SURABAYA – Acara puncak Bulan Inklusi Keuangan (BIK) dan Financial Expo (Finexpo) 2025 resmi dibuka di Tunjungan Plaza, Surabaya, Kamis (15/5/2025). Acara yang mengusung semangat “Inklusi Keuangan untuk Semua, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju” ini menegaskan komitmen kuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan seluruh pelaku industri jasa keuangan untuk terus memperluas akses dan literasi keuangan hingga ke pelosok negeri.
Acara yang dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi ini diisi dengan sambutan dari Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, Friderika Widari Dewi; Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa; Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, dan Yunita Linda Sari adalah Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur.
Capaian Luar Biasa dan Prinsip No One Left Behind
Dalam sambutannya, Friderika Widari Dewi atau yang akrab disapa Ibu Kiki menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas dukungan semua pihak, terutama Pemprov Jatim, dalam menyukseskan gerakan nasional cerdas keuangan. Ia mengungkapkan, BIK 2025 telah melaksanakan 5.182 kegiatan dengan jumlah peserta mencapai 10,8 juta orang, meningkat 67,87% dari tahun sebelumnya.
“Sebagai informasi yang sangat menggembirakan, telah berhasil dibuka akses keuangan baru untuk masyarakat Indonesia,” ujarnya antusias. Capaian konkret tersebut meliputi:
- 3,55 juta rekening bank baru (+0,27%).
- 643.000 rekening investasi di pasar modal baru (melonjak 310%).
- 951.000 polis asuransi baru (+30%).
- 1,47 juta rekening perusahaan pembiayaan baru.
- 5 juta rekening pergadaian baru (+45%).
- 720.000 akun fintech baru.
Meski data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) menunjukkan literasi keuangan mencapai 66,46% dan inklusi 80,50% (inklusi luas 92%), Ibu Kiki menegaskan bahwa OJK tidak akan berpuas diri. Target jangka panjang nasional adalah 98% inklusi keuangan pada 2045, sebagaimana arahan Presiden agar seluruh masyarakat Indonesia memiliki rekening bank.
“Kita memiliki prinsip no one left behind. Tidak ada satu orang pun yang boleh ketinggalan,” tegasnya. Fokus utama adalah pada kelompok unbanked dan masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Ia juga menitipkan tiga pesan penting kepada seluruh Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK): edukasi harus tepat sasaran, pelaksanaan inklusi yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, serta memperkuat sinergi dan kolaborasi, khususnya dengan pemerintah daerah.
Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih dan kebanggaan karena Jatim terpilih sebagai tuan rumah acara puncak ini. Ia menggarisbawahi bahwa kolaborasi yang terbangun antara OJK Jatim dan Pemprov Jatim tidak hanya kuat, tetapi juga merakyat.
Khofifah memaparkan potensi ekonomi Jawa Timur yang sangat besar. Dengan kontribusi 14,44% terhadap PDB nasional dan 25,36% terhadap PDB Pulau Jawa, Jatim merupakan kekuatan ekonomi terbesar kedua setelah DKI Jakarta. “Kedua terbesar setelah DKI karena memang holding-holding company, holding-holding BUMN rupanya adanya di Jakarta. Coba dibagi, Pak Mahendra,” ujarnya disambut tawa hadirin.
Dengan 38 kabupaten/kota (terbanyak di Indonesia) dan 8.504 desa/kelurahan, Khofifah menegaskan komitmen Jatim sebagai “Gerbang Baru Nusantara”. Dukungan logistik sangat kuat, di mana 21 dari 39 jalur tol laut nasional melalui Jatim, khususnya Tanjung Perak, yang menyuplai 80% logistik untuk Indonesia Timur.
Di bidang SDM, Khofifah mengungkapkan kemajuan signifikan dengan kedatangan Russell Group dari Inggris. Tiga perguruan tinggi grup tersebut sedang dalam proses untuk beroperasi di Jatim. “Kings College London siap mendirikan master degree di sini,” jelasnya. Program beasiswa LPDP telah diperoleh untuk 41 kursi master degree di bidang digital future dan digital economy, menunjukkan kesiapan Jatim menyambut era ekonomi digital.
Ia mengakui bahwa tantangan utama di Jatim saat ini adalah meningkatkan literasi keuangan, yang masih “jomplang” dibandingkan tingkat inklusi. Untuk itu, diseminasi edukasi yang komprehensif tentang layanan keuangan yang mudah, aman, dan terjangkau menjadi fokus utama, sejalan dengan prinsip no one left behind yang digaungkan OJK.
Potensi Sektor Jasa Keuangan untuk Melipatgandakan Perekonomian
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menyampaikan terima kasih kepada Pemprov Jatim atas kerjasamanya. Ia sepakat dengan visi Jatim sebagai gerbang baru Nusantara dan menegaskan bahwa sektor jasa keuangan memiliki peran kunci dalam mewujudkannya.
“Kalau seluruh aset dari perusahaan yang bergerak di sektor jasa keuangan ini digabungkan, maka nilainya… sekitar 145% dari PDB nasional,” papar Mahendra. Angka ini bahkan bisa mencapai 3-4 kali lipat PDB di negara lain. Oleh karena itu, bagi provinsi sebesar dan sedinamis Jatim, potensi sektor jasa keuangannya seharusnya jauh lebih besar dari PDRB-nya sendiri.
Mahendra mengapresiasi capaian program inklusi, seperti Rekening Kejar yang telah menjangkau 86% pelajar nasional. Tingkat literasi dan inklusi Indonesia, menurutnya, sudah setara dengan negara maju. Namun, tantangan ke depan adalah meningkatkan utilisasi atau pemanfaatan produk jasa keuangan tersebut.
“Kita sekarang bergerak kepada pemanfaatan utilisasinya yang lebih tinggi lagi,” ujarnya. Masyarakat yang sudah memiliki rekening didorong untuk tidak hanya menabung, tetapi juga memanfaatkan produk pembiayaan, investasi di pasar modal, asuransi, dan lain-lain. “Ini yang akan melipatgandakan suatu perekonomian berkali-kali lebih besar daripada PDRB-nya,” tegas Mahendra.
Acara puncak ditutup dengan prosesi simbolis pembukaan gerbang akses inklusi keuangan secara bersama-sama oleh para pejabat dengan memasukkan totem kunci, disertai doa bersama untuk kelancaran dan keberkahan seluruh rangkaian kegiatan. Finexpo 2025 akan berlangsung selama empat hari dan diharapkan dapat semakin mendongkrak angka inklusi dan literasi keuangan masyarakat.


