Wabah Sedang Merajalela, Warga Tiongkok Khawatir Harbin Menjadi Wuhan Kedua

NTD, oleh Chang Chun

Belakangan ini, wabah virus komunis Tiongkok atau pneumonia Wuhan telah menunjukkan tanda-tanda intensifikasi. Meskipun pemerintah berulang kali menyatakan bahwa wabah  telah dapat dikendalikan secara stabil, jumlah orang yang terinfeksi di berbagai daerah pada umumnya tetap rendah. 

Namun demikian, banyak tanda-tanda intensifikasi penularan telah ditunjukkan oleh provinsi dan kota besar, sehingga manajemen lockdown yang ketat terpaksa dilakukan kembali.

Di antara mereka, situasi wabah di Provinsi Heilongjiang adalah yang paling membuat pesimis. Baru-baru ini, penularan kelompok berskala besar sedang terjadi  di Harbin, ibu kota provinsi Heilongjiang, bahkan rantai infeksi masih terus memanjang.

Pejabat komunis Tiongkok mengklaim bahwa sumber infeksi kelompok ini adalah seorang siswa internasional yang baru kembali dari Amerika Serikat pada 19 Maret, dan hingga 18 April jumlah orang yang dikonfirmasi tertular telah mencapai lebih dari 40 orang. Sejumlah tenaga medis dari Rumah Sakit Pertama Universitas Kedokteran Harbin dan Rumah Sakit Kedua Kota Harbin juga terinfeksi.

Pada kenyataannya, pada 11 April sudah ada beberapa netizen yang mengunggah video rekaman mereka, tentang banyaknya orang yang mengantre untuk berobat di Rumah Sakit Pertama Universitas Kedokteran Harbin. Antrian panjang orang sampai ke pinggir jalan. Masyarakat berpendapat bahwa pihak berwenang sebenarnya tidak secara sungguh-sungguh mengendalikan wabah, setelah situasi menjadi tak terkendali, lalu pendatang dari luar yang dijadikan kambing hitam. Jumlah pasien yang terinfeksi seharusnya jauh melebihi angka resmi.

Mr. Liao, warga kota Harbin mengatakan : “Informasi di negara otoriter terutama didasarkan pada laporan resmi dan dikontrol secara ketat oleh mereka. Ini adalah situasi yang sudah bertahan selama bertahun-tahun. Angka-angka resmi yang dipublikasikan selalu tidak tepat. Jangan salahkan dunia luar dan masyarakat jika mereka tidak percaya”.

Sejumlah warga juga berulang kali mengabarkan soal lockdown kota Harbin, meskipun pihak berwenang menolaknya. Namun, informasi menunjukkan bahwa banyak komunitas dan jalan-jalan di kota Harbin kembali diblokir.

Mr. Yu, seorang warga Harbin mengatakan : “Secara keseluruhan, banyak komunitas di Harbin sekarang sudah diblokir rapat. Gerbang dijaga hampir selama 24 jam. Tingkat kewaspadaan dan ketegangannya jauh lebih tinggi daripada periode reaksi awal wabah”.

Mr. Yu mengatakan bahwa suatu hari kode kesehatan temannya tiba-tiba berubah warna, ia lalu pergi ke departemen terkait untuk menanyakan apakah wabah itu terjadi di mal yang dikunjungi teman itu, tetapi tidak ada penjelasan yang diberikan. 

Mr. Yu percaya bahwa demi kedudukan, para pejabat takut untuk melaporkan epidemi dengan jujur. Padahal informasi yang tidak benar itu dapat menyebabkan orang lain mengalami salah paham dan anggap enteng, sehingga memungkinkan virus menyebar luas, dan membawa masyarakat ke situasi yang bertambah sulit.

Mr. Yu menambahkan : “Epidemi telah menimbulkan banyak masalah seperti pendapatan ekonomi pribadi dan kehidupan bagi masyarakat. Jika sampai ini berlanjut selama beberapa bulan, Anda mungkin tidak makan atau minum. Teman-teman saya mengatakan bahwa sebentar lagi kita semua sudah sulit untuk bertahan hidup. Tidak punya lagi uang untuk membeli makanan.Bagaimana kita bisa hidup ?”

Mr. Yu khawatir jika epidemi masih terus menyebar, maka masyarakat Heilongjiang akan mengulangi apa yang terjadi pada masyarakat Wuhan dan Hubei. Mereka akan dikucilkan dan dicemooh di semua wilayah.

“Kabarnya, warga Heilongjiang yang pergi ke tempat-tempat ini, sudah tidak disambut lagi, sama seperti warga Hubei dan Wuhan pada waktu itu. Warga Heilongjiang bagaikan terkena tulah, ditolak di mana-mana”, kata Mr. Yu.

Pada 17 April, Kota Genhe di Daerah Otonomi Mongolia Dalam mengumumkan bahwa mereka  menutup total lalu lintas di perbatasan dengan provinsi Heilongjiang. Kota itu juga melarang warga Heilongjiang datang ke Mongolia Dalam. Hal ini juga menandakan bahwa lockdown provinsi telah kembali dilaksanakan demi mencegah penyebaran virus.

Pada hari yang sama, secara resmi diberitahukan bahwa 18 orang termasuk Wakil Walikota Harbin Chen Yuanfei dan Direktur Komite Kesehatan Harbin Ding Fengshu dituntut pertanggungjawaban mereka atas upaya pencegahan dan pengendalian epidemi yang buruk.

Dalam hal ini, kolumnis Xia Xiaoqiang dalam sebuah artikelnya yang dipublikasikan Epoch Times menunjukkan bahwa akuntabilitas komunis Tiongkok kepada pejabat Harbin persis sama dengan cara Jiang Zemin ketika epidemi SARS terjadi 17 tahun yang lalu. Yakni pejabat di tempat mewabahnya SARS harus langsung dicopot. Inilah yang kemudian menyebabkan upaya  pejabat di wilayah itu menyembunyikan fakta tentang epidemi demi mengamankan kedudukan. Namun demikian, karena itu, masyarakatlah yang menjadi korbannya.

Mr. Liao mengatakan : “Ini juga suatu fenomena yang sering terjadi. Yakni mencari korban. Demi menunjukkan sikap membantu dari pejabat bawahan kepada atasan, tidak jarang mereka akan mencari beberapa pejabat yang dijadikan kambing hitam untuk menerima hukuman, yang sengaja ditunjukkan kepada atasan. Ini juga merupakan cara untuk melepas tanggung jawab”.

Menurut laporan, kelompok infeksi di Harbin ini juga telah menyebar di seluruh provinsi. Mr. Zhang, pasien baru terinfeksi yang terjadi di kota Fushun, Liaoning adalah warga yang pernah berjumpa dengan kelompok infeksi di Rumah Sakit Pertama Universitas Kedokteran Harbin. Sedangkan Mr. Zhang ini pada 10 April mengikuti makan malam bersama banyak orang.

(sin/asr)

Video Rekomendasi

https://www.youtube.com/watch?v=dgQWSRLrRQM