Kasus “anak liar” di Yunnan, Tiongkok memicu kemarahan dan perhatian besar di seluruh internet Tiongkok. Ketika pihak berwenang menutup mulut publik, menghapus unggahan, dan menangguhkan akun, warga yang ingin menolong anak itu terpaksa melakukan aksi protes offline: mereka mencetak kisah anak itu menjadi selebaran dan menyebarkannya ke mana-mana. Beberapa netizen bahkan mengatakan bahwa mereka “tidak berani lagi punya anak”.
EtIndonesia. Pada 1 November 2025, setelah forum khusus di medsos Weibo tentang kasus anak liar Yunan diblokir, para netizen membuat forum baru bernama “Bersuara untuk Kehidupan”. Dalam dua hari, jumlah tayangan mencapai 6,8 miliar kali dan terdapat 115 ribu unggahan. Namun pada 2 November pagi, jumlah tayangan tiba-tiba menurun. Banyak yang menduga pihak Weibo telah membatasi jangkauan (shadow ban).
Di saat yang sama, platform-platform besar di Tiongkok seperti Xiaohongshu dan Douyin atau TikTok versi Tiongkok juga melakukan penghapusan masif dan penutupan akun. Semua video atau unggahan terkait kasus “anak liar Yunnan” dengan cepat dihapus, bahkan akun pembuatnya diblokir. Meski begitu, warganet tetap terus berupaya menyuarakan kasus tersebut.

Beberapa orang berkomentar dengan nada putus asa:
“Perhatian sebesar ini, suara kemarahan sebesar ini, tapi tidak ada sedikit pun tanggapan dari pemerintah.”
“Sungguh sangat mengecewakan.”
Ada pula yang menyerukan agar masyarakat tidak hanya bersuara di dunia maya, tapi juga bergerak di dunia nyata.
Gambar yang diunggah warganet menunjukkan selebaran berwarna merah bertuliskan “Korban Anak yang Diperlakukan Seperti Anjing di Yunnan”, dengan ajakan agar publik peduli. Tertulis di dalamnya:
“Dia adalah manusia, dia punya hak asasi, dia juga seorang bayi, seorang anak — dia membutuhkan kita!”
“Kami sudah berulang kali menyuarakan keberatan, tetapi pihak berwenang tidak bertindak.”
Selebaran-selebaran itu ditempel di lift, pintu kaca toko, mobil yang sedang berjalan, keranjang sepeda listrik, bahkan diserahkan ke pedagang, dengan seruan “Selamatkan anak itu!”
BACA JUGA : Kasus “Anak Liar” di Yunnan, Tiongkok Terus Meluas — Warganet Diduga Temukan “Markas Pelatihan”
Seorang ibu menulis: “Kami bisa merasakan penderitaannya karena kami manusia normal. Sebagai ibu, aku merasa sangat hancur. Aku tahu bagaimana seharusnya mata anak kecil penuh rasa ingin tahu, bukan kehampaan. Wajahnya seharusnya ceria dan ekspresif, bukan beku dan patuh. Betapa kuatnya dia bertahan hingga setiap foto yang tersebar membuat kita kian ngeri — satu lebih menyakitkan dari yang lain.”
Banyak netizen menulis dengan emosi: “Ini adalah kasus penyiksaan anak paling kejam dalam sejarah! Betapa biadab! Tiap kali melihat beritanya aku hanya bisa menangis dan marah. Bagaimana bisa memperlakukan bocah kecil seperti itu? Dia baru beberapa tahun saja! Dan yang kita lihat mungkin baru puncak gunung es. Anak kecil itu, tubuh mungilmu sudah menanggung penderitaan yang melebihi beberapa kehidupan manusia dewasa. Tolong, selamatkan dia!”

Netizen lain menggambarkan: “Rambutnya kusut, pakaiannya compang-camping, tapi dia tetap tampak lucu dan polos. Katanya namanya Lele, baru tiga tahun. Dalam satu foto dia duduk di tepi jendela tanpa senyum, hanya pandangan kosong dan lelah yang tak sesuai usianya. Dalam video lain, dia berdiri dan berjalan dengan kaki sendiri, bersin terus-menerus di udara dingin lalu mengusap hidungnya dengan tangan kecil itu…”
Ada pula komentar: “Kami sebagai orang tua takut anak kami kedinginan di malam hari, sedangkan dia bahkan tak punya celana dalam… Inilah arti menjadi manusia — kita punya empati, kita bersatu, dan kita peduli pada yang lemah.”

Beberapa netizen menulis kalimat yang memilukan: “Saya tidak berani lagi punya anak.”
Mereka berpendapat bahwa kasus ini bukan hanya tentang satu anak, tapi menyangkut keamanan seluruh anak di Tiongkok. Jika masyarakat membiarkan kekejaman seperti ini terjadi tanpa keadilan, tidak ada anak yang aman, dan tidak ada orang tua yang berani melahirkan lagi.
Netizen menyerukan: “Hukum seberat-beratnya pelaku di balik ini!”
“Jika kejahatan yang terang-terangan di depan mata saja tidak dihukum, lalu apa arti dari keadilan?”
“Jika anak ini tidak bisa diselamatkan, maka siapa pun akan takut untuk punya anak lagi.”


Menurut laporan sebelumnya, pada 16 Oktober seorang netizen di sebuah rest area di Sichuan, Tiongkok memotret seorang anak kecil telanjang yang merangkak dan makan seperti anjing. Kasus itu dikenal luas di daratan Tiongkok sebagai “anak liar” atau “anak yang diperlakukan seperti anjing”.
Informasi yang muncul kemudian menyebut bahwa dalang di balik kasus ini adalah seorang influencer Douyin yang baru kembali dari luar negeri, diduga terlibat dalam jaringan perdagangan dan penyiksaan anak internasional.
Warganet beramai-ramai meminta penyelidikan menyeluruh dan transparansi dari pemerintah, serta penyelamatan anak itu. Namun hingga kini, pihak berwenang tidak memberikan tanggapan apa pun, hanya berusaha menyensor dan menutupi seluruh informasi terkait. (Hui/asr)
Laporan oleh Li Li / Lin Qing – NTDTV.com


