Grand Ballroom Terbesar di Malang Raya, Grand Mercure Malang Mirama Jadi Magnet MICE dan Wedding Premium

MALANG, 10 Juli 2026 – Di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di kawasan Malang Raya, kebutuhan akan fasilitas pertemuan berskala internasional kian meningkat. Menjawab peluang tersebut, Grand Mercure Malang Mirama mengukuhkan posisinya sebagai destinasi utama untuk kebutuhan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) hingga pernikahan mewah di kota Malang.

Sebagai hotel bintang lima premium pertama di Malang, Grand Mercure Malang Mirama menawarkan kombinasi sempurna antara kemewahan modern dan sentuhan budaya lokal. Berlokasi strategis di gerbang utama Kota Malang, hotel ini memberikan akses mudah dari Surabaya maupun pusat kota, menjadikannya pilihan favorit bagi penyelenggara acara dari luar kota. Didukung ratusan kamar dan suite mewah, berbagai pilihan restoran internasional dan lokal, fasilitas wellness, serta area parkir yang sangat luas, hotel ini siap menyambut para pelaku bisnis dan wisatawan MICE dengan kenyamanan tanpa batas.

Grand Ballroom Tanpa Pilar, Kapasitas 2.200 Tamu

Keunggulan utama Grand Mercure Malang Mirama adalah Grand Ballroom terbesar di Malang Raya yang mampu menampung hingga 2.200 tamu. Tanpa pilar (pillarless) dan memiliki langit-langit tinggi, ruang ini menjadi venue ideal untuk konferensi internasional, pameran berskala besar, hingga konser megah.

Selain Grand Ballroom, hotel ini juga menyediakan berbagai pilihan meeting room yang fleksibel dan dapat disesuaikan dengan skala acara, mulai dari rapat direksi intim hingga workshop korporat. Setiap ruang pertemuan dilengkapi dengan fasilitas modern demi kelancaran produktivitas selama acara berlangsung.

Wedding Impian dengan Sentuhan Klasik dan Modern

Tak hanya unggul di sektor bisnis, Grand Mercure Malang Mirama juga menjadi magnet bagi pasangan yang mencari venue wedding di Kota Malang. Dengan area indoor yang megah, hotel ini menawarkan paket pernikahan (wedding package) yang dapat dipersonalisasi, mulai dari konsep pernikahan tradisional, modern, hingga skala internasional. Tim spesialis pernikahan profesional siap mewujudkan momen sakral dengan standar tertinggi.

Komitmen Layanan Prima

Sugito Adhi, Cluster General Manager Grand Mercure Malang Mirama & Mercure Surabaya Grand Mirama, menegaskan bahwa kesuksesan sebuah acara sangat bergantung pada kenyamanan dan kelengkapan fasilitas.

“Kami memahami bahwa kesuksesan sebuah acara, baik itu seminar bisnis berskala besar maupun pernikahan impian, sangat bergantung pada kenyamanan dan kelengkapan fasilitas. Oleh karena itu, Grand Mercure Malang Mirama hadir dengan komitmen memberikan pelayanan prima serta ruang pertemuan yang fleksibel yang dapat mengakomodasi kebutuhan para tamu,” ujar Sugito.

Akses Mudah dan Fasilitas Lengkap

Terletak strategis di pintu masuk utama Kota Malang, hotel ini memiliki aksesibilitas yang mudah dari Surabaya maupun pusat kota Malang. Kedekatan dengan bandara dan stasiun kereta api menjadikannya pilihan favorit bagi para penyelenggara acara dari luar kota. Dengan ratusan kamar dan suite mewah, berbagai pilihan restoran, serta fasilitas wellness, Grand Mercure Malang Mirama menawarkan pengalaman menginap yang lengkap bagi para tamu.

Amerika Serikat Mengeluarkan Ultimatum Terakhir, Menuntut Iran Menjamin Keamanan Pelayaran di Selat Hormuz

EtIndonesia.com Negara-negara yang menjadi mediator dalam konflik Timur Tengah sedang melakukan upaya diplomatik secara intensif untuk memfasilitasi konferensi telepon multilateral antara Amerika Serikat, Iran, Qatar, dan Pakistan yang dijadwalkan berlangsung pada akhir pekan ini.

Di saat yang sama, Amerika Serikat telah mengeluarkan ultimatum terakhir kepada Iran, menuntut Teheran agar secara terbuka berjanji menghentikan serangan terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.

Menurut laporan situs berita Axios, yang mengutip tiga pejabat pemerintah AS, pemerintahan Presiden Donald Trump telah menyampaikan ultimatum kepada Iran agar sebelum batas waktu pada Sabtu (11 Juli), pemerintah Iran secara terbuka menyatakan komitmennya untuk menghentikan serangan terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz. Jika tidak, Iran akan menghadapi konsekuensi.

Amerika Serikat secara tegas meminta Teheran untuk:

  • mengakui secara terbuka bahwa jalur strategis Selat Hormuz tetap terbuka;
  • berjanji menghentikan serangan terhadap kapal-kapal dagang;
  • menjamin seluruh jalur pelayaran di selat tersebut tetap bebas dilalui tanpa dikenakan biaya atau pungutan apa pun.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada Axios: “Jika Iran tidak memberikan komitmen secara terbuka, maka itu tidak akan menjadi hari yang menyenangkan bagi mereka.”

Delegasi tingkat tinggi AS menuju Oman

Sementara itu, menurut laporan CBS News, Amerika Serikat telah mengirim delegasi tingkat tinggi ke Oman untuk mengikuti perundingan.

Delegasi tersebut terdiri dari:

  • Wakil Presiden JD Vance,
  • Menteri Luar Negeri Marco Rubio,
  • Utusan Khusus Presiden Steve Witkoff,
  • serta penasihat sekaligus menantu Presiden, Jared Kushner.

Iran diwakili oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

Seorang sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa keempat negara telah menyetujui penyelenggaraan pembicaraan melalui telepon. Para mediator sedang berupaya agar pembicaraan itu dapat berlangsung bersamaan dengan kunjungan Araghchi ke Oman pada Sabtu 11 Juli.

Ketegangan meningkat setelah serangan terhadap kapal tanker

Awal pekan ini, tiga kapal tanker komersial milik Qatar dan Arab Saudi dilaporkan diserang.

Insiden tersebut mendorong militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara balasan terhadap sejumlah sasaran di wilayah Iran.

Sebagai balasan, Iran menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Menurut pejabat Kementerian Kesehatan Iran, serangan udara AS terhadap enam kota di Iran menyebabkan sedikitnya:

  • 17 orang tewas;
  • 115 orang terluka.

Perbedaan sikap di dalam pemerintahan Iran

Mengenai serangan terhadap kapal-kapal tanker tersebut, kembali muncul dua pandangan berbeda di kalangan elite Iran, yang menunjukkan adanya persaingan internal yang cukup tajam.

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi secara terbuka menuduh Amerika Serikat telah melanggar perjanjian gencatan senjata.

Namun, menurut sejumlah pejabat tinggi AS yang berbicara kepada media, para pejabat Iran secara tertutup mengakui bahwa serangan-serangan baru-baru ini di Selat Hormuz berasal dari “unsur yang bermasalah di dalam sistem mereka sendiri.”

Mereka disebut menyalahkan faksi garis keras di dalam Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Pemimpin baru Iran mengancam akan membalas dendam

Di ruang publik, kelompok garis keras Iran tetap menunjukkan sikap yang keras.

Pada hari Sabtu, pemimpin tertinggi Iran yang baru, Khamenei Muda, menulis di platform media sosial X bahwa ia bersumpah akan membalas kematian Ali Khamenei Senior, yang menurut laporan tersebut tewas dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari.

Ledakan di Teheran picu kepanikan

Pada Sabtu pagi, terdengar ledakan keras di bagian timur Provinsi Teheran yang sempat menimbulkan kepanikan warga.

Namun kemudian media pemerintah Iran, mengutip pejabat setempat, menjelaskan bahwa suara ledakan tersebut berasal dari pemusnahan amunisi sisa perang secara terkendali, yang merupakan operasi yang telah direncanakan sebelumnya dan tidak membahayakan masyarakat.

Harga minyak melonjak

Seiring kembali memanasnya konflik di kawasan Teluk yang belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian, pasar energi global mulai merasakan dampaknya.

Setelah mengalami penurunan selama beberapa minggu berturut-turut, harga minyak mentah internasional pada pekan ini mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam hampir delapan minggu terakhir.

Iran Kembali Menyerang Kapal Dagang Hingga Kehilangan Daya, Militer AS Melancarkan Gelombang Baru Serangan Udara

EtIndonesia.com Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) pada Sabtu (11 Juli) menyatakan bahwa setelah Iran melakukan “serangan terang-terangan” terhadap sebuah kapal dagang, Amerika Serikat telah melancarkan gelombang baru serangan militer ke Iran.

Pada saat yang sama, Menteri Luar Negeri Iran telah bertolak ke Oman untuk membahas situasi kawasan. Sementara itu, Amerika Serikat memilih tidak mengirim delegasinya secara langsung, melainkan menggunakan negara-negara mediator seperti Qatar dan Pakistan untuk menyampaikan pesan secara tidak langsung dan melakukan koordinasi melalui pertemuan daring.

AS melancarkan serangan udara putaran ketiga pekan ini

Menurut berbagai laporan media, CENTCOM mengeluarkan pernyataan bahwa setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melakukan serangan terhadap sebuah kapal dagang berbendera Siprus yang sedang melintasi Selat Hormuz, militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara putaran ketiga terhadap Iran pada pekan ini.

Serangan dimulai pada 11 Juli pukul 19.15 waktu Pantai Timur Amerika Serikat (23.15 GMT).

Dalam pernyataan yang diunggah melalui platform X, CENTCOM mengatakan bahwa serangan Iran terhadap kapal dagang tersebut menyebabkan:

  • satu awak kapal sipil dinyatakan hilang;
  • kapal mengalami kebakaran;
  • ruang mesin mengalami kerusakan berat;
  • kapal kehilangan tenaga dan tidak dapat melanjutkan pelayaran.

CENTCOM menyatakan bahwa operasi militer AS bertujuan untuk terus melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang awak kapal sipil dan kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz, serta membuat Iran menanggung konsekuensi yang berat.

Pernyataan tersebut juga menambahkan bahwa serangan dilakukan atas instruksi Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Menteri Pertahanan AS: Iran harus menanggung akibatnya

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth secara singkat mengatakan kepada media: “Iran telah membuat pilihan yang buruk, dan sekarang mereka harus menanggung akibatnya.”

IRGC mengancam menutup Selat Hormuz

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan akan menutup Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa sebelumnya IRGC telah melepaskan tembakan peringatan ke arah sebuah kapal yang disebut berlayar melalui jalur yang tidak diizinkan.

Perundingan AS-Iran semakin sulit

Aksi saling serang antara kedua pihak diperkirakan akan semakin mempersulit upaya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran.

Menurut laporan, hambatan terbesar untuk mencapai kesepakatan akhir saat ini adalah masa depan pengelolaan Selat Hormuz.

  • Iran bersikeras ingin mengendalikan hak pengaturan pelayaran di selat tersebut.
  • Amerika Serikat menuntut agar kebebasan bernavigasi tetap dipertahankan.

Pihak Amerika menyatakan bahwa Iran telah melanggar kesepakatan dengan berulang kali menembaki kapal-kapal dagang di Selat Hormuz, sehingga menimbulkan keraguan terhadap kesungguhan maupun kemampuan Iran dalam menjalankan perundingan mengenai program nuklirnya.

Araghchi berkunjung ke Oman

Pada Jumat (10 Juli), Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa setelah Iran mengajukan permintaan untuk berunding, Amerika Serikat telah menyetujuinya.

