciptakan dilema strategis bagi pemimpin Tiongkok Xi Jinping—berbeda dengan berabgai krisis sebelumnya di Timur Tengah.
Beijing tidak memiliki kepentingan langsung dalam perang Israel–Hamas maupun konflik di Ukraina, dan mempertahankan kedok netralitas meskipun secara ekonomi mendukung Moskow. Sebaliknya, krisis Iran menimbulkan ancaman langsung terhadap keamanan energi dan kepentingan ekonomi regional Tiongkok.
Secara global, Tiongkok memiliki investasi besar—seringkali melalui inisiatif belt and road (BRI)—di wilayah kaya sumber daya namun tidak stabil seperti Afrika dan Myanmar. Namun Beijing umumnya menghindari keterlibatan militer secara langsung, membatasi perannya pada bantuan ekonomi atau penjualan senjata.
Salah satu penghalang utama bagi rezim Tiongkok untuk mencapai status adidaya sejati adalah keengganannya memimpin dalam isu-isu keamanan global atau mengerahkan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) ke luar negeri. Beberapa analis percaya bahwa sikap menahan diri ini mencerminkan pelajaran yang diambil Beijing dari kesalahan Amerika Serikat di Vietnam dan Afghanistan.
Selain keengganan umum Beijing untuk terlibat dalam perang asing, konflik Israel–Iran menghadirkan komplikasi tambahan: konflik ini secara langsung melibatkan Amerika Serikat. Selama bertahun-tahun, Taiwan dipandang sebagai titik nyala paling mungkin bagi bentrokan militer antara dua kekuatan tersebut. Perang terkait Taiwan akan membawa risiko ekonomi dan politik besar bagi Partai Komunis Tiongkok (PKT), sementara Xi berupaya mengukuhkan legacynya melalui “penyatuan kembali” Tiongkok, meskipun faktanya Taiwan tidak pernah menjadi bagian dari Republik Rakyat Tiongkok.
Sebaliknya, kepentingan PKT di Iran sebagian besar bersifat ekonomi, yang memberi insentif jauh lebih kecil bagi Xi untuk mengambil risiko konfrontasi langsung dengan Washington—meskipun dalam konteks meningkatnya poros Tiongkok–Rusia–Iran.
Namun Beijing juga tidak bisa begitu saja meninggalkan Teheran. Tiongkok bergantung pada minyak Iran, memiliki investasi regional yang signifikan, dan memandang posisi geografis Iran sebagai sangat strategis. Ini memaksa PKT untuk menavigasi jalur yang rumit: mempertahankan kepentingan Tiongkok sambil menghindari keterlibatan dalam perang yang lebih luas.
Hubungan Tiongkok dengan Iran sebagian besar didasarkan pada energi. Iran memasok sekitar 43 juta barel minyak per bulan ke Tiongkok—lebih dari 90 persen ekspor minyak Iran—yang menyumbang sekitar 13,6 persen dari impor minyak mentah Tiongkok. Arus ini tetap berlangsung meskipun ada sanksi AS, seringkali disalurkan secara diam-diam melalui negara ketiga.
Jika konflik Israel–Iran berkepanjangan dan melibatkan AS, hal ini dapat secara serius mengganggu produksi dan ekspor minyak Iran. Risiko ini diperparah oleh pemungutan suara parlemen Iran untuk menutup Selat Hormuz sebagai tanggapan terhadap serangan udara AS—keputusan yang masih menunggu persetujuan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Selat Hormuz adalah titik sempit vital antara Teluk Persia dan Teluk Oman yang mengangkut hampir 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Bagi Tiongkok, penutupan selat ini akan sangat merugikan: tidak hanya pasokan minyak dari Iran akan terputus, tetapi juga impor minyak mentah dan LNG dari negara-negara Arab lainnya akan turut terancam. Lebih dari 30 persen impor LNG Tiongkok dari Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA) melewati jalur air sempit ini, menjadikan gangguan apa pun sebagai ancaman langsung terhadap keamanan energi Tiongkok.
Meskipun hubungan energi kuat, investasi Tiongkok di Iran tetap terbatas—kurang dari 5 miliar dolar AS sejak 2007, dibandingkan dengan hampir 15 miliar dolar di Arab Saudi (2007–2024) dan lebih dari 8,1 miliar dolar di UEA (2013–2022). Meskipun Beijing telah menandatangani perjanjian besar di bidang minyak, kilang, dan infrastruktur dengan Iran, banyak proyek mandek karena hambatan sanksi dan pembiayaan.
