Jaringan Listrik Kuba Kembali Runtuh dalam Seminggu, Memperburuk Kekurangan Pembangkit Listrik dan Bahan Bakar yang Sudah Ada

EtIndonesia.com Menurut laporan New Tang Dynasty (NTD) yang mengutip Reuters, sistem kelistrikan nasional Kuba kembali mengalami kegagalan total pada Jumat (10 Juli). Ini merupakan pemadaman listrik nasional kedua dalam satu pekan dan yang keempat sepanjang tahun 2026.

Laporan tersebut menyebut bahwa embargo minyak Amerika Serikat terhadap Kuba telah memperburuk kondisi sistem pembangkit listrik yang memang sudah tua dan rapuh.

Menurut Reuters, pemadaman listrik nasional yang terjadi pada 6 Juli membuat sekitar 10 juta penduduk Kuba kehilangan aliran listrik. Pemerintah baru berhasil memulihkan sebagian besar pasokan listrik pada  7 Juli malam. Namun, wilayah yang luas, termasuk Santiago de Cuba, masih belum mendapatkan listrik akibat kekurangan bahan bakar yang parah.

Pemadaman listrik yang berkepanjangan juga disebut telah meningkatkan ketegangan sosial di negara tersebut. Setelah pemadaman nasional pada 6 Juli, dilaporkan terjadi aksi protes kecil di beberapa wilayah Havana, di mana warga memukul-mukul panci sebagai bentuk protes.

Seorang perempuan berusia 26 tahun bernama Yailin Fis Garcia, yang sedang menggendong bayi berusia lima bulan, berdiri di depan kafe sekaligus toko pizza milik keluarganya di pusat Havana.

Ia mengatakan bahwa rumahnya di pinggiran ibu kota telah lama mengalami krisis listrik. Selama sebulan terakhir, listrik hanya menyala sekitar satu hingga dua jam setiap hari.

Menurutnya:”Semua makanan akan membusuk. Ini merupakan kerugian ekonomi yang besar bagi kami.”

Menteri Energi Kuba, Vicente de la O Levy, menulis di media sosial bahwa pemerintah telah mulai memulihkan sistem kelistrikan nasional.

“Kami telah memulai proses pemulihan sistem tenaga listrik nasional. Meskipun setiap hari menghadapi berbagai kesulitan, situasinya memang sangat rumit,” ujarnya. 

Setelah Amerika Serikat menggulingkan pemerintahan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada 3 Januari 2026, Washington memberlakukan blokade minyak terhadap Kuba.

Venezuela sebelumnya merupakan pemasok utama bahan bakar bagi Kuba. Laporan itu juga menyebut bahwa tekanan dari Amerika Serikat menyebabkan Meksiko menghentikan pengiriman minyak ke Kuba.

Sementara itu, Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Mike Waltz, dalam debat di Sidang Umum PBB pada 7 Juli, menyalahkan pemerintah Havana atas krisis listrik tersebut.

“Ubah cara kalian memerintah, dan nyalakan kembali lampu bagi rakyat,” katanya. 

Banjir Besar di Guangxi, Tiongkok : Warga Menuduh Bantuan Pemerintah Hanya Formalitas, Ada Lansia Dikabarkan Berlutut Meminta Roti Kukus

Banjir besar yang dipicu oleh jebolnya beberapa bendungan di Kota Hengzhou, Daerah Otonom Guangxi, telah menyebabkan kerusakan parah. Sejumlah korban banjir mengaku bahwa upaya penyelamatan oleh pemerintah tidak memadai sehingga sebagian besar warga harus menyelamatkan diri sendiri. Seorang relawan juga mengklaim bahwa bantuan resmi hanya dibagikan di jalan-jalan utama, sementara gang-gang permukiman tidak terjangkau. Ia mengatakan sempat melihat seorang lansia yang telah kelaparan selama beberapa hari berlutut meminta roti kukus.

EtIndonesia.com Pada 6 Juli, beberapa bendungan, termasuk Bendungan Liulan, dilaporkan meluap atau jebol sehingga banjir menerjang sejumlah desa dan kota di Hengzhou.

Menurut laporan, hingga 9 Juli, masih terdapat beberapa desa yang terisolasi oleh banjir. Sebagian besar warga bertahan hidup melalui upaya mandiri dan saling membantu antar tetangga, sementara beberapa keluarga dilaporkan telah mengalami kekurangan makanan selama beberapa hari.

Warga Masih Terisolasi

Seorang warga Desa Huashan, Kecamatan Mengcun, bermarga Lin, mengatakan bahwa lebih dari 500 penduduk di desanya masih terjebak tanpa pasokan listrik dan air bersih.

Karena bantuan dari luar sangat terbatas, persediaan makanan utama hanyalah mi instan dan biskuit. Lansia serta anak-anak secara bertahap dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Banyak keluarga membuat perahu sederhana sendiri untuk keluar membeli kebutuhan pokok.

Sementara itu, seorang warga yang membantu mengangkut bantuan di Kecamatan Yunbiao mengatakan bahwa sebuah jalur baru melalui daerah pegunungan akhirnya berhasil dibuka sehingga distribusi bantuan mulai membaik.

Namun, ia menegaskan bahwa sebagian besar warga berhasil melewati masa tersulit terutama berkat upaya mereka sendiri.

Menurutnya, saat banjir datang, kenaikan air berlangsung sangat cepat. “Di beberapa desa, permukaan air naik sekitar setengah meter hanya dalam satu menit. Air datang dari dua arah sehingga warga sama sekali tidak sempat bersiap.” Ia menambahkan bahwa saat ini air telah surut sekitar setengahnya.

Netizen mengeluhkan upaya bantuan resmi yang dangkal. (Tangkapan layar)
Relawan penyelamat mengungkapkan kehancuran di daerah bencana. (Tangkapan layar)

Bertahan Hidup dengan Saling Berbagi Makanan

Seorang warga Desa Shan’erzhuang, Kecamatan Baiwei, Kabupaten Shanglin, mengatakan desanya masih terisolasi banjir.

Tim penyelamat baru berhasil memasuki desa sehari sebelumnya untuk mengevakuasi seorang lansia yang sakit.

“Air masih belum surut. Jalan menuju desa hanya bisa dilalui dengan perahu. Kami sudah terisolasi selama empat hari,” katanya. 

Ia mengatakan warga hanya bisa bertahan dengan saling membantu.

“Kalau ada keluarga yang punya makanan atau air, semuanya dibagi bersama. Tidak ada pilihan lain.”

Ia juga mengungkapkan bahwa sebagian keluarga mulai mengalami kekurangan air minum.

“Untuk makan kami menangkap ikan. Tapi air minum hampir tidak ada. Sudah empat hari.”

Tuduhan Bantuan Hanya Bersifat Simbolis

Meskipun banjir telah memasuki hari keempat, masih banyak desa yang belum mendapatkan bantuan memadai.

Disebutkan pemerintah Tiongkok telah menyebarkan banyak video mengenai operasi penyelamatan, tetapi sejumlah warga mengklaim masih banyak korban yang belum memperoleh bantuan. Laporan itu juga mengklaim bahwa sebagian permintaan bantuan yang diunggah ke media sosial mengalami pembatasan penyebaran atau dihapus.

Seorang pengguna internet mengaku ibunya terjebak di Kecamatan Yunbiao. Ia mengatakan drone yang mengirim makanan hanya menjangkau jalan utama.

“Dua gang di bagian dalam sama sekali tidak mendapat kiriman makanan.”

Pengguna lain menanggapi:”Bahkan bantuan pun hanya dijadikan formalitas. Benar-benar mengecewakan.”

Relawan Mengaku Menyaksikan Lansia Berlutut Meminta Makanan

Seorang relawan yang mengaku ikut mengirim bantuan mengatakan bahwa sebelum berangkat ia diberi tahu oleh koordinator bahwa persediaan bantuan di Yunbiao sudah mencukupi.

Namun setelah tiba di lokasi, ia mengaku menyaksikan kondisi yang jauh lebih memprihatinkan.

Menurutnya, beberapa relawan bahkan menangis ketika melihat keadaan para korban.

Ia mengatakan: “Ada beberapa daerah yang tidak bisa dievakuasi, sementara air kembali naik. Kami melihat lansia berusia sekitar 60 hingga 70 tahun berlutut memohon roti kukus kepada para relawan.”

Klaim Mengenai Pembatasan Tim Penyelamat Sipil

Dalam beberapa tahun terakhir pemerintah Tiongkok mewajibkan seluruh operasi penyelamatan dikoordinasikan oleh pemerintah dan mengharuskan tim penyelamat sipil melapor terlebih dahulu sebelum memasuki daerah bencana.

Menurut unggahan sejumlah warganet di Guangxi, lalu lintas menuju daerah terdampak dikendalikan oleh pihak berwenang sehingga tim penyelamat yang tidak memperoleh izin resmi sulit memasuki lokasi bencana.

Media sosial Tiongkok dipenuhi video yang menampilkan operasi penyelamatan pemerintah, sementara sebagian warganet menuduh sejumlah video tersebut dibuat untuk kepentingan pencitraan belaka.

Dilaporkan oleh Chen Zhenjin / Diedit Xu Gengwen

Objek Mirip “Bintang Segi Enam” Muncul di Perairan Tiongkok? AS Merilis Dokumen Rahasia UAP Terbaru

EtIndonesia.com Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) pada Jumat (10/7/2026) kembali mendeklasifikasi dan merilis sejumlah dokumen rahasia mengenai UFO, atau yang kini disebut UAP (Unidentified Anomalous Phenomena/Fenomena Anomali Tak Dikenal).

