477 Drone, 60 Rudal: Rusia Luncurkan Serangan Udara “Terbesar” ke Ukraina

EtIndonesia. Rusia meluncurkan serangan udara terbesarnya terhadap Ukraina semalam, melukai sedikitnya enam orang, termasuk seorang anak, menurut pejabat Ukraina. Moskow menembakkan total 537 senjata udara ke Ukraina, termasuk 477 drone dan umpan serta 60 rudal. Dari jumlah tersebut, 249 ditembak jatuh dan 226 hilang, kemungkinan karena gangguan elektronik, menurut angkatan udara Ukraina.

Rusia menargetkan segala sesuatu yang menopang kehidupan, kata Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy dalam sebuah posting di X saat kampanye pengeboman yang meningkat semakin menghancurkan harapan akan terobosan dalam upaya untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 3 tahun. Zelenskyy mencatat bahwa pengeboman merusak rumah dan infrastruktur, dan Ukraina kehilangan jet tempur F-16 ketiganya sejak dimulainya perang saat menangkis serangan tersebut.

“Hampir sepanjang malam, peringatan serangan udara berbunyi di seluruh Ukraina – 477 pesawat nirawak berada di langit kami, sebagian besar adalah Shahed Rusia-Iran, bersama dengan 60 rudal dari berbagai jenis. Rusia menargetkan segala sesuatu yang menopang kehidupan. Sebuah bangunan tempat tinggal di Smila juga terkena serangan, dan seorang anak terluka. Layanan darurat merespons di mana pun mereka dibutuhkan,” kata Presiden Ukraina.

“Tragisnya, saat menangkis serangan itu, pilot F-16 kami, Maksym Ustymenko, tewas. Hari ini, dia menghancurkan 7 target udara. Belasungkawa saya kepada keluarga dan saudara seperjuangannya. Saya telah menginstruksikan agar semua keadaan kematiannya diselidiki. Penerbangan Ukraina secara heroik melindungi langit kami. Saya berterima kasih kepada semua orang yang membela Ukraina,” tambahnya.

Zelenskyy mengatakan Moskow tidak akan berhenti selama negara itu masih mampu melancarkan serangan besar-besaran, karena dia mencatat bahwa hanya dalam seminggu terakhir saja, telah ada lebih dari 114 rudal, lebih dari 1.270 pesawat nirawak, dan hampir 1.100 bom luncur.

“Putin sudah lama memutuskan bahwa dia akan terus berperang, meskipun dunia menyerukan perdamaian. Perang ini harus diakhiri – tekanan terhadap agresor diperlukan, dan begitu pula perlindungan. Perlindungan dari rudal balistik dan rudal lainnya, dari pesawat nirawak, dan dari teror. Ukraina perlu memperkuat pertahanan udaranya – hal yang paling melindungi nyawa. Ini adalah sistem Amerika, yang siap kami beli. Kami mengandalkan kepemimpinan, kemauan politik, dan dukungan dari Amerika Serikat, Eropa, dan semua mitra kami. Saya berterima kasih kepada semua orang yang membantu,” tambahnya.

Yuriy Ihnat, kepala komunikasi angkatan udara Ukraina, mengatakan kepada Associated Press bahwa serangan semalam itu adalah “serangan udara paling masif” di negara itu, dengan mempertimbangkan pesawat nirawak dan berbagai jenis rudal. Serangan itu menargetkan wilayah-wilayah di seluruh Ukraina, termasuk Ukraina barat, yang jauh dari garis depan.

Polandia dan negara-negara sekutu mengerahkan pesawat untuk memastikan keamanan wilayah udara Polandia, kata angkatan udara Polandia pada hari Minggu.

“Enam Orang Terluka”

Enam orang, termasuk satu anak, terluka di wilayah Cherkasy tengah, kata gubernur, Ihor Taburets, melalui pesan Telegram. Gubernur wilayah Kherson Oleksandr Prokudin mengatakan satu orang tewas dalam serangan pesawat nirawak.

Di wilayah Lviv di ujung barat Ukraina, kebakaran skala besar terjadi di sebuah fasilitas industri di kota Drohobych setelah serangan pesawat nirawak yang juga memaksa sebagian kota itu kehilangan aliran listrik.

Tiga gedung bertingkat dan sebuah perguruan tinggi rusak dalam serangan itu, katanya.

Fasilitas industri terkena serangan di Mykolaiv, Ukraina selatan, dan wilayah Dnipropetrovsk, Ukraina tengah, kata para pejabat.

Pemerintah setempat menerbitkan foto-foto rumah bertingkat dengan dinding hangus dan jendela pecah, serta tim penyelamat mengevakuasi penduduk.

Gubernur wilayah Lviv di bagian barat negara itu mengatakan serangan itu menargetkan infrastruktur penting. Namun, ia tidak melaporkan akibatnya.

500 Jenis Senjata Digunakan

Militer Ukraina mengatakan sekitar 500 jenis senjata udara digunakan selama serangan itu, termasuk pesawat nirawak, rudal balistik, dan rudal jelajah.

“Untuk menangkis serangan besar-besaran itu, semua sarana pertahanan yang tersedia yang dapat beroperasi pada aset udara musuh dikerahkan,” kata militer.

Pilot jet F-16 Ukraina melakukan semua yang dia bisa dan menerbangkan jet itu menjauh dari pemukiman tetapi tidak punya waktu untuk melontarkan diri, kata Angkatan Udara Ukraina.

“Pilot menggunakan semua senjata yang ada di pesawat dan menembak jatuh tujuh target udara. Saat menembak jatuh target terakhir, pesawatnya rusak dan mulai kehilangan ketinggian,” kata Angkatan Udara melalui pesan Telegram.

Dikatakan bahwa serangan udara tercatat di enam lokasi.(yn)

Empat Kali Kesadaran dalam Hidup: Semakin Cepat Disadari, Semakin Sedikit Jalan Berliku yang Ditempuh

EtIndonesia. Hidup ini, jika dikatakan panjang—tidak terlalu panjang, jika dibilang singkat—juga tidak singkat. Tapi, di sepanjang hidup itu, selalu ada beberapa momen yang membuat kita tiba-tiba sadar akan suatu kebenaran. Seperti lampu yang menyala di dalam pikiran. Hal-hal yang sebelumnya terasa membingungkan, tiba-tiba jadi masuk akal.

Setidaknya, ada empat kali kesadaran besar dalam hidup. Siapa pun yang lebih cepat mengalaminya, bisa menghindari banyak jalan memutar dan penyesalan.

Kesadaran Pertama: Ternyata Membaca Buku Itu Memang Penting

Dulu, banyak orang berpikir bahwa belajar dan membaca buku tidak banyak gunanya—apalagi melihat orang yang tidak terlalu berpendidikan justru bisa sukses besar, kaya raya. Maka muncullah anggapan bahwa belajar hanyalah pemborosan waktu.

Namun, setelah melewati berbagai kegagalan dan keterbatasan, barulah kita paham makna sebenarnya dari pepatah: “Buku itu baru terasa kurang ketika sedang sangat dibutuhkan.”

Di media sosial pernah ada pertanyaan yang viral:
“Seperti apa orang yang paling tidak punya semangat hidup?”

Jawaban paling disukai adalah:

“Orang yang setiap hari cemas dengan hidupnya, tetapi tidak punya keteguhan hati untuk berubah. Hangat-hangat tahi ayam, selalu menyerah di tengah jalan. Biasa-biasa saja, tapi hidup penuh kepedihan.”

Jawaban ini begitu tepat menggambarkan kenyataan. Banyak di antara kita terjebak dalam kesulitan hidup bukan karena nasib buruk, tapi karena bekal ilmu yang terlalu minim dan wawasan yang sempit.

Orang bijak zaman dulu berkata: “Di dalam buku terdapat istana emas.” 

Kini kita tahu, “istana” itu bukanlah kekayaan materi, tetapi kebijaksanaan, ketenangan, dan keyakinan dalam menghadapi hidup.

Sastrawan besar Su Shi (Su Dongpo), saat dibuang ke Hainan, menulis: “Perut penuh dengan buku, maka wajah memancarkan cahaya.” 

Maksudnya jelas: saat seseorang memiliki ilmu, dia tidak panik saat menghadapi kesulitan, pikirannya tenang, dan tetap bisa melihat harapan bahkan di ujung kegelapan.

Kesadaran Kedua: Saat Terpuruk, Belajarlah Menelan Kepahitan Sendiri

Ketika masih muda, kita cenderung meledak-ledak. Sedikit saja merasa dirugikan, langsung ingin membela diri. Namun seiring waktu, kita mulai sadar bahwa tidak semua ketidakadilan harus kita gugat, tidak semua kepahitan bisa kita luapkan. Ada banyak hal yang harus kita telan diam-diam.

Penulis legendaris Sanmao pernah berkata:  “Segala sesuatu di dunia ini punya waktunya sendiri untuk datang dan pergi. Yang perlu kita lakukan hanyalah memperbaiki diri, lalu menunggu dengan tenang.”

Hidup ini seperti roller coaster: ada naik, ada turun. Saat di bawah, mengeluh tidak membantu, marah juga tak berguna. Lebih baik ubah rasa kecewa itu menjadi bahan bakar untuk naik lagi.

Terlalu banyak orang jatuh karena satu kegagalan, lalu kehilangan semangat dan tidak bangkit lagi. Tapi orang-orang yang tetap waras dan kuat dalam diam, justru bisa menemukan peluang di balik krisis. 

Seperti kata pepatah: “Pedang tajam terbentuk dari tempaan, bunga plum yang harum tumbuh dari musim dingin yang pahit.”

Tanpa melewati keterpurukan, hidup tak akan pernah utuh. Maka belajarlah menjadi orang dewasa yang tenang, tahu kapan harus sabar, dan tetap hidup penuh harapan. Kadang, titik terendah dalam hidup adalah titik balik menuju keberhasilan. Justru ketika tak ada jalan mundur, baru jalan ke depan terbuka.

Kesadaran Ketiga: Tidak Ada Makan Siang Gratis di Dunia Ini

Akan tiba masanya kita sadar bahwa segala keberuntungan dalam hidup sebenarnya datang dengan harga.

Banyak orang mencoba mencari jalan pintas, berharap bisa sukses tanpa bersusah payah. Tapi akhirnya, mereka sadar bahwa setiap “roti lapis dari langit” pasti ada harga tersembunyi di baliknya.

Seperti dunia investasi saham: ada orang yang untung besar karena informasi orang dalam, merasa dirinya jenius. Tapi keuntungan seperti itu datang secepat kilat dan pergi dengan badai. Yang benar-benar sukses adalah mereka yang sabar menganalisis fundamental perusahaan. 

Seperti kata Warren Buffett:  “Saat orang lain serakah, aku takut. Saat orang lain takut, aku serakah.”

Hidup juga begitu: apa pun yang terlalu mudah didapatkan, sering kali kelak menuntut bayaran lebih besar. 

Seperti pepatah:  “Apa pun yang kamu dapat dari jalan pintas, cepat atau lambat harus dibayar kembali.”

Daripada berharap keberuntungan, lebih baik melangkah pasti, satu langkah demi satu langkah. Hidup yang benar adalah hidup yang berjalan dengan jejak nyata, bukan dengan lompatan ilusi.

Kesadaran Keempat: Mengenal Diri Sendiri Lebih Penting dari Apa Pun

Pada zaman Dinasti Xia, ada seorang jenderal bernama Bo Qi yang ditugaskan menghadapi musuh besar. Meski tentaranya lebih banyak dan persenjataannya lebih lengkap, dia kalah telak.

Para prajuritnya kecewa dan ingin membalas kekalahan, namun Bo Qi menolak. 

Dia berkata: “Kita kalah meskipun jumlah dan persenjataan lebih unggul. Ini artinya kita kalah bukan karena kekuatan, tapi karena manajemen dan strategi. Tanpa perbaikan, perang ulang akan tetap kalah.”

Inilah yang disebut kekuatan dari kesadaran diri. Banyak orang saat gagal langsung menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain—tapi enggan mengakui kekurangannya sendiri. Padahal, orang bijak tahu: sulit mengubah orang lain, tapi kita bisa mengubah diri sendiri.

Kong Hu Cu berkata: “Mengetahui orang lain itu cerdas, tetapi mengetahui diri sendiri itulah kebijaksanaan sejati.”

Hanya dengan benar-benar mengenali diri—kelebihan dan kekurangannya—barulah kita bisa fokus ke arah yang tepat, menggunakan energi secara maksimal. 

Seperti kata Zhuangzi: “Hidup kita terbatas, ilmu itu tidak terbatas.”

Artinya, kita tidak bisa menguasai segalanya. Tapi jika kita tahu apa yang cocok, tahu apa yang unggul, lalu menekuninya, barulah kita bisa berkembang maksimal.

Penutup: Kesadaran Membawa Transformasi

Empat kesadaran ini, ada yang tidak pernah mendapatkannya sepanjang hidup, ada juga yang sudah tercerahkan di usia tiga puluh. Tentu, lebih cepat lebih baik. 

Tapi seperti pepatah bijak:  “Waktu terbaik menanam pohon adalah sepuluh tahun yang lalu. Waktu terbaik berikutnya adalah hari ini.”

Hidup adalah perjalanan mengenal dan membentuk diri sendiri. Setiap momen kesadaran adalah satu lompatan besar dalam pendewasaan.

Seperti kata Zeng Guofan di masa tuanya: “Yang telah berlalu, jangan disesali. Yang sekarang, fokuslah. Yang akan datang, biarlah datang nanti.”

Kebijaksanaan untuk hidup di saat ini, berasal dari pemahaman mendalam tentang siapa diri kita.

Hanya dengan benar-benar tahu siapa kita dan apa yang kita cari, barulah kita bisa membuat keputusan hidup yang tak akan kita sesali.(jhn/yn)

Bagaimana Keadaaan Orang-Orang yang Memiliki Kebiasaan Tidur Siang dalam Jangka Panjang? 

Beberapa tahun terakhir, gaya hidup sehat telah menjadi pilihan favorit banyak orang. Melalui pola makan, olahraga, kualitas tidur, serta berbagai cara menjaga kebugaran, orang-orang berusaha mencapai tujuan hidup sehat. Kualitas tidur seseorang mencerminkan kondisi kesehatannya. Tidur siang adalah salah satu cara menjaga kesehatan yang sangat baik.

Tidur siang merupakan gaya hidup yang mendukung kesehatan, dan merupakan metode alami tubuh untuk melindungi fungsi biologisnya. 

Umumnya, tidur siang merujuk pada waktu istirahat di tengah hari, di mana baik tubuh maupun mental berada dalam kondisi rileks. Tidur siang dapat mengatasi gangguan yang disebabkan oleh insomnia pada malam hari, dan secara keseluruhan merupakan kebiasaan yang bermanfaat.

Tidur siang adalah kebiasaan baik yang memiliki banyak manfaat bagi tubuh. Meskipun banyak manfaatnya, masih ada sebagian orang yang tidak memiliki kebiasaan tidur siang. 

Bahkan jika ingin tidur, berbagai faktor seperti ketidakbiasaan atau kondisi lingkungan bisa membuat mereka sulit terlelap. Perbedaan antara orang yang sering tidur siang dan yang tidak cukup besar. Mari kita lihat lebih lanjut!


1. Melawan Penuaan

Ada pepatah Tiongkok yang mengatakan: “Tidak tidur siang, sore hari ambruk.”

Karyawan kantoran atau anak muda yang sering begadang biasanya baru tidur pukul satu atau dua dini hari. Setelah bangun pagi, mereka pun mengalami kondisi fisik yang buruk sepanjang hari. 

Banyak orang yang merasa tidak mengantuk saat siang, tapi begitu lewat pukul dua siang, kebanyakan mulai menguap dan mengantuk karena sinar matahari atau penurunan sistem imun. Tubuh menjadi lelah, dan berbagai organ dalam tubuh mengalami beban tambahan.

Jika tubuh tidak mendapat cukup istirahat, akan terjadi kelelahan yang berkelanjutan dan memicu penurunan fungsi tubuh secara keseluruhan. Orang yang tidak tidur siang cenderung mengalami penuaan lebih cepat dibandingkan mereka yang rutin tidur siang.


2. Meningkatkan Imunitas

Kualitas tidur yang baik membantu menjaga performa tubuh. Saat tidur, tubuh manusia memproduksi muramyl peptide (zat penyebab tidur) yang dapat meningkatkan jumlah sel darah putih dan membantu fungsi detoksifikasi hati. Ini memperkuat sistem kekebalan tubuh dalam melawan bakteri dan virus dari luar.

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang tidur siang memiliki sistem imun yang jauh lebih baik dibandingkan mereka yang tidak. Waktu tidur siang bisa membantu mengatur ulang pola tidur dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.


3. Respons Otak Lebih Cepat

Ada pepatah: “Segala yang baik dimulai dari pagi.” Sinar matahari pagi dan kondisi tubuh yang segar menjadikan pagi hari sebagai waktu terbaik untuk berpikir dan mengingat. Pada waktu ini, otak berada pada kapasitas tertinggi dalam hal memori dan reaksi.

