Menkeu AS: AS Akan Menguasai Selat Hormuz untuk Menjamin Kebebasan Pelayaran

EtIndonesia. Pada hari ke-31 perang antara Amerika Serikat dan Iran, Iran mengancam Selat Hormuz serta fasilitas energi negara-negara Teluk, yang menyebabkan fluktuasi harga minyak global. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengambil alih kendali selat tersebut, dan setelah itu kebebasan pelayaran akan dipulihkan—baik melalui pengawalan oleh AS maupun melalui koalisi multinasional.

Bessent juga mengatakan bahwa saat ini pasar minyak global mengalami kekurangan pasokan sekitar 10 hingga 12 juta barel per hari, dan Amerika Serikat “sedang menutup kekurangan tersebut.”

Selain itu, ketika ditanya apakah keterlibatan kelompok Houthi yang didukung Iran akan menimbulkan kekhawatiran gangguan pasokan minyak melalui Laut Merah, Bessent menjawab bahwa kelompok tersebut saat ini belum terlalu aktif.

Kelompok Houthi pada 28 Maret meluncurkan rudal balistik ke Israel. Bessent menyatakan bahwa serangan mereka sejauh ini “hanya ditujukan ke Israel”, dan di kawasan Laut Merah “mereka relatif tenang. Saya memperkirakan kemungkinan besar mereka akan tetap seperti itu.”

Laporan/Editor NTD Asia Pasifik: Lu Yongxin

Langit Merah Darah Muncul di Australia, Viral Pemandangan yang Mencekam

EtIndonesia. Baru-baru ini, langit di Australia bagian barat berubah menjadi merah darah yang aneh, menciptakan suasana mencekam seperti adegan “kiamat” dalam film. Video terkait fenomena ini viral di media sosial.

Menjelang pendaratan siklon tropis Siklon Tropis Narelle, kota kecil Denham di kawasan Shark Bay diselimuti langit merah yang tidak biasa.

Pada 27 Maret sore, Shark Bay Caravan Park membagikan video tersebut di Facebook dan menulis, “Di luar terasa sunyi dengan cara yang aneh, dan debu ada di mana-mana. Saat ini angin belum terlalu kencang. Kami berharap hujan yang cukup deras akan datang untuk membersihkan semua ini.”

Video tersebut menunjukkan seluruh langit berubah menjadi “merah darah hingga merah tua”, menciptakan suasana yang terasa menekan. Seorang pengguna media sosial menulis, “Pemandangannya mengerikan, debu ada di mana-mana.”

Menurut laporan ABC News, Kerrie Shepherd dari Shark Bay Caravan Park mengatakan bahwa ia belum pernah melihat pemandangan seperti itu sebelumnya. Seiring waktu, langit pada sore hari berubah menjadi semakin oranye. Sekitar pukul 15.30, ketika keluar rumah, warna langit sudah berubah menjadi seperti itu.

“Kemanapun memandang, semuanya berwarna merah darah,” kata Kerrie. “Debu masuk ke tenggorokan dan mulut Anda. Gigi terasa berderit karena pasir, bahkan mata juga kemasukan debu.”

Warga setempat mengatakan fenomena ini berlangsung selama beberapa jam, dimulai sekitar tengah hari.

Kerrie menambahkan bahwa ketika angin di kota mulai menguat, fenomena tersebut pun berakhir. (Hui)

Tanker Menuju Qingdao, Tiongkok, Diserang Drone Iran Saat Berlabuh di Pelabuhan Dubai

EtIndonesia. Sebuah kapal tanker milik Kuwait yang membawa muatan penuh minyak mentah diserang oleh Iran pada Senin (30 Maret) saat sedang berlabuh di Pelabuhan Dubai, Dubai. Kapal tersebut terbakar dan mengalami kerusakan, namun tidak ada korban luka. 

Media Dubai melaporkan bahwa tim pemadam kebakaran laut sedang berupaya mengendalikan api. Data menunjukkan bahwa kapal tanker yang membawa 2 juta barel minyak mentah ini bertujuan ke Qingdao.

Kantor berita Kuwait mengutip perusahaan milik negara Kuwait Petroleum Corporation yang menyatakan : “Kapal tanker minyak mentah besar milik Kuwait ini diserang secara langsung dan bersifat bermusuhan oleh Iran di area jangkar Pelabuhan Dubai, Uni Emirat Arab.”

Kantor media Dubai menyatakan bahwa seluruh 24 awak kapal tidak mengalami luka.

Sementara itu, militer Kuwait juga mengunggah pernyataan di platform X bahwa sistem pertahanan udara sedang merespons “serangan rudal dan drone yang bersifat bermusuhan”.

Pihak resmi Kuwait pada hari ini (31 Maret) menyatakan bahwa kapal tanker berbendera Kuwait, Al Salmi, mengalami kerusakan dan kebakaran setelah diserang Iran. Api kini telah berhasil dipadamkan, namun masih ada risiko kebocoran minyak.

Menurut data dari Lloyd’s List Intelligence dan lembaga pemantau pengiriman tanker TankerTrackers, kapal tanker tersebut membawa 2 juta barel minyak mentah dari Kuwait dan Arab Saudi, dengan tujuan akhir Qingdao, Tiongkok.

Hingga saat ini, pejabat Iran belum memberikan tanggapan atas insiden tersebut. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Dua Pabrik Aluminium Besar di Timur Tengah Dibom, Harga Aluminium Melonjak Mendekati Tertinggi 4 Tahun

EtIndonesia. Setelah fasilitas milik Emirates Global Aluminium (EGA) dan Aluminium Bahrain diserang oleh Iran, harga aluminium melonjak mendekati level tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir.

Menurut laporan BBC News, pada Senin (30 Maret), harga aluminium di London Metal Exchange naik lebih dari 3% menjadi 3.401 dolar AS per ton. Aluminium banyak digunakan dalam produk elektronik, kemasan, konstruksi, dan kendaraan.

Emirates Global Aluminium menyatakan bahwa pabriknya di Abu Dhabi mengalami “kerusakan signifikan”, sementara Aluminium Bahrain mengatakan masih mengevaluasi tingkat kerusakan fasilitasnya. Serangan udara mendadak ini membuat pasokan aluminium global langsung menghadapi ancaman serius.

Kawasan Teluk Persia (seperti Uni Emirat Arab dan Bahrain) menyumbang sekitar 9% dari pasokan aluminium primer dunia. Kini, bukan hanya pabrik yang rusak, tetapi jalur distribusi juga terhambat.

Seorang analis investasi, Ye Yushuo, menyatakan bahwa aluminium adalah logam yang sangat boros energi dan sulit digantikan. Jika kapasitas produksi menurun, akan sulit untuk segera menutup kekurangan tersebut dalam jangka pendek. Ia memperkirakan bahwa di bawah tekanan gangguan pasokan, harga aluminium di LME sangat mungkin menembus rekor tertinggi tahun 2022.

Sebagai perbandingan, setelah Rusia menginvasi Ukraina, harga aluminium pada Maret 2022 sempat melonjak hingga melampaui 4.000 dolar AS per ton. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Trump Bongkar Rencana Akhir: Iran ‘Dikembalikan ke Zaman Batu’ dalam 3 Minggu!

EtIndonesia. Ketegangan di Timur Tengah semakin memuncak setelah Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menyatakan bahwa Washington telah memantau secara cermat keterlibatan Tiongkok dan Rusia dalam membantu Iran, dan siap mengambil langkah tegas jika diperlukan.

Dalam konferensi pers di Pentagon pada 31 Maret 2026, Hegseth menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki pemahaman menyeluruh terkait dukungan yang diberikan kedua negara tersebut kepada Teheran.

“Kami sangat memahami apa yang mereka lakukan—apa yang sudah mereka lakukan, maupun yang belum mereka lakukan,” ujarnya.

Meski tidak merinci seluruh informasi kepada publik, Hegseth menegaskan bahwa Washington telah menyiapkan berbagai langkah, mulai dari meredam situasi hingga kemungkinan menghadapi langsung pihak-pihak yang terlibat.

Dia juga memperingatkan bahwa beberapa hari ke depan akan menjadi fase krusial yang dapat menentukan arah konflik di kawasan Timur Tengah.

Iran Kian Tertekan, Kemampuan Militer Menyusut

Di tengah intensitas serangan yang terus meningkat, Hegseth menyatakan bahwa posisi Amerika Serikat semakin kuat, sementara ruang gerak Iran semakin terbatas.

Menurutnya, Iran kini berada dalam kondisi yang sangat sulit untuk membalikkan keadaan secara militer.

Namun demikian, Teheran tidak tinggal diam.

Pada Rabu, 31 Maret 2026, Garda Revolusi Iran mengeluarkan ancaman balasan dengan menyatakan akan menargetkan kepentingan Amerika di kawasan, termasuk perusahaan-perusahaan besar asal AS.

Daftar target yang disebutkan mencakup sejumlah raksasa teknologi dan industri global seperti:

  • Microsoft
  • Google
  • Apple
  • Intel
  • IBM
  • Tesla
  • Boeing

Langkah ini menandai potensi eskalasi konflik ke ranah ekonomi dan korporasi global.

Retakan di NATO: Eropa Mulai Menjauh dari AS

Di sisi lain, dinamika geopolitik di antara sekutu Barat juga menunjukkan tanda-tanda keretakan.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyoroti sikap Inggris dan Prancis pada 31 Maret 2026, di tengah sikap dingin sejumlah negara Eropa terhadap operasi militer AS.

Lebih jauh, beberapa negara bahkan mengambil langkah konkret:

  • Spanyol menutup wilayah udaranya bagi pesawat militer AS yang terlibat dalam operasi terhadap Iran pada hari Senin, 30 Maret 2026.
  • Italia menolak permintaan pesawat militer AS untuk mendarat di pangkalan udara Sigonella di Sisilia.

Kedua negara tersebut merupakan anggota NATO, sehingga langkah ini dipandang sebagai sinyal serius adanya perbedaan sikap di dalam aliansi.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, memperingatkan bahwa setelah konflik berakhir, pemerintahan Trump akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap hubungan dengan NATO.

Sejumlah analis menilai bahwa kondisi ini berpotensi memicu krisis terbesar dalam aliansi NATO sejak Perang Dunia II.

Bahkan, terdapat spekulasi bahwa AS dapat memindahkan pangkalan militernya ke wilayah alternatif seperti Maroko jika pembatasan dari Eropa terus berlanjut.

UEA Siap Terlibat, Selat Hormuz Jadi Fokus Baru

Sementara itu, perkembangan penting juga terjadi di kawasan Teluk.

Pejabat Arab mengungkapkan bahwa Uni Emirat Arab (UEA) tengah bersiap untuk membantu Amerika Serikat dan sekutunya membuka kembali jalur vital Selat Hormuz, yang sebelumnya terdampak konflik.

Jika langkah ini terealisasi, UEA akan menjadi negara Teluk pertama yang terlibat langsung dalam operasi militer aktif melawan Iran.

Selain itu, UEA juga dilaporkan sedang melobi Dewan Keamanan PBB guna mendapatkan legitimasi internasional atas tindakan tersebut.

Trump: Perang Bisa Berakhir dalam 2–3 Minggu

Dalam pernyataan terpisah pada 31 Maret 2026, Presiden Donald Trump menyampaikan optimisme bahwa konflik dengan Iran dapat segera berakhir.

Dia menyebut bahwa perang kemungkinan dapat diselesaikan dalam waktu dua hingga tiga minggu, menjadikannya pernyataan paling tegas sejak konflik dimulai.

Namun, Trump juga menegaskan syarat utama penghentian operasi militer:

Iran harus kehilangan kemampuan untuk mengembangkan senjata nuklir dalam waktu dekat.

Dia bahkan menggunakan istilah keras dengan menyebut Iran harus “kembali ke Zaman Batu” dalam konteks kemampuan nuklirnya.

AS Enggan Terlibat di Selat Hormuz

Terkait keamanan Selat Hormuz, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan mengambil peran langsung.

Dia menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga jalur tersebut berada pada negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dari kawasan tersebut.

Trump secara khusus menyinggung Tiongkok sebagai pihak yang akan tetap menggunakan jalur tersebut untuk kebutuhan energi, sementara AS memilih untuk tidak terlibat.

Operasi Militer Masuki Tahap Akhir

Masih pada 31 Maret 2026, Trump menandatangani perintah eksekutif di Gedung Putih dan menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran telah memasuki tahap akhir.

Dia mengklaim bahwa:

  • Serangan terhadap fasilitas produksi rudal Iran telah berhasil dilakukan
  • Tujuan utama operasi militer hampir tercapai
  • Penarikan pasukan AS akan segera dimulai

Situasi Masih Dinamis

Meski sejumlah pihak mulai berbicara tentang akhir konflik, situasi di lapangan masih sangat dinamis dan penuh ketidakpastian.

Ancaman balasan dari Iran, potensi keterlibatan negara-negara lain, serta retakan di dalam aliansi Barat menjadi faktor yang dapat memengaruhi arah konflik dalam waktu dekat.

Perkembangan dalam beberapa hari ke depan diperkirakan akan menjadi penentu apakah konflik ini benar-benar mereda—atau justru meluas menjadi krisis global yang lebih besar.

Teheran Kehabisan Senjata! Serangan Brutal AS-Israel Bikin Iran Nyaris Tak Berdaya

EtIndonesia. Situasi perang antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat dan Israel memasuki fase krusial. Sejumlah laporan terbaru pada Selasa (31 Maret 2026) mengindikasikan bahwa kemampuan militer Iran mengalami penurunan signifikan, terutama dalam hal peluncuran rudal dan produksi amunisi.

Menurut berbagai sumber militer dan laporan intelijen, Teheran kini tidak lagi mampu meluncurkan serangan rudal secara berkelanjutan. Kondisi ini menjadi titik balik penting sejak konflik dimulai, yang menunjukkan melemahnya daya tempur Iran secara sistematis.

Serangan Masif Lumpuhkan Infrastruktur Militer Iran

Dalam 24 jam terakhir hingga Selasa (31 Maret 2026), angkatan udara Israel dilaporkan telah melancarkan lebih dari 230 serangan udara terhadap sekitar 20 fasilitas produksi senjata dan pusat riset militer Iran.

Operasi yang dilakukan pada pagi hari bahkan melibatkan 80 bom yang dijatuhkan ke berbagai target strategis.

Berdasarkan laporan Channel 31 Israel, pejabat keamanan Israel mengonfirmasi bahwa:

  • Gudang amunisi Iran mengalami kerusakan berat
  • Sistem peluncuran rudal lumpuh sebagian besar
  • Kemampuan serangan balasan Iran menurun drastis

Untuk pertama kalinya sejak perang berlangsung, Israel secara terbuka menyatakan bahwa Iran sudah tidak mampu melakukan serangan rudal intensif secara beruntun.

Hal ini memperlihatkan bahwa ruang gerak Iran untuk membalas serangan kini semakin terbatas.

Fasilitas Vital di Selat Hormuz Hancur

Pada hari yang sama, Selasa (31 Maret 2026), serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel kembali menghantam wilayah strategis Iran, khususnya di sekitar Selat Hormuz.

Salah satu target utama adalah fasilitas penting di Pulau Qeshm, yakni pabrik desalinasi air laut.

Fasilitas tersebut:

  • Hancur total akibat serangan langsung
  • Tidak dapat diperbaiki dalam waktu dekat
  • Berperan vital dalam pasokan air bagi pasukan Iran

Dampaknya sangat signifikan, karena Pulau Qeshm merupakan titik strategis di jalur logistik militer Iran. Terhentinya pasokan air bersih diperkirakan akan langsung memengaruhi operasional pasukan di kawasan tersebut.

Selain itu, fasilitas produksi amunisi di sekitar Selat Hormuz juga dilaporkan untuk pertama kalinya berhasil dihancurkan, memperparah krisis logistik militer Iran.

Pemadaman Listrik dan Indikasi Krisis Internal

Serangan terbaru juga menyebabkan pemadaman listrik kembali terjadi di Teheran, memperkuat indikasi bahwa infrastruktur energi Iran turut menjadi sasaran utama.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan Amerika Serikat mengungkapkan adanya peningkatan jumlah tentara Iran yang membelot, yang menandakan mulai munculnya tekanan internal di tubuh militer Iran.

Pernyataan Trump: Penarikan Pasukan dalam 2–3 Minggu

Masih pada Selasa (31 Maret 2026), Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan bahwa:

  • Pasukan AS kemungkinan akan mulai ditarik dari Iran dalam 2 hingga 3 minggu
  • Jalur strategis Selat Hormuz dapat dibuka kembali tanpa bantuan militer AS

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Washington melihat operasi militernya telah mencapai target utama.

Ancaman Iran ke Perusahaan Teknologi AS

Meski berada dalam tekanan besar, Garda Revolusi Iran tetap mengeluarkan pernyataan keras.

Mereka mengancam bahwa jika ada lagi pemimpin Iran yang terbunuh, maka perusahaan teknologi besar Amerika akan menjadi target, termasuk:

  • Apple
  • NVIDIA
  • Meta

Ancaman tersebut menuai kritik luas dari komunitas internasional karena dinilai menyeret pihak sipil ke dalam konflik militer.

Menanggapi hal ini, Trump memberikan respons tajam:

“Ancaman apa? Senjata mainan? Mereka sudah tidak punya apa-apa lagi untuk mengancam. Mereka bahkan tidak bisa menggunakan senjata nuklir.”

AS Buka Opsi Operasi Darat

Pada hari yang sama, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Kane, dalam konferensi pers di Pentagon menegaskan bahwa:

  • Opsi militer terhadap Iran tidak terbatas pada serangan udara
  • Operasi darat tetap menjadi kemungkinan nyata

Pernyataan ini sekaligus membantah asumsi sebelumnya bahwa serangan udara saja sudah cukup untuk mengakhiri konflik.

Tiongkok dan Pakistan Masuk ke Arena Diplomasi

Di tengah eskalasi konflik, dinamika geopolitik turut berkembang.

Pada Selasa (31 Maret 2026), Tiongkok dan Pakistan mengeluarkan pernyataan bersama yang menyerukan penghentian konflik di Timur Tengah.

Dalam pertemuan di Beijing, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi dan Menteri Luar Negeri Pakistan mengajukan inisiatif lima poin perdamaian, meliputi:

  1. Penghentian segera aksi militer
  2. Percepatan perundingan damai
  3. Perlindungan terhadap target non-militer
  4. Keamanan jalur pelayaran internasional
  5. Menjaga prinsip Piagam PBB

Pakistan Diduga Jadi Mediator AS–Iran

Sejumlah analis menilai bahwa Pakistan kini memainkan peran penting sebagai mediator.

Terdapat laporan bahwa:

  • Proposal damai 15 poin dari Trump telah disampaikan ke Iran melalui Pakistan
  • Wakil Presiden AS J.D. Vance mempertimbangkan bertemu perwakilan Iran di Pakistan

Pengamat politik Deng Yuwen menilai kunjungan Pakistan ke Beijing kemungkinan bertujuan untuk:

  • Menginformasikan perkembangan negosiasi kepada Tiongkok
  • Meminta pandangan strategis dari Beijing

Hal ini menunjukkan bahwa Tiongkok berpotensi ikut terlibat lebih jauh dalam proses diplomasi.

Iran Terdesak, Tiongkok Hanya Jadi Perantara

Sebelumnya, beredar kabar bahwa Iran ingin menjadikan Tiongkok sebagai penjamin dalam negosiasi.

Namun, sejumlah analis menilai bahwa:

  • Iran tidak sepenuhnya percaya pada Tiongkok
  • Beijing lebih dilihat sebagai perantara diplomatik
  • Keterlibatan Tiongkok terjadi karena Iran berada dalam kondisi terdesak

Kesimpulan: Iran di Titik Kritis, Dunia Menuju Fase Penentuan

Dengan:

  • Lumpuhnya sebagian besar kemampuan militer Iran
  • Hancurnya fasilitas vital di Selat Hormuz
  • Munculnya tekanan internal dan pembelotan
  • Mulainya jalur diplomasi melalui Pakistan dan Tiongkok

Konflik ini kini memasuki fase penentuan.

Apakah perang akan berakhir melalui negosiasi, atau justru meningkat ke operasi darat berskala besar, masih menjadi pertanyaan besar yang akan ditentukan dalam beberapa minggu ke depan.

230 Serangan dalam 24 Jam! Iran Terdesak, Trump Pertimbangkan Langkah Paling Ekstrem

EtIndonesia. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kini memasuki fase paling krusial sejak perang pecah. Dalam perkembangan terbaru pada 31 Maret 2026, serangan militer berskala besar terus mengguncang berbagai wilayah strategis di Iran, sementara opsi operasi darat mulai secara terbuka dipertimbangkan oleh Washington.

Gelombang Serangan Udara Hantam Iran

Berdasarkan rekaman yang telah diverifikasi oleh AFP, Kota Isfahan mengalami serangkaian ledakan keras pada malam hari. Asap tebal terlihat membumbung tinggi, menandakan adanya serangan langsung terhadap target penting.

Serangan ini terjadi setelah Iran sebelumnya diduga melancarkan upaya serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Arab Saudi.

Sebagai respons cepat, pasukan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Iran, dengan melibatkan lebih dari 70 pesawat tempur.

Sementara itu, kantor berita Fars mengutip pejabat setempat yang mengonfirmasi bahwa fasilitas militer di Isfahan menjadi sasaran serangan. Namun, rincian kerusakan dan korban hingga kini masih belum diungkapkan secara resmi.

Serangan Intensif Israel: Ratusan Target Dihantam

Militer Israel mengungkapkan bahwa dalam kurun waktu 24 jam terakhir, angkatan udara mereka telah:

  • Melancarkan lebih dari 230 serangan udara
  • Menargetkan sedikitnya 20 fasilitas produksi senjata dan pusat penelitian
  • Menjatuhkan sekitar 80 bom dalam satu gelombang serangan pagi

Serangan ini menunjukkan bahwa target utama bukan hanya militer konvensional, tetapi juga infrastruktur strategis yang berkaitan dengan kemampuan produksi persenjataan Iran.

AS Kerahkan Pasukan Elit, Sinyal Operasi Darat Menguat

Di saat serangan udara terus berlangsung, Amerika Serikat juga meningkatkan kesiapan militernya di kawasan Timur Tengah.

Unit-unit elit yang telah dikerahkan meliputi:

  • US Army Rangers
  • Navy SEAL
  • Divisi Lintas Udara ke-82
  • Sekitar 3.500 marinir di kapal amfibi USS Tripoli

Dalam pengarahan resmi, Menteri Pertahanan AS menegaskan bahwa opsi pengiriman pasukan darat ke Iran tidak dikesampingkan.

Dia menambahkan bahwa membuka batasan strategi kepada publik justru dapat melemahkan posisi militer Amerika dalam konflik.

Target Utama: Material Nuklir dan Infrastruktur Vital

Presiden Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan operasi militer berisiko tinggi untuk:

  • Merebut hampir 1.000 pon material nuklir yang mendekati tingkat senjata
  • Menghancurkan infrastruktur vital Iran jika negosiasi gagal

Target yang disebut mencakup:

  • Pembangkit listrik nasional
  • Ladang minyak utama
  • Pulau Khark (pusat ekspor minyak Iran)

Langkah ini dinilai sebagai strategi untuk memaksa Iran menyerah di meja perundingan sekaligus melumpuhkan kemampuan ekonomi dan militernya.

Pernyataan Tegas Iran: Siap Hadapi Perang Darat

Di pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyampaikan sikap tegas:

  • Iran menolak gencatan senjata sementara
  • Menuntut penghentian total konflik
  • Menyatakan kesiapan menghadapi perang darat

Dia juga mengungkapkan bahwa Teheran:

  • Tidak menanggapi proposal 15 poin dari Amerika Serikat
  • Tidak mengajukan proposal tandingan

Namun, di sisi lain, Presiden Iran menyatakan adanya keinginan untuk mengakhiri konflik, menunjukkan adanya perbedaan pendekatan di dalam pemerintahan Iran sendiri.

Bayang-Bayang Eskalasi: Selat Hormuz dan Operasi Darat

Para analis memperingatkan bahwa dalam beberapa hari ke depan, konflik berpotensi meningkat drastis.

Dua skenario yang paling mungkin terjadi:

  1. Perebutan Pulau Khark oleh AS untuk mengendalikan penuh jalur energi di Selat Hormuz
  2. Operasi darat terbatas untuk mengamankan material nuklir Iran

Jika salah satu skenario ini terjadi, konflik berpotensi berubah menjadi perang terbuka skala penuh di kawasan Timur Tengah.

Peran Tiongkok dan Pakistan: Inisiatif Tanpa Kecaman

Di tengah memanasnya situasi, Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi bersama Pakistan mengajukan inisiatif lima poin terkait Iran, yang mencakup:

  • Perlindungan fasilitas desalinasi air laut
  • Keamanan jalur pelayaran internasional, termasuk Selat Hormuz

Namun, yang menjadi sorotan adalah tidak adanya kecaman terhadap Amerika Serikat maupun Israel dalam pernyataan tersebut.

Hal ini memicu kritik internasional bahwa Tiongkok mengambil sikap lebih hati-hati, bahkan cenderung lemah, dalam menghadapi konflik global besar.

Keputusan Mahkamah Agung AS: Dampak Strategis Global

Pada saat yang sama, Mahkamah Agung Amerika Serikat dalam keputusan tipis 5 banding 4 memutuskan bahwa Presiden Trump dapat menggunakan:

Undang-Undang Musuh Asing tahun 1798

Undang-undang ini memungkinkan:

  • Deportasi cepat terhadap individu yang dianggap terkait dengan musuh negara
  • Proses tanpa prosedur hukum panjang

Para analis menilai kebijakan ini sebagai langkah strategis untuk:

  • Membersihkan ancaman dari dalam negeri
  • Mempercepat identifikasi jaringan intelijen asing

Secara khusus, kebijakan ini dinilai berpotensi menjadi pukulan besar bagi jaringan intelijen asing, termasuk yang diduga terkait dengan Tiongkok.

Kesimpulan: Dunia di Titik Kritis

Perkembangan per 31 Maret 2026 menunjukkan bahwa konflik AS–Iran telah melampaui tahap tekanan militer biasa dan kini bergerak menuju:

  • Eskalasi regional besar
  • Potensi perang darat
  • Perebutan kontrol jalur energi global

Dengan keterlibatan tidak langsung kekuatan besar seperti Tiongkok dan Rusia, serta meningkatnya aktivitas militer di lapangan, dunia kini berada di ambang krisis geopolitik terbesar dalam dekade terakhir.

Situasi dalam beberapa hari ke depan akan menjadi penentu: menuju de-eskalasi melalui negosiasi, atau justru ledakan konflik yang jauh lebih luas.

Iran Nyaris Runtuh, Tapi Perang Tak Berhenti: Siapa yang Sebenarnya Menarik Benang?

EtIndonesia. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat seiring melonjaknya harga minyak dunia yang kini mencapai 117 dolar AS per barel, mendekati rekor kenaikan bulanan terbesar dalam sejarah modern. Lonjakan ini mulai berdampak langsung pada berbagai negara, termasuk Korea Selatan yang telah memberlakukan pembatasan penggunaan kendaraan bagi pegawai negeri, dengan kemungkinan perluasan ke seluruh masyarakat jika harga terus naik.

Di tengah krisis ini, situasi semakin memburuk setelah jalur pipa alternatif terakhir yang memungkinkan ekspor minyak Timur Tengah tanpa melalui Selat Hormuz dilaporkan hancur, untuk pertama kalinya sejak Perang Teluk 1991. Pada saat yang sama, sebuah kapal pesiar asal Kuwait terbakar hebat di perairan dekat Dubai, mempertegas eskalasi konflik yang semakin tidak terkendali.

Iran Terdesak, Tapi Perang Tak Kunjung Berakhir

Memasuki hari ke-31 konflik (per akhir Maret 2026), berbagai laporan menunjukkan bahwa sekitar 80% kekuatan militer Iran telah lumpuh. Sistem komando militer mengalami kerusakan serius, bahkan Presiden Iran sendiri mengakui bahwa ekonomi negaranya berpotensi runtuh dalam waktu tiga minggu.

Secara logika militer, kondisi ini seharusnya mendorong Iran untuk menyerah. Namun kenyataannya, pertempuran justru terus berlanjut.

Sejumlah analis mulai mempertanyakan: apa yang membuat Iran tetap bertahan?

Dugaan “Dua Wajah” Beijing: Diplomasi di Depan, Dukungan Militer di Belakang

Akademisi Tiongkok di pengasingan, Yuan Hongbing, mengungkapkan bahwa berdasarkan sumber internal Partai Komunis Tiongkok (PKT), terdapat strategi ganda yang dijalankan oleh Beijing.

Di satu sisi, Presiden Tiongkok, Xi Jinping disebut mendorong perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran melalui Pakistan, guna memperoleh citra sebagai mediator global.

Namun di sisi lain, Beijing diduga secara diam-diam menyalurkan bantuan militer kepada Garda Revolusi Iran melalui dua jalur utama:

  • Jalur laut: melalui Rusia dan Laut Kaspia
  • Jalur darat: melalui Pakistan

Peran Pakistan menjadi krusial dalam dinamika ini. Negara tersebut tidak hanya menjadi tuan rumah perundingan, tetapi juga terlibat dalam pergerakan diplomatik intensif, termasuk kunjungan menteri luar negeri dari Arab Saudi, Turki, dan Mesir ke Islamabad, serta rencana perjalanan pejabat Pakistan ke Beijing.

Situasi ini menimbulkan dugaan bahwa Pakistan memainkan dua peran sekaligus: sebagai mediator perdamaian dan sebagai jalur logistik strategis.

Infiltrasi Intelijen: Garda Revolusi Diduga Dipengaruhi Agen Asing

Pengungkapan lain yang lebih mengejutkan adalah dugaan bahwa selama bertahun-tahun, PKT telah menyusupkan tenaga teknis ke dalam Garda Revolusi Iran.

Secara resmi mereka berstatus “penasihat teknis”, namun disebut-sebut berperan sebagai agen intelijen.

Dalam kondisi saat ini—ketika struktur komando Iran melemah—para agen tersebut diduga memberikan dorongan langsung kepada perwira tingkat menengah dan bawah untuk terus bertempur, dengan janji dukungan politik dari Tiongkok di masa depan.

Jika informasi ini akurat, maka konflik ini tidak lagi semata-mata perang Iran, melainkan bagian dari strategi geopolitik yang lebih besar.

Gelombang Pembelotan di Dalam Negeri Iran

Di sisi internal, tanda-tanda keretakan semakin terlihat. Sebuah video yang viral memperlihatkan seorang warga Iran menyerukan kepada Presiden AS, Donald Trump agar tidak berkompromi, dengan alasan:

  • 80% kekuatan militer Iran telah hancur
  • Banyak pejabat dan tentara mulai membelot
  • Dukungan terhadap rezim semakin melemah

Fenomena ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pemerintah Iran tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam negeri.

Serangan terhadap Infrastruktur Energi Picu Krisis Global

Dalam beberapa hari terakhir (akhir Maret 2026), Iran meningkatkan intensitas serangan terhadap infrastruktur strategis.

Salah satu target utama adalah pipa minyak Habshan–Fujairah, jalur vital yang memungkinkan Uni Emirat Arab mengekspor minyak tanpa melewati Selat Hormuz. Data satelit NASA menunjukkan terjadinya kebakaran besar di dua stasiun pompa utama.

Pada hari yang sama, sebuah kapal pesiar Kuwait yang hendak menuju Qingdao juga diserang di dekat Dubai.

Dalam kurun satu minggu, ini merupakan serangan ketiga terhadap target yang berkaitan dengan Tiongkok, memperkuat pesan bahwa Iran berupaya memblokade semua jalur alternatif distribusi energi.

Negara Teluk Berbalik, Minta Intervensi Militer AS

Perubahan besar terjadi di kawasan Teluk. Menurut laporan Associated Press, dalam pertemuan tertutup:

  • Uni Emirat Arab meminta AS mengirim pasukan darat ke Iran
  • Kuwait dan Bahrain menyatakan dukungan

Seorang pejabat UEA bahkan menyatakan bahwa tidak mungkin lagi hidup berdampingan dengan rezim Iran saat ini.