Sementara itu, Tiongkok telah memperluas kehadiran ekonominya di seluruh kawasan Teluk Persia, dengan perdagangan Tiongkok–Arab melebihi 400 miliar dolar pada 2024 dan seluruh 22 negara Liga Arab menjadi bagian dari inisiatif BRI. Perang AS–Iran dapat membahayakan tidak hanya jalur energi utama Tiongkok, tetapi juga jejak ekonomi Tiongkok yang lebih luas di kawasan tersebut.
Iran juga memainkan peran penting dalam upaya Tiongkok membangun tatanan global alternatif di luar pengaruh AS. Meski kecil kemungkinan Beijing akan membela Teheran secara militer, Tiongkok ingin menghindari keruntuhan rezim Iran, karena negara itu adalah mitra strategis dalam blok-blok seperti BRICS dan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) yang mendukung visi keamanan non-Barat ala PKT. Kedua negara meresmikan kemitraan mereka dalam perjanjian kerja sama 25 tahun pada 2021, meskipun investasi Tiongkok tetap berhati-hati karena risiko sanksi.
Beijing memanfaatkan konflik Israel–Iran—seperti halnya perang di Ukraina dan Gaza—untuk memperkuat narasi utamanya bahwa tatanan internasional yang dipimpin AS bersifat tidak stabil, bias, dan sedang menurun. Narasi ini ditonjolkan dalam pertemuan menteri pertahanan SCO di Qingdao, Tiongkok, yang diadakan bersamaan dengan KTT NATO—sebuah benturan simbolis antara dua visi global yang bersaing: satu dipimpin AS dan sekutunya, dan satu lagi yang makin dibentuk oleh Tiongkok.
Dalam pertemuan itu, Menteri Pertahanan Tiongkok Dong Jun mengecam perilaku “hegemoni” AS dan mempromosikan model keamanan alternatif Beijing. Menteri Pertahanan Iran Aziz Nasirzadeh, dalam kunjungan luar negeri pertamanya sejak konflik Israel–Iran, berterima kasih kepada Tiongkok atas dukungannya dan mendesak Beijing untuk memainkan peran lebih besar dalam menjaga gencatan senjata dan stabilitas kawasan.
Meskipun Beijing mengkritik serangan Israel terhadap para pemimpin Iran dan pemboman AS terhadap tiga situs nuklir Iran, tanggapannya sebagian besar bersifat retoris, difokuskan pada pernyataan di PBB alih-alih mediasi langsung atau keterlibatan nyata. Ini mencerminkan pola umum PKT yang cenderung melontarkan kecaman tajam tanpa benar-benar mengambil peran besar dalam penyelesaian konflik.
Meski begitu, krisis ini membuka celah strategis. Dengan perhatian AS teralihkan ke Timur Tengah, rezim Tiongkok mungkin mencari peluang di tempat lain—terutama di Laut Tiongkok Selatan, di mana Beijing baru-baru ini meningkatkan aktivitas angkatan laut dan udaranya. Saat Washington sibuk, Beijing memperoleh ruang untuk bertindak lebih agresif di zona-zona strategis utamanya sambil menampilkan diri sebagai alternatif yang lebih stabil dibandingkan kepemimpinan Barat.
Pandangan dalam artikel ini adalah opini penulis dan tidak mencerminkan pendapat resmi The Epoch Times
Antonio Graceffo, Ph.D., adalah seorang analis ekonomi Tiongkok yang telah menghabiskan lebih dari 20 tahun di Asia. Graceffo merupakan lulusan Shanghai University of Sport, memegang gelar MBA dari Shanghai Jiaotong University, dan mempelajari keamanan nasional di American Military University.
WHO Umumkan Varian COVID XFG Sebagai ‘Varian yang Dipantau’
Varian ini berbeda dari varian yang saat ini dominan di Amerika Serikat dan yang memicu lonjakan infeksi di Tiongkok tahun ini.
EtIndonesia. Baru-baru ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa varian COVID-19 baru yang muncul awal tahun ini kini dikategorikan sebagai “varian yang dipantau,” menjadikannya varian kedua dalam sebulan terakhir yang menerima penetapan tersebut.
Laporan WHO yang terbaru menyebutkan Varian XFG, yang merupakan salah satu turunan dari strain JN.1, dievaluasi oleh WHO sebagai berisiko rendah di tingkat global. Urutan genetik XFG pertama kali dilaporkan pada Januari 2025.
“Vaksin COVID-19 yang saat ini disetujui diperkirakan tetap efektif terhadap varian ini dalam mencegah penyakit bergejala dan berat. Beberapa negara di kawasan Asia Tenggara melaporkan peningkatan kasus baru dan rawat inap secara bersamaan, di mana XFG telah terdeteksi secara luas,” demikian pernyataan badan kesehatan PBB dalam laporan tertanggal 25 Juni.
WHO menyatakan bahwa data terkini tidak menunjukkan bahwa varian XFG menyebabkan penyakit yang lebih parah atau tingkat kematian lebih tinggi dibandingkan varian lain yang sedang beredar.
Kasus dan rawat inap meningkat di negara-negara di mana kasus XFG relatif lebih tinggi, tambah WHO, dengan beberapa negara Asia Tenggara melaporkan lebih banyak kasus dan rawat inap yang terkait dengan varian ini.
Di Amerika Serikat, varian ini diperkirakan menyumbang hanya 14 persen dari total kasus per 21 Juni, menurut pembaruan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) pada 26 Juni.
Secara keseluruhan, XFG menunjukkan keunggulan pertumbuhan yang “moderat” karena frekuensi urutan genetiknya meningkat dari 7,4 persen pada awal Mei menjadi 22,7 persen antara akhir Mei hingga awal Juni, menurut laporan WHO.
XFG tampaknya memiliki risiko rendah dalam hal pelolosan kekebalan (kemampuan untuk menghindari respons imun tubuh), meskipun tingkat keyakinan terhadap penilaian ini masih rendah karena ekspansi yang baru terjadi dan tingkat pengurutan genetik yang rendah. Selain itu, hanya satu studi yang telah dilakukan untuk menilai antigenisitas—yaitu kemampuan suatu varian untuk bereaksi terhadap produk dari respons imun tubuh.
“Di India, XFG telah menjadi varian dominan sepanjang musim semi, sementara NB.1.8.1 tetap sangat jarang,” tulis WHO dalam pembaruan terbarunya, seraya menambahkan bahwa XFG tidak umum ditemukan di wilayah Afrika dan Mediterania Timur.
Gejala yang Dilaporkan
Centers for Disease Control and Prevention AS (CDC) atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS menyebutkan, Varian COVID-19 lainnya, NB.1.8.1, merupakan varian yang paling banyak dilaporkan di negara tersebut. Varian ini juga disebut sebagai penyebab utama lonjakan kasus di daratan Tiongkok sepanjang tahun ini.
Seperti XFG, NB.1.8.1 juga ditetapkan sebagai “varian yang dipantau” oleh WHO pada Mei. Laporan internasional dan beberapa dokter di Tiongkok menyebutkan bahwa varian NB.1.8.1 dapat menyebabkan sakit tenggorokan yang tajam disertai gejala COVID-19 lainnya seperti demam, batuk, dan nyeri tubuh.
Namun, mengingat riwayat Partai Komunis Tiongkok yang sering menutup-nutupi informasi dan menerbitkan data yang tidak dapat diandalkan—termasuk meremehkan jumlah infeksi dan kematian terkait COVID-19 sejak 2020—informasi dari dokter dan tenaga kesehatan lokal lebih bernilai untuk memahami situasi nyata di lapangan.
WHO baru-baru ini juga merilis laporan pembaruan tentang asal-usul COVID-19, menyatakan bahwa peneliti mereka gagal menemukan jawaban pasti tentang bagaimana virus tersebut bermula. Pejabat intelijen AS selama bertahun-tahun telah menyatakan bahwa kemungkinan besar virus ini bocor dari sebuah laboratorium di dekat Wuhan, Tiongkok, pada akhir 2019 sebelum menyebar ke seluruh Tiongkok dan dunia.
Pembaruan dari WHO ini juga muncul beberapa minggu setelah Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS merekomendasikan agar anak-anak sehat dan wanita hamil dikeluarkan dari jadwal imunisasi COVID-19 yang direkomendasikan oleh CDC.
Baru-baru ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) juga memperluas peringatan untuk vaksin mRNA COVID-19 buatan Pfizer dan Moderna terkait potensi risiko dua jenis peradangan jantung: miokarditis dan perikarditis.
The Epoch Times menghubungi CDC pada 30 Juni untuk meminta komentar terkait varian-varian tersebut. (asr)
Sumber : Theepochtimes.com
Menurut Laporan: Korea Utara Akan Mengirim 30.000 Tentara Tambahan untuk Membantu Rusia
EtIndonesia. Korea Utara akan mengirim 30.000 tentara tambahan untuk membantu invasi Rusia ke Ukraina, tiga kali lipat dari jumlah tentara yang telah diberikannya kepada Moskow, jaringan intelijen Kyiv memperingatkan.