Ini merupakan gelombang keempat dokumen yang dipublikasikan berdasarkan perintah eksekutif presiden. Paket tersebut mencakup 40 dokumen, rekaman video, dan audio yang berasal dari berbagai lembaga, termasuk Pentagon, National Aeronautics and Space Administration (NASA), serta Central Intelligence Agency (CIA).

Dalam kumpulan dokumen tersebut terdapat beberapa laporan penampakan yang dinilai sangat langka.

Insiden di fasilitas senjata nuklir Texas

Salah satu kasus terjadi pada September 2015, ketika sebuah objek tak dikenal dilaporkan memasuki area Pantex Plant, fasilitas perakitan dan penyimpanan senjata nuklir di Texas.

Fasilitas tersebut segera diberlakukan penguncian penuh (lockdown), sementara dua petugas keamanan mengejar objek tersebut dengan kendaraan.

Menurut kesaksian mereka, mereka tidak berhasil mengejar objek itu. Setelah menghentikan kendaraan dan mengamatinya dari dekat menggunakan teropong, mereka menyatakan bahwa objek tersebut:

  • Tidak mengeluarkan suara sama sekali.
  • Tidak memperlihatkan sistem pendorong (propulsi) apa pun.
  • Melayang selama sekitar satu hingga dua menit.
  • Kemudian terbang ke arah utara.

Objek misterius di Samudra Atlantik

Kasus lain terjadi pada tahun 2020 di atas Samudra Atlantik.

Dokumen tersebut juga menyertakan rekaman video objek tersebut. Dalam laporan awak Angkatan Laut AS, objek itu digambarkan:

  • Berwarna gelap kecokelatan (marun).
  • Berukuran sekitar 12–15 kaki (sekitar 3,7–4,6 meter).
  • Tampak seperti balon raksasa yang bentuknya sedikit tidak beraturan.

Pilot veteran melihat objek berkecepatan tinggi

Penampakan lainnya dilaporkan oleh seorang pilot veteran yang telah bertugas selama 28 tahun di Angkatan Udara dan Angkatan Laut Amerika Serikat.

Pada 2019, ia melihat sebuah objek kecil dengan karakteristik penerbangan yang sangat tidak biasa di wilayah udara Amerika Serikat bagian timur.

Ketika kru pesawat mulai merekam dan memperbesar gambar menggunakan kamera, objek tersebut melesat keluar dari bidang pandang dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Analisis setelah kejadian menunjukkan bahwa objek tersebut diduga berbentuk persegi panjang.

Penampakan terbaru di dekat perairan Tiongkok

Kasus terbaru dalam dokumen yang baru dirilis terjadi pada 2025 di perairan sekitar Tiongkok.

Di wilayah tanggung jawab Komando Indo-Pasifik Amerika Serikat, sensor militer mendeteksi dan melacak suatu area anomali di atas Laut Kuning yang digambarkan “mirip bintang segi enam”.

Selain itu, sensor militer juga melakukan pelacakan selama beberapa menit terhadap sebuah objek tak dikenal di atas Laut Tiongkok Timur.

Misteri “bola api hijau” tahun 1949

Dokumen yang dideklasifikasi juga memuat risalah rapat bersejarah pada 1949.

Saat itu, sejumlah fisikawan terkemuka, termasuk anggota Manhattan Project, berkumpul di Los Alamos National Laboratory untuk membahas fenomena “bola api hijau” yang terlihat melintas di atas laboratorium nuklir tersebut.

Walaupun sempat muncul dugaan bahwa fenomena tersebut merupakan meteor, seorang astronom ternama saat itu menolak penjelasan tersebut dengan alasan bahwa karakteristiknya tidak sesuai dengan meteor yang diketahui.

Pentagon akan merilis dokumen tambahan

Juru bicara Pentagon menyatakan bahwa proses deklasifikasi masih terus berlangsung.

Departemen Pertahanan AS saat ini bekerja sama dengan berbagai lembaga terkait untuk menyiapkan gelombang berikutnya dari dokumen-dokumen mengenai UAP yang akan dipublikasikan. (***)

FBI Mengusir 62 Mata-mata PKT dalam 6 Bulan: Analisis: Kontra-Spionase Memasuki Tahap Akhir

Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) kembali meningkatkan upaya untuk melawan infiltrasi yang diduga dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). Direktur FBI, Kash Patel, baru-baru ini mengungkapkan bahwa selama paruh pertama tahun ini, FBI telah mengusir 62 orang yang disebut sebagai mata-mata PKT, yang diklaim memberikan pukulan besar terhadap jaringan intelijen PKT di Amerika Serikat. Sejumlah analis menilai bahwa Amerika Serikat kini telah menjadikan pemberantasan infiltrasi PKT sebagai salah satu prioritas utama dalam strategi keamanan nasionalnya.

EtIndonesia.com Pada 8 Juli, Patel menulis di platform X bahwa sejak awal tahun, FBI telah mengusir 62 mata-mata PKT dan menangkap 113 mata-mata asing lainnya.

Patel menyatakan bahwa operasi tersebut telah berhasil melumpuhkan jaringan agen rahasia yang telah lama ditanamkan PKT di Amerika Serikat.

Sebenarnya, Amerika Serikat telah lama menganggap PKT sebagai salah satu ancaman utama dalam bidang kontra-spionase. Sebuah laporan yang diterbitkan awal tahun ini oleh Komite Keamanan Dalam Negeri DPR AS menyebutkan bahwa rata-rata setiap 12 jam FBI membuka satu kasus baru yang berkaitan dengan PKT. Hal ini dinilai menunjukkan bahwa upaya infiltrasi intelijen Beijing terhadap Amerika Serikat terus berlangsung.

Pada saat yang sama, pada bulan Juni lalu, Departemen Kehakiman AS menyita 13 nama domain internet yang diduga dikendalikan oleh pihak-pihak yang memiliki hubungan dengan PKT. Situs-situs tersebut dituduh menargetkan individu yang memiliki izin akses keamanan pemerintah Amerika Serikat dengan tujuan mencuri informasi rahasia.

“PKT telah lama mengirimkan sejumlah besar agen rahasia dan individu yang menjalankan misi spionase ke Amerika Serikat. Jumlahnya sangat besar, berlangsung selama puluhan tahun, dan tersebar di berbagai lapisan masyarakat Amerika. Mereka mengumpulkan informasi secara menyeluruh, mulai dari teknologi canggih, intelijen militer, informasi politik penting, hingga data bisnis,” kata Kolumnis Epoch Times, Wang He. 

Wang He menambahkan bahwa pengungkapan FBI mengenai pengusiran 62 mata-mata tersebut hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan situasi. Menurutnya, hal yang lebih penting adalah bahwa sistem kontra-spionase Amerika kini sedang ditingkatkan secara menyeluruh.

“FBI dan lembaga kontra-intelijen Amerika kini telah menerapkan pendekatan yang dahulu digunakan terhadap Uni Soviet pada masa Perang Dingin untuk menghadapi PKT. Intensitasnya akan terus meningkat. PKT telah menjadi ancaman terbesar bagi Amerika Serikat, bahkan tingkat bahayanya dinilai melampaui bekas Uni Soviet,” ujarnya. 

Menurut analisis tersebut, operasi pembersihan jaringan mata-mata PKT oleh Amerika Serikat diperkirakan akan terus diperluas dan memasuki tahap yang semakin menentukan.

“Setelah Presiden Trump kembali menjabat, persaingan dengan PKT telah memasuki tahap penentuan. Oleh karena itu, operasi pemberantasan agen-agen PKT dilakukan dengan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pusat kontra-spionase kini memfokuskan perhatian utamanya pada PKT,” katanya. 

Reporter NTD Television, Yi Xin dan Qiu Yue melaporkan.

Topan Bavi Mendekati Taiwan, Hujan dan Angin Kencang Mulai Terasa di Taipei; Wilayah Peringatan Daratan Diperluas 

EtIndonesia.com Topan Bavi berkekuatan sedang semakin mendekati Taiwan. Pemerintah Taiwan telah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi badai tersebut. Hingga saat ini, 11 kabupaten dan kota telah mengumumkan penghentian sementara kegiatan kerja dan sekolah pada  Sabtu (11/7/2026).  Sementara itu, wilayah yang berada dalam peringatan darat telah diperluas menjadi 14 kabupaten dan kota.

“Dapat terlihat bahwa di Taiwan, khususnya di Taipei yang diperkirakan menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak oleh topan kali ini, hembusan angin kini terasa jauh lebih kuat dibandingkan pagi tadi. Hujan yang turun secara berkala juga semakin sering. Namun, untuk saat ini di kawasan perkotaan masih belum terlihat hujan maupun angin yang sangat ekstrem,” demikian reporter NTD Tseng Hsin-min melaporkan dari Taipei. 

Ia menjelaskan bahwa kecepatan pergerakan Topan Bavi telah melambat. Saat ini, sirkulasi utama topan masih berada di atas laut. Namun, menjelang malam, wilayah Taiwan bagian utara diperkirakan akan mulai mengalami hujan lebat yang turun secara berkala.

Reporter tersebut mengingatkan bahwa meskipun dalam beberapa jam terakhir intensitas Topan Bavi sedikit melemah, ancamannya belum berakhir.

Reporter NTD Tseng Hsin-min melaporkan dari Taipei (tangkapan layar)

Jalur pergerakan topan juga terus diperbarui. Kemungkinan topan mendarat langsung di Taiwan kini menurun, tetapi radius angin kencang tingkat 7 (berdasarkan skala Beaufort) tidak menyusut dan masih mencakup wilayah yang sangat luas.