Ini menandai pergeseran signifikan, di mana negara-negara yang sebelumnya cenderung menjaga keseimbangan kini secara terbuka mendukung langkah militer Amerika.

Strategi Ganda Trump: Negosiasi dan Ancaman Total

Respons Amerika Serikat terbagi dalam dua jalur:

1. Pendekatan Diplomatik

Washington dikabarkan tengah berkomunikasi dengan “pemerintahan baru yang lebih rasional” di Iran, mengindikasikan adanya kontak dengan faksi internal yang berseberangan.

2. Ancaman Militer

Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa jika Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz, maka AS akan:

  • Menghancurkan pembangkit listrik
  • Melumpuhkan fasilitas energi
  • Menargetkan instalasi air (desalinasi)

Pesan yang disampaikan sangat tegas: setiap gangguan terhadap energi global akan dibalas dengan penghancuran total infrastruktur Iran.

Serangan ke Teheran dan Isfahan Menguat, Indikasi Invasi Darat

Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terus meningkat, khususnya di:

  • Teheran
  • Isfahan (lokasi fasilitas strategis)

Kebakaran besar dilaporkan terjadi, dengan langit malam berubah menjadi merah akibat kobaran api.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, pada 30 Maret 2026 menyatakan bahwa tujuan perang dapat tercapai dalam hitungan minggu, dan tidak menutup kemungkinan adanya perubahan politik di Iran.

Kesimpulan: Konflik Regional Berubah Menjadi Pertarungan Global

Situasi saat ini menunjukkan bahwa konflik Iran telah berkembang menjadi pertarungan geopolitik yang lebih luas:

  • Tiongkok diduga memainkan strategi dua arah
  • Negara-negara Teluk kini mendukung intervensi AS
  • Amerika menetapkan batas waktu kritis hingga 6 April 2026

Di balik perang ini, tersimpan rivalitas besar antara Amerika Serikat dan Tiongkok, yang berpotensi meluas melampaui Timur Tengah.

Ketika kawasan Teluk mendekati titik puncak konflik, banyak pengamat menilai bahwa pusat ketegangan berikutnya bisa bergeser ke Asia, membuka babak baru dalam dinamika geopolitik global.

Negara-negara Teluk Mendesak Trump Agar Tidak Mundur, AS Bermaksud Menuntut Biaya Perang

EtIndonesia. Sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk sedang mendesak Presiden AS Donald Trump untuk melanjutkan perang terhadap Iran. Mereka kembali menegaskan dukungan terbuka terhadap operasi militer Amerika Serikat dan Israel di Iran. Terkait apakah negara-negara Teluk akan memberikan dukungan finansial, juru bicara Gedung Putih pada 30 Maret menyatakan bahwa Trump berencana menyerukan agar negara-negara Arab menanggung biaya perang melawan Iran.

Dalam konferensi pers di Gedung Putih pada 30 Maret, seorang jurnalis menyinggung bahwa selama Perang Teluk 1990–1991, negara-negara Arab seperti Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab menanggung sebagian besar biaya perang. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, memberikan tanggapan.

Karoline Leavitt vs. Jurnalis:  “Siapa yang akan menanggung biaya perang ini? Apakah negara-negara Arab itu akan secara sukarela melakukannya?”

“Saya pikir presiden kemungkinan besar akan menyerukan hal tersebut. Saya tidak akan berbicara sebelum ia membuat keputusan. Namun saya tahu ia memang memiliki pemikiran itu, dan saya yakin Anda akan mendengar lebih banyak pernyataannya mengenai hal ini.”

Leavitt juga menyatakan bahwa saat ini negosiasi antara Amerika Serikat dan Tehran terkait upaya mengakhiri konflik berlangsung dengan baik.

Menurut laporan media AS, sekutu Amerika di kawasan Teluk secara tertutup melobi Trump agar terus melanjutkan perang terhadap Iran. Mereka menilai bahwa pemboman selama sebulan terakhir belum sepenuhnya melemahkan Teheran.

Media Israel juga mengungkapkan bahwa negara-negara Teluk—terutama Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Bahrain, dan Qatar—ingin memastikan bahwa Iran tidak lagi menjadi ancaman bagi mereka.

Negara-negara tersebut sebelumnya menentang perang yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel, terutama karena khawatir akan pembalasan dari Iran. Namun kini mereka menyadari bahwa perang ini justru merupakan peluang terbaik untuk menghilangkan ancaman dari Iran, sehingga mereka berharap Amerika Serikat tidak menghentikan operasi militer di Timur Tengah. 

Laporan disusun oleh NTD Asia Pasifik, Hu Zonghan dan Chen Lingzhi.

Iran Akan Memungut Biaya Transit di Selat Hormuz, Tolak Hukum Internasional dan Larang Kapal AS–Israel Melintas

EtIndonesia. Konflik di Timur Tengah menyebabkan lalu lintas di Selat Hormuz anjlok lebih dari 90%, yang berdampak serius pada pasokan energi global. Kini muncul kabar bahwa parlemen Iran telah mengambil langkah untuk memberlakukan biaya transit. Namun, Menteri Luar Negeri AS menyatakan bahwa Amerika Serikat dan dunia tidak akan menerima hal tersebut. Jika Iran benar-benar memungut biaya di selat itu, tindakan tersebut akan melanggar hukum internasional dan berpotensi memicu reaksi dari negara-negara Teluk.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Komite Keamanan Nasional parlemen Iran pada 30 Maret telah menyetujui rencana baru untuk mengenakan biaya kepada kapal yang melintasi Selat Hormuz, dan pembayaran harus dilakukan menggunakan mata uang Iran, rial. Selain itu, kapal dari Amerika Serikat dan Israel akan dilarang melintas.

Meskipun rencana ini masih harus disetujui oleh seluruh anggota parlemen Iran, langkah tersebut memicu peringatan dari Amerika Serikat.

 “Bukan hanya kami yang tidak dapat menerima klaim kedaulatan atas Selat Hormuz, tetapi seluruh dunia juga tidak akan menerimanya. Tidak ada negara di dunia yang bisa menerima hal seperti ini. Ini akan menciptakan preseden yang sangat berbahaya. Artinya, ke depan setiap negara bisa saja mengambil alih jalur perairan internasional dan mengklaimnya sebagai milik sendiri. Apakah Amerika Serikat juga bisa melakukan hal yang sama?,” ujar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada 30 Maret. 

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Rubio juga menyatakan bahwa setelah operasi AS di Iran berakhir, Selat Hormuz pasti akan kembali dibuka—baik Iran setuju mematuhi hukum internasional, maupun melalui koalisi negara-negara yang memastikan kebebasan pelayaran. Ia juga menegaskan bahwa jika Iran memilih untuk memblokir selat tersebut, maka akan ada konsekuensi yang harus dihadapi.

Pada Maret lalui, volume lalu lintas di Selat Hormuz telah anjlok lebih dari 90%. S&P Global memperkirakan sekitar 3.000 kapal saat ini sedang menunggu di sekitar kawasan tersebut untuk bisa melintas. (Hui)

Laporan disusun oleh NTD Asia Pasifik, Lin Yutang dan Qiu Chunrong.

KPPU Gelar Sidang Perdana Dugaan Keterlambatan Notifikasi Akuisisi oleh PT Evans Indonesia

Jakarta, 31 Maret 2026 – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menggelar sidang perdana pemeriksaan pendahuluan perkara dugaan keterlambatan pemberitahuan (notifikasi) akuisisi saham yang dilakukan oleh PT Evans Indonesia. Sidang dengan nomor perkara 14/KPPU-M/2025 ini berlangsung pada Senin, 30 Maret 2026, di Kantor KPPU Jakarta.

Majelis Komisi yang memimpin sidang terdiri dari Gopprera Panggabean sebagai Ketua Majelis, serta Wakil Ketua KPPU Aru Armando dan Anggota KPPU Budi Joyo Santoso sebagai anggota majelis. Agenda sidang meliputi pemaparan Laporan Dugaan Pelanggaran (LDP) oleh Investigator dan pemeriksaan kelengkapan serta kesesuaian alat bukti.

Perkara ini bermula dari akuisisi yang dilakukan PT Evans Indonesia pada tahun 2023 terhadap 99,99% saham PT Agro Bumi Kaltim dan 99,99% saham PT Nusantara Agro Sentosa. PT Evans Indonesia merupakan perusahaan jasa konsultasi dan manajemen agrikultur (CPO), sedangkan kedua perusahaan yang diakuisisi bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur.

Berdasarkan ketentuan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 jo. Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010, setiap transaksi pengambilalihan saham yang memenuhi ambang batas wajib dilaporkan kepada KPPU paling lambat 30 hari kerja sejak transaksi efektif secara yuridis. Kedua transaksi akuisisi tersebut efektif secara yuridis pada 23 November 2023, sehingga batas akhir pelaporan adalah 8 Januari 2024. Namun, KPPU baru menerima pemberitahuan pada 10 Januari 2024, sehingga terjadi dugaan keterlambatan selama 2 (dua) hari kerja.

Sidang pemeriksaan pendahuluan berikutnya dijadwalkan pada Kamis, 9 April 2026, dengan agenda penyampaian tanggapan Terlapor terhadap Laporan Dugaan Pelanggaran.

Kecurigaan Mata-mata PKT Muncul Lagi! FBI Buka Kembali Kasus Lama, Anggota DPR California Kembali Terseret Skandal Kebocoran Informasi

EtIndonesia. Sebuah kasus lama yang sempat mereda—yang dikenal sebagai kasus “mata-mata cantik” Partai Komunis Tiongkok (PKT), Christine Fang—baru-baru ini kembali diangkat oleh Federal Bureau of Investigation (FBI). Perempuan asal Tiongkok yang diduga sebagai mata-mata ini diketahui memiliki hubungan dekat dengan anggota DPR dari California dari Partai Demokrat, Eric Swalwell, pada tahun 2014.

Seiring Swalwell masuk ke Komite Intelijen DPR AS, hubungan keduanya sempat memicu kekhawatiran keamanan. Kini, FBI meminta agar kasus lama ini ditinjau kembali dan dilaporkan ke pejabat tinggi di Washington. Swalwell sendiri dikenal sebagai salah satu pengkritik Presiden AS Donald Trump, dan saat ini tengah mengikuti pemilihan gubernur California. Publik kini menyoroti apakah kasus lama ini akan memicu gejolak baru.

Penyelidikan ini dapat ditelusuri lebih dari satu dekade lalu, ketika agen kontra intelijen FBI mulai menyelidiki Christine Fang. Ia diduga sebagai agen mata-mata PKT, dan disebut-sebut menjalin hubungan dekat dengan Eric Swalwell selama kampanye pemilihan ulangnya pada 2014, bahkan membantu penggalangan dana.

Pada tahun 2015, Swalwell menjadi anggota Komite Intelijen DPR AS. Dugaan identitas Fang sebagai mata-mata memicu kekhawatiran serius dari FBI, yang kemudian mulai mengambil langkah untuk menangkapnya.

Setelah mengetahui dirinya sedang diselidiki, Fang segera meninggalkan Amerika Serikat dan kembali ke Tiongkok. Sementara itu, Swalwell membantah adanya tindakan yang tidak pantas.

Selanjutnya, Komite Etik DPR AS pada tahun 2023 mengakhiri penyelidikan selama dua tahun terhadap keduanya tanpa mengambil tindakan apa pun.

Pada tahun yang sama, Ketua DPR AS saat itu, Kevin McCarthy, mencopot Swalwell dari Komite Intelijen DPR AS dengan alasan risiko keamanan.

Sumber yang mengetahui situasi tersebut mengungkapkan bahwa baru-baru ini puluhan agen FBI dan personel terkait di California diminta untuk kembali menyusun data lama tersebut, dengan harapan dapat segera menyelesaikan peninjauan. Atasan mereka juga menginstruksikan agar sebagian dokumen disunting untuk menyamarkan informasi sensitif, sebelum dibagikan kepada pejabat tinggi pemerintah di Washington.

Menurut laporan The Washington Post, juru bicara FBI menyatakan bahwa lembaga tersebut secara rutin meninjau dokumen untuk dibagikan kepada instansi lain, serta meninjau kembali penyelidikan yang dimulai pada pemerintahan sebelumnya.

Swalwell adalah anggota DPR AS dari Partai Demokrat di California dan dikenal sebagai pengkritik Presiden Trump di Kongres. Saat ini, ia aktif mencalonkan diri sebagai gubernur California.

Kandidat Demokrat lainnya, Tom Steyer, memiliki tingkat dukungan yang tidak jauh berbeda dengannya, dan menuduh Swalwell sebenarnya tidak tinggal di California. Sementara itu, pemerintahan Trump menuduhnya terlibat dalam penipuan kredit perumahan.

Laporan oleh koresponden NTD Television di Amerika Serikat, Liu Jiajia.

Ancaman Bom! Pertunjukan Shen Yun di Toronto Dibatalkan, Berbagai Kalangan Kecam Represi Lintas Negara yang Diluncurkan Partai Komunis Tiongkok

EtIndonesia. Pertunjukan Shen Yun Performing Arts yang semula dijadwalkan pada 29 Maret pukul 14.00 di pusat kota Toronto, tepatnya di Four Seasons Centre for the Performing Arts, terpaksa dibatalkan secara mendadak setelah adanya ancaman bom. Polisi telah turun tangan untuk menyelidiki, dan detail lebih lanjut masih terus diperbarui. Insiden ini disebut-sebut mengarah pada represi lintas negara oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang memicu kecaman dari berbagai pihak.

Polisi Toronto menyatakan bahwa setelah menerima laporan ancaman bom pada 29 Maret sore, mereka segera menuju lokasi dan mengevakuasi orang-orang di lokasi untuk melakukan penyelidikan.

“Berdasarkan hasil penyelidikan saat ini, ancaman tersebut tampaknya tidak nyata. Penyelidikan masih berlangsung. Keputusan pembatalan pertunjukan diambil oleh pihak teater,” ujar kepolisian Toronto. 

Sebuah papan pengumuman yang dipasang di Four Seasons Centre for the Performing Arts di Toronto pada 29 Maret 2026, memberitahukan kepada para pengunjung bahwa pertunjukan Shen Yun pada Minggu telah dibatalkan. The Epoch Times

Shen Yun sebuah pertunjukan yang menampilkan budaya tradisional Tiongkok sebelum ditekan oleh puluhan tahun pemerintahan komunis di Tiongkok, didirikan pada tahun 2006 oleh para seniman klasik Tiongkok terkemuka di New York, tempat mereka menikmati kebebasan artistik, jauh dari penindasan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Namun, para penyelenggara mengatakan bahwa pertunjukan ini telah menjadi target penindasan lintas negara oleh PKT selama bertahun-tahun. 

Baru-baru ini, Perdana Menteri Kanada Mark Carney termasuk di antara enam pemimpin dunia yang menjadi sasaran ancaman yang dikirim kepada penyelenggara lokal pertunjukan tersebut. Ancaman itu memperingatkan bahwa para pemimpin tersebut bisa menghadapi bahaya jika Shen Yun diizinkan tampil di negara mereka.

Anggota parlemen Partai Konservatif Roman Baber memegang buku program Shen Yun sambil berdiri di samping salah satu pembawa acara pertunjukan tersebut di luar Four Seasons Centre for the Performing Arts di Toronto pada 29 Maret 2026. The Epoch Times

Shen Yun, yang merayakan ulang tahun ke-20 tahun ini, memulai rangkaian tur globalnya di Kanada pada  Maret dengan pertunjukan di Hamilton, Mississauga, dan Kitchener, serta menggelar dua pertunjukan pembuka di Four Seasons Centre for the Performing Arts pada 28 Maret. Perusahaan tersebut dijadwalkan menampilkan satu pertunjukan lagi yang hampir terjual habis pada 29 Maret, sebelum teater membatalkan pertunjukan tersebut karena adanya ancaman bom.

Foto arsip Four Seasons Centre for the Performing Arts yang menjadi tuan rumah pertunjukan Shen Yun di Toronto pada 29 Maret 2025. The Epoch Times

Penyelenggara segera mengirim surat kepada para penonton, menyatakan, “Kami sangat menyesalkan pembatalan ini, namun kami berterima kasih kepada pemerintah Kanada atas dukungannya terhadap kebebasan berkesenian, serta kepada pihak teater yang menempatkan keselamatan penonton sebagai prioritas utama.” 

“Untuk pertunjukan selanjutnya, teater akan meningkatkan langkah-langkah keamanan, termasuk pemeriksaan oleh anjing pelacak (K-9) sebelum setiap pertunjukan, guna memastikan keselamatan penonton dan mencegah gangguan apa pun.”

Ini merupakan kedua kalinya tur Shen Yun di Kanada tahun ini menghadapi ancaman serupa.

 “Saya sangat menyesal, kami menerima banyak ancaman bom, tetapi ini adalah satu-satunya kali pertunjukan benar-benar dibatalkan. Ini adalah serangan PKT terhadap Shen Yun. Hal seperti ini tidak boleh terjadi,” kata penyelenggara pertunjukan Shen Yun di Toronto, Michael Cui. 

Penyelenggara menambahkan, “Sebagian email ancaman telah dilacak berasal dari Tiongkok dan semuanya merupakan ancaman palsu. Insiden ini bukan kasus terisolasi, melainkan bagian dari operasi global terkoordinasi yang dipimpin PKT untuk menekan Shen Yun secara lintas negara. Shen Yun menampilkan budaya tradisional Tiongkok sebelum komunisme serta mengungkap realitas di bawah pemerintahan otoriter saat ini, yang membuat otoritas di Beijing merasa tidak nyaman.”

Para penonton menikmati pertunjukan Shen Yun di Four Seasons Centre for the Performing Arts di Toronto pada 28 Maret 2026. May Huang/The Epoch Times

Film dokumenter terbaru Unbroken: The Untold Story of Shen Yun menceritakan tantangan yang dihadapi Shen Yun dalam mempromosikan budaya tradisional dan seni klasik di seluruh dunia, serta dalam mempertahankan kebebasan berekspresi.

Banyak penonton di lokasi, meskipun kecewa, tetap menyatakan dukungan mereka agar Shen Yun terus tampil.

 “Ini benar-benar buruk dan sama sekali tidak dapat diterima. Kami mendorong Anda untuk terus maju, bangga atas budaya dan tradisi Anda, serta pertunjukan ini, dan berharap masa depan yang lebih baik,” ujar anggota Parlemen Kanada Roman Baber. 

Kandidat anggota parlemen federal dan mantan artis Hong Kong Joe Tay mengatakan:  “Saya justru merasa ancaman bom ini memberi lebih banyak keberanian kepada orang-orang, menyatukan berbagai latar belakang untuk mendukung Shen Yun. Ini juga justru membuktikan bahwa apa yang dilakukan Shen Yun adalah benar.”

Seorang penonton Shen Yun, imigran dari Tiongkok, bermarga Zhang, mengatakan:
“Saya berharap Shen Yun bisa semakin berkembang dan lebih baik lagi dalam menyebarkan budaya Tionghoa ke dunia.”

Sejumlah tokoh Tionghoa juga menyatakan perhatian mereka.

YouTuber dengan jutaan pengikut, Wen Zhao, yang sempat mengadakan pertemuan dengan penggemar sebelum pertunjukan, kemudian menerima pemberitahuan pembatalan. Ia mengatakan:  “Dalam menghadapi ancaman jahat, satu-satunya jalan adalah menghadapinya langsung dan tidak mundur.”

Komentator isu terkini Gongzi Shen menyatakan di platform X bahwa kejadian ini merupakan peringatan bagi ribuan penonton dan mencerminkan bagaimana rezim otoriter PKT mengekspor ketakutan ke luar negeri.

Ketua Komite Partai Demokrasi Tiongkok di Kanada, Yu Houqiang, mengatakan:
“Pemerintah Kanada seharusnya membentuk satuan tugas khusus untuk menyelidiki, menangkap, dan menghukum pelaku.”

Sutradara film In the Name of Confucius, Doris Liu, menyatakan di media sosial bahwa sangat mengejutkan sebuah pertunjukan Shen Yun yang merupakan hasil kerja keras berbulan-bulan terpaksa dihentikan oleh ancaman palsu. Ia menyerukan agar pertunjukan diadakan kembali serta meminta pemerintah Kanada mengambil tindakan balasan terhadap represi lintas negara oleh PKT.

Juru bicara Asosiasi Falun Dafa Toronto, Joel Chipkar, mengatakan:  “Kami mengecam ancaman lintas negara PKT yang sangat keji, dan menyerukan pemerintah Kanada untuk melindungi kelompok yang menjadi sasaran serta melakukan penyelidikan menyeluruh.”

Laporan oleh kantor koresponden NTD Television di Toronto

Diduga Bom Penembus Bunker AS Hantam Gudang Amunisi di Isfahan, Iran, Kobaran Api Membumbung Tinggi

EtIndonesia. Konflik di Timur Tengah menyebabkan lalu lintas di Selat Hormuz anjlok lebih dari 90%, yang berdampak serius pada pasokan energi global. Kini muncul kabar bahwa parlemen Iran telah mengambil langkah untuk memberlakukan biaya transit. Namun, Menteri Luar Negeri AS menyatakan bahwa Amerika Serikat dan dunia tidak akan menerima hal tersebut. Jika Iran benar-benar memungut biaya di selat itu, tindakan tersebut akan melanggar hukum internasional dan berpotensi memicu reaksi dari negara-negara Teluk.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Komite Keamanan Nasional parlemen Iran pada 30 Maret telah menyetujui rencana baru untuk mengenakan biaya kepada kapal yang melintasi Selat Hormuz, dan pembayaran harus dilakukan menggunakan mata uang Iran, rial. Selain itu, kapal dari Amerika Serikat dan Israel akan dilarang melintas.

Meskipun rencana ini masih harus disetujui oleh seluruh anggota parlemen Iran, langkah tersebut memicu peringatan dari Amerika Serikat.

 “Bukan hanya kami yang tidak dapat menerima klaim kedaulatan atas Selat Hormuz, tetapi seluruh dunia juga tidak akan menerimanya. Tidak ada negara di dunia yang bisa menerima hal seperti ini. Ini akan menciptakan preseden yang sangat berbahaya. Artinya, ke depan setiap negara bisa saja mengambil alih jalur perairan internasional dan mengklaimnya sebagai milik sendiri. Apakah Amerika Serikat juga bisa melakukan hal yang sama?,” ujar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada 30 Maret. 

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Rubio juga menyatakan bahwa setelah operasi AS di Iran berakhir, Selat Hormuz pasti akan kembali dibuka—baik Iran setuju mematuhi hukum internasional, maupun melalui koalisi negara-negara yang memastikan kebebasan pelayaran. Ia juga menegaskan bahwa jika Iran memilih untuk memblokir selat tersebut, maka akan ada konsekuensi yang harus dihadapi.

Pada Maret lalui, volume lalu lintas di Selat Hormuz telah anjlok lebih dari 90%. S&P Global memperkirakan sekitar 3.000 kapal saat ini sedang menunggu di sekitar kawasan tersebut untuk bisa melintas. (Hui)

Laporan disusun oleh NTD Asia Pasifik, Lin Yutang dan Qiu Chunrong.

Rahasia Gelap Terungkap: Tiongkok Dituding Bantu Iran Serang AS, Trump Langsung Bereaksi!

EtIndonesia. Ketegangan geopolitik global kembali memanas setelah munculnya sebuah bocoran intelijen yang berpotensi mengubah peta konflik internasional. Di tengah memuncaknya perang antara Amerika Serikat dan Iran, sebuah laporan mengejutkan mengindikasikan bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) diduga terlibat dalam membantu Iran melalui dukungan intelijen sensitif.

Informasi ini pertama kali diungkap pada 31 Maret 2026 oleh seorang jurnalis intelijen ternama, Yinggebó, melalui blog pribadinya. Dalam tulisannya, dia mengutip sumber internal dari komunitas intelijen Amerika Serikat yang menyebutkan bahwa sejak 10 Maret 2026, PKT diduga secara sistematis memberikan koordinat posisi militer Amerika Serikat kepada Iran.

Menurut sumber tersebut, data yang digunakan berasal dari pengamatan satelit, yang kemudian disalurkan secara berkelanjutan kepada pihak Iran. Menariknya, aktivitas ini disebut baru dimulai sekitar sepuluh hari sebelum konflik militer pecah, sehingga menimbulkan spekulasi mengenai adanya eskalasi dukungan Tiongkok di tahap akhir sebelum perang.

Hingga kini, belum ada konfirmasi apakah informasi tersebut telah menyebabkan kerugian langsung bagi pasukan Amerika di lapangan. Namun, dampak strategisnya dinilai sangat signifikan.

Gedung Putih Diduga Sudah Mengetahui, Pertemuan Trump–Xi Ditunda

Sumber intelijen tersebut juga mengungkapkan bahwa Gedung Putih sebenarnya telah mengetahui adanya dugaan kerja sama intelijen antara PKT dan Iran. Hal ini disebut-sebut menjadi salah satu faktor di balik keputusan Presiden Amerika, Serikat Donald Trump untuk menunda pertemuannya dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping.

Pertemuan tingkat tinggi yang sebelumnya dijadwalkan tersebut kini resmi ditunda selama enam minggu.

Ketika dikonfirmasi oleh media, Asisten Sekretaris Pers Gedung Putih, Wells, tidak memberikan jawaban tegas. Dia tidak membenarkan maupun membantah kabar tersebut, namun menegaskan bahwa:

“Informasi apa pun yang diberikan oleh negara lain kepada Iran tidak akan memengaruhi keberhasilan operasi militer Amerika Serikat.”

Meski demikian, pernyataan tersebut tidak sepenuhnya meredakan spekulasi. Banyak analis menilai bahwa langkah penundaan pertemuan merupakan sinyal bahwa hubungan Washington–Beijing tengah mengalami tekanan serius.

AS Tunjukkan Dominasi Militer, Dukungan PKT Dinilai Tak Efektif

Di tengah tudingan tersebut, Amerika Serikat disebut semakin menunjukkan superioritas militernya di kawasan Timur Tengah. Berbagai bentuk bantuan dari Tiongkok kepada Iran—mulai dari bahan baku rudal, teknologi militer, hingga sistem pertahanan udara—dinilai tidak memberikan dampak signifikan terhadap jalannya perang.

Bahkan, sejumlah pengamat militer menilai bahwa meskipun kini ditambah dengan dukungan intelijen, hal tersebut tetap tidak akan mengubah arah konflik secara keseluruhan.

Dengan posisi militer yang semakin dominan, Amerika Serikat disebut telah memiliki keunggulan besar sebelum memasuki tahap negosiasi.

Israel Perluas Serangan: Kini Sasar “Urat Nadi” Ekonomi Iran

Sementara itu, tekanan terhadap Iran tidak hanya datang dari Amerika Serikat. Israel juga terus meningkatkan intensitas serangannya.

Pada 30 Maret 2026, militer Israel mengumumkan telah menyelesaikan gelombang baru serangan terhadap industri militer Iran. Dalam kurun waktu 24 jam, sebanyak 170 target berhasil diserang.

Menurut laporan The Times of Israel, setelah satu bulan konflik berlangsung, hampir seluruh target militer utama Iran yang telah direncanakan di awal perang kini telah berhasil dihancurkan.

Akibatnya, strategi Israel mulai bergeser.

Jika sebelumnya fokus pada instalasi militer, kini target serangan diperluas ke sektor ekonomi. Dalam beberapa hari terakhir, serangan dilaporkan menyasar:

  • Fasilitas gas alam utama di wilayah selatan Iran
  • Dua pabrik baja besar yang diserang pada pekan sebelumnya

Sumber keamanan menyebutkan bahwa langkah ini bertujuan untuk melumpuhkan fondasi ekonomi Iran secara menyeluruh.

Beberapa analis bahkan menggambarkan strategi ini sebagai upaya untuk “mengembalikan Iran ke era sebelumnya”, yakni melemahkan negara tersebut bukan hanya secara militer, tetapi juga secara ekonomi dan industri dalam jangka panjang.

Iran Melunak ke Arab Saudi di Tengah Tekanan Perang

Di tengah tekanan militer yang semakin berat, Iran mulai menunjukkan perubahan sikap dalam hubungan regionalnya.

Pada malam 30 Maret 2026, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan pernyataan yang cukup mengejutkan melalui media sosial. 

Dia menyebut bahwa Iran:

  • Menghormati Arab Saudi
  • Menganggap Arab Saudi sebagai negara “saudara”
  • Menegaskan bahwa operasi militer Iran hanya ditujukan kepada pihak yang dianggap sebagai agresor

Pernyataan ini dinilai sebagai sinyal bahwa Iran berusaha meredakan ketegangan dengan negara-negara Teluk di tengah posisi militernya yang tertekan.

Namun di sisi lain, Iran tetap menegaskan tuntutan agar militer Amerika Serikat ditarik dari kawasan Timur Tengah.

Trump Dorong Negara Arab Ikut Biayai Perang

Di Washington, Presiden Donald Trump juga tengah menyusun strategi baru terkait pembiayaan perang.

Dalam konferensi pers Gedung Putih pada 30 Maret 2026, juru bicara Karoline Leavitt mengungkapkan bahwa Trump mempertimbangkan untuk meminta negara-negara Arab—terutama di kawasan Teluk—ikut menanggung biaya operasi militer melawan Iran.

Menurut laporan Reuters, gagasan tersebut memang telah diajukan dan berpotensi segera dibahas lebih lanjut.

Data dari Pentagon menunjukkan bahwa dalam enam hari pertama perang, biaya operasi militer telah mencapai lebih dari 11,3 miliar dolar AS, terutama untuk penggunaan amunisi.

Sejumlah analis memperkirakan:

  • Biaya perang harian: 1–2 miliar dolar AS
  • Rencana tambahan anggaran: hingga 200 miliar dolar AS yang akan diajukan ke Kongres

Leavitt juga mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan antara pernyataan publik Iran dan komunikasi tertutupnya. Secara diam-diam, Iran disebut telah menyetujui sebagian tuntutan Amerika Serikat, dan proses negosiasi masih terus berlangsung.

Ancaman Trump: Selat Hormuz Jadi Taruhan

Dalam perkembangan yang sama, Trump juga kembali mengeluarkan peringatan keras.

Dia menegaskan bahwa jika Iran tidak membuka akses di Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi global—maka Amerika Serikat akan mengambil langkah ekstrem:

  • Menghancurkan fasilitas energi Iran
  • Menargetkan ladang minyak utama negara tersebut

Ancaman ini mempertegas bahwa konflik tidak hanya bersifat militer, tetapi juga menyangkut kendali atas jalur energi dunia.

Negara Teluk Berbalik Arah: Kini Dukung Perang

Perubahan sikap juga terjadi di kalangan negara-negara Teluk.

Menurut laporan Associated Press, negara-negara seperti:

  • Arab Saudi
  • Uni Emirat Arab
  • Kuwait
  • Bahrain

yang sebelumnya khawatir konflik akan meluas, kini justru mulai mendukung operasi militer terhadap Iran.

Pada awal konflik, negara-negara tersebut sempat mengkritik Amerika Serikat karena kurangnya koordinasi sebelum serangan dilakukan. Mereka juga khawatir perang akan menyeret seluruh kawasan ke dalam konflik besar.

Namun kini, pandangan tersebut berubah drastis.

Sejumlah pejabat kawasan secara tidak resmi menyatakan bahwa mereka melihat perang ini sebagai peluang strategis untuk:

  • Melemahkan pengaruh Iran
  • Mendorong perubahan besar dalam kepemimpinan Iran

Bahkan, ada indikasi bahwa mereka tidak menginginkan perang dihentikan sebelum tujuan tersebut tercapai.

Kesimpulan: Konflik Melebar, Dunia Menuju Titik Kritis

Dengan munculnya dugaan keterlibatan Tiongkok dalam konflik, perluasan serangan Israel ke sektor ekonomi, serta perubahan sikap negara-negara Teluk, perang Iran kini tidak lagi sekadar konflik regional.

Situasi ini berpotensi berkembang menjadi krisis global yang melibatkan kekuatan-kekuatan besar dunia.

Di satu sisi, Amerika Serikat menunjukkan dominasi militernya. Di sisi lain, dinamika diplomasi dan aliansi terus berubah dengan cepat.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah perang akan berakhir—melainkan seberapa jauh konflik ini akan meluas, dan siapa saja yang akan terseret ke dalamnya.