Setelah mengirim hampir 12.000 tentara untuk membantu Rusia merebut kembali wilayah Kursk awal tahun ini, Pyongyang berencana untuk memperkuat kehadirannya di sepanjang garis depan dalam beberapa bulan mendatang untuk memungkinkan “operasi ofensif skala besar,” CNN melaporkan.
Kementerian Pertahanan Rusia diduga menggembar-gemborkan bahwa mereka sepenuhnya mampu memberikan pelatihan dan “peralatan, senjata, dan amunisi yang dibutuhkan” untuk membawa tentara Pyongyang ke garis depan secepat mungkin, menurut penilaian Ukraina.
Peringatan itu bertepatan dengan kedatangan kapal besar dan pesawat kargo di bandara Sunan Korea Utara, yang keduanya terkait dengan pengerahan pasukan ke Rusia tahun lalu, menurut CNN.
Penilaian dan laporan tersebut mencerminkan peringatan Korea Selatan minggu lalu bahwa Pyongyang bersiap untuk mengerahkan pasukan dan senjata tambahan ke Rusia pada bulan Juli atau Agustus.
Badan Intelijen Nasional (NIS) Seoul mengatakan Rusia sedang mempersiapkan serangan skala besar terhadap Ukraina dalam dua bulan ke depan, dengan Moskow bersiap untuk menggunakan ribuan pejuang Korea Utara agar serangan itu dapat terlaksana.
Hal ini sesuai dengan peringatan dari analis dan pakar independen yang telah memperingatkan bahwa musim panas akan menandai dorongan baru bagi invasi Rusia ke Ukraina setelah berbulan-bulan mengalami stagnasi.
Serangan itu mungkin terjadi di dekat wilayah Sumy, tempat markas besar kontra-invasi Ukraina berada selama pengambilalihan Kursk musim panas lalu.
Pimpinan militer tertinggi Ukraina, Oleksandr Syrskyi mengungkapkan minggu lalu bahwa Moskow menempatkan sekitar 50.000 tentara di sepanjang perbatasan dengan Sumy, tempat Presiden Rusia Vladimir Putin mengungkapkan rencana untuk membangun zona penyangga keamanan.
Pemimpin Rusia itu menggunakan kata-kata serupa saat mempersiapkan pasukan invasi pertamanya pada tahun 2022.
Sekitar 600 tentara Pyongyang tewas dan ribuan lainnya terluka saat bertempur melawan Kyiv setelah Kim mengerahkan sekitar 12.000 tentara untuk membantu Rusia mendapatkan kembali kendali atas wilayah Kursk, menurut intelijen Ukraina dan Korea Selatan.
Meskipun Rusia dan Korea Utara awalnya menghindar untuk membahas keberadaan pasukan Pyongyang di Ukraina, mereka sejak itu merayakannya sebagai tanda kerja sama militer yang berkembang antara kedua negara.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un membuat pengakuan publik pertamanya atas pakta tersebut selama siaran Senin (1/7) di media pemerintah, yang memperlihatkan dia memberikan penghormatan publik yang langka kepada para prajurit yang gugur. (yn)
Iran Eksekusi 6 Orang Setelah Persidangan Cepat, Menangkap Ratusan Orang dalam Tindakan Keras Spionase Selama Perang dengan Israel
EtIndonesia. Pihak berwenang Iran telah mengeksekusi enam orang dan menangkap 700 orang dalam tindakan keras spionase nasional selama perang 12 hari dengan Israel, kata pejabat dan kelompok hak asasi manusia.
Setelah pemboman Israel terhadap program nuklir Teheran mengungkap sejauh mana infiltrasi
Israel itu ke Iran, republik Islam itu mulai menangkap penduduk atas dugaan pengkhianatan, dengan setengah lusin orang tewas dalam persidangan yang sangat cepat, menurut Pusat Hak Asasi Manusia di Iran.
Kelompok hak asasi manusia dan media lokal memperkirakan bahwa lebih dari 700 orang ditangkap di lima provinsi Iran, dengan banyak dari mereka yang dipenjara tidak tahu tentang tuduhan yang dijatuhkan kepada mereka.
Asghar Jahangir, juru bicara peradilan Iran, mengatakan bahwa negara akan segera mengungkapkan dengan tepat berapa banyak orang yang ditangkap dalam penyisiran itu, serta tuduhan apa yang akan mereka hadapi.
DIa mengatakan kepada wartawan pada hari Minggu bahwa banyak yang ditangkap karena “memata-matai rezim Zionis” — tepat saat parlemen Iran mengumumkan rancangan undang-undang darurat untuk menjatuhkan hukuman yang lebih berat, termasuk hukuman mati, atas tuduhan spionase.
Jahangir mengatakan pengadilan juga memperluas pemantauannya terhadap komunikasi elektronik untuk mengejar akun daring yang diduga bekerja sama dengan Israel.
Situs web hak asasi manusia HRANA yang berbasis di AS mengklaim bahwa hampir 300 orang yang ditahan sejauh ini ditangkap karena aktivitas daring mereka, termasuk karena membuat posting di media sosial mengenai pemboman Israel.
Amnesty International pertama kali membunyikan alarm atas tindakan keras selama perang, melaporkan bahwa satu orang tewas atas tuduhan spionase hanya tiga hari setelah serangan Israel dimulai pada tanggal 13 Juni.
“Seruan resmi untuk persidangan dan eksekusi yang dipercepat bagi mereka yang ditangkap karena dugaan kerja sama dengan Israel menunjukkan bagaimana otoritas Iran mempersenjatai hukuman mati untuk menegaskan kendali dan menanamkan rasa takut di antara rakyat Iran,” kata kelompok hak asasi manusia tersebut tentang dugaan penyalahgunaan sistem peradilan oleh Teheran.
“Pihak berwenang harus memastikan semua yang ditahan dilindungi dari penghilangan paksa, penyiksaan, dan perlakuan buruk lainnya, serta diberikan pengadilan yang adil setiap saat, termasuk selama konflik bersenjata,” tambah kelompok tersebut.
Penindakan keras tersebut telah menciptakan efek mengerikan di seluruh Iran, dengan banyak orang memilih untuk melepas pakaian berwarna-warni mereka dan mengenakan pakaian yang lebih tradisional agar tidak dicap sebagai pengkhianat dan menjadi sasaran pihak berwenang.
“Selama pemerintahan ini ada, saya khawatir tentang kemungkinan meningkatnya penindasan, tetapi selama masa ketika ada ‘ancaman eksternal’, penindasan menjadi jauh lebih buruk, karena mereka memiliki lebih banyak alasan untuk melihat kami sebagai musuh,” seorang berusia 26 tahun dari Teheran mengatakan kepada Washington Post.
Seorang aktivis yang hanya mengidentifikasi dirinya sebagai Zahra, 41 tahun, mengatakan kepada media tersebut bahwa setidaknya empat rekannya ditangkap selama penyisiran, dengan lebih banyak penangkapan kemungkinan akan terjadi karena Iran mencoba untuk mempertahankan cengkeraman besinya pada warga negaranya dengan kuat.
Iran memiliki sejarah menangkap dan mengeksekusi para pembangkang dalam tindakan keras yang dimulai sejak berdirinya republik Islam tersebut pada tahun 1979.
Pada tahun 2022, pengacara berusia 22 tahun Mahsa Amini meninggal dalam tahanan polisi setelah ditangkap karena diduga melanggar aturan jilbab yang ketat di negara tersebut — yang memicu protes nasional. (yn)
AS Hentikan Pengiriman Bantuan Militer: Ukraina Panggil Diplomat AS, Peringatkan Akan ‘Mendorong’ Rusia untuk Melanjutkan Perang
EtIndonesia. Ukraina memanggil wakil kepala kedutaan AS di Kyiv untuk rapat pada hari Rabu (2/7) dan memperingatkannya bahwa penundaan bantuan militer AS ke Ukraina akan “mendorong” Rusia, kata kementerian luar negeri Kyiv. Gedung Putih mengumumkan pada hari Selasa bahwa mereka menghentikan beberapa pengiriman senjata utama ke Ukraina yang dijanjikan oleh pemerintahan AS sebelumnya untuk memerangi invasi Rusia.
“John Ginkel diundang ke kementerian luar negeri Ukraina… Pihak Ukraina menekankan bahwa penundaan atau penundaan dalam mendukung kemampuan pertahanan Ukraina hanya akan mendorong agresor untuk melanjutkan perang,” kata kementerian luar negeri Kyiv dalam sebuah pernyataan.
Kremlin menyambut baik langkah tersebut, dengan mengatakan bahwa mengurangi aliran senjata ke Kyiv akan membantu mengakhiri konflik lebih cepat.
“Dalam kasus apa pun, semakin sedikit jumlah senjata yang dikirim ke Ukraina, semakin dekat akhir operasi militer khusus,” kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada wartawan menanggapi pertanyaan AFP, menggunakan istilah Rusia untuk serangannya selama lebih dari tiga tahun.
Pemotongan bantuan terjadi pada saat yang berbahaya bagi Ukraina, yang telah mengalami pemboman hebat Rusia selama berminggu-minggu dan telah menyerahkan wilayahnya kepada tentara Moskow di garis depan.
