Gempa Dahsyat Venezuela Tewaskan 2.954 Orang, Kisah Pria Terlempar dari Lantai 5 ke Ruang Bawah Tanah dan Selamat Setelah Terjebak 55 Jam

EtIndonesia.com Gempa bumi berkekuatan M7,2 dan M7,5 yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni telah menyebabkan korban jiwa terus bertambah. Pada 4 Juli, pemerintah Venezuela menaikkan jumlah laporan korban meninggal menjadi 2.954 orang.

Salah satu kisah yang menarik perhatian adalah Juan Zapata, warga kota pesisir La Guaira. Kekuatan gempa yang luar biasa membuat tubuhnya terlempar melintasi ruangan. Setelah berhasil diselamatkan usai terjebak selama 55 jam, ia baru mengetahui bahwa dirinya ternyata telah terjatuh dari lantai lima hingga ke ruang bawah tanah bangunan.

Menurut laporan Reuters dan AFP, seiring tim penyelamat internasional mulai mengurangi operasi pencarian korban selamat di daerah bencana, data resmi menunjukkan bahwa lebih dari 16.000 orang kehilangan tempat tinggal. Sementara itu, jumlah orang yang masih dinyatakan hilang, menurut angka yang banyak dikutip berbagai pihak, telah melampaui 41.000 orang.

Gempa dahsyat tersebut menghancurkan kawasan pesisir La Guaira, yang terletak di sebelah utara ibu kota Caracas. Banyak kompleks permukiman di wilayah itu rata dengan tanah.

Saat gempa terjadi, Zapata sedang bersiap untuk mandi ketika guncangan hebat melemparkannya hingga tubuhnya tersangkut di antara dua batang besi beton. Beruntung, setelah terjebak di bawah reruntuhan selama 55 jam, ia berhasil ditemukan dan diselamatkan oleh tim penyelamat sipil.

Saat ini Zapata menjalani perawatan di rumah sakit lapangan yang didirikan organisasi kemanusiaan Samaritan’s Purse di La Guaira.

Berdiri di samping ranjang rumah sakit, ia mengenang momen penyelamatannya.

“Saat mereka menyelamatkan saya, saya berkata, ‘Saya berada di lantai lima.’ Mereka menjawab, ‘Tidak, sekarang Anda berada di ruang bawah tanah.’ Saat itu saya benar-benar tidak percaya dengan apa yang telah saya alami,” katanya. 

Akibat gempa tersebut, Zapata mengalami patah beberapa tulang rusuk, luka robek dan lecet di sekujur tubuh, serta kedua kakinya masih diperban. Hingga kini ia mengatakan bahwa bahkan bernafas pun masih terasa sakit.

Ia mengaku telah kehilangan seluruh harta bendanya. “Saya tidak memiliki apa-apa lagi,” ujarnya. 

Kartu identitas, dokumen penting, maupun telepon genggamnya semuanya hilang. Akibatnya ia belum dapat menghubungi putrinya yang tinggal di Amerika Serikat maupun saudara perempuannya di Kanada.

Meski demikian, ia tetap bersyukur.

“Tuhan masih memberikan saya kesehatan,” ujarnya. 

Menurut pengalaman penanganan bencana, 72 jam pertama setelah gempa merupakan masa emas untuk menyelamatkan korban. Meski peluang menemukan korban selamat semakin kecil, pekan ini masih ada beberapa orang yang berhasil dievakuasi hidup-hidup.

Di lokasi reruntuhan sebuah kompleks perumahan umum di La Guaira, tim penyelamat sipil yang dipimpin guru olahraga Alexander Delgado pada 4 Juli masih terus berupaya mencari korban dan menolak menghentikan operasi penyelamatan.

Salah seorang relawan lainnya, Miguel Poleo, ikut bergabung dalam pencarian karena masih mencari anak tirinya beserta keluarganya. Namun hingga saat ini mereka hanya menemukan anjing peliharaan keluarga tersebut di bawah reruntuhan dalam keadaan telah mati.

“Polisi berpatroli di sini dengan perlengkapan lengkap dan membawa senjata semi otomatis, seolah-olah kami berada di medan perang,” jelasnya. 

Namun ia menambahkan, “Yang kami butuhkan adalah mereka ikut membantu proses penyelamatan.”

Baik Poleo maupun Delgado mengatakan mereka akan tetap berada di lokasi hingga seluruh korban berhasil ditemukan. “Kami harus membawa keluar jenazah mereka,” katanya. (***)

Kedubes AS di Tiongkok Keluarkan 10 Peringatan dalam Sebulan, Ingatkan Risiko Bepergian ke Tiongkok

EtIndonesia.com  Sejak pertengahan Juni lalu, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Tiongkok telah mengeluarkan 10 peringatan dalam waktu kurang dari satu bulan untuk mengingatkan warga negara AS mengenai berbagai risiko yang dapat mereka hadapi di daratan Tiongkok. Langkah tersebut menarik perhatian luas.

Dari 1 hingga 3 Juli, Kedutaan Besar dan Konsulat AS di Tiongkok secara berturut-turut mengunggah tiga peringatan dalam bahasa Mandarin dan Inggris melalui platform media sosial X. Peringatan tersebut mengingatkan warga negara AS mengenai berbagai risiko di Tiongkok yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan, pemantauan media sosial, dan kebebasan pers.

Peringatan terbaru menyoroti risiko yang dihadapi para jurnalis di Tiongkok, termasuk kemungkinan ditahan atau dideportasi. Dalam peringatan tersebut disebutkan:

“Lingkungan informasi di Tiongkok berada di bawah kendali Partai Komunis Tiongkok. Kebebasan pers dan kebebasan berpendapat tidak dijamin.”

Peringatan itu juga menyatakan bahwa pihak berwenang PKT memberikan tekanan kepada wartawan asing agar memberitakan Tiongkok secara apa yang disebut sebagai “positif”.

Peringatan kedua, yang diterbitkan pada 2 Juli, mengingatkan mengenai pengawasan media sosial oleh pemerintah Tiongkok. Disebutkan bahwa pihak berwenang melakukan pemantauan secara luas terhadap akun-akun di platform seperti WeChat, Xiaohongshu, dan Weibo. Selain itu, disebutkan pula bahwa platform media sosial yang paling umum digunakan di Amerika Serikat diblokir di Tiongkok.

Peringatan pertama, yang diterbitkan pada 1 Juli, mengingatkan warga negara AS agar berhati-hati dalam mengikuti kegiatan keagamaan di Tiongkok. Peringatan tersebut menyebutkan bahwa warga AS yang mengikuti kegiatan keagamaan yang tidak mendapat persetujuan pemerintah, termasuk persekutuan doa pribadi atau kelompok pendalaman Alkitab, dapat menghadapi sanksi berupa denda, penahanan, penangkapan, atau deportasi.

Sebelumnya, dalam periode 13–30 Juni, Kedutaan Besar dan Konsulat AS juga telah mengeluarkan tujuh peringatan mengenai risiko perjalanan ke Tiongkok. Topik yang dibahas meliputi:

  • kewarganegaraan ganda;
  • larangan meninggalkan wilayah Tiongkok (exit ban) dan penahanan;
  • kemungkinan pemeriksaan terhadap orang yang memiliki latar belakang etnis Tionghoa atau memiliki hubungan dengan pemerintah AS;
  • pemberitahuan mengenai penangkapan;
  • penegakan hukum yang dinilai sewenang-wenang dan pengawasan;
  • serta keamanan dan privasi di dunia maya.

Pengamat politik independen Cai Shenkun menulis di platform X bahwa rentetan peringatan dari Kedutaan Besar AS menunjukkan bahwa risiko bepergian ke Tiongkok kini bukan lagi sekadar persoalan visa, keamanan umum, atau keselamatan perjalanan, melainkan telah menjadi risiko yang bersifat sistemik.

Menurutnya, PKT telah memasukkan urusan agama, media, internet, akademisi, bisnis, hingga hubungan pribadi ke dalam kerangka keamanan politik. Dengan demikian, siapa pun yang memasuki wilayah Tiongkok berpotensi berada di bawah sistem kekuasaan yang dinilai tidak transparan, tidak memiliki aturan yang jelas, dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Ia juga mengatakan bahwa melalui peringatan tersebut, Kedutaan Besar AS pada dasarnya mengingatkan warga negaranya bahwa Tiongkok saat ini bukan lagi sekadar tujuan wisata biasa, melainkan sebuah negara yang berisiko tinggi, di mana warga asing dapat sewaktu-waktu dijadikan alat tawar-menawar, interaksi yang normal dapat diperlakukan sebagai pelanggaran, dan kebebasan individu dapat berada di bawah kepentingan negara.

Saat ini, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat masih mempertahankan Peringatan Perjalanan Level 2 untuk Tiongkok yang berada di bawah pemerintahan Partai Komunis Tiongkok, dengan imbauan kepada para pelancong untuk meningkatkan kewaspadaan. (***)

“Pesan Rahasia” Lewat Pemakaman Khamenei, Turkiye, Lebanon Hingga Hizbullah Dapat Ayat Berbeda!

EtIndonesia.com– Rangkaian prosesi pemakaman kenegaraan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tidak hanya menjadi ajang penghormatan terakhir bagi tokoh paling berpengaruh di Republik Islam Iran, tetapi juga disebut dimanfaatkan pemerintah Teheran sebagai panggung diplomasi untuk menyampaikan berbagai pesan politik kepada negara-negara sahabat maupun mitra strategis yang hadir.

Di saat yang sama, perkembangan terbaru terkait rencana Iran terhadap Selat Hormuz, respons negara-negara Barat, hingga kemungkinan pertemuan antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump semakin memperlihatkan bahwa dinamika politik Timur Tengah masih berada dalam fase yang sangat sensitif.

Prosesi Pemakaman Disebut Menjadi Sarana Penyampaian Pesan Diplomatik

Menurut sejumlah laporan, pemerintah Iran mengatur agar setiap delegasi asing yang menghadiri prosesi pemakaman diberi kesempatan mendekati peti jenazah Ayatollah Ali Khamenei. Saat berada di hadapan peti jenazah, masing-masing delegasi diperdengarkan pembacaan singkat ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Namun, laporan tersebut menyebutkan bahwa ayat-ayat yang dibacakan bukan dipilih secara acak. Setiap ayat diklaim telah dipilih secara khusus untuk menyampaikan pesan diplomatik yang berbeda kepada masing-masing negara atau organisasi yang hadir.

Apabila laporan tersebut benar, maka prosesi pemakaman tidak hanya menjadi upacara penghormatan terakhir, tetapi juga menjadi media komunikasi politik yang halus, di mana Iran menggunakan simbol-simbol keagamaan untuk menyampaikan arah kebijakan luar negerinya kepada para tamu internasional.

Delegasi Turki Menerima Pesan Agar Lebih Aktif di Kawasan

Salah satu contoh yang banyak disorot adalah delegasi Turki.

Kepada perwakilan Ankara, dibacakan ayat Al-Qur’an yang menekankan bahwa mereka yang maju ke medan perjuangan memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya berdiam diri atau menjadi penonton.

Pesan tersebut ditafsirkan sebagai isyarat diplomatik bahwa Iran berharap Turki mengambil peran yang lebih aktif dalam berbagai dinamika geopolitik Timur Tengah, bukan sekadar menjadi pengamat terhadap perkembangan kawasan.

Interpretasi tersebut dinilai sejalan dengan meningkatnya kebutuhan Iran untuk memperkuat dukungan dari negara-negara regional di tengah tekanan politik dan keamanan yang terus meningkat.

Pemerintah Lebanon dan Hizbullah Menerima Pesan Berbeda

Delegasi Pemerintah Lebanon juga disebut menerima pesan tersendiri.

Ayat yang dibacakan kepada mereka berisi peringatan terhadap orang-orang yang enggan berkorban ketika panggilan perjuangan telah datang. Pesan tersebut dipandang sebagai dorongan moral agar Lebanon tetap mempertahankan komitmennya dalam menghadapi berbagai tantangan di kawasan.

Sementara itu, delegasi Hizbullah memperoleh ayat yang berisi penguatan semangat.

Pesan tersebut menegaskan agar mereka tidak merasa lemah ataupun bersedih karena pada akhirnya diyakini akan memperoleh kemenangan. Sejumlah pengamat menilai bahwa pesan tersebut merupakan bentuk dukungan moral dan politik Iran kepada kelompok yang selama ini menjadi salah satu sekutu utamanya di kawasan Timur Tengah.

Iran Kembali Tegaskan Sikap terhadap Selat Hormuz

Di tengah berlangsungnya prosesi pemakaman, Iran juga kembali menegaskan sikapnya mengenai pengelolaan Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, melalui unggahannya di platform X, menyatakan bahwa Selat Hormuz bukanlah tempat bagi kekuatan militer dari luar kawasan untuk menunjukkan pengaruhnya.

Ia menegaskan bahwa keamanan jalur pelayaran tersebut merupakan tanggung jawab negara-negara pesisir yang berada di kawasan Teluk.

Menurut Gharibabadi, pihak mana pun yang sengaja menciptakan ketegangan di wilayah tersebut harus siap menanggung seluruh konsekuensi atas tindakan mereka sendiri.

Pernyataan itu dipandang sebagai penegasan kembali posisi Iran yang sejak lama menolak kehadiran militer negara-negara Barat di sekitar Selat Hormuz.

Iran Beri Isyarat Perlakuan Khusus bagi Kapal-Kapal Tiongkok

Pada 4 Juli 2026, Bloomberg melaporkan bahwa Duta Besar Iran untuk Tiongkok, Mohsen Bakhtiar, saat menghadiri World Peace Forum di Beijing, menyampaikan bahwa apabila Iran benar-benar menerapkan kebijakan pemungutan biaya layanan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz pada masa mendatang, negara-negara sahabat akan memperoleh perlakuan khusus.

Dalam pernyataan tersebut, Tiongkok secara khusus disebut sebagai salah satu mitra yang berpotensi mendapatkan fasilitas istimewa.

Saat ini, Tiongkok masih menjadi salah satu pembeli terbesar minyak Iran meskipun Teheran masih menghadapi berbagai sanksi internasional.

Karena itu, sejumlah analis menilai kedua negara kemungkinan sedang membangun pola kerja sama baru untuk menghadapi tekanan ekonomi dan politik dari Amerika Serikat, khususnya di sektor energi.

Skema kerja sama tersebut secara sederhana digambarkan sebagai berikut:

  • Tiongkok tetap membeli minyak Iran dalam jumlah besar.
  • Sebagai imbalannya, Iran memberikan kemudahan bagi kapal-kapal Tiongkok yang melintasi Selat Hormuz.

Apabila mekanisme seperti itu benar-benar diterapkan, kedua negara diperkirakan akan memperoleh keuntungan strategis sesuai kepentingan nasional masing-masing.

Inggris, Prancis, dan Oman Perkuat Kerja Sama Pengamanan Selat Hormuz

Di sisi lain, respons negara-negara Barat terhadap perkembangan di Selat Hormuz juga terus meningkat.

Menurut laporan CNBC, pada Sabtu, 4 Juli 2026, pemerintah Inggris mengumumkan bahwa Oman telah menyetujui kerja sama dengan Inggris dan Prancis untuk memperkuat keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Dalam pernyataan bersama, Inggris dan Prancis menegaskan kesiapan mereka membentuk misi militer multinasional yang lebih luas guna menjamin kebebasan navigasi di jalur strategis tersebut.

Kedua negara juga menekankan bahwa Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia sehingga keamanan pelayarannya menjadi kepentingan internasional yang harus dijaga bersama.

Sebagai bagian dari langkah tersebut, Prancis telah mengirimkan satuan penyapu ranjau ke kawasan Timur Tengah, termasuk dua kapal penyapu ranjau yang akan bekerja sama dengan negara-negara mitra untuk memulihkan lalu lintas pelayaran dan memastikan keamanan navigasi di sekitar Selat Hormuz.

Iran Tegaskan Dukungan terhadap Lebanon dan Poros Perlawanan

Masih pada 4 Juli 2026, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengadakan pertemuan dengan sejumlah pejabat senior Hizbullah.

Dalam pertemuan tersebut, Ghalibaf kembali menegaskan bahwa dukungan Iran terhadap Lebanon dan kelompok-kelompok yang dikenal sebagai “Poros Perlawanan” tetap menjadi garis merah yang tidak akan dinegosiasikan dalam setiap pembahasan dengan Amerika Serikat.

Pernyataan itu dipandang sebagai sinyal bahwa meskipun Teheran masih membuka ruang dialog dengan Washington, Iran tidak berniat mengubah kebijakan strategisnya terhadap jaringan sekutu regional yang selama ini menjadi bagian penting dari doktrin pertahanan dan kebijakan luar negerinya.

Netanyahu Isyaratkan Koordinasi Erat dengan Donald Trump

Sementara itu, perhatian dunia juga tertuju pada hubungan antara Israel dan Amerika Serikat.

Menurut laporan Axios, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diperkirakan akan melakukan kunjungan ke Gedung Putih dan bertemu Presiden Donald Trump paling cepat pada pekan berikutnya.

Pada 5 Juli 2026, Netanyahu juga memberikan wawancara kepada Fox News mengenai hubungannya dengan Trump.

Ia mengatakan bahwa koordinasi antara kedua pemimpin berlangsung sangat erat.

“Kami berjuang berdampingan. Dalam 99 persen persoalan, pandangan kami sejalan. Israel dan Amerika Serikat bekerja sama tanpa ada perselisihan. Masing-masing memperjuangkan kepentingan negaranya, tetapi tetap saling menghormati.”

Netanyahu juga menilai bahwa masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan mengenai hasil akhir Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang sedang dibahas antara Amerika Serikat dan Iran.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa terdapat satu prinsip yang tidak dapat ditawar.

Menurutnya, Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir maupun kemampuan untuk memproduksi senjata nuklir. Ia menambahkan bahwa tujuan tersebut merupakan kepentingan bersama Israel dan Amerika Serikat.

Sikap Iran Pasca-Pemakaman Dinilai Akan Menentukan Arah Krisis Berikutnya

Sejumlah pengamat menilai bahwa setelah seluruh rangkaian pemakaman Ayatollah Ali Khamenei selesai dilaksanakan, perhatian internasional akan beralih kepada langkah politik yang diambil pemerintah Iran.

Sikap Teheran dalam merespons berbagai isu strategis, mulai dari negosiasi dengan Amerika Serikat, keamanan Selat Hormuz, hingga hubungan dengan kelompok-kelompok sekutunya di kawasan, diperkirakan akan menjadi faktor utama yang menentukan arah perkembangan situasi pada pekan-pekan mendatang.

Apabila Iran kembali menolak bekerja sama dalam berbagai isu strategis yang menjadi perhatian Washington dan sekutunya, sebagian analis memperkirakan Amerika Serikat dan Israel berpotensi mempertimbangkan kembali opsi operasi militer terhadap target-target strategis Iran.

Selain itu, kemungkinan pertemuan antara Donald Trump dan Benjamin Netanyahu di Gedung Putih juga dipandang memiliki arti penting. Banyak pihak memperkirakan bahwa kedua pemimpin akan membahas perkembangan terbaru di Timur Tengah, mengevaluasi proses negosiasi yang sedang berlangsung, serta menyusun langkah-langkah lanjutan sesuai kepentingan strategis masing-masing negara.

Meskipun demikian, hingga saat ini belum ada pengumuman resmi yang mengonfirmasi isi pembahasan maupun keputusan yang akan dihasilkan dari pertemuan itu. (***)

Inggris Bermain dengan 10 Pemain, Kalahkan Meksiko 3-2 dan Melaju ke Perempat Final

EtIndonesia.com Bermain dengan kekurangan seorang pemain sepanjang sebagian besar babak kedua, Inggris mampu bertahan dari gempuran umpan silang dan tembakan Meksiko di Stadion Azteca yang dipenuhi atmosfer bermusuhan untuk menjaga asa meraih gelar Piala Dunia kedua mereka.

Dua gol yang dicetak gelandang Jude Bellingham hanya dalam rentang dua menit pada babak pertama terbukti sangat berharga setelah Meksiko memperkecil ketertinggalan pada menit ke-42 dan mencetak gol kedua di pertengahan babak kedua.

Kapten Inggris Harry Kane memberikan gol tambahan yang sangat dibutuhkan timnya melalui eksekusi penalti pada menit ke-61, tidak lama setelah bek Jarell Quansah menerima kartu merah akibat tekel ceroboh, yang kemudian diikuti gelombang serangan bertubi-tubi dari Meksiko.

Sebagian besar pertandingan berlangsung dengan tempo tinggi dan saling menyerang dari ujung ke ujung lapangan hingga Inggris terpaksa menarik keluar sebagian besar pemain menyerangnya untuk memperkuat pertahanan di kotak penalti. Mereka harus bertahan selama 36 menit waktu normal di bawah tekanan konstan, ditambah 11 menit waktu tambahan. Setiap pemain lapangan Inggris setidaknya sekali berhasil memblokir tembakan atau umpan silang lawan, sementara kiper Jordan Pickford menghadapi 19 tembakan sepanjang pertandingan.

Strategi menyerang menjadi rencana awal kedua tim. Penyerang Meksiko Raúl Jiménez sempat melepaskan sundulan menyelam ke sudut kiri bawah gawang, tetapi berhasil ditepis Pickford. Inggris membalas melalui serangkaian umpan panjang ke sayap kiri cepat Anthony Gordon, yang berulang kali berhasil melewati pengawalnya di area pertahanan Meksiko.

Inggris memecah kebuntuan pada menit ke-36. Gelandang Declan Rice menggiring bola sekitar 60 yard di sisi kanan lapangan sebelum memberikan umpan pendek ke depan kepada Bukayo Saka. Saka kemudian mengirim umpan silang yang disambut sundulan Bellingham dan berbuah gol.

Bellingham kembali mencetak gol dua menit kemudian melalui kerja sama satu-dua yang apik dengan Kane, yang memungkinkan pemain berusia 23 tahun itu menceploskan bola dari jarak dekat melewati kiper Meksiko Raul Rangel.

“Silakan minum satu gelas lagi dan kirim pesan kepada bos Anda bahwa Anda tidak akan masuk kerja besok,” kata Bellingham kepada reporter FIFA setelah pertandingan ketika diminta menyampaikan pesan kepada para pendukung Inggris. “Apa yang kami lakukan malam ini benar-benar luar biasa.”

Gol pertama Meksiko tercipta sesaat sebelum turun minum setelah tendangan bebas di sisi kiri kotak penalti Inggris. Sebuah tembakan berhasil diblok, namun penyerang Julián Quiñones menyambar bola liar dari jarak dekat dan mengirimkannya ke dalam gawang.

Taktik kedua tim berubah sembilan menit setelah babak kedua dimulai. Bek Inggris Jarell Quansah diusir keluar lapangan setelah bagian bawah sepatunya mengenai tulang kering bagian atas seorang pemain bertahan Meksiko tanpa lebih dulu menyentuh bola.

Sebelum pertandingan ini, Meksiko belum kebobolan satu gol pun dalam tiga laga fase grup maupun saat mengalahkan Ekuador di babak 32 besar. Kini giliran pertahanan Inggris yang diuji habis-habisan.

Inggris menggantikan Saka dengan bek John Stones dan mulai lebih sering memainkan umpan panjang dari lini belakang. Sebuah bola lambung ke arah gawang Meksiko memantul mengenai Kane dan jatuh ke jalur lari Gordon. Pemain itu bergerak ke arah tengah sebelum dijatuhkan lawan sehingga menghasilkan tendangan penalti.

Kane melepaskan tendangan keras dengan kaki kanannya ke sudut kiri bawah gawang untuk membawa Inggris unggul 3-1.

Namun, sembilan menit kemudian Kane justru menghadiahkan penalti kepada Meksiko saat berusaha menghalau tendangan tinggi pemain pengganti Brian Gutierrez, tetapi mengenai kaki lawan alih-alih bola. Jiménez berhasil mengecoh Pickford melalui langkah tipuan sebelum menendang bola rendah ke sudut kiri gawang.

Jiménez memperoleh peluang lain pada detik-detik terakhir pertandingan ketika melepaskan tembakan dari jarak kurang dari enam yard dari garis gawang. Namun upayanya diblok Stones dan bola keluar lapangan.

Pelatih Meksiko Javier Aguirre memuji ketangguhan pertahanan lawannya serta kerja keras luar biasa para pemainnya.

“Anda harus memainkan pertandingan yang sempurna untuk mengalahkan Inggris,” ujarnya dalam konferensi pers setelah pertandingan.

“Gol ketiga itu benar-benar mematikan kami.

“Mereka [para pemain Meksiko] meninggalkan segalanya di lapangan dan melakukan semua yang mereka bisa.”

Meksiko sebelumnya pernah mencapai perempat final Piala Dunia dua kali saat menjadi tuan rumah, yaitu pada 1970 dan 1986. Kekalahan ini merupakan kekalahan pertama Meksiko dalam pertandingan Piala Dunia di Stadion Azteca, Mexico City, sekaligus pertandingan terakhir yang dimainkan di Meksiko dalam turnamen kali ini.

Inggris, yang meraih satu-satunya gelar Piala Dunia pada 1966, kini melaju ke babak delapan besar untuk menghadapi Norwegia di Stadion Miami pada 11 Juli waktu setempat. 

Pelatih Inggris Thomas Tuchel mengatakan para pemainnya menampilkan performa heroik dan meraih hasil yang juga heroik.

“Pertandingan ini tidak terasa seperti laga babak 16 besar,” katanya.

“Rasanya hampir seperti kami baru saja memenangkan final atau sesuatu yang setara dengan itu.

“Kami melakukannya dengan mentalitas, keberanian murni, dan mampu mengatasi setiap rintangan yang menghadang.”

Bek Inggris Jordan Henderson, yang tidak bermain dalam pertandingan tersebut, mengalami cedera pergelangan tangan saat merayakan kemenangan setelah pelueit akhir berbunyi. Tuchel mengatakan Henderson telah dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan dan  cederanya tergolong serius.

Artikel ini terbit di Epoch Times edisi bahasa Indonesia

Pemakaman Khamenei:  Penerus Menghilang, Pemerintah Siapkan Skenario Korban Massal

EtIndonesia.com — Rangkaian prosesi pemakaman kenegaraan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memasuki hari kedua pada 5 Juli. Upacara yang dipusatkan di Teheran kembali dihadiri oleh ribuan pelayat dan dijaga dengan pengamanan yang sangat ketat. Namun, di balik besarnya prosesi tersebut, berbagai kontroversi mulai bermunculan, mulai dari absennya sosok yang disebut-sebut sebagai calon penerus Khamenei, perdebatan mengenai jumlah pelayat, hingga munculnya laporan mengenai kekhawatiran pemerintah Iran terhadap potensi insiden keamanan berskala besar.

Tayangan yang disiarkan televisi pemerintah Iran memperlihatkan kehadiran tiga putra Ayatollah Ali Khamenei, yakni Mostafa Khamenei, Meysam Khamenei, dan Masoud Khamenei, yang tampak mengikuti jalannya prosesi penghormatan terakhir kepada sang ayah.

Namun, perhatian publik justru tertuju pada tidak hadirnya Mojtaba Khamenei, putra kedua Ali Khamenei yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai salah satu figur paling berpengaruh di lingkaran elite kekuasaan Iran. Mojtaba juga kerap disebut oleh berbagai analis politik sebagai kandidat terkuat untuk melanjutkan posisi Pemimpin Tertinggi Iran.

Hingga akhir prosesi hari kedua, tidak ada penjelasan resmi dari pemerintah Iran mengenai alasan absennya Mojtaba Khamenei.

Pemerintah Iran Klaim Jutaan Orang Hadir

Dalam upaya menunjukkan persatuan nasional kepada masyarakat internasional, pemerintah Iran menyatakan bahwa prosesi pemakaman kenegaraan Ayatollah Ali Khamenei diperkirakan akan dihadiri sekitar 15 juta orang.

Sepanjang hari, sejumlah ruas jalan utama di Teheran memang dipenuhi lautan manusia yang mengikuti iring-iringan prosesi pemakaman. Aparat keamanan, personel militer, serta anggota milisi Basij juga terlihat berjaga di berbagai titik strategis ibu kota.

Meski demikian, klaim mengenai jumlah pelayat tersebut memunculkan keraguan dari sebagian warga maupun sejumlah media internasional.

Beberapa warga Teheran yang diwawancarai media asing mengaku bahwa mereka tidak ikut menghadiri prosesi tersebut karena merasa tidak memiliki keterikatan emosional terhadap acara tersebut. Sebagian lainnya bahkan menilai pemerintah sengaja membesar-besarkan jumlah peserta sebagai bagian dari upaya membangun citra politik.

Warga Iran Pertanyakan Klaim Jumlah Pelayat

Menurut laporan CNN, sejumlah warga Teheran mengungkapkan bahwa banyak masyarakat memilih tetap beraktivitas seperti biasa dan tidak mengikuti prosesi berkabung.

Seorang guru perempuan berusia sekitar 30 tahun mengatakan bahwa angka kehadiran yang diumumkan pemerintah sama sekali tidak realistis.

Menurutnya, klaim bahwa terdapat antara 10 hingga 20 juta pelayat tidak sesuai dengan kondisi yang terlihat di lapangan.

“Bahkan dalam kondisi paling ideal sekalipun, jumlah peserta tidak mungkin mencapai satu juta orang dalam satu hari,” ujarnya kepada CNN.

Beberapa warga lainnya bahkan menyebut prosesi tersebut lebih menyerupai pertunjukan politik daripada bentuk duka cita yang benar-benar spontan dari masyarakat.

Laporan Media: Pemerintah Siapkan Skenario Korban Massal

Di tengah berlangsungnya prosesi pemakaman, harian Jerman Die Welt melaporkan adanya dokumen internal yang menunjukkan bahwa pemerintah Iran sebenarnya telah menyiapkan berbagai skenario darurat apabila terjadi insiden selama acara berlangsung.

Mengutip dokumen rahasia serta sumber dari Pemerintah Kota Teheran, media tersebut menyebut otoritas Iran memperkirakan kemungkinan munculnya korban jiwa dalam jumlah besar, yakni sekitar 1.500 hingga 3.000 orang, apabila terjadi keadaan darurat.

Laporan serupa juga disampaikan oleh media berbasis oposisi Iran International.

Menurut laporan tersebut, Badan Manajemen Krisis Nasional Iran dikabarkan telah mengirimkan surat rahasia kepada Wakil Presiden Pertama Iran yang berisi analisis mengenai kemungkinan terjadinya korban massal selama prosesi pemakaman.

Meski demikian, dokumen tersebut tidak menjelaskan secara spesifik penyebab yang mendasari perkiraan tersebut.

Beberapa kemungkinan yang disebut dipertimbangkan meliputi:

  • Risiko terjadinya desak-desakan akibat membludaknya massa.
  • Potensi serangan keamanan secara mendadak.
  • Kemungkinan munculnya aksi protes.
  • Ancaman keadaan darurat lainnya selama prosesi berlangsung.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah Iran dikabarkan telah mempersiapkan sekitar 3.000 liang kubur di kompleks pemakaman Behesht-e Zahra, yang disebut mampu menampung korban apabila benar-benar terjadi insiden besar.

Namun demikian, hingga saat ini informasi mengenai dokumen tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, sehingga kebenarannya masih belum dapat dipastikan.

Trump: Iran Menginginkan Stabilitas Setelah “Dihajar”

Sementara itu, perkembangan di Iran juga menjadi perhatian Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Dalam pidato yang disampaikannya di kawasan Mount Rushmore pada 3 Juli, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat telah memberikan tekanan yang sangat besar terhadap Iran sehingga, menurutnya, pemerintah Teheran kini sangat menginginkan stabilitas.

Trump mengatakan pemerintahannya sengaja memberikan waktu sekitar satu minggu kepada Iran untuk menyelenggarakan pemakaman Ayatollah Ali Khamenei sebelum mengambil langkah berikutnya.

Ia juga mengaku menyaksikan tayangan warga Iran yang menangis selama prosesi pemakaman.

Pemandangan tersebut, menurut Trump, sempat membuat dirinya terkejut.

“Saya kira semua orang membenci Khamenei,” ujar Trump.

Namun beberapa saat kemudian, ia menambahkan dengan nada sinis bahwa kemungkinan tangisan tersebut hanyalah sebuah sandiwara.

Pernyataan itu kembali memperlihatkan tajamnya perang retorika antara Washington dan Teheran yang terus berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara.

Seruan Anti-Amerika dan Anti-Israel Kembali Menggema

Selama prosesi pemakaman berlangsung, berbagai slogan anti-Amerika Serikat dan anti-Israel kembali menggema dari atas panggung utama maupun di tengah kerumunan massa.

Pembawa acara secara terbuka menyerukan slogan-slogan yang mengecam Amerika Serikat dan Israel serta mengutuk Presiden Donald Trump.

Di sejumlah titik, massa juga terdengar meneriakkan seruan balas dendam terhadap Amerika Serikat sebagai respons atas kematian Ayatollah Ali Khamenei dan konflik yang terus berlangsung di kawasan Timur Tengah.

Muncul Laporan Dugaan Rencana Pembunuhan Trump

Di sisi lain, laporan yang beredar dari C14 mengklaim bahwa sebuah dokumen intelijen terbaru menyebut Pasukan Quds, yaitu unit operasi luar negeri Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), telah membentuk kelompok baru bernama Unit Mukhtar.

Menurut laporan tersebut, kelompok itu diduga menjalin kerja sama dengan sejumlah kartel narkoba di Meksiko serta sebagian unsur diaspora Iran di luar negeri.

Laporan tersebut juga mengklaim bahwa kelompok tersebut sedang menyusun rencana untuk melakukan pembunuhan terhadap Presiden Donald Trump beserta sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat lainnya.

Namun hingga kini, klaim tersebut belum memperoleh konfirmasi resmi maupun verifikasi independen, sehingga kebenarannya belum dapat dipastikan.

Iran Tegaskan Akan Terus Melawan Israel

Sementara itu, penasihat militer senior Iran, Yahya Rahim Safavi, kembali mengeluarkan pernyataan keras mengenai arah kebijakan Iran pasca kematian Ayatollah Ali Khamenei.

Safavi menegaskan bahwa Iran akan melanjutkan apa yang disebutnya sebagai “pertempuran hidup dan mati” melawan Israel.

Ia juga menyatakan bahwa Iran dan Israel tidak lagi memiliki kemungkinan untuk hidup berdampingan secara damai di kawasan Timur Tengah.

Selain itu, Safavi menegaskan bahwa Iran akan membalas kematian Ayatollah Ali Khamenei serta tetap mempertahankan garis kebijakan yang selama ini dijalankan terhadap Israel.

Pernyataan tersebut kembali memperlihatkan bahwa meskipun Iran tengah menggelar prosesi berkabung nasional, ketegangan politik dan militer di kawasan Timur Tengah masih tetap tinggi. 

Di tengah upaya pemerintah menampilkan citra persatuan nasional, munculnya berbagai laporan mengenai potensi ancaman keamanan, perdebatan mengenai jumlah pelayat, hingga retorika keras terhadap Amerika Serikat dan Israel menunjukkan bahwa situasi politik Iran masih berada dalam fase yang sangat sensitif dan penuh ketidakpastian. (***)

UU Baru Partai Komunis Tiongkok Dinilai Membuka Jalan bagi Represi Lintas Negara, Menuai Penolakan Internasional 

EtIndonesia.com  Undang-undang yang diberi judul oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) dengan “Undang-Undang tentang Peningkatan Persatuan Etnis” resmi berlaku mulai 1 Juli 2026. PKT menyatakan bahwa undang-undang ini bertujuan memasukkan konsep “persatuan etnis” ke dalam kerangka hukum. Namun, aturan tersebut juga secara khusus menyasar organisasi maupun individu di luar negeri yang dianggap memiliki ucapan atau tindakan yang tidak sejalan dengan ideologi Partai Komunis Tiongkok, sehingga mereka dapat dimintai pertanggungjawaban hukum.

Undang-undang ini memicu kecaman luas dari masyarakat internasional. Sebanyak 14 anggota Kongres Amerika Serikat dari Partai Republik dan Demokrat menandatangani surat bersama yang menilai aturan tersebut memberikan dasar hukum bagi tindakan represi lintas negara yang dilakukan PKT. Jepang dan Uni Eropa juga menyampaikan keprihatinan serta menyerukan agar undang-undang tersebut dicabut.

UU “Peningkatan Persatuan Etnis” mulai diberlakukan secara resmi pada 1 Juli

Undang-undang yang dinilai sebagai instrumen represi lintas negara ini mencakup berbagai bidang, termasuk pendidikan, bahasa, penerbitan, internet, kegiatan perusahaan, hingga urusan keagamaan. Karena dianggap menghapus bahasa dan budaya kelompok etnis minoritas serta memperluas represi ke luar negeri, aturan ini dinilai melanggar sedikitnya 12 norma hak asasi manusia internasional, sehingga menimbulkan perhatian besar dari komunitas internasional.

Berdasarkan ketentuan tersebut, siapa pun yang berada di luar negeri dan dianggap oleh PKT melakukan tindakan separatis atau memecah belah persatuan etnis dapat menghadapi red notice (pemberitahuan merah), ekstradisi melalui negara ketiga, atau bahkan keluarganya di dalam negeri ikut menerima konsekuensi hukum. Artinya, tanpa memandang kewarganegaraan maupun lokasi seseorang, ia berpotensi masuk dalam jangkauan yurisdiksi PKT.

Para pengamat menilai undang-undang ini bukan hanya memberikan dasar hukum bagi tindakan represi lintas negara PKT, tetapi juga melegitimasi penindasan yang selama ini dilakukan terhadap kelompok etnis minoritas.

Pada hari yang sama, 14 anggota Kongres AS dari dua partai mengirim surat kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio, mendesak pemerintah AS untuk mengecam undang-undang tersebut secara terbuka dan tegas.

Dalam surat itu mereka memperingatkan bahwa undang-undang ini sama sekali bukan bertujuan mewujudkan kesetaraan antar etnis, melainkan merupakan kerangka hukum yang digunakan PKT untuk memperluas operasi represi lintas negara.

Mereka juga menegaskan bahwa konsep “persatuan etnis” kini telah diubah dari sebuah kondisi sosial menjadi target administratif yang dipaksakan oleh PKT. Mereka mendesak Departemen Luar Negeri AS memberikan respons yang kuat dan mengambil langkah-langkah balasan guna menghadapi undang-undang tersebut.

“Berbagai aspek yang dikaitkan dengan ‘persatuan etnis’, baik legitimasi rezim PKT maupun pembungkusan melalui patriotisme dan manipulasi nasionalisme, semuanya dimasukkan ke dalam undang-undang ini. Dari proses legislasi maupun motifnya, terlihat jelas bahwa PKT sedang bergerak menuju pemerintahan yang semakin totaliter,” ujar Direktur Pusat Studi Masalah Tiongkok di sebuah lembaga kajian Taiwan, Wu Se-chih. 

Pada 1 Juli 2026, hampir 100 orang dari berbagai latar belakang etnis berkumpul di depan Konsulat Tiongkok di Los Angeles untuk mengecam Partai Komunis Tiongkok karena menggunakan Undang-Undang Persatuan Nasional untuk melakukan penindasan transnasional dan menghancurkan multikulturalisme. Kedua dari kiri, ketiga dari kanan, dan kedua dari kanan adalah Pema Chauden, Wakil Presiden Asosiasi Tibet California Selatan; Catherine Bauknight, perwakilan Asosiasi Seniman Los Angeles; dan Tenzin Tencho, perwakilan Jaringan Tibet Internasional. (Ma Shangen/Epoch Times)

Pasal 62 undang-undang tersebut menyamakan hukuman bagi pihak yang dianggap “menghasut” atau “mendanai” tindakan separatis maupun ekstremisme agama dengan pelaku utama. Karena definisinya sepenuhnya ditentukan oleh pemerintah PKT, para kritikus menilai aturan ini memberi ruang bagi penegakan hukum yang sewenang-wenang.

“PKT akan menggunakan undang-undang ini untuk menuntut berbagai kelompok, baik di dalam Tiongkok maupun komunitas Tionghoa di luar negeri, bahkan termasuk masyarakat Taiwan, agar ikut menjalankan apa yang disebut tugas mempromosikan persatuan etnis,” tambah Wu Se-chih.

“Setelah tugas ini dijalankan, kelompok-kelompok pro-Beijing di luar negeri, bahkan jaringan yang disebut sebagai ‘kantor polisi rahasia’ PKT di luar negeri, akan mulai bergerak melakukan promosi maupun pelaporan,” lanjutnya.

Para analis menilai bahwa definisi dalam undang-undang ini sangat kabur dan memiliki karakteristik “pasal karet”, dengan kewenangan penafsiran sepenuhnya berada di tangan PKT. Bahkan seseorang yang tinggal di luar negeri pun berpotensi dituntut ketika memasuki wilayah Tiongkok karena pernyataan atau sikap politik yang pernah disampaikannya.

“Ke depan, tindakan semacam ini tidak lagi hanya berdasarkan peraturan administratif, tetapi akan dibungkus dengan dasar hukum formal. Mulai dari Undang-Undang Anti-Spionase, Undang-Undang Keamanan Informasi, hingga berbagai undang-undang lainnya akan menjadi bagian dari sistem hukum keamanan nasional,” ujar Associate Professor Feng Chongyi dari University of Technology Sydney. 

“Kini ditambah lagi dengan Undang-Undang Persatuan Etnis. Semua ini pada dasarnya memberi legitimasi hukum terhadap berbagai bentuk penganiayaan politik yang dilakukan oleh Partai,” katanya. 

Jepang dan Uni Eropa juga mengecam PKT serta menyerukan agar undang-undang tersebut segera dicabut.

Menurut para pengamat, dalam beberapa tahun terakhir PKT terus memperluas cakupan yurisdiksi hukumnya, mulai dari Undang-Undang Anti-Pemisahan, Undang-Undang Keamanan Nasional, Undang-Undang Intelijen Nasional, hingga kini Undang-Undang Persatuan Etnis. Hal ini dinilai menunjukkan bahwa strategi “perang hukum” PKT terus berkembang dan semakin meluas hingga ke luar negeri.

Pada 30 Juni, Amnesty International mengeluarkan pernyataan yang memperingatkan bahwa undang-undang baru tersebut dapat memberikan dasar hukum yang lebih kuat bagi praktik represi lintas negara yang selama ini dilakukan PKT.

Sementara itu, pada 29 Juni, Komite Khusus DPR AS untuk Urusan Partai Komunis Tiongkok mengeluarkan pernyataan yang menyebut bahwa: “Undang-undang ini menandai meningkatnya kebrutalan dan paranoia Partai Komunis Tiongkok.”

Laporan gabungan Liang Dong dan Chen Li, NTD News Weekly.

Jurnalis Perempuan yang Diculik di Meksiko Ditemukan Tewas, Delapan Orang Ditangkap Termasuk Empat Polisi

EtIndonesia.com Meksiko telah lama dianggap sebagai salah satu negara paling berbahaya di dunia bagi para jurnalis. Pada Jumat (3 Juli), pihak berwenang mengonfirmasi bahwa sisa-sisa jenazah yang ditemukan di wilayah timur negara itu dipastikan merupakan milik jurnalis perempuan Roxana Guzman. Kasus penculikan dan pembunuhan ini kembali menyoroti beratnya ancaman yang dihadapi para pekerja media di Meksiko.

Menurut laporan Reuters, Roxana Guzman adalah penanggung jawab situs berita kriminal Pulso Informativo del Sureste. Pada 2 Juni, sejumlah pria bersenjata dan bertopeng menerobos masuk ke rumahnya lalu menculiknya. Rekaman kamera pengawas yang merekam peristiwa tersebut kemudian beredar luas di media sosial.

Media setempat melaporkan bahwa setelah membunuh Guzman, para pelaku berusaha melarutkan jasadnya dengan memasukkannya ke dalam sebuah drum yang berisi bahan bakar. Aparat kemudian menemukan sebagian tulang-belulang korban di lokasi kejadian.

Pihak berwenang menyatakan bahwa hingga saat ini delapan orang telah ditangkap karena diduga terlibat dalam penculikan dan pembunuhan Guzman. Di antara mereka terdapat empat anggota kepolisian dari Ixhuatlan del Sureste, sebuah kota yang terletak sekitar 300 kilometer di selatan Veracruz.

Kejaksaan menyebutkan bahwa para polisi tersebut diduga memberikan sumber daya, makanan, serta dukungan logistik kepada kelompok kriminal yang terlibat dalam kasus tersebut.

Menurut Kantor Kejaksaan Agung, para tersangka akan menghadapi dakwaan penghilangan paksa, pembunuhan, serta sejumlah tuduhan lain yang berkaitan dengan kasus ini. Penyelidikan masih terus berlangsung untuk menentukan tingkat keterlibatan masing-masing tersangka sekaligus mengungkap motif pembunuhan tersebut.

Berdasarkan data organisasi hak asasi manusia internasional Article 19, sepanjang tahun ini terdapat dua jurnalis lain di Meksiko yang juga tewas akibat pekerjaan mereka. Organisasi tersebut juga menyatakan bahwa sejak Presiden Claudia Sheinbaum mulai menjabat pada Oktober 2024, sedikitnya 10 jurnalis telah dibunuh. Kondisi ini kembali menegaskan seriusnya ancaman terhadap kebebasan pers di Meksiko.

Sumber : NTDTV.com

Analisis: Xi Jinping Terjebak dalam Kondisi Terisolasi, Kutukan Dinasti Xia Beredar di Kalangan Pejabat Tiongkok

Sejak Xi Jinping berkuasa, ia dinilai menghadapi krisis politik dan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam pidatonya pada 1 Juli lalu, Xi beberapa kali menyebut istilah seperti “gelombang badai yang dahsyat” dan “risiko serta tantangan”. 

Sejumlah pengamat menilai bahwa sentralisasi kekuasaan dan pembersihan politik yang dilakukan Xi telah membuat para pejabat hidup dalam ketakutan sekaligus memicu perlawanan di dalam Partai Komunis Tiongkok (PKT). Menurut mereka, Xi kini berada dalam posisi yang semakin terisolasi dan kehilangan dukungan dari banyak pihak.

EtIndonesia.com Pada 29 Juni malam, PKT menggelar konser peringatan yang disebut sebagai perayaan hari jadi partai ke-105 di Beijing. Xi Jinping bersama tujuh anggota Komite Tetap Politbiro, sejumlah pejabat tinggi setingkat negara, serta perwakilan dari berbagai kalangan partai, pemerintah, militer, dan organisasi masyarakat menghadiri acara tersebut. Media pemerintah mengklaim lebih dari 3.000 orang hadir.

Namun, perhatian publik tertuju pada pengamanan yang sangat ketat. Sejak Xi memasuki arena hingga sepanjang acara berlangsung, ia dikelilingi banyak petugas berpakaian hitam yang berjaga di segala arah.

Mantan pejabat Komisi Pusat Inspeksi Disiplin PKT, Wang Youqun, dalam artikel yang diterbitkan The Epoch Times pada 3 Juli, menilai ada tiga alasan mengapa pengamanan terhadap Xi begitu ketat. Pertama, Xi sangat mengkhawatirkan keselamatan dirinya sendiri. Kedua, ia masih dibayangi kekhawatiran akan kemungkinan serangan mendadak dari tokoh militer seperti Zhang Youxia dan Liu Zhenli. Ketiga, kondisi PKT sendiri dinilai sedang berada dalam situasi yang sangat genting.

Menjelang peringatan 1 Juli, tepatnya pada 26 Juni, sebuah pesawat ringan menabrak gedung CITIC Tower (China Zun) di Beijing, yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari kompleks kepemimpinan Zhongnanhai. Pilot pesawat tewas di lokasi, sementara 13 orang lainnya mengalami luka-luka.

Menurut Wang Youqun, insiden tersebut kemungkinan membuat Xi sangat terkejut. Ia berpendapat bahwa jika pesawat itu menghantam Zhongnanhai, dampaknya akan jauh lebih besar bagi kepemimpinan PKT.

Wang juga menyebutkan bahwa sejak Xi menjabat, sedikitnya 1.021 pejabat tingkat pusat telah diselidiki atau dijatuhi hukuman dalam kampanye antikorupsi. Menurutnya, Xi kini terjebak dalam lingkaran yang terus berulang: merasa tidak aman, melakukan pembersihan politik, menjadi semakin tidak aman, lalu kembali melakukan pembersihan. Akibatnya, para pejabat hidup dalam ketakutan dan banyak di antara mereka menyimpan kebencian terhadap Xi, sementara Xi sendiri terus diliputi kecemasan mengenai keamanan pribadinya.

Pada Januari lalu, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat PKT, Zhang Youxia, dan Kepala Departemen Staf Gabungan Liu Zhenli dilaporkan “jatuh dari kekuasaan”. Penulis berpendapat bahwa setelah menyingkirkan kedua tokoh tersebut, Xi terus khawatir akan adanya pihak di militer yang membalas dengan cara yang sama.

Dalam pidatonya pada peringatan 1 Juli, Xi menegaskan bahwa PKT harus selalu siap menghadapi “angin kencang dan ombak besar”, bahkan “gelombang badai yang dahsyat”. Ia juga menekankan perlunya terus melanjutkan perjuangan anti korupsi serta mempertahankan kepemimpinan mutlak partai atas militer.

Pakar hukum yang bermukim di Australia, Yuan Hongbing, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa penggunaan berulang istilah seperti “gelombang badai” dan “risiko serta tantangan” dalam pidato yang seharusnya bersifat perayaan menunjukkan bahwa Xi menyadari PKT sedang menghadapi krisis besar, baik dari dalam maupun luar negeri.

Yuan menilai bahwa sejak membangun sistem kekuasaan yang semakin otoriter, Xi secara bertahap mengubah PKT menjadi alat kekuasaan pribadinya. Menurutnya, Xi menikmati seluruh keuntungan politik seorang diri dan tidak lagi memberikan ruang bagi keluarga-keluarga elite PKT lainnya untuk berbagi kepentingan. Kondisi itu memicu perlawanan kuat di dalam partai hingga Xi kini semakin terisolasi dan kehilangan banyak sekutu politik.

Ia juga berpendapat bahwa meskipun Xi mempertahankan kekuasaannya melalui aparat keamanan, sistem pengawasan, dan disiplin partai yang sangat besar, sentralisasi kekuasaan justru memicu ketidakpuasan luas di berbagai faksi dan birokrasi. Banyak pejabat menjadi pasif, enggan mengambil tanggung jawab, sehingga efisiensi pemerintahan menurun dan menunjukkan bahwa fondasi kekuasaan Xi sedang menghadapi tekanan besar.

“Sentimen kebencian terhadap Xi Jinping di kalangan pejabat PKT semakin meningkat. Ia kini menjadi sasaran kritik dari berbagai pihak,” kata Yuan.

Sebagai contoh, Yuan mengatakan bahwa di kalangan birokrat di Beijing kini beredar sebuah kutipan dari kitab klasik Shangshu bagian Tang Shi. Kisah tersebut menceritakan raja terakhir Dinasti Xia, Xia Jie, yang dikenal sebagai penguasa lalim. Dalam legenda itu, Xia Jie mengibaratkan dirinya sebagai matahari yang tidak akan pernah terbenam. Rakyat yang menderita kemudian melontarkan kutukan terkenal:

“Kapan matahari itu akan lenyap? Kami rela binasa bersamamu.”

Menurut Yuan, kutipan tersebut kini sering dijadikan sindiran terhadap situasi politik saat ini.

Sementara itu, akademisi dan aktivis demokrasi yang berbasis di Australia, Qin Jin, mengatakan bahwa masyarakat seharusnya tidak hanya mendengarkan apa yang dikatakan Xi, tetapi juga melihat apa yang dilakukannya. Ia berpendapat bahwa sistem PKT sendiri merupakan sumber utama korupsi. 

Menurut Qin, kampanye antikorupsi yang dijalankan Xi justru tidak menghilangkan korupsi, bahkan Xi disebut sebagai pelaku korupsi terbesar karena dituduh menggunakan kekuasaan politik untuk mengalihkan kekayaan negara menjadi kepentingan keluarga Xi.

Komentator independen Du Zheng juga pernah mengutip pernyataan seorang mantan pejabat senior PKT yang tidak disebutkan namanya kepada media Taiwan Up Media. Pejabat tersebut mengatakan:

“Ketika Xi baru berkuasa, orang-orang masih memiliki sedikit harapan kepadanya. Sekarang hampir tidak ada lagi yang memujinya. Semua orang mengkritiknya, bahkan banyak yang berharap Partai Komunis runtuh.”

Di akhir artikelnya, Wang Youqun berpendapat bahwa PKT telah menanggung “hutang sejarah” selama lebih dari satu abad yang kini harus dibayar. Menurutnya, inilah akar dari krisis ekonomi, sosial, dan politik terdalam yang pernah dialami PKT. Wang menilai Xi setiap hari khawatir akan muncul seseorang yang menjadi “penggali kubur” bagi PKT. Namun, katanya, bisa jadi justru Xi sendirilah yang pada akhirnya menjadi “penggali kubur” partai tersebut.

Nasib Tragis Pemilik Toko di Xi’an SEG Tiongkok, Rekan Pedagang Ungkap Dugaan Latar Belakang Kasus yang Menjeratnya

EtIndonesia.com Pada 1 Juli siang, Yan Peng, pemilik sejumlah toko di SEG International Shopping Center (Xi’an SEG), Xi’an, meninggal dunia setelah melompat dari gedung pusat perbelanjaan tersebut. Peristiwa ini memicu perhatian luas di media sosial Tiongkok. 

Seorang pedagang yang mengaku mengetahui persoalan tersebut mengatakan kepada The Epoch Times bahwa sengketa antara Yan Peng dan manajemen mal telah berlangsung selama empat tahun. Menurutnya, denda lebih dari 11 juta yuan yang dikenakan kepada Yan Peng, ditambah keputusan mal yang meminta seluruh tokonya ditutup tahun ini, diduga menjadi faktor yang mendorongnya ke jalan buntu.

Informasi terbaru menyebutkan bahwa pada masa kejayaannya Yan Peng pernah memiliki sekitar 500 gerai, dan hingga sebelum meninggal masih mengelola sekitar 300 gerai.

Rekan Pedagang: Hanya Yan Peng yang Dikenai Denda Besar

Sekitar pukul 12.10 siang pada 1 Juli, Yan Peng, penanggung jawab Shaanxi Lihe Trading Co., Ltd., meninggal setelah melompat dari gedung. Banyak karyawan, mantan karyawan, dan teman-temannya kemudian menyampaikan belasungkawa melalui media sosial. Perusahaannya diketahui merupakan agen penjualan berbagai merek pakaian olahraga.

Wartawan media Tiongkok Shangyou News, berdasarkan informasi dari keluarga, mendatangi dua toko yang sebelumnya disewa Yan Peng di lantai bawah tanah dan lantai lima pusat perbelanjaan tersebut. Toko di lantai lima telah dibongkar, sedangkan toko di lantai bawah tanah telah digantikan oleh merek olahraga lain. Seorang pegawai mengatakan bahwa toko baru itu mulai beroperasi pada 2 Juli dan barang-barangnya baru saja tiba.

Pada 2 Juli, seorang pedagang yang mengaku mengetahui persoalan tersebut mengatakan kepada The Epoch Times bahwa Yan Peng merupakan salah satu penyewa terbesar di Xi’an SEG. Ia mengelola beberapa toko yang menjual merek-merek terkenal dan setiap tahun menghasilkan omzet lebih dari 100 juta yuan bagi pusat perbelanjaan. Namun, pembayaran hasil penjualan langsung masuk ke rekening pihak mal.

Menurut sumber tersebut, sekitar empat tahun lalu saat pusat perbelanjaan mengadakan promosi ulang tahun, diberikan kupon belanja kepada konsumen. Demi meningkatkan penjualan, hampir semua toko membagi penggunaan kupon itu.

Sebagai contoh, kupon diskon 200 yuan untuk pembelanjaan minimal 1.200 yuan dipecah menjadi potongan 100 yuan untuk pembelian 600 yuan. Praktik tersebut, menurut sumber itu, dilakukan hampir seluruh pedagang dan selama itu dianggap lumrah oleh manajemen.

Namun, ia mengklaim hanya Yan Peng yang kemudian dianggap melanggar aturan dan dikenai denda lebih dari 11 juta yuan.

“Lebih dari 11 juta yuan itu jumlah yang sangat besar. Ia masih harus menggaji banyak karyawan dan membayar pemasok. Dana usahanya akhirnya macet sehingga perputaran modal terhenti. Masalah empat tahun lalu itu tidak pernah benar-benar diselesaikan. Tahun ini pihak mal juga ingin menutup seluruh tokonya. Itu membuatnya benar-benar kehilangan jalan keluar,” ujar sumber tersebut.

