Topan “Bavi” Membawa Hujan Lebat ke Wilayah Utara Tiongkok, Banyak Daerah Dilanda Banjir Parah

Setelah mendarat di pesisir Provinsi Zhejiang, Tiongkok, topan sangat kuat Bavi terus bergerak ke arah utara, membawa angin kencang dan hujan lebat ke berbagai wilayah di Tiongkok Timur, Tiongkok Utara, dan Tiongkok Timur Laut. Menurut laporan, cuaca ekstrem tersebut telah memicu banjir besar. Di Chengde, Provinsi Hebei, sejumlah desa terendam banjir, banyak kendaraan hanyut, bahkan ada warga yang ikut terseret arus. Sementara itu, di Shenyang, Provinsi Liaoning, jalan-jalan berubah menjadi sungai; sebagian warga terlihat menggunakan perahu, berenang, bahkan berselancar di tengah genangan.

EtIndonesia.com Pada 14 Juli, pusat Topan Bavi telah bergerak ke wilayah Yantai, Provinsi Shandong, dan terus bergerak ke arah timur laut dengan kecepatan sekitar 35 kilometer per jam.

Sebelumnya, Bavi dua kali mendarat di pesisir Zhejiang menjelang tengah malam 11 Juli. Angin dan hujan yang sangat kuat menyebabkan banyak pohon tumbang, banjir di berbagai daerah, tanah longsor di wilayah pegunungan, serta gelombang besar di kawasan pantai. 

Pada 12 Juli pagi, pusat topan bergerak ke Hangzhou, kemudian memasuki Anhui. Pada sore 13 Juli, topan memasuki wilayah Xuzhou, Jiangsu, dan pada 14 Juli bergerak melintasi Semenanjung Shandong menuju bagian utara Laut Kuning.

Menurut laporan, sekitar 2 juta penduduk Zhejiang dievakuasi sebelum topan tiba. Banyak daerah menghentikan kegiatan kerja, sekolah, dan transportasi umum. Warga juga berbondong-bondong membeli kebutuhan pokok hingga rak-rak supermarket sempat kosong.

Pada 13 Juli, seorang petani dari Ningbo, Zhejiang, bermarga Zhang mengatakan kepada NTD bahwa angin kencang dan hujan deras telah menyebabkan kerugian besar pada sektor pertanian. Seluruh 21 mu (sekitar 1,4 hektare) rumah kaca sayuran miliknya hancur diterjang badai.

“Banyak daerah sudah kebanjiran. Kami tinggal di dekat pantai dan anginnya sangat kencang, bertiup sepanjang hari tanpa berhenti. Semua rumah kaca yang belum sempat melepas plastik penutupnya rusak dan roboh. Yang paling parah bahkan tercabut hingga ke akarnya. Kerugiannya sangat besar, sampai rasanya ingin menangis,” katanya. 

Shanghai juga terdampak angin kencang. Menurut laporan, peredam massa (tuned mass damper) seberat sekitar 1.000 ton di dalam Shanghai Tower, gedung tertinggi di kota itu, terlihat bergoyang cukup jelas—fenomena yang disebut jarang terjadi. Di pesisir Qingdao, Shandong, ombak besar menerjang hingga air laut meluap ke jalan raya.

Sejak 12 Juli, sejumlah provinsi seperti Jilin, Liaoning, Hebei, Shandong, Jiangsu, dan Anhui terus diguyur hujan lebat yang memicu banjir di berbagai wilayah.

Pada 13 Juli, hujan deras di Kabupaten Kuancheng, Chengde, Hebei, menyebabkan permukaan sungai naik hampir 2 meter, sementara genangan di beberapa lokasi mencapai kedalaman 3 meter. Banyak kendaraan hanyut, bahkan ada warga yang dilaporkan ikut terseret bersama kendaraannya.

Warga setempat mengatakan bahwa banyak desa terendam banjir, ternak seperti sapi dan kuda hanyut terbawa arus, jalan-jalan terputus, jembatan rusak, serta terjadi pemadaman listrik dan gangguan pasokan air.

“Upaya penyelamatan sangat sulit. Hujan sudah turun selama dua atau tiga hari. Di Qian’an dan Zunhua (Provinsi Hebei) keadaannya juga sangat parah. Air bahkan sudah mencapai atap rumah. Seluruh warga desa sedang menunggu bantuan,” ujar seorang warga Kuancheng bermarga Wang. 

Warga lain bermarga Zhao mengatakan: “Sudah beberapa hari hujan turun terus di Kuancheng. Sebuah desa kecil bernama Xibingjiao sudah terendam hingga melewati atap rumah. Banyak orang hanya bisa berdiri di atas atap. Rumah-rumah itu jelas sudah tidak bisa ditempati lagi.”

Di beberapa wilayah Hebei juga muncul kekhawatiran mengenai kemungkinan pembukaan tanggul untuk mengalihkan banjir. Di Sanhe, Kota Langfang, sejumlah warga dilaporkan berusaha mencegah pemerintah membuka tanggul sehingga sempat terjadi ketegangan antara warga dan aparat.

Di wilayah timur laut Tiongkok, situasinya juga disebut sangat serius. Pada 13 Juli, jalan-jalan di Shenyang berubah menjadi sungai. Beberapa warga menggunakan perahu untuk bepergian, bahkan ada yang berenang dan berselancar di jalan yang tergenang. Pemerintah setempat telah menghentikan kegiatan sekolah, pekerjaan, operasional usaha, dan transportasi umum.

Pada 14 Juli, seorang warga Shenyang bermarga Wang mengatakan kepada NTD bahwa hujan deras masih terus berlangsung. Banyak kendaraan terendam banjir dan hampir semuanya mengalami kerusakan total.

“Situasi di Liaoning sekarang sangat serius. Fushun merupakan daerah yang paling parah, disusul Shenyang, Dalian, dan Liaoyang. Banyak tempat sudah kebanjiran. Sistem drainase tidak mampu mengalirkan air. Mobil saya sudah rusak total,” katanya. 

Pemerintah Provinsi Liaoning telah mengaktifkan status tanggap darurat banjir tingkat II dan mengevakuasi lebih dari 260.000 penduduk.

Seorang warga Distrik Shuncheng, Kota Fushun, bermarga Li mengatakan bahwa hujan yang terus turun telah memicu banjir bandang. Rumah-rumah terendam dan banyak jalan mengalami kerusakan berat.

“Beberapa hari ini hujan terus turun. Arus air di Distrik Shuncheng sangat deras. Air banjir dari pegunungan menghancurkan banyak jalan. Sekarang hujan semakin deras dan kendaraan juga mulai hanyut,” ujarnya. 

Wilayah pesisir Liaoning juga mengalami kerusakan akibat gelombang besar. Di Dalian, ombak menghantam kawasan pantai hingga mengangkat batu paving dan merusak berbagai fasilitas di sepanjang pesisir.

Menurut statistik Kementerian Sumber Daya Air Tiongkok, akibat hujan deras pada 12–13 Juli, sebanyak 46 sungai di Zhejiang, Fujian, Anhui, Jiangxi, dan wilayah lainnya mengalami banjir dengan ketinggian air melampaui batas siaga.

Para ahli meteorologi memperingatkan bahwa seiring Topan Bavi terus bergerak ke utara, wilayah Anhui, Jiangsu, Shandong, dan Tiongkok Timur Laut masih berpotensi mengalami hujan lebat. Risiko banjir bandang dan tanah longsor juga tetap tinggi. Selain itu, wilayah Qinghai, Gansu, Ningxia, Shaanxi, dan Shanxi juga diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap banjir bandang dan bencana geologi. (***)

Editor: Li Yun Wawancara: Xiong Bin  Pascaproduksi: Zhong Yuan

Argentina Kembali ke Final Piala Dunia Setelah Menang Dramatis 2–1 atas Inggris

Timnas Argentina (La Selección) bangkit dari ketertinggalan untuk mencetak dua gol dalam waktu kurang dari tujuh menit pada akhir pertandingan dan mengalahkan Inggris 2–1 pada 16 Juli 2026 di Atlanta.

EtIndonesia.com Kemenangan yang diraih Lionel Messi dan rekan-rekannya  disambut emosi yang bercampur aduk oleh hampir 70.000 penonton di stadion. Bagi Argentina, peluang untuk menjadi juara Piala Dunia secara beruntun—sesuatu yang belum pernah terjadi sejak 1962—masih tetap terbuka.

Permusuhan panjang antara kedua negara, yang pernah terlibat perang memperebutkan Kepulauan Falkland/Malvinas, langsung terasa sejak awal laga. Pendukung kedua tim saling menenggelamkan lagu kebangsaan lawan, sementara babak pertama berlangsung keras dan minim peluang.

Selama 45 menit pertama tidak ada gol yang tercipta. Kedua tim hanya menghasilkan tiga tembakan gabungan dan melakukan total 19 pelanggaran, dengan masing-masing menerima satu kartu kuning.

Inggris membuka keunggulan pada menit ke-55. Serangan yang dibangun Declan Rice diteruskan kepada Morgan Rogers sebelum akhirnya diselesaikan Anthony Gordon menjadi gol pertamanya di ajang Piala Dunia.

The Three Lions mampu mempertahankan keunggulan tersebut hingga melewati menit ke-80. Kiper Jordan Pickford mencatat empat penyelamatan penting, sementara rekan-rekannya memblok dua tembakan lainnya sebelum mencapai gawang.

Harry Kane dan Jude Bellingham juga sempat memperoleh peluang untuk menambah keunggulan, tetapi berhasil digagalkan oleh kiper Argentina Emiliano Martínez.

Setelah unggul, Inggris tampak lebih fokus mempertahankan keunggulan satu gol daripada berusaha menambah skor. Pelatih Thomas Tuchel menggunakan dua dari tiga jatah pergantiannya untuk memasukkan pemain bertahan menggantikan Anthony Gordon dan Declan Rice pada pertengahan babak kedua.

Sebaliknya, Argentina meningkatkan intensitas serangan dengan menarik bek Nicolás Tagliafico dan memasukkan penyerang Lautaro Martínez.

Perubahan itu membuahkan hasil. Argentina mencetak dua gol dalam waktu kurang dari tujuh menit. Gol pertama lahir pada menit ke-85 melalui tendangan Enzo Fernández dari luar kotak penalti. Kemudian, Lautaro Martínez mencetak gol kemenangan lewat sundulan kepala pada menit kedua masa tambahan waktu.

Kedua gol tersebut berawal dari umpan Lionel Messi.

Dua assist itu juga membuat Messi kembali memimpin perburuan Sepatu Emas (Golden Boot) untuk pertama kalinya dalam kariernya. Penghargaan tersebut diberikan kepada pencetak gol terbanyak turnamen.

Pada usia 39 tahun, Messi kini mengoleksi delapan gol dan empat assist di Piala Dunia 2026, unggul atas bintang Prancis Kylian Mbappé yang juga memiliki delapan gol tetapi hanya tiga assist.

Argentina meraih kemenangan ini dengan mengenakan seragam tandang berwarna biru tua yang secara khusus mereka minta untuk digunakan. Variasi seragam serupa pernah dikenakan tim Argentina yang dipimpin Diego Maradona saat mengalahkan Inggris di Piala Dunia 1986.

Pertandingan berlangsung keras dan penuh kontak fisik. Argentina memperoleh 15 pelanggaran sepanjang laga, termasuk tiga kartu kuning. Inggris melakukan 11 pelanggaran dan menerima satu kartu kuning.

Namun, reaksi para pemain, pelatih, dan suporter dari kedua kubu menunjukkan bahwa banyak yang merasa wasit seharusnya memberikan lebih banyak pelanggaran dan kartu.

Argentina kini akan menghadapi Spanyol pada partai final Piala Dunia yang digelar pada 19 Juli waktu setempat di kawasan New York.

Sementara itu, Inggris akan terbang ke Miami untuk menghadapi Prancis dalam pertandingan perebutan tempat ketiga pada 18 Juli waktu setempat

Ini merupakan penampilan keempat Inggris di semifinal Piala Dunia. Satu-satunya kali mereka tampil di final adalah pada 1966, ketika menjadi juara dunia di kandang sendiri.

“Kami sudah sangat dekat,” kata Harry Kane dalam wawancara usai pertandingan.

“Kami hanya perlu menemukan kepingan yang hilang pada tahap akhir turnamen.”

“Turnamen seperti ini menguras tenaga, usaha, tekanan, dan mental. Kami sudah menunjukkan semua itu. Tetapi ya, kami masih kehilangan satu bagian terakhir untuk mencapai tujuan.”

Artikel ini terbit di Theepochtimes.com

Wawancara Eksklusif: Apa yang Akan Menjadi Penggerak Ekonomi Tiongkok?

EtIndonesia.com Pecahnya gelembung sektor properti, lemahnya permintaan domestik, dan menurunnya investasi telah menyebabkan ekonomi Tiongkok kehilangan penggerak utamanya. Ditambah lagi dengan perang dagang dan percepatan restrukturisasi rantai pasok global yang mengurangi ketergantungan terhadap Tiongkok, muncul pertanyaan: apa yang akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Tiongkok di masa depan? Untuk membahas hal ini, NTD mewawancarai penulis ekonomi sekaligus jurnalis senior, He Yang.

Selama beberapa dekade terakhir, sektor properti dipandang sebagai salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Namun ketika gelembung di sektor tersebut pecah, dampak berantainya, seperti efek domino, mulai mempengaruhi kekayaan masyarakat dan kepercayaan terhadap perekonomian.

“Seingat saya, sektor properti menggerakkan puluhan industri hilir. Itulah sebabnya dampaknya begitu besar, karena dulu benar-benar merupakan industri penopang ekonomi. Sekarang pilar itu runtuh. Akibatnya, masyarakat tidak punya uang, pemerintah tidak punya uang, perusahaan juga tidak punya uang,” kata He Yang.   

“Perusahaan bangkrut, dan pada saat yang sama masyarakat Tiongkok semakin menua. Jepang menjadi kaya sebelum menua, sedangkan Tiongkok menghadapi penuaan sebelum menjadi negara kaya. Itu merupakan persoalan yang sangat serius. Yang menanti rakyat Tiongkok hanyalah masa-masa yang penuh gejolak,” lanjutnya. 

Penulis ekonomi sekaligus jurnalis senior, He Yang (tangkapan layar)

Di tengah tantangan “menjadi tua sebelum menjadi makmur”, menurut He Yang, pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) juga dinilai menekan perusahaan swasta. Ia menyebut perusahaan milik Jack Ma maupun Pony Ma pernah dikenai denda besar oleh pemerintah, sehingga nilai kekayaan para pendirinya menyusut drastis. Menurutnya, hal ini membuat banyak pengusaha swasta mengambil sikap defensif dan enggan melakukan ekspansi.

“Pengusaha akan berpikir, ‘Kalau perusahaan saya tumbuh terlalu besar, saya akan menjadi sasaran pemerintah. Jadi untuk apa membesarkannya? Lebih baik cukup kaya saja dan hidup tenang.’ Kalau begitu, bagaimana mungkin mereka masih mau berinovasi, berani mengambil risiko, atau menciptakan lapangan kerja?,” katanya. 

“Mereka akan merasa cukup jika memperoleh satu miliar yuan untuk kebutuhan hidup mereka tanpa menarik perhatian pemerintah. Namun sekarang, bahkan memiliki kekayaan sebesar itu pun bisa menjadi sasaran karena pemerintah sangat kekurangan dana. Kalau begitu, mereka akan semakin memilih untuk pasif,” ujarnya. 

Dengan melemahnya investasi dan konsumsi domestik, dari tiga pendorong utama ekonomi—investasi, konsumsi, dan ekspor—dua di antaranya dinilai sudah kehilangan tenaga. Ekspor menjadi satu-satunya penopang utama. 

Namun demikian, menurut laporan tersebut, perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, langkah-langkah perlindungan perdagangan Uni Eropa, serta percepatan restrukturisasi rantai pasok global akibat ketegangan geopolitik membuat tekanan terhadap ekspor Tiongkok semakin besar.

“Pada dasarnya restrukturisasi rantai pasok global bertujuan membatasi keunggulan kompetitif Tiongkok. Dalam kondisi seperti ini, apakah Tiongkok masih bisa mempertahankan keunggulannya?,” katanya.  

“Menurut saya, sektor yang sudah memiliki keunggulan mungkin masih dapat bertahan, tetapi akan sulit naik ke tingkat berikutnya. Sementara sektor yang belum memiliki keunggulan, seperti semikonduktor, kemungkinan akan benar-benar dibatasi. Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan Taiwan akan terus menghambat perkembangannya. Menurut saya, sektor tersebut tidak akan mampu berkembang lebih jauh,” ujarnya. 

Dalam situasi seperti ini, apa yang akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Tiongkok ke depan?

He Yang mencontohkan model kecerdasan buatan (AI) DeepSeek, yang sempat menjadi perhatian luas. Menurutnya, terobosan teknologi pada skala terbatas tidak cukup untuk mengubah struktur ekonomi secara fundamental.

“Dalam lingkungan seperti Tiongkok, perusahaan seperti DeepSeek memang bisa muncul. Namun perusahaan seperti itu pada akhirnya mungkin hanya berkembang hingga setara Baidu. Perusahaan dengan kapitalisasi ratusan miliar dolar AS tidak akan membawa perubahan mendasar bagi pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Yang dibutuhkan adalah 50 atau bahkan 100 perusahaan seperti itu,” ujarnya. 

“Di Amerika Serikat ada sekitar sepuluh perusahaan bernilai lebih dari satu triliun dolar AS, puluhan perusahaan bernilai ratusan miliar dolar, dan dua hingga tiga ratus perusahaan bernilai puluhan miliar dolar. Itulah sumber inovasi yang terus-menerus menggerakkan ekonomi Amerika. Tiongkok tidak memiliki jumlah maupun kualitas perusahaan seperti itu. Jadi, jika ditanya apa penggerak pertumbuhan ekonomi Tiongkok, menurut saya tidak ada,” katanya. 

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) telah mendorong pemerintah PKT untuk mempercepat reformasi struktural, yaitu mengalihkan model pertumbuhan dari yang bergantung pada investasi dan ekspor menjadi pertumbuhan yang didorong oleh konsumsi domestik. Namun, menurut laporan ini, pemerintah Beijing masih menekankan peran Partai dalam pengelolaan ekonomi.

He Yang berpendapat bahwa pemerintah bahkan tidak memiliki keberanian untuk mengembalikan lebih banyak manfaat ekonomi kepada masyarakat.

“Meskipun pemerintah sangat mengkhawatirkan kondisi ekonomi, kebijakan yang diterapkan sejak pandemi tetap hanya berputar pada peningkatan kapasitas produksi, ekspor, dan investasi,” katanya.  

“Bahkan mereka tidak berani memberikan lebih banyak bantuan langsung kepada masyarakat untuk meningkatkan kepercayaan konsumen. Mereka juga tidak berani mengalihkan lebih banyak aset ke dana jaminan sosial dan asuransi kesehatan agar masyarakat bisa berbelanja tanpa rasa khawatir,” ujarnya. 

“Kesimpulan saya adalah, pemerintah PKT tidak mengetahui dan tidak memahami apa sebenarnya penggerak pertumbuhan ekonomi. Mereka telah terjebak dalam pola pikir yang sama selama bertahun-tahun,” tambahnya. 

Dalam bagian akhir wawancara, He Yang menyampaikan pandangan pribadinya bahwa perubahan sistem politik merupakan syarat utama bagi perbaikan ekonomi. Pernyataan tersebut merupakan opini narasumber dalam wawancara ini.

Editor: Shang Yan Wawancara: Chang Chun Pascaproduksi: Tony

Dua Tahun Sejak Upaya Pembunuhan di Pennsylvania, Trump Menjawab Pertanyaan Reporter New Tang Dynasty Television (NTD)

Dua tahun lalu, tepatnya pada 13 Juli 2024, calon presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, menjadi sasaran upaya pembunuhan saat berpidato dalam kampanye di Butler, Pennsylvania. Sebuah peluru menggores telinganya, namun ia selamat. Pada peringatan dua tahun peristiwa tersebut, Presiden Trump menjawab pertanyaan dari reporter New Tang Dynasty Television (NTD).

EtIndonesia.com Pada 13 Juli, genap dua tahun sejak insiden percobaan pembunuhan terhadap Trump dalam kampanye di Butler, Pennsylvania.

Saat kejadian itu berlangsung, NTD menyiarkan secara langsung dari lokasi dan merekam momen bersejarah ketika peluru mengenai telinga kanan Trump. Setelah itu, Trump berdiri kembali, mengepalkan tangan, dan meneriakkan, “Fight! Fight! Fight!” (Lawan! Lawan! Lawan!).

Pada Senin (13 Juli), Presiden Trump kembali menegaskan bahwa ia percaya Tuhan telah menyelamatkan nyawanya. Di Ruang Oval Gedung Putih, ia juga menjawab pertanyaan reporter NTD dan mengatakan bahwa ia sedang mewujudkan kembali slogan “Make America Great Again” (Membuat Amerika Hebat Kembali), khususnya melalui pemulihan ekonomi dan memperkuat kemampuan militer Amerika Serikat.

Reporter NTD Tao Ming:  “Anda telah beberapa kali mengatakan bahwa Anda percaya Tuhan telah menyelamatkan Anda. Selama masa jabatan Anda sejauh ini, adakah momen tertentu yang membuat Anda merasa bahwa inilah alasan Tuhan membiarkan Anda tetap berada di sini?”

Trump pada 13 Juli 2024 di Pennsylvania, mengangkat tinju setelah ditembak. (Sumber: REBECCA DROKE/AFP via Getty Images)

Presiden AS Donald Trump:  “Kami telah melakukan banyak hal. Saya selalu mengatakan bahwa kami akan membuat Amerika hebat kembali. Apa yang telah kami capai jauh melampaui apa yang dibayangkan siapa pun, bahkan melampaui apa yang saya bayangkan sendiri. Kami telah melakukan hal-hal yang luar biasa. Kami telah menarik investasi sebesar 19,2 triliun dolar AS, jumlah yang jauh melampaui investasi yang pernah diterima negara lain.”

“Kami memiliki militer terkuat di dunia. Kemanapun kami pergi, kami kembali dihormati. Bahkan mungkin lebih dihormati daripada sebelumnya. Jadi saya berterima kasih atas pertanyaan Anda, dan saya rasa itulah jawabannya.”

Sejak insiden penembakan di Butler, Trump dilaporkan kembali menghadapi tiga ancaman langsung terhadap keselamatan dirinya.

Salah satunya adalah upaya pembunuhan kedua yang terjadi pada September 2024 di sebuah lapangan golf di Florida. Tersangka dalam kasus tersebut dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Kemudian, pada April lalu, seorang pria bersenjata dilaporkan mencoba memasuki ruang jamuan tempat Trump menghadiri makan malam tahunan Asosiasi Koresponden Gedung Putih. Pada Mei, terjadi lagi insiden baku tembak antara seorang pria bersenjata dan agen Dinas Rahasia AS di luar Gedung Putih.

Pada 25 April 2026, Trump menghadiri Makan Malam Asosiasi Koresponden Gedung Putih ketika tiba-tiba terdengar suara tembakan. Trump berhasil dievakuasi dari lokasi kejadian dengan selamat, dan seorang pelaku penembakan berhasil ditangkap. (Tangkapan layar dari video)

Dalam rapat kabinet setelah insiden penembakan terbaru, Trump mengatakan kepada NTD bahwa demi menjalankan tugasnya sebagai presiden secara efektif, ia tidak terlalu memikirkan keselamatan pribadinya.

Tao Ming:  “Apa yang memberi Anda keberanian untuk terus menjalankan tugas secara efektif tanpa harus setiap hari memikirkan ancaman-ancaman tersebut?”

Trump:  “Saya tidak bisa terus memikirkan hal-hal itu. Jika saya terlalu memikirkannya, saya tidak akan bisa menjadi presiden yang sangat baik.”

Baru-baru ini, Trump juga mengatakan bahwa Iran telah menjadikannya target utama untuk dibunuh. Ia memperingatkan bahwa dirinya telah memberikan instruksi kepada militer AS bahwa apabila Iran melakukan upaya pembunuhan terhadap dirinya, Amerika Serikat akan melancarkan serangan balasan yang menghancurkan terhadap Iran dengan skala yang “belum pernah terjadi sebelumnya.”

Laporan oleh Tao Ming, wartawan New Tang Dynasty Television (NTD), Gedung Putih, Amerika Serikat.

AS vs Iran Makin Brutal! Trump Janji Hancurkan Infrastruktur Iran, Timur Tengah Bergejolak!

EtIndonesia.com— Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kembali mengalami eskalasi serius setelah Amerika Serikat secara resmi kembali memberlakukan blokade terhadap Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Langkah tersebut dilakukan hanya beberapa jam setelah militer Amerika melancarkan gelombang baru serangan udara terhadap sejumlah sasaran militer di wilayah Iran.

Perkembangan yang terjadi pada Selasa, 14 Juli 2026, ini menandai dimulainya fase baru konfrontasi antara Washington dan Teheran. Apabila sebelumnya Amerika Serikat lebih banyak mengandalkan operasi udara untuk menekan kemampuan militer Iran, kini strategi tersebut diperluas dengan pengamanan ketat jalur laut guna membatasi ruang gerak Iran di kawasan Teluk Persia.

Keputusan tersebut dipandang sebagai salah satu langkah paling signifikan sejak meningkatnya kembali ketegangan kedua negara dalam beberapa pekan terakhir. 

Selain meningkatkan tekanan militer terhadap Iran, kebijakan itu juga berpotensi memengaruhi stabilitas perdagangan energi dunia karena Selat Hormuz merupakan jalur utama ekspor minyak dan gas dari negara-negara Teluk menuju pasar internasional.

Amerika Serikat Kembali Menutup Selat Hormuz

Menurut laporan yang beredar, Presiden Donald Trump sebelumnya telah mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan kembali menerapkan blokade terhadap Selat Hormuz pada Senin, 14 Juli 2026.

Namun sebelum jadwal tersebut diberlakukan secara penuh, militer Amerika lebih dahulu melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran sekitar pukul 13.00 waktu setempat.

Tidak lama kemudian, operasi pengamanan jalur pelayaran mulai diterapkan di kawasan Selat Hormuz.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa pengerahan kekuatan militer di kawasan telah ditingkatkan secara signifikan untuk memastikan kesiapan menghadapi kemungkinan eskalasi lebih lanjut.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa saat ini lebih dari:

  • 20 kapal perang Angkatan Laut Amerika Serikat, serta
  • ratusan pesawat tempur dan pesawat pendukung

telah ditempatkan di kawasan Timur Tengah dan berada dalam status siaga penuh untuk merespons berbagai kemungkinan perkembangan situasi.

Pulau Qeshm Ikut Menjadi Sasaran Serangan

Selain menyerang berbagai fasilitas militer di daratan Iran, operasi Amerika Serikat juga dilaporkan menyasar kawasan Pulau Qeshm yang memiliki posisi strategis di dekat Selat Hormuz.

Pihak berwenang Iran menyatakan bahwa serangan tersebut menghantam area di sekitar fasilitas penyediaan listrik dan air bersih utama di pulau tersebut.

Akibatnya, muncul kekhawatiran bahwa serangan itu dapat memicu gangguan pasokan listrik dalam skala luas.

Laporan juga menyebutkan bahwa pada pagi hari 14 Juli, sedikitnya tujuh rudal menghantam kawasan Pulau Qeshm.

Apabila informasi tersebut benar, maka sasaran operasi Amerika tampaknya mulai bergeser dari sekadar fasilitas militer menuju infrastruktur strategis yang mendukung aktivitas operasional di kawasan pesisir Iran. Namun demikian, tingkat kerusakan secara rinci belum dapat diverifikasi secara independen.

USS George H.W. Bush Kembali Dikerahkan

Beberapa jam sebelum blokade Selat Hormuz diberlakukan kembali, militer Amerika Serikat merilis rekaman yang memperlihatkan jet-jet tempur lepas landas dari kapal induk USS George H.W. Bush.

Kapal induk tersebut membawa lebih dari 60 pesawat tempur dan sebelumnya telah menjadi salah satu elemen utama dalam operasi pengamanan Selat Hormuz yang berlangsung selama sekitar dua bulan, dari April hingga Juni 2026.

Kemunculan kembali USS George H.W. Bush di kawasan dinilai sebagai sinyal bahwa Washington siap mempertahankan kehadiran militernya dalam jangka waktu yang lebih panjang apabila konflik dengan Iran terus meningkat.

Keberadaan kapal induk ini juga memberikan kemampuan bagi Amerika Serikat untuk melaksanakan operasi udara secara berkelanjutan tanpa harus sepenuhnya bergantung pada pangkalan militer di negara-negara sekutu kawasan Teluk.

Iran Ancam Hentikan Seluruh Ekspor Energi

Menanggapi peningkatan tekanan militer Amerika Serikat, pihak militer Iran kembali mengeluarkan peringatan keras.

Menurut pernyataan yang dikutip dalam laporan tersebut, apabila operasi militer Amerika terus berlanjut, Iran mengancam tidak akan membiarkan “setetes pun minyak maupun gas” keluar dari kawasan Teluk.

Ancaman itu mengindikasikan bahwa Iran masih memandang Selat Hormuz sebagai instrumen strategis untuk memberikan tekanan terhadap Amerika Serikat dan negara-negara pendukungnya.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia karena menjadi lintasan utama ekspor minyak dan gas dari negara-negara Teluk menuju pasar internasional.

Karena itu, setiap ancaman terhadap jalur ini berpotensi memengaruhi stabilitas pasar energi global dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi internasional.

Trump: “Kami Akan Menguasai Seluruh Situasi”

Dalam pernyataan terbarunya, Presiden Donald Trump kembali mengkritik keras tindakan Iran.

Ia menyebut pemerintah Iran telah bertindak secara tidak rasional dan menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan lagi menunjukkan toleransi terhadap langkah-langkah yang dinilai mengancam keamanan kawasan.

Trump menyatakan bahwa militer Amerika akan menghancurkan seluruh kemampuan Iran yang berkaitan dengan pengendalian Selat Hormuz.

Ia juga menegaskan bahwa pada akhirnya Amerika Serikat akan mampu mengambil kendali penuh atas situasi keamanan di kawasan tersebut.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa pemerintahan Trump tidak hanya berupaya melemahkan kemampuan militer Iran, tetapi juga ingin memastikan kebebasan navigasi internasional tetap berada di bawah pengawasan Washington dan negara-negara sekutunya.

Ancaman Baru terhadap Infrastruktur Energi Iran

Trump juga mengumumkan bahwa mulai pekan berikutnya, Amerika Serikat berencana memperluas daftar sasaran militernya.

Menurut pernyataannya, target operasi berikutnya dapat mencakup berbagai infrastruktur strategis Iran, antara lain:

  • pembangkit listrik,
  • jembatan,
  • jaringan distribusi energi,
  • serta fasilitas penting lainnya.

Selain itu, Trump menegaskan bahwa serangan terhadap Iran tidak akan berhenti hanya dalam satu malam.

Ia menyatakan bahwa operasi militer akan terus berlanjut “malam ini, besok malam, dan malam berikutnya”, sebagai bentuk tekanan maksimal terhadap pemerintah Iran.

Pernyataan tersebut memperkuat kesan bahwa Washington tengah mempersiapkan kampanye militer yang lebih panjang dengan sasaran yang semakin luas dibandingkan operasi-operasi sebelumnya.

Trump Bertemu Perdana Menteri Irak di Gedung Putih

Di tengah meningkatnya eskalasi konflik, Presiden Donald Trump juga menerima kunjungan Perdana Menteri Irak di Gedung Putih pada 14 Juli 2026.

Pertemuan bilateral tersebut membahas sejumlah isu strategis, termasuk:

  • investasi di sektor energi,
  • pembubaran kelompok milisi yang didukung Iran,
  • serta perkembangan konflik Amerika Serikat dengan Iran.

Dalam kesempatan itu, Trump menegaskan bahwa konflik dengan Iran tidak boleh dipandang terpisah dari dinamika keamanan yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas regional sembari terus meningkatkan tekanan terhadap Teheran.

Trump Jelaskan Sikapnya Soal Selat Hormuz

Saat menjawab pertanyaan wartawan di Ruang Oval, Trump turut menjelaskan alasan di balik kebijakan Amerika Serikat terhadap Selat Hormuz.

Ia mengatakan bahwa setelah berdiskusi dengan para pemimpin negara-negara Teluk, seperti:

  • Arab Saudi,
  • Uni Emirat Arab,
  • Qatar,
  • Bahrain,
  • dan Kuwait,

pandangannya mengenai mekanisme pengamanan jalur pelayaran mengalami perubahan.

Trump menilai negara-negara tersebut memiliki kepentingan ekonomi yang besar terhadap keamanan Selat Hormuz dan siap meningkatkan investasi di Amerika Serikat.

Menurutnya, kerja sama ekonomi tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kebijakan Washington dalam menjaga keamanan jalur pelayaran internasional di kawasan Teluk.

Trump: Iran Menolak Kesepakatan di Saat-Saat Terakhir

Dalam kesempatan yang sama, Trump kembali menyinggung kegagalan proses diplomasi dengan Iran.

Ia mengklaim bahwa kedua pihak sebenarnya hampir mencapai sebuah kesepakatan beberapa hari sebelumnya.

Namun menurut Trump, pemerintah Iran kemudian memilih mundur dari kesepakatan tersebut pada saat-saat terakhir.

Ia menilai keputusan itu sebagai kesalahan besar yang akhirnya mendorong meningkatnya konfrontasi militer antara kedua negara.

Meski demikian, hingga kini belum terdapat konfirmasi independen yang dapat memverifikasi secara rinci klaim mengenai isi maupun status kesepakatan yang dimaksud.

Parlemen Iran Berubah Drastis, Sementara Rusia-Ukraina Memasuki Babak Baru yang Lebih Berbahaya

Di tengah meningkatnya tekanan militer dari Amerika Serikat, dinamika politik di dalam negeri Iran juga mengalami perkembangan yang mengejutkan. Hampir bersamaan dengan berlangsungnya operasi militer Washington, parlemen Iran melakukan perombakan besar terhadap salah satu komite paling berpengaruh dalam penyusunan kebijakan luar negeri dan keamanan nasional.

Pada saat yang sama, perhatian dunia juga tertuju ke medan perang Eropa Timur. Konflik Rusia–Ukraina kembali memanas setelah negara-negara Eropa memperkuat kerja sama pertahanan udara dengan Kyiv, sementara Ukraina meningkatkan intensitas serangan terhadap fasilitas energi dan jalur logistik Rusia.

Dua Tokoh Garis Keras Dicopot dari Komite Keamanan Nasional Iran

Salah satu perkembangan paling mencolok terjadi di Teheran pada 14 Juli 2026, ketika parlemen Iran melakukan restrukturisasi terhadap Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri, lembaga yang memiliki peran penting dalam merumuskan arah diplomasi dan strategi keamanan negara.

Dalam perombakan tersebut, dua tokoh yang selama ini dikenal sebagai pendukung kebijakan keras terhadap Amerika Serikat dilaporkan dicopot dari posisi mereka.

Keduanya merupakan figur yang selama bertahun-tahun dikenal vokal menolak kompromi dengan Washington serta mendorong Iran untuk mempertahankan sikap konfrontatif terhadap Amerika Serikat.

Pencopotan dua tokoh berpengaruh secara bersamaan dipandang sebagai langkah yang tidak lazim dalam dinamika politik Iran, sehingga memicu berbagai spekulasi mengenai kemungkinan perubahan strategi pemerintah menghadapi tekanan internasional.

Muncul Spekulasi Perubahan Arah Politik Teheran

Perombakan di parlemen Iran segera memunculkan berbagai analisis di kalangan pengamat politik.

Sebagian menilai perubahan tersebut dapat menjadi sinyal bahwa sebagian elite politik Iran mulai membuka ruang bagi pendekatan yang lebih pragmatis dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat.

Namun, sebagian analis lainnya justru berpendapat bahwa perubahan personalia belum tentu mencerminkan perubahan kebijakan negara secara keseluruhan, mengingat keputusan strategis Iran tetap berada di bawah kewenangan pemimpin tertinggi serta Dewan Keamanan Nasional.

Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran yang menjelaskan secara rinci alasan di balik restrukturisasi tersebut.

Karena itu, berbagai interpretasi mengenai arah kebijakan Teheran masih bersifat spekulatif dan belum dapat dipastikan. (***)

Detik-Detik Konflik Memanas! Trump Bidik Kompleks Nuklir Bawah Tanah Iran, Perang Makin Tak Terkendali

EtIndonesia.com Situasi keamanan di Timur Tengah kembali mengalami eskalasi tajam setelah Amerika Serikat melancarkan gelombang baru operasi militer terhadap Iran. Dalam waktu hampir bersamaan, Washington kembali memberlakukan blokade terhadap Selat Hormuz—jalur pelayaran energi paling strategis di dunia—sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan serangkaian pernyataan keras yang menandakan operasi militer terhadap Iran masih akan terus berlanjut.

Rangkaian peristiwa yang berlangsung pada 13–14 Juli 2026 tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara Washington dan Teheran kini memasuki fase yang jauh lebih berbahaya dibandingkan beberapa pekan sebelumnya. 

Selain meningkatnya intensitas serangan udara, kedua negara juga semakin memperkeras sikap politik mereka, sehingga peluang tercapainya penyelesaian melalui jalur diplomasi dinilai semakin kecil.

Amerika Serikat Melancarkan Serangan Udara Selama Lima Jam

Menurut laporan yang beredar, pada larut malam Minggu, 13 Juli 2026, militer Amerika Serikat melaksanakan operasi udara besar-besaran terhadap sejumlah sasaran militer Iran.

Operasi yang berlangsung sekitar lima jam tersebut difokuskan pada berbagai fasilitas strategis milik Iran, terutama:

  • sistem pertahanan pantai,
  • pangkalan rudal,
  • fasilitas penyimpanan drone,
  • serta instalasi militer yang tersebar di sejumlah wilayah pesisir Iran.

Serangan ini menjadi salah satu operasi udara terbesar yang dilakukan Washington dalam beberapa hari terakhir dan menunjukkan bahwa strategi militer Amerika kini tidak lagi hanya menargetkan fasilitas tertentu, tetapi mulai berupaya melumpuhkan jaringan pertahanan Iran secara menyeluruh.

Enam Wilayah Strategis Iran Menjadi Sasaran

Informasi yang beredar menyebutkan bahwa amunisi berpemandu presisi digunakan untuk menghantam sedikitnya enam lokasi militer penting di Iran.

Lokasi-lokasi yang disebut menjadi sasaran antara lain:

  • Bushehr,
  • Chabahar,
  • Konarak,
  • Jask,
  • Bandar Abbas,
  • serta beberapa fasilitas militer lainnya di kawasan pesisir selatan Iran.

Selain itu, sejumlah sumber yang beredar di platform X mengklaim bahwa markas pangkalan Angkatan Laut Garda Revolusi Islam Iran (IRGC Navy) di wilayah Bandar Lengeh juga turut dihantam.

Walaupun klaim tersebut belum mendapat konfirmasi resmi dari pemerintah Iran maupun Pentagon, laporan itu menyebutkan bahwa sejumlah fasilitas komando serta infrastruktur militer mengalami kerusakan cukup berat akibat serangan tersebut.

Puluhan Personel Garda Revolusi Dilaporkan Tewas

Beberapa sumber intelijen yang dikutip dalam laporan juga mengklaim bahwa sedikitnya 20 personel elite Angkatan Laut Garda Revolusi Iran tewas dalam operasi udara Amerika Serikat.

Selain korban jiwa, sejumlah:

  • peluncur rudal,
  • gudang persenjataan,
  • dan sarang drone dilaporkan hancur total.

Apabila angka tersebut benar, maka operasi ini akan menjadi salah satu pukulan paling berat terhadap kemampuan tempur Garda Revolusi Iran di kawasan pesisir Teluk Persia dalam beberapa bulan terakhir.

Namun hingga kini, pemerintah Iran belum mengeluarkan data resmi mengenai jumlah korban maupun tingkat kerusakan fasilitas militernya.

Operasi Militer AS Meluas Hingga Dekat Perbatasan Pakistan

Tidak hanya menyerang wilayah sekitar Teluk Persia, operasi militer Amerika juga disebut telah diperluas hingga kawasan pesisir Laut Oman.

Beberapa target bahkan berada di wilayah tenggara Iran yang berbatasan langsung dengan Pakistan.

Perluasan wilayah operasi ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak lagi membatasi serangan hanya pada kawasan sekitar Selat Hormuz, tetapi mulai menargetkan jaringan pertahanan Iran yang lebih luas.

Langkah tersebut dipandang sejumlah pengamat sebagai indikasi bahwa Washington tengah berupaya mengurangi kemampuan Iran untuk memindahkan maupun melindungi aset-aset militernya di sepanjang garis pantai selatan negara itu.

Ketegangan Meluas ke Perairan Oman

Di tengah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, situasi keamanan di perairan sekitar Oman juga memburuk.

Pusat Keamanan Maritim Oman melaporkan bahwa tiga kapal diserang di sejumlah lokasi perairan dekat Oman.

Akibat insiden tersebut:

  • tiga awak kapal dilaporkan hilang,
  • enam lainnya mengalami luka-luka,
  • sementara sumber dari Uni Emirat Arab menyebut dua kapal merupakan milik UEA dan seorang awak berkewarganegaraan India dipastikan meninggal dunia.

Belum ada kepastian mengenai pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal-kapal tersebut. Namun, insiden ini semakin memperlihatkan tingginya risiko keamanan bagi jalur pelayaran internasional di kawasan Teluk Persia dan Laut Oman.

Trump: Ruang Negosiasi Hampir Habis

Di tengah meningkatnya operasi militer, Presiden Donald Trump mengisyaratkan bahwa peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi semakin menipis.

Menurut laporan tersebut, Trump menyatakan bahwa pemerintahannya siap melanjutkan operasi militer terhadap Iran dan tidak akan menghentikan tekanan sampai tujuan strategis Amerika tercapai.

Pernyataan tersebut semakin memperkuat kesan bahwa Washington kini lebih mengutamakan pendekatan militer dibandingkan upaya negosiasi dengan Teheran.

Trump Ungkap Target Baru: “Gunung Belakang” Iran

Dalam pernyataan terbarunya, Trump mengungkapkan bahwa sasaran berikutnya adalah sebuah kawasan yang ia sebut sebagai “gunung belakang” Iran.

Lokasi tersebut diyakini berada di sekitar kompleks strategis dekat fasilitas pengayaan nuklir Iran yang dibangun jauh di bawah pegunungan.

Menurut berbagai laporan, kawasan itu memiliki dua jaringan terowongan bawah tanah yang tertanam ratusan meter di bawah lapisan granit.

Fasilitas tersebut dipercaya digunakan sebagai lokasi penyimpanan berbagai infrastruktur strategis dan selama ini dianggap sebagai salah satu kompleks bawah tanah paling terlindungi yang dimiliki Iran.

Bahkan sejumlah analis militer menilai fasilitas tersebut sangat sulit dihancurkan, termasuk dengan menggunakan bom penghancur bunker paling canggih sekalipun.

Trump menyatakan bahwa militer Amerika akan kembali melakukan serangan pada Senin malam dan Selasa, serta memperingatkan Iran agar bersiap menghadapi operasi lanjutan tersebut.

Iran Membalas dengan Serangan ke Bahrain dan Kuwait

Sementara itu, Iran dilaporkan tetap melanjutkan operasi militernya terhadap sejumlah negara di kawasan Teluk.

Pada 14 Juli 2026, Iran disebut meluncurkan rudal ke arah Bahrain dan menyerang sasaran militer di Kuwait.

Laporan tersebut juga menyebut bahwa sebuah kapal perang Kuwait menjadi sasaran serangan, mengakibatkan beberapa pelaut terluka. Bahkan terdapat klaim bahwa kapal tersebut akhirnya tenggelam.

Namun hingga berita ini disusun, belum terdapat konfirmasi independen dari pemerintah Kuwait maupun sumber resmi internasional mengenai klaim tersebut.

Terlepas dari benar atau tidaknya laporan itu, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa konflik tidak lagi terbatas pada hubungan langsung antara Amerika Serikat dan Iran, tetapi mulai menyeret lebih banyak negara di kawasan Teluk ke dalam pusaran krisis.

Parlemen Iran Desak Penghentian Total Negosiasi

Di bidang politik domestik, tekanan terhadap pemerintah Iran juga semakin meningkat.

Sekitar 180 anggota parlemen Iran dilaporkan menyerukan penghentian seluruh perundingan dengan Amerika Serikat.

Mereka mendesak pemerintah untuk:

  • menghentikan seluruh proses negosiasi,
  • meningkatkan operasi balasan terhadap Amerika Serikat,
  • serta mengesahkan aturan permanen yang memperkuat kendali Iran atas Selat Hormuz.

Seruan tersebut mencerminkan semakin menguatnya suara kelompok garis keras di Iran yang menilai bahwa jalur diplomasi sudah tidak lagi memberikan manfaat bagi negara itu. (***)

Iran Kena Hujan Bom Malam Ketiga! Trump Buka Jalan Perang Besar Selama 60 Hari

EtIndonesia.com – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi mengaktifkan kembali operasi militer terhadap Iran. Keputusan tersebut menandai berakhirnya masa gencatan senjata sementara yang sebelumnya berlangsung selama dua bulan dan membuka babak baru konfrontasi antara Washington dan Teheran.

Dalam waktu bersamaan, konflik juga meluas ke berbagai kawasan lain di Timur Tengah. Arab Saudi kembali terlibat bentrokan dengan kelompok Houthi di Yaman, Iran melancarkan serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania, sementara militer Amerika terus menggempur berbagai instalasi strategis Iran selama tiga malam berturut-turut.


Trump Resmi Beritahu Kongres, Operasi Militer terhadap Iran Kembali Dimulai

Menurut laporan Reuters, pada 7 Juli 2026, Presiden Donald Trump secara resmi mengirimkan pemberitahuan kepada Kongres Amerika Serikat mengenai dimulainya kembali operasi militer terhadap Iran.

Pemberitahuan tersebut memiliki arti hukum yang sangat penting karena membuka periode kewenangan selama 60 hari, yang memungkinkan Presiden Amerika Serikat mengambil tindakan militer terhadap Iran tanpa harus terlebih dahulu memperoleh persetujuan baru dari Kongres.

Keputusan ini sekaligus mengakhiri secara resmi kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua bulan yang sebelumnya dicapai kedua negara sejak April 2026.

Pemerintahan Trump menilai bahwa upaya diplomasi yang telah berlangsung sebelumnya tidak lagi mampu menjamin stabilitas kawasan, sehingga opsi militer kembali dijadikan pilihan utama.


Trump: Pemerintah Iran Adalah “Sekelompok Orang Gila”

Dalam berbagai kesempatan, Donald Trump kembali melontarkan kritik keras terhadap pemerintah Iran.

Ia menyebut para pemimpin Iran sebagai “sekelompok orang gila”, seraya menegaskan bahwa menurut pandangannya, pemerintah Iran tidak pernah benar-benar menghormati sebuah perjanjian internasional.

Trump menyatakan bahwa bagi rezim Iran, sebuah kesepakatan hanyalah dokumen yang sewaktu-waktu dapat dilanggar apabila dianggap menguntungkan kepentingan mereka.

Presiden Amerika Serikat itu juga kembali mengulang kekhawatiran lamanya mengenai program nuklir Iran.

