Pandemi di Hong Kong Memburuk, Kamar Mayat Penuh Hingga Kontainer Berpendingin Dipindahkan untuk Tempat Jenazah

Li Ming

Situasi pandemi di Hong Kong terus memburuk, dengan peningkatan tajam dalam jumlah kasus yang dikonfirmasi COVID-19  dan tingginya angka kematian. Dilaporkan bahwa rumah sakit dan kamar mayat di Hong Kong tidak dapat mengatasi peningkatan jumlah kematian secara tiba-tiba. Bahkan, ada kasus di mana pasien dan jenazah berdampingan di ruang gawat darurat. Pihak berwenang harus segera memanggil beberapa kontainer berpendingin untuk sementara waktu menyimpan mayat.

Pada Kamis (3/3/2022), Pusat Perlindungan Kesehatan Departemen Kesehatan Hong Kong melaporkan 56.827 kasus baru yang dikonfirmasi dalam 24 jam terakhir dan 144 kasus kematian akibat virus tersebut. Hingga hari itu, gelombang kelima pandemi di Hong Kong telah menginfeksi lebih dari 337.000 orang dan total 1.153 pasien yang meninggal dunia di rumah sakit umum.

Sehari sebelumnya pada 2 Maret, Hong Kong secara resmi melaporkan sebanyak 55.353 kasus baru yang dikonfirmasi dalam sehari, dan 117 kasus kematian baru yang dikonfirmasi dalam sehari.

Dikarenakan jumlah pasien yang dikonfirmasi dan kematian terus meningkat, sistem medis Hong Kong hampir kolaps. Bahkan ada situasi di mana “mayat ditaruh di tempat terbuka” dan kontainer berpendingin digunakan untuk menyimpan sementara jenazah orang yang meninggal dunia. 

Menurut sebuah laporan oleh Jaringan Berita Taiwan pada 3 Maret, beberapa rumah sakit terpaksa menempatkan mayat orang yang meninggal dunia di udara terbuka. Pasalnya, rumah sakit dan kamar mayat sudah penuh. Pihak berwenang Hong Kong langsung menyiapkan kontainer berpendingin di luar beberapa rumah sakit umum dan rumah duka untuk menyimpan sementara jenazah.

Pada hari yang sama, Hong Kong 01.com juga melaporkan bahwa empat kontainer besar berpendingin putih ditempatkan di sudut tempat parkir terbuka Po Fook Memorial Hall di Tai Wai, Hong Kong. Sekelompok pekerja berada di tempat kejadian dengan segera memasang fasilitas listrik.

Menurut laporan, kontainer putih telah ditempatkan di luar kamar mayat Rumah Sakit Elizabeth untuk sementara waktu. Bahkan dua kontainer ditempatkan di lapangan basket di sebelahnya, tetapi ada catatan di luar kontainer yang bertuliskan “Hati-hati dengan limbah medis”. Penjaga keamanan mengatakan tidak jelas untuk apa kontainer tersebut digunakan.

Dua kontainer juga ditempatkan di tempat parkir dekat kamar mayat Rumah Sakit Caritas, dikelilingi oleh tempat air warna oranye.  Sebuah mobil jenazah diparkir di sebelah kontainer, yang tampaknya digunakan untuk menyimpan jenazah.

Faktanya, Dr. Larry Lee, manajer administrasi kepala Otoritas Rumah Sakit Hong Kong, mengatakan pada konferensi pers tentang pandemi pada 2 Maret bahwa karena kepadatan kamar mayat, Departemen Kesehatan baru-baru ini mengirim staf tambahan untuk mempercepat proses evakuasi, pengangkutan dan pemrosesan jenazah untuk dipindahkan ke kamar mayat umum.

 Dia mengungkapkan bahwa pihak berwenang telah menghubungi pemasok untuk memasang kontainer berpendingin di berbagai rumah sakit, yang diperkirakan akan menyimpan sementara sekitar 500 jenazah.

Seorang juru bicara Food and Environmental Hygiene Department (FEHD) menginformasikan bahwa karena peningkatan jumlah jenazah yang harus dikremasi, krematorium telah meningkatkan jumlah sesi kremasi yang dapat dipesan setiap hari dari 130 -140 sesi pada hari biasa menjadi 180-200 sesi saat ini. Kecuali untuk Cheung Chau, semua Tempat diperpanjang untuk dibuka sampai pukul 20:00, dan industri pemakaman serta keluarga diundang untuk menangani pemakaman sesegera mungkin.

Media Hong Kong mengungkapkan bahwa dikarenakan terjadinya peningkatan pesat dalam jumlah pasien dan kematian akibat COVID-19, rumah sakit umum mengalami kelebihan beban, dan mayat orang yang meninggal dunia tidak dapat dipindahkan ke kamar mayat secara langsung. Sehingga pada satu titik, mayat tetap di ruang gawat darurat selama lebih dari 8 jam  dan tidak  langsung dipindahkan.

Dr. Larry Lee juga mengakui pada konferensi pers pada 27 Februari lalu, bahwa setelah seorang pasien meninggal dunia di ruang gawat darurat, ada “penundaan” karena alasan ini, yang mengakibatkan mayat terdampar di UGD.

Bloomberg melaporkan pada 1 Maret, bahwa menurut statistik dari Universitas Johns Hopkins, dalam 10 hari terakhir pada bulan Februari, Hong Kong memiliki rata-rata 8 kasus kematian per juta orang, kedua setelah pandemi omicron di Amerika Serikat pada Januari tahun ini. Puncaknya, mencapai rekor sembilan kasus kematian per juta menunjukkan bahwa tingkat kematian Hong Kong dalam gelombang pandemi terbaru sudah menjadi yang “tertinggi” di antara negara-negara maju di dunia. (hui)