Hampir 800 Warga Tiongkok Menandatangani Petisi “Hentikan Transplantasi Organ”, Mereka Mengalami Tekanan dari Pemerintah

EtIndonesia. Hingga Kamis, 26 Maret, sebanyak 784 warga di daratan Tiongkok  telah menandatangani petisi yang menyerukan peninjauan menyeluruh dan penghentian sementara transplantasi organ manusia. Aksi ini dilaporkan terus mendapat tekanan dari pihak berwenang.

Penggagas inisiatif ini, seorang warga Guangzhou bernama Gao Fei, pada 8 Maret 2026 mengirimkan “Surat Seruan Darurat” kepada lima lembaga pemerintah, termasuk Kantor Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional, Kantor Dewan Negara, Kementerian Keamanan Publik, Komisi Pengawas Nasional, dan Komisi Kesehatan Nasional. Surat tersebut diterima antara 11 hingga 12 Maret.

Dalam surat tersebut disebutkan bahwa sejak pemerintah Tiongkok mendorong “legalisasi” transplantasi organ secara paksa, rasa takut di masyarakat terus meningkat. Banyak kasus yang melibatkan “kematian otak” dilaporkan secara mencurigakan terkonsentrasi pada kelompok usia muda. 

Selain itu, proses distribusi organ dinilai tidak transparan, dengan berbagai tudingan tentang “kejahatan tersembunyi” dan “pasar gelap organ” yang terus bermunculan, sehingga merusak kepercayaan publik dan rasa aman.

Surat tersebut menyerukan agar seluruh aktivitas transplantasi organ manusia ditinjau ulang secara menyeluruh dan dihentikan sementara, serta meminta pemerintah memberikan penjelasan terbuka dan transparan atas kekhawatiran masyarakat.

(Tangkapan layar halaman web)

Dalam suratnya, Gao Fei menulis: “Setiap kehidupan adalah sesuatu yang sakral dan utuh, bukan ‘komponen biologis’ yang bisa dibongkar dan diperdagangkan oleh negara atau kelompok kepentingan.”

Selain mengirim surat, Gao Fei juga meluncurkan petisi online. Hingga 26 Maret, jumlah penandatangan mencapai 784 orang.

Namun, aksi ini mendapat tekanan dari pihak kepolisian. Gao Fei mengungkapkan bahwa ia menerima telepon dari polisi pada dini hari dan diminta datang ke kantor polisi untuk “memberikan keterangan”. Ia juga terpaksa pindah dari tempat tinggalnya karena pemilik rumah melakukan “renovasi”, sehingga ia kesulitan mencari tempat tinggal. Selain itu, ia juga menerima panggilan dari pihak berwenang di daerah asalnya.

Pada saat yang sama, sebagian konten yang dia bagikan di WeChat diblokir, tautan petisi tidak bisa diakses, dan akun publik WeChat miliknya diblokir permanen setelah hanya digunakan beberapa hari.

Meski demikian, Gao Fei tetap mempublikasikan seluruh komunikasi dengan pihak berwenang di media sosial, dan menyatakan: “Jika pemerintah tidak bisa transparan, maka kita semua tidak bisa hidup dengan layak.”

Isu rantai industri gelap transplantasi organ di Tiongkok telah terungkap sejak tahun 2006. Sejak itu, sejumlah investigasi independen internasional menuduh adanya praktik pengambilan organ secara paksa terhadap praktisi Falun Gong.

Saat ini, sumber donor organ disebut-sebut telah meluas dari kelompok tertentu ke masyarakat umum. Banyak laporan mengenai hilangnya anak-anak dan orang dewasa muda di daratan Tiongkok, yang mana oleh sebagian masyarakat dicurigai terkait dengan praktik pengambilan organ paksa.

Menurut laporan media, seorang pengacara HAM Tiongkok, Shen Guoliang, menyatakan dalam wawancara bahwa praktik pengambilan organ “telah menjadi sebuah industri” dan “cukup luas terjadi, sehingga masyarakat tidak lagi merasa aman.”

Ia juga menyebut praktik tersebut sebagai “kejahatan terhadap kemanusiaan paling berdarah di planet ini”, serta menyerukan agar pemerintah dan masyarakat internasional tidak menganggap isu ini sebagai urusan internal Tiongkok, melainkan segera mengambil tindakan untuk mengungkap dan menghentikannya. (Hui)

Drone-drone Tiongkok “Menjatuhkan” Pestisida dari Udara, Menghancurkan Ribuan Kilogram Tambak Ikan

ETIndonesia. Dalam beberapa waktu terakhir, di berbagai daerah di Tiongkok dilaporkan adanya drone yang diam-diam menyemprotkan bahan kimia yang tidak diketahui, menyebabkan kerugian besar bagi para petani dan memicu kemarahan publik. Baru-baru ini, di Nanyang, Henan, terjadi lagi kasus drone menyemprot pestisida hingga menyebabkan banyak ikan di kolam mati.

Pemilik kolam ikan mengunggah video dan tulisan di media sosial untuk mengadukan kejadian tersebut: “Kolam pancing seberat puluhan ribu kilogram hancur! Pestisida langsung disemprot ke dalam kolam, dalam semalam semua ikan mengapung ke permukaan. Polisi sudah datang, tapi pihak pelaku masih berdalih. Usaha yang semula berjalan baik terpaksa berhenti, kerugian mencapai ratusan ribu yuan. Mohon keadilan dari semua pihak!”

Menurut laporan media daratan Tiongkok, insiden terjadi di Kota Bidian, Nanyang. Drone yang digunakan untuk menyemprot pestisida ke lahan pertanian tanpa sengaja mengenai kolam ikan, menyebabkan ratusan jin (1 jin = 0,5 kG- 1 kg = 2 jin) ikan mati. 

Setelah memeriksa rekaman CCTV, pemilik kolam menemukan bahwa penyemprotan dilakukan oleh pihak ketiga yang ditugaskan oleh pemerintah daerah dan desa untuk melakukan penyemprotan gratis menggunakan drone. Dalam prosesnya, pestisida beberapa kali masuk ke kolam ikan.

Pihak terkait, Tuan Wang, mengatakan bahwa operator drone mengklaim bahan yang disemprot “bukan racun, bahkan manusia bisa meminumnya.” Namun, ratusan kg ikan sudah mati, dan ikan yang masih mengapung pun tidak lagi bergerak saat ditangkap.

Ia menambahkan bahwa polisi telah menemukan pelaku, yang mengaku mendapat perintah dari pihak pemerintah desa. Pejabat pertanian tingkat kecamatan juga telah datang ke lokasi.

Pada 27 Maret, staf pemerintah Kota Bidian menanggapi bahwa mereka telah mengetahui situasi tersebut dan akan menangani masalah ini dengan baik untuk pemilik kolam.

Sejak tahun lalu, pemerintah Tiongkok secara luas mendorong penggunaan drone dalam pertanian melalui program yang disebut “pengendalian terpadu.” Media resmi gencar melaporkan keunggulan efisiensi dan penghematan tenaga kerja, bahkan mengklaim dapat mengurangi penggunaan pestisida hingga 30%, serta menjadi bagian penting dari upaya “revitalisasi pedesaan.”

Baru-baru ini, setelah media resmi CCTV melaporkan penggunaan drone untuk menyemprot pestisida pada bunga kanola di bawah bimbingan ahli, praktik ini semakin terbuka dilakukan.

Namun, para petani mengkritik bahwa penyemprotan pada masa berbunga dapat membunuh lebah penyerbuk dan menyebabkan penurunan hasil panen. Banyak peternak lebah mengunggah video keluhan tentang kematian massal lebah mereka. Selain itu, sejumlah petani mengeluhkan sayuran mereka tidak lagi bisa dijual setelah terkena pestisida, bibit gandum mati, bahkan ikan di kolam ikut mati.

Seorang peternak lebah dari Shaanxi yang sedang berpindah mengikuti musim bunga di Tianmen, Hubei, bernama Liu Baoguo (nama samaran), mengatakan bahwa penyemprotan dilakukan siang dan malam tanpa memperhatikan waktu. Ia bahkan melihat satu lahan disemprot dua hingga tiga kali. Ia menduga sebagian operator sengaja melakukan penyemprotan berulang untuk memperbesar luas lahan yang dilaporkan, demi mendapatkan subsidi pemerintah lebih banyak.

Peternak lebah lain dari Yunnan, Zhang Aimin (nama samaran), yang kini berpindah ke Xishuangbanna untuk menghindari area bunga kanola, juga mengalami kerugian besar. Ia memiliki 400 kotak lebah dan telah beternak selama hampir 30 tahun. Tahun ini saja, kerugiannya diperkirakan lebih dari 200 ribu yuan. Ia mengatakan setiap hari menerima banyak telepon dari rekan sesama peternak di seluruh negeri, hampir semuanya melaporkan kasus keracunan.

Baik Zhang maupun Liu menyatakan bahwa skala penyemprotan drone tahun ini belum pernah terjadi sebelumnya. 

“Pada tahun-tahun sebelumnya mungkin hanya sekitar 1% peternak lebah yang melaporkan kasus keracunan, tetapi tahun ini terjadi secara luas,” kata mereka.

Zhang juga mengamati bahwa sebagian petani di wilayah utara semakin marah terhadap kebijakan penyemprotan paksa. Bahkan ada yang “lebih memilih menghancurkan seluruh tanaman kanola dengan mesin” sebagai bentuk protes diam.

Dilaporkan oleh Li Siya/Disunting oleh Xia He

Dengar Pendapat Kongres AS: Kampus di AS “Terkepung”, Diduga Disusupi Serius oleh PKT

EtIndonesia. Baru-baru ini, Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat melalui House Committee on Education and the Workforce menggelar sidang dengar pendapat bertema “Universitas Amerika Serikat di Bawah Kepungan”. Sidang ini mengungkap sejumlah kasus yang mengkhawatirkan, menunjukkan bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) diduga memanfaatkan apa yang disebut sebagai “lembaga penelitian bersama” untuk mengambil talenta dan teknologi Amerika.

Reporter NTD: “Anggota Kongres menegaskan bahwa dunia akademik di seluruh Amerika Serikat sedang menghadapi tantangan keamanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam pernyataan pembuka, sidang bahkan secara langsung menyebut University of Michigan, dengan menyatakan bahwa sejumlah peneliti dan mahasiswa di kampus tersebut sedang diselidiki secara federal karena dugaan keterlibatan dalam konspirasi terkait PKT dan penyelundupan.”

Ketua Komite Pendidikan DPR AS, Tim Walberg, mengatakan: “Khususnya lawan geopolitik seperti Partai Komunis Tiongkok, sedang secara aktif berhadapan dengan kepentingan negara kita di medan kampus universitas. Mereka tanpa ragu memanfaatkan niat baik Amerika untuk memperoleh keuntungan yang tidak sah.”

Presiden University of Michigan, Domenico Grasso, menyatakan: “Kami telah mengambil tindakan cepat dan tegas, bekerja sama dengan aparat penegak hukum federal, segera mencabut visa pelajar/kerja individu-individu tersebut dan memutus semua hubungan dengan mereka.”

Kesaksian juga mengungkap bahwa di Stanford University, agen asing kerap menyamar sebagai “mahasiswa sebaya” untuk mendekati mahasiswa yang menguasai teknologi inti. Mereka berusaha membujuk dengan pendanaan dan tawaran pekerjaan agar pindah ke Tiongkok, sekaligus menekan akademisi yang tidak mau bekerja sama.

Pemimpin redaksi Stanford Review, Elsa Johnson, mengatakan: “Asosiasi Mahasiswa dan Cendekiawan Tiongkok dimanfaatkan untuk memantau sesama mahasiswa dan melaporkan kepada PKT. Hal ini membuat banyak mahasiswa Tiongkok berada dalam situasi yang tidak aman. Jika mereka tidak bekerja sama, keluarga mereka sering kali diancam.”

Laporan investigasi juga mengungkap keberadaan luas “lembaga penelitian bersama” di universitas-universitas AS. Secara tampak merupakan kerja sama akademik, namun diduga menjadi “jalur langsung” bagi PKT untuk memperoleh teknologi mutakhir.

Reporter: “Sejumlah saksi di lokasi menyatakan bahwa proyek kerja sama teknologi antara Kementerian Pertahanan Tiongkok dan universitas-universitas AS secara langsung mengancam keamanan nasional Amerika, dan mendesak dilakukannya penyelidikan mendalam.”

Dilaporkan oleh wartawan NTD, Yu Liang dan Chen Shengxu dari New York.

Jurnalis Italia Mogok Massal: Protes Upah Rendah dan Eksploitasi Lumpuhkan Media Sehari

Demi menuntut perundingan ulang perjanjian kerja bersama, para jurnalis di Italia menggelar aksi mogok besar-besaran pada 27 Maret. Media arus utama di seluruh negeri menghentikan penerbitan dan pembaruan situs mereka. Asosiasi jurnalis menegaskan, “Mogok ini bukan untuk mempertahankan hak istimewa, tetapi untuk mempertahankan prinsip dasar: pekerjaan kami memiliki nilai.”

EtIndonesia. Saat membuka situs media besar seperti ANSA, Corriere della Sera, dan Il Messaggero, halaman depan masih menampilkan berita lama dari 26 Maret, tanpa pembaruan terbaru. Notifikasi berita di ponsel pelanggan pun ikut terhenti.

Il Fatto Quotidiano memuat “surat untuk pembaca” di situsnya, menjelaskan bahwa jika pembaca tidak menemukan koran edisi 28 di kios, atau situs tidak diperbarui pada 27 Maret, hal itu karena para jurnalis sedang melakukan aksi protes.

Sementara itu, Il Messaggero juga menandai di halaman utamanya bahwa, sebagai bentuk solidaritas terhadap aksi mogok jurnalis, mereka tidak akan memperbarui berita hingga 27 Maret tengah malam.

Federazione Nazionale della Stampa Italiana (FNSI) dalam pernyataannya menyebutkan bahwa mogok nasional ini dilakukan untuk menuntut pembaruan perjanjian kerja bersama, guna memperbaiki kondisi upah yang terlalu rendah dan praktik eksploitasi di tempat kerja. Perjanjian tersebut telah kedaluwarsa selama 10 tahun.

Para jurnalis Italia merencanakan total lima aksi mogok nasional; aksi kali ini merupakan yang kedua, dan mogok berikutnya dijadwalkan pada 16 April.

FNSI juga menyatakan bahwa perjanjian kerja bersama terakhir berakhir pada 1 April 2016. Sejak itu, kondisi kerja berubah drastis: beban kerja dan ritme meningkat, pekerjaan harus dilakukan lintas platform, ruang redaksi hampir tidak berfungsi, namun gaji jurnalis tetap stagnan. Bahkan, akibat inflasi dan pembekuan kenaikan gaji yang tidak masuk akal, hal ini setara dengan penurunan upah secara nyata.

FNSI menegaskan bahwa dasar perjuangan jurnalis adalah menuntut pengakuan atas martabat kerja. Namun tuntutan tersebut justru dianggap berlebihan—sebuah tuduhan yang dinilai salah dan berbahaya, karena dapat merusak kualitas jurnalisme dan penyampaian informasi.

“Masyarakat tanpa hak dan perlindungan bagi jurnalis akan kehilangan industri pers, dan demokrasi pun akan ikut hilang. Mogok ini bukan untuk mempertahankan hak istimewa, tetapi untuk mempertahankan prinsip dasar dan hak: pekerjaan kami memiliki nilai,” demikian pernyataan tersebut. (Hui)

Sumber : NTDTV.com

Mantan PM Nepal Oli Ditangkap, Terkait Kelalaian dalam Aksi Protes Mematikan Generasi Z

EtIndonesia. Tokoh Nepal yang sebelumnya dikenal sebagai rapper dan kemudian beralih menjadi politikus, Balendra Shah, baru saja dilantik sebagai perdana menteri pada Senin (27/3/2026). Namun sehari kemudian (28 Maret), mantan PM KP Sharma Oli dan Menteri Dalam Negeri Ramesh Lekhak ditangkap karena diduga lalai dalam menangani aksi protes antikorupsi yang dipimpin Generasi Z pada September tahun lalu. Tindakan terhadap demonstran menyebabkan puluhan korban jiwa.

