“Tujuh Pemicu Kebangkrutan Kelas Menengah” Menjadi Istilah Populer di Internet Daratan Tiongkok

EtIndonesia.com  Pada 7 Juni, seorang influencer Weibo dan analis internet Tiongkok, Yu Bin, menulis di media sosial bahwa “sejarah akan terulang kembali.” Menurutnya, konsep lama yang dikenal sebagai “tiga pemicu kebangkrutan”—memiliki cicilan rumah, pasangan tidak bekerja, dan menyekolahkan anak di sekolah internasional—kini telah berkembang menjadi “tujuh pemicu kebangkrutan”. Istilah tersebut dengan cepat menjadi topik populer di Weibo.

Dalam artikelnya, Yu Bin menyebut tujuh faktor yang dianggap dapat menyeret kelas menengah ke jurang kebangkrutan, yaitu:

  1. Berwirausaha secara membabi buta tanpa perencanaan matang.
  2. Menanggung cicilan rumah yang sangat besar.
  3. Pasangan menjadi ibu atau ayah rumah tangga penuh waktu untuk mengasuh anak.
  4. Terlalu menekan anak dengan berbagai kursus dan bimbingan belajar.
  5. Berinvestasi secara tidak rasional.
  6. Mengabaikan kesehatan diri sendiri.
  7. Gemar berbelanja dan mengonsumsi barang demi gengsi atau persaingan sosial.

Seorang pengusaha swasta bermarga Long dari daratan Tiongkok mengatakan kepada NTDTV bahwa kelas menengah selalu mengejar kualitas hidup yang lebih baik: rumah harus besar, mobil harus bagus, anak harus bersekolah di sekolah internasional, bahkan sejak taman kanak-kanak harus masuk kelas bilingual agar tidak “kalah di garis start”.

Namun, menurutnya, ketika ekonomi Tiongkok melemah, gaya hidup berkualitas yang selama ini ditopang oleh hutang dan pinjaman justru berubah menjadi “lubang hitam keuangan”.

Long berkata:“Sekarang masyarakat sudah kehabisan uang, mencari uang sangat sulit. Selama puluhan tahun rakyat terus diperas. Kebangkrutan kini menjadi tren yang tak terhindarkan dan merupakan hasil yang sudah pasti terjadi.”

Sementara itu, seorang pengusaha swasta dari Guangdong bermarga Xiao menilai bahwa ekonomi Tiongkok sedang kehilangan momentum dengan cepat. Ia mengibaratkannya seperti mesin mobil yang tiba-tiba mati, tetapi kendaraan masih bergerak karena dorongan inersia meskipun kecepatannya terus menurun.

Menurut Xiao, baik berbisnis maupun berinvestasi di Tiongkok saat ini mengandung risiko yang sangat tinggi.

Ia menambahkan bahwa biaya membesarkan anak sangat mahal. Berdasarkan pengalamannya sendiri, selama tujuh tahun masa SMA dan kuliah putranya, biaya yang dikeluarkan mencapai sekitar 100.000 yuan per tahun. Namun setelah lulus, putranya langsung menghadapi pengangguran.

“Dalam kondisi sekarang, pengusaha besar sedang melarikan diri, pengusaha menengah memilih pasrah, dan pengusaha kecil bangkrut,” ujarnya. 

Ia juga menilai bahwa masyarakat saat ini terlalu mementingkan gengsi dan perbandingan sosial. Pernikahan harus mewah, pertemuan harus berkelas, anak tidak boleh kalah dari yang lain, bahkan olahraga pun harus memakai pelatih pribadi dan program yang dipersonalisasi.

“Banyak teman saya adalah pengusaha. Saat ini sebagian besar sudah bangkrut atau berada di ambang kebangkrutan. Banyak yang memilih pasrah. Tidak ada yang bisa melihat masa depan ekonomi ke mana arahnya. Semua orang merasa sangat bingung dan kehilangan arah,” katanya. 

Laporan ini merupakan hasil wawancara wartawan NTDTV, Zhong Yuan dan Peng Xinyu.

INSPIRASI ERABARU

Menelusuri Jejak Biksu Xuanzang Melintasi Lanskap Suci Dunia Buddhis yang Telah Hilang

Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya) Salah satu catatan perjalanan paling penting dan paling rinci mengenai Jalur Sutra kuno berasal dari perjalanan biksu Tiongkok Xuanzang (玄奘), yang...

Menurunkan Berat Badan dan Mengubah Penampilan adalah Dua Proyek yang Berbeda

 Chen Jing - Visiontimes.com Kebanyakan orang hanya menjalankan proyek yang pertama. Itulah sebabnya angka di timbangan turun, tetapi bayangan di cermin tampak tidak banyak berubah. Anda...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine