EtIndonesia.com Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pidato yang disiarkan secara nasional menyatakan bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) diduga memperoleh sekitar 220 juta data pemilih Amerika selama Pemilu Presiden AS tahun 2020. Ia juga menuduh bahwa sejak tahun 2018, PKT menggerakkan berbagai pihak yang anti-Trump, baik di dalam maupun di luar Amerika Serikat, untuk berupaya memaksanya mengundurkan diri atau mencegahnya terpilih kembali. Selain itu, Trump menuduh PKT menyuap media untuk menyerangnya.
Trump menyebut dugaan tersebut sebagai kebocoran data pemilu terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Sejumlah analis menilai pernyataannya menegaskan sebuah fakta mendasar.
“Trump pertama-tama mengungkapkan sebuah fakta mendasar. Pada masa pemerintahan Trump pertama, ia mengakhiri kebijakan peredaan (appeasement) yang telah berlangsung lebih dari 20 tahun, ketika para politisi kiri di Barat bersikap lunak terhadap rezim PKT,” ujar pakar hukum yang tinggal di Australia, Yuan Hongbing.
“Saat itu, modal keuangan internasional dari Wall Street, sampai batas tertentu, membentuk aliansi saling menguntungkan dengan para pejabat korup PKT,” katanya.
“Di bawah aliansi kepentingan ekonomi tersebut, perekonomian PKT mengalami pertumbuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya melalui cara-cara yang tidak mengikuti aturan serta bertentangan dengan prinsip keadilan dan persaingan yang wajar,” tambahnya.
Para analis menilai bahwa selama masa jabatan pertamanya, Trump mengubah kebijakan lama Amerika Serikat yang dinilai terlalu lunak terhadap PKT. Hal itu membuat kalangan politik dan akademisi Amerika secara bertahap memandang PKT sebagai ancaman strategis terbesar bagi Amerika Serikat, yang menurut mereka kemudian memicu reaksi keras dari pihak PKT.
Menurut laporan yang dikaitkan dengan Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA), PKT sejak 2018 diduga menggerakkan berbagai kekuatan anti-Trump di dalam dan luar negeri untuk memengaruhi Pemilu Presiden AS 2020, termasuk melalui jalur politik, bisnis, dan media.
“Ini bahkan dapat disebut sebagai sebuah tindakan perang. Sejak pertengahan tahun 1990-an, PKT telah melancarkan apa yang mereka sebut sebagai ‘perang tanpa batas’ terhadap dunia bebas, khususnya Amerika Serikat,” ujar pengamat politik Lan Shu.
“Pada tahun 2020, upaya tersebut mencapai puncaknya karena PKT berusaha menggunakan cara-cara itu untuk mencampuri pemilihan presiden Amerika. Menurut pandangan saya, itu merupakan tindakan yang bertujuan menggoyahkan pemerintahan Amerika Serikat,” tambahnya.
Menurut analisis tersebut, keputusan Presiden Trump kembali mengangkat isu ini bukan hanya untuk menekankan ancaman strategis yang dianggap berasal dari PKT, tetapi juga berkaitan dengan pemilu sela (midterm election) Amerika Serikat yang akan datang, sehingga masyarakat Amerika lebih menyadari bahaya komunisme menurut pandangannya.
“Partai Republik juga menghadapi tantangan besar menjelang pemilu sela. Kenyataannya, rezim PKT bukan hanya musuh Partai Republik, tetapi juga musuh Amerika Serikat, bahkan menjadi kekuatan inti dari poros rezim yang dianggap jahat di dunia saat ini. Dengan kata lain, cita-cita untuk ‘Membuat Amerika Hebat Kembali’ tidak dapat diperdamaikan dengan ambisi ekspansi global PKT,” ujar Yuan Hongbing.
Di sisi lain, perhatian juga tertuju pada kemungkinan kunjungan pemimpin PKT Xi Jinping ke Amerika Serikat pada bulan September dan dampaknya terhadap hubungan AS–Tiongkok.
“Saat ini Trump tampaknya tidak berniat membawa hubungan AS–Tiongkok langsung ke titik terendah dan masih menyisakan ruang untuk meredakan ketegangan. Dugaan campur tangan PKT dalam pemilu sekitar tahun 2020 sudah menjadi masa lalu,” kata pengamat politik Zheng Haochang.
“Prioritas saat ini adalah Save America Act (Undang-Undang Selamatkan Amerika). Karena itu saya merasa sasaran utama Trump sebenarnya lebih ditujukan kepada lawan-lawan di dalam negeri,” katanya.
Yuan Hongbing menambahkan: “Xi Jinping kini berada dalam situasi yang semakin terisolasi. Upayanya untuk memperoleh dukungan Trump guna memperkuat posisinya dalam politik domestik akan mengalami kemunduran yang serius.”
Laporan wartawan NTD Television, Chen Yue, Chang Chun, dan Luo Ya.


