Guru Bahasa Inggris dan Mahasiswa di Beijing Berdagang di Lapak dalam Pasar Malam Demi Mencari Nafkah

  • Baru-baru ini, beberapa kota tingkat pertama di Tiongkok mulai melonggarkan pembatasan terhadap para pedagang kaki lima. Jumlah warga Beijing yang mendirikan lapak di pasar malam juga meningkat, bahkan guru bahasa Inggris dan mahasiswa mendirikan lapak di pasar malam untuk mencari nafkah
  • Beberapa ekonom menunjukkan bahwa pihak berwenang terpaksa mengambil langkah-langkah ini sebagai upaya terakhir untuk bertahan dalam situasi ekonomi Tiongkok yang sedang memburuk, daya konsumsi masyarakat rendah, dan tingkat pengangguran melonjak. Ini adalah refleksi bahwa hari-hari sulit bagi rakyat Tiongkok baru saja dimulai

 oleh Tang Di

Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi Tiongkok terus memburuk, menyebabkan tingkat pengangguran kaum muda tetap pada level tinggi mendekati 20%. Dalam keadaan seperti itu, Beijing, Shanghai, Shenzhen, Kunming, Hangzhou dan kota-kota tingkat satu secara berturut-turut mengumumkan pelonggaran peraturan tentang pedagang kaki lima, yang mana tidak lagi melarang warga berdagang “di pinggir jalan”, media resmi bahkan mulai mempromosikan “ekonomi emperan”.

Seorang reporter dari media Taiwan “EBC News” baru-baru ini mengunjungi Pasar Malam Tongzhou di pinggiran kota Beijing, menemukan bahwa semakin banyak anak-anak muda yang mendirikan lapak di dalam pasar malam, dan banyak dari mereka adalah intelektual berpendidikan tinggi yang juga mencari nafkah dengan menjajakan dagangannya di lapaknya dalam pasar malam.

Jeff, seorang guru bahasa Inggris yang berjualan di pasar malam mengatakan dalam sebuah wawancara, bahwa ia kehilangan kesempatan untuk menghasilkan uang dengan memberikan les bahasa Inggris kepada muridnya karena “kebijakan pengurangan ganda” yang dikeluarkan Departemen Pendidikan Tiongkok pada tahun 2021, setelah itu dia beralih kerja di bidang yang berkaitan dengan perdagangan internasional. Namun kesempatan itu pun sirna akibat COVID-19. Sekarang ia terpaksa bergelut untuk menghidupkan keluarganya dengan berjualan di pasar malam.

Jeff mengatakan : “Coba Anda lihat itu pekerjaan baru atau peluang baru, sebenarnya tak jauh berbeda dengan mengelabui diri sendiri. Memang berjualan di emperan bisa menjadi penyelamat, membantu mengatasi kebutuhan yang darurat, tetapi dalam jangka panjang, itu hampir tidak ada artinya”.

Ada juga seorang wanita muda cantik yang menjual mie daging panggang Timur Laut di pasar malam, dia mengatakan bahwa restorannya tutup karena wabah, dia belum lulus dari universitas, sehingga dia dapat membantu orang tua meringankan beban hidup dengan berjualan di pasar malam.

Menurut sebuah laporan “chinatimes.net.cn”, setidaknya 28 kota di Tiongkok telah membuka kesempatan kepada warga untuk berdagang emperan.

Dalam hal ini, Tsai Ming-Fang, seorang profesor dari Departemen Ekonomi Industri di Universitas Tamkang, Taiwan memberi penjelasan dalam sebuah wawancara dengan Voice of America pada 9 Mei, bahwa ketika pabrikan asing menarik diri dari daratan Tiongkok, ekonomi menurun dan lapangan kerja menyusut, dan refleksi yang paling langsung adalah bahwa permintaan dalam negeri anjlok. Sedangkan ekonomi kaki lima dapat dijadikan harapan oleh warga untuk membantu memenuhi beberapa kebutuhan sehari-hari mereka.

“Saya pikir kebangkitan kembali ekonomi emperan, sampai batas tertentu mewakili perubahan dalam seluruh struktur ekonomi Tiongkok”, kata Tsai Ming-Fang.

Wu Qiang, seorang ilmuwan politik dan komentator Independen Beijing mengatakan, bahwa selama periode tiga tahun epidemi, masyarakat Tiongkok telah menjadi sasaran kontrol yang sangat ketat, dan sekarang mereka menghadapi pengangguran yang tinggi, kegagalan usaha kecil dan menengah, dan ekonomi yang hampir depresi. Lapangan kerja terus menyempit. Dengan latar belakang ini, pihak berwenang terpaksa mengizinkan warga menyambung hidup dengan berdagang di pinggir jalan. Ini adalah “kebijakan yang cukup marjinal tanpa kebijakan yang efektif dan substantif”. Bisa jadi ini menjadi catatan yang paling menyedihkan dalam sejarah RRT.

Wu Qiang mengatakan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir, telah terjadi konflik yang tak terhitung jumlahnya antara warga sipil dengan petugas pamong praja. Beberapa tahun yang lalu, Beijing mengusir ratusan ribu “populasi kelas bawah” di malam musim dingin. Jenis konflik ini bukan hanya masalah sesederhana citra kota, tapi masalah ruang hidup masyarakat kelas bawah.

Sebelumnya, Davy J.Wong, seorang ekonom yang berbasis di Amerika Serikat, juga mengatakan dalam sebuah wawancara dengan The Epoch Times pada 5 Mei, bahwa pihak berwenang Beijing tiba-tiba mengizinkan warga sipil berjualan di pinggir jalan karena pihak berwenang sadar bahwa perekonomian sedang memburuk, daya konsumsi menurun.

Dia mengatakan bahwa setelah tiga tahun wabah, simpanan rakyat Tiongkok pada dasarnya telah habis terpakai. Setelah mencabut kebijakan pencegahan epidemi yang ketat, rakyat menemukan bahwa simpanan mereka benar-benar ludes.

Davy J.Wong mengatakan : “Daya konsumsi masyarakat masih akan terus merosot di masa depan, perekonomian (Tiongkok) secara keseluruhan akan turun. Setelah ekonomi sempat rebound singkat karena pencabutan lockdown ketat, hari-hari sulit yang sesungguhnya segera akan menyusul.” (sin)