Media AS melaporkan bahwa sistem pertahanan udara Patriot dan artileri termasuk di antara barang-barang yang ditahan, yang keduanya menurut Kyiv sangat dibutuhkan.
Seorang sumber tingkat tinggi di militer Ukraina mengatakan kepada AFP bahwa Kyiv akan berjuang untuk mempertahankan diri dari serangan pasukan Rusia tanpa amunisi AS.
“Kami sekarang sangat bergantung pada pasokan senjata Amerika, meskipun Eropa melakukan yang terbaik, tetapi akan sulit bagi kami tanpa amunisi Amerika,” kata sumber itu.(yn)
Tiga Tipe Ibu yang Paling Mudah Membuat Anak Menjadi “Musuh”—Terutama Tipe Ketiga, sangat akurat !
EtIndonesia. Seorang teman pernah berkata pada saya:”Saya hampir tidak bicara lagi dengan ibu saya.”
Dulu waktu kecil, semua hal harus menurut ibunya—mau pakai baju apa, belajar apa, bermain dengan siapa—semuanya ditentukan oleh sang ibu.
Tapi ketika ia tumbuh dewasa dan mulai membuat keputusan sendiri, ibunya langsung berkata : “Kamu sudah merasa hebat ya, sekarang tidak mau dengar ibu lagi.”
Dia berkata: “Sekarang setiap kali mendengar suara ibu saya, kepala saya langsung sakit.”
Sebenarnya, sikap dingin anak setelah dewasa bukanlah kasus yang langka. Sering kali kita berpikir, anak yang berubah—padahal, bisa jadi perilaku kita sendirilah yang perlahan-lahan menjauhkan mereka. Bahkan di hati sang anak, ibu yang dulu begitu dekat, kini justru menjadi sosok yang ingin mereka hindari.
Ada tiga tipe ibu yang paling berpotensi menjadikan anak sebagai “lawan”, terutama yang ketiga—terlalu sering terjadi, dan sangat tepat!
1. Ibu yang Terlalu Mengatur Segalanya
Banyak ibu, sejak anak lahir, langsung menjadikan “mengurus” sebagai misi hidupnya.
Karena takut anak tersesat, semuanya diatur sedetail mungkin: makan apa, pakai apa, belajar apa, bahkan cita-cita pun sudah ditentukan.
Mereka berkata:
· “Ikuti kata Ibu, Ibu tidak mungkin mencelakakan kamu.”
· “Sekarang kamu belum mengerti, nanti kamu akan paham semua yang Ibu lakukan ini demi kamu.”
Kedengarannya familiar?
Mayoritas ibu bertindak dari rasa sayang. Tapi kadang, yang kita sebut “demi kebaikanmu” sebenarnya hanyalah “harus seperti yang aku mau.”
Saya pernah bertemu seorang mahasiswi yang berkata:“Seumur hidup, saya belum pernah membuat keputusan sendiri.”
Bahkan ketika ingin berhenti main piano, dia tak berani bicara, karena ibunya merasa itu adalah investasi terbesar yang telah diberikan padanya.
Akhirnya, dia perlahan enggan berbicara dengan ibunya.
“Untuk apa bicara? Dia sudah pikirkan semuanya sejak awal.”
Meskipun tinggal serumah, jarak batin mereka makin jauh dari hari ke hari.
2. Ibu Bertipe Meledak-ledak Emosi
Ibu seperti ini sebenarnya tidak berniat jahat, bahkan sangat ingin menjadi ibu yang baik. Tapi dia terlalu lelah. Bekerja di siang hari, mengurus rumah di malam hari, semua dipikul sendiri. Tak ada yang membantu, tak ada yang memahami.
Akhirnya, hal-hal kecil pun jadi pemicu ledakan:
· Anak mengerjakan PR terlalu lambat → langsung dibentak.
· Lantai rumah kotor → sambil mengepel, sambil memaki.
· Kadang bahkan tidak ada alasan khusus—emosi yang terpendam terlalu lama, akhirnya meledak.
Muncullah kata-kata seperti:
· “Ibu ini capek-capek buat siapa, sih?”
· “Kenapa kamu selalu bikin Ibu susah?”
· “Ibu sudah sabar banget, tahu gak?!”
Mungkin setelahnya sang ibu menyesal,
tapi di hati anak, ia sudah memasang jarak.
Karena dunia anak itu sederhana— mereka belum paham bahwa “Ibu sedang lelah”.
Yang mereka ingat hanyalah: “Ibu sering marah. Ibu tidak suka aku.”