Namun, Trump juga menegaskan bahwa perjanjian gencatan senjata yang dicapai kedua negara pada  Juni telah berakhir.

Sementara itu, pada Sabtu (11 Juli), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tiba di Oman untuk membahas:

  • hubungan bilateral;
  • perkembangan situasi regional;
  • serta isu Selat Hormuz.

Di sisi lain, Amerika Serikat membatalkan pengiriman delegasinya secara langsung dan memilih menggunakan Qatar serta Pakistan sebagai negara mediator untuk menyampaikan pesan secara tidak langsung dan melakukan koordinasi jarak jauh dengan perwakilan Iran di Oman. (***)

PKT Meningkatkan Aktivitas Militer di Rantai Pulau Pertama, Negara-negara Asia-Pasifik Serempak Mengecam

Partai Komunis Tiongkok (PKT) belakangan ini terus meningkatkan aktivitas militernya di kawasan Rantai Pulau Pertama (First Island Chain). Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Republik Tiongkok (Taiwan), Joseph Wu (Wu Chao-hsieh), mengungkapkan bahwa PKT telah mengerahkan lebih dari 110 kapal perang dan kapal penjaga pantai, jumlah tertinggi yang pernah tercatat.

EtIndonesia.com Pada 6 Juli 2026, PKT juga meluncurkan sebuah rudal balistik antarbenua (ICBM) ke Samudra Pasifik. Langkah tersebut memicu kecaman dari sejumlah negara di kawasan Asia-Pasifik.

Pada hari yang sama, Dewan Urusan Daratan (Mainland Affairs Council/MAC) Taiwan menyatakan bahwa setelah berlakunya undang-undang baru yang disebut sebagai “undang-undang jahat” oleh pemerintah Taiwan, PKT diduga melakukan kasus pertama penindasan lintas negara di Taiwan.

PKT mengerahkan lebih dari 110 kapal di Rantai Pulau Pertama

Joseph Wu mengatakan bahwa PKT tengah melaksanakan operasi gangguan maritim berskala besar di kawasan Rantai Pulau Pertama dengan mengerahkan lebih dari 110 kapal perang dan kapal penjaga pantai, rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Kepala Biro Keamanan Nasional Taiwan, Tsai Ming-yen, mengatakan: “Saat ini merupakan musim latihan militer tingkat komando teater bagi PKT. Di Pasifik Barat saat ini terdapat sekitar empat gugus armada Angkatan Laut PKT yang sedang beroperasi.”

Ia menambahkan: “Mobilisasi kapal-kapal PKT di laut memang menunjukkan tren yang terus meningkat.”

Taiwan mengecam patroli penjaga pantai PKT

Pada 5 Juli, Penjaga Pantai PKT mengklaim telah melakukan putaran baru “patroli penegakan hukum” di perairan sebelah timur Taiwan.

Pemerintah Taiwan mengecam keras tindakan tersebut karena dinilai:

  • Melanggar hukum internasional;
  • Merusak status quo kawasan;
  • Mengganggu stabilitas regional.

Dewan Urusan Daratan Taiwan menegaskan bahwa PKT tidak memiliki kedaulatan maupun hak hukum apa pun di perairan sebelah timur Taiwan.

Pemerintah Taiwan juga menegaskan akan mengambil tindakan nyata untuk:

  • mempertahankan kedaulatan negara;
  • menjamin keamanan wilayah perairannya;
  • serta menentang setiap upaya mengubah tatanan internasional melalui penggunaan kekuatan atau intimidasi.

Uji coba rudal memicu kecaman negara-negara Asia-Pasifik

PKT sebelumnya secara tidak biasa mengonfirmasi bahwa pada 6 Juli sebuah kapal selam nuklir Angkatan Laut Tiongkok meluncurkan rudal strategis dari bawah laut menuju Samudra Pasifik.

Tindakan tersebut menuai kecaman dari berbagai negara Asia-Pasifik.

  • Australia menilai langkah itu merusak stabilitas kawasan.
  • Jepang menyatakan akan terus meningkatkan kewaspadaan dan pemantauan.
  • Selandia Baru memperingatkan agar aktivitas militer seperti itu tidak menjadi hal yang dianggap normal.
  • Kantor Presiden Taiwan menyatakan PKT berusaha mengintimidasi masyarakat internasional melalui aksi militernya.

Analis: PKT ingin menembus Rantai Pulau Pertama

Direktur Institut Strategi dan Sumber Daya pada Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Su Tzu-yun, mengatakan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang PKT untuk memperluas kekuatan laut dan memperkuat kemampuan nuklir guna meningkatkan daya gentar strategis terhadap Amerika Serikat.

Ia menjelaskan: “Ini merupakan strategi besar jangka panjang PKT, yaitu bergerak menuju operasi laut lepas dan memperbesar pengaruh politiknya di dunia.”

Menurutnya, strategi tersebut bertumpu pada dua kekuatan utama:

  • kekuatan maritim;
  • kekuatan senjata nuklir.

Su Tzu-yun mengatakan tujuan geopolitik PKT yang paling penting saat ini adalah menembus sepenuhnya Rantai Pulau Pertama, terutama melewati Taiwan, agar memiliki akses strategis ke Samudra Pasifik.

Pengamat menilai peluncuran rudal tersebut bukan sekadar uji coba senjata, melainkan sinyal bahwa Beijing ingin menunjukkan kemampuan pencegah nuklirnya. Hal ini dikhawatirkan dapat mengubah keseimbangan strategis di kawasan Indo-Pasifik.

Selandia Baru: Aktivitas militer PKT mulai menjadi “normal”

Sebuah dokumen internal Selandia Baru juga menyebut bahwa aktivitas militer PKT di kawasan Pasifik sedang berubah menjadi kegiatan yang berlangsung secara rutin.

Su Tzu-yun berpendapat bahwa Amerika Serikat dan negara-negara demokrasi Indo-Pasifik perlu benar-benar menerapkan konsep “pertahanan kolektif Rantai Pulau Pertama” sebagaimana ditekankan dalam strategi keamanan nasional AS.

Ia memperkirakan:

  • Jepang,
  • Korea Selatan,
  • Taiwan,
  • dan Filipina

akan meningkatkan investasi dalam sistem pertahanan rudal guna memperkuat kemampuan penangkalan.

Sementara itu, Amerika Serikat diperkirakan akan mempercepat pembangunan sistem pertahanan rudal seperti “Golden Dome System” untuk menghadapi meningkatnya ancaman nuklir dari PKT.

Taiwan: Terjadi dugaan penindasan lintas negara pertama

Pada 6 Juli, Dewan Urusan Daratan Taiwan menyatakan bahwa setelah berlakunya undang-undang baru PKT yang disebut sebagai “Undang-Undang Promosi Persatuan Bangsa”, telah terjadi kasus pertama dugaan penindasan lintas negara di Taiwan.

Peristiwa tersebut terjadi ketika Akio Yaita, Direktur Eksekutif Indo-Pacific Strategic Think Tank, diundang memberikan ceramah di Taichung.

Ia diduga diserang oleh seorang pria berkewarganegaraan Tiongkok berusia 33 tahun bermarga Liao.

Kasus kekerasan ini mengejutkan dunia politik dan masyarakat Taiwan, dan Dewan Urusan Daratan mengeluarkan kecaman keras.

Dalam unggahan di media sosial, Akio Yaita mengatakan bahwa dari latar belakang maupun cara pelaksanaannya, insiden tersebut memiliki banyak kemiripan dengan kasus penyerangan terhadap sejumlah aktivis Hong Kong di Taiwan beberapa tahun lalu.

Diduga bertujuan menciptakan efek intimidasi

Peneliti Institut Penelitian Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Shen Ming-shih, mengatakan: “Tujuan utamanya adalah memberikan peringatan sekaligus menciptakan efek jera dan intimidasi agar semakin banyak orang tidak berani mengkritik.”

Namun ia menilai tindakan tersebut justru akan membuat masyarakat Taiwan semakin marah terhadap apa yang mereka anggap sebagai jangkauan kekuasaan PKT yang melampaui batas negara, termasuk tindakan penindasan lintas batas.

Direktur Eksekutif Asosiasi Inspirasi Taiwan, Lai Jung-wei, mengatakan: “Taiwan dan Tiongkok sejak awal memang tidak saling berada di bawah yurisdiksi satu sama lain. Taiwan adalah sebuah negara yang memiliki kedaulatan dan sistem pemerintahannya sendiri. Penggunaan kekerasan jelas tidak dapat diterima.”

Lai Jung-wei mengatakan: “Jika benar terdapat bayang-bayang penindasan lintas negara oleh PKT, maka dunia akan kembali melihat secara nyata ancaman yang ditimbulkan oleh PKT.”

Sejumlah pengamat juga berpendapat bahwa pemerintah Taiwan perlu membantu masyarakat memahami bahwa melalui Undang-Undang Promosi Persatuan Bangsa, PKT berpotensi memperluas praktik kekerasan, intimidasi, dan karakter pemerintahan yang otoriter.

Shen Ming-shih menambahkan: “Selain memperkuat pengawasan dan pencegahan melalui jalur politik, hukum, dan aparat penegak hukum, saya juga berpandangan bahwa pembentukan undang-undang khusus untuk menangani kejahatan semacam ini merupakan arah yang layak dipertimbangkan.”

Akio Yaita

Akio Yaita telah memperoleh kewarganegaraan Republik Tiongkok (Taiwan). Ia pernah menjabat sebagai Kepala Biro Taipei surat kabar Jepang Sankei Shimbun dan kini aktif memberikan analisis mengenai politik Tiongkok, hubungan lintas Selat Taiwan, serta dinamika geopolitik Asia Timur.

Laporan Mingguan NTD disusun oleh Huang Yen-hua dan Wu Hui-chen.

Terungkap Kisah Tragis Fakta di Balik Kebakaran Pabrik Sepatu Huiteng, Fujian, Tiongkok

EtIndonesia.com Kebakaran yang terjadi pada 9 Juli di Pabrik Sepatu Huiteng (Huiteng Shoes Co., Ltd.) di Desa Jiangtou, Kota Chendai, Jinjiang, Quanzhou, Provinsi Fujian, menewaskan 28 orang, menurut data resmi pemerintah Tiongkok.

Insiden ini memicu pertanyaan publik mengenai dugaan minimnya fasilitas pencegahan kebakaran dan lemahnya pengawasan keselamatan. Setelah kejadian tersebut, informasi mengenai perusahaan juga mulai beredar di internet, termasuk data yang menunjukkan bahwa dari lebih dari 1.000 karyawan yang diklaim dimiliki perusahaan, hanya 12 orang yang tercatat mengikuti asuransi sosial.

Pabrik memiliki lebih dari 1.000 pekerja, tetapi hanya 12 peserta asuransi sosial

Menurut laporan CCTV (televisi pemerintah Tiongkok), saat kebakaran terjadi terdapat 237 karyawan perusahaan dan 2 orang dari luar perusahaan berada di dalam gedung.

Kebakaran tersebut mengakibatkan 28 orang meninggal dunia, sementara penanggung jawab perusahaan telah diamankan oleh kepolisian.

Berdasarkan data dari platform informasi perusahaan Tianyancha, Fujian Huiteng Shoes Co., Ltd. didirikan pada Februari 2015 dengan:

  • modal terdaftar sebesar 10 juta yuan;
  • modal yang telah disetor sebesar 6 juta yuan.

Pemegang saham utamanya adalah:

  • Lai Yuping (65%);
  • Lai Xiuque (30%);
  • Ding Jingshan (5%).

Perusahaan bergerak di bidang:

  • produksi sepatu;
  • produksi pakaian;
  • grosir dan ritel sepatu serta topi.

Meskipun perusahaan mempromosikan diri sebagai memiliki lebih dari 1.000 karyawan, data Tianyancha menunjukkan bahwa pada tahun 2025 hanya 12 orang yang tercatat sebagai peserta asuransi sosial perusahaan.

Warganet: Mayoritas pekerja hanyalah buruh sementara

Seorang warganet berkomentar: “Hanya segelintir pegawai inti dan manajemen yang mendapatkan jaminan sosial. Ratusan pekerja di lini produksi lainnya hanyalah ‘buruh sementara’, ‘buruh borongan’, atau pekerja fleksibel.”

Seorang warganet yang mengaku mengetahui kondisi setempat mengatakan bahwa bukan hanya pabrik yang mengalami kebakaran tersebut.

Menurutnya, di banyak pabrik sepatu lain di Jinjiang:

  • pekerja bekerja 13–14 jam setiap hari;
  • tidak memperoleh jaminan pensiun;
  • tidak memiliki asuransi kesehatan;
  • tidak mendapatkan perlindungan kecelakaan kerja;
  • kartu identitas mereka sering ditahan oleh pemilik pabrik;
  • upah baru dibayarkan setiap enam bulan sekali.

Jinjiang dikenal sebagai “Kota Sepatu Tiongkok”

Jinjiang dijuluki sebagai “Kota Sepatu Tiongkok” karena memiliki sangat banyak pabrik sepatu.

Media Tiongkok sebelumnya pernah melaporkan bahwa satu dari setiap lima pasang sepatu olahraga di dunia diproduksi di Chendai, Jinjiang.

Menurut platform informasi perusahaan Qichacha, pelanggan pabrik yang terbakar tersebut mencakup sejumlah merek internasional, antara lain:

  • Slazenger (Inggris);
  • HI-TEC (Inggris);
  • BEPPI (Portugal).

Produk-produknya terutama diekspor ke:

  • Prancis;
  • Inggris;
  • Jerman;
  • Amerika Serikat;
  • Australia;
  • Jepang.

Warganet: Tidak peduli kesejahteraan pekerja, juga tidak peduli keselamatan

Sejumlah warganet memberikan komentar: “Sebagian besar perusahaan masih menggunakan pola lama: tidak menandatangani kontrak kerja dan tidak membayar asuransi sosial.”

“Ada penelitian terhadap sebuah pabrik garmen di Jinjiang yang memiliki lebih dari 200 pekerja. Hanya 45 orang yang didaftarkan dalam asuransi sosial, sedangkan sisanya adalah buruh borongan sementara.”

“Kalau sebuah pabrik tidak peduli pada kesejahteraan pekerjanya, kemungkinan besar juga tidak peduli terhadap keselamatan kerja. Kecelakaan besar hanya tinggal menunggu waktu.”

Kebakaran serupa pernah terjadi pada tahun 2020

Pada 8 Agustus 2020, sebuah pabrik di Desa Xiban, Chendai, Jinjiang, juga mengalami kebakaran.

Menurut laporan resmi saat itu, kebakaran dipicu oleh:

  • penyimpanan bahan mudah terbakar yang melanggar aturan;
  • lorong yang dipenuhi barang-barang;
  • jalur evakuasi yang tertutup.

Akibatnya para pekerja tidak dapat melarikan diri dengan aman, dan 8 orang meninggal dunia.

Kritik masyarakat

Warganet mengkritik bahwa kecelakaan seperti ini terus berulang.

Beberapa komentar di antaranya: “Setiap tahun selalu terjadi kecelakaan seperti ini. Prosesnya selalu sama: diselidiki, diberi peringatan, lalu beberapa waktu kemudian terulang lagi.”

“Sebenarnya lingkungan kerja di pabrik-pabrik seperti ini memang sudah lama sangat buruk. Hanya saja para pekerja lapisan bawah di berbagai pabrik jarang mendapat perhatian.”

Dilaporkan oleh Li Li / Diedit oleh Li Qian

MPLS Santa Maria Surabaya Hadirkan Prosesi Pohon Serviam MPLS Ramah dengan Sentuhan Edukatif

SURABAYA – Pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Pelajaran 2026/2027 di Kampus Santa Maria Surabaya berlangsung dengan cara yang berbeda dari kebanyakan sekolah. Selain menggelar upacara bendera, Yayasan Paratha Bhakti Kampus Santa Maria memperkenalkan prosesi “Pohon Serviam” sebagai simbol perjalanan pendidikan dan pembentukan karakter peserta didik.

Kegiatan yang berlangsung di halaman Kampus Santa Maria Surabaya, Senin (13/7/2026), melibatkan seluruh satuan pendidikan, mulai Kelompok Bermain (KB)-TK, SD, SMP hingga SMA, serta orang tua siswa. Mengusung tema “Berakar dalam Nilai, Bertumbuh dalam Kasih, Berbuah dalam Semangat SERVIAM”, kegiatan ini menjadi penanda dimulainya MPLS Ramah yang menitikberatkan pada pendidikan karakter.

Ketua II Yayasan Paratha Bhakti, Sr. Hilda Sri Purwaningsih, OSU, mengatakan prosesi Pohon Serviam merupakan simbol perjalanan pendidikan yang mengajarkan peserta didik untuk bertumbuh menjadi pribadi yang beriman, berkarakter, dan siap melayani sesama.

“Prosesi diawali dengan penanaman bibit pohon mangga sebagai lambang harapan akan lahirnya generasi yang beriman, berkarakter, dan siap melayani sesama,” ujarnya.

Menurutnya, pohon mangga dipilih karena memiliki filosofi yang sejalan dengan nilai-nilai pendidikan. Akarnya kuat, mampu tumbuh besar, memiliki daun yang rindang, serta memberikan manfaat bagi banyak orang.

“Maknanya adalah peserta didik diharapkan memiliki fondasi yang kokoh, mampu berkembang, sekaligus menjadi pribadi yang meneduhkan dan membawa manfaat bagi lingkungan,” tambahnya.

Dalam prosesi tersebut, setiap jenjang pendidikan memiliki peran yang menggambarkan tahapan pertumbuhan seorang anak. Siswa KB-TK menambahkan tanah sebagai lambang fondasi nilai kehidupan. Siswa SD menyiram pohon sebagai simbol kasih, perhatian, dan semangat belajar. Siswa SMP menaburkan pupuk sebagai lambang pembinaan karakter, disiplin, dan tanggung jawab. Sementara siswa SMA memasang papan nama “Pohon Serviam” sebagai simbol identitas sekaligus panggilan untuk menghasilkan buah-buah kebaikan.

Tidak hanya peserta didik, perwakilan orang tua juga turut menanam bibit pohon sebagai simbol kepercayaan dan harapan terhadap pendidikan anak. Prosesi ditutup dengan penyiraman bersama oleh Ketua Yayasan, para kepala sekolah, serta orang tua sebagai wujud kolaborasi dalam mendampingi tumbuh kembang peserta didik.

Kepala SD Santa Maria Surabaya, Yunitha Ike Christyowati, M.Pd, menegaskan bahwa pendidikan di Kampus Santa Maria tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik.

“Melalui kegiatan ini kami ingin menegaskan bahwa pendidikan juga bertujuan membentuk pribadi yang memiliki karakter kuat, hidup dalam kasih, dan siap melayani masyarakat sesuai semangat SERVIAM,” katanya.

Suasana pembukaan MPLS juga semakin semarak ketika seluruh siswa dari jenjang TK hingga SMA mengikuti Gerakan 6 Nilai Dasar Ursulin. Selain menyehatkan tubuh, gerakan tersebut menjadi media edukasi untuk menanamkan nilai Cinta dan Belas Kasih, Integritas, Keberanian dan Ketangguhan, Persatuan, Totalitas, serta Pelayanan kepada para peserta didik baru.

Salah seorang siswa baru SMA Santa Maria Surabaya, Brigita Alessandra Padmarini (14), mengaku bangga dapat melanjutkan pendidikan di sekolah tersebut. Menurutnya, lingkungan belajar yang nyaman serta guru yang ramah menjadi alasan utama memilih tetap bersekolah di Kampus Santa Maria.

“Guru-gurunya sangat ramah dan sabar. Suasana belajar juga menyenangkan sehingga kami bisa bertumbuh bersama dalam kasih,” ungkapnya.

Pembukaan MPLS ini menjadi momentum kebersamaan seluruh keluarga besar Kampus Santa Maria Surabaya. Kehadiran peserta didik dari jenjang usia dini hingga pendidikan menengah dalam satu rangkaian kegiatan menunjukkan kesinambungan pendidikan yang utuh, sekaligus menegaskan komitmen sekolah dalam membentuk generasi unggul yang berkarakter dan berjiwa melayani.

Setelah Banjir Melanda Guangxi, Tiongkok Banyak Ular Bermunculan di Sawah dan Sekitar Rumah

EtIndonesia.com Setelah jebolnya Bendungan Liulan di Kota Hengzhou, Daerah Otonom Guangxi, Tiongkok yang juga menghancurkan sebuah penangkaran ular, beredar kabar di internet bahwa “bertonton-ton ular berbisa berhasil lolos.” Awalnya pihak berwenang Tiongkok membantah kabar tersebut, namun kemudian mengakui bahwa sekitar 900 ekor ular telah lepas. Meski demikian, sejumlah video yang beredar memperlihatkan banyak ular masih berkeliaran di berbagai lokasi setelah banjir surut.

Banyak ular masih terlihat setelah banjir surut

Pada 11 Juli, banjir di berbagai wilayah Hengzhou mulai berangsur surut. Namun banyak warga terdampak masih belum berani kembali ke rumah.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan:

  • beberapa ekor ular kobra masih bergerak di lumpur di area persawahan;
  • di lokasi lain, di genangan air dangkal di samping sebuah bangunan, tampak banyak kepala ular muncul ke permukaan air.

Warga mengaku menemukan ular berbisa di rumah

Berdasarkan video-video yang sebelumnya beredar, warga terdampak banjir mengaku menemukan berbagai ular berbisa, antara lain:

  • King Cobra (ular kobra raja);
  • Banded Krait (ular welang/ular belang);

yang dikenal sebagai spesies dengan bisa sangat berbahaya.

Video lain juga memperlihatkan saat peternakan ular diterjang banjir, dengan ribuan ular terseret arus banjir.

Ular-ular tersebut kemudian menyebar mengikuti aliran banjir hingga memasuki berbagai kawasan permukiman, bahkan ditemukan di dalam rumah-rumah warga.

Awalnya dibantah, kemudian diakui

Ketika kabar mengenai rusaknya penangkaran ular pertama kali muncul, media pemerintah daerah sempat membantahnya.

Mereka bahkan menyatakan bahwa objek yang direkam warga di tengah banjir dan disebut sebagai kepala ular sebenarnya adalah “kepala burung unta.”

Namun kemudian media pemerintah mengakui bahwa memang ada ular berbisa yang lolos, meskipun menyatakan jumlahnya “hanya sekitar 900 ekor.”

Tim penangkap ular: Sudah menangkap dua hingga tiga ribu ekor

Namun, pada 9 Juli, seorang anggota tim penangkap ular swasta di Hengzhou bermarga Zhu mengatakan kepada media Tiongkok bahwa tim yang terdiri dari 7 hingga 8 orang telah bekerja selama dua hari berturut-turut.

Menurutnya, mereka telah berhasil menangkap sekitar 2.000 hingga 3.000 ekor ular.

Sumber : NTDTV.com

COVID-19 Kembali Meningkat, Tiongkok, Hong Kong, dan Macau Sama-sama Melaporkan Kasus Kematian

Baru-baru ini, wabah COVID-19 kembali memasuki puncak penularan di Tiongkok daratan, Hong Kong, dan Macau. Ketiga wilayah tersebut sama-sama melaporkan adanya kasus kematian, sehingga menimbulkan perhatian publik.

EtIndonesa.com  Pada 8 Juli, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Tiongkok merilis data yang menunjukkan bahwa selama bulan Juni, 31 provinsi, wilayah otonom, kota setingkat provinsi, serta Korps Produksi dan Konstruksi Xinjiang melaporkan 79.000 kasus baru COVID-19 yang terkonfirmasi, termasuk 130 kasus berat dan 1 kematian.

Selain itu, di rumah sakit pemantau (sentinel hospitals), tingkat positif COVID-19 pada pasien dengan gejala mirip influenza yang datang ke unit rawat jalan dan gawat darurat telah meningkat menjadi 6,4%.

CDC Tiongkok juga memperingatkan bahwa dalam beberapa waktu terakhir terjadi peningkatan penyakit infeksi saluran pernapasan, termasuk infeksi akibat:

  • Virus COVID-19,
  • Virus influenza,
  • Rhinovirus,
  • Enterovirus,
  • Virus parainfluenza,
  • Human metapneumovirus (HMPV).

Berita mengenai meningkatnya kembali kasus COVID-19 menjadi topik terpopuler di Weibo. Banyak warganet Tiongkok berkomentar:

“Ternyata COVID-19 masih ada. Kita harus benar-benar menjaga diri.”

“COVID-19 sebenarnya tidak pernah hilang, hanya bermutasi. Saya sendiri baru saja terinfeksi beberapa waktu lalu.”

“Pantas saja sekarang begitu banyak orang yang demam dan flu.”

“Sebenarnya jumlah yang terinfeksi jauh lebih banyak. Enam anggota keluarga saya semuanya terkena COVID-19. Hanya saja rumah sakit tidak lagi melakukan tes, sehingga tidak dilaporkan. Kami mengetahuinya setelah melakukan tes sendiri.”

Hong Kong dan Macau juga mengalami lonjakan

Tidak hanya Tiongkok daratan, Hong Kong dan Macau juga kembali mengalami gelombang peningkatan COVID-19 dalam beberapa waktu terakhir. Jumlah kasus berat maupun kematian terus bertambah.

Pada 2 Juli, Pusat Perlindungan Kesehatan Hong Kong mengumumkan bahwa Hong Kong resmi memasuki musim influenza baru.

Direktur Divisi Penyakit Menular, Au Ka-wing, mengatakan bahwa data pemantauan menunjukkan wabah COVID-19 di Hong Kong terus meningkat sejak bulan Mei. Tingkat tes positif, jumlah pasien yang berobat, serta pasien yang dirawat di rumah sakit semuanya mengalami peningkatan yang signifikan.

Varian yang saat ini mendominasi di masyarakat masih merupakan turunan dari JN.1, termasuk KP.1.1.1 dan SFG.

Menurut Au Ka-wing, sejak Mei hingga saat ini telah tercatat 23 kasus COVID-19 berat atau meninggal pada orang dewasa, dan minggu ini juga muncul dua kasus berat pada anak-anak.

Ia menjelaskan bahwa Hong Kong biasanya mengalami satu siklus peningkatan aktivitas COVID-19 setiap 6 hingga 9 bulan, sehingga diperkirakan dalam beberapa minggu ke depan jumlah infeksi akan terus meningkat, disertai bertambahnya pasien rawat inap, kasus berat, serta klaster penularan di masyarakat dan sekolah.

Sementara itu, pada 5 Juli, Kepala Biro Kesehatan Makau Lo Iek Long mengatakan bahwa setiap tahun biasanya terdapat satu hingga dua periode puncak COVID-19. Saat ini tingkat positif COVID-19 di Macau telah mencapai 25%, yang dinilai cukup tinggi. Ia juga menyatakan bahwa telah muncul kasus berat dan kematian, serta mengimbau masyarakat untuk tetap melakukan langkah-langkah pencegahan.

Keluarga dari Shanghai diduga menyembunyikan kondisi penyakit

Menurut laporan media, sebuah keluarga beranggotakan empat orang asal Shanghai yang baru berwisata ke Hong Kong dan Macau terinfeksi tiga jenis virus, termasuk COVID-19. Seluruh anggota keluarga mengalami demam dan menjalani pengobatan.

Seorang dokter di Macau memperingatkan bahwa kasus infeksi kelompok seperti ini seharusnya dilaporkan kepada pihak berwenang. Namun keluarga tersebut diduga menyembunyikan kondisi kesehatannya dan tetap menaiki pesawat dari Macau menuju Shanghai pada 3 Juli.

Dalam penerbangan, kondisi salah seorang anak memburuk dan mengalami diare terus-menerus hingga mengotori seluruh kabin pesawat. Akibatnya, penumpang maupun awak pesawat berpotensi terpapar infeksi.

Setelah kejadian tersebut terungkap, perhatian masyarakat terhadap meningkatnya kembali penyebaran COVID-19 pun semakin besar.

Dilaporkan oleh Luo Tingting/Disunting oleh Wen Hui

Bukan Amerika! Iran Digempur Pesawat Misterius, Saat Tiongkok Diam-Diam Bersiap Perang?

EtIndonesia.com — Situasi keamanan di Timur Tengah kembali mengalami perkembangan yang mengkhawatirkan setelah sejumlah pangkalan strategis milik Iran di wilayah selatan dilaporkan menjadi sasaran serangan udara pada malam 9 Juli 2026. Yang mengejutkan, hingga kini identitas pihak yang melancarkan operasi tersebut masih belum dapat dipastikan, sehingga memicu berbagai spekulasi di kalangan pengamat militer dan intelijen internasional.

Di saat yang sama, perhatian dunia tidak hanya tertuju pada eskalasi konflik di Timur Tengah. Berbagai laporan intelijen terbaru juga menunjukkan adanya peningkatan aktivitas militer Tiongkok yang dinilai sebagai bagian dari persiapan menghadapi kemungkinan konflik di kawasan Indo-Pasifik, khususnya terkait Taiwan.

Serangan Misterius Menghantam Pangkalan Strategis Iran

Berdasarkan berbagai laporan yang beredar pada 9 Juli 2026, gelombang serangan udara menghantam sejumlah fasilitas militer dan pelabuhan strategis Iran di pesisir selatan Teluk Persia.

Beberapa lokasi yang dilaporkan menjadi sasaran meliputi:

  • Konarak (Konarak);
  • Bandar Abbas;
  • Pulau Qeshm;
  • serta sejumlah fasilitas militer dan logistik penting lainnya.

Wilayah-wilayah tersebut memiliki nilai strategis yang sangat tinggi karena menjadi pusat kekuatan Angkatan Laut Iran, pangkalan logistik militer, serta jalur utama pengawasan terhadap Selat Hormuz—salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.

Besarnya skala operasi membuat banyak analis meyakini bahwa serangan tersebut dirancang secara terkoordinasi dengan dukungan kemampuan intelijen dan militer tingkat tinggi.

Amerika Serikat Membantah Terlibat

Tidak lama setelah laporan serangan muncul, seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan kepada Al Jazeera bahwa operasi tersebut bukan dilakukan oleh militer Amerika Serikat.

Pernyataan itu segera memunculkan berbagai spekulasi mengenai siapa sebenarnya pelaku di balik serangan tersebut, mengingat kemampuan operasi udara dalam skala besar biasanya hanya dimiliki oleh negara-negara dengan kekuatan militer modern.

Penolakan keterlibatan Washington juga dinilai penting karena beberapa hari sebelumnya Amerika Serikat memang masih menjalankan operasi militer terhadap Iran. Oleh sebab itu, klarifikasi tersebut berupaya menghindari kesan bahwa serangan terbaru merupakan bagian dari kampanye militer Amerika.

Dugaan Operasi Gabungan Negara-Negara Arab Teluk

Di sisi lain, Channel 11 Israel, mengutip sumber intelijen, melaporkan bahwa serangan tersebut kemungkinan merupakan operasi gabungan sejumlah negara Arab di kawasan Teluk.

Menurut laporan tersebut, dua negara yang paling sering disebut sebagai pihak yang berpotensi terlibat adalah:

  • Kuwait;
  • Bahrain.

Apabila dugaan tersebut benar, maka operasi ini akan menjadi salah satu perkembangan paling signifikan dalam sejarah keamanan Timur Tengah.

Selama beberapa dekade terakhir, negara-negara Arab umumnya menghindari konfrontasi militer langsung terhadap wilayah Iran. Mereka lebih memilih pendekatan diplomatik, kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat, atau menggunakan jalur tidak langsung melalui aliansi regional.

Karena itu, apabila serangan tersebut benar-benar dilakukan oleh negara-negara Arab, maka peristiwa ini akan menandai perubahan besar dalam pola hubungan keamanan kawasan.

Media Iran Mulai Menuding Negara Arab

Sejumlah media Iran juga mulai mengarahkan dugaan kepada beberapa negara Arab sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Meski hingga kini belum ada bukti resmi yang dipublikasikan mengenai identitas pelaku, berkembangnya tudingan tersebut menunjukkan meningkatnya ketegangan politik di kawasan.

Para analis menilai bahwa apabila tuduhan tersebut terbukti, maka Timur Tengah berpotensi memasuki babak baru yang lebih kompleks karena konflik tidak lagi hanya melibatkan Iran dengan Amerika Serikat atau Israel, tetapi juga membuka kemungkinan konfrontasi langsung antara Iran dan sejumlah negara Arab Teluk.

Situasi demikian berpotensi mengubah keseimbangan keamanan regional yang selama bertahun-tahun bertumpu pada pola saling menahan diri di antara para aktor utama kawasan.

Dunia Menunggu Kemunculan Perdana Pemimpin Baru Iran

Di tengah meningkatnya ketegangan militer, perhatian komunitas internasional juga tertuju pada perkembangan politik di dalam negeri Iran.

Mantan Wakil Direktur Kantor Antiterorisme Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Larry Johnson, dalam wawancaranya dengan analis Mario Nawfal, mengatakan bahwa perkembangan paling penting justru diperkirakan terjadi pada hari berikutnya.

Menurut laporan Kantor Berita Tasnim, pemimpin tertinggi Iran yang baru—yang dalam laporan tersebut dijuluki sebagai “Khamenei Muda” (Little Khamenei)—dijadwalkan memimpin upacara doa peringatan di Kota Qom.

Acara tersebut diperkirakan menjadi penampilan publik pertamanya sejak resmi menggantikan posisi pemimpin sebelumnya.

Penampilan Perdana Dianggap Sangat Berisiko

Kemunculan perdana pemimpin baru Iran dipandang sebagai salah satu momen paling sensitif dalam situasi keamanan saat ini.

Sebelumnya, Israel secara terbuka pernah menyatakan bahwa kepemimpinan baru Iran tetap menjadi bagian dari sasaran strategis apabila konflik terus berlanjut.

Karena itu, berbagai pihak memperkirakan pengamanan terhadap acara di Kota Qom akan dilakukan secara sangat ketat.

Para analis menilai bahwa setiap insiden sekecil apa pun pada acara tersebut berpotensi memicu eskalasi baru yang dapat memperluas konflik di kawasan.

Dunia Tidak Hanya Mengawasi Timur Tengah

Di saat perhatian internasional terpusat pada konflik Iran, berbagai lembaga pertahanan juga terus memantau perkembangan terbaru di Tiongkok.

Dalam beberapa pekan terakhir muncul sejumlah laporan yang dinilai menunjukkan meningkatnya kesiapan militer Beijing menghadapi kemungkinan konflik di kawasan Indo-Pasifik.

Salah satu perkembangan yang paling banyak dibahas berasal dari hasil penelitian terbaru yang dilakukan U.S. Air Force University.

Analisis Satelit Ungkap Pembangunan Silo Rudal Baru

Perubahan Doktrin Militer Dinilai Mulai Terlihat

Melalui analisis citra satelit, peneliti Tuck Beighle menemukan adanya pembangunan sejumlah silo rudal baru di kawasan pangkalan uji coba rudal Gurantai, Mongolia Dalam.

Temuan tersebut segera menarik perhatian para analis pertahanan karena karakteristik konstruksi silo yang dibangun berbeda dibandingkan fasilitas rudal strategis Tiongkok sebelumnya.

Pada masa lalu, silo untuk rudal balistik antarbenua DF-5 umumnya memiliki kedalaman sekitar 40 meter.

Sebaliknya, silo generasi terbaru yang ditemukan hanya memiliki kedalaman sekitar 6 hingga 12 meter.

Ukuran tersebut dinilai lebih sesuai untuk menyimpan rudal balistik jarak menengah dibandingkan rudal antarbenua.

Menurut sejumlah analis militer, pembangunan fasilitas tersebut menunjukkan kemungkinan adanya perubahan dalam doktrin operasional Pasukan Roket Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA Rocket Force).

Selama bertahun-tahun, rudal konvensional Tiongkok sebagian besar ditempatkan pada kendaraan peluncur bergerak sehingga dapat berpindah lokasi untuk menghindari deteksi satelit maupun pesawat pengintai.

Namun sistem tersebut memerlukan waktu lebih lama untuk mempersiapkan peluncuran.

Sebaliknya, rudal yang ditempatkan di dalam silo permanen dapat diluncurkan jauh lebih cepat karena sebagian besar proses persiapan telah dilakukan sebelumnya.

Dengan sistem tersebut, rudal dapat ditembakkan hanya beberapa saat setelah menerima perintah operasi.

Meski demikian, penggunaan silo permanen juga memiliki kelemahan besar.

Lokasinya bersifat tetap sehingga apabila koordinatnya telah diketahui lawan, fasilitas tersebut akan menjadi sasaran yang relatif mudah diserang.

Karena itu, sebagian analis menilai bahwa pembangunan silo baru ini kemungkinan dirancang untuk mendukung kemampuan melakukan serangan awal atau preemptive strike apabila konflik besar benar-benar pecah, khususnya di sekitar Taiwan maupun kawasan First Island Chain.

Simulasi Perang Siber Ungkap Kerentanan Infrastruktur Amerika

Perkembangan lain yang juga menarik perhatian berasal dari Amerika Serikat.

Baru-baru ini, industri asuransi Amerika menggelar sebuah simulasi krisis tertutup (war game) yang menggambarkan skenario konflik pada 1 Juli 2027.

Dalam simulasi tersebut, kelompok peretas yang disebut berafiliasi dengan Partai Komunis Tiongkok digambarkan berhasil menyusup dan melumpuhkan sekitar 5.000 fasilitas penyedia air bersih di berbagai wilayah Amerika Serikat sebelum pecahnya konflik di Selat Taiwan.

Dampak Simulasi Sangat Mengkhawatirkan

Skenario tersebut menunjukkan bahwa hanya dalam waktu dua hari, gangguan terhadap infrastruktur air dapat memicu krisis nasional.

Beberapa dampak yang digambarkan antara lain:

  • jaringan distribusi air bersih mengalami kerusakan berantai;
  • sistem rantai pendingin (cold chain) berhenti beroperasi;
  • produksi obat-obatan penting, termasuk insulin, terganggu;
  • rumah sakit kehilangan pasokan air bersih;
  • evakuasi pasien dalam jumlah besar harus dilakukan secara darurat.

Dalam simulasi itu, militer Amerika Serikat kemudian mengambil alih sebagian pengelolaan sumber daya nasional dan meminta agar pasokan yang masih tersedia diprioritaskan untuk mendukung kesiapan menghadapi kemungkinan perang di Selat Taiwan.

Kondisi tersebut memunculkan dilema strategis yang sangat besar, yakni apakah sumber daya yang terbatas harus diprioritaskan untuk melindungi masyarakat sipil dan layanan kesehatan, atau dialihkan guna mendukung operasi militer apabila konflik benar-benar terjadi.

Peringatan Mengenai Ancaman Siber

Kekhawatiran tersebut bukan muncul tanpa dasar.

Mantan Direktur Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA), Jen Easterly, sebelumnya telah memperingatkan bahwa kelompok peretas yang diduga berafiliasi dengan Tiongkok telah lama menyusup ke berbagai infrastruktur penting Amerika Serikat.

Menurutnya, jaringan tersebut diduga tidak selalu bertujuan melakukan serangan secara langsung, melainkan mempertahankan akses ke sistem-sistem vital sehingga dapat diaktifkan sewaktu-waktu apabila terjadi krisis besar, termasuk kemungkinan konflik di Selat Taiwan.

Peringatan tersebut semakin memperkuat pandangan sejumlah analis bahwa persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok kini tidak hanya berlangsung di bidang militer, tetapi juga mencakup ruang siber, infrastruktur sipil, logistik, serta ketahanan nasional secara menyeluruh.

Dengan meningkatnya ketegangan secara bersamaan di Timur Tengah dan Indo-Pasifik, banyak pengamat menilai bahwa dinamika geopolitik global memasuki fase yang semakin kompleks. Setiap perkembangan baru, baik berupa operasi militer maupun serangan siber, berpotensi memberikan dampak luas terhadap stabilitas keamanan internasional. (***)

Ultimatum Terakhir Trump, Iran Hanya Punya Waktu Sebentar, Dua Kapal Induk AS Mengepung 

EtIndonesia.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase yang sangat genting. Meski dalam dua hari terakhir kedua negara kembali terlibat bentrokan militer yang intens, Washington menegaskan bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya ditutup. 

Di sisi lain, Amerika Serikat juga mengaku telah menyiapkan berbagai opsi militer apabila pembicaraan gagal menghasilkan kesepakatan.

Perkembangan terbaru ini terjadi di tengah meningkatnya aktivitas militer di kawasan Teluk Persia, munculnya laporan mengenai dugaan konflik internal di pemerintahan Iran, hingga peringatan keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memberikan tenggat waktu kepada Teheran untuk memenuhi sejumlah tuntutan strategis.

Washington Klaim Diplomasi Masih Menjadi Prioritas

Sejumlah pejabat pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa bentrokan bersenjata yang terjadi dalam beberapa hari terakhir tidak otomatis mengakhiri proses negosiasi antara Washington dan Teheran.

Menurut para pejabat tersebut, pemerintahan Presiden Donald Trump masih memandang diplomasi sebagai jalur utama untuk menyelesaikan krisis yang terus berkembang. Namun, pada saat yang sama, Pentagon tetap mempertahankan kesiapan tempur apabila pembicaraan mengalami kegagalan.

Dalam pernyataannya pada Jumat, 10 Juli 2026, Donald Trump mengatakan bahwa Iran telah meminta agar perundingan kedua negara dilanjutkan dan pemerintah Amerika Serikat bersedia memenuhi permintaan tersebut.

Meski demikian, Trump menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata sebelumnya sudah tidak lagi berlaku. Washington kini menginginkan adanya komitmen baru yang lebih jelas dari pemerintah Iran apabila ingin melanjutkan proses diplomatik.

Iran Membantah Adanya Putaran Baru Negosiasi

Tidak lama setelah pernyataan Trump disampaikan, pemerintah Iran memberikan tanggapan yang bertolak belakang.

Salah seorang anggota senior tim perunding Iran, Mohammad Marandi, membantah laporan yang menyebutkan bahwa Amerika Serikat dan Iran tengah mempersiapkan putaran baru negosiasi pada pekan depan.

Menurut Marandi, informasi tersebut sama sekali tidak benar.

Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan kembali ke meja perundingan selama Amerika Serikat belum memenuhi komitmen yang sebelumnya telah disepakati.

Pernyataan tersebut kembali memperlihatkan perbedaan narasi yang disampaikan kedua negara mengenai arah hubungan diplomatik mereka.

Dugaan Perpecahan di Kalangan Elite Iran

Di tengah tarik-ulur negosiasi, perhatian para analis internasional mulai tertuju pada situasi politik dalam negeri Iran.

Sejumlah pengamat menilai bahwa perbedaan pandangan di antara kelompok elite pemerintahan semakin tajam sehingga menyulitkan tercapainya kesepakatan dengan Amerika Serikat.

Pada 10 Juli 2026, media Amerika Axios melaporkan adanya dugaan bahwa sejumlah tokoh garis keras di dalam pemerintahan Iran secara aktif berusaha menggagalkan proses perundingan nuklir.

Menurut laporan tersebut, terdapat kelompok yang meyakini bahwa setiap bentuk kompromi dengan Washington justru akan melemahkan posisi strategis Iran di kawasan.

Serangan di Selat Hormuz Diduga Dilakukan Kelompok Garis Keras

Mengutip informasi dari sejumlah mediator internasional, laporan tersebut menyebut bahwa serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz dalam beberapa waktu terakhir diduga dilakukan oleh unsur-unsur garis keras di dalam pemerintahan Iran.

Kelompok tersebut disebut menolak segala bentuk perundingan dengan Amerika Serikat dan diyakini berusaha menciptakan situasi yang membuat kesepakatan damai menjadi mustahil tercapai.

Apabila dugaan ini benar, maka insiden-insiden keamanan di Selat Hormuz bukan semata-mata merupakan respons terhadap tekanan eksternal, melainkan juga mencerminkan dinamika politik internal Iran.

Sejumlah Tokoh Garis Keras Disebut Terlibat

Laporan tersebut menyebut beberapa tokoh yang diduga berada di balik upaya menggagalkan proses negosiasi, antara lain:

  • Komandan Garda Revolusi Iran (IRGC), Masidi.
  • Saeed Jalili, yang disebut sebagai perwakilan Iran di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.
  • Zolghadr, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
  • Beberapa tokoh garis keras lainnya yang selama ini dikenal menolak dialog dengan Amerika Serikat.

Disebutkan pula bahwa setelah pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, kelompok tersebut menghadiri sebuah pertemuan di Mashhad dan menyampaikan kritik keras terhadap Presiden Masoud Pezeshkian serta Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf.

Dalam pertemuan itu juga dilaporkan muncul ancaman akan melakukan aksi balasan terhadap Israel.

Laporan Intelijen Israel Mengenai Dugaan Ancaman terhadap Trump

Perkembangan lain yang menyita perhatian datang dari laporan The Wall Street Journal yang mengutip sumber intelijen anonim.

Media tersebut melaporkan bahwa Israel telah menyerahkan informasi rahasia kepada pemerintah Amerika Serikat mengenai dugaan rencana pembunuhan terhadap Presiden Donald Trump.

Trump kemudian mengonfirmasi bahwa dirinya memang menerima informasi mengenai ancaman tersebut.

Dalam pernyataannya, ia mengatakan bahwa dirinya telah lama menjadi salah satu target utama pemerintah Iran.

Namun hingga kini, rincian mengenai dugaan rencana tersebut belum diumumkan secara resmi oleh otoritas Amerika Serikat maupun Israel.

Trump Keluarkan Ancaman Balasan

Masih berkaitan dengan laporan tersebut, sejumlah sumber intelijen Israel mengklaim bahwa operasi tersebut diduga dirancang oleh unsur Garda Revolusi Iran dan akan dijalankan melalui salah satu unit Pasukan Quds.

Laporan itu juga menyebut bahwa rencana tersebut diduga telah berhasil digagalkan.

Menanggapi perkembangan tersebut, Trump mengeluarkan peringatan yang sangat keras.

Ia menyatakan bahwa apabila dirinya menjadi korban serangan yang melibatkan Iran, maka ia telah meninggalkan instruksi agar Amerika Serikat memberikan respons militer dengan kekuatan yang jauh lebih besar dibandingkan seluruh operasi sebelumnya.

Fokus Operasi Militer AS Dinilai Mengarah ke Garda Revolusi Iran

Sementara itu, sejumlah analis militer menilai pola operasi Amerika Serikat dalam dua hari terakhir menunjukkan perubahan sasaran.

Jika sebelumnya fokus diarahkan pada infrastruktur militer dan fasilitas strategis Iran, kini perhatian Washington dinilai semakin terpusat pada struktur komando Garda Revolusi Iran (IRGC).

Media Iran melaporkan bahwa sejumlah petinggi Garda Revolusi kini berlindung di bunker-bunker bawah tanah.

Di saat bersamaan, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menyatakan bahwa bom penghancur bunker generasi terbaru telah dipersiapkan apabila diperlukan dalam operasi berikutnya.

Serangan Misterius ke Sejumlah Basis Militer Iran

Pada malam 9 Juli 2026, sejumlah pangkalan Garda Revolusi Iran di wilayah selatan dilaporkan menjadi sasaran serangan udara.

Target yang disebut terdampak antara lain berada di:

  • Baruk,
  • Chabahar,
  • Bandar Abbas,
  • Konarak,
  • dan Kerman.

Yang menarik, berbagai laporan menyebut operasi tersebut bukan dilakukan oleh militer Amerika Serikat.

Beberapa media bahkan mengindikasikan kemungkinan keterlibatan Kuwait dan Bahrain, meskipun hingga kini tidak ada konfirmasi resmi dari pemerintah kedua negara.

Karena identitas pelaku belum diketahui, sebagian media internasional menjuluki operasi tersebut sebagai serangan “ghost fighters” atau “pesawat tempur hantu”.

Ledakan Besar dan Aktivitas Nuklir Kembali Menjadi Sorotan

Pada hari yang sama, sebuah pabrik petrokimia di wilayah barat daya Iran dilaporkan mengalami ledakan besar yang memicu kebakaran luas.

Sementara itu, CNN melaporkan hasil analisis citra satelit terbaru yang menunjukkan adanya aktivitas pembangunan kembali di beberapa fasilitas yang diduga berkaitan dengan program nuklir Iran.

Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah Fasilitas Taleghan-2 di Kompleks Militer Parchin, yang menurut sejumlah analis memperlihatkan tanda-tanda rekonstruksi.

Fasilitas tersebut sejak lama menjadi perhatian komunitas internasional karena diduga memiliki hubungan dengan penelitian bahan peledak khusus yang dapat digunakan dalam pengembangan senjata nuklir.

Dua Kapal Induk AS Bergerak Mendekati Iran

Perkembangan lain yang tidak kalah penting adalah dilaporkannya kembalinya dua kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln dan USS George H.W. Bush, ke kawasan Teluk Oman.

Menurut laporan tersebut, posisi kedua kapal induk kini berada sekitar 170 kilometer dari garis pantai Iran, menjadikannya salah satu penempatan kapal induk Amerika yang paling dekat dengan wilayah Iran dalam sejarah modern.

Setiap kapal induk Amerika mampu membawa sekitar 60 hingga 90 pesawat tempur serta ribuan personel Angkatan Laut, sehingga keberadaan dua kapal induk sekaligus dipandang sebagai sinyal militer yang sangat kuat.

Analisis: Tekanan Militer Terus Ditingkatkan

Banyak pengamat menilai penempatan kekuatan laut tersebut menunjukkan bahwa Washington tengah meningkatkan tekanan strategis terhadap Teheran.

Beberapa skenario yang banyak dibahas di kalangan analis antara lain:

  • kemungkinan memperketat pengawasan atau bahkan memblokade Selat Hormuz;
  • meningkatkan operasi laut di Teluk Persia;
  • hingga kemungkinan operasi terhadap Pulau Khark yang merupakan pusat ekspor minyak utama Iran.

Meski demikian, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Amerika Serikat yang mengonfirmasi adanya rencana operasi tersebut.

F-22 Dipindahkan dari Israel ke Inggris

Pada 10 Juli 2026, dilaporkan pula bahwa sekitar sepuluh pesawat tempur siluman F-22 Raptor dipindahkan dari Pangkalan Udara Ovda, Israel, menuju RAF Fairford, Inggris.

Para analis menilai langkah tersebut kemungkinan merupakan bagian dari strategi penyebaran ulang aset udara guna mengurangi risiko apabila Iran melancarkan serangan balasan terhadap Israel.

Washington Siapkan Tekanan Ekonomi Baru

Di bidang ekonomi, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan bahwa Washington akan terus menggunakan seluruh instrumen ekonomi untuk mengisolasi para pemimpin Iran dari sistem keuangan internasional.

Menurutnya, pemerintah Amerika akan memperketat pembatasan terhadap akses finansial para pejabat senior Iran sekaligus menegaskan bahwa aset-aset yang dibekukan pada akhirnya ditujukan untuk kepentingan rakyat Iran.

Trump Berikan Ultimatum Hingga 11 Juli 2026

Pada sore Jumat, 10 Juli 2026, Presiden Donald Trump kembali mengeluarkan ultimatum kepada pemerintah Iran.

Ia meminta agar pada Sabtu, 11 Juli 2026, Iran secara terbuka menyatakan dua komitmen utama:

  1. Menjamin Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional.
  2. Menghentikan seluruh serangan terhadap kapal-kapal dagang di kawasan.

Trump memperingatkan bahwa apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi, Iran akan menghadapi konsekuensi yang disebutnya “sangat berat dan menghancurkan.”

Situasi Masih Sangat Dinamis

Hingga 11 Juli 2026, situasi di kawasan Timur Tengah masih berkembang dengan cepat. Di satu sisi, Washington menegaskan bahwa pintu diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Namun di sisi lain, pengerahan kekuatan militer dalam skala besar, meningkatnya aktivitas armada laut Amerika Serikat, serta saling mengeluarkan ancaman antara kedua negara menunjukkan bahwa risiko terjadinya eskalasi konflik tetap sangat tinggi.

Para pengamat menilai beberapa hari ke depan akan menjadi periode yang sangat menentukan, baik bagi masa depan negosiasi nuklir maupun bagi stabilitas keamanan di kawasan Teluk Persia secara keseluruhan. (***)

Baru Saja Khamenei Dimakamkan, Oposisi Iran Langsung Menyerang, Babak Baru di Timur Tengah? 

EtIndonesia.com— Situasi keamanan di Timur Tengah kembali mengalami eskalasi tajam setelah serangkaian insiden terjadi hampir secara bersamaan di Iran. Hanya beberapa jam setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dimakamkan pada 9 Juli 2026, sebuah serangan bersenjata mengguncang Kota Mashhad. Pada waktu yang hampir bersamaan, muncul laporan mengenai serangan udara terhadap sejumlah wilayah strategis di pesisir selatan Iran, sehingga meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Teluk.

Berbagai laporan yang beredar menyebutkan bahwa kelompok oposisi Iran yang selama beberapa waktu terakhir nyaris tidak terdengar aktivitasnya diduga kembali muncul melalui sebuah operasi bersenjata yang dianggap memiliki nilai simbolis tinggi. Sementara itu, sejumlah media regional juga melaporkan adanya operasi militer terhadap beberapa titik strategis Iran, meskipun hingga kini sebagian informasi tersebut masih belum memperoleh konfirmasi resmi dari seluruh pihak yang disebut terlibat.

Serangan Terjadi Beberapa Jam Setelah Pemakaman Ali Khamenei

Pada larut malam 9 Juli 2026, Kota Mashhad, kota terbesar kedua di Iran sekaligus pusat keagamaan utama bagi umat Muslim Syiah, masih dipenuhi ribuan pelayat yang mengikuti rangkaian prosesi berkabung atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei.

Di kawasan Kompleks Makam Imam Reza, salah satu situs paling suci dalam tradisi Syiah, para pendukung Khamenei masih memanjatkan doa, membaca Al-Qur’an, serta memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin yang selama puluhan tahun memegang posisi tertinggi dalam struktur politik dan keagamaan Iran.

Namun suasana duka tersebut berubah drastis ketika suara rentetan tembakan tiba-tiba memecah keheningan malam.

Menurut laporan media Iran, insiden terjadi sekitar beberapa ratus meter di sebelah selatan kompleks pemakaman. Dua pria yang disebut mengenakan seragam militer dilaporkan muncul secara tiba-tiba dari area yang minim penerangan sebelum melepaskan tembakan ke arah sebuah pos pemeriksaan yang dijaga oleh anggota milisi Basij, organisasi paramiliter yang berada di bawah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Serangan berlangsung dalam waktu yang sangat singkat, tetapi menimbulkan dampak yang besar.

Para petugas di pos pemeriksaan dilaporkan tidak memiliki cukup waktu untuk melakukan pertahanan secara efektif. Seorang anggota Basij disebut tewas seketika akibat tembakan pertama, sementara personel lainnya berusaha membalas serangan di tengah situasi yang sangat kacau.

Dalam hitungan menit, sedikitnya empat anggota milisi Basij dilaporkan mengalami luka tembak serius. Seluruh korban sempat dievakuasi ke rumah sakit terdekat, namun kemudian dinyatakan meninggal dunia akibat luka yang mereka alami.

Setelah melancarkan aksinya, kedua pelaku dilaporkan segera melarikan diri sebelum aparat keamanan berhasil mengepung lokasi kejadian.

Aparat Iran Gelar Operasi Pengejaran Besar-Besaran

Tidak lama setelah insiden terjadi, aparat keamanan Iran langsung melaksanakan operasi pencarian berskala besar di seluruh wilayah Mashhad.

Pos-pos pemeriksaan tambahan didirikan di berbagai akses keluar-masuk kota, sementara pemeriksaan kendaraan diperketat guna mencegah para pelaku meloloskan diri.

Beberapa ruas jalan utama juga dilaporkan ditutup sementara sebagai bagian dari upaya pengejaran.

Selain kepolisian, pasukan keamanan serta unsur intelijen Iran turut diterjunkan untuk memburu para penyerang.

Hingga laporan ini disusun pada 10 Juli 2026, pemerintah Iran belum mengumumkan adanya penangkapan maupun identitas resmi para pelaku.

Sejumlah pengamat menilai bahwa apabila keterlibatan kelompok oposisi benar terbukti, maka serangan tersebut memiliki makna simbolis yang sangat besar karena dilakukan tepat ketika proses berkabung nasional atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei masih berlangsung.

Menurut mereka, pemilihan waktu dan lokasi serangan mengindikasikan adanya upaya untuk menunjukkan bahwa kelompok oposisi masih memiliki kemampuan melakukan operasi bersenjata di dalam wilayah Iran.

Lima Wilayah Strategis di Sekitar Selat Hormuz Dilaporkan Menjadi Sasaran Serangan

Di tengah berlangsungnya operasi keamanan di Mashhad, perhatian dunia kembali tertuju ke wilayah selatan Iran.

Media Channel 11 Israel melaporkan bahwa Kuwait dan Bahrain diduga melaksanakan operasi serangan udara bersama terhadap lima wilayah strategis Iran yang berada di sekitar Selat Hormuz.

Lima lokasi yang disebut menjadi sasaran meliputi:

  • Bandar Abbas
  • Pulau Qeshm
  • Konarak
  • Sirik
  • Jask

Seluruh kawasan tersebut memiliki arti yang sangat penting bagi strategi pertahanan Iran.

Selain menjadi pusat aktivitas ekonomi dan perdagangan maritim, wilayah-wilayah tersebut juga merupakan lokasi berbagai pangkalan militer, fasilitas logistik, sistem pertahanan pantai, serta jalur distribusi yang selama ini mendukung kemampuan operasi Angkatan Laut Iran di kawasan Teluk Persia.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara Teluk melewati selat ini, sehingga setiap perkembangan militer di kawasan tersebut selalu mendapat perhatian besar dari komunitas internasional.

Hingga saat ini belum terdapat pernyataan resmi dari pemerintah Kuwait maupun Bahrain yang mengonfirmasi laporan mengenai operasi tersebut.

Markas Militer di Bushehr Dilaporkan Mengalami Kerusakan Berat

Laporan lain juga muncul dari Provinsi Bushehr, wilayah yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat infrastruktur strategis Iran.

Menurut Al Jazeera, sebuah markas militer di provinsi tersebut dilaporkan mengalami kerusakan cukup berat akibat serangan yang belum diketahui pelakunya.

Pemerintah Amerika Serikat segera memberikan klarifikasi dengan menyatakan bahwa Washington tidak terlibat dalam operasi tersebut.

Karena hingga kini tidak ada pihak yang mengaku bertanggung jawab, sejumlah analis keamanan menduga bahwa serangan itu kemungkinan dilakukan oleh aktor regional yang sama dengan pihak yang disebut menyerang wilayah pesisir selatan Iran. Namun dugaan tersebut masih bersifat spekulatif dan belum dapat diverifikasi secara independen.

Apabila laporan mengenai keterlibatan negara-negara Teluk benar, maka perkembangan tersebut akan menandai babak baru dalam dinamika keamanan kawasan, karena semakin banyak negara di kawasan yang disebut terlibat secara langsung dalam konfrontasi terhadap Iran.

Israel Perkirakan Konfrontasi Amerika Serikat dan Iran Belum Akan Berakhir

Di tengah meningkatnya eskalasi konflik, Israel Public Broadcasting Corporation (KAN) melaporkan bahwa para pejabat keamanan Israel memperkirakan aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran masih akan berlanjut dalam beberapa hari mendatang.

Menurut laporan tersebut, Israel telah menyatakan kesiapan untuk memberikan dukungan apabila Washington memutuskan memperluas operasi militernya terhadap Iran.

Meski demikian, keputusan mengenai kemungkinan keterlibatan militer Israel dalam operasi lanjutan disebut masih bergantung pada persetujuan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, beserta pertimbangan strategis pemerintahannya.

Sejumlah analis menilai bahwa setiap keputusan Washington dalam beberapa hari ke depan akan sangat menentukan arah perkembangan konflik di Timur Tengah.

Pakar Timur Tengah Soroti Strategi Menghadapi IRGC

Pada 10 Juli 2026, analis Timur Tengah asal Uni Emirat Arab, Amjad Taha, menyampaikan pandangannya melalui akun resminya di platform X.

Dalam pernyataannya, Taha menilai bahwa Israel memiliki kemampuan intelijen yang sangat kuat dalam memantau aktivitas Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Menurutnya, kemampuan tersebut memungkinkan Israel melakukan identifikasi serta penargetan terhadap tokoh-tokoh penting IRGC dengan tingkat akurasi yang tinggi.

Ia juga berpendapat bahwa keberhasilan operasi-operasi semacam itu akan memperkuat posisi Amerika Serikat dalam menghadapi Iran, baik dari sisi militer maupun diplomatik.

Taha menggambarkan konflik yang sedang berlangsung bukan sekadar sebagai persaingan geopolitik biasa, melainkan sebagai bagian dari upaya menghadapi ancaman yang menurut pandangannya berkaitan dengan ekstremisme di kawasan.

Dalam komentarnya, ia bahkan menyampaikan saran langsung kepada Presiden Donald Trump agar tidak lagi memberikan ruang bagi berbagai upaya mediasi yang dinilai hanya akan memperpanjang proses tanpa menghasilkan penyelesaian yang nyata.

Situasi Masih Sangat Dinamis

Hingga 10 Juli 2026, situasi keamanan di Iran dan kawasan Teluk masih berkembang dengan cepat.

Sebagian laporan mengenai serangan di Mashhad telah diberitakan oleh media Iran, sementara informasi mengenai serangan udara terhadap sejumlah wilayah strategis di Iran masih berasal dari laporan media dan belum seluruhnya memperoleh konfirmasi resmi dari semua pihak yang disebut terlibat.

Dengan meningkatnya aktivitas militer, operasi keamanan, serta berbagai pernyataan dari pejabat regional maupun internasional, kawasan Timur Tengah kembali memasuki fase yang sangat sensitif. Para pengamat memperingatkan bahwa setiap perkembangan baru dalam beberapa hari mendatang berpotensi menentukan arah konflik yang lebih luas di kawasan itu.  (***)

Kebakaran Terjadi di Pabrik Sepatu Jinjiang, Tiongkok, Pendaki Tebing Menyelamatkan Tiga Orang dengan Memanjat Dinding

Sebuah pabrik sepatu di Kota Jinjiang, Quanzhou, Provinsi Fujian, Tiongkok dilanda kebakaran hebat dalam beberapa hari terakhir. Api dengan cepat melalap seluruh gedung dan menyebabkan banyak pekerja terjebak di dalam. Di tengah situasi darurat, seorang penggemar panjat tebing yang kebetulan melintas memanjat dinding luar bangunan dengan tangan kosong dan berhasil menyelamatkan tiga orang yang terjebak.

EtIndonesia.com  Pada sekitar pukul 12.00 siang, 9 Juli, kebakaran terjadi di fasilitas produksi Huiteng Footwear Co., Ltd. Karena di dalam pabrik terdapat banyak bahan baku sepatu yang mudah terbakar, api dengan cepat membesar. Kobaran api terlihat menyembur keluar dari jendela lantai lima dan enam, sementara asap hitam tebal membumbung tinggi dan menyelimuti seluruh bangunan.

Video yang beredar memperlihatkan banyak pekerja terjebak di dalam gedung maupun di jalur evakuasi. Puluhan orang terpaksa naik ke atap untuk menyelamatkan diri.

Sebagian pekerja dilaporkan terhalang oleh teralis besi di jendela sehingga tidak dapat keluar. Ada pula yang bergelantungan di tepi atap sebelum akhirnya terjatuh. Rekaman video menunjukkan situasi yang sangat mencekam.

Meskipun petugas pemadam kebakaran berada di lokasi, menurut laporan tersebut tidak terlihat penggunaan bantalan udara penyelamat untuk evakuasi dari ketinggian.

Pendaki tebing menyelamatkan tiga korban

Di tengah keadaan darurat itu, seorang pendaki tebing bermarga Wang bersama temannya kebetulan melintas di lokasi.

Mereka menggunakan teralis baja anti maling di bagian luar bangunan sebagai pijakan untuk memanjat dinding.

Saat itu, sepasang suami istri terjebak di sebuah kamar di lantai tiga. Koridor dipenuhi asap tebal sehingga mereka tidak dapat keluar.

Wang kemudian menarik dan membuka teralis jendela dari luar dengan sekuat tenaga sehingga tercipta jalur bagi pasangan tersebut untuk menyelamatkan diri.

Setelah itu, Wang mengambil tali panjat profesional dari mobilnya, naik ke atap gedung, lalu menurunkan tali hingga ke jendela lantai lima dan berhasil membantu seorang perempuan muda keluar dengan selamat.

Dugaan titik awal kebakaran

Menurut pemilik sebuah restoran hot pot di dekat lokasi yang mengutip kesaksian para pekerja yang berhasil selamat, api diduga berasal dari bengkel pemotongan bahan di lantai satu.

Karena proses produksi sepatu melibatkan banyak bahan yang mudah terbakar, seperti area jahit dan pembentukan sepatu, api dengan cepat menyebar dan sulit dikendalikan.

Saksi mata mengaku melihat korban di atap

Seorang saksi yang berada sekitar 500 meter dari lokasi mengatakan kepada Epoch Times bahwa ia menyaksikan sendiri kepanikan orang-orang yang berlindung di atap gedung.

Menurutnya, api menjalar dari lantai satu hingga lantai enam. Ia mengklaim bahwa jenazah orang-orang yang berlindung di sekitar menara air di atap baru mulai dievakuasi oleh petugas pemadam kebakaran sekitar pukul 18.00, dan menyebut pemandangan di lokasi sangat memilukan.

Korban dan penyelidikan

Menurut keterangan resmi yang dikutip dalam artikel, saat kebakaran terjadi terdapat 237 karyawan dan 2 orang tamu di lokasi.

Sebanyak 213 orang berhasil dievakuasi, sementara 28 orang dilaporkan meninggal dunia.

Namun, artikel tersebut juga menyebut bahwa beberapa saksi mata mempertanyakan angka korban resmi. Mereka berpendapat bahwa kebakaran sangat besar, asap beracun memenuhi bangunan, dan insiden terjadi saat jam makan siang sehingga banyak pekerja terjebak di jalur evakuasi.

Berdasarkan informasi publik, Huiteng Footwear Co., Ltd. didirikan pada tahun 2015 dan bergerak di bidang produksi produk kulit serta alas kaki, dengan modal terdaftar sebesar 10 juta yuan.

Setelah kejadian, menurut laporan tersebut, penanggung jawab perusahaan dan pihak-pihak terkait telah diamankan oleh polisi untuk diperiksa, sementara rekening perusahaan telah dibekukan.

Dilaporkan oleh Li Yun/Disunting oleh Xia He

Tragedi Jendela Pesawat Pecah di Udara, Kepala Pria Terhisap Keluar dari Pesawat 

Menurut laporan New Tang Dynasty (NTD) yang mengutip AFP dan Reuters, pada 10 Juli sebuah jendela pesawat milik Ryanair tiba-tiba pecah saat penerbangan. Akibat tekanan udara yang berubah drastis, kepala seorang penumpang pria berusia sekitar 60 tahun sempat tersedot keluar dari kabin. Berkat sabuk pengaman yang masih terpasang serta bantuan istrinya dan penumpang lain, pria tersebut berhasil diselamatkan dan tidak mengalami cedera yang mengancam jiwa.

EtIndonesia.com Pesawat Boeing 737 dengan nomor penerbangan FR1879 itu lepas landas dari Bandara Internasional Thessaloniki Yunani menuju Bandara Memmingen, negara bagian Bavaria, Jerman.

Sekitar 10 menit setelah lepas landas, ketika pesawat mencapai ketinggian sekitar 16.000 kaki (sekitar 4.900 meter), terdengar suara ledakan keras dari dalam kabin, kemudian salah satu jendela pecah sehingga terjadi depresurisasi (hilangnya tekanan kabin) secara cepat.

Seorang penumpang mengatakan kepada sebuah stasiun radio di Thessaloniki: “Sebagian besar dari kami sedang tidur. Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras, seperti ban yang meletus.”

Penumpang lain bernama Christina menceritakan: “Orang-orang langsung berteriak. Sesaat saya mengira ada yang membuka pintu darurat. Masker oksigen langsung turun, dan tercium bau yang sangat menyengat di dalam kabin.”

Ia juga mengatakan: “Kepala dan bahu seorang penumpang terlihat berada di luar jendela. Untungnya ia tidak melepaskan sabuk pengamannya.”

Menurut laporan, pria berkewarganegaraan Serbia itu tersedot ke arah jendela yang pecah akibat aliran udara yang sangat kuat.

Istrinya terus memegang kedua kakinya selama sekitar lima menit, sementara beberapa penumpang lain membantu menariknya kembali ke dalam kabin.

Setelah pesawat mendarat, pria tersebut dibawa ke rumah sakit. Ia mengalami beberapa luka lecet akibat gesekan serta syok berat, tetapi kondisinya dilaporkan stabil.

Pilot kemudian melakukan pendaratan darurat di Bandara Thessaloniki.

Dalam pernyataannya, Ryanair menyebut insiden tersebut disebabkan oleh lepasnya salah satu jendela pesawat saat penerbangan. Penyebab pasti kejadian itu masih dalam penyelidikan, dan seluruh penumpang telah dipindahkan ke penerbangan lain menuju tujuan akhir mereka.

Sejumlah media Yunani dan Jerman melaporkan bahwa banyak penumpang menduga terjadi kerusakan pada mesin pesawat. Mereka menduga serpihan komponen yang terlepas menghantam jendela akrilik kabin hingga pecah dan menyebabkan hilangnya tekanan kabin. Namun, dugaan tersebut belum dikonfirmasi secara resmi.

Sementara itu, Irish Aviation Authority menyatakan akan bekerja sama dengan otoritas Yunani dan Malta dalam melakukan penyelidikan menyeluruh atas insiden itu. (***)

Kisah Nyata dari Fabel Aeosof “Petani dan Ular” : Pria Zhejiang, Tiongkok Digigit Ular Saat Berusaha Menyelamatkannya

EtIndonesia.com Baru-baru ini, pria bernama Liang berusia 60 tahun dari Ruian, Wenzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok mencoba melepaskan ular besar yang terperangkap, tetapi malah digigit ular tersebut saat ular itu “tercekik.” Ia hanya bisa lolos setelah memotong taring ular tersebut. Setelah kejadian itu, ia mengakui, “Saya membaca kisah ‘Petani dan Ular’ ketika masih kecil, dan saya memahami moral cerita tersebut, tetapi saya tetap digigit.”

Menurut laporan media daratan Tiongkok, pada  3 Juli, tetangga  Liang memasang jaring besar di kebun sayurnya untuk mencegah ayam, bebek, dan angsa mematuk sayuran, tetapi tanpa diduga, seekor ular besar terperangkap di jaring tersebut. Seorang tetangga, yang penakut dan takut ular, meminta bantuan kepada Paman Liang yang pemberani.

Paman Liang bermaksud melepaskan ular itu, tetapi saat tubuhnya masih terperangkap, ular besar itu tiba-tiba menerkam dan menggigit leher Paman Liang. Dalam kesakitan yang luar biasa, Paman Liang segera meraih “titik tujuh inci” (titik di lehernya) ular itu dan berjuang untuk melepaskan diri. Namun, ular itu tidak mau melepaskan gigitannya. Marah, Paman Liang menyuruh seseorang membawa gunting dan memotong gigi ular itu menjadi beberapa bagian sebelum akhirnya ular itu melepaskan gigitannya.

Setelah kejadian itu, Liang pergi ke Institut Penelitian Ular Wenzhou untuk meminta bantuan. Direktur Chen Junbiao memeriksa ular tersebut dan memastikan bahwa itu adalah ular kobra raja (ular tidak berbisa dengan berat sekitar tiga atau empat pon), tetapi gigitan yang “mencekik tenggorokan” ini sangat berbahaya; jika itu adalah ular berbisa, konsekuensinya akan tak terbayangkan.

Paman Liang dengan jujur ​​mengakui bahwa ia merasa sedikit menyesal setelahnya: “Banyak orang di daerah pedesaan yang percaya takhayul dan yakin bahwa jika ular ditemukan di sekitar rumah, ular itu harus dilepaskan. Kita semua membaca kisah ‘Petani dan Ular’ ketika kita masih muda, dan kita memahami moralnya, tetapi pada akhirnya, kita tetap digigit.”

Direktur Chen Junbiao berkata, “Kita sering menjumpai kisah ‘petani dan ular’ ini.” Terutama di musim panas, banyak ular akan diam-diam menyelinap ke dalam rumah untuk “mendinginkan diri,” dan banyak penduduk mencoba menangkap dan melepaskannya, seringkali malah digigit, yang menyebabkan situasi berbahaya yang sering terjadi.

Misalnya, di Yongjia, pasangan lansia berusia 70-an didatangi ular kobra di rumah mereka. Pasangan lansia itu mencoba menjebak ular itu dengan sapu sebelum melepaskannya, tetapi mereka digigit di kaki dan harus dilarikan ke rumah sakit untuk menyelamatkan diri. Chen Junbiao menekankan bahwa “ular pasti akan menyerang manusia atas inisiatif mereka sendiri,” sebuah aturan emas yang telah mereka pelajari dari merawat ribuan pasien gigitan ular.

Pelajaran dari “Petani dan Ular”

“Petani dan Ular,” dari Fabel Aesop, menceritakan kisah seorang petani yang menemukan ular beku di pinggir jalan pada malam musim dingin yang dingin. Karena kasihan, ia memeluknya untuk menghangatkannya. Namun, ketika ular itu terbangun, ia dengan kejam menggigit petani itu, menyebabkannya meninggal dunia karena racun.

Pesan moral modern dari kisah ini adalah: ketika menghadapi hal-hal berbahaya, seseorang harus selalu waspada dan menjaga jarak aman. Simpati buta seringkali menyebabkan kehancuran diri dan bencana.

Dilaporkan oleh Li Yun/Disunting oleh Xia He

Tak Ada Kejutan Lagi! Empat Tim Peringkat Teratas FIFA Kuasai Semifinal Piala Dunia 2026

Setelah lebih dari 100 pertandingan, Spanyol akan menghadapi Prancis dan Argentina akan berhadapan dengan Inggris di babak semifinal turnamen Piala Dunia 2026 terbesar dalam sejarah

EtIndonesia.com Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, empat tim dengan peringkat tertinggi sebelum turnamen dimulai menjadi empat tim terakhir yang tersisa menuju semifinal.

Setelah lebih dari 100 pertandingan yang berlangsung selama lebih dari sebulan di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, seluruh kisah kejutan dari tim-tim kuda hitam yang mencuri perhatian sejak fase grup akhirnya berakhir.

Empat tim yang masih bersaing memperebutkan gelar juara dunia sesuai dengan peringkat FIFA sebelum turnamen: Argentina (peringkat 1), Spanyol (peringkat 2), Prancis (peringkat 3), dan Inggris (peringkat 4).

Meskipun seluruh tim kuda hitam dan tim yang sedang naik daun seperti Tanjung Verde, Skotlandia, dan Norwegia telah tersingkir, empat kekuatan sepak bola ini masih menyajikan sejumlah kisah menarik yang berpotensi masuk dalam sejarah olahraga. 

Di antaranya adalah kemungkinan munculnya tim pertama yang berhasil mempertahankan gelar juara dunia secara beruntun sejak 1962, sebuah negara yang meraih gelar Piala Dunia pertamanya sejak 1966, serta tim yang mencatat rekor nirbobol terpanjang dalam sejarah Piala Dunia dan sejauh ini hanya kebobolan satu gol.

Berikut gambaran pertandingan semifinal Piala Dunia FIFA 2026

Spanyol vs Prancis

Dari kawasan Pegunungan Pirenia yang memisahkan kedua negara, rivalitas lintas perbatasan akan tersaji dalam duel “Merah versus Biru” di Dallas.

Mikel Oyarzabal dan Lamine Yamal akan memimpin tim Spanyol menghadapi Kylian Mbappé, Ousmane Dembélé, dan tim Prancis pada 14 Juli pukul 15.00 waktu Timur AS atau Rabu, 15 Juli 2026 pukul 02.00 WIB. 

Di lini depan, babak baru persaingan Sepatu Emas (Golden Boot) akan tersaji ketika Mbappé berusaha mengakhiri turnamen sebagai pencetak gol terbanyak untuk kedua kalinya secara beruntun. Ia memenangkan penghargaan itu pada Piala Dunia 2022 setelah mencetak delapan gol, meskipun Prancis akhirnya kalah dari Argentina yang dipimpin Lionel Messi di partai final.

Prancis kini berupaya menebus kegagalan masa lalu dan meraih gelar Piala Dunia ketiga mereka, sekaligus yang pertama sejak 2018.

Pertandingan ini juga akan menampilkan duel dua tim yang sangat sulit dibobol.

Kiper Spanyol Unai Simón tidak kebobolan satu gol pun dalam lima pertandingan pertama, mencetak rekor baru Piala Dunia dengan 649 menit tanpa kebobolan. Rekor sebelumnya adalah 518 menit yang dicatat kiper Italia Walter Zenga pada Piala Dunia 1990.

Lima laga nirbobol Simón terjadi saat menghadapi Tanjung Verde, Arab Saudi, Uruguay, Austria, dan Portugal.

Satu-satunya pemain yang mampu menaklukkannya sejauh ini adalah penyerang Belgia Charles De Ketelaere, yang mencetak dua gol ketika Belgia mengalahkan Amerika Serikat 4–1. Namun gol telat dari pemain pengganti Spanyol Mikel Merino akhirnya mengantarkan La Roja ke babak berikutnya.

Pertahanan Prancis juga sangat kokoh. Kiper Mike Maignan telah mencatat empat pertandingan tanpa kebobolan. Hingga kini ia hanya kemasukan dua gol, keduanya terjadi pada fase grup awal, masing-masing saat menghadapi Senegal dan Norwegia.

Argentina vs Inggris

Referensi mengenai Perang Falkland sudah mulai ramai bermunculan di media sosial menjelang pertandingan Argentina melawan Inggris pada 15 Juli pukul 15.00 waktu Timur AS di Atlanta atau Kamis, 16 Juli 2026 pukul 02.00 WIB. 

Lionel Messi dan Julián Álvarez akan memimpin tim Argentina menghadapi skuad Inggris yang diperkuat Harry Kane dan Jude Bellingham.

Argentina memang berstatus juara bertahan Piala Dunia, tetapi perjalanan mereka menuju semifinal relatif lebih mudah dibandingkan lawan berikutnya—setidaknya jika dilihat di atas kertas.

Tim peringkat pertama dunia itu belum menghadapi satu pun tim 10 besar dunia sepanjang turnamen. Pada fase grup mereka menghadapi Aljazair (peringkat 28), Austria (24), dan Yordania (63). Pada fase gugur mereka bertemu Tanjung Verde (67), Mesir (29), dan Swiss (19).

Namun tiga pertandingan fase gugur Argentina sama sekali tidak mudah.

Penampilan heroik Tanjung Verde yang mencetak dua gol memaksa sang juara bertahan bermain hingga babak tambahan waktu dan nyaris menyeret pertandingan ke adu penalti.

Kemudian Mesir sempat unggul 2–0 atas Argentina, dan Argentina baru bisa bangkit dalam 21 menit terakhir pertandingan.

Swiss juga memaksa laga perempat final berlanjut ke babak tambahan waktu. Mereka mampu mempertahankan skor imbang 1–1 meskipun bermain dengan 10 orang selama lebih dari 30 menit akibat kartu merah.

Sementara itu, Inggris memulai turnamen dengan menghadapi Kroasia (peringkat 11), kemudian harus mengalahkan Meksiko (14) di Mexico City meskipun bermain dengan 10 pemain selama hampir 40 menit karena kartu merah.

Mereka kemudian mengatasi Norwegia yang dipimpin Erling Haaland, sebelum melaju ke perempat final dan menyingkirkan Brasil yang berada di peringkat keenam dunia.

Haaland sendiri sempat bersaing dalam perebutan Sepatu Emas dengan torehan tujuh gol sebelum Norwegia tersingkir dalam penampilan perdana mereka di Piala Dunia.

Pekan ini, Mbappé, Messi, Kane, dan Bellingham masih berpeluang menambah koleksi gol mereka.

Kane memenangkan Sepatu Emas pada Piala Dunia 2018 dengan enam gol. Tahun ini ia sudah menyamai jumlah tersebut dan hanya tertinggal dua gol dari Mbappé yang memimpin daftar pencetak gol sementara.

Messi juga telah mencetak delapan gol, tetapi saat ini berada di posisi kedua karena Mbappé memiliki jumlah assist yang lebih banyak.

Meski telah meraih berbagai prestasi, termasuk gelar juara Piala Dunia dan medali emas Olimpiade, Messi hingga kini belum pernah memenangkan penghargaan Sepatu Emas di ajang Piala Dunia.

Artikel ini terbit di The Epoch Times edisi bahasa Inggris