Menurut Trump, apabila Iran suatu hari berhasil memiliki senjata nuklir, pemerintah Iran diyakini tidak akan ragu menggunakannya dalam waktu yang sangat singkat.

Bahkan ia mengatakan bahwa kemungkinan penggunaan senjata nuklir oleh Iran dapat terjadi hanya dalam satu hari setelah senjata tersebut berhasil dimiliki.

Pernyataan tersebut kembali memperlihatkan bahwa isu nuklir tetap menjadi alasan utama Washington mempertahankan tekanan militer terhadap Teheran.


Trump Disebut Menyetujui Operasi Saudi terhadap Houthi

Sementara itu, Axios melaporkan bahwa Donald Trump secara pribadi memberikan persetujuan terhadap operasi militer terbaru Arab Saudi yang menargetkan kelompok Houthi di Yaman.

Tidak lama setelah persetujuan tersebut diberikan, Angkatan Udara Arab Saudi melancarkan serangan udara ke Bandara Internasional Sana’a, yang saat ini berada di bawah kendali Houthi.

Serangan tersebut terjadi ketika seorang pejabat atau perwakilan senior Houthi baru saja kembali dari kunjungannya ke Teheran untuk bertemu Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Laporan menyebutkan bahwa tokoh Houthi tersebut terpaksa kembali melarikan diri setelah serangan udara menghantam kawasan bandara.


Houthi Balas Serangan ke Bandara Abha

Kelompok Houthi tidak membutuhkan waktu lama untuk memberikan respons.

Beberapa saat setelah serangan Arab Saudi berlangsung, Houthi meluncurkan rudal balistik serta pesawat nirawak (drone) menuju Bandara Abha di wilayah selatan Arab Saudi.

Pemerintah Arab Saudi menyatakan bahwa seluruh rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara mereka sebelum mencapai sasaran.

Insiden saling serang tersebut dianggap sebagai perkembangan yang sangat penting karena menunjukkan bahwa gencatan senjata antara Arab Saudi dan Houthi yang telah bertahan sekitar empat tahun praktis telah berakhir.

Kembalinya konflik terbuka di Yaman dikhawatirkan akan memperluas eskalasi perang di kawasan Timur Tengah.


Iran Serang Pangkalan Amerika di Yordania

Di tengah meningkatnya ketegangan regional, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Selasa, 14 Juli 2026, mengumumkan bahwa mereka telah meluncurkan rudal balistik ke sebuah pangkalan Angkatan Udara Amerika Serikat di wilayah Yordania.

Namun yang menarik perhatian bukan hanya serangan tersebut, melainkan juga isi pernyataan resmi yang dikeluarkan pemerintah Iran setelahnya.

Dalam pernyataannya, Teheran menegaskan bahwa mereka tidak memiliki permusuhan terhadap rakyat Yordania.

Iran menyatakan bahwa sasaran mereka hanyalah keberadaan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Pemerintah Iran bahkan menyerukan kepada masyarakat Yordania agar mendesak pemerintah mereka untuk menghapus seluruh pangkalan militer Amerika Serikat dari wilayah negaranya.

Pernyataan tersebut dipandang sebagai upaya Iran untuk memisahkan hubungan antara pemerintah Yordania dengan masyarakatnya, sekaligus mengurangi potensi sentimen negatif dari negara-negara Arab.


Pengamat Kuwait: Iran Masuk Perangkap Trump

Pengamat politik terkemuka asal Kuwait, Al-Nami, menilai bahwa Iran kini berada dalam posisi yang sangat sulit.

Menurutnya, strategi yang dijalankan Donald Trump berhasil menempatkan Iran dalam posisi defensif di mata masyarakat internasional.

Al-Nami mengatakan bahwa tindakan Iran menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tekanan politik telah membuat banyak negara menganggap Teheran sebagai ancaman terhadap stabilitas ekonomi dunia.

Karena itu, apabila Amerika Serikat meningkatkan operasi militernya terhadap Iran dengan skala yang jauh lebih besar, menurut Al-Nami, kemungkinan besar dunia internasional tidak akan memberikan penolakan yang berarti.

Ia bahkan berpendapat bahwa sejumlah negara lain justru berpotensi bergabung mendukung langkah Amerika Serikat apabila mereka menilai rezim Iran benar-benar menjadi ancaman bagi keamanan kawasan dan jalur perdagangan global.


CENTCOM Umumkan Serangan Besar ke Enam Kota Militer Iran

Pada 14 Juli 2026, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa pada malam sebelumnya, 13 Juli, militer Amerika kembali melaksanakan operasi udara berskala besar terhadap Iran.

Operasi tersebut berlangsung sekitar lima jam dan menyasar enam kawasan militer strategis di pesisir selatan Iran, yaitu:

  • Bushehr
  • Chabahar
  • Jask
  • Konarak
  • Pulau Abu Musa
  • Bandar Abbas

Menurut CENTCOM, sasaran utama operasi kali ini meliputi:

  • sistem pertahanan pantai Iran,
  • pangkalan rudal,
  • fasilitas penyimpanan rudal,
  • pusat operasi drone,
  • serta berbagai infrastruktur militer yang digunakan Iran untuk mengendalikan wilayah sekitar Selat Hormuz.

Serangan ini merupakan malam ketiga secara berturut-turut Amerika Serikat melaksanakan operasi pengeboman terhadap sasaran militer Iran.


50.000 Tentara Amerika Disiagakan di Timur Tengah

CENTCOM juga mengungkapkan bahwa sekitar 50.000 personel militer Amerika Serikat yang ditempatkan di berbagai negara di Timur Tengah kini berada dalam status siaga penuh.

Pasukan tersebut dikatakan siap diterjunkan kapan saja apabila situasi berkembang menjadi konflik yang lebih luas.

Peningkatan status kesiagaan tersebut menunjukkan bahwa Washington tengah mempersiapkan berbagai kemungkinan, termasuk apabila Iran melakukan serangan balasan dalam skala yang lebih besar.


Markas Strategis Garda Revolusi Iran Dihancurkan

Dalam gelombang serangan sebelumnya, Angkatan Laut Amerika Serikat juga melaksanakan operasi besar terhadap markas komando Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC Navy) di kawasan Bandar Lengeh.

Pangkalan tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu fasilitas paling strategis Iran dalam mengawasi dan mengendalikan jalur pelayaran di bagian selatan Selat Hormuz.

Menurut sejumlah media oposisi Iran, operasi tersebut berhasil menimbulkan kerusakan yang sangat besar.

Sedikitnya 20 personel elite Angkatan Laut Garda Revolusi Iran dilaporkan tewas di lokasi.

Selain korban jiwa, sejumlah peluncur rudal juga dilaporkan berhasil dihancurkan.

Tidak hanya itu, pangkalan drone kamikaze milik Iran di kawasan tersebut disebut mengalami kerusakan sangat parah hingga berubah menjadi puing-puing.


Amerika Gunakan Kapal Nirawak Bunuh Diri untuk Pertama Kalinya

Pada 13 Juli 2026, CENTCOM juga mengumumkan bahwa sehari sebelumnya, yakni 12 Juli, militer Amerika Serikat untuk pertama kalinya menggunakan kapal nirawak bunuh diri (kamikaze unmanned surface vessel/USV) dalam operasi tempur melawan Iran.

Amerika Serikat bahkan merilis rekaman video dari berbagai sudut yang memperlihatkan jalannya operasi tersebut.

Berdasarkan rekaman yang dipublikasikan, hanya dengan menggunakan tiga kapal nirawak, militer Amerika berhasil menghancurkan sebuah fasilitas pemeliharaan kapal perang dan kapal selam Iran di Bandar Abbas.

Operasi tersebut dinilai menjadi tonggak baru dalam penggunaan teknologi peperangan nirawak di kawasan Timur Tengah.


Amerika Balik Menggunakan Taktik Peperangan Asimetris Iran

Selama bertahun-tahun, Iran dikenal sebagai salah satu negara yang mengembangkan konsep peperangan asimetris, yakni menggunakan persenjataan berbiaya rendah seperti drone, rudal, maupun kapal nirawak untuk menghadapi kekuatan militer yang lebih besar.

Namun perkembangan terbaru menunjukkan adanya perubahan signifikan.

Amerika Serikat kini mulai mengadopsi konsep yang serupa dengan memanfaatkan sistem persenjataan nirawak berbiaya relatif rendah tetapi memiliki daya hancur tinggi.

Penggunaan kapal nirawak kamikaze dalam operasi di Bandar Abbas memperlihatkan bahwa Washington tidak lagi hanya mengandalkan kapal perang atau rudal berteknologi tinggi, tetapi juga mulai menerapkan metode yang selama ini identik dengan strategi militer Iran.

Langkah tersebut dinilai dapat mengubah pola peperangan di kawasan Teluk Persia sekaligus menjadi tantangan baru bagi kemampuan pertahanan Iran dalam menghadapi konflik yang semakin berkembang. (***)

Timur Tengah Meledak! AS Kepung Iran dengan Armada Perang, Rudal Berjatuhan Hingga Kapal Terbakar

EtIndonesia.com Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah Amerika Serikat melancarkan gelombang operasi militer terbaru terhadap Iran. Serangan tersebut berlangsung di tengah semakin memburuknya situasi keamanan di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.

Komando Pusat Amerika Serikat (U.S. Central Command/CENTCOM) mengumumkan bahwa pada Rabu, 15 Juli 2026, sekitar pukul 15.00 Waktu Pantai Timur Amerika Serikat (Eastern Daylight Time/EDT), militer Amerika Serikat kembali melaksanakan serangkaian serangan terhadap sejumlah sasaran militer di wilayah Iran.

Menurut CENTCOM, operasi tersebut difokuskan untuk melemahkan kemampuan militer Iran dalam mengancam dan menyerang kapal-kapal dagang internasional yang melintasi Selat Hormuz, yang selama beberapa pekan terakhir menjadi pusat ketegangan antara kedua negara.

Gelombang Serangan Menghantam Sejumlah Wilayah Strategis Iran

Media-media Iran melaporkan bahwa tidak lama setelah operasi militer Amerika dimulai, suara ledakan kembali terdengar di berbagai wilayah strategis di selatan Iran.

Beberapa lokasi yang dilaporkan mengalami serangan antara lain:

  • Pulau Qeshm yang berada di mulut Selat Hormuz;
  • kawasan pelabuhan Bandar Abbas yang merupakan pangkalan utama Angkatan Laut Iran;
  • wilayah sekitar Sirik di pesisir selatan Iran; serta
  • Kota Ahvaz, ibu kota Provinsi Khuzestan di Iran barat daya.

Hingga laporan tersebut dipublikasikan, pemerintah Iran belum memberikan rincian resmi mengenai tingkat kerusakan maupun jumlah korban akibat serangan terbaru tersebut.

Seorang pejabat senior Amerika Serikat, yang berbicara dengan syarat anonim, menyatakan bahwa operasi militer kali ini dilakukan sebagai respons terhadap munculnya ancaman-ancaman baru yang dinilai berpotensi mengganggu keamanan jalur pelayaran internasional maupun pasukan Amerika Serikat di kawasan.

Menurut pejabat tersebut, sasaran yang diserang merupakan fasilitas dan aset militer yang dianggap memiliki peran dalam mendukung operasi ofensif Iran.

Amerika Serikat Mulai Melaksanakan Blokade Maritim terhadap Iran

Tidak lama setelah gelombang serangan udara dimulai, Amerika Serikat meningkatkan tekanan dengan memulai operasi blokade maritim terhadap Iran.

CENTCOM mengonfirmasi bahwa pada pukul 16.00 EDT, Rabu, 15 Juli 2026, operasi pemblokiran terhadap pelabuhan-pelabuhan dan kawasan pesisir Iran resmi diberlakukan.

Langkah tersebut bertujuan membatasi kemampuan Iran dalam mengoperasikan kekuatan lautnya sekaligus menghambat aktivitas logistik yang dinilai berkaitan dengan operasi militer Teheran.

Blokade ini menjadi salah satu langkah paling signifikan dalam eskalasi terbaru antara kedua negara karena berpotensi memengaruhi lalu lintas pelayaran di kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Lebih dari 20 Kapal Perang dan Ratusan Pesawat Tempur Disiagakan

Dalam pernyataannya, CENTCOM juga mengungkapkan bahwa Amerika Serikat telah mengerahkan kekuatan militer dalam jumlah besar ke kawasan Timur Tengah.

Menurut komando militer tersebut, saat ini terdapat:

  • lebih dari 20 kapal perang Angkatan Laut Amerika Serikat;
  • ratusan pesawat tempur dan pesawat pendukung operasi;
  • serta berbagai unsur militer lainnya

yang ditempatkan di sejumlah titik strategis di kawasan.

CENTCOM menegaskan bahwa seluruh pasukan berada dalam status kesiagaan tinggi, memiliki kemampuan serangan penuh, dan siap melaksanakan operasi lanjutan kapan pun apabila menerima perintah dari pemerintah Amerika Serikat.

Peningkatan kesiagaan tersebut mencerminkan besarnya kekhawatiran Washington terhadap kemungkinan meluasnya konflik menjadi konfrontasi berskala regional.

Kuwait Berhasil Mencegat Puluhan Serangan Iran

Di tengah meningkatnya eskalasi konflik, militer Kuwait mengumumkan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil menggagalkan serangkaian serangan yang terjadi sejak malam sebelumnya.

Berdasarkan keterangan resmi, pasukan Kuwait berhasil mencegat:

  • 1 rudal balistik;
  • 5 rudal jelajah (cruise missile); dan
  • 33 pesawat nirawak (drone).

Meski sebagian besar proyektil berhasil dihancurkan sebelum mencapai sasaran, beberapa serpihan rudal dilaporkan tetap jatuh di sejumlah lokasi.

Serangan tersebut mengakibatkan kerusakan pada beberapa fasilitas penting maupun infrastruktur sipil.

Salah satu insiden juga menimpa sebuah kapal Angkatan Laut Kuwait yang dilaporkan terkena serangan, mengakibatkan empat personel militer mengalami luka-luka.

Pihak berwenang Kuwait belum mengungkapkan tingkat kerusakan kapal maupun kondisi terbaru para korban.

Iran Untuk Pertama Kalinya Menyerang Militer Resmi Negara Arab

Pemerintah Iran menyatakan bahwa seluruh operasi militernya hanya ditujukan kepada pangkalan maupun personel militer Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah.

Namun demikian, sejumlah analis menilai perkembangan terbaru ini merupakan eskalasi yang sangat signifikan, karena untuk pertama kalinya Iran dilaporkan secara langsung menyerang aset militer resmi milik sebuah negara Arab.

Peristiwa tersebut dikhawatirkan dapat memperluas konflik dan meningkatkan risiko keterlibatan lebih banyak negara di kawasan Teluk Persia.

Sejumlah pengamat keamanan internasional menilai bahwa apabila pola serangan semacam ini terus berlanjut, maka stabilitas kawasan Timur Tengah dapat menghadapi tekanan yang jauh lebih besar dibandingkan fase-fase konflik sebelumnya.

Kapal Kimia Norwegia Terbakar di Laut Arab

Pada hari yang sama, ketegangan di kawasan juga berdampak terhadap pelayaran internasional.

Sebuah kapal pengangkut bahan kimia milik perusahaan pelayaran Norwegia, Stolt Merit, dilaporkan mengalami ledakan ketika sedang berlayar di Laut Arab, tidak jauh dari pesisir Oman.

Menurut laporan awal, kapal tersebut dihantam oleh benda asing yang hingga kini belum dapat diidentifikasi.

Benturan tersebut memicu kebakaran di ruang mesin kapal sehingga awak kapal segera mengaktifkan prosedur darurat.

Beruntung, seluruh awak kapal berhasil dievakuasi dengan selamat dan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Hingga saat ini, penyebab pasti ledakan masih dalam penyelidikan, sementara belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Ketegangan Regional Terus Meningkat

Rangkaian perkembangan pada 15 Juli 2026 menunjukkan bahwa situasi keamanan di Timur Tengah terus mengalami eskalasi. Dimulainya gelombang serangan baru Amerika Serikat terhadap Iran, penerapan blokade maritim, meningkatnya aktivitas pertahanan udara di Kuwait, hingga insiden terhadap kapal dagang internasional di Laut Arab memperlihatkan bahwa konflik tidak lagi hanya melibatkan kedua negara, tetapi mulai memengaruhi stabilitas kawasan secara lebih luas.

Para pengamat memperingatkan bahwa apabila tidak ada upaya diplomatik yang mampu meredakan ketegangan, konflik berpotensi meluas ke jalur-jalur pelayaran internasional dan menyeret lebih banyak negara di Timur Tengah ke dalam konfrontasi yang lebih besar. (***)

Spanyol Kalahkan Prancis 2–0 dan Melaju ke Final Piala Dunia FIFA 2026

Spanyol akan menghadapi pemenang laga Inggris versus Argentina di final pada 19 Juli, sementara Prancis akan bermain dalam perebutan tempat ketiga pada 18 Juli.

EtIndonesia.com Sepasang gol, ditambah pertahanan yang kokoh dan penampilan gemilang kiper Spanyol, menjadi terlalu berat bagi Prancis untuk diatasi, sekaligus mengakhiri upaya Les Bleus mencapai final Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.

Pada menit ke-58, Pedro Porro menyelesaikan kombinasi umpan satu-dua setelah rekan setimnya, Dani Olmo, menyentuh bola satu kali ke arahnya saat terjatuh ke tanah. Porro berdiri bebas di area depan gawang dan melepaskan tendangan keras kaki kanan ke sudut kanan bawah gawang yang tak mampu dihentikan kiper Prancis, Mike Maignan.

Spanyol lebih dahulu unggul melalui Mikel Oyarzabal lewat tendangan penalti pada menit ke-21. Ia mengarahkan bola dengan kaki kiri ke sudut kanan bawah gawang.

Spanyol, yang hanya kebobolan satu gol dalam enam pertandingan sepanjang turnamen ini, berhasil meredam bintang Prancis Kylian Mbappé. Penyerang sayap kiri itu menerima umpan panjang dari Ousmane Dembélé dan bergerak menuju tengah kotak penalti, tetapi tiga pemain bertahan Spanyol mampu menutup ruang sebelum ia sempat melepaskan tembakan.

Hingga jeda minum babak pertama, kedua tim relatif seimbang dalam penguasaan bola dan peluang menyerang. Namun, Prancis merugikan diri sendiri dengan tiga pelanggaran, satu kartu kuning, dan penalti yang berujung gol.

Sebelum Oyarzabal mengeksekusi penalti, bek Prancis Lucas Digne melakukan tekel ceroboh terhadap Lamine Yamal. Saat berusaha menyapu bola yang memantul, Digne justru menendang lawannya.

Masalah Prancis bertambah ketika bek William Saliba harus ditarik keluar pada babak pertama karena cedera. Gelandang Adrien Rabiot juga diganti sebelum babak kedua dimulai setelah menerima kartu kuning.

Ini menjadi pertama kalinya sepanjang turnamen Prancis tertinggal dari lawannya. Gol penalti Oyarzabal juga merupakan gol pertama yang bersarang ke gawang Les Bleus pada fase gugur.

Prancis sebenarnya memiliki beberapa peluang. Pada menit ke-67, Mbappé melepaskan tendangan keras mendatar yang hanya melenceng tipis dari sasaran. Tim asuhan Didier Deschamps sempat mendominasi penguasaan bola di sekitar kotak penalti Spanyol pada awal babak kedua, tetapi jarang mendapatkan peluang tembak yang benar-benar bersih.

Pada menit ke-82, kiper Spanyol Unai Simón berada cukup jauh dari gawangnya setelah terjadi kehilangan bola. Melihat celah tersebut, pemain pengganti Prancis Désiré Doué langsung melepaskan tembakan. Namun, Simón memilih mengambil posisi yang tepat untuk menghadang bola dan berhasil melakukan penyelamatan.

Beberapa detik kemudian, pemain pengganti Prancis Théo Hernandez menggiring bola hingga masuk jauh ke area penalti dan berhadapan satu lawan satu dengan Simón. Namun, sang kiper melompat ke depan dan menangkap bola sebelum Hernandez sempat menembak atau mengoper.

Pada menit ke-88, tendangan bebas Mbappé dari sisi kiri luar kotak penalti melambung tinggi dan melebar dari sasaran.

Dembélé memperoleh dua peluang pada masa tambahan waktu, tetapi Simón kembali tampil gemilang dengan menggagalkan keduanya.

Meski Prancis telah dua kali menjuarai Piala Dunia (1998 dan 2018), dibandingkan satu gelar milik Spanyol (2010), tidak ada tim yang lebih sering mengalahkan Prancis dalam kompetisi internasional selama 20 tahun terakhir, termasuk Kejuaraan Eropa, selain Spanyol.

Lamine Yamal, yang baru berusia 19 tahun, masih belum mencetak gol pertamanya di Piala Dunia. Ia memiliki beberapa peluang emas di depan gawang, tetapi digagalkan oleh tekanan lawan, pelanggaran, atau posisi offside.

Bek Spanyol Pedro Porro menyebut kemenangan timnya di semifinal sebagai “mimpi yang menjadi kenyataan.”

“Saya pikir kami memainkan pertandingan yang luar biasa. Kami memberikan segalanya demi mencapai final. Kami tahu bahwa kami adalah tim yang sangat kuat dan sedang melakukan banyak hal dengan sangat baik. Inilah tim kami,” katanya kepada Fox Sports setelah pertandingan.

Porro mencetak gol kedua yang memastikan kemenangan Spanyol 2–0.

Pelatih Prancis Didier Deschamps mengatakan timnya melakukan terlalu banyak kesalahan teknis dan tidak tampil dalam kondisi fisik terbaik.

“Tim Spanyol menjalankan rencana permainan mereka dengan sangat baik,” katanya kepada reporter FIFA setelah pertandingan.

Pemain pengganti Prancis Rayan Cherki mengatakan bahwa timnya seharusnya bisa tampil lebih baik.

“Kami seharusnya bermain lebih baik, tetapi kami tidak melakukannya hari ini,” ujarnya kepada reporter FIFA.

Oyarzabal, pencetak gol pertama Spanyol, mengaku sulit menggambarkan kebahagiaannya setelah membawa timnya lolos ke final.

“Ketika masih kecil, Anda bahkan tidak berani memimpikan hal-hal seperti ini,” katanya kepada reporter FIFA setelah pertandingan.

Pelatih Spanyol Luis de la Fuente memuji sikap, kerja keras, bakat, dan pengorbanan para pemainnya.

“Saya selalu terkejut dengan apa yang mampu dilakukan tim ini,” katanya dalam konferensi pers usai pertandingan.

“Semuanya telah direncanakan agar kami mencapai momen penting ini dalam kondisi terbaik yang memungkinkan.”

Artikel ini sebelumnya terbit dalam bahasa Inggris di Theepochtimes.com

Mencekam di Yellowstone! Seekor Bison Mengamuk, Melempar Seorang Lansia ke Udara Hingga Terluka Parah

EtIndonesia.com Sebuah insiden mengerikan terjadi di Taman Nasional Yellowstone, Amerika Serikat, pada Jumat lalu (10 Juli). Seorang pria lanjut usia yang sedang berwisata bersama cucunya diserang seekor bison liar. Pria tersebut tidak sempat menghindar, lalu ditanduk hingga terlempar ke udara sebelum jatuh dengan keras ke tanah. Setelah dilarikan ke rumah sakit, kondisinya dilaporkan masih kritis.

Menurut sejumlah laporan media, insiden itu terjadi di dekat Bridger Bay Campground (sesuai laporan sumber) di kawasan Taman Nasional Yellowstone.

Rekaman yang diambil oleh saksi mata memperlihatkan bahwa pada awalnya bison tersebut berguling-guling di tanah. Seorang kakek bersama cucunya yang sedang melintas kemudian berhenti untuk mengambil foto.