Otoritas meteorologi Taiwan, Central Weather Administration>, berulang kali mengingatkan bahwa periode paling kritis dampak topan terhadap Taiwan diperkirakan berlangsung mulai Jumat malam hingga sepanjang hari Sabtu.

Pemerintah juga terus memperluas cakupan wilayah yang dikenai peringatan darat serta mengimbau masyarakat agar:

  • Waspada terhadap sambaran petir dan embusan angin kencang.
  • Tidak mendekati daerah pegunungan maupun kawasan pantai selama topan berlangsung.

Reporter menutup laporannya dengan mengatakan :”Saat ini Taiwan sedang memasuki fase ketika Topan Bavi berada pada jarak terdekat. Sepanjang hari Sabtu akan menjadi penentu seberapa besar dampak badai ini terhadap Taiwan bagian utara maupun wilayah lainnya. Kami akan terus memantau perkembangan situasi dari Taipei dan menyampaikan informasi terbaru.”

Sumber : NTDTV.com

Peringatan Suhu Tinggi di Tiongkok: Banyak Daerah Melampaui 40°C, Suhu Permukaan Jalan Mencapai 68°C

Beberapa hari terakhir banyak wilayah di Tiongkok mengalami gelombang panas yang memecahkan rekor. Suhu di banyak daerah melampaui 40°C, sementara permukaan jalan berubah seperti “pelat besi” akibat terik matahari.

Di beberapa lokasi, suhu permukaan jalan bahkan melebihi 60°C, sehingga berdiri di luar ruangan selama beberapa saat saja terasa seperti berada di dalam sauna.

EtIndonesia.com  Pada 9 Juli 2026, wilayah Shaanxi, Sichuan, Chongqing, dan Henan, Tiongkok secara berturut-turut mengeluarkan peringatan merah atau oranye untuk cuaca panas.

Di sebagian wilayah Provinsi Shaanxi, suhu maksimum telah melampaui 40°C. Kota Xi’an dan beberapa daerah lainnya juga meningkatkan status peringatan menjadi peringatan merah, dengan prakiraan bahwa suhu tinggi akan terus berlanjut dalam dua hari ke depan.

Di Chengdu, Provinsi Sichuan, sejumlah distrik juga mengeluarkan peringatan merah. Suhu maksimum di kawasan seperti Distrik Baru Timur Chengdu dan Jianyang mendekati 40°C. Kota-kota seperti Leshan, Mianyang, dan Deyang juga terus mengalami cuaca panas dengan suhu di banyak tempat melebihi 37°C.

Sementara itu, Chongqing telah mengeluarkan peringatan oranye selama empat hari berturut-turut. Sebanyak 27 wilayah di kota tersebut mencatat suhu di atas 37°C, dengan suhu tertinggi di Wuxi mencapai 39,9°C. Beberapa daerah diperkirakan masih dapat menembus 40°C dalam beberapa hari mendatang.

Kondisi di Provinsi Henan juga tidak lebih ringan. Badan meteorologi memperkirakan bahwa pada 10–11 Juli, suhu maksimum di banyak wilayah akan melampaui 40°C.

Yang lebih mengkhawatirkan, padai 9 Juli pagi, suhu permukaan jalan di banyak lokasi telah melebihi 50°C. Di Luanchuan, suhu permukaan jalan tercatat mencapai 61,3°C. Diperkirakan pada 11 Juli, suhu permukaan beberapa ruas jalan tol di Henan dapat melampaui 68°C, sehingga pengendara diminta lebih berhati-hati saat berkendara.

Menurut China Weather Network, pada 10–11 Juli, lebih dari 20 provinsi, daerah otonom, dan kota di Tiongkok akan memasuki kondisi cuaca yang sangat panas dan lembap.

Di beberapa wilayah, meskipun suhu udara hanya sekitar 35°C, kelembaban yang tinggi membuat suhu yang dirasakan tubuh (heat index) dapat melampaui 40°C. Di sebagian daerah bahkan diperkirakan mencapai lebih dari 45°C, sehingga seseorang dapat berkeringat deras hanya dalam beberapa menit berada di luar ruangan.

Badan Meteorologi Tiongkok memperkirakan bahwa sepanjang bulan Juli masih akan terjadi empat gelombang panas secara bertahap.

Wilayah yang diperkirakan terdampak meliputi:

  • Xinjiang,
  • Shaanxi,
  • Tiongkok Utara,
  • Dataran Huanghuai, serta
  • wilayah tengah dan hilir Sungai Yangtze.

Di beberapa daerah, suhu maksimum diperkirakan dapat mencapai 41–44°C, bahkan berpotensi memecahkan rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah setempat.

Gelombang panas ini sebenarnya telah berulang kali mencetak rekor baru. Baru-baru ini, Turpan di Xinjiang mencatat suhu 50,7°C, menjadi lokasi pertama di Tiongkok pada tahun ini yang melampaui 50°C.

Selain itu, suhu rata-rata di Provinsi Hainan selama bulan Juni juga mencatat rekor tertinggi untuk periode yang sama.

Para ahli mengingatkan bahwa wilayah yang terdampak gelombang panas masih akan terus meluas. Masyarakat diimbau untuk mengambil langkah-langkah pencegahan terhadap sengatan panas, mengurangi aktivitas di luar ruangan, dan menghindari paparan sinar matahari langsung dalam waktu lama.

Sumber : NTDTV.com

Laporan Langsung dari Washington: KTT NATO Berakhir, Trump: “Saya Peringkat Pertama dalam Daftar Target Pembunuhan Iran”

EtIndonesia.com KTT NATO di Ankara, Turkiye telah berakhir. Presiden Donald Trump meninggalkan Turkiye dengan pesawat kepresidenan menuju Inggris. Kini kita terhubung dengan reporter NTD Zhang Liang di Washington.

Pembawa Acara:

Halo Zhang Liang, bisakah Anda menyampaikan perkembangan terbaru dari Washington?

Reporter NTD Zhang Liang:

Baik, Li Xin.

Rekan saya, Tao Ming, yang melaporkan langsung dari Turkiye mengatakan bahwa setelah menyelesaikan agenda KTT NATO di Turkiye, Presiden Trump meninggalkan negara itu menggunakan Air Force One versi lama. Setelah tiba di Inggris, ia kemudian berpindah ke pesawat kepresidenan baru dengan corak warna merah, putih, biru, dan emas.

Dalam KTT tersebut, Presiden Trump mengatakan bahwa dirinya selalu menjadi “target nomor satu” Iran, bahkan dalam daftar terbaru target pembunuhan yang disebutnya muncul kemarin, namanya masih berada di urutan pertama.

Di sisi lain, dalam KTT NATO, nilai total pengadaan persenjataan negara-negara anggota dilaporkan melebihi US$50 miliar, yang menurut laporan menunjukkan komitmen NATO untuk meningkatkan belanja pertahanan sesuai permintaan Amerika Serikat.

Jerman diperkirakan akan membeli rudal jelajah Tomahawk dari Amerika Serikat untuk memperkuat kemampuan pertahanannya.

Pemerintah Amerika Serikat juga telah menyetujui penjualan rudal jelajah Tomahawk kepada Jerman yang memiliki jangkauan lebih dari 1.600 kilometer.

Selain itu, saat bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengizinkan Ukraina memproduksi rudal Patriot berdasarkan lisensi, serta mempertimbangkan untuk membeli drone buatan Ukraina.

Meskipun selama pertemuan masih terdapat perbedaan pendapat mengenai perdagangan, konflik regional, dan klaim wilayah, seluruh 32 negara anggota NATO akhirnya kembali menegaskan dalam deklarasi bersama komitmen yang “tak tergoyahkan” terhadap Pasal 5 Perjanjian Atlantik Utara, yaitu prinsip pertahanan kolektif.

Trump memuji KTT kali ini sebagai bukti bahwa NATO menunjukkan tingkat persatuan yang sangat tinggi.

Deklarasi tersebut juga menyatakan bahwa NATO akan menerapkan strategi “pencegahan dan pertahanan 360 derajat” untuk menjaga keamanan dan kemakmuran sekitar satu miliar warga negara anggota, sekaligus mempercepat realisasi komitmen peningkatan anggaran pertahanan.

Trump juga secara khusus memuji Spanyol.

Sebelumnya, Spanyol sempat menolak mengikuti komitmen peningkatan anggaran pertahanan NATO, sehingga hubungan kedua pihak sempat tegang selama beberapa bulan. Selain itu, Spanyol juga tidak mengizinkan Amerika Serikat menggunakan pangkalan militernya untuk menyerang Iran, yang semakin memperburuk hubungan kedua negara.

Presiden Donald Trump mengatakan: “Hari ini Spanyol memberikan dukungan yang sangat besar kepada saya. Mereka sangat murah hati. Mereka memenuhi permintaan kami mengenai dana dalam jumlah besar. Seandainya mereka melakukan ini sejak dulu, kami tidak perlu terus berdebat dengan mereka. Sebelumnya saya menilai mereka sangat buruk dan bertindak sangat buruk. Namun hari ini semua yang hadir menunjukkan persatuan yang luar biasa. NATO sebenarnya tampil sangat baik.”

Mengenai kerja sama dengan Ukraina, Trump mengatakan : “Kami akan membeli drone mereka. Kami sendiri juga membuat drone, dan kami membuat drone yang hebat. Tetapi mereka memiliki kemampuan untuk memproduksi drone dalam jumlah sangat besar. Kemampuan memproduksi begitu banyak drone dalam kondisi perang benar-benar mengesankan.”

Deklarasi KTT juga kembali menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, serta mendesak Iran untuk sepenuhnya menghormati kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.

Pembawa Acara: Terima kasih, Zhang Liang.

Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada Selasa (7 Juli). Kemudian pada Rabu (8 Juli), militer AS kembali menyerang sekitar 90 target di Iran.

Zhang Liang, bisakah Anda menjelaskan lebih rinci?

Reporter Zhang Liang: Baik, Li Xin.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa operasi tersebut menargetkan sekitar 90 sasaran militer di wilayah pesisir Iran.

Menurut CENTCOM, tujuan operasi adalah semakin melemahkan kemampuan Iran melakukan serangan terhadap kapal-kapal dagang dan awak kapal sipil di kawasan Selat Hormuz.

Sasaran serangan meliputi:

  • sistem pertahanan udara;
  • fasilitas pengawasan pantai;
  • lokasi penyimpanan rudal dan drone;
  • kekuatan angkatan laut; serta
  • infrastruktur logistik militer.

Di dalam Air Force One, Presiden Trump memperingatkan Iran bahwa jika kembali menyerang kapal dagang, Iran akan menghadapi serangan yang jauh lebih keras.

Trump berkata:

“Kami menghantam mereka dengan sangat keras. Bisa dikatakan kekuatan serangan kami 20 kali lebih besar daripada mereka. Setiap kali mereka menyerang kami, kami akan membalas dengan kekuatan 20 kali lipat. Itulah yang kami lakukan tadi malam.” 

“Hari ini mereka kembali melakukan sedikit aksi, tetapi itu sebenarnya hanya balasan atas serangan kami semalam. Mereka sebenarnya menyerang tiga kapal, bukan dua. Setiap kali mereka menyerang, kami akan membalas dengan lebih keras lagi. Mereka hampir tidak memiliki apa-apa lagi, dan mereka sangat ingin mencapai kesepakatan.” 

“Mereka baru saja menelpon beberapa waktu lalu. Mereka benar-benar ingin mencapai kesepakatan. Saya hanya tidak tahu apakah mereka layak diajak membuat kesepakatan. Saya juga tidak tahu apakah mereka akan menepatinya. Itulah masalahnya.”

Dalam konferensi pers di Turkiye pada hari Rabu, Trump juga mengatakan bahwa ia tidak yakin akan terjadi perang besar lagi dengan Iran. Namun menurutnya, gencatan senjata sudah berakhir, dan berunding dengan Iran hanyalah membuang waktu.

Trump mengatakan: “Mereka adalah orang-orang yang kejam. Mereka dipimpin oleh orang-orang yang tidak waras. Mereka brutal dan penuh kekerasan. Kalau mereka memiliki senjata nuklir, mereka pasti akan menggunakannya.” 

“Menurut saya, gencatan senjata sudah berakhir. Saya akan berbicara dengan para perunding kami. Mereka memang ingin berunding. Witkoff dan Kushner adalah orang-orang yang sangat baik. Tetapi mereka harus melapor kepada saya. Menurut saya, berurusan dengan Iran hanyalah membuang-buang waktu. Mereka semua pembohong.”

Laporan tersebut juga menyebut bahwa serangan terhadap Iran telah memengaruhi harga minyak. Harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) naik pada hari sebelumnya, tetapi turun ketika perdagangan dibuka hari ini.”

Untuk membantu menstabilkan harga bahan bakar, Gedung Putih mendorong proyek “Freedom Fuel Network”. Saat ini terdapat 25 SPBU yang tergabung dalam jaringan tersebut di negara bagian Pennsylvania dan New Jersey. Harga bensin reguler dijual sebesar US$3,47 per galon.

Menurut laporan, angka 3,47 dolar dipilih untuk memperingati Trump sebagai Presiden Amerika Serikat ke-47. SPBU-SPBU tersebut dimiliki oleh pihak swasta dan tidak menerima subsidi dari pemerintah. 

Sumber : NTDTV.com

APPI Kukuhkan Pengurus 2026–2030, Perkuat Profesionalisme dan Standarisasi Profesi Protokol Nasional

SURABAYA – Asosiasi Praktisi Protokol Indonesia (APPI) menegaskan komitmennya dalam memperkuat organisasi sekaligus meningkatkan kompetensi praktisi protokol di Indonesia melalui pengukuhan jajaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) dan Dewan Pengurus Daerah (DPD) masa bakti 2026–2030.

Pengukuhan yang berlangsung pada Sabtu (11/7/2026) di Sekretariat APPI Surabaya tersebut menjadi momentum penting dalam memperkokoh eksistensi organisasi sekaligus mendorong terwujudnya standardisasi profesi protokol di Indonesia.

Ketua Umum DPP APPI periode 2026–2030, Maria Agustina Mamahit, menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota yang telah memberikan dukungan hingga terbentuknya struktur kepengurusan APPI di tingkat pusat maupun daerah.

“Pengukuhan ini menjadi momentum strategis bagi APPI dalam memperkokoh eksistensi dan peran praktisi protokol di seluruh Indonesia,” ujar Maria usai prosesi pengukuhan.

Menurutnya, penguatan organisasi tersebut merupakan wujud komitmen APPI dalam menghadirkan standar keprotokolan yang profesional, berwibawa, dan mampu menjawab kebutuhan penyelenggaraan kegiatan resmi, baik di lingkungan pemerintahan maupun sektor swasta.

“Kehadiran APPI bertujuan meningkatkan profesionalisme sekaligus martabat profesi protokol di Indonesia. Melalui APPI, kami berharap tercipta sinergi yang kuat di antara para praktisi dalam menghadapi tantangan keprotokolan yang semakin dinamis,” tegasnya.

Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal DPP APPI, Prahastiwi Kurnia Sitorosmi, mengatakan APPI hadir sebagai rumah bersama bagi seluruh praktisi protokol di Indonesia. Berpusat di Surabaya, organisasi ini terus membangun jejaring nasional sekaligus mendorong terciptanya standar kerja yang unggul bagi seluruh anggotanya.

“Kami berharap APPI mampu memperkuat pengakuan terhadap profesi protokol sekaligus menjadi mitra strategis dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan keprotokolan yang semakin profesional dan berwibawa,” ujar Tiwi.

Dalam kesempatan tersebut, APPI juga menegaskan enam pilar utama organisasi sebagai arah pengembangan ke depan, yakni menghimpun praktisi protokol dari berbagai instansi pemerintah maupun swasta, meningkatkan profesionalisme praktisi, mendorong standardisasi keprotokolan nasional, menjadi wadah pengembangan karier dan pengakuan profesi, memperkuat citra serta martabat profesi protokol, serta membangun komunikasi dan jejaring nasional.

Struktur kepengurusan DPP APPI periode 2026–2030 turut diperkuat oleh Diah Winarny sebagai Bendahara Umum, Nanik Karsini sebagai Ketua Dewan Penasihat, dan Yusuf Maulidin sebagai Ketua Dewan Pengawas.

Selain mengukuhkan kepengurusan pusat, APPI juga melantik jajaran DPD di tujuh provinsi, yakni Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Bali, Sulawesi Tengah, dan Papua yang akan menjadi motor penggerak organisasi di tingkat daerah.

Ketua DPD APPI Jawa Timur, Swastrining Tyas, menyambut baik kehadiran organisasi profesi tersebut. Menurutnya, APPI menjadi wadah yang selama ini dibutuhkan oleh para praktisi protokol untuk membangun jejaring, meningkatkan kapasitas, serta memperkuat kolaborasi.

“Melalui APPI kami berharap dapat menjadi wadah pengembangan kapasitas, komunikasi, dan kolaborasi antarpraktisi protokol sehingga mampu menciptakan standar kerja yang semakin baik,” ungkap Tyas.

Jika diperlukan, saya juga bisa membuat versi lebih singkat bergaya media online, versi koran (straight news), atau feature dengan lead yang lebih kuat.

Trump Tiba-tiba Berganti Pesawat di Tengah Perjalanan, Ancaman Pembunuhan dari Iran Kembali Menjadi Sorotan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu (8 Juli), setelah menghadiri KTT NATO di Ankara, Turkiye tidak langsung menggunakan pesawat Air Force One yang baru untuk kembali ke Amerika Serikat. Sebaliknya, ia terlebih dahulu menaiki Air Force One versi lama menuju sebuah pangkalan militer di Inggris, kemudian berganti ke pesawat kepresidenan baru untuk melanjutkan penerbangan pulang. Langkah tersebut memicu spekulasi bahwa pergantian pesawat dilakukan karena pertimbangan keamanan.

Trump sendiri juga mengakui bahwa ia merupakan target utama dalam daftar pembunuhan pemerintah Iran.

EtIndonesia.com Setelah mendarat pada Kamis (9 Juli) dini hari, Presiden AS Trump turun dari Air Force One dan kembali ke Washington, D.C.

Namun, perjalanan pulang kali ini tidak sepenuhnya menggunakan pesawat baru yang disebut sebagai hadiah dari Qatar. Setelah meninggalkan Ankara, Trump lebih dahulu menaiki Air Force One lama yang bercat biru muda menuju Pangkalan Angkatan Udara Kerajaan RAF Mildenhall di Inggris, salah satu pangkalan utama militer Amerika Serikat di Eropa. Dari sana, ia berpindah ke pesawat kepresidenan baru untuk melanjutkan penerbangan ke Washington.

Trump mengatakan bahwa pengaturan tersebut memberinya kesempatan untuk bernostalgia sekaligus memungkinkan para personel militer di pangkalan tersebut melihat anggota terbaru armada kepresidenan Amerika.

