EtIndonesia. Katak berbulu Afrika memiliki kemampuan menghancurkan diri yang unik, yaitu mematahkan tulang jari kakinya sendiri saat terancam, menciptakan cakar tulang yang menembus kulitnya, layaknya Wolverine versi Marvel.
Trichobatrachus robustus, alias Katak Berbulu atau Katak Wolverine, adalah salah satu makhluk paling aneh di alam. Katak jantan menumbuhkan benang kulit tipis seperti rambut di sisi tubuh dan kaki belakang mereka, sebuah kemampuan unik yang diyakini para ilmuwan membantu amfibi menyerap lebih banyak oksigen.
“Rambut” ini mengandung arteri dan diperkirakan memperluas permukaan untuk menyerap oksigen saat katak jantan menjaga telur di dalam air. Namun, ini bukanlah hal yang paling aneh tentang katak berbulu. Mereka juga memiliki mekanisme pertahanan diri yang unik, yaitu mematahkan tulang jari kaki mereka dan mengubahnya menjadi cakar tajam yang menembus kulit.
Sekitar awal tahun 1900-an, para ilmuwan pertama kali menyadari bahwa katak berbulu memiliki cakar, sebuah karakteristik yang sangat langka bagi amfibi.
Baru pada awal tahun 2000-an, para peneliti menemukan bahwa cakar tersebut bukanlah cakar asli yang terbuat dari keratin, melainkan tulang yang cacat.
Para pemburu Kamerun cukup akrab dengan senjata tajam katak berbulu dan terpaksa menggunakan tombak atau parang untuk menghindari cedera saat mencoba menangkapnya.
Sebuah makalah tahun 2008 yang mengutip laporan sebelumnya mencatat bahwa cakar katak dapat menimbulkan “luka berdarah yang dalam hingga terlihat hingga ke tulang” pada predator dan manusia.
Mekanisme yang memungkinkan katak wolverine mengaktifkan cakar tajamnya dianggap unik di dunia hewan. Para ilmuwan menemukan bahwa setiap cakar tulang terhubung ke nodul yang terletak di jaringan tepat di luar ujung jari katak dengan untaian kolagen yang kuat.
Ketika diserang atau dicengkeram, katak tersebut entah bagaimana mampu memutuskan sambungan nodul tersebut, mendorong tulang menembus kulit. Dia kemudian mencakar penyerangnya dengan keras, menyebabkan luka robek yang dalam.
Meskipun mekanisme retraksi yang jelas belum teramati, beberapa ilmuwan berhipotesis bahwa cakar katak berbulu tersebut kemudian akan tertarik secara pasif, seiring regenerasi jaringan ikat yang rusak. Sifat regeneratif amfibi yang terdokumentasi dengan baik inilah yang membuat mekanisme pertahanan diri yang tidak biasa ini bekerja tanpa menyebabkan cedera serius pada katak.
Trichobatrachus robustus berasal dari negara-negara Afrika Tengah seperti Kamerun, Kongo, Nigeria, Gabon, Angola, dan Guinea Khatulistiwa, tempat ia mendiami sungai-sungai berarus deras di hutan dan lahan pertanian. (yn)


