Dari Hobi Merajut hingga Menembus Pasar Dunia, Kisah Silhouette Crochet Batu

BATU, JAWA TIMUR — Bermula dari benang dan bahan seadanya di rumah, siapa sangka hobi merajut yang awalnya hanya untuk mengisi waktu luang justru berkembang menjadi bisnis aksesori etnik dengan pasar hingga mancanegara.

Itulah perjalanan Desy Pratiwi Putri, pemilik Silhouette Crochet, UMKM asal Kota Batu, Jawa Timur, yang berhasil mengubah keterampilan merajut menjadi produk fesyen berciri khas. Dari tangan Desy, rajutan tidak berhenti menjadi tas atau topi seperti produk rajut pada umumnya. Ia mengolahnya menjadi aksesori yang unik, berkarakter, dan memadukan berbagai material lokal.

Perjalanan itu tidak terjadi dalam semalam.

Desy mulai menggeluti usaha rajutan pada 2019. Pada masa awal, produk yang dibuat masih berupa barang-barang rajutan konvensional, seperti tas dan topi. Bahan yang digunakan pun beragam, mulai dari polyester hingga katun. Namun, ia menyadari satu persoalan: produk serupa sudah banyak dibuat pelaku UMKM lain sehingga persaingan semakin ketat. Penjualan pun belum maksimal.

Alih-alih berhenti, Desy memilih mencari celah baru.

Ia mulai berpikir bagaimana membuat produk rajutan yang belum banyak ditemukan di pasaran. Karena memiliki ketertarikan pada dunia fesyen, ia kemudian mengarahkan kreativitasnya pada aksesori. Awalnya, eksperimen itu dilakukan secara sederhana, bahkan menggunakan bahan-bahan yang sudah tersedia di rumah.

Hasil percobaan tersebut ternyata mendapat respons positif.

Aksesori rajutan yang dibuat Desy dianggap unik dan berbeda. Produk yang semula hanya dibuat untuk mencoba-coba justru menemukan pasarnya sendiri. Dari sekitar 10 produk pertama, hasil penjualan kemudian digunakan kembali untuk membeli bahan baku dan mengembangkan usaha.

Di titik itulah Silhouette Crochet menemukan identitasnya.

Bukan sekadar rajutan, melainkan aksesori etnik dengan permainan bentuk, tekstur, bahan, dan warna. Profil Silhouette Crochet yang tercantum dalam Karya Kreatif Indonesia menyebut merek tersebut memproduksi kalung etnik, gelang, dan anting berbasis rajutan. Keunikannya terletak pada kombinasi berbagai bahan lokal dan berkelanjutan. Desainnya juga telah mendapat perlindungan hak cipta.

Pilihan untuk keluar dari produk rajutan yang umum ternyata membawa Desy ke berbagai panggung pameran. Dari kegiatan-kegiatan berskala kecil di Batu, ia perlahan membangun jalannya sendiri menuju pameran nasional dan internasional.

Bahkan, Silhouette Crochet pernah mengikuti pameran di Amerika Serikat. Desy juga sempat berkolaborasi dengan seorang desainer asal Australia sebanyak tiga kali. Dalam kolaborasi tersebut, sang desainer mengirimkan desain, kain, serta pilihan warna, sementara Desy diberikan kebebasan untuk menerjemahkannya ke dalam bentuk aksesori rajutan.

Keunikan Silhouette Crochet juga tampak pada bahan yang digunakan. Karya-karyanya kini memanfaatkan beragam material, termasuk serat daun agel, sutra, rami, kulit, kayu, katun, dan bahan lainnya. Salah satu produk yang tercatat dalam Karya Kreatif Indonesia adalah kalung rajut berbahan serat daun agel yang dipadukan dengan kulit, kayu, dan rami. Produk lain menggunakan benang sutra, kulit, serta teknik bordir Sashiko.

Dengan kombinasi tersebut, aksesori Silhouette Crochet berada di antara kerajinan tradisional dan fesyen kontemporer. Material alam memberikan kesan etnik, sedangkan desain rajutan membuatnya tetap relevan sebagai aksesori fesyen.

Kapasitas produksinya pun berkembang jauh dari awal perjalanan usaha. Dalam wawancara, Desy menyebut kapasitas produksi normal Silhouette Crochet kini dapat mencapai sekitar 2.500 produk per bulan. Angka itu tentu berbeda jauh dari masa awal ketika ia hanya membuat sekitar 10 produk dengan bahan yang tersedia di rumah.

Namun, meningkatkan produksi produk handmade bukan perkara sederhana. Silhouette Crochet kini didukung sekitar delapan perajin. Jumlah tersebut memang tidak terlalu banyak karena setiap produk membutuhkan keseragaman keterampilan tangan. Dalam teknik rajut, tarikan benang yang berbeda dapat menghasilkan bentuk produk yang berbeda pula.

“Tarikannya itu beda-beda,” menjadi salah satu tantangan yang harus diperhatikan agar kualitas produk tetap konsisten.

Karena itu, produksi Silhouette Crochet tidak sepenuhnya mengejar jumlah. Untuk produk dengan harga dan tingkat pengerjaan tinggi, Desy bahkan membuatnya secara terbatas, hanya beberapa buah. Strategi tersebut membuat sebagian produknya memiliki karakter eksklusif.

Pendampingan BI menaikkan kelas

Mendapatkan pendampingan dari Bank Indonesia semakin memperkuat segmen pasar Silhouette Crochet, terutama dapat menembus even-even besar dan bergengsi, baik skala nasional dan internasional.

“Saya sangat bersyukur karena menjadi UMKM binaan dari Bank Indonesia. Bukan bentuk dana namun lebih dari itu dukungan dari segi pemasaran. Saya dapat mengikuti pameran-pameran yang berkelas dan mahal, dimana meski kita memiliki dana tanpa koneksi yang baik tidak dapat mengikutinya, nah itu saya dapatkan sebagai binaan BI, seperti pameran INA Craft,” tuturnya Desy kepada The Epoch Times.

Jejak Silhouette Crochet di berbagai pameran turut memperluas jaringan usaha. Pada 2022, Silhouette Crochet menjadi salah satu UMKM Kota Batu yang dipilih untuk tampil dalam rangkaian kegiatan Women 20 (W20). Saat itu, Desy menyebut pameran menjadi salah satu cara penting untuk memperkenalkan produk dan meningkatkan penjualan.

Kesempatan tampil di berbagai ajang terus berlanjut. Pada Batu Bisnis Festival 2025, Silhouette Crochet juga menjadi salah satu UMKM binaan yang mengikuti pameran. Desy mengatakan kegiatan tersebut bukan hanya tentang menjual produk, tetapi juga memperluas jejaring pelanggan, belajar dari pelaku usaha lain, dan membuka peluang baru.

Bagi Desy, usaha ini pada awalnya memang tidak dirancang sebagai sumber penghasilan utama. Merajut hanya dilakukan sebagai hobi sambil menunggu anak sekolah. Sebelumnya, ia juga pernah mencoba beberapa jenis usaha, termasuk kuliner dan menjadi reseller pakaian. Namun, usaha-usaha tersebut tidak bertahan seperti yang diharapkan.

Ada alasan lain yang membuat Desy memilih terus membangun usaha tersebut. Ia memikirkan masa depan ketika suaminya memasuki masa pensiun. Menurutnya, usaha membutuhkan waktu untuk berkembang dan pasti mengalami pasang surut. Karena itu, ia merasa harus mempersiapkannya jauh-jauh hari.

Kini, hobi yang dulu sekadar mengisi waktu telah berubah menjadi sumber penghasilan utama.

Perjalanan Desy menunjukkan bahwa inovasi dalam UMKM tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru. Terkadang, inovasi justru muncul ketika seorang pelaku usaha berani melihat produk lama dari sudut pandang berbeda.

Rajutan yang selama ini identik dengan tas dan topi bisa berubah menjadi kalung, gelang, atau anting. Benang dapat berpadu dengan kayu, kulit, sutra, rami, hingga serat daun agel. Dari bahan-bahan tersebut lahir aksesori yang bukan hanya dipakai, tetapi juga membawa cerita tentang keterampilan tangan, material lokal, dan kreativitas perajinnya.

Silhouette Crochet kini menjadi bagian dari geliat industri kreatif Batu. Perjalanannya juga menunjukkan satu hal penting: sebuah usaha bisa bermula dari sesuatu yang sangat sederhana—sebuah hobi, bahan sisa di rumah, dan keberanian untuk mencoba.

Dari “iseng” merajut, Desy menemukan identitas. Dari identitas itu, ia membangun merek. Dan dari sebuah merek lokal di Kota Batu, karya Silhouette Crochet perlahan menemukan jalan menuju pasar yang lebih luas.

INSPIRASI ERABARU

Terlalu Banyak Kegiatan Bisa Membebani Anak, Saatnya Menata Ulang Jadwal Mereka

Jadwal yang penuh tidak selalu berarti masa kanak-kanak yang penuh pengalaman jika hal itu justru menyisakan sedikit waktu untuk kehidupan keluarga yang paling berarti Annie...

Jangan Terjebak Lautan Nasihat Parenting, Percayalah pada Naluri Anda

Setiap orang, bahkan bibi mereka di Instagram, punya pendapat tentang cara membesarkan anak. Namun, tidak ada yang mengenal anak Anda seperti Anda sendiri Walker Larson Si...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine