Ketua Asosiasi Korban : Tidak Ada Aturan Hukum yang Jelas Berbisnis dengan Tiongkok

Kao Wei-Pang, kebangsaan Taiwan, telah menyelesaikan pekerjaan postdoctoralnya di McGill University dan kemudian mengajar dua tahun di Montreal’s Vanier College pada akhir 1960-an dan awal 1970-an. “Saya memiliki perasaan yang dalam pada orang-orang Kanada,” kata Kao.

Itulah sebabnya ketika pemerintah Kanada berusaha untuk mengembangkan hubungan yang lebih erat dengan Tiongkok dan bahkan untuk mengeksplorasi kemungkinan kesepakatan perdagangan bebas dengan negara komunis tersebut, Kao memperingatkan orang-orang Kanada untuk melangkah dengan hati-hati.

Kao, dirinya korban korupsi dan praktek bisnis Tiongkok yang tidak adil, adalah pendiri Taiwanese Victims of Investment in China Association, merupakan asosiasi para warga Taiwan yang telah menjadi korban dalm berinvestasi di Tiongkok.

Insinyur kimia tersebut membuat kekayaannya di Taiwan dalam industri plastik mulai pertengahan 1970-an, meluncurkan usaha kecil dan menengah.

Menjelang akhir 1990-an, ia merasa sulit bersaing dengan produk Tiongkok daratan, yang memiliki biaya produksi lebih rendah. Jadi, dia menginvestasikan US$500.000 untuk usaha di Tiongkok, memulai sebuah pabrik yang memproduksi pot besar yang terbuat dari perunggu atau besi tuang, dengan pasar internasional di Amerika Serikat.

Melihat profitabilitas dari usaha tersebut, bagaimanapun, wakil manajer umum yang dikenal baik secara efektif telah merampok investasinya dan mengusirnya dari usaha tersebut, ungkap Kao.

Wakil manajer umum mengambil pinjaman terhadap aset pabrik tersebut dengan memalsu tanda tangan Kao dan berkolusi dengan pejabat bank setempat, dengan menggunakan pinjaman tersebut beserta peralatan dan aset lainnya dari pabrik Kao untuk memulai pabrik lain yang menghasilkan produk yang sama.

Ketika Kao berusaha mencari keadilan melalui sistem hukum, wakil manajer umum tersebut, yang ayahnya adalah seorang wakil pejabat menteri, memastikan bahwa kasus hukum Kao tidak akan diproses. Sekarang, hampir 20 tahun setelah pabriknya diambil alih secara kejam, Kao mengatakan bahwa dia masih belum menemukan restitusi dari pengadilan, dan wakil manajer umum tersebut sekarang tinggal di Kanada.

‘Sangat berisiko melakukan bisnis di Tiongkok’

“Sangat berisiko melakukan bisnis dengan Tiongkok, tidak berbeda dengan mengeluarkan biji chestnut (kastanye) dari api,” kata Kao dalam sebuah wawancara di Tiongkok.

Taiwanese Victims of Investment in China Association mempublikasikan kasus-kasus pengusaha Taiwan yang telah ditipu, dipenjarakan, atau bahkan terbunuh saat melakukan bisnis di Tiongkok.

Kao mengatakan Kantor Urusan Taiwan di Tiongkok menerima 28.000 keluhan dari pengusaha Taiwan tentang perlakuan tidak adil di Tiongkok dalam jangka waktu 10 tahun di tahun 2011. Jumlah sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi, katanya, karena banyak korban tidak berani membuat mendapat cobaan berat mereka dari rasa takut akan keamanan keluarga dan kerabat mereka di Tiongkok.

“Di negara yang tidak diatur undang-undang, keamanan warganya sendiri tidak dapat dijamin, apalagi bisnis dari luar Tiongkok,” kata Kao.

Kao mencatat bahwa pelecehan ini tidak hanya terbatas pada orang Taiwan. Kasus-kasus serupa telah dilaporkan di kalangan pengusaha Korea dan Jepang yang berinvestasi di Tiongkok. Dia menyebutkan sebuah laporan terperinci dalam publikasi Bunshun di Jepang tentang produsen Jepang yang telah disalahgunakan oleh sistem Tiongkok sebagai contohnya.

Clive Ansley, seorang pengacara Kanada yang mempraktekkan hukum di Tiongkok selama 14 tahun, mengatakan bahwa sistem peradilan Tiongkok korup dan dikendalikan oleh Partai Komunis Tiongkok. “Tidak ada sistem pengadilan yang sah,” katanya.

Pada tahun-tahun terakhir praktek di Tiongkok, Ansley menemukan bahwa tidak mungkin lagi orang asing menang di pengadilan Tiongkok.

Pemerintah federal baru-baru ini mengadakan konsultasi publik mengenai kemungkinan kesepakatan perdagangan bebas Kanada-Tiongkok, dan hasilnya menunjukkan bahwa orang-orang Kanada memiliki banyak kekhawatiran dan menyatakan bahwa mereka tidak yakin bahwa sebuah perjanjian perdagangan bebas akan dapat mengatasi masalah tersebut.

Orang-orang Kanada mengatakan bahwa mereka melihat “tantangan signifikan yang terkait dengan berbisnis di Tiongkok,” seperti peraturan hukum yang tidak konsisten di Tiongkok, skeptis bahwa Beijing akan memenuhi berbagai perjanjian perdagangan, persaingan dari badan usaha milik negara (BUMN) Tiongkok, dan dampaknya terhadap pekerjaan-pekerjaan warga Kanada.

Sebuah survei baru-baru ini oleh Dewan Bisnis AS-Tiongkok menunjukkan bahwa lebih banyak perusahaan Amerika kehilangan optimisme mereka mengenai iklim bisnis di Tiongkok dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, terutama karena kebijakan Beijing terhadap perusahaan asing. Di antara tantangan yang disebutkan adalah persaingan dari perusahaan China, lisensi dan perijinan, hambatan investasi, penegakan hak kekayaan intelektual, di antara masalah lainnya.

Kao mengatakan orang-orang Kanada seharusnya tidak hanya memusatkan pandangan mereka pada keuntungan jangka pendek yang mungkin mereka hadapi dalam transaksi bisnis dengan Tiongkok.

“Begitu Anda berada dalam perangkap, Anda tidak dapat melarikan diri dengan aman,” katanya, memperingatkan bahwa pada saatnya nanti, “teknologi Anda akan menjadi milik orang lain’, investasi Anda akan menjadi aset orang lain, dan Anda akan diusir dari Tiongkok.” (ran)

ErabaruNews