Gunung Berapi di Jepang Meletus Setinggi 5.000 Meter, Kagoshima Diguncang Lebih dari Seribu Kali, Warga Mengungsi

Baru-baru ini, gugusan pulau Tokara di lepas pantai Prefektur Kagoshima, Jepang, diguncang lebih dari seribu kali, membuat warga setempat berada dalam kondisi fisik dan mental yang sangat tertekan. Saat ini, warga pulau tersebut telah mulai mengungsi pada 4 Juli dini hari dan diperkirakan akan tiba di Pelabuhan Kota Kagoshima pada sore harinya. Selain itu, Gunung Shinmoedake di Pegunungan Kirishima, yang berada di perbatasan Prefektur Kagoshima dan Miyazaki, juga meletus dengan kolom abu vulkanik mencapai ketinggian 5.000 meter.

EtIndonesia. Gempa berkekuatan 5,5 mengguncang wilayah laut di sekitar gugusan pulau Tokara, sekitar pukul 16:13 waktu setempat pada 3 Juli 2025.  Pulau Akuseki di Desa Toshima mengalami intensitas guncangan hingga level 6 lemah. Sejak 21 Juni hingga 3 Juli, wilayah tersebut telah mencatat lebih dari 1.100 gempa yang dirasakan.

Sementara itu, Gunung Shinmoedake di Pegunungan Kirishima yang terletak di perbatasan Prefektur Kagoshima dan Miyazaki telah meletus terus-menerus sejak 27 Juni, dengan total aktivitas vulkanik tercatat sebanyak 2.890 kali. Sekitar pukul 13:49 waktu setempat pada 3 Juli, gunung tersebut kembali meletus dan menghasilkan kolom abu setinggi 5.000 meter, yang menyebabkan 55 penerbangan di Bandara Kagoshima dibatalkan.

Gugusan pulau Tokara terletak di bagian selatan Prefektur Kagoshima dan terdiri dari 12 pulau, di mana 7 di antaranya berpenghuni.

Menurut laporan NHK (Japan Broadcasting Corporation), pada 3 Juli, Kepala Desa Toshima, Genichiro Kubo, hadir secara daring dalam rapat markas penanggulangan bencana prefektur dan mengumumkan rencana evakuasi sukarela bagi warga yang ingin mengungsi pada 4 Juli dini hari.

Dalam konferensi pers, Kubo menyatakan bahwa semua 80 warga dari 38 rumah tangga di Pulau Akuseki dalam keadaan selamat. Namun, demi keselamatan ke depannya, pihak desa telah mulai mendata keinginan warga dan menilai apakah perlu mengevakuasi sebagian dari mereka ke pulau utama.

Ia mengatakan bahwa kombinasi antara gempa susulan yang terus terjadi dan suhu tinggi telah membuat warga kelelahan secara fisik dan mental. Oleh karena itu, rencana evakuasi mulai dijalankan, bersamaan dengan pencarian lokasi penampungan di pulau utama.

Laporan menyebutkan bahwa rombongan pertama warga telah berangkat  4 Juli pada pukul 02.00 dini hari waktu setempat dari Pelabuhan Naze di Pulau Amami Ōshima, dan akan singgah di tujuh pulau berpenghuni sebelum tiba di Pelabuhan Kota Kagoshima sekitar pukul 18.00 sore. Rencana evakuasi ini direncanakan berlangsung selama seminggu, namun bisa diperpanjang tergantung pada kondisi aktivitas gempa.

Badan Meteorologi Jepang juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai aktivitas gempa dan kondisi hujan ke depan, serta memperhatikan risiko runtuhnya bangunan dan tanah longsor. Karena aktivitas gempa belum mereda, masih ada potensi terjadinya gempa dengan intensitas hingga level 6.

Selain itu, data pemantauan gempa global dalam format 3D menunjukkan bahwa gugusan pulau Tokara telah mengalami lebih dari seribu kali gempa, dan tumpukan data pada peta 3D terlihat seperti sebuah pencakar langit, mencerminkan frekuensi gempa yang jauh melampaui negara-negara lain di dunia.

Pada 3 Juli pukul 17:00, Kepala Sekretariat Kabinet Jepang, Yoshimasa Hayashi, bersama Badan Meteorologi Jepang menggelar konferensi pers darurat dan menyatakan bahwa pemerintah telah menguasai informasi terkait bencana dan tengah mengerahkan seluruh daya untuk menangani perkembangan situasi. Mereka juga menyerukan masyarakat untuk sangat waspada, terutama warga yang tinggal di wilayah dengan intensitas gempa level 6 lemah agar terus mengikuti informasi evakuasi.

Saat ini, Kantor Perdana Menteri Jepang telah meng-upgrade pusat koordinasi menjadi Ruang Tanggap Darurat Pemerintah.

Terkait isu “ramalan gempa besar pada 5 Juli” yang beredar di internet, Badan Meteorologi Jepang kembali menegaskan bahwa hal itu tidak memiliki dasar ilmiah. Mereka menekankan bahwa saat ini tidak ada cara untuk memprediksi kapan rangkaian gempa akan berhenti, namun masyarakat diimbau untuk selalu siap siaga menghadapi bencana.

Ayaki Ebitada, kepala Divisi Pemantauan Gempa dan Tsunami di Badan Meteorologi Jepang, mengingatkan agar sebelum malam tiba, masyarakat memilih tempat tidur di lokasi yang aman — di mana furnitur tidak mudah roboh dan barang tidak mudah jatuh — serta meletakkan sepatu dan senter di samping tempat tidur sebagai persiapan untuk evakuasi darurat kapan saja. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Menelusuri Jejak Biksu Xuanzang Melintasi Lanskap Suci Dunia Buddhis yang Telah Hilang

Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya) Salah satu catatan perjalanan paling penting dan paling rinci mengenai Jalur Sutra kuno berasal dari perjalanan biksu Tiongkok Xuanzang (玄奘), yang...

Menurunkan Berat Badan dan Mengubah Penampilan adalah Dua Proyek yang Berbeda

 Chen Jing - Visiontimes.com Kebanyakan orang hanya menjalankan proyek yang pertama. Itulah sebabnya angka di timbangan turun, tetapi bayangan di cermin tampak tidak banyak berubah. Anda...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine