EtIndonesia. Manusia memang begitu: ada yang suka padamu, ada pula yang membencimu; ada yang mengangkatmu tinggi-tinggi (memuji), ada pula yang merendahkanmu. Setiap hati manusia itu kompleks, berubah-ubah, hidup, dan berlapis.
Jika seseorang meremehkanmu namun tetap menjaga hubungan denganmu, umumnya alasannya tak jauh dari dua hal berikut. Memahami isi hati mereka sebenarnya tidak sulit.
- Dia butuh kamu—ada kepentingan/keuntungan pada dirimu
Di dunia yang semakin rumit ini, kepentingan kerap menjadi salah satu pengikat terpenting dalam hubungan antarmanusia.
Kadang, seseorang memandang rendah dirimu, tetapi enggan memutus hubungan karena ada sesuatu pada dirimu yang menguntungkan baginya—dan dia tak ingin kehilangan itu.
Keuntungan ini bisa bersifat material: jaringan relasi, sumber daya, status sosial, dan sebagainya. Bisa juga bersifat nonmaterial: kebijaksanaanmu, pengalamanmu, reputasimu, atau pengaruhmu.
Orang seperti ini sanggup menekan isi hati yang sebenarnya, bersikap manis di depanmu, tetapi semua itu tak lebih dari perhitungan dan pemanfaatan yang rapi.
Seperti Li Chengyin dalam kisah Donggong (East Palace): karena butuh dukungan, dia berpura-pura baik pada Zhao Seshe, menipu dan menyakitinya berulang-ulang. Setelah tujuannya tercapai, dia dengan enteng berkata: “Dari awal sampai akhir, semuanya hanya pemanfaatan.”
Bagi Zhao Seshe, itu adalah luka yang menghancurkan.
Dari sudut pandang si peraih kekuasaan, mungkin ini “wajar” dalam dunia politik. Namun, dari sudut pandang Zhao Seshe, dia tak pernah benar-benar dicintai. Dia hanya berguna. Sekalipun akhirnya dia punya kedudukan tinggi, dalam pernikahannya dia tetap menjadi sosok yang diperalat dan dilecehkan.
- Kamu baik hati, sementara di sekelilingnya tak ada yang bisa dia percaya
Perasaan manusia itu rumit—tidak selalu hitam putih. Terhadap orang yang sama, seseorang bisa merasakan emosi yang berbeda-beda: kadang suka, kadang marah; kadang membela, kadang menghakimi.
Karena itu, saat seseorang meremehkanmu, jika bukan karena kepentingan, maka bisa jadi karena kamu orang yang tulus dan baik, sedangkan dia tak punya siapa pun yang dapat dipercaya. Hanya padamu dia bisa mendapat ketulusan tanpa syarat.
Kita harus akui, menjadi manusia berarti akan ada momen-momen kesepian dan tak berdaya. Pada saat-saat rapuh itu, kebaikanmu bisa menjadi cahaya baginya. Meski dia tak benar-benar menghormatimu di dalam hati, dia sungguh membutuhkan kehangatanmu pada titik tertentu.
Mereka mungkin tak sependapat denganmu, tak mengagumi kemampuanmu, namun mampu menemukan ketenangan yang langka di sisimu. Saat hidupnya limbung, kamu adalah “sebatang jerami penyelamat”—yang orang lain tak bisa berikan, tapi kamu bisa.
Ini bukan berarti mereka akan “habis manis sepah dibuang”. Sering kali mereka memang bermata tinggi terhadap semua orang, bukan hanya terhadapmu. Mereka paham, ketika mereka jatuh, orang lain tak akan menolong—bahkan bersikap dingin saja sudah “sangat baik”. Namun mereka juga tahu, selalu ada orang yang tidak akan menendang saat mereka terjatuh. Meski diperlakukan tak adil, orang itu tetap mau mengulurkan tangan—dan itu kamu.
Mungkin kamu marah: “Dia cuma datang saat butuh penghiburan!”
Anggap saja kamu melakukan kebaikan tanpa berharap balasan. Bila kelak dia tetap sombong dan meremehkanmu, menjaga jarak secara bermartabat bukanlah hal yang terlambat.
Jangan merasa kamu “berlebihan”. Satu kebaikan lagi adalah satu tabungan pahala lagi untuk dirimu.
Penutup
Ada yang bilang: “Jangan pedulikan bagaimana orang lain memandangmu, yang penting kamu tahu siapa dirimu.”
Namun, jika seseorang berulang kali merendahkanmu, sementara sejak awal kamu memilih untuk baik hati, dan pada akhirnya tetap tak mendapat perlakuan setara, tak perlu melanjutkan hubungan itu.
Jauhkan dirimu, beri ruang untuk hatimu.
· Jika ia dekat karena butuh manfaat, sadarilah batasmu.
· Jika ia dekat karena kebaikanmu, tetap berbuat baik, tapi jangan biarkan dirimu terus diremehkan.
· Hormati dirimu sendiri: kebaikan itu mulia, tapi harga diri tetap harus dijaga. (jhn/yn)