Pergantian pesawat secara mendadak ini menarik perhatian publik. Menurut laporan ABC, Air Force One lama yang telah digunakan oleh sejumlah presiden Amerika Serikat selama sekitar 35 tahun telah dilengkapi sistem pertahanan anti rudal, sedangkan pesawat baru tersebut diduga belum memiliki sistem pertahanan yang sama.

Data pelacakan penerbangan juga menunjukkan bahwa setelah lepas landas dari Ankara, Air Force One lama mematikan sinyal transpondernya. Artikel tersebut menyebut bahwa tindakan seperti ini biasanya dilakukan ketika pesawat melintasi wilayah konflik atau kawasan dengan tingkat ancaman tinggi. Selain itu, para wartawan yang ikut dalam penerbangan juga diminta menutup tirai jendela kabin.

Secara geografis, Turki berbatasan dengan Iran. Di saat yang sama, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat akibat konflik di sekitar Selat Hormuz. Karena itu, muncul dugaan bahwa keputusan Trump untuk berganti pesawat di tengah perjalanan merupakan langkah pencegahan demi keamanan.

Meskipun Trump tidak secara langsung mengkonfirmasi alasan pergantian pesawat tersebut, dalam konferensi pers di sela-sela KTT NATO ia mengakui bahwa dirinya merupakan target nomor satu dalam daftar pembunuhan Iran.

Presiden Donald Trump mengatakan: “Saya berada di peringkat pertama dalam daftar pembunuhan Iran. Mereka orang-orang yang ‘baik’. Mereka menempatkan saya di urutan pertama.”

Kemudian, saat berada di Air Force One yang baru, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa mereka harus menghadapi orang-orang yang menurutnya berbahaya.

Trump berkata: “Anda mungkin sedang berada dalam penerbangan yang berbahaya. Bagaimanapun juga, kita harus menghadapi orang-orang seperti itu.”

Dilaporkan oleh Yi Jing untuk New Tang Dynasty Television.

AS Tak Hanya Gempur Pangkalan Militer, Jalur Perdagangan Iran ke Tiongkok dan Rusia Kini Ikut Diserang

EtIndonesia.com – Operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran terus memasuki fase yang semakin luas setelah Presiden Donald Trump memerintahkan gelombang kedua serangan udara pada Rabu, 8 Juli 2026. 

Hingga Kamis, 9 Juli 2026, operasi tersebut dilaporkan masih berlangsung tanpa jeda selama kurang lebih 18 jam, menjadikannya salah satu kampanye udara terbesar yang dilakukan Washington terhadap Iran sejak diberlakukannya gencatan senjata pada April 2026.

Berbeda dengan operasi-operasi sebelumnya yang lebih banyak berfokus pada sasaran militer konvensional, gelombang serangan terbaru menunjukkan perluasan target secara signifikan. Selain menghantam pangkalan militer, sistem pertahanan udara, dan fasilitas komando, serangan kali ini juga dilaporkan menyasar fasilitas nuklir bawah tanah, pangkalan udara, pelabuhan militer, jalur logistik strategis, hingga infrastruktur transportasi yang selama ini menjadi penghubung penting Iran dengan Rusia dan Tiongkok.

Perkembangan tersebut memunculkan penilaian dari sejumlah analis bahwa strategi Amerika Serikat telah bergeser dari sekadar melemahkan kemampuan tempur Iran menjadi upaya yang lebih luas untuk melumpuhkan jaringan logistik, mobilitas militer, serta infrastruktur strategis yang menopang kekuatan nasional Iran.

Di saat yang sama, berbagai laporan juga mengindikasikan meningkatnya aktivitas militer di sejumlah wilayah perbatasan Iran. Sementara itu, sejumlah media Amerika melaporkan bahwa Gedung Putih tengah menyiapkan berbagai skenario apabila konflik berkembang menjadi operasi militer yang berlangsung lebih lama dari perkiraan semula.


Dugaan Penggunaan Kembali Bom Penghancur Bunker di Bushehr

Salah satu perkembangan yang paling menyita perhatian internasional adalah munculnya laporan mengenai dugaan penggunaan kembali bom penghancur bunker (bunker buster) oleh militer Amerika Serikat.

Berdasarkan berbagai laporan yang beredar pada 9 Juli 2026, sebuah kompleks yang diduga merupakan fasilitas pengayaan nuklir bawah tanah di sekitar Kompleks Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr, Iran selatan, menjadi sasaran serangan presisi Angkatan Udara Amerika Serikat.

Bom penghancur bunker merupakan amunisi khusus yang dirancang untuk menembus lapisan beton bertulang, batuan keras, maupun struktur bawah tanah sebelum meledak di dalam target. 

Senjata jenis ini umumnya digunakan untuk menghancurkan bunker komando, gudang penyimpanan senjata bawah tanah, pusat komando militer, maupun fasilitas nuklir yang dibangun jauh di bawah permukaan tanah.

Menurut sejumlah laporan awal, sesaat setelah serangan berlangsung terdengar ledakan berkekuatan besar dari kawasan tersebut. Beberapa saksi juga melaporkan munculnya guncangan yang dirasakan hingga beberapa kilometer dari lokasi.

Namun demikian, hingga 10 Juli 2026, belum terdapat konfirmasi resmi mengenai tingkat kerusakan fasilitas yang menjadi sasaran maupun jenis amunisi yang benar-benar digunakan dalam operasi tersebut. Pemerintah Amerika Serikat juga belum memberikan rincian teknis mengenai serangan tersebut.


Rudal Tomahawk Dilaporkan Menghantam Pangkalan Udara Iran

Selain mengerahkan pesawat tempur, militer Amerika Serikat juga dilaporkan menggunakan rudal jelajah Tomahawk dalam operasi lanjutan yang berlangsung pada dini hari 9 Juli 2026.

Laporan yang beredar menyebutkan bahwa sasaran utama serangan tersebut adalah sejumlah hanggar pesawat tempur yang sedang dibangun dan diperkuat oleh Angkatan Udara Iran.

Salah satu lokasi yang dilaporkan mengalami kerusakan cukup berat adalah Pangkalan Tempur Taktis Ketiga di dekat Hamadan, yang selama ini dikenal sebagai salah satu fasilitas penting Angkatan Udara Iran.

Tidak hanya itu, Pangkalan Angkatan Laut Iran di Konarak, yang berada di pesisir Laut Oman, juga dilaporkan menjadi sasaran serangan presisi.

Para pengamat militer menilai bahwa pemilihan kedua target tersebut bukanlah kebetulan. Pangkalan udara berperan penting dalam mempertahankan superioritas udara, sedangkan pangkalan laut menjadi pusat pengoperasian kapal perang, kapal patroli, serta berbagai sistem pertahanan maritim Iran.

Apabila kedua fasilitas tersebut benar mengalami kerusakan signifikan, kemampuan Iran dalam mengoperasikan pesawat tempur maupun armada lautnya diperkirakan dapat menurun apabila konflik berkembang menjadi perang berkepanjangan.


Gelombang Serangan Sebelumnya Menghantam Sekitar 90 Sasaran Militer

Operasi terbaru merupakan kelanjutan dari serangan besar yang telah dimulai sehari sebelumnya, yakni pada 8 Juli 2026.

Dalam gelombang pertama tersebut, militer Amerika Serikat dilaporkan menyerang sekitar 90 sasaran militer yang tersebar di berbagai wilayah Iran.

Berdasarkan berbagai laporan yang beredar, sasaran operasi meliputi:

  • Sistem pertahanan udara.
  • Radar pengawasan pesisir.
  • Gudang penyimpanan rudal.
  • Basis operasi drone militer.
  • Instalasi Angkatan Laut Iran.
  • Pusat komando dan kendali militer.
  • Sejumlah pangkalan dan bandara militer.
  • Pelabuhan strategis.
  • Infrastruktur pendukung fasilitas tenaga nuklir.

Skala operasi tersebut menunjukkan pola serangan yang dirancang secara bertahap. Pada tahap awal, sasaran difokuskan pada sistem pertahanan udara dan radar untuk mengurangi kemampuan deteksi Iran. Setelah itu, serangan diperluas ke pusat komando, fasilitas logistik, hingga pangkalan udara dan pelabuhan militer.

Menurut sejumlah analis pertahanan, pola tersebut merupakan pendekatan yang lazim digunakan dalam operasi udara berskala besar untuk menciptakan keunggulan operasional sebelum memasuki tahap berikutnya.


Infrastruktur Transportasi Strategis Iran Ikut Menjadi Sasaran

Salah satu perkembangan yang paling mengejutkan dalam operasi kali ini adalah masuknya infrastruktur transportasi strategis ke dalam daftar target serangan.

Menurut laporan yang dimuat The Times of Israel, militer Amerika Serikat dilaporkan menyerang dua jalur kereta api penting di wilayah utara Iran, yaitu:

  • Jembatan Aktekhan di Provinsi Golestan.
  • Jalur rel kereta api Gorgan.

Apabila laporan tersebut akurat, maka ini menjadi pertama kalinya sejak gencatan senjata April 2026 Amerika Serikat secara langsung menyasar infrastruktur transportasi strategis Iran.

Berbeda dengan pangkalan militer atau fasilitas pertahanan, jaringan rel kereta api memiliki fungsi yang jauh lebih luas karena digunakan untuk mobilisasi pasukan, distribusi logistik, pengangkutan peralatan berat, serta aktivitas perdagangan antarkawasan.

Penghancuran jalur tersebut berpotensi memperlambat pergerakan logistik militer sekaligus mengganggu distribusi barang ke berbagai wilayah Iran.


Koridor Dagang Iran–Rusia–Tiongkok Ikut Terdampak

Nilai strategis kedua jalur kereta tersebut tidak hanya terbatas pada kepentingan domestik Iran.

Selama bertahun-tahun, jaringan rel tersebut telah berkembang menjadi salah satu koridor perdagangan utama yang menghubungkan Iran dengan Rusia dan Tiongkok.

Koridor ini memiliki panjang lebih dari 10.000 kilometer, membentang dari kawasan Aprin, dekat Teheran, menuju berbagai kota di pedalaman Tiongkok, termasuk Xi’an dan Yiwu. Jalur tersebut juga merupakan bagian penting dari proyek Belt and Road Initiative (BRI) atau Sabuk dan Jalan, program infrastruktur global yang dipromosikan pemerintah Tiongkok untuk memperkuat konektivitas perdagangan lintas benua.

Karena itu, apabila infrastruktur tersebut mengalami kerusakan serius, dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan oleh Iran, tetapi juga berpotensi memengaruhi kelancaran distribusi barang dan rantai pasok regional yang menghubungkan Timur Tengah dengan Asia Tengah dan Asia Timur.

Sejumlah analis menilai bahwa pemilihan sasaran tersebut mencerminkan strategi Washington yang tidak hanya berupaya menekan kemampuan militer Iran, tetapi juga mempersempit ruang gerak logistik dan ekonomi negara tersebut melalui gangguan terhadap jalur perdagangan strategis yang selama ini menjadi penghubung utama Iran dengan mitra-mitra internasionalnya.


Konflik Memasuki Fase yang Lebih Kompleks

Hingga 10 Juli 2026, belum ada tanda-tanda bahwa operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran akan segera berakhir. Dengan semakin luasnya daftar sasaran yang mencakup fasilitas nuklir, pangkalan udara, pelabuhan militer, jaringan transportasi, hingga koridor perdagangan internasional, konflik kini memasuki fase yang jauh lebih kompleks dibandingkan tahap awal operasi.

Para pengamat menilai bahwa perluasan target tersebut menunjukkan adanya perubahan strategi dari sekadar operasi penghancuran kemampuan tempur menuju upaya menekan infrastruktur strategis yang menopang kekuatan militer, logistik, dan ekonomi Iran. 

Di sisi lain, meningkatnya aktivitas militer di sejumlah wilayah perbatasan serta belum adanya sinyal deeskalasi dari kedua belah pihak memperbesar kekhawatiran bahwa konfrontasi dapat berkembang menjadi konflik yang lebih panjang dan berdampak luas terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah. (***)

Apa yang Disampaikan Trump Saat Iran Digempur, Pulau Kharg Disebut Jadi Target Berikutnya?

EtIndonesia.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat memasuki hari-hari setelah dimulainya gelombang kedua operasi militer Washington pada Rabu, 8 Juli 2026. Di tengah rangkaian serangan udara yang masih berlangsung hingga Kamis, 9 Juli 2026, dinamika baru tidak hanya muncul di medan perang, tetapi juga dalam ranah diplomasi internasional, terutama menyangkut hubungan Amerika Serikat dengan Tiongkok.

Di saat Washington meningkatkan tekanan militer terhadap Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru menyampaikan pernyataan yang bernada lebih lunak terhadap Beijing pada hari terakhir Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO. Bersamaan dengan itu, Iran dilaporkan memperkuat kesiapan militernya, meluncurkan serangan balasan, serta meningkatkan pengamanan di berbagai wilayah strategis.

Trump Sampaikan Pernyataan Positif terhadap Tiongkok di Tengah Krisis Iran

Dalam pernyataannya pada Rabu, 8 Juli 2026, bertepatan dengan penutupan KTT NATO, Presiden Donald Trump menyoroti posisi Tiongkok di tengah konflik yang sedang berkembang di Timur Tengah.

Trump mengatakan bahwa Tiongkok merupakan salah satu negara yang sangat bergantung pada pasokan energi yang melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia. Meski demikian, menurut Trump, Beijing memilih untuk tidak terlibat secara langsung dalam konflik yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran.

Ia juga menilai Tiongkok mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati dengan tidak mengirim kapal perang untuk mengawal kapal-kapal dagangnya selama ketegangan meningkat di kawasan Teluk.

Pernyataan tersebut langsung menarik perhatian berbagai kalangan pengamat hubungan internasional. Sejumlah analis menilai komentar Trump bukan sekadar bentuk apresiasi terhadap sikap Beijing, melainkan bagian dari strategi diplomasi yang lebih luas.

Di satu sisi, Washington tetap mempertahankan tekanan militer terhadap Iran melalui operasi udara berskala besar. Namun di sisi lain, Gedung Putih dinilai masih berupaya menjaga hubungan komunikasi dengan Beijing menjelang kemungkinan pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping yang menurut berbagai laporan diperkirakan dapat berlangsung pada September 2026.

Menurut para analis, pujian Trump kepada Tiongkok juga dapat dipandang sebagai pesan strategis bahwa perkembangan konflik Iran memiliki dampak langsung terhadap kepentingan energi Beijing, sehingga Amerika Serikat tetap memiliki pengaruh terhadap salah satu kepentingan vital Tiongkok di kawasan Timur Tengah.

Serangan Dekat Mashhad Dilaporkan Mengganggu Prosesi Pemakaman

Sementara itu, situasi keamanan di Iran juga dilaporkan semakin memburuk.

Beberapa laporan menyebutkan bahwa militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap jalur kereta api menuju Mashhad, salah satu kota suci terpenting di Iran, hanya beberapa jam sebelum prosesi pemakaman seorang tokoh yang dalam sejumlah laporan disebut sebagai “Lao Ha” dijadwalkan berlangsung.

Akibat meningkatnya ancaman keamanan, tahapan akhir prosesi pemakaman dilaporkan terpaksa ditunda.

Berbagai sumber menyebutkan bahwa jenazah akhirnya dipindahkan menggunakan pesawat Boeing menuju lokasi lain demi alasan keamanan.

Sejumlah pengamat menilai gangguan terhadap prosesi tersebut semakin memperlihatkan meningkatnya tekanan politik dan situasi keamanan di dalam negeri Iran. Namun demikian, rincian mengenai identitas tokoh yang dimaksud maupun kronologi lengkap kejadian tersebut hingga kini masih terbatas dan belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.

Mojtaba Khamenei Diperkirakan Muncul untuk Pertama Kalinya pada 19 Juli 2026

Di tengah meningkatnya ketidakpastian politik, perhatian juga tertuju kepada Mojtaba Khamenei, putra Pemimpin Tertinggi Iran.

Menurut laporan Kantor Berita Fars, Mojtaba diperkirakan akan melakukan kemunculan publik pertamanya pada 19 Juli 2026 dalam sebuah acara peringatan yang akan diselenggarakan di kota suci Qom.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa seluruh rangkaian acara dipersiapkan secara langsung olehnya.

Apabila benar terlaksana, kemunculan tersebut dipandang sebagai perkembangan politik yang sangat penting karena selama ini Mojtaba Khamenei kerap disebut oleh sejumlah pengamat sebagai salah satu kandidat kuat penerus kepemimpinan tertinggi Republik Islam Iran.

Meski demikian, hingga 10 Juli 2026 belum terdapat pengumuman resmi dari otoritas Iran yang mengonfirmasi agenda tersebut.

Iran Konfirmasi Pejabat Senior IRGC Tewas

Pemerintah Iran juga mengonfirmasi bahwa seorang pejabat senior Angkatan Laut Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bernama Hachini tewas dalam serangan udara Amerika Serikat.

Hachini sebelumnya dikenal luas setelah beberapa kali mengeluarkan pernyataan keras yang mengancam akan menjadikan Teluk Oman sebagai “kuburan” bagi kapal perang Amerika Serikat apabila konflik pecah.

Selain Hachini, media pemerintah Iran melaporkan bahwa sedikitnya tiga hingga delapan anggota IRGC turut menjadi korban dalam gelombang serangan udara terbaru.

Namun hingga 10 Juli 2026, jumlah korban yang sebenarnya masih belum dapat dipastikan karena belum terdapat verifikasi independen dari lembaga internasional maupun organisasi pemantau konflik.

Iran Meluncurkan Rudal Balasan ke Kawasan Teluk

Sebagai respons terhadap operasi militer Amerika Serikat, Iran kembali melancarkan serangan balasan menggunakan rudal balistik.

Menurut sejumlah laporan yang beredar pada Kamis pagi, 9 Juli 2026, Iran menembakkan sekitar 10 rudal balistik ke sejumlah sasaran di kawasan Teluk.

Beberapa laporan menyebut Kuwait dan Bahrain menjadi wilayah yang terdampak oleh serangan tersebut, sehingga meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik mulai meluas ke negara-negara Teluk lainnya.

Di saat bersamaan, media Channel 11 melaporkan bahwa Kuwait dan Bahrain mulai meningkatkan koordinasi pertahanan dan operasi militer sebagai langkah antisipasi terhadap memburuknya situasi keamanan regional.

Sementara itu, sejumlah laporan lain menyebut bahwa Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi memberikan dukungan logistik terhadap operasi penerbangan militer Amerika Serikat.

Adapun klaim mengenai keterlibatan Vietnam dalam dukungan logistik juga sempat beredar di sejumlah media daring. Namun hingga 10 Juli 2026, belum terdapat konfirmasi resmi dari pemerintah Vietnam maupun pemerintah Amerika Serikat mengenai informasi tersebut.

CENTCOM Tingkatkan Aktivitas Udara dan Pengerahan Armada Laut

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) juga menunjukkan peningkatan aktivitas militernya di kawasan Timur Tengah.

CENTCOM merilis dokumentasi yang memperlihatkan pesawat tempur F-16 lepas landas dari salah satu pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut sebagai bagian dari operasi yang sedang berlangsung.

Di wilayah Selat Hormuz, aktivitas udara Amerika Serikat juga dilaporkan meningkat secara signifikan.

Berdasarkan berbagai laporan militer, sedikitnya terdeteksi pengerahan:

  • 9 pesawat tanker untuk pengisian bahan bakar di udara.
  • 1 pesawat peringatan dini AWACS.
  • 1 pesawat nirawak MQ-9 Reaper untuk misi pengawasan dan intelijen.

Sementara itu, di perairan Teluk, Amerika Serikat disebut mengerahkan kekuatan besar yang terdiri atas:

  • Sekitar 24 kapal perang.
  • 2 kapal induk.
  • Kurang lebih 20.000 personel militer dalam status siaga tinggi.

Besarnya konsentrasi kekuatan tersebut dipandang sebagai indikasi bahwa Washington tetap mempersiapkan berbagai opsi apabila konflik berkembang menjadi operasi militer yang lebih luas.

Iran Kerahkan Ribuan Pasukan Khusus ke Perbatasan Kurdistan Irak

Perkembangan lain yang turut menjadi perhatian adalah laporan mengenai pengerahan ribuan personel pasukan khusus Iran menuju wilayah perbatasan Kurdistan Irak.

Selama beberapa tahun terakhir, Iran lebih banyak mengandalkan operasi udara maupun serangan cepat terhadap kelompok-kelompok bersenjata Kurdi di kawasan tersebut.

Namun dalam beberapa hari terakhir, berbagai laporan menyebutkan bahwa Teheran mulai menempatkan pasukan dalam jumlah yang jauh lebih besar, memunculkan dugaan adanya persiapan operasi darat apabila situasi terus memburuk.

Pemerintah Iran selama ini menuduh sejumlah kelompok oposisi Kurdi memperoleh dukungan dari negara-negara Barat dan berupaya menggulingkan pemerintahan di Teheran.

Sejumlah analis menilai pengerahan pasukan tersebut menunjukkan meningkatnya kekhawatiran Iran terhadap kemungkinan ancaman di wilayah belakang garis pertahanannya.

Meski demikian, berbagai klaim yang menyebut kelompok oposisi Kurdi telah bergerak mendekati wilayah Iran maupun dugaan adanya dukungan langsung Amerika Serikat terhadap operasi tersebut hingga 10 Juli 2026 masih belum memperoleh konfirmasi resmi dan tetap memerlukan verifikasi independen.

Gedung Putih Siapkan Skenario Konflik Berkepanjangan

Menurut seorang pejabat Amerika Serikat yang dikutip Axios, Presiden Donald Trump dijadwalkan menerima laporan intelijen terbaru pada Kamis, 9 Juli 2026, guna mengevaluasi perkembangan operasi militer terhadap Iran.

Pada saat yang sama, Gedung Putih dilaporkan mulai menyiapkan berbagai skenario apabila konflik berkembang menjadi operasi yang berlangsung selama beberapa hari bahkan beberapa pekan.

Sementara itu, CNN melaporkan bahwa pemerintah Israel masih terus berupaya memperoleh persetujuan dari Presiden Trump agar dapat mengambil peran yang lebih besar dalam operasi militer terhadap Iran.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa koordinasi strategis antara Washington dan Tel Aviv masih terus berlangsung di tengah meningkatnya eskalasi konflik.

Pulau Khark Dinilai Berpotensi Menjadi Sasaran Strategis Berikutnya

Di tengah terus bertambahnya kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, sejumlah pengamat militer mulai berspekulasi mengenai kemungkinan sasaran operasi berikutnya.

Salah satu lokasi yang sering disebut adalah Pulau Khark, yang selama ini menjadi pusat utama ekspor minyak Iran sekaligus salah satu aset ekonomi paling vital bagi negara tersebut.

Menurut para analis, apabila Amerika Serikat memutuskan meningkatkan tekanan terhadap Iran, Pulau Khark memiliki nilai strategis yang sangat tinggi karena menjadi jalur utama ekspor minyak mentah Iran ke pasar internasional.

Namun demikian, hingga Jumat, 10 Juli 2026, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Amerika Serikat maupun Pentagon yang mengonfirmasi adanya rencana operasi militer untuk menguasai atau menyerang Pulau Khark.

Oleh karena itu, seluruh pembahasan mengenai kemungkinan operasi tersebut masih sebatas analisis para pengamat berdasarkan pola pengerahan kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk dan belum dapat dipastikan sebagai kebijakan resmi Washington. (***)

Serangan Udara pada Hari Pemakaman: Sekitar 90 Target di Iran Dihancurkan, Jembatan Kereta Api Lumpuh

EtIndonesia.com  Militer Amerika Serikat pada Kamis (9 Juli),melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap Iran untuk hari kedua berturut-turut. Menurut Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), sekitar 90 sasaran, termasuk sistem pertahanan udara, rudal, dan pangkalan drone, menjadi target serangan presisi.

Pada saat yang sama, Amerika Serikat juga memperluas cakupan serangannya dengan melumpuhkan beberapa jembatan kereta api penting. Sementara itu, pesawat tempur dari kapal induk AS terus dikerahkan, dan Israel menyatakan siap setiap saat untuk kembali melancarkan operasi militer.

Ledakan besar menerangi langit malam, disertai kobaran api dan kepulan asap tebal.

Pada Rabu, militer AS kembali menggempur sasaran-sasaran militer di pesisir Iran untuk malam kedua berturut-turut. Artikel tersebut menyebutkan bahwa ini merupakan bentrokan terbesar sejak Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan damai sementara pada bulan lalu.

Komando Pusat AS menyatakan bahwa sekitar 90 target militer, termasuk sistem pertahanan udara Iran, fasilitas pengawasan pantai, gudang rudal, dan gudang pesawat nirawak (drone), berhasil dihantam secara presisi.

Selain itu, serangan udara juga diperluas ke infrastruktur. Salah satu sasaran adalah Jembatan Kereta Api Aq Taqeh Khan di Provinsi Golestan, Iran utara. Artikel tersebut menyebut jembatan ini merupakan jalur perdagangan penting yang menghubungkan Teheran dengan Tiongkok dan Rusia.

Dua jembatan penting lainnya yang menuju Mashhad juga dilaporkan dibom.

Seorang reporter CNN di Iran, Fred Pleitgen, mengatakan: “Kedua jembatan kereta api ini sangat penting hari ini, karena hari ini pemimpin tertinggi yang telah meninggal, Ali Khamenei, akan dimakamkan di kota Mashhad di bagian timur. Kedua jembatan tersebut merupakan jalur yang menghubungkan ibu kota Teheran dengan Mashhad.”

Pada Kamis, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengeluarkan pernyataan yang mengancam bahwa apabila Amerika Serikat terus melancarkan serangan, Iran akan memberikan balasan.

Dalam putaran bentrokan terbaru ini, menurut artikel, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menembakkan rudal dan drone ke sasaran di Bahrain, Kuwait, dan Qatar, sehingga alarm bahaya berbunyi di berbagai wilayah Teluk.

Beberapa hari terakhir Iran kembali menyerang sejumlah kapal dagang di sekitar Selat Hormuz, yang disebut memicu kemarahan Presiden Donald Trump. Trump dikutip mengatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata sementara dengan Iran telah berakhir.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (8 Juli 2026): “Kami menghantam mereka dengan keras. Saya berani mengatakan kami membalas dengan kekuatan 20 banding 1. Setiap kali mereka menyerang kami, kami akan membalas 20 kali lipat. Terus terang, mereka agak gila. Mereka sedikit kehilangan kendali, tetapi mereka ingin mencapai kesepakatan. Mereka sangat ingin.”

Pada Kamis, pesawat tempur F/A-18 milik Angkatan Laut AS terlihat terus lepas landas dan mendarat di kapal induk USS Abraham Lincoln untuk menjalankan misi penerbangan di atas Selat Hormuz.

Hingga Rabu, Angkatan Laut Amerika Serikat dilaporkan telah mengerahkan 19 kapal perang di perairan sekitar Iran, sehingga situasi keamanan di kawasan semakin tegang.

Reporter CNN, Pam Brown, mengatakan: “Ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Para pilot pesawat tempur ini memainkan peran yang sangat penting sejak perang dimulai. Mereka adalah pilot pertama yang lepas landas untuk membombardir Iran.”

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz pada Kamis menegaskan bahwa militer Israel tetap berada dalam kondisi siaga tinggi dan siap kapan saja melanjutkan operasi militer guna menghilangkan ancaman dari Iran.

Dilaporkan oleh Yi Jing, New Tang Dynasty Television.

Analisis: Serangan Militer AS terhadap Jembatan Kereta Api Iran Bertujuan Memutus Jalur Logistik dan Memberikan Tekanan Strategis 

EtIndonesia.com  Konflik di Iran terus meningkat. Militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap sekitar 90 target militer di Iran, sekaligus menghancurkan sebuah jembatan kereta api penting yang terhubung dengan jaringan kereta barang Tiongkok–Eropa (China-Europe Railway Express).

Para analis yang diwawancarat berpendapat bahwa selain bertujuan memutus jalur logistik Iran, tindakan tersebut juga dimaksudkan sebagai sinyal strategis kepada Iran dan Partai Komunis Tiongkok (PKT), yang menunjukkan bahwa tekanan militer Amerika Serikat terus meningkat.

Militer AS untuk hari kedua berturut-turut melancarkan serangan udara berskala besar. Selain menyerang fasilitas militer, mereka juga membom jembatan kereta api yang menghubungkan Teheran dengan Mashhad.