Surat yang Beredar di Internet

Tangkapan layar yang beredar di internet memperlihatkan sebuah surat yang disebut ditulis Yan Peng kepada Ketua Xi’an SEG, Zhao Gui, sebelum meninggal dunia.

Dalam surat itu disebutkan bahwa empat tahun lalu pegawainya membagi penggunaan kupon belanja agar penjualan meningkat. Praktik tersebut, menurut Yan, selama ini juga diketahui bahkan dibiarkan oleh pihak manajemen.

Meski demikian, ia tetap dikenai denda sebesar 11,456 juta yuan, yang menyebabkan pembayaran hasil penjualan tertunda selama berbulan-bulan dan membuat perusahaannya kesulitan memperoleh stok barang baru.

“SEG sebenarnya tidak memiliki kewenangan hukum untuk menjatuhkan denda sebesar itu. Tetapi mereka begitu saja memutuskan denda 11,456 juta yuan tanpa dasar hukum yang jelas. Ini tidak adil dan tidak sesuai hukum. Tuan Zhao, saya benar-benar tidak bisa menerima kenyataan ini. Masalah ini terus membebani hati saya. Berkali-kali saya ingin mati di SEG. Apakah SEG baru akan menyelesaikan persoalan ini setelah benar-benar memaksa seseorang sampai mati?” kata Yan Peng. 

Disebut Mengalami Depresi Berat

Pedagang yang sama mengatakan bahwa hampir semua toko menggunakan metode pembagian kupon saat promosi, tetapi hanya Yan Peng yang menerima hukuman besar.

Menurutnya, selama empat tahun pihak mal menahan pembayaran lebih dari 11 juta yuan, sementara Yan Peng harus meminjam uang, bahkan disebut meminjam dengan bunga tinggi, demi membayar gaji karyawan. Ia juga harus menghadapi beban sewa yang tinggi dan tekanan pembayaran utang sehingga akhirnya mengalami depresi berat.

Sumber tersebut menambahkan bahwa Xi’an SEG kini ingin mengelola toko-toko secara langsung sehingga meminta Yan Peng mengosongkan seluruh gerainya tanpa diberi kesempatan menjual stok barang.

Pada 1 Juli, Yan Peng disebut datang untuk bernegosiasi mengenai rencana tersebut, tetapi tidak mencapai kesepakatan.

Demi membayar gaji karyawan, ia dikabarkan menjual salah satu merek yang diageninya. Setelah kontrak penjualan selesai ditandatangani, ia memerintahkan seluruh tokonya untuk melunasi gaji para pegawai terlebih dahulu. Setelah mengunggah pesan terakhir di media sosial, ia memilih melompat dari bagian gedung yang berada di atas taman batu buatan yang relatif sepi.

Sumber tersebut menggambarkan Yan Peng sebagai seorang atasan yang bertanggung jawab dan sangat memikirkan kesejahteraan karyawannya.

Ia juga mengklaim bahwa jenazah Yan Peng telah dipindahkan oleh petugas pusat perbelanjaan sebelum polisi tiba di lokasi.

“Sekitar satu jam setelah kejadian semuanya sudah dibersihkan, lalu pusat perbelanjaan kembali beroperasi seperti biasa,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pada hari itu ia tidak lagi memiliki semangat untuk berjualan. Menurutnya, sejumlah video mengenai peristiwa tersebut yang sempat memperoleh banyak perhatian di media sosial kemudian dihapus.

Dari 500 Gerai Menjadi 300 Gerai

Data aplikasi Qichacha menunjukkan bahwa Shaanxi Lihe Trading Co., Ltd. didirikan pada September 2005 dengan Yan Peng sebagai perwakilan hukum. Perusahaan itu bergerak di bidang grosir pakaian, produksi pakaian, pengelolaan merek, serta penjualan berbagai produk.

Seorang teman Yan Peng bermarga Zhang mengatakan kepada Xiaoxiang Morning News bahwa mereka telah saling mengenal sejak 1984.

Pada 1989, Yan Peng mulai berwirausaha dengan membuka toko kecil di Xi’an yang menjual kaset, radio, dan peralatan elektronik rumah tangga. Beberapa tahun kemudian ia beralih menjual pakaian bersama pemilik toko di sebelahnya.

Usahanya berkembang pesat hingga pada masa terbaik memiliki sekitar 500 gerai di Provinsi Shaanxi.

Namun dalam beberapa tahun terakhir bisnisnya mulai menurun. Demi mempertahankan pembayaran gaji pegawai, ia menjual sebagian tokonya sehingga sebelum meninggal hanya tersisa sekitar 300 gerai.

Menurut Zhang, Yan Peng dulunya dikenal sebagai pribadi yang ceria dan sangat menghargai persahabatan. Setelah bisnisnya sukses, setiap tahun ia mengundang teman-temannya berkumpul di Xi’an.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, teman-temannya mulai menyadari gejala depresi yang dialaminya. Ia sering mengunggah renungan tentang kehidupan pada dini hari dan mengirim pesan kepada teman-temannya agar “tetap hidup dengan baik.”

Pada malam 1 Juli, Zhang mengetahui kabar kematian Yan Peng melalui internet dan mengaku tidak bisa tidur semalaman. Ia juga mengetahui bahwa sejumlah sahabat telah mendatangi rumah keluarga Yan Peng untuk mendampingi mereka dan membantu mengurus pemakaman.

Perhatian Publik Terus Berlanjut

Kematian Yan Peng terus menjadi perbincangan di media sosial Tiongkok.

Seorang blogger pengasuhan anak dengan nama akun “Daxi Sisters Daily” menulis bahwa perjalanan Yan Peng dari pemilik 500 gerai hingga akhirnya mengakhiri hidupnya merupakan kisah yang sangat menyedihkan.

Menurut unggahan tersebut, Yan Peng pernah menjadi salah satu tokoh terbesar dalam industri pakaian olahraga di Shaanxi, dengan penjualan tahunan mencapai sekitar 850 juta yuan.

Unggahan itu mempertanyakan apakah denda lebih dari 11 juta yuan yang dijatuhkan atas praktik pembagian kupon empat tahun lalu terlalu berat, terutama ketika kondisi usaha sedang sulit dan perusahaan harus menjual aset serta menggadaikan saham demi memperoleh modal kerja.

Blogger tersebut menulis bahwa aturan bisnis memang penting, tetapi apabila praktik yang sebelumnya dianggap lazim tiba-tiba dijadikan dasar pemberian hukuman besar hingga menghancurkan arus kas perusahaan, maka kondisi itu layak dipertanyakan.

Menurutnya, tragedi tersebut bukan sekadar kematian seorang pengusaha, melainkan juga mencerminkan perjuangan banyak pelaku usaha kecil dan menengah yang harus bertahan di tengah aturan yang ditetapkan perusahaan-perusahaan besar.

Sementara itu, pengelola akun media sosial “Firefly Online” menilai bahwa tragedi ini menunjukkan lemahnya posisi pedagang kecil di hadapan pusat perbelanjaan besar. Ia berharap tim investigasi gabungan yang telah dibentuk pemerintah dapat melakukan penyelidikan secara menyeluruh dan adil.

Artikel ini sebelumnya terbit di Epoch Times edisi bahasa mandarin

Teknologi Bola dan VAR di Piala Dunia FIFA 2026: Solusi Modern atau Sumber Malapetaka Baru?

Teknologi Video Assistant Referee  (VAR) membuat keputusan  dengan memanfaatkan teknologi pendeteksi sentuhan terbaru yang ditanamkan di dalam bola pertandingan Adidas.

EtIndonesia.com Teknologi VAR yang mulai digunakan sejak Piala Dunia 2018 kembali memicu perdebatan. Setelah menjadi kontroversial di beberapa liga dan kompetensi di berbagai belahan dunia, kini di Piala Dunia FIFA 2026 juga menjadi dosa teknologi yang merampok gol hingga mengubah nasib pertandingan.   

Ketika Cristiano Ronaldo dan timnas Portugal akan menghadapi Spanyol pada 7 Juli di babak 16 besar Piala Dunia, banyak penggemar Kroasia menyoroti teknologi baru FIFA yang dianggap menjadi penyebab utama terciptanya laga antar tim semenanjung Iberia itu.

Portugal menghadapi Kroasia di babak 32 besar dan keluar sebagai pemenang dengan skor 2–1 setelah 90 menit pertandingan. Namun kemenangan terjadi berkat teknologi baru yang ditanamkan di dalam bola pertandingan, yang menyediakan data untuk membatalkan gol penyeimbang Kroasia pada detik-detik terakhir. Keputusan itu memicu kemarahan dan perdebatan luas di internet.

FIFA tetap bersikukuh atas keputusannya, dan bahkan membuat halaman khusus untuk menjelaskan teknologi baru tersebut serta tujuan penggunaannya.

Berikut beberapa hal yang perlu diketahui mengenai kontroversi  VAR :

Teknologi Bola Terhubung FIFA

Bola resmi FIFA, Adidas Trionda, dilengkapi sensor unit pengukuran internal (IMU) berfrekuensi 500 Hz untuk meningkatkan keadilan, transparansi, dan kecepatan dalam menentukan apakah seorang pemain berada dalam posisi offside atau melakukan handball yang berujung pada hukuman.

“Sensor ini menangkap data 500 kali per detik, melacak percepatan bola dan pergerakan rinci dalam tiga dimensi,” kata FIFA.

“Data  digunakan untuk menentukan kapan terjadi sentuhan pada bola, lalu informasi itu dikirim secara real-time ke ruang operasi video, tempat data tersebut digabungkan dengan data pelacakan pemain dari kamera stadion untuk membantu VAR (Video Assistant Referees).”

FIFA menambahkan bahwa teknologi itu mendukung sistem offside semi-otomatis dengan mengidentifikasi secara tepat titik tendangan—momen ketika pemain melakukan kontak dengan bola—sehingga keputusan offside dapat dibuat lebih cepat dan lebih akurat.

Teknologi ini telah melalui berbagai uji coba stadion pada 2020 dan 2022, serta serangkaian pengujian ketat menjelang Piala Dunia tahun ini.

Apa yang Terjadi pada Kroasia?

Insiden itu terjadi pada detik-detik terakhir masa tambahan waktu.

Kroasia melancarkan serangan terakhir untuk menyamakan kedudukan dan memaksa pertandingan melawan Portugal berlanjut ke babak perpanjangan waktu. Bola dikirim ke depan oleh Ivan Perisic, melewati Igor Matanovic yang sedang berduel dengan bek Portugal, lalu memantul dari Mario Pasalic menuju Josko Gvardiol yang berhasil memasukkannya ke gawang.

Stadion Toronto langsung meledak dalam perayaan. Namun tak lama kemudian, bendera hakim garis terangkat. Offside. Gol dianulir.

Wasit di lapangan terlebih dahulu berkonsultasi dengan tim VAR. Ketika tayangan ulang video tidak memberikan kesimpulan yang pasti, mereka beralih ke bola pertandingan itu sendiri. Di dalam bola terdapat sensor yang mengirimkan sinyal setiap kali terjadi sentuhan.

Jika bola menyentuh Matanovic, maka Pasalic dianggap berada dalam posisi offside. Seorang pemain hanya dianggap offside jika tidak ada pemain lawan yang berada di depannya pada saat terakhir rekan setimnya menyentuh bola.

Pasalic masih berada dalam posisi onside ketika bola meninggalkan kaki Perisic. Namun saat bola mencapai Matanovic, posisi Pasalic sudah jauh melewati garis pertahanan Portugal. Jika terjadi sentuhan oleh Matanovic, maka Pasalic dianggap menerima umpan dari Matanovic, bukan dari Perisic.