Menurut laporan Reuters, sebelumnya tim investigasi atas kekerasan dalam aksi protes tersebut merekomendasikan agar keduanya didakwa atas kelalaian. Kerusuhan yang berlangsung selama dua hari itu menewaskan total 76 orang. Insiden itu memaksa Oli mengundurkan diri.

“Kami menangkap mereka berdasarkan rekomendasi komisi penyelidikan,” kata juru bicara kepolisian, Om Adhikari. 

Ia juga menyebutkan bahwa Oli dan Lekhak saat ini ditahan di kantor polisi Kathmandu, dan dijadwalkan akan dibawa ke pengadilan pada 29 Maret. Di Nepal, hari Minggu merupakan hari kerja.

Oli yang kini berusia 74 tahun diketahui pernah menjalani dua kali transplantasi ginjal. Menurut saksi mata, ia kemudian dipindahkan dari kantor polisi ke sebuah rumah sakit.

Pengacara Oli, Tikaram Bhattarai, mengatakan kepada Reuters bahwa penangkapan ini “ilegal dan tidak tepat”, karena kliennya tidak berisiko melarikan diri atau menghindari penyelidikan.

Tim investigasi menyimpulkan bahwa Oli gagal mengambil tindakan untuk menghentikan penembakan yang berlangsung selama beberapa jam pada hari pertama demonstrasi, yang menyebabkan sedikitnya 19 pengunjuk rasa Generasi Z tewas, sehingga ia harus bertanggung jawab.

Kematian para demonstran tersebut memicu kemarahan publik, yang kemudian membantu partai yang dipimpin Shah, Rastriya Swatantra Party, meraih kemenangan telak dalam pemilu baru-baru ini. 

Sumber : NTDTV.com

WeTV Tayangkan Drama Serial “Pursuit of Jade” yang Memadukan Percintaan dan Bela Diri

JAKARTA – Drama Tiongkok terbaru, Pursuit of Jade (Mengejar Cinta), langsung menjadi perbincangan hangat netizen sejak penayangan perdananya di WeTV. Menampilkan duet maut antara Tian Xi Wei dan Zhang Ling He, drama ini menawarkan perpaduan unik antara aksi bela diri yang tangguh dan romansa manis yang terasa seperti “pelukan hangat” bagi penontonnya.

Bagi para penonton yang baru akan memulai perjalanan ini, berikut adalah tiga poin krusial dari episode perdana yang membangun rasa penasaran tinggi di setiap episodenya:

• Episode 1: Rahasia Kelam di Balik Ketampanan Yan Zheng Pertemuan tak sengaja Fan Changyu dengan Yan Zheng yang pingsan di tengah badai salju menjadi awal mula terseretnya sang tukang jagal babi ke dalam masa lalu kelam seorang mantan tentara yang kini menjadi buronan petugas. Kehadiran pria misterius ini secara drastis mengubah ketenangan hidup Changyu dan memaksa sang gadis untuk menyembunyikan identitas aslinya yang penuh kejutan.

• Episode 2: Motif Tersembunyi di Balik Pernikahan Kontrak Keputusan Yan Zheng yang secara mengejutkan langsung menyanggupi tawaran untuk menjalani pernikahan kontrak dan menetap di rumah keluarga Fan menyisakan teka-teki besar mengenai rencana rahasia yang ia bawa. Kesediaan tanpa basa-basi ini menjadi titik awal dinamika hubungan mereka yang kini terikat oleh komitmen hukum namun penuh dengan niat yang belum terungkap.

• Episode 3: Kebenaran Mengenai Jenderal yang “Gugur” Ketegangan mencapai puncaknya saat identitas asli Yan Zheng sebagai Xie Zheng, seorang Jenderal legendaris yang dikabarkan telah gugur di medan perang, terancam terbongkar. Momen emosional terjadi ketika Changyu memberikan pujian tulus atas jasa sang Jenderal tepat di hadapan pria itu sendiri, menandai titik balik di mana Xie Zheng merasa benar-benar dimengerti sebagai manusia, bukan sekadar mesin perang.

Estetika Visual dan Chemistry Natural Pursuit of Jade tidak hanya mengandalkan kekuatan cerita, tetapi juga kualitas visual “mahal” yang menangkap detail tekstur pakaian hingga cahaya matahari keemasan musim dingin secara artistik. Interaksi antara Tian Xiwei dan Zhang Linghe terbangun secara alami melalui tatapan mata yang canggung dan gerakan tangan yang ragu, menciptakan simfoni yang tenang namun bertenaga bagi para penonton.

Jangan lewatkan setiap momen mendebarkan dan romantis dalam Pursuit of Jade, yang kini dapat disaksikan secara eksklusif hanya di aplikasi WeTV.

Kakak Beradik Diduga Ingin Meledakkan Pangkalan Militer AS, Salah Satu Telah Kabur ke Tiongkok

Markas United States Central Command sebelumnya menerima ancaman terkait alat peledak. Kini, kasus tersebut mengalami perkembangan baru. Tiga tersangka telah didakwa, termasuk sepasang kakak beradik keturunan Tionghoa.

EtIndonesia. Kantor jaksa di Distrik Tengah Florida pada Kamis (26 Maret) mengumumkan telah mendakwa seorang pria berusia 20 tahun yang tinggal di Land O’Lakes, Alen Zheng. Ia diduga menempatkan alat peledak rakitan (IED) di MacDill Air Force Base yang terletak di Tampa, dan saat ini telah melarikan diri ke Tiongkok.

Alen Zheng didakwa atas percobaan merusak properti pemerintah melalui pembakaran atau peledakan, pembuatan ilegal, serta kepemilikan alat peledak yang tidak terdaftar. Jika terbukti bersalah, ia terancam hukuman penjara antara 5 hingga 40 tahun.

Kakak perempuannya, Zheng An, didakwa sebagai pihak yang membantu setelah kejadian serta melakukan perusakan barang bukti, dengan ancaman hukuman maksimal 30 tahun penjara.

Kantor jaksa di Distrik Tengah Florida (Tangkapan layar)

Menurut pihak berwenang, kakak beradik warga Amerika keturunan Tionghoa ini melarikan diri ke Tiongkok dua hari setelah kejadian. Zheng An ditangkap setelah kembali ke AS melalui bandara Detroit pada 17 Maret. Sementara itu, jaksa masih berupaya menangkap Alen Zheng.

Ibu mereka mengatakan kepada penyelidik bahwa putranya mengakui keterlibatan dalam rencana tersebut.

Berdasarkan dakwaan, pada 10 Maret malam, Alen Zheng mencoba meledakkan sebuah alat peledak rakitan di pusat pengunjung di MacDill Air Force Base, namun tidak berhasil. Aparat penegak hukum menemukan alat tersebut di luar pusat pengunjung pada 16 Maret.

Hingga saat ini, pihak berwenang belum mengungkap motif pelaku maupun kemungkinan keterkaitan dengan Partai Komunis Tiongkok. Penyelidikan masih berlangsung.

Tersangka ketiga dalam kasus ini, Jonathan James Elder, ditangkap karena diduga menelepon pangkalan tersebut dengan ancaman setelah alat ditemukan. Ia menghadapi ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara. Saat ini belum ada bukti yang menunjukkan adanya hubungan antara dirinya dengan kakak beradik Zheng tersebut.

Dilaporkan oleh jurnalis NTD, Guo Yuexi dari Amerika Serikat.

Kapal Kargo Tiongkok Ditolak Melintasi Selat Hormuz, Analisis: Hubungan Tiongkok–Iran Tidak Stabil

EtIndonesia. Sejumlah media melaporkan bahwa pada Jumat  (27 Maret) pagi terjadi insiden yang tidak biasa: dua kapal kontainer besar milik perusahaan negara Tiongkok COSCO Shipping berbalik arah saat mencoba melintasi Selat Hormuz untuk keluar dari Teluk Persia. Peristiwa ini memicu perhatian luas, dan para analis menilai hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara Tiongkok dan Iran tidak sekuat yang dibayangkan.

Mengutip data dari situs pelacakan kapal, dua kapal berbendera Hong Kong—“Zhonghai Indian Ocean” dan “Zhonghai Arctic Ocean”—mencoba melewati Selat Hormuz pada 27 Maret dini hari untuk kembali ke Tiongkok. Namun saat mendekati pintu masuk selat di sekitar Pulau Larak, kapal-kapal tersebut tiba-tiba berbalik arah.

Data sistem identifikasi otomatis kapal menunjukkan bahwa pemilik dan awak kedua kapal tersebut adalah warga Tiongkok.

Padahal dua hari sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melalui media sosial menyatakan bahwa kapal dari negara-negara “bersahabat” seperti Tiongkok, Rusia, dan India diizinkan melintasi Selat Hormuz. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan dengan jaminan keamanan secara lisan, tetap tidak ada kepastian perlindungan.

Pengamat politik Li Linyi mengatakan bahwa dari situasi saat ini terlihat bahwa kepentingan antara Tiongkok dan Iran belum tentu sejalan. Ini menunjukkan hubungan keduanya tidak seerat yang terlihat. Kepentingan Tiongkok tidak sepenuhnya dijamin oleh Iran.

Media The Epoch Times mengutip sumber yang menyebutkan bahwa Menteri Luar Negeri PKT Wang Yi telah beberapa kali meminta Iran untuk menjamin keselamatan jalur pelayaran kapal dagang Tiongkok. Namun Iran hanya menyatakan dapat menjamin “sebagian” keamanan, khususnya untuk barang yang dikirim ke Iran, sehingga mendorong Beijing untuk memilih antara memberikan bantuan militer atau menjaga keamanan perdagangan.

Mengenai apakah Beijing akan menyesuaikan kebijakan, sejumlah pengamat menilai kemungkinannya kecil.

Li Linyi menyatakan bahwa kemungkinan PKT secara terbuka meningkatkan bantuan militer kepada Iran sangat rendah. PKT mungkin hanya memberikan bantuan ekonomi terbatas atau bantuan militer secara tidak langsung, tetapi perubahan besar dalam kebijakan luar negeri—seperti dukungan militer langsung—hampir tidak mungkin terjadi kecuali dalam situasi ekstrem.

Sementara itu, mantan pengacara Beijing sekaligus ketua organisasi demokrasi di Kanada, Lai Jianping, mengatakan bahwa kepentingan hubungan Tiongkok–Amerika Serikat jauh lebih besar dibandingkan hubungan PKT dengan Iran.

Sebelumnya, Beijing berencana memanfaatkan hubungan khususnya dengan Iran untuk berperan sebagai mediator utama dalam konflik AS–Iran, serta berupaya memperoleh pengaruh di “Global South”. Namun rencana tersebut dengan cepat menghadapi hambatan.

Seiring perkembangan situasi, strategi Tiongkok di Timur Tengah terus mengalami kemunduran. Pengamat memperkirakan bahwa dalam jangka pendek, PKT kemungkinan hanya akan mengambil sikap menunda, dan ke depan hubungan Tiongkok–Iran berpotensi semakin memburuk. (Hui)

Dilaporkan oleh jurnalis NTD, Chen Yue dan Chang Chun.

Mobil Huawei Menabrak Balita karena Tidak Mengurangi Kecepatan, Netizen yang Membagikan Video Dipaksa Menulis Surat Pernyataan

EtIndonesia. Kecelakaan mobil listrik Huawei yang menabrak orang dilaporkan sering terjadi. Baru-baru ini, sebuah mobil listrik Huawei menabrak seorang balita berusia 2 tahun di area perkotaan tanpa mengurangi kecepatan. Kondisi anak tersebut belum diketahui secara pasti. Pihak berwenang disebut-sebut menutup informasi. Seorang netizen yang membagikan video insiden itu dilaporkan diancam polisi serta dipaksa menulis surat pernyataan.

Menurut laporan media daratan Tiongkok. Xin Huanghe, sebuah video dashcam tertanggal 9 Maret 2026 menarik perhatian publik. Setelah diverifikasi, kejadian berlangsung di Distrik Qianjiang, Kota Chongqing. Saat itu, sebuah kendaraan “HarmonyOS Intelligent Driving” (Hongmeng Zhixing) dalam mode bantuan berkendara NCA menabrak seorang balita yang menyeberang jalan.

Rekonstruksi frame demi frame dari beberapa detik penting menunjukkan bahwa sistem penghindaran aktif tidak berfungsi. Lokasi kejadian merupakan jalan nasional yang melintasi kota dengan banyak toko dan lalu lintas campuran antara kendaraan dan pejalan kaki.

Data menunjukkan bahwa pada pukul 13:46:06–08, kendaraan berada dalam mode NCA dan kecepatannya meningkat dari 24 km/jam menjadi 31 km/jam, saat itu anak belum terlihat di kamera.

Pada pukul 13:46:10, balita tersebut melangkah dari trotoar ke jalur kendaraan, diikuti seorang dewasa di belakangnya. Dalam dua detik, anak itu bergerak ke tengah jalan. Kecepatan kendaraan sempat mencapai 32 km/jam sebelum turun menjadi 28 km/jam. Saat tabrakan terjadi, indikator rem dan pedal gas tidak menyala (menandakan tidak diinjak). Meskipun ada kemungkinan jeda pada watermark video, tidak terlihat adanya pengereman aktif baik dari pengemudi maupun sistem pada saat kritis.

Setelah tabrakan, balita masuk ke area titik buta di depan kendaraan. Ikon NCA masih aktif hingga sekitar pukul 13:46:13. Kemudian bagian depan mobil bergerak naik dan badan kendaraan bergetar, dan pada detik ke-14 kendaraan akhirnya berhenti total. Setelah berhenti, pengemudi membuka sabuk pengaman dan memindahkan transmisi ke posisi parkir. Warga sekitar dan pemilik toko segera datang ke lokasi.

(Tangkapan layar dari internet)

Menurut laporan, para pedagang di sekitar lokasi mengkonfirmasi kejadian tersebut benar terjadi pada 9 Maret. Anak yang tertabrak adalah anak dari pedagang setempat, dan setelah kejadian mengalami pendarahan dari hidung dan mulut. Saksi mata mengatakan kecepatan kendaraan tidak tinggi, sesuai dengan rekaman sekitar 31 km/jam.

(Tangkapan layar dari internet)

Menanggapi insiden ini, layanan pelanggan “Hongmeng Zhixing” menyatakan bahwa kondisi anak “tidak serius” dan setelah komunikasi dengan pemilik kendaraan “tidak ditemukan masalah”, serta mengklaim bahwa “insiden ini bukan disebabkan oleh kendaraan”, namun tanpa memberikan bukti rinci.

Seorang pelaku industri yang dikutip media menyatakan bahwa sistem tersebut selama ini dipromosikan memiliki kemampuan penghindaran aktif, namun dalam kasus pejalan kaki yang tiba-tiba menyeberang pada kecepatan rendah, sistem tidak bereaksi. Penilaian cepat dari pihak layanan pelanggan tanpa investigasi mendalam juga menimbulkan keraguan publik terhadap kesesuaian antara promosi teknologi dan penentuan tanggung jawab.

Huawei sebelumnya kerap mempromosikan keamanan sistem berkendara pintarnya. Pada November 2025, mereka merilis video penghindaran kecelakaan dalam situasi “kemunculan mendadak”, mengklaim “perlindungan keselamatan di semua skenario”. 

Laporan tahunan menyebutkan sistem tersebut telah mencegah lebih dari 3 juta potensi tabrakan, dengan slogan “keselamatan adalah kemewahan terbesar”, serta mengklaim NCA dapat merespons kondisi jalan kompleks dalam hitungan detik.

Beberapa netizen juga menyebutkan bahwa berdasarkan nomor rangka, kendaraan tersebut diduga adalah model AITO M8 tahun 2025.

Selain itu, seorang netizen dilaporkan dipanggil polisi setelah membagikan video kecelakaan tersebut, dan dipaksa menulis surat pernyataan yang berisi janji “tidak akan menyebarkan informasi negatif tentang Huawei”.

Komentar netizen menyebutkan bahwa selama proses, sistem NCA tetap aktif tanpa perlambatan hingga pengemudi mengerem. Bahkan saat tabrakan terjadi, kecepatan tidak berkurang dan sistem tetap aktif, yang menunjukkan bahwa sistem tidak mendeteksi keberadaan anak tersebut maupun melakukan pengereman.

Disebutkan pula bahwa jika tidak ada pengereman dari pengemudi, kendaraan kemungkinan akan terus melaju dan melindas korban.

Kecelakaan serupa yang melibatkan mobil listrik Huawei dilaporkan telah terjadi beberapa kali. Pada Januari tahun ini di Changsha, sebuah mobil listrik Huawei menabrak petugas kebersihan, meski korban hanya mengalami luka ringan.

Pada November 2025, model AITO M7 dalam mode “smart driving” menabrak seorang lansia yang menyeberang jalan hingga tewas di tempat.

Sebelumnya, Huawei pernah mempromosikan bahwa “mengemudi pintar memungkinkan pengemudi tidur saat berkendara” atau “mengemudi dalam keadaan mabuk tidak memerlukan sopir pengganti”, bahkan mengklaim bahwa “sangat sulit untuk mengalami kecelakaan”.

Dilaporkan oleh Li Li / Diedit oleh Xu Gengwen

Dengar Pendapat Kongres AS: Partai Komunis Tiongkok Diduga Menyusup ke Berbagai Kampus di AS dan Menekan Mahasiswa

EtIndonesia. Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat menggelar sidang dengar pendapat pada Kamis (26 Maret), yang berfokus pada dugaan infiltrasi jahat Partai Komunis Tiongkok (PKT) ke berbagai kampus di AS. Isu yang dibahas meliputi pengawasan terhadap mahasiswa, pencurian hasil teknologi, hingga ancaman terhadap keamanan nasional AS. Sejumlah saksi menyatakan bahwa PKT menjadikan kampus sebagai “medan perang” untuk melawan Amerika Serikat. Beberapa universitas menyatakan telah mengambil langkah penanganan.

 “Musim gugur tahun ini, Federal Bureau of Investigation (FBI) memberi tahu saya bahwa saya diawasi secara langsung oleh agen PKT di kampus Stanford, dan keluarga saya juga diawasi,” ujar pemimpin redaksi Stanford Review, Elsa Johnson. 

pemimpin redaksi Stanford Review, Elsa Johnson (Tangkapan layar NTD)

Mahasiswi sekaligus jurnalis di Stanford University tersebut menyebut bahwa setelah ia menerbitkan laporan yang mengungkap pengaruh PKT, dirinya menerima ancaman yang terus meningkat.

Elsa Johnson:  “Saya mulai menerima telepon ancaman. Penelpon beralih ke bahasa Mandarin, dan dalam salah satu panggilan mereka menyebut ibu saya.

“Saya juga menerima email penipuan bernada ancaman yang mencoba membujuk saya untuk menghapus laporan tersebut.”

Ia juga menambahkan bahwa kelompok mahasiswa berlatar belakang PKT memberikan tekanan dan melakukan pengawasan terhadap mahasiswa Tiongkok di kampus.

 “Asosiasi Mahasiswa dan Cendekiawan Tiongkok dimanfaatkan untuk memantau sesama mahasiswa dan melaporkan kepada PKT. Ini membuat banyak mahasiswa Tiongkok berada dalam situasi yang tidak aman,” katanya. 

“Jika mereka tidak bekerja sama, keluarga mereka sering kali akan diancam,” tambahnya. 

Juru bicara Stanford University mengkonfirmasi kepada NTD bahwa pihak kampus menangani ancaman ini dengan serius dan bekerja sama erat dengan aparat penegak hukum untuk melindungi keamanan mahasiswa dan penelitian.

Pihak universitas menyatakan bahwa insiden semacam ini bukan kasus terisolasi. Di University of Michigan, dua warga negara Tiongkok menghadapi dakwaan karena diduga menyelundupkan bahan biologis ilegal ke Amerika Serikat.

 “Kami segera mengambil tindakan tegas dengan bekerja sama dengan aparat penegak hukum federal, mencabut visa kerja dan studi mereka, serta memutus semua hubungan dengan mereka,” kata Presiden University of Michigan, Domenico Grasso.

Selain itu, seorang mantan peneliti di University of Florida didakwa atas kasus penipuan, karena diduga secara diam-diam menyalurkan hasil penelitian yang didanai pembayar pajak kepada PKT. Beberapa individu lain di universitas tersebut juga ditandai karena tidak mengungkap hubungan mereka dengan PKT.

Seorang pejabat senior universitas, Cassandra Farley, mengatakan:  “Kami memang mengalami beberapa kasus pelanggaran kepercayaan yang serius. Kami berkomitmen untuk bekerja sama sepenuhnya, dan individu-individu tersebut sudah tidak lagi bekerja di universitas kami.”

Kongres AS telah mengesahkan undang-undang untuk meningkatkan transparansi pendanaan asing. Namun para anggota parlemen memperingatkan bahwa ancaman ini masih terus berlanjut dan terus berkembang.

Dilaporkan oleh jurnalis NTD, Jack Bradley dari Washington, DC.

Hitungan Mundur Perang Darat Sedang Berlangsung? AS Berencana Mengirim 10.000 Pasukan Tambahan ke Timur Tengah

Konflik di Timur Tengah terus memanas, dan perang darat tampaknya semakin dekat. Sejumlah media melaporkan bahwa Pentagon sedang mempertimbangkan untuk menambah sekitar 10.000 pasukan darat ke kawasan Timur Tengah. 

Langkah ini dinilai akan memberikan kepada Presiden Donald Trump lebih banyak opsi militer selain serangan udara, sekaligus meningkatkan posisi tawar dalam negosiasi dengan Iran.

EtIndonesia. Pada Jumat  (27 Maret) dini hari, sirine peringatan terdengar di langit Tel Aviv. Dalam beberapa hari terakhir, Iran terus meluncurkan rudal ke wilayah tengah dan utara Israel, mengabaikan peringatan dari pihak Israel.

Menteri Pertahanan Israel Yoav Galant mengatakan:  “Serangan Pasukan Pertahanan Israel terhadap Iran akan ditingkatkan dan diperluas ke lebih banyak target dan wilayah.”

Pada hari yang sama, militer Israel menargetkan fasilitas penting produksi rudal dan ranjau di wilayah tengah Iran dengan serangan udara besar-besaran. Sementara itu, militer AS juga merilis video yang menunjukkan upaya berkelanjutan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam memproyeksikan kekuatan militernya ke luar negeri.

Pernyataan militer AS menyebutkan:  “Jika Anda membunuh warga Amerika atau mengancam mereka di mana pun di dunia, kami akan memburu Anda—tanpa penyesalan, tanpa ragu—dan kami akan melenyapkan Anda.”

Menurut laporan The Wall Street Journal yang mengutip pejabat militer AS, Pentagon sedang mempertimbangkan pengiriman tambahan 10.000 pasukan darat, termasuk infanteri dan kendaraan lapis baja. 

Pasukan ini akan bergabung dengan ribuan pasukan lintas udara dan marinir yang telah lebih dulu dikerahkan ke Timur Tengah. Langkah ini dianggap memberikan “lebih banyak opsi militer”, termasuk kemungkinan operasi darat.

Di saat yang sama, seorang sumber militer Iran mengatakan kepada Tasnim News Agency bahwa Teheran telah memobilisasi lebih dari satu juta orang untuk bersiap menghadapi kemungkinan perang darat.

Seorang wartawan bertanya:  “Apakah Selat Hormuz bisa dibuka tanpa penggunaan pasukan darat?”

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menjawab:  “Itu adalah pertanyaan taktis militer, saya tidak akan berspekulasi tentang cara yang harus diambil. Jika Iran berhenti mengancam pelayaran global, maka selat itu bisa dibuka besok. Ancaman Iran sangat memprihatinkan dan melanggar hukum internasional.”

Rubio tiba di Paris pada Jumat untuk menghadiri pertemuan menteri luar negeri G7. Ia menyatakan bahwa Iran mungkin berencana menjadikan Selat Hormuz sebagai “titik pungutan biaya”, yang menurutnya sama sekali tidak dapat diterima.

