Fenomena Usaha Swasta Tiongkok : Pengusaha Merusak Sarana Produksi, Jumlah Pengangguran Membludak

Epochtimes, oleh Zhang Yujie

Sebuah video yang baru diposting menunjukkan, seorang pemilik bisnis di kota Shenzhen, Tiongkok yang stress karena situasi, merusak sarana produksi miliknya sendiri.

Mr. Ran, seorang warga daratan Tiongkok kepada Radio Free Asia menjelaskan bahwa fenomena merusak sarana produksi itu memang benar terjadi. Ia mengatakan, bahwasanya usaha kecil dan mikro di berbagai tempat, telah berhenti berproduksi dan bangkrut. Itu adalah kenyataan. 

Sumber itu mengatakan : “Sejumlah pemilik bisnis swasta tidak mampu lagi membayar pinjaman, hipotek, sewa, dan gaji karyawan. Sehingga banyak kejadian yang ekstrim”.

Ada juga warga yang mengatakan : “Perusahaan di Eropa dan Amerika Serikat menarik kembali pesanan mereka, Amerika Serikat dan Jepang menarik modal dari daratan Tiongkok, dan pemilik bisnis di Guangdong sedang dalam keadaan resesi. Perusahaan tidak memiliki pesanan, tetapi tetap dipaksa untuk mulai bekerja oleh pemerintah. Tidak ada cara lain, dibakar saja untuk menghentikan kerugian. Dibakar dari lumbung sampai ke pabrik, akhirnya tidak ada yang tersisa”.

https://www.youtube.com/watch?v=0BVjaB8vx8U&feature=emb_title

Video : https://www.youtube.com/watch?time_continue=3&v=0BVjaB8vx8U&feature=emb_logo

Menurut berita pada 12 April, data dari kelompok HAM Hongkong ‘China Labour Bulletin’ menunjukkan bahwa dalam bulan Maret, terjadi sekitar 50 kasus protes yang dilakukan oleh para pekerja di daratan Tiongkok. Adapun protes itu melibatkan para pekerja di bidang industri jasa, industri transportasi, industri konstruksi dan lainnya. Termasuk beberapa pekerja yang membangun rumah sakit sementara di kota Wuhan.

Geoffrey Crothall, direktur publikasi dari kelompok HAM Hongkong tersebut mengatakan bahwa, protes para tenaga kerja di daratan Tiongkok mulai meningkat secara diam-diam. Protes kali ini terutama karena perusahaan menunggak pembayaran upah. “Meskipun pemerintah menjamin bahwa pekerja akan mendapatkan upah, tetapi dalam kenyatanya tidak”.

Sebuah video yang diunggah oleh seorang warga Tiongkok pekan lalu menunjukkan, sejumlah besar pekerja migran yang bekerja di suatu tempat di bagian selatan daratan Tiongkok menjadi pengangguran. Mereka sedang berkumpul di jalan-jalan, dan hampir semua toko di sekitarnya tidak berani membuka usaha.

https://www.youtube.com/watch?time_continue=8&v=zdkPbvz7rEY&feature=emb_title

Video : https://www.youtube.com/watch?time_continue=2&v=zdkPbvz7rEY&feature=emb_logo

Dalam menghadapi krisis mata pencaharian yang disebabkan oleh epidemi, pendekatan yang dilakukan oleh komunis Tiongkok berlawanan dengan negara-negara lain. Banyak negara membiarkan warga tetap tinggal di rumah dan membagikan bantuan darurat berupa uang untuk menyelamatkan baik perusahaan maupun individu. 

Namun demikian, komunis Tiongkok tidak membagikan uang darurat, malahan meminta warga untuk pergi bekerja. Bahkan melakukan investasi proyek-proyek infrastruktur yang nilainya mencapai puluhan triliun renminbi. 

Gong Shengli, seorang ekonom independen di Tiongkok mengatakan bahwa, satu hal yang dapat dipastikan adalah bahwa otoritas berinvestasi dalam proyek-proyek infrastruktur seperti kereta api, jalan raya, bandara, dermaga dan lainnya yang laba atas investasi (ROI) -nya Bahkan sulit diperoleh dalam waktu 10, 20, atau 50 tahun.

Sedangkan alasan perusahaan asing dari berbagai negara menarik modal mereka dari daratan Tiongkok adalah untuk menghindari risiko. 

Komunis Tiongkok menyembunyikan fakta tentang epidemi di Tiongkok telah menyebabkan terjadinya pandemi global sehingga merusak ekonomi dunia. 

Perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa semuanya kian memantapkan langkah untuk menjauh komunis Tiongkok. 

Baik Amerika Serikat maupun  Jepang, secara publik telah menginformasikan pemberian dana tunjangan kepada perusahaan yang ingin hengkang dari Tiongkok, Yang mana, tak peduli mau kembali ke negara asal atau ke negara lain di luar Tiongkok. Jerman memutuskan untuk mengamandemen undang-undang ‘Perdagangan Luar Negeri dan Cara Pembayaran’ untuk mencegah perusahaan Jerman diakuisisi oleh modal asing.

Perusahaan pemimpin pada berbagai bidang industri di Tiongkok sedang runtuh 

Baru-baru ini, masih ramai diperbincangkan oleh netizen bahwa perusahaan perumahan berskala besar ‘Country Garden’ dan Evergrande Group sedang mem-PHK karyawan. 

Beberapa warga mengatakan bahwa karyawan yang di-PHK dari kedua perusahaan pengembang perumahan besar ini mengirim surat lamaran kerja ke sejumlah besar perusahaan.

Perusahaan Country Garden mem-PHK sekitar 30.000 orang karyawan. Akan tetapi ketika dilakukan konfirmasi kepada perusahaan, mereka mengatakan bahwa 25.000 orang itu sedang dipindahtugaskan. 

Namun demikian, dokumen perusahaan tersebut menunjukkan, perusahaan sedang melakukan penciutan usaha di segala bidang. Sedangkan kabar yang beredar adalah bahwa, penggabungan yang sebelumnya 14 bagian dijadikan 6 demi efisiensi. Netizen menyebutkan, dapat dibayangkan berapa banyak karyawan yang terkena PHK.

Dilaporkan bahwa Country Garden masih memiliki sejumlah besar utang yang harus dibayar. Adapun utang jangka pendek yang harus dilunasi dalam 1 tahun ini berjumlah sekitar 116,3 miliar renminbi

Selain itu, SAIC Group, salah satu dari 4 kelompok pembuat mobil utama di daratan Tiongkok, terkena pemotongan gaji. 

Hasil penjualan kelompok tersebut pada kuartal pertama turun 56%. Perusahaan mobil lain, Jiangling, Beixian, Weimar juga menerapkan pemotongan gaji.

Orang dalam Hisense Group, perusahaan pembuat alat elektronik konsumen multinasional asal Tiongkok mengungkapkan, kepada media Caixin bahwa perusahaannya akan mulai mem-PHK dengan skala lebih dari 10.000 orang, dan rencananya selesai pada akhir bulan Mei. 

Hisense menanggapi dengan mengatakan bahwa jumlah yang di-PHK belum pasti. Tetapi “Situasi bisnis perusahaan memang sedang suram, dan beberapa langkah seperti pemotongan gaji eksekutif dan PHK terpaksa dilakukan”, katanya.

Keterangan Gambar: Di bawah tekanan besar ekonomi, ada pemilik bisnis yang mengalami stress berat hingga merusak sarana produksi milik mereka sendiri, bahkan ada yang membakar pabriknya. Gambar tersebut menunjukkan sejumlah besar pekerja yang menganggur di suatu tempat di bagian selatan daratan Tiongkok. (video screenshot) 

(Sin/asr)

Video Rekomendasi