Jika ini terjadi berulang kali, anak akan belajar tiga hal:
1. Lebih baik diam, agar tidak kena marah.
2. Jaga jarak, agar tidak merasa sakit hati.
3. Tidak percaya diri, karena terus disalahkan.
Lama-lama, anak bisa tumbuh jadi pribadi yang sensitif, tertutup, dan dingin.
Sebagai ibu, kita terlalu ingin jadi sempurna, tapi lupa bahwa kita pun butuh bernapas. Saat kita hidup lebih ringan, anak akan merasakan kehangatan, bukan tekanan.
3. Ibu Bertipe “Cerewet Tanpa Sadar Menyakiti”
Ibu tipe ini tidak galak, tidak suka marah, tapi kata-katanya menyakitkan hati anak, tanpa ia sadari.
Sering berkata:
· “Kamu kok bodoh sekali, begini saja gak bisa?”
· “Ibu bukan marahin kamu ya, cuma hasilnya aja yang jelek.”
· “Anak orang lain bisa kok, kenapa kamu enggak?”
Nada suaranya mungkin tidak tinggi, bahkan sambil tersenyum— tapi kata-katanya menusuk dan mengikis harga diri anak perlahan-lahan.
Ada seorang anak perempuan yang berkata, setiap kali pulang membawa nilai bagus, ibunya tetap akan mencari-cari kesalahan: “Kamu salah dua nomor ini, pasti karena ceroboh!”
Akhirnya, dia tidak mau lagi membagikan prestasinya. Tidak ingin cerita apa-apa ke ibunya.
“Saya merasa sebaik apa pun, tetap tidak akan cukup.”
Ibu seperti ini tidak berniat melukai anak, hanya saja sudah terlalu terbiasa memakai cara negatif untuk mengekspresikan kecemasan dan harapan.
Namun, bagi anak,“omelan kecil yang berulang” itu adalah luka batin yang perlahan tumbuh dalam diam.
Kalau kamu terus berkata, “Kamu gak bisa,” lama-lama anak benar-benar percaya bahwa dirinya tak mampu. Kalau kamu selalu membandingkan, dia akan tumbuh dengan perasaan tidak layak untuk dicintai.
Yang Paling Menyakiti Anak Bukan Bentakan, Tapi Kata-kata yang Diucapkan Tanpa Pikir Panjang
Kita memang harus mendidik anak, tapi:
· Mendidik bukan berarti menjatuhkan.
· Jujur bukan berarti menyakiti.
Kadang, satu kalimat pujian dan satu pelukan hangat, cukup membuat anak tumbuh dengan rasa percaya diri. Sebaliknya, satu kalimat kritik tanpa empati, bisa membuat anak bergumul dengan keraguan diri seumur hidup.
Penutup:
Jangan bersedih, karena setiap ibu pasti sudah berusaha semampunya
Tapi jika kita bisa:
· Lebih sabar sedikit
· Lebih mengurangi kontrol
· Lebih mengizinkan anak menjadi dirinya sendiri
Maka anak akan merasa: “Ibu bukan ingin mengubahku, tapi ibu menemaniku untuk tumbuh.”
Cinta tidak harus sempurna. Cukup hadir dengan kelembutan—itu sudah luar biasa. (jhn/yn)
Program Nuklir Iran Menurun Hingga Dua Tahun, Kata Pentagon Setelah 10 Hari Serangan
EtIndonesia. Hampir 10 hari setelah menyerang fasilitas nuklir Iran, Pentagon mengatakan telah menurunkan program nuklir Teheran hingga dua tahun. Hal itu menunjukkan bahwa operasi militer AS yang dilakukan di Fordow, Natanz, dan Isfahan berhasil dan tujuannya tercapai.
Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, dalam sebuah pengarahan mengatakan: “Kami telah menurunkan program mereka satu hingga dua tahun, setidaknya penilaian intelijen di dalam Departemen Pertahanan menilai hal itu.”
Dia menambahkan: “Semua intelijen yang telah kami lihat membuat kami percaya bahwa fasilitas Iran, khususnya, telah sepenuhnya dihancurkan.”
Meskipun belum lama ini, Presiden Trump mengatakan: “Saya dapat melaporkan kepada dunia bahwa serangan ini merupakan keberhasilan militer yang spektakuler. Fasilitas nuklir utama Iran telah selesai dan sepenuhnya dihancurkan. Iran, pengganggu Timur Tengah, sekarang harus berdamai.”
Wakil Presiden JD Vance mengatakan: “Tujuan kami adalah mengubur uranium, dan saya pikir uranium memang dikubur. Tujuannya adalah menghilangkan pengayaan dan menghilangkan kemampuan mereka untuk mengubah bahan bakar yang diperkaya itu menjadi senjata nuklir. Saya pikir itu poin penting.”
Pada tanggal 26 Juni, seorang pejabat senior Israel mengatakan kepada kantor berita The Times of Israel bahwa serangan AS dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran telah menghambat program nuklir selama ‘beberapa tahun,’ tetapi belum menghancurkan atau membongkarnya sepenuhnya. Ini bertentangan dengan klaim yang dibuat oleh Trump setelah serangan 22 Juni di lokasi nuklir.
Parnell menambahkan: “Semua intelijen yang kami lihat membuat kami percaya bahwa fasilitas Iran khususnya, telah sepenuhnya dihancurkan.”
Pesawat pembom militer AS telah menargetkan tiga fasilitas nuklir Iran dan telah menggunakan lebih dari selusin bom penghancur bunker seberat 13.600 kg dan lebih dari dua lusin rudal jelajah serang darat Tomahawk. (yn)
KMP Tunu Pratama Jaya Tenggelam di Selat Bali, Bawa 65 Orang dan 22 Kendaraan
ETIndonesia. Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Tunu Pratama Jaya yang membawa 65 orang tenggelam di Selat Bali, Rabu (3/7/2025) malam.
Kapal tersebut dengan rincian terdiri 53 penumpang dan 12 kru serta membawa 22 unit kendaraan. KMP Pratama bertolak dari pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali.
Tim SAR dari Basarnas dan gabungan sudah diterjunkan untuk melakukan penyelamatan dan pencarian . Basarnas menyampaikan turut prihatin atas musibah yang menimpa kepada para korban.
“Badan sar nasional menyampaikan turut prihatin atas musibah yang menimpa KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali,” kata kepala Basarnas, Marsekal Madya Mohammad Syafii.
Hingga Kamis (4/7) pukul 11.00 WIB, Kepala Basarnas menyampaikan hasil operasi SAR sementara yang telah dilakukan tim sar gabungan, telah ditemukan:
Korban selamat: 31 orang
Meninggal dunia: 4 orang
Dalam pencarian: 30 orang.
Berikut kronologi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya :
- Rabu, 2 Juli 2025 pukul 22.56 WIB, sesuai jadwal KMP Tunu Pratama Jaya Bertolak dari Pelabuhan Ketapang Menuju Gilimanuk
- Pukul 23.20 WIB KMP Tunu Pratama Jaya Menyampaikan Distress call ke KSOP (Kantor Syahbandar Otoritas Pelabuhan) Tanjungwangi
- Pukul 23.35 WIB, KSOP Menyatakan Kapal Tenggelam
- Informasi dilaporkan kepada Basarnas Kantor SAR Surabaya pada pukul 23.40 WIB, Basarnas Command Center langsung e-broadcast kepada seluruh kapal yang ada di sekitar lokasi kejadian untuk melaksanakan operasi sar di bawah kendali sar mission coordinator (SMC)
- Pukul 23.50 WIB Tim Sar dari pos sar banyuwangi berangkat menggunakan rigid inflatable boat (RIB) dan rigid buoyancy boat (RBB) untuk melaksanakan operasi sar di lokasi kejadian.
- Pukul 00.20 WIB Tim Sar dari Pos Sar Jembrana diberangkatkan menuju lokasi, tiba pukul 00.55 WUB.
- Pukul 05.30 WIB Basarnas memberangkatkan KN Sar Permadi dari kantor SAR Surabaya dan KM SAR Arjuna dari kantor SAR Denpasar ke lokasi kejadian
- Operasi sar yang dilaksanakan basarnas bersama potensi sar diikuti oleh: Kantor SAR Surabaya, Kantor SAR Denpasar, Pos SAR Banyuwangi, Pos SAR Jembrana, TNI AL, Polairud, KSOP, KPLP, Satbrimob, BPBD, BMKG, Tagana, potensi SAR lokal dan nasional, Instansi pelabuhan dan operator ASDP di Ketapang dan Gilimanuk, nelayan setempat.
Alat Utama yang terlibat dalam operasi saat ini:
RIB 03 dan RBB Banyuwangi
RIB 01 Jembrana
KN SAR Permadi dari Kansar Surabaya
KN SAR Arjuna dari Kansar Denpasar
KN 5200 dan KN 5209 dari KSOP Tanjungwangi
Kapal AL Sembulungan dan Patkamla Payaman
TB Joyoboyo dari pelindo
KMP Tunu pratama Jaya 5888 dan 3888
Operasi SAR masih terus dilanjutkan.
(***)