Tak lama kemudian, bison itu tiba-tiba mengamuk dan berlari menyeberangi jalan menuju mereka.

Melihat situasi tersebut, sang kakek dan cucunya segera berlindung di balik pepohonan. Namun, bison itu terus mengejar mereka, bahkan berputar mengelilingi pohon untuk mengejar sang kakek.

Pada akhirnya, pria lanjut usia itu tidak berhasil menghindar. Bison tersebut mengaitkan bagian pinggulnya dengan tanduk kiri, lalu melemparkannya hingga sekitar 2,4 meter ke udara.

Setelah tubuhnya berputar di udara, korban jatuh dengan keras ke tanah. Orang-orang di sekitar lokasi kemudian berteriak keras untuk mengalihkan perhatian bison sehingga hewan itu tidak melanjutkan serangannya.

Korban segera dilarikan ke rumah sakit. Menurut pihak keluarga, ia mengalami luka yang sangat serius dan hingga saat ini masih berada dalam kondisi kritis.

Pihak Taman Nasional Yellowstone mengingatkan para pengunjung agar selalu menjaga jarak setidaknya 20 meter dari satwa liar berukuran besar seperti bison dan rusa besar (elk), serta selalu memperhatikan perilaku hewan-hewan tersebut.

Insiden ini merupakan serangan bison terhadap pengunjung yang kedua yang terjadi di Taman Nasional Yellowstone pada tahun ini.

Laporan oleh Liu Jiajia, NTD Television, Amerika Serikat.

Trump Perintahkan Blokade Pelayaran Iran dan Pengambilalihan Pengamanan Selat Hormuz, Akan Kenakan Biaya Transit

Etindonesia.com  Pada Senin (13 Juli), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa militer AS akan mengambil alih pengamanan Selat Hormuz untuk memastikan jalur pelayaran tetap terbuka. Ia juga mengatakan bahwa Amerika Serikat akan mengenakan biaya perlindungan pelayaran (transit fee) kepada kapal-kapal yang melintasi selat hormuz.

Beberapa saat kemudian, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa, sesuai instruksi Presiden Trump, militer AS akan melanjutkan blokade maritim secara menyeluruh terhadap Iran mulai Selasa (14 Juli) pukul 16.00.

Trump juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan melancarkan serangan keras terhadap Iran pada malam itu dan malam berikutnya.

Untuk melemahkan kemampuan Teheran menyerang kapal-kapal dagang, militer AS pada malam 12 Juli melancarkan serangan baru terhadap puluhan sasaran di Iran, termasuk sistem pertahanan udara, pangkalan peluncuran rudal, dan fasilitas drone.

CENTCOM menyatakan bahwa selain mengerahkan pesawat tempur konvensional, kapal perang, dan drone tempur, militer AS juga untuk pertama kalinya menggunakan kapal nirawak (unmanned surface vessels/USV) dalam operasi tempur nyata.

Disebutkan bahwa tiga kapal nirawak tipe “Corsair” menyerang pangkalan angkatan laut Iran di Bandar Abbas, menghancurkan fasilitas pemeliharaan kapal selam dan kapal perang.

“Mereka (Iran) selalu melanggar kesepakatan. Kami sudah membuat sekitar sepuluh perjanjian dengan mereka. Jadi kami akan menghajar mereka dengan keras,” kata Trump. 

Trump juga menyatakan bahwa selain memberikan pelajaran kepada Iran, Amerika Serikat akan mengambil alih pengamanan Selat Hormuz.

“Kami akan menjadi penjaga selat itu. Mungkin kami akan menyebut diri kami sebagai malaikat penjaga selat. Kami pantas mendapatkan kompensasi untuk itu,” ujarnya. 

Trump menambahkan bahwa Amerika Serikat akan menerima kompensasi sebesar 20% dari seluruh volume angkutan kargo yang melintasi selat tersebut untuk membiayai seluruh operasi keamanan yang diperlukan demi menjaga stabilitas kawasan. Ia mengatakan bahwa prosedur dan persiapan terkait akan segera dimulai.

Di sisi lain, Iran pada  Senin 13 Juli mengklaim bahwa sebagai tindakan balasan, mereka telah menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania, Bahrain, dan Kuwait, serta sistem radar di Oman.

Iran juga menegaskan bahwa Teheran akan tetap mengendalikan Selat Hormuz dan tidak akan mengizinkan Amerika Serikat mencampuri pengelolaan jalur pelayaran tersebut.

Tindakan Iran kembali memicu kemarahan Presiden Trump. Pada hari yang sama, ia mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan memberlakukan kembali blokade terhadap pelayaran Iran di Teluk Persia.

Trump menegaskan bahwa blokade tersebut hanya ditujukan kepada kapal-kapal Iran dan pihak-pihak yang bekerja sama dengan Iran, sedangkan semua negara lain akan tetap menikmati hak penggunaan Selat Hormuz secara terbuka dan adil. Ia juga menyatakan bahwa Amerika Serikat akan memastikan kebebasan pelayaran di selat tersebut.

CENTCOM kemudian mengumumkan bahwa mulai Selasa (14 Juli) pukul 16.00, militer AS akan kembali menerapkan pengawasan lalu lintas laut terhadap Iran. Pada saat itu, kapal-kapal yang berlayar menuju atau dari pelabuhan-pelabuhan Iran serta wilayah pesisirnya akan dikenai blokade maritim secara menyeluruh.

Setelah pengumuman tersebut, harga minyak dunia sempat melonjak sekitar 5%, dengan harga minyak mentah Brent mendekati 80 dolar AS per barel.

Laporan disusun oleh Yi Jing, NTD Television.

Pemimpin dari 25 Negara Berkumpul di Paris, Fokus Perluasan Bantuan Pertahanan Udara untuk Ukraina

EtIndonesia.com Menghadapi meningkatnya serangan rudal Rusia dalam beberapa waktu terakhir, sebanyak 25 pemimpin dunia berkumpul di Paris pada Selasa (14/7/2026) untuk menghadiri pertemuan “Koalisi Sukarela” (Coalition of the Willing) yang mendukung Ukraina. Pertemuan tersebut membahas perluasan bantuan pertahanan udara bagi Ukraina serta jaminan keamanan dalam kemungkinan perjanjian damai di masa depan.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada pembukaan konferensi, Istana Élysée (Kepresidenan Prancis) menyatakan bahwa para pemimpin dari Denmark, Prancis, Jerman, Italia, dan sejumlah negara lainnya sepakat membentuk aliansi pertahanan rudal balistik terpadu bersama Ukraina. Tujuannya adalah membangun sistem pertahanan rudal yang terintegrasi untuk menghadapi ancaman rudal di masa mendatang.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga menghadiri pertemuan itu. 

Seorang pejabat Prancis mengatakan bahwa para peserta akan membahas upaya memperoleh lebih banyak rudal Patriot buatan Amerika Serikat, mempercepat penempatan sistem pertahanan udara SAMP/T yang dikembangkan bersama oleh Prancis dan Italia, serta menjajaki kerjasama dengan Ukraina dalam pengembangan sistem pertahanan udara generasi baru.

Dalam beberapa pekan terakhir, militer Rusia dilaporkan terus meningkatkan serangan rudal dan drone terhadap Kyiv dan wilayah sekitarnya.

Rusia kembali melancarkan serangan udara yang menyebabkan sedikitnya delapan orang tewas dan banyak lainnya terluka.

Pada 12 Juli, pemerintah Prancis mengecam serangan tersebut dan menuduh Presiden Rusia Vladimir Putin sengaja mengarahkan rudal ke kawasan sipil. Menurut pihak Prancis, bulan Juni menjadi salah satu bulan dengan jumlah korban tewas tertinggi sejak perang dimulai.

“Kami berharap dapat mencapai kesepakatan mengenai daftar sanksi yang mencakup 250 entitas atau individu. Pada saat yang sama, kami juga sedang mendorong paket sanksi putaran ke-21, meskipun hingga kini belum tercapai kesepakatan. Ini merupakan daftar sanksi terbesar yang pernah kami umumkan, sekaligus sebagai tanggapan atas serangan Rusia terhadap warga sipil baru-baru ini,” ujar Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas. 

Selain memperkuat kemampuan pertahanan udara Ukraina, Presiden Prancis Emmanuel Macron diperkirakan akan mengumumkan sejumlah langkah kerja sama, termasuk mendorong produksi senjata secara bersama serta merencanakan latihan militer gabungan di luar wilayah Ukraina sebagai persiapan apabila di masa depan diperlukan pengerahan pasukan multinasional.

Sebagai balasan, pada Selasa dini hari Ukraina melancarkan serangan drone berskala besar ke wilayah Moskow, yang dilaporkan menyebabkan sedikitnya tiga orang tewas, lima orang terluka, serta merusak sejumlah bangunan tempat tinggal dan kendaraan.

Sebagai tanggapan, Presiden Rusia Vladimir Putin dikabarkan menyatakan akan memberikan respons yang lebih keras.

Pertemuan “Koalisi Sukarela” ini diselenggarakan beberapa hari setelah KTT NATO, dengan tujuan menunjukkan persatuan negara-negara sekutu transatlantik serta menegaskan dukungan jangka panjang mereka terhadap Ukraina.

Laporan disusun oleh Xiao Chang, NTD Television.

Perburuan Angsa di Sungai Thames: Tradisi Unik Kerajaan Inggris yang Telah Berlangsung Selama Lebih dari 700 Tahun

EtIndonesia.com Kegiatan tahunan “Sensus Angsa” di Sungai Thames, Inggris, kembali digelar baru-baru ini. Para petugas menaiki perahu dayung tradisional menyusuri sungai untuk menangkap angsa, menimbang berat badannya, memasang cincin identifikasi pada kakinya, serta memeriksa apakah ada yang mengalami cedera.

Tradisi ini telah berlangsung sejak abad ke-12. Dahulu, tujuan utamanya adalah menghitung jumlah angsa yang dimiliki kerajaan agar tersedia cukup daging angsa untuk jamuan istana. Kini, kegiatan tersebut telah berubah menjadi bagian dari upaya konservasi satwa liar.

Dengan menggunakan perahu kayu tradisional, para petugas menyusuri Sungai Thames secara perlahan. Begitu menemukan seekor angsa, mereka bekerja sama mengepungnya, mengangkatnya ke atas perahu, lalu melakukan penimbangan, pemeriksaan kesehatan, dan pencatatan data.

Kegiatan ini dikenal sebagai “Sensus Angsa” (Swan Upping) dan diselenggarakan setiap musim panas. Para petugas memeriksa apakah angsa mengalami luka, memasang cincin identifikasi pada kakinya, kemudian melepaskannya kembali ke sungai.

Namun, pada awalnya tradisi ini bukanlah untuk melindungi angsa.

“Kegiatan di Sungai Thames ini telah dimulai sejak abad ke-12. Pada masa itu, angsa merupakan bahan makanan yang penting dan sering disajikan dalam jamuan serta pesta kerajaan,” ujar David Barber, Penanda Angsa Kerajaan (King’s Swan Marker). 

Meski demikian, angsa tidak selalu mudah ditangkap. Saat melihat perahu mendekat, mereka sering kali segera berenang menjauh sambil membawa anak-anaknya, sehingga kegiatan tahunan ini kerap berubah menjadi kejar-kejaran seru di atas sungai.

Laporan oleh Liu Jiajia, NTD Television.

Wawancara Eksklusif dengan Mantan Pembawa Acara CCTV Cheng Lei: Jangan Diam karena Ketakutan Akibat Represi Lintas Negara Partai Komunis Tiongkok 

EtIndonesia.com Mantan jurnalis dan pembawa acara keturunan Tionghoa berkewarganegaraan Australia, Cheng Lei, yang pernah bekerja sebagai presenter di saluran internasional CCTV (televisi pemerintah Tiongkok), pernah ditahan oleh pemerintah Tiongkok selama lebih dari tiga tahun. Baru-baru ini, saat berada di Taiwan, ia menerima wawancara eksklusif dengan NTD Television yang dipublikasikan 14 Juli 2026. 

Dalam wawancara tersebut, Cheng Lei menceritakan pengalaman pahitnya selama ditahan dan memperingatkan bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) sedang menyebarkan ketakutan melintasi batas negara. Menurutnya, masyarakat demokratis dan bebas harus terus bersuara dan menolak untuk diam.

Cheng Lei mengenang: “Setelah saya ditahan, surat pertama yang saya terima berasal dari anak-anak saya. Mereka berkata bahwa kami masih ingin pergi ke pasar malam di Tainan, pergi ke Taitung, naik balon udara, dan memberi makan hewan-hewan kecil. Karena itu saya terus memikirkan hal tersebut. Kali ini, akhirnya bisa mewujudkan keinginan itu membuat saya sangat bahagia.”

Dengan mata berkaca-kaca, Cheng Lei menceritakan bagaimana pada tahun 2020 ia terlibat dalam ketegangan diplomatik antara Tiongkok dan Australia yang sering disebut sebagai “diplomasi sandera”. Ia ditahan oleh pihak berwenang PKT dengan tuduhan yang disebut sebagai “spionase” dan dipenjara selama lebih dari tiga tahun.

Enam tahun kemudian, setelah mendapatkan kembali kebebasannya, Cheng Lei kembali mengunjungi Taiwan bersama keluarganya. Dalam wawancara dengan NTD, ia mengatakan bahwa di bawah sistem PKT, siapa pun bisa menjadi korban.

Cheng Lei mengatakan: “Saya pernah bekerja di media pemerintah PKT maupun media asing. Dulu saya selalu berpikir bahwa ketika berada di dalam sistem, sebagai seorang profesional asing, saya bisa membawa sedikit perubahan terhadap berbagai masalah dalam sistem tersebut. Namun kemudian saya mengalami sendiri bahwa label ‘keamanan nasional’ atau kotak hitam bernama ‘keamanan nasional’ dapat digunakan untuk menjerat apa saja. Apa pun bisa dianggap menyangkut rahasia negara. Bukti bisa direkayasa, kesaksian bisa dipaksakan, dan pengacara tidak bisa ditemui. Ketika pemerintah membutuhkannya, individu tidaklah penting. Tidak ada seorang pun yang benar-benar memiliki hak asasi manusia, baik pemimpin maupun rakyat biasa, warga asing maupun warga Tiongkok.”

Cheng Lei juga menceritakan kehidupan penuh tekanan di pusat penahanan Tiongkok, di mana ia lama tidak melihat sinar matahari. Kondisi tersebut bahkan sempat membuatnya memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup.

Melihat pemerintah Tiongkok kini mendorong apa yang disebut sebagai “Undang-Undang Promosi Persatuan dan Kemajuan Etnis”, yang menurut para pengkritiknya memperkuat pengawasan dan tekanan lintas negara, Cheng Lei menegaskan bahwa PKT sedang berusaha mengekspor rasa takut ke luar negeri. Karena itu, masyarakat bebas harus mendukung kebenaran dan keberanian untuk berbicara.

Ia berkata: “Menurut saya, jika kekerasan dan ketakutan yang mereka (PKT) sebarkan bisa melampaui batas negara, maka dukungan dan dorongan kita kepada orang-orang yang berani dan berkata jujur juga harus bisa melampaui batas negara. Ini seperti seseorang yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga.” 

“Awalnya Anda berpikir, kalau saya tidak melakukan ini atau itu, maka saya tidak akan dipukul. Namun pada akhirnya Anda bahkan tidak lagi tahu siapa diri Anda sebenarnya. Anda tidak berani melakukan apapun karena selalu merasa bahwa semua ini adalah kesalahan Anda. Jika kita saling mendukung, barulah kita benar-benar bebas. Jika tidak, apa bedanya dengan tinggal di Tiongkok?”

Menurut Cheng Lei, melalui propaganda internasional yang besar, PKT membuat banyak orang salah paham bahwa menentang PKT berarti menentang budaya Tionghoa. Padahal, menurutnya, yang dipromosikan PKT adalah ideologi ateisme komunis, dan hal itu berbeda dengan masyarakat Taiwan yang berkembang tanpa pemerintahan Partai Komunis.

Ia mengatakan: “Yang paling indah dari masyarakat Taiwan adalah kelembutan, kejujuran, dan kebebasan. Di sebuah negara di mana pemerintahnya sendiri tidak memiliki kredibilitas, bagaimana mungkin masyarakat bisa saling percaya? Akibatnya semua orang harus selalu waspada, berbicara dengan penuh kehati-hatian, dan saling curiga. Itu sangat menyedihkan. Saat ini suasana seperti itu semakin tegang.”

Cheng Lei mengamati bahwa tingkat ketegangan dalam masyarakat Tiongkok terus meningkat. Ia sebelumnya juga pernah menyerukan kepada masyarakat internasional bahwa jika ingin belajar bahasa Mandarin, Taiwan adalah tempat yang baik untuk melakukannya.

Ia juga mengingatkan masyarakat Taiwan agar tetap waspada terhadap pengaruh dan infiltrasi PKT, menghargai kebebasan serta demokrasi yang dimiliki, dan dengan berani menjaga nilai-nilai inti tersebut.

Laporan oleh Hu Zonghan dan Tang Jie’an, NTD Asia-Pasifik, Taiwan.

Kebakaran Bar di Bangkok Tewaskan  32 Orang dan Lukai 73 Orang; Pakar Menilai Mencerminkan Kurangnya Standar Keselamatan Tempat Hiburan

EtIndonesia.com Sebuah kebakaran besar melanda sebuah bar di Bangkok, Thailand, pada 13 Juli sekitar pukul 00.00 dini hari, mengakibatkan korban jiwa dan luka dalam jumlah besar. Hingga kini, 32 orang meninggal dunia dan 73 orang lainnya mengalami luka-luka. Pemerintah Thailand telah memulai penyelidikan atas penyebab kebakaran.

Insiden ini merupakan kebakaran besar kedua di tempat hiburan pada tahun ini, setelah kebakaran di sebuah bar di kawasan resor ski Swiss saat Tahun Baru yang dilaporkan menewaskan 40 orang.

Kebakaran terjadi di bar Rong Beer Na Lat Phrao, yang terletak di Distrik Chatuchak, Bangkok. Menurut Thai PBS, jumlah korban meninggal telah meningkat menjadi 32 orang.

Dari total 73 korban luka, terdiri atas 34 pria dan 39 wanita. Saat ini 13 orang masih dirawat di ruang perawatan biasa, sementara 25 orang dirawat di unit perawatan intensif (ICU). Pihak berwenang juga menyatakan bahwa identitas enam korban luka masih belum dapat dipastikan.

Para pakar menilai besarnya jumlah korban kemungkinan mencerminkan berbagai masalah keselamatan yang selama ini sering ditemukan pada kebakaran di tempat hiburan, termasuk kurang memadainya sistem keselamatan.

Menurut laporan Associated Press (AP), api diduga dengan cepat menjalar melalui langit-langit yang dipenuhi bahan dekorasi mudah terbakar sebelum mencapai pintu masuk utama. Media lokal melaporkan bahwa kondisi bar yang padat, jalur evakuasi yang terhalang, serta kepanikan pengunjung kemungkinan menghambat proses penyelamatan.

Bagaimana Api Menyebar

Video yang diunggah para saksi memperlihatkan kobaran api melalap bar tersebut, sementara asap tebal membumbung dari pintu depan dan para pengunjung berlarian menyelamatkan diri.

Foto dan rekaman setelah kejadian menunjukkan para penyelidik memeriksa bangunan yang hangus terbakar. Kerusakan paling parah tampak berada di bagian langit-langit, yang hampir seluruhnya menghitam, sedangkan lantai dan meja dipenuhi abu serta puing-puing.

Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan bahwa menurut keterangan para musisi yang sedang tampil, pemutus arus listrik (circuit breaker) di dekat panggung mulai mengeluarkan asap, kemudian listrik padam dan terjadi ledakan. Setelah itu, asap tebal dengan cepat memenuhi seluruh ruangan.

Penyelidik juga akan memeriksa material langit-langit serta memastikan apakah pintu darurat terhalang sehingga menghambat evakuasi. Sebuah foto yang beredar di internet pada Februari lalu memperlihatkan adanya dekorasi tanaman plastik di langit-langit di atas panggung.

Profesor keselamatan kebakaran dari Kyungil University, Korea Selatan, Lee Young Ju, mengatakan bahwa kebakaran kemungkinan dipicu oleh gangguan pada sistem kelistrikan, baik dari peralatan suara, pencahayaan, maupun instalasi kabel, yang kemudian membuat api dengan cepat menjalar ke seluruh langit-langit.

Kepala Kepolisian Kerajaan Thailand Kittharath Punpetch mengatakan polisi juga menyelidiki apakah bangunan menggunakan material yang mudah terbakar, bagaimana instalasi kabel listrik dipasang, serta apakah tabung gas di dapur turut memperparah kebakaran.

Profesor Huang Xinyan dari Hong Kong Polytechnic University mengatakan rekaman dari lokasi menunjukkan adanya bahan busa mudah terbakar di dalam bar, tidak adanya sistem sprinkler otomatis, serta pintu keluar yang sempit sehingga kemungkinan menghambat evakuasi.

Ia menambahkan bahwa dekorasi plastik di langit-langit mungkin dipasang bersama bahan peredam suara yang mudah terbakar sehingga mempercepat penyebaran api.

Kebakaran di tempat hiburan sering menimbulkan korban besar

Profesor Huang mengatakan kebakaran di Bangkok memiliki kemiripan dengan kebakaran di sebuah bar di kawasan resor ski Swiss pada awal tahun ini. Menurutnya, tempat-tempat seperti ini biasanya menggunakan banyak bahan peredam suara yang mudah terbakar dan sering dipenuhi pengunjung, sehingga meningkatkan risiko jatuhnya korban dalam jumlah besar.

Profesor Lee Young Ju menjelaskan bahwa kebakaran di tempat hiburan sering menimbulkan banyak korban karena sejumlah besar orang berada di ruang yang relatif sempit sehingga evakuasi menjadi sulit dilakukan.

Ia mengatakan tempat-tempat seperti ini umumnya memiliki pintu keluar yang terbatas, sementara sebagian besar pengunjung hanya mengetahui pintu utama yang mereka gunakan saat masuk. Selain itu, suara musik yang keras dan pengaruh alkohol dapat mengurangi kewaspadaan sehingga memperlambat reaksi ketika keadaan darurat terjadi.

Profesor Jiang Liming, juga dari Hong Kong Polytechnic University, mengatakan bahwa bar umumnya tidak memiliki jendela kaca besar sehingga ketika kebakaran terjadi, pintu keluar mudah tersumbat oleh kerumunan orang yang panik.

Menurutnya: “Begitu api menyebar dengan cepat, kepadatan orang yang tinggi dan asap yang segera memenuhi ruangan dapat menyebabkan banyak korban jiwa.”

Profesor mitigasi bencana dari Woosuk University, Korea Selatan, Kong Ha-song, mengatakan jumlah korban jiwa dalam kebakaran bar atau klub malam sering kali tinggi karena tata letak tempat tersebut menyerupai “labirin”. Tumpukan peti bir, meja, dan berbagai barang lainnya dapat menghalangi lorong maupun jalur evakuasi. Selain itu, pintu darurat terkadang dikunci untuk mencegah pencurian atau penyusup.

Kepala Kepolisian Thailand Kittharath Punpetch menjelaskan bahwa bar tersebut memiliki empat pintu keluar, namun polisi masih menyelidiki apakah dua pintu di bagian belakang tertutup atau tidak dapat digunakan.

Sebagian besar korban meninggal ditemukan di dekat pintu keluar yang berada di sekitar toilet, tetapi pintu tersebut ternyata terhalang oleh sebuah meja. Sementara itu, pintu keluar lain di dekat dapur memiliki papan petunjuk yang rusak dan pegangan pintunya telah terlepas.

Sumber : NTDTV.com, diadaptasi dari Central News Agency/CNA Taiwan