Monyet-Monyet Muncul di Pos Perbatasan Gyirong, Tibet, Mencari Sisa Makanan di Tengah Reruntuhan

EtIndonesia.com  Pada 31 Agustus pagi, di sekitar Pos Perbatasan Gyirong, Tibet, yang hancur diterjang longsoran lumpur dan batu, petugas penyelamat menemukan sekelompok monyet turun dari hutan menuju tepian sungai. Monyet-monyet tersebut mencari sisa makanan manusia di antara pasir, bebatuan, dan reruntuhan yang ditinggalkan banjir bandang.

Menurut laporan Tibet Radio and Television, saat itu hujan ringan turun. Di lokasi penanganan bencana dekat Pos Perbatasan Gyirong, tiba-tiba sekelompok monyet turun dari hutan di sekitarnya menuju tepian sungai. Mereka mencari makanan di antara reruntuhan di sepanjang aliran sungai yang telah diterjang longsoran lumpur dan batu.

Pada 26 Agustus, longsoran lumpur dan batu setinggi hingga 60 meter, menyerupai tsunami dan melaju dengan kecepatan luar biasa, menerjang lembah sungai tersebut. Gedung Pos Perbatasan Gyirong dan bangunan-bangunan di sekitarnya tersapu habis hingga rata dengan tanah. Kawasan tepian sungai yang sebelumnya penuh kehidupan berubah menjadi wilayah yang porak-poranda dan nyaris tidak menyisakan tanda-tanda aktivitas manusia.

Yang tersisa hanyalah kelompok monyet yang berhasil selamat dari banjir bandang tersebut, meskipun habitat asli mereka juga mengalami kerusakan parah.

Dalam video terlihat kedua sisi lembah sungai dipenuhi jejak sapuan longsoran lumpur dan batu. Bebatuan berserakan di mana-mana, banyak pohon besar tumbang dengan akar-akarnya tercabut dan terlihat di permukaan. Tepian sungai tertutup lapisan lumpur tebal, sementara hutan yang sebelumnya hijau kini berubah menjadi hamparan kelabu.

Video kemunculan sekelompok monyet di lokasi bencana Pos Perbatasan Gyirong menyebar luas di media sosial dan memicu berbagai komentar. Sejumlah blogger menganalisis bahwa monyet sangat peka terhadap bau makanan dan aktivitas manusia. Setelah longsoran terjadi, sisa makanan manusia yang terkubur di antara pasir, batu, dan tanah di lembah sungai menjadi salah satu sumber makanan yang membantu monyet-monyet tersebut bertahan hidup.

Pada saat yang sama, para petugas penyelamat mulai memasuki kawasan yang telah berubah menjadi lokasi bencana. Suara mesin dan aktivitas manusia juga menarik perhatian monyet-monyet tersebut, sehingga mereka mendekat dan mengamati dari kejauhan.

Banyak warganet mengungkapkan keprihatinan:

“Bencana alam ini bukan hanya menjadi bencana bagi manusia, tetapi juga bagi hewan.”

Ada pula yang berkomentar:

“Ketika banjir setinggi 60 meter datang, monyet masih bisa langsung melarikan diri ke hutan di puncak gunung. Manusia bahkan tidak sempat menyelamatkan diri.”

“Dalam menghadapi bencana, manusia benar-benar tidak bisa berlari secepat monyet.”

Laporan gabungan wartawan Luo Tingting / Editor: Wen Hui

INSPIRASI ERABARU

Cara Mengenali Tanda-Tanda Peringatan Stroke dan Mencegah Kerusakan Otak dengan Pengobatan Tradisional Tiongkok

Seorang dokter pengobatan tradisional Tiongkok (PTT) yang berbasis di Taiwan memaparkan berbagai sinyal fisik yang dikirim tubuh sebelum stroke terjadi, menjelaskan patologi yang mendasarinya...

Jerat Algoritma dan Hilangnya Rasa Hormat: Refleksi Etika Digital dari Kematian Tragis Dua Konten Kreator

Kehidupan di era digital telah bergeser dari sekadar ruang berbagi informasi menjadi panggung perebutan perhatian tanpa batas. Di bawah kendali algoritma yang tak kasat...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine