Amerika Luncurkan Iklan Kampanye Anti Opioid

EpochTimesId – Sebuah iklan kampanye untuk mencegah kecanduan obat penghilang rasa sakit berupa opioid (opium sintetis) diluncurkan oleh Amerika Serikat baru-baru ini. Iklan tersebut menyasar generasi muda agar terhindar kecanduan opioid. Iklan diluncurkan pada 7 Juni 2018 waktu setempat.

Iklan tersebut menggunakan kisah nyata anak-anak muda Amerika yang berusaha sangat keras untuk memenuhi kecanduan mereka pada obat bius yang tidak beda jauh dengan narkoba. Bedanya, opium sintetis ini masih bisa dibeli dengan membawa resep dokter.

Untuk memenuhi kecanduan mereka, seorang pemuda di Atlanta bahkan mematahkan lengannya sendiri dengan membantingnya di pintu. Dengan harapan, dokter akan memberikan resep untuk membeli lebih banyak obat pereda nyeri, opioid.

Kecanduannya dimulai ketika Dia meminum beberapa pil Vicodin. Itu adalah obat pereda rasa sakit yang diresepkan, yang ditaruh oleh ibunya di rumah.

Seorang wanita muda lainnya, dalam iklan itu, diberikan Vicodin setelah operasi lutut. “Mereka terus meresepkan itu, jadi saya terus meminumnya,” kata gadis dalam iklan itu. “Saya tidak tahu itu akan membuat kecanduan (seperti narkoba).”

Dia dengan sengaja menabrakkan mobilnya ke beberapa tempat sampah. Sehingga dia mendapatkan perawatan kesehatan, dan tentu saja resep dokter untuk diperbolehkan membeli lebih banyak obat pereda nyeri.

Kampanye, “The Truth About Opioids (Kebenaran tentang Opioid),” adalah inisiatif Gedung Putih yang ditujukan untuk remaja usia 18 hingga 24 tahun. Jumlah penyalahgunaan opioid terbesar, terjadi di kelompok usia ini, menurut Robin Koval, presiden dan CEO Truth Initiative, mitra dalam kampanye yang digelar Istana Kepresidenan AS.

Iklan itu mengandung pesan bahwa ketergantungan opioid dapat terjadi hanya dalam lima hari.

Polisi dan paramedis setempat membantu seorang pria yang overdosis di lingkungan Drexel di Dayton, Ohio, pada 3 Agustus 2017. (Benjamin Chasteen / The Epoch Times)

Jim Carroll, wakil direktur Kantor Kebijakan Pengawasan Obat Nasional, mengatakan dia berbicara kepada lebih banyak orang tua yang kehilangan anak-anak karena opioid. Kurangnya pengetahuan masyarakat adalah ‘benang merah’ masalah itu.

“Mereka tidak tahu bahwa pil yang diresepkan dokter bisa membuat kecanduan. Mereka tidak tahu bahwa pil opioid yang mereka beli di jalan setelah kecanduan bisa menjadi pil palsu yang dibuat dengan fentanyl,” kata Carroll pada konfrensi pers, 7 Juni 2018.

“Mereka tidak tahu bahwa mayoritas pengguna heroin baru, bermula dari kecanduan opioid. Mereka tidak tahu ke mana harus berpaling ketika mereka membutuhkan bantuan.”

Sekitar 80 persen pengguna heroin baru bermula dari kecanduan opioid resep. Fentanyl, awalnya dikembangkan sebagai obat penghilang rasa sakit dan obat bius. Zat kimia itu, 50 hingga 100 kali lebih kuat daripada heroin. Dua miligram fentanyl adalah dosis mematikan untuk pengguna yang belum pernah menggunakan opioid (non-opioid).

Carroll mengatakan kampanye iklan baru dirancang untuk menutup kesenjangan pengetahuan. “sehingga kami dapat mengubah gelombang pada krisis ini dan menyelamatkan nyawa,” sambungnya.

Gedung Putih bermitra dengan Kantor Kebijakan Pengawasan Obat Nasional, Dewan Iklan, dan ‘Truth Initiative’ untuk membuat iklan, yang akan dipublikasikan di media sosial dan televisi.

Lisa Sherman, CEO Dewan Iklan, mengatakan kampanye yang khas seperti ini menghabiskan biaya sekitar 30 juta dolar AS per tahun. Akan tetapi banyak perusahaan teknologi besar, termasuk Google, Facebook, dan YouTube, telah menyumbangkan ruang iklan.

Carroll mengatakan tidak ada dana dari RUU pengeluaran omnibus yang digunakan untuk kampanye ini, tetapi agensinya telah memasukkan anggaran ke dalamnya, meskipun Dia menolak memberitahu jumlahnya. Presiden AS, Donald Trump menyumbangkan gaji kuartal keempat 2017 untuk kampanye pencegahan opioid, tetapi tidak digunakan dalam kampanye ini.

Trump menyatakan krisis opioid sebagai ‘situasi darurat kesehatan publik nasional’ pada 26 Oktober 2017. Pada bulan Maret, Trump mengumumkan rencana untuk menghentikan penyalahgunaan dan pasokan opioid dan juga menandatangani omnibus, yang menyediakan hampir 4 miliar dolar AS pada tahun fiskal 2018 untuk melawan epidemi overdosis opioid.

Iklan dan informasi terkait dapat dilihat di Opioids.TheTruth.com. (The Epoch Times/waa)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :
https://youtu.be/0x2fRjqhmTA