Spesies Terancam Punah “Duyung” Muncul di Laut Tiongkok Selatan, Rekamannya Terungkap

Pada 22 Agustus, kabar kemunculan hewan laut yang dikenal sebagai “duyung” (dugong) di Laut Tiongkok  Selatan menjadi topik hangat dan menarik perhatian publik.

EtIndonesia. Pada 21 Agustus, situs resmi Institut Penelitian Laut Tiongkok Selatan, Akademi Ilmu Pengetahuan PKT, melaporkan bahwa sejak pertengahan Juli lalu, tim pemantau lingkungan di dekat terumbu Yongshu (Kepulauan Spratly) telah berulang kali mendeteksi aktivitas dugong, hewan laut yang berstatus perlindungan tingkat pertama.

Pada 8 Juli, staf lingkungan di pulau tersebut pertama kali melihat seekor “ikan besar” muncul ke permukaan untuk bernapas di perairan barat daya pulau. Dalam hampir sebulan berikutnya, hewan itu terus teramati di kawasan yang sama. Pada 2–3 Agustus, tim peneliti bahkan berhasil merekam video dari jarak dekat.

Tercatat, terakhir kali dugong ditemukan di daratan Tiongkok adalah pada tahun 2008 di Kota Dongfang, Provinsi Hainan, dalam keadaan mati. Pada tahun 2022, dugong resmi diumumkan punah secara fungsional di sepanjang pesisir daratan Tiongkok.

Namun, pakar keanekaragaman hayati laut sekaligus peneliti dugong, Wang Mingan, dalam wawancara dengan Beijing News menilai bahwa kemunculan ini kemungkinan besar hanyalah kasus individu yang kebetulan masuk ke perairan Yongshu, bukan indikasi adanya populasi yang stabil. Menurutnya, dugong tersebut kemungkinan besar berasal dari wilayah Vietnam, Filipina, atau Indonesia, bukan dari populasi lokal yang pulih.

Wang menjelaskan, dari rekaman yang diperoleh, terlihat garis tulang di punggung dugong tersebut cukup menonjol. Padahal, dugong sehat biasanya memiliki punggung yang bulat dan berisi. Jika tulang belakang terlihat jelas, itu menandakan hewan tersebut kekurangan makanan dan dalam kondisi agak kurus.

Ia menambahkan, kondisi kurus itu kemungkinan terkait dengan perjalanannya yang jauh dari habitat padang lamun, sumber makanan utamanya. Meski demikian, dari pola pernapasan dan cara menyelamnya, dugong tersebut belum menunjukkan tanda-tanda kelelahan ekstrim atau kritis, sehingga masih dapat bertahan hidup normal. Dugong itu diperkirakan individu dewasa, tidak dalam bahaya langsung, namun jelas tidak dalam kondisi sehat.

Dugong adalah satu-satunya spesies yang masih hidup dari keluarga Dugongidae (ordo Sirenia), sekaligus salah satu mamalia laut tertua di dunia. Karena betinanya sering terlihat menggendong anak sambil menyusui, masyarakat tradisional menyebutnya sebagai “putri duyung”. 

Dugong terutama hidup di perairan dangkal Samudra Hindia dan Pasifik Barat. Hewan ini masuk dalam daftar IUCN Red List sebagai spesies rentan (vulnerable).

Data menunjukkan dugong dewasa memiliki panjang tubuh sekitar 3 meter dan berat antara 250–900 kilogram. Mereka hanya memakan lamun (seagrass) dan berperan penting dalam menjaga keberlanjutan dan keanekaragaman ekosistem padang lamun. Karena bernapas dengan paru-paru, dugong harus secara berkala naik ke permukaan untuk mengambil udara. Umurnya bisa mencapai lebih dari 70 tahun, dengan masa kehamilan sekitar 13 bulan, masa menyusui sekitar 17 bulan, dan setiap kelahiran hanya menghasilkan satu anak, biasanya dengan jarak beberapa tahun sekali. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Menelusuri Jejak Biksu Xuanzang Melintasi Lanskap Suci Dunia Buddhis yang Telah Hilang

Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya) Salah satu catatan perjalanan paling penting dan paling rinci mengenai Jalur Sutra kuno berasal dari perjalanan biksu Tiongkok Xuanzang (玄奘), yang...

Menurunkan Berat Badan dan Mengubah Penampilan adalah Dua Proyek yang Berbeda

 Chen Jing - Visiontimes.com Kebanyakan orang hanya menjalankan proyek yang pertama. Itulah sebabnya angka di timbangan turun, tetapi bayangan di cermin tampak tidak banyak berubah. Anda...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine