Ibu Meninggal dan Meninggalkan Brankas Uang, Putranya Tidak Tahu Kata Sandi Selama Setahun, Cucu Berusia 6 Tahun Mengatakan Sesuatu dan Brankas Itu Akhirnya Terbuka

EtIndonesia. 15 tahun yang lalu, ayah Liu Dajun meninggal, dan sejak itu, dia tinggal bersama ibunya.

Pada awalnya, setiap tahun pada peringatan kematian ayahnya, Liu Dajun akan bergegas pulang untuk mengunjungi makan ayahnya bersama ibunya. Belakangan, karena kesibukan pekerjaan dan kelahiran anaknya, secara bertahap dia semakin jarang pulang. Adapun peringatan kematian ayahnya, dia secara alami tidak punya waktu untuk kembali.

Beberapa tahun yang lalu, dia pulang ke rumah dan mendapati ibunya memiliki banyak uang—warisan yang ditinggalkan ayahnya, dan gaji pensiunnya. Dia khawatir ibunya akan kehilangan uang itu ketika dia sudah tua, jadi dia membujuk ibunya untuk menyimpan uang itu di bank.

Tetapi ibunya berkata: “Ibu tidak tahu cara menyimpan uang di bank, dan kaki ibu tidak nyaman. Paling aman menyimpan uang di rumah.”

Putranya selalu khawatir, jadi dia membeli brankas dan memberikannya kepada ibunya untuk menyimpan uang di dalamnya.

Setahun yang lalu, ibunya meninggal. Sebelum dia meninggal, dia memberi tahu Liu bahwa dia meninggalkan uang 300.000 di brankas. Namun saat itu, Liu lupa meminta password.

Setelah kematian ibunya, Liu melihat brankas yang kuat dan tidak tahu, apa kata sandinya? Ulang tahun ibu? Ulang tahun ayah? ulang tahun dia sendiri? Ulang tahun cucunya?

Singkatnya, dia telah mencoba berkali-kali, dan sudah setahun penuh, tetapi dia belum juga mendapatkan kata sandinya.

Selama periode ini, dia ingin membuka brankas dengan paksa, tetapi pertama-tama, sangat merepotkan untuk membuka brankas dengan paksa, dan menghabiskan banyak uang. Dia berpikir itu merepotkan, jadi dia melepaskan ide itu. Setiap kali dia tidak banyak pekerjaan, dia akan memikirkan kata sandinya.

Dua hari yang lalu, dia mencoba 3 atau 4 kata sandi lagi, tetapi itu tidak juga terbuka, dia mengeluh dengan kesal: “Ups, kata sandinya apa ini?”

Pada saat ini, putranya yang berusia 6 tahun, yang sedang bermain di sampingnya, berkata dengan santai: “Aku tahu!”

“Apa?” Liu Dajun mengguncang bahu putranya dengan penuh semangat: “Ayo, katakan apa kata sandinya?”

Putra kecilnya itu mengatakan: “Kematian Kakek.”

Dia terkejut, dan tidak pernah menyangka bahwa kata sandinya adalah ini.

Ternyata suatu ketika, cucu kecil itu tidak sengaja melihat neneknya memegang brankas dan menangis diam-diam. Cucu kecil itu bertanya ada apa, dan neneknya berkata bahwa semua orang telah melupakan peringatan kematian kakek, yang membuatnya sangat sedih.

Dia kemudian memasukkan nomor hari kematian ayahnya, dan benar saja, brankas dapat dibuka. Melihat uang tunai 300.000 di dalamnya,dia sangat senang . Dia merasa bahwa dia terlalu kasihan pada orangtuanya.

Dia berlutut di depan brankas dan diam-diam bersumpah bahwa dia pasti akan selalu mengunjungi makan orangtuanya.

Kesimpulan:

Dalam hidup, orangtua banyak berkorban untuk anak-anaknya. Tapi kenyataannya, kita bisa dengan mudah melupakan apa yang telah dilakukan orangtua kita kepada kita.

Saya berharap para pembaca bisa sering pulang untuk melihat orangtua, terima kasih orangtua.(yn)

Sumber: hker.life