Bagaimana Digitalisasi Membuat Kita Lebih Kesepian? Teknologi Tidak Dapat Menggantikan

Oleh Chris Allen

Pemerintah Inggris baru-baru ini menetapkan menteri kesepian pertamanya. Langkah tersebut datang sebagai tanggapan atas meningkatnya kekhawatiran akan epidemi kesepian yang melanda masyarakat Barat.

Psikolog menganggap kesepian sebagai pengalaman subyektif dan tidak menyenangkan yang terjadi bila tingkat kontak sosial bermakna yang diinginkan kurang dari jumlah yang tersedia. Kondisi umum tentang kesepian yang sedang meningkat dan hubungan antara kesepian dan kesehatan yang buruk sekarang sudah jelas.

Di AS, kesepian mempengaruhi seperlima populasi. Di Inggris, dialami lebih dari sepertiga dari mereka yang berusia di atas 50 tahun.

Merasa Kesepian? Bicaralah dengan Robot

Pejabat publik telah menyarankan agar asisten-asisten digital, seperti Alexa dari Amazon, mungkin merupakan teman yang cocok untuk orang tua yang terisolasi. Ini sama sekali bukan pertama kalinya orang-orang yang bermaksud baik telah melihat kecerdasan buatan sebagai pengganti persahabatan manusia, dan orang tua sering menjadi sasaran inovasi ini.

Beberapa tahun yang lalu, robot anjing laut yang disebut Paro dipandang sebagai solusi untuk kesepian. Anjing laut tersebut telah digunakan sebagai robot pendamping di rumah-rumah perawatan sejak tahun 2003 dan telah terbukti dapat meningkatkan lingkungan perawatan dan mengurangi perasaan kesepian para penghuninya. Anjing laut putih yang lucu, bisu dan suka dipeluk. Tidak sulit untuk melihat bagaimana Alexa kelihatannya lebih baik. Paling tidak bisa bicara.

Sayangnya, teknologi sebagian besar tidak efektif dalam memenuhi kebutuhan orang-orang yang merasa kesepian. Sebenarnya, ini mungkin menambah masalah.

Saat kita merasa kesepian, kita menginginkan hubungan dengan orang lain. Namun kebutuhan kita akan masyarakat yang lebih terhubung tampaknya berbenturan langsung dengan ideologi neoliberal di mana ada peningkatan dorongan untuk efisiensi dan maksimisasi keuntungan baik di sektor swasta maupun publik.

Sementara kita menginginkan kontak manusia, alternatif digital seringkali lebih murah daripada kenalan sehari-hari. Hal ini telah mengakibatkan semakin banyak aspek kehidupan kita yang menjadi digital secara default, tanpa lawan tanding, yang kemudian mengurangi kesempatan kita untuk kontak sosial sehari-hari.

Ini bukan hal baru, tapi sudah dipercepat. Ini dimulai dengan bank mengganti teller dengan ATM. Sekarang, sebagian besar supermarket memiliki checkout pemindaian sendiri, dan kita mungkin menuju ke supermarket otomatis sepenuhnya, Amazon memimpin dengan supermarket tanpa checkout. Kita membeli tiket kereta digital yang diperiksa oleh mesin, dan kita menggunakan katalog digital untuk menemukan buku perpustakaan, seringkali tanpa harus menginjakkan kaki di perpustakaan (yang juga begitu, sejak banyak yang telah tutup). Kita telah menjadi komunitas click and collect, serba mesin dan melayani sendiri tanpa orang lain.

Semakin bertambahnya, fisik tersebut digantikan oleh digital, yang secara mendasar mengubah pengalaman kita sehari-hari, dan pada gilirannya, mengurangi kesempatan kita untuk berhubungan dengan orang lain.

Sektor publik, yang menghadapi tekanan yang meningkat untuk berperilaku lebih seperti sektor swasta, juga telah mendengar panggilan tanda ancaman digital ini. Sayangnya, peluang yang disajikan oleh inovasi teknologi semacam itu mungkin juga menjauhkan kita dari orang-orang yang paling membutuhkan kontak manusia.

Sebagai contoh, Institut Nasional untuk Kesehatan dan Perawatan Inggris telah menyetujui penggunaan cognitive behavioral therapy (CBT), terapi perilaku kognitif, secara online untuk mereka yang menderita depresi dan gangguan kecemasan umum. Untuk sementara waktu sekarang, telah diakui bahwa orang dapat merasa lebih mudah untuk membuka mesin dan teknologi-teknologi ini juga memberi kesempatan untuk perawatan sepanjang waktu (non stop). Namun, kekhawatirannya adalah bahwa CBT digital mungkin membuat orang merasa seperti sedang diremehkan dalam perawatan dari sebuah aplikasi sepanjang waktu disaat mereka paling membutuhkan kontak dengan manusia.

Ikatan yang lemah

Salah satu masalah otomasi yang paling sering dikutip adalah bahwa hal itu akan menyebabkan pengangguran, tetapi bagaimana jika merampas konektivitas manusia juga? Kendaraan otonom sepenuhnya tanpa sopir pasti akan menghilangkan obrolan sehari-hari antara supir taksi dan penumpang. Kontak-kontak setiap hari seperti itu (sering disebut sebagai “ikatan lemah”) telah ditunjukkan untuk memberikan dukungan penting, terutama kepada mereka yang beresiko terisolasi sosial.

Namun teknologi digital mungkin juga memberi kita kesempatan untuk terhubung dengan cara baru dan menarik. Misalnya, media sosial memberi kita kesempatan untuk terhubung dengan orang lain saat kita menginginkannya.

Saat Natal, Sarah Millican, seorang komedian Inggris, menggunakan Twitter untuk menghubungkan orang-orang yang merasa kesepian, menggunakan hashtag #joinin. Hal ini memberi orang kesempatan untuk merasa termasuk di dalamnya selama waktu itu khususnya yang sedang terasing.

Percakapan media sosial mungkin memiliki peran yang meningkat dalam menghubungkan kita satu sama lain, karena semakin banyak industri menjadi digital secara default, tanpa lawan tanding. Sosiolog Barry Wellman mengatakan bahwa orang-orang yang tidak doyan atau tidak terkait dengan teknologi, mereka saling terkait satu sama lain. Seiring dengan kebutuhan pasar akan efisiensi, menemukan teknologi sedang menggerakkan kita terpisah semakin jauh, kita perlu mencari cara untuk mendekatkan kita. (ran)

Chris Allen adalah rekan penelitian akademis klinis ilmu kesehatan di University of Southampton di Inggris. Artikel ini awalnya diterbitkan di The Conversation.

ErabaruNews