Berbicara Adalah Sebuah Seni dalam Interaksi Antarpersonal

EtIndonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak pernah lepas dari aktivitas berbicara. Berbicara merupakan alat paling penting bagi manusia untuk bertukar pikiran dan perasaan. Oleh karena itu, secara umum dapat dikatakan bahwa orang yang pandai berbicara cenderung memiliki lebih banyak teman, sementara mereka yang kurang pandai berbicara cenderung kesulitan dalam membangun hubungan sosial.

Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan “pandai berbicara”? Apakah berbicara panjang lebar, lancar dan berwawasan luas, mampu membuat orang tertawa atau serius, serta fasih mengutip berbagai referensi sudah cukup disebut pandai berbicara? Tidak selalu.

Pakar linguistik terkenal, Wang Li, pernah mengatakan: “Perempuan yang marah di jalan pun bisa bicara secepat kilat, begitu juga penjual obat keliling yang pandai menjual dagangan mereka—tetapi kita tetap tidak bisa menyebut mereka sebagai orang yang pandai berbicara.”

Ada juga orang yang pandai mengarang cerita, lihai menipu orang dengan wajah tak bersalah, dan menganggap itu sebagai keterampilan berbicara. Tapi akhirnya, orang-orang seperti itu justru sering menjadi korban dari kecerdikannya sendiri—semakin pandai mereka bersilat lidah, semakin cepat pula mereka kehilangan kepercayaan orang lain.

Berbicara Memang Seni yang Sulit Dikuasai

Berbicara adalah seni dan keterampilan yang sulit. Orang yang benar-benar mampu menguasai seni berbicara dengan tepat sangat jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. 

Dalam masyarakat ada pepatah: “Satu kalimat bisa membuat orang tertawa, satu kalimat bisa membuat orang naik pitam.”

Tapi, orang seperti ini—yang mampu menempatkan kata pada tempatnya—jumlahnya sangat sedikit.

Beberapa tahun lalu, sempat populer sebuah buku berjudul “Seni Berbicara” yang memaparkan banyak teknik komunikasi yang efektif. Namun, saat kita benar-benar berada dalam situasi nyata, sangat sulit untuk mengingat dan menerapkannya. Karena itu, kemampuan berbicara tidak bisa dipalsukan—dalam beberapa kalimat saja, watak asli seseorang akan terlihat.

Sebagian orang memilih untuk berbicara sesedikit mungkin, berpegang pada prinsip “semakin banyak bicara, semakin besar kemungkinan salah ucap.” Tapi, ini juga bukan solusi yang tepat. Sebab, jika seseorang memang tidak pandai berbicara, bahkan satu atau dua kalimat saja bisa membuat orang merasa tidak nyaman.

Hal ini serupa dengan orang yang tidak pandai menulis: baru menulis empat atau lima kalimat, tiga di antaranya sudah tidak bermutu. Sebaliknya, penulis yang handal bisa menyusun tulisan panjang tanpa satu pun kalimat yang mubazir.

Gaya Bicara Menunjukkan Karakter

Cara seseorang berbicara adalah cerminan langsung dan akurat dari karakter dan pengalaman hidupnya.

  • Ada orang yang bicara tanpa berpikir, mengatakan apa saja yang ada di kepalanya tanpa pertimbangan. Bahkan ketika menyampaikan kekurangan orang lain, ia melakukannya tanpa tedeng aling-aling.

   Orang seperti ini biasanya jujur dan terus terang, tipe “apa adanya”, tetapi juga cenderung minim pengalaman sosial dan kurang bisa menyesuaikan diri dengan norma-norma pergaulan.

  • Sebaliknya, ada orang yang terlalu berputar-putar dalam berbicara, terlalu hati-hati, sampai akhirnya tidak menyampaikan maksudnya secara jelas. Kadang, mereka bahkan terlalu memuji dan mengubah kekurangan orang lain menjadi kelebihan dengan kata-kata manis yang tidak jujur. Ini justru bisa membuat orang lain merasa palsu dan tidak tulus.

Lalu, bagaimana seharusnya?

Orang yang benar-benar pandai berbicara, akan tahu bagaimana memberikan pujian yang tulus dan sewajarnya atas kelebihan orang lain, dan saat menghadapi kekurangan orang lain, akan menyampaikan dengan cara yang halus dan menjaga harga diri lawan bicara.

Mereka adalah orang-orang yang kaya akan pengalaman hidup dan sosial, tahu kapan harus bicara, tahu kepada siapa bicara, dan tahu bagaimana menyesuaikan nada dan isi bicara sesuai situasi.

Berbicara di Dunia Kerja: Seni Komunikasi yang Harus Dikuasai

Di lingkungan kerja, setiap orang setiap hari pasti akan berinteraksi—baik dengan rekan kerja maupun atasan. Maka kemampuan berbicara sangat menentukan: Apa yang dikatakan, bagaimana cara menyampaikannya, mana yang bisa diucapkan dan mana yang tidak boleh, semua itu mencerminkan sejauh mana seseorang memahami seni berbicara.

Banyak orang mengalami kesulitan di tempat kerja bukan karena kurang cakap dalam tugas, melainkan karena tidak tahu cara berbicara yang tepat.

Contohnya adalah Budi, seorang staf administrasi di sebuah lembaga pemerintah. Dia dikenal pendiam dan introvert, tapi saat dimintai pendapat, jawabannya selalu menyinggung perasaan orang lain.

Suatu hari, seorang rekan kerja membeli baju baru. Saat teman-temannya memuji, Budi  justru berkata: “Kamu terlalu gemuk, baju itu nggak cocok. Warna itu terlalu mencolok untukmu, sebaiknya pilih yang lain.”

Meskipun apa yang dikatakannya tidak sepenuhnya salah, namun cara penyampaiannya terlalu keras dan tanpa empati. Teman yang menjadi sasaran komentar merasa tersinggung, dan orang-orang di sekitarnya pun merasa canggung.

Lambat laun, Budi dijauhi oleh rekan-rekannya. Tak ada yang ingin lagi meminta pendapatnya. Dan meski dia tahu dirinya tidak disukai karena cara bicaranya, dia tetap tidak bisa mengubah kebiasaannya berbicara secara blak-blakan.

Sekarang, hampir tak ada orang yang mau berbincang dengannya di tempat kerja. Dia sendiri menyadari mengapa orang-orang menjauhinya, namun tak mampu mengubah cara berkomunikasinya.

Penutup: Komunikasi Adalah Kompetensi yang Perlu Dinilai

Kasus seperti Budi tidak sedikit jumlahnya. Orang yang tidak pandai berbicara sering kali menimbulkan masalah dalam komunikasi. Karena itu, untuk posisi pekerjaan yang mementingkan kemampuan komunikasi, proses rekrutmen sebaiknya memperhatikan cara bicara calon pelamar.

Berbicara bukan sekadar melontarkan kata. Ia adalah cermin kepribadian, kecerdasan emosional, serta kemampuan bersosialisasi seseorang. Dalam banyak situasi, satu kalimat bisa mendekatkan atau menghancurkan hubungan.

Maka dari itu, menguasai seni berbicara adalah bekal penting dalam membangun relasi yang sehat, baik dalam pergaulan sosial maupun dalam dunia profesional. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine