Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas! Pada 30 Agustus, militer AS melancarkan serangan udara terhadap Pulau Larak, sebuah pulau strategis milik Iran. Ini merupakan serangan udara pertama AS terhadap Iran sejak akhir Juli. Presiden Donald Trump menegaskan bahwa tekanan ekonomi yang diberikan Amerika Serikat terhadap Iran belum pernah terjadi sebelumnya.
Seiring meningkatnya ketegangan, harga minyak mentah Brent pada Senin (31 Agustus) menembus US$90 per barel, sementara nilai tukar mata uang Iran, rial, jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah.
EtIndonesia.com Pada 30 Agustus, militer AS menyerang dua peluncur roket di Pulau Larak, Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menggunakan perangkat tersebut untuk memasang kembali ranjau laut di kawasan selat.
Serangan ini merupakan serangan pertama Amerika Serikat terhadap Iran sejak akhir Juli.
Pulau Larak terletak di sisi timur Selat Hormuz. Letaknya yang strategis menjadikan pulau tersebut sebagai salah satu pulau penting bagi pertahanan Iran.
Pulau ini berjarak sekitar 660 kilometer dari Pulau Kharg, pulau lain yang juga memiliki arti strategis sangat penting bagi Iran. Sebagian besar fasilitas terminal ekspor minyak Iran yang paling penting berada di Pulau Kharg.
Pada Minggu, Presiden Trump mengunggah sebuah video yang dibuat menggunakan AI di media sosial. Dengan nada mengejek, keterangan video tersebut menyatakan bahwa Pulau Kharg, pusat energi Iran, sedang dihancurkan oleh serangan bom.
“Presiden terkadang suka mengubah gaya di media sosial. Dia akan menjadi orang pertama yang mengatakan bahwa dia tidak akan mengumumkan operasi militer melalui media sosial. Tetapi saya pikir dia sedang menyampaikan pesan kepada rakyat Iran: dengar, kalian menembaki kapal-kapal dagang, dan tindakan kalian seperti negara teroris. Kalian harus berhenti, atau kalian akan menghadapi konsekuensinya,” ujar Wakil Presiden AS J.D. Vance.
Presiden Trump mengatakan kepada Fox News bahwa blokade Amerika Serikat terhadap Iran memberikan dampak yang luar biasa.
“Tekanan ekonomi yang kami berikan kepada mereka sangat berat. Belum pernah ada yang mengalami tekanan seperti ini,” katanya.
Pada Senin, Menteri Keuangan AS Scott Bessent, dalam konferensi pers setelah pertemuan para menteri keuangan G20, mengatakan bahwa rezim Iran memandang sanksi Amerika Serikat dengan sangat serius.
“Jika kita melihat pernyataan para pemimpin politik Iran selama 10 hari terakhir, mereka terkejut dengan kondisi ekonomi negara mereka sendiri. Kita melihat orang-orang mengantri untuk mendapatkan bahan bakar. Bisakah Anda membayangkan sebuah negara yang memiliki cadangan energi terbesar ketiga di dunia justru harus mengimpor bensin?” ujarnya.
Bessent mengatakan bahwa Washington berencana memberlakukan sanksi sekunder baru terkait Iran setiap minggu. Menurutnya, Iran mulai melakukan serangan balasan secara militer karena mereka sedang mengalami kerugian besar secara ekonomi.
Setelah militer AS menyerang Pulau Larak, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS di Yordania.
Militer Yordania mengonfirmasi bahwa mereka berhasil mencegat delapan rudal yang memasuki wilayah udara negara tersebut.
Seorang warga Teheran bernama Rad mengatakan:
“Jika pihak berwenang benar-benar peduli terhadap kami, mereka akan mencari solusi melalui perdamaian, kompromi, atau cara lainnya. Tetapi mereka tidak melakukannya.”
Seiring kembali berkobarnya konflik AS-Iran, harga minyak mentah Brent pada Senin melonjak lebih dari 3%, menembus US$90 per barel.
Pada saat yang sama, mata uang Iran, rial, terus mengalami pelemahan. Nilai tukarnya sempat jatuh hingga sekitar US$1 = 2,12 juta rial, kembali mencatat rekor terendah sepanjang sejarah.
Laporan gabungan wartawan NTDTV, Yi Jing.


