Media Jerman : OBOR Tidak Berkontribusi Ekonomi Kepada Eropa Timur

Epochtimes.id- PKT (Partai Komunis Tiongkok) melakukan investasi besar dalam infrastruktur di Eropa Timur namun sejauh ini, tidak membawa bantuan yang berarti bagi ekonomi lokal.

Sabuk Ekonomi Jalur Sutra atau One Belt One Road (OBOR) yang dipromosikan dapat membawa solusi win-win sekarang tampaknya menjadi jalan satu arah yang tidak memberikan kontribusi terhadap perkembangan ekonomi negara-negara di Eropa Timur.

Central News Agency melaporkan bahwa edisi terbaru dari sebuah mingguan ekonomi Jerman  ‘Wirtschaftswoche’ dalam artikelnya melaporkan, Tiongkok (PKT) melakukan investasi besar di Balkan Barat setelah Yugoslavia disintegrasi, membangun jalan raya di Montenegro, pembangkit listrik di Bosnia – Herzegovina dan bermaksud untuk membangun pembangkit listrik bertenaga nuklir di Rumania.

Di antaranya termasuk membangun jalur kereta api cepat sepanjang total 350 kilometer yang menghubungkan ibukota Serbia Belgrade dengan ibukota Budapest, Hungaria. Total dana investasi adalah USD. 2,9 miliar, seluruh dana pinjaman, insinyur dan pekerja semua berasal dari Tiongkok.

Tiongkok menyebut proyek tersebut sebagai investasi pembangunan infrastruktur terbesar mereka di Balkan Barat.

Tujuan di balik investasi PKT di Eropa

Tujuan Tiongkok mempromosikan OBOR ke Eropa adalah untuk memperluas pengaruh mereka ke wilayah itu. Misalnya, PKT mencoba untuk membujuk Yunani dan Hungaria, 2 negara anggota Uni Eropa yang menerima pinjaman dari Tiongkok dengan mengharapkan  mereka untuk membuat keputusan yang menguntungkan PKT pada saat ada pungutan suara di Uni Eropa.

Oleh karena itu, negara-negara Eropa lainnya khawatir terhadap tercerai-berainya Eropa.  Kanselir Jerman Angela Merkel sebelumnya telah memperingatkan bahwa negara-negara yang menerima bantuan pembangunan infrastruktur dari Tiongkok (PKT), harus tetap mempertahankan sikap membela posisi diplomatik Uni Eropa.

Bulan Juni lalu, dalam sebuah pertemuan Dewan HAM PBB di Jenewa, Uni Eropa mencoba untuk menyinggung kembali mengenai masalah HAM Tiongkok — upaya itu akhirnya dipatahkan oleh Yunani.

‘New York Times’ dalam laporannya menyebutkan bahwa ini adalah pertama kalinya Uni Eropa tidak membuat pernyataan tentang pelanggaran hak asasi manusia oleh Tiongkok (PKT) dan negara lainnya pada pertemuan Dewan Hak Asasi Manusia.

Uni Eropa yang selalu bangga dengan sikap progresif dalam menangani masalah hak asasi manusia di Dewan, Namun, beberapa negara dengan catatan hak asasi manusia yang buruk di Dewan telah terbiasa melakukan penolakan atau pemboikotan terhadap praktik penyelidikan yang dilakukan Dewan.

Yunani menghadapi tekanan dari negara-negara kreditor dan semakin aktif mencari perdagangan dan investasi Tiongkok. Perusahaan BUMN Tiongkok COSCO telah mengakuisisi saham mayoritas perusahaan yang mengelola pelabuhan Piraeus, Yunani. Pelabuhan Yunani menempati posisi penting dalam Sabuk Ekonomi Jalur Sutra Tiongkok.

Bernd Lange, Anggota Parlemen Eropa Ketua Komite Perdagangan Internasional Uni Eropa mengatakan, tujuan PKT di balik peningkatan investasi di negara-negara Eropa Timur, mungkin dalam upayanya untuk memperluas pengaruh tidak langsungnya pada politik Eropa.

Lange berharap bahwa Komisi Eropa dan pemerintah negara anggotanya perlu melakukan  pemeriksaan lebih mendalam mengenai tujuan di balik investasi PKT di Eropa.

Sabuk Ekonomi Jalur Sutra Tiongkok menghadapi sengketa hukum di Eropa

Sebuah artikel dalam ‘Mingguan Ekonomi’ menjelaskan bahwa, kelebihan kapasitas industri juga merupakan bagian dari Tiongkok mempromosikan inisiatif Sabuk Ekonomi Jalur Sutra. Joerg Wittke, mantan Ketua Kamar Dagang Uni Eropa mengatakan : “Daerah Balkan Barat adalah pintu masuk bagi Tiongkok (PKT) ke pasar Uni Eropa yang merupakan pintu terbesar di dunia saat ini.”

Selain itu, Investasi Tiongkok jelas tidak membantu ekonomi lokal, juga tidak membuat  peningkatan ekspor komoditas Eropa ke Tiongkok, dan bahkan menyebabkan kenaikan utang. Hingga akhir tahun 2016, Serbia telah memiliki utang kepada bank-bank di Tiongkok yang jumlahnya mencapai EUR. 5,5 miliar.

Laporan IMF mengatakan, di bawah inisiatif One Belt One Road, PKT telah banyak berinvestasi dalam pembangunan jalan raya dan infrastruktur lainnya di Balkan bagian barat, dan membuat risiko utang negara-negara di kawasan itu telah meningkat tajam, Situasi yang paling serius sedang dihadapi oleh Republik Montenegro.

Wadah pemikir non-profit AS Center for Global Development di Washington pada bulan Maret mengeluarkan sebuah laporan yang menyebutkan bahwa pinjaman untuk proyek-proyek Tiongkok yang ditawarkan melalui Sabuk Ekonomi Jalur Sutra telah secara signifikan meningkatkan krisis utang 8 negara kecil Eropa, di antaranya termasuk Republik Montenegro.

Justyna Szczudlik, pakar urusan Tiongkok dari Polish Institute of International Affairs mengatakan : “Tiongkok (PKT) tidak sungguh-sungguh berinvestasi di Balkan, tapi lebih cenderung untuk memberikan pinjaman dana kepada negara Balkan dalam bentuk pembangunan infrastruktur, dengan demikian, negara-negara itu harus memikul beban berat utang selama bertahun-tahun”.

Selain itu, Sabuk Ekonomi Jalur Sutra juga menghadapi sengketa hukum di Eropa, Komite Eksekutif Uni Eropa sedang mengkaji, apakah kontrak pembangunan rel KA kerjasama Hungaria – Tiongkok yang dilaksanakan pada bulan November tahun lalu melanggar ketentuan penawaran umum Uni Eropa. Kontrak ini sampai sekarang juga masih belum dipublikasikan. (Sin/asr)