Tayangan ulang video memperlihatkan bola tampak menyentuh rambut Matanovic sebelum memantul mengenai seorang pemain bertahan dan kemudian mencapai Pasalic.

Teknologi dalam bola pertandingan mencatat adanya sentuhan dari Matanovic, sehingga gol tersebut dianulir karena offside.

“Berdasarkan data yang diberikan oleh Connected Ball Technology yang terdapat di dalam Trionda produksi Adidas, bola resmi Piala Dunia FIFA, terbukti bahwa terjadi kontak dengan pemain Kroasia nomor 20, Igor Matanovic, dalam proses terciptanya gol melawan Portugal. Hal ini memungkinkan wasit untuk secara tepat menentukan adanya offside dan menganulir gol tersebut,” tegas FIFA dalam unggahan di platform X.

“Sensor IMU yang terdapat di dalam bola Trionda mampu mendeteksi kontak sekecil apa pun. Data tersebut ditampilkan kepada penonton dalam siaran melalui grafik ‘detak jantung’, sekaligus memberikan tingkat data yang belum pernah ada sebelumnya kepada para ofisial untuk membuat keputusan yang cepat dan akurat.”

Namun tayangan video juga menunjukkan bahwa bola tampak jauh lebih jelas memantul mengenai seorang pemain bertahan sebelum mencapai Pasalic. Pelatih Kroasia, Zlatko Dalic, dalam wawancara setelah pertandingan menegaskan bahwa sentuhan tersebut seharusnya membatalkan keputusan offside.

“Saya tidak percaya dengan apa yang baru saja saya lihat. Bola jelas mengenai kepala dia [Veiga]. Ini memalukan,” ujarnya.

Keputusan offside tersebut pada akhirnya dibuat oleh VAR yang bertugas mencocokkan waktu sentuhan dari data bola dengan tayangan video. Karena itu, VAR menjadi sasaran kritik dari para penggemar maupun legenda sepak bola.

“Saya benar-benar kesulitan memahami apa yang baru saja kami saksikan,” kata Jurgen Klopp, mantan bintang Piala Dunia Jerman.

“Kroasia mencetak gol pada menit-menit terakhir—sebuah momen penuh emosi—dan gol itu diambil begitu saja.”

“Saya sungguh tidak mengerti mengapa gol itu tidak disahkan,” tambahnya.

“Ketika keputusan sebesar ini diambil, semuanya harus benar-benar jelas. Yang ini terasa tidak tepat. Rasanya ada sesuatu yang dirampas dari para pemain, para penggemar, dan sepak bola itu sendiri. FIFA dan para wasit harus berbuat lebih baik. Saya benar-benar bersimpati kepada Kroasia—mereka pantas mendapatkan momen itu.”

Artikel ini terbit di The Epoch Times edisi bahasa Inggris

Cara Memaksimalkan Liburan Anda

Liburan terbaik adalah liburan yang memberi Anda kenangan bahagia yang bertahan lama, meskipun diwarnai berbagai tantangan.

Oleh Mike Donghia

Liburan biasanya tidak datang sesering yang kita inginkan, sehingga nilainya terasa lebih besar dibandingkan minggu-minggu biasa dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan jika Anda cukup beruntung, mungkin Anda hanya bisa bepergian dua atau tiga kali dalam setahun. Karena itu, wajar jika Anda ingin memanfaatkan waktu tersebut sebaik mungkin.

Harapan yang tinggi, ditambah tekanan untuk menciptakan kenangan indah, sayangnya dapat menjadi bumerang jika tidak disikapi dengan bijak. Jika Anda seperti penulis yang sering berlibur sambil membawa lima anak kecil, Anda pasti tahu bahwa mewujudkan liburan yang sukses sebenarnya bukanlah perkara mudah—setidaknya menurut standar masa kini.

Karena itulah penulis ingin tidak hanya membagikan beberapa tips terbaik untuk menikmati liburan, tetapi juga mengajak Anda mempertimbangkan bahwa cara kita memandang liburan saat ini mungkin kurang membantu. 

Liburan, seperti banyak aspek kehidupan lainnya dalam ekonomi kapitalis modern, telah berubah menjadi barang konsumsi. Liburan menjadi pengalaman yang dibeli, dinikmati, lalu diubah menjadi konten untuk “para pengikut” di media sosial agar mereka dapat “berinteraksi” dengannya.

Padahal, ada cara yang lebih baik—cara yang dapat mengurangi tekanan dan bahkan meningkatkan nilai yang Anda peroleh dari tradisi berharga ini. Penulis menyadari bahwa pandangan penulis mungkin cukup subjektif dan tidak semua orang akan setuju. Namun, penulis berharap setidaknya gagasan-gagasan ini dapat membuat Anda merenungkan kembali tujuan liburan dalam hidup Anda, sekaligus memunculkan beberapa ide baru yang layak dipertimbangkan.

4 Tips untuk Liburan yang Bahagia dan Berkesan

Liburan bukanlah ilmu roket. Selama beberapa generasi, orang-orang telah menikmati perjalanan dan waktu istimewa bersama keluarga maupun teman. Tips berikut mungkin tidak cocok untuk semua orang dan tidak berlaku untuk setiap jenis liburan. Namun secara umum, saya percaya bahwa tips ini mengajak kita kembali pada nilai-nilai yang sering terabaikan di zaman sekarang.

1. Utamakan Kenangan Masa Depan daripada Relaksasi Saat Ini

Menurut penulis, fokus berlebihan pada relaksasi adalah kesalahan terbesar dalam cara banyak orang memandang liburan. Orang sering beranggapan bahwa karena kehidupan sehari-hari begitu sibuk, maka liburan harus sepenuhnya digunakan untuk bersantai. Padahal, relaksasi pada dasarnya berpusat pada diri sendiri, dan tidak ada yang salah dengan itu—hanya saja bukan itulah manfaat utama dari sebuah liburan.

Kita semua membutuhkan istirahat, dan liburan memang dapat memberikan kesempatan tersebut. Namun, istirahat yang sesungguhnya lebih baik diperoleh melalui tidur yang cukup dan waktu jeda rutin setiap minggu, atau bentuk rehat lainnya yang serupa. Mengharapkan liburan selama satu minggu untuk memulihkan seluruh energi dan keseimbangan hidup Anda adalah harapan yang terlalu besar.

Liburan seharusnya menjadi sarana untuk menciptakan kenangan, terutama bersama orang-orang yang kita sayangi. Salah satu hadiah terbesar dari liburan adalah kemampuannya menandai perjalanan tahun-tahun dalam hidup kita dan memberi kita momen-momen istimewa yang dapat dikenang kembali di masa depan.

2. Singkirkan Ponsel Anda

Di dunia yang selalu terhubung seperti sekarang, salah satu cara terbaik untuk benar-benar beristirahat adalah dengan melepaskan diri dari teknologi sebanyak mungkin. Kurangi berbagai hal yang menarik perhatian Anda keluar dari momen saat ini, dan nikmatilah dunia yang ada tepat di hadapan Anda.

Lebih dari sekadar memberikan ketenangan, menjauh sejenak dari teknologi juga membuat waktu terasa berjalan lebih lambat. Distorsi persepsi terhadap waktu inilah yang membuat liburan terasa begitu istimewa dan menjadi alasan mengapa kita mengenangnya dengan begitu hangat di kemudian hari.

3. Habiskan Lebih Banyak Waktu Bersama Orang Lain

Saat berlibur, ada godaan untuk hanya duduk santai, tenggelam dalam sebuah buku, atau bahkan mengambil jeda dari tuntutan hubungan sosial. Sesekali melakukan hal tersebut memang menyenangkan, tetapi menurut saya itu seharusnya bukan fokus utama dalam berlibur.

Sebaliknya, kita sebaiknya memanfaatkan waktu libur sebagai kesempatan untuk memperkuat persahabatan dan hubungan dengan orang-orang terdekat, sesuatu yang sering kali sulit dilakukan di tengah kesibukan kehidupan sehari-hari.

Luangkan waktu lebih lama di meja makan bersama orang-orang yang Anda cintai, bermain permainan dengan santai, atau berjalan kaki bersama tanpa terburu-buru. Momen-momen seperti inilah yang membangun ikatan kuat dan membantu kita melewati berbagai musim kehidupan.

4. Terimalah Situasi yang Menantang

Salah satu liburan paling menantang yang pernah kami alami justru menjadi liburan paling sering dibicarakan oleh keluarga kami hingga hari ini.

Perjalanan kami dengan mobil bersama anak-anak kecil dipenuhi begitu banyak pemberhentian tambahan dan air mata, sehingga memakan waktu lima jam lebih lama dari yang diperkirakan. Rumah liburan yang kami sewa tidak memiliki pendingin udara di tengah gelombang panas, sementara kami juga harus merawat seorang anak yang sedang sakit.

Belum lagi, pada beberapa hari tekanan air di rumah itu terlalu lemah sehingga kami tidak bisa mandi dengan nyaman, dan lokasinya juga terlalu dekat dengan jalan raya yang ramai.

Namun, terlepas dari semua itu—atau mungkin justru karena semua itu—liburan tersebut menjadi satu-satunya perjalanan yang tidak pernah bisa dilupakan oleh siapa pun dalam keluarga kami. Seiring berjalannya waktu, kenangan kami tentang perjalanan itu justru semakin indah.

Di tengah masyarakat yang terus mendorong kita untuk memilih kenyamanan, kemudahan, dan kemewahan, mungkin ada baiknya kita bertanya apakah hal-hal tersebut selalu menjadi apa yang benar-benar kita butuhkan.

Bagi penulis, semua tips ini menggambarkan tujuan sesungguhnya dari sebuah liburan: kesempatan untuk melawan berbagai tekanan yang membentuk kehidupan sehari-hari kita dan menciptakan ruang bagi lahirnya kenangan-kenangan berharga.

Masyarakat modern mendorong kita untuk selalu terhubung, mengejar kenyamanan, dan terus produktif. Penulis justru berpandangan bahwa liburan seharusnya menjadi tempat perlindungan kecil dari semua itu—sebuah ruang yang dengan indah terlepas dari teknologi, lebih terhubung dengan manusia, serta dipenuhi pengalaman yang menantang sekaligus bermakna.

Mike Donghia dan istrinya, Mollie, menulis blog di This Evergreen Home, tempat mereka berbagi pengalaman menjalani kehidupan yang sederhana, penuh kesadaran, dan berfokus pada hubungan antarmanusia di tengah dunia modern. Pembaca dapat mengikuti tulisan mereka melalui buletin yang diterbitkan dua kali setiap minggu.

Ukraina Gempur Belakang Rusia, Lowongan Operator Drone Bermunculan di Seluruh Negeri 

EtIndonesia.com Situs lowongan kerja di Rusia saat ini secara terbuka merekrut operator drone untuk membantu menjaga keamanan wilayah udara Moskow. Di saat yang sama, pihak Ukraina menyatakan bahwa sepanjang tahun ini mereka telah secara signifikan meningkatkan serangan drone terhadap wilayah Rusia.

Menurut laporan Reuters, iklan lowongan tersebut muncul di HeadHunter, situs pencarian kerja terbesar di Rusia. Dalam iklan itu disebutkan bahwa sebuah unit sukarelawan bernama Combat Army Reserve Force (BARS) sedang merekrut personel secara mendesak. Tugas utamanya adalah “menjamin keamanan ibu kota melalui solusi teknologi modern dan sistem pengawasan.”

Tanggung jawab pekerjaan tersebut meliputi:

  • Melakukan persiapan sebelum penerbangan drone dan mengoperasikan drone.
  • Menjalankan misi pengintaian.
  • Melakukan penerbangan pada siang maupun malam hari untuk mengumpulkan data.

Menariknya, lowongan ini tidak mensyaratkan pengalaman sebelumnya. Pelamar hanya diminta memiliki kemampuan teknis dasar serta keinginan untuk berkembang di bidang tersebut.

Gaji awal yang ditawarkan adalah 150.000 rubel per bulan (sekitar US$1.950). Namun, karena rata-rata gaji bulanan di Moskow saat ini telah melebihi 200.000 rubel, besaran gaji tersebut dinilai tidak terlalu kompetitif.

Dalam salah satu ulasan internal mengenai pemberi kerja tersebut, seseorang yang menggunakan nama “Chief Inspector” menggambarkan unit itu sebagai “tim yang solid dan berkualitas”, dengan “peluang pengembangan yang besar”, “budaya kerja tim yang positif”, serta sistem penggajian yang didasarkan pada kinerja.

Belum diketahui kapan lowongan itu pertama kali dipublikasikan, tetapi informasi tersebut diperbarui pada 1 Juli.

Ukraina Mengklaim Serangan Drone Meningkat Tajam

Upaya Rusia merekrut operator drone secara mendesak terjadi di tengah meningkatnya intensitas serangan udara Ukraina terhadap wilayah Rusia sepanjang tahun ini.

Pasukan Sistem Drone Ukraina menyatakan bahwa selama 2026, jumlah serangan terhadap sasaran militer maupun wilayah strategis di pedalaman Rusia telah meningkat lebih dari 11 kali lipat dibandingkan sebelumnya.

Berdasarkan data yang dipublikasikan pihak Ukraina, selama Juni saja mereka telah melaksanakan hampir 2.400 misi serangan jarak jauh dengan jangkauan 500 hingga 2.000 kilometer, dan mengklaim berhasil menyerang 172 fasilitas industri militer serta infrastruktur energi pertahanan di Rusia.

Selain itu, Ukraina menyatakan telah melaksanakan lebih dari 3.400 serangan jarak menengah, yang menurut mereka mengenai hampir 1.700 sasaran.

Sementara itu, dalam lebih dari 2.700 serangan di garis depan, Ukraina mengklaim hampir 1.300 target berhasil dihantam atau dihancurkan.

Menurut laporan tersebut, sasaran yang diklaim berhasil diserang oleh drone Ukraina tersebar di berbagai wilayah Rusia, antara lain :

  • Pabrik pengolahan gas alam.
  • Kilang minyak.
  • Depot penyimpanan bahan bakar.
  • Pelabuhan.
  • Terminal distribusi minyak.
  • Biro Desain Pusat Instrumentasi.
  • Pusat Komunikasi Antariksa.
  • Pangkalan Angkatan Laut Kronstadt.
  • Gudang persenjataan angkatan laut.
  • Sebuah kapal fregat Angkatan Laut Rusia.

Sumber : NTDTV.com

Beijing Kembali Diguyur Hujan Es Sebesar Telur Ayam, Menjadi Topik Hangat di Media Sosial

EtIndonesia.com Pada 3 Juli 2026 sore waktu setempat, Kota Beijing kembali diguyur hujan es berukuran besar. Topik “Hujan Es di Beijing” bahkan menjadi salah satu kata kunci yang paling banyak diperbincangkan di platform media sosial Weibo.

Hari itu, Beijing mengalami cuaca yang sangat kontras. Pada siang hari, suhu udara mencapai 38°C, sehingga otoritas meteorologi mengeluarkan peringatan kuning gelombang panas. Namun pada sore harinya, peringatan kuning untuk petir, angin kencang, dan hujan es juga diberlakukan secara bersamaan. Menjelang malam, kota tersebut dilanda angin kencang, hujan deras, dan hujan es.

Menurut prakiraan badan meteorologi, pada sore hari wilayah barat pusat Kota Beijing hingga bagian tengah Distrik Fangshan berpotensi mengalami angin sesaat berkekuatan 8–10 skala Beaufort, hujan es, dan hujan lebat berdurasi singkat. Hujan es kemudian dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah seperti Haidian, Fengtai, dan Mentougou.

Sekitar satu jam kemudian, hujan disertai petir meluas ke berbagai distrik, termasuk Haidian, Shijingshan, Fengtai, Xicheng, Dongcheng, Chaoyang, Shunyi, Fangshan, Daxing, dan Tongzhou. Cuaca buruk tersebut disertai angin sesaat berkekuatan 9–11 skala Beaufort serta hujan es.

Butiran hujan es di Beijing sebesar telur. (Gambar dari internet)
Butiran hujan es di Beijing sebesar telur. (Gambar dari internet)
Butiran hujan es di Beijing sebesar telur. (Gambar dari internet)

Banyak warga Beijing mengunggah rekaman video yang memperlihatkan angin kencang, hujan deras, dan hujan es yang turun dengan lebat. Sejumlah warga juga membagikan foto bongkahan hujan es yang ukurannya disebut sebesar telur ayam.

Pada malam harinya, topik “Hujan Es di Beijing” menjadi salah satu tren teratas di Weibo.

Sejak Juni lalu, Beijing berulang kali mengalami cuaca ekstrem seperti angin kencang, hujan deras, dan hujan es. Dalam paruh pertama bulan Juni saja, wilayah administrasi Beijing dilaporkan mengalami tujuh kali hujan es, atau rata-rata sekali setiap dua hari.

Sementara itu, wilayah selatan Tiongkok juga terus dilanda hujan lebat yang memicu banjir di berbagai daerah.

Di saat yang sama, Topan Maysak, badai tropis ke-10 tahun ini, mendarat di pesisir Kabupaten Lingshui, Provinsi Hainan, sekitar pukul 18.20 pada 3 Juli. Saat mendarat, kecepatan angin maksimum di dekat pusat badai mencapai tingkat 9 atau sekitar 23 meter per detik.

Badan meteorologi memperkirakan Topan Maysak akan bergerak ke arah barat laut, melintasi Pulau Hainan dan Teluk Beibu, kemudian diperkirakan kembali mendarat pada malam 4 Juli di wilayah perbatasan antara pesisir Guangxi dan pesisir utara Vietnam.

Akibat pengaruh Topan Maysak, hujan lebat diperkirakan akan melanda Guangdong, Guangxi, dan Hainan selama periode 3–6 Juli.

Saat ini, beberapa distrik di Guangzhou masih berada dalam status peringatan putih topan. Prakiraan cuaca menunjukkan bahwa mulai 3 hingga 7 Juli, wilayah tengah dan barat Provinsi Guangdong berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat di sejumlah lokasi.

Sumber : NTDTV.com

Kyiv Diserang Selama 11 Jam, 36 Orang Tewas dan 92 Terluka; Kota Berkabung pada Jumat 

EtIndonesia.com Insiden penembakan terjadi di Fairlane Town Center, pusat perbelanjaan terbesar di kawasan metropolitan Detroit, negara bagian Michigan, Amerika Serikat. Hingga saat ini dilaporkan sedikitnya dua orang tewas dan satu orang terluka. Pihak berwenang telah menutup lokasi kejadian dan memulai penyelidikan.

Sementara itu, beberapa hari sebelumnya Rusia melancarkan serangan udara mematikan terhadap ibu kota Ukraina, Kyiv. Pada 4 Juli, seluruh kota Kyiv menggelar hari berkabung untuk mengenang para korban.

Sebelumnya, serangan udara Rusia yang berlangsung selama 11 jam itu menewaskan sedikitnya 36 orang dan melukai 92 orang. Pemerintah Ukraina juga mengibarkan bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung.

Wali Kota Kyiv menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan serangan terbesar yang dialami ibu kota Ukraina selama perang yang telah berlangsung lima tahun.

Pada hari yang sama, Rusia kembali melancarkan serangan ke tiga wilayah berbeda di Ukraina, yang mengakibatkan enam orang tewas.

Uni Eropa sebelumnya menyatakan bahwa bantuan kepada Ukraina harus terus dilanjutkan, sekaligus menyerukan peningkatan sanksi terhadap Moskow.

Sumber : NTDTV.com

Pemakaman Khamenei Digelar, Analis: Beijing Tetap Mendukung Teheran tetapi Berusaha Menghindari Risiko “Terkena Sekaligus” 

EtIndonesia.com Pada Jumat (3 Juli), pemerintah Iran menggelar upacara pemakaman Ali Khamenei. Partai Komunis Tiongkok (PKT) hanya mengirimkan He Wei, Wakil Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional (NPC), sebagai perwakilan untuk menghadiri upacara tersebut. Langkah ini dinilai sebagai upaya Beijing untuk tetap menjaga hubungan politik dengan Iran, namun pada saat yang sama menekan risiko politik dan menghindari kemungkinan “terkena sekaligus” apabila terjadi situasi yang tidak diinginkan.

Khamenei tewas pada akhir Februari lalu akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel. Namun, upacara pemakamannya baru dilaksanakan lebih dari empat bulan kemudian dan sengaja dijadwalkan menjelang Hari Kemerdekaan Amerika Serikat. Sejumlah pengamat menilai waktu pelaksanaan tersebut mengandung unsur simbolisme dan kepentingan politik.

Dalam upacara tersebut, hampir seluruh negara utama di Eropa dan Amerika Utara tidak mengirimkan perwakilan, sehingga acara itu dinilai lebih menyerupai pertemuan negara-negara yang berada dalam kelompok politik yang sama.

Daftar tamu undangan juga menjadi sorotan. Pada 2 Juli, Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengumumkan bahwa He Wei, Wakil Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional, akan mewakili Beijing menghadiri pemakaman. 

Sejumlah akademisi menilai keputusan mengirim pejabat setingkat wakil nasional, bukan pemimpin tertinggi, merupakan langkah yang disengaja untuk mengurangi risiko politik dan menghindari kemungkinan seluruh jajaran puncak terdampak apabila terjadi insiden keamanan.

“PKT tidak mengirim Xi Jinping, Li Qiang, Wang Yi, atau tokoh tertinggi lainnya. Dengan demikian, Beijing juga menghindari penafsiran bahwa mereka sepenuhnya mempertaruhkan dukungan kepada Iran,” ujar Wakil Rektor Universitas Kainan di Taiwan sekaligus pakar geopolitik, Chen Wenjia. 

“Hal ini menunjukkan bahwa dukungan tersebut bukan tanpa syarat, melainkan mencerminkan diplomasi pragmatis khas PKT—di permukaan memberikan dukungan, tetapi sesungguhnya penuh dengan perhitungan dan pertimbangan risiko,” jelasnya. 

Para analis juga berpendapat bahwa meskipun PKT dan Iran memiliki ideologi yang berbeda, dasar hubungan keduanya adalah sama-sama menentang Amerika Serikat, yang mereka pandang sebagai simbol demokrasi liberal.

“Ketika Khamenei memimpin Revolusi Islam dan menggulingkan Dinasti Pahlavi, ia pernah bersekutu dengan kelompok Marxis di Iran. Namun setelah Revolusi Islam berhasil dan pemerintahan teokrasi terbentuk, Khamenei justru memenjarakan seluruh kelompok Marxis tersebut,” ujar Komentator politik yang bermukim di Amerika Serikat, Lan Shu. 

“Kini, karena memiliki musuh bersama, yaitu Amerika Serikat, rezim keagamaan yang sangat konservatif di Iran dan rezim komunis Beijing yang berlandaskan ateisme kembali menjalin hubungan erat,” lanjutnya. 

Laporan hasil wawancara disusun oleh reporter New Tang Dynasty Television, Yi Xin dan Chang Chun.