Namun, mulai siang hari, fungsi memori dan konsentrasi otak mulai menurun. Tidur siang tidak hanya dapat menghilangkan rasa lelah, tetapi juga dapat meningkatkan daya ingat otak.

Para ahli menyatakan bahwa pukul 12:30 hingga 13:30 siang adalah puncak kebutuhan tidur di siang hari. Tidur siang dalam waktu ini, bahkan hanya selama 30 menit, dapat mengaktifkan kembali sel-sel kekebalan tubuh dan membuat otak mampu menyerap informasi baru. Memori bisa meningkat hingga tiga kali lipat.


4. Meningkatkan Efisiensi Kerja dan Belajar

Biasanya, karyawan atau pelajar harus lembur untuk meningkatkan produktivitas. Namun, para ahli menyarankan untuk menyediakan waktu khusus untuk tidur siang demi meningkatkan efisiensi.

Ada tiga puncak tidur harian dalam sehari: pukul 9:30 pagi, 13:30 siang, dan 17:30 sore. Di antaranya, puncak tidur siang sangat penting.

Dengan tidur siang sekitar setengah jam setiap hari, energi tubuh bisa meningkat lebih dari 70%. Tidur siang juga dapat meredakan ketegangan dan stres, serta menyegarkan otak dan memperbaiki suasana hati yang lelah. Oleh karena itu, orang yang terbiasa tidur siang biasanya memiliki efisiensi kerja jauh lebih tinggi daripada yang tidak tidur siang. Maka dari itu, orang-orang yang sering lembur disarankan tidur siang untuk meningkatkan kinerja.


5. Meningkatkan Penglihatan

Orang yang tidak tidur siang sering kali menghabiskan waktu dengan perangkat elektronik, yang lama-kelamaan menyebabkan kerusakan mata akibat radiasi. Tidur siang secukupnya dapat secara efektif meredakan kelelahan mata dan mencegah penyakit mata, serta memungkinkan mata beristirahat sepenuhnya, yang membantu memperbaiki penglihatan.


Berapa Lama Tidur Siang yang Ideal?

Para ahli menyarankan agar durasi tidur siang dikontrol di bawah satu jam. Sekitar 25–45 menit tidur siang sudah cukup bagi otak untuk beristirahat dan meningkatkan fungsi metabolisme, sehingga tubuh kembali berenergi pada sore harinya.

Namun perlu diperhatikan, jika tidur siang melebihi satu jam, justru akan menyebabkan tubuh terasa semakin lemas dan kelelahan, bahkan bisa mengganggu kualitas tidur malam.


Kesimpulan:

Melalui artikel ini, kita semakin memahami pentingnya tidur siang bagi tubuh. Jangan remehkan tidur singkat di siang hari — menjaga kualitas tidur siang bisa membuat kondisi tubuh pada sore hari menjadi jauh lebih efisien. Menjaga kebiasaan baik ini dalam jangka panjang akan memberikan dampak positif bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan.

AS – Kanada Lanjutkan Pembicaraan Dagang Beberapa Hari Setelah Trump Mengakhirinya Terkait Pajak Digital

EtIndonesia. Perdana Menteri Kanada, Mark Carney mengatakan pada Minggu malam (29/6) bahwa pembicaraan dagang dengan AS telah dilanjutkan setelah Kanada membatalkan rencananya untuk mengenakan pajak pada perusahaan teknologi AS.

Presiden AS, Donald Trump mengatakan pada hari Jumat (27/6) bahwa dia menangguhkan pembicaraan dagang dengan Kanada terkait rencananya untuk melanjutkan pajak pada perusahaan teknologi, yang disebutnya sebagai “serangan langsung dan terang-terangan terhadap negara kita.”

Pemerintah Kanada mengatakan “untuk mengantisipasi” kesepakatan dagang “Kanada akan membatalkan” Pajak Layanan Digital. Pajak tersebut akan mulai berlaku pada hari Senin (30/6).

Kantor Carney mengatakan Carney dan Trump telah sepakat untuk melanjutkan negosiasi.

“Pengumuman hari ini akan mendukung dimulainya kembali negosiasi menuju jadwal 21 Juli 2025, yang ditetapkan pada KTT Pemimpin G7 bulan ini di Kananaskis,” kata Carney dalam sebuah pernyataan.

Carney mengunjungi Trump pada bulan Mei di Gedung Putih, di mana dia bersikap sopan tetapi tegas. Trump melakukan perjalanan ke Kanada untuk menghadiri pertemuan puncak G7 di Alberta, di mana Carney mengatakan bahwa Kanada dan AS telah menetapkan batas waktu 30 hari untuk perundingan perdagangan.

Trump, dalam sebuah unggahan di jejaring media sosialnya Jumat lalu, mengatakan Kanada telah memberi tahu AS bahwa mereka akan tetap berpegang pada rencananya untuk mengenakan pajak layanan digital, yang berlaku bagi bisnis Kanada dan asing yang berinteraksi dengan pengguna daring di Kanada.

Pajak layanan digital akan dikenakan kepada perusahaan-perusahaan termasuk Amazon, Google, Meta, Uber, dan Airbnb dengan pungutan sebesar 3% atas pendapatan dari pengguna Kanada. Pajak tersebut akan berlaku surut, sehingga perusahaan-perusahaan AS akan memiliki tagihan AS senilai 2 miliar dolar yang jatuh tempo pada akhir bulan.

Pengumuman Trump pada hari Jumat adalah perubahan terbaru dalam perang dagang yang telah dilancarkannya sejak menjabat untuk masa jabatan kedua pada bulan Januari. Kemajuan dengan Kanada telah menjadi seperti roller coaster, dimulai dengan presiden AS yang menyindir tetangga utara negara itu dan berulang kali menyarankan bahwa negara itu akan diserap sebagai negara bagian AS. (yn)

Pemerintah Bangun  Bendungan  Tanpa Ganti Rugi Lahan, Aksi Gelombang Protes Meletus di Berbagai Daerah Hebei, Tiongkok

Laporan wartawan Epoch Times –  Gu Xiaohua

EtIndonesia. Pada  2023 lalu,  wilayah -Tianjin-Hebei dilanda hujan deras. Saat itu, demi melindungi Kawasan Xiong’an dari banjir, pemerintah mengalihkan air banjir sehingga menyebabkan banyak desa di Zhuozhou dan Handan, Hebei, tergenang air dan mengalami kerugian besar. Setelah bencana banjir, pihak berwenang membangun bendungan dan tanggul secara besar-besaran serta menyerobot lahan warga desa, namun tanpa memberikan kompensasi yang memadai hingga memicu kemarahan rakyat.

Menurut situs resmi Kementerian Sumber Daya Air Tiongkok, pada tahun ini Dinas Sumber Daya Air Hebei telah merancang 1.659 proyek infrastruktur air utama, dengan total investasi sebesar 274,7 miliar yuan (RMB). Pada kuartal pertama, 1.655 proyek telah menyelesaikan tahap persiapan, 783 proyek telah memulai pembangunan, dan investasi sebesar 15,1 miliar yuan telah direalisasikan.

Bendungan Louli di Wuan: Pembangunan Sedang Berlangsung, Ganti Rugi dan Relokasi Ditiadakan

Pada 22 Juni, di lokasi konstruksi Bendungan Louli di Kota Wuan, pihak pelaksana proyek menyewa lebih dari seratus preman untuk secara paksa mengambil alih lahan di Desa Nanqiaohe, Kota Yicheng, Wuan, serta memukuli warga yang memprotes.

Dalam video yang beredar, terlihat warga berusaha menghalangi pekerjaan alat berat, sementara seorang perempuan berteriak bahwa Bendungan Louli melakukan penggusuran paksa. Akhirnya, seorang warga dilarikan dengan ambulans.

Warga dalam video tersebut adalah penduduk Desa Nanqiaohe. Mereka merasa tidak puas karena pekerjaan pembangunan dimulai tanpa adanya kompensasi, sehingga mereka melakukan aksi protes di lokasi. Seorang warga mengatakan kepada wartawan Epoch Times bahwa sebelumnya seorang reporter dari CCTV (media pemerintah pusat) datang meliput, namun diusir oleh pihak pelaksana proyek. Masalah utamanya adalah kompensasi belum diberikan dan rumah relokasi belum dibangun, tetapi penggusuran sudah dilakukan.

Warga itu juga menegaskan bahwa proyek ini “sangat rumit”, bukan sekadar satu isu, melainkan penuh dengan berbagai masalah.

Zhou, pejabat yang bertanggung jawab atas proses pengadaan lahan dan relokasi untuk proyek ini, membenarkan kepada wartawan bahwa skema kompensasi belum ditentukan tetapi pekerjaan konstruksi sudah dimulai. Ia menyatakan bahwa pemerintah sedang berupaya menyediakan lokasi relokasi terdekat, tetapi kemungkinan besar hanya akan diberikan kompensasi satu kali untuk relokasi mandiri secara tersebar.

Seorang warga mengatakan bahwa kompensasi satu kali tidaklah memadai, dan harus ada jaminan bahwa standar hidup dan produksi warga tidak akan menurun, serta masa depan mata pencaharian mereka tetap terjamin.

Data menunjukkan bahwa Proyek Bendungan Louli terletak di perbatasan antara Kota Wuan dan Distrik Yongnian, di titik pertemuan tiga sungai: Sungai Ming, Sungai Mahui, dan Sungai Yuni. Sekitar 1,25 km di hilir terdapat saluran lintas Sungai Ming dari proyek penyaluran air selatan ke utara. Proyek ini mencakup kapasitas tampungan total sebesar 291 juta meter kubik dan meliputi pembangunan bendungan, jalan transportasi kawasan bendungan, perlindungan saluran sungai di hilir, perlindungan tepi waduk, dan titik-titik relokasi warga. Masa konstruksi direncanakan selama 50 bulan, dengan anggaran total sebesar 10,467 miliar yuan.

Diketahui bahwa proyek ini melibatkan 13 desa. Pada 10 Juni, warga Desa Zhaoyao juga datang ke lokasi untuk menghentikan pekerjaan, dan akhirnya salah satu warga dibawa pergi dengan ambulans.

Pembangunan Tanggul untuk Menyalahgunakan Dana Kompensasi, Warga Desa Tak Berdaya yang Menjadi Korban

Sejak bencana banjir, Desa Guanxianying di Kota Baichigan, Zhuozhou, mulai membangun tanggul dan telah mengambil lahan warga sejak tahun lalu. Awalnya, warga berharap akan menerima kompensasi yang layak, namun ternyata para pejabat di berbagai tingkatan menyalahgunakan proyek ini untuk menyelewengkan dana kompensasi dari negara melalui praktik gelap.

Seorang warga bernama Li Jincheng (nama samaran) mengungkapkan kepada wartawan bahwa proyek ini mulai mengambil lahan pada April tahun lalu, dan pada awal Mei, pemerintah kota mengumumkan pengambilalihan lahan melalui pengumuman di kantor desa.

Li Jincheng memiliki 5 mu (sekitar 0,33 hektar) tanah yang diambil, dan setiap mu dijanjikan akan diganti sebesar lebih dari 110.000 yuan. Namun hingga kini, ia belum menerima satu sen pun. Bahkan batas wilayah pengambilalihan pun tidak ditetapkan dengan jelas.

Li Jincheng dan warga lainnya telah memperjuangkan hak mereka sejak tahun lalu, dari pemerintah desa hingga ke Komisi Disiplin Provinsi, namun hasilnya nihil.

Ia menyatakan bahwa melalui proses advokasi, mereka menemukan banyak kecurangan dalam proyek ini. Mereka mengetahui bahwa pemerintah pusat telah mengalokasikan dana kompensasi sebesar 109 juta yuan, namun pemerintah daerah hanya mengklaim bahwa dana yang diterima hanya 90 juta yuan.

Ia juga mengungkapkan bahwa kepala desa bersekongkol dengan pemerintah kecamatan untuk menyelewengkan dana kompensasi. Di desa itu ada seorang “preman desa” yang telah lama melakukan penambangan pasir secara ilegal. Dikatakan bahwa orang ini memiliki latar belakang kuat, dengan kerabat dekat yang bekerja di tingkat tinggi di Beijing. Dengan dukungan tersebut, ia bertindak sewenang-wenang di desa, dan warga hanya bisa memendam kemarahan.

“Kami menemukan bahwa kepala desa menyerahkan 350 mu tanah kepada preman desa itu dan dari situ dia mendapatkan kompensasi sebesar 40 juta yuan, yang semuanya ia kuasai sendiri,” katanya. 

“Mereka memang tidak berniat memberikan uang (kompensasi) kepada rakyat. Mereka menggunakan kekuasaan untuk mengalihkan dana kompensasi ke kerabat dan teman dekat, bahkan orang-orang yang tidak memiliki tanah pun bisa mendapat kompensasi,” kata Li Jincheng dengan marah.

Warga lainnya juga mengatakan, “Para pejabat desa memberitahukan kepada kami, warga biasa, bahwa tanah kami tidak termasuk dalam wilayah kompensasi. Tapi kerabat dekat mereka dan orang-orang yang punya hubungan, meskipun tidak punya tanah, tetap bisa ‘dituliskan’ memiliki dua atau tiga mu tanah agar bisa menerima uang. Sementara rakyat biasa yang tidak punya koneksi, seberapa sulit pun kehidupan mereka, tetap diabaikan.”

Seorang profesional proyek dari Yunnan, Zhang Zhenglin, dalam wawancaranya sebelumnya dengan Epoch Times mengatakan bahwa “kecurangan dalam berbagai proyek konstruksi di Tiongkok hanyalah puncak gunung es dari rezim komunis.” Menurutnya, sistem Partai Komunis Tiongkok-lah yang menyebabkan semua ini. Pejabat tidak bertanggung jawab kepada rakyat, juga tidak bertanggung jawab terhadap substansi permasalahan. Oleh karena itu,  kondisi tersebut hanya akan terus menciptakan siklus keburukan.

Wartawan Epoch Times mencoba menghubungi departemen terkait di Pemerintah Kota Zhuozhou dan Pemerintah Kota Wuan, namun tidak ada yang mengangkat telepon atau langsung memutus sambungan setelah mengetahui panggilan berasal dari wartawan. (asr)

Bagaimana “Segelas Susu” Bisa Membawa Perubahan Besar?

EtIndonesia. Di antara deretan makam tua di Gereja Westminster, Inggris—yang terkenal akan sejarah panjangnya—terdapat sebuah nisan tanpa nama. Pada batu nisan itu terukir kata-kata yang begitu menyentuh dan menggugah:

“Ketika aku masih muda dan penuh imajinasi tanpa batas, aku bermimpi mengubah dunia.
Saat dewasa dan lebih bijak, aku sadar dunia ini sulit diubah, maka aku mempersempit tujuan dan mencoba mengubah negaraku. Tapi itu pun tampak mustahil.

Menjelang usia senja, aku hanya berharap bisa mengubah keluargaku—mereka yang paling dekat denganku. Namun sayangnya, mereka juga tetap seperti sediakala.

Kini, ketika aku berbaring di ranjang kematian, aku baru sadar: Seandainya sejak awal aku mengubah diriku sendiri, maka lewat teladan itu, aku mungkin bisa mengubah keluargaku. Dengan dukungan dan inspirasi dari keluargaku, aku mungkin bisa berbuat lebih untuk negaraku.

Dan siapa tahu—barangkali aku bahkan bisa mengubah dunia.”

Kata-kata ini merupakan perenungan terakhir seseorang menjelang akhir hidupnya, menyadari bahwa betapa pun besarnya mimpi yang kita miliki, semuanya harus dimulai dari perubahan diri sendiri. Melalui interaksi dengan keluarga dan orang-orang sekitar, saling menguatkan dan mendorong, kekuatan perubahan besar bisa terwujud.

Saat muda, banyak dari kita memimpikan hal-hal besar, ingin mengubah dunia. Namun seiring bertambahnya usia, barulah kita sadar bahwa mengubah dunia bukan perkara yang mudah. Sayangnya, sering kali ketika kita benar-benar memahami hal itu, waktu sudah tidak berpihak pada kita lagi. Maka tak sedikit orang yang menutup hidupnya dengan penyesalan.

Tapi jika kita menengok kembali hidup kita, bayangkan jika kita menurunkan ego ingin membentuk dunia, dan justru menumbuhkan keinginan untuk membantu orang lain menjadi lebih baik, maka kemungkinan kita untuk benar-benar mengubah dunia jauh lebih besar dari yang kita bayangkan. Kita tidak perlu menunggu menjadi tokoh besar, cukup dengan satu hati yang baik, satu niat yang tulus, satu tindakan yang bermakna, dunia di sekitar kita pun bisa berubah.

Apakah kepercayaan seperti ini bisa menjadi nyata?

Mari kita simak sebuah kisah yang telah menyentuh hati jutaan orang di seluruh dunia:

Kisah “Segelas Susu”

Seorang mahasiswa miskin bernama Howard Kelly harus bekerja dari rumah ke rumah untuk menjual barang demi membayar uang kuliahnya. Suatu malam, perutnya yang kosong mulai keroncongan karena seharian belum makan. Di saku celananya hanya tersisa beberapa koin kecil.

Dia pun memutuskan untuk mengetuk pintu rumah berikutnya, berharap mendapatkan sedikit makanan. Ketika pintu dibuka oleh seorang gadis muda yang cantik, dia mendadak kehilangan keberanian untuk meminta makanan. 

Dia hanya berani berkata: “Bolehkah saya meminta segelas air?”

Gadis itu menatapnya dengan iba, lalu kembali membawa segelas besar susu segar. 

Howard meminumnya dengan cepat, lalu bertanya: “Berapa saya harus membayar?”

Gadis itu tersenyum dan berkata: “Kamu tidak berutang sepeser pun. Ibu kami selalu mengajarkan, jika berbuat baik, jangan pernah berharap balasan.”

Howard memandangnya dengan mata berkaca-kaca dan berkata: “Terima kasih… dari lubuk hati saya untuk ibumu.”

Seketika itu, tubuh dan jiwanya terasa hangat. Dia pun melanjutkan hidup dan kerja sambil memelihara rasa percaya pada kebaikan manusia. Dia kembali bersemangat. Bertahun-tahun kemudian, Howard menjadi seorang dokter terkenal, seorang spesialis dengan reputasi gemilang.

Takdir Berbalik

Beberapa tahun berlalu. Gadis muda yang dulu memberinya segelas susu, kini sudah dewasa. Suatu hari, dia jatuh sakit karena penyakit langka yang nyaris merenggut nyawanya. Dokter-dokter lokal tidak mampu mengobatinya. Dia pun dirujuk ke rumah sakit terbaik di kota besar, tempat dr. Howard Kelly bekerja.

Ketika mendengar bahwa ada pasien dari kota kecil tertentu, dr. Kelly tampak termenung. Dia segera bergegas menuju ruang perawatan. Begitu melihat wajah sang pasien, dia langsung mengenalinya—dialah gadis yang dahulu memberinya segelas susu.

Sejak hari itu, dr. Kelly memberikan seluruh perhatian dan keahliannya untuk merawat wanita itu. Dia mengerahkan segalanya—dan dengan penuh kasih merawat pasiennya hingga dia berhasil melewati masa kritis dan pulih dengan ajaib.

Menjelang kepulangan, rumah sakit menyerahkan tagihan pengobatan kepada dr. Kelly untuk ditandatangani. Dia melihat tagihan tersebut, lalu menuliskan beberapa kata di bagian bawahnya.

Ketika tagihan diserahkan kepada wanita itu, tangannya gemetar. Dia tahu betapa besar biaya rumah sakit dan yakin dia tidak akan pernah mampu membayarnya seumur hidup. Tapi ketika dia membuka lipatan kertas itu, matanya terpaku pada tulisan tangan di sudut tagihan:

“Satu gelas susu telah membayar seluruh biaya pengobatan.”

—Dr. Howard Kelly

Penutup:

Kisah ini menggambarkan bagaimana sebuah tindakan kecil penuh kebaikan bisa menjadi benih perubahan besar. Howard Kelly, mahasiswa miskin yang nyaris menyerah, mendapatkan semangat hidup dari segelas susu dan niat tulus tanpa pamrih. Dia tumbuh menjadi seorang dokter berhati mulia, dan akhirnya mengubah nasib gadis yang dahulu pernah menolongnya.

Yang paling menyentuh adalah: keluarga sang gadis tak pernah punya niat untuk “mengubah dunia”—mereka hanya ingin berbuat baik, tanpa menuntut imbalan.

Inilah pesan penting dari kisah ini:

Satu hati yang penuh kasih, satu niat baik, satu tindakan sederhana—cukup untuk membawa pengaruh nyata dalam hidup orang lain.

Berbuat baik tanpa mengharap balasan adalah seperti menabung kebaikan dalam masyarakat tanpa mengambilnya kembali. Tapi percayalah—bunga dan keuntungan dari tabungan itu akan terus mengalir ke dalam tanah kehidupan sosial, membuahkan hasil berlipat ganda, lebih besar dari yang pernah kita tanam.

Dan langit, yang mengetahui segalanya, pasti akan membalas kebaikan itu dengan cara yang tak terduga, tak ternilai, dan tak terukur—kepada siapa saja yang menanam benih kebaikan di dunia ini.(jhn/yn)

Banyak Misteri di Balik Isu Lengsernya Xi Jinping  — Mantan Diplomat AS Ungkap 5 Tanda Tak Biasa, Mencuat Rumor Wang Yang Sebagai Penggantinya 

EtIndonesia. Saat ini, dunia politik Tiongkok sedang dilanda ketegangan luar biasa—berbagai rumor dan tanda-tanda tak lazim membentuk misteri politik yang belum pernah terjadi sebelumnya: Apakah pemimpin tertinggi Partai Komunis Tiongkok (PKT), Xi Jinping, sedang menghadapi situasi “dibujuk mundur” bahkan “dikudeta”?

Gregory W. Slayton, mantan diplomat Amerika Serikat sekaligus pengamat senior Tiongkok yang pernah mengajar di negara tersebut, baru-baru ini menulis di New York Post bahwa serangkaian peristiwa mencurigakan dan tanda-tanda publik menunjukkan bahwa fondasi kekuasaan Xi mungkin sedang goyah secara diam-diam.

Artikelnya menggabungkan berbagai analisis dan pengamatan terbaru yang beredar di dunia maya dan kalangan internasional, guna mengurai latar belakang dan kebenaran di balik badai politik “kemungkinan lengsernya Xi Jinping”.


Rumor Bermunculan: Dari Terasingkan Hingga ‘Menghilang’—Apakah Xi Jinping Benar-Benar Tersandung Masalah?

Sejak akhir 2024, Xi Jinping berkali-kali absen dari berbagai agenda penting dalam dan luar negeri, hal ini memicu perhatian secara luas. Terutama dari akhir Mei hingga awal Juni 2025, Xi hampir sepenuhnya menghilang dari sorotan publik. Surat kabar resmi People’s Daily tidak menerbitkan satu pun laporan yang berkaitan dengannya selama beberapa hari berturut-turut. Hal ini merupakan suatu yang tak lazim bagi sistem propaganda PKT. Pasalnya, selama ini kerap menonjolkan pemujaan terhadap individu.

Pada saat yang sama, urusan diplomatik mulai ditangani oleh Li Qiang dan Cai Qi, yang makin memicu spekulasi soal “skenario suksesi”. Bahkan saat PKT mengklaim bahwa Xi telah bertemu dengan Presiden Belarus, Lukashenko, foto-foto yang dipublikasikan menunjukkan pengaturan tempat dan personel yang sangat tidak biasa—tidak ada penerjemah dari Kementerian Luar Negeri, tidak ada tata protokol resmi. Bahkan, lokasi pertemuan bukan di tempat penyambutan kenegaraan sebagaimana lazimnya.


1. Pergolakan di Militer: Pembersihan Besar Terhadap Jenderal Pendukung Xi

Yang paling mencolok adalah pergolakan besar di kalangan militer. Sejak 2023, puluhan jenderal Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) yang sebelumnya menyatakan loyalitas kepada Xi Jinping secara tiba-tiba diberhentikan, diselidiki, bahkan ada yang mengalami “kematian misterius”. 

Perubahan mencolok ini terjadi di berbagai cabang militer: Pasukan Angkatan Roket, Pasukan Dukungan Strategis, Angkatan Laut, hingga Angkatan Udara. Di kalangan militer beredar kabar bahwa “orang-orang lama disingkirkan, faksi baru naik”.

Gregory Slayton berpendapat bahwa dalang di balik perombakan kekuasaan militer ini mungkin adalah Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat yang pernah dekat dengan Xi namun kemudian berkonflik. Zhang dikenal sebagai tokoh berpengaruh di militer dan memiliki hubungan erat dengan para tetua partai seperti Zeng Qinghong dan kubu Hu Jintao. Bila kekuatan militer benar-benar telah berpaling, maka prinsip “partai memimpin senjata” — urat nadi PKT — mungkin sudah tidak lagi sepenuhnya berada di tangan Xi.


2. Otoritas Simbolik Melemah: Nama Museum Ayah Xi Diam-Diam Diganti

Pada Mei 2025, Museum Peringatan Xi Zhongxun (ayah Xi Jinping) diam-diam diganti namanya menjadi “Museum Revolusi Guanzhong”, tanpa lagi menyandang nama “Xi Zhongxun”. Hal ini sangat mengejutkan karena selama ini Xi Zhongxun dijadikan simbol warisan “darah merah” revolusioner, dan menjadi legitimasi politik Xi Jinping.

Menurut Slayton, perubahan simbolis ini bukan sekadar revisi sejarah, melainkan isyarat bahwa partai tengah secara sistematis menghapus dominasi narasi keluarga Xi dalam sejarah partai—sebagai persiapan menuju transisi kekuasaan berikutnya.


3. Protokol Diplomatik dan Gelar Jabatan Terganggu: “Kesalahan” yang Disengaja dari Dalam Sistem?

Pertengahan Juni 2025, setelah percakapan telepon antara Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump, media resmi merilis berita yang secara mengejutkan tidak mencantumkan gelar “Presiden Negara” untuk Xi, hanya menyebut namanya saja. Ini adalah kesalahan luar biasa dalam sistem PKT, terutama dalam teks diplomatik resmi yang sangat ketat pengawasannya.

Meskipun situs resmi dengan cepat memperbaiki dan menambahkan gelar lengkap, insiden ini dianggap sebagai sinyal politik dari dalam sistem—bahwa otoritas Xi sedang ditantang, bahkan mengisyaratkan kemungkinan “jabatan tinggal nama, kekuasaan sudah lepas”.


4. Rumor Suksesi Menguat: Kembalinya Wang Yang Secara “Tidak Resmi”?

Menurut Slayton serta beberapa pengamat Tiongkok di luar negeri seperti Shen Dawei dan Cheng Xiaonong, Wang Yang kini makin banyak disebut sebagai sosok transisi potensial. Wang pernah menjabat Wakil Perdana Menteri dan sejak 2018 menjadi Ketua Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC), sebelum pensiun pada 2023. Ia dikenal sebagai figur moderat yang mendukung reformasi dan terbuka, serta mendapatkan dukungan luas dari kalangan tengah partai dan keturunan elit partai.

Wang Yang dinilai sebagai sosok “tidak membentuk faksi, tidak mengancam pihak manapun, tapi mampu menstabilkan situasi”. Jika Xi Jinping benar-benar diminta mundur, kemungkinan besar Wang Yang akan menjabat Presiden secara nominal, sementara kekuasaan riil diserahkan kepada para tetua partai, Kantor Umum PKT, dan faksi militer — sebagai kompromi untuk menghindari kekacauan dan kudeta.


5. Ekonomi yang Tak Terkendali dan Tekanan Sosial: Memaksa Pergantian Kepemimpinan

Krisis yang dihadapi Xi Jinping bukan hanya konflik politik, tetapi juga berasal dari kegagalan ekonominya: utang melebihi 50 triliun dolar AS, 50 juta unit rumah kosong, pengangguran pemuda yang melonjak, eksodus investasi asing, dan hancurnya kepercayaan kelas menengah—semuanya membuat petinggi PKT makin sulit bertahan.

Kebijakan “kemakmuran bersama” dan “nol-COVID” yang digalakkan Xi meninggalkan dampak ekonomi yang luas, sementara memburuknya hubungan internasional makin mengasingkan Tiongkok. Para tetua partai akhirnya menyadari bahwa jika tidak segera dilakukan transformasi, kestabilan rezim bisa runtuh.


Apakah Era Xi Jinping Sudah Sampai di Ujung Jalan?

Apakah Xi Jinping akan benar-benar lengser? saat ini belum bisa dipastikan. Namun jika kita menggabungkan berbagai tanda akhir-akhir ini — dari perombakan militer, sinyal media, menghilangnya Xi dari publik, perubahan simbolik, hingga tekanan ekonomi — terlihat jelas bahwa elite PKT tengah mengalami guncangan internal yang sangat jarang terjadi.

Dalam sejarah PKT, pergantian kekuasaan biasanya dilakukan secara diam-diam di balik pintu tertutup, dengan prinsip utama: “pendaratan lunak”. Jika Xi benar-benar mulai tersingkir, sangat mungkin akan muncul skenario transisi di mana jabatannya tetap dipertahankan secara formal, namun kekuasaan riilnya diambil alih—untuk meredam gejolak internal dan menjaga citra luar negeri.

Beberapa bulan ke depan, termasuk Sidang Pleno Keempat PKT, Konferensi Beidaihe, serta kehadiran atau ketidakhadiran Xi dalam forum internasional seperti KTT BRICS dan Sidang Umum PBB, akan menjadi momen penting untuk mengamati arah nasib politik Xi Jinping. Apakah Wang Yang akan “dipanggil kembali”, dan apakah Zhang Youxia akan terus memimpin pembersihan di militer, semuanya akan semakin mengungkap kebenaran dari badai besar di balik layar politik Tiongkok.

Era Xi Jinping, mungkin memang telah memasuki babak penutup. (asr)

Yang Tianzi -Secretchina.com

Taliban Klaim Lakukan Bom Bunuh Diri di Waziristan, Pakistan Salahkan India

EtIndonesia. Setidaknya 16 tentara tewas pada hari Sabtu (28/6) dalam sebuah bom bunuh diri di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan. Islamabad menyalahkan New Delhi atas serangan yang juga menyebabkan lebih dari dua lusin orang, termasuk warga sipil, terluka.

Namun, sayap pembom bunuh diri dari kelompok bersenjata Hafiz Gul Bahadur, sebuah faksi Taliban Pakistan, atau TPP, telah mengklaim serangan tersebut, menurut sebuah laporan oleh kantor berita AFP.

Tentang Serangan

“Seorang pembom bunuh diri menabrakkan kendaraan bermuatan bahan peledak ke sebuah konvoi militer,” menurut seorang pejabat pemerintah setempat di distrik Waziristan Utara, Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena dia tidak berwenang untuk berbicara kepada media.

Dia mengatakan kepada AFP bahwa 16 tentara tewas, menambah jumlah kematian sebelumnya dari 13.

“Ledakan itu juga menyebabkan atap dua rumah runtuh, melukai enam anak,” kata seorang polisi.

Pakistan Menyalahkan India

Militer Pakistan mengatakan serangan itu dilakukan oleh teroris yang didukung oleh India, tuduhan yang dibantah New Delhi.

Menurut laporan The Dawn, Hubungan Masyarakat Antar-Layanan (ISPR), sayap media militer Pakistan, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa “dalam keputusasaan mereka, sebuah kendaraan bermuatan bahan peledak ditabrakkan oleh khariji yang disponsori India ke salah satu kendaraan kelompok terdepan.”

Balasan Trong dari India

Kementerian Luar Negeri India pada hari Minggu (29/6) dengan tegas menolak klaim Pakistan bahwa India berada di balik serangan bom bunuh diri Waziristan.

“Kami telah melihat pernyataan resmi dari Angkatan Darat Pakistan yang berusaha menyalahkan India atas serangan di Waziristan pada 28 Juni. Kami menolak pernyataan ini dengan penghinaan yang pantas,” kata juru bicara kementerian Randhir Jaiswal dalam sebuah pernyataan pada X.

Munculnya Terorisme di Pakistan

Pakistan telah menyaksikan peningkatan tajam dalam kekerasan di wilayahnya yang berbatasan dengan Afghanistan sejak Taliban kembali berkuasa di Kabul pada tahun 2021, dengan Islamabad menuduh tetangga baratnya itu membiarkan tanahnya digunakan untuk serangan terhadap Pakistan — sebuah klaim yang dibantah Taliban, dengan mengatakan bahwa terorisme adalah masalah dalam negeri Pakistan.

Taliban Pakistan, juga dikenal sebagai Tehreek-e-Taliban Pakistan, sebuah kelompok payung dari beberapa kelompok teroris Islam, telah lama melancarkan perang terhadap Pakistan dalam upaya untuk menggulingkan pemerintah dan menggantinya dengan sistem pemerintahan Islam.

Militer Pakistan, yang telah melancarkan beberapa serangan terhadap para teroris, sebagian besar telah menjadi target utama mereka.

Sekitar 290 orang, sebagian besar pejabat keamanan, tewas dalam serangan sejak awal tahun oleh kelompok bersenjata yang memerangi pemerintah di Khyber Pakhtunkhwa dan Balochistan, menurut penghitungan AFP. (yn)

Empat Tetua Besar Kembali! Bocoran Insiden Pertemuan Rahasia di Xishan – Hitung Mundur Lengsernya Xi Jinping?

EtIndonesia. Baru-baru ini seorang komentator politik luar negeri menerima bocoran dari internal daratan Tiongkok, bahwa para petinggi Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengadakan pertemuan rahasia di Xishan, Beijing. Pada pertemuan tersebut mencapai empat butir kesepakatan yang disebut sebagai “Konsensus Xishan”, yang isinya sangat mengejutkan. 

Dikutip oleh Soundofhope.org, (29/6/2025) dalam waktu yang bersamaan, di bidang personel, beredar kabar bahwa seorang tokoh besar dari faksi Xi kembali tumbang dan akan keluar dari jajaran kepemimpinan inti. Informasi ini disebut-sebut sebagai tantangan langsung terhadap model pemerintahan Xi Jinping. Peristiwa ini mengindikasikan bahwa PKT telah memulai babak baru perombakan kekuatan internal dalam sistemnya. 

BACA JUGA : Banyak Misteri di Balik Lengsernya Xi Jinping  — Mantan Diplomat AS Ungkap 5 Tanda Tak Biasa, Rumor Wang Yang Sebagai Penggantinya 

Lantas, apa saja isi mencengangkan dari “Konsensus Xishan” yang terbaru ini? Dan siapa pejabat besar dari faksi Xi yang terbaru jatuh?

Konsensus Xishan: Keseimbangan Kekuatan Baru

Menurut bocoran dari Lao Deng, lokasi pertemuan dipilih di Xishan, Beijing, tempat para tetua PKT biasa bermukim. Para peserta termasuk para tetua partai dan jajaran tinggi militer. Dalam pertemuan ini, sehubungan dengan situasi krisis internal dan eksternal yang sedang dihadapi, dicapai empat butir kesepakatan berikut:

  1. Status Xi Jinping akan ditangguhkan sementara, dan akan diputuskan kembali dalam Sidang Pleno Keempat;
  2. Dibentuk kelompok penasihat pusat yang terdiri dari Hu Jintao, Wen Jiabao, Li Ruihuan, dan Zeng Qinghong, dengan hak untuk menghadiri rapat tetap Politbiro;
  3. Keputusan penting dalam kebijakan luar negeri dan urusan dalam negeri akan ditentukan melalui pemungutan suara bersama antara anggota tetap Politbiro dan kelompok penasihat, guna mengakhiri sistem kediktatoran individu;
  4. Strategi diplomatik akan diubah menjadi “bersahabat dengan AS dan menjauh dari Rusia”, menjalin perjanjian dagang dengan Amerika Serikat untuk menyelamatkan ekonomi, serta secara bertahap mengambil jarak dari Rusia.

Ke empat poin “Konsensus Xishan” ini bukan hanya menandai kompromi dan keseimbangan kekuatan baru di kalangan atas PKT, tetapi juga secara simbolis merupakan tantangan resmi terhadap sistem kekuasaan absolut Xi Jinping. 

Lao Deng menganalisis bahwa langkah ini adalah pernyataan bersama dari faksi reformis dalam partai dan para tetua, dengan tujuan membendung ekspansi kekuasaan Xi yang tak terbatas. (asr)

oleh Xin Ji -Soundofhope.org

Netanyahu Mengatakan ‘Kemenangan’ Atas Iran Menciptakan ‘Peluang’ untuk Pembebasan Sandera

EtIndonesia. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu pada hari Minggu (29/6) mengatakan bahwa konflik 12 hari terakhir dengan Iran telah membuka jalan bagi “peluang” baru—yang terpenting, potensi pengembalian sandera Israel yang masih ditahan di Gaza.

“Banyak peluang telah terbuka sekarang setelah kemenangan ini,” kata Netanyahu dalam pidatonya kepada pejabat dinas keamanan, seraya menambahkan, “pertama-tama, untuk menyelamatkan para sandera”.

Pernyataan Netanyahu, menurut laporan, telah menimbulkan spekulasi bahwa kemajuan dapat dicapai dalam mengakhiri konflik Gaza dan mengamankan pembebasan para sandera.

Apa yang dikatakan Netanyahu tentang sandera?

Dalam kunjungannya pada hari Minggu ke fasilitas keamanan dinas Intelijen Shin Bet Israel, PM Israel mengatakan: “Saya ingin memberi tahu Anda bahwa seperti yang mungkin Anda ketahui, banyak peluang telah terbuka sekarang setelah kemenangan ini, banyak peluang.”

“Pertama-tama, untuk menyelamatkan para sandera. Tentu saja, kita juga harus menyelesaikan masalah Gaza, untuk mengalahkan Hamas, tetapi saya memperkirakan bahwa kita akan mencapai kedua tugas itu,” imbuhnya, sesuai dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh kantornya. Namun, ia menegaskan bahwa “masalah Gaza” dan kekalahan Hamas juga harus dicapai.

“Tentu saja, kita juga harus menyelesaikan masalah Gaza, untuk mengalahkan Hamas, tetapi saya memperkirakan bahwa kita akan mencapai kedua tujuan itu,” ujarnya.

Pergeseran prioritas?

Pernyataan Netanyahu tampaknya menandakan adanya pergeseran prioritas, yang muncul setelah hampir dua tahun tekanan publik dari keluarga sandera yang ditangkap selama serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober.

Menyambut pernyataan PM Israel, ‘Forum Sandera dan Keluarga Hilang’, kelompok utama yang mewakili keluarga sandera, mengatakan bahwa itu adalah “pernyataan yang sangat penting”.

Memuji “fakta bahwa setelah 20 bulan, pemulangan para sandera akhirnya ditetapkan sebagai prioritas utama oleh perdana menteri”, kelompok itu mengatakan, “Ini adalah pernyataan yang sangat penting yang harus diterjemahkan menjadi satu kesepakatan komprehensif untuk membawa kembali semua 50 sandera dan mengakhiri pertempuran di Gaza.”

Menurut otoritas Israel, 49 sandera masih berada di Gaza, dengan 27 orang diyakini tewas. Hamas juga dilaporkan menahan jenazah seorang tentara Israel yang tewas pada tahun 2014.

Namun, sementara Netanyahu berbicara tentang “penyelamatan”, keluarga para sandera bersikeras agar para sandera “dibebaskan, bukan diselamatkan”.

“Satu-satunya cara untuk membebaskan mereka semua adalah melalui kesepakatan komprehensif dan mengakhiri pertempuran, tanpa operasi penyelamatan yang membahayakan para sandera dan tentara (Israel).” (yn)

Banjir Gelombang Kedua di  Guizhou, Tiongkok Berangsur-angsur Surut  : Sampah Berserakan di Mana-Mana

Pada 28 Juni, wilayah  Rongjiang di Provinsi Guizhou, Tiongkok mengalami gelombang kedua banjir besar, memicu evakuasi massal seluruh kota. Pada  29 Juni pagi, setelah air surut, jalanan dipenuhi sampah dengan kondisi porak poranda.

EtIndonesia. Rongjiang dilanda banjir bandang besar yang melumpuhkan seluruh kota dan memutus jalur transportasi pada 24 Juni. Lalu pada 26 Juni, bendungan di hulu Rongjiang membuka pintu air, menyebabkan air sungai meluap dan terjangan air masuk ke kota. Dampaknya, membanjiri jalanan dan menerobos ke kompleks perumahan warga. 

Pada 28 Juni, saat warga mengira banjir telah surut, mereka mulai membersihkan rumah. Akan tetapi, hujan deras kembali mengguyur dan Rongjiang diterjang banjir gelombang kedua. Dalam waktu seminggu, kota ini dua kali terendam banjir. 

Ketika sirene peringatan kembali berbunyi pada 28 Juni, warga yang sedang membersihkan rumah terpaksa meninggalkan barang-barang dan berkemas-kemas seadanya. Mereka bergegas mengungsi. Dalam waktu singkat, Rongjiang kembali dipenuhi gelombang pengungsi, jalanan penuh dengan warga dan kendaraan yang meninggalkan kota.

 Video memperlihatkan derasnya banjir yang datang begitu cepat; dalam waktu hanya tujuh menit, jalan-jalan di kota Rongjiang sudah terendam seluruhnya.

Pada 29 Juni, saat banjir mulai surut, warga kembali ke rumah mereka dan mendapati kondisi kota sangat rusak parah. Tanah berlumpur dan air menggenang di mana-mana. Jalanan dipenuhi sampah rumah tangga, furnitur, mainan, dan mobil-mobil yang terseret arus tergeletak berserakan, sebagian tertutup lumpur tebal.

Pada 28 Juni 2025, seorang blogger mengunggah video dan berkata: “Sangat sulit. Mohon saling beri tahu, keluarga yang tinggal di dataran rendah segera mengungsi.”

Di beberapa kawasan lama yang jalanannya sempit dan tidak bisa dimasuki alat berat, warga hanya bisa membersihkan lumpur dengan cara tradisional — memikul dan mengangkut dengan tenaga sendiri.

Selain pusat kota Rongjiang, berbagai kecamatan di sekitarnya juga mengalami banjir besar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di Kabupaten Leishan, hanya dalam waktu dua jam, lantai satu sejumlah bangunan sudah terendam banjir.

 Pemerintah resmi mengumumkan jumlah korban jiwa sebanyak enam orang. Akan tetapi warga setempat mencurigai bahwa jumlah kematian sebenarnya jauh lebih besar. (asr) 

Sumber : NTDTV.com

Trump Remehkan Ancaman Tiongkok Setelah Kasus Penyelundupan Patogen Berbahaya, Mengatakan: “Begitulah Cara Dunia Bekerja. Dunia Ini Jahat”

EtIndonesia. Presiden AS, Donald Trump pada hari Minggu (29/6) tampaknya meremehkan kekhawatiran tentang tindakan agresif baru-baru ini yang terkait dengan Tiongkok — termasuk penangkapan dua warga negara Tiongkok yang dituduh menyelundupkan patogen pertanian berbahaya ke Amerika Serikat — dengan mengatakan tindakan tersebut hanyalah bagian dari cara kerja urusan global. Berbicara kepada Fox News, Trump mengatakan: “begitulah cara dunia bekerja”.

‘Dunia ini jahat’

Tampil di acara pagi Fox News, Trump ditanya tentang serangkaian dugaan pelanggaran Tiongkok — mulai dari pencurian kekayaan intelektual dan spionase dunia maya hingga kontroversi terkait COVID-19. Sebagai jawaban, Trump menyarankan agar AS sendiri terlibat dalam perilaku serupa.

Trump mengatakan :”Anda tidak berpikir kita melakukan itu kepada mereka? Kita melakukannya, kita melakukan banyak hal,” katanya, tanpa menjelaskan lebih lanjut.

“Begitulah cara dunia bekerja. Dunia ini jahat,” tambahnya.

Komentarnya muncul beberapa minggu setelah jaksa federal mendakwa Yunqing Jian, 33 tahun, dan Zunyong Liu, 34 tahun, dengan tuduhan konspirasi, pernyataan palsu, penipuan visa, dan upaya penyelundupan Fusarium graminearum ke AS. Jamur tersebut, yang menyebabkan penyakit yang dikenal sebagai ‘penyakit busuk daun’, dapat merusak tanaman seperti gandum, jelai, jagung, dan beras.

Trump tampak tidak terganggu oleh kasus tersebut, sehingga meragukan implikasinya yang lebih luas.

“Anda tidak tahu dari mana asalnya. Maksud saya, apakah itu berasal dari negara ini, atau tiga orang gila itu kebetulan membawa sesuatu?” katanya.

Trump juga mengisyaratkan bahwa hubungan dengan Beijing tetap dapat dikelola. Mengacu pada perang dagang AS-Tiongkok yang sedang berlangsung, dia berkata: “Kami berhubungan baik dengan Tiongkok.”
Tampaknya mengacu pada negosiasi perdagangan yang sedang berlangsung, dia berkata: “Saya pikir berhubungan baik dengan Tiongkok adalah hal yang sangat baik, tetapi mereka membayar tarif yang besar.”

Komentar tersebut muncul saat Gedung Putih mengisyaratkan kemajuan perdagangan dengan Beijing minggu lalu. AFP, mengutip seorang pejabat Gedung Putih, melaporkan bahwa kedua negara telah mencapai kesepahaman tentang berbagai masalah termasuk mempercepat pengiriman tanah jarang ke Amerika Serikat. (yn)

Saat Hari Keempat Pasca Banjir Besar, Guizhou, Tiongkok  Hadapi Kekurangan Makanan – Warga Bertahan Secara Mandiri 

Banjir besar melanda  Rongjiang, Guizhou, Tiongkok yang menyebabkan kerugian besar pada toko-toko di kota tersebut. Para korban bencana harus bertahan hidup dengan swadaya. Kini, pada hari keempat pasca bencana, mereka menghadapi ancaman kelangkaan pangan. Banyak jalan masih dipenuhi lumpur dan sampah, serta bau busuk menyengat. Relawan dari luar daerah bekerja siang malam tanpa henti untuk mengeruk lumpur dan membersihkan akses jalan

EtIndonesia. Kabupaten Rongjiang, Guizhou, Tiongkok pada (24/6/2025) dilanda banjir bandang besar yang melumpuhkan kota dan memutus akses jalan. Bantuan dari organisasi sipil hanya dapat dikirim ke desa dan kota kecil di sekitar, sementara banyak korban menghadapi kelangkaan makanan. 

Dilaporkan juga, relawan dari luar daerah bekerja membersihkan jalan tanpa istirahat. Hingga 26 Juni sore jalan utama akhirnya bisa dilintasi. Namun banyak jalan di kota masih dipenuhi lumpur, sampah, dan mobil-mobil terendam. Bau busuk  semerbak menyengat.

 “Daerah kota tua Rongjiang adalah zona terdampak paling parah, terutama di kawasan Changba. Sepanjang jalan berubah menjadi reruntuhan. Barang-barang yang tak sempat dipindahkan, kendaraan-kendaraan, semua terseret. Banyak orang menangis. Kami sangat kekurangan bahan makanan, minyak goreng, air bersih, pakaian hangat, dan selimut. Mobil-mobil terendam sangat banyak. Satu kompleks perumahan butuh waktu seharian penuh untuk menarik semua mobilnya. Kami sangat kekurangan mobil derek,” ujar relawan Li Jiang (nama samaran) kepada NTD. 

Seorang pria bermarga Zhao, yang datang dari kabupaten tetangga membawa traktor untuk membantu, mengatakan lumpur di jalan sangat tebal. Relawan dari desa sekitar dan luar provinsi terus berdatangan dan setiap hari tanpa henti mengeruk lumpur.

Relawan Zhao berkata :  “Masih banyak lumpur. Kami terus mengeruk lumpur setiap hari, tubuh penuh lumpur, tidak ada air untuk mandi. Kami membawa sendiri beras dan minyak, masak sendiri. Tidak ada listrik dan air, bagaimana bisa tinggal di hotel? Kami tidur di mobil saja sudah cukup. Rencana kami tinggal di sini 6–7 hari. Terkadang juga tidak ada sinyal internet, susah untuk menghubungi siapa pun.”

Toko-toko yang terendam banjir berubah menjadi tumpukan sampah. Banyak pemilik toko menangis karena kerugian. Seorang pemilik toko yang menggunakan nama samaran Chen Yang mengatakan, hanya sedikit kompleks yang tidak kebanjiran, dan banyak pengusaha mengambil pinjaman untuk memulai usaha—semuanya kini menderita kerugian besar.

Chen Yang (pemilik perusahaan di Rongjiang) berkata :  “80–90 persen toko terendam banjir. Tidak ada peringatan sama sekali. Awalnya air belum mencapai kantor, tapi dalam 10 menit air sudah sampai paha. Tidak sempat menyelamatkan apa pun. Air naik terlalu cepat, sekitar 2 meter. Kerugian mungkin belasan juta (yuan). Semua bisnis ini dari utang, sungguh tragis. Air mata pun sudah habis.”

Pada 26 Juni, seorang lansia berusia 72 tahun memanjat ke atap rumah untuk menyelamatkan diri. Video seorang wanita bernama He (27 tahun) yang menyelamatkan diri saat memindahkan mobil juga menarik perhatian publik. Dari sudut pandang lain, video menunjukkan bahwa pada pagi 24 Juni, banjir secara tiba-tiba menenggelamkan seluruh jalan, termasuk mobil sedan merah muda milik He yang terseret ke dalam garasi bawah tanah.

Pada 26 Juni sore, saat siaran streaming, Nona He menceritakan prosesnya melarikan diri dan mengatakan masih ada orang yang hilang belum ditemukan.

 “Banjir terlalu cepat. Saya injak atap mobil dan panjat ke paviliun, menggantung seperti monyet. Saya melihat sepeda listrik, mobil pickup, mobil kecil mengalir ke garasi bawah tanah. Saya akhirnya berenang sendiri pulang. Bisa selamat sampai sekarang saja sudah luar biasa. Ada yang terseret ke ruang bawah tanah. Sampai tengah malam masih ada orang mencari anak atau orang tua mereka,” ujar He, warga Rongjiang yang berhasil menyelamatkan diri.  (asr)

Laporan oleh reporter NTDTV Xiong Bin dan Peng Xinyu