Zhu Rongji Meninggal Dunia; Netizen Beijing Secara Misterius Mengunggah Beritanya Sehari Lebih Awal

Pada sore 12 Agustus waktu Beijing, pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) secara resmi mengumumkan bahwa mantan Perdana Menteri Tiongkok Zhu Rongji telah meninggal dunia. Namun, seorang netizen yang diduga berasal dari Beijing ternyata sudah memposting kabar kematiannya di platform X yang berbasis di luar negeri pada malam 11 Agustus. Hal ini menarik perhatian dan memicu berbagai spekulasi.

EtIndonesia.com  Pada pukul 18.00 tanggal 12 Agustus, Xinhua News Agency menerbitkan berita duka yang menyatakan bahwa Zhu Rongji meninggal setelah pengobatan akibat penyakitnya tidak berhasil. Ia meninggal pada pukul 11.06 tanggal 12 Agustus 2026 di Beijing, dalam usia 98 tahun.

Namun, sekitar tiga jam sebelum pengumuman resmi PKT, seorang pengguna internet terkenal yang diyakini memiliki akses terhadap informasi internal sudah memposting kabar kematian Zhu Rongji di platform X.

Yang lebih aneh, sejumlah warganet menemukan bahwa ada akun lain dengan identitas misterius yang sudah memposting “berita eksklusif” mengenai kematian Zhu Rongji pada pukul 21.09 tanggal 11 Agustus.

Artinya, kabar tersebut muncul hampir 21 jam sebelum pengumuman resmi PKT, bahkan sekitar 14 jam sebelum waktu kematian yang diumumkan secara resmi oleh pemerintah.

Di platform X, seorang warganet yang diduga berbasis di Beijing mengunggah kabar kematian Zhu Rongji sehari sebelum pengumuman resmi Partai Komunis Tiongkok (PKT). (Tangkapan layar)

Bahkan, seorang pengguna X yang diduga berasal dari Beijing memposting kabar kematian Zhu Rongji sehari sebelum pengumuman resmi PKT.

Ketika akun tersebut pertama kali menyebarkan kabar itu, ada orang yang meninggalkan komentar dan menuduhnya menyebarkan berita palsu. Namun, setelah PKT mengumumkan kematian Zhu Rongji secara resmi, popularitas akun tersebut melonjak.

Jumlah penayangan unggahannya dengan cepat menembus satu juta, sementara jumlah pengikutnya juga meningkat pesat.

Warganet kemudian berspekulasi: apakah pemilik akun tersebut hanya kebetulan menyebarkan rumor dan ternyata “tepat sasaran”, atau memang memiliki sumber informasi tertentu?

Ada juga yang bercanda dan bertanya-tanya apakah orang tersebut memiliki hubungan dengan “seorang perawat Rumah Sakit 301 Beijing.”

Dari penelusuran terhadap akun X tersebut, terlihat bahwa foto profilnya menampilkan seorang perempuan muda dan akun itu sering mengunggah foto pemandangan kawasan perkotaan Beijing.

Saat ini, identitas orang tersebut masih belum diketahui.

Pengguna internet Tiongkok di platform X yang berbasis di luar negeri berasal dari berbagai latar belakang. Di antaranya terdapat warga Tiongkok yang menggunakan VPN untuk mengetahui informasi yang sebenarnya atau sengaja membocorkan informasi, tetapi juga ada kemungkinan terdapat jaringan propaganda PKT atau “wumao” yang ditugaskan untuk menyebarkan informasi tertentu atau mengacaukan opini publik.

Mengenai akun yang membocorkan kematian Zhu Rongji sebelum pengumuman resmi, sebagian warganet menduga bahwa hal itu mungkin hanya sebuah “kebetulan yang tepat sasaran.”

Sebagian lainnya berpendapat bahwa Zhu Rongji mungkin sebenarnya sudah meninggal dunia pada malam 11 Agustus, sementara pemerintah PKT baru mengumumkannya beberapa jam kemudian.

Seorang warganet bahkan mengatakan: “Orangnya terbaring di tempat tidur ICU. Partai menentukan kapan kamu mati, dan saat itulah mereka mencabut selang.”

Zhu Rongji selama ini disebut sebagai salah satu tokoh yang mewakili apa yang disebut “kelompok reformis” di dalam PKT. Pandangan tersebut dianggap berlawanan secara alami dengan pemerintahan Xi Jinping yang dalam beberapa tahun terakhir dinilai semakin bergerak ke arah yang lebih kiri.

Karena itu, Zhu Rongji dianggap memiliki posisi yang cukup khusus dalam sistem politik PKT.

Dalam beberapa tahun terakhir, kabar mengenai kematian Zhu Rongji berulang kali muncul, dan sebagian pihak mengaitkannya dengan konflik internal di tubuh PKT.

Setelah Xi Jinping berkuasa, Zhu Rongji dan sejumlah tokoh senior lainnya beberapa kali tampil secara terbuka untuk menunjukkan dukungan kepada Xi. Namun, setelah Kongres Nasional PKT ke-19, ketika pemerintahan Xi semakin mengarah kembali kepada jalur politik Mao Zedong, Zhu Rongji semakin jarang muncul di depan publik.

Hal tersebut dianggap sebagai kemungkinan bahwa Zhu sengaja menghindari tampil sebagai pendukung Xi Jinping.

Ada juga laporan yang menyebut bahwa Zhu Rongji tidak puas dengan keputusan Xi Jinping untuk mengubah konstitusi sehingga memungkinkan dirinya memperpanjang masa jabatan.

Ketika menjabat sebagai perdana menteri, Zhu Rongji mendukung reformasi berbasis pasar. Namun, program “reformasi perusahaan milik negara” yang didorongnya pada saat itu juga menyebabkan sangat banyak pekerja kehilangan pekerjaan.

Di luar lingkaran kekuasaan dan dalam ruang opini publik, penilaian terhadap Zhu Rongji sangat beragam.

Sumber : NTDTV.com 

INSPIRASI ERABARU

3 Kebiasaan Sederhana untuk Menjaga Kesehatan Otak yang Hanya Membutuhkan Beberapa Menit Sehari

Banyak orang paruh baya dan lanjut usia mulai mengenali momen-momen kecil yang menimbulkan keraguan. Anda hendak keluar rumah, tetapi tidak menemukan kunci. Sebuah nama...

Ke Mana Arah Pernikahan? Pelajaran Abadi dari Kisah Li Wa

Hari ini, kita hidup di tengah kelimpahan materi, tetapi sekaligus menghadapi kerapuhan emosional. Pernikahan dan hubungan asmara modern kerap gagal memberikan rasa aman. Perdebatan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine