Banjir Hunan, Tiongkok : 178 Waduk Melepaskan Air,  Longshan Dilanda Banjir Hingga Banyak Orang Tewas

EtIndonesia. Setelah Provinsi Guangdong, Tiongkok,  kini banyak wilayah di Provinsi Hunan juga mengalami hujan deras selama beberapa hari berturut-turut. Curah hujan bahkan memecahkan rekor tertinggi dalam sejarah. Sebanyak 178 bendungan di seluruh provinsi telah melakukan pelepasan air. 

Beberapa desa dan kota di Zhangjiajie terdampak parah, banyak yang terisolasi banjir selama dua hari dan sangat membutuhkan bantuan. Kabupaten Longshan di wilayah Xiangxi, Hunan, bahkan seluruh kotanya terendam banjir, dan sejumlah orang dilaporkan tewas. Berikut laporannya.

 “Habis sudah, habis… mobil itu bakal hanyut! Sepertinya ada orang di dalam mobil!,” ujar warga yang terdampak. 

Sejak 18 Juni, Kabupaten Longshan di Xiangxi, Hunan, mengalami cuaca ekstrem dengan hujan deras. Hujan mengguyur 40 titik di 21 kecamatan. Di Pos Pengamatan Wuya, Desa Da’an, tercatat curah hujan sebesar 378,9 mm — memecahkan rekor curah hujan 24 jam tertinggi di wilayah tersebut.

Hingga 19 Juni  pukul 09.00 pagi, sebanyak 19 bendungan di wilayah tersebut telah meluapkan air. Permukaan air Sungai Guali di pusat kota Longshan naik hingga 9,57 meter — jauh melampaui rekor banjir terdahulu. Rumah-rumah warga di sepanjang sungai terendam, banyak jalan amblas, jembatan rusak, dan beberapa kompleks perumahan mengalami genangan parah.

Warga terdampak:  “Ayo cepat, cepat, cepat! Cepat pergi!”

Warga terdampak lainnya:  “Seluruh Longshan sudah terendam! Semua tenggelam!”

Dilaporkan, pada hari itu juga bertepatan dengan hari kedua ujian masuk SMA (setingkat UN SMP) di Longshan. Karena banyak jalan tergenang, 37 siswa dilaporkan tidak bisa mengikuti ujian. Beberapa di antaranya bahkan harus berenang menuju lokasi ujian. Warga mengecam pemerintah karena lambatnya respon bantuan.

Warga terdampak:  “Hujannya sebesar ini, tapi pemerintah tidak peduli. Celaka benar ini!”

Di kompleks perumahan Longling International Residence, beberapa orang dilaporkan hilang di tempat parkir bawah tanah. Hingga tanggal 20, pihak berwenang mengkonfirmasi tiga orang tewas.

Namun, karena pemerintah PKT kerap menyembunyikan informasi bencana, jumlah korban sesungguhnya tidak diketahui secara pasti.

Warga terdampak:  “Ini banjir terbesar dalam sejarah. Sekitar pukul 04.00 pagi sudah teriak-teriak suruh pindahin mobil. Tapi belum sempat, dua jam kemudian semuanya sudah tenggelam. Seram sekali!”

Warga terdampak lainnya:  “Bencana alam dan ulah manusia! Semua desa sekitar tenggelam, airnya dalam banget!”

Menurut media Tiongkok, hujan deras terus mengguyur wilayah Xiangxi, Zhangjiajie, Changde, dan Huaihua di Hunan selama beberapa hari terakhir. Banyak daerah mencatat rekor curah hujan tertinggi dalam sejarah. 

Permukaan air Sungai Li di Kabupaten Sangzhi telah melewati ambang batas bahaya. Di Stasiun Liangshuikou dan beberapa titik lain, tercatat permukaan air tertinggi sejak stasiun itu berdiri. Total ada 178 bendungan yang meluap. Hingga 20 Juni, 25.000 orang telah dievakuasi darurat.

Nyonya He, warga Desa Xixiping, Sangzhi (disamarkan):  “Sangzhi juga buka bendungan, semua habis tersapu air. Lantai satu rumah sudah tenggelam, sebentar lagi lantai dua juga. Sawah semua tenggelam, tidak ada satu rumah pun yang selamat. Kerugian besar, air dan listrik mati, tidak ada makanan.”

Warga setempat mengatakan kepada NTD bahwa banyak kecamatan di Zhangjiajie telah terendam total. Air belum surut selama dua hari, dan belum ada bantuan dari pemerintah. Warga hanya bisa mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

Tuan Wang, warga Desa Fengxianggong, Distrik Yongding (disamarkan):  “Beberapa bendungan sedang meluapkan air. Air terlalu besar, rakyat jadi korban. Bendungan Huayan di Sungai Li bahkan airnya sudah melimpas, pintu bendungannya tidak perlu dibuka karena air sudah meluap sendiri. Kalau bendungan jebol, pusat kota Zhangjiajie bisa hilang.”

Tuan Chen, warga Desa Maoyanhe (disamarkan):  “Bagian hulu Sungai Li di Maoyanhe meluap parah. Rumah-rumah sudah tenggelam, listrik padam total, hampir semua barang tersapu air. Tidak ada makanan di rumah.”

Menurut prakiraan cuaca, dalam tiga hari ke depan, masih akan terjadi hujan deras di banyak wilayah, bahkan hujan sangat lebat di beberapa daerah. (Hui/asr)

Laporan wartawan NTD, Tang Rui dan Xiong Bin

Situasi Perang Iran-Israel Memanas, 25 Ribu Warga AS Minta Dievakuasi

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat (20 Juni) menyatakan bahwa dialog dengan Iran masih terus berlangsung. Ketika seorang wartawan bertanya apakah AS bisa menghentikan serangan udara Israel, Trump menganggap hal itu sangat sulit dilakukan. Sementara itu, Amerika Serikat mengumumkan putaran sanksi baru terhadap Iran, termasuk menjatuhkan sanksi kepada seorang warga negara Tiongkok.  

Koresponden NTD Zhang Liang :  “Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan untuk menggunakan militer guna menyerang fasilitas nuklir Iran. Pejabat penegak hukum AS juga telah meningkatkan pengawasan terhadap mata-mata Iran di dalam negeri. Beberapa sumber menyampaikan kepada media bahwa Direktur FBI, Patel, telah memperketat pengawasan terhadap organisasi bawah tanah yang memiliki hubungan dengan Hizbullah.”

Presiden AS Donald Trump:  “Menurut saya, saat ini mengajukan permintaan (agar Israel menghentikan serangan) adalah hal yang sangat sulit. Jika suatu pihak sedang berada di atas angin, akan jauh lebih sulit untuk melakukan itu dibandingkan saat mereka terdesak. Namun, kami sudah siap dan bersedia. Kami terus berdialog dengan Iran, dan kita akan lihat bagaimana perkembangan selanjutnya.”

Departemen Luar Negeri AS pada hari yang sama menyampaikan bahwa hingga saat ini, lebih dari 25.000 warga negara AS telah menghubungi pemerintah untuk meminta informasi dan bantuan terkait evakuasi dari Israel.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tammy Bruce:  “Informasi dari Departemen Luar Negeri menunjukkan bahwa lebih dari 25.000 orang telah secara aktif menghubungi kami untuk mencari informasi dan bantuan terkait situasi di Israel, Tepi Barat Yordan, dan Iran.”

Kedutaan Besar AS di Yerusalem menyatakan sedang merencanakan penerbangan dan kapal evakuasi bila diperlukan.

Hingga Rabu (18 Juni), satu penerbangan evakuasi charter telah diberangkatkan untuk membantu mengevakuasi staf kedutaan non-esensial dan keluarganya.

Pada hari yang sama, Gedung Putih bersama Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi terhadap delapan perusahaan, satu warga negara Tiongkok bernama Zhang Yanbing (音譯), serta kapal kargo “Shunkai Xing” yang terdaftar di Hong Kong. Mereka dituduh menyediakan atau mengirimkan mesin sensitif dan hasil riset terkait rudal balistik, drone, dan senjata asimetris ke industri pertahanan Iran.

Beberapa perusahaan lain juga dimasukkan ke dalam daftar sanksi, termasuk: Dongguan Zanyin Machinery dan Shenzhen Xinxin Shipping — keduanya berbasis di Tiongkok dan Hong Kong.

Saat ini, semua aset milik individu dan perusahaan tersebut yang berada di wilayah AS dibekukan, dan segala bentuk transaksi dengan mereka dilarang.

Reporter:  “Presiden Trump dan Wakil Presiden Vance pada Jumat malam menghadiri acara penggalangan dana di tempat terpisah. Presiden Trump akan hadir di jamuan makan malam ‘Make America Great Again’ di New Jersey, sementara Vance akan mengikuti acara Komite Nasional Partai Republik di Los Angeles.” (Hui/asr)

Laporan oleh Zhang Liang dan Yixin dari Gedung Putih, Amerika Serikat – NTDTV

Muncul Titik Terang? Iran Gelar Pembicaraan Nuklir dengan Menlu Inggris, Prancis, dan Jerman

EtIndonesia. Pada  Jumat (20 Juni), Menteri Luar Negeri Inggris, Prancis, dan Jerman, bersama pejabat tinggi Uni Eropa, mengadakan pertemuan tatap muka dengan Menlu Iran di Jenewa. Pertemuan ini bertujuan untuk meredakan ketegangan antara Israel dan Iran, dan mencoba kembali ke jalur diplomatik guna menyelesaikan masalah nuklir Iran. Ini merupakan upaya diplomatik pertama dari sekutu Eropa setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa ia akan memutuskan dalam dua minggu apakah akan menyerang fasilitas nuklir Iran.

“(Serangan terhadap Iran) akan berlangsung selama diperlukan, itu jawabannya. Karena kami menghadapi krisis eksistensial, yaitu ancaman ganda dari rudal dan bom nuklir,” kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. 

Menlu Iran Abbas Araghchi berkata :  “Kami berada dalam posisi bela diri yang sah. Pembelaan diri ini tidak akan dan tidak bisa dihentikan.”

Israel dan Iran tetap saling keras kepala, dan konflik terus meningkat. Pada hari Jumat, Menlu dari Inggris, Prancis, dan Jerman serta pejabat tinggi Uni Eropa bertemu dengan Menlu Iran Araghchi di Jenewa, dengan harapan dapat meredakan ketegangan dan menjajaki kemungkinan untuk mencapai kesepakatan nuklir baru melalui perundingan.

Setelah pertemuan, para menteri menyampaikan kepada media:

Menlu Jerman Wulf Waldvogel:  “Hasil positif hari ini adalah kesan yang kami dapatkan saat meninggalkan ruang pertemuan: pihak Iran pada dasarnya siap melanjutkan pembahasan semua isu penting.”

Menlu Inggris James Rami:  “Kami menegaskan secara jelas bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Tiga negara Eropa dan Uni Eropa telah lama menyatakan bahwa hal ini tidak dapat diterima.”

Menlu Prancis Jean Barrot:  “Kami berharap Iran bersedia berdialog dengan semua pihak, termasuk Amerika Serikat, untuk menyelesaikan krisis ini melalui jalur diplomatik.”

Sebelumnya, Teheran sempat menyatakan sikap keras, bahwa karena serangan terus-menerus dari Israel, Iran tidak berniat berunding dengan Amerika Serikat, yang dinilainya berpihak pada Israel.

Namun, menurut sumber informasi, para menteri Eropa telah lebih dulu berdiskusi dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Ia menyatakan bahwa meskipun AS tengah mempertimbangkan untuk bergabung dalam serangan militer Israel guna menghancurkan kemampuan nuklir Iran, Amerika tetap terbuka untuk dialog langsung dengan Teheran.

Pejabat AS lainnya menyebut bahwa Presiden Trump mendukung upaya sekutu melalui jalur diplomatik agar Iran lebih dekat pada tercapainya kesepakatan nuklir. Saat ini, Trump memberikan waktu dua minggu bagi upaya diplomatik ini.

Menlu Israel  Gideon Sa’ar :  “Terus terang saja, kami selalu bersikap skeptis terhadap diplomasi dengan Iran, karena pendekatan mereka penuh tipu daya.”

Pihak Israel tetap meragukan ketulusan Iran dalam berunding, dan menyatakan bahwa operasi militer mereka tidak akan berhenti. (Hui/asr)

Laporan oleh Yi Jing, NTDTV

BREAKING NEWS : Trump Umumkan AS Serang 3 Situs Nuklir Iran

EtIndonesia. Pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat menjatuhkan bom di fasilitas pengayaan uranium Fordow milik Iran dan dua fasilitas nuklir Iran lainnya pada Sabtu (21/6/2025) malam, demikian diumumkan oleh Presiden Donald Trump melalui platform Truth Social miliknya.

Presiden mengatakan bahwa pesawat-pesawat AS telah meninggalkan wilayah udara Iran dan kini sedang kembali ke pangkalan.

 “Kami telah menyelesaikan serangan yang sangat sukses terhadap tiga situs nuklir di Iran, termasuk Fordow, Natanz, dan Isfahan. Semua pesawat kini berada di luar wilayah udara Iran. Muatan penuh BOM dijatuhkan di situs utama, Fordow,” tulis pernyataan Trump.

Pesawat-pesawat Israel terlebih dahulu mulai melancarkan serangan ke Iran pada 13 Juni, sebagai bagian dari operasi untuk menghentikan program nuklir Iran dan melumpuhkan kemampuan militer ofensifnya.

Fasilitas pengayaan uranium di Fordow telah menjadi salah satu target utama dalam kampanye serangan udara Israel yang masih berlangsung terhadap Iran. Fasilitas ini sangat terlindungi, terletak ratusan kaki di bawah tanah di wilayah pegunungan Iran.

“Selamat kepada para Pejuang Amerika kita yang hebat. Tidak ada militer lain di dunia yang bisa melakukan ini,” tambah Trump. Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah muncul laporan bahwa pembom siluman B-2 Spirit milik Angkatan Udara AS telah berangkat dari Pangkalan Angkatan Udara Whiteman di Missouri dan menuju ke arah barat.

Trump tidak langsung menyebutkan jenis pesawat AS yang terlibat dalam serangan tersebut. Namun, B-2 adalah satu-satunya pesawat yang dilengkapi untuk membawa dan meluncurkan bom penghancur bunker seberat 30.000 pon yang dikenal sebagai GBU-57A/B Massive Ordnance Penetrator, yang mampu menjangkau situs seperti Fordow.

Trump berbicara dengan pembawa acara Fox News, Sean Hannity, setelah serangan tersebut, dan menurut Hannity, Trump menggambarkan bagaimana pembom B-2 menjatuhkan lima atau enam bom bunker-buster berat di Fordow.

Masih menurut Hannity, Trump juga menjelaskan bahwa kapal selam AS yang berada sekitar 400 mil dari lokasi target telah meluncurkan salvo 30 rudal jelajah serang darat Tomahawk ke fasilitas nuklir Iran di Natanz dan Isfahan.

Meski Trump sebelumnya  menyatakan dukungan terhadap operasi militer Israel dan menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, ia  menghindari keterlibatan langsung militer AS dalam ketegangan yang memanas di Timur Tengah selama lebih dari seminggu.

Pada 19 Juni, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan bahwa Trump akan memutuskan dalam dua minggu ke depan apakah Amerika Serikat akan ikut ambil bagian dalam aksi militer terhadap Iran.

“Saya punya pesan langsung dari Presiden, dan saya kutip: ‘Berdasarkan kenyataan bahwa ada kemungkinan besar akan adanya negosiasi—yang bisa saja terjadi atau tidak—dengan Iran dalam waktu dekat, saya akan membuat keputusan apakah akan ikut terlibat atau tidak dalam dua minggu ke depan,’” kata Leavitt dalam konferensi pers di Gedung Putih. (asr)

Sumber : Theepochtimes/ Associated Press turut berkontribusi.

JAVAFON Perkuat Komitmen sebagai Pelopor Plafon PVC Premium Lokal untuk Hunian Perkotaan Modern

0

Jakarta – JAVAFON, pelopor plafon PVC premium di Indonesia sejak 2014, terus memperkuat perannya sebagai merek lokal yang menghadirkan solusi interior tahan lama, ramah lingkungan, dan menarik secara visual bagi masyarakat perkotaan. Meskipun plafon PVC belum sepopuler material konvensional seperti gypsum, kehadiran JAVAFON menawarkan berbagai keunggulan fungsional maupun visual. Pilihan motif yang lebih beragam, kemudahan perawatan, serta desain yang fleksibel menjadikannya alternatif ideal untuk hunian urban yang mengutamakan efisiensi dan estetika.

Diproduksi di dalam negeri dengan sertifikasi TKDN sebesar 83,95%, sebagian besar material produk JAVAFON berasal dari sumber lokal. Komitmen ini tidak hanya mendorong pertumbuhan industri nasional, tetapi juga memperkuat posisi JAVAFON sebagai brand lokal yang siap berkembang dan menjawab tuntutan pasar yang semakin kompleks. Dengan pendekatan keberlanjutan, JAVAFON juga memastikan proses produksinya minim limbah, hemat energi, dan menggunakan material yang dapat didaur ulang.

Roberto Saputra, Presiden Direktur JAVACO mengatakan, “Bagi kami, inovasi bukan hanya tentang produk baru, tetapi juga bagaimana brand tetap relevan dengan gaya hidup dan nilai yang terus berkembang. JAVAFON hadir bukan sekadar sebagai penyedia plafon, tetapi sebagai brand lokal dengan misi bahwa desain bisa menyatukan fungsi, emosi, dan inspirasi dari lingkungan sekitar,”

Untuk menjawab kebutuhan ruang urban yang dinamis dan minimalis, JAVAFON meluncurkan ULTRA Series, koleksi plafon PVC bertema Nature Reinspired. Terinspirasi dari tampilan kayu alami, seri ini menampilkan motif bernuansa terang hingga gelap yang telah dikurasi sesuai tren. Dirancang khusus untuk hunian modern, setiap panel menggabungkan kehangatan elemen natural dengan presisi manufaktur tinggi, menghasilkan produk yang estetis dan mudah dipasang.

Sebagai bagian dari peluncuran ini, JAVAFON juga menghadirkan pengalaman langsung melalui aktivitas seperti “Proven & Tested Station” dan “Moodboard Challenge”, yang memungkinkan undangan mengeksplorasi performa material mulai dari ketahanan terhadap air dan api, daya lentur, hingga fleksibilitas desain.

Tidak sekadar menjual plafon, JAVAFON membangun pengalaman ruang yang personal dan relevan dengan karakter penggunanya. Melalui inisiatif #SetiapRuangPunyaCerita, setiap koleksi JAVAFON dirancang untuk merefleksikan karakter dan cerita dari ruang itu sendiri. ULTRA Series menjadi perwujudan pendekatan ini dengan desain yang tidak berlebihan, namun menghadirkan kenyamanan jangka panjang.

“Melalui ULTRA Series, kami ingin menetapkan standar baru bagi desain interior lokal yang tidak hanya berkualitas tinggi, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat urban dan terus berkembang menuju daya saing yang lebih luas,” tutup Roberto.

“Melalui Program Anak Asuh, Grand Mercure Malang Mirama Ajak Liburan Ke New Wisata Wendit” 

Malang– Tahun ini, Grand Mercure Malang Mirama resmi menambah anak asuh sebanyak 10 orang. Tak heran jika kegiatan ini sudah diselenggarakan oleh Grand Mercure Malang Mirama setiap tahun dalam rangka menyambut tahun ajaran baru. Seperti tahun sebelumnya Grand Mercure Malang Mirama ajak para anak asuh untuk berbelanja kebutuhan alat tulis dan menikmati pengalaman wisata baru di Malang, yakni berkunjung ke New Wisata Wendit by Nicole’s.

Menjadi salah satu wisata legendaris dan dengan wajah baru di Malang Raya, New Wisata Wendit turut andil dalam berpartisipasi dalam program sosial yang dimiliki oleh Grand Mercure Malang Mirama. Program anak asuh ini mendukung pendidikan anak asuh dari warga setempat dimana program yang telah berjalan tiga tahun ini dengan  tujuan untuk membantu anak-anak mendapatkan pendidikan yang lebih layak. Selain itu, kegiatan wisata ini juga bertujuan untuk menambah semangat untuk memulai aktivitas sekolah kembali. Mengingat, Grand Mercure Malang Mirama resmi miliki anak asuh di tahun 2022 sebagai wujud mendukung anak – anak yang ada di daerah setempat dari tingkat SD hingga SMA untuk dapat memiliki kesempatan yang sama dan sebagai wujud kontribusi dalam kegiatan yang bersifat sosial atau CSR (Corporate Social Responsibility).

Diungkapkan oleh Sugito Adhi selaku Cluster General Manager Grand Mercure Malang Mirama & Mercure Surabaya Grand Mirama setiap memasuki ajaran baru pihak manajemen mencoba memberikan pengalaman yang berbeda dan hiburan tersendiri bagi mereka.

“Kami percaya bahwa tanggung jawab sosial perusahaan tidak hanya tentang memberi kembali kepada masyarakat, tetapi juga tentang membangun koneksi yang lebih dalam dengan lingkungan sekitar. Melalui kunjungan ke New Wisata Wendit bersama anak asuh kami, kami juga ingin mendukung pariwisata daerah, sekaligus mengedukasi dan menginspirasi tim kami untuk terus bergerak bersama. Kami juga senang dan berterima kasih kepada New Wisata Wendit dapat berpartisipasi untuk ikut mendukung dalam program ini” ujar Sugito Adhi. 

Di temui di New Wisata Wendit, Kristianto selaku Operational Manager juga mengungkapkan program yang dimiliki oleh Grand Mercure Malang Mirama ini sangat bagus sehingga pihaknya bergerak dalam memberikan dukungan melalui program CSR atau Corporate Social Responsibility ini.

“Kami berharap kunjungan ini menjadi langkah kecil namun bermakna dalam mendorong keberlanjutan dan kesejahteraan bersama. Selain itu, program anak asuh ini sangat inspiratif dan turut bangga menjadi bagian dalam program yang berkelanjutan dari Grand Mercure Malang Mirama” ujar Kristianto.

Mengusung konsep penggabungan wahana hiburan, edukasi, dan konservasi, New Wisata Wendit tidak hanya menjadi tempat bermain air semata. Terdapat berbagai wahana edukatif dan area interaksi satwa yang membuat pengalaman wisata menjadi lebih kaya.

Mengapa Israel Menyerang Hizbullah di Lebanon di Tengah Konflik dengan Iran

EtIndonesia. Israel telah mengintensifkan kampanye militernya terhadap Hizbullah di Lebanon karena ketegangan meningkat di seluruh wilayah tersebut menyusul eskalasi baru-baru ini antara Israel dan Iran. Militer Israel mengonfirmasi pada hari Jumat (20/6) bahwa mereka telah membunuh seorang komandan utama Hizbullah di Lebanon selatan, dengan alasan kebutuhan mendesak untuk menetralisir ancaman yang akan segera terjadi di perbatasan utaranya.

Komandan tersebut, Mohammad Khadr al-Husseini, menurut Pasukan Pertahanan Israel (IDF) adalah tokoh senior dalam operasi Hizbullah. Menurut militer, al-Husseini telah memainkan peran utama dalam mengatur beberapa serangan terhadap kota-kota Israel, termasuk Nahariya dan Haifa, dan baru-baru ini ditugaskan untuk membangun kembali unit artileri Hizbullah yang terkuras.

“Tindakannya merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kesepahaman antara Israel dan Lebanon. IDF akan terus beroperasi untuk menghilangkan ancaman apa pun terhadap Negara Israel,” kata militer Israel.

Serangan itu merupakan bagian dari serangkaian operasi presisi yang dilakukan oleh Angkatan Udara Israel di tengah lingkungan yang memburuk dengan cepat. Pada Rabu malam, dua komandan Hizbullah lainnya tewas dalam serangan terpisah di wilayah Nabatieh. Salah satu dari mereka, Mohammad Ahmad Khreiss, memimpin unit rudal antitank Hizbullah yang bermarkas di Chebaa. Dia bertanggung jawab langsung atas serangan pada 26 April di Gunung Dov, yang menewaskan seorang kontraktor militer Israel bernama Sharif Suad.

Peringatan Hizbullah

Serangan itu terjadi setelah peringatan dari Sekretaris Jenderal Hizbullah saat ini, Sheikh Naim Qassem, yang menyatakan dukungan penuh untuk Iran dan berjanji akan mengambil tindakan terhadap apa yang disebutnya sebagai “agresi brutal Israel-Amerika.” Komentar Qassem menuai teguran keras dari Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz.

“Pemimpin Hizbullah belum belajar dari para pendahulunya,” kata Katz, merujuk pada mantan kepala Hizbullah Hassan Nasrallah, yang dibunuh dalam serangan Israel pada September 2024. “Jika ada terorisme, tidak akan ada Hizbullah.”

Katz, yang berbicara dari Tel Aviv pada hari Jumat, mengulangi peringatannya kepada Qassem: “Saya sarankan agar proksi Lebanon berhati-hati. Israel telah kehilangan kesabaran dengan para teroris yang mengancamnya.”

Jaringan Proksi

Keputusan Israel untuk meningkatkan serangan terhadap Hizbullah muncul di tengah pertanyaan mengenai kemampuan Iran untuk memobilisasi jaringan proksi regionalnya. Hizbullah, Houthi di Yaman, milisi Syiah di Irak, dan Hamas di Gaza membentuk apa yang disebut Teheran sebagai “Poros Perlawanan.” Namun, saat Israel menyerang target di dalam wilayah Iran dan sekitarnya, kelompok-kelompok sekutu ini tetap relatif tenang.

Hizbullah, yang telah lama dianggap sebagai sekutu non-negara Iran yang paling cakap, telah secara nyata mengurangi operasinya sejak dimulainya kampanye Israel terhadap kepentingan Iran. Kepemimpinan kelompok tersebut telah mengalami kemunduran yang serius. Selain pembunuhan Nasrallah, tantangan logistik setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad di Suriah telah memutus rute pasokan senjata utama. Pada saat yang sama, kesulitan ekonomi dan dukungan keuangan Iran yang terbatas telah melemahkan kohesi internalnya.(yn)

Emmanuel Macron Mengatakan, Eropa Akan Mendorong Rencana Perdamaian untuk Mengakhiri Konflik Iran-Israel

EtIndonesia. Dalam sebuah inisiatif diplomatik, kekuatan Eropa bersiap untuk mengajukan proposal perdamaian yang luas kepada Iran yang bertujuan untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung dengan Israel, menurut Guardian. Rencana tersebut, yang diungkaokan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron, akan mengharuskan Teheran untuk berkomitmen menghentikan semua pengayaan uranium, mengekang pengembangan rudal balistiknya, dan menghentikan dukungan finansial kepada kelompok militan yang beroperasi di Timur Tengah.

Proposal tersebut menandai salah satu upaya perdamaian paling luas oleh Eropa dalam beberapa tahun terakhir, yang tidak hanya menangani ambisi nuklir Iran tetapi juga spektrum ketidakstabilan regional yang lebih luas yang terkait dengan Teheran. Namun, cakupan rencana tersebut dapat mempersulit peluang penyelesaian cepat kecuali kesepakatan sementara dapat dicapai untuk membangun kepercayaan dan menghentikan permusuhan saat ini.

Di antara ide-ide yang sedang dibahas adalah pembekuan sementara pengayaan uranium yang akan berlangsung selama masa jabatan presidensi Donald Trump. Proposal lain yang lebih ambisius akan melibatkan konsorsium regional, termasuk Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, untuk mengambil kendali bersama atas aktivitas pengayaan guna mencegah persenjataan.

Iran, penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), bersikeras atas haknya untuk memperkaya uranium di wilayahnya, sebuah sikap yang menurutnya sah menurut hukum internasional. Namun, meningkatnya tekanan internasional, terutama setelah serangan Israel baru-baru ini, telah mengintensifkan seruan bagi Teheran untuk berkompromi.

Macron menyampaikan posisi Eropa pada hari Jumat (20/6) ketika menteri luar negeri dari Prancis, Jerman, dan Inggris bertemu dengan wakil menteri luar negeri Iran, Abbas Araghchi di Jenewa. Itu adalah pertemuan tatap muka pertama Araghchi dengan diplomat Barat sejak Israel melancarkan serangan mendadak terhadap target-target Iran minggu lalu.

Araghchi, yang sebelumnya telah berbicara melalui telepon dengan utusan AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff, menolak segala kemungkinan perundingan langsung dengan AS sementara serangan udara Israel terus berlanjut.

“Dalam situasi di mana agresi … terus berlanjut, Amerika menginginkan perundingan dan telah mengirim pesan beberapa kali, tetapi kami telah dengan jelas mengatakan bahwa tidak ada ruang untuk dialog sampai agresi dan agresor berhenti. Kami tidak memiliki perundingan dengan Amerika sebagai mitra dalam kejahatan ini,” ujar Araghchi.

Perundingan Jenewa berlangsung di tengah minggu yang menegangkan akibat saling balas serangan antara Iran dan Israel, dengan peran Washington di bawah pengawasan ketat. Presiden AS, Trump, setelah berhari-hari beretorika ambigu, mengumumkan bahwa dia akan menunda keputusan apa pun untuk bergabung dengan kampanye militer Israel setidaknya selama dua minggu, sebuah langkah yang ditafsirkan oleh Teheran sebagai tanda ketidakandalan Amerika.

Sementara itu, para diplomat Eropa tetap berkoordinasi erat dengan Washington, bahkan ketika mereka menekankan pendekatan yang lebih de-eskalasi. Menteri Luar Negeri Inggris, David Lammy bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio di Washington awal minggu ini untuk menyelaraskan garis merah yang potensial.

Macron memaparkan kerangka ambisius Eropa dengan peringatan keras: “Sangat penting untuk memprioritaskan kembali ke negosiasi substansial, termasuk negosiasi nuklir untuk bergerak menuju pengayaan [uranium] nol, negosiasi balistik untuk membatasi aktivitas dan kemampuan Iran, dan pembiayaan semua kelompok teroris dan destabilisasi kawasan yang telah dilakukan Iran selama beberapa tahun,” katanya.

Dia secara khusus menunjuk ke fasilitas pengayaan Fordow milik Iran yang dijaga ketat, dengan mengatakan: “Tidak seorang pun dapat dengan serius percaya bahwa ancaman ini dapat dihadapi dengan operasi [Israel] saat ini saja. Mengapa? Karena ada beberapa pabrik [nuklir] yang sangat dilindungi dan karena saat ini tidak seorang pun tahu persis di mana uranium yang diperkaya hingga 60%. Jadi, kita perlu mendapatkan kembali kendali atas program [nuklir Iran] melalui keahlian teknis dan negosiasi.”

Dalam pembicaraan sebelumnya, AS telah menuntut penghentian total pengayaan domestik Iran, sebagai gantinya menawarkan program nuklir sipil yang bergantung pada bahan bakar impor dari sumber multinasional. Meskipun Iran secara konsisten menolak untuk meninggalkan pengayaan domestik, ada preseden historis untuk kompromi. Pada awal tahun 2000-an, berdasarkan Perjanjian Paris, Teheran setuju untuk menangguhkan sementara pengayaan sebagai langkah sukarela untuk membangun kepercayaan.

Eropa, yang lebih pragmatis daripada AS dalam pendekatannya, telah lama menghindari mengambil sikap keras terhadap hak hukum Iran untuk memperkaya, sebaliknya berfokus pada perlindungan praktis dan transparansi. Inggris, misalnya, menafsirkan NPT sebagai sesuatu yang ambigu, tidak secara eksplisit memberikan atau menolak hak untuk memperkaya uranium.

Diplomasi berisiko tinggi tersebut semakin rumit karena masalah keamanan. Salah satu penasihat Araghchi menuduh Israel berupaya membunuh diplomat Iran tersebut, yang mendorong Pemerintah Eropa untuk memberikan jaminan keamanan untuk perjalanannya.

Rusia telah menawarkan diri untuk menjadi penengah pembicaraan, tetapi para pemimpin Eropa dengan tegas menolak keterlibatan Moskow.

Meskipun secara militer dirugikan, diperburuk oleh pertahanan udara yang terganggu dan kerusakan infrastruktur, Iran tetap memiliki kartu strategis yang signifikan: pabrik pengayaan Fordow, yang kemungkinan besar tidak dapat ditembus oleh serangan konvensional Israel. Kecuali Washington mengizinkan penggunaan amunisi penghancur bunker, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mungkin terpaksa mengkalibrasi ulang tujuannya.

Harapan Netanyahu untuk perubahan rezim di Teheran juga tampaknya goyah. Bahkan para reformis terkemuka Iran telah mengutuk tindakan Israel. (yn)

Konflik Israel-Iran: Cara Kerja ‘Bom Klaster’, Mengapa Kontroversial

EtIndonesia. Israel menuduh Iran menembakkan rudal dengan hulu ledak bom klaster ke wilayah sipil. Rudal tersebut mulai melepaskan bom-bom kecil di ketinggian 7 km. Rudal Iran menyebarkan sedikitnya 20 bom kecil dalam radius 8 km.

Berikut 5 poin tentang bom klaster

1. Salah satu bom kecil menghantam sebuah rumah di Kota Azor, Israel bagian tengah, yang menyebabkan beberapa kerusakan, Times of Israel melaporkan. Tidak ada laporan korban jiwa akibat bom tersebut.

2. Bom klaster kontroversial karena bom tersebut menyebarkan submunisi secara sembarangan, beberapa di antaranya dapat gagal meledak dan membunuh atau melukai lama setelah konflik berakhir.

3. Iran dan Israel menolak untuk bergabung dengan larangan internasional tahun 2008 atas produksi, penimbunan, transfer, dan penggunaan bom klaster yang telah ditandatangani oleh 111 negara dan 12 entitas lainnya.

4. Setelah perdebatan panjang, AS pada tahun 2023 memasok Ukraina dengan amunisi tandan untuk digunakan melawan pasukan Rusia. Kyiv mengatakan pasukan Rusia juga telah menembakkan amunisi tandan.

5. “Senjata itu sangat mengerikan karena daya rusaknya yang luas, terutama jika digunakan di wilayah berpenduduk sipil dan dapat menimbulkan korban yang belum meledak yang tersisa dari konflik,” kata Daryl Kimball, direktur eksekutif kelompok advokasi Arms Control Association, kepada kantor berita Reuters.(yn)

Jaringan Rahasia PKT dan Mossad Terbongkar! Amerika, Rusia, hingga Iran Kini Dikepung Perang Modern Tak Terlihat

EtIndonesia. Ancaman spionase yang melibatkan Partai Komunis Tiongkok (PKT), meningkatnya serangan siber terhadap Rusia, hingga operasi militer skala besar di Timur Tengah dan Ukraina menandai babak baru dalam ketegangan geopolitik global.

Spionase PKT dan Bahaya Serangan Drone di Amerika Serikat

Dalam siaran khusus FOX News, analis geopolitik Zhang Jiadun memperingatkan publik Amerika mengenai potensi serangan drone dari dalam negeri sendiri, yang diduga bisa dimotori oleh jaringan spionase PKT maupun Iran. Zhang menyoroti bahwa, berbeda dengan Israel yang menghadapi Iran secara terbuka atau Ukraina yang melawan invasi Rusia, ancaman Tiongkok justru bisa berwujud serangan dari balik “pintu rumah sendiri”. Hal ini dimungkinkan karena lebih dari 1 juta unit drone buatan Tiongkok saat ini terdaftar resmi di Amerika, belum termasuk jutaan unit lain yang tidak terdaftar.

“Jika Xi Jinping mengeluarkan perintah, maka kerusakan besar-besaran di wilayah Amerika Serikat bisa terjadi dalam waktu singkat tanpa perlu menyelundupkan perangkat apa pun,” ujar Zhang. 

Dia menegaskan, Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat (DHS) harus segera memusatkan sumber dayanya untuk mengungkap dan membongkar jaringan spionase PKT dan Iran, yang kini dinilai sebagai ancaman paling nyata di dalam negeri AS.

Perang Siber Tiongkok-Rusia: Musuh di Tengah Konflik

Ketegangan tidak hanya terjadi di darat dan udara, tetapi juga di ranah siber. Sejak meletusnya perang Rusia-Ukraina, kelompok peretas yang diduga memiliki afiliasi dengan Pemerintah Tiongkok berulang kali membobol perusahaan dan lembaga strategis pertahanan Rusia. Sasaran utama mereka adalah pencurian informasi dan teknologi militer sensitif.

Menurut dokumen internal dinas keamanan Rusia yang beredar, Tiongkok (PKT) kini secara terbuka dicap sebagai “musuh” oleh Rusia, meski secara diplomatik kedua negara masih kerap menunjukkan kemesraan di hadapan publik dunia.

Perusahaan keamanan siber Taiwan, TeamT5, mengungkapkan bahwa salah satu kelompok peretas bernama “Sanyo”, yang diduga berafiliasi dengan PKT, telah berhasil mencuri data kapal selam nuklir Rusia. Data ini bukan hanya sensitif secara militer, tetapi juga sangat vital untuk keamanan nasional Rusia, sehingga memperdalam rasa saling curiga antara Moskow dan Beijing.

Krisis Ukraina: Antara Invasi Rusia dan Pengurangan Dukungan Barat

Guru Besar Universitas South Carolina, Prof. Xie Tian, menjelaskan bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin dalam pernyataan terakhirnya menyatakan bersedia bertemu Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, namun hanya pada tahap akhir negosiasi damai. Sementara itu, menurut laporan Reuters tanggal 20 Juni, partai komunis Rusia telah mengumumkan bahwa pekan depan akan diputuskan tanggal untuk putaran ketiga perundingan damai Rusia-Ukraina.

Namun, di tengah upaya diplomasi yang masih jauh dari harapan, situasi di medan perang justru semakin membara. Rusia melancarkan serangan udara paling intens sejak awal invasi, menargetkan kota-kota utama Ukraina dan infrastruktur militer penting. Sebagai respons, Ukraina melancarkan serangan drone besar-besaran ke pangkalan udara Rusia. Dalam pernyataannya, Zelenskyy menegaskan bahwa Ukraina saat ini sangat membutuhkan minimal 40 miliar dolar AS per tahun dari sekutu Barat untuk mempertahankan perlawanan dan menjaga eksistensi negara.

Prof. Xie juga menyoroti dampak perang Timur Tengah terhadap Ukraina. 

Dia menjelaskan: “Rudal-rudal pertahanan yang semestinya dikirim ke Ukraina kini banyak dialihkan ke Israel. Hal ini menyebabkan dukungan militer Barat ke Ukraina berkurang drastis.” 

Akibatnya, Rusia semakin leluasa mempercepat laju serangan dan merebut lebih banyak wilayah, memanfaatkan situasi global yang kian terpecah.

Operasi Udara Israel “Rise of the Lion”: Serangan Decapitation yang Mengguncang Iran

Pada 13 Juni, Israel meluncurkan operasi udara masif bertajuk “Rise of the Lion” yang telah mencatatkan sejarah baru dalam operasi militer presisi. Dalam serangan ini, setidaknya 20 jenderal tinggi Garda Revolusi Iran (IRGC) dan enam pakar nuklir top Iran tewas, bahkan beberapa di antaranya dalam kondisi tertidur di kediaman mereka. Serangan ini dinilai sebagai “decapitation strike” atau pemenggalan struktur komando yang super presisi, dengan tujuan utama melumpuhkan kepemimpinan militer dan infrastruktur nuklir Iran.

Media nasional Iran akhirnya mengakui kejatuhan sejumlah petinggi, termasuk Komandan IRGC Hossein Salami, Kepala Staf Militer Mohammad Bagheri, serta beberapa ilmuwan nuklir seperti mantan Kepala Badan Nuklir Fereydoun Abbasi dan pakar teknologi Tehranji bersama empat peneliti nuklir lainnya. Kerugian ini disebut sebagai pukulan telak yang bisa memperlambat program nuklir Iran bertahun-tahun ke depan.

CNN dan Wall Street Journal melaporkan bahwa Israel menggunakan taktik “kuda Troya” modern—mengirim ratusan drone kecil, suku cadang senjata, dan alat komunikasi melalui koper diplomatik serta kontainer logistik ke dalam wilayah Iran, lalu melakukan koordinasi serangan secara simultan dari dalam negeri. Total lebih dari 100 target strategis dihantam dalam waktu singkat. Menurut sejumlah analis, operasi ini telah direncanakan selama sedikitnya 8 bulan oleh komunitas intelijen Israel dan sekutunya.

Mossad Dituding Masuk ke Seluruh Jaringan Iran, Gelombang Penangkapan Meluas

Serangan udara besar-besaran ini mengguncang seluruh aparat keamanan Iran. Pemerintah Iran secara terbuka menyatakan telah menangkap 28 orang yang diduga kuat sebagai agen Mossad di Teheran. Bahkan, satu terduga lama dieksekusi secara kilat. Pemerintah meminta seluruh warga aktif melapor jika menemukan perilaku mencurigakan di lingkungan mereka—seperti aktivitas keluar-masuk malam hari, perubahan penampilan ekstrem, suara asing di sekitar rumah, dan sebagainya.

Otoritas Iran juga memperketat pengawasan lewat patroli Basij di permukiman strategis serta memblokir sekitar 60 akun media sosial di wilayah Isfahan yang diduga dipakai untuk koordinasi aksi spionase dan sabotase.

Langkah ini mencerminkan tingkat ancaman yang dirasakan rezim Teheran. Mossad diyakini telah menyusup ke hampir semua lini penting Iran, mulai dari sektor militer, pemerintahan, hingga komunitas riset teknologi. Perlu dicatat, dalam beberapa tahun terakhir Mossad sudah dikaitkan dengan sederet kasus pembunuhan ilmuwan nuklir Iran—termasuk pembunuhan Mohsen Fakhrizadeh pada tahun 2020 yang sempat mengguncang dunia internasional.

Kesimpulan: Dunia di Tengah Pusaran Perang Generasi Baru

Dari Washington hingga Kiev, dari Teheran hingga Tel Aviv, dunia kini berada di tengah pusaran perang modern: ancaman spionase tanpa batas negara, serangan siber lintas sekutu dan musuh, serta operasi militer presisi dengan sasaran utama pemimpin dan ilmuwan. Keseimbangan kekuatan global sedang diuji. Jika eskalasi ini tidak diredam, para pengamat memperingatkan, dunia bisa menghadapi gelombang baru krisis yang lebih destruktif, bukan hanya di medan perang, tetapi juga di ranah ekonomi, teknologi, dan sosial.

Elon Musk Lawan Sensor Iran! Pangkalan AS Dikosongkan, Ada Operasi Rahasia?

EtIndonesia. Dalam perkembangan terbaru yang memicu spekulasi global, citra satelit pada 19 Juni menunjukkan perubahan dramatis di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar- milik Amerika Serikat. Pangkalan terbesar AS di kawasan Teluk yang biasanya dipenuhi lebih dari 40 pesawat tempur dan tanker udara, kini tampak hampir kosong—hanya tersisa tiga unit pesawat di apron utama.

Analisis Keamanan: Keputusan Evakuasi atau Manuver?

Peneliti pertahanan dari Rand Corporation, Dr. Schwartz, menyoroti alasan strategis di balik langkah ini. Lokasi Al Udeid yang sangat dekat dengan Iran, hanya berjarak sekitar 150 mil dari garis pantai Iran, menjadikan seluruh kekuatan udara dan pasukan AS di pangkalan ini sangat rentan jika pecah konflik terbuka. 

“Dalam skenario perang besar, pangkalan ini adalah target pertama rudal Iran. AS jelas tidak ingin mengambil risiko kehilangan puluhan pesawat sekaligus,” ujar Schwartz.

Perpindahan Besar-besaran ke Eropa

Informasi dari data penerbangan sipil dan militer yang bersifat terbuka memperkuat analisis ini. Setidaknya 27 pesawat tanker pengisian bahan bakar milik Angkatan Udara AS telah tercatat meninggalkan kawasan Teluk, menuju beberapa pangkalan utama Amerika dan NATO di Eropa. Pengamat militer meyakini ini adalah bagian dari reposisi kekuatan—baik sebagai antisipasi balasan Iran maupun strategi penekanan psikologis terhadap pihak lawan.

Seorang pejabat Kementerian Pertahanan Amerika Serikat yang enggan disebutkan namanya, menyatakan bahwa pemindahan pesawat dan personel merupakan bagian dari “langkah pencegahan serta persiapan menghadapi segala kemungkinan.” Dia menambahkan, bila Amerika benar-benar terlibat langsung dalam perang, pangkalan-pangkalan militer AS di seluruh Timur Tengah—khususnya di Qatar—akan menjadi sasaran utama serangan balasan Iran.

Gedung Putih dalam Mode Siaga Tinggi

Ketegangan di kawasan juga terlihat dari pernyataan Presiden Donald Trump, yang pada 18 Juni melakukan siaran langsung dari Gedung Putih. Dia mengungkapkan bahwa selama tiga hari penuh telah memimpin rapat-rapat darurat tingkat tinggi, menandakan Amerika tidak sekadar menunggu dan melihat situasi, tetapi juga secara aktif memonitor perkembangan intelijen serta menimbang berbagai opsi militer dan diplomasi.

“Setiap keputusan akan diambil berdasarkan analisis terbaru di lapangan, dengan prioritas utama keselamatan pasukan Amerika,” tegas Trump.

Perang Propaganda dan Peran Media Global

Di ranah media, perang informasi tidak kalah panas dari konflik militer. Media Israel, dalam sebuah artikel tajam berjudul : “Israel Bertindak, Kini Saatnya Rakyat Iran Bangkit”, menegaskan bahwa operasi militer Israel bukan sekadar urusan dua negara, melainkan upaya membangkitkan rakyat Iran untuk membebaskan diri dari rezim otoriter. Narasi ini dimaksudkan untuk mengobarkan semangat perlawanan di dalam negeri Iran, sekaligus mencari simpati publik internasional.

Pemadaman Internet dan Manuver Teknologi: Starlink Jadi Penyelamat

Pada saat yang sama, rezim Iran merespons serangan dan kekacauan dengan menutup total akses internet nasional. Pemadaman ini membuat lebih dari 80 juta rakyat Iran terisolasi dari dunia luar, mencegah penyebaran informasi dan koordinasi aksi protes. Namun, langkah balasan justru datang dari luar dugaan: Elon Musk, lewat perusahaan teknologi luar angkasanya, SpaceX, mengaktifkan lebih dari 20.000 terminal Starlink di wilayah Iran.

Menurut laporan program Mark Space, jaringan Starlink langsung memberikan akses internet tanpa sensor kepada ribuan warga Iran, membuka kembali saluran komunikasi bebas dan menghubungkan mereka dengan dunia luar. Langkah ini disebut sebagai “game changer” dalam perang informasi modern, memupus upaya pemerintah Iran untuk menutup rapat arus informasi global.

Televisi Nasional Diretas: Pesan Perlawanan di Tengah Kegelapan

Dampak dari pembukaan akses internet dan teknologi baru ini terlihat nyata ketika televisi nasional Iran, yang biasanya sangat ketat dikendalikan pemerintah, dilaporkan diretas. Tayangan protes massal rakyat Iran pada 2022 diputar kembali di tengah siaran utama. Momen ini menjadi simbol, sekaligus peringatan bagi rezim bahwa arus informasi tidak bisa lagi dibendung semudah dulu.

Tanda-Tanda Perubahan di Tengah Kekacauan

Langkah-langkah ini menimbulkan pertanyaan baru: seberapa kuat kemampuan sensor internet Tiongkok jika menghadapi tekanan teknologi seperti Starlink di masa depan? Banyak analis menilai, Starlink membuka preseden baru di mana kekuatan teknologi bisa menjadi penentu perubahan sosial, bahkan melampaui kemampuan alat sensor negara-negara otoriter.

Pengamat menyimpulkan, ketika rakyat tidak lagi takut untuk mempertanyakan penguasa, dan ketika tembok sensor bisa ditembus teknologi, tanda-tanda perubahan rezim semakin nyata. Bahkan, banyak yang mulai membandingkan dinamika di Iran dengan kemungkinan perubahan serupa di Tiongkok. Apakah rakyat Tiongkok suatu hari nanti juga akan menemukan keberanian yang sama untuk menuntut kebebasan informasi dan perubahan politik?

Eropa, AS, dan Iran di Persimpangan Takdir: Blokade Internet Gagal, Ancaman Minyak Picu Krisis Baru?

EtIndonesia. Di tengah krisis geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah, serangkaian pertemuan diplomatik tingkat tinggi berlangsung antara para pemimpin Eropa dan Iran. Pada hari Jumat (20/6), Menteri Luar Negeri Jerman, Prancis, Inggris, serta pejabat tinggi kebijakan luar negeri Uni Eropa melakukan dialog tatap muka yang jarang terjadi dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Eropa mendesak Teheran agar menghentikan secara total program pengayaan uranium, sejalan dengan tuntutan “zero enrichment” yang juga digaungkan Amerika Serikat.

Desakan Keras Eropa: Iran Harus Setop Pengayaan Uranium

Para diplomat Eropa menekankan bahwa dunia internasional kini berada di titik kritis terkait program nuklir Iran. Menurut sumber Reuters yang mengutip lingkaran diplomatik Uni Eropa, pembicaraan berlangsung alot, namun Eropa bersikeras agar Iran benar-benar menekan tuas rem—pengayaan uranium harus dihentikan, bukan sekadar dibatasi.

Duta Besar Israel untuk PBB, Gilad Melon, bahkan menyambut tekanan Eropa ini.

“Kami berharap para menteri luar negeri Eropa bersikap tegas dan konsisten dalam menuntut Iran menghentikan seluruh program nuklirnya,” ujarnya dalam konferensi pers di New York.

Seorang diplomat senior Eropa menambahkan: “Iran memang sulit duduk satu meja dengan Amerika, tetapi mereka masih membuka pintu untuk berdialog dengan kami. Inilah saatnya kami menegaskan: sebelum keadaan makin memburuk, ayo kita kembali ke jalur diplomasi.”

Menteri Luar Negeri Jerman, Christian Wadford, menegaskan koordinasi Eropa dengan Amerika Serikat sudah sangat erat. 

“Iran harus paham bahwa pembicaraan kali ini harus dijalankan dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar basa-basi,” katanya.

Tekanan Amerika Serikat dan Opsi Sanksi Lebih Keras

Presiden AS, Donald Trump, telah lama menuntut “zero enrichment”—artinya Iran harus menghentikan semua aktivitas pengayaan uranium, tidak boleh satu persen pun tersisa. Di saat yang sama, Presiden Prancis,  Emmanuel Macron menggarisbawahi bahwa setiap perjanjian baru harus secara jelas mengarah ke tujuan tersebut. 

“Prioritas utama sekarang adalah mengembalikan Iran ke meja perundingan tanpa syarat,” tegas Macron.

Usulan terbaru dari Eropa bukan hanya soal nuklir. Mereka juga meminta Iran membatasi program rudal balistik dan menghentikan semua pendanaan kepada kelompok ekstremis di Timur Tengah. Paket ini diyakini sebagai syarat mutlak agar Iran bisa kembali diterima di komunitas internasional dan terhindar dari sanksi yang lebih luas.

Sikap Iran: Bertahan, Menyerang Balik, dan Menolak Dialog dengan AS

Namun, respons Iran tetap keras. Setelah pertemuan, Menlu Abbas Araghchi menegaskan: “Yang ingin berunding itu Amerika, bukan kami. Selama agresi dan serangan masih terjadi, tidak ada ruang untuk dialog atau diplomasi. Kami dalam posisi membela diri yang sah, dan pertahanan ini tidak akan berhenti. Kami tidak akan berdiskusi dengan AS karena mereka sekutu dari kejahatan-kejahatan ini.”

Sejumlah analis menilai sikap keras Iran kali ini tak terlepas dari dukungan “bos di belakang layar”, yaitu Partai Komunis Tiongkok (PKT). Keterlibatan Beijing dalam setiap manuver strategis Teheran menjadi sorotan banyak pihak, terutama mengingat kepentingan Tiongkok atas pasokan minyak Iran.

Manuver Mendadak Militer AS di Qatar: 40 Jet Tempur Ditarik

Ketegangan makin meningkat ketika pada hari yang sama, militer Amerika Serikat secara mendadak menarik lebih dari 40 pesawat tempur dari Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar. Langkah ini mengejutkan banyak pengamat militer. Belum jelas alasan penarikan, namun spekulasi berkembang bahwa AS tengah mempersiapkan perubahan strategi besar-besaran di kawasan, baik untuk meredam potensi perang lebih luas maupun sebagai bentuk tekanan psikologis terhadap Teheran dan sekutunya.

Perang Siber: Starlink Elon Musk Menembus Blokade Internet Iran

Di tengah upaya Iran memblokir seluruh akses internet untuk meredam dampak informasi dari luar, jaringan satelit Starlink milik Elon Musk justru berhasil menembus blokade tersebut. Ribuan perangkat Starlink didistribusikan secara diam-diam ke masyarakat Iran, sehingga komunikasi dengan dunia luar tetap terjaga dan upaya Iran membungkam gerakan oposisi digital jadi sia-sia.

Ketegangan Memuncak: Serangan Rudal dan Ketakutan di Selat Hormuz

Sementara di lapangan, pada 20 Juni, pusat siaran Channel 14 di Haifa, Israel, menjadi target serangan rudal Iran—insiden ini digambarkan sebagai salah satu ledakan terbesar yang pernah disebabkan oleh rudal Iran di Israel. Tidak lama setelahnya, serangan udara besar melanda Ahvaz, Provinsi Khuzestan, Iran, mempertegas siklus balas-membalas yang tak kunjung usai.

Akun “Middle East Observer” di platform X mengabarkan, Angkatan Laut Amerika Serikat telah menempatkan lima kapal perang di lepas pantai Israel guna memperkuat sistem pertahanan rudal Israel. Saat ini, Israel memiliki lebih dari 10 lapis pertahanan rudal mulai dari kapal perang, Iron Dome, Patriot, Arrow, hingga jet tempur, menghadang setiap ancaman dari udara.

Bukan hanya itu, militer AS juga tengah mengkaji skenario jika terjadi perang terbuka dengan Iran. Salah satu kekhawatiran terbesar adalah kemungkinan Iran akan menanam ranjau laut di Selat Hormuz—jalur vital bagi 25% pengiriman minyak dunia. Dua jenderal senior Amerika, Joseph Votel (mantan Panglima Komando Sentral AS) dan Kevin Donegan (mantan Panglima Angkatan Laut AS di Timur Tengah), secara terbuka mengakui bahwa Iran punya kapasitas untuk melakukan hal tersebut.

Jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, dunia akan menghadapi kekurangan pasokan minyak global. Penghasilan minyak Iran—khususnya ekspor ke Tiongkok—akan anjlok drastis. Dan jika jalur energi dunia terganggu, AS diyakini tak segan melakukan serangan habis-habisan ke fasilitas militer dan infrastruktur vital Iran.

Kalkulasi Risiko dan Dampak Global

Penutupan Selat Hormuz tak hanya berpotensi memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, tetapi juga mengguncang ekonomi Tiongkok yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari kawasan tersebut. Sementara itu, masyarakat internasional semakin khawatir, apakah krisis ini akan menyeret dunia pada konflik skala besar yang dampaknya bisa jauh lebih luas dibanding perang-perang sebelumnya.

Di sisi lain, upaya diplomatik Eropa tetap dilanjutkan. Uni Eropa berharap Iran mau kembali ke jalur dialog, sebab opsi militer diyakini hanya akan membawa kehancuran bagi semua pihak. Namun, selama masing-masing kubu masih saling mengancam dan memperkuat aliansi militer, perdamaian sejati di kawasan Timur Tengah tampaknya masih jauh dari harapan.

Serangan Israel Bongkar Borok! Senjata Canggih Iran Ternyata Impor dari Tiongkok dan Rusia—Tapi Gagal Total?

EtIndonesia. Konflik berskala besar kembali mengguncang Timur Tengah setelah militer Israel melakukan serangan udara secara massif ke lebih dari 1.100 titik strategis di Iran. Operasi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya ini memicu kekhawatiran luas akan meletusnya perang regional yang lebih luas, sekaligus membuka tabir lemahnya sistem pertahanan udara Iran yang selama ini dibanggakan sebagai hasil kolaborasi dengan Rusia dan Tiongkok.

Israel Hantam 1.100 Target, Sistem Pertahanan Iran Jebol

Berdasarkan laporan sejumlah media Israel, operasi udara besar-besaran ini diluncurkan setelah intelijen Israel mengidentifikasi sejumlah fasilitas militer, pusat kendali, dan peluncur rudal di berbagai wilayah Iran. Serangan yang dilakukan secara simultan dan terkoordinasi tersebut berhasil melumpuhkan lebih dari 1.100 target utama—sebuah angka yang menandai eskalasi terbesar sepanjang sejarah konflik kedua negara.

Wakil Direktur Institut Riset Kebijakan Nasional Israel, Udi Dekel, dalam wawancaranya menegaskan: “Sudah menjadi rahasia umum, hampir seluruh perangkat anti-udara dan sistem rudal milik Iran didatangkan dari Tiongkok dan Rusia. Mereka selalu membanggakan hal ini, namun faktanya, Angkatan Udara Israel mampu menembus langit Teheran tanpa perlawanan yang berarti.”

Menurut Udi Dekel, perubahan situasi yang begitu cepat dalam waktu kurang dari 72 jam tidak hanya menjadi tamparan bagi Iran, tapi juga menimbulkan tekanan besar terhadap kredibilitas teknologi militer Tiongkok dan Rusia.

“Seluruh dunia kini menyoroti, sejauh mana keandalan senjata produksi kedua negara tersebut bila dihadapkan pada teknologi tempur modern milik Israel,” jelasnya.

Sistem Anti-Udara Iran Gagal Total, Reputasi Rusia dan Tiongkok Dipertaruhkan

Laporan investigasi Defense Blog—media pertahanan independen yang berbasis di Eropa—mengungkapkan, kegagalan sistem pertahanan udara Iran benar-benar mengejutkan komunitas militer global. Banyak sistem pertahanan udara Iran diketahui merupakan tiruan langsung dari teknologi Rusia, atau diimpor secara resmi dari Moskow.

Namun, pada hari kedua setelah dimulainya serangan Israel, berbagai sistem pertahanan tersebut nyaris lumpuh total dan tidak mampu menghadang gelombang rudal serta serangan jet tempur Israel. Fakta ini menimbulkan perdebatan di kalangan pengamat militer Rusia sendiri, yang mulai mempertanyakan efektivitas sistem persenjataan buatan mereka, khususnya jika harus diadu dengan teknologi peperangan elektronik dan serangan presisi modern seperti yang diperlihatkan Israel.

Seorang analis senior pertahanan Rusia, yang meminta namanya dirahasiakan, mengakui  “Kami harus mengevaluasi ulang seluruh aspek teknologi kami. Kegagalan ini bukan hanya memalukan bagi Iran, tetapi juga berdampak pada reputasi militer Rusia di mata klien dan sekutu di seluruh dunia.”

Iran Sebagai Proxy Tiongkok dan Rusia: Ancaman bagi Kestabilan Regional

Udi Dekel menyoroti pula bahwa sejak lama Iran menjadi semacam ‘proxy’ atau kepanjangan tangan bagi Tiongkok dan Rusia di kawasan Timur Tengah. Dukungan militer, transfer teknologi, dan bantuan ekonomi diberikan secara terbuka maupun tertutup sebagai bagian dari persaingan geopolitik global melawan pengaruh Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan ini.

“Jika Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Trump, benar-benar mengambil langkah militer besar, baik dengan menargetkan langsung Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, maupun menghancurkan fasilitas nuklir utama Iran, maka itu akan menjadi pukulan strategis yang sangat berat bagi Tiongkok dan Rusia,” tegas Udi Dekel.

Trump Siapkan Intervensi Militer: Situasi Timur Tengah Kian Memanas

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa pemerintahannya kini tengah mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk kemungkinan bergabung dengan Israel dalam menghantam Iran. Sumber internal Gedung Putih menyebutkan bahwa keputusan akhir masih menunggu hasil analisis situasi terbaru, namun segala kemungkinan intervensi militer benar-benar terbuka.

“Setiap aksi militer skala besar di Timur Tengah pasti akan berdampak pada stabilitas global, terutama mengingat kawasan ini adalah pusat utama produksi dan distribusi minyak dunia,” ungkap seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS.

Israel Targetkan Khamenei, Rezim Iran Dipojokkan

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, secara tegas mengumumkan bahwa Israel tidak akan segan-segan meningkatkan serangan ke target-target strategis, termasuk pusat pemerintahan dan militer Iran. Dia menyebut, rezim di Teheran kini telah menjadi ancaman nyata bagi Israel dan kestabilan regional.

“Khamenei adalah Hitler modern, dia tidak bisa dibiarkan terus berkuasa dan menebar ancaman. Kami akan melakukan segala cara untuk menyingkirkan bahaya ini, demi melindungi rakyat Israel dan menjaga perdamaian di Timur Tengah,” ujar Katz dalam konferensi pers di Tel Aviv.

Respons Dunia: Rusia dan Tiongkok Terpojok, Negara-negara Barat Memantau

Di sisi lain, Rusia dan Tiongkok—yang selama ini dikenal sebagai pelindung utama Iran di forum internasional—dilaporkan tengah melakukan evaluasi mendalam terhadap kegagalan alutsista mereka di Iran. Media Rusia bahkan mulai mempertanyakan langkah diplomatik dan penjualan senjata ke negara-negara sekutu, sementara analis Tiongkok menyerukan perbaikan sistem pertahanan dan penguatan aliansi strategis.

Negara-negara Barat, khususnya anggota NATO dan Uni Eropa, memilih untuk memantau situasi dengan seksama sambil menunggu perkembangan lebih lanjut dari Washington dan Yerusalem.

Netral di Depan, Diam-diam Menyusup? Tiongkok Diduga Kirim Bantuan Rahasia ke Iran di Tengah Perang!

EtIndonesia. Di tengah memanasnya perang terbuka antara Israel dan Iran, sorotan tajam kembali mengarah ke Partai Komunis Tiongkok (PKT). Di satu sisi, Beijing tampil di panggung internasional sebagai penengah yang menyerukan gencatan senjata dan dialog damai. Namun di sisi lain, Tiongkok secara terbuka mengecam aksi militer Israel, memunculkan pertanyaan besar: Benarkah PKT benar-benar netral, atau sekadar memainkan peran ganda demi kepentingan sendiri?

Narasi Perdamaian Versus Kecaman: Netral atau Bermuka Dua?

Langkah PKT yang kembali menawarkan diri sebagai mediator dalam konflik Timur Tengah bukanlah hal baru. Setiap kali konflik Israel-Iran mencuat, Tiongkok tak pernah absen menggaungkan seruan damai di forum internasional, sembari mengkritik Israel dengan nada keras. Di balik manuver diplomatik tersebut, dunia barat masih menyimpan keraguan mendalam—khususnya terkait rekam jejak dukungan PKT terhadap Iran secara terselubung selama bertahun-tahun.

“Retorika damai PKT terdengar indah, tetapi sulit untuk sepenuhnya mempercayai netralitas mereka, mengingat sejarah kedekatan dengan rezim Teheran,” ujar Brodsky, jurnalis dan pembawa berita asal Israel, dalam wawancara eksklusif bersama Lan Si dari NTDTV.

Suasana Yerusalem dan Sinyal Bantuan Tersembunyi ke Iran

Menurut Brodsky, situasi di Yerusalem saat ini relatif lebih tenang dibandingkan kota-kota lain di Israel yang masih kerap dihujani roket, terutama di kawasan pesisir utara dan tengah. Namun, di balik dinamika di lapangan, muncul perkembangan yang dinilai cukup mencurigakan oleh para pengamat.

Salah satu insiden yang menarik perhatian adalah kabar hilangnya sebuah pesawat kargo asal Tiongkok dengan tujuan Luksemburg dari radar ketika melintas di atas wilayah Turkmenistan. Meski maskapai terkait menepis tudingan bahwa pesawat tersebut memasuki wilayah udara Iran—seraya mengklaim adanya kesalahan data radar—namun rumor yang berkembang di kalangan intelijen justru semakin menguat. Banyak pihak menduga, insiden ini merupakan bagian dari upaya PKT dan Iran membangun “koridor udara khusus” untuk pengiriman logistik strategis.

Lebih jauh, sejumlah laporan lain juga menyebutkan setidaknya ada dua pesawat kargo Tiongkok yang diketahui telah mendarat di Iran pada waktu hampir bersamaan, memperkuat dugaan adanya pengiriman barang penting yang tidak terdeteksi secara resmi oleh publik.

Dugaan Pengiriman Teknologi Militer dan Dukungan Logistik

Terkait dengan berbagai insiden penerbangan tersebut, Brodsky mengutip analisis para pakar intelijen sumber terbuka dan jurnalis internasional, yang menilai sangat mungkin PKT memang sedang mengirimkan bantuan ke Iran—bukan hanya berupa kebutuhan sipil, melainkan peralatan dan teknologi militer. Barang-barang tersebut bisa mencakup radar canggih, drone, hingga suku cadang untuk sistem pertahanan udara atau bahkan perangkat militer strategis lain.

“Jalur udara ini sangat efisien. Dengan satu dua penerbangan kargo, segala sesuatu yang dibutuhkan Iran untuk memperkuat pertahanannya bisa langsung dikirim tanpa perlu sorotan dunia internasional,” ungkap Brodsky.

Mengamankan Kepentingan Energi dan Ekonomi Tiongkok

Di balik strategi berwajah ganda ini, Brodsky menegaskan bahwa PKT sejatinya tengah berupaya keras melindungi kepentingan vitalnya di kawasan tersebut. Seperti diketahui, Iran adalah salah satu pemasok minyak terbesar bagi Tiongkok. Dalam situasi sanksi global dan ancaman blokade Barat, kelangsungan suplai minyak dari Iran menjadi napas penting bagi stabilitas ekonomi Tiongkok.

“Jika Iran sampai kolaps atau kehilangan kemampuan ekspor minyak, ekonomi Tiongkok akan terkena imbas besar. Inilah alasan utama mengapa PKT begitu ngotot memastikan Iran tetap stabil dan kuat di tengah gempuran militer Israel,” terang Brodsky.

Tak hanya itu, dia menambahkan, kerja sama strategis antara Beijing dan Teheran sejatinya sudah terjalin jauh sebelum perang ini meletus. PKT pun disebut memanfaatkan relasi tersebut untuk mengakali sanksi internasional, terutama dalam hal perdagangan minyak dan transfer teknologi, walau hal ini selalu dibantah secara resmi oleh otoritas Tiongkok.

Dilema Barat: Percaya Netralitas atau Mewaspadai Motif Tersembunyi?

Polemik mengenai peran PKT dalam konflik Israel-Iran menempatkan Barat dalam dilema. Di satu sisi, dunia memerlukan mediator yang mampu meredakan konflik. Namun, di sisi lain, peran ganda PKT yang sarat motif ekonomi dan geopolitik sulit diabaikan begitu saja.

Banyak analis memandang, selama kepentingan nasional Tiongkok masih erat kaitannya dengan stabilitas Iran, maka Beijing akan terus memainkan peran sebagai penengah sekaligus pelindung kepentingan sendiri, bahkan jika itu harus dilakukan secara diam-diam dan penuh perhitungan.

“Pada akhirnya, yang jadi pertaruhan adalah masa depan kawasan. Apakah upaya PKT ini benar-benar untuk perdamaian, atau hanya upaya mengamankan kepentingan minyak dan pengaruh di Timur Tengah?” tutup Brodsky.