Rubio menambahkan:  “Bukan hanya negara-negara G7, tetapi negara-negara di Asia dan seluruh dunia menghadapi risiko besar, dan mereka harus berkontribusi signifikan untuk menjaga keamanan selat ini.”

Sementara itu, Financial Times melaporkan bahwa Uni Emirat Arab sedang aktif mendorong pembentukan pasukan maritim multinasional untuk memulihkan kebebasan navigasi di jalur air penting Selat Hormuz. 

Dilaporkan oleh jurnalis NTD, Yi Jing.

Kekuatan Militer Iran Dilemahkan, Garda Revolusi Rekrut Anak Usia 12 Tahun untuk Berperang

EtIndonesia. Pasukan gabungan Amerika Serikat dan Israel terus melemahkan kekuatan militer rezim Teheran. Basis senjata utama dan pabrik rudal inti Iran dilaporkan telah dihancurkan. Fasilitas penting produksi terkait program nuklir di wilayah tengah juga telah diserang. Dalam kondisi terdesak, Iran bahkan melalui televisi pemerintah secara terbuka merekrut anak-anak berusia 12 tahun untuk ikut serta dalam konflik.

Sebelumnya, fasilitas inti di kota Yazd yang memproduksi rudal dan ranjau laut dilaporkan telah dihancurkan.

Militer Israel menyatakan bahwa fasilitas tersebut terlibat dalam perencanaan, penelitian, pengembangan, perakitan, dan penyimpanan rudal canggih. Rudal tersebut umumnya diluncurkan dari kapal patroli, kapal selam, dan helikopter, serta digunakan untuk menyerang target di laut.

Selain itu, fasilitas penting di Iran tengah yang memproduksi bahan nuklir plutonium, yaitu Arak Heavy Water Reactor, juga menjadi sasaran serangan. Dalam pernyataannya, militer Israel menegaskan tidak akan membiarkan Teheran melanjutkan program nuklir yang dianggap mengancam dunia.

Sementara itu, Pentagon mengungkapkan kepada Reuters bahwa militer AS telah mengerahkan kapal cepat tanpa awak untuk patroli. Beberapa sistem tanpa awak tersebut telah mencatat lebih dari 450 jam operasi di laut dengan jarak tempuh lebih dari 2.200 mil laut. Ini merupakan pertama kalinya AS mengkonfirmasi penggunaan jenis kapal ini dalam konflik nyata.

Laporan juga menunjukkan bahwa sejak eskalasi konflik, sedikitnya 770 anggota Hezbollah telah tewas di Lebanon, termasuk ratusan anggota unit elit “Radwan Force”.

 “Selama bertahun-tahun kami menjaga perbatasan utara dan menghadapi serangan terhadap warga sipil kami oleh Hezbollah. Mereka terus melanggar perjanjian gencatan senjata, melakukan persenjataan ulang dan memperluas arsenal mereka,” kata Menteri Pertahanan Israel Yoav Galant. 

Ia juga menegaskan bahwa Hezbollah masih terus melakukan serangan dari wilayah selatan Lebanon. Jika pemerintah Lebanon tidak melucuti kelompok tersebut, maka militer Israel akan bertindak sendiri.

“Kami tidak akan mengizinkan Hezbollah untuk kembali memperkuat diri, dan akan terus mengambil tindakan militer demi melindungi warga sipil di wilayah utara kami,” tambahnya.

Di tengah kemunduran Iran, laporan The Times of Israel menyebutkan bahwa seorang pejabat Islamic Revolutionary Guard Corps, Rahim Nadali, mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa usia minimum rekrutmen diturunkan menjadi 12 tahun. Anak-anak tersebut akan membantu Garda Revolusi dan milisi sukarelawan muda Basij dalam mengumpulkan intelijen keamanan, patroli, dan tugas lainnya saat perang.

Para pengamat menilai bahwa langkah ini menunjukkan IRGC sedang menghadapi krisis kekurangan personel di tengah konflik yang berlangsung.

Selain itu, Iran juga dilaporkan terus mengancam negara-negara Teluk melalui siaran televisi, dengan memperingatkan bahwa hotel mana pun yang menampung pasukan AS akan dianggap sebagai target serangan.

Reporter NTD Television, Wang Ziyi, melaporkan dari Amerika Serikat.

Israel Luncurkan Operasi ‘Kaleng Bom’, Komandan IRGC Tewas — AS Siapkan Serangan Terakhir ke Iran!

EtIndonesia. Situasi konflik di Timur Tengah pada Jumat, 27 Maret 2026, memasuki fase yang semakin kritis. Militer Israel mengklaim telah melancarkan operasi besar yang menargetkan struktur inti kekuatan Iran, sementara Amerika Serikat dikabarkan tengah mempersiapkan langkah militer terakhir jika jalur diplomasi gagal.

Di balik eskalasi tersebut, muncul indikasi kuat bahwa Washington dan Teheran diam-diam telah membuka jalur negosiasi melalui pihak ketiga.


Serangan Israel: Komandan Tinggi IRGC Tewas

Pada hari yang sama, militer Israel mengumumkan bahwa lebih dari 30 anggota kelompok ekstremis berhasil dieliminasi dalam operasi gabungan udara dan darat.

Di antara korban tewas disebut terdapat sejumlah tokoh penting dari Garda Revolusi Iran (IRGC), termasuk:

  • Direktur Intelijen Angkatan Laut IRGC, Behnam Rezaei
  • Komandan Angkatan Laut IRGC, Alireza Tangsiri

Serangan tersebut dilaporkan terjadi di wilayah strategis Bandar Abbas, pusat aktivitas militer dan logistik maritim Iran.

Pihak militer Israel menegaskan bahwa operasi ini secara khusus dirancang untuk melumpuhkan kemampuan maritim Iran, yang selama ini berperan penting dalam tekanan terhadap jalur energi global, khususnya di Selat Hormuz.


Operasi “Kaleng Bom” Picu Kepanikan

Salah satu perkembangan paling mengejutkan adalah terungkapnya metode baru dalam operasi pembunuhan presisi Israel.

Menurut laporan yang beredar, bahan peledak disembunyikan di dalam kemasan kaleng makanan yang didistribusikan kepada anggota milisi Basij dan aparat keamanan di Provinsi Fars.

Ketika kaleng tersebut dibuka, ledakan langsung terjadi.

Akibatnya:

  • Sedikitnya 5 orang tewas
  • Puluhan lainnya mengalami luka-luka

Pemerintah Iran segera:

  • Menghentikan distribusi produk tersebut
  • Mengeluarkan peringatan darurat nasional

Insiden ini memicu kepanikan luas dan memperlihatkan celah serius dalam sistem keamanan internal Iran.


Trump: “Bertindak Sekarang atau Terlambat”

Di tengah eskalasi konflik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran.

“Lebih baik bertindak sekarang, sebelum semuanya terlambat.”

Pernyataan tersebut muncul setelah konfirmasi tewasnya petinggi IRGC oleh Israel.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, tetap menunjukkan sikap keras. Ia menyatakan bahwa:

  • Tidak ada negara dalam sejarah yang mampu bertahan menghadapi serangan Amerika selama satu bulan tanpa menyerah
  • Iran mengklaim telah berhasil melakukannya

Ia bahkan menyebut ketahanan Iran sebagai “kebanggaan bagi seluruh umat manusia.”

Namun, sejumlah analis menilai pernyataan tersebut mencerminkan tekanan internal yang semakin besar di dalam negeri Iran.


Negosiasi Rahasia Melalui Pakistan

Di balik retorika keras kedua pihak, perkembangan diplomatik justru menunjukkan arah berbeda.

Sumber dari Pakistan mengungkapkan bahwa:

  • Negosiasi tidak langsung antara AS dan Iran sedang berlangsung
  • Pakistan bertindak sebagai mediator utama

Bahkan, atas permintaan Islamabad:

  • Nama Abbas Araghchi
  • dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf

disebut telah dicoret dari daftar target operasi militer.

Menteri Luar Negeri Pakistan juga mengonfirmasi bahwa komunikasi antara Washington dan Teheran kini difasilitasi secara aktif oleh negaranya.


AS Siapkan Opsi Militer Besar-Besaran

Meski jalur diplomasi mulai terbuka, Amerika Serikat tetap mempersiapkan skenario militer skala penuh jika negosiasi gagal.

Rencana yang disiapkan mencakup:

  • Pendudukan pulau-pulau strategis Iran
  • Pemblokiran jalur ekspor minyak
  • Serangan udara besar-besaran
  • Kemungkinan operasi darat

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim bahwa:

  • Garda Revolusi Iran telah “ditekan secara signifikan”
  • Hingga 27 Maret 2026, lebih dari 10.000 target telah diserang

Operasi militer disebut masih akan terus berlanjut dalam beberapa hari ke depan.


Proposal Damai 15 Poin

Dalam rapat kabinet yang digelar pada Kamis, 26 Maret 2026, Presiden Trump kembali menegaskan tuntutan utama Amerika:

  • Iran harus sepenuhnya menghentikan ambisi nuklirnya
  • Iran harus menyetujui kesepakatan damai dengan AS

Utusan khusus AS, Steve Witkoff, mengungkapkan bahwa:

  • Washington telah mengajukan proposal damai berisi 15 poin
  • Terdapat indikasi bahwa Iran sebenarnya ingin mencapai kesepakatan

Namun, seorang pejabat tinggi Iran mengatakan kepada Reuters bahwa proposal tersebut dinilai:

  • Sepihak
  • Tidak adil bagi Teheran

“Hadiah” dari Iran di Selat Hormuz

Sebagai sinyal itikad baik, Trump mengungkap bahwa Iran telah mengizinkan:

  • 10 kapal melintas di Selat Hormuz

Langkah ini disebut sebagai “hadiah besar” dari Iran.

Meski demikian, Trump menegaskan bahwa:

  • Kesepakatan akhir masih belum pasti
  • Semua opsi tetap terbuka

Krisis Internal: Basij Kehilangan Wibawa

Di dalam negeri Iran, kondisi sosial-politik dilaporkan semakin memburuk.

Rekaman yang beredar menunjukkan:

  • Anggota milisi Basij hidup dalam kondisi memprihatinkan
  • Banyak yang tidur di bawah jembatan
  • Sebagian mendapat perlakuan negatif dari masyarakat

Fenomena ini dinilai sebagai tanda:

  • Melemahnya pengaruh milisi
  • Turunnya legitimasi pemerintah di mata publik

Arah Konflik: Menuju Titik Penentuan

Dengan meningkatnya tekanan militer, terbukanya jalur negosiasi rahasia, serta memburuknya kondisi internal Iran, konflik kini berada di ambang fase penentuan.

Di satu sisi, Amerika Serikat dan Israel terus meningkatkan tekanan untuk memaksa perubahan strategis di Teheran.

Di sisi lain, Iran menghadapi dilema besar:
bertahan dalam konfrontasi, atau mengambil risiko politik dengan membuka jalan menuju kesepakatan.

Beberapa laporan bahkan menyebut bahwa tujuan jangka panjang dari strategi Washington bukan hanya menekan Iran, tetapi juga melemahkan pengaruh global Tiongkok.

Jika benar, maka konflik ini bukan sekadar perang regional—melainkan bagian dari pertarungan geopolitik yang lebih luas dalam menentukan arah tatanan dunia baru. (***)

Dua Bom Waktu Timur Tengah: Trump Diburu, Nuklir Iran Bisa Meledak Kapan Saja!

EtIndonesia. Situasi di Timur Tengah pada akhir Maret 2026 memasuki fase paling kritis sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dalam waktu bersamaan, dua ancaman besar muncul dan kini berada dalam hitungan mundur yang berpotensi mengubah arah geopolitik global.

Ancaman pertama secara langsung menargetkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Sementara ancaman kedua mengarah pada fasilitas nuklir Iran yang berisiko memicu bencana radiasi regional.


Jaringan Sayembara Pembunuhan Trump Terungkap

Menurut laporan Iran International pada 25 Maret 2026, sebuah jaringan sayembara pembunuhan terhadap Donald Trump telah diaktifkan secara sistematis di dalam Iran.

Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah besar warga Iran dilaporkan menerima pesan singkat (SMS) secara massal yang berisi ajakan untuk ikut serta dalam operasi pembunuhan tersebut, dengan imbalan finansial yang sangat besar.

Operasi ini tidak berjalan secara spontan, melainkan melalui tiga tahap terstruktur:

  1. Registrasi daring (online)
  2. Konfirmasi partisipasi melalui SMS
  3. Koordinasi taktis melalui platform komunikasi nasional “Rubika”

Rubika sendiri merupakan aplikasi komunikasi domestik Iran yang tidak dapat diakses dari luar negeri, sehingga membentuk sistem tertutup yang sulit dipantau oleh pihak eksternal. Hal ini memunculkan dugaan kuat bahwa operasi tersebut memiliki keterkaitan dengan struktur negara.

Data yang beredar menunjukkan bahwa:

  • Sekitar 290.000 orang telah mendaftar
  • Total hadiah bawah tanah mencapai 25 juta dolar AS

Fenomena ini menunjukkan mobilisasi massa yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam konteks operasi non-militer berbasis populasi.


Elit Iran Terpecah: Negosiasi atau Perang Total

Di tengah mobilisasi publik tersebut, kondisi internal elite Iran justru menunjukkan tanda-tanda kelumpuhan politik.

Dalam wawancara dengan Channel 14 Israel, analis senior Iran Prof. Shahram Akbarzadeh mengungkapkan bahwa kepemimpinan di Teheran saat ini mengalami perpecahan serius terkait arah kebijakan strategis.

Perpecahan tersebut berfokus pada satu pertanyaan utama: apakah Iran harus segera bernegosiasi dengan Amerika Serikat atau melanjutkan perlawanan?

Dua kubu utama muncul:

  • Kubu pragmatis, dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf
    → Mendesak negosiasi segera demi menyelamatkan rezim sebelum kehilangan seluruh posisi tawar.
  • Kubu garis keras, terutama dari Garda Revolusi
    → Menolak negosiasi dan memilih menunggu tekanan ekonomi global, khususnya lonjakan harga minyak, untuk melemahkan Amerika.

Namun, kedua pihak memiliki kesamaan sikap dalam dua isu fundamental:

  • Program rudal balistik
  • Pengayaan nuklir

Keduanya tetap bersikap keras dan tidak menunjukkan tanda kompromi.

 Akbarzadeh  menyimpulkan bahwa peluang tercapainya kesepakatan saat ini nyaris tidak ada—pandangan yang juga diamini oleh komunitas intelijen Israel.


Intelijen AS-Israel Diklaim Menembus Lingkar Dalam Teheran

Laporan dari The Jerusalem Post mengungkap bahwa sebelum perang pecah, badan intelijen Israel (Mossad) memperkirakan perubahan rezim Iran akan membutuhkan waktu setidaknya satu tahun.

Namun perkembangan terbaru menunjukkan dinamika yang jauh lebih cepat.

Pada 25 Maret 2026, Donald Trump membuat pernyataan yang mengindikasikan penetrasi intelijen mendalam ke dalam struktur kekuasaan Iran.

Ia menyebut bahwa para elit Teheran kini tengah berdebat mengenai siapa yang akan menjadi pemimpin tertinggi berikutnya—dan tidak ada yang bersedia mengambil posisi tersebut.

Trump menyatakan: “Kami mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan.”

Pernyataan ini mengandung dua makna strategis:

  1. Intelijen AS-Israel diduga telah menyusup hingga ke rapat rahasia tingkat tinggi Iran
  2. Jabatan pemimpin tertinggi kini menjadi posisi berisiko tinggi akibat ancaman pembunuhan terarah

Namun di sisi lain, Trump juga membuka jalur diplomasi:

“Kami sedang berbicara dengan orang yang tepat. Mereka menginginkan kesepakatan.”

Pernyataan ini menandakan bahwa pihak yang bersedia bernegosiasi berpotensi memperoleh legitimasi politik dan dukungan eksternal.


Strategi Ganda AS-Israel: Negosiasi dan Tekanan Militer

Amerika Serikat dan Israel kini menerapkan strategi ganda yang menciptakan ketidakpastian tinggi bagi Teheran:

  • Donald Trump mendorong narasi negosiasi dan peluang damai
  • Benjamin Netanyahu justru meningkatkan tekanan militer secara maksimal

Israel bahkan mengeluarkan ultimatum:

  • Operasi militer intensif selama 48 jam (berakhir Kamis, 26 Maret 2026)

Sementara itu:

  • Penangguhan serangan terhadap infrastruktur listrik Iran oleh AS selama 5 hari akan berakhir pada Sabtu, 28 Maret 2026
  • Wakil Presiden JD Vance dijadwalkan melakukan negosiasi di Pakistan pada akhir pekan

Dengan demikian, dalam rentang 72 jam, seluruh jalur—militer, diplomatik, dan ekonomi—akan mencapai titik kritis secara bersamaan.


Kuwait Siaga Darurat: Ancaman Radiasi Nuklir

Ketegangan meningkat setelah Kuwait mengeluarkan panduan darurat nasional yang jarang terjadi.

Pemerintah Kuwait mengimbau warganya untuk:

  • Tetap berada di dalam rumah
  • Menutup rapat pintu dan jendela
  • Menghindari paparan udara luar

Langkah ini diambil karena:

  • Jarak antara Kuwait dan fasilitas nuklir Iran hanya sekitar 240 kilometer
  • Fasilitas nuklir Bushehr dilaporkan telah diserang
  • Risiko kebocoran radiasi dinilai meningkat

Situasi ini menandai eskalasi konflik ke level yang berpotensi berdampak langsung pada keselamatan sipil lintas negara.


Selat Hormuz: Titik Tekan Ekonomi Global

Di tengah eskalasi militer, perhatian dunia juga tertuju pada Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Saat ini:

  • Garda Revolusi Iran telah membangun pos pemeriksaan bersenjata
  • Seluruh kapal yang melintas harus melalui inspeksi ketat

Langkah ini berpotensi mengganggu rantai pasok energi global.

Pentagon dilaporkan telah mengerahkan Divisi Lintas Udara ke-82, unit elit yang mampu dikerahkan dalam waktu 18 jam tanpa pangkalan tetap.

Beberapa target strategis yang dianalisis:

  • Pulau Kharg → pusat sekitar 90% ekspor minyak Iran
  • Pulau Larak → titik kontrol utama lalu lintas di Selat Hormuz

Namun para analis militer memperingatkan:

  • Pasukan ini merupakan infanteri ringan
  • Rentan terhadap serangan berat saat pendaratan
  • Risiko operasi sangat tinggi

Strategi Global: Memutus “Aliansi Merah-Hijau”

Menurut analisis The Jerusalem Post, strategi besar Washington tidak hanya berfokus pada Iran, tetapi juga pada jaringan geopolitik yang lebih luas.

Yang disebut sebagai “aliansi merah-hijau” mencakup:

  • Iran → pemasok energi utama
  • Venezuela → basis minyak di belahan Barat
  • Kuba → titik tekanan strategis dekat AS

Ketiganya dipandang memiliki keterkaitan dengan pengaruh global Tiongkok.

Strategi Amerika Serikat meliputi:

  • Memutus jalur energi dan intelijen
  • Mengurangi ketergantungan terhadap manufaktur Tiongkok
  • Membangun sistem pertahanan ekonomi Barat

Tujuan akhirnya adalah:

Mengakhiri konflik global tanpa mewariskannya ke generasi berikutnya.


Kesimpulan: 72 Jam yang Bisa Mengubah Dunia

Dengan berbagai perkembangan yang terjadi hingga 26 Maret 2026, Timur Tengah kini berada di ambang titik balik sejarah.

Dalam waktu 72 jam ke depan:

  • Negosiasi bisa membuka jalan damai
  • Atau justru kegagalan diplomasi memicu eskalasi besar

Di tengah ancaman pembunuhan terhadap pemimpin dunia, risiko bencana nuklir, dan potensi krisis energi global—dunia kini menunggu satu hal:

Apakah ini akhir dari konflik, atau justru awal dari babak yang lebih berbahaya? (***)

Media Israel: Trump Sedang Membongkar “Aliansi Merah-Hijau”, Memutus “Arteri” Tiongkok

Media Israel menganalisis bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang membongkar struktur penopang global Partai Komunis Tiongkok (PKT), serta memutus “arteri” pengaruh global Beijing, dengan tujuan akhir mengalahkan PKT

EtIndonesia. Beberapa waktu lalu, saat mengumumkan rencana kunjungannya ke Tiongkok pada  Mei melalui platform media sosial, Trump kembali mengulang ungkapan khasnya, seperti menyebut Xi Jinping “sangat dihormati” dan “saya memiliki hubungan yang baik dengan Ketua Xi”, dan sebagainya.

Namun, para pengamat menilai bahwa pada saat yang sama, Trump juga sedang memberikan tekanan yang “belum pernah terjadi sebelumnya” kepada PKT dan Xi Jinping. Khususnya, serangan udara AS terhadap rezim otoriter Iran tidak hanya menghantam sekutu PKT di Timur Tengah, tetapi juga memutus salah satu jalur pasokan minyak murah yang penting bagi Tiongkok.

Surat kabar berbahasa Inggris terbesar di Israel, The Jerusalem Post, baru-baru ini menerbitkan artikel opini yang menyatakan bahwa “rezim jihad” di Teheran telah menyatakan perang terhadap dunia beradab sejak tahun 1979. Namun, selama hampir setengah abad, Barat merespons dengan “kebijakan penenangan” yang gagal. Kini, “Operasi Epic Fury” Amerika Serikat telah mengakhiri era berbahaya yang berlangsung selama 47 tahun.

Trump berpendapat bahwa untuk mencegah perang global yang bersifat bencana, ancaman-ancaman tersebut harus dihadapi sekarang, bukan diwariskan kepada generasi berikutnya dalam kondisi yang lebih kuat dan lebih mengakar.

Artikel tersebut juga menekankan bahwa visi strategis ini tidak terbatas pada Timur Tengah saja. “Operasi Epic Fury” merupakan langkah kunci dalam strategi yang lebih luas, yaitu membendung PKT.

Trump menilai bahwa Iran, Rusia, dan Venezuela bukanlah aktor yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari “aliansi merah-hijau” yang dipimpin oleh PKT. Ia percaya bahwa untuk mengalahkan Partai Komunis Tiongkok, terlebih dahulu harus membongkar struktur penopang globalnya.

Artikel itu menganalisis bahwa melalui penggunaan kekuatan yang strategis dan presisi, Amerika Serikat sedang secara sistematis memutus “arteri” pengaruh global Beijing:

Di Belahan Barat, Trump menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro, memblokade rezim komunis Kuba, serta kembali menguasai jalur laut paling strategis di “halaman belakang” Amerika—Terusan Panama—sehingga memutus jalur energi dan intelijen PKT.

Di kawasan Arktik, Trump memperkuat kepentingan strategis di Greenland untuk menghadapi meningkatnya ancaman dari Tiongkok dan Rusia, sekaligus mengamankan jalur penting bagi keamanan Barat di masa depan.

Pada saat yang sama, Trump juga menerapkan strategi “pertahanan ekonomi”, melalui tarif timbal balik dan pembangunan kembali kekuatan militer, untuk mengurangi ketergantungan pada produk manufaktur Tiongkok dan beralih ke rantai pasokan yang lebih mandiri dan tangguh.

Selain itu, peneliti John Lee baru-baru ini menulis di Hudson Institute bahwa perang Trump terhadap Iran juga akan mempengaruhi perhitungan strategis PKT terhadap Taiwan. “Bagaimanapun situasi di Timur Tengah berkembang, Xi Jinping akan merasa semakin tidak tenang terhadap kondisi dunia saat ini—dan ini merupakan hal yang baik bagi efek pencegahan (deterrence).”

Artikel tersebut menyebutkan bahwa invasi PKT terhadap Taiwan harus mempertimbangkan banyak faktor yang tidak menguntungkan, salah satunya adalah apakah Amerika Serikat memiliki tekad untuk ikut berperang. Artikel itu menyatakan, “Xi Jinping tidak akan terlalu percaya pada anggapan bahwa ‘Trump pada akhirnya akan mundur’; Orang Iran jelas juga tidak berpikir demikian.” (Hui)