Jalur kereta api ini menuju lokasi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, sekaligus merupakan salah satu simpul penting jaringan kereta api yang menghubungkan Iran dengan Asia Tengah. Jalur ini juga disebut terhubung dengan sebagian jaringan Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative) serta layanan kereta barang Tiongkok–Eropa. Diperkirakan perbaikannya memerlukan waktu beberapa hari.

Host acara program “Mark Space” dan “Current Affairs Spring and Autumn”, Mark, mengatakan: “Serangan itu akan menghambat pengiriman logistik dari Partai Komunis Tiongkok. Jika Iran ingin memperbaiki jalur kereta api tersebut, mungkin hanya memerlukan beberapa hari atau satu hingga dua minggu. Jadi menurut saya, makna simbolis dari serangan ini lebih besar.”

Laporan menyebutkan adanya informasi bahwa setelah Amerika Serikat membatasi jalur pelayaran, volume angkutan melalui jalur kereta api tersebut meningkat.

Namun demikian, satu rangkaian kereta barang Tiongkok–Eropa yang berangkat dari Xi’an hanya mampu mengangkut sekitar 3.800 ton barang, sehingga kapasitas angkutnya dinilai terbatas. Meski demikian, sejumlah pengamat berpendapat bahwa serangan tersebut tetap memiliki efek peringatan terhadap Iran maupun PKT.

“Militer AS menghancurkan jalur kereta api yang menghubungkan kota tempat Khamenei akan dimakamkan, kemungkinan sebagai bentuk tekanan terhadap Iran. Namun jalur ini juga merupakan salah satu rute penting bagi kereta barang Tiongkok–Eropa,” ujar pengamat politik Li Linyi. 

“Penghancuran jembatan ini mungkin memiliki beberapa tujuan sekaligus: memutus jalur logistik militer Iran, sekaligus menyulitkan Iran dalam jangka panjang. Apapun tujuannya, jika jalur ini terputus, dampaknya akan sangat besar bagi layanan kereta barang Tiongkok–Eropa. Belum pernah sebelumnya ada jalur kereta api yang dibom oleh Amerika Serikat,” katanya. 

Menurut laporan, karena Iran dinilai berulang kali tidak menepati komitmennya, Presiden Donald Trump kini tidak lagi yakin kedua pihak masih dapat mencapai kesepakatan. Ia juga mengisyaratkan bahwa militer AS akan terus melanjutkan serangan udara terhadap Iran.

Para analis dalam laporan tersebut menilai bahwa strategi Iran selama ini, yaitu bernegosiasi sambil memberikan tekanan untuk memperlambat proses, kini sudah tidak lagi efektif.

Mereka memperkirakan bahwa langkah berikutnya dari Amerika Serikat kemungkinan akan difokuskan pada upaya lebih lanjut untuk melemahkan kemampuan militer Iran, terutama fasilitas-fasilitas militer di sepanjang pesisir dan pulau-pulau di sekitar Selat Hormuz.

Mark menambahkan: “Pertama, Amerika Serikat seharusnya terus melakukan blokade laut dan tidak membiarkan ekspor minyak Iran keluar, sehingga sumber ekonominya benar-benar terputus. Kedua, intensitas serangan terhadap Iran juga perlu terus ditingkatkan.”

Dilaporkan oleh Chen Yue dan Chang Chun untuk New Tang Dynasty Television.

Terungkap Sindikat “Ayah Palsu” : 164 Anak Warga Negara Tiongkok Diduga Memperoleh Kewarganegaraan Thailand

EtIndonesia.com  Kepolisian Thailand baru-baru ini membongkar sebuah sindikat pemalsuan pencatatan kelahiran lintas negara. Sindikat tersebut diduga menggunakan “ayah palsu” untuk membantu anak-anak berkewarganegaraan Tiongkok memperoleh kewarganegaraan Thailand. Hingga saat ini, 16 orang telah ditangkap.

Berdasarkan laporan Bangkok Post, polisi Thailand mengungkap jaringan pemalsuan akta kelahiran yang diduga memanfaatkan pria berkewarganegaraan Thailand sebagai “ayah palsu” untuk mengakui hubungan ayah-anak secara fiktif. Modus ini diduga membantu sedikitnya 164 anak berkewarganegaraan Tiongkok memperoleh kewarganegaraan Thailand.

Polisi telah mengidentifikasi 42 tersangka, dan sejauh ini 16 orang telah ditangkap. Para tersangka mencakup pegawai rumah sakit, pejabat pemerintah, serta pihak-pihak lain yang diduga terlibat.

Menurut polisi, kasus ini terungkap ketika mereka menyelidiki sebuah kasus penipuan dan pencucian uang berskala besar. Dalam penyelidikan tersebut, polisi menemukan bahwa tiga anak milik seorang tersangka warga negara Tiongkok memiliki paspor Thailand. Penemuan itu kemudian mengarah pada terbongkarnya sindikat yang dijuluki “kelompok ayah palsu”.

Modus operandi sindikat ini adalah mengatur agar perempuan warga negara Tiongkok melahirkan di Thailand. Setelah itu, seorang pria warga negara Thailand melakukan pernikahan palsu atau mengakui hubungan ayah-anak secara fiktif, sehingga proses pencatatan kelahiran dapat diselesaikan dan anak tersebut memperoleh kewarganegaraan Thailand.

Penyelidikan juga mengungkap dugaan pelanggaran lain. Polisi menemukan bahwa salah satu “ayah palsu” yang terlibat dalam kasus ini ternyata memiliki 10,2% saham di China Railway No. 10 Engineering Group (CREC 10) dan diduga bertindak sebagai nominee (pemegang saham atas nama) bagi perusahaan tersebut di Thailand.

Perusahaan konstruksi itu disebut sebagai salah satu kontraktor yang terkait dengan kasus runtuhnya Gedung Kantor Audit Negara Thailand di Bangkok pada Maret tahun lalu. Insiden itu  mengakibatkan 95 orang meninggal dunia.

Dilaporkan oleh Zheng Shengxun untuk New Tang Dynasty Television.

Sejumlah Besar Burung di Zhejiang, Tiongkok Tiba-Tiba Meninggalkan Sarang dan Berputar-putar di Langit 

EtIndonesia.com Fenomena langit yang tidak biasa kembali muncul di Tiongkok. Menjelang kedatangan Topan Super Bavi, sejumlah besar burung terlihat terbang berkelompok sambil berputar-putar di langit dan meninggalkan sarang lebih awal di wilayah seperti Ningbo dan Taizhou, Provinsi Zhejiang. Fenomena tersebut memicu perbincangan hangat di media sosial.

Video yang beredar di internet memperlihatkan langit di Ningbo dan Taizhou dipenuhi kawanan burung yang terbang berkelompok dalam jumlah sangat banyak. Burung-burung itu tampak terus berputar-putar di udara dan meninggalkan sarang mereka lebih awal. Jumlahnya sangat banyak hingga memenuhi langit, dan perilaku yang tidak biasa itu terjadi secara serentak.

Banyak warganet Tiongkok memberikan komentar, antara lain:

  • “Fenomena langit yang aneh, banyak burung walet berkumpul.”
  • “Ini pertama kalinya saya melihat begitu banyak burung walet, benar-benar mengejutkan.”
  • “Kemarin (9 Juli) tiba-tiba banyak lalat masuk ke ruang kelas, dan di bawah gedung juga muncul banyak kecoak.”
  • “Belum pernah melihat begitu banyak burung terbang bersama.”
  • “Seolah-olah ada sesuatu yang sedang mengejar mereka.”

Sebagian warganet mengaitkan fenomena tersebut dengan cuaca buruk:

  • “Ini bukan pertanda baik. Mungkin besok atau lusa topan akan datang.”
  • “Hewan-hewan sudah memberi peringatan lebih dulu kepada manusia.”
  • “Topan kali ini pasti berbahaya, hewan-hewan bisa merasakannya lebih dulu.”

Ada pula yang berspekulasi mengenai kemungkinan bencana lain:

  • “Banyak orang mengatakan mungkin ini tanda akan terjadi gempa bumi.”
  • “Di Zhejiang rasanya tidak mungkin gempa, mungkin hanya karena topan.”
  • “Ini pertanda sebelum hukum alam menunjukkan kekuatannya.”
  • “Ini adalah tanda datangnya bencana.”
  • “Mungkin topan berkekuatan level 17 atau bencana alam besar lainnya.”

Pada 10 Juli pagi, Biro Meteorologi Kota Ningbo mengeluarkan peringatan topan. Disebutkan bahwa pada pukul 08.00, pusat Topan Bavi berada sekitar 1.173 kilometer di tenggara Ningbo, dengan kecepatan angin maksimum di sekitar pusat mencapai level 14 (42 meter per detik). Topan diperkirakan terus bergerak mendekati pesisir Zhejiang dan Fujian, serta akan mendarat pada malam 11 Juli di kawasan pesisir antara Wenling hingga Fuqing, Fujian, dengan kekuatan topan kuat hingga topan (level 13–14, kecepatan angin 38–45 meter per detik).

Sebelumnya, pada 7 dan 8 Juli, langit di Hangzhou, Zhejiang, tampak memerah seperti berwarna darah, sehingga membuat banyak warga merasa khawatir akan datangnya bencana.

Pada 10 Juli pukul 06.00, Pusat Meteorologi Nasional Tiongkok mengeluarkan:

  • Peringatan Oranye untuk Topan,
  • Peringatan Kuning untuk Hujan Lebat, dan
  • Peringatan Biru untuk Cuaca Konvektif Kuat.

Sumber : NTDTV.com