AS Secara Resmi Menarik Diri dari Perjanjian Udara Terbuka

oleh Zhang Ting

‘Treaty on Open Skies’ adalah perjanjian yang ditandatangani pada tahun 1992 oleh 35 negara termasuk Amerika Serikat, Rusia, dan sebagian negara Eropa Timur untuk mempromosikan keterbukaan, transparansi kekuatan dan kegiatan militer. Data terbuka menunjukkan bahwa masing-masing negara penandatangan, dapat melakukan pengintaian tak bersenjata melalui udara untuk memeriksa kondisi penerapan berbagai perjanjian pengawasan senjata internasional.

Pada Minggu 22 November 2020, Wakil Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS Cale Brown melalui situs web Kementerian Luar Negeri menyatakan bahwa pada 22 Mei 2020, Amerika Serikat telah menggunakan hak yang diberikan oleh Pasal 15 dalam Perjanjian Udara Terbuka, memberitahu tentang rencana penarikan diri dengan mengirim surat kepada pihak yang menyimpan dan semua negara peserta tanda tangan. Dan, penarikan diri baru efektif 6 bulan sejak tanggal pemberitahuan dikeluarkan. Dengan demikian, mulai 22 November ini Amerika Serikat sudah resmi keluar dari perjanjian tersebut.

Amerika Serikat mengutuk Rusia yang selama bertahun-tahun melanggar perjanjian tersebut. Hal ini yang mendorong Amerika Serikat untuk menarik diri. Pada awal musim panas tahun ini, Pentagon telah mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan : Menjadi sangat jelas bahwa ketika Rusia gagal memenuhi janjinya, tidak lagi menjadi kepentingan terbaik Amerika Serikat untuk terus menjadi pihak dalam perjanjian tersebut.

Sebelum rencana menarik diri, beberapa anggota parlemen AS juga menyatakan keraguan mereka tentang perjanjian tersebut dan mendorong Amerika Serikat untuk menarik diri dari perjanjian. Dengan mengandalkan satelit pengintai canggih di luar angkasa, Amerika Serikat dapat mengumpulkan intelijen yang diperlukan, walau hal ini tidak termasuk dalam batas-batas perjanjian. Tapi, Rusia adalah penerima keuntungan dari perjanjian itu. Karena perjanjian ini, pesawat pengintai Rusia di masa lalu pernah terbang di atas udara Trump National Golf Club Bedminster dan ibu kota AS.

Beberapa ahli percaya bahwa penarikan Amerika Serikat dari perjanjian mengirimkan sinyal kepada dunia luar, bahwa Trump sedang bersiap untuk menarik diri dari perjanjian kontrol senjata utama yang tersisa dengan Rusia, yakni Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis (Strategic Arms Reduction Treaty. New START).

Perjanjian ‘New START’ membatasi penempatan jumlah hulu ledak nuklir tidak lebih dari 1.550 bagi Amerika Serikat dan Rusia. Perjanjian juga membatasi penyebaran rudal balistik antarbenua, rudal balistik yang diluncurkan kapal selam, dan pembom berat yang dilengkapi dengan hulu ledak nuklir. Selain itu, jumlah peluncur yang digunakan untuk meluncurkan hulu ledak nuklir juga dibatasi. Perjanjian itu akan berakhir pada bulan Februari tahun depan.

Pada bulan Juni tahun ini, Amerika Serikat dan Rusia mengundang Tiongkok untuk menghadiri pertemuan pengendalian senjata di Austria. Amerika Serikat menyatakan bahwa ketiga negara perlu melakukan negosiasi pengendalian senjata dengan itikad baik. Tetapi Tiongkok menolak untuk berpartisipasi.

Presiden Trump telah berulang kali mendesak Beijing untuk bergabung dalam pembicaraan antara Amerika Serikat dan Rusia untuk membahas kesimpulan dari perjanjian kontrol senjata nuklir yang baru. Trump pernah menyatakan bahwa komunis Tiongkok, tidak terikat oleh perjanjian pengendalian senjata yang ditandatangani oleh Amerika Serikat dan Rusia. Oleh karena itu dapat dengan sekuat kemampuan untuk mengembangkan dan menyimpan rudal. Hal inilah yang tidak dapat diterima. (sin)

Keterangan Foto : Pesawat pengintai AS OC-135. (Charles J. Haymond/US Air Force/AFP)

Video Rekomendasi :

https://www.youtube.com/watch?v=bX_2